Anda di halaman 1dari 9

PEMERIKSAAN FISIK DASAR UROLOGI

Pembimbing : dr. Herda,SpU

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG
PERIODE 3 APRIL-2 JUNI 2017
BAB 1
Pendahuluan

Anamnesis merupakan suatu hal penting dalam pemeriksaan pasien. Tujuan dari suatu
anamnesis adalah keluhan utama pasien dan dokter harus mendengarkan dengan aktif keluhan
yang disampaikan oleh pasien sampai dokter mendapatkan kejelasan tentang keluhan utama
pasien tersebut setelah itu dokter dapat memberikan pertanyaan terarah dalam hal keluhan
yang dihadapi.
Untuk menegakkan diagnosis, dilakukan pemeriksaan fisik berupa inspeksi, palpasi, perkusi
dan auskultasi.
Penegakkan diagnosis kelainan-kelainan urologi, seorang dokter dituntut untuk dapat
melakukan pemeriksaan-pemeriksaan dasar urologi dengan seksama dan secara sistematik
mulai dari pemeriksaan subyektif yaitu dengan mencermati keluhan yang disampaikan oleh
pasien yang digali melalui anamnesis yang sistematik. Pemeriksaan obyektif yaitu melakukan
pemeriksaan fisik terhadap pasien untuk mencari data-data yang obyektif mengenai keadaan
pasien. Pemeriksaan penunjang yaitu melakukan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium,
radiologi atau imaging (pencitraan), uroflometri atau urodinamika, elektromiografi,
endourologi, dan laparoskopi untuk memperkuat kemungkinan diagnosis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anamnesis Urologi


Dalam melakukan wawancara, antara dokter dengan pasien ataupun keluarganya diperoleh
melalui proses anamnesis yang sistematik dan terarah. Hal ini sangat penting untuk
mendapatkan diagnosis suatu penyakit. Anamnesis yang sistematik itu mencakup
1. Keluhan utama pasien, yang membuat pasien datang berobat ke dokter.
2. Riwayat penyakit lain yang pernah dideritanya dan riwayat penyakit keluarga
3. Riwayat penyakit yang diderita saat ini.

Berikut adalah berbagai keluhan yang dapat muncul pada pasien urologi:

2.1.1 Nyeri
Nyeri yang disebabkan oleh kelainan yang terdapat pada organ urogenitalia dirasakan
sebagai nyeri lokal yaitu nyeri yang dirasakan di sekitar organ itu sendiri, atau berupa referred
pain yaitu nyeri yang dirasakan jauh dari tempat organ yang sakit. Sebagai contoh nyeri local
pada kelainan ginjal dapat dirasakan di daerah sudut kostovertebra; dan nyeri akibat kolik
ureter dapat dirasakan hingga ke daerah inguinal, testis, dan bahkan sampai ke tungkai bawah.
Inflamasi akut pada organ padat traktus urogenitalia seringkali dirasakan sangat nyeri; hal ini
disebabkan karena regangan kapsul yang melingkupi organ tersebut. Oleh sebab itu
pielonefritis, prostatitis, maupun epididimitis akut dirasakan sangat nyeri. Berbeda halnya pada
inflamasi yang mengenai organ berongga seperti pada buli-buli atau uretra, dirasakan sebagai
rasa kurang nyaman (discomfort). Di bidang urologi banyak dijumpai bermacammacam nyeri
yang dikeluhkan oleh pasien sewaktu datang ke tempat praktek. Tumor pada traktur urogenital
biasanya tidak menyebabkan nyeri kecuali tumor tersebut mendesak organ lainnya dan
menyebabkan obstruksi.

- Nyeri renal
Nyeri renal adalah nyeri yang terjadi akibat regangan kapsul ginjal. Regangan kapsul
ini dapat terjadi karena pielonefritis akut yang menimbulkan edema, obstruksi saluran kemih
yang mengakibatkan hidronefrosis, atau tumor ginjal. Nyeri biasanya dirasakan menjalar dari
pinggang ke abdomen atas dan umbilicus dan dapat nyeri alih ke testis atau labium. Nyeri yang
terjadi pada keadaan inflamasi sifatnya menetap, sedangkan nyeri akibat obstruksi berfluktuasi
tergantung intensitasnya.

