Anda di halaman 1dari 3

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT

NOMOR : 184/R/Dir-SK/XII/2016
TENTANG
KEBIJAKAN PENGAMANAN ATAU PERLINDUNGAN PERBEKALAN FARMASI
RUMAH SAKIT
DIREKTUR RUMAH SAKIT

MENIMBANG : a. Bahwa Rumah Sakit harus memastikan melakukan pengelolaan obat


(manajemen obat) dengan baik secara menyeluruh melalui system manajemen perbekalan
farmasi yang tepat.
b. Bahwa salah satu pengelolaan obat adalah untuk memastikan obat terlindungi dari kehilangan
atau pencurian baik dari farmasi atau dari setiap lokasi yang lain dimana obat disimpan atau
disalurkan.
c. Bahwa untuk menjamin obat terlindungi dari kehilangan atau pencurian maka perlu ditetapkan
Surat Keputusan Direksi tentang pengamanan atau perlindungan perbekalan farmasi.

MENGINGAT : 1. Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.


2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 72 tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat
Kesehatan.
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1197 tahun 2004, tentang Standar Pelayanan Farmasi di
Rumah Sakit.

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN :
KESATU : Instalasi farmasi melakukan pengawasan atau inspeksi terhadap
perbekalan farmasi di seluruh area Rumah Sakit melalui kegiatan stok opname setiap satu bulan
sekali.

KEDUA : Instalasi farmasi melakukan sistem pengamanan atau perlindungan


terhadap kehilangan atau pencurian melalui pemasangan kamera CCTV yang dimonitor rutin.

KETIGA : Kebijakan ini berlaku selama 3 tahun dan akan dilakukan evaluasi
minimal 1 tahun sekali.

KEEMPAT : Apabila hasil evaluasi mensyaratkan adanya perubahan, maka akan


dilakukan perubahan dan perbaikan sebagaimana mestinya.
Ditetapkandi : Tangerang
Tanggal : 30Desember2016
RUMAH SAKIT TANGERANG

Direktur

TEMBUSAN Yth :
1. Wadir Pelayanan Medis
2. Komite Medis
3. Seluruh Dokter di Rumah Sakit
4. Kepala Bagian Keperawatan
5. Seluruh Kepala Ruang Keperawatan
6. Instalasi Farmasi
7. Arsip

SURAT PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT


NOMOR : 184/R/Dir-SK/XII/2016
TANGGAL : 30 Desember 2016

KEAMANAN DAN PERLINDUNGAN PENYIMPANAN PERBEKALAN FARMASI

Penyimpanan perbekalan farmasi adalah proses penyiapan stok dalam rangka pemenuhan
kebutuhan selama proses pelayanan berjalan. Beberapa ketentuan terkait dengan proses
penyimpanan perbekalan farmasi.

1. Inspeksi/pengawasan tempat dan fasilitas penyimpanan


a. Untuk menjamin standarisasi penyimpanan obat dengan menggunakan prosedur
pemantauan/inspeksi fasilitas penyimpanan perbekalan farmasi secara periodik.
b. Monitoring dan pengendalian fasilitas ruang penyimpanan obat dilakukan oleh petugas yang
sedang dinas sesuai jadwal yang telah ditetapkan, materi pemerikasaan meliputi:
1. Kebersihan ruang/tempat penyimpanan.
2. Keamanan ruang penyimpanan, kunci, gembok, cctv, lainnya.
3. Penempatan posisi perbekalan farmasi pada tempat penyimpanan.
4. Fungsi dari fasilitas penyimpanan yang meliputi AC pendingin, kulkas, pallet, rak, lemari,
kardus/box dan lainnya.
5. Kebocoran atap dari aliran air hujan atau rembesan air pada lantai.
6. Fungsi dari aliran listrik ruang/tempat penyimpanan.
7. Ada atau tidaknya serangga pengerat, semut, rayap dan lainnya.
8. Ada atau tidaknya hewan pengerat, tikus dan lainnya.

2. Monitoring suhu serta kelembapan ruangan dilakukan setiap hari oleh petugas yang sedang
bertugas diruangan tersebut. Monitoring dilakukan selama 2(dua) tahap yaitu pada saat pertama
kali masuk ruangan (shift pagi) dan pada saat akan meninggalkan ruangan (shift sore). Kegiatan
monitoring dan pengendalian dilakukan dengan memeriksa dan mencatat suhu lemari pendingin,
suhu ruangan, kelembapan ruang pada kartu monitor suhu, jika ditemukan suhu tidak sesuai
standar maka dibuat laporan kepada bagian maintenance untuk dilakukan kalibrasi dan perbaikan
alat dalam waktu secepatnya.

3. Sediaan Nutrisi yang terbuat dari asam amino dan lipid cair serta sediaan nutrisi lainnya, maka
penyimpanan sediaan tersebut dilakukan pada suhu ruangan dengan kelembapan normal dan
terhindar dari cahaya matahari secara langsung. Pengaturan penyimpanan produk nutrisi
dilakukan sesuai dengan prosedur penyimpanan produk nutrisi parenteral.

4. Penyimpanan obat psikotropika dan narkotika dilakukan pada lemari khusus penyimpanan
psikotropik dan narkotik dengan persyaratan kemari mempunyai 2 pintu yaitu pintu dalam dan
pintu luar dan menempel pada dinding ruangan. Pintu lemari selalu terkunci dan kunci dibawa
oleh Apoteker/petugas IFRS yang menjadi penanggung jawab harian. Hal ini dilakukan untuk
menghindari penyalahgunaan dari obat-obat psikotropika dan narkotika.

5. Sediaan vaksin disimpan dalam suhu dingin, yaitu disimpan di refrigerator yang dilengkapi
dengan indikator suhu dan dimonitor setiap hari sehingga diharapkan dapat melindungi sediaan
farmasi dari kemungkinan kerusakan sediaan akibat suhu penyimpanan yang tidak terkendali.

6. Pengelolaan obat emergency, penyimpanan diruangan rawat inap dilakukan dalam lemari
emergency dan dimonitor jumlah, tanggal expired date serta kondisi lingkungan penyimpannya
setiap hari oleh perawat yang bertugas. Untuk obat yang telah digunakan pasien, obat segera
ditransaksikan pada pasien yang menggunakan prosedur pengelolaan obat emergency (gawat
darurat). Prosedur ini menggambarkan tentang proses pperlingdungan (proteksi), pengendalian,
lokasi penyimpanan, penggantian baik karena digunakan, rusak atau expired date.

7. Akses masuk ke ruang penyimpanan di IFRS dan Gudang Farmasi terbatas hanya untuk petugas
dan orang-orang yang berkepentingan.

8. Prosedur pengamanan obat dilakukan dengan pemantauan cctv.