Anda di halaman 1dari 11

PRAKTIKUM II.

Topik : Penyerapan Kation dan Anion Pada Tumbuhan


Tujuan : Untuk mengetahui Penyerapan ion yang berbeda valensinya
pada tanaman uji
Hari/Tanggal : Selasa/10 Oktober 2017
Tempat : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP Universitas Lambung
Mangkurat Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat :
1. Tabung reaksi
2. Rak tabung reaksi
3. pH meter digital

B. Bahan :
1. Tanaman jagung
2. Larutan 0,2 % senyawa – senyawa : NaNO3 ; K2SO4 ; Ca (NO3) dan
(NH4)2 SO4
3. Aquadest
4. Kapas

II. CARA KERJA


1. Membuat larutan-larutan yang akan digunakan agar mempunyai pH yang
sama yaitu dengan menambahkan KOH dan HCL 0,2 M
2. Memasukkan ke dalam tabung reaksi masing-masing 10 ml larutan yang
akan digunakan dan memberi label
3. Menumbuhkan tanaman jagung pada tabung reaksi dengan bantuan kapas.
(Ingat tanaman jagung harus dibersihkan terlebih dahulu dan mengusahakan
aarnya tidak banyak yang rusak)
4. Mengukur pH masing-masing larutan dalam tiap 3 hari dan menambahkan
aquadest untuk mengganti larutan yang terserap
5. Mengehentikan percobaan pada hari ke-6 dan mengamati keadaan morfologi
tanaman. Membuat grafik hubungan antara pH larutan dengan waktu (hari).

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 32


III. TEORI DASAR
Kation adalah ion yang bermuatan positif. Ion ini terjadi karena atom
netral melepaskan elektron pada kulit terluarnya (kulit valensi). Peristiwa ini
menyebabkan jumlah proton lebih banyak daripada jumlah elektron sehingga
bermuatan positif. Dalam sistem periodik unsur, kecenderungan atom-atom
yang berada pada sisi kiri , golongan IA dan IIA, membentuk ion positif. Pada
golongan IA akan membentuk kation bermuatan +1, contoh: Na+, Li+, dan K+ .
+2
Pada golongan IIA akan membentuk kation bermuatan , contoh: Ba+2, Mg+2,
dan Ca+2.
Anion adalah ion yang bermuatan negatif. Ion ini terjadi karena atom
netral menerima elektron. Peristiwa ini menyebabkan jumlah elektron lebih
banyak daripada jumlah proton sehingga bermuatan negatif. Dalam sistem
periodik unsur, kecenderungan atom-atom yang berada pada sisi kanan ,
golongan VIA dan VIIA, membentuk ion negatif. Pada golongan VIA akan
membentuk anion bermuatan -2, contoh: O2- dan S2- . Pada golongan VIIA akan
membentuk anion bermuatan -1, contoh: F–, Cl–, Br– dan I–.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 33


IV. HASIL PENGAMATAN
A. Flowchart

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 34


B. Tabel Hasil Pengamatan
No Larutan Perubahan Waktu
Morfologi
Awal 3 Hari 3 Hari
Ke-1 Ke-2
1. NaNO3 Jumlah Daun 4 2 2
Tinggi Batang 34 cm 35,3 cm 35,3 cm
Warna Daun Hijau 2 H, 2 K 2 H, 2 C
Keadaan Daun Segar 2 Segar 2 Layu, Kering
Keadaan Akar Segar Layu, Segar Layu
pH 7 9 7,3
Penambahan - 117 19
Aquadest
2. K2SO4 Jumlah Daun 4 3 2
Tinggi Batang 32 cm 32,5 cm 31,5 cm
Warna Daun Hijau 3 H, 1 K 2 H, 2 C
Keadaan Daun Segar 3 Segar 1 2 Layu, 2
Keadaan Akar Segar Layu, Segar Kering, Layu
pH 7 8,1 6,8
Penambahan - 129 16
Aquadest
3. Ca (NO3) Jumlah Daun 4 3 3
Tinggi Batang 28 cm 29,5 cm 28,5 cm
Warna Daun Hijau 3 H, 1 K 2 H, 2 C
Keadaan Daun Segar 3 Segar 1 2 Layu, 2
Keadaan Akar Segar Layu, Segar Kering, Busuk
pH 7 8 7
Penambahan - 107 20
Aquadest
4. (NH4-)2 Jumlah Daun 4 3 3
SO4 Tinggi Batang 32 cm 32,5 cm 28,5 cm
Warna Daun Hijau 3 H, 1 K 3 H, 1 C
Keadaan Daun Segar 3 Segar, 1 2 Layu, 2
Layu Kering
Keadaan Akar Segar Layu Busuk, Lepas
pH 7 8 6,8
Penambahan - 140 23
Aquadest