- Nyeri Kolik
Nyeri kolik terjadi akibat spasmus otot polos ureter karena gerakan peristaltiknya
terhambat oleh batu, bekuan darah, atau oleh benda asing lain. Nyeri ini dirasakan akut, sangat
sakit, hilang-timbul sesuai dengan gerakan peristaltik ureter. Pertama-tama dirasakan di daerah
sudut kosto-vertebra kemudian menjalar ke dinding depan abdomen, ke regio inguinal, hingga
ke daerah kemaluan. Tidak jarang nyeri kolik diikuti dengan keluhan pada organ pencernakan
seperti mual dan muntah. Lokasi dari obstruksi ureter dapat diketahui dengan letak dari nyeri
alihnya.

- Nyeri Vesika
Nyeri vesika dirasakan di daerah suprasimfisik. Nyeri ini terjadi akibat overdistensi
bulibuli yang mengalami retensi urine atau terdapat inflamasi pada buli-buli (sistitis
interstisialis, tuberkulosis, atau sistosomiasis). Inflamasi buli-buli dirasakan nyeri bersifat
intermiten di daerah suprapubik (suprapubic dyscomfort). Nyeri muncul jika buli-buli terisi
penuh dan nyeri berkurang pada saat selesai miksi.
Tidak jarang pasien sistitis merasakan nyeri yang sangat hebat seperti ditusuk-tusuk pada akhir
miksi dan kadang kala disertai dengan hematuria; keadaan ini disebut sebagai stranguria.

- Nyeri prostat
Nyeri prostat pada umumnya disebabkan karena inflamasi yang mengakibatkan edema
kelenjar prostat dan distensi kapsul prostat. Lokasi nyeri akibat inflamasi ini sulit untuk
ditentukan tetapi pada umumnya dapat dirasakan pada abdomen bawah, inguinal, perineal,
lumbosakral, atau nyeri rektum. Seringkali nyeri prostat diikuti dengan keluhan miksi berupa
frekuensi, disuria, bahkan retensi urine.

- Nyeri testis/epididimis
Nyeri yang dirasakan pada daerah kantong skrotum dapat berasal dari nyeri yang
berasal dari kelainan organ di kantong skrotum (nyeri primer) atau nyeri alih yang berasal dari
kelainan organ di luar kantong skrotum. Nyeri akut yang disebabkan oleh kelainan organ di
kantong testis dapat disebabkan oleh torsio testis atau torsio apendiks testis, epididimitis/orkitis
akut, atau trauma pada testis. Inflamasi akut pada testis atau epididymis menyebabkan
peregangan pada kapsulnya sehingga dirasakan sebagai nyeri yang hebat.

Nyeri testis seringkali dirasakan hingga ke daerah abdomen sehingga dikacaukan


dengan nyeri karena kelainan organ abdominal. Begitu pula nyeri karena inflamasi pada ginjal
dan inguinal, seringkali dirasakan di daerah skrotum. Nyeri tumpul di sekitar testis dapat
disebabkan karena varikokel, hidrokel, maupun maupun tumor testis dan bersifat kronis, tidak
menjalar dan berat.

- Nyeri penis
Nyeri yang dirasakan pada daerah penis yang sedang tidak ereksi (flaksid) biasanya
merupakan nyeri alih dari inflamasi pada mukosa buli-buli atau uretra, yang terutama dirasakan
pada meatus uretra eksternum. Selain itu parafimosis dan keradangan pada prepusium maupun
glans penis memberikan rasa nyeri yang terasa pada ujung penis.

Keluhan miksi
Keluhan yang dirasakan oleh pasien pada saat miksi meliputi keluhan iritasi, obstruksi,
inkontinensia, dan enuresis. Keluhan iritasi meliputi urgensi, polakisuria, atau frekuensi,
nokturia, dan disuria; sedangkan keluhan obstruksi meliputi hesitansi, harus mengejan saat
miksi, pancaran urine melemah, intermitensi, dan menetes serta masih terasa ada sisa urine
sehabis miksi. Keluhan iritasi dan obstruksi dikenal sebagai lower urinary tract symptoms.

