Anda di halaman 1dari 56

LAPORAN MAGANG

ERIF DAIRY FARM CISARUA

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Magang Calon Anggota KSPTP XVII

Oleh :

Raihan Naufal R.S 200110160016

Rifa Maghfira Risyana 200110160040

Lussy Aulia Dwilestari 200110160109

Muhammad Rizky Subagja 200110160120

Lisda Eka Syafira 200110160265

Shinta Qayla Vashty 200110160255

KELOMPOK STUDI PROFESI TERNAK PERAH

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2018
i

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan

hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan magang dengan baik.

Laporan ini disusun guna melengkapi salah satu bagian dari rangkaian diklat

Calon Anggota UKM Kelompok Studi Profesi Ternak Perah (KSPTP) Fakultas

Peternakan Universitas Padjadjaran yaitu magang di peternakan sapi perah yang

telah dilaksanakan dari tanggal 08 Januari 2018 sampai dengan 21 Januari 2018

tepatnya di Erif Dairy Farm Cisarua, Bogor.


Dalam penyusunan laporan ini, kami menyadari sepenuhnya bahwa

selesainya laporan magang ini tidak terlepas dari dukungan, semangat, serta

bimbingan dari berbagai pihak, baik bersifat moril maupun materil, oleh karena

itu, kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih antara lain kepada :

1. Prof. Dr. Ir. Husmy Yurmiati, MS, selaku Dekan Fakultas Peternakan

Universitas Padjadjaran.

2. Ir. Hermawan, M.S. selaku pembina UKM KSPTP

3. H. Erif Kemal Syarif selaku pemilik sekaligus pendiri Erif Dairy Farm

yang telah memberikan izin untuk kami belajar di perusahaannya.

4. drh. M. D. Satrio selaku pembimbing kegiatan magang di Erif Dairy

Farm yang telah memberikan bimbingan selama magang.

5. Segenap pimpinan, karyawan dan pekerja kandang di Erif Dairy Farm.

6. Kakak pembimbing kegiatan magang UKM KSPTP.

7. Serta seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi secara langsung

maupun tidak langsung dalam kegiatan magang ini.

Kami menyadari dalam penyususnan laporan ini masih belum sempurna.

Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga
ii

laporan magang ini dapat menjadi sumber informasi serta suatu ilmu pengetahuan

terutama di bidang ternak sapi perah.

Penyusun
iii

DAFTAR ISI

BAB Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................... iii

DAFTAR TABEL ........................................................................... v

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1

1.2 Tujuan Kegiatan ......................................................................... 2

1.3 Identifikasi Masalah .................................................................... 2

II KEADAAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Profil Erif Dairy Farm ................................................................. 3

2.2 Standar Operasional Kerja .......................................................... 4

III PEMBAHASAN

3.1 Manajemen Pemeliharaan Pedet di Erif Dairy Farm .................. 7

3.2 Manajemen Susu di Erif Dairy Farm ......................................... 10

3.3 Inseminasi Buatan di Erif Dairy Farm ........................................ 18

3.4 Manajemen Reproduksi pada Sapi Perah .................................... 25

3.5 Manajemen Hijauan dan Pakan di Erif Dairy Farm .................... 29

3.6 Manajemen Penyakit Pada Sapi Perah (Mastitis) ...................... 32

IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan.................................................................................. 43

4.2 Saran ............................................................................................ 44


iv

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 45

LAMPIRAN ..................................................................................... 47
v

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1 Syarat Mutu Susu Segar .................................................................... 15

2 Kandungan Protein pada Hijauan Pakan .......................................... 30

3 Pengaruh Mastitis terhadap Komponen dan PH Susu Bovine........... 40


1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tingkat konsumsi susu di Indonesia dikatakan masih kurang apabila

dibandingkan dengan negara lain, padahal konsumsi susu sangatlah penting

karena mengandung gizi yang baik serta memiliki banyak manfaat. Beberapa

manfaat diantaranya yaitu membuang racun di tubuh, sebagai antibodi,

meningkatkan kecerdasan otak dalam berpikir, memperbaiki tekanan darah, selain

itu dapat juga mengurangi stres. Permasalahan lain di Indonesia yaitu tingkat

kesejahteraan peternak sapi perah juga masih rendah karena kurangnya

pengetahuan dalam manajemen usaha sehingga kualitas dan kuantitas susunya

menjadi rendah pula serta adanya persaingan dengan negara lain.

Kegiatan magang ini dapat memberikan pengetahuan dan skill tentang

manajemen usaha sapi perah khususnya di Erif Dairy Farm Cisarua. Pengetahuan

akan manajemen usaha ternak sapi perah menjadi hal yang sangat penting dalam

rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan untuk dapat

meningkatkan produksi dan keuntungan yang optimal bagi pemilik usaha

peternakan tersebut. Begitu pula untuk mahasiswa peternakan, selain

mendapatkan ilmu berupa pemeliharaan dan manajemen di peternakan, secara

tidak langsung mahasiswa juga dapat mengetahui kondisi peternakan sapi perah di

Indonesia.
2

1.2. Tujuan Kegiatan

Maksud dan tujuan penyelenggaraan kegiatan ini dibagi dalam tujuan

umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dari pelaksanaan magang ini adalah

sebagai prasyarat keanggotaan Kelompok Studi Profesi Ternak Perah Fakultas

Peternakan Universitas Padjajaran. Sedangkan tujuan khusus dapat dirangkum

dalam enam poin berikut:

1) Megetahui Manajemen Pedet di Erif Dairy Farm,

2) Mengetahui Manajemen Susu di Erif Dairy Farm,

3) Mengetahui Inseminasi Buatan pada Sapi Perah di Erif Dairy Farm,

4) Mengetahui Manajemen Reproduksi pada Sapi Perah di Erif Dairy Farm,

5) Mengetahui Manajemen Hijauan dan Pakan di Erif Dairy Farm, dan

6) Mengetahui Manajemen Penyakit pada Sapi Perah di Erif Dairy Farm.

1.3. Identifikasi Masalah

Adapun permasalahan yang akan dikaji melalui laporan magang ini,

terbagi kedalam enam poin bahasan, diantaranya:

1) Bagaimana Manajemen Pedet di Erif Dairy Farm,

2) Bagaimana Manajemen Susu di Erif Dairy Farm,

3) Bagaimana Inseminasi Buatan di Erif Dairy Farm,

4) Bagaimana Manajemen Reproduksi pada Sapi Perah di Erif Dairy Farm,

5) Bagaimana Manajemen Hijauan dan Pakan di Erif Dairy Farm, dan

6) Bagaimana Manajemen Penyakit pada Sapi Perah di Erif Dairy Farm.


3

II

KEADAAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Profil Perusahaan

Peternakan sapi perah ini mulai dirintis oleh H. Erif Kemal Syarif dan Hj.

Tuti Sulastri pada tahun 1986 dengan jumlah awal sapi perah sebanyak 6 ekor.

Dengan kerja keras dan keuletan, setelah 10 (sepuluh) tahun berjalan jumlah sapi

perah yang dimiliki pada tahun 1996 menjadi 60 ekor, hingga saat ini (2018)

populasi sapi perah berjumlah lebih dari 250 ekor. Peternakan sapi perah tersebut
diberinama sesuai nama pendirinya, yaitu Erif Dairy Farm Cisarua.

Erif Dairy Farm Cisarua saat ini merupakan salah satu peternakan sapi

perah rakyat yang tertua, terbesar dan berprestasi di tingkat Jawa Barat maupun

Nasional. Dalam kontes ternak tercatat telah dua kali menjadi juara kabupaten

Bogor, empat kali menjadi juara Provinsi Jawa Barat, dan sekali menjadi juara

dua Nasional.

Tujuan yang kini ingin dicapai oleh Haji Erif adalah ingin mencerdaskan

kehidupan bangsa dengan mengkonsumsi susu dan mensejahterakan peternak sapi

perah di lingkungannya maupun di berbagai wilayah. Semboyan yang selalu

ditanamkan adalah bahwa rejeki orang sudah diatur Allah, maka Haji Erif dan istri

tidak pernah merasa memiliki pesaing dalam usaha peternakannya.

Alamat Peternakan: Jalan Raya Taman Safari No. 200 RT.3/6, Kp.

Darussalam, Desa Cibeureum, Kec. Cisarua, Kab. Bogor. TELP. 082123270044 /

081327052444
4

2.2. Standar Operasional Kerja

Ada tiga pekerjaan yang ditawarkan oleh pihak Erif Dairy Farm Cisarua

kepada kami, yaitu sanitasi kandang, pemerahan dan pemberian pakan.

a) Sanitasi Kandang

Sanitasi kandang adalah suatu kegiatan yang meliputi kebersihan kandang

dan lingkungannya, karena dengan keadaan kandang serta lingkungan yang

bersih, kesehatan ternak maupun pemiliknya akan terjamin. Kebersihan kandang

bisa diatur sesuai dengan kebutuhan sehingga lingkungan tidak bau dan tidak

lembab. Kegiatan sanitasi kandang ini meliputi:

1) Pembersihan bak pakan dan bak minum dari sisa-sisa rerumputan dan dari

lumut yang berada pada bak pakan dengan cara disapukan dan kemudian

di buang.

2) Pembersihan lantai karpet dari feses dan juga rumput menggunakan air

yang mengalir dan sapu lidi agar feses dapat langsung masuk ke saluran

pembuangan.

3) Memandikan sapi perah secara rutin agar pada saat pemerahan nanti sapi

dalam kondisi yang bersih sehingga mengurangi resiko tercemarnya susu

oleh bakteri luar.

4) Pembersihan dan pencucian milkcan secara teratur.

5) Kebersihan pakaian pegawai.

Semua kegiatan sanitasi kandang diatas merupakan kegiatan rutin yang

biasa dilakukan di Erif Dairy Farm. Sapi di peternakan Erif ini dimandikan pada

pagi hari dan sore hari sebelum diperah. Untuk pembersihan bak pakan biasanya

dilakukan pada pagi hari sedangkan untuk pembesihan lantai kandang dilakukan

tiga kali sehari. Kebersihan kandang dan pegawai di Erif Dairy Farm ini sangat
5

diperhatikan sekali oleh ownernya yaitu Bapak Erif karena kandang dan pegawai

yang bersih akan sangat berpengaruh terhadap produksi susu sapi dan jumlah

bakteri yang ada pada susu sapi. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Handayani

dan Purwanti (2010) bahwa kualitas dan kuantitas hasil pemerahan tergantung

pada tata laksana pemeliharaan dan pemerahan yang dilakukan.

Lantai kandang terbuat dari semen yang atasnya dilapisi dengan karpet

berbahan karet yang bertujuan untuk mengurangi resiko cedera pada kaki sapi

pada saat sapi akan duduk, hal ini sesuai dengan pernyataan Sugeng (1993) bahwa

lantai kandang yang dilapisi dengan karpet karet berfungsi agar sapi nyaman saat

berdiri dan mengurangi resiko cedera selain itu untuk memudahkan peternak

dalam melakukan pembersihan dan pembuangan kotoran.

b) Pemerahan

Pelaksanaan pemerahan di Erif Dairy Farm dilakukan dua kali sehari yaitu

pada pagi hari dan sore hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudono (1982)

bahwa pemerahan biasanya dilakukan dua kali dalam sehari yaitu pagi dan sore

hari. Interval waktu yang sama antara pemerahan pagi dan sore hari akan

memberikan perubahan komposisi susu yang relative sedikit, sedangkan interval

waktu pemerahan yang berbeda akan menghasilkan komposisi susu yang berbeda

pula.