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 35


C. Foto Pengamatan
a) Daun Jagung Kondisi Awal

(Sumber : Dok. Pribadi. 2017)

b) Daun Jagung Setelah 6 Hari diamati

(Sumber : Dok. Pribadi. 2017)

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 36


V. ANNALISIS DATA
Klasifikasi:
Kingdom : Platae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Poales
Family : Poaceae
Genus : Zea
Species : Zea mays L.
Sumber : Rukmana 2014.

Suatu unsur kimia tertentu dianggap sebagai suatu nutrient jika nutrient
tersebut diperlukan agar suatu tumbuhan dpaat tumbuh dari suatu biji dan
menyelesaikan siklus kehidupannya. Penyerapan unsur hara dilakukan oleh
kaar tanaman dan diambil dari tanah atauoun dari larutan tanah berupa anion
dan kation. Pada praktikum ini digunakan 4 tanaman jagung (Zae mays L) yang
diberikan larutan yang berbeda-beda pada setiap tanaman, yaitu larutan NaNO3,
K2SO4-, Ca(NO3) dan (NH4)2SO4. Kemudian diamati setiap 3 hari sekali.
Sebelum dilakukan pengamatan, pH pada masing-masing larutan harus
dinetralkan terlebih dahulu.
1. Larutan K2SO4 0,2%
Perlakuan tanaman jagung yang pertama ialah dengan larutan K2SO4.
Pada pengamatan awal jumlah daun ada 4, tinggi batangnya 32 cm, warna
daun hijau dan keadaan daun masih segar. Keadaan akar masih segar dan
memiliki pH 7 atau netral.
Pada pengamatan kedua yaitu tiga hari pertama, tanaman jagung mulai
menunjukkan perubahan dibandingkan pada awal pengamatan. Jumlah daun
berkurang menjadi 3, tinggi batangnya bertambah menjadi 32,5 cm, warna
daun yaitu ada 2 daun yang berwarna hijau dan 1 daun berwarna kuning,
keadaan daun ada yang segar dan ada yang layu, keadaan akarnya masih
segar, pH pada pengamatan kedua naik menjadi 8,1 (basa). Pada pengamatan
kedua ini banyak sekali kehilangan cairan K2SO4 pada tabung reaksi,
sehingga ditambahkan aqudest sebanyak 129 tetes.
Pada pengamatan ketiga yaitu 3 hari kedua, tanaman jagung juga
mengalami perubahan dibandingkan pada pengamatan kedua. Pada