Gejala iritasi
Urgensi adalah rasa sangat ingin kencing sehingga terasa sakit. Keadaan ini adalah
akibat hiperiritabilitas dan hiperaktivitas buli-buli karena inflamasi, terdapat benda asing di
dalam buli-buli, adanya obstruksi infravesika, atau karena kelainan buli-buli nerogen.
Setiap hari, orang normal rata-rata berkemih sebanyak 5 hingga 6 kali dengan volume
kurang lebih 300 ml setiap miksi. Frekuensi atau polakisuria adalah frekuensi berkemih yang
lebih dari normal, keadaan ini merupakan keluhan yang paling sering dialami oleh pasien
urologi. Polakisuria dapat disebabkan karena produksi urine yang berlebihan (poliuria) atau
karena kapasitas buli-buli yang menurun sehingga sewaktu buli-buli terisi pada volume yang
belum mencapai kapasitasnya, rangsangan miksi sudah terjadi. Penyakit-penyakit diabetes
mellitus, diabetes insipidus, atau asupan cairan yang berlebihan merupakan penyebab
terjadinya poliuria; sedangkan menurunnya kapasitas buli-buli dapat disebabkan karena adanya
obstruksi infravesika, menurunnya komplians buli-buli, buli-buli contracted, dan bulibuli yang
mengalami inflamasi/iritasi oleh benda asing di dalam lumen buli-buli.
Nokturia adalah polakisuria yang terjadi pada malam hari. Seperti pada polakisuria,
pada nokturia mungkin disebabkan karena produksi urine meningkat ataupun karena kapasitas
buli buli yang menurun. Orang yang mengkonsumsi banyak air sebelum tidur apalagi
mengandung alkohol dan kopi menyebabkan produksi urine meningkat. Pada malam hari,
produksi urine meningkat pada pasien-pasien gagal jantung kongestif dan odem perifer karena
berada pada posisi supinasi. Demikian halnya pada pasien usia tua tidak jarang terjadi
peningkatan produksi urine pada malam hari karena kegagalan ginjal melakukan konsentrasi
(pemekatan) urine.
Disuria adalah nyeri pada saat miksi dan terutama disebabkan karena inflamasi pada
bulibuli atau uretra. Seringkali nyeri ini dirasakan paling sakit di sekitar meatus uretra
eksternus. Disuria yang terjadi pada awal miksi biasanya berasal dari kelainan pada uretra, dan
jika terjadi pada akhir miksi adalah kelainan pada buli-buli.

Gejala obstruksi
Pada keadaan normal, saat sfingter uretra eksternum mengadakan relaksasi, beberapa
detik kemudian urine mulai keluar. Akibat adanya obstruksi infravesika, menyebabkan
hesitansi atau awal keluarnya urine menjadi lebih lama dan seringkali pasien harus mengejan
untuk memulai miksi. Setelah urine keluar, seringkali pancaranya menjadi lemah, tidak jauh,
dan kecil; bahkan urine jatuh di dekat kaki pasien (Gambar 2-1B). Di pertengahan miksi
seringkali miksi berhenti dan kemudian memancar lagi; keadaan ini terjadi berulang-ulang dan
disebut sebagai intermitensi. Miksi diakhiri dengan perasaan masih terasa ada sisa urine di
dalam buli-buli dengan masih keluar tetesan-tetesan urine (terminal dribbling). Biasanya
pasien sering mengeluh enuresis pada pakaian dalamnya. Untuk menghindari terjadinya
tersebut, dengan cara manual penis digoyangkan. Pancaran lemah terjadi akibat obstruksi bladder
outlet. Kejadian ini sering didapatkan pada pasien BPH dan striktur uretra.
Jika pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi mengosongkan isinya, menyebabkan
terjadinya retensi urine yang terasa nyeri pada daerah suprapubik dan diikuti dengan keinginan
miksi yang sangat sakit (urgensi). Lama kelamaan buli-buli isinya makin penuh sehingga
keluar urine yang menetes tanpa disadari yang dikenal sebagai inkontinensia paradoksa.
Obstruksi uretra karena striktura uretra anterior biasanya ditandai dengan pancaran kecil, deras,
bercabang, dan kadang-kadang berputar-putar.

Inkontinensia urine
Inkontinensi urine adalah ketidak mampuan seseorang untuk menahan urine yang
keluar dari buli-buli, baik disadari ataupun tidak disadari. Terdapat beberapa macam
inkontinensia urine, yaitu inkontinensia true atau continous, inkontinensia stress,
inkontinensia urge, dan inkontinensia paradoksa (overflow). Berikut adalah jenis-jenis
inkontinensi terlihat pada tabel 2-1.
Hematuria
Hematuria adalah didapatkannya darah atau sel darah merah di dalam urine. Hal ini
perlu dibedakan dengan bloody urethral disharge atau perdarahan per uretram yaitu keluar
darah dari meatus uretra eksterna tanpa melalui proses miksi. Porsi hematuria yang keluar perlu
diperhatikan apakah terjadi pada saat awal miksi (hematuria inisial), seluruh proses miksi
(hematuria total), atau akhir miksi (hematuria terminal). Dengan memperhatikan porsi
hematuria yang keluar dapat diperkirakan asal perdarahan. Hematuria dapat disebabkan oleh
berbagai kelainan pada saluran kemih tetapi mulai dari infeksi hingga keganasan saluran
kemih. Oleh karena itu setiap hematuria perlu diwaspadai adanya kemungkinan adanya
keganasan saluran kemih terutama hematuri yang tidak disertai dengan nyeri.

