Anda di halaman 1dari 18

AIK V

“Akhlak Terhadap Lingkungan”

Di susun oleh :

Asrawati Asri 10540 6527 11

Hariani 10540 6517 11

Kasmawati 10540 6526 11

Aulia Rahmah J. 10540 6531 11

KELAS : V.D

Dosen Pembimbing : Drs. Samhi Muawan Djamal M.Ag

JURUSAN PGSD S1

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2013

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah, segala puji atas kehadirat Allah swt, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya
yang dianugerahkan kepada kita semua, terutama kepada kami sehingga dapat menyusun makalah ini
tepat pada waktunya.

Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah AIK V dengan judul
“Akhlak kepada lingkungan”

Adapun penulisan dalam makalah ini, disusun secara sistematis dan berdasarkan metode-metode
yang ada, agar mudah dipelajari dan dipahami sehingga dapat menambah wawasan pemikiran para
pembaca.

Dalam penulisan makalah ini, kami menyadari sepenuhnya adanya kekurangan. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun kami harapkan dari para pembaca agar dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, November 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 1

C. Tujuan 1

D. Manfaat 2

BAB II PEMBAHASAN 3

A. Alam sebagai rahmat dan karunia Allah SWT 3


B. Memelihara kebersihan dan kesehatan lingkungan 5

C. Memanfaatkan SDA dan lingkungan secara proporsional 9

D. Bencana alam dan kearifan manusia…….................................................13

BAB III PENUTUP 22

A. Kesimpulan 22

B. Saran 23

DAFTAR PUSTAKA 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Yang dimaksud lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang,
tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa. Pada dasarnya, akhlak yang diajarkan Al-Quran
terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya
interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti
pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.

Dalam pandangan akhlak Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang, atau
memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk
untuk mencapai tujuan penciptaannya. Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-
proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi. Yang demikian
mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan
kata lain, "Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia
sendiri."

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana alam sebagai rahmat dan karunia Allah SWT?

2. Bagaimana memelihara kebersihan dan kesehatan lingkungan?

3. Bagaimana memanfaatkan SDA dan lingkungan secara proporsional?


4. Bagaimana bencana alam dan kearifan manusia?

C. Tujuan

1. Untuk mendeskripsikan alam sebagai rahmat dan karunia Allah SWT

2. Untuk mengetahui cara memelihara kebersihan dan kesehatan lingkungan

3. Untuk mengetahui cara memanfaatkan SDA dan lingkungan secara proporsional

4. Untuk mengetahui bencana alam yang terjadi dan kearifan manusia

D. Manfaat

1. Menambah wawasan kita terutama yang menyangkut dengan lingkungan, seperti alam sebagai
rahmat dan karunia Allah SWT, cara memelihara kebersihan dan kesehatan lingkungan, cara
memanfaatkan SDA dan lingkungan secara proporsional, dan bencana alam yang terjadi dan kearifan
manusia.

2. Sebagai bahan referensi bagi kita semua dalam meningkatkan pengetahuan kita mengenai akhlak
terhadap lingkungan.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Alam sebagai rahmat dan karunia Allah SWT

Akhlak kepada lingkungan adalah perilaku atau perbuatan kita terhadap lingkungan, Akhlaq terhadap
lingkungan yaitu manusia tidak dibolehkan memanfaatkan sumber daya alam dengan jalan
mengeksploitasi secara besar-besaran,sehingga timbul ketidakseimbangan alam dan kerusakan bumi.

lingkungan harus diperlakukan dengan baik dengan selalu menjaga, merawat dan melestarikannya
karena secara etika hal ini merupakan hak dan kewajiban suatu masyarakat serta merupakan nilai yang
mutlak adanya. Dengan kata lain bahwa berakhlak yang baik terhadap lingkungan merupakan salah satu
manifestasi dari etika itu sendiri.
Pada dasarnya, akhlak yang diajarkan Al-Qur’an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia
sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan
manusia terhadap alam lingkungan. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, dan
pembimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptanya.

Dalam pandangan akhlak islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang atau
memetik bunga sebelum mekar. Karena hal ini berati tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk
mencapai tujuan penciptaannya. Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses
yang sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi, sehingga ia tidak melakukan
pengrusakan atau bahkan dengan kata lain, setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai
perusakan pada diri manusia sendiri.

Akhlak yang baik terhadap lingkungan adalah ditunjukkan kepada penciptaan suasana yang baik, serta
pemeliharaan lingkungan agar tetap membawa kesegaran, kenyamanan hidup, tanpa membuat
kerusakan dan polusi sehingga pada akhirnya akan berpengaruh terhadap manusia itu sendiri yang
menciptanya.

Dari Syaddad bin Aus berkata, “Ada dua hal yang aku hapal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku ihsan kepada segala sesuatu.

Binatang, tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa semuanya diciptakan oleh Allah SWT dan menjadi
milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim
untuk menyadari bahwa semuanya adalah "umat" Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.

Karena itu dalam Al-Quran surat Al-An'am (6): 38 ditegaskan bahwa binatang melata dan burung-burung
pun adalah umat seperti manusia juga, sehingga semuanya --seperti ditulis Al-Qurthubi (W. 671 H) di
dalam tafsirnya-- "Tidak boleh diperlakukan secara aniaya."

Tuhan ini mengundang seluruh manusia untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri,
kelompok, atau bangsa, dan jenisnya saja, melainkan juga harus berpikir dan bersikap demi
kemaslahatan semua pihak. Ia tidak boleh bersikap sebagai penakluk alam atau berlaku sewenang-
wenang terhadapnya. Memang, istilah penaklukan alam tidak dikenal dalam ajaran Islam. Istilah itu
muncul dari pandangan mitos Yunani. Yang menundukkan alam menurut Al-Quran adalah Allah.
Manusia tidak sedikit pun mempunyai kemampuan kecuali berkat kemampuan yang dianugerahkan
Tuhan kepadanya.

