Anda di halaman 1dari 100

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN INFEKSI KECACINGAN

YANG DITULARKAN MELALUI TANAH PADA MURID KELAS IV, V DAN VI


SD NEGERI NO 173327 BAHALIMBALO KECAMATAN PARANGINAN
KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN
TAHUN 2011

SKRIPSI

Oleh:

RIAMA SANTRI SIANTURI


071000119

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara


FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN INFEKSI KECACINGAN
YANG DITULARKAN MELALUI TANAH PADA MURID KELAS IV, V DAN VI
SD NEGERI NO 173327 BAHALIMBALO KECAMATAN PARANGINAN
KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN
TAHUN 2011

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh :

RIAMA SANTRI SIANTURI


071000119

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK

Penyakit kecacingan yang ditularkan melalui tanah atau Soil Transmitted Helminth
(STH) dapat menimbulkan kerugian zat gizi berupa kalori dan protein serta kehilangan
darah. Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja,
dapat juga menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya. Hasil
survei pada anak Sekolah Dasar dari beberapa kabupaten di Sumatera Utara yang
dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Sumatera Utara tahun 2005 didapatkan infeksi STH
tertinggi di Kabupaten Tapanuli Tengah (66,67%), Tapanuli Selatan (55%), Nias
(52,17%), Labuhan Batu (45,59%), Asahan (45,58%), Deli Serdang (39,56%) dan Padang
Sidempuan (34,23%). Hasil survei Depkes RI tahun 2009 di Sekolah Dasar di Indonesia
ditemukan prevalensi kecacingan 31,8%.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor yang berhubungan dengan
infeksi kecacingan yang ditularkan melalui tanah pada murid kelas IV, V dan VI SD Negeri
No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan.
Penelitian bersifat observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi adalah
semua murid kelas IV, V dan VI berjumlah 153 orang. Sampel adalah sebagian dari
populasi murid berjumlah 105 orang.
Hasil penelitian ditemukan prevalensi kecacingan 19%. Prevalensi Ascaris
lumbricoides 95%. Proporsi kelompok umur 11-13 tahun 54,3%, perempuan 52,4%,
kebersihan perorangan buruk 71,4%, sumber air bersih yang tidak memenuhi syarat
kesehatan 73,3% dan kepemilikan jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan 62,9%.
Hasil uji Chi-Square diperoleh tidak ada hubungan bermakna antara umur dengan
infeksi STH (p=0,054), tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan
infeksi STH (p=0,794), ada hubungan yang bermakna antara kebersihan perorangan
dengan infeksi STH (p=0,041), tidak ada hubungan yang bermakna antara sumber air
bersih dengan infeksi STH (p=454) dan ada hubungan yang bermakna antara kepemilikan
jamban dengan infeksi STH (p=0,023).
Disarankan kepada pihak sekolah agar senantiasa memberikan pengetahuan
pentingnya personal higiene, penyediaan sarana air bersih dan jamban yang sesuai
dengan syarat kesehatan untuk mencegah terjadinya infeksi kecacingan. Kepada
Puskesmas Paranginan, supaya meningkatkan program pemeriksaan, pencegahan dan
penanggulangan kecacingan pada anak sekolah dasar.

Kata Kunci : Infeksi Kecacingan, Murid SD, Faktor Berhubungan

Universitas Sumatera Utara


ABSTRACT

Soil Transmitted Helminth (STH) can cause loss of nutrients like calories,
protein and blood loss. Besides being able to inhibit the development of physical,
intellectual and productivity, can also impacted in body resistance so easily affected by
other diseases. A survey results on elementary school children from several districts in
North Sumatra done by the Provincial Health of North Sumatera in 2005 found that the
highest STH infection in Central Tapanuli (66,67%), South Tapanuli (55%), Nias
(52,17%), Labuhan Batu (45,59%), Asahan (45,58%), Deli Serdang (39,56%) and
Padang Sidempuan (34,23%). A survey results on elementary school in Indonesia found
the prevalence STH was 31,8% in 2009.
This study was designed to determine the association of factors with the state of
STH among the student grade IV, V and VI at public elementary school No. 173327
Bahalimbalo Sub District of Paranginan, Dictrict Humbang Hasundutan. The study was
done by analytical observational using cross sectional study. The population consist of
153 children and sample is part of the student population consist of 105 children.
The results of the study showed that 19% of student were infected by worm. The
proportion of Ascaris lumbricoides was 95%. The proportion of infected children in the
age group of 11-13 years was 54,3%, females 52,4%, bad personal hygiene was 71,4%,
unhealth water 73,3% and unhealth toilets ownership was 62,9%
The result of the Chi-Square test showed that no significant association between
age, sexes and source of clean water with STH infections (p>0,005). There is a
significant association between personal hygiene and the toilets ownership with STH
infections (p<0,005).
Suggest to the school teacher to keep the personal hygiene of school children and
to provide clean water and toilets to avoid infection by STH. The Paranginan health
center should have to increase their programs to prevent worm infection.

Keywords: Soil Transmitted Helminth, Elementary Student, Associated Factors

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Riama Santri Sianturi

Tempat/Tanggal Lahir : Sidikalang/12 April 1989

Agama : Kristen Protestan

Status Perkawinan : Belum Kawin

Anak ke : 2 (dua) dari 5 (lima) bersaudara

Nama Ayah : Maurindu Sianturi

Nama Ibu : Griselda Togatorop

Alamat Rumah : Bahalimbalo Kec. Paranginan Kab. Humbang Hasundutan

Riwayat Pendidikan : 1. 1995-2001 : SD Negeri No.030331 Sumbul Kab. Dairi

2. 2001-2004 : SMP Negeri 1 Sumbul Kab. Dairi

3. 2004-2007 : SMA Negeri 1 Sidikalang Kab. Dairi

4. 2007-2011 : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan

anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Faktor-faktor

yang Berhubungan dengan Infeksi Kecacingan yang Ditularkan melalui Tanah pada

Murid Kelas IV, V dan VI SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan

Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2011”.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Medan.

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak,

baik secara moril maupun materil. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis ingin

menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, MS selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu drh. Rasmaliah, M.Kes selaku Ketua Departemen Epidemiologi Fakultas

Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara sekaligus Dosen Pembimbing

Skripsi I yang telah memberi kritik dan saran dalam penyusunan skripsi ini.

3. Ibu drh. Hiswani, M.Kes selaku Dosen Pembimbing Skripsi II yang telah banyak

memberi kritik demi kesempurnaan skripsi ini.

4. Bapak Prof. dr. Sori Muda Sarumpaet, MPH selaku Dosen Penguji Skripsi I yang

telah banyak memberi kritik demi kesempurnaan skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara


5. Bapak Drs. Jemadi, M.Kes selaku Dosen Penguji Skripsi II yang telah banyak

memberi kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini.

6. Bapak dr. Taufik Azhar, MKM selaku dosen Penasehat Akademik.

7. Ibu Kepala SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo beserta guru-guru yang telah

membantu penulis selama penelitian.

8. Seluruh dosen dan staf/pegawai yang banyak membantu penulis dalam proses

perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

9. Ayah dan ibu yang telah membesarkan dan mendidik penulis serta memberikan

dukungan moril maupun materil.

10. Abangku (Ganda) dan adik-adikku (Atur, Raya dan Putra) serta saudara-saudaraku

yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu atas semua doa dan dukungannya.

11. My beloved Richard yang telah banyak membantu memberikan dukungan dan

semangat serta doa dari awal penyusunan skripsi hingga akhir

12. Agnes, Vince, Chindy, Dewi, Berlina, Eva, Ilza, dan rekan-rekan Epidemiologer

lainnya atas semua doa, bantuan dan semangat yang telah diberikan kepada penulis.

13. Semua pihak yang turut membantu penulis.

Penulis menyadari masih terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisan

skripsi ini, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun

untuk kesempurnaannya dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Desember 2011


Penulis

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... i


ABSTRAK ................................................................................................... ii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP .................................................................... iii
KATA PENGANTAR ................................................................................. iv
DAFTAR ISI................................................................................................ vii
DAFTAR TABEL ........................................................................................ x
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xi

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ....................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah................................................................... 4
1.3. Tujuan
1.3.1 Tujuan Khusus ............................................................... 4
1.3.2 Tujuan Umum ................................................................ 4
1.4. Manfaat Penelitian .................................................................. 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Kecacingan ............................................................... 7
2.2 Jenis-jenis Nematoda Usus yang Ditularkan melalui Tanah .... 7
2.2.1 Ascaris lumbricoides .................................................. 8
2.2.2 Trichuris trichiura ....................................................... 11
2.2.3 Hookworm (Ancylostoma duodenale dan
Necator americanus) ................................................... 14
2.2.4 Strongyloides stercoralis ............................................. 16
2.3 Epidemiologi Infeksi Kecacingan oleh Cacing yang
Ditularkan melalui Tanah ....................................................... 19
2.3.1 Distribusi Frekuensi .................................................... 19
2.3.2 Determinan ................................................................. 22
2.4 Pencegahan Infeksi Kecacingan ............................................. 24
2.4.1 Pencegahan Primer ...................................................... 24
2.4.2 Pencegahan Sekunder .................................................. 24
2.4.3 Pencegahan Tersier ..................................................... 24

BAB 3 KERANGKA KONSEP


3.1 Kerangka Konsep................................................................ ...... 25
3.2 Defenisi Operasional .............................................................. 25

BAB 4 METODE PENELITIAN


4.1 Jenis Penelitian ....................................................................... 28
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................. 28
4.2.1 Lokasi Penelitian ......................................................... 28
4.2.2 Waktu Penelitian ......................................................... 28

Universitas Sumatera Utara


4.3 Populasi dan Sampel ............................................................... 28
4.3.1 Populasi ...................................................................... 28
4.3.2 Sampel ........................................................................ 28
4.4 Jenis dan Metode Pengumpulan Data ...................................... 30
4.4.1 Data Primer ................................................................. 30
4.4.2 Data Sekunder ............................................................. 30
4.5 Aspek Pengukuran .................................................................. 31
4.6 Pelaksanaan Penelitian ............................................................ 32
4.6.1 Pengumpulan Spesimen .............................................. 32
4.6.2 Alat dan Bahan............................................................ 32
4.6.3 Pemeriksaan Spesimen ................................................ 32
4.7 Teknik Analisis Data .............................................................. 33
4.7.1 Analisis Univariat........................................................ 33
4.7.2 Analisis Bivariat .......................................................... 34

BAB 5 HASIL Penelitian


5.1 Deskripsi Lokasi Penelitian .................................................... 35
5.2. Gambaran Murid Kelas IV, V, dan VI SD Negeri
173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan .......................... 35
5.3 Prevalensi Infeksi STH .......................................................... 36
5.4 Jenis Cacing ....................................................... 36
5.5 Karakteristik Responden ....................................................... 37
5.6 Kondisi Sarana Sanitasi Dasar Lingkungan Rumah
Responden ....................................................... 38
5.7 Hasil Analisa Statistik ....................................................... 40
5.7.1 Hubungan Umur dengan Infeksi STH ......................... 40
5.7.2 Hubungan Jenis Kelamin dengan Infeksi STH ............. 41
5.7.3 Hubungan Kebersihan Perorangan dengan
Infeksi STH ....................................................... 41
5.7.4 Hubungan Sumber Air Bersih dengan
Infeksi STH ....................................................... 42
5.7.5 Hubungan Kepemilikan Jamban dengan
Infeksi STH ....................................................... 43
BAB 6 PEMBAHASAN
6.1 Prevalensi Infeksi STH ........................................................... 45
6.2 Analisis Bivariat .................................................................... 48
6.2.1 Hubungan Karakteristik Murid dengan
Infeksi STH ................................................................ 48
6.2.2. Hubungan Sanitasi Dasar Lingkungan Rumah
dengan Infeksi STH ..................................................... 54

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN


7.1 Kesimpulan ........................................................................ 59
7.2 Saran .................................................................................. 60
DAFTAR PUSTAKA

Universitas Sumatera Utara


LAMPIRAN
1. Kuesioner
2. Master data
3. Output
4. Surat izin penelitian
5. Surat selesai penelitian
6. Hasil Pemeriksaan Laboratorium
7. Jawaban kuesioner dan hasil observasi sanitasi dasar lingkungan rumah

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Distribusi Proporsi Murid Kelas IV, V, dan VI SD Negeri 173327
Bahalimbalo Kecamatan Paranginan berdasarkan Jenis Kelamin dan
Kelas Tahun 2011 ........................................................................... 35

Tabel 5.2 Distribusi Proporsi Infeksi STH Pada Murid SD Negeri 173327
Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Tahun 2011 ............................ 36

Tabel 5.3 Distribusi Proporsi Responden berdasarkan Jenis Cacing yang


Menginfeksi Tubuh Pada SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan
Paranginan Tahun 2011 ................................................................... 37

Tabel 5.4 Distribusi Proporsi Responden Berdasarkan Karakteristik Pada SD


Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Tahun 2011 ... 37

Tabel 5.5 Distribusi Proporsi Responden berdasarkan Kondisi Sarana Sanitasi


Dasar Lingkungan Pada SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan
Paranginan Tahun 2011 ................................................................... 39

Tabel 5.6 Tabulasi Silang Umur dengan Infeksi STH Pada Murid SD Negeri
173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Tahun 2011 ............... 40

Tabel 5.7 Tabulasi Silang Jenis Kelamin dengan Infeksi STH Pada Murid SD
Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Tahun 2011 ... 41

Tabel 5.8 Tabulasi Silang Kebersihan Perorangan dengan Infeksi STH Pada
Murid SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Tahun
2011 ................................................................................................ 42
Tabel 5.9 Tabulasi Silang Hasil Sumber Air Bersih dengan Infeksi STH Pada
Murid SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Tahun
2011 ............................................................................................... 43

Tabel 5.10 Tabulasi Silang Hasil Kepemilikan Jamban dengan Infeksi STH Pada
Murid SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Tahun
2011 ............................................................................................... 44

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR GAMBAR

Gambat 2.1 Cacing Ascaris lumbricoides dewasa (A: betina dan B: jantan) ..... 8

Gambar 2.2 Telur Ascaris lumbricoides ........................................................... 9

Gambar 2.3 Daur Hidup Ascaris lumbricoides ................................................. 10

Gambar 2.4 Cacing Trichuris trichiura dewasa ................................................ 11

Gambar 2.5 Telur Trichuris trichiura ............................................................... 12

Gambar 2.6 Daur Hidup Trichuris trichiura ..................................................... 13

Gambar 2.7 Hookworm .................................................................................... 14

Gambar 2.8 Telur Hookworm ........................................................................... 15

Gambar 2.9 Daur Hidup Hookworm ................................................................. 15

Gambar 2.10 Cacing Strongyloides stercoralis ................................................... 17

Gambar 2.11 Daur Hidup Strongyloides stercoralis ........................................... 18

Gambar 6.1 Diagram Pie Prevalensi Infeksi STH pada Murid SD Negeri No.
173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang
Hasundutan tahun 2011 ................................................................ 45

Gambar 6.2 Diagram Bar Proporsi Infeksi STH Berdasarkan Umur pada Murid
SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan
Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011 ............................... 48

Gambar 6.3 Diagram Bar Proporsi Infeksi STH Berdasarkan Jenis Kelamin pada
Murid SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan
Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011 ............................... 49

Gambar 6.4 Diagram Bar Proporsi Infeksi STH Berdasarkan Kebersihan


Perorangan pada Murid SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo
Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan tahun
2011 ............................................................................................ 52

Gambar 6.5 Diagram Bar Proporsi Infeksi STH Berdasarkan Sumber Air Bersih
pada Murid SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan
Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011 ............ 54

