Anda di halaman 1dari 44

2016

201
LAPORAN FINAL
SOIL INVESTIGATION
(Sondir
Sondir, Deep Boring & SPT
SPT)

Pekerjaan :
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga
Mina Minanga Kec. Kulisusu
Kab. Buton Utara - Propinsi Sulawesi Tenggara

Laboratorium Penguji :
LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
Kampus Baru UHO,, Gedung Laboratorium Fakultas Teknik Lt. 01
VERSITA
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
NI
UNIVERSITAS HALUOLEO

S
FAKULTAS TEKNIK
LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
HA
LUOLEO Kampus Baru Universitas Haluoleo, Gedung Laboratorium Fak. Teknik Lt.01

Kendari, 07 November 2016


Nomor : 07.11.b/UN.29.6.20/PM/2016
Lampiran : 1 (satu) expl.
Perihal : Laporan Hasil Soil Test

Sehubungan dengan permohonan penyelidikan tanah dengan Deep boring dan


Sondir untuk Kegiatan DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu, Kab.
Buton Utara, maka dapat kami sampaikan kesimpulan hasil pemeriksaan tersebut
adalah sebagai berikut:

1. Lapisan tanah pada lokasi DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu,
Kab. Buton Utara pada umumnya adalah sebagai berikut :
- Lapisan tanah di lokasi DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu
secara umum berupa lapisan tanah lempung pasiran halus hingga kasar, berwarna
putih hingga lapisan batuan karang padat putih dan sangat keras. Simplifikasi
lapisan tanah yang dijumpai di lokasi DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga
Kec. Kulisusu ini dapat dilihat pada lampiran boring log.
2. Untuk Bor Titik 01, Lapisan tanah dengan nilai SPT > 60 telah ditemukan pada
kedalaman 17,0 meter dan selanjutnya hingga kedalaman titik bor 23,45 meter, nilai
SPT tidak mengalami penurunan bahkan lapisan tanah cenderung semakin keras.
3. Sondir titik 01, Lapisan Tanah Keras dengan nilai konus > 150 kg/cm2 ditemukan
pada kedalaman 2,00 meter dari permukaan tanah saat pelaksanaan sondir.
4. Sondir titik 02, Lapisan Tanah Keras dengan nilai konus > 150 kg/cm2 ditemukan
pada kedalaman 2,00 meter dari permukaan tanah saat pelaksanaan sondir.
5. Dapat dipertimbangkan penggunaan pondasi Tiang Pancang dengan kedalaman
pondasi yang disesuaikan dengan beban struktur bangunan atau hingga mencapai
lapisan tanah keras.

Analisa daya dukung tanah (pertimbangan desain pondasi) dan hasil penyelidikan
lapangan dengan alat sondir Selengkapnya pada Lampiran laporan ini.
Demikian Laporan Hasil Soil Test ini, semoga dapat dijadikan bahan pertimbangan
untuk pelaksanaan pekerjaan selanjutnya.

Kepala Laboratorium Mekanika Tanah


Fakultas Teknik UHO,

RIDWANSYAH NUHUN, ST. MT.


NIP. 197511032005011001
DAFTAR ISI
Hal.

DAFTAR ISI i

BAB I. PENDAHULUAN 1

BAB II. METODE PENYELIDIKAN TANAH 3

2.1. Lingkup Pekerjaan 3


2.2. Metodologi Penyelidikan Tanah Lapangan 3
2.2.1. Pemboran 3
2.2.2. Pengambilan Contoh Tanah Tidak Terganggu 5
2.2.3. SPT (Standard Penetration Test) 6
2.3. Metodologi Penyelidikan Tanah di Laboratorium 6
2.3.1. Water Content/Moisture Content 7
2.3.2. Specific Grafity 7
2.3.3. Analisis Saringan 7
2.3.4. Atterberg Limit 8
2.3.5. Geser Langsung (Direct Shear) 8
2.3.6. Consolidation Test 8

BAB III. ANALISIS GEOTEKNIK 9

3.1. Klasifikasi Tanah 9


3.2. Profil Lapisan Tanah 10
3.3. Parameter Tanah 10
3.3.1. Hasil Uji Laboratorium 10
3.3.2. Korelasi Parameter Tanah 10
3.4. Analisis Penurunan (Settlement) 11
3.4.1. Hasil Analisis Penurunan Segera
(Immediate Settlement) dengan data SPT 12

BAB IV. HASIL DAN ANALISIS DAYA DUKUNG PONDASI 13

4.1. Analisis Daya Dukung Tanah Berdasarkan Data N-SPT 13


4.1.1. Hasil Uji Standard Penetration Test (SPT) 13
4.1.2. Kapasitas Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang 13
4.1.3. Kapasitas Daya Dukung Aksial Tiang Pancang 14

[i]
4.1.4. Tahanan Geser Selimut Tiang Pancang 15
4.1.5. Tahanan Ujung Pondasi Tiang Pancang 16
4.1.6. Kapasitas Tarik Tiang Pancang 16
4.2. Kapasitas Daya Dukung Ijin Tiang Pancang 16
4.3. Hasil Analisis Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang 17

BAB V. KESIMPULAN 19

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran A : Perhitungan Analisa Pondasi Tiang PancangBerdasarkan Data SPT


Lampiran B : Data Hasil Pengujian Daya Dukung Tanah Dengan Sondir, Deep
Boring Dan SPT
Lampiran C : Data Hasil Pengujian Sampel Tanah Di Laboratorium
Lampiran D : Foto Dokumentasi Pekerjaan Lapangan

[ii]
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

Bab 1 PENDAHULUAN

Pada umumnya bangunan teknik sipil dibuat atau didirikan di atas tanah dasar, baik dengan
fondasi berupa struktur penyanggah atau penopang langsung di atas tanah dasar tersebut maupun
berupa tanah timbunan.
Struktur yang dibuat sedemikian rupa agar mampu menahan beban dan stabil terhadap pengaruh
gerakan tanah dasar sekelilingnya. Besarnya daya dukung dan perubahan bentuk tanah akibat
pembebanan dapat dianalisis dari data - data karakteristik tanah/batuan pada tempat yang akan
diletakkan fondasi atau struktur lainnya. Oleh karena itu untuk merencanakan suatu struktur
teknik sipil yang baik diperlukan informasi karakteristik material geologi yang memadai khususnya
kondisi bawah permukaan,di tempat akan diletakan bangunan bawah (substruktur) dengan
melakukan investigasi geoteknik. Investigasi geoteknik dilakukan dengan tujuan untuk
memperoleh informasi bawah permukaan dan karakteristik material yang akan digunakan agar
tidak terjadi perencanaan yang berlebihan karena tidak adanya informasi bawah permukaan, dan
sebaliknya untuk menghindari timbulnya bahaya akibat perencanaan yang tidak memadai karena
kondisi yang belum dapat diperkirakan. Investigasi geoteknik dilakukan untuk memberikan
informasi bagi Perencana tentang kondisi bawah permukaan, sifat - sifat mekanis dan sifat - sifat
fisik termasuk kemampuan memikul beban dari material yang digunakan untuk struktur suatu
bangunan teknik sipil.

Sasaran investigasi geoteknik meliputi penentuan dan identifikasi hal-hal sebagai berikut :

- Luas lahan, kedalaman dan ketebalan dari setiap lapisan yang dapat di identifikasi pada
kedalaman terbatas yang tergantung pada ukuran dan sifat struktur, bersama dengan
keterangan (pemerian) tanah,mencakup tingkat kepadatannya jika tanah dari jenis tidak
kohesif.
- Kedalaman sampai permukaan bedrock dan karakter batuan yang mencakup item-item
misalnya : lithologi, luas lahan, kedalaman, ketebalan setiap lapisan, kemiringan dan spasi
serta bidang pelapisan adanya zona sesar dan ketentuan pelapukan atau dekomposisi serta
diskontinyuitas lainya.
- Lokasi air tanah dan adanya serta besarnya tekanan artesis.
- Sifat - sifat mekanis dari tanah atau batuan di tempat misalnya seperti : Permeabilitas,
kompresibilitas dan kuat geser.

Untuk melaksanakan Soil Investigasi di lapangan dapat dilaksanakan dengan beberapa metode
seperti :

- Sumuran uii dangkal sampai dalam (Pemboran Uji)


- Paritan uji
- Lubang berdiameter besar (test pit)
- Terowongan uji
- Pemboran tangan (Hand Boring)
- Metode Penggantian ( Displacement Method)

Page | 1
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

- Pendugaan batang (sounding dan probing)


- Pendugaan dinamis (Dinamic Cone Penetrometer)
- Penyondiran (Ducth Cone Penetrometer)

Sehubungan dengan DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu, di Kulisusu kab.
Buton Utara - Sulawesi Tenggara, telah dilakukan penyelidikan tanah untuk mendapatkan data
keadaan tanah untuk selanjutnya data tersebut digunakan untuk keperluan analisis geoteknik di
lokasi DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu tersebut. Penyelidikan tanah
yang dilakukan berupa pemboran uji sebanyak 1 (satu) titik , Sondir sebanyak 2 (dua) titik,
dan pengujian laboratorium.. Penyelidikan tanah tersebut dilakukan mulai tanggal 20 Oktober
2016 hingga tanggal 30 Oktober 2016.