Pelakasanaan pemerahan pagi di Erif Dairy Farm dilakukan setiap pukul

08.00 – 09.00 WIB. Proses pemerahan ini dimulai dari fase persiapan hingga

pasca pemerahan, fase persiapan dimulai dengan memandikan ternak,

membersihkan lantai dan bak pakan, dan mempersiapkan alat-alat pemerahan.

Setelah itu ambing di lap dengan yang di basahkan dan membuang susu pancaran

pertama hal ini bertujuan untuk merangsang keluarnya air susu dan membersihkan
ambing dari sisa-sisa kotoran. Pemerahan pagi di Erif Dairy Farm biasanya satu
6

ekor sapi dapat menghasilkan 20 liter susu bahkan ada yang mencapai 30 liter

untuk pemerahan pagi. Setelah proses persiapan selesai dilanjutkan ke proses

pemerahan, proses pemerahan diakhiri dengan men dipping putting menggunakan

desinfektan.

Pelaksanaan pemerahan sore dilakukan setiap pukul 17.00 WIB. Prosesnya

sama seperti pemerahan pada pagi hari, interval jarak dari pemerahan pagi hingga

ke pemerahan sore berkisar antara 7-9 jam. Hal ini menyebabkan produksi susu

pada sore hari lebih sedikit dibandingkan dengan produksi susu pada pagi hari

yaitu hanya 15-17 liter.

c) Pemberian Pakan

Kegiatan pemberian pakan di Erif Dairy Farm dilakukan tiga kali sehari

yaitu, pagi hari setelah pemerahan, siang hari pada pukul 11.00 WIB, dan sore

hari setelah pemerahan. Pemberian pakan pada pagi hari diberikan konsentrat

yang dicampur dengan ampas tahu, pemberian pakan konsentrat yang dicampur

ampas tahu ini diberikan sebelum sapi diperah dan selepas sapi diperah sapi

diberikan lagi hijauan. Untuk pemberian pakan pada siang hari hanya diberikan

pakan konsentrat dan ampas tahu saja, sedangkan untuk yang sore hari sama

seperti pagi hari hanya saja hijauan yang diberikan lebih banyak yaitu 20 kg.
7

III

PEMBAHASAN

3.1. Manajemen Pemeliharaan Pedet di Erif Dairy Farm

(Shinta Qayla Vashty – 200110160255)

Tatalaksana pemeliharaan, merupakan salah satu faktor lingkungan yang

sangat berpengaruh terhadap peningkatan populasi dan produktivitas sapi perah.

Tatalaksana pemeliharaan pedet sejak lahir sampai disapih mejadi sangat penting

dalam upaya menyediakan bakalan baik sebagai pengganti induk maupun untuk

digemukan sebagai ternak pedaging. Penerapan tatalaksana pemeliharaan perlu

dilakukan sedini mungkin atau sejak pedet baru lahir, mengingat 25-30% dari

pedet yang lahir akan mengalami kematian pada periode 4 bulan pertama

(SIREGAR, 1992) .

Tujuan pengamatan untuk mempelajari penerapan tatalaksana

pemeliharaan pedet sapi perah sejak lahir sampai sapih yang dilakukan di

Kandang pedet pak Harun di Erif Dairy Farm. Pengamatan yang dilakukan adalah

pengamatan persiapan kandang menjelang kelahiran, perawatan saat kelahiran,

pemberian kolostrum, pemberian susu, pemberian konsentrat, dan pemberian

hijauan.

a) Persiapan Kandang Menjelang Kelahiran

Persiapan kandang di Erif Dairy Farm Cisarua dilakukan dengan

membersihkan kandang induk kemudian dilengkapi dengan alas kandang dari

jerami rumput. Kandang jenis individual berukuran 0,75 x 1,5 m dilengkapi

dengan alas dari jerami rumput disiapkan untuk menampung seekor pedet.
8

b) Perawatan saat Kelahiran

Perawatan terhadap pedet yang baru lahir dilakukan dengan membersihkan

lendir pada hidung, mulut, dan lendir yang ada diseluruh tubuhnya karena cairan

yang menutupi hidung akan mengganggu pernafasan pedet. Selanjutnya pedet

dimasukan kedalam kandang anak yang sudah diberi alas jerami rumput yang

tidak menimbulkan becek/basah, setelah kurang lebih 5-20 menit setelah

dilahirkan.

Sebagai pencegahan terjadinya infeksi dilakukan pemotongan terhadap tali

pusar. Tali pusar yang masih menggantung kemudian dicelupkan pada larutan

yodium lewat suntikan tanpa jarum atau dimasukkan secara manual, tidak

menggunakan alat apapun. Pencelupan tali pusar kedalam larutan yodium

dilakukan setiap hari sampai tali pusar kering.

c) Pemberian Kolostrum

Kolostrum diperoleh dengan cara memerah induk yang telah dibersihkan

ambingnya. Kolostrum diberikan pada anak sapi dengan menggunakan ember

sebanyak 3 liter/ekor/hari. Kolostrum diberikan tiga kali sehari, saat pagi, siang,

dan sore hari. Selanjutnya kolostrum diberikan setiap hari secara berturut-turut

dengan jumlah dan jadwal yang sama sampai kolostrum habis.

Pedet tidak memiliki antibodi (kekebalan tubuh) sebelum memperoleh

kolostrum dari induknya . Untuk itu I jam setelah lahir pedet diberi kolostrum dari

induknya. Apabila tidak diperoleh kolostrum dapat dibuat secara buatan sebagai

pengganti kolostrum (SUDONO, 1989).

d) Pemberian Susu

Pemberian susu terhadap pedet dilakukan dengan cara memerah induk

setiap hari kemudian pedet dilatih untuk meminumnya melalui ember. Susu
9

diberikan tiga kali sehari yaitu saat pagi hari, siang hari, dan sore hari. Jumlah

pemberian setiap ekor pedet setiap hari masing-masing sebanyak 3 It, 4 It dan 3 It

secara berturut-turut.

Setelah kolostrum habis diperah dilanjutkan dengan pemberian susu

sampai disapih. Konsumsi susu pedet saat minggu pertama adalah sebanyak tiga

kali. Pada minggu kedua sampai minggu ke sembilan sebanyak dua kali perhari,

dan satu kali minum air, dan pada minggu ke sembilan sampai minggu ke

duabelas, konsumsi susu hanya satu kali dalam sehari, sedang dua lagi pedet

diberi air.

Susu merupakan makanan utama bagi pedet. Kelangsungan hidup dan

pertumbuhannya ditentukan oleh kecukupan pedet memperoleh susu. Oleh karena

itu pemberian susu bagi pedet perlu mendapat perhatian dan penanganan yang

balk.

e) Pemberian Konsentrat

Sapi diajarkan makan konsentrat setiap hari dengan pemberian sebanyak

0,5- 1 kg pada mulai minggu kedua. Pedet dilatih memakan konsentrat dengan

menempelkan konsentrat pada mulut pedet.

Pengenalan dan pemberian konsentrat perlu dilakukan sedini mungkin

karena pada umur 2,5-3 bulan rumen dan reticulum pedet sudah sudah

berkembang yang volumenya mencapai 70%. Sebaliknya volume abomasum dan

omasum menyusut kecil mencapai 30% dari seluruh lambung . Setelah pedet

bekembang menjadi dewasa volume rumen menjadi 80%, reticulum 5%, omasum

8% dan abomasum 7%. (AAK, 1995)


10

f) Pemberian Hijauan

Mulai umur 3 minggu pedet diajarkan makan rumput. Pemberian rumput

dilakukan setiap hari dengan jumlah pemberian masing-masing sebanyak 0,25

kg/ekor, 0,5 kg/ekor dan I kg/ekor secara berturut-turut. Rumput yang diberikan

pada pedet dipilih yang masih muda dan kemudian dipotong-potong dengan golok

atau mesin chopper sehinga mudah dicerna oleh anak sapi. Sebagaimana

konsentrat rumput (hijauan) perlu dikenalkan dan diberikan sedini mungkin.

Pemberian rumput yang dimulai pada umur I minggu dapat merangsang

perkembangan rumen yang sangat mendukung pertumbuhan selanjutnya

(Hidayati, 1995).

3.2. Manajemen Susu di Erif Dairy Farm

(Muhammad Rizky Subagja – 20011016120)

3.2.1 Kegiatan Pemerahan

Dapat dikatakan bahwa pemerahan adalah tindakan mengeluarkan susu

dari ambing. Pemerahan bertujuan untuk mendapatkan produksi susu yang

maksimal. Tujuan dari pemerahan adalah untuk mendapatkan jumlah susu yang

maksimal dari ambingnya, apabila pemerahan tidak sempurna sapi induk

cenderung untuk menjadi kering terlalu cepat dan produksi total menjadi menurun

(Putra, 2009).

Kegiatan pemerahan di Erif Dairy Farm memiliki Standar Operational

Procedure (SOP) yang telah di tetapkan. Pemerahan dilakukan pada pukul 08.00

WIB dan pukul 16.00 WIB. Dalam pelaksanaan pemerahan Erif Dairy Farm

melakukan sanitasi kandang dan memandikan ternak sebelum pemerahan

dilakukan, untuk menjaga agar ternak tetap bersih dan terhindar dari penyakit,

serta proses pemerahan dilakukan dengan kandang yang bersih.


11

Tahap Pemerahan

Dalam pemerahan terdapat beberapa tahap yaitu tahap sebelum

pemerahan, tahap saat pemerahan sedang berlangsung dan tahap saat pemerahan

telah selesai. Hal ini sesuai dengan pernyataan Syarif dan Sumoprastowo (1990)

yang menyatakan bahwa Terdapat 3 tahap pemerahan yaitu pra pemerahan,

pelaksanaan pemerahan dan pasca pemerahan.

a. Fase Persiapan

Berdasarkan pelaksanaan pemerahan yang telah dilakukan pada

saat magang di Erif Dairy Farm, fase persiapan ini adalah fase sebelum

pemerahan di lakukan, fase ini dilakukan untuk menyiapkan hal-hal apa

saja yang di butuhkan pada saat pelaksanaan pemerahan, yang dimulai dari

pembersihan kandang, lingkungan kandang, memandikan hewan ternak,

membersihkan alat-alat pemerahan dan memberikan pakan.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Sudono (2003) bahwa Tahap-

tahap persiapan pemerahan meliputi menenangkan sapi, membersihkan

kandang, membersihkan bagian tubuh sapi, menykat ekor, mencuci

ambing dan puting. Selain itu, pada persiapan pemerahan petugas mencuci

tangan , pengeluaran 3 sampai 4 pancaran susu pertama pada strip cup,

yang bertujuan untuk membuang susu dimana pada awal pancaran susu

masih banyak mengandung kotaran, selain itu untuk mengecek ada

tidaknya gumpalan atau pecahan susu, jika ada gumpalan menandakan

bahwa susu tersebut rusak. Pecahnya susu dapat disebabkan karena infeksi

bakteri mastitis. Setelah itu dilakukan perangsangan dan pembersihan

ambing dan puting menggunakan lap yang telah di rendam pada air dingin.

