Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai
dipusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO telah
menetapkandekade
ini (2000
-
2010) menjadi
Dekade Tulang dan Persendian
.
Penyebab frakturterbanyak adalah
karen
a kecelakaan lalu lintas
.
Kecelakaan lalu lintas ini,
selainmenyebabkan fraktur, menurut
WHO, juga menyebabkan kematian 1,25 juta orang setiap tahunnya, dimana sebagian
besar
korbannya adalah remaja atau dewasa muda.
Fraktur adalah masalah yang akhir
-
akhir ini sangat banyak menyita perhatian
masyarakat, pada arus mudik dan arus balik hari raya idulfitri tahun ini banyak terjadi
kecelakaan lalu lintas yang sangat banyak yang sebagian korbannya mengalami fraktur.
Banyak
pula kejadian alam yang tidak terduga yang banyak menyebabkan fraktur. Sering kali
untuk penanganan fraktur ini tidak tepat mungkin dikarenakan kurangnya informasi
yang
tersedia contohnya ada seorang yang mengalami fraktur, tetapi karena kurangnya
informa
si
untuk menanganinya Ia pergi ke dukun pijat, mungkin karena gejalanya mirip dengan
orang
yang terkilir.
Fraktur lebih sering terjadi pada orang laki
-
laki daripada perempuan dengan umur
dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan a
tau kecelakaan.
Sedangkan pada Usila prevalensi cenderung lebih banyak terjadi pada wanita
berhubungan
dengan adanya osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon.
BAB II
fraktur
II.1. DEFINISI
tulang atau tulang rawan bisa komplet atau inkomplet. Diskontinuitas tulang yang disebabkan
oleh gaya yang melebihi
Fraktur
adalah terputusnya hubungan/kontinuitas struktur
elastisitas
tulang.
Secara umum fraktur dibagi menjadi dua, yaitu fraktur tertutup
dan fraktur terbuka.
Fraktur tertutup jika kulit diatas tulang yang fraktur masih utuh, tetapi apabila kulit
diatasnya
tertembus maka disebut fraktur terbuka
,
Trauma langsung akibat benturan akan menimbulkan
garis fraktur transversal dan
kerusakan jaringan
lunak. Benturan yang lebih keras disertai
dengan penghimpitan
tulang akan mengakibatkan garis fraktur kominutif diikuti dengan
kerusakan jaringan
lunak yang lebih luas. Trauma tidak langsung mengakibatkan fraktur
terletak jauh
dari titik trauma dan jaring
an sekitar fraktur tidak mengalami kerusakan berat.
Pada
olahragawan, penari dan tentara dapat pula terjadi fraktur pada tibia, fibula
atau
metatarsal yang disebabkan oleh karena trauma yang berulang. Selain trauma,
adanya proses
patologi pada tulang seper
ti. tumor atau pada penyakit Paget dengan
energi yang minimal
saja akan mengakibatkan fraktur. Sedang pada orang normal hal
tersebut belum tentu
menimbulkan fraktur.
II.2.
Klasifikasi
Fraktur dapat dibedakan jenisnya berdasarkan hubungan tulang dengan jaringan
disekitar, bentuk patahan tulang, dan lokasi pada tulang fisis.

Berdasarkan hubungan tulang dengan jaringan disekitar
Fraktur dapat dibagi menjadi :
A.
Fraktur tertutup (closed
),bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia
luar.
B.
Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan
dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat (menurut
R. Gustillo), yaitu:
b.1. Derajat I :
i. Luka <1 cm
ii. Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk
iii. Fraktur sederhana, transversal, oblik, atau kominutif ringan
iv. Kontaminasi minimal
b.2. Derajat II :
i. Laserasi >1 cm
ii. Ke
rusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/ avulsi
iii. Fraktur kominutif sedang
iv. Kontaminasi sedang
b.3. Derajat III :
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan
neurovaskular
serta kontaminasi derajat tinggi. Frakt
ur terbuka derajat III terbagi atas:
i. Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat
laserasi
luas/flap/avulsi atau fraktur segmental/sangat kominutif yang disebabkan oleh
trauma
berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luk
a.
ii. Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi masif.
iii. Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat
kerusakan
jaringan lunak.

Gambar derajat fraktur terbuka


Berdasarkan bentuk patahan tulang
a) Transversal
Adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang
atau
bentuknya melintang dari tulang. Fraktur semacam ini biasanya mudah dikontrol
dengan
pembidaian gips.
b) Spiral
Adalah fraktur meluas yang mengelilingi tula
ng yang timbul akibat torsi ekstremitas atau
pada alat gerak. Fraktur jenis ini hanya menimbulkan sedikit kerusakan jaringan lunak.
c) Oblik
Adalah fraktur yang memiliki patahan arahnya miring dimana garis patahnya
membentuk
sudut terhadap tulang.
d) Seg
mental
Adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang, ada segmen tulang yang retak dan ada yang
terlepas menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darah.
e) Kominuta
Adalah fraktur yang mencakup beberapa fragmen, atau terputusnya keutuhan jarin
gan dengan
lebih dari dua fragmen tulang.
f) Greenstick
Adalah fraktur tidak sempurna atau garis patahnya tidak lengkap dimana korteks
tulang
sebagian masih utuh demikian juga periosterum. Fraktur jenis ini sering terjadi pada
anak

anak.
g) Fraktur Im
paksi
Adalah fraktur yang terjadi ketika dua tulang menumbuk tulang ketiga yang
berada
diantaranya, seperti pada satu vertebra dengan dua vertebra lainnya.
h) Fraktur Fissura
Adalah fraktur yang tidak disertai perubahan letak tulang yang berarti,
fragmen biasanya
tetap di tempatnya setelah tindakan reduksi.