Page | 2
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

Bab 2 METODOLOGI PENYELIDIKAN TANAH

2.1 LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup pekerjaan penyelidikan tanah ini meliputi penyelidikan lapangan dan pengujian
laboratorium yang terdiri dari:
a. Pemeriksaan Sondir sebanyak 2 (dua) titik.
b. Pekerjaan bor dalam (Deep Boring) sebanyak 1 (satu) titik
- Pengeboran di darat 2 titik
- SPT interval 1.50 meter
- UDS
c. Pengujian Sampel di Laboratorium meliputi :
- Pengujian Kadar Air Tanah (Moisture Content)
- Pengujian Berat Volume Tanah
- Pengujian Berat Jenis Tanah
- Pengujian Analisa Saringan
- Pengujian Konsistensi Atterberg
- Pengujian Geser Langsung (Direct Shear)

2.2 METODOLOGI PENYELIDIKAN TANAH LAPANGAN


Penyelidikan tanah yang dilakukan sesuai dengan American Standard for Testing Material
(ASTM). Penyelidikan tanah ditujukan untuk memahami struktur tanah dan sifat mekanika
tanah di wilayah proyek. Lingkup pekerjaan penyelidikan tanah yang dilakukan meliputi:

2.2.1 Pemboran

Pemboran inti sebanyak 1 titik bor dilakukan hingga mencapai kedalaman pemboran sedalam
maksimal 40 m atau setelah diperoleh nilai N-SPT lebih dari 60. Selama pengeboran, dilakukan
pengamatan secara visual terhadap lapisan tanah. Pada kedalaman tertentu dilakukan
pengambilan contoh tanah (disturbed sample dan undisturbed sample) dan Standard Penetration
Test (SPT).
Prosedur pelaksanaan dan peralatan pemboran dalam mengacu pada ASTM D 1452-80,
“Standard Practice for Soil Investigation and Sampling by Auger Borings”, ASTM D 420 - 93,
“Standard Guide for Investigating and Sampling Soil and Rock”, ASTM D 2488 - 93,
“Standard Practice for Description and Identification of Soils (Visual-Manual Procedure)” dan
ASTM D 2113 - 83, “Standard Practice for Diamond Core Drilling for Site Investigation”.
Data hasil pemboran dalam disajikan dalam field logs (Bore - Logs) yang di dalamnya tercakup:
identifikasi proyek, nomor boring, lokasi, orientasi, tanggal mulai pemboran, tanggal akhir
pemboran, dan nama operator, klasifikasi/deskripsi tanah (kekerasan, warna, derajat pelapukan,

Page | 3
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

dan identifikasi lainnya yang masih berhubungan), deskripsi litologi, kondisi air tanah,
pengambilan contoh tanah, in situ test di bore hole, dst.

Gambar 2-1 Rotary drilling machine

2.2.2 Pengambilan Contoh Tanah Tidak Terganggu (UDS)

Undisturbed samples yang direncanakan untuk dilaksanakan adalah untuk keperluan uji
laboratorium. Pelaksanaan pengambilan contoh tanah tidak terganggu mengacu pada ASTM D
1587-94 “Standard Practice for Thin-Walled Tube Geotechnical Sampling of Soils”.
Contoh tanah undisturbed diambil dari kedalaman tertentu dengan menggunakan Shelby tube
sampler (thin walled tube sampler). Kemudian contoh tanah dilindungi dari goncangan,
getaran dan perubahan kadar air, yang bertujuan untuk menjaga struktur tanah dan komposisi
fisiknya tetap seperti kondisi aslinya, sampai contoh tersebut dikeluarkan untuk kemudian diuji
di laboratorium. Kedalaman bagian atas contoh dan panjang sampler dicatat di boring log.

Page | 4
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

Gambar 2-2 Tabung Shelby

Pengambilan contoh tanah asli (undisturbed sample) pada umumnya dilakukan terhadap tanah
dari jenis lempung, lanau pasir kelempungan atau pasir + lanau. Sifat dari tanah yang akan diambil
adalah dari sangat lunak sampai dengan kokoh (firm). Untuk tanah bersifat kenyal dan keras
umumnya tidak mungkin. Hubungan antara nilai SPT tanah lanau lempung terhadap kepadatan
relative (relative density) dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 2.1. Hubungan antara nilai SPT dan relative density pada tanah lanau lempung

Relative Density Harga N


Very Soft (sangat lunak) 2
Soft (lunak) 2- 4
Medium (medium) 4-8
Stiff (agak kenyal) 8-15
Very Stiff (sangat kenyal) 15-30
Hard (keras) > 30

Hubungan antara nilai SPT tanah pasir terhadap kepadatan relative (relative density) dapat dilihat
pada tabel di bawah ini :

Tabel 2.2. Hubungan antara nilai SPT dan relative density pada tanah pasir
Relative Density Harga N
Very loose (sangat lepas) 0-4
loose (lepas) 4- 10
Medium dense (agak kompak) 10-30
Dense (kompak) 30-50
Very dense (sangat kompak) >50

Page | 5
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

2.2.3 SPT (Standard Penetration Test)

SPT (Standard Penetration Test) yang dilakukan adalah interval kedalaman lebih kurang
setiap 2.0 m. Prosedur pelaksanaan dan peralatan Standard Penetration Test mengacu
pada ASTM D 1586 - 84, "Standard Method for Penetration Test and Split Barrel Sampling of
Soils". Hammer yang digunakan seberat 140 lbs (63 kg) dengan tinggi jatuh 30” (76.2 cm).
Jumlah total tumbukan yang dibutuhkan untuk penetrasi tanah 3 × 15 cm dicatat. Nilai SPT,
dinyatakan dengan nilai N, didapat dari jumlah tumbukan yang diperlukan untuk penetrasi 2 ×
15 cm terakhir.

Gambar 2-3 Split spoon sampler

2.2.4 DCPT (Dutch Cone Penetration Test)/Sondir


Prosedur pelaksanaan Dutch Cone Penetration Test (DCPT) dilakukan berdasarkan standar
ASTM D 3441-86, “Method for Deep Quasi-Static, Cone and Friction Cone Penetration Tests of
Soil”. Nilai tahanan ujung konus, qc, dan friksi lokal atau friksi selimut, fs, diukur untuk setiap
interval 20 cm.

2.3 METODOLOGI PENYELIDIKAN TANAH DI LABORATORIUM

Uji laboratorium yang akan dilaksanakan terhadap sampel tanah asli (UDS) adalah :
- Pengujian Kadar Air Tanah (Moisture Content)
- Pengujian Berat Volume Tanah
- Pengujian Berat Jenis Tanah
- Pengujian Analisa Saringan
- Pengujian Konsistensi Atterberg
- Pengujian Geser Langsung (Direct Shear)

Page | 6
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

Metoda pelaksanaan uji laboratorium mengikuti standar-standar berikut ini:

2.3.1 Water Content / Moisture Content


Moisture content, w, didefinisikan sebagai perbandingan antara berat air di dalam contoh
tanah dengan berat partikel solid. Contoh basah mula-mula ditimbang, kemudian dikeringkan di
dalam oven pada suhu 230° F (110° C) hingga mencapai berat konstan. Berat contoh
setelah dikeringkan adalah berat partikel solid. Perubahan berat yang terjadi selama proses
pengeringan setara dengan berat air. Untuk tanah organik, terkadang disarankan untuk
menurunkan suhu pengeringan hingga mencapai 140° F (60° C).
Test dilakukan mengacu pada ASTM D 2216-92, ”Test Method for Laboratory Determination
of Water (Moisture) Content of Soil and Rock”. Moisture content diperlukan untuk
menentukan properties tanah dan dapat dikorelasikan dengan parameter-parameter lainnya.

2.3.2 Specific Gravity


Specific gravity dari tanah, Gs, didefinisikan sebagai perbandingan massa volume partikel
tanah di udara dengan massa volume yang sebanding dengan gas free distilled water di udara
pada suhu kamar (umumnya 68° F {20° C}). Specific gravity ditentukan berdasarkan jumlah dari
pycnometer yang sudah dikalibrasi, dimana massa dan suhu dari contoh tanah deaerasi/air
distilasi diukur.
Test dilakukan berdasarkan ASTM D 854-92, ”Standard Test Method for Specific Gravity of
Soils”. Metoda ini digunakan pada contoh tanah dengan komposisi ukuran partikel lebih kecil
daripada saringan No. 4 (4.75 mm). Untuk partikel dengan ukuran lebih besar dari saringan
tersebut, prosedur pelaksanaan mengacu pada ”Test Method Specific Gravity and Absorption
of Coarse Aggregate (ASTM C 127-88)”. Specific gravity dari tanah diperlukan untuk
menentukan hubungan antara berat dan volume tanah, dan digunakan untuk perhitungan test
laboratorium lainnya.