Mahasuci Allah yang menjadikan (binatang) ini mudah bagi kami, sedangkan kami sendiri tidak
mempunyai kemampuan untuk itu (QS Az-Zukhruf [43]: 13) Jika demikian, manusia tidak mencari
kemenangan, tetapi keselarasan dengan alam. Keduanya tunduk kepada Allah, sehingga mereka harus
dapat bersahabat.

Al-Quran menekankan agar umat Islam meneladani Nabi Muhammad saw yang membawa rahmat untuk
seluruh alam (segala sesuatu). Untuk menyebarkan rahmat itu, Nabi Muhammad saw bahkan memberi
nama semua yang menjadi milik pribadinya, sekalipun benda-benda itu tak bernyawa. "Nama"
memberikan kesan adanya kepribadian, sedangkan kesan itu mengantarkan kepada kesadaran untuk
bersahabat dengan pemilik nama. Nabi Muhammad saw telah mengajarkan : "Bertakwalah kepada Allah
dalam perlakuanmu terhadap binatang, kendarailah, dan beri makanlah dengan baik."

Alam sebagai rahmat dan karunia Allah dijelaskan dalam Qs. Al-Jatsiyah (45) : 13, yang berbunyi:

َ‫ت ِلقَ ْو ٍم َيتَفَ َّك ُرون‬ ِ ‫ت َوما فِي ْاْل َ ْر‬


ٍ ‫ض َجميعا ً مِ ْنه ُ ِإ َّن في ذلِكَ ََليا‬ ِ ‫س َّخ َر لَ ُك ْم ما فِي السَّماوا‬
َ ‫َو‬

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai
rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan
Allah) bagi kaum yang berpikir”.

Ini berarti bahwa alam raya telah ditundukkan Allah untuk manusia. Manusia dapat memanfaatkannya
dengan sebaik-baiknya. Namun pada saat yang sama, manusia tidak boleh tunduk dan merendahkan diri
kepada segala sesuatu yang telah direndahkan Allah untuknya, berapa pun harga benda-benda itu. Ia
tidak boleh diperbudak oleh benda-benda itu. Manusia dalam hal ini dituntut untuk selalu mengingat-
ingat, bahwa ia boleh meraih apa pun asalkan yang diraihnya serta cara meraihnya diridhoi Allah SWT,
sesuai dengan kaidah kebenaran dan keadilan. Akhirnya kita dapat mengakhiri uraian ini dengan
menyatakan bahwa keberagamaan seseorang diukur dari akhlaknya. Nabi bersabda : "Agama adalah
hubungan interaksi yang baik."Beliau juga bersabda: "Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam
timbangan (amal) seorang mukmin pada hari kiamat, melebihi akhlak yang luhur. (Diriwayatkan oleh At-
Tirmidzi).

B. Memelihara kebersihan dan kesehatan lingkungan

· Pengertian kebersihan lingkungan

Kebersihan adalah keadaan bebas dari kotoran, termasuk di antaranya, debu, sampah, dan bau. Di
zaman modern, setelah Louis Pasteur menemukan proses penularan penyakit atau infeksi disebabkan
oleh mikroba, kebersihan juga berarti bebas dari virus, bakteri patogen, dan bahan kimia berbahaya.

Kebersihan adalah salah satu tanda dari keadaan higienes yang baik. Manusia perlu menjaga kebersihan
lingkungan dan kebersihan diri agar sehat, tidak bau, tidak malu, tidak menyebarkan kotoran, atau
menularkan kuman penyakit bagi diri sendiri maupun orang lain. Kebersihan badan meliputi kebersihan
diri sendiri, seperti mandi, menyikat gigi, mencuci tangan, dan memakai pakaian yang bersih, Mencuci
adalah salah satu cara menjaga kebersihan dengan memakai air dan sejenis sabun atau deterjen.
Mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan produk kebersihan tangan merupakan cara terbaik
dalam mencegah penularan influenza dan batuk-pilek.

Kebersihan lingkungan adalah kebersihan tempat tinggal, tempat bekerja, dan berbagai sarana umum.
Kebersihan tempat tinggal dilakukan dengan cara melap jendela dan perabot rumah tangga, menyapu
dan mengepel lantai, mencuci peralatan masak dan peralatan makan (misalnya dengan abu gosok),
membersihkan kamar mandi dan jamban, serta membuang sampah. Kebersihan lingkungan dimulai dari
menjaga kebersihan halaman dan selokan, dan membersihkan jalan di depan rumah dari sampah.

Tingkat kebersihan berbeda-beda menurut tempat dan kegiatan yang dilakukan manusia. Kebersihan di
rumah berbeda dengan kebersihan kamar bedah di rumah sakit, sedangkan kebersihan di pabrik
makanan berbeda dengan kebersihan di pabrik semikonduktor yang bebas debu.

Kebersihan lingkungan merupakan keadaan bebas dari kotoran, termasuk di dalamnya, debu,
sampah, dan bau. Di Indonesia, masalah kebersihan lingkungan selalu menjadi perdebatan dan masalah
yang berkembang. Kasus-kasus yang menyangkut masalah kebersihan lingkungan setiap tahunnya terus
meningkat.

Problem tentang kebersihan lingkungan yang tidak kondusif dikarenakan masyarakat selalu tidak sadar
akah hal kebersihan lingkungan. Tempat pembuangan kotoran tidak dipergunakan dan dirawat dengan
baik. Akibatnya masalah diare, penyakit kulit, penyakit usus, penyakit pernafasan dan penyakit lain yang
disebabkan air dan udara sering menyerang golongan keluarga ekonomi lemah. Berbagai upaya
pengembangan kesehatan anak secara umum pun menjadi terhambat.

