Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 latar Belakang :

Kejadian Luar Biasa ( KLB ) adalah suatu peningkatan jumlah kasus yang melebihi
keadaan biasa, pada waktu dan daerah tertentu. Pada penyakit yang lama tidak muncul atau
baru pertama kali muncul di suatu daerah ( non endemis ), adanya satu kasus belum dapat
dikatakan sebagai suatu KLB. Untuk keadaan tersebut definisi KLB adalah suatu episode
penyakit dan timbulnya penyakit pada dua atau lebih penderita yang berhubungan satu sama
lain. Hubungan ini mungkin pada faktor saat timbulnya gejala ( onset of illnes ), faktor
tempat ( tempat tinggal, tempat makan bersama, sumber makanan ), faktor orang ( umur,
jenis kelamin, pekerjaan dan lainnya ). Uraian tentang batasan KLB tersebut di atas
terkandung arti adanya kesamaan pada ciri-ciri orang yang terkena, tempat dan orang. Selain
itu terlihat bahwa definisi KLB ini sangat tergantung pada kejadian ( insidesi ) penyakit
tersebut sebelumnya ( Barker, 1979; Kelsey, et al., 1986 ).

Di indonesia definisi KLB diaplikasikan dalam undang – undang. KLB merupakan


timbulnya suatu kejadian kesakitan / kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian
kesakitan / kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk
dalam kurun waktu tertentu.

Tetanus adalah penyakit toksemia akut yang disebabkan oleh eksotoksin yang dapat larut
( tetanospasmin ) dari Clostridium tetani. Biasanya toksin tersebut dihasilkan oleh bentuk
vegetatif organisme tersebut pada tempat terjadinya perlukaan selanjutnya diangkut serta
difiksasi di dalam susunan syaraf pusat. Sedangkan Tetanus neonatorum terjadi pada
neonatus ( bayi berusia 0-28 hari ) dan menyerupai tipe tetanus generalisata. Spora dari
kuman Clostridium tetani masuk malalui pintu masuk satu-satunya ke tubuh bayi baru lahir,
yaitu tali pusat. Peristiwa tersebut dapat terjadi pada saat pemotongan tali pusat ketika bayi
lahir maupun saat perawatannya sebelum puput (lepas tali pusat) (Depkes RI, 1993).

1
Tetanus dapat mengakibatkan kesulitan menetek dan menangis berlebihan disusul
kesulitan menelan, kekakuan tubuh, dan spasme. Opistotonus dapat terjadi sangat hebat atau
tidak timbul sama sekali ( Berhman, 1988 ). Di negara-negara berkembang angka kejadian
tetanus neonatorum 85%, dengan mortalitas akibat tetanus neonatorum akan mendekati
100% terutama kasus dengan masa inkubasi pendek ( Depkes RI, 1993 ).

Kasus tetanus banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih
memiliki kondisi kesehatan rendah. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan,
kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara
maju ( www.nakita.com ). Karena penyakit ini terkait erat dengan masalah sanitasi dan
kebersihan salama proses kelahiran ( www.tempointeraktif.com ). Menurut laporan kerja
WHO pada bulan April 1994, dari 8,1 juta kematian bayi di dunia, sekitar 48% adalah
kematian neonatal. Dari seluruh kematian neonatal, sekitar 42% kematian neonatal
disebabkan oleh infeksi tetanus neonatorum. Sedangkan angka kejadian tetanus neonatorum
di Indonesia, pada tahun 1992 sebanyak 760 kasus, meninggal 478 dengan CFR 72,42%.
Pada tahun 1995 sebanyak 806 kasus, meninggal 475 kasus dengan CFR 58,93%. Tahun
1996 terdapat 816 kasus, meninggal 499 dengan CFR 61,15%. Dan pada tahun 1997 terdapat
570 kasus, meninggal 106 denga CFR 18,6% (Depkes RI, 1998).

Sejak tahun 1989, WHO memang menargetkan eliminasi tetanus neonatorum. Sebanyak
104 dari 161 negara berkembang telah mencapai keberhasilan tersebut. Tetapi, karena tetanus
neonatorum masih merupakan persoalan signifikan di 57 negara berkembang lain, maka
UNICEF, WHO dan UNFPA pada Desember 1999 setuju mengulur eliminasi hingga tahun
2005 ( www.tempointeraktif.com ).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah berkomitmen untuk menghilangkan tetanus


neonatorum pada tahun 1995. Tiga tahun setelah itu (1998), infeksi itu menewaskan lebih
dari 400.000 bayi per tahun, bahkan meskipun vaksin telah tersedia. WHO memperkirakan
bahwa pada 2008, 59.000 bayi meninggal oleh NT, pengurangan 92% dari situasi di akhir
1980-an (pada tahun 1988, WHO mencatat bahwa 787.000 bayi meninggal karena tetanus
neonatorum (NT) atau sekitar 6,7 NT kematian per 1000 kelahiran hidup). Pada tahun yang
sama, 46 negara masih belum dihilangkan MNT di semua distrik. Meskipun kemajuan terus
dilakukan, pada Desember 2010, 39 negara belum mencapai status eliminasi MNT.

Tetanus ibu dan bayi baru lahir didunia merupakan penyebab penting
dari k e m a t i a n i b u d a n b a yi , s e k i t a r 1 8 0 . 0 0 0 k e h i d u p a n d i s e l u r u h d u n i a

2
s e t i a p t a h u n , hampir secara eksklusif di negara -negara berkembang. Meskipun
sudah dicegah dengan maternal immunization, dengan vaksin, dan aseptis
obstetric, tetanus ibu dan bayi tetap sebagai masalah kesehatan masyarakat di 48 negara,
terutama di Asia dan Africa (Anariyusmi, 2010).