2.3.3 Analisis Saringan


Tanah yang mengandung butiran kasar dan butiran halus di uji secara berurutan. Material
dengan ukuran lebih kecil dari saringan No. 200 (0.075 mm atau lebih kecil) dianalisis dengan
menggunakan hidrometer.
Analisis saringan memberikan pengukuran secara langsung terhadap distribusi ukuran partikel
tanah dengan cara melewatkan contoh pada sejumlah wire screens, dari ukuran yang terbesar
hingga terkecil. Jumlah material yang tertahan di tiap-tiap saringan kemudian ditimbang.
Prosedur pelaksanaan pengujian ini mengacu pada ASTM C 136-95a, ”Method for Sieve
Analysis of Fine and Coarse Aggregates”.
Hasil analisis dicatat dalam combined grain size distribution plot sebagai persentase contoh
yang lebih kecil beratnya versus log diameter partikel. Data ini diperlukan di dalam klasifikasi
tanah. Kurva tersebut juga dapat menunjukkan parameter-parameter lainnya, seperti diameter
efektif (D10) dan koefisien uniformity (Cu). Test dilakukan berdasarkan ASTM D 422-63
”Method for Particle Size Analysis of Soils.

2.3.4 Atterberg’s Limit


Liquid limit dilakukan dengan cara meletakkan pasta tanah dalam mangkuk kuningan
kemudian digores tepat ditengahnya dengan alat penggores standar. Dengan menjalankan alat
pemutar, mangkuk kemudian dinaikturunkan dari ketinggian 0.4 inci (10 mm) dengan
kecepatan 2 drop/detik. Liquid limit dinyatakan sebagai moisture content dari tanah yang
Page | 7
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

dibutuhkan untuk menutup goresan yang berjarak 0.5 inci (13 mm) sepanjang dasar contoh tanah
dalam mangkuk sesudah 25 pukulan. Pengujian dilakukan menurut ASTM D 4318.
Plastic limit ditentukan dengan mengetahui secara pasti moisture content terkecil, dimana
material dapat digulung hingga diameter 0.125 inches (3.2 mm) tanpa mengalami keretakan.
Pengujian dilakukan sesuai dengan ASTM D 4318-95, ”Test Method for Liquid Limit, Plastic
Limit and Plasticity Index of Soils”.

2.3.5 Geser Langsung (Direct Shear)


Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan kohesi (c) dan sudut geser tanah (θ).
Peralatan pengujian meliputi kotak geser dari besi, yang berfungsi sebagai tempat benda uji.
Kotak geser tempat benda uji dapat berbentuk bujur sangkar maupun lingkaran, dengan luas
kira-kira 19,35 cm2 sampai 25,8 cm2 dengan tinggi 2,54 cm (1”). Kotak terpisah menjadi 2
bagian yang sama. Tegangan normal pada benda uji diberikan di atas kotak geser. Gaya geser
diterapkan pada setengah bagian atas dari kotak geser, untuk memberikan geseran pada tengah-
tengah benda ujinya.

Page | 8
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

Bab 3 ANALISIS GEOTEKNIK

3.1 KLASIFIKASI TANAH


Dengan menggunakan nilai N-SPT dapat ditentukan konsistensi dari lapisan tanah lempung dan
pasir seperti yang terlihat pada Tabel 3-1. Sedangkan untuk menentukan besarnya sudut geser
dalam berdasarkan nilai N-SPT pada tanah pasir dapat digunakan Tabel 3-2.

Tabel 3-1 Klasifikasi Tanah Lempung Berdasarkan N-SPT


(After Bowles, 1988)

Tabel 3-2 Klasifikasi Tanah Pasir Berdasarkan N-SPT


(After Bowles, 1988)

Page | 9
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

3.2 PROFIL LAPISAN TANAH


Lapisan tanah di lokasi DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu secara umum
berupa lapisan tanah lempung pasiran halus hingga kasar, berwarna putih hingga lapisan batuan
karang padat putih dan sangat keras. Simplifikasi lapisan tanah yang dijumpai di lokasi DED
Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu ini dapat dilihat pada lampiran boring log.

3.3 PARAMETER TANAH


3.3.1 Hasil Uji Laboratorium
Pengujian parameter tanah di laboratorium dilakukan pada sampel tanah terganggu (tidak dapat
dilakukan pengambilan sampel tanah asli) yang diambil pada kedalaman 14,5 – 15,0 meter.

Berdasarkan pemeriksaan sampel di laboratorium, rekapitulasi hasil pemeriksaan sebagai berikut :

Tabel 3.3. Rangkuman Hasil Uji Indeks Properties Tanah di Laboratorium


No. Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan
PPemeriPemeriPemeriksaanP
Sampel Deep Boring
1. Kadar Air Tanah (%) 21,15
2. Berat Isi Tanah basah (gram/cm3) 1,54
3
3. Berat Isi Tanah Kering (gram/cm ) 1,28
4. Batas Cair Tanah 39,1
5. Batas Plastis Tanah 37,2
6. Kohesi (C) (kg/cm2) 0,056
7. Sudut Geser (θ) 24,79690
8. Berat Jenis Tanah 2,54

3.3.2 Korelasi Parameter Tanah


Parameter tanah ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan tanah. Pada kondisi dimana tidak
terdapat hasil pengujian tanah atau properti tanah sulit diukur secara langsung, parameter
tanah ditentukan berdasarkan engineering judgment maupun korelasi terhadap properti tanah.
Korelasi properti tanah disajikan dalam Gambar 3-1 dan Gambar 3-2.

Gambar 3-1 Korelasi Antara Nilai N-SPT Dengan Kuat Geser Undrained
(Terzaghi & Peck, 1967)

Page | 10
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

Gambar 3-2 Korelasi Antara Nilai N-SPT Dengan Sudut Geser Dalam (Terzaghi)

3.4 ANALISIS PENURUNAN (STETTLEMENT)


Settlement dari suatu lapisan tanah yang dibebani dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu :
immediate/elastic settlement dan consolidation settlement.
Elastic settlement dari tanah terjadi sewaktu atau setelah masa konstruksi suatu struktur,
sedangkan Consolidation settlement merupakan settlement yang bergantung pada waktu dan
terjadi sebagai hasil dari pengaliran air pori dari rongga yang berada pada tanah lempung jenuh
(saturated clayey soils). Pengaliran air pori dari rongga terjadi saat tanah lempung jenuh dikenai
beban tambahan. Analisis penurunan dilakukan pada immediate settlement berdasarkan data
pengujian N-SPT.
Hasil penyelidikan lapangan dari uji SPT (standard penetration test) yang dilakukan oleh Meyerhof
(1965) untuk tanah pasir memberikan hubungan persamaan sebagai berikut :
Si = untuk B ≤ 1,2 meter
dan
Si = ( ) untuk B ≥ 1,2 meter
Dimana :
Si = Penurunan segera dalam inci (1 inci = 2,54 cm)
q = Intensitas beban yang diterapkan dalam kip/ft2 (1kip/ft2= 0,49 kg/cm2)
B = Lebar fondasi dalam ft (1 ft = 30,48 cm)
N = Jumlah Pukulan pada Uji SPT

3.4.1 Hasil Analisis Penurunan Segera (Immediate Settlement) dengan data SPT
Berdasarkan data tanah hasil Uji SPT di lokasi DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec.
Kulisusu, dengan menggunakan pendekatan formula Meyerhoff untuk intensitas beban (q) yang
diterapkan sebesar 2 kip/ft2 , maka dapat diketahui nilai immediate settlement seperti tabel di
bawah ini.

Page | 11
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

Tabel 3.5. Rangkuman Hasil Analisa Immediate Settlement pada Pondasi

Nilai Intensitas Immediate Settlement


Titik Bor Kedalaman SPT Beban (q) Formula Meyerhoff (Inch)
2
(m) (N) (kip/ft ) B=1 Meter B=2 Meter B=3 Meter
1,55 8 2 1,00 0,22 0,34
3,00 23 2 0,35 0,07 0,12
4,55 8 2 1,00 0,22 0,34
6,00 12 2 0,67 0,14 0,23
7,55 28 2 0,29 0,06 0,10
Deep Boring 01 9,00 33 2 0,24 0,05 0,08
10,55 31 2 0,26 0,06 0,09
12,00 41 2 0,20 0,04 0,07
13,55 18 2 0,44 0,10 0,15
15,00 31 2 0,26 0,06 0,09
16,55 60 2 0,13 0,03 0,05
18,00 60 2 0,13 0,03 0,05
19,55 60 2 0,13 0,03 0,05
21,00 60 2 0,13 0,03 0,05
22,55 60 2 0,13 0,03 0,05

Page | 12
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

Bab 4 HASIL DAN ANALISIS DAYA DUKUNG


PONDASI

4.1. Analisis Daya Dukung Tanah Berdasarkan Data N-SPT

4.1.1 Hasil Uji Standard Penetration Test (SPT)


Pengujian SPT telah dilakukan sebanyak 2 titik. Bor titik 01 (BM.01) dan Bor titik 02 (BM.02)
dilaksanakan hingga kedalaman 24 meter dan 22 meter, lapisan tanah dengan nilai SPT > 60 telah
ditemukan pada kedalaman antara 18,5 meter dan 22,5 meter . Hingga kedalaman titik bor 24
meter nilai SPT tidak mengalami penurunan bahkan lapisan tanah cenderung semakin keras. Nilai
N-SPT yang diperoleh dari hasil pengujian adalah sebagai berikut :