Berdasarkan lokasi pada tulang fisis
Tulang fisis adalah bagian tulang yang merupakan lempeng pertumbuhan, bagian ini
relatif lemah sehingga strain pada sendi dapat berakibat pemisahan fisis
pada anak

anak.
Fraktur fisis dapat terjadi akibat jatuh atau cedera traksi. Fraktur fisis juga kebanyakan terjadi
karena kecelakaan lalu lintas atau pada saat aktivitas olahraga. Klasifikasi yang paling
banyak digunakan untuk cedera atau fraktur fisis a
dalah klasifikasi fraktur menurut Salter

Harris :
a) Tipe I : fraktur transversal melalui sisi metafisis dari lempeng pertumbuhan,
prognosis
sangat baik setelah dilakukan reduksi tertutup.
b) Tipe II : fraktur melalui sebagian lempeng pertumbuhan, timb
ul melalui tulang metafisis ,
prognosis juga sangat baik denga reduksi tertutup.
c) Tipe III : fraktur longitudinal melalui permukaan artikularis dan epifisis dan
kemudian
secara transversal melalui sisi metafisis dari lempeng pertumbuhan. Prognosis cukup
baik
meskipun hanya dengan reduksi anatomi.
d) Tipe IV : fraktur longitudinal melalui epifisis, lempeng pertumbuhan dan terjadi
melalui
tulang metafisis. Reduksi terbuka biasanya penting dan mempunyai resiko
gangguan
pertumbuhan lanjut yang lebih besar.
e) Tipe V : cedera remuk dari lempeng pertumbuhan, insidens dari gangguan
pertumbuhan
lanjut adalah tinggi.
Untuk lebih jelasnya tentang pembagian atau klasifikasi fraktur dapat dilihat pada
gambar
berikut ini :
Gambar 1.
a) Tipe I : fraktur transversal melalui sisi metafisis dari lempeng pertumbuhan,
prognosis sangat baik setelah dilakukan reduksi tertutup.
b) Tipe II : fraktur melalui sebagian lempeng pertumbuhan, timbul melalui tulang metafisis ,
prognosis juga sangat b
aik denga reduksi tertutup.
c) Tipe III : fraktur longitudinal melalui permukaan artikularis dan epifisis dan
kemudian
secara transversal melalui sisi metafisis dari lempeng pertumbuhan. Prognosis cukup
baik
meskipun hanya dengan reduksi anatomi.
) Tipe
IV : fraktur longitudinal melalui epifisis, lempeng pertumbuhan dan terjadi melalui
tulang metafisis. Reduksi terbuka biasanya penting dan mempunyai resiko
gangguan
pertumbuhan lanjut yang lebih besar.
e) Tipe V : cedera remuk dari lempeng pertumbuhan, i
nsidens dari gangguan pertumbuhan
lanjut adalah tinggi.
Fraktur Berdasarkan Hubungan Tulang

Gambar fraktur terbuka dan tertutup

Gambar 2. Fraktur Berdasarkan Bentuk Patahan Tulang


Transversal
I
II
III
IV
Ket: gambar
I:patahan transversal
Gambar II:patahan spiral
Gambar III:patahan obliq
Gambar IV:patahan segmental

I.3
Etiologi
Fraktur terjadi bila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana trauma
tersebut
kekuatannya melebihi kekuatan
tulang
. 2 faktor mempengaruhi terjadinya fraktur
:

Ekstrinsik meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang, arah
dan kekuatan trauma.

Intrinsik meliputi kapasitas tulang mengasorbsi energi trauma, kelenturan,
kekuatan, dan densitas tulang.
II
.4.
Diagnosis
I. Riwayat
Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat mekanisme cedera (posisi kejadian) dan
kejadian
-
kejadian yang berhubungan dengan cedera tersebut. riwayat cedera atau fraktur
sebelumnya, riwayat sosial ekonomi, pekerjaan, obat
-
obatan yang
dia
konsumsi, merokok,
riwayat alergi dan riwayat osteoporosis serta penyakit lain.
II. Pemeriksaan Fisik
A. Inspeksi / Look

