Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN ALKALOIDA

(Ekstrak Piper nigrum L.)

Nama : Annisa Fitri Nuzulia

NIM : 201410410311246

Kelas : Farmasi A

Dosen Pembimbing : - Drs. Herra Studiawan, M.Si.,Apt.

- Siti Rofida, M.Farm.,Apt

SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2016/2017


PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

FEBRUARI 2017
1.1 Tujuan
Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan alkaloida tanaman.

1.2 Tinjauan Pustaka


1.2.1 Tinjauan Pustaka tentang Tanaman Piper nigrum L

Berikut klasifikasi ilmiah Piper nigrum L


Kingdom : Plantae
Subkingdom : Trachebionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisio : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Sub Kelas : Magnollidae
Ordo : Peperales
Familia : Piperaceae
Genus : Piper
Species : Piper nigrum L.

Lada hitam adalah jenis rempah-rempah special yang terkenal sejak zaman kuno.
Lada hitam adalah tanaman asli dari hutan hujan tropis di Negara India Selatan,
Kerala, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Lada hitam memiliki rasa pedas
yang kuat karena minyak atsiri seperti piperin. Minyak atsiri akan menguap jika
disimpan di udara terbuka dalam waktu lama. Lada termasuk dalam daftar tanaman
yang memiliki kandungan senyawa kimia yang mengesankan, dan diketahui memiliki
manfaat pencegahan penyakit dan mendukung kesehatan. Lada telah lama
dipergunakan sebagai bahan pengobatan, karena sifatnya yang anti inflamasi,
karminatif, serta anti kembung.
Piper nigrum L merupakan tanaman terna, berkayu, memanjat, panjang sampai
15 m, kulit batang berwarna hijau tua, berakar pada buku-bukunya. Bentuk daun
bermacam-macam, dari bundar telur sampai lonjong, bagian pangkal bundar, tumpul
atau berbentuk biji, sedangkan ujung lancip, permukaan atas berwarna hijau gelap,
kuat, memanjat, panjang 8 cm sampai 20 cm, lebar 5 cm sampai 15 cm, terdapat
bintik-bintik kelenjar yang rapat, panjang tangkai 7,5 cm sampai 8 cm. Perbungaan
berupa bulir yang menggantung, panjang sampai 25 cm, panjang gagang 1 cm sampai
3,5 cm, berdaun pelindung yang berbentuk lonjong menggalah, panjang 4 mm sampai
5 mm, lebar 1 mm. Benang sari 2 helai, tangkai sari tebal, kepala putik 2 sampai 5,
umpumnya 3 sampai 4. Buah buni, bulat atau agak elip, buah muda berwarna hijau tua
kemudian menjadi merah dan akhirnya hitam, gundul, panjang lebih kurang 4 mm.

1.2.2. Tinjaun Pustaka tentang Alkaloida

a. Alkaloid

Istilah “alkaloid” (berarti “mirip alkali”, karena dianggap bersifat basa)