Universitas Sumatera Utara


Gambar 6.6 Diagram Bar Proporsi Infeksi STH Berdasarkan Kepemilikan
Jamban pada Murid SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan
Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011 ............ 56

Universitas Sumatera Utara


ABSTRAK

Penyakit kecacingan yang ditularkan melalui tanah atau Soil Transmitted Helminth
(STH) dapat menimbulkan kerugian zat gizi berupa kalori dan protein serta kehilangan
darah. Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja,
dapat juga menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya. Hasil
survei pada anak Sekolah Dasar dari beberapa kabupaten di Sumatera Utara yang
dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Sumatera Utara tahun 2005 didapatkan infeksi STH
tertinggi di Kabupaten Tapanuli Tengah (66,67%), Tapanuli Selatan (55%), Nias
(52,17%), Labuhan Batu (45,59%), Asahan (45,58%), Deli Serdang (39,56%) dan Padang
Sidempuan (34,23%). Hasil survei Depkes RI tahun 2009 di Sekolah Dasar di Indonesia
ditemukan prevalensi kecacingan 31,8%.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor yang berhubungan dengan
infeksi kecacingan yang ditularkan melalui tanah pada murid kelas IV, V dan VI SD Negeri
No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan.
Penelitian bersifat observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi adalah
semua murid kelas IV, V dan VI berjumlah 153 orang. Sampel adalah sebagian dari
populasi murid berjumlah 105 orang.
Hasil penelitian ditemukan prevalensi kecacingan 19%. Prevalensi Ascaris
lumbricoides 95%. Proporsi kelompok umur 11-13 tahun 54,3%, perempuan 52,4%,
kebersihan perorangan buruk 71,4%, sumber air bersih yang tidak memenuhi syarat
kesehatan 73,3% dan kepemilikan jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan 62,9%.
Hasil uji Chi-Square diperoleh tidak ada hubungan bermakna antara umur dengan
infeksi STH (p=0,054), tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan
infeksi STH (p=0,794), ada hubungan yang bermakna antara kebersihan perorangan
dengan infeksi STH (p=0,041), tidak ada hubungan yang bermakna antara sumber air
bersih dengan infeksi STH (p=454) dan ada hubungan yang bermakna antara kepemilikan
jamban dengan infeksi STH (p=0,023).
Disarankan kepada pihak sekolah agar senantiasa memberikan pengetahuan
pentingnya personal higiene, penyediaan sarana air bersih dan jamban yang sesuai
dengan syarat kesehatan untuk mencegah terjadinya infeksi kecacingan. Kepada
Puskesmas Paranginan, supaya meningkatkan program pemeriksaan, pencegahan dan
penanggulangan kecacingan pada anak sekolah dasar.

Kata Kunci : Infeksi Kecacingan, Murid SD, Faktor Berhubungan

Universitas Sumatera Utara


ABSTRACT

Soil Transmitted Helminth (STH) can cause loss of nutrients like calories,
protein and blood loss. Besides being able to inhibit the development of physical,
intellectual and productivity, can also impacted in body resistance so easily affected by
other diseases. A survey results on elementary school children from several districts in
North Sumatra done by the Provincial Health of North Sumatera in 2005 found that the
highest STH infection in Central Tapanuli (66,67%), South Tapanuli (55%), Nias
(52,17%), Labuhan Batu (45,59%), Asahan (45,58%), Deli Serdang (39,56%) and
Padang Sidempuan (34,23%). A survey results on elementary school in Indonesia found
the prevalence STH was 31,8% in 2009.
This study was designed to determine the association of factors with the state of
STH among the student grade IV, V and VI at public elementary school No. 173327
Bahalimbalo Sub District of Paranginan, Dictrict Humbang Hasundutan. The study was
done by analytical observational using cross sectional study. The population consist of
153 children and sample is part of the student population consist of 105 children.
The results of the study showed that 19% of student were infected by worm. The
proportion of Ascaris lumbricoides was 95%. The proportion of infected children in the
age group of 11-13 years was 54,3%, females 52,4%, bad personal hygiene was 71,4%,
unhealth water 73,3% and unhealth toilets ownership was 62,9%
The result of the Chi-Square test showed that no significant association between
age, sexes and source of clean water with STH infections (p>0,005). There is a
significant association between personal hygiene and the toilets ownership with STH
infections (p<0,005).
Suggest to the school teacher to keep the personal hygiene of school children and
to provide clean water and toilets to avoid infection by STH. The Paranginan health
center should have to increase their programs to prevent worm infection.

Keywords: Soil Transmitted Helminth, Elementary Student, Associated Factors

Universitas Sumatera Utara


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan kesehatan adalah adanya upaya yang dilaksanakan oleh semua

komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan

kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang

setinggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator, yang

meliputi indikator angka harapan hidup, angka kematian, angka kesakitan dan status gizi

masyarakat.1

Penyakit-penyakit menular saat ini masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan angka kesakitan dan kematian serta

mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai selama ini.2

Dalam pencegahan dan pengobatan penyakit menular seperti infeksi kecacingan,

pemerintah dan masyarakat telah bersama-sama melaksanakan berbagai program

pemberantasan infeksi kecacingan, terutama di sekolah dasar. Kegiatan tersebut meliputi

penyuluhan kesehatan tentang sanitasi yang baik dan tepat guna, higiene keluarga dan

higiene pribadi.3

Manusia merupakan hospes defenitif beberapa nematoda usus (cacing perut), yang

dapat mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat.3 Infeksi cacing dapat ditemukan

pada berbagai golongan umur, namun prevalensi tertinggi ditemukan pada anak balita dan

anak usia sekolah dasar, terutama kelompok anak yang mempunyai kebiasaan defekasi di

saluran air terbuka dan sekitar rumah, makan tanpa cuci tangan, bermain-main di tanah

yang tercemar telur cacing tanpa memakai alas kaki.4 Kurangnya pemakaian jamban

Universitas Sumatera Utara


keluarga menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja di sekitar halaman rumah, di bawah

pohon, di tempat mencuci dan di tempat pembuangan sampah.5

Di antara cacing perut terdapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah atau

biasa disebut Soil Transmitted Helminths (STH) yakni Ascaris lumbricoides, Trichuris

trichiura, Hookworm dan Strongyloides stercoralis. Jenis-jenis cacing tersebut banyak

ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia.3

Penularan STH diantaranya melalui tangan kotor yang kemungkinan terselip telur

cacing yang akan tertelan ketika makan.6 Pada umumnya, cacing jarang menimbulkan

penyakit serius tetapi dapat menyebabkan gangguan kesehatan kronis yang berhubungan

dengan faktor ekonomis.7 Infeksi ini dapat mempengaruhi pemasukan, pencernaan,

penyerapan dan metabolisme makanan. Secara kumulatif, infeksi cacing dapat

menimbulkan kerugian zat gizi berupa kalori dan protein serta kehilangan darah. Selain

dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja, dapat juga

menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya.3

Sampai saat ini infeksi STH masih tetap merupakan suatu masalah karena dilihat

dari kondisi sosial dan ekonomi di beberapa bagian dunia.7 WHO tahun 2010, mengatakan

bahwa agen penyebab STH adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan

Hookworm. Kejadian tertinggi meliputi sub-Sahara Afrika, Amerika, China dan Asia

Timur.8 Prevalensi STH secara global tahun 2003 pada anak sekolah dasar adalah Ascaris

lumbricoides 35 %, Trichuris trichiura 25 %, dan Hookworm 26 %.9

Prevelansi STH di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi yaitu sebesar 60%,

terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu mempunyai resiko tinggi terjangkit

Universitas Sumatera Utara


penyakit ini.3 Hasil survei kecacingan 2009 di Indonesia oleh Ditjen P2PL menyebutkan

31,8% siswa SD menderita kecacingan.10

Data hasil survei prevalensi infeksi STH oleh Depkes pada anak sekolah dasar di 27

propinsi di Indonesia menurut jenis cacing tahun 2002 – 2006 didapatkan bahwa pada

tahun 2002 prevalensi Ascaris lumbricoides 22,0%, Trichuris trichiura 19,9% dan

Hookworm 2,4%. Tahun 2003 prevalensi Ascaris lumbricoides 21,7%, Trichuris trichiura

21,0% dan Hookworm 0,6%. Tahun 2004 prevalensi Ascaris lumbricoides 16,1%, Trichuris

trichiura 17,2% dan Hookworm 5,1%. Tahun 2005 prevalensi Ascaris lumbricoides 12,5%,

Trichuris trichiura 20,2% dan Hookworm 1,6% dan pada tahun 2006 prevalensi Ascaris

lumbricoides 17,8%, Trichuris trichiura 24,2% dan Hookworm 1,0%.11

Hasil survei pada anak Sekolah Dasar dari beberapa kabupaten di Sumatera Utara

yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Sumatera Utara tahun 2005 didapatkan infeksi

STH tertinggi di Kabupaten Tapanuli Tengah (66,67%), Tapanuli Selatan (55%), Nias

(52,17%), Labuhan Batu (45,59%), Asahan (45,58%), Deli Serdang (39,56%) dan Padang

Sidempuan (34,23%).12

Survei pendahuluan yang dilakukan di SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo

Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan merupakan salah satu sekolah

yang beresiko terkena infeksi STH. Hal ini dikarenakan melihat dari kebersihan perorangan

murid baik di rumah dan di sekolah masih buruk. Murid di sekolah tersebut mayoritas

bekerja ke ladang untuk membantu orang tua sehabis pulang sekolah di mana ketika di

ladang, mereka akan lebih banyak kontak dengan tanah dan lebih sering tidak

menggunakan sandal ketika bekerja.

Universitas Sumatera Utara


Sehubungan dengan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang ”Faktor-

faktor yang berhubungan dengan infeksi kecacingan yang ditularkan melalui tanah pada

murid kelas IV, V dan VI SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan

Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011”

1.2 Rumusan Masalah

Belum diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan infeksi kecacingan yang

ditularkan melalui tanah pada murid kelas IV, V dan VI SD Negeri No. 173327

Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan infeksi kecacingan yang

ditularkan melalui tanah pada murid kelas IV, V dan VI SD Negeri No. 173327

Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2011.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui prevalensi infeksi STH pada murid kelas IV, V dan VI SD

Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang

Hasundutan tahun 2011.

b. Untuk mengetahui distribusi proporsi infeksi STH berdasarkan jenis cacing (Ascaris

lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworm, Strongyloides stercoralis) pada murid

SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang

Hasundutan tahun 2011.

Universitas Sumatera Utara


c. Untuk mengetahui distribusi proporsi berdasarkan karakteristik murid (umur, jenis

kelamin dan kebersihan perorangan) pada murid kelas IV, V dan VI SD Negeri No.

173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan

tahun 2011.

d. Untuk mengetahui distribusi proporsi berdasarkan sanitasi dasar lingkungan rumah

(sumber air bersih dan kepemilikan jamban) pada murid kelas IV, V dan VI SD

Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang

Hasundutan tahun 2011.

e. Untuk mengetahui hubungan karakteristik anak (umur, jenis kelamin dan

kebersihan perorangan) dengan infeksi STH pada murid kelas IV, V dan VI SD

Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang

Hasundutan tahun 2011.

f. Untuk mengetahui hubungan sanitasi dasar lingkungan rumah (sumber air bersih

dan kepemilikan jamban) dengan infeksi STH pada murid kelas IV, V dan VI SD

Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang

Hasundutan tahun 2011.

g. Untuk mengetahui Ratio Prevalence (RP) infeksi STH pada murid kelas IV, V dan

VI berdasarkan umur, jenis kelamin, kebersihan perorangan, sumber air bersih dan

kepemilikan jamban di SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan

Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011.

Universitas Sumatera Utara


1.4 Manfaat Penelitian

a. Sebagai informasi bagi staf pengajar di Sekolah Dasar agar dapat memberikan

pengarahan/penyuluhan tentang pencegahan penyakit kecacingan di SD Negeri No.

173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan

b. Sebagai sumbangan pemikiran terhadap upaya penanggulangan penyakit

kecacingan serta bahan evaluasi dalam program penanggulangan penyakit

kecacingan pemerintah khususnya Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang

Hasundutan.

c. Sebagai bahan masukan bagi peneliti lain yang ingin melaksanakan penelitian lebih

lanjut mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan infeksi kecacingan pada

murid sekolah dasar.

Universitas Sumatera Utara


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Kecacingan


Kecacingan merupakan penyakit endemik dan kronik diakibatkan oleh cacing

parasit dengan prevalensi tinggi, tidak mematikan, tetapi menggerogoti kesehatan tubuh

manusia sehingga berakibat menurunnya kondisi gizi dan kesehatan masyarakat.7 Infeksi

kecacingan yang disebabkan oleh nematoda usus yang ditularkan melalui tanah atau disebut

“soil transmitted helminths” yang terpenting bagi manusia yakni Ascaris lumbricoides,

Necator americanus, Ancylostoma duodenale, Trichuris trichiura, Strongyloides

stercoralis, dan beberapa spesies Trichostrongylus.5

2.2 Jenis-jenis Nematoda Usus yang Ditularkan melalui Tanah


Nematoda mempunyai jumlah spesies yang terbesar di antara cacing-cacing yang

hidup sebagai parasit. Cacing ini berbeda-beda dalam habitat, daur hidup dan hubungan

hospes-parasit (host-parasite relationship).5

Nematoda usus di Indonesia lebih sering disebut sebagai cacing perut. Sebagian

penularannya terjadi melalui tanah, maka mereka digolongkan dalam kelompok cacing

yang ditularkan melalui tanah atau Soil Transmitted Helminths.13

Kelainan patologik akibat infeksi cacing usus dapat ditimbulkan oleh cacing dewasa

maupun oleh larvanya, tergantung siklus hidup cacing dan dipengaruhi oleh lokasi stadium

cacing usus di dalam tubuh manusia. Cacing dewasa dapat menimbulkan gangguan

pencernaan, perdarahan, anemia, alergi, obstruksi usus, iritasi usus, dan perforasi usus

tergantung cara hidup cacing dewasa, sedangkan larvanya dapat menimbulkan reaksi

alergik dan kelainan jaringan di tempat hidupnya.13

Universitas Sumatera Utara


2.2.1 Ascaris lumbricoides

a. Morfologi dan Daur Hidup

Manusia merupakan satu-satunya hopses Ascaris Lumbricoides. Penyakit yang

disebabkannya disebut askariasis.5

Ascaris Lumbricoides jantan berukuran 10-30 cm, sedangkan yang betina 22-35 cm.