Kain lap yang digunakan untuk setiap sapi berbeda yaitu, satu ekor sapi di
12

lap dengan satu lap yang berbeda. Hal ini sesuai dengan pernyataan

Muljana (1985) bahwa sebelum pemerahan dimulai, pemerah mencuci

tangan bersih-bersih dan mengeringkannya, kuku tangan pemerah

dipotong pendek agar tidak melukai puting sapi, sapi yang akan diperah

dibersihkan dari segala kotoran, tempat dan peralatan telah disediakan dan

dalam keadaan yang bersih, selanjutnya menenangkan sapi, mengikat

ekornya dan mencuci ambing dengan air hangat, melakukan massage

untuk merangsang keluarnya air susu.

b. Fase Pemerahan

Pemerahan sapi dapat dilakukan dengan menggunakan tangan

ataupun dengan mesin pemerah (Prihadi, 1996). Berdasarkan pelaksanaan

pemerahan yang telah lakukan di Erif Dairy Farm pemerahan dilakukan

menggunakan mesin perah ataupun dengan tangan. Untuk beberapa

kandang laktasi pemerahan dilakukan dengan menggunakan sistem bucket

(mesin perah portable) dan ada pula kandang yang melakukan secara

manual atau menggunakan tangan. Saat akan dilaksanakan pemerahan,

alat-alat pemerahan telah dibersihkan, alat-alat yang disediakan adalah

ember, milk can, kain belacu (saringan susu) dan mesin perah. Pemerahan

berlangsung sekitar 10 menit per ekor sapi menggunkan mesin perah.

Pelepasan susu (milk let down) terjadi sekitar 45 sampai 60 detik setelah

sapi mendapat rangsangan. Pemerahan dilakukan dengan hati-hati, mesin

penyedot (vakum leaner) ditempatkan satu-persatu pada bagian puting. Hal

ini sesuai dengan pernyataan Sudono et al., (2003) bahwa pemerahan yang

baik dilakukan dengan cara yang benar dan alat yang bersih. Tahapan-

tahapan pemerahan harus dilakukan dengan benar agar sapi tetap sehat dan

terhindar dari penyakit yang dapat menurunkan produksinya.


13

c. Pasca Pemerahan

Setelah pemerahan selesai, hal yang dilakukan di Erif Dairy Farm

adalah susu dituangkan kedalam milk can dan dilakukan penyaringan,

agar kotoran pada saat pemerahan tidak ikut masuk ke dalam susu lalu

dibawa ke tempat cooling lalu dilakukan penyaringan kembali. Lalu

dilakukan dipping puting menggunakan desinfektan yang berupa cairan

mesofil. Tujuan dari dipping puting ini adalah untuk menghindari dari

hinggapan lalat pada puting, mengurangi masuknya bakteri dan juga untuk

menjaga agar puting tetap sehat tidak terkena mastitis. Perlakuan yang di

lakukan di Erif Dairy Farm sesuai dengan pernyataan Syarief dan

Sumoprastowo, (1990) bahwa sesudah pemerahan sebaiknya bagian

puting dicelupkan dalam larutan desinfektan untuk menghindari

terjadinya mastitis.

Setelah itu alat-alat yang telah digunakan pada saat pemerahan

dicuci, dibersihkan dan dikeringkan kembali agar terhindar dari bakteri.

Pembersihan dilakukan dengan menyikat bagian- bagian alat dan

membilasnya menggunakan air yang mengalir, setelah di bersihkan alat-

alat pemerahan tersebut di tempatkan di tempat yang kering dengan posisi

yang terbalik.

Waktu pemerahan

Pelaksanaan pemerahan di Erif Diary Farm dilakukan pada dua kali dalam

satu hari yaitu, di pagi dan sore. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sudono, (1982)

bahwa Pemerahan susu biasanya dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari.

Interval waktu yang sama antara pemerahan pagi dan sore hari akan memberikan

perubahan komposisi susu yang relatif sedikit, sedangkan interval waktu


pemerahan yang berbeda akan menghasilkan komposisi susu yang berbeda juga.
14

a. Pemerahan Pagi

Berdasarakan pelaksanaan pemerahan di Erif Dairy Farm pemerahan

di pagi hari dilakukan pukul 08.00 WIB. Dimulai dari fase persiapan

hingga pasca pemerahan, yaitu dengan memandikan ternak, membersihkan

kandang, saluran pembuangan , lalu membersihkan bak, perangsangan dan

pembersihan ambing dan puting menggunakan lap yang diremdam dengan

air air dingin, untuk membersihkan kotoran yg terdapat di ambing dan

puting serta untuk merangsang hormon oksitosin agar air susu yang keluar

lanacar pada saat pemerahan . Setelah semua persiapan pemerahan itu

terlaksana dimulailah pemerahan dan proses pemerahan diakhiri dengan

dipping putting menggunakan desinfektan dan pembersihan kembali alat-

alat pemerahan.

b. Pemerahan Sore

Pelaksanaan pemerahan pada sore hari sama dengan pemerahan di pagi

hari. Pemerahan sore dilakukan pada pukul 16.00 WIB. Waktu interval

jarak yang dilakukan pada pemerahan pagi hingga sore hari berkisar 9

hingga 12 jam.Sama hal nya dengan pemerahan di pagi hari, pemerahan di

sore hari dimulai dengan dengan memandikan ternak, membersihkan

kandang, saluran pembuangan , lalu membersihkan bak pakan,

perangsangan dan pembersihan ambing dan puting menggunakan lap yang

diremdam dengan air dingin, lalu dilakukan pemerahan. Setelah

pemerahan selesai dilakukan dipping putting menggunakan desinfektan

yang berupa cairan mesofil. Yang bertujuan untuk menghindari dari

hinggapan lalat pada puting, mengurangi masuknya bakteri dari lubang

putting yang dapat menyebabkan mastitis.


15

3.2.2 Uji Kualitas Susu

Dari diskusi bersama pemilik erif bahwa pengujian susu dilakukan dengan

uji tes plate count (TPC) dengan menggunakan media agar atau padat yang nanti

nya dilakukan pengenceran.

Pada metode ini, teknik pengenceran merupakan hal yang harus

dikuasai.Sebelum mikroorganisme ditumbuhkan dalam media, terlebih dahulu

dilakukan pengenceran sampel menggunakan larutan fisiologis.Tujuan dari

pengenceran sampel yaitu mengurangi jumlah kandungan mikroba dalam sampel

sehingga nantinya dapat diamati dan diketahui jumlah mikroorganisme secara

spesifik sehingga didapatkan perhitungan yang tepat.Pengenceran memudahkan

dalam perhitungan koloni (Fardiaz, 1993). Menurut Waluyo (2005), tahapan

pengenceran dimulai dari membuat larutan sampel sebanyak 10 ml (campuran 1

ml/1gr sampel dengan 9 ml larutan fisiologis). Dari larutan tersebut diambil

sebanyak 1 ml dan masukkan kedalam 9 ml larutan fisiologis sehingga didapatkan

pengenceran 10-2. Dari pengenceran 10-2 diambil lagi 1 ml dan dimasukkan

kedalam tabung reaksi berisi 9 ml larutan fisiologis sehingga didapatkan

pengenceran 10-3, begitu seterusnya sampai mencapai pengenceran yang kita

harapkan.

Adapun total solid (TS) yang merupakan bahan yang terdiri dari lemak,

vitamin, mineral,karbohidrat, protein. Hal ini sesuai dengan pernyataan

(dani,2005) Yang termasuk bahan padat dalam susu (total solid) adalah protein,

lemak, karbohidrat, mineral dan vitamin. Sedang bahan padat bukan lemak (solid

non fat/snf) adalah semua jumlah prosentase semua komponen susu dikurangi

kadar aiar dan kadar lemaknya. Dikenal dua macam cara pengujian kadar bahan

padat dalam susu, pertama cara Penimbangan/Gravimetric method, kedua cara


16

densitas susu/Lactometric method. Dalam pedoman ini akan diterangkan

penetapan cara gravimetric

Menurut sesuai dengan materi yang diberikan pak tio bahwa mminimal

bakteri pada susu yaitu 1.000.000 cfu/ml. Hal ini sesuai dengan syarat mutu susu

berdasarkan SNI.

Tabel 1. Syarat Mutu Susu Segar berdasarkan SNI 01-3141-1998

Parameter Syarat

Berat Jenis (BJ) pada suhu 27 oC Minimal 1,0280

Kadar Kering Minimal 3.0 %

Bahan Kering Tanpa Lemak Minimal 8.0 %

(BKTL) atau Solid non Fat (SNF)

Kadar Protein Minimal 2.7 %

Standar Susu
Cemaran logam berbahaya :

a. Timbal (Pb) Maksimum 0.3 ppm

b. Seng (Zn) Maksimum 0.5 ppm

c. Merkuri (Hg) Maksimum 0.5 ppm

d. Arsen (As) Maksimum 0.5 ppm

Standar Susu Organoleptik : warna, bau, rasa Tidak ada perubahan


17

dan kekentalan

Kotoran dan benda asing Negatif

Cemaran mikroba :

a. Total Kuman Maksimum 1.000.000

CFU/ml

b. Salmonella Negatif

c. Eschericia coli (pathogen) Negatif

d. Coliform 20 CFU/ml

e. Streptococcus group B Negatif

f. Streptococcus aureus 100 CFU/ml

Jumlah sel radang Maksimum 40.000/ml

Uji katalase Maksimum 3 cc

Uji reduktase 2 – 5 jam

Residu antibiotik, pestisida dan sesuai dengan

insektisida peraturan yang


berlaku

Uji Alkohol (70 %) Negatif


18

Derajat Asam 6 – 7 oSH

Uji pemalsuan Negatif

Titik Beku 0,520 s/d 0,560 oC

Uji Peroksidase Positif

Berdasarkan SK Dirjen Peternakan Nomor 17 tahun 1983, salah satu

syarat kualitas susu segar adalah jumlah mikroba maksimum 3 juta/ml. Ketentuan
ini lebih ringan daripada yang tercantum dalam SNI susu segar.

3.3. Inseminasi Buatan di Erif Dairy Farm

(Lisda Eka Syafira – 200110160265)

Dalam manajemen reproduksi sapi perah, sudah sangat lumrah dengan

teknologi inseminasi buatan, termasuk di Erif Dairy Farm ini, teknik perkawinan

sapinya seluruhnya sudah tidak melalui teknik kawin alam melainkan melalui

inseminasi buatan (IB). Selain melihat secara langsung pengaplikasian inseminasi

di lapangan, kami juga mendapatkan materi khusus mengenai inseminasi buatan.