· Cara memelihara kebersihan lingkungan:

Dimulai dari diri sendiri dengan cara memberi contoh kepada masyarakat bagaimana menjaga
kebersihan lingkungan, Selalu Libatkan tokoh masyarakat yang berpengaruh untuk memberikan
pengarahan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, Sertakan para
pemuda untuk ikut aktif menjaga kebersihan lingkungan, Perbanyak tempat sampah di sekitar
lingkungan anda, Pekerjakan petugas kebersihan lingkungan dengan memberi imbalan yang sesuai
setiap bulannya, Sosialisakan kepada masyarakat untuk terbiasa memilah sampah rumah tangga
menjadi sampah organik dan non organic, Pelajari teknologi pembuatan kompos dari sampah organik
agar dapat dimanfaatkan kembali untuk pupuk, Kreatif, Dengan membuat souvenir atau kerajinan
tangan dengan memanfaatkan sampah, Atur jadwal untuk kegiatan kerja bakti membersihkan
lingkungan.

· Pengertian Kesehatan Lingkungan

Kesehatan lingkungan adalah kesehatan yang sangat penting bagi kelancaran kehidupan dibumi, karena
lingkungan adalah tempat dimana pribadi itu tinggal. Lingkungan yang sehat dapat dikatakan sehat bila
sudah memenuhi syarat-syarat lingkungan yang sehat.

Kesehatan lingkungnan yaitu bagian integral ilmu kesehatan masyarakat yang khusus menangani dan
mempelajari hubungan manusia dengan lingkungan dalam keseimbangan ekologis. Jadi kesehatan
lingkungan merupakan bagian dari ilmu kesehatan mayarakat.

· Syarat-syarat Lingkungan Yang Sehat


1. Keadaan Air

Air yang sehat adalah air yang tidak berbau, tidak tercemar dan dapat dilihat kejernihan air tersebut,
kalau sudah pasti kebersihannya dimasak dengan suhu 1000C, sehingga bakteri yang di dalam air
tersebut mati.

2. Keadaan Udara

Udara yang sehat adalah udara yang didalamnya terdapat yang diperlukan, contohnya oksigen dan di
dalamnya tidka tercear oleh zat-zat yang merusak tubuh, contohnya zat CO2 (zat carbondioksida).

3. Keadaan tanah

Tanah yang sehat adalah tamah yamh baik untuk penanaman suatu tumbuhan, dan tidak tercemar oleh
zat-zat logam berat.

· Cara-cara Pemeliharaan Kesehatan Lingkungan

1. Tidak mencemari air dengan membuang sampah disungai

2. Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor

3. Mengolah tanah sebagaimana mestinya

4. Menanam tumbuhan pada lahan-lahan kosong

· Tujuan Pemeliharaan Kesehatan Lingkungan

1. Mengurangi Pemanasan Global.Dengan menanam tumbuhan sebanyak-banyaknya pada lahan


kosong, maka kita juga ikut serta mengurangi pemanasan global, karbon, zat O2 (okseigen) yang
dihasilkan tumbuh-tumbuhan dan zat tidak langsung zat CO2 (carbon) yang menyebabkan atmosfer
bumi berlubang ini terhisap oleh tumbuhan dan secara langsung zat O2 yang dihasilkan tersebut dapat
dinikmati oleh manusia tersebut untuk bernafas.

2. Menjaga Kebersihan Lingkungan. Dengan lingkungan yang sehat maka kita harus menjaga
kebersihannya, karena lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang bersih dari segala penyakit dan
sampah.Sampah adalah musuh kebersihan yang paling utama. Sampah dapat dibersihkan dengan cara-
cara sebagai berikut ;

Membersihkan Sampah OrganikSampah organik adalah sampah yang dapat dimakan oleh zat-zat
organik di dalam tanah, maka sampah organik dapat dibersihkan dengan mengubur dalam-dalam
sampah organik tersebut, contoh sampah organik :Daun-daun tumbuhan, Ranting-ranting tumbuhan,
Akar-akar tumbuhan.

Membersihkan Sampah Non Organik Sampah non organik adalah sampah yang tidak dapat hancur
(dimakan oleh zat organik) dengan sendirinya, maka sampah non organik dapat dibersihkan dengan
membakar sampah tersebut dan lalu menguburnya.
C. Memanfaatkan SDA dan lingkungan secara proporsional

Kehidupan manusia di muka bumi ini tidak terlepas dari peran serta lingkungan. Sebagaimana manusia
merupakan bagian dari lingkungan, bersama-sama dengan tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme yang
telah menjadi satu mata rantai yang tidak akan terpisah. Untuk itulah, manusia harus memanfaatkan
sumber daya alam secara tepat, agar lingkungan tetap lestari.

Pengelolaan lingkungan hidup merupakan pengelolaan terpadu dalam pemanfaatan, penataan,


pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemuliaan, dan pengembangan lingkungan hidup. Agar
tujuan tersebut dapat tercapai perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut.

1. Mencapai kelestarian hubungan manusia dengan lingkungan hidup sebagai tujuan pembangunan
manusia seutuhnya.

2. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya secara bijaksana agar seluruh sumber daya alam
digunakan oleh kepentingan orang banyak seproduktif mungkin dan menekan pemborosan seminimal
mungkin.

3. Mewujudkan manusia sebagai pembina lingkungan hidup, oleh sebab itu pengembangan sumber daya
alam senantiasa harus disertai dengan usaha memelihara kelestarian tata lingkungan.

4. Melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan


mendatang.

5. Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986 mengenai Analisis Dampak Lingkungan
diantaranya, memberikan kewajiban kepada para pengelola dan pemilik pabrik untuk
menyelenggarakan sebuah studi kelayakan teknis dan ekonomis serta analisis dampak lingkungan yang
dapat dipertanggungjawabkan.