Stadium dewasa hidup di rongga usus muda. Ascaris Lumbricoides betina dapat bertelur

sebanyak 100.000-200.000 butir sehari; terdiri dari telur yang dibuahi dan yang tidak

dibuahi.5

Telur yang dibuahi, besar kurang lebih 60 x 45 mikron dan yang tidak dibuahi 90 x

40 mikron. Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk

infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu.5

Cacing jantan mempunyai ujung posterior yang runcing, melengkung ke arah

ventral, mempunyai banyak papil kecil dan juga terdapat 2 buah spikulum yang

melengkung, masing-masing berukuran panjang sekitar 2 mm. Cacing betina mempunyai

bentuk tubuh posterior yang membulat (conical) dan lurus.13

Gambar 2.1 Cacing Ascaris lumbricoides dewasa (A: betina dan B: jantan)14

Telur yang dibuahi berbentuk avoid dan berukuran 60-70 x 30-50 . Bila baru

dikeluarkan tidak infektif dan berisi satu sel tunggal. Sel ini dikelilingi membran vitelin

yang tipis. Di sekitar membran ini ada kulit bening dan tebal yang dikelilingi lagi oleh

Universitas Sumatera Utara


lapisan albuminoid yang tidak teratur. lapisan albuminoid ini kadang-kadang hilang atau

dilepaskan oleh zat kimia dan menghasilkan telur tanpa kulit (decorticated). Di dalam

rongga usus, telur memperoleh warna kecokelatan dari pigmen empedu. Telur yang tidak

dibuahi berukuran 88-94 x 40-44 dengan lapisan albuminoid yang kurang sempurna dan

isi nya tidak teratur. Larva Ascaris lumbricoides dapat terlihat di dalam paru-paru yang

kena infeksi dan panjangnya dapat sampai 2 mm dengan diameter 75 . Larva mempunyai

usus di bagian tengah, sepasang saluran ekskresi dan ala yang nyata.15

Gambar 2.2 Telur Ascaris lumbricoides14

Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk

infektif dalam waktu kurang lebih 3 (tiga) minggu. Bentuk infektif ini bila tertelan oleh

manusia, menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh

darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke

paru. Larva di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding alveolus, masuk

rongga alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus.5

Dari trakea larva ini menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan pada

faring. Penderita batuk karena rangsangan ini dan larva akan tertelan ke dalam esophagus,

lalu menuju usus halus. Di usus halus berubah manjadi cacing dewasa. Sejak telur matang

tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperlukan waktu kurang lebih 2 (dua) bulan.5

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.3 Daur Hidup Ascaris lumbricoides14

b. Patologi dan Gejala Klinis

Gejala yang timbul pada penderita Ascariasis dapat disebabkan oleh cacing dewasa

dan larva. Gangguan karena larva biasanya terjadi saat berada di paru. Pada orang yang

rentan terjadi perdarahan kecil pada dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru yang

disertai dengan batuk, demam, eosinofilia. Pada foto toraks tampak infiltrat. Pada kasus ini

sering terjadi kekeliruan diagnosis karena mirip dengan gambaran TBC, namun infiltrat ini

menghilang dalam waktu 3 (tiga) minggu, setelah diberikan obat cacing pada penderita.

Keadaan ini disebut sindrom Loeffler. Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa

biasanya ringan. Kadang-kadang penderita mengalami gejala gangguan usus ringan seperti

mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi.5

Universitas Sumatera Utara


2.2.2 Trichuris trichiura

a. Morfologi dan Daur Hidup

Trichuris trichiura termasuk nematoda usus yang biasanya dinamakan cacing

cemeti atau cambuk, karena tubuhnya menyerupai cemeti dengan bagian depan yang tipis

dan bagian belakangnya yang jauh lebih tebal. Cacing ini pada umumnya hidup di sekum

manusia, sebagai penyebab Trichuriasis dan tersebar secara kosmopilitan.16

Trichuris trichiura jauh lebih kecil dari Ascaris lumbricoides, anterior panjang dan

sangat halus, posterior lebih tebal. Betina panjangnya 35-50 mm, dan jantan panjangnya

30-45 mm. Telur berukuran 50-54 x 32 mikron, bentuk seperti tempayan/tong, di kedua

ujung ada operkulum (mukus yang jernih) berwarna kuning tengguli, bagian dalam jernih,

dan dalam feses segar terdapat sel telur.17

Gambar 2.4 Cacing Trichuris trichiura dewasa14

Telur dengan ukuran 50-55 m x 22-24 m berbentuk seperti tempayan dengan

semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur bagian luar berwarna

kekuning-kuningan dan bagian dalamnya jernih.5

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.5 Telur Trichuris trichiura14

Telur yang keluar bersama tinja penderita belum mengandung larva, oleh karena itu

belum infektif. Jika telur jatuh di tanah yang sesuai, dalam waktu 3-4 minggu telur

berkembang menjadi infektif. Bila telur yang infektif termakan manusia, di dalam usus

halus dinding telur pecah dan larva cacing keluar menuju sekum untuk selanjutnya tumbuh

menjadi dewasa. Untuk mengambil makanannya, cacing memasukkan bagian anterior

tubuhnya ke dalam mukosa usus hospes. Satu bulan sejak masuknya telur ke dalam mulut,

cacing dewasa telah mulai mampu bertelur. Cacing ini dapat hidup beberapa tahun lamanya

di dalam usus manusia.13

Gambar 2.6 Daur Hidup Trichuris trichiura14

Universitas Sumatera Utara


b. Patologi dan Gejala Klinis

Cacing Trichuris trichiura pada manusia terutama hidup di sekum, akan tetapi dapat

juga ditemukan di kolon asendens. Pada infeksi berat, terutama pada anak, cacing ini

tersebar di seluruh kolon dan rektum. Kadang-kadang terlihat di mukosa rektum yang

mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita pada waktu defekasi. Cacing ini

memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus, hingga terjadi trauma yang menimbulkan

iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat perlekatannya dapat terjadi perdarahan.

Di samping itu rupanya cacing ini mengisap darah hospesnya, sehingga dapat

menyebabkan anemia.13

Gejala klinik hanya timbul jika terdapat infeksi yang berat. Penderita mengalami

anemia yang berat dengan hemoglobin di bawah 3 %, diare disertai oleh tinja yang

berdarah, nyeri perut dan muntah-muntah serta mual. Berat badan penderita akan menurun.

Kadang-kadang pada anak dan bayi terjadi prolaps dari rektum dengan cacing tampak

melekat pada mukosa.13

2.2.3 Hookworm (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)

a. Morfologi dan Daur Hidup

Hospes parasit ini adalah manusia; cacing ini menyebabkan nekatoriasis dan

ankilostomiasis.5

Hookworm dewasa berbentuk silindris dengan kepala membengkok tajam ke

belakang. Cacing jantan lebih kecil dari pada yang betina. Spesies Hookworm dapat

dibedakan terutama karena rongga mulutnya dan susunan rusuk-rusuk pada bursa.15

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.7 Hookworm14

Namun telur-telurnya tidak dapat dibedakan. Telur-telurnya berbentuk ovoid dengan

kulit yang jernih dan berukuran 74-76 x 36-40 . Bila baru dikeluarkan di dalam usus,

telurnya mengandung satu sel, tetapi bila dikeluarkan bersama tinja, sering sudah

mengandung 4-8 sel, dan dalam beberapa jam tumbuh menjadi stadium morula dan

kemudian menjadi larva rabditiform (stadium pertama).15

Gambar 2.8 Telur Hookworm14

Infeksi pada manusia di dapat melalui penetrasi larva filaform yang terdapat di

tanah ke dalam kulit. Setelah masuk ke dalam kulit, pertama-tama larva dibawa aliran

darah vena ke jantung bagian kanan dan kemudian ke paru-paru. Larva menembus

alveoli, bermigrasi melalui bronki ke trakea dan faring, kemudian tertelan sampai ke

usus kecil dan hidup di situ. Mereka melekat di mukosa, mempergunakan struktur mulut

sementara, sebelum struktur mulut permanen yang khas terbentuk.18

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.9 Daur Hidup Hookworm14

b. Patologi dan Gejala Klinis

Gejala klinik Hookworm dapat ditimbulkan oleh cacing dewasa maupun oleh

larvanya. Larva yang masuk ke dalam kulit akan menimbulkan gatal-gatal yang disebut

ground-itch, sedang larva yang mengadakan migrasi paru (Lung migration) hanya

menimbulkan gangguan yang ringan. Pemeriksaan darah menunjukkan eosinofili.13

Cacing dewasa yang menghisap darah penderita akan menimbulkan anemia

hipokrom mikrositer. Seekor cacing Necator americanus dapat menimbulkan kekurangan

darah sampai 0,1 cc sehari, sedangkan Ancylostoma duodenale sampai 0,34 cc sehari.

Akibat terjadi anemia, maka penderita akan mengalami gangguan perut, penurunan

keasaman lambung, sembelit dan steatore. Penderita tampak pucat, perut buncit, rambut

kering dan mudah lepas.13

Universitas Sumatera Utara


2.2.4 Strongyloides stercoralis

a. Morfologi dan Daur Hidup

Manusia merupakan hospes utama cacing ini. Parasit ini dapat menyebabkan

strongiloidiasis.5

Strongyloides stercoralis betina berukuran 2,2 x 0,04 mm, tak berwarna, semi

transparan dengan kutikula yang bergaris-garis. Cacing ini mempunyai rongga mulut yang

pendek dan esofagus ramping, panjang dan silindris. Cacing betina badannya licin, lubang

kelamin terletak diperbatasan antara 2/3 badan. Betina yang hidup bebas lebih kecil dari

yang betina parasitik. Strongyloides stercoralis jantan mempunyai ekor yang melengkung.

Telur dari yang parasitis berukuran 54 x 32 mikron.16

Gambar 2.10 Cacing Strongyloides stercoralis14

Strongyloides stercoralis mempunyai tiga macam daur hidup :

i. Siklus langsung

Sesudah 2 sampai 3 hari di tanah, larva rhabditiform yang berukuran kira-kira 225 x

16 mikron berubah menjadi larva filariform dengan bentuk langsing dan merupakan bentuk

yang infektif, panjangnya kira-kira 700 mikron. Bila larva filariform menembus kulit

manusia, larva tumbuh, masuk ke dalam peredaran darah vena dan kemudian melalui

jantung kanan sampai ke paru. Dari paru parasit yang mulai menjadi dewasa menembus

Universitas Sumatera Utara


alveolus, masuk ke trakea dan laring. Setelah sampai di laring terjadi refleks batuk sehingga

perasit tertelan kemudian sampai di usus halus bagian atas dan menjadi dewasa. Cacing

betina yang dapat bertelur ditemukan kira-kira 28 hari sesudah infeksi.

ii. Siklus tidak langsung

Pada siklus tidak langsung, larva rhabditiform di tanah berubah menjadi cacing

jantan dan cacing betina bentuk bebas. Bentuk-bentuk bebas ini lebih gemuk dari bentuk

parasitik. Cacing yang betina berukuran 1mm x 0,06 mm, yang jantan berukuran 0,75 mm

x 0,04 mm, mempunyai ekor melengkung dengan 2 buah spikulum. Sesudah pembuahan

cacing betina menghasilkan telur yang menetas menjadi larva rhabditiform dan selama

beberapa hari menjadi larva filariform yang infektif dan masuk dalam hospes baru atau

larva rhabditiform dapat mengulangi fase hidup bebas. Siklus tidak langsung ini terjadi

bilamana keadaan lingkungan sekitarnya optimum yaitu sesuai dengan keadaan yang

dibutuhkan untuk hidup bebas parasit ini.

iii. Autoinfeksi

Larva rhabditiform kadang-kadang menjadi larva filariform di usus atau di sekitar

anus, misalnya pada pasien yang menderita obstipasi lama sehingga bentuk rhabditiform

sempat berubah menjadi filariform di dalam usus, pada penderita diare menahun dimana

kebersihan kurang diperhatikan, bentuk rhabditiform akan menjadi filariform pada tinja

yang masih melekat di sekitar dubur. Adanya autoinfeksi dapat menyebabkan

strongiloidiasis menahun pada penderita.5

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.11 Daur Hidup Strongyloides stercoralis14

b. Patologi dan Gejala Klinis

Kelainan patologik dapat ditimbulkan oleh larva pada waktu menembus kulit,

sehingga terjadi dermatitis disertai dengan pruritis dan urtikaria. Selain itu jika larva

filaform yang menembus kulit banyak jumlahnya, maka akibat migrasi paru yang berat

dapat menimbulkan kelainan pada paru penderita, misalnya pneumonia dan batuk berdarah.

Cacing dewasa yang menembus mukosa usus dapat menimbulkan diare yang berdarah dan

berlendir. Seperti halnya infeksi dengan cacing yang disertai dengan siklus migrasi paru,

maka penderita pada pemeriksaan darah menunjukkan adanya eosinofili dan lekositosis.

Infeksi yang berat pada penderita dapat menimbulkan kematian.13

Universitas Sumatera Utara


2.3 Epidemiologi Infeksi Kecacingan oleh Cacing yang Ditularkan melalui Tanah

2.3.1 Distribusi Frekuensi

a. Menurut orang

Hasil survei kecacingan yang disebabkan nematoda usus di sekolah dasar di

beberapa propinsi pada tahun 1986-1991 menunjukkan prevalensi sekitar 60% - 80%,

sedangkan untuk semua umur berkisar antara 40% - 60%.2 Hasil survei kecacingan 2009 di

Indonesia oleh Ditjen P2PL menyebutkan 31,8 % siswa SD menderita kecacingan.10

Anak-anak lebih mudah terserang dari pada orang dewasa. Infeksi berat terjadi pada

anak-anak yang suka bermain di tanah, karena mendapat kontaminasi dari pekarangan yang

kotor.16

Menurut penelitian Siregar B tahun 2008 pada murid SD Negeri 06 Kecamatan

Pinggir Kabupaten Bengkalis bahwa prevalensi infeksi kecacingan yang ditularkan melalui

tanah terbanyak pada kelompok umur 6-9 tahun sebesar 67,1% dan yang paling sedikit

pada umur 10-13 tahun sebesar 32,9%.19

Menurut penelitian Ginting A tahun 2008 pada murid SD di desa tertinggal

Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir bahwa prevalensi infeksi kecacingan yang

ditularkan melalui tanah menurut jenis kelamin responden laki-laki sebanyak 116 (57,4%)

dan perempuan sebanyak 86 orang (42,6%).20

b. Menurut tempat

Penyakit kecacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun perkotaan. Angka

infeksi tinggi, tetapi intensitas infeksi (jumlah cacing dalam perut) berbeda. Hasil survei

Universitas Sumatera Utara


Subdit Diare pada tahun 2002 dan 2003 pada 40 SD di 10 propinsi menunjukkan

prevalensi berkisar antara 2,2% - 96,3%.3

Infeksi banyak terdapat di daerah curah hujan tinggi, iklim sub-tropis, dan di

tempat yang banyak populasi tanah.16 Trichuris trichiura menyebar lebih sering di

daerah yang beriklim panas.21

Pada tahun 2008 pemeriksaan tinja dilaksanakan di 8 propinsi, mempunyai range

yang cukup tinggi yaitu antara 2,7% - 60,7%. Prevalensi terendah di Sulut (2,7%) dan

tertinggi di Banten (60,7%).2

Menurut penelitian Damanik E tahun 2005 bahwa prevalensi infeksi kecacingan

yang ditularkan melalui tanah pada anak SD terdapat 63 orang yang terkena terinfeksi

STH di mana proporsi tertinggi bertempat tinggal di P. Sidamanik (S. Buntu) sebesar

65,08%, yang kedua adalah Afdeling yaitu 28,57% dan sedangkan di Parmahanan dari 2

orang yang diperiksa tidak ada yang terinfeksi STH.22

Cacing tambang terdapat di daerah tropis dan sub tropis kecuali Ancylostoma

duodenale terdapat di daerah pertambangan Eropa Utara. Necator americanus tersebar

di separuh belahan bumi sebelah barat, Afrika Tengah dan Selatan, Asia Selatan,

Indonesia, Australia, dan di Kepulauan Pasifik. Strongiloides stercoralis mempunyai

daerah geografi tertentu, di Afrika terdapat di Kenya, Mozambik dan Etiopia, di

Amerika Selatan terdapat di Peru Utara yakni di Kolombia dan di Asia terdapat di Iran.