Deformitas : angulasi, rotasi, pemendekan, pemanjangan, bengkak

Pada fraktur terbuka : klasifikasi Gustilo
B. Palpasi / Feel (
nyeri tekan (tenderness), Krepitasi)
Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya perlu diperiksa. Lakukan
palpasi pada
daerah ekstremitas tempat fraktur tersebut, meliputi persendian
diatas dan dibawah cedera,
daerah yang mengalami nyeri, efusi, dan
krepitasi
Neurovaskularisasi bagian distal fraktur
meliputi : pulsasi aretri, warna kulit,
pengembalian cairan kapler
(Capillary refill test)
sensasi
C. Gerakan / Moving
D. Pemeriksaan trauma di tempat lain : kepala, toraks, abdomen, pelvis
Sedangkan pada
pasien dengan politrauma, pemeriksaan awal dilakukan
menurut protokol ATLS. Langkah
pertama adalah menilai
airway
,
breathing
,
dan
circulation
. Perlindungan pada vertebra
dilakukan sampai cedera vertebra dapat
disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan
rad
iologis. Saat pasien stabil, maka
dilakukan
secondary survey
.
1.
Manifestasi klinis:
1). Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi.
Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang
untuk
meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2). Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada eksremitas. Deformitas dapat
di
ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak
dapat
berfungsi dengan baik karena fungsi
normal o
tot bergantung pada integritas tulang tempat
melengketnya obat.
3). Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah
tempat
fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5,5 cm
4). Krepitasi yaitu pada
saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang.
Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
5). Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma
dan
perdarahan yang mengikuti fraktur.
Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau beberapa
hari setelah cedera
II.5.
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium : darah rutin, faktor pembekuan darah, golongan darah,
cross
-
test
,
dan urinalisa.
Radiologis untuk lokasi fraktur harus menurut
rule
of two
, terdiri dari :
I.
2 gambaran,
anteroposterior (AP) dan lateral
II.
Memuat dua sendi di proksimal dan distal fraktur
III.
Memuat gambaran foto dua ekstremitas, yaitu ekstremitas yang cedera
dan yang tidak
terkena cedera (pada anak) ; dan dua kali,
yaitu sebelum tindakan
dan sesudah tindakan.
Pergeseran fragmen Tulang ada 4 :
1. Alignman : perubahan arah axis longitudinal, bisa membentuk sudut
2. Panjang : dapat
terjadi pemendekan (shortening)
3. Aposisi : hubungan
ujung fragmen satu dengan lainnya
4. Rotasi : terjadi perputaran terhadap fragmen proksimal
II.6.
Komplikasi Fraktur
Komplikasi fraktur dapat diakibatkan oleh trauma itu sendiri atau akibat penanganan
fraktur yang disebut
komplikasi iatrogenik
.
1.
Komplikasi umum
Syok karena perdarahan
ataupun oleh karena nyeri, koagulopati diffus dan
gangguan
fungsi pernafasan.
Ketiga macam komplikasi tersebut diatas dapat terjadi dalam 24 jam
pertama
pasca trauma dan setelah beberapa hari atau minggu akan terjadi gangguan
metabolisme, berupa
peningkatan katabolisme. Komplikasi umum lain dapat
berupa
emboli
lemak, trombosis vena dalam (DVT), tetanus atau gas gangren
.
2. Komplikasi Lokal
a.
Komplikasi dini
Komplikasi dini a
dalah kejadian komplikasi dalam
satu minggu pasca
trauma
,
sedangkan
apabila kejadiannya sesudah satu minggu pasca trauma disebut
komplikasi lanjut.

Pada Tulang
1.
Infeksi, terutama pada fraktur terbuka.
2.
Osteomielitis
dapat diakibatkan oleh fraktur terbuka atau tindakan
operasi pada fraktur
tertutup. Keadaan ini dapat m
enimbulkan
delayed
union atau bahkan non union
Komplikasi
sendi dan tulang dapat berupa artritis supuratif yang sering
terjadi pada fraktur terbuka atau
pasca operasi yang melibatkan sendi
sehingga terjadi kerusakan kartilago sendi dan berakhir
dengan dege
nerasi

Pada Jaringan lunak
1.
Lepuh , Kulit yang melepuh adalah akibat dari elevasi kulit superfisial
karena edema.
Terapinya adalah dengan menutup kasa steril kering dan
melakukan pemasangan elastik
2. Dekubitus,
terjadi akibat penekanan jaringan lunak
tulang oleh gips.
Oleh karena itu perlu
diberikan bantalan yang tebal pada daerah
-
daerah
yang menonjol
.

Pada Otot
Terputusnya serabut otot yang mengakibatkan gerakan aktif otot tersebut
terganggu. Hal ini
terjadi karena serabut otot yang robek melekat pada
serabut yang utuh, kapsul sendi dan
ulang. Kehancuran otot akibat trauma
dan terjepit dalam waktu cukup lama akan
menimbulkan
sindroma crush atau trombus
.

Pada pembuluh darah
Pada robekan arteri inkomplit akan terjadi perdarahan terus menerus.
Sedangkan
pada
robekan yang komplit ujung pembuluh darah mengalami
retraksi dan perdarahan berhenti
spontan.
Pada jaringan distal dari lesi akan mengalami iskemi bahkan nekrosis.
Trauma atau
manipulasi sewaktu melakukan reposisi dapat menimbulkan
tarikan mendadak p
ada
pembuluh darah sehingga dapat menimbulkan
spasme. Lapisan intima pembuluh darah
tersebut terlepas dan terjadi
trombus. Pada kompresi arteri yang lama seperti
pemasangan
torniquet
dapat terjadi sindrome
crush.
Pembuluh vena yang
putus perlu dilakukan
repair
untuk mencegah kongesti bagian distal lesi
.
Sindroma kompartemen
terjadi akibat tekanan intra kompartemen otot
pada tungkai atas
maupun tungkai bawah sehingga terjadi penekanan
neurovaskuler sekitarnya. Fenomena ini
disebut
Iskhemi Volkmann
.
Ini
dap
at terjadi pada pemasangan gips yang terlalu ketat
sehingga dapat
menggangu aliran darah dan terjadi edema dalam otot.
Apabila iskhemi dalam
6 jam pertama tidak mendapat tindakan dapat
menimbulkan kematian/nekrosis otot yang
nantinya akan diganti dengan
ja
ringan fibrus yang secara periahan
-
lahan menjadi pendek dan
disebut
dengan
kontraktur volkmann
.
Gejala klinisnya adalah 5 P
yaitu
Pain (nyeri),
Parestesia, Pallor (pucat), Pulseness(denyut nadi
hilang) dan Paralisis

Pada saraf
Berupa kompresi,
neuropraksi, neurometsis (saraf putus), aksonometsis
(kerusakan akson).
Setiap trauma terbuka dilakukan eksplorasi dan
identifikasi nervus
.
b. Komplikasi lanjut
Pada tulang dapat berupa
malunion, delayedunion
atau
nonunion
.
Pada pemeriksaan
Terlihat
deformitas berupa angulasi, rotasi, perpendekan atau perpanjangan.