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 37


pengamatan ketiga jumlah daun berkurang menjadi 2, tinggi batang
berkurang menjadi 31,5 cm, warna daun jagung menjadi hijau dan coklat,
keadaan daun layu dan kering, keadaan akarnya sudah busuk dan sudah
terlepas dari batang tanaman, pH pada pengamatan ketiga turun menjadi 6,8
(asam). Pada pengmatan ketiga ini juga terjadi kehilangan larutan di dalam
tabung reaksi, sehingga ditambahkan aquadest sebanyak 16 tetes.
2. Larutan NaNO3 0,2%
Perlakuan tanaman jagung yang kedua ialah dengan NaNO3. Pada
pengamatan awal jumlah daunnya ada 4, tinggi batangnya 34 cm, warna
daun hijau dan keadaan daun masih segar. Keadaan akar masih segar, dan
memiliki pH 7 atau netral.
Pada pengamatan kedua yaitu 3 hari pertama, mulai menunjukkan
perubahan dibandingkan pada awal pengamatan. Jumlah daun berkurang
menjadi 2, tinggi batangnya bertambah menjadi 35,3 cm, warna daunnya
hijau dan sedikit kering. Keadaan daun layu, keadaaan akar juga layu dan
memiliki pH 9 (basa). Pada pengamatan kedua ini banyak sekali kehilangan
cairan NaNO3 pada tabung reaksi, sehingga ditambahkan aquadest sebanyak
117 tetes.
Pada pengamatan ketiga yaitu 3 hari kedua, tanaman jagung juga
mengalami perubahan dibandingkan dengan pengamtan kedua. Pada
pengamatan ketiga jumlah daun tetap 2, tinggi batang berkurang menjadi 32
cm, warna daun kuning kecoklatan dan keadaan daun layu dan sudah mulai
kering. Keadaan kaar busuk dan akar sudah terlepas dari batang. pH pada
pengamatan ketiga turun menjadi 7,3. Pada pengamatan ketiga ini juga
terjadi kehilangan larutan di dalam tabung reaksi, sehingga ditambahkan
aquadest sebanyak 19 tetes.
3. Larutan Ca(NO3) 0,2 %
Perlakuan tanaman jagung ketiga ialah dengan Ca(NO3). Pada
pengamatan awal jumlah daunnya asa 4, tinggi batangnya 28 cm, warna
daun hijau dan keadaan daun masih segar, keadaan akar juga masih segar,
dan memiliki pH 7 atau netral.
Pada pengamatan kedua yaitu 3 hari pertama, tanaman jagung mulai
menunjukkan perubahan dibandingkan pada awal pengamatan. Jumlah daun
berkurang menjadi 3, tinggi batang bertambah menjadi 29,5 cm, warna daun
masih segar namun ada yang sudah ada yang mulai layu, keadaan akarnya

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 38


masih segar, dan memiliki pH 8,1 (basa). Pada pengamatan kedua ini banyak
sekali kehilangan cairan Ca(NO3) dalam tabung reaksi, sehingga
ditambahkan aquadest sebanyak 107 tetes.
Pada pengamatan ketiga yaitu 3 hari kedua, tanaman jagung juga
mengalami perubahan dibadingkan dengan pengamatan kedua. Pada
pengamatan ketiga jumlah daun tetap 3, tinggi batang berkurang menjadi
38,5 cm, warna daun masih hijau namun sudah ada yang berwarna coklat,
keadaan daun layu dann ada yang sudah kering. Keadaan akar sudah busuk
namun masih melekat pada batang. Pada pengamatan ketiga pHnya menjadi
7,0 (netral) kembali. Pada pengamatan ketiga ini juga terjadi kehilangan
larutan dalam tabung reaksi, sehingga ditambahkan aquadest sebanyak 20
tetes.
4. Larutan (NH4)2SO4 0,2 %
Perlakuan jagung yang keempat ialah dengan larutan (NH4)2SO4. Pada
awal pengamatanjumlah daun ada 4, tinggi batangnya 32 cm, warna daunnya
hijau dan keadaan daunnya masih segar, keadaan akarnya juga segar. Pada
pengamatan awal ini pH larutan 7 atau netral.
Pada pengamatan kedua yaitu 3 hari pertama, tanaman jagung mulai
menunjukkan perubahan jika dibandingkan dengan pengamatan awal.
Jumlah daun berkurang menjadi 3, tinggi batang bertambah menjadi 29,5
cm, warna daun hijau dan ada yang sudah menguning, keadaan daun masih
segar namun sudah ada yang mulai layu, keadaan akar masih segar dan pH
berubah menjadi 8 (basa). Pada pengamatan kedua ini banyak sekali
kehilangan cairan sehingga ditambahkan aquadest sebanyak 140 tetes.
Pada pengamatan ketiga yaitu 3 hari kedua, tanaman jagung juga
mengalami perubahan jika dibandingkan dengan pengamatan kedua. Jumlah
daun tetap 3, tinggi batang tetap 32,5 cm, keadaan daun layu dan mulai
kering, keadaan akar busuk dan terlepas dari batang, pH mengalami
penurunan yaitu 6,8 (asam). Pada pengamatan ketiga ini juga kehilangan
larutan dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan aquadest sebanayk 23
tetes.
Berdasarkan pengamatan terhadap 4 tanaman jagung dengan larutan yang
berbeda, diketahui bahwa pada pengamatan pertama (awal), semua larutan
dalam keadaan pH netral, pada pengamatan kedua (3 hari pertama) keadaan pH
cenderung basa (di atas 7), dan pada pengamatan ketiga (3 hari kedua) keadaan