Tabel : 4.1. Nilai N SPT hasil pengujian lapangan pada titik Bor 01

Kedalaman
N
(meter)
1,55 8,00
3,00 23,00
4,55 8,00
6,00 12,00
7,55 28,00
9,00 33,00
10,55 31,00
12,00 41,00
13,55 18,00
15,00 31,00
16,55 60,00
18,00 60,00
19,55 60,00
21,00 60,00
22,55 60,00

Page | 13
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

4.1.2 Kapasitas Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang

Pondasi Tiang Pancang biasa digunakan untuk memastikan suatu bangunan berada dalam kondisi
aman dan di lokasi yang lapisan tanah kerasnya berada pada lapisan tanah dalam. Situasi yang
memerlukan Tiang Pancang sebagai sistem pondasi adalah sebagai berikut :
- Lapisan tanah keras pada lokasi pekerjaan berada pada lapisan tanah yang dalam.
- Struktur atas menerima gaya horizontal.
- Struktur atas menerima gaya uplift.

Pondasi Tiang Pancang menahan beban kompresi melalui tahanan selimut dan tahanan ujung,
beban uplift ditahan melalui tahanan selimut dan beban lateral ditahan oleh kekakuan tiang dan
tanah disekelilingnya. Perhitungan kapasitas daya dukung pondasi dilakukan dengan
meninjau beberapa kondisi sebagai berikut:
1. Kapasitas daya dukung tiang Tiang Pancang
- Kapasitas daya dukung aksial Tiang Pancang tunggal
- Kapasitas daya dukung group Tiang Pancang

2. Interaksi tanah dan group pile

Gambar 4-1 Ruang Lingkup Perhitungan Pondasi

Page | 14
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

4.1.3 Kapasitas Daya Dukung Aksial Tiang Pancang Tunggal

Secara umum, kapasitas daya dukung ultimate aksial dari pondasi Tiang Pancang, dapat
diperoleh dengan menjumlahkan kapasitas daya dukung ujung dan tahanan geser selimut tiang.
Kapasitas daya dukung tersebut dapat ditulis seperti terlihat pada persamaan dibawah ini.

Qu = Qp + Qs
dimana:
Qu = kapasitas daya dukung ultimate
Qp = kapasitas daya dukung ujung ultimate
Qs = tahanan geser selimut tiang ultimate

Qs

Qp
Gambar 4-2 Daya Dukung Aksial Pondasi Tiang Pancang

4.1.4 Tahanan Geser Selimut Tiang Pancang


Secara umum, kontribusi kohesi tanah untuk tahanan geser selimut tiang ultimate dapat
diperoleh dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

Dimana,
α = faktor adhesi
cu-i = kohesi tanah undrained pada lapisan ke-i
li = panjang tiang pada lapisan ke-i
p = keliling tiang

Page | 15
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

Besarnya nilai faktor adhesi, α, dapat ditentukan dengan menggunakan metoda dari API
sebagai berikut :

Gambar 4-3 Faktor Adhesi API Method 2 (1986)

4.1.5 Tahanan Ujung Pondasi Tiang Pancang

Secara umum, kapasitas daya dukung ujung pondasi Tiang Pancang dapat dihitung berdasarkan
persamaan sebagai berikut :

Qp = 40 Nb.Ap

Dimana,

Nb = Nilai N-SPT
Ap = Luas Penampang dasar tiang

4.1.6 Kapasitas Tarik Tiang Pancang

Desain Tiang Pancang terhadap beban tarik sangat penting untuk struktur yang mengalami
beban seismik. Pada beberapa kondisi, kapasitas tarik tiang menentukan kedalaman
penetrasi minimum yang diperlukan.
Menurut Nicola dan Randolph (1993), pada tanah kohesif berbutir halus (fine grained), dimana
pembebanan diasumsikan terjadi pada kondisi undrained, tahanan sisi tiang pada kondisi tekan
dihitung sama dengan kondisi tarik. Sedangkan pada tanah non-kohesif atau tanah teralirkan
bebas (free-draining), Nicola dan Randolph (1993) menyatakan bahwa tahanan sisi biasanya
dihitung 70% dari tahanan sisi untuk kondisi tekan. Karena tanah dasar pada lokasi proyek
terdiri dari tanah kohesif dan non kohesif, tahanan sisi untuk kondisi tarik dihitung 70% dari
tahanan sisi untuk kondisi tekan.

Page | 16
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

4.2 KAPASITAS DAYA DUKUNG IJIN TIANG PANCANG

Dalam analisis dengan metoda statik, beban desain dari Tiang Pancang dengan panjang yang
diketahui, secara umum telah diperhitungkan dengan cara membagi daya dukung ultimate pada
lapisan tanah pendukung atau :

Qall =

Dimana,
Qall = Daya dukung ijin pile
Qu = Daya dukung ultimate
SF = Angka keamanan

Kisaran angka keamanan terutama tergantung pada reliabilitas dari metoda analisis statik
tertentu dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
• Faktor ketidakpastian data tanah yang ada.
• Variasi dari lapisan tanah.
• Efek dan konsistensi dari metoda instalasi tiang yang diusulkan.
• Tingkat pengawasan konstruksi.
Pada umumnya, angka keamanan yang sering digunakan berkisar antara 2 - 4 untuk kondisi
operasional atau untuk beban yang bekerja selama operasi.
Menurut Tomlinson (1977), penentuan kapasitas ijin dari tiang adalah seperti ditunjukkan pada
persamaan berikut :

Kapasitas Ijin Tiang =


,

Canadian Foundation Engineering Manual dan AASHTO 1992 menyarankan penggunaan angka
keamanan sebesar 2.5 untuk kapasitas tiang.
Selain harus mampu menahan beban yang bekerja pada kondisi operasional maka pondasi tiang
juga harus mampu menahan beban yang bekerja pada kondisi gempa. Untuk itu, pondasi harus
mampu mengantisipasi momen dan gaya cabut yang terjadi akibat kondisi gempa. Kapasitas
tekan pondasi tiang terhadap beban gempa (temporary load) dimana beban gempa didasarkan
pada Peraturan Gempa baru (2003) yang berlaku adalah 1.3 lebih besar daripada kapasitas ijin
untuk kondisi operasi.
Berdasarkan hal tersebut, untuk memenuhi persyaratan angka keamanan dalam seluruh desain
pondasi tiang pada DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu - Kab. Buton Utara
ini, diambil angka keamanan sebagai berikut:
o Angka keamanan tekan pondasi tiang pada kondisi operasi = 2.0
o Kapasitas ijin tekan saat kondisi gempa adalah 1,3 x kapasitas ijin untuk
kondisi operasi, atau SF = 1.6
o Angka keamanan tarik pondasi tiang =2.5

Page | 17
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

4.3 HASIL ANALISIS DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG

Pada analisis daya dukung pondasi Tiang Pancang, digunakan pile dengan diameter 0.40 m, 0.45
m, 0.50 m dan 0.60 m. Rangkuman hasil perhitungan pondasi Tiang Pancang dapat dilihat pada
table di bawah ini. Perhitungan pondasi tiang secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran.

Tabel 4.3. Rangkuman hasil perhitungan kapasitas ijin pondasi Tiang Pancang pada
kedalaman 30 meter.
Kapasitas Ijin Tiang (Qall)
Ref. Properti Pile
(KN)
Boring
Diameter Kedalaman
No. Jenis Pile Compression Pull Out
(m) (m)
0,40 22,55 1832,8 969,1
Deep Tiang 0,45 22,55 2083,0 1094,1
Boring 01 Pancang 0,50 22,55 2338,0 1219,9
0,60 22,55 2862,2 1474,1

Page | 18
Laporan Akhir Penyelidikan Tanah dan Analisis Geoteknik
DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu

Bab 5 KESIMPULAN

Hasil penyelidikan lapangan dan test laboratorium di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Lapisan tanah pada lokasi DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu, Kab.
Buton Utara pada umumnya adalah sebagai berikut :
- Lapisan tanah di lokasi DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu secara
umum berupa lapisan tanah lempung pasiran halus hingga kasar, berwarna putih hingga
lapisan batuan karang padat putih dan sangat keras. Simplifikasi lapisan tanah yang
dijumpai di lokasi DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu ini dapat dilihat
pada lampiran boring log.
2. Untuk Bor Titik 01, Lapisan tanah dengan nilai SPT > 60 telah ditemukan pada kedalaman 17,0
meter dan selanjutnya hingga kedalaman titik bor 23,45 meter, nilai SPT tidak mengalami
penurunan bahkan lapisan tanah cenderung semakin keras.
3. Sondir titik 01, Lapisan Tanah Keras dengan nilai konus > 150 kg/cm2 ditemukan pada
kedalaman 2,00 meter dari permukaan tanah saat pelaksanaan sondir.
4. Sondir titik 02, Lapisan Tanah Keras dengan nilai konus > 150 kg/cm2 ditemukan pada
kedalaman 2,00 meter dari permukaan tanah saat pelaksanaan sondir.
5. Dapat dipertimbangkan penggunaan pondasi Tiang Pancang dengan kedalaman pondasi yang
disesuaikan dengan beban struktur bangunan atau hingga mencapai lapisan tanah keras.

