Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT SINDROME

KOMPARTEMENT

OLEH KELOMPOK 3 :

1. Komang Ariana (15060140007)


2. Putu Arya Satria Pratama (15060140009)
3. Ni Nyoman Ayu Rina Bayuni (15060140018)
4. Luh Putu Bestari Kusuma Dewi (15060140020)
5. Ni Putu Diantari (15060140035)
6. Ni Komang Febri Verawati (15060140050)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BULELENG


PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
2018
KATA PENGANTAR

Dengan segala kerendahan hati penulis memanjatkan puji syukur


kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan penulisan Tugas Makalah ini untuk memenuhi dalam
bidang penilaian mata kuliah Klinik 8 yang berjudul Asuhan Keperawatan Gawat
Darurat Sindrome Kompartement.

Dalam pembuatan makalah ini tentu masih banyak kekurangan baik itu
dari segi penulisan, isi dan lain sebagainya, maka penulis sangat mengharapkan
kritikan dan saran guna perbaikan untuk pembuatan makalah untuk hari yang
akan datang.

Demikianlah sebagai pengantar kata, dengan iringan serta harapan


semoga tulisan sederhana ini dapat diterima dan bermanfaat bagi pembaca. Atas
semua ini penulis mengucapkan terima kasih, semoga segala bantuan dari semua
pihak mudah – mudahan mendapat amal baik yang diberikan oleh Tuhan Yang
Maha Esa.

Singaraja, 26 Februari 2018

Penulis,

I
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... I

DAFTAR ISI .................................................................................................... II

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1

1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................ 1

1.3 Tujuan Penulisan .............................................................................. 2

1.4 Manfaat Penulisan ............................................................................ 3

BAB II KONSEP TEORI ............................................................................... 4

2.1 Pengertian Sindrome Kompartement ............................................... 4

2.2 Epidemiologi Sindrome Kompartement ........................................... 4

2.3 Klasifikasi Sindrome Kompartement ................................................ 5

2.4 Patofisiologi Sindrome Kompartement ............................................. 5

2.5 Pathway/WOC Sindrome Kompartement ......................................... 9

2.6 Pemeriksaan Penunjang .................................................................... 10

2.7 Penatalaksanaan Medis ..................................................................... 11

2.8 Asuhan keperawatan Sindrome Kompartement ............................... 11

BAB III PEMBAHASAN ............................................................................... 18


3.1 Pembahasan isi jurnal....................................................................... 18

BAB IV PENUTUP ......................................................................................... 20

4.1 Kesimpulan ...................................................................................... 20

4.2 Saran ................................................................................................. 21

DAFTAR PUSTAKA

II
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Susunan otot manusia terdiri dari kelompok- kelompok otot yang
dipisahkan oleh sebuah lapisan tebal yang disebut fascia. Kelompok-
kelompok otot ini terletak di ruangan yang dikenal dengan istilah
kompartemen. Apabila tekanan dalam ruang tertutup ini meningkat
sampai tingkat tertentu, akan muncul tanda dan gejala yang disebut
sindrom kompartemen.
Daerah ekstermitas memiliki banyak kompartemen yang
didalamnya terdapat otot,saraf,dan pembuluh darah. Itu semua
diselubungi oleh membran yang keras dan tidak elastis yang disebut
dengan fasia. Kompartemen sindrom terjadi apabila terjadi peningkatan
tekanan dalam kompartemen. (ENA,2000:533)
Sindrom Kompartemen merupakan suatu kondisi yang bisa
mengakibatkan kecacatan hingga mengancam jiwa akibat terjadi
peningkatan tekanan interstitial dalam sebuah ruangan terbatas yakni
kompartemen osteofasia yang tertutup. Sebagian besar terjadi pada daerah
lengan bawah dan kaki. Sehingga mengakibatkan berkurangnya perfusi
jaringan dan tekanan oksigen jaringan. (ENA,2000:533)
Sindrom kompartemen merupakan masalah yang terjadi saat
perfusi jaringan dalam otot kurang yang dibutuhkan untuk kehidupan
jaringan. Ini bisa disebabkan karena, penurunan kompartemen otot karena
fasia yang membungkus otot terlalu ketat atau gips atau balutan yang
menjerat,peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan
sehubungan dengan berbagi masalah (Smeltzer & Bare, 2001).
Insiden sindrom kompartemen tergantung pada traumanya.Pada
fraktur humerus atau fraktur lengan bawah, insiden dari sindrom
kompertemen dilaporkan berkisar antara 0,6-2%. Prevalensi sindrom
kompartemen meningkat pada kasus yang berhubungan dengan kerusakan
vaskuler sindrom kompartemen yang sesungguhnya mungkin lebih