6. Melindungi negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan kerusakan
dan pencemaran lingkungan.

Dengan menerapkan pengelolaan lingkungan hidup akan terwujud kedinamisan dan keharmonisan
antara manusia dengan lingkungannya. Untuk mencegah dan menghindari tindakan manusia yang
semena-mena (eksploitasi) maka diterapkan kebijakan melalui undang-undang lingkungan hidup.

Di Indonesia hal ini dapat dikaji dalam pengelolaan lingkungan hidup dimana dikatakan bahwa dengan
diberlakukannya UU No. 4 Th. 1982 yang disempurnakan dan diganti dengan UU No. 23 Th. 1997,
masalah lingkungan hidup telah menjadi faktor penentu dalam proses pengambilan keputusan
pemanfaatan dan pengolahan SDA. Pembangunan tidak lagi menempatkan SDA sebagai modal, tetapi
sebagai satu kesatuan ekosistem yang di dalamnya berisi manusia, lingkungan alam dan/atau lingkungan
buatan yang membentuk kesatuan fungsional, saling terkait, dan saling tergantung dalam keteraturan
yang bersifat spesifik, berbeda dari satu tipe ekosistem ke tipe ekosistem yang lain. Oleh sebab itu,
pengelolaan lingkungan hidup bersifat spesifik, terpadu, holistik dan berdimensi ruang.

Berdasarkan UU No. 23 Th. 1997 lingkungan hidup diartikan sebagai kesatuan ruang dengan kesemua
benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi
kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Pengelolaan
lingkungan hidup didefinisikan sebagai upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang
meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan,
pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup. Pada Bab II pasal 4 UU No. 23 Th. 1997 dikemukakan
bahwa sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah sebagai berikut.
1. Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup.

2. Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang mempunyai sikap dan tindak
untuk melindungi serta membina lingkungan hidup.

3. Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa mendatang.

4. Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup.

5. Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana.

6. Terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari dampak usaha dan/atau kegiatan di
luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) pasal 3 menyebutkan bahwa usaha dan/atau kegiatan
yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi
hal-hal sebagai berikut.

1. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam.

2. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tidak terbaharui.
3. Proses dan kajian yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan, pencemaran dan kerusakan
lingkungan hidup, serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya

4. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan buatan, serta
lingkungan sumber daya.

5. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya
alam dan/atau perlindungan cagar budaya.

6. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan dan jasad renik.

7. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non-hayati.


8. Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan
hidup.

9. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan dapat mempengaruhi pertahanan Negara

Pengeksploitasian terhadap sumber daya alam harus dilakukan secara proporsional, tidak boleh
berlebihan. Jika mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan maka ekosistem lingkungan bisa
rusak sehingga masyarakat setempat dan juga industri tersebut akan mendapatkan dampak buruknya.
Jika misalnya harus menebang pohon, maka dibarengi dengan usaha penanaman kembali (reboisasi).

setiap lingkungan hidup yang ada di sekitar kita semuanya bermanfaat bagi kehidupan manusia, mulai
dari udara, air, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Udara sangat berguna bagi kehidupan manusia yakni
untuk bernafas, karena sedetik saja kita tidak bisa menghirup udara untuk bernafas, maka hidup akan
berakhir. Air sangat berguna untu minum, tidak sedikit manusia yang mati karena kehausan, bahkan
hewan dan tumbuh-tumbuhanpun akan mati bila tidak ada air. Hewan, terutama hewan ternak yang
halal, ada yang berguna untuk dimakan, ada yang bermanfaat untuk dipergunakan tenaganya, seperti
kerbau untuk membajak sawah, kuda dan unta untuk kendaraan. Sedangkan tumbuh-tumbuhan
berguna untuk dimakan, seperti buah-buahan dan sayuran. Dan ada juga yang digunakan sebagai bahan
bangunan dan kayu bakar dan lain sebagainya.

Manusia sebagai khalifah fil ardh telah diperintakan Allah Swt.untuk memelihara, melestarikan dan
mempergunakan lingkungan hidup untuk kepentingan manusia itu sendiri. Sebagaimana firman Allah
Swt.dalam al Qur’an :

alam ini diciptakan untuk kita dan kita diperintakan untuk melestarikan, memakmurkan dan
memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan diri kita sendiri. Namun harus diingat,
bahwa kita harus menjaga keseimbangan alam dan lingkungan hidup. Janganlah kita membuat
kerusakan di muka bumi ini, tidak boleh mengeksploitasi alam hanya untuk kepentingan nafsu serakah.
Misalnya menebang pohon seenak udelnya tanpa menanam kembali pohon sebagai pengantinya.
Karena itu akan mengakibatkan bencana bagi manusia itu sendiri.

D. Bencana alam dan kearifan manusia

Setiap kali muncul / terjadi suatu bencana, sering orang bertanya-tanya, ada apa dengan bencana?
Setiap orang beragam dalam menjawab pertanyaan seperti ini. Ada yang menjawab, terjadi karena
pergeseran lempengan-lempengan yang ada di dasar laut, sehingga berpotensi menimbulkan gempa
tektonik dan tsunami. Ada lagi yang menjawab, mungkin karena alam sudah tidak bersahabat dengan
kita. Bahkan ada yang lebih radikal lagi jawabannya, karena alam sudah terlalu sering disakiti, dirusak,
dizholimi (dieksploitasi) oleh manusia, maka alam itu marah yang membabi buta. Dan kalau alam itu
sudah marah dan murka maka dampaknya adalah kepada manusia itu sendiri.

Semua jawaban di atas apabila disimpulkan, karena umat manusia sudah tidak lagi memelihara dan
menjaga akhlak yang baik terhadap alam dan lingkungan hidup yang ada di sekitarnya. Sudah bosan
rasanya telinga kita mendengar berita-berita yang menggambarkan tentang prilaku manusia yang
berbuat tidak adil terhadap alam dan lingkungan.