Teknik inseminasi buatan sendiri adalah teknik atau proses memasukan

sperma jantan ke saluran reproduksi betina dengan menggunakan suatu alat yang
dinamakan inseminator gun dan dengan bantuan manusia yang disebut

inseminator dengan tujuan untuk mendapatkan kebuntingan. Hal ini sesuai dengan

pernyataan Hafez (1993), IB adalah proses memasukkan sperma ke dalam saluran

reproduksi betina dengan tujuan untuk membuat betina jadi bunting tanpa adanya

proses perkawinan alami. Konsep dasar dari teknologi ini adalah seekor pejantan
yang secara alamiah memproduksi puluhan milyar sel kelamin jantan
(spermatozoa) per hari, hanya digunakan untuk membuahi satu sel telur (oosit)
19

pada hewan betina yang seharusnya diperlukan hanya satu sel spermatozoa.

Potensi terpendam yang dimiliki seekor pejantan unggul sebagai sumber

informasi genetik, dapat dimanfaatkan secara efisien untuk membuahi banyak

betina.

Tujuan dari inseminasi buatan yang paling utama adalah untuk

memperbaiki mutu genetik ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere

(1979), tujuan dari IB itu sendiri adalah sebagai satu alat yang ampuh yang

diciptakan manusia untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak secara

kuantitatif dan kualitatif. Juga pendapat Sayuti et al. (2011), teknologi IB yang

digunakan untuk program peningkatan mutu genetik terutama pada ruminansia

besar (sapi dan kerbau) merupakan teknologi unggulan yang masih akan

digunakan dalam upaya peningkatan produktivitasnya.

Erif Dairy Farm memilih IB karena terdapat banyak kelebihan atau

keuntungan inseminasi buatan diantaranya mempermudah peternak dibandingkan

dengan kawin alam, menghemat biaya karena tidak perlu memelihara pejantan,

menghindarkan ternak dari penularan penyakit kelamin dan cidera ketika kawin

alam, mengefesienkan penggunaan pejantan unggul dan dapat meningkatkan

angka kelahiran dengan mengatur jarak kelahiran ternak. Hal ini sesuai dengan

menurut Ihsan (1993), keuntungan IB sangat dikenal dan jauh melampaui

kerugian-kerugiannya jika tidak demikian tentu perkembangan IB sudah lama

terhenti dan keuntungan yang diperoleh dari IB yaitu:

1) Daya guna seekor pejantan yang genetik unggul dapat dimanfaatkan

semaksimal mungkin.

2) Terutama bagi peternak-peternak kecil seperti umumnya ditemukan di

Indonesia program IB sangat menghemat biaya di samping dapat


20

menghindari bahaya dan juga menghemat tenaga pemeliharaan pejantan

yang belum tentu merupakan pejantan terbaik untuk diternakkan.

3) Pejantan-pejatan yang dipakai dalam IB telah diseleksi secara teliti dan

ilmiah dari hasil perkawinan betina-betina unggul dengan pejantan unggul

pula.

4) Dapat mencegah penyakit menular

5) Calving Interval dapat diperpendek dan terjadi penurunan jumlah betina

yang kawin berulang.

Sedangkan terdapat juga beberapa kerugian dari inseminasi buatan

menurut Soebadi (1980) yaitu apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu

pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi kebuntingan, akan terjadi

kesulitan kelahiran, apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan

dengan breed/ turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan

/ breed kecil. bisa terjadi kawin sedarah apabila menggunakan semen beku dari

pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama, dan dapat menyebabkan

menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau

sifat genetiknya dengan baik.

Pelaksanaan IB di Erif Dairy Farm sendiri sebagian besar berhasil, jarang

terjadi kegagalan. Adapun beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan

inseminasi buatan. Faktor-faktor pembatas yang mempengaruhi rendahnya kinerja

IB menurut Sutrisno et al. (2010) diantaranya:

1) Kualitas Semen Pejantan,

2) Kesuburan Betina,

3) Keterampilan Inseminator,

4) Pengetahuan Zooteknis Peternak, dan

5) Ketepatan Waktu Inseminasi.


21

Keberhasilan menjalankan tugas sebagai inseminator dipengaruhi

beberapa faktor, antara lain:

1) keterampilan dan pengalaman petugas,

2) keterampilan peternak dalam mendeteksi birahi ternaknya, dan

3) komunikasi yang harmonis antara inseminator dengan peternak.

Kemudian untuk pengaplikasian IB atau prosedur IB terlebih dahulu

dilakukan pendeteksian birahi pada ternak betina yang akan di IB. Deteksi birahi

adalah pengamatan terhadap tanda-tanda (gejala-gejala) birahi pada sapi yang

akan diinseminasi. Langkah-langkah untuk mengamati tanda-tanda birahi perlu

diajarkan kepada peternak, pemilik, atau penggembala. Hal ini dimaksudkan agar

peternak dapat melaporkan kepada petugas inseminasi buatan (inseminator),

sehingga pelaksanaan inseminasi buatan tepat waktu (Wodzicka, 1991).

Menurut Ihsan, (1992 : 51) saat yang baik melakukan IB adalah saat sapi

betina menunjukkan tanda-tanda birahi, petani ternak pada umumnya mengetahui

tingkah laku ternak yang sedang birahi yang dikenal dengan istilah : 4A, 2B, 1C,

4A, yang dimasud adalah abang, abu, anget, dan arep artinya alat kelamin yang

berwarna merah membengkak kalau diraba terasa anget dan mau dinaiki, 2B yang

dimaksud adalah bengak-bengok dan berlendir artinya sapi betina sering

mengeluh dan pada alat kelaminnya terlihat adanya lendir transparan atau jernih,

1C yang dimaksud adalah cingkrak-cingkrik artinya sapi betina yang birahi akan

menaiki atau diam jika dinaiki sapi lain.

Setelah pendeteksian birahi, maka disiapkan alat-alat yang akan digunakan

untuk IB oleh inseminator. Inseminator adalah tenaga teknis menengah yang telah

dididik dan mendapat sertifikat sebagai inseminator dari pemerintah (Dinas

Peternakan). Peralatan yang digunakan untuk IB yaitu :


22

 Straw, yaitu tabung kecil berbentuk seperti sedotan yang berisi semen

beku.

 Inseminasi Gun, digunakan untuk memasukkan semen beku kedalam

saluran reproduksi betina.

 Gunting straw, digunakan untuk menggunting ujung straw pada saat

setelah straw dimasukkan ke dalam Inseminasi Gun.

 Container atau thermos straw merupakan termos khusus yang berlubang

pada bagian tutupnya, digunakan untuk wadah Nitrogen cair. Container

dengan canister atau wadah straw, harus tetap dijaga berisi Nitrogen cair.

 Plastic sheet, digunakan sebagai pelindung inseminasi gun setelah diisi

straw, sehingga pada saat dimasukkan ke dalam saluran reproduksi betina

tidak melukai saluran ataupun organ reproduksi.

 Plastik glove (sarung tangan plastik), digunakan untuk melindungi tangan

pada saat palpasi lewat rektal.

 Air hangat dan ember kecil, digunakan untuk thawing semen beku

 Tisu, digunakan untuk membersihkan straw dan membersihakan vulva

yang kotor.

 Pinset, digunakan untuk mengambil straw dari termos.

Adapun prosedur inseminasi buatan dilakukan hanya oleh simulasi oleh

inseminator. Kami berkesempatan untuk melihat prosedur IB secara langsung 4

kali, kami juga diberi kesempatan untuk mendeteksi birahi pada sapi yang akan di

IB dan satu kali pematerian mengenai IB oleh inseminator disana. Sebelum

digunakan untuk IB straw harus di thawing terlebih dahulu, dengan cara :

1. Mengambil straw dari container dengan mengangkat bagian canester nya

secara perlahan dan bagian bawah canester yang menampung straw jangan

sampai melewati leher dari kontainer.


23

2. Mengambil straw dengan menggunakan penjepit straw, lalu memasukan

straw ke dalam wadah yang berisi air hangat (suhu 36-39˚C) didiamkan

selama 15 detik, kemudian diambil dan dibersihkan dengan tisu. Dipegang

pada bagian tutup pabriknya (yang terdapat gabusnya) kemudian

dimasukkan kedalam ujung gun dengan hati- hati pada bagian tutup lab

nya digunting, lalu pasang plastic sheet pada gun.

Adapun prodedur IB yang kami amati di Erif Dairy Farm sesuai dengan

prosedur menurut Virgonia (2014), yaitu sebagai berikut :

1. Gun yang sudah siap digigit dengan mulut atau diletakkan pada tempat

yang sudah disediakan pada cattle pack inseminator.

2. Tangan kanan memegangi ekor sapi dan tangan kiri dimasukkan kedalam

bagian rektum.

3. Memasukkan tangan yang dianggap paling nyaman ke dalam rektal,

dengan cara mengikuti irama dari mengejannya sapi, jika sapi mengejan

jangan dorong tangan kedalam, jika sapi berhenti mengejan dorong tangan

lebih kedalam.

4. Keluarkan kotoran yang ada didalam rektum sapi.

5. Jika sudah bersih, tuntun tangan untuk menemukan bentuk seperti leher

ayam, atau bentuk dari cincin serviks.

6. Jika sudah ditemukan pegang jangan lepaskan.

7. Bersihkan vulva dengan tisu bersih dan kering.

8. Lalu masukan gun yang sudah siap lewat vulva, tuntun terus ke vagina,

disini keterampilan tangan sangat dibutuhkan untuk menuntun gun menuju

ke mulut serviks, karena didalam terdapat banyak halangan, seperti lipatan

vagina.
24

9. Cara yang banyak digunakan para inseminator adalah dengan membawa

serviks ditarik atau dibawa kedepan dengan tangan yang masuk lewat

rektum yang memegang serviks tadi.

10. Dengan seperti itu dapat meminimalkan halangan dari lipatan vagina dan

membuka jalan untuk gun sampai ke mulut serviks.

11. Setelah sampai ke mulut serviks gun akan terasa mendapatkan benturan-

benturan kenyal.

12. Kemudian diusahakan kembali gun masuk ke cincin kedua serviks dengan

teknik dan cara yang sama seperti pada cincin pertama, begitu pula bagian

cincin ke tiga, dan hingga ke empat.

13. Saat sudah sampai dicincin keempat maka tangan yang ada didalam

direktum mencoba untuk mencari ujung inseminasi gun yang sudah

muncul di corpus uteri, jika sudah terasa ujung gun nya berarti gun sudah

berhasil melewati serviks dan pada posisi yang tepat untuk melakukan

inseminasi buatan.

14. Begitu sudah terasa ujung gun nya langsung tahan pada posisi ters yang

tepat untuk melakukan inseminasi buatan.

15. Begitu sudah terasa ujung gun nya langsung tahan pada posisi tersebut,

lalu suntikan sperma yang ada dalam straw tadi dengan cara menekan

bagian untuk mengeluarkan sperma dari dalam straw.

16. Tekan perlahan bagian tersebut hingga sperma dapat menyebar kedalam

dua bagian cornua uteri atau tanduk uterus.

17. Setelah semua selesai keluarkan gun perlahan dan keluarkan tangan

perlahan dari rektum dengan hati-hati sambil kadang-kadang didorong

sedikit mengikuti irama ejanan dari sapi.