Pneumaturia
Pneumaturia adalah berkemih tercampur dengan udara. Keadaan ini dapat terjadi
karena terdapat fistula antara buli-buli dengan usus, diverticulitis, carcinoma colon (sigmoid),
crohn’s disease atau terdapat proses fermentasi glukosa menjadi gas CO2 di dalam urine seperti
pada pasien diabetes melitus.

Hematospermia
Hematospermia atau hemospermia adalah didapatkannya darah di dalam cairan
ejakulat (semen). Biasanya dialami oleh pasien usia pubertas dan paling banyak pada usia 30-
40 tahun. Kurang lebih 85-90% pasien mengeluh hematospermia berulang. Volume cairan
semen paling banyak berasal dari cairan prostat dan vesikula seminalis, oleh karena itu
hematospermia paling sering disebabkan oleh kelainan dari kedua organ tersebut.
Kejadian ini sering pada orang-orang yang sudah lama tidak melakukan aktivitas
seksual. Sebagian besar hematospermia tidak diketahui penyebabnya (hematospermia primer)
yang dapat sembuh sendiri. Hematospermia sekunder dapat disebabkan karena pasca biopsy
prostat, inflamasi/infeksi vesikula seminalis maupun prostat, atau karsinoma prostat. Meskipun
jarang, tuberkulosis prostat disebut-sebut sebagai salah satu penyebab hematospermia.

Keluhan pada skrotum dan isinya


Keluhan pada daerah skrotum yang menyebabkan pasien datang berobat ke dokter
adalah: buah zakar membesar, terdapat bentukan berkelok-kelok seperti cacing di dalam
kantong (varikokel), atau buah zakar tidak berada di dalam kantong skrotum (kriptorkismus).
Pembesaran pada buah zakar mungkin disebabkan oleh tumor testis, hidrokel, spermatokel,
hematokel, atau hernia skrotalis.

Keluhan disfungsi seksual


Disfungsi seksual pada pria meliputi libido menurun karena defisiensi androgen yang
berperan penting dalam nafsu seksual, impotensi merujuk pada kesulitan untuk mencapai dan
mempertahankan ereksi, ejakulasi retrograd (air mani tidak keluar pada saat ejakulasi),
anorgasmia biasa terjadi karena psikogenik atau dalam pengobatan tertentu, atau ejakulasi dini
yaitu keluarnya ejakulat kurang dari 1 menit setelah inisiasi intercourse dan terjadi akibat
masalah psikogenik.

2.2 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada pasien meliputi pemeriksaan tentang keadaan umum pasien dan
pemeriksaan urologi. Kelainan-kelainan pada sistem urogenitalia dapat memberikan
manifestasi sistemik, atau tidak jarang pasien-pasien dengan kelainan di bidang urogenitalia
kebetulan menderita penyakit lainPemeriksaan Ginjal
Adanya pembesaran pada daerah pinggang atau abdomean sebelah atas harus
diperhatikan saat melakukan inspeksi pada daerah ini. Pembesaran ini dapat disebabkan oleh
hidronefrosis atau tumor pada daerah retroperitonial. Palpasi dilakukan secara bimanual
(dengan dua tangan). Tangan kiri diletakkan di sudut kosto-vertebra untuk mengangkat ginjal
ke atas, sedangkan tangan kanan meraba ginjal dari depan. Perkusi, yaitu dengan pemeriksaan
ketok ginjal dilakukan dengan memberikan ketokan pada sudut kostovertebra.

 Pemeriksaan Buli-buli
Pemeriksaan buli buli harus memperhatikan adanya benjolan atau jaringan parut bekas
irisan/operasi di suprasiimfisis. Mass di daerah tersebut dapat merupakan tumor ganas buli buli
atau adanya buli buli yang terisi penuh oleh adanya retensi urine. Dengan palpasi dan perkusi
dapat ditentukan batas atas buli buli.