Delayed union
Proses penyembuhan lambat dari waktu yang dibutuhkan secara normal. Pada
pemeriksaan
radiografi, tidak akan terlihat bayangan sklerosis pada ujung
-
ujung
fraktur,
Terapi konser
vatif
selama 6 bulan bila gagal dilakukan
Osteotomi
Lebih 20 minggu dilakukan cancellus grafting
(12
-
16 minggu)

Non union
Dimana secara klinis dan radiologis tidak terjadi penyambungan
1.
Tipe I (hypertrophic non union)
tidak akan terjadi proses penyembuhan fraktur dan
diantara fragmen fraktur tumbuh jaringan fibrus yang masih mempunyai potensi
untuk union dengan melakukan koreksi fiksasi dan
bone grafting.
2.
Tipe II (atrophic non union)
disebut juga sendi
palsu
(pseudoartr
osis)
terdapat jaringan
sinovial
sebagai kapsul sendi beserta
rongga
sinovial
yang berisi cairan, proses
union
tidak akan dicapai walaupun
dilakukan
imobilisasi lama.
Beberapa faktor yang menimbulkan
non union
seperti disrupsi periosteum yang
luas,
hilangnya vaskularisasi fragmen
-
fragmen fraktur, waktu imobilisasi yang tidak
memadai
implant
atau gips yang tidak memadai, distraksi interposisi, infeksi dan
penyakit tulang
(fraktur patologis)
.

Mal union
Penyambungan fraktur tidak normal sehingga
menimbukan deformitas
. Tindakan
refraktur atau osteotomi koreksi .

Osteomielitis
Osteomielitis kronis dapat terjadi pada fraktur terbuka atau tindakan operasi pada
fraktur
tertutup sehingga dapat menimbulkan
delayed union
sampai
non union
(infected non uni
on).
Imobilisasi anggota gerak yang mengalami osteomielitis
mengakibatkan terjadinya atropi
tulang berupa osteoporosis dan atropi otot

Kekakuan sendi
Kekakuan sendi baik sementara atau menetap dapat diakibatkan imobilisasi lama,
sehingga
terjadi perlengket
an peri artikuler, perlengketan intraartikuler,
perlengketan antara otot dan
tendon. Pencegahannya berupa memperpendek waktu
imobilisasi dan melakukan latihan aktif
dan pasif pada sendi. Pembebasan
periengketan secara pembedahan hanya dilakukan pada
pender
ita dengan kekakuan
sendi menetap
.
II.7.
Stadium Penyembuhan Fraktur
Proses penyembuhan fraktur terdiri atas lima stadium yaitu :

Pembentukan hematom
Fraktur merobek pembuluh darah dalam medulla, korteks dan periosteum sehingga
timbul
hematom.

Organisasi
Dalam 24 jam, kapiler dan fibroblas mulai tumbuh ke dalam hematom disertai dengan
infiltrasi sel

sel peradangan. Dengan demikian, daerah bekuan darah diubah menjadi
jaringan granulasi fibroblastik vaskular.

Kalus sementara
Pada sekitar har
i ketujuh, timbul pulau

pulau kartilago dan jaringan osteoid dalam jaringan
granulasi ini. Kartilago mungkin timbul dari metaplasia fibroblas dan jaringan osteoid
ditentukan oleh osteoblas yang tumbuh ke dalam dari ujung tulang. Jaringan osteoid,
da
lam
b
entuk spikula ireguler .
da
nt
rabekula, mengalami mineralisasi membentuk kalus sementara.
Tulang baru yang tidak teratur ini terbentuk dengan cepat dan kalus sementara sebagian besar
lengkap pada sekitar hari kedua puluh lima.

Kalus definitif
Kalus sement
ara yang tak teratur secara bertahap akan diganti oleh tulang yang teratur
dengan susunan havers

kalus definitif.

Remodeling
Kontur normal dari tulang disusun kembali melalui proses remodeling akibat
pembentukan
tulang osteoblastik maupun resorpsi oste
oklastik. Keadaaan terjadi secara relatif lambat
dalam periode waktu yang berbeda tetapi akhirnya semua kalus yang berlebihan dipindahkan,
dan gambaran serta struktur semula dari tulang tersusun kembali.
II.8.
Tujuan Pengobatan fraktur
:
1.
REPOSISI
dengan tujuan mengembalikan fragmen keposisi anatomi

Tertutup : fiksasi eksterna, Traksi (kulit, sekeletal)

Terbuka :
Indikasi
:
1. Reposisi tertutup gagal
2. Fragmen bergeser dari apa yang diharapkan
3. Mobilisasi dini
4. Fraktur multiple
5.
Fraktur Patologis

reposisi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang
pada kesejajarannya dan
rotas
i anatomis. Metode dalam reposisi adalah reposisi tertutup, traksi dan reposisi
terbuka, yang masing
-
masing di pilih bergantung sifat fraktur

Reposisi
tertutup dilakukan untuk mengembalikan fragmen tulang ke posisinya
(ujung
-
ujung saling behubungan) dengan manipulasi dan traksi manual.

Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya
traksi disesuaikan dengan spasme otot
yang terjadi.

Reduksi terbuka , dengan pendekatan pembedahan, fragmen tulang direduksi. Alat
fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku atau batangan logam dapat
digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya sampai
penyemb
uhan tulang yang solid terjadi.
2. IMOBILISASI / FIKSASI
Tujuan
mempertahankan posisi fragmen post reposisi sampai Union.
Jenis Fiksasi :

Ekternal / OREF
1.
Gips ( plester cast)
2.
Traksi
Indikasi :
· Pemendekan (shortening)
· Fraktur unstabel : oblique,
spiral
· Kerusakan hebat pada kulit dan jaringan sekitar
Imobilisa
si
fra
ktur, setelah fraktur di re
posisi
fragmen tulang harus di imobilisasi
atau di
pertahankan dalam posisi dan kesejajaran
yang benar sampai terjadi penyatuan. Immobilisasi
dapat
dilakukan dengan fiksasi eksternal atau inernal. Fiksasi eksternal meliputi pembalut
an,
gips, bidai, traksi kontinu
e
, pin dan teknik gips atau fiksator eksternal. Fiksasi internal dapat
dilakukan implan logam
yang berperan sebagai bidai i
nter
na untuk mengi
mobilisasi fraktur.
Pada fraktur femur imobilisasi di butuhkan sesuai lokasi fraktur yaitu intrakapsuler 24
minggu, intra trohanterik 10
-
12 minggu, batang 18 minggu dan supra kondiler 12
-
15 minggu.
Beberapa prinsip dasar pengelolaan fraktur terbuka adalah
1. Obati fraktur terbuka sebagai suatu kegawatan
2. Adakan evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat
menyebabkan
kematian
3. Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat,di kamar operasi dan setelah
operasi
4. Segera dilakukan debridemen
dan irigasi yang baik
5. Ulangi debridemen 24
-
72 jam berikutnya
6. Stabilisasi fraktur
7. Biarkan luka terbuka antara 5
-
7 hari
8. Lakukan bone graft autogenous secepatnya
9. Rehabilitasi anggota gerak lainnya
Tahap
-
Tahap Pengobatan Fraktur terbuka
1.
Pembersihan luka
Hal ini dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan NaCl fisiologis secara
mekanis untuk
mengeluarkan benda asing yang melekat.
2. Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridemen)
Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya me
rupakan daerah
tempat pembenihan
bakteri
sehingga
diperlukan
eksisi
secara
operasi
pada
kulit
,
jaringan
subkutaneus,lemak,fasia,otot dan fragmen
-
fragmen yang
lepas
3. Pengobatan fraktur itu sendiri
Fraktur dengan luka yang hebat memerlukan suatu traksi ske
letal atau
reduksi terbuka dengan
fiksasi eksterna tulang. Fraktur grade II dan II
sebaiknya difiksasi dengan fiksasi eksterna.
4. Penutupan kulit
Apabila fraktur terbuka diobati dalam waktu periode emas (6
-
7 jam mulai
dari terjadinya
kecelakaan),maka seba
iknya kulit ditutup. Hal ini tidak
dilakukan apabila penutupan
membuat kulit sangat tegang. Dapat
dilakukan split thickness skin
-
graft serta pemasangan
drainasi isap untuk
mencegah akumulasi darah dan serum pada luka yang dalam. Luka dapat
dibiarkan terbuk
a setelah beberapa hari tapi tidak lebih dari 10 hari. Kulit
dapat ditutup
kembali disebut delayed primary closure. Yang perlu
mend
apat perhatian adalah penutupan
kulit tidak dipaksakan yang
mengakibatkan kulit menjadi tegang.
5. Pemberian antibiotik
Hal i
ni bertujuan untuk mencegah infeksi. Antibiotik diberikan dalam
dosis yang adekuat
sebelum,pada saat dan sesudah tindakan operasi.
6. Pencegahan tetanus
Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan
tetanus. Pada penderita
yang telah me
ndapat imunisasi aktif cukup dengan
pemberian toksoid tapi bagi yang
belum,dapat diberikan 250 unit tetanus
imunoglobulin
II.9
Komplikasi Fraktur Terbuka
Komplikasi fraktur dapat terjadi secara spontan,karena iatrogenik atau
oleh karena tindakan
pengobatan. Komplikasi umumnya akibat tiga faktor
utama,yaitu penekanan lokal, traksi
yang berlebihan dan infeksi. Komplikasi oleh
akibat tindakan pengobatan (iatrogenik)
umumnya dapat dicegah.
1. Perdarahan, syok septik sampai kematian
2. Septikemia,tokse
mia oleh karena infeksi piogenik
3. Tetanus
4. Gangren
5. Perdarahan sekunder
6. Osteomielitis kronik
7. Delayed union
8. Nonunion dan malunion
9. Kekakuan sendi
10.Komplikasi lain oleh karena perawatan yang lama
Ada lima tujuan pengobatan fraktur:
1.
Menghilangkan nyeri
2. Mendapatkan dan mempertahankan posisi yang memadai dari fragmen
fraktur
3. Mengharapkan dan mengusahakan union
4. Mengembalikan fungsi secara optimal dengan cara mempertahankan
fungsi otot dan
sendi,mencegah atrofi otot,adhesi dan ke
kakuan
sendi,mecegah terjadinya komplikasi seperti
dekubitus,trombosis
vena,infeksi saluran kencing serta pembentukan batu ginjal.
5. Mengembalikan fungsi secara maksimal merupakan tujuan akhir
pengobatan fraktur. Sejak
awal penderita harus dituntun secara
psikologis
untuk membantu penyembuhan dan
pemberian fisioterapi untuk
memperkuat otot
-
otot serta gerakan sendi baik secara isometrik
(latihan
aktif statik) pada setiap otot yang berada pada lingkup fraktur serta
isotonik yaitu
latihan aktif dinamik pada o
tot
-
otot tungkai dan punggung.
II.10.
Pencegahan Fraktur
Pencegahan fraktur dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Pada umumnya fraktur
disebabkan oleh peristiwa trauma benturan atau terjatuh baik ringan maupun berat.
Pada
dasarnya upaya pengendalian ke
celakaan dan trauma adalah suatu tindakan pencegahan
terhadap peningkatan kasus kecelakaan yang menyebabkan fraktur.