Salah satu upaya dari negara-negara dunia untuk menurunkan


angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu adalah
d e n g a n m e n t a r g e t k a n eliminasi tetanus neonatorum. S e b a n ya k 1 0 4 d a r i 1 6 1
negara berkembang telah mencapai keberhasilan itu. Tetapi, karena
t e t a n u s n e o n a t o r u m m a s i h m e r u p a k a n persoalan signifikan di 57 negara
berkembang lain, UNICEF, WHO dan UNFPA pada Desember 1999 setuju mengulur
eliminasi hingga 2005. Target eliminasi tetanus neonatorum adalah satu kasus per
seribu kelahiran di masing-masing wilayah dari setiap negara. WHO
mengestimasikan 59.000 neonatus seluruh dunia mati akibat tetanus neonatorum.
(WHO, 2010).

Data kasus tetanus neonatorum dan penyebarannya di beberapa negara (WHO)

Kasus tetanus Neonatorum d i In d o n e s i a masih tinggi, data tahun


2007 s e b e s a r 1 2 , 5 p e r 1 0 0 0 k e l a h i r a n h i d u p ; s e d a n g k a n t a r g e t
E l i m i n a s i T e t a n u s Neonatorum (ETN) yang ingin dicapai adalah 1 per 1000
kelahiran hidup. (Survey Penduduk Antar-Sensus (Supas, 2008).

Angka kejadian 6-7/100 kelahiran hidup di perkotaan dan 11-23/100 kelahiran


hidup di pedesaan. Sedangkan angka kejadian tetanus pada anak di rumah sakit 7 -
40 kasus/tahun, 50% terjadi pada kelompok 5 -9tahun, 30% kelompok 1-4 tahun, 18%

3
kelompok > 10 tahun, dan sisanya pada bayi <12 bulan. Angka kematian keseluruhan antara
6,7-30%.(BAPPENAS, 2010).

Jumlah penderita tetanus neonatorum di Sumatera Selatan dari tahun 2000-2009

Sumber: Depkes RI. Database Kesehatan Per Provinsi.2010


(Online):(http://www.bankdata.depkes.go.id/nasional/public/report/createtablepit)

1.2 Kata Kunci :

 Kejadian Luar Biasa (KLB)


 Tetanus Neonatorum

1.3 Rumusan Masalah :

 Bagaimana cara penanggulangan masalah KLB pada Tetanus Neonatorum secara


terpadu?

1.4 Tujuan Umum :

 Untuk mengetahui cara penanggulangan masalah KLB pada Tetanus Neonatorum


secara terpadu

1.5 Tujuan Khusus :

4
 Untuk mengetahui kinerja petugas pelayan kesehatan di Puskesmas X terhadap KLB
(Tetanus Neonatorum)
 Untuk mengetahui hubungan antara kinerja petugas pelayanan kesehatan di
Puskesmas X terhadap peningkatan angka kejadian KLB (Tetanus Neonatorum)

1.6 manfaat :

 Manfaat praktek lapangan


a. Bagi Institusi pelayanan kesehatan

Sebagai informasi untuk tenaga kesehatan yang berperan sebagai pemberi


pelayanan kesehatan kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan
pelayanannya menjadi lebih optimal

b. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai dokumentasi dan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya


dalam penelitian sejenis sehingga diperoleh penelitian yang lebih baik

c. Bagi Peneliti

Penelitian ini bermanfaat bagi peneliti dalam menambah wawasan ilmu


pengetahuan secara nyata dengan observasi ke lokasi penelitian sekaligus
guna mengaplikasikan teori-teori kesehatan yang telah dipelajari selama
perkuliahan

5
BAB 2

LANGKAH PENYELIDIKAN KLB

A. Definisi / Batasan / Deskripsi Kejadian Luar Biasa ( KLB )

KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian atau kematian yang bermakna secara
epidemiologi dalam kurun waktu dan daerah tertentu.

Batasan KLB meliputi arti yang luas, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
 Meliputi semua kejadian penyakit, dapat suatu penyakit infeksi akut dan kronis
ataupun penyakit non infeksi.
 Tidak ada batasan yang dapat dipakai secara umum untuk menentukan jumlah
penderita yang dapat dikatakan sebagai KLB. Hal ini selain karena jumlah kasus
sangat tergantung dari jenis dan agen penyebabnya, juga karena keadaan penyakit
akan bervariasi menurut tempat ( tempat tinggal, pekerjaan ) dan waktu ( yang
berhubungan dengan keadaan iklim ) dan pengalaman keadaan penyakit tersebut
sebelumnya.
 Tidak ada batasan yang spesifik mengenai luas daerah yang dapat dipakai untuk
menentukan KLB, apakah dusun desa, kecamatan, kabupaten atau meluas satu
propinsi dan negara. Luasnya daerah sangat tergantung dari cara penularan penyakit
tersebut.
 Waktu yang digunakan untuk menentukan KLB juga bervariasi. KLB dapat terjadi
dalam beberapa jam, beberapa hari atau minggu atau beberapa bulan maupun tahun.
Deskripsi KLB adalah Kejadian terjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat
yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim
pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

B. Kriteria Kerja Kejadian Luar Biasa ( KLB )


1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
2. Peningkatan kejadian penyakit atau kematian terus-menerus selama tiga kurun waktu
berturut-turut menurut jenis penyakitnya ( jam, hari, minggu )