1
besar dari yang dilaporkan karena sindrom kompartemen tersebut tidak terdeteksi
pada pasien yang keadaan sangat buruk(Paula, Richard 2009).

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa definisi dari sindrome kompartement?

1.2.2 Bagaimana epidemiologi sindrome kompartement?

1.2.3Apa saja klasifikasi sindrome kompartement?

1.2.4 Bagaimana patofisiologi sindrome kompartement?

1.2.5 Bagaimana WOC sindrome kompartement?

1.2.6 Apa saja pemeriksaan penunjang pada sindrome kompartement?

1.2.7 Bagaimana penatalaksanaan medis dari sindrome kompartement?

1.2.8 Bagaimana asuhan keperawatan pada sindrome kompartement?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum

Agar mahasiswa/i keperawatan mengetahui rencana asuhan keperawatan


gawat darurat pada system musculoskeletal dengan sindrome kompartement
secara langsung dan tepat.

1.3.2 Tujuan Khusus


Agar mahasiswa/i keperawatan mampu :
1. Memahami konsep dasar teori syndrome kompartement
2. Mengkaji pasien gangguan muskuloskeletal dengan syndrome
kompartement
3. Merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan
system muskuloskeletal syndrome kompartement
4. Menentukan tujuan dan rencana tindakan keperawatan pada pasien
dengan gangguan system muskuloskeletal syndrome kompartement

2
5. Mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam bentuk
pelaksanaan tindakan keperawatan pada pasien dengan gangguan
system muskuloskeletal syndrome kompartement
6. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
pada pasien dengan gangguan system muskuloskeletal syndrome
kompartement
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Untuk Instansi
Manfaat yang di dapatkan adalah untuk menambah laporan hasil
kegiatan mahasiswa yang nantinya dapat dijadikan referensi dalam
membuat suatu penelitian kasus.
1.4.2 Untuk Mahasiswa
Manfaat yang di dapatkan oleh mahasiswa adalah untuk melatih
kinerja mahasiswa dalam membuat suatu asuhan keperawatan gawat
darurat khususnya pada syndrome kompartement dan juga nantinya
mahasiswa dapat menjadikan bahan makalah ini untuk dijadikan pedoman
dalam menulis suatu laporan pendahuluan.
1.4.3 Untuk Keperawatan
Manfaat yang didapatkan dari makalah ini adalah nantinya dapat
dijadikan bahan referensi dan juga perbandingan kemajuan teori
keperawatan yang terdahulu dengan yang sekarang yang sudah
disempurnakan.

3
BAB II
KONSEP TEORI

2.1 Pengertian
Sindrom Kompartemen merupakan suatu kondisi yang bisa
mengakibatkan kecacatan hingga mengancam jiwa akibat terjadi
peningkatan tekanan interstitial dalam sebuah ruangan terbatas yakni
kompartemen osteofasia yang tertutup. Sebagian besar terjadi pada daerah
lengan bawah dan kaki. Sehingga mengakibatkan berkurangnya perfusi
jaringan dan tekanan oksigen jaringan. (ENA,2000:533)
Sindrom kompartemen merupakan masalah yang terjadi saat
perfusi jaringan dalam otot kurang yang dibutuhkan untuk kehidupan
jaringan. Ini bisa disebabkan karena, penurunan kompartemen otot karena
fasia yang membungkus otot terlalu ketat atau gips atau balutan yang
menjerat,peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan
sehubungan dengan berbagi masalah (Smeltzer & Bare, 2001).