Sebaliknya di Asia Timur dan Eropa Selatan hanya terdapat sedikit sekali serangan

parasit ini.16

Universitas Sumatera Utara


c. Menurut waktu

Survei yang dilakukan di Indonesia antara tahun 1970-1980 menunjukkan pada

umumnya prevalensi Ascaris lumbricoides 70% atau lebih. Prevalensi tinggi sebesar 78,5%

dan 72,6% masih ditemukan pada tahun 1998 pada sejumlah murid dua sekolah dasar di

Lombok. Di Jakarta sudah dilakukan pemberantasan secara sistematis terhadap cacing yang

ditularkan melalui tanah sejak 1987 di sekolah-sekolah dasar. Prevalensi Ascaris

lumbricoides sebesar 16,8% di beberapa sekolah di Jakarta Timur pada tahun 1994 turun

menjadi 4,9% pada tahun 2000.5

Antara tahun 1972-1979 prevalensi cacing tambang di berbagai daerah pedesaan di

Indonesia adalah sekitar 50%. Pada survei-survei yang dilakukan Departemen Kesehatan di

sepuluh propinsi di Indonesia antara tahun 1990-1991 hanya didapatkan 0-24,7%

sedangkan prevalensi sebesar 6,7% didapatkan pada pemeriksaan 2478 anak di sekolah

dasar di Sumatera Utara. Pada tahun 1996 di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan infeksi

Trichuris trichiura ditemukan sebanyak 60% di antara 365 anak sekolah dasar.5

2.3.2 Determinan

a. Faktor Kebersihan Perorangan

Kebersihan diri yang buruk merupakan cerminan dari kondisi lingkungan dan

perilaku individu yang tidak sehat. Pengetahuan penduduk yang masih rendah dan

kebersihan yang kurang baik mempunyai kemungkinan lebih besar terkena infeksi cacing.23

Menurut penelitian Yulianto tahun 2007 di SD N Rowosari 01 Kecamatan

Tembalang kota Semarang bahwa ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan mencuci

tangan, kebiasaan memotong kuku, mengkonsumsi makanan mentah, dan kepemilikan

Universitas Sumatera Utara


jamban dengan kejadian penyakit cacingan, sedangkan jenis lantai rumah dan ketersediaan

air bersih tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian infeksi

kecacingan.24

b. Faktor Lingkungan

Dalam penyebaran STH, pengertian sanitasi lingkungan yang baik sulit

dikembangkan dalam masyarakat yang mempunyai keadaan sosio ekonomi rendah. dengan

keadaan sebagai berikut: rumah-rumah berhimpitan di daerah kumuh (slum area) di kota-

kota besar yang mempunyai sanitasi lingkungan buruk, khususnya tempat anak balita

tumbuh, di daerah pedesaan anak berdefekasi dekat rumah dan orang dewasa di pinggir

kali, di ladang dan perkebunan tempat ia bekerja, penggunaan tinja yang mengandung telur

hidup untuk pupuk di kebun sayuran, dan pengolah tanah pertanian/perkebunan dan

pertambangan dengan tangan dan kaki telanjang, tidak terlindung.5

Keadaan lingkungan yang menyebabkan faktor penyebab kejadian infeksi STH

adalah

i. Sumber air

Air merupakan sangat penting bagi kehidupan manusia. Kebutuhan manusia akan

air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci (bermacam-macam

cucian) dan sebagainya. Supaya air tetap sehat dan terhindar dari kuman maka air yang

digunakan harus diolah terlebih dahulu. 25

ii. Jamban

Jamban adalah salah satu sarana dari pembuang tinja manusia yang penting, karena

tinja manusia merupakan sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Penyebaran

Universitas Sumatera Utara


penyakit yang bersumber pada faeces dapat melalui berbagai macam jalan atau cara seperti

air, tangan, lalat, tanah, makanan dan minuman sehingga menyebakan penyakit. Jadi bila

pengolahan tinja tidak baik, jelas penyakit akan mudah tersebar. Beberapa penyakit yang

dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain: tipus, kolera dan bermacam-macam cacing.

Maka untuk menghindari penyebaran penyakit lewat tinja ini setiap orang diharapkan

menggunakan jamban sebagai penampung tinjanya.25

2.4 Pencegahan Infeksi Kecacingan

2.4.1 Pencegahan Primer

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan faktor resiko, yaitu

meliputi kebersihan lingkungan, kebersihan pribadi, penyediaan air bersih yang cukup,

semenisasi lantai rumah, pembuatan dan penggunaan jamban yang memadai, menjaga

kebersihan makanan, pendidikan kesehatan di sekolah baik untuk guru dan murid.3

2.4.2 Pencegahan Sekunder

Pencegahan yang dapat dilakukan adalah pengobatan. Prinsip pengobatan ini adalah

membunuh cacing yang ada dalam tubuh manusia yaitu dengan menggunakan obat yang

aman berspektrum luas, efektif untuk jenis cacing yang ditularkan melalui tanah. Menurut

berbagai pengalaman, frekuensi pengobatan dilakukan 2 kali dalam setahun.3

2.4.3 Pencegahan Tersier

Pencegahan yang dapat dilakukan ketika seseorang telah sembuh dari penyakit ini

adalah dengan pemberian makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya.

Universitas Sumatera Utara


BAB 3
KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Karakteristik Murid
Umur
Jenis Kelamin
Kebersihan Perorangan
Penyakit
STH

Sanitasi Dasar
Lingkungan Rumah

Sumber Air Bersih


Kepemilikan Jamban

3.2 Defenisi Operasional

3.2.1 Infeksi STH adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing kelas nematode usus

khususnya yang penularan melalui tanah, yang diperoleh dari hasil pemeriksaan

feses, dikategorikan menjadi 2 kelompok yaitu :

1. Positif, bila ditemukan satu jenis atau lebih telur cacing dalam tinja
2. Negatif, bila tidak ditemukan telur cacing dalam tinja

Universitas Sumatera Utara


3.2.2 Jenis cacing adalah cacing yang termasuk ke dalam kelas nematoda usus yang

penularannya melalui tanah, dikategorikan menjadi 4 kelompok yaitu :

1. Ascaris lumbricoides
2. Trichuris trichiura
3. Hookworms
4. Strongyloides stercoralis

3.2.3 Umur adalah umur responden dihitung sejak ia lahir sampai penelitian ini dilakukan

yang berada di antara 8-13 tahun dan dikelompokkan berdasarkan mediannya yakni

10 tahun menjadi :

1. 8 - 10 tahun
2. 11 - 13 tahun

3.2.2 Jenis kelamin adalah jenis kelamin responden berdasarkan data di SD dan

dikelompokkan menjadi:

1. Laki-laki
2. Perempuan

3.2.3 Kebersihan perorangan adalah tindakan kesehatan anak terhadap penyakit cacingan

menggunakan 15 pertanyaan yang memiliki alternatif jawaban ya dan tidak.

Jawaban benar diberi skor 1 dan salah diberi skor 0. Penilaian kategori yakni:

1. Buruk : nilai 0 – 9 (0 – 60%)


2. Baik : nilai 10 – 15 (70 – 100%)
3.2.4 Sumber air bersih adalah sumber untuk mendapatkan air bersih yang biasa

digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan dikelompokkan menjadi:

1. Tidak memenuhi syarat kesehatan : hasil penilaian < 70%


2. Memenuhi syarat kesehatan : hasil penilaian ≥ 70%

Universitas Sumatera Utara


3.2.5 Kepemilikan jamban adalah ketersediaan jamban yang digunakan responden setiap

kali BAB dan dikelompokkan menjadi:

1. Tidak memenuhi syarat kesehatan : hasil penilaian < 70%


2. Memenuhi syarat kesehatan : hasil penilaian ≥ 70%

Universitas Sumatera Utara


BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian bersifat observasional analitik dengan desain

penelitian Cross sectional.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

4.2.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah Sekolah Dasar Negeri No. 173327 Bahalimbalo

Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan.

4.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai Januari 2011 sampai Desember 2011.

4.3 Populasi dan Sampel

4.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh murid kelas IV, V dan VI SD Negeri

No. 173327 Bahalimbalo yang terdaftar pada tahun ajaran 2011/2012 sebanyak 153 orang.

4.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi murid SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo

yang terdaftar tahun ajaran 2011/2012.

a. Besar Sampel

Besar sampel ditentukan dengan menggunakan rumus Gaspersz:

Universitas Sumatera Utara


Keterangan :

n : Besar sampel

N : Jumlah Populasi (153 orang)

P : Perkiraan proporsi suatu peristiwa (0,318)4

Z : Tingkat kepercayaan (95 %)

G : Galat pendugaan (5 %)

Sehingga,

~ 105

Dari hasil perhitungan di atas diperoleh sampel sebesar 105 orang.

b. Teknik Pengambilan Sampel

Proporsi sampel tiap kelas ditentukan dengan menggunakan metode alokasi

sebanding (Proportional allocation method)26 yaitu :

Keterangan :

nh : Besar sampel tiap kelas

Nh : Populasi Tiap kelas

n : Besar sampel (105 orang)

N : Besar populasi kelas IV-VI (153 orang)

Universitas Sumatera Utara


Kelas Jumlah sampel tiap kelas

IV 54/153 x 105 = 37 orang

V 62/153 x 105 = 42,5 ~ 43 orang

VI 37/153 x 105 = 25,39 ~ 25 orang

Total sampel 105 orang

Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik

simple random sampling yaitu pengambilan secara acak pada masing-masing kelas.27

4.4 Jenis dan Metode Pengumpulan Data

4.4.1 Data Primer

Data primer yang diperoleh berupa karakteristik murid SD (umur, jenis kelamin,

dan kebersihan perorangan) yaitu melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner,

Observasi sanitasi dasar lingkungan rumah melalui panduan daftar pertanyaan dengan

mendatangi rumah masing-masing murid SD dan pemeriksaan infeksi kecacingan yaitu

melalui pemeriksaan tinja murid di Laboratorium RSU Dolok Sanggul Kabupaten

Humbang Hasundutan.

4.4.2 Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari pihak sekolah yaitu Sekolah Dasar Negeri No. 173327

Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan. Data yang

diperoleh adalah data-data berupa jumlah siswa/siswi yang terdaftar pada tahun ajaran

2011/2012 dan keadaan geografi sekolah.

Universitas Sumatera Utara


4.5 Aspek Pengukuran

i. Kebersihan perorangan

Pengukuran perilaku kebersihan perorangan diukur dengan memberikan skor

terhadap pertanyaan dalam kuesioner dengan kriteria penilaiannya adalah jawaban benar

diberi nilai 1 dan jawaban salah diberi nilai 0.

Perilaku kebersihan perorangan diklasifikasikan dalam 2 kategori yaitu :

1. Buruk, apabila skor yang diperoleh < 70% dari skor jawaban tertinggi

2. Baik, apabila skor yang diperoleh ≥ 70 % dari skor jawaban tertinggi

ii. Sanitasi Dasar Lingkungan Rumah Responden

Penilaian sanitasi dasar lingkungan rumah meliputi : Sumber air bersih dan Jamban,

diukur dengan memberikan skor terhadap hasil observasi melalui pertanyaan-pertanyaan

yang telah dibuat dengan kriteria penilaiannya adalah hasil observasi sesuai dengan syarat

kesehatan diberi nilai 1 dan hasil observasi tidak sesuai dengan syarat kesehatan diberi nilai

0.

Sumber air bersih diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu :

1. Tidak memenuhi syarat kesehatan apabila hasil penilaian < 70%

2. Memenuhi syarat kesehatan apabila hasil penilaian ≥ 70%.

Kepemilikan jamban diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu :

1. Tidak memenuhi syarat kesehatan apabila hasil penilaian < 70%

2. Memenuhi syarat kesehatan apabila hasil penilaian ≥ 70%.

Universitas Sumatera Utara


4.6 Pelaksanaan Penelitian

4.6.1 Pengumpulan Spesimen

Setelah selesai wawancara, pot-pot plastik dibagikan kepada siswa/i sehari sebelum

pemeriksaan. Besok pagi, pot-pot plastik yang sudah terisi tinja dikumpulkan, dimasukkan

ke dalam termos es dan dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan STH.

Pemeriksaan dilakukan oleh petugas laboratorium yakni Dokter ahli patologi dan ahli

analisis kesehatan RSU Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan.

4.6.2 Alat dan Bahan

a. Tabung reaksi

b. Rak tabung reaksi

c. Deck glass

d. Larutan NaCl jenuh

e. Mikroskop

f. Objek gelas

g. Spatula

h. Tinja

4.6.3 Pemeriksaan Spesiemen

Metode yang digunakan dalam pemeriksaan tinja adalah metode konsentrasi dengan

cara flotasi.

Universitas Sumatera Utara


Cara kerjanya yaitu :

a. Tinja diaduk menggunakan spatula supaya homogen

b. Diambil tinja ± 2-3 gram lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi

c. Tambahkan larutan NaCl jenuh sampai 1/3 volume tabung, lalu aduklah pelan-

pelan. Apabila didapatkan kotoran dari sisa makanan yang mengapung di

permukaan larutan, hendaknya diambil dan dibuang.

d. Setelah bersih, tambahkan larutan NaCl jenuh ke dalam tabung sampai 2/3 tabung

dan aduklah kembali sampai homogen.

e. Taruhlah tabung reaksi tersebut pada rak tabung reaksi, tambahkan larutan NaCl

jenuh sampai penuh dan tutplah dengan deck glass.

f. Diamkan selama 45 menit

g. Setelah cukup waktu, angkatlah deck glass secara hati-hati lalu tempelkan pada

objek gelas

h. Lakukan pengamatan di bawah mikroskop

4.7 Teknis Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer. Analisa data dilakukan

terhadap data primer dengan menggunakan perhitungan statistik dan hasil penelitian

disajikan dalam bentuk narasi, tabel dan grafik.

4.7.1 Analisis Univariat

Analisis univariat digunakan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing-

masing variabel yang meliputi karakteristik anak (umur, jenis kelamin dan kebersihan

perorangan), jenis cacing (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworms,

Universitas Sumatera Utara


Strongyloides stercoralis), dan sanitasi dasar lingkungan rumah (kepemilikan jamban dan

sumber air bersih).

4.7.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan dari masing-masing

variabel independen yang meliputi karakteristik murid (umur, jenis kelamin dan kebersihan

perorangan), jenis cacing (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworms,

Strongyloides stercoralis), dan sanitasi dasar lingkungan rumah (kepemilikan jamban dan

sumber air bersih) dengan variabel dependen (penyakit kecacingan). Teknik analisis yang

digunakan adalah uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% (P < 0,05).

Universitas Sumatera Utara


BAB 5
HASIL PENELITIAN

5.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Sekolah Dasar Negeri 173327 Bahalimbalo terletak di desa Paranginan Selatan

Kecamatan Paranginan yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Humbang

Hasundutan. Sekolah ini didirikan pada tahun 1946 dengan luas lokasi sekolah ± 4.800 m2.

Berdasarkan data yang diperoleh peneliti, sekolah ini memiliki 13 orang tenaga

pengajar dengan fasilitas 1 buah ruangan kepala sekolah, 1 buah ruangan guru, 14 buah

ruangan belajar, 1 buah gudang dan 6 buah wc di mana 2 buah wc untuk guru dan 4 buah

wc untuk murid.

5.2 Gambaran Murid Kelas IV, V, dan VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo


Kecamatan Paranginan
Proporsi murid kelas IV, V, dan VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan

Paranginan berdasarkan jenis kelamin dan kelas dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.1 Distribusi Proporsi Murid Kelas IV, V, dan VI SD Negeri 173327
Bahalimbalo Kecamatan Paranginan berdasarkan Jenis Kelamin dan
Kelas Tahun 2011
Kelas Jenis kelamin Total
Laki-laki Perempuan
f % F % f %
IV 25 46,3 29 53,7 54 35,3
V 31 50 31 50 62 40,5
VI 23 62,2 14 37,8 37 24,2
Total 79 51,6 74 48,4 153 100

Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat jumlah murid kelas IV, V, dan VI SD secara

keseluruhan 153 orang yang terdiri dari 54 orang (35,3%) kelas IV, 62 orang (40,5%) kelas

Universitas Sumatera Utara


V dan 37 orang (24,2%) kelas VI. Dapat juga dilihat jumlah murid yang berjenis kelamin

laki-laki 79 orang (51,6%) dan yang berjenis kelamin perempuan 74 orang (48,4%).