6
3. Peningkatan kejadian penyakit atau kematian dua kali atau lebih dibanding dengan
periode sebelumnya ( jam, hari, minggu, bulan, tahun )
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih bila
dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya
5. Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau
lebih dibanding dengan angka rata-rata perbulan dari tahun sebelumnya
6. CFR dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50%
atau lebih dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya
7. Proportional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan
dua kali atau lebih dibanding periode yang sama dan kurun waktu atau tahun sebelumnya
8. Beberapa penyakit khusus : kholera dan demam berdarah dengue
a. Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya ( pada daerah endemis )
b. Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode empat minggu
sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan
9. Beberapa penyakit seperti keracunan, menetapkan satu kasus atau lebih sebagai KLB :
a. Keracunan makanan
b. Keracunan pestisida

C. Langkah - Langkah Penyelidikan KLB


1. Persiapan investigasi di lapangan

KLB TN merupakan kejadian yang alami ( natural ), oleh karenanya selain untuk
mencapai tujuan utamanya penyelidikan epidemiologi KLB TN merupakan kesempatan baik
untuk melakukan penelitian. Misalnya penelitian tentang hubungan yang erat antara ilmu
epidemiologi dan penggunaannya di lapangan, mengevaluasi program -program kesehatan (
cara diagnosis, pengobatan, imunisasi, pencegahan penyakit, penyuluhan kesehatan )
kesehatan sebagai sarana pelatihan epidemiologi pada petugas kesehatan. Di Indonesia, setiap
penyelidikan epidemiologi KLB TN, sebaiknya digunakan sebagai sarana mendapatkan
informasi untuk perbaikan program kesehatan pada umumnya dan program pencegahan dan
pemberantasan penyakit menular dan sistem surveilans pada khususnya (Maulani, 2010 ).

Mengingat hal ini sebaiknya pada penyelidikan epidemiologi KLB selalu dikatakan :

7
1. Pengkajian terhadap sistem surveilans yang ada, untuk mengetahui kemampuan yang
ada sebagai alat deteksi dini adanya KLB, kecepatan informasi dan pemenuhan
kewajiban pelaksanaan sistem surveilans.
2. Penelitian faktor resiko kejadian penyakit (KLB) yang sedang berlangsung.
3. Evaluasi terhadap program kesehatan lingkungan, kesehatan perorangan dan lainnya,
mengevaluasi kemampuan sistem surveilans yang ada, mengetahui partisipasi
masyarakat, mengetahui sumber yang tepat untuk perencanaan program, kepatuhan
petugas kesehatan dalam menjalankan peraturan.

Penyelidikan dapat dimulai dengan identifikasi kasus, lalu secara retrospektif mencari
penyebab (agents) pada komponen lingkungannya atau faktor risiko kependudukan. Atau bila
di ketahui agents dalam komponen lingkungan, maka diperlukan pencarian secara kohort di
tunggu out come penyakitnya. Dalam hal ini semuanya bertujuan pengendalian atau
manajement penyakit lebih lanjut, utamanya pencegahan agar KLB tidak meluas
(Achmadi,2008)

Penyelidikan KLB dilakukan dalam pembuktian hipotesis awal mengenai KLB yang meliputi
penyakit penyebab KLB, sumber dan cara penularan. Untuk membuat hipotesis awal ini
dapat dengan mempelajari gejala klinis, ciri, dan pola epidemiologis penyakit tersangka.
Hipotesis awal ini dapat berubah atau lebih spesifik dan dibuktikan pada waktu penyelidikan.
Tujuan umum dari penyelidikan KLB adalah untuk mendapatkan informasi dalam rangka
penanggulangan dan pengendalian KLB.

2. Pemastian Kejadian Luar Biasa KLB TN


 Peningkatan kejadian penyakit atau kematian terus menerus selama 3 kurun waktu
berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
 Peningkatan kejadian penyakit atau kematian dua kali atau lebih dibanding dengan
periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun)

Dari daftar penyakit yang ada di tabel, Tetanus Neonatorum termasuk dalam KLB
( Kejadian Luar Biasa ) karena memenuhi Kriteria KLB (Kejadian Luar Biasa) nomor 2 dan
nomor 3. Tetanus Neonatorum sesuai dengan kejadian di wilayah tersebut dan meningkat 2
kali bahkan lebih selama kurun waktu 3 bulan berturut - turut dibandingkan periode
sebelumnya.

8
3. Pemastian diagnosis KLB TN

Suatu penyakit dapat disebut KLB jika memenuhi 1 atau lebih dari 9 kriteria kerja klb

No Nama penyakit Januari 2014 Februari 2014 Maret 2014


1. DBD 12 15 10
2. Thyphoid fever 5 8 8
3. Diare 10 11 8
4. Tetanus Neonatorum 2 4 9
5. ISPA 8 10 10

Seperti telah dibahas pada pembahasan sebelumnya, dari tabel di atas Tetanus Neonatorum
masuk dalam KLB, karena terjadi angka peningkatan kejadian dari bulan Januari – Maret
2014 yaitu dua kali lipat atau lebih dari bulan sebelumnya.