Page | 19
LAMPIRAN A

PERHITUNGAN ANALISA PONDASI BORED


PILE BERDASARKAN DATA N-SPT
Project : DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu
Ref. : DEEP BORING 01 (BH. 01)

Pile Properties
Type : TIANG PANCANG Calc. Method : Based on N-SPT
Diameter : 0,6 m Cu = 6 * N-SPT
Perimeter : 1,884 m Compression
Areapile : 0,2826 m
2
Skin Friction (Qs) = α*Cu*perimeter*l
Unit Weight : 24 kN End Bearing (Qp) = 40*Nb*Areapile
N-SPT interval : 1,5 m Ultimate (Qu) = Qs + Q p
Qall = Qu/2

Pull Out
Skin Friction (Qs) = 0,7*Qs (compression)
Pile Weight (Wp) = Areapile * Unit weight
of pile * l
Ultimate (Qpu) = Qs + Wp
Qall = Qu/2,5

Depth Soil Properties Compression Capacity (KN) Pull Out Capacity (kN)
(m) Layer N-SPT Cu α Friction (Qs) Friction (Qs)*
Qp Qu Qall Wp Qpu Qall
(kN/m2) Local Cumm Local Cumm
0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
1,55 8 48,0 1 135,6 135,6 90,4 226,1 113,0 95,0 95,0 10,5 105,5 42,2
3,00 23 138,0 1 390,0 525,6 260,0 785,6 392,8 273,0 367,9 20,3 388,3 155,3
4,55 8 48,0 1 135,6 661,3 90,4 751,7 375,9 95,0 462,9 30,9 493,8 197,5
6,00 12 72,0 1 203,5 864,8 135,6 1000,4 500,2 142,4 605,3 40,7 646,0 258,4
7,55 28 168,0 0,7 332,3 1197,1 316,5 1513,6 756,8 232,6 838,0 51,2 889,2 355,7
9,00 33 198,0 0,5 279,8 1476,9 373,0 1849,9 924,9 195,8 1033,8 61,0 1094,8 437,9
10,55 31 186,0 0,5 262,8 1739,7 350,4 2090,1 1045,1 184,0 1217,8 71,6 1289,3 515,7
12,00 41 246,0 0,5 347,6 2087,3 463,5 2550,7 1275,4 243,3 1461,1 81,4 1542,5 617,0
13,55 18 108,0 0,5 152,6 2239,9 203,5 2443,4 1221,7 106,8 1567,9 91,9 1659,8 663,9
15,00 31 186,0 0,5 262,8 2502,7 350,4 2853,1 1426,6 184,0 1751,9 101,7 1853,6 741,5
16,55 60 360,0 0,5 508,7 3011,4 678,2 3689,6 1844,8 356,1 2108,0 112,2 2220,2 888,1
18,00 60 360,0 0,5 508,7 3520,1 678,2 4198,3 2099,2 356,1 2464,0 122,1 2586,1 1034,5
19,55 60 360,0 0,5 508,7 4028,7 678,2 4707,0 2353,5 356,1 2820,1 132,6 2952,7 1181,1
21,00 60 360,0 0,5 508,7 4537,4 678,2 5215,7 2607,8 356,1 3176,2 142,4 3318,6 1327,5
22,55 60 360,0 0,5 508,7 5046,1 678,2 5724,3 2862,2 356,1 3532,3 152,9 3685,2 1474,1
Project : DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu
Ref. : DEEP BORING 01 (BH. 01)

Pile Properties
Type : TIANG PANCANG Calc. Method : Based on N-SPT
Diameter : 0,5 m Cu = 6 * N-SPT
Perimeter : 1,57 m Compression
Areapile : 0,1963 m
2
Skin Friction (Qs) = α*Cu*perimeter*l
Unit Weight : 24 kN End Bearing (Qp) = 40*Nb*Areapile
N-SPT interval : 1,5 m Ultimate (Qu) = Qs + Qp
Qall = Qu/2

Pull Out
Skin Friction (Qs) = 0,7*Qs (compression)
Pile Weight (Wp) = Areapile * Unit weight
of pile * l
Ultimate (Qpu) = Qs + Wp
Qall = Qu/2,5

Depth Soil Properties Compression Capacity (KN) Pull Out Capacity (kN)
(m) Layer N-SPT Cu α Friction (Qs) Friction (Qs)*
Qp Qu Qall Wp Qpu Qall
(kN/m2) Local Cumm Local Cumm
0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
1,55 8 48,0 1 113,0 113,0 62,8 175,8 87,9 79,1 79,1 7,3 86,4 34,6
3,00 23 138,0 1 325,0 438,0 180,6 618,6 309,3 227,5 306,6 14,1 320,8 128,3
4,55 8 48,0 1 113,0 551,1 62,8 613,9 306,9 79,1 385,7 21,4 407,2 162,9
6,00 12 72,0 1 169,6 720,6 94,2 814,8 407,4 118,7 504,4 28,3 532,7 213,1
7,55 28 168,0 0,7 276,9 997,6 219,8 1217,4 608,7 193,9 698,3 35,6 733,9 293,5
9,00 33 198,0 0,5 233,1 1230,7 259,1 1489,8 744,9 163,2 861,5 42,4 903,9 361,6
10,55 31 186,0 0,5 219,0 1449,7 243,4 1693,1 846,5 153,3 1014,8 49,7 1064,5 425,8
12,00 41 246,0 0,5 289,7 1739,4 321,9 2061,3 1030,6 202,8 1217,6 56,5 1274,1 509,6
13,55 18 108,0 0,5 127,2 1866,6 141,3 2007,9 1003,9 89,0 1306,6 63,8 1370,4 548,2
15,00 31 186,0 0,5 219,0 2085,6 243,4 2328,9 1164,5 153,3 1459,9 70,7 1530,6 612,2
16,55 60 360,0 0,5 423,9 2509,5 471,0 2980,5 1490,2 296,7 1756,6 78,0 1834,6 733,8
18,00 60 360,0 0,5 423,9 2933,4 471,0 3404,4 1702,2 296,7 2053,4 84,8 2138,2 855,3
19,55 60 360,0 0,5 423,9 3357,3 471,0 3828,3 1914,1 296,7 2350,1 92,1 2442,2 976,9
21,00 60 360,0 0,5 423,9 3781,2 471,0 4252,2 2126,1 296,7 2646,8 98,9 2745,7 1098,3
22,55 60 360,0 0,5 423,9 4205,1 471,0 4676,1 2338,0 296,7 2943,6 106,2 3049,8 1219,9
Project : DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu
Ref. : DEEP BORING 01 (BH. 01)

Pile Properties
Type : TIANG PANCANG Calc. Method : Based on N-SPT
Diameter : 0,45 m Cu = 6 * N-SPT
Perimeter : 1,413 m Compression
Areapile : 0,159 m
2
Skin Friction (Qs) = α*Cu*perimeter*l
Unit Weight : 24 kN End Bearing (Qp) = 40*Nb*Areapile
N-SPT interval : 1,5 m Ultimate (Qu) = Qs + Qp
Qall = Qu/2

Pull Out
Skin Friction (Qs) = 0,7*Qs (compression)
Pile Weight (Wp) = Areapile * Unit weight
of pile * l
Ultimate (Qpu) = Qs + Wp
Qall = Qu/2,5