Padahal dampak dari perbuatannya itu akan kembali lagi kepada manusia itu sendiri. Sebut saja
misalnya penebangan liar (penggundulan) hutan tanpa memperhatikan undang-undang yang berlaku,
mengakibatkan banjir bandang dan longsor. Membakar hutan secara ilegal, untuk kepentingan oknum
para pengusaha Kelapa Sawit, mengakibatkan asap tebal dimana-mana bahkan sampai ke negara
tetangga. Dan pengeboran minyak tanpa memperhatikan peraturan yang berlaku, berdampak luapan
lumpur yang tidak terkendali seperti di Sidoarjo dan lain-lain. Kenapa manusia tega berbuat demikian?
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

ِ‫ع ْال َحيَاة‬ ِ ‫س َّو َم ِة َو ْاْل َ ْنعَ ِام َو ْال َح ْر‬


ُ ‫ث ۗ ذَٰلِكَ َمت َا‬ َ ‫ض ِة َو ْال َخ ْي ِل ْال ُم‬
َّ ‫ب َو ْال ِف‬ َ ‫ير ْال ُمقَ ْن‬
ِ ‫ط َرةِ مِ نَ الذَّ َه‬ ِ ِ‫ساءِ َو ْالبَنِينَ َو ْالقَنَاط‬
َ ِِّ‫ت مِنَ الن‬ ِ َّ‫ُزيِِّنَ لِلن‬
َّ ‫اس حُبُّ ال‬
ِ ‫ش َه َوا‬
ۖ ‫ال ُّد ْن َيا‬

” Telah dihiasi pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta benda yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan
sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia ” ( Q.S. 3:14).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa setiap manusia diberi potensi hawa nafsu untuk mendapatkan rasa cinta
kepada wanita cantik, ingin memiliki harta benda yang banyak seperti emas, perak, kuda pilihan
(kendaraan mewah), binatang ternak dan sawah ladang (Az-Zuhaily:1998) Mereka berlomba-lomba
untuk mendapatkan semuanya itu, walaupun dengan berbagai cara, tidak peduli apakah cara yang
digunakan itu merusak alam dan lingkungan atau tidak yang penting bagi dirinya bahwa tujuan itu
tercapai. Maka dari sinilah awal mula proses terjadinya kerusakan alam yang mengakibatkan bencana
yang sangat dasyat di negeri ini.

Islam memandang bahwa segala musibah yang terjadi di alam ini akibat perbuatan manusia itu sendiri.
Seperti dalam firman Allah Swt.:

َ‫عمِ لُوا لَ َعلَّ ُه ْم َي ْر ِجعُون‬


َ ‫ض الَّذِي‬ ِ َّ‫سبَتْ أ َ ْيدِي الن‬
َ ‫اس ِليُذِيقَ ُه ْم َب ْع‬ ِ ‫سا ُد فِي ْال َب ِ ِّر َو ْال َب‬
َ ‫حْر ِب َما َك‬ َ َ‫ظ َه َر ْالف‬
َ

“ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya
Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke
jalan yang benar)” (Q.S. 30: 41)

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa musibah yang terjadi baik di daratan maupun di lautan akibat ulah
manusia yang mengumbar hawa nafsunya untuk kepentingan dirinya. Dan musibah sengaja Allah Swt.
timpahkan kepada manusia agar manusia kembali ke jalan Tuhannya yakni jalan yang benar.

bila mempergunakan lingkungan hidup di jalan yang dimurkai Allah Swt., misalnya membiarkan bumi
(tanah) dan berbagai macam kemaksiatan tumbuh subur di negeri ini, para pemimpin negara banyak
yang korupsi, kaum muda-mudi tidak risih memamerkan auratnya di depan umum, tayangan TV penuh
dengan pornografi dan pornoaksi, maka jangan heran bila bencana silih berganti, sebagai peringatan
dari Allah Swt. na’udzu billah min dzalik.

berakhlakulkarimah dengan lingkungan hidup adalah berani memelihara, melestarikan, dan


memanfaatkannya untuk kepentingan manusia dalam rangka menuju ridho Allah Swt. Dan apabila
dipergunakan untuk sebaliknya. Maka bersiap-siaplah menerima bencana yang maha dahsyat, seperti
dijanjikan dalam al Qur’an :

ِ ‫شدِي ُد ْال ِعقَا‬


‫ب‬ َّ ‫صةً ۖ َوا ْعلَ ُموا أ َ َّن‬
َ َ‫َّللا‬ َ َ‫صيبَ َّن ا َّلذِين‬
َّ ‫ظلَ ُموا مِ ْن ُك ْم خَا‬ ِ ُ ‫َواتَّقُوا فِتْنَةً ََل ت‬
“ Dan hendaklah kalian takut akan fitnah (bencana) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim
saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (Q.S.8: 25).

Manusia di muka bumi ini adalah khalififah, yang diberi kemampuan oleh Allah untuk mengelola,
merawat dan mendaya gunakan dengan sebaik-baiknya, apabila manusia sebagai khalifah tak mumpu
mengelolanya dengan baik maka akan munculah musibah-musibah dari hukum alam ini yang susah
sekali untuk mengelakkannya. , sekedar contoh apabila manusia membabat habis hutan maka yang
terjadi adalah banjir besar yang bisa meluluh lantakan orang yang tak bersalah sekalipun.

Namun disana terdapat juga musibah yang tidak disebabkan oleh ulah manusia dalam mengelola bumi,
Angin yang tadinya mendistribusi awan (QS al-Baqarah/2:164) dan menyebabkan penyerbukan dalam
dunia tumbuh-tumbuhan (Q.S. al-Kahfi/18:45), tiba-tiba tampil begitu ganas memorak-porandakan
segala sesuatu yang dilalewatinya (QS Fushshilat/41:16).