4. Pengidentifikasian kasus dan paparan ( membuat definisi kasus, menemukan dan


menghitung kasus )

Faktor resiko merupakan informasi yang sangat penting dalam melakukan identifikasi kasus dan
paparan. Terdapat lima faktor risiko utama terjadinya tetanus neonatorum, yaitu:

a. Faktor Risiko Pencemaran Lingkungan Fisik dan Biologik

Lingkungan yang mempunyai sanitasi yang buruk akan memyebabkan Clostridium tetani
lebih mudah berkembang biak. Kebanyakan penderita dengan gejala tetanus sering mempunyai
riwayat tinggal di lingkungan yang kotor. Penjagaan kebersihan diri dan lingkungan adalah amat
penting bukan saja dapat mencegah tetanus, tetapi pelbagai penyakit lainnya.

b. Faktor Alat Pemotongan Tali Pusat

Penggunaan alat yang tidak steril untuk memotong tali pusat meningkatkan risiko penularan
penyakit tetanus neonatorum. Kejadian ini masih lagi berlaku di negara-negara berkembang
dimana bidan-bidan yang melakukan pertolongan persalinan masih menggunakan peralatan
seperti pisau dapur atau sembilu untuk memotong tali pusat bayi yang baru lahir ( WHO, 2008 ).

c. Faktor Cara Perawatan Tali Pusat

9
Terdapat sebagian masyarakat di negara-negara berkembang masih menggunakan ramuan
untuk menutup luka tali pusat seperti kunyit dan abu dapur. Seterusnya, tali pusat tersebut akan
dibalut dengan menggunakan kain pembalut yang tidak steril sebagai salah satu ritual untuk
menyambut bayi yang baru lahir. Cara perawatan tali pusat yang tidak benar ini akan
meningkatkan lagi risiko terjadinya kejadian tetanus neonatorum ( Chin, 2000 ).

d. Faktor Kebersihan Tempat Pelayanan Persalinan

Kebersihan suatu tempat pelayanan persalinan adalah sangat penting. Tempat pelayanan
persalinan yang tidak bersih bukan saja berisiko untuk menimbulkan penyakit pada bayi yang
akan dilahirkan, malah pada ibu yang melahirkan. Tempat pelayanan persalinan yang ideal
sebaiknya dalam keadaan bersih dan steril ( Abrutyn, 2008 ).

e. Faktor Kekebalan Ibu Hamil

Ibu hamil yang mempunyai faktor kekebalan terhadap tetanus dapat membantu
mencegah kejadian tetanus neonatorum pada bayi baru lahir. Antibodi terhadap tetanus
dari ibu hamil dapat disalurkan pada bayi melalui darah, seterusnya menurunkan risiko
infeksi Clostridium tetani. Sebagian besar bayi yang terkena tetanus neonatorum biasanya
lahir dari ibu yang tidak pernah mendapatkan imunisasi TT ( Chin, 2000 ).

 Identifikasi Kasus

Seorang bayi yang diduga terjangkit oleh spora clostridium tetani akan memiliki
gejala klinis yang hampir mirip dengan bayi normal seperti perilaku menangis dan
menyusui pada dua hari setelah paparan pertama. Pada hari ke-3, gejala klinis tetanus
akan mulai nampak pada bayi seperti:

a. Terjadinya kekakuan otot rahang sehingga penderita sukar membuka mulut.


Kekakuan otot pada leher lebih kuat akan menarik mulut ke bawah, sehingga
mulut sedikit ternganga. Kadang-kadang dapat dijumpai mulut mecucu seperti
mulut ikan dan kekakuan pada mulut sehingga bayi tak dapat menetek ( Chin,
2000 ).

b. Terjadi kekakuan otot mimik muka dimana dahi bayi kelihatan mengerut, mata
bayi agak tertutup dan sudut mulut bayi tertarik ke samping dan ke bawah.

10
c. Kekakuan yang sangat berat menyebabkan tubuh melengkung seperti busur,
bertumpu pada tumit dan belakang kepala. Jika dibiarkan secara berterusan tanpa
rawatan, bisa terjadi fraktur tulang vertebra.

d. Kekakuan pada otot dinding perut menyebabkan dinding perut teraba seperti
papan. Selain otot dinding perut, otot penyangga rongga dada ( toraks ) juga
menjadi kaku sehingga penderita merasakan kesulitan untuk bernafas atau batuk.
Jika kekakuan otot toraks berlangsung lebih dari lima hari, perlu dicurigai risiko
timbulnya perdarahan paru.

e. Pada tetanus yang berat akan terjadi gangguan pernafasan akibat kekakuan yang
terus-menerus dari otot laring yang bisa menimbulkan sesak nafas. Efek
tetanospamin dapat menyebabkan gangguan denyut jantung seperti kadar denyut
jantung menurun ( bradikardia ), atau kadar denyut jantung meningkat
( takikardia ). Tetanospasmin juga dapat menyebabkan demam dan hiperhidrosis.
Kekakuan otot polos pula dapat menyebabkan anak tidak bisa buang air kecil
( retensi urin ).

f. Bila kekakuan otot semakin berat, akan timbul kejang - kejang umum yang terjadi
setelah penderita menerima rangsangan misalnya dicubit, digerakkan secara kasar,
terpapar sinar yang kuat dan sebagainya. Lambat laun, “masa istirahat” kejang
semakin pendek sehingga menyebabkan status epileptikus, yaitu bangkitan
epilepsi berlangsung terus menerus selama lebih dari tiga puluh menit tanpa
diselangi oleh masa sedar; seterusnya bisa menyebabkan kematian
( Ningsih, 2007).

 Identifikasi Paparan

Identifikasi Paparan dapat ditentukan melalui analisis kurva epidemic. Pada kasus
yang terjadi di puskesmas X tampak peningkatan kasus tetanus neonatorum yang
terjadi dimulai dari bulan Januari hingga Maret 2014 dan dikategorikan sebagai KLB
( Kejadian Luar Biasa )

11
16
14
DBD
12
10 Thypoid Fever

8 Diare
6 Tetanus Neonatorum
4
ISPA
2
0
Januari 2014 Februari 2014 Maret 2014

5. Melakukan epidemiologi deskriptif


 Deskripsi Kasus Berdasarkan Waktu

Penggambaran kasus berdasarkan waktu pada periode wabah ( lamanya KLB


berlangsung ), yang digambarkan dalam suatu kurva epidemik. Kurva epidemik adalah
suatu grafik yang menggambarkan frekuensi kasus berdasarkan saat mulai sakit ( onset of
illness ) selama periode wabah. Kurva ini digambarkan dengan axis horizontal adalah saat
mulainya sakit dan sebagai axis vertikal adalah jumlah kasus. Kurva epidemik dapat
digunakan untuk tujuan :