Pencegahan Primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan upaya menghindari terjadinya trauma
benturan,
terjatuh atau kecelakaan lainnya
. Dalam melakukan aktifitas yang berat atau mobilisasi yang
cepat dilakukan dengan cara hati

hati, memperhatikan pedoman keselamatan dengan
memakai alat pelindung diri.

Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan untuk mengurangi akibat

akibat
yang lebih serius dari
terjadinya fraktur dengan memberikan pertolongan pertama yang tepat dan terampil
pada
penderita. Mengangkat penderita dengan posisi yang
DAFTAR PUSTAKA
1. Lavy CBD, Barrett DS.
Ortopedi dan fraktur sistem apley.
7th ed. Alih bahasa Edi
Nugroho. Jakarta : Widya Medika, 1995 : 225
-
7
2. Kumala P, dkk.
Kamus saku kedokteran dorland.
25th ed. Dyah Nuswantari, eds. Jakarta :
EGC, 1998 : 413
3. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W, eds.
Kapita selekta kedo
kteran
.
Jilid 2. 3th ed. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2000
:4
-
9:267
-
73:371
-
96
4. Pedersen GW.
Buku ajar praktis bedah mulut
. Alih bahasa. Purwanto, Basoeseno. Jakarta :
EGC, 1987 : 221
-
55
5. Bank’s P.
Fraktur
mandibula
.
Alih Bahasa. Lilian Yuwono. Jak
arta : Hipokrates, 1990 : 2
6. London PS.
The anatomy of injury and its surgical implication.
Oxford : Butterworth
-
Heinemana Ltd, 1991 : 5
-
6
19
7. Obuekwe ON, Ojo MA, Akpata O, Etetafia M.
Maksilofacial trauma due t
o road traffic
accident in benin city, Nigeria
. Annals Of African Medicine, Vol 2(2) : 2003 : 58
-
63
8. Nealon TF Jr. Nealon WH.
Keterampilan pokok ilmu bedah.
4th ed. Alih Bahasa. Irene
Winata Brahm U. Pendit. Jakarta : EGC, 1996 : 114
-
24
9. Soepardi EA,
Iskandar N, eds.
Buku ajar ilmu kesehatan telinga
-
hidung
-
tenggorokan
kepala leher
. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 2001 : 201
-
8
10. Eliastam M, Sternbach GL, Blesler MJ.
Penuntun kedaruratan medis.
5th ed. Alih
Bahasa. Hunardja Santasa. Jakarta : EGC, 199
8 : 11
-
2: 69
-
70: 137
-
8.

Referat fraktur terbuka II

BAB I
PENDAHULUAN
Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang
terstandar untuk mengurangi resiko infeksi. Selain mencegah infeksi juga diharapkan terjadi
penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. Beberapa hal yang penting untuk
dilakukan dalam penanggulangan fraktur terbuka yaitu operasi yang dilakukan dengan
segera,
secara hati-hati, debridemen yang berulang-ulang, stabilisasi fraktur, penutupan kulit dan
bone
grafting yang dini serta pemberian antibiotik yang adekuat. Sepertiga dari pasien fraktur
terbuka
biasanya mengalami cidera multipel.
1
Fraktur terbuka terjadi dalam banyak cara, dan lokasi serta tingkat keparahan cideranya
berhubungan langsung dengan lokasi dan besarnya gaya yang mengenai tubuh. Fraktur
terbuka
dapat disebabkan oleh luka tembak, trauma kecelakaan lalu lintas, ataupun kecelakaan kerja
yang
berhubungan dengan himpitan pada jaringan lunak dan devitalisasi.
2
Fraktur terbuka sering membutuhkan pembedahan segera untuk membersihkan area
mengalami cidera. Karena diskontinuitas pada kulit, debris dan infeksi dapat masuk ke lokasi
fraktur dan mengakibatkan infeksi pada tulang. Infeksi pada tulang dapat menjadi masalah
yang
sulit ditangani. Gustilo dan Anderson melaporkan bahwa 50,7 % dari pasien mereka memiliki
hasil kultur yang positif pada luka mereka pada evaluasi awal. Sementara 31% pasien yang
memiliki hasil kultur negatif pada awalnya, menjadi positif pada saat penutupan definitf.
Oleh
karena itu, setiap upaya dilakukan untuk mencegah masalah potensial tersebut
dengan
penanganan dini.
2,3,5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Fraktur terbuka adalah fraktur dimana terdapat hubungan fragmen fraktur dengan
dunia luar, baik ujung fragmen fraktur tersebut yang menembus dari dalam hingga ke
permukaan kulit atau kulit dipermukaan yang mengalami penetrasi suatu objek yang
tajam dari luar hingga kedalam. Fraktur terbuka sering timbul komplikasi berupa infeksi.
Infeksi bisa berasal dari flora normal di kulit ataupun bakteri pathogen khususnya
bakteri gram (-). Golongan flora normal kulit, seperti Staphylococus, Propionibacterium
acne , Micrococus dan dapat juga Corynebacterium. Selain dari flora normal kulit, hasil
juga menunjukan gambaran bakteri yang bersifat pathogen, tergantung dari paparan
(kontaminasi) lingkungan pada saat terjadinya fraktur.
4
Karena energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan jenis patah tulang, pasien
sering memiliki luka tambahan, beberapa berpotensi mengancam nyawa, yang
memerlukan pengobatan. Terdapat 40-70% dari trauma berada di tempat lain dalam
tubuh bila ada fraktur terbuka.