5.3 Prevalensi Infeksi STH

Prevalensi infeksi kecacingan yang ditularkan melalui tanah pada murid Kelas IV,

V, dan VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo tahun 2011 dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel 5.2 Distribusi Proporsi Infeksi STH Pada Murid Kelas IV, V, dan VI SD Negeri
173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Tahun 2011
Infeksi STH f %
Positif (+) 20 19
Negatif (-) 85 81
Total 105 100

Hasil pemeriksaan tinja yang dilakukan dapat diketahui responden yang positif

terinfeksi kecacingan sebesar 19% (20 orang) dan yang negatif terinfeksi kecacingan

sebesar 81% (85 orang). Maka prevalensi infeksi kecacingan pada murid SD Negeri

173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan tahun 2011 sebesar 19%.

5.4 Jenis Cacing

Proporsi responden berdasarkan jenis cacing yang menginfeksi tubuh pada murid

Kelas IV, V, dan VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan tahun 2011

dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 5.3 Distribusi Proporsi Infeksi STH berdasarkan Jenis Cacing Pada Murid
Kelas IV, V, dan VI SD Negeri 173327 Kelas IV, V, dan VI Bahalimbalo
Kecamatan Paranginan Tahun 2011

Jenis Cacing f %
Ascaris lumbricoides 19 95
Trichuris trichiura 1 5
Total 20 100

Universitas Sumatera Utara


Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui jenis cacing yang menginfeksi tubuh

Ascaris lumbricoides 95% (19 orang) dan Trichuris trichiura 5% (1 orang) sedangkan

Hookworm dan Strongyloides stercoralis tidak ditemukan.

5.5 Karakteristik Responden

Proporsi responden karakteristik pada Murid Kelas IV, V, dan VI SD Negeri

173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan tahun 2011 dapat dilihat pada tabel di bawah

ini:

Tabel 5.4 Distribusi Proporsi Karakteristik Murid Kelas IV, V, dan VI SD Negeri
173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Tahun 2011

Karakteristik Jumlah
f %
Umur (tahun)
8 – 10 48 45,7
11-13 57 54,3
Total 105 100
Jenis Kelamin
Laki-laki 50 47,6
Perempuan 55 52,4
Total 105 100
Kebersihan Perorangan
Buruk 75 71,4
Baik 30 28,6
Total 105 100

Berdasarkan tabel 5.4 dapat dilihat karakteristik responden berdasarkan kelompok

umur terbanyak adalah kelompok umur 11-13 tahun sebesar 54,3% (57 orang) dan yang

paling sedikit pada umur 8-10 tahun sebesar 45,7% (48 orang).

Berdasarkan jenis kelamin dapat diketahui yang terbanyak adalah responden

perempuan sebesar 52,4% (55 orang) dan yang paling sedikit adalah responden laki-laki

sebesar 47,6% (50 orang).

Universitas Sumatera Utara


Berdasarkan kebersihan perorangan dapat diketahui yang terbanyak adalah buruk

sebesar 71,4% (75 orang) dan yang paling sedikit adalah baik sebesar 28,6% (30 orang).

5.6 Kondisi Sarana Sanitasi Dasar Lingkungan Rumah Responden


Proporsi responden berdasarkan kondisi sarana sanitasi dasar lingkungan rumah

pada Murid Kelas IV, V, dan VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan

tahun 2011 dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 5.5 Distribusi Proporsi Kondisi Sarana Sanitasi Dasar Lingkungan Pada
Murid Kelas IV, V, dan VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan
Paranginan Tahun 2011

Kondisi Lingkungan f %

Sumber Air Bersih

Tidak memenuhi syarat kesehatan 77 73,3


Memenuhi syarat kesehatan 28 26,7
Total 105 100
Kepemilikan jamban

idak memenuhi syarat kesehatan 62 59


Memenuhi syarat kesehatan 43 41
Total 105 100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat kondisi sarana sanitasi dasar lingkungan

berdasarkan sumber air bersih yang terbanyak adalah sumber air bersih yang tidak

memenuhi syarat kesehatan sebesar 73,3% (77 orang) dan yang paling sedikit adalah

sumber air bersih yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 26,7% (28 orang).

Berdasarkan kepemilikan jamban dapat diketahui yang terbanyak adalah jamban

yang tidak memenuhi syarat kesehatan sebesar 59% (62 orang) dan yang paling sedikit

jamban yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 41% (43 orang).

Universitas Sumatera Utara


5.7 Hasil Analisa Statistik

Analisa statistik dilakukan untuk mengetahui hubungan masing – masing variabel

bebas dengan variabel terikat infeksi STH dengan uji Chi- Square pada taraf nyata α = 0,05

yang hasil penelitian diperoleh sebagai berikut:

5.7.1 Hubungan Umur dengan Infeksi STH

Tabulasi silang umur dengan infeksi STH pada murid Kelas IV, V, dan VI SD

Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan tahun 2011 dapat dilihat pada tabel di

bawah ini:

Tabel 5.6 Tabulasi Silang Umur dengan Infeksi STH Pada Murid Kelas IV, V, dan
VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Tahun 2011

Umur Infeksi STH Total RP


(tahun) Positif (+) Negatif (-) χ 2/p (CI =95%)
f % f % f %
8 - 10 13 27,1 35 72,9 48 100 3,703/ 2,205
11 – 13 7 12,3 50 87,7 57 100 0,054 (0,957-5,082

Berdasarkan analisa pada tabel di atas memperlihatkan bahwa dari 48 orang

responden yang berumur 8-10 tahun dengan infeksi STH positif 13 orang (27,1%) dan yang

negatif 35 orang (72,9%). Dari 57 orang responden yang berumur 11-13 tahun dengan

infeksi STH positif 7 orang (12,3%) dan yang negatif 50 orang (87,7%).

Berdasarkan hasil analisa statistik dengan uji Chi-Square diperoleh p > 0,05 yang

berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara umur dengan infeksi STH. Ratio

Prevalence infeksi STH pada umur 8-10 tahun dengan umur 11-13 tahun adalah 2,205

dengan Confidence Interval (CI) 0,957-5,082.

Universitas Sumatera Utara


5.7.2 Hubungan Jenis Kelamin dengan Infeksi STH

Tabulasi silang jenis kelamin dengan infeksi STH pada murid Kelas IV, V, dan VI

SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan tahun 2011 dapat dilihat pada tabel

di bawah ini :

Tabel 5.7 Tabulasi Silang Jenis Kelamin dengan Infeksi STH Pada Murid Kelas IV,
V, dan VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Tahun
2011
Jenis Infeksi STH Total RP
Kelamin Positif (+) Negatif (-) χ 2/p (CI =95%)
f % f %
Laki-laki 9 18,0 41 82,0 50 100 0,068/0,794 0,900
Perempuan 11 20,0 44 80,0 55 100 (0,407-1,990)

Berdasarkan analisa pada tabel di atas memperlihatkan bahwa dari 50 orang

responden laki-laki dengan infeksi STH positif 9 orang (18,0%) dan yang negatif 41 orang

(82,0%). Dari 55 orang responden perempuan dengan infeksi STH positif 11 orang (20,0%)

dan yang negatif 44 orang (80,0%).

Berdasarkan hasil analisa statistik dengan uji Chi-Square diperoleh p > 0,05 yang

berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan infeksi STH. Ratio

Prevalence infeksi STH pada laki dengan perempuan adalah 0,900 dengan Confidence

Interval (CI) 0,407-1,990.

5.7.3 Hubungan Kebersihan Perorangan dengan Infeksi STH

Tabulasi silang kebersihan perorangan dengan infeksi STH pada murid Kelas IV, V,

dan VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan tahun 2011 dapat dilihat

pada tabel di bawah ini :

Universitas Sumatera Utara


Tabel 5.8 Tabulasi Silang Kebersihan Perorangan dengan Infeksi STH Pada Murid
Kelas IV, V, dan VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan
Paranginan Tahun 2011
Kebersihan Infeksi STH Total RP
perorangan Positif (+) Negatif (-) χ 2
/p (CI =95%)
f % f % f %
Buruk 18 24,0 57 76,0 75 100 4,175/ 3,600
Baik 2 6,7 28 93,3 30 100 0,041 (0,889-14,572)

Berdasarkan analisa pada tabel di atas memperlihatkan bahwa dari 75 orang

responden yang memiliki kebersihan perorangan buruk dengan infeksi STH positif 18

orang (24,0%) dan yang negatif 57 orang (76,0%). Dari 30 orang responden yang memiliki

kebersihan perorangan baik dengan infeksi STH positif 2 orang (6,7%) dan yang negatif 28

orang (93,3%).

Berdasarkan hasil analisa statistik dengan uji Chi-Square diperoleh p < 0,05 yang

berarti ada hubungan yang bermakna antara kebersihan perorangan dengan infeksi STH.

Ratio Prevalence infeksi STH pada kebersihan perorangan buruk dengan baik adalah 3,600

dengan Confidence Interval (CI) 0,899-14,572.

5.7.4 Hubungan Sumber Air Bersih dengan Infeksi STH

Tabulasi silang sumber air bersih dengan infeksi STH pada murid Kelas IV, V, dan

VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan tahun 2011 dapat dilihat pada

tabel di bawah ini :

Universitas Sumatera Utara


Tabel 5.9 Tabulasi Silang Hasil Sumber Air Bersih dengan Infeksi STH Pada
Murid Kelas IV, V, dan VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan
Paranginan Tahun 2011

Sumber Air Infeksi STH Total RP


Bersih Positif (+) Negatif (-) χ 2/p (CI =95%)
f % f % f %
Tidak memenuhi 16 20,8 61 79,2 77 100 0,561/ 1,455
syarat kesehatan 0,454 (0,532-3,980)
Memenuhi 4 14,3 24 85,7 28 100
syarat kesehatan

Berdasarkan analisa pada tabel di atas memperlihatkan bahwa dari 77 orang

responden yang memiliki sumber air bersih yang tidak memenuhi syarat kesehatan dengan

infeksi STH positif 16 orang (20,8%) dan yang negatif 61 orang (79,2%). Dari 28 orang

responden yang memiliki sumber air bersih yang memenuhi syarat kesehatan dengan

infeksi STH positif 4 orang (14,3%) dan yang negatif 24 orang (85,7%).

Berdasarkan hasil analisa statistik dengan uji Chi-Square diperoleh p > 0,05 yang

berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara sumber air bersih dengan infeksi STH.

Ratio Prevalence infeksi STH pada sumber air bersih yang tidak memenuhi syarat

kesehatan dengan yang memenuhi syarat kesehatan adalah 1,455 dengan Confidence

Interval (CI) 0,532-3,980.

5.7.5 Hubungan Kepemilikan Jamban dengan Infeksi STH

Tabulasi silang kepemilikan jamban dengan infeksi STH pada murid Kelas IV, V,

dan VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan tahun 2011 dapat dilihat

pada tabel di bawah ini :

Universitas Sumatera Utara


Tabel 5.10 Tabulasi Silang Hasil Kepemilikan Jamban dengan Infeksi STH Pada
Murid Kelas IV, V, dan VI SD Negeri 173327 Bahalimbalo Kecamatan
Paranginan Tahun 2011

Kepemilikan Infeksi STH Total RP


Jamban Positif (+) Negatif (-) χ 2/p (CI =95%)
F % f % f %
Tidak memenuhi 17 25,8 49 74,2 66 100 5,188/ 3,348
syarat kesehatan 0,023 (1,408-10,701)
Memenuhi syarat 3 7,7 36 92,3 39 100
kesehatan

Berdasarkan analisa pada tabel di atas memperlihatkan bahwa dari 66 orang

responden yang memiliki jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan dengan infeksi

STH positif 21,0% (17 orang) dan yang negatif 74,2% (49). Dari 39 orang responden yang

memiliki jamban yang memenuhi syarat kesehatan dengan infeksi STH positif 7,7% (3

orang) dan yang negatif sebesar 92,3% (36 orang)

Berdasarkan hasil analisa statistik dengan uji Chi-Square diperoleh p < 0,05 yang

berarti ada hubungan yang bermakna antara kepemilikan jamban dengan infeksi STH. Ratio

Prevalence infeksi STH pada kepemilikan jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan

dengan yang memenuhi syarat kesehatan adalah 3,348 dengan Confidence Interval (CI)

1,408-10,701.

Universitas Sumatera Utara


BAB 6
PEMBAHASAN

6.1 Prevalensi Infeksi STH

Prevalensi infeksi STH yang ditularkan melalui tanah pada murid kelas IV, V, dan

VI SD Negeri No. 173327 tahun 2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

19%

Negatif (-)
Positif (+)

81%

Gambar 6.1 Diagram Pie Prevalensi Infeksi STH pada Murid Kelas IV, V, dan VI
SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten
Humbang Hasundutan tahun 2011

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat hasil pemeriksaan feses yang dilakukan

pada 105 murid diketahui prevalensi infeksi STH sebesar 19 %.

Proporsi infeksi berdasarkan jenis cacing yaitu Ascaris lumbricoides 95% dan

Trichuris trichiura 5% sedangkan Hookworm dan Strongyloides stercoralis tidak

ditemukan

Universitas Sumatera Utara


Hasil observasi yang didapat bahwa kebersihan perorangan murid sehari-hari adalah

buruk (71,4%), sumber air bersih yang tidak memenuhi syarat kesehatan masih tinggi

(73,3%) dan kepemilikan jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan masih tinggi

(59%).

Berdasarkan sumber, puskesmas Paranginan melaksanakan program pembagian

obat cacing 2 kali setahun kepada anak SD.

Dari hasil penelitian di atas sebesar 19% dapat disimpulkan bahwa bila

dibandingkan dengan Angka Nasional Infeksi Kecacingan yaitu <10% (Depkes, 2004),

maka angka ini masih cukup tinggi, hal ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan infeksi

kecacingan pada anak SD harus lebih ditingkatkan lagi.

Survei Dinas Kesehatan, prevalensi kecacingan pada anak SD di kabupaten terpilih

di Indonesia pada tahun 2006 sebesar 32,6%, tahun 2008 sebesar 24,1% dan 2009 sebesar

31,8%.2

Hasil penelitian Purba (2005) pada siswa SD 106160 Tanjung Rejo Kecamatan

Percut Sei Tuan bahwa prevalensi STH sebesar 15,09%.28

Hasil penelitian Yulianto (2007) dengan desain cross sectional pada siswa SD

Negeri Rowosari 01 Kecamatan Tembalang kota Semarang bahwa prevalensi STH sebesar

20%.24

Hasil penelitian Tumanggor (2008) dengan desain cross sectional pada siswa SD

Negeri 030375 Di Desa Juma Teguh Kecamatan Siempat Nempu Kabupaten Dairi bahwa

prevalensi STH sebesar 74,3%.29

Universitas Sumatera Utara


Survei dinas Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan tahun 2008

mengenai distribusi prevalensi cacingan menurut jenis cacing bahwa Ascaris lumbricoides

sebesar 13,9%, Trichuris trichiura sebesar 14,5% dan Hookworm sebesar 3,6%.2

Penyakit ini sangat erat hubungannya dengan keadaaan sosial-ekonomi, kebersihan

diri dan lingkungan. Di antara ke empat macam cacing tersebut, Ascaris lumbricoides

adalah yang tertinggi prevalensinya dan umumnya penderita menderita infeksi ganda.30

Tanah liat, teduh dan kelembaban tinggi merupakan hal-hal yang sangat baik untuk

berkembangnya telur Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura menjadi bentuk infektif

sementara yang baik untuk pertumbuhan larva Hookworm dan Strongyloides stercoralis

adalah tanah pasir yang gembur, tercampur humus, dan terlindung dari sinar matahari

langsung..5

Universitas Sumatera Utara


6.2 Analisis Bivariat

6.2.1 Hubungan Karakteristik Murid dengan Infeksi STH

i. Hubungan antara umur dengan infeksi STH dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

100,0%
87,7%
90,0%
Distribusi Proporsi Infeksi STH

80,0% 72,9%
70,0%
60,0%
50,0%
40,0% Positif (+)
27,1%
30,0% Negatif (-)
20,0% 12,3%
10,0%
0,0%
8 - 10 11 - 13
Umur (tahun)

Gambar 6.2 Diagram Bar Proporsi Infeksi STH Berdasarkan Umur pada Murid
Kelas IV, V, dan VI SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan
Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat proporsi infeksi STH positif pada

responden berumur 8-10 tahun sebesar 27,1% dan infeksi STH negatif 72,9%.