pertama kali dipakai oleh Carl Friedrich Wilhelm Meissner (1819), seorang apoteker
dari Halle (Jerman) untuk menyebut berbagai senyawa yang dipeoleh dari ekstraksi
tumbuhan yang bersifat basa (pada waktu itu sudah dikenal, misalnya morfina,
striknina, serta solanina). Hingga sekarang dikenal sekitar 10.000 senyawa yang
tergolong alkaloid dengan struktur sangat beragam, sehingga hingga sekarang tidak
ada batasan yang jelas untuknnya.
Alkaloid dihasilkan oleh banyak organisme mulai dari bakteri, fungi (jamur),
tumbuhan, dan hewan. Ekstraksi secara kasar biasanya dengan mudah dapat dilakukan
melalui teknik ekstraksi asam-basa. Rasa pahit atau getir yang dirasakan lidah dapat
disebabkan oleh alkaloid.
Alkaloida adalah senyawa yang mengandung substansi dasar nitrogen basa,
biasanya dalam bentuk cincin heterosiklik. Alkaloida terdistribusi secara luas pada
tanaman. Diperkirakan sekitar 15-20% vascular tanaman mengandung alkaloid.
Banyak alkaloid merupakan turunan asam amino, lisin, ornitin, fenilalanin, asam
nikotin, dan asam antranilat. Asam amino disintesis dalam tanaman dengan proses
dekarboksilasi menjadi amina, amina kemudian dirubah menjadi aldehida oleh amina
oksida. Alkaloid biasanya pahit dan sangat beracun. Alkaloid ini diklasifikasikan lagi
berdasarkan tipe dasar kimia pada nitrogen yang terkandung dalam bentuk
heterosiklik. Klasifikasi alkaloid tersebut meliputi pirrolizidine alkaloid, pyridine
alkaloid, indole alkaloid, quinolizidine, alkaloid, steroid alkaloid, polycyclic diterpene
alkaloid, indolizidine alkaloids, tryptamine alkaloids, tropane alkaloid, fescue alkaloid
dan miscellaneous alkaloid. Peranan alkaloid dalam jaringan tanaman tidak pasti,
mereka telah dikenal sebagai produk metabolic atau substansi.
b. Penggolongan Alkaloid
Alkaloid tidak mempunyai tatanan sistemik, oleh karena itu, suatu alkaloid
dinyatakan dengan nama trivial, misalnya kuinin, morfin, dan strikhnin. Hampir semua nama
trivial ini beraklhiran –in yang mencirikan alkaloid. Berikut system klasifikasi berdasarkan
Hegnauer yang paling banyak diterima, dimana alkaloid dikelompokkan atas :
1. Alkaloid sesungguhnya
Alkaloid ini merupakan racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas fisiologis
yang luas, hamper tanpa terkecuali bersifat basa, umumnya mengandung nitrogen
dalam cincin heterosiklik, diturunkan dari asam amino, biasanya terdapat dalam
tanaman sebagai garam asam organic. Beberapa pengecualian terhadap aturan tersebut
adalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki
cincin heterosiklik dan alkaloida quartener yang bersifat agak asam daripada bersifat
basa.
2. Protoalkaloida
Protoalkaloida merupakan amin yang relative sederhana dimana nitrogen asam amino
tidak terdapat dalam cincin heterosiklik. Protoalkaloida diperoleh berdasarkan
biosintesa dari asam amino yang bersifat basa. Pengertian amin biologis sering
digunakan untuk kelompok ini.
3. Pseudoalkaloida
Pseudoalkaloida tidak diturunkan dari prekusor asam amino ini biasanya bersifat basa.
Ada dua seri alkaloida yang penting dalam kelompok ini yaitu steroidal dan purin.

c. Sifat Umum Alkaloid

1. Sifat Fisika
Basa alkaloid bebas seperti itu selalu diketahui cukup larut dalam pelarut organic,
seperti : kloroform, pelarut yang agak tidak polar (heksana, benzene, petroleum eter),
pelarut tak bercampur, alcohol berkadar rendah ( methanol,etanol ), tetapi basa alkaloid
tersebut praktis tidak larut atau sangat sukar larut air. Garam alkaloid hamper mudah larut
air, agak kurang larut dalam alcohol, dan paling tidak larut atau sukar larut dalam pelarut
organic.
2. Sifat Kimia
Sifat kimia pada alkaloid umumnya sangat meluas, karena itu alkaloid akan ditangani
secara individual pada hal-hal berikut :
- N pada molekul
Selain unsur normal lainnya, missal karbon, hydrogen, oksigen, alkaloid terutama
harus mengandung sedikitnya satu atom N
- O pada molekul
Selain elemen umum C,H, dan N, sebagai alkaloid biasanya mengandung atom O,
H, dan N, berbagai alkaloid biasanya mengandung atom O. Alkaloid spesifik ini
selalu ditemukan dalam keadaan padat dengan beberapa pengecualian yaitu
alkaloid teroksigenasi biasanya muncul sebagai cairan yang tidak mudah menguap
seperti pilokarpin.
- Kebasaan (Alkalinitas)
Secara umum alkaloid bersifat basa (alkalin) dalam reaksi berdasarkan adanya
atom N yang terdapat pada molekul. Jadi, alkaloid rentan terhadap pembentukan
garamnya dengan berbagai asam. Tingkat kebasaan alkaloid sebagian besar
bergantung pada pengaruh umum yang disebabkan status elektrostatis atom N yang
terdapat pada molekul alkaloid, sebagai contoh, jumlah atom N yang terdapat
alkaloid, baik atom N yang terletak pada cincin maupun pada rantai samping,
adanya gugus alkil (missal metil) pada atom N dan sebagainya.