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 39


pH turun dan cenderung netral kembali, walaupun ada pH di bawah 7. Tidak
hanya pH saja yang berubah, namun dari segi tanaman jagung sendiri juga
banyak berubah, dan perubahannya cenderung tidak berkembang atau tumbuh,,
sehingga pada pengamatan ketiga, tanaman jagung mulai layu, kering, bahkan
mati. Terjadinya perubahan ini diakibatkan karena adanya ion anion dan kation
yang ada pada keempat larutan tersebut.
Menurut Seputro (1998), faktor-faktor yang mempengaruhi supai
ketersediaan unsur hara yaitu suplai dari fase padat, pH, dan suplai air. Unsur
yang diserap oleh tanaman berada daam bentuk ion-ion ada naion dan kation.
Kation dipegang oleh kekukatan elektrostatik sehingga mudah digerakkann ke
fase cair.
Menurut Salisbury (1995), jika tanaman kekurangan unsur essensial
menunjukkan gejala kekahatan yang khas, yaitu terhambatnya pertumbuhan
akar, batang, dan daun serta klorosis dan nekrosis pada berbagai organ. Gejala
ini membentuk untuk mengetahui fungsi suatu unsur pada tumbuhan dan
mengetahui kapan suatu tanaman akan diberi pemupukan.
Menurut Dwidjoseputro (1992), karena perbedaan antara kation-kation
dan anion-anion yang ada di dalam akar dengan kation-kation dab abion-anion
yang di luar akar, maka terjadilah tukar menukar ion antara akar dan tanah
seperti halnay dengan misel dan larutan disekitarnya. Jadi kalua ada kation yang
masuk ke dalam akar karena tertark oleh suatu anion, maka ada kemungkinan
juga suatu anion dari dalam akar tertarik keluar oleh suatu kation yang terdapat
di dalam tanah. Sebagai missal, K+ ion dari garam K2SO4 dapat masuk ke
dalam sel dengan tidak ditemani oleh SO42-. Masuknya K+ ion ke dalam sel
dapat disebabkan oleh tarikan dari OH-, sedangkan ion-ion H+ yang bersisa
kemudian tertarik ke luar oleh SO42- hingga tersusun H2SO4 yang kemudian
mengakibatkan keasaa]man tanah. Dapat pula terjadi bahwa ion NO3- dari
Ca(NO3)2 masuk bersama-sama ion H+ dan HCO3- dari persenyawaan H2CO3
yang banyak kita dapati di dalam tanah. H2CO3 terjadi karena tergabungnya
CO2 yang dilepaskan oleh sel-sel akar yang bernafas, dengan air yang ada di
dalam tanah. Kadua ino H+ dan HCO3- sama kepentingannya seperti H+ dan
OH- dari air, yaitu memungkinkan pertukaran kation dan anion. Pertukaran ini
dapat berlangsung antara sel dengan larutan tanah dan pula antara sel langsung
dengan misel tanah-liat yang melekat pada sel itu, peristiwa ini disebut
pertukaran langsung (contact exchange).