 Menentukan atau memprakirakan sumber atau cara penularan penyakit dengan


melihat tipe kurva epidemik tersebut ( common source atau propagated ).
 Mengidentifikasikan waktu paparan atau pencarian kasus awal ( index case ).
Dengan cara menghitung berdasarkan masa inkubasi rata-rata atau masa inkubasi
maksimum dan minimum.
 Deskripsi Kasus Berdasarkan Tempat

Tujuan menyusun distribusi kasus berdasarkan tempat adalah untuk mendapatkan


petunjuk populasi yang rentan kaitannya dengan tempat ( tempat tinggal, tempat
pekerjaan ). Hasil analisis ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi sumber penularan.
Agar tujuan tercapai, maka kasus dapat dikelompokan menurut daerah variabel geografi (
tempat tinggal, blok sensus ), tempat pekerjaan, tempat ( lingkungan ) pembuangan
limbah, tempat rekreasi, sekolah, kesamaan hubungan ( kesamaan distribusi air, makanan
), kemungkinan kontak dari orang ke orang atau melalui vektor ( CDC, 1979; Friedman,
1980 ).

12
 Deskripsi KLB Berdasarkan Orang

Teknik ini digunakan untuk membantu merumuskan hipotesis sumber penularan atau
etiologi penyakit. Orang dideskripsikan menurut variabel umur, jenis kelamin, ras, status
kekebalan, status perkawinan, tingkah laku, atau kebudayaan setempat. Pada tahap dini
kadang hubungan kasus dengan variabel orang ini tampak jelas. Keadaan ini
memungkinkan memusatkan perhatian pada satu atau beberapa variabel di atas. Analisis
kasus berdasarkan umur harus selalu dikerjakan, karena dari age specific rate dengan
frekuensi dan beratnya penyakit. Analisis ini akan berguna untuk membantu pengujian
hipotesis mengenai penyebab penyakit atau sebagai kunci yang digunakan untuk
menentukan sumber penyakit

6. Penanggulangan sementara

Penanggulangan KLB adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menangani penderita,


mencegah perluasan KLB, mencegah timbulnya penderita atau kematian baru pada suatu
KLB yang sedang terjadi. Penanggulangan sementara dilaksanakan berdasarkan analisis dan
rekomendasi hasil penyelidikan KLB Tetanus Neonatorum. Untuk menangani penderita awal
dapat dengan mengatasi kejang pada pasien, mengobati penyebab tetanus dengan antibiotika,
melakukan perawatan yang adekuat dengan pemberian oksigen, nutrisi serta menjaga
keseimbangan cairan dan elektrolit dan lainnya. Pencegahan perluasan KLB Tetanus
dilakukan dengan :

 Pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT) pada ibu hamil 3 kali sebelum trimester III
secara berturut-turut. Pada awalnya sasaran program imunisasi TT untuk mencegah
penyakit tetanus neonatorum adalah ibu hamil. Menurut rekomendasi WHO,
pemberian imunisasi TT sebanyak 5 dosis dengan internal minimal antara satu dosis
ke dosis berikutnya seperti yang telah di temukan, akan memberikan perlindungan
seumur hidup. Saat ini imunisasi TT diberikan kepada murid SD kelas VI, wanita
calon pengantin dan ibu hamil.
 Peningkatan ilmu pengetahuan tentang tentang pertolongan persalinan sesuai dengan
aturan medis yang benar dan steril kepada dukun beranak dan bidan di posyandu /
puskesmas pada daerah tersebut.
 Peningkatan pelayanan antenatal dan pertolongan persalinan tiga bersih yaitu bersih
diri, bersih tempat dan bersih alat.

13
 Promosi penyuluhan dan perawatan tali pusat yang benar kepada masyarakat,
khususnya ibu hamil dan menyusui.

Neonatorum dilakukan sementara dengan meningkatkan program imunisasi TT pada daerah


dan menambah kualitas sterilitas saat pemotongan dan perawatan tali pusat pada bayi dan
untuk mencegah timbulnya penderita sementara dilakukan dengan perbaikan asupan gizi pada
ibu.

7. Pengidentifikasian dan cara penyebaran

Dari seluruh kejadian Tetanus Neonatorum yang terjadi, yang kemudian menjadikan
penyakit tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), disebabkan oleh infeksi tetanus
neonatorum. Infeksi Tetanus Neonatorum tersebut dapat menyebar melalui beberapa cara
seperti :

 Melakukan persalinan tidak dengan tenaga medis yang profesional ( seperti dukun
beranak )
Menurut data yang diperoleh Dinas Kesehatan Jawa Barat jumlah bidan jaga
di Jawa Barat sampai tahun 2005 ada 7.625 orang. Disebutkan pada data tersebut,
jumlah dukun di perkotaan hanya setengah jumlah bidan termasuk di kota Bandung.
Namun, di 9 daerah (kabupaten) jumlah dukun lebih banyak (dua kali lipat) jumlah
bidan. Malah di Jawa Barat masih ada 10 kabupaten yang tidak memiliki bidan (Ketua
Mitra Peduli/milik Jabar)
Dari 61.000 bayi yang ada, 23.668 diantaranya atau 38,8 persen, lahir melalui
proses persalinan dukun beranak. Padahal, di setiap desa telah tersedia bidan yang
ditunjuk pemerintah. Akibatnya, sekitar 236 bayi atau 70 persen diantaranya
meninggal akibat persalinan yang dilakukan oleh dukun beranak. Berdasarkan data
yang ada, jumlah dukun beranak mencapai 1.846 orang. Sedangkan jumlah bidan
hanya 512 orang. Bahkan di salah satu desa, sampai ada dukun beranak mencapai 19
orang.