25

Keberhasilan IB dapat ditentukan dengan mengamati siklus birahi sapi,

jika 21 hari setelah dilakukan IB dan sapi tidak mengalami birahi pertama, dan

juga tidak mengalami birahi siklus kedua, maka sapi dinyatakan bunting berumur

42 hari. Jika sapi tidak bunting biasanya bisa kemudian di IB kembali setelah

estrus pertama setelah di IB.

Evaluasi hasil IB dengan cara pemeriksaan kebuntingan berkaitan erat

dengan upaya memperpendek jarak beranak. Jarak beranak merupakan salah satu

faktor yang menentukan efisiensi usaha. Selang beranak yang berkepanjangan di

Indonesia adalah salah satu masalah utama dalam upaya meningkatkan populasi

ternak. Diagnosis kebuntingan dan upaya mengetahui status reproduksi sapi

setelah perkawinan merupakan hal yang sangat tepat dilakukan untuk

memperpendek jarak beranak (Sayuti et al. 2011).

3.4. Manajemen Reproduksi pada Sapi Perah

(Rifa Maghfira Risyana – 200110160040)

Manajemen reproduksi sangat penting dalam usaha ternak sapi perah

karena akan mempengaruhi produktivitas ternak dalam suatu peternakan.

Penanganan reproduksi yang dilakukan di Erif Dairy Farm yaitu pengamatan

berahi, penanganan sapi bunting dan penanganan kelahiran. Penanganan

reproduksi dilakukan agar setiap sel sperma yang dimasukan kea lat reproduksi

betina dengan cara inseminasi buatan (IB) dapat menghasilkan pedet yang hidup,

sehat, normal serta tanpa mengalami kesalahan posisi pada saat dilahirkan

(distokia) dan hal lain yang dapat menggaggu proses kelahiran.


26

a) Pengamatan Berahi (Estrus)

Berahi atau estrus merupakan masa berahi pada ternak dimana pada fase

ini terjadi pematangan sel telur yang siap dibuahi pada hewan betina tidak

bunting. Siklus estrus ini diakhiri dengan ovulasi ovum dari folikel.

Pengamatan estrus ini penting, karena untuk menentukan waktu

perkawinan yang tepat. Gejala berahi dapat dilihat selama kurang lebih 16 jam

(Partodihardjo, 1980). Oleh karena itu, peternak sapi perah lebih mudah melihat

gejala berahi tersebut, karena minimal 2 kali sehari peternak dekat dengan

ternaknya. Hal yang perlu diperhatikan adalah apabila sapi tersebut kurang jelas

memperlihatkan tanda-tanda estrus. Oleh karena itu, kartu ternak dapat membantu

untuk menentukan perkiraan kapan sapi tersebut kembali estrus.

Dalam siklus estrus ini hormon yang mempengaruhi adalah FSH dan LH.

Fase estrus ini biasanya berlangsung selama 12 – 24 jam. Adapun ciri-ciri berahi

pada sapi perah berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan teori yang pernah

dipelajari diperkuliahan, diantaranya:

1) Menaiki betina lain dan akan diam apabila dinaiki. Karena di peternakan

ini tali yang digunakan untuk mengikat sapi tidak terlalu panjang,

sehingga tidak ada betina yang menaiki betina lain, tetapi akan menaiki

bak pakan dan sangat tidak tenang.

2) Nafsu makan turun

3) Vulva merah, bengkak dan keluar lendir.

Pengamatan vulva pada sapi yang sedang estrus tidaklah mudah, karena

tidak semua gejala estrus timbul. Terkadang ada sapi yang berahi namun vulvanya

tidak bengkak, sehingga mengharuskan peternak memiliki kepekaan yang tinggi.

Tidak semua sapi yang mengeluarkan lendir merupakan lendir berahi, berdasarkan

pengamatan di peternakan tersebut lendir estrus tidak terlalu pekat dan putus-
27

putus, lain halnya dengan lendir kotor akan lebih pekat dan tidak terputus. Deteksi

berahi pada sapi perah sebenarnya relatif lebih mudah daripada ternak lain karena

tanda-tandanya yang cukup jelas serta peternak akan ke kandang setiap harinya.

b) Penanganan Sapi Bunting

Setelah sapi dikawinkan maka selanjutnya akan terjadi kebuntingan,

namun tidak semua sapi yang telah di Inseminasi Buatan bunting, kadang juga

terjadi kegagalan yang dapat disebabkan oleh:

1) Pejantan. Pejantan yang digunakan harus unggul, sehat, menghasilkan


sperma dengan fertilitas yang tinggi dan memiliki kartu catatan baik

silsilahnya maupun produk-tivitasnya.

2) Manajemen atau Pengolahan. Faktor manajemen atau pengelolaan

merupakan penyebab terbesar terjadi-nya infertilitas. Mutu genetik yang

rendah, karena tidak ada seleksi yang ketat. Ransum yang diberikan

kualitas dan kuantitasnya rendah serta pengelolaan reproduksi yang

lemah/kurang diperhatikan.

3) Faktor Intern Ternak Betina, yang disebabkan oleh Kelainan Anatomi

Reproduksi, dan terdiri dari:

 Anestrus atau kegagalan berahi. Sapi tidak memperlihatkan gejala

berahi. dapat disebabkan banyak faktor diantaranya faktor genetis dan

faktor manajemen yaitu pengawasan berahi yang kurang ketat serta

kekurangan pakan baik kualitas maupun kuantitasnya, sehingga

pertumbuhan ovari tidak normal. Anestrus

dengan corpus luteum normal mengakibatkan siklus estrus panjang

walaupun sedang bunting. Anestrus dengan korpus luteum menetap

(persisten) menye-babkan berahi tenang (silent heat).


28

Penanggulangannya dapat diberikan hormon gonadotropin (Follicle

Stimulating Hormon, FSH) dosis tinggi.

 Berahi tenang (Silent Heat). Korpus luteum tidak cukup

menghasilkan hormon progesteron, maka estrogen yang dihasilkan

folikel tidak menyebabkan timbulnya gejala berahi. Pengawasan

terhadap berahi kurang, sehingga berahi terlewat.

Cara untuk mendeteksi kebuntingan berdasarkan informasi yang

didapatkan dari para pegawai yaitu tidak terjadi estrus lagi setelah dilakukannya

IB. Cara lain yaitu dengan cara palpasi/perabaan yang dilakukan setelah 40-60

hari sesudah perkawinan.

Sapi betina yang sudah bunting harus dipisahkan dari pejantan dan betina

lainnya, atau dengan cara mengikat sapi dengan ikatan yang tidak terlalu panjang

agar gerak sapi terbatas dan tidak memungkinkan untuk menaiki betina yang

sedang bunting. Sejauh ini belum pernah ada kejadian kegagalan dalam

kebuntingan yang disebabkan oleh betina bunting yang dinaiki betina lain yang

sedang estrus.

Biasanya sapi yang sedang bunting memutuhkan asupan pakan yang lebih

banyak. Dua bulan terakhir sebelum sapi melahirkan, tingkat pemberian pakan

berupa konsentrat harus dikurangi secara berkala tujuannya adalah agar fetus tidak

terlalu besar dan menyebabkan kesulitan pada saat partus.

c) Penanganan Kelahiran

Saat kebuntingan sapi mencapai umur 9 bulan, biasanya para pegawai

kandang suka berkeliling terutama dimalam hari karena dikhawatirkan ada sapi

yang melahirkan (partus), sehingga apabila terjadi kelainan pada saat proses

kelahiran seperti distokia maka dapat segera ditangani. Biasanya pada saat
kelahiran para pegawai akan menarik pedet dengan tali yang terbuat dari karung
29

agar tidak licin. Selain itu air ketuban sebelum pedet keluar juga ditampung

terlebih dahulu dan diberikan kepada induk sapi untuk memenuhi kebutuhan

nutrisinya.

d) Kelahiran Pertama Setelah Beranak

Bagi sapi yang beranak normal, sebaiknya dikawinkan kembali 2

bulan setelah beranak. Apabila sapi mengalami distokia, retensi plasenta, dan

sebagainya, sebaiknya perkawinan ditunda 90 – 120 hari setelah beranak.

e) Waktu Perkawinan

Pada sapi dara sebaiknya dikawinkan pada umur 14 – 16 bulan atau berat

badan berkisar antara 275 – 325 kg. Perkawinan dilakukan pada waktu yang tepat

yaitu 6 – 12jam setelah tanda-tanda estrus telihat.

3.5. Manajemen Hijauan dan Pakan di Erif Dairy Farm

(Raihan Naufal R.S – 200110160016)

Jumlah konsumsi pakan adalah merupakan faktor penentu yang paling

penting yang menentukan jumlah zat-zat makanan yang didapat oleh ternak dan

selanjutnya mempengaruhi tingkat produksi. Namun kualitas pakan juga

berpengaruh terhadap konsumsi yang akhirnya bertujuan untuk pemenuhan

kebutuhan ternak (Tomahzewska et al, 1993).

Pemberian pakan di Erif Dairy Farm dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pada

pagi hari dan sore hari diberikan pakan konsentrat dicampur dengan ampas tahu

sebelum sapi diperah dan diberikan hijauan setelah pemerahan. Kemudian pada

siang hari diberikan konsentrat dan ampas tahu. Pemberian konsentrat di Erif

Dairy Farm untuk satu ekor sapi laktasi diperlukan 9-10kg konsentrat yang

dicampur dengan ampas tahu sebanyak 8-10kg. Dengan pemberian pakan seperti
ini rata-rata produksi susu yang diperoleh dari satu ekor sapi berkisar antara 15-25
30

liter. Pemberian pakan konsentrat ini sesuai dengan pendapat Suwarsono (1992)

bahwa pemberian konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari.

Konsentrat yang diberikan di peternakan Erif Dairy Farm ini merupakan

hasil formulasi sendiri dari Bapak Erif yang memiliki pabrik pengolahan sendiri

untuk konsentratnya. Ampas tahu dipilih sebagai bahan campuran dengan

konsentrat karena harga pakannya yang relatif murah namun masih memiliki

kandungan gizi yang baik untuk produksi dan kesehatan ternak. Selain itu ampas

tahu juga dapat meningkatkan nilai palatabilitas pada ternak sapi perah. Menurut

Junjungan (1995) pertumbuhan ternak yang diberi ampas tahu lebih cepat

dibandingkan yang tidak diberi ampas tahu. Kandungan yang terkandung didalam

ampas tahu yaitu protein sebesar 8,66%, lemak 3,79%, air 51,63%, dan abu

1,21%, maka sangat memungkinkan ampas tahu dapat diolah menjadi bahan

makanan ternak.

Untuk pemberian pakan hijauan satu ekor sapi pada pagi hari diberikan

10kg hijauan, pada siang hari 5-7kg hijauan, dan pada sore hari 20-25 kg hijauan.

Pemberian hijauan ini umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot tubuh sapi

tersebut, hal ini sesuai dengan pendapat dari Etgen, et al (1987) bahwa setiap hari

sapi memerlukan pakan kira-kira 10% dari berat badan dan juga pakan tambahan

1-2% dari berat badan. Untuk hijauan biasanya didapatkan dari wilayah gadog dan

di kebun rumput raja milik Bapak Erif. Kegiatan pengambilan rumput (ngarit)

dilakukan setiap hari, pengambilan rumput (ngarit) ini biasa dilakukan pada pukul

09.00 sampai pukul 12.00 dan masih menggunakan cara tradisional dengan

menggunakan sabit (arit).