Depth Soil Properties Compression Capacity (KN) Pull Out Capacity (kN)
(m) Layer N-SPT Cu α Friction (Qs) Friction (Qs)*
Qp Qu Qall Wp Qpu Qall
(kN/m2) Local Cumm Local Cumm
0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
1,55 8 48,0 1 101,7 101,7 50,9 152,6 76,3 71,2 71,2 5,9 77,1 30,9
3,00 23 138,0 1 292,5 394,2 146,2 540,5 270,2 204,7 276,0 11,4 287,4 115,0
4,55 8 48,0 1 101,7 496,0 50,9 546,8 273,4 71,2 347,2 17,4 364,5 145,8
6,00 12 72,0 1 152,6 648,6 76,3 724,9 362,4 106,8 454,0 22,9 476,9 190,8
7,55 28 168,0 0,7 249,3 897,8 178,0 1075,9 537,9 174,5 628,5 28,8 657,3 262,9
9,00 33 198,0 0,5 209,8 1107,7 209,8 1317,5 658,7 146,9 775,4 34,3 809,7 323,9
10,55 31 186,0 0,5 197,1 1304,8 197,1 1501,9 750,9 138,0 913,3 40,2 953,6 381,4
12,00 41 246,0 0,5 260,7 1565,5 260,7 1826,2 913,1 182,5 1095,8 45,8 1141,6 456,6
13,55 18 108,0 0,5 114,5 1679,9 114,5 1794,4 897,2 80,1 1175,9 51,7 1227,6 491,1
15,00 31 186,0 0,5 197,1 1877,0 197,1 2074,1 1037,1 138,0 1313,9 57,2 1371,1 548,5
16,55 60 360,0 0,5 381,5 2258,5 381,5 2640,0 1320,0 267,1 1581,0 63,1 1644,1 657,6
18,00 60 360,0 0,5 381,5 2640,0 381,5 3021,6 1510,8 267,1 1848,0 68,7 1916,7 766,7
19,55 60 360,0 0,5 381,5 3021,6 381,5 3403,1 1701,5 267,1 2115,1 74,6 2189,7 875,9
21,00 60 360,0 0,5 381,5 3403,1 381,5 3784,6 1892,3 267,1 2382,1 80,1 2462,3 984,9
22,55 60 360,0 0,5 381,5 3784,6 381,5 4166,1 2083,0 267,1 2649,2 86,0 2735,2 1094,1
Project : DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu
Ref. : DEEP BORING 01 (BH. 01)

Pile Properties
Type : TIANG PANCANG Calc. Method : Based on N-SPT
Diameter : 0,4 m Cu = 6 * N-SPT
Perimeter : 1,256 m Compression
Areapile : 0,1256 m
2
Skin Friction (Qs) = α*Cu*perimeter*l
Unit Weight : 24 kN End Bearing (Qp) = 40*Nb*Areapile
N-SPT interval : 1,5 m Ultimate (Qu) = Qs + Qp
Qall = Qu/2

Pull Out
Skin Friction (Qs) = 0,7*Qs (compression)
Pile Weight (Wp) = Areapile * Unit weight
of pile * l
Ultimate (Qpu) = Qs + Wp
Qall = Qu/2,5

Depth Soil Properties Compression Capacity (KN) Pull Out Capacity (kN)
(m) Layer N-SPT Cu α Friction (Qs) Friction (Qs)*
Qp Qu Qall Wp Qpu Qall
(kN/m2) Local Cumm Local Cumm
0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
1,55 8 48,0 1 90,4 90,4 40,2 130,6 65,3 63,3 63,3 4,7 68,0 27,2
3,00 23 138,0 1 260,0 350,4 115,6 466,0 233,0 182,0 245,3 9,0 254,3 101,7
4,55 8 48,0 1 90,4 440,9 40,2 481,0 240,5 63,3 308,6 13,7 322,3 128,9
6,00 12 72,0 1 135,6 576,5 60,3 636,8 318,4 95,0 403,6 18,1 421,6 168,7
7,55 28 168,0 0,7 221,6 798,1 140,7 938,7 469,4 155,1 558,6 22,8 581,4 232,6
9,00 33 198,0 0,5 186,5 984,6 165,8 1150,4 575,2 130,6 689,2 27,1 716,3 286,5
10,55 31 186,0 0,5 175,2 1159,8 155,7 1315,5 657,8 122,6 811,9 31,8 843,7 337,5
12,00 41 246,0 0,5 231,7 1391,5 206,0 1597,5 798,8 162,2 974,1 36,2 1010,2 404,1
13,55 18 108,0 0,5 101,7 1493,3 90,4 1583,7 791,8 71,2 1045,3 40,8 1086,1 434,5
15,00 31 186,0 0,5 175,2 1668,5 155,7 1824,2 912,1 122,6 1167,9 45,2 1213,1 485,3
16,55 60 360,0 0,5 339,1 2007,6 301,4 2309,0 1154,5 237,4 1405,3 49,9 1455,2 582,1
18,00 60 360,0 0,5 339,1 2346,7 301,4 2648,2 1324,1 237,4 1642,7 54,3 1697,0 678,8
19,55 60 360,0 0,5 339,1 2685,8 301,4 2987,3 1493,6 237,4 1880,1 58,9 1939,0 775,6
21,00 60 360,0 0,5 339,1 3025,0 301,4 3326,4 1663,2 237,4 2117,5 63,3 2180,8 872,3
22,55 60 360,0 0,5 339,1 3364,1 301,4 3665,5 1832,8 237,4 2354,8 68,0 2422,8 969,1
LAMPIRAN B

DATA HASIL PENGUJIAN SONDIR, DEEP


BORING DAN SPT
GEOLOGIC DRILLING LOG N: M, E: M ZLWS = m

Project : DED Dermaga Perikanan Mina-Minanga Kec. Kulisusu Drill Diam : 73 mm


Location : Kec. Kulisusu Kab. Buton Utara Machine : YBM
Date : 26 Oktober 2016 - 29 Oktober 2016 Drilling by : AEP BH.01
Total Depth : 23,45 m Supervisor : WAYAN M.
SWL : -3,50 m :
GWL (M)

CASING
SAMPLING SPT

CORE RECOVERY(%)
N VALUE (BLOWS/30 Cm)

RELATIVE DENSITY
SYMBOLIC LOG
ELEVATION (M)

CONSISTENCY
SOIL and/or ROCK DESCRIPTION

CASING 0D

DEPTH (M)
SOIL TYPE
DEPTH (M)

Engineering Suggestion
DRILLING

N VALUE
0 10 20 30 40 50 60
BEFORE
DATE

N1 N2 N3

R.Q.D

TYPE
0.00
89
1,00
1,55 2 4 4
8
2,00 2,00 15 15 15
agak kenyal hingga sangat kenyal, putih,
3,00 Lempung pasiran kulit kerang, 3,00 8 10 13
Plastisitas rendah
23
3,45 15 15 15
4,00
4,55 2 3 5
8
5,00 5,00 15 15 15

6,00 6,00 3 5 7
12
6,45 15 15 15
7,00
7,55 8 11 17
28
8,00 Sangat kenyal, putih kecoklatan, 8,00 15 15 15
Lempung pasiran halus krikilan,
9,00 Plastisitas rendah. 9,00 10 14 19
33
9,45 15 15 15
10,00
10,55 10 15 16
31
11,00 11,00 15 15 15

12,00 12,00 10 15 26
41
Sangat kenyal hingga keras, putih keabu-abuan, 12,45 15 15 15
13,00 Lempung pasiran kasar, Plastisitas rendah.
13,55 8 12 6
18
14,00 14,00 15 15 15

15,00 15,00 11 13 18
31
15,45 15 15 15
16,00 Sangat kenyal hingga keras, putih keabu-abuan,
Lempung pasiran kasar, Plastisitas rendah. 16,55 10 19 49
>60
17,00 17,00 15 15 15

18,00 18,00 12 26 60
>60
18,45 15 15 15
19,00
19,55 60
>60
20,00 20,00 10
Keras, putih, batuan karang, Non plastis
21,00 21,00 60
>60
21,45 12
22,00
22,55 60
>60
23,00 23,00 11

24,00

25,00

26,00

27,00

28,00

29,00

30,00

REMARK : Spilt barrel-Core Sample Standar Penetration Test UDS for Laboratory Test
DS for Laboratory Test FIG : B - 4A
Data Input:
DATA PROYEK:
Grafik: LAMPIRAN : 1
HAL.: 1-1
PEK : DED DERMAGA PERIKANAN MINA-MINANGA KEC. KULISUSU
ELEV. MUKA AIR TANAH : -0,00 M (DARI MUKA TANAH SAAT SOIL TEST)
ELEV. MUKA TANAH : -5,00 M (DARI ELEVASI TANGGUL)
TANGGAL : 30 OKTOBER 2016
TITIK SONDIR : S-01 (TITIK 01)

Tabel: LAMPIRAN : 2
HAL. : 2 -1 - 1 & 2 - 1 - 2
LOKASI : KEC. KULISUSU KAB. BUTON UTARA

INPUT PEMBACAAN SONDIR:


Hambatan Jumlah
Kedalaman Konis Hambatan
qc qc+f
(m) (kg/cm2) (kg/cm2)
0,0 0,0 0,0
0,2 5,0 9,0
0,4 5,0 12,0
0,6 5,0 12,0
0,8 5,0 12,0
1,0 40,0 45,0
1,2 24,0 32,0
1,4 42,0 46,0
1,6 25,0 35,0
1,8 145,0 155,0
2,0 155,0 165,0
2,2
2,4
2,6
2,8
3,0
3,2
3,4
3,6
3,8
4,0
4,2
4,4
4,6
4,8
5,0
5,2
5,4
5,6
5,8
6,0
6,2
6,4
6,6
6,8
7,0
7,2
7,4
7,6
7,8
8,0
GRAFIK PENGUJIAN SONDIR (DCPT GRAPH)
PEK : DED DERMAGA PERIKANAN MINA-MINANGA KEC. KULISUSU TANGGAL : 30 OKTOBER 2016

ELEV. MUKA AIR TANAH : -0,00 M (DARI MUKA TANAH SAAT SOIL TEST)
TITIK SONDIR : S-01 (TITIK 01)
ELEV. MUKA TANAH : -5,00 M (DARI ELEVASI TANGGUL)