Dari banyaknya jumlah dukun beranak pada satu desa tersebut lah yang
memicu banyak wanita yang lebih memilih melakukan persalinan dengan dukun
beranak. Sedangkan dukun beranak tidak menggunakan alat yang steril pada saat
proses pemotongan tali pusat bayi dan juga tidak di berikan obat antiseptik. Hal inilah

14
yang kemudian dapat mengakibatkan bayi terkena tetanus Neonatorum dan meninggal
dalam waktu 7-14 hari setelah lahir.

 Tidak melakukan imunisasi


Cakupan imunisasi DPT 3 bayi secara nasional dari tahun 2007 – 2011 terus
meningkat dari 90,57% pada tahun 2007 menjadi 94,9 % pada tahun 2011.dari tahun
2007-2011 cakupan imunisasi DPT3 sudah mencapai target yaitu 90%. Dari data ini
secara nasional pemberian kekebalan dasar pada bayi dari tahun ke tahun sudah
tinggi, walaupun terdapat penurunan di tahun 2011. Perbedaan nilai tertinggi dan
terendah cakupan dalam lima tahun tidak lebar, berkisar 5,9%. Bila di bandingkan
dengan data survei Riskedas tahun 2007 dan 2010, data rutin lebih tinggi 22,87% dan
20,54%. Tampak data cakupan DPT3 konsistensinya cukup baik dengan kelengkapan
laporan rutin dari tahun 2007-2011 sebesar 100%.
Imunisasi tetanus (TT) untuk ibu hamil diberikan 2 kali (BKKBN, 2005;
Saifuddin dkk, 2001), dengan dosis 0,5 cc diinjeksikan intramuskuler/subkutan dalam
(Depkes RI, 2000).
Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan untuk
mendapatkan imunisasi TT lengkap (BKKBN, 2005). TT 1 dapat diberikan sejak
diketahui positif hamil dimana biasanya diberikan pada kunjungan pertama ibu hamil
ke sarana kesehatan (Depkes RI, 2000).
Sedangkan pada bayi, konsep imunisasi TT adalah life long imunization yaitu
pemberian imunisasi imunisasi TT 1 sampai dengan TT 5. Skema life long
immunization adalah sebagai berikut:
1) TT 0, dilakukan pada saat imunisasi dasar pada bayi.
2) TT 1, dilakukan pada saat imunisasi dasar pada bayi.
3) TT 2, dilakukan pada saat imunisasi dasar pada bayi.
4) TT 3, dilalukan pada saat BIAS (bulan imunisasi anak sekolah) pada kelas
satu.
5) TT 4, dilalukan pada saat BIAS (bulan imunisasi anak sekolah) pada kelas
dua.
6) TT 5, dilalukan pada saat BIAS (bulan imunisasi anak sekolah) pada kelas
tiga.
 Kurangnya sosialisasi pada masyarakat

15
Kurangnya tenaga medis di suatu daerah dapat menyebabkan semakin
sedikitnya frekuensi diadakannya sosialisasi kesehatan di daerah tersebut. Kegiatan
sosialisasi sendiri membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Butuh sekitar 1 semester
atau lebih tepatnya 6 bulan untuk dapat membuat masyarakat paham dan mengerti
mengenai masalah kesehatan. Dan apabila dalam 6 bulan itu jarang diadakan
sosialisasi maka perlahan akan membuat ketertarikan masyarakat untuk mengikuti
kegiatan sosialisasi menjadi berkurang. Setelah peminat berkurang, maka akan
semakin jarang lagi kegiatan sosialisasi diadakan hingga akhirnya lama kelamaan
kegiatan sosialisasi tidak lagi diadakan, yang kemudian dapat membuat masyarakat
buta akan masalah kesehatan yang berbahaya.

 Masalah ekonomi
Biaya persalinan di Indonesia bermacam-macam. Berbeda tergantung pada
tempat persalinan (seperti Rumah Sakit, Puskesmas, dan bidan). Di Rumah Sakit,
biaya persalinannya adalah sebagai berikut :

 Persalinan Normal :
o Rp 5 juta – 7 juta (Kelas Tiga)
o Rp 7 juta – 9 juta (Kelas Dua)
o Rp 9 juta – 11 juta (Kelas Satu)
o Rp 11 juta – 13 juta (VIP)
o Rp 13 juta – 15 juta (Super VIP)

 Persalinan Caesar :
o Rp 15 juta – 17 juta (Kelas Tiga)
o Rp 17 juta – 19 juta (Kelas Dua)
o Rp 19 juta – 21 juta (Kelas Satu)
o Rp 21 juta – 23 juta (VIP)
o Rp 23 juta – 25 juta (Super VIP)

Sedangkan untuk persalinan di Puskesmas atau bidan dikenai biaya kurang


lebih sebesar Rp 500.000 untuk sekali persalinan. Mahalnya biaya persalinan di 3

16
tempat itulah yang membuat banyak wanita lebih memilih untuk melakukan
persalinan di dukun beranak yang hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 50.000 untuk
sekali persalinan. Hal ini dikarenakan tingkat ekonomi masyarakat Indonesia saat ini
masih banyak yang berada di tingkat ekonomi menengah kebawah.
Berdasarkan keempat hal tersebutlah yang kemudian menyebabkan semakin
banyaknya dan semakin meningkatnya angka kejadian Tetanus Neonatorum dalam
kurun waktu 3 bulan berturut-turut yang kemudian menjadikan penyakit tersebut
sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