Hijauan yang diberikan untuk sapi laktasi disini tidak di potong-potong

dahulu karena rumput yang diambil masih tergolong muda, tetapi untuk pedet

hijauan tetap di potong-potong terlebih dahulu. Untuk hijauan sendiri di sekitaran


31

daerah Erif Dairy Farm masih cukup banyak tersedia sehingga di Erif Dairy Farm

ini belum menerapkan sistem pengolahan hijauan untuk dibuat silase.

Pakan hijauan yang diberikan pada ternak sapi di Erif Dairy Farm ada

beberapa jenis pakan hijauan seperti rumput raja, rumput gajah, rumput gajah mini

(rumput odot), rumput BD (Brachiaria decumbens), dan beberapa legume seperti

babadotan, lamtoro, dan kaliandra. Hijauan ini setelah dipanen didiamkan selama

1 hari hal ini bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terdapat pada hijauan

tersebut. Menurut Hartadi dan Tillman (2005) kandungan protein kasar dari

hijauan pakan yang digunakan di Erif Dairy Farm dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 2. Kandungan Protein pada Hijauan Pakan

Hijauan Kandungan Protein (%)

Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) 10,02

Rumput Raja (Pennisetum 11,68

purpurhoides)

Rumput BD (Brachiaria decumbens) 11,2

Babadotan (Ageratum conyoides) 26,6

Lamtoro (Leucaena glauca) 24 – 27,5

Kaliandra (Calliandra callothyrsus) 20,5 – 24,3

Rumput Gajah Mini (Pennisetum 8,86

purpureum cv Mott)

Berdasarkan nilai kandungan protein dari tabel diatas sangat

memungkinkan sekali untuk ternak yang berada di Erif Dairy Farm tercukupi

kandungan proteinnya, sehingga sapi laktasi disana dapat memproduksi susu

hingga 25 liter.
32

Pemberian minum di Erif Dairy Farm ini tempat pakan dan air minum

untuk sapi disatu tempatkan, karena menurut Bapak Satrio tempat pakan dan air

seperti ini dinilai cukup efisien. Kebutuhan ternak sapi perah akan air sangat

penting. Pada dasarnya semua bahan pakan mengandung air, untuk bahan pakan

kasar seperti hijauan segar mengandung air yang cukup tinggi mencapai 85%.

Seekor sapi setiap hari rata-rata membutuhkan air antara 3-6 liter/1kg pakan

kering. Kekurangan air minum mengakibatkan tidak makan sehingga

produktivitas menurun (Alim,A.F dan T.Hidaka, 2002). Hal tersebut sesuai

dengan yang dilakukan di Erif Dairy Farm karena kebutuh air minum sapi disana

selalu terpenuhi, dan cara pemberian minum yang disatukan dengan hijauan dapat

meningkatkan nafsu makan ternak terhadap hijauan.

3.6. Manajemen Penyakit pada Sapi Perah (Mastitis) di Erif Dairy Farm

(Lussy Aulia D – 200110160109)

Beberapa penyakit yang sering menyerang pada sapi di Erif Dairy Farm

adalah mastitis abses dan cacing. Mastitis adalah penyakit yang menyerang

ambing, yaitu peradangan ambing dan membengkak serta disertasi meluruhnya sel

soma. Ciri penyakit sapi yang terserang mastitis yaitu ambing terjadi

pembengkakan, bila dipegang terasa keras dan hangat. Susu mastitis mengalami

perubahan yaitu rasanya terasa asin dan ada gumpalan yang terdapat pada cairan

susu. Di peternakan Erif sapi yang terkena mastitis menunjukan perilaku-perilaku

tertentu yaitu sapi sering menjilati putingnya sendiri. Mastitis banyak menyerang

pada sapi laktasi. Sedangkan tindakan pencegahan cacing diberikan pada pedet

dan sapi dara.

Penanganan sapi yang terserang mastitis adalah sapi-sapi tersebut diperah

terus menerus agar putting tersebut kosong. Pada saat pemerahan susu dari sapi
33

sapi yang terkena mastitis dipisahkan dan tidak disatukan dengan susu lain pada

milk can yang sama, sehingga susu dari sapi yang sehat tidak terkontaminasi oleh

susu sapi yang terserang mastitis.Penanganan selanjutnya sapi yang terserang

mastitis diberi antibiotika. Susu dari sapi yang terserang mastitis untuk sementara

tidak dipasarkan sampai sapi tersebut benar-benar sembuh.

Dilakukan juga pencegahan agar tidak terjadinya mastitis yaitu dengan

melakukan dipping (pencelupan) menggunakan masofil. Masofil berfungsi untuk

menutup lubang keluarnya cairan susu agar stelah pemerahan bakteri/mikroba

tidak masuk. Jika bakteri masuk maka akan terjadi mastitis. Penanganan yang

didapatkan telah sesuai jika dibandingan dengan literatur yang didapatkan yaitu

sebagai berikut

Utami, dkk (2004) menyatakan bahwa, beberapa hal yang harus dilakukan

untuk mencegah timbulnya penyakit adalah sebagai berikut :

1) Menjaga agar kebutuhan pakan selalu terpenuhi supaya penyakit

kekurangan unsur gizi bisa dihindari seperti penyakit kekrangan Ca pada

induk laktasi.

2) Menjaga kebersihan atau sanitasi agar supaya terhindar dari penyakit

akibat parasit maupun bakteri dan virus.

3) Melakukan pengobatan secara dini, misalnya pengobatan cacing

4) Memberikan pencegahan terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh virus.

5) Melakukan pemerahan dengan baik seperti melalukan melakukan

pemerahan dengan benar untuk menghindari penyakit mastitis, pemberian

pakan yang benar sehingga terhindar dari penyakit kembung dan lain-lain.
34

a) Deskripsi Mastitis

Mastitis berasal dari bahasa Yunani yaitu Matos yang berarti infeksi dan

Itis berarti radang. Jadi, Mastitis adalah infeksi yang menyebabkan peradangan

ambing pada sapi perah. Biasanya penyakit ini berlangsung secara akut, sub-akut

maupun kronis. Mastitis ditandai dengan peningkatan jumlah sel di dalam air

susu, perubahan fisik maupun susunan air susu dan disertai atau tanpa disertai

perubahan patologis atau kelenjarnya sendiri. Hal tersebut diatas menyebabkan

penurunan produksi susu. Perubahan fisik (susu) biasanya meliputi perubahan

warna, bau, rasa dan konsistensi. (Subronto, 2003).

Proses mastitis hampir selalu dimulai dengan masuknya mikroorganisme

ke dalam kelenjar melalui lubang puting (sphincter puting). Sphincter puting

berfungsi untuk menahan infeksi kuman. Pada dasarnya, kelenjar mammae sudah

dilengkapi perangkat pertahanan, sehingga air susu tetap steril. Perangkat

pertahanan yang dimiliki oleh kelenjar mammae, antara lain : perangkat

pertahanan mekanis, seluler dan perangkat pertahanan yang tidak tersifat (non-

spesifik). Tingkat pertahanan kelenjar mammae mencapai titik terendah saat

sesudah pemerahan, karena sphincter masih terbuka beberapa saat, sel darah putih,

antibodi serta enzim juga habis, ikut terperah (Hidayat, 2008).

Sapi yang terkena mastitis akut masih bisa diobati dengan memberi

antibiotik, sedangkan yang kronis dapat disembuhkan namun kelenjar ambing

sudah rusak dan terbentuk jaringan ikat sehingga tidak dapat memproduksi susu.

Oleh karena itu, sapi yang terkena mastitis kronis secara ekonomi sangat

merugikan dan lebih baik dijual.

b) Jenis-jenis Mastitis

Menurut Bentuknya
35

1) Mastitis catarralis, adalah mastitis yang paling ringan. Disini

ditemukan radang dan degenerasi pada parenchym (epitel) saluran-

saluran air susu besar.

2) Mastitis parenchymatosa, adalah radang yang meluas hingga asinus

pembentuk air susu, jadi hingga parenchym yang membentuk air

susu.

3) Mastistis interstitialis, radang terutama ditemukan di dalam


interstisium (jaringan ikat).

Menurut pembagian patologik anatomik mastitis

1) Mastitis catarrhalis, yakni radang pada saluran susu yang halus.

2) Mastitis parenchymatosa, radang parenchym pembentuk air susu.

3) Mastitis Phlegmonosa, dimana radang ini meluas dalam jaringan ikat.

Oleh karena itu dinamakan juga mastitis interstitialias. Terlihat pada

perlukaan dan infesi ambing.

4) Mastitis purulenta, disertai pembentukkan abses-abses.

5) Mastitis necriticans memperlihatkan regresi luar biasa dengan nekrosa

kering (necrosa koagulasi)

6) Mastitis indurativa, dimana kelenjar digantikan oleh jaringan ikat.

Sekresi air susu berhenti ambingnya akan terasa keras, lingkarannya

bertambah atau berkurang. Mastitis ini dapat terjadi pada 3 kuartir.

7) Mastitis specifica disebabkan oleh tuberculosis dan aktimikosis


(Ressang, 1984).

Mastitis klinis ditandai dengan kebengkakkan, panas, rasa sakit, warna

ambing kemerahan dan tergantung fungsinya. Mastitis sub-akut perubahan radang

ambing tersamar tetapi susunya mengalami perubahan. Kelainan bisa berupa


asimetris, bengkak, lesi pada puting susu dan warna merah pada radang hebat.
36

Mastitis kronis terjadi bila infeksi pada ambing berjalan lama dan ditandai dengan

adanya atropi ambing.

Mastitis subklinis tidak ditemukan gejala klinis namun tersifat pada sekresi

susunya, deteksi terhadap mastitis sub-akut dengan uji sekresi susunya yang

menunjukkan produk infiltrasi seperti leukosit, fibrin dan serum serta perubahan

komposisi kimiawi. Ditransferkan sodium klorat dan bikarbonat dari darah ke

dalam susu menjadi alkalis. Perubahan susu secara fisis meliputi warna, bau,

konsistensi dan rasanya. Warna menjadi putih pucat atau kebiruan, rasa menjadi

getir atau agak asin. Bau yang agak harum darisusu menjadi asam, sedangkan

konsistensinya menjadi cair dan kadang disertai dengan adanya jonjot atau

endapan fibrin dan protein (Damarjati, 2008).

c) Faktor-faktor Penyebab Mastitis

 Faktor Genetik

Resistensi atau kepekaan terhadap mastitis pada sapi, kambing atau domba

bersifat menurun. Gen-gen yang menurun akan menentukan ukuran dan struktur

puting (Swart, et al ., 1984). Tuasikal (2003) menyatakan bahwa saat periode

kering adalah saat awal kuman penyebab mastitis menginfeksi, karena pada saat

itu terjadi hambatan aksi fagositosis dari neutrofil pada ambing.