Prevalensi kejadian infeksi STH positif pada responden berumur 11-13 tahun sebesar

12,3% dan infeksi STH negatif 87,7%. Infestasi infeksi STH pada penelitian ini

ditemukan mengenai murid dengan umur yang lebih muda. Semua umur dapat terinfeksi

cacing ini dan prevalensi tertinggi terdapat pada anak-anak.30

Berdasarkan hasil analisa statistik dengan uji Chi-Square di peroleh p=0,054

(p>0,05) yang berarti tidak ada hubungan bermakna antara umur dengan kejadian infeksi

STH.

Universitas Sumatera Utara


Ratio Prevalence (RP) infeksi STH pada umur 8-10 tahun dengan umur 11-13

tahun adalah 2,205 dengan Confidence Interval (CI) 0,957-5,082. Hal ini menunjukkan

bahwa umur belum dapat disimpulkan sebagai faktor risiko kejadian infeksi STH pada

murid kelas IV, V, dan VI SD Negeri no. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan

Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011.

Murid SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo pada umur 8-13 tahun sering bermain

maupun bekerja di ladang untuk membantu orang tua. Berdasarkan observasi peneliti,

murid di SD ini memainkan permainan yang kontak dengan tanah sewaktu jam istirahat

di sekolah.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Alemina (2002) pada anak

murid SD di Desa Suka Kecamatan Tiga Panah dengan desain cross sectional di mana

tidak ada hubungan yang bermakna antara umur dengan infeksi STH (p=0,811).31

Universitas Sumatera Utara


ii. Hubungan antara jenis kelamin dengan infeksi STH dapat dilihat pada gambar di

bawah ini:

90% 82% 80%


Distribusi Proporsi Infeksi STH
80%
70%
60%
50%
40% Positif (+)
30% 20%
18% Negatif (-)
20%
10%
0%
Laki-laki Perempuan
Jenis Kelamin

Gambar 6.3 Diagram Bar Proporsi Infeksi STH Berdasarkan Jenis Kelamin pada
Murid SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan
Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011

Berdasarkan gambar 6.3 dapat dilihat prevalensi infeksi STH positif pada responden

berjenis kelamin laki-laki sebesar 18% dan infeksi STH negatif 82%. Prevalensi kejadian

infeksi STH positif pada responden berjenis kelamin perempuan sebesar 20% dan infeksi

STH negatif 80%.

Berdasarkan hasil analisa statistik dengan uji Chi-Square di peroleh p=0,794

(p>0,05) yang berarti tidak ada hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian

infeksi STH.

Ratio Prevalence infeksi STH pada laki dengan perempuan adalah 0,900 dengan

Confidence Interval (CI) 0,407-1,990. Hal ini menunjukkan bahwa jenis kelamin belum

dapat disimpulkan sebagai faktor risiko kejadian infeksi STH pada murid kelas IV, V, dan

Universitas Sumatera Utara


VI SD Negeri no. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang

Hasundutan tahun 2011.

Murid SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo baik laki-laki maupun perempuan sama-

sama melakukan kegiatan sehari-hari yang banyak kontak dengan tanah yakni bekerja di

ladang untuk membantu orang tua sehabis pulang sekolah.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Damanik (2005) pada anak murid

SD Negeri No. 091434 Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun dengan

desain cross sectional di mana tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin

dengan infeksi STH (p=0,292).22

Universitas Sumatera Utara


iii. Hubungan antara kebersihan perorangan dengan infeksi STH dapat dilihat pada

gambar di bawah ini:

100,0% 93,3%
90,0%
Distribusi Proporsi Infeksi STH

80,0% 76,0%
70,0%
60,0%
50,0%
40,0% Positif (+)
30,0% 24,0% Negatif (-)
20,0%
6,7%
10,0%
0,0%
buruk baik
Kebersihan Perorangan

Gambar 6.4 Diagram Bar Proporsi Infeksi STH Berdasarkan Kebersihan


Perorangan pada Murid Kelas IV, V, dan VI SD Negeri No. 173327
Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang
Hasundutan tahun 2011

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat prevalensi infeksi STH positif pada

responden dengan kebersihan perorangan buruk sebesar 24% dan infeksi STH negatif 76%.

Prevalensi kejadian infeksi STH positif pada responden dengan kebersihan perorangan baik

sebesar 6,7% dan infeksi STH negatif 93,3%. Dari data di atas dapat kita lihat responden

dengan kebersihan perorangan buruk canderung mengalami infeksi STH dibandingkan

yang baik.

Berdasarkan hasil analisa statistik dengan uji Chi-Square di peroleh p=0,041

(p<0,05) yang berarti ada hubungan bermakna antara kebersihan perorangan dengan

kejadian infeksi STH. Kebersihan perorangan buruk kemungkinan terinfeksi STH tinggi

dibandingkan yang baik.

Universitas Sumatera Utara


Ratio Prevalence infeksi STH pada kebersihan perorangan buruk dengan baik

adalah 3,600 dengan Confidence Interval (CI) 0,899-14,572. Hal ini menunjukkan bahwa

kebersihan perorangan belum dapat disimpulkan sebagai faktor risiko kejadian infeksi STH

pada murid kelas IV, V, dan VI SD Negeri no. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan

Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011

Kebersihan perorangan yang buruk di SD ini paling tinggi dari kebiasaan mencuci

tangan tetapi tidak memakai sabun sebelum makan (66,3%), setelah BAB (60,2%), setelah

bermain dengan tanah (62,1%), tidak menggunakan alas kaki ketika keluar rumah (59%),

kuku kotor (50,5%) dan tidak menggunting kuku seminggu sekali (54,3%),

Hal ini sesuai dengan penelitian Dachi (2005) pada anak SD No. 174593 Hatoguan

Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir di mana ada hubungan antara tindakan anak sekolah

dasar terhadap infeksi cacing perut (p = 0,000).32

Universitas Sumatera Utara


6.2.2 Hubungan Sanitasi Dasar Lingkungan Rumah dengan Infeksi STH

i. Hubungan antara sumber air bersih dengan infeksi STH dapat dilihat pada gambar

di bawah ini:

90,0% 85,7%
79,2%
Distribusi Proporsi Infeksi STH

80,0%
70,0%
60,0%
50,0%
40,0%
30,0% positif (+)
20,8%
20,0% 14,3% negatif (-)
10,0%
0,0%
Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat
kesehatan kesehatan
Kebersihan Perorangan

Gambar 6.5 Diagram Bar Proporsi Infeksi STH Berdasarkan Sumber Air Bersih
pada Murid Kelas V, V, dan VI SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo
Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat prevalensi infeksi STH positif pada

responden dengan sumber air bersih yang tidak memenuhi syarat kesehatan sebesar 20,8%

dan infeksi STH negatif 79,2%. Prevalensi kejadian infeksi STH positif pada responden

dengan sumber air bersih yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 14,3% dan infeksi STH

negatif 85,7%.

Berdasarkan hasil analisa statistik dengan uji Chi-Square di peroleh p=0,454

(p>0,05) yang berarti tidak ada hubungan bermakna antara sumber air bersih dengan

kejadian infeksi STH.

Universitas Sumatera Utara


Ratio Prevalence infeksi STH pada sumber air bersih yang tidak memenuhi syarat

kesehatan dengan yang memenuhi syarat kesehatan adalah 1,455 dengan Confidence

Interval (CI) 0,532-3,980. Hal ini menunjukkan bahwa sumber air bersih belum dapat

disimpulkan sebagai faktor risiko kejadian infeksi STH pada murid kelas IV, V, dan VI SD

Negeri no. 173327 Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan

tahun 2011.

Berdasarkan hasil observasi, 46% murid menggunakan sumur bor dan 50% murid

menggunakan sumur gali sebagai sumber air bersihnya. Hampir semua murid yang

menggunakan sumur bor maupun sumur gali, airnya bersih, tidak berwarna, tidak berasa

dan tidak berbau.

Pedoman untuk membuat sumur bor maupun sumur gali yang berhubungan dalam

pencegahan infeksi STH adalah pemilihan lokasi sumur yang akan di bor/di gali, sebaiknya

tidak berdekatan dengan septick tank, kedalaman sumur bor biasanya > 15 m karena lebih

aman dari pencemaran bakteri, cacing dan kontaminasi lainnya, kedalaman sumur gali

biasanya < 15 m, sekitar 3-6 m dimana pada bagian dinding sedalam 3 m diberi tembok

agar tidak terjadi rembesan air dari permukaan tanah yang akan mencemari sumur.

Hal ini sesuai dengan penelitian Yulianto (2007) pada siswa Sekolah Dasar Negeri

Rowosari 01 Kecamatan Tembalang Kota Semarang di mana tidak ada hubungan

ketersediaan air bersih dengan kejadian penyakit cacingan (p = 0,094).24

Universitas Sumatera Utara


ii. Hubungan antara kepemilikan jamban dengan infeksi STH dapat dilihat pada

gambar di bawah ini:

100,0% 92,3%
Distribusi Proporsi infeksi STH 90,0%
80,0% 74,2%
70,0%
60,0%
50,0%
40,0%
30,0% 25,8% Positif (+)
20,0% Negatif (-)
7,7%
10,0%
0,0%
Jamban yang tidak Jamban yang memenuhi
memenuhi syarat syarat kesehatan
kesehatan
Kepemilikan Jamban

Gambar 6.6 Diagram Bar Proporsi Infeksi STH Berdasarkan Kepemilikan Jamban
pada Murid Kelas IV, V, dan VI SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo
Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat prevalensi infeksi STH positif pada

responden dengan jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan sebesar 25,8% dan

infeksi STH negatif 74,2%. Prevalensi kejadian infeksi STH positif pada responden dengan

jamban yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 7,7% dan infeksi STH negatif 92,3%.

Berdasarkan hasil analisa statistik dengan uji Chi-Square diperoleh p= 0,023 yang

berarti ada hubungan bermakna antara kepemilikan jamban dengan kejadian infeksi STH.

Ratio Prevalence infeksi STH pada kepemilikan jamban yang tidak memenuhi

syarat kesehatan dengan yang memenuhi syarat kesehatan adalah 3,348 dengan Confidence

Interval (CI) 1,408-10,701. Hal ini menunjukkan bahwa kepemilikan jamban merupakan

faktor risiko kejadian infeksi STH pada murid kelas IV, V, dan VI SD Negeri no. 173327

Universitas Sumatera Utara


Bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011.

Artinya, kepemilikan jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan beresiko infeksi STH

3,2 kali lebih besar dibandingkan kepemilikan jamban yang memenuhi syarat kesehatan.

Murid SD N No. 173327 Bahalimbalo paling banyak memiliki jamban leher angsa

yakni 53% dibandingkan yang cemplung. Tetapi penyediaan jamban dan penggunaannya

masih tidak memenuhi syarat kesehatan. Jamban yang tersedia kurang memadai untuk

semua anggota keluarga dan tidak ada persediaan sabun utnuk mencuci tangan sehabis

BAB.

Hal ini sesuai penelitian Yulianto (2007) pada siswa Sekolah Dasar Negeri

Rowosari 01 Kecamatan Tembalang Kota Semarang di mana ada hubungan kepemilikan

jamban dengan kejadian penyakit cacingan (p = 0,042).24

Menurut Entjang (2001) Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dalam

kesehatan lingkungan. Pembuangan tinja yang tidak saniter dari tinja manusia dapat

menyebabkan terjadinya kontaminasi terhadap tanah dan sumber air. Kondisi ini

mengakibatkan bakteri/cacing dapat berkembangbiak dan menginfeksi manusia. Faktor

manusia untuk menjaga kebersihan sanitasi jamban merupakan hal yang harus

diperhatikan.23

Ada 7 syarat dalam membuat jamban sehat menurut Kementerian Kesehatan yakni

tidak mencemari air, tidak mencemari tanah permukaan, bebas dari serangga, tidak

menimbulkan bau dan nyaman digunakan, aman digunakan oleh pemakainya, mudah

dibersihkan dan tidak menimbulkan gangguan bagi pemakainya dan tidak menimbulkan

pandangan yang kurang sopan.

Universitas Sumatera Utara


Dari ketujuh syarat tersebut yang sesuai dengan pencegahan infeksi STH adalah

ii.1 Tidak mencemari air dengan kriteria saat menggali tanah untuk lubang kotoran,

usahakan agar dasar lubang kotoran tidak mencapai permukaan air tanah maksimum., jika

keadaan terpaksa, dinding dan dasar lubang kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat atau

diplester, jarak lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter, letak lubang

kotoran lebih rendah daripada letak sumur agar air kotor dari lubang kotoran tidak

merembes dan mencemari sumur, tidak membuang air kotor dan buangan air besar ke

dalam selokan, empang, danau, sungai, dan laut

ii.2 Tidak mencemari tanah permukaan dengan kriteria tidak buang besar di sembarang

tempat, seperti kebun, pekarangan, dekat sungai, dekat mata air, atau pinggir jalan, jamban

yang sudah penuh agar segera disedot untuk dikuras kotorannya, atau dikuras, kemudian

kotoran ditimbun di lubang galian.

Universitas Sumatera Utara


BAB 7
KESIMPULAN

7.1 Kesimpulan

7.1.1 Prevalensi infeksi STH pada murid SD Negeri No. 173327 Bahalimbalo Kecamatan

Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011 sebesar 19%.

7.1.2 Proporsi infeksi STH berdasarkan jenis cacing yaitu Ascaris lumbricoides 18% dan

Trichuris trichiura 1%.

7.1.3 Proporsi karakteristik pada kelompok umur 11-13 tahun sebesar 54,3%, jenis

kelamin perempuan sebesar 52,4% dan kebersihan perorangan buruk sebesar 71,4%.

7.1.4 Proporsi sarana sanitasi dasar lingkungan rumah pada murid dengan sumber air

bersih yang tidak memenuhi syarat kesehatan sebesar 73,3% dan jamban yang tidak

memenuhi syarat kesehatan sebesar 62,9%.

7.1.5 Tidak ada hubungan bermakna antara umur dengan kejadian infeksi STH, antara

jenis kelamin dengan kejadian infeksi STH dan antara sumber air bersih dengan

kejadian infeksi STH.

7.1.6 Ada hubungan bermakna antara kebersihan perorangan dengan kejadian infeksi

STH dan antara kepemilikan jamban dengan kejadian infeksi STH.

Universitas Sumatera Utara


7.2 Saran

7.2.1 Untuk pihak SD Negeri No. 173327 agar memberikan pengetahuan kepada murid-

murid tentang kebersihan perorangan seperti mencuci tangan dengan sabun sesudah

buang air besar, memakai alas kaki bila bermain dan keluar rumah, memotong kuku

anak seminggu sekali, tidak makan makanan sewaktu bermain tanah.