Gunung-gunung yang tadinya sebagai pasak bumi (QS al-Naba'/78:7), tiba-tiba memuntahkan debu,
lahar panas, dan gas beracun (QS al-Mursalat/77:10 atau yang baru saja menimpa saudara-saudara kita
di jawa tengah ketika lempengan-lempengan bumi bergeser maka terjadilah gempa yang tidak terduga.

Bencana seperti ini adalah merupakan ujian bagi kita semua, karena musibah ini telah menimpa tidak
saja bagi orang yang berdosa tapi juga bagi orang yang beriman. Mereka menanggung penderitaan yang
sama, marilah kita menghindarkan anggapan bahwa ini merupakan azab atas dosa-dosa yang diperbuat
oleh para korban sendiri., disaat kita menganggap ini azab, maka bagi korban yang menderita akan
mendapatkan kesusahan dua kali, pertama musibah itu sediri dan yang kedua adalah suudlon kita,
tentunya ungkapan-ungkapan itu akan menyudutkan bagi yang terkena musibah. Cara kerja azab Tuhan
di dalam Alquran hanya menimpa kaum yang durhaka dan tidak menimpa atau mencederai orang-orang
yang shaleh dan taat pada Tuhan. Sedangkan cara kerja mushibah dan bala tidak membedakan satu
sama lainnya.

Memang telah terdapat ayat-ayat yang menerangkan tentang azab umat—umat terdahulu Bentuk azab
itu antara lain:

1) banjir besar (mungkin ini gelombang tsunami pertama) seperti yang ditimpakan pada umat Nabi Nuh;

2) bencana alam dahsyat berupa suara yang menggemuruh seperti yang ditimpakan kepada umat Nabi
Syu'aib;
3) tanah longsor dahsyat seperti yang ditimpakan kepada umat Nabi Luth;

Meski demikian Secara historis, Nabi Muhammad adalah seorang nabi yang tidak pernah sekalipun
mendoakan ummatnya agar celaka. Dia tidak pernah menghadapi kondisi psikologis yang sangat
mengecewakan dan menyerah dalam berda’wah pada umatnya, Maka, dia tidak pernah berdoa minta
azab kepada Allah bagi kaum-kaumnya yang tidak taat.

Musibah adalah suatu keniscayaan yang melanda semua manusia, baik secara perorangan maupun
kelompok. Perasaan takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, sampai kekurangan buah-buahan yang
dibutuhkan, selalu menyertai mereka yang terkena musibah.

‫صي َبةٌ قَالُوا‬ َ َ ‫) الَّذِينَ ِإذَا أ‬155‫صا ِب ِرينَ (البقرة‬


ِ ‫صا َبتْ ُه ْم ُم‬ ِ ‫مِن ْاْل َ ْم َوا ِل َو ْاْلَنفُ ِس َوالث َّ َم َرا‬
ِّ ‫ت َو َب‬
َّ ‫ش ِْر ال‬ ْ ‫ص‬ ٍ ‫ش ْيءٍ مِ ْن ْالخ َْوفِ َو ْال ُجوعِ َونَ ْق‬
َ ‫َولَنَ ْبلُ َونَّ ُك ْم ِب‬
)157‫مِن َر ِبِّ ِه ْم َو َرحْ َمةٌ َوأ ُ ْولَئِكَ ُه ْم ْال ُم ْهتَدُونَ (البقرة‬
ْ ٌ‫صلَ َوات‬ َ َ‫) أ ُ ْولَئِك‬156‫اجعُونَ (البقرة‬
َ ‫علَ ْي ِه ْم‬ ِ ‫ّلِل َو ِإنَّا ِإلَ ْي ِه َر‬
ِ َّ ِ ‫ِإنَّا‬

''Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang
sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi
raji'un. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan
mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.'' (QS Al-Baqarah (2): 155-157).

Ø Cara Menyikapi Bencana Alam

Pertama : kita maknai bahwa peristiwa ini semua adalah semata-mata ujian dari sang maha kuasa atas
seluruh alam semesta ini, dan ketika kita bisa melaluinya maka Allah akan menaikkan derajat keimanan
kita.

Seperti sabda Rasulullah SAW, ''Siapa yang akan diberi limpahan kebaikan dari Allah, maka diberi ujian
terlebih dahulu.'' (HR Bukhari Muslim).

Yang kedua : Semua ujian haruslah kita hadapi dengan kesabaran,karena kesabaran adalah sebuah
tanda lulusnya sebuah ujian, seperti pada sebuah hadis : ''Sungguh menakjubkan perkara orang yang
beriman seluruh perkaranya menjadi baik. Ketika ditimpa musibah dia bersabar, itu membawa kebaikan
baginya. Dan ketika mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu membawa kebaikan baginya.'' (Al-
Hadis).

Yang ketiga : Bahwa seberat apapun ujian yang berupa musibah alam raya ini, kita yakin Allah pasti
sudah proprosional dalam mengujinya dan tidak akan melebihi dari kesanggupan dalam menjalaninya
bagi orang yang tertimpa.

َ ُ‫ص ًرا َك َما َح َم ْلتَه‬


‫ع َلى‬ َ ‫طأْنَا َربَّنَا َو ََل تَحْمِ ْل‬
ْ ِ‫علَ ْينَا إ‬ َ ‫سبَتْ َربَّنَا ََل تُؤَاخِ ْذنَا إِ ْن نَسِينَا أ َ ْو أ َ ْخ‬
َ َ ‫علَ ْي َها َما ا ْكت‬
َ ‫سبَتْ َو‬َ ‫سا إِ ََّل ُو ْسعَ َها لَ َها َما َك‬ ً ‫َّللاُ نَ ْف‬ ُ ِّ‫ََل يُ َكل‬
َّ ‫ِف‬
)286‫علَى ْالقَ ْو ِم ْالكَاف ِِرينَ (البقرة‬ َ ‫ص ْرنَا‬ ُ ‫ار َح ْمنَا أ َ ْنتَ َم ْو ََلنَا فَان‬ ْ ‫عنَّا َوا ْغف ِْر لَنَا َو‬
َ ‫ْف‬ ُ ‫طاقَةَ لَنَا بِ ِه َواع‬ َ ‫الَّذِينَ مِ ْن قَ ْب ِلنَا َربَّنَا َو ََل ت ُ َح ِ ِّم ْلنَا َما ََل‬

''Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.'' (QS Al-Baqarah (2): 286.