 Faktor Mikroorganisme

Menurut Mellenbenger (1997) bahwa berbagai jenis bakteri telah diketahui

sebagai agen penyebab penyakit mastitis, antara lain: Streptococcus agalactiae,

Str. Disgalactiae, Str. Uberis, Str.zooepidemicus, Staphylococcus aureus,

Escherichia coli, Enterobacter aerogenees dan Pseudomonas aeroginosa. Swart

(1984), menyatakan bahwa Staphylococcus adalah bakteri gram positif, bentuk

kokus dengan susunan berpasangan atau bergerombol, seperti anggur. Bersifat


37

aerobik atau anaerobik fakultatif, katalase positif, oksidase negatif, bersifat non-

motil, tidak membentuk spora. Staphylococcus tumbuh dengan cepat pada

beberapa tipe media dan aktif melakukan metabolisme serta melakukan fermentasi

karbohidrat.

d) Mekanisme terjadinya Mastitis

Luthvin (2007) menjelaskan bahwa proses infeksi pada mastitis terjadi

melalui beberapa tahap, yaitu adanya kontak dengan mikroorganisme dimana

sejumlah mikroorganisme mengalami multiplikasi di sekitar lubang puting


(sphincter), kemudian dilanjutkan dengan masuknya mikroorganisme akibat

lubang puting yang terbuka ataupun karena adanya luka. Gejala klinisnya berupa

pembengkakkan ambing dan jika ambing diraba terasa panas. Tahap berikutnya,

terjadi respon imun pada induk semang. Respon pertahanan pertama ditandai

dengan berkumpulnya leukosit-leukosit untuk mengeliminasi mikroorganisme

yang telah menempel pada sel-sel ambing. Apabila respon ini gagal, maka

mikroorganisme akan mengalami multiplikasi dan sapi dapat memperlihatkan

respon yang lain, misalnya demam, dan apabila infeksi terus berlanjut akan

terbentuk jaringan ikat sehingga ambing mengeras dan produksi susu terhenti.

Masuknya organisme ke dalam puting kebanyakan terjadi karena

terbukanya lubang saluran puting, terutama setelah diperah. Infasi ini dipermudah

dengan adanya lingkungan yang jelek, opulasi terlalu tinggi, adanya lesi pada

puting susu atau karena daya tahan sapi menurun. Fase Infeksi, Terjadinya

pembentukan koloni oleh mikroorganisme yang dalam waktu singkat menyebar ke

lobuli da alveoli. Fase Infiltrasi, ditandai saat mikroorganisme sampai ke mukosa

kelenjar, tubuh akan bereaksi dengan memobilisasi leukosit dan terjadi radang.

Adanya radang menyebabkan sel darah dicurahkan ke dalam susu, sehingga sifat
38

fisik serta susunan susu mengalami perubahan. Secara klinis proses radang

ambing dapat berlangsung secara akut, sub-akut, kronis (Poeloengan, 2005).

Sphincter puting berfungsi untuk menahan infeksi mikroorganisme yang

akan masuk ke dalam kelenjar mammae. Kelenjar mammae sebenarnya telah

dilengkapi dengan perangkat pertahanan, seperti pertahanan mekanis, seluler dan

pertahanan non-spesifik, sehingga air susu tetap steril. Namun, hal itu tidak terjadi

pada sapi yang terserang mastitis dan ditempatkan dalam kandang yang kotor dan

kekurangan pakan. Selain faktor mikroorganisme, seperti jenis, jumlah dan

virulensinya, faktor ternak dan lingkungan juga menentukan mudah tidaknya

infeksi ambing pada sapi dalam suatu peternakan. Umur sapi dan tingkat produksi

susu juga memengaruhi kejadian mastitis. Semakin tua umur sapi dan semakin

tinggi produksi susu, semakin mengendur pula sphincter putingnya. Puting

dengan sphincter yang kendur memungkinkan sapi mudah terinfeksi

mikroorganisme karena sphincter berfungsi menahan infeksi mikroorganisme.

Semakin tinggi produksi susu, semakin lama waktu yang diperlukan sphincter

untuk menutup secara sempurna. Hal ini lebih parah jika kondisi kandang sangat

kotor. Lingkungan dan pengelolaan peternakan juga memengaruhi terjadinya

infeksi ambing, seperti pakan, kandang, jumlah sapi dalam satu kandang,

ventilasi, sanitasi kandang, dan cara pemerahan susu.

e) Pengendalian Mastitis

 Cara penularan

Penularan mastitis dari seekor sapi ke sapi lain dan dari kuarter terinfeksi

ke kuarter normal bisa melalui tangan pemerah, kain pembersih, mesin pemerah

dan lalat (Nurdin,2006).

Penyakit mastitis menular dari satu sapi ke sapi yang lain atau dari kuarter
terinfeksi ke kuarter normal melalui tangan pemerah. Oleh karena itu, sapi yang
39

terkena mastitis hendaknya ditempatkan tersendiri dan diperah paling akhir,

dimulai dari kuarter yang sehat kemudia dilanjutkan ke kuarter yang terkena

mastitis.

 Diagnosis

Pengamatan secara klinis adanya peradangan ambing dan puting susu,

perubahan warna air susu yang dihasilkan. Uji lapang dapat dilakukan dengan

menggunakan California Mastitis Test (CMT), yaitu dengan suatu reagen khusus

(Wahyuni, 2005). Subronto (2003) menambahkan diagnosis mastitis bisa

dilakukan dengan Whiteside Test.

Radang dikatakan subklinis bila gejala klinis radang tidak ditemukan saat

pemeriksaan ambing. Pada radang yang bersifat akut, tanda-tanda radang jelas

ditemukan, seperti ambing bengkak, panas jika diraba, sakit, warna kemerahan,

dan fungsi ambing terganggu.

 Pengobatan

Subroto (2003) menyatakan bahwa sebelum menjalankan pengobatan

sebaiknya dilakukan uji sensitifitas. Resistensi Staphylococcus aureus terhadap

penicillin disebabkan oleh adanya β-laktamase yang akan menguraikan cincin β-

laktam yang ditemukan pada kelompok penicillin. Pengobatan mastitis sebaiknya

menggunakan: Lincomycin, Erytromycin dan Chloramphenicol. Disinfeksi puting

dengan alkohol dan infusi antibiotik intra mamaria bisa mengatasi mastitis. Injeksi

kombinasi penicillin, dihydrostreptomycin, dexamethasone dan antihistamin

dianjurkan juga. Antibiotik akan menekan pertumbuhan bakteri penyebab

mastitis, sedangkan dexamethasone dan antihistamin akan menurunkan

peradangan (Swartz, 2006).

Mastitis yang disebabkan oleh Streptococcus sp masih bisa diatasi dengan


penicillin, karena streptococcus sp masih peka terhadap penicillin (Subroto
40

2003). Dinyatakan oleh Swart (1984) bahwa strategi efektif untuk mencegah dan

mengatasi mastitis yang disebabkan oleh Staphilococcus aureus masih sukar

dipahami. Dilaporkan oleh Sudarwanto (1999), bahwa bakteri Staphylococcus sp

dan Streptococcus sp yang diisolasi dari kasus mastitis sapi telah banyak yang

multi resisten terhadap beberapa antibakterial. Penggunaan antibiotik untuk

mengatasi mastitis juga telah banyak merugikan masyarakat konsumen, karena

susu mengandung residu antibiotik bisa menimbulkan gangguan kesehatan.

Dilaporkan oleh Wahyuni dkk (2005), bahwa akibat penggunaan antibiotik

pada setiap kasus mastitis yang mungkin tidak selalu tepat, maka timbul masalah

baru yaitu adanya residu antibiotika dalam susu, alergi, resistensi serta

mempengaruhi pengolahan susu. Mastitis subklinis yang disebabkan oleh bakteri

gram positif juga makin sulit ditangani dengan antibiotik, karena bakteri ini sudah

banyak yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotik. Diperlukan upaya

pencegahan dengan melakukan blocking tahap awal terjadinya infeksi bakteri.

f) Kerugian Akibat Mastitis pada Sapi Perah di Indonesia

Mastitis merupakan penyakit yang sering terjadi pada sapi perah dan

menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternakan sapi perah di

seluruh dunia (Bannerman and Wall, 2005). Kerugian ekonomi yang diakibatkan

oleh mastitis, terutama mastitis subklinis, meliputi penurunan produksi dan mutu

susu, peningkatan biaya perawatan dan pengobatan, pengafkiran ternak lebih

awal serta pembelian sapi perah baru (Subronto, 2003).

Mastitis subklinis menjadi masalah yang sangat serius bagi para peternak,

karena sapi tidak menunjukkan gejala sakit tetapi produksi susu dapat turun dan

kualitas susu menjadi berkurang karena adanya kuman tersebut (Salasia et al.,

2005). Mastitis sangat merugikan karena mengakibatkan; Produksi susu menjadi


turun 25-30% atau berhenti sama sekali, kualitas susu menjadi turun sehingga
41

tidak dapat ijual atau tidak dapat dikonsumsi, biaya perawatan menjadi

meningkat, dan ternak perah diafkir lebih awal (Hidayat, 2008).

Produksi susu dipengaruhi olh faktor genetik dan faktor lingkungan.

Faktor lingkungan yang berpengaruh diantaranya adalah penyakit dan makanan.

Permasalahan yang sering menimpa peternaksapi perah adalah penyakit mastitis,

dimana 60-90 % sapi perah di Indonesia terserang mastitis. Penyakit ini sangat

merugikan karena berdampak pada penurunan produksi susu, penurunan kualitas

dan kehadirannya sering kali tidak disadari oleh peternak sehingga peternak baru

menyadari kondisi ternaknya setelah penyakit ini parah (Nurdin, 2006). Pengaruh

penyakit mastitis terhadap komponen dan pH susu bovine dapat dilihat pada tabel

3.

Tabel 3. Pengaruh Mastitis terhadap Komponen dan PH Susu Bovine.

Komponen Susu Normal Susu Mastitis

Lemak (%) 3,45 3,2

Laktosa (%) 4,85 4,4

Casein (mg/ml) 27,9 22,5

Whey Protein (mg/ml) 8,2 13,1

Na (mg/100 ml) 172,5 157,3

K (mg/100 ml) 80 – 130 >250

Cl (mg/100 ml) 136 49

Ca (mg/100 ml) 6,65 6,9 – 7.0

(Sumber : Eniza,2004)

Pada tabel 3 terlihat bahwa susu mastitis kandungan lemak, laktosa dan

casein menurun dan kandungan whey protein meningkat. Kandungan mineral


42

Natrium dan Chlorida terlihat meningkat sedangkan Kalium dan Kalsium

menurun (Eniza, 2004).