7.2.2 Untuk Puskesmas Paranginan, dengan kejadian infeksi STH sebesar 19% maka

program pemeriksaan, pencegahan dan penanggulangan kecacingan secara periodik

yang sudah berjalan perlu ditingkatkan.

7.2.3 Untuk Puskesmas Paranginan melakukan pencegahan infeksi STH melalui

penyuluhan mengenai penyediaan air bersih dan kepemilikan jamban yang

memenuhi syarat kepada masyarakat di wilayah kerja.

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI, 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta

2. Depkes RI, 2009. Profil PP dan PL 2008. Jakarta

3. Depkes RI, 2006. Pedoman Pengendalian Cacingan. Jakarta

4. Soedarto, 1992. Penyakit-Penyakit Infeksi di Indonesia. Widya Medika. Jakarta

5. Gandahusada, S., dkk, 2004. Parasitologi Kedokteran. Edisi II FKUI, Jakarta

6. Onggowaluyo, 2002. Parasitologi Medik I (Helmintologi). EGC, Jakarta

7. Zulkoni, A., 2010. Parasitologi. Cetakan I. Muha Medika, Yogyakarta

8. WHO, 2011. Soil Transmitted Helminths. www.who.int/intestinal_worms/en.


Akses 5 Maret 2011

9. WHO, 2003. School Deworming.


www.who.int/entity/wormcontrol/document/en/at_aglance.pdf. Akses 11
Maret 2011

10. Depkes RI, 2010. Profil Kesehatan Indonesia 2009. Jakarta

11. Depkes RI, 2006. Profil Kesehatan Indonesia 2005. Jakarta

12. Dinkes Prov. Sumut, 2006. Laporan Hasil Kegiatan Program Cacingan Tahun
2005. Dinkes Prop. Sumut. Medan

13. Soedarto, 1991. Helmintologi Kedokteran. Cetakan I EGC. Jakarta

14. DPDx. 2011. Parasites of the Intestina Tract. www.dpd.cdc.gov/dpdx. Akses 3


Maret 2011

15. Rukmono, B., dkk, 1988. Buku Penuntun Parasitologi Kedokteran. Binacipta.
Bandung

16. Irianto, K., 2009. Parasitologi. Cetakan I Yrama Widya, Bandung

17. Muslim, H., 2009. Parasitologi untuk Keperawatan. Cetakan I EGC, Jakarta

18. Bruckner, D,. dan Lynne S. Garcia, 1996. Diagnostik Parasitologi Kedokteran.
Cetakan I EGC, Jakarta

Universitas Sumatera Utara


19. Siregar, B., 2008. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Infeksi
Kecacingan yang Ditularkan melalui Tanah pada Murid SD Negeri 06
Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis Tahun 2008. Skripsi FKM
USU Medan

20. Ginting, A., 2009. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian


Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan
Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008. Skripsi FKM USU
Medan

21. Widoyono, 2008. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan


Pemberantasannya. Erlangga, Jakarta

22. Damanik, E., 2005. Gambaran Epidemiologi Penyakit Soil Transmitted


Helminths Pada Murid SD Negeri No. 091434 Kecamatan Pamatang
Sidamanik Kabupaten Simalungun Tahun 2005. Skripsi FKM USU
Medan

23. Entjang, I., 2001. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Citra Aditya Bakti, Bandung

24. Yulianto, E., 2007. Hubungan Higiene Sanitasi dengan Kejadian Penyakit
Cacingan pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Rowosari 01 Kecamatan
Tembalang Kota Semarang Tahun Ajaran 2006/2007. Skripsi Fakultas
Ilmu Keolahragaan UNNES Semarang

25. Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cetakan Kedua. Anggota


IKAPI. PT Rineka Cipta. Jakarta

26. Gasperz, V., 1991. Teknik Pengambilan Contoh Untuk Penelitian. Tarsito, Bandung

27. Notoatmodjo, S., 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta, Jakarta

28. Purba, J., 2005. Pemeriksaan Telur Cacing pada Kotoran Kuku dan Hygiene
Siswa Sekolah Dasar Negeri 106160 Tanjung Rejo Kecamatan Percut
Sei Tuan. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat USU Medan

29. Tumanggor, A., 2008. Hubungan Perilaku dan Higiene Siswa SD Negeri 030375
dengan Infeksi Kecacingan di Desa Juma Teguh Kecamatan Siempat
Nempu Kabupaten Dairi. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat USU
Medan

30. Tjitra, E., 1991. Penelitian-penelitian Soil-Transmitted Helminth di Indonesia.


Cermin Dunia Kedokteran. Depkes, Jakarta

Universitas Sumatera Utara


31. Alemina, S, 2002. Hubungan Antara Status Sosial Ekonomi Dengan Kejadian
Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Suka Kecamatan Tiga
Panah Kabupaten Karo Propinsi Sumatera Utara. Bagian Parasitologi
Anak FK USU, Medan

32. Dachi, R., 2005. Hubungan Perilaku Anak Sekolah Dasar No. 174593 Hatoguan
terhadap Infeksi Cacing Perut di Kecamatan Palipi Kabupaten
Samosir Tahun 2005. Jurnal Mutiara Kesehatan Indonesia

Universitas Sumatera Utara


KUESIONER PENELITIAN
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN INFEKSI KECACINGAN
YANG DITULARKAN MELALUI TANAH PADA MURID SD NEGERI NO 173327
BAHALIMBALO KEC. PARANGINAN KAB. HUMBANG HASUNDUTAN
TAHUN 2011

I. Data Umum Responden


Nama :
Jenis kelamin :
Umur : tahun
Kelas :
Alamat :

II. Data Perilaku Kebersihan Perorangan


1. Apakah setiap mau makan adik mencuci tangan?
a. Ya
b. Tidak

2. Jika ya, dengan apakah adik mencuci tangan sewaktu mau makan?
a. Air dan sabun
b. Air saja
3. Apakah setelah buang air besar (berak) adik mencuci tangan?
a. Ya
b. Tidak

4. Jika ya, dengan apakah adik mencuci tangan setelah buang air besar (berak)?
a. Air dan sabun
b. Air saja
5. Apakah adik sering bermain dengan tanah?
a. Ya
b. Tidak
Jika tidak, pindah ke pertanyaan no. 9
6. Apakah adik pernah makan sambil bermain dengan tanah?
a. Ya
b. Tidak
Jika ya, pindah ke pertanyaan no. 9
7. Apakah setelah bermain dengan tanah adik mencuci tangan?
a. Ya
b. Tidak

Universitas Sumatera Utara


8. Dengan apakah adik mencuci tangan setelah bermain dengan tanah?
a. Air dan sabun
b. Air saja

9. Apakah adik menggunakan alas kaki (sepatu, sandal) setiap keluar rumah?
a. Tidak
b. Ya
10. Pada waktu istrahat sekolah apakah adik bermain sambil membuka sepatu?
a. Tidak
b. Ya
11. Apakah adik memotong kuku sekali seminggu?
a. Tidak
b. Ya
12. Apakah adik sering menggigit kuku ketika sedang bermain?
a. Ya
b. Tidak
13. Apakah kuku anak panjang? (observasi)
a. Ya
b. Tidak
14. Apakah kuku anak bersih (observasi)
a. Ya
b. Tidak

Universitas Sumatera Utara


OBSERVASI SANITASI DASAR LINGKUNGAN RUMAH MURID SD NEGERI
NO 173327 BAHALIMBALO KEC. PARANGINAN KAB. HUMBANG
HASUNDUTAN
TAHUN 2011

A. Sumber Air Bersih


Data khusus :
1. Ada tidaknya sumber air bersih :
a. Ada
b. Tidak ada
2. Sumber air bersih itu diperoleh dari :
a. Sumur bor
b. Sumur gali

Hasil Observasi terhadap sumber air bersih sekolah


1. Jika sumur gali, jarak sumur gali tersebut dengan septic tank
a. ≥ 10 M
b. < 10 M
2. Keadaan air
a. Tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna
b. Berbau, berasa, berwarna
3. Jumlah air bersih yang ada memadai/cukup untuk kebutuhan semua anggota
keluarga
a. Ya
b. Tidak
4. Sumur gali yang digunakan mempunyai cincin sumur yang kedap air
a. Ya
b. Tidak
5. Ada tempat penampungan air yang bersih
a. Ya
b. Tidak
6. Jika ya, jenis tempat penampungan air bersih tersebut
a. Bak Permanen
b. Ember
7. Kondisi tempat penampungan air bersih tersebut
a. Bersih
b. Tidak bersih
c.

Universitas Sumatera Utara


8. Jika sumur gali, ember/ timba dan tali tidak diletakkan sembarangan/digantung
a. Ya
b. Tidak

Universitas Sumatera Utara


B. Jamban
Data Khusus
1. Ada WC/ Jamban dirumah
a. Ada
b. Tidak ada
2. Jenis Jamban yang ada
a. Leher angsa
b. Cemplung

Hasil observasi terhadap jamban


1. Jumlah WC/ Jamban telah memadai untuk seluruh anggota keluarga
a. Ya
b. Tidak
2. Jamban memiliki septic tank
a. Ya
b. Tidak
3. Ada persediaan air bersih secara kontiniu di dekat Jamban
a. Ya
b. Tidak
4. Kebersihan Jamban tersebut
a. Lantai tidak licin, tidak berbau, tidak ada genangan air
b. Lantai licin, berbau tidak sedap, ada genangan air
5. Ada persediaan sabun untuk cuci tangan setelah BAB di dekat Jamban ?
a. Ya
b. Tidak

Universitas Sumatera Utara


MASTER DATA

No. Sex umur Umurk kebper Kebperk sab sabk kepjam kepjamk asc hook tri strong infsth
1. 1 9 1 9 1 6 1 5 2 2 2 2 2 2
2. 1 9 1 11 2 6 1 5 2 2 2 2 2 2
3. 2 9 1 8 1 6 1 4 1 1 2 2 2 1
4. 2 9 1 12 2 6 1 6 2 2 2 2 2 2
5. 1 8 1 12 2 7 2 7 2 2 2 2 2 2
6. 2 9 1 13 2 8 2 6 2 2 2 2 2 2
7. 2 9 1 7 1 5 1 0 1 1 2 2 2 1
8. 2 10 1 3 1 7 2 3 1 2 2 2 2 2
9. 1 9 1 7 1 6 1 3 1 2 2 1 2 1
10. 1 10 1 7 1 7 2 3 1 2 2 2 2 2
11. 2 9 1 11 2 7 2 0 1 2 2 2 2 2
12. 1 10 1 9 1 6 1 4 1 1 2 2 2 1
13. 1 9 1 9 1 7 2 6 2 2 2 2 2 2
14. 1 9 1 5 1 8 2 0 1 2 2 2 2 2
15. 1 10 1 13 2 6 1 6 2 2 2 2 2 2
16. 1 9 1 5 1 6 1 4 1 1 2 2 2 1
17. 2 9 1 8 1 7 2 5 2 2 2 2 2 2
18. 2 9 1 10 2 6 1 6 2 2 2 2 2 2
19. 2 9 1 10 2 6 1 0 1 2 2 2 2 2
20. 1 9 1 9 1 6 1 4 1 1 2 2 2 1
21. 1 10 1 8 1 5 1 3 1 1 2 2 2 1
22. 2 9 1 10 2 5 1 0 1 2 2 2 2 2
23. 2 11 2 10 2 6 1 0 1 2 2 2 2 2
24. 2 10 1 10 2 6 1 6 2 2 2 2 2 2
25. 2 9 1 8 1 6 1 2 1 2 2 2 2 2
26. 1 9 1 6 1 5 1 7 2 2 2 2 2 2
27. 1 9 1 3 1 6 1 5 2 2 2 2 2 2
28. 1 9 1 6 1 7 2 6 2 2 2 2 2 2
29. 2 10 1 4 1 6 1 0 1 2 2 2 2 2
30. 2 10 1 11 2 7 2 5 2 2 2 2 2 2
31. 2 9 1 10 2 7 2 4 1 2 2 2 2 2
32. 1 10 1 4 1 7 2 5 2 2 2 2 2 2
33. 1 10 1 4 1 6 1 0 1 2 2 2 2 2
34. 2 11 2 3 1 6 1 0 1 2 2 2 2 2
35. 2 9 1 6 1 4 1 0 1 1 2 2 2 1
36. 1 9 1 3 1 0 1 0 1 2 2 2 2 2
37. 2 10 1 8 1 0 1 0 1 2 2 2 2 2
38. 2 11 2 12 2 6 1 5 2 2 2 2 2 2
39. 2 10 1 9 1 3 1 3 1 2 2 2 2 2
40. 2 12 2 7 1 6 1 5 2 2 2 2 2 2
41. 2 11 2 9 1 5 1 2 1 2 2 2 2 2
42. 2 10 1 9 1 5 1 0 1 1 2 2 2 1
43. 2 10 1 5 1 7 2 6 2 2 2 2 2 2
44. 1 11 2 4 1 0 1 0 1 2 2 2 2 2
45. 1 12 2 5 1 5 1 0 1 2 2 2 2 2

Universitas Sumatera Utara


46. 1 13 2 9 1 7 2 4 1 1 2 2 2 1
47. 1 11 2 8 1 4 1 4 1 2 2 2 2 2
48. 1 12 2 8 1 3 1 0 1 2 2 2 2 2
49. 2 10 1 4 1 4 1 0 1 1 2 2 2 1
50. 2 12 2 4 1 2 1 0 1 2 2 2 2 2
51. 2 11 2 4 1 6 1 3 1 2 2 2 2 2
52. 2 11 2 8 1 6 1 5 2 2 2 2 2 2
53. 2 10 1 9 1 7 2 4 1 1 2 2 2 1
54. 2 10 1 11 2 7 2 7 2 2 2 2 2 2
55. 2 11 2 10 2 7 2 1 1 2 2 2 2 2
56. 1 10 1 7 1 6 1 2 1 2 2 2 2 2
57. 1 10 1 7 1 6 1 4 1 2 2 2 2 2
58. 1 10 1 10 2 6 1 4 1 2 2 2 2 2
59. 2 10 1 7 1 7 2 3 2 1 2 2 2 1
60. 2 11 2 7 1 6 1 0 1 2 2 2 2 2
61. 2 11 2 10 2 4 1 4 1 2 2 2 2 2
62. 1 12 2 2 1 5 1 0 1 2 2 2 2 2
63. 1 12 2 5 1 5 1 0 1 2 2 2 2 2
64. 2 11 2 9 1 3 1 4 1 1 2 2 2 1
65. 1 11 2 7 1 5 1 4 1 2 2 2 2 2
66. 2 11 2 5 1 0 1 0 1 2 2 2 2 2
67. 1 10 1 3 1 0 1 0 1 2 2 2 2 2
68. 1 12 2 7 1 5 1 5 2 2 2 2 2 2
69. 1 11 2 6 1 5 1 5 2 2 2 2 2 2
70. 1 11 2 5 1 4 1 4 1 2 2 2 2 2
71. 1 11 2 5 1 6 1 0 1 2 2 2 2 2
72. 2 11 2 7 1 4 1 4 1 2 2 2 2 2
73. 2 12 2 4 1 0 1 0 1 2 2 2 2 2
74. 2 11 2 10 2 7 2 5 2 2 2 2 2 2
75. 2 10 1 10 2 6 1 7 2 1 2 2 2 1
76. 1 11 2 3 1 0 1 5 2 2 2 2 2 2
77. 1 10 1 2 1 4 1 0 1 2 2 2 2 2
78. 2 11 2 10 2 6 1 4 1 2 2 2 2 2
79. 2 11 2 10 2 3 1 4 1 2 2 2 2 2
80. 2 11 2 10 2 0 1 0 1 1 2 2 2 1
81. 2 12 2 10 2 6 1 5 2 2 2 2 2 2
82. 1 11 2 7 1 4 1 4 1 1 2 2 2 1
83. 1 11 2 10 2 6 1 7 2 2 2 2 2 2
84. 1 11 2 2 1 8 2 5 2 2 2 2 2 2
85. 2 11 2 6 1 6 1 5 2 2 2 2 2 2
86. 2 11 2 4 1 5 1 5 2 2 2 2 2 2
87. 2 11 2 10 2 7 2 5 2 2 2 2 2 2
88. 1 12 2 10 2 6 1 6 2 2 2 2 2 2
89. 1 12 2 6 1 5 1 5 2 2 2 2 2 2
90. 1 11 2 5 1 7 2 4 1 2 2 2 2 2
91. 1 11 2 5 1 6 1 5 2 1 2 2 2 1
92. 2 12 2 10 2 5 1 0 1 2 2 2 2 2
93. 2 11 2 10 2 7 2 5 2 2 2 2 2 2
94. 1 11 2 3 1 7 2 0 1 1 2 2 2 1