Fraktur terbuka mewakili spektrum cedera: Pertama,


masalah mendasar dasar patah tulang; kedua, pemaparan dari patah tulang terhadap
lingkungan; dan kontaminasi dari situs fraktur.5

B. Klasifikasi
Menurut Gustilo dan Anderson, fraktur terbuka dibagi menjadi 3 kelompok :
Grade I : kulit terbuka < 1 cm, bersih, biasanya dari luar ke dalam; kontusio otot
minimal; fraktur simple transverse atar short oblique.
Grade II : laserasi > 1 cm, dengan kerusakan jaringan lunak yang luas, kerusakan
komponen minimal hingga sedang; fraktur simple transverse atau short
oblique dengan kominutif yang minimal
Grade III : kerusakan jaringan lunak yang luas, termasuk otot, kulit, struktur
neurovaskularl seringkali merupakan cidera oleh energy yang besar
dengan kerusakan komponen yang berat.
III A : laserasi jaringan lunak yang luas, tulang tertutup secara adekuat;
fraktur segmental, luka tembak, periosteal stripping yang minimal
III B : cidera jaringan lunak yang luas dengan periosteal stirpping dan
tulang terekspos, membutuhkan penutupan flap jaringan lunak; sering
berhubungan dengan kontaminasi yang massif
III C : cidera vaskuler yang membutuhkan perbaikan
Gambar 1. Klasifikasi Fraktur Terbuka Berdasarkan Gustilo dan Anderson

C. Etiologi
Fraktur terbuka disebabkan oleh energi tinggi trauma, paling sering dari pukulan
langsung, seperti dari jatuh atau tabrakan kendaraan bermotor. Dapat juga disebabkan
oleh luka tembak, maupun kecelakaan kerja. Tingkat keparahan cidera fraktur terbuka
berhubungan langsung dengan lokasi dan besarnya gaya yang mengenai tubuh. Ukuran
luka bisa hanya beberapa milimeter hingga terhitung diameter.

Tulang mungkin terlihat


atau tidak terlihat pada luka. Fraktur terbuka lainnya dapat mengekspos banyak tulang
dan otot, dan dapat merusak saraf dan pembuluh darah sekitarnya. Fraktur terbuka ini
juga bisa terjadi secara tidak langsung, seperti cidera tipe energi tinggi yang memutar. 2, 5