Keempat : Apapun bentuk musibah yang di derita oleh seorang muslim,baik itu berupa kesususahan,
penderitaan maupun penyakit, Allah akan menghapus sebagian kesalahan dan dosa, dengan demikian
derajat para korban bencana akan mulia, bagi yang meninggal dunia dia akan mati syahid dan bagi yang
masih hidup tentunya dengan kesabaran atas penderitaan itu Allah akan hapus sebagian kesalahan dan
dosa dosanya.

Kelima bagi kita yang tidak secara langsung mengalami musibah itu, hendaknya kita jadi peristiwa itu
sebagai momentum untuk menyaksikan kebesaran dan keagungan Allah, sehingga akan menguatkan
iman kita pada sang pencipta alam semesta.

Marilah kita bayangkan apabila musibah itu menimpa diri kita sendiri, keluarga kita, atau temen-teman
kita, tentunya kita akan menderita dan susah menjalani cobaan besar ini. Maka marilah kita bantu para
korban bencana semaksimal mungkin karena sekecil apapun bantuan itu akan sangat berharga sekali
bagi kehidupan para korban yang masih hidup. Kita berharap musibah ini akan membawa kebaikan-
kebaikan dalam ridlo Allah. Kita semua berduka atas musibah ini. Kita semua harus mohon ampun atas
semua dosa. Namun, kita tidak boleh mengeluh dan bersedih berkepanjangan serta kehilangan harapan
pada Tuhan Sembari bertobat dan mohon petunjuk Tuhan, mari kita baca hikmah dan pembelajaran
dari musibah ini.

Jalan terbaik menyikapi musibah adalah kita pasrahkan diri kita kepada Allah SWT dengan sikap
tawakkal dan tawaddhu’ serta bersabar. Mudah-mudahan banyak hikmah yang bisa kita petik dan ambil
pelajaran dalam mengarungi kehidupan ini.

Islam tidak memandang musibah itu adalah bentuk murkanya Allah, tapi adalah teguran kepada umat-
Nya, cobaan bagi orang-orang yang beriman dan pelajaran buat orang-orang yang masih bergelimang
dosa dan maksiat. Melalui musibah seyogianya dapat mempertebal keimanan kita karena begitu
mudahnya Allah SWT menunjukkan keperkasaan-Nya kepada kita.

Allah SWT berfirman: “Yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapakah di
antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk 2).

Ayat ini mengajarkan kita bahwa Allah SWT akan menguji kesabaran kita sebagai orang beriman, sama
halnya dengan orang-orang yang menempuh pendidikan, ada ujian yang dilalui agar dapat lulus dengan
hasil yang memuaskan.

Rasulullah SAW bersabda: “Jika Allah berkehendak positif kepada hamba-Nya, maka Dia akan
mendahulukan siksanya terhadap hamba-Nya, dan jika Allah berkehendak negatif terhadap hamba-Nya,
maka siksa akibat dosa-dosanya ditunda sampai ke akherat kelak.” (HR Tirmidzi).

Sikap yang diajarkan Rasulullah SAW hendaknya senantiasa mampu kita terapkan karena lima belas
abad yang lalu Nabi mengalami banyak serangkaian musibah dan cobaan ketika berupaya meyakinkan
orang-orang kafir tentang kebenaran Islam. Cobaan dan musibah datang silih berganti. Beliau dicela,
dicaci maki dan hendak dibunuh. Tapi beliau tidak pernah berputus asa dan menyurutkan langkah serta
menganggap itu adalah “bencana” sebagai bentuk ujian yang harus ia lalui. Nabi akhirnya dapat
memetik hasil sempurna dari perjuangannya: Islam dapat diterima.
Selain meneladani perilaku yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, kita harus menyikapi musibah yang
terjadi dan menimpa kita dengan tetap ber-husnuzzhan kepada Allah SWT, berbaik sangka kepada-Nya
dengan memandang serba positif terhadap keputusan yang Dia ambil. Baik terhadap diri kita, orang lain
dan alam seluruhnya.

Orang yang ber-husnuzzhan terhadap Allah SWT memiliki pandangan yang luas yang didasari oleh
keimanan yang tangguh. Ia meyakini bahwa segala keputusan atau takdir Allah baik berupa kesenangan
maupun yang menyusahkan tidak mungkin ditujukan-Nya untuk menyengsarakan umat manusia.
Keputusan Allah atas manusia tadi adalah bentuk dari pendidikan, cobaan atau ujian untuk mengukur
sejauhmana keimanan seseorang.

Bagi yang memiliki sifat husnuzzhan kepada Allah SWT, bila ia mendapat ujian kenikmatan tidak
sombong tetapi tetap tawaddhu’ dan bila mendapat musibah di kala sulit tidak berkeluh kesah, tetap
kukuh berprasangka baik kepada-Nya. Karena Allah tidak akan memberikan beban kepada umat-Nya di
luar kemampuan. Hal ini Allah tegaskan dalam firman-Nya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu,
bukan kesusahan.” (QS Al-Baqarah 185).