8. Pengidentifikasian keadaan penyebab


 Penggunaan alat yang tidak steril untuk memotong tali pusat juga seringkali
meningkatkan risiko penularan penyakit tetanus neonatorum. Kejadian ini masih lagi
berlaku di negara-negara berkembang dimana bidan-bidan yang melakukan
pertolongan persalinan masih menggunakan peralatan seperti pisau dapur atau
sembilu untuk memotong tali bayi baru lahir.
 Cara perawatan tali pusat dengan teknik tradisional seperti menggunakan ramuan
untuk menutup luka tali pusat dengan kunyit dan abu dapur, kemudian tali pusat
tersebut dibalut dengan menggunakan kain pembalut yang tidak steril, serta tempat
pelayanan persalinan yang tidak bersih dan steril.
 Kekebalan ibu terhadap tetanus, merupakan faktor-faktor yang berperan untuk
meningkatkan risiko terjadinya neonatus neonatorum.
 Faktor predisposisi:
 Adanya spora tetanus
 Adanya jaringan yang mengalami injury, mislanya pemotongan tali pusat
 Kondisi luka tidak bersih, yang memungkinkan perkembangan mikroorganisme host
yang rentan.
 Faktor resiko:
 Imunisasi TT tidak dilakukan/tidak sesuai dengan ketentuan program
 Pertolongan persalinan tidak memenuhi syarat atau tidak sesuai APN
 Perawatan tali pusat tidak memenuhi standar kesehatan

17
9. Perencanaan penelitian yang lebih sistematis

Perencanaan penelitian yang lebih sistematis menjadi salah satu faktor penting dalam
menurunkan angka kejadian KLB Tetanus Neonatorum. Dengan adanya penelitian maka
diharapkan akan menjadi bahan referensi bagi para petugas kesehatan setempat untuk
menanggulangi peningkatan suatu KLB. Penelitian yang sistematis memungkinkan petugas
kesehatan untuk mengetahui secara jelas mengenai semua aspek yang terkait dengan KLB di
suatu daerah, sehingga akan dapat dilakukan tindakan pencegahan dan penanganan yang
lebih optimal. Penelitian yang dimaksud dalam kasus KLB Tetanus Neonatorum dapat
berupa:

 Penelitian tentang penyakit tetanus neonatorum

Suatu penyakit yang tergolong KLB harus dijadikan prioritas dalam penanggulangannya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan sebagai langkah awal penanggulangannya ialah berupa
penelitian mengenai penyakit tersebut. Dalam hal ini, tetanus neonatorum merupakan
penyakit yang tergolong KLB. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian mengenai penyebab
terjadinya tetanus neonatorum, cara penyebaran tetanus neonatorum, lingkungan tempat
kuman clostridium tetani gram positif hidup, serta aspek lain yang berkaitan dengan penyakit
tetanus neonatorum.

 Penelitian berdasarkan epidemologi

Penelitian berdasarkan epidemologi penting bagi petugas kesehatan untuk mengetahui


prioritas penanggulangan masalah yang harus dilakukan. Beberapa penelitian berdasarkan
epidemologi yang dapat dilakukan adalah:

 Distribusi kasus & kematian tetanus neonatorum secara menyeluruh


 Distribusi kasus & kematian tetanus neonatorum berdasarkan jenis kelamin
 Distribusi kasus & kematian tetanus neonatorum berdasarkan riwayat
perawatan kehamilan ibu
 Distribusi kasus & kematian tetanus neonatorum berdasarkan frekuensi
kunjungan antenatal (ANC)
 Distribusi kasus & kematian tetanus neonatorum berdasarkan status imunisasi
TT ibu

18
 Distribusi kasus & kematian tetanus neonatorum berdasarkan riwayat
pertolongan persalinan
10. Penetapan saran cara pencegahan dan penanggulangan
1. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
2. Bidan – bidan serta yang membntu persalinan seperti dukun harus menggunakan alat
yang steril guna untuk mencegah terjadinya penularan penyakit tetanus neonatorum
3. Memberikan pelatihan cara perawatan tali pusat yang benar.
4. Menciptakan tempat pelayanan persalinan yang bersih dan steril.
5. Mengadakan pelayanan imunisasi TT bagi ibu hamil,karena sbagian besar bayi yang
terkena tetanus neo natorum biasanya lagir dari ibu yang tidak pernah mendapatkan
imunisasi TT.

Prinsip penanganan yang di lakukan pada pendrita penyakit tetanus neonatorum

1. Mencegah terjadiinya kejang kekakuan otot.Untuk mencegah kejang atau kekakuan


otot, diberikan obat golongan benzodiazepin. Obat ini mempunyai aktivitas sebagai
penenang, anti kejang, dan pelemas otot yang kuat. Efek samping dapat berupa
depresi pernafasan, terutama terjadi bila diberikan dalam dosis besar.
2. Menetralisasi racun dalam tubuh.Untuk menetralisasir racun di dalam tubuh,
diberikan obat anti tetanus serum atau Human Tetanus Immunuglobulin ( HTIG ).
3. Membunuh kuman tetanus yang ada pada tubuh,maka di gunakan terapi antibiotik
yang bertujuan untuk memberantas kuman tetanus, kuman ini peka terhadap penisilin
grup beta laktam termasuk penisilin G, ampisilin, karbenisilin, dan tikarsilin. Selain
itu kuman ini juga peka terhadap obat clorampenicol, metronidazol, aminoglikosida
dan sefalosporin generasi ketiga. Tindakan bedah yang diperlukan untuk memberantas
kuman tersebut adalah dengan perawatan luka. Luka bekas potongan tali pusat
dibersihkan dari benda asing dengan menggunakan betadine dan hidorgen peroksida.
Kemudian luka dibiarkan terbuka agar oksigen dapat bersirkulasi baik kedalam luka.
11. Penetapan sistem penemun kasus baru atau kasus dengan komplikasi

Penentuan KLB bertujuan menetapkan apakah kejadian tesebut merupakan KLB atau
bukan, dilakukan dengan membandingkan insiden penyakit yang telah berjalan dengan

19
insiden penyakit dalam keadaan biasa pada populasi yang berisiko pada tempat dan waktu
tertentu.