Hambatan Konis, qc (kg/cm2) Fr=fs/qc(%)

0 50 100 150 200 250 0 5 10 15 20


00

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

0 200 400 600 800 1000

Legend : Total Hambatan Pelekat, Tf(kg/cm')

Hambatan Konis, q c (kg/cm2)


Total Hambatan Pelekat, Tf (kg/cm')
LAMPIRAN : 2

TABEL PEMBACAAN SONDIR


PEK : DED DERMAGA PERIKANAN MINA-MINANGA KEC. KULISUSU
TANGGAL : 30 OKTOBER 2016
TITIK SONDIR : S-01 (TITIK 01)
LOKASI : KEC. KULISUSU KAB. BUTON UTARA

Hambatan Jumlah Hambatan Unit Hambatan Nilai Total Hambatan Hambatan


Kedalaman Konis Hambatan Pelekat Pelekat fs Pelekat Rasio
qc qc+f f fs tiap 20 cm Tf Fr=fs/qc
(m) (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm') (kg/cm')
0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,00
0,2 5,0 9,0 4,0 0,4 8,0 8,0 8,00
0,4 5,0 12,0 7,0 0,7 14,0 22,0 14,00
0,6 5,0 12,0 7,0 0,7 14,0 36,0 14,00
0,8 5,0 12,0 7,0 0,7 14,0 50,0 14,00
1,0 40,0 45,0 5,0 0,5 10,0 60,0 1,25
1,2 24,0 32,0 8,0 0,8 16,0 76,0 3,33
1,4 42,0 46,0 4,0 0,4 8,0 84,0 0,95
1,6 25,0 35,0 10,0 1,0 20,0 104,0 4,00
1,8 145,0 155,0 10,0 1,0 20,0 124,0 0,69
2,0 155,0 165,0 10,0 1,0 20,0 144,0 0,65
2,2
2,4
2,6
2,8
3,0
3,2
3,4
3,6
3,8
4,0
4,2
4,4
4,6
4,8
5,0
5,2
5,4
5,6
5,8
6,0
6,2
6,4
6,6
6,8
7,0
7,2
7,4
7,6
7,8
8,0
8,2
8,4
8,6
8,8
9,0
9,2
9,4
9,6
9,8
10,0

Kepala Lab. Mekanika Tanah


Fakultas Teknik UHO

RIDWANSYAH NUHUN, ST.MT.


NIP. 197511032005011001
Data Input:
DATA PROYEK:
Grafik: LAMPIRAN : 1
HAL.: 1-1
PEK : DED DERMAGA PERIKANAN MINA-MINANGA KEC. KULISUSU
ELEV. MUKA AIR TANAH : -0,00 M (DARI MUKA TANAH SAAT SOIL TEST)
ELEV. MUKA TANAH : -5,00 M (DARI ELEVASI TANGGUL)
TANGGAL : 30 OKTOBER 2016
TITIK SONDIR : S-02 (TITIK 02)

Tabel: LAMPIRAN : 2
HAL. : 2 -1 - 1 & 2 - 1 - 2
LOKASI : KEC. KULISUSU KAB. BUTON UTARA

INPUT PEMBACAAN SONDIR:


Hambatan Jumlah
Kedalaman Konis Hambatan
qc qc+f
(m) (kg/cm2) (kg/cm2)
0,0 0,0 0,0
0,2 6,0 8,0
0,4 8,0 9,0
0,6 10,0 12,0
0,8 6,0 8,0
1,0 6,0 9,0
1,2 7,0 9,0
1,4 12,0 18,0
1,6 60,0 70,0
1,8 135,0 145,0
2,0 160,0 170,0
2,2
2,4
2,6
2,8
3,0
3,2
3,4
3,6
3,8
4,0
4,2
4,4
4,6
4,8
5,0
5,2
5,4
5,6
5,8
6,0
6,2
6,4
6,6
6,8
7,0
7,2
7,4
7,6
7,8
8,0
GRAFIK PENGUJIAN SONDIR (DCPT GRAPH)
PEK : DED DERMAGA PERIKANAN MINA-MINANGA KEC. KULISUSU TANGGAL : 30 OKTOBER 2016

ELEV. MUKA AIR TANAH : -0,00 M (DARI MUKA TANAH SAAT SOIL TEST)
TITIK SONDIR : S-02 (TITIK 02)
ELEV. MUKA TANAH : -5,00 M (DARI ELEVASI TANGGUL)

Hambatan Konis, qc (kg/cm2) Fr=fs/qc(%)

0 50 100 150 200 250 0 5 10 15 20


00

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

0 200 400 600 800 1000

Legend : Total Hambatan Pelekat, Tf(kg/cm')

Hambatan Konis, q c (kg/cm2)


Total Hambatan Pelekat, Tf (kg/cm')
LAMPIRAN : 2

TABEL PEMBACAAN SONDIR


PEK : DED DERMAGA PERIKANAN MINA-MINANGA KEC. KULISUSU
TANGGAL : 30 OKTOBER 2016
TITIK SONDIR : S-02 (TITIK 02)
LOKASI : KEC. KULISUSU KAB. BUTON UTARA

Hambatan Jumlah Hambatan Unit Hambatan Nilai Total Hambatan Hambatan


Kedalaman Konis Hambatan Pelekat Pelekat fs Pelekat Rasio
qc qc+f f fs tiap 20 cm Tf Fr=fs/qc
(m) (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm') (kg/cm')
0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,00
0,2 6,0 8,0 2,0 0,2 4,0 4,0 3,33
0,4 8,0 9,0 1,0 0,1 2,0 6,0 1,25
0,6 10,0 12,0 2,0 0,2 4,0 10,0 2,00
0,8 6,0 8,0 2,0 0,2 4,0 14,0 3,33
1,0 6,0 9,0 3,0 0,3 6,0 20,0 5,00
1,2 7,0 9,0 2,0 0,2 4,0 24,0 2,86
1,4 12,0 18,0 6,0 0,6 12,0 36,0 5,00
1,6 60,0 70,0 10,0 1,0 20,0 56,0 1,67
1,8 135,0 145,0 10,0 1,0 20,0 76,0 0,74
2,0 160,0 170,0 10,0 1,0 20,0 96,0 0,63
2,2
2,4
2,6
2,8
3,0
3,2
3,4
3,6
3,8
4,0
4,2
4,4
4,6
4,8
5,0
5,2
5,4
5,6
5,8
6,0
6,2
6,4
6,6
6,8
7,0
7,2
7,4
7,6
7,8
8,0
8,2
8,4
8,6
8,8
9,0
9,2
9,4
9,6
9,8
10,0

Kepala Lab. Mekanika Tanah


Fakultas Teknik UHO

RIDWANSYAH NUHUN, ST.MT.


NIP. 197511032005011001
LAMPIRAN C

DATA HASIL PENGUJIAN SAMPEL


TANAH DI LABORATORIUM
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
VERSITA
NI
U UNIVERSITAS HALUOLEO

S
FAKULTAS TEKNIK
HA
LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
LUOL EO
Kampus Baru Universitas Haluoleo, Gedung Lab. Fakultas Teknik Lt. 01

PEMERIKSAAN KADAR AIR TANAH


Proyek/Pekerjaan : DED DERMAGA PERIKANAN MINA-MINANGA KEC. KULISUSU
Lokasi : KEC. KULISUSU KAB. BUTON UTARA
Titik Boring : BH-01 (DEEP BORING)
Kedalaman : 14,5 M - 15,0 M
Dikerjakan : TEKNISI LABORATORIUM
Diperiksa/Dihitung : TEKNISI LABORATORIUM
Disetujui : KEPALA LAB. MEKANIKA TANAH

PEMERIKSAAN
No. URAIAN
I II

a. Berat Thin Box Kosong Gram 11,00 12,20

b. Berat Thin Box + Sample Sebelum dioven Gram 34,00 35,60

c. Berat Thin Box + Sample Setelah dioven Gram 30,00 31,50

d. Berat Sample sebelum dioven Gram 23,00 23,40

e. Berat Sample setelah dioven Gram 19,00 19,30

f. Kadar Air % 21,05 21,24

g. Kadar Air Rata-rata % 21,15


KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
NI
VERSITA
UNIVERSITAS HALUOLEO
U

S
FAKULTAS TEKNIK
HA
LUOLEO
LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
Kampus Baru Universitas Haluoleo, Gedung Lab. Fakultas Teknik Lt. 01

PEMERIKSAAN BERAT JENIS TANAH

Proyek/Pekerjaan : DED DERMAGA PERIKANAN MINA-MINANGA KEC. KULISUSU


Lokasi : KEC. KULISUSU KAB. BUTON UTARA
Titik Boring : BH-01 (DEEP BORING)
Kedalaman : 14,5 M - 15,0 M
Dikerjakan : TEKNISI LABORATORIUM
Diperiksa/Dihitung : TEKNISI LABORATORIUM
Disetujui : KEPALA LAB. MEKANIKA TANAH