Menurut Salasia (2005), Penyakit mastitis tidak dapat diberantas tetapi

dapat diturunkan angka kejadiannya dengan manajemen yang baik pada

peternakan sapi perah. Mastitis menyebabkan kerugian ekonomi pada petani

dengan beberapa jalan; hasil susu yang menurun, kualitas susu menjadi jelek atau

terkontaminasi dengan antibiotika yang mengakibatkan produknya tidak dapat

dijual, adanya biaya pengobatan, tingginya angka pengafkiran dan kadang-


kadang mengakibatkan kematian. Susu yang diproses dalam home industri juga

merugi disebabkan oleh masalah kandungan antibiotika dalam susu yang dapat

menurunkan kandungan kimiawi susu dan kualitas susu dari sapi perah penderita

mastitis.
43

IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Tatalaksana pemeliharaan pedet merupakan salah satu hal penting yang

mempengaruhi produktivitass peternakan sapi perah. Tatalaksana

pemeliharaan pedet di Erif Dairy Farm secara berurutan diantaranya

persiapan kandang menjelang kelahiran, perawatan saat kelahiran,


pemberian kolostrum, pemberian susu, pemberian konsentrat dan

pemberian hijauan.

2. Manajemen susu di erif dairy farm cisaru bogor meliputi proses pemerahan

dan uji kualitas susu. SOP pemerahan di Erif Dairy Farm sudah sesuai

dengan literatur yaitu waktu pemerahan pada pagi dan sore dan meliputi

tiga fase yaitu persiapan, pemerahan dan pasca pemerahan. Kemudian uji

kualita susu ditentukan oleh dua fator yaitu TPC (tes plate count) dan TS

(total solid). Kualitas susu dari Erif Dairy Farm sendiri menduduki di

grade A.

3. Teknik perkawinan sapi di Erif Dairy Farm sudah sepenuhnya

menggunakan inseminasi buatan. Inseminasi buatan merupakan proses

memasukan sperma jantan kedalam saluran reproduksi betina dengan

menggunakan alat inseminator gun dan dengan bantuan manusia yang

disebut inseminator. Adapun tatalaksana inseminasi buatan di Erif Dairy

Farm sesuai dengan prosedur dan jarang mengalami kegagalan.

4. Manajemen reproduksi sangat penting dalam usaha ternak sapi perah

karena akan mempengaruhi produktivitas ternak dalam suatu peternakan.


Penanganan reproduksi yang dilakukan di Erif Dairy Farm sudah sesuai
44

dengan literatur yang ada diantaranya meliputi pengamatan berahi,

penanganan sapi bunting, penanganan kelahiran dan pengaturan interval

perkawinan sapi.

5. Manajemen pakan merupakan faktor penentu dalam usaha sapi perah.

Pemberian pakan di Erif Dairy Farm dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pada

pagi hari dan sore hari diberikan pakan konsentrat dicampur dengan ampas

tahu sebelum sapi diperah dan diberikan hijauan setelah pemerahan.

Dimana hijauan sebanyak 10% dari bobot badan sapi, konsentrat untuk

satu ekor sapi laktasi diperlukan 9-10kg, kemudian ampas tahu sebanyak

8-10kg.

6. Managemen penanganan penyakit di Erif Dairy Farm sudah sangat baik,

hal ini didukung karena co-owner sekaligus manager di Erif Dairy Farm

sendiri merupakan seorang dokter hewan. Beberapa penyakit yang sering

menyerang pada sapi di Erif Dairy Farm adalah mastitis, abses, dan

cacingan.

4.2 Saran

Magang di Erif Dairy Farm mengajarkan kami banyak hal,

terutama mengenai manajemen perusahaan dan staf. Namun alangkah

baliknya apabila kedepannya pihak polabina KSPTP membiarkan calon

anggota untuk memilih sendiri perusahaan tempat magang dan juga

mengajukan sendiri proposal magang ke perusahaan yang mereka pilih

tersebut.
45

DAFTAR PUSTAKA

AAK, 1995 .Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Penerbit Kanisius .


Yogyakarta
Alim, A.F dan T. Hidaka. 2002. Buku Petunjuk Teknologi Sapi di Indonesia Diary
Technology Improvement Project in Indonesia. Bandung

Bannerman, D. D. and R. J. Wall. 2005. A Novel Strategy for the Prevention of


Staphylococcusaureus-Induced Mastitis in Dairy Cows. Information
Systems for Biotechnology News Report. Virginia Tech University. USA.
1-4.
BATH, L.D . , F .N . DICKINSON, H .A . TUCKER, AND R.D . APPLEMAN.
1978 . Dairy Cattle : Principles, Practices, Problems, and Profits . Lea &
Febiger, Philadelphia, USA.
Brawijaya. Malang.

Damarjati. 2008. Pengaruh Mastitis Terhadap Susu yang Dihasilkan.


http://mikrobia .files.wordpress.com. Diakses pada 10 Februari 2018 pukul
15.20

Etgen WM, James RE, Reaves PM. 1987. Dairy Cattle Feeding and Management.
Ed ke-7. Virginia:Virginia Polytecnic Institute and State University.

Hafez, E. S. E. 1993. Semen Evaluation. In : Reproduction In Farm Animal. 6th


Edition. Lea and Febiger. Philadelfia. USA

Handayani KS, Purwanti M. 2010. Kesehatan ambing dan higiene pemerahan


dipeternakan sapi perah desa Pasir Buncir Kecamatan Caringin. J
PenyuluhanPertanian 5(1):47-54.

Hartadi, H., S. REKSOHADIPROJO dan A.D TILLMAN. 1997. Tabel Komposisi


Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada Univ. Press, Yogyakarta.
Hidayat A., drh., 2008. Buku Petunjuk Praktis untuk Peternak Sapi Perahtentang,
Manajemen Kesehatan Pemerahan.Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat.
HIDAYATI, N . 1995 . Pemeliharaan Pedet Sapi Perah . Wartazoa Vol . 4
Nomor 1-2 . Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan . Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian . Departemen Pertanian .
Ihsan, M.N., 1992. Inseminasi Buatan. LUW.Universitas Brawijaya. Malang
Ihsan, M.N., 1993. Ilmu Reproduksi Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas
Junjungan. 1995. Pemberian Ampas Tahu Untuk Domba dan Ransum Basal
Rumput Alam. JPPS 1. Edisi Khusus. Sub-Balai Penelitian Ternak Sei Putih
46

Luthvin, 2007. Identifikasi Staphylococcus aureus Penyebab Mastitis Dengan Uji


Fermentasi Mannitol Dan Deteksi Produksi Asetoin Pada Sapi Perah Di
Wilayah Kerja Koperasi Usaha Tani Ternak Suka Makmur Grati Pasuruan.
Jurnal Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Air Langga,
Jawa Timur.

Mellenbenger, R.W. 1997. Vaccination against mastitis. Jurnal.Dairy Sci. 60(6):


1016 – 1021.
Nurdin E. dan Mihrani, 2006. Pengaruh Pemberian Bunga Matahari Dan
Bioplus Terhadap Produksi Susu Dan Efisiensi Ransum Sapi Perah Freis
Holland Penderita Mastiti.,Jurnal Agrisistem Vol 2 No 2, Dosen Fakultas
Peternakan Universitas Andalas, Padang
Partodihardjo, S. 1980. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Jakarta.

Poeloengan M., 2005. Efektivitas Ekstrak Daun Sirih (Piper betle Linn) Terhadap
Mastitis Subklinis.Jurnal Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan
Veteriner, Balai Penelitian Veteriner, Bogor.
RUSTAMADJI, B. 1994 . Kecepatan Pertumbuhan Pedet Jantan dan Betina
Frisien Holstein Dengan Pemberian Pakan Secara Adlibitum Sampai
Dengan Umur Disapih . Proceedings Pertemuan Ilmiah Pengolahan dan
Komunikasi Hasil Penelitian Sapi Perah . Sub Balai Penelitian Ternak Grati
. Balai Penelitian Ternak Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan .
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian .
Sayuti et al. 2011. Pengantar Fisiologi Reproduksi. Animal Husbandry Project
Universitas Brawijaya. Malang.
SIREGAR, S . B. 1992. Sapi perah : Jenis, Teknik Pemeliharaan dan Analisa
Usaha. Penebar Swadaya . Jakarta .
Siti Rochmah. 2014. Risiko Produksi Susu Sapi Segar Pada Erif Dairy Farm Di
Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi Dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak (Mamalia) I. Edisi Kedua. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta. 309 – 351.

Sudarwanto M. 1999. Mastitis subklinis dan cara diagnosa. Makalah dalam


Kursus Kesehatan Ambing dan Program Pengendalian Mastitis. IKA-IPB
(tidak dipublikasikan), Institut Pertanian Bogor, Bogor.
SUDONO, A . , A. Nursamsi dan N .A . Sigit. 1989 . Pengaruh Pemberian Susu
Pengganti Terhadap Pertumbuhan dan Tenru Teknis Nasional Tenaga
Fungsional Pertanian 2006 Pusal Penelitian dan Pengembangan
Peternakan Daya Cerna Pada Anak Sapi Jantan Peranakan Fries Holland .
47

Prosiding Pertemuan Ilmiah Ruminansia, Cisarua Bogor 8-10 Nopember


1988 .
Sudono, A. 1982. Produksi Sapi Perah. Departemen Ilmu Produksi Ternak
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Sugeng, Y.B,.1993.Manajemen Kandang Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta
SUGIARTI, T. , E . Wina, B. Tangenjaya, dan I .W. Mathius. 1997 . Kemampuan
peningkatan berat badan sapi pedet jantan FH sampai dengan umur di
Tanjungsari Kabupaten Sumedang . Prosiding Seminar Nasional Peternakan
dan Veteriner . Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan . Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian .

Suwarsono. 1992. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada


University Press, Yogyakarta.

Swart, R., Jooste, P.J. and Novello, J.C., 1984. Prevalence andtypes of bacteria
associated subclinical mastitis in Bloem Fonte in dairy herds . Vet. Assoc.
51, 61.
Syarif ,Erif dan Bagus H. 2011. Pintar Beternak & Bisnias Sapi Perah. Agro
Media Pustaka. Jakarta.

Toelihere. 1981. Inseminasi Buatan pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.

Tomaszewska, M. W., J.M. Mastika, A. Djaja Negara, S. Gardiner, dan T.R.


Wiradarya. 1993. Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. Surabaya :
Sebelas Maret University Press.

Tuasikal; Sugoro B.J.I.; Tjiptosumirat ; Lina M., 2003, Pengaruh Iradiasi Sinar
Gamma pada Pertumbuhan Streptococcus agalactiae sebagai Bahan Vaksin
Penyakit Mastitis pada Sapi Perah. Jurnal. Sains dan Teknologi Nuklir
Indonesia, Vol IV. ed-2. P3TIR- Batan. Jakarta.

Wahyuni A.E.T.H., Wibawan I.W.T., Wibowo M.H, 2005. Karakterisasi


Hemaglutinin Streptococcus agalactiae dan Staphylococcus aureus
Penyebab Mastitis Subklinis Pada Sapi Perah.Jurnal Sain Veteteriner Vol.
23 No. 2, Bagian Mikrobiologi FKH-UGM, Yogyakarta.
Wodzicka, M, I.K. Sutama, I.G. Putu, T.G. Chaniago.1991. Reproduksi, Tingkah
Laku dan Produksi Ternak di Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
48

LAMPIRAN

Café Erif Dairy Farm

Penyuntikan vitamin pada pedet

Kandang pedet
49

Proses pencucian milk can dan alat perah

Proses pemandian sapi


50

Proses pemerahan

Kandang sapi laktasi