d. Klasifikasi Senyawa Alkaloida


Alkaloida sebagai penghasil terbesar dan terpenting bahan tumbuhan mengandung
nitrogen yang terdapat di alam. Menurut Hegnauer (1963) berhasil mengelompokkan
alkaloid kedalam enam kelompok sebagai titik awal biosintesisnya, seperti : asam
antranilat, histidin,lisin, ornitin fenilalanin, dan triptopan. Menurut Price (1963)
menematkan alkaloid tersebut dalam sembilan kategori struktur kimia berikut, yaitu :
akridin, amida, amina, benzilisokuinolin, kantinon, imidazole, indolkuinazolin,
furokuinolin, dan kuinazolin.
Pemikiran lain mengelompokkan alkaloid kedalam empat klasifikasi berikut, yaiut :
a. Klasifikasi Biosintesis. Pada contoh khusus ini, signifikansi hanya pada
precusor dan dari signifikansi tersebut alkaloid yang diteliti dihasilkan pada
tumbuhan secara biosintesis. Contoh :
1. Alkaloid indol yang diturunkan dari triptofan
2. Alkaloid piperidin yang diturunkan dari lisin
3. Alkaloida pirolidin yang diturunkan dari ornitin
4. Alkaloida feniletilamin yang diturunkan dari tirosin
5. Alkaloida imidazole yang diturunkan dari histidin
b. Klasifikasi Kimia. Klasifikasi ini paling umum berdasarkan kriteria utamanya,
yaitu adanya inti heterosiklik utama (yaitu kesatuan kimia). Contoh :
1. Alkaloida pirolidin, misal Higrin
2. Alkaloida piperidin, misal Lobelin
3. Alkaloida pirolizidin, misal Senesionin
4. Alkaloida tropana, misal Atropin
5. Alkaloida kuinolin, misal Kuinin
6. Alkaloida isokuinolon, misal Morfin
7. Alkaloida aporfin, misal Boldin
8. Alkaloida indol, misal Ergometrin
9. Alkaloida imidazole, misal Pilokarpin
10. Alkaloida diazosin, misal Lupanin
11. Alkaloida purin, misal Kafein
12. Alkaloida steroid, misal Solanadin
13. Alkaloida amino, misal Efedrin
14. Alkaloida diterpen, misal Akonitin
c. Klasifikasi Farmakologis. Alkaloid memperlihatkan rentang luas karakteristik
yang sangat spesifik. Contoh :
1. Morfin sebagai analgesic narkotik
2. Kuinin sebagai antimalaria
3. Striknin sebagai rangsangan reflex
4. Lobelin sebagai stimulan pernafasan
5. Boldin sebagai koleretik dan laksatif
6. Akonitin sebagai neuralgia
7. Pilokarpin sebagai senyawa antiglaukoma dan miotik
8. Ergonovin sebagai oksitosik
9. Efedrin sebagai bronkodilator
10. Narkein sebagai analgesic (narkotik) dan antitusif
d. Klasifikasi taksonomik. Klasifikasi ini pada dasarnya berhubungan dengan
“Takson” yaitu kategori taksonomik. Taksa yang paling umum adalah
taksonomik mencakup genus, subgenus, spesies dan lain-lain dalam berbagai
famili tumbuhan. Beberapa contoh umum famili tumbuhan dan berbagai
spesies yang disebutkan sebagai berikut, yaitu :
1. Alkaloid Cannabiaceae : misal, Cannabis sativa Linn. (Ganja, Mariyuana)
2. Alkaloid Rubiaceae : misal Cinchona Sp, (kinin) : Mitragyna spesiosa
(Katum, Kratum,Kutum), Pausinystalia johimbe ( K.Schum)(Yohimbe)
3. Alkaloid Solanaceae : misal, Atropa belladona L., ( Deadly Nightshead,
Belladona) dan lain-lain.
e. Cara Mengidentifikasi Tanaman Golongan Alkaloida