Pemeriksaan
No. Uraian
Sample I Sample II
a Nomor Piknometer I II
b Berat Piknometer (W 1) (gr.) 56,94 56,7
c Berat Piknometer + Contoh (W 2) (gr.) 120 133
d Berat Contoh Tanah (W t = W 2 - W 1) (gr.) 63,06 76,3
e Temperatur / Suhu 250c 250c
f Berat Piknometer + Air + Contoh (W 3) (gr.) 201 208
o
g Berat Piknometer + Air pada t C (W 4) (gr.) 162,8 161,6
h W5 = Wt + W4 225,86 237,9
i Isi Tanah = W 5 - W 3 24,86 29,9
j Berat jenis Tanah = W t / (W 5 - W 3) 2,54 2,55
k Berat jenis Tanah rata-rata 2,54
VERSITA
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
NI
UNIVERSITAS HALUOLEO
U

S
FAKULTAS TEKNIK
HA
LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
LUOLEO
Kampus Baru Universitas Haluoleo, Gedung Lab. Fakultas Teknik Lt. 01

PEMERIKSAAN KONSISTENSI ATTERBERG


Proyek/Pekerjaan : DED DERMAGA PERIKANAN MINA-MINANGA KEC. KULISUSU
Lokasi : KEC. KULISUSU KAB. BUTON UTARA
Titik Boring : BH-01 (DEEP BORING)
Kedalaman : 14,5 M - 15,0 M
Dikerjakan : TEKNISI LABORATORIUM
Diperiksa/Dihitung : TEKNISI LABORATORIUM
Disetujui : KEPALA LAB. MEKANIKA TANAH

BATAS CAIR B. PLASTIS


BANYAKNYA PUKULAN 8 16 26 35
A. Nomor Cawan A B C D E F
B. Berat Cawan 9,800 8,200 8,000 7,800 7,900 11,000
C Berat Cawan + Contoh Basah gr 34,540 32,200 41,200 39,800 21,700 22,300
D. Berat Cawan + Contoh Kering gr 25,650 24,650 31,720 32,000 18,000 19,200
E. Berat Air (E = C - D) gr 8,890 7,550 9,480 7,800 3,700 3,100
F. Berat Contoh Kering (F = D - B) gr 15,850 16,450 23,720 24,200 10,100 8,200
G. Kadar Air G = (E/F) x 100 % % 56,088 45,897 39,966 32,231 36,634 37,805

LL PL PI Catatan :
GRAFIK LIQUID LIMITS (Batas Cair) Contoh dalam keadaan
y = -15,4ln(x) + 88,68 39,1 37,2 1,9 asli / kering udara
55,00 disaring / tidak disaring

50,00
Plasticity Chart
60
Kadar Air (%)

45,00 U-line A-line

50
40,00
CH
Plasticity index PI (%)

40
35,00

30,00
30
MH&OH
1 10 100
20
Jumlah Pukulan CL

10
CL&ML
ML&OL
0
0 50 100
Liquid limit LL (%)
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
V ERSITA
NI
U
UNIVERSITAS HALUOLEO

S
FAKULTAS TEKNIK
HA
LUOLEO
LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
Kampus Baru Universitas Haluoleo, Gedung Lab. Fakultas Teknik Lt. 01

PEMERIKSAAN ANALISA SARINGAN TANAH


Proyek/Pekerjaan : DED DERMAGA PERIKANAN MINA-MINANGA KEC. KULISUSU
Lokasi : KEC. KULISUSU KAB. BUTON UTARA
Titik Boring : BH-01 (DEEP BORING)
Kedalaman : 14,5 M - 15,0 M
Dikerjakan : TEKNISI LABORATORIUM
Diperiksa/Dihitung : TEKNISI LABORATORIUM
Disetujui : KEPALA LAB. MEKANIKA TANAH

NOMOR BERAT Σ B.TERTAHAN PERSENTASE


SARINGAN TERTAHAN TERTAHAN LOLOS
(gram) (gram) (%) (%)
1 1/2" (38,1 mm) 0,0 0,0 0,0 100,0
1" (25,4 mm) 0,0 0,0 0,0 100,0
3/4" (19,1 mm) 0,0 0,0 0,0 100,0
3/8" (9,52 mm) 0,0 0,0 0,0 100,0
No.4 (4,75 mm) 5,5 5,5 1,1 98,9
No.8 (2,36 mm) 35,7 41,2 8,3 91,7
No.16 (1,18 mm) 88,8 130,0 26,0 74,0
No.50 (0,30 mm) 112,3 242,3 48,6 51,4
No.100 (0,15 mm) 167,4 409,7 82,1 17,9
No.200 (0,075 mm) 67,2 476,9 95,6 4,4
PAN 22,1 499,0 100,0 0,0

Grafik Analisa Saringan 9,52; 100,0


25,4; 100,0
100,0 38,1; 100,0
90,0 4,75; 98,9 19,1; 100,0
2,36; 91,7
80,0
Persen Lolos (%)

70,0 1,18; 74,0


60,0
50,0 0,3; 51,4
40,0
30,0
20,0 0,15; 17,9
10,0
0,075; 4,4
0,0
0,01 0,1 1 10

Ukuran Saringan (mm)


KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
VERSITA
NI UNIVERSITAS HALUOLEO

S
FAKULTAS TEKNIK
HA
LUOLEO
LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
Kampus Baru Universitas Haluoleo, Gedung Lab. Fakultas Teknik Lt. 01

PEMERIKSAAN KEKUATAN GESER LANGSUNG (DIRECT SHEAR)


Proyek/Pekerjaan : DED DERMAGA PERIKANAN MINA-MINANGA KEC. KULISUSU
Lokasi : KEC. KULISUSU KAB. BUTON UTARA
Titik Boring : BH-01 (DEEP BORING)
Kedalaman : 14,5 M - 15,0 M
GRAFIK DIRECT SHEAR
Dikerjakan : TEKNISI LABORATORIUM
Diperiksa/Dihitung : TEKNISI LABORATORIUM y = 0,462x + 0,043
Disetujui : KEPALA LAB. MEKANIKA TANAH 1
0,9
0,8
Gaya Normal P1 = 4 Kg P1 = 8 Kg P1 = 12 Kg
2 2 2 0,7

Tegangan Geser
Tegangan Normal τ1 = 0,1206 Kg/cm τ2 = 0,2412 Kg/cm τ3 = 0,3618 Kg/cm
0,6
Gaya Geser

Gaya Geser

Gaya Geser
Pembacaan

Pembacaan

Pembacaan
Pergeseran

Tegangan

Tegangan

Tegangan
Waktu

Geser

Geser

Geser
0,5
Dial

Dial

Dial
0,4

σ1 σ2 σ3 0,3

0'15" 0,25 1,00 2,00 2,00 0,2


0'30" 0,50 1,40 3,00 4,00 0,1
0'45" 0,75 2,00 4,00 6,50 0
1'00" 1,00 3,00 5,00 7,00 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1
1'15" 1,25 5,00 6,50 8,00 Tekanan Normal
1'30" 1,50 6,00 7,00 9,00
1'45" 1,75 6,50 9,00 11,00
2
2'00" 2,00 7,00 9,00 13,00 Contoh diameter = 6,5 cm tinggi = 2 cm luas = 33,17 cm
2'15" 2,25 7,00 9,50 14,00 Alat kalibrasi proving ring = 0,5
2'30" 2,50 7,00 3,50 0,1055 9,50 4,75 0,1432 14,40 7,2 0,2171 Hasil c = 0,0560 kg/cm2 θ = 24,797
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
VERSITA
NI
UNIVERSITAS HALUOLEO
U

S
FAKULTAS TEKNIK
HA
LUOLEO
LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
Kampus Baru Universitas Haluoleo, Gedung Lab. Fakultas Teknik Lt. 01

PEMERIKSAAN BERAT ISI TANAH


Proyek/Pekerjaan : DED DERMAGA PERIKANAN MINA-MINANGA KEC. KULISUSU
Lokasi : KEC. KULISUSU KAB. BUTON UTARA
Titik Boring : BH-01 (DEEP BORING)
Kedalaman : 14,5 M - 15,0 M
Dikerjakan : TEKNISI LABORATORIUM
Diperiksa/Dihitung : TEKNISI LABORATORIUM
Disetujui : KEPALA LAB. MEKANIKA TANAH

Pemeriksaan
No. Uraian
Sample I Sample II Rata-rata
a. Kedalaman Contoh
b. Nomor Ring A B
c. Berat ring (gr.) 135,66 135,66
d. Volume Ring (cm3) 82,92 82,92
e. Berat ring + tanah basah (gr.) 263,50 264,00
f. Berat ring + tanah kering (gr.) 241,00 242,00
g. Berat tanah basah (gr.) 127,84 128,34
h. Berat tanah kering (gr.) 105,34 106,34
I. Berat isi basah (gr./cm3) 1,54 1,55 1,54
j. Berat isi kering (gr./cm3) 1,27 1,28 1,28
LAMPIRAN D

FOTO DOKUMENTASI PEKERJAAN


LAPANGAN