Penetapan KLB dilakukan dengan membandingkan insidensi penyakit yang tengah


berjalan dengan insidensi penyakit dalam keadaan biasa ( endemic ), pada populasi yang
dianggap berisiko, pada tempat dan waktu tertentu. Dalam membandingkan insidensi
penyakit berdasarkan waktu harus diingat bahwa beberapa penyakit dalam keadaan biasa
( endemis ) dapat bervariasi menurut waktu ( pola temporal penyakit ). Khusus untuk
penyakit-penyakit Kholera, Cacar, Pes, DHF / DSS. Setiap peningkatan jumlah
penderita-penderita penyakit tersebut dia dua di suatu daerah endemis. Serta terdapatnya
satu atau lebih penderita atau kematian karena suatu penyakit, pada suatu kecamatan yang
telah bebas dari penyakit-penyakit, paling sedikit bebas selama 4 minggu berturut-turut.

 Karakteristik Penyakit yang berpotensi KLB


1. Penyakit yang terindikasi mengalami peningkatan kasus secara cepat
2. Merupakan penyakit menular dan termasuk juga kejadian keracunan
3. Mempunyai masa inkubasi yang cepat
4. Terjadi di daerah dengan padat hunian
 Penetapan KLB
1. Dilakukan dengan membandingkan insidensi penyakit yang tengah berjalan
dengan insidensi penyakit dalam keadaan biasa ( endemik ), pada populasi yang
dianggap beresiko, pada tempat dan waktu tertentu
2. Dengan pola maksimum dan minimum 5 tahunan atau 3 tahunan
3. Membandingkan frekuensi penyakit pada tahun yang sama bulan berbeda atau
bulan yang sama tahun berbeda
 Petunjuk penetapan KLB
1. Angka kesakitan atau kematian suatu penyakit menular disuatu Kecamatan
menunjukkan kenaikan tiga kali atau lebih selama tiga minggu berturut-turut atau
lebih
2. Jumlah penderita baru dalam satu bulan dari suatu penyakit menular di suatu
kecamatan, menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih, bila dibandingkan
dengan angka rata-rata sebulan dalam setahun sebelumnya dari penyakit menular
yang sama di kecamatan tersebut itu

20
3. Angka rata-rata bulanan selama satu tahun dari penderita - penderita baru dari
suatu penyakit menular di suatu kecamatan, menunjukkan kenaikan dua kali atau
lebih, bila dibandingkan dengan angka rata-rata bulanan dalam tahun sebelumnya
dari penyakit yang sama di kecamatan yang sama pula
4. Case Fatality rate suatu penyakit menular tertentu dalam satu bulan di sutu
kecamatan, menunjukkan kenaikan 50 % atau lebih, bila dibandingkan CFR
penyakit yang sama dalam bulan yang lalu di kecamatan tersebut
5. Proporsional rate penderita baru dari suatu penyakit menular dalam waktu satu
bulan, dibandingkan dengan proportional rate penderita baru dari penyakit
menular yang sama selama periode waktu yang

Penetapan saran cara pencegahan dan penanggulangan

6. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan


7. Bidan – bidan serta yang membntu persalinan seperti dukun harus menggunakan alat
yang steril guna untuk mencegah terjadinya penularan penyakit tetanus neonatorum
8. Memberikan pelatihan cara perawatan tali pusat yang benar.
9. Menciptakan tempat pelayanan persalinan yang bersih dan steril.
10. Mengadakan pelayanan imunisasi TT bagi ibu hamil,karena sbagian besar bayi yang
terkena tetanus neo natorum biasanya lagir dari ibu yang tidak pernah mendapatkan
imunisasi TT.

Prinsip penanganan yang di lakukan pada penderita penyakit tetanus neonatorum

4. Mencegah terjadiinya kejang kekakuan otot.Untuk mencegah kejang atau kekakuan


otot, diberikan obat golongan benzodiazepin. Obat ini mempunyai aktivitas sebagai
penenang, anti kejang, dan pelemas otot yang kuat. Efek samping dapat berupa
depresi pernafasan, terutama terjadi bila diberikan dalam dosis besar.
5. Menetralisasi racun dalam tubuh.Untuk menetralisasir racun di dalam tubuh,
diberikan obat anti tetanus serum atau Human Tetanus Immunuglobulin ( HTIG ).
6. Membunuh kuman tetanus yang ada pada tubuh,maka di gunakan terapi antibiotik
yang bertujuan untuk memberantas kuman tetanus, kuman ini peka terhadap penisilin
grup beta laktam termasuk penisilin G, ampisilin, karbenisilin, dan tikarsilin. Selain

21
itu kuman ini juga peka terhadap obat clorampenicol, metronidazol, aminoglikosida
dan sefalosporin generasi ketiga. Tindakan bedah yang diperlukan untuk memberantas
kuman tersebut adalah dengan perawatan luka. Luka bekas potongan tali pusat
dibersihkan dari benda asing dengan menggunakan betadine dan hidorgen peroksida.
Kemudian luka dibiarkan terbuka agar oksigen dapat bersirkulasi baik kedalam luka.

22