Adanya kandungan alkaloida dalam tanaman dapat ditunjukkan dengan adanya


endapan yang terjadi setelah diberikan pereaksi Dragendroff, Wagner, dan Mayer. Apabila
larutan ditambahkan dengan pereaksi Dragendroff maka akan menghasilkan endapan yang
berwarna orange. Apabila larutan ditambahkan dengan peraksi Wagner maka akan
menghasilkan endapan yang berwarna orange kemerahan dan apabila ditambahkan
pereaksi Mayer maka akan menghasilkan endapan yang berwarna cream.

1.2.3. Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis


Kromatografi adalah cara pemisahan zat berkhasiat dan zat lain yang ada dalam
sediaan dengan jalan penyarian berfraksi, atau penyerapan, atau penukaran ion pada zat
berpori, menggunakan cairan atau gas yang mengalir. Zat yang diperoleh dapat digunakan
untuk percobaan identifikasi atau penetapan kadar. Kromatografi yang sering digunakan
adalah kromatografi kolom, kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis, dan
kromatografi gas. Sebagai bahan penyerap selain kertas digunakan juga zat penyerap
berpori, misalnya alumunium dioksida yang diaktifkan, asam silikat atau silica gel kiselgur
dan harsa sintetik. Bahan tersebut dapat digunakan sebagai penyerap tunggal atau
campurannya atau sebagai penyangga bahan lain. Kromatografi kertas dan kromatografi
lapis tipis umumnya lebih berguna untuk percobaan identifikasi, karena cara ini khas dan
mudah dilakukan untuk zat dengan jumlah sedikit. Kromatografi gas memerlukan alat
yang lebih rumit, tetapi cara tersebut sangat berguna untuk percobaan identifikasi dan
penetapan kadar.
Perhitungan Rf

𝒙 (𝒋𝒂𝒓𝒂𝒌 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒕𝒆𝒎𝒑𝒖𝒉 𝒔𝒐𝒍𝒖𝒕𝒆)


Rf =
𝒚 (𝒋𝒂𝒓𝒂𝒌 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒕𝒆𝒎𝒑𝒖𝒉 𝒆𝒍𝒖𝒆𝒏 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊 𝒕𝒂𝒏𝒅𝒂 𝒃𝒂𝒕𝒂𝒔)

2,3
1. Rf = = 0,2875
8
3,9
2. Rf = = 0,4875
8
5,2
3. Rf = = 0,6500
8
5,7
4. Rf = = 0,7125
8
6,4
5. Rf = = 0,800
8
1.4 Pembahasan