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 40


Menurut Dwidjoseputro (1992), sebenarnya kation-kationn yang
mengelilingi misel-misel tanah liat ity tidak satu jenis saja, akan tetapi dapat
beraneka jenisnya, dan penggantian kation itu dapat selalu terjadi.
Menurut Hardjowogeno (2003) Kapasitas Tukar Kation (KTK)
merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungan dengan eksuburan tanah.
Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi,
mempunyai KTK leih tinggi dari pada tanah-tanah dengan kandungan bahan
organik rendah atau tanah berpasir. Nilai KTK tanah sangat beragam dan
tergantung pada sifat dan ciri tanah itu sendiri. Besar kecilnya KTK tanah
dipengaruhi oleh :
1. Reaksi tanah, semakin tinggi pH semakin tinggi KTK
2. Tekstur tanah, semakin tinggi kadar lit semakin tinggi KTK
3. Jenis liat, KTK liat 2 : 1 lebih besar dari pada 1 : 1
4. Kadar BO, makin tinggi BO makin tinggi KTK
5. Pengapuran dan pemupukan kation, menaikan pH
Kapasitas Tukar Anion (KTA) adalah kapasitas lempung untuk menyerap
dan menukar anion. Lempung akan bermuatan positif hanya terjadi pada
kondisi asam, ketika pH tanah di bawah ZPC Clay atau karena patahnya ikatan
mineral lepung.
Dari literatur-literatur yang sudah dijelaskan dapat diketahui bahwa pada
praktikum dengan menggunakan tanaman jagung, terlihat pada pengamatan
ketiga tanaman jagung menjadi layu bahkan hampir mati, hal ini bisa terjadi
karena pH dalam larutan tidak netral, sehingga terjadi perubahan pada tanaman.
Semula pH larutan netral kemudian pada pengamatan kedua pH cenderung
basa. Berubahnya pH akan mempengaruhi kation dan anion. Kapasitasn tukar
kation meningkat dengan meningkatnya pH tanah, dan kapasitas tukar anion
meningkat dengan berkurangnya pH tanah. Pertumbuhan tanaman juga
dipengaruhi oleh kation-anion. Menurut Dwidjoseputro (1992) jika kation dan
anion yang masuk ke dalam akar sama jumlahnya dengan anion dan kation
yang keluar dari sek akar, maka akar tidak akan tambah isinya, dan ini berarti
tidak ada pertumbuhan bagi tanaman.
Kekurangan anion dan kation pada tanaman dapat dicegah dengan
pemberian pupuk buatan. Menurut Dwidjoseputro (1992), ujuan dari pada
pemberian pupuk buatan kepada suatu tanah itu terutama untuk mempengaruhi
penggantioan kation.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 41


VI. KESIMPULAN
1. Penyerapan ion kation dan anion pada tanaman jagung selama 6 hari
membuat tanaman jagung mengalami perubahan jika dibandingkan dengan
pengamatan awal, seperti keadaan daun, akar, batang, dan juga Ph.
2. Pada pengamatan kedua, pH larutan cenderung basa, sehingga
memyebabkan tanaman layu dan mulai kering, hal ini terjadi karena pH
tidak netral (basa) sehingga terjadi perubahan pada tanaman.
3. Pada pengamatan ketiga pH cenderung netral namun tanaman tidak
menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan, namun tanaman menjadi semakin
layu dan bahkan hampir mati.
4. Kapasitas tukat kation meningkat dengan meningkatnya pH tanah dan
kapasitas tukar anion meningkat dengan berkurangnya pH tanah.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Dwidjoseputro. 1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia

Hardjowigeno, sarwono. 2003. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo

Noorhidayati dkk. 2017. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. PMIPA


FKIP Universitas Lamung Mangkurat Banjarmasin.

Salisbury, FB, Ross, CW. 1995 Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. Penerbit ITB
Bandung

Seputro K. 1998. Pengantar Anatomi Tumbuhan. Jakarta: Bina Aksara

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 42