Universitas Sumatera Utara


95. 1 11 2 5 1 6 1 0 1 2 2 2 2 2
96. 1 11 2 3 1 7 2 6 2 2 2 2 2 2
97. 1 11 2 8 1 8 2 0 1 2 2 2 2 2
98. 2 11 2 10 2 6 1 5 2 2 2 2 2 2
99. 1 13 2 4 1 7 2 0 1 2 2 2 2 2
100. 1 11 2 5 1 5 1 0 1 2 2 2 2 2
101. 1 11 2 4 1 5 1 5 2 2 2 2 2 2
102. 2 11 2 8 1 6 1 0 1 2 2 2 2 2
103. 2 12 2 6 1 7 2 4 1 2 2 2 2 2
104. 2 11 2 9 1 6 1 0 1 2 2 2 2 2
105. 2 13 2 4 1 6 1 0 1 1 2 2 2 1

Universitas Sumatera Utara


Lampiran Output
Frequencies

Statistics

Jenis
Ascaris Trichuris Strongyloides Umur Kelamin Kebersihan Sumber Kepemilikan
Infeksi STH lumbricoides Hookworm triciura stercoralis Responden Responden perorangan air bersih jamban
N Valid 105 105 105 105 105 105 105 105 105 105
Missing 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Frequency Table

Infeksi STH

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid positif 20 19.0 19.0 19.0
negatif 85 81.0 81.0 100.0
Total 105 100.0 100.0

Ascaris lumbricoides

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid positif 19 18.1 18.1 18.1
negatif 86 81.9 81.9 100.0
Total 105 100.0 100.0

Hookworm

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid negatif 105 100.0 100.0 100.0

Universitas Sumatera Utara


Trichuris triciura

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid positif 1 1.0 1.0 1.0
negatif 104 99.0 99.0 100.0
Total 105 100.0 100.0

Strongyloides stercoralis

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid negatif 105 100.0 100.0 100.0

Umur Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 8-10 tahun 48 45.7 45.7 45.7
11-13 tahun 57 54.3 54.3 100.0
Total 105 100.0 100.0

Jenis Kelamin Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Laki-laki 50 47.6 47.6 47.6
Perempuan 55 52.4 52.4 100.0
Total 105 100.0 100.0

Kebersihan perorangan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid buruk 75 71.4 71.4 71.4
baik 30 28.6 28.6 100.0
Total 105 100.0 100.0

Universitas Sumatera Utara


Sumber air bersih

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak memenuhi
77 73.3 73.3 73.3
syarat kesehatan
Memenuhi syarat
28 26.7 26.7 100.0
kesehatan
Total 105 100.0 100.0

Kepemilikan jamban

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak memenuhi
62 59.0 59.0 59.0
syarat kesehatan
Memenuhi syarat
43 41.0 41.0 100.0
kesehatan
Total 105 100.0 100.0

Crosstabs Bivariat
Umur Responden * Infeksi Kecacingan

Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Umur Responden
105 100.0% 0 .0% 105 100.0%
* Infeks i STH

Universitas Sumatera Utara


Umur Responden * Infeksi STH Crosstabulation

Infeksi STH
positif negatif Total
Umur Responden 8-10 tahun Count 13 35 48
Expected Count 9.1 38.9 48.0
% within Umur
27.1% 72.9% 100.0%
Responden
% within Infeksi STH 65.0% 41.2% 45.7%
% of Total 12.4% 33.3% 45.7%
11-13 tahun Count 7 50 57
Expected Count 10.9 46.1 57.0
% within Umur
12.3% 87.7% 100.0%
Responden
% within Infeksi STH 35.0% 58.8% 54.3%
% of Total 6.7% 47.6% 54.3%
Total Count 20 85 105
Expected Count 20.0 85.0 105.0
% within Umur
19.0% 81.0% 100.0%
Responden
% within Infeksi STH 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 19.0% 81.0% 100.0%

Chi-Square Tests

As ymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 3.703b 1 .054
Continuity Correction a 2.805 1 .094
Likelihood Ratio 3.717 1 .054
Fis her's Exact Test .080 .047
Linear-by-Linear
3.668 1 .055
As sociation
N of Valid Cases 105
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.
14.

Universitas Sumatera Utara


Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for Umur
Responden (8-10 2.653 .961 7.323
tahun / 11-13 tahun)
For cohort Infeks i
2.205 .957 5.082
STH = positif
For cohort Infeks i
.831 .682 1.013
STH = negatif
N of Valid Cases 105

Jenis Kelamin Responden * Infeksi kecacingan

Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Jenis Kelamin
105 100.0% 0 .0% 105 100.0%
Responden * Infeks i STH

Universitas Sumatera Utara


Jenis Kelamin Responden * Infeksi STH Crosstabulation

Infeksi STH
positif negatif Total
Jenis Kelamin Laki-laki Count 9 41 50
Responden Expected Count 9.5 40.5 50.0
% within Jenis
18.0% 82.0% 100.0%
Kelamin Responden
% within Infeksi STH 45.0% 48.2% 47.6%
% of Total 8.6% 39.0% 47.6%
Perempuan Count 11 44 55
Expected Count 10.5 44.5 55.0
% within Jenis
20.0% 80.0% 100.0%
Kelamin Responden
% within Infeksi STH 55.0% 51.8% 52.4%
% of Total 10.5% 41.9% 52.4%
Total Count 20 85 105
Expected Count 20.0 85.0 105.0
% within Jenis
19.0% 81.0% 100.0%
Kelamin Responden
% within Infeksi STH 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 19.0% 81.0% 100.0%

Chi-Square Tests

As ymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square .068b 1 .794
Continuity Correction a .000 1 .991
Likelihood Ratio .068 1 .794
Fis her's Exact Test .810 .496
Linear-by-Linear
.067 1 .795
As sociation
N of Valid Cases 105
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.
52.

Universitas Sumatera Utara


Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for Jenis
Kelamin Responden .878 .330 2.336
(Laki-laki / Perempuan)
For cohort Infeks i STH =
.900 .407 1.990
positif
For cohort Infeks i STH =
1.025 .852 1.234
negatif
N of Valid Cases 105

Kebersihan Perorangan * Infeksi Kecacingan

Case Processing Summary

Cases
Valid Mis sing Total
N Percent N Percent N Percent
Kebers ihan perorangan
105 100.0% 0 .0% 105 100.0%
* Infeks i STH

Universitas Sumatera Utara


Kebersihan perorangan * Infeksi STH Crosstabulation

Infeksi STH
positif negatif Total
Kebers ihan buruk Count 18 57 75
perorangan Expected Count 14.3 60.7 75.0
% within Kebers ihan
24.0% 76.0% 100.0%
perorangan
% within Infeksi STH 90.0% 67.1% 71.4%
% of Total 17.1% 54.3% 71.4%
baik Count 2 28 30
Expected Count 5.7 24.3 30.0
% within Kebers ihan
6.7% 93.3% 100.0%
perorangan
% within Infeksi STH 10.0% 32.9% 28.6%
% of Total 1.9% 26.7% 28.6%
Total Count 20 85 105
Expected Count 20.0 85.0 105.0
% within Kebers ihan
19.0% 81.0% 100.0%
perorangan
% within Infeksi STH 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 19.0% 81.0% 100.0%

Chi-Square Tests

As ymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 4.175b 1 .041
Continuity Correction a 3.127 1 .077
Likelihood Ratio 4.894 1 .027
Fis her's Exact Test .054 .032
Linear-by-Linear
4.136 1 .042
As sociation
N of Valid Cases 105
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.
71.

Universitas Sumatera Utara


Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for
Kebers ihan perorangan 4.421 .958 20.403
(buruk / baik)
For cohort Infeks i STH =
3.600 .889 14.572
positif
For cohort Infeks i STH =
.814 .694 .955
negatif
N of Valid Cases 105

Sumber air bersih * Infeksi STH

Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Sumber air bers ih
105 100.0% 0 .0% 105 100.0%
* Infeks i STH

Universitas Sumatera Utara


Sumber air bersih * Infeksi STH Crosstabulation

Infeksi STH
positif negatif Total
Sumber Tidak memenuhi Count 16 61 77
air bers ih syarat kesehatan Expected Count 14.7 62.3 77.0
% within Sumber air
20.8% 79.2% 100.0%
bersih
% within Infeksi STH 80.0% 71.8% 73.3%
% of Total 15.2% 58.1% 73.3%
Memenuhi syarat Count 4 24 28
kesehatan Expected Count 5.3 22.7 28.0
% within Sumber air
14.3% 85.7% 100.0%
bersih
% within Infeksi STH 20.0% 28.2% 26.7%
% of Total 3.8% 22.9% 26.7%
Total Count 20 85 105
Expected Count 20.0 85.0 105.0
% within Sumber air
19.0% 81.0% 100.0%
bersih
% within Infeksi STH 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 19.0% 81.0% 100.0%

Chi-Square Tests

As ymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square .561b 1 .454
Continuity Correction a .219 1 .640
Likelihood Ratio .589 1 .443
Fis her's Exact Test .580 .328
Linear-by-Linear
.556 1 .456
As sociation
N of Valid Cases 105
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.
33.

Universitas Sumatera Utara


Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for Sumber
air bers ih (Tidak
memenuhi syarat 1.574 .477 5.189
kesehatan / Memenuhi
syarat kesehatan)
For cohort Infeksi STH
1.455 .532 3.980
= positif
For cohort Infeksi STH
.924 .765 1.117
= negatif
N of Valid Cases 105

Kepemilikan jamban * Infeksi STH

Case Processing Summary

Cases
Valid Mis sing Total
N Percent N Percent N Percent
Kepemilikan jamban
105 100.0% 0 .0% 105 100.0%
* Infeks i STH

Universitas Sumatera Utara


Kepemilikan jamban * Infeksi STH Crosstabulation

Infeksi STH
positif negatif Total
Kepemilikan Tidak memenuhi Count 17 49 66
jamban syarat kesehatan Expected Count 12.6 53.4 66.0
% within
25.8% 74.2% 100.0%
Kepemilikan jamban
% within Infeksi STH 85.0% 57.6% 62.9%
% of Total 16.2% 46.7% 62.9%
Memenuhi syarat Count 3 36 39
kesehatan Expected Count 7.4 31.6 39.0
% within
7.7% 92.3% 100.0%
Kepemilikan jamban
% within Infeksi STH 15.0% 42.4% 37.1%
% of Total 2.9% 34.3% 37.1%
Total Count 20 85 105
Expected Count 20.0 85.0 105.0
% within
19.0% 81.0% 100.0%
Kepemilikan jamban
% within Infeksi STH 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 19.0% 81.0% 100.0%

Chi-Square Tests

As ymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 5.188b 1 .023
Continuity Correction a 4.083 1 .043
Likelihood Ratio 5.792 1 .016
Fis her's Exact Test .038 .018
Linear-by-Linear
5.139 1 .023
As sociation
N of Valid Cases 105
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.
43.

Universitas Sumatera Utara


Risk Estimate

95% Confidence
Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for
Kepemilikan jamban
(Tidak memenuhi syarat 4.163 1.134 15.285
kesehatan / Memenuhi
syarat kesehatan)
For cohort Infeks i STH =
3.348 1.048 10.701
positif
For cohort Infeks i STH =
.804 .680 .952
negatif
N of Valid Cases 105

Universitas Sumatera Utara


Lampiran
JAWABAN KUESIONER
No. Pernyataan Atas Jawaban
Pertanyaan Data Salah Benar Total
Perilaku Kebersihana
Perorangan Jlh % Jlh % Jlh %
1. Setiap mau makan mencuci 13 12,4 92 87,6 105 100
tangan
2. Jika ya, dengan apa mencuci 61 66,3 31 33,7 92 100
tangan
3. Setelah BAB mencuci 22 21 83 79 105 100
tangan
4. Jika ya, dengan apa mencuci 50 60,2 33 39,8 83 100
tangan
5. Sering bermain tanah 93 88,6 12 11,4 105 100
6. Pernah makan sambil 27 29 66 70,1 93 100
bermain tanah
7. Setelah bermain dengan 17 25,8 49 74,2 66 100
tanah mencuci tangan
8. Dengan apa mencuci tangan 41 62,1 25 37,9 66 100
9. Menggunakan alas kaki 62 59,0 43 41,0 105 100
setiap keluar rumah
10. Bermain sambil membuka 19 18,1 86 81,9 105 100
sepatu pada waktu
istrahat sekolah
11. Memotong kuku sekali 57 54,3 48 45,7 105 100
seminggu
12. Sering menggigit kuku 41 39,0 64 61,0 105 100
ketika sedang bermain
13. Kuku panjang 44 41,9 61 58,1 105 100
14. Kuku bersih 53 50,5 52 49,5 105 100

Universitas Sumatera Utara


HASIL OBSERVASI SANITASI DASAR LINGKUNGAN RUMAH

No Pernyataan Atas Pertanyaan Jawaban Total


Salah Benar
Jlh % Jlh % Jlh %
Sumber air bersih
1 Ada tidak nya sumber air bersih 9 8,6 96 91,4 105 100
2 Sumber air bersih itu diperoleh dari 50 52,1 46 47,9 96 100
3 Jika sumur gali, jarak sumur dengan 33 66 17 34 50 100
septic tank
4 Keadaan air 17 17,7 79 82,3 96 100
5 Jumlah air bersih yang ada 10 10,4 86 89,6 96 100
memadai/cukup untuk kebutuhan
semua anggota keluarga
6 Sumur gali yang digunakan 27 54 23 46 50 100
mempunyai cincin sumur yang
kedap air
7 Ada tempat penampungan air bersih 17 17,7 79 82,3 96 100
8 Jika ya, jenis tempat penampungan 47 59,5 32 40,5 79 100
air bersih tersebut
9 Kondisi tempat penampungan air 10 12,7 69 87,3 79 100
bersih
10 Jika sumur gali, ember/timba dan 30 60 20 40 50 100
tali digangtung
Kepemilikan jamban
1 Ada jamban di rumah 36 34,3 69 65,7 105 100
2 Jenis jamban yang ada 16 23,2 53 76,8 69 100
3 Jumlah jamban telah memadai 46 66,7 23 33,3 69 100
untuk seluruh anggota keluarga
4 Jamban memiliki septic tank 22 31,9 47 68,1 69 100
5 Ada persediaan air bersih secara 17 24,6 52 75,4 69 100
kontiniu di dekat jamban
6 Kebersihan jamban 23 33,3 46 66,7 69 100
7 Ada persediaan sabun untuk cuci 41 59,4 28 40,6 69 100
tangan

Universitas Sumatera Utara