D. Diagnosis
1. Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik, fraktur), baik yang
hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk
menggunakan anggota gerak. Anamnesis harus dilakukan dengan cermat karena
fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi pada
daerah lain.
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
a. Syok, anemia atau perdarahan.
b. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau
organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen.
c. Fraktur predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.
3. Pemeriksaan lokal
a. Inspeksi (Look)
 Bandingkan dengan bagian yang sehat.
 Perhatikan posisi anggota gerak.
 Keadaan umum penderita secara keseluruhan.
 Ekspresi wajah karena nyeri.
 Lidah kering atau basah.
 Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan.
 Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan
fraktur tertutup atau fraktur terbuka.
 Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari.
 Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan kependekan.
 Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organ
lain.
 Perhatikan kondisi mental penderita.
 Keadaan vaskularisasi.
b. Palpasi (Feel)
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh
sangat nyeri.
 Temperatur setempat yang meningkat.
 Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh
kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang.
 Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara
hati-hati.
 Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri
radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota
gerak yang terkena.
 Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal
daerah trauma , temperatur kulit.
 Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui
adanya perbedaan panjang tungkai.
c. Pergerakan (Move)
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan
pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada
pederita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat
sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga
dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan
saraf.
4. Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta
gradasi kelelahan neurologis, yaitu neuropraksia, aksonotmesis atau neurotmesis.
Kelaianan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat
menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta merupakan
patokan untuk pengobatan selanjutnya.
5. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi
fraktur. Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya,
maka sebaliknya kita mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk
imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis.
e. penanganan
Prinsip penanganan fraktur terbuka :
a. Semua fraktur terbuka dikelola secara emergensi.
b. Lakukan penilaian awal akan adanya cedera lain yang dapat mengancam jiwa.
c. Pemberian antibiotik.
d. Lakukan debridement dan irigasi luka.
e. Lakukan stabilisasi fraktur.
f. Pencegahan tetanus.
g. Lakukan rehabilitasi ektremitas yang mengalami fraktur.
Debridement adalah pengangkatan jaringan yang rusak dan mati sehingga luka
menjadi bersih. Untuk melakukan debridement yang adekuat, luka lama dapat diperluas,
jika diperlukan dapat membentuk irisan yang berbentuk elips untuk mengangkat kulit,
fasia serta tendon ataupun jaringan yang sudah mati. Debridement yang adekuat
merupakan tahapan yang penting untuk pengelolaan. Debridement harus dilakukan
sistematis, komplit serta berulang. Diperlukan cairan yang cukup untuk fraktur terbuka.
Grade I diperlukan cairan yang bejumlah 1-2 liter, sedangkan grade II dan grade III
diperlukan cairan sebanyak 5-10 liter, menggunakan cairan normal saline.
Pemberian antibiotika adalah efektif mencegah terjadinya infeksi pada pada
fraktur terbuka. Antibiotika yang diberikan sebaiknya dengan dosis yang besar. Untuk
fraktur terbuka antibiotika yang dianjurkan adalah golongan cephalosporin dan
dikombinasi dengan golongan aminoglikosida.
Perawatan lanjutan dan rehabilitasi fraktur terbuka :
1.
Hilangkan nyeri.
2.
Mendapatkan dan mempertahankan posisi yang memadai dan flagmen patah tulang.
3.
Mengusahakan terjadinya union.
4.
Mengembalikan fungsi secara optimal dengan mempertahankan fungsi otot dan sendi
dan pencegahan komplikasi.
5.
Mengembalikan fungsi secara maksimal dengan fisioterapi.
4, 5
Tindakan Pembedahan
Hal ini penting untuk menstabilkan patah tulang sesegera mungkin untuk
mencegah kerusakan jaringan yang lebih lunak. Tulang patah dalam fraktur terbuka
biasanya digunakan metode fiksasi eksternal atau internal. Metode ini memerlukan
operasi.
a. Fiksasi Internal
Selama operasi, fragmen tulang yang pertama direposisi (dikurangi) ke
posisi normal kemudian diikat dengan sekrup khusus atau dengan melampirkan
pelat logam ke permukaan luar tulang. Fragmen juga dapat diselenggarakan
bersama-sama dengan memasukkan batang bawah melalui ruang sumsum di tengah
tulang. Karena fraktur terbuka mungkin termasuk kerusakan jaringan dan disertai
dengan cedera tambahan, mungkin diperlukan waktu sebelum operasi fiksasi
internal dapat dilakukan dengan aman.
b. Fiksasi Eksternal
Fiksasi eksternal tergantung pada cedera yang terjadi. Fiksasi ini
digunakan untuk menahan tulang tetap dalam garis lurus. Dalam fiksasi eksternal,
pin atau sekrup ditempatkan ke dalam tulang yang patah di atas dan di bawah
tempat fraktur. Kemudian fragmen tulang direposisi. Pin atau sekrup dihubungkan
ke sebuah lempengan logam di luar kulit. Perangkat ini merupakan suatu kerangka
stabilisasi yang menyangga tulang dalam posisi yang tepat.
Luka Kompleks (Complex Wounds)
Berdasarkan jumlah jaringan lunak yang hilang, luka-luka kompleks dapat
ditutupi dengan menggunakan metode yang berbeda, yakni :
a. Lokal Flap
Jaringan otot dari ekstremitas yang terlibat diputar untuk menutupi fraktur.
Kemudian diambil sebagian kulit dari daerah lain dari tubuh (graft) dan
ditempatkan di atas luka.
b. Free Flap
Beberapa luka mungkin memerlukan transfer lengkap jaringan. Jaringan ini sering
diambil dari bagian punggung atau perut. Prosedur free flap membutuhkan bantuan
dari seorang ahli bedah mikrovaskuler untuk memastikan pembuluh darah
terhubung dan sirkulasi tetap berjalan.
5
F. Komplikasi
1. perdarahan, syok septik kematian
2. septikemi, toksemia oleh karena infeksi piogenik
3. tetanus
4. gangren
5. kekakuan sendi
6. perdarahan sekunder
7. osteomielitis kronik
8. delayed union
5
DAFTAR PUSTAKA
1. Kenneth J.K., Joseph D.Z. Handbook of Fractures, 3
rd
Edition. Pennsylvania. 2006.
2. Thomas M. S., Jason H.C. Open Fractures. Mescape Reference (update 2012, May 21).
Available from http://emedicine.medscape.com/article/1269242-overview#aw2aab6b3.
Accessed January 30, 2013.
3. Jonathan C. Open Fracture. Orthopedics (update 2012, May 27). Available
from
http://orthopedics.about.com/cs/ brokenbones/g/openfracture.htm. Accessed January 30,
2013.
4. Sugiarso. Pola Kuman Penderita Fraktur Terbuka. Universitas Sumatera Utara. 2010.
Available from http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27630/6/Cover.pdf.
Accessed January 30, 2013.
5. American Academy of Orthopaedics Surgeons. 2011. Open Fractures. Available from
http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00582. Accessed January 30, 2013.