Pada praktikum kali ini dilakukan identifikasi senyawa alkaloida dari ekstrak Piper
nigrum atau sering disebut dengan ekstrak lada hitam. Tahap pertama adalah melakukan
preparasi sampel dengan cara ekstrak ditambahkan etanol, 5 ml HCl 2N yang dipanaskan dan
diaduk sampai larut, fungsi dari penambahan HCl 2N adalah untuk menarik senyawa alkaloid
dalam ekstrak karena alkaloid bersifat basa maka dengan penambahan asam akan terbentuk
garam, sehingga alkaloid akan terpisah dengan komponen-komponen lain dari sel tumbuhan
yang ikut terekstrak dengan mendistribusikannya ke fase asam. Setelah dipanaskan sekitar 2-
3 menit ekstrak dibiarkan dingin. Pada saat melakukan pendinginan larutan ekstrak kami
diaman di suhu ruangan. Setelah dingin ditambahkan 0,3 gram NaCl, kemudian diaduk
sampai rata dan disaring yang bertujuan untuk memisahkan filtratnya. Hasil filtrat yang telah
disaring ditambahkan 5 ml HCl 2N dan dibagi menjadi 4 bagian kedalam tabung reaksi yang
sudah diberi label sama banyak. Pada tahap kedua yaitu reaksi pengendapan, pada reaksi ini
ditambahkan pereaksi Meyer kedalam filtrat 1A,pereaksi meyer berikatan dengan alkaloid
melalui ikatan koordinasi antara atom N alkaloid dengan Hg pereaksi meyer sehingga
menghasilkan senyawa kompleks merkuri nonpolar mengendap berwarna putih, dan pereaksi
Wagner dalam filtrat 1B.Setelah ditambahkan pereaksi didapatkan filtrat menjadi keruh, hal
ini membuktikan bahwa ekstrak Piper nigrum L positif mengandung alkaloida.
Filtrat yang bertanda 1C ditambahkan NH4OH pekat digunakan untuk proses
KLT. Pada proses KLT digunakan larutan 1C yang sudah diekstraksi dengan penambahan
kloroform sebanyak 5 ml. Ekstraksi dengan penambahan kloroform bertujuan untuk
memutuskan ikatan antara asam tanin dengan alkaloida yang terikat secara ionik dengan atom
N dari alkaloid berikatn saling stabil dengan gugus hidroksil genolik dari asam tanin. Dengan
terputusnya ikatan ini alkaloid akan bebas, sedangkan asam tanin akan terikat oleh kloroform.
Filtrat yang sudah di pisahkan, segera diuapkan dilemari asam sampai 1/3 nya, hal ini
bertujuan agar filtratnya menjadi lebih pekat. Setelah itu dilakukan penotolan pada plat KLT.
Setelah penotolan plat KLT dilihat pada sinar UV 254. Kemudian dilakukan eluasi. Lalu
dilihat dibawah sinar UV 254 dan 365. Pada hasil identifikasi senyawa alkaloida pada ekstrak
Piper nigrum L kami mendapatkan 5 titik noda dengan nilai Rf yang berbeda. Kemudian
dilakukan penyemprotan pada lempeng dengan pereaksi Dragendroff. Setelah dilihat dibawah
sinar UV 254 nm noda tidak tampak karena lempeng akan berfluoresensi sedangkan sampel
akan tampak berwarna gelap, oleh karena itu lempeng disemprot dengan pereaksi
Dragendroff untuk menampakkan noda. Setelah lempeng disemprot dengan pereaksi tersebut,
terdapat noda berwarna jingga yang dapat dilihat secara langsung. Bercak berwarna jingga ini
menandakan adanya senyawa golongan alkaloid pada ekstrak Piper nigrum L. Berdasarkan
nilai Rf yang kami hitung, pada noda yang kedua didapat nilai Rf sebesar 0,4875 dimana nilai
ini mendekati dengan nilai Rf alkaloida jenis piperin yaitu 0,53.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 1980. Materia Medika Indonesia Jilid IV. Jakarta :
Departemen Kesehatan. P. 99.

Reshmi S.K., Sathya E., and Devi Suganya P., 2010. Isolation of piperidine from Piper
nigrum and its antiproliferative activity. African Journal of Pharmacy and
Pharmacology, Vol. 4 (8). Pp. 562-573

Trevor Robinson. 2000. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung : Penerbit


ITB

Farmakognosi dan Farmakobioteknologi / Autosh Kar ; alih baasa, July Manurung,


Winny Syarief, Henrita Vidhayanti; editor edisi bahasa Indonesia, Shinta
Rachmawati, Ryeska Fajar Respaty.-Ed 2- Jakarta : EGC, 2013

S. Berger, D. Sicker. Classics in Spectroscopy Isolation and Structure Elucidation of Natural


Product. 2009