Islam memberikan pedoman bagaimana menyikapi musibah (unheil:s.) sebagaimana ditulis Ibrahim Anis
dalam bukunya Al-Mu’jam Al-Wasith:

· Iman dan ridha terhadap ketentuan Allah SWT. Sebagai orang yang beriman kita harus mempunyai
keyakinan bahwa setiap bencana dan musibah adalah benar datangnya dari Allah, tidak mengaitkan
dengan hal-hal lain seperti murkanya makhluk halus yang menunggu tempat tersebut. Karena setiap
musibah dan bencana yang menimpa kita adalah bentuk pelajaran yang harus kita ambil hikmahnya.

· Sabar menghadapi musibah. Sabar (ergeben) adalah orang yang mampu menahan diri terhadap
bentuk ujian yang menimpa kita dan menerimanya dengan lapang dada. Karena orang yang beriman itu
bila dia ditimpa musibah akan tetap sabar dan bila dia diberi nikmat akan tetap tawaddhu’ atau tidak
sombong (aufgeblasen).

· Ada hikmah dibalik musibah. Setiap musibah dan bencana yang datang pasti mengandung hikmah
(weisheit: w.) yang tersembunyi. Bagi orang yang beriman menganggap itu merupakan pelajaran atau
mungkin Allah punya rencana dan maksud lain yang kita tahu rahasia dibalik musibah tersebut.

· Tetap berikhtiar. Maksudnya tetap berusaha untuk memperbaiki keadaan atau menghindarkan diri
dari bencana yang menimpa tidak pasrah, menunggu dan diam saja. Kita harus punya inisiatif untuk
berbuat dan bertindak agar kita dapat keluar dari kesulitan yang menghimpit.

· Bertobat. Tobat adalah kembali kepada Allah setelah kita melakukan maksiat atau kita
membersihkan semua kesalahan yang kita perbuat dengan jalan dekat kepada-Nya. Islam tidak
memandang manusia itu bagaikan malaikat tanpa berbuat dosa, tapi sebaik-baik manusia itu adalah
segera berhenti dari perbuatan dosa dan bertobat dari kesalahan yang diperbuat.

· Memperbanyak doa dan dzikir. Selagi sedang ditimpa musibah kita dianjurkan memperbanyak zikir
karena dengan jalan tersebut dapat menentramkan hati dan menghilangkan kegelisahan sambil berdoa
supaya kita bisa keluar dari masalah tersebut. Nabi SAW mengajarkan dalam doanya: “Allahumma jurnii
khairon fii mushiibathii wa akhluf lii khairan minhaa.” Artinya: “Ya Allah, berilah pahala dalam
musibahku ini dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya.” (HR Muslim).

· Tetap Istiqamah. Seorang muslim yang tangguh dalam menjalani cobaan yang diberikan Allah, dia
tetap konsisten dan teguh pendirian dalam menjalankan dan mengamalkan ajaran Islam. Tidak lantas
dengan ujian tersebut membuat ia semakin jauh dari ajaran agama bahkan timbul penyakit stres atau
mengambil jalan pintas bunuh diri.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Dia (Allah) menundukkan untuk kamu; semua yang ada di langit dan di bumi semuanya (sebagai
rahmat) dari-Nya (QS Al-Jatsiyah [45]: 13). Ini berarti bahwa alam raya telah ditundukkan Allah untuk
manusia. Manusia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

2. Cara memelihara kebersihan lingkungan:

Dimulai dari diri sendiri dengan cara memberi contoh kepada masyarakat bagaimana menjaga
kebersihan lingkungan, Selalu Libatkan tokoh masyarakat yang berpengaruh untuk memberikan
pengarahan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, Sertakan para
pemuda untuk ikut aktif menjaga kebersihan lingkungan, Perbanyak tempat sampah di sekitar
lingkungan anda, Pekerjakan petugas kebersihan lingkungan dengan memberi imbalan yang sesuai
setiap bulannya, Sosialisakan kepada masyarakat untuk terbiasa memilah sampah rumah tangga
menjadi sampah organik dan non organic

3. Cara-cara Pemeliharaan Kesehatan Lingkungan

1. Tidak mencemari air dengan membuang sampah disungai

2. Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor

3. Mengolah tanah sebagaimana mestinya

4. Menanam tumbuhan pada lahan-lahan kosong

4. Pengeksploitasian terhadap sumber daya alam harus dilakukan secara proporsional, tidak boleh
berlebihan. Jika mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan maka ekosistem lingkungan bisa
rusak sehingga masyarakat setempat dan juga industri tersebut akan mendapatkan dampak buruknya.
5. Cara menyikapi bencana : iman dan ridho terhadap ketentuan Allah SWT, sabar dalam menghadapi
musibah, ada hikmah dibalik musibah, tetap berikhtiar, bertobat, memperbanyak do’a dan dzikir, tetap
istiqomah.

B. Saran

Marilah dengan bijak kita menyikapi musibah yang diberikan oleh Allah SWT dan tetap berharap mudah-
mudahan kita dijauhkan dari musibah dan bencana, dengan cara dalam memanfaatkan SDA harus tetap
memperhatikan kebersihan dan kesehatan lingkungan agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi
kehidupan dan walaupun sekarang banyak dari saudara-saudara kita yang tengah berjuang
mengatasinya, Ini adalah ladang pahala dan kesempatan buat kita untuk membantu meringankan beban
mereka sambil berdoa semoga saudara-saudara kita kuat dan mampu menghadapi ujian yang diberikan
oleh Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

o Dr. Rosihan Anwar, Akidah Akhlak, Pustaka Setia, Bandung, 2008

o Kementrian Lingkungan Hidup RI, “HImpunan Peraturan Perundang-Undangan Lingkungan Hidup”.


Jakarta, 2002.

o Drs. H. Ambo Asse, M.Ag. 2003. Al-Akhlak al-Karimah Dar al-Hikmah wa al-Ulum.Makassar: Berkah
Utami.

o www.google.com