2.2 Epidemiologi
Insiden sindrom kompartemen tergantung pada traumanya.Pada
fraktur humerus atau fraktur lengan bawah, insiden dari sindrom
kompertemen dilaporkan berkisar antara 0,6-2%. Pasien dengan
kombinasi ipsilateral fraktur humerus dan lengan bawah memiliki insiden
sebesar 30%. Secara keseluruhan, prevalensi sindrom kompartement
meningkat pada kasus yang berhubungan dengan kerusakan vascular.
Insiden 2-12% sindrom kompartement terjadi pada fraktur tibia.
DeLee dan Stiehl menemukan bahwa 6% dari pasien dengan fraktur tibia
terbuka berkembang menjadi sindrom kompartement, sedangkan pada
fraktur tibia tertutup hanya 1,2%. Insiden sindrom kompartement yang
sesungguhnya mungkin lebih besar dari yang dilaporkan karena sindrom
tersebut tidak terdekteksi pada pasien yang keadaannya sangat buruk.
Prevalensi juga lebih besar pada pasien dengan kerusakan vascular.
(Paula, Richard 2009)

4
5

2.3 Klasifikasi
Menurut ( Petrus Aprianto, 2017 )klasifikasi syndrome kompartement dibagi
menjadi 2 yaitu sebagai berikut :

1. Sindrom Kompartemen Akut


Pasien merasakan nyeri yang tidak sesuai dengan cedera dan
pembengkakan atau nyeri di daerah tersebut. Gejala lain termasuk nyeri
hebat dengan gerakan pasif otot dalam kompartemen, hilangnya gerakan
sadar pada otot yang terlibat, dan perubahan sensorik serta parestesia di
daerah yang dipersarafi oleh saraf yang terlibat.
2. Sindrom Kompartemen kronik
Pada sindrom kompartemen kronik, gejala mulai secara bertahap,
biasanya dengan peningkatan beban latihan atau latihan pada permukaan
keras. Rasa sakit digambarkan sebagai nyeri, terbakar, atau kram dan
terjadi pada gerakan berulang, paling sering berlari namun juga pada
menari, bersepeda, dan hiking. Rasa sakit biasanya terjadi pada sekitar
waktu yang sama setiap kali pasien berpartisipasi dalam kegiatan ini
(misalnya, setelah 15 menit berlari) dan bertambah atau tetap konstan jika
aktivitas terus berlangsung. Rasa sakit menghilang atau berkurang setelah
beberapa menit istirahat.
Pada gejala yang berlanjut, sakit nyeri tumpul dapat menetap.
Nyeri dapat terlokalisir pada kompartemen tertentu, meskipun beberapa
kompartemen sering dapat terlibat. Rasa baal dan kesemutan dapat terjadi
pada saraf yang terdapat di dalam kompartemen yang terlibat. Sindrom
kompartemen kronik dapat dilihat pada sindrom berlebihan lainnya
(misalnya, bersamaan dengan stres pada fraktur tibia)
2.4 Patofisiologi
A. Etiologi

Penyebab sindrom kompartemen secara umum dibedakan menjadi dua:


1. Peningkatan volume intra-kompartemen dengan luas ruang kompartemen
tetap; dapat disebabkan oleh:
6

 Fraktur yang menyebabkan robekan pembuluh darah, sehingga darah


mengisi ruang intra-kompartemen
 Trauma langsung jaringan otot yang menyebabkan pembengkakan
 .Luka bakar yang menyebabkan perpindahan cairan ke ruang intra-
kompartemen
2. Penurunan luas ruang kompartemen dengan volume intra-kompartemen
yang tetap
 Kompresi tungkai terlalu ketat saat imobilisasi fraktur
 Luka bakar yang menyebabkan kekakuan/ konstriksi jaringan ikat
sehingga mengurangi ruang kompartemen
Menurut (Petrus Aprianto, 2017) terdapat berbagai penyebab dapat meningkatkan
tekanan jaringan lokal yang kemudian memicu timbullny sindrom kompartemen,
yaitu antara lain:
1. Penurunan volume kompartemen
Kondisi ini disebabkan oleh:
• Penutupan defek fascia
• Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas
2. Peningkatan tekanan eksternal
• Balutan yang terlalu ketat
• Berbaring di atas lengan
• Gips
3. Peningkatan tekanan pada struktur komparteman
Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini antara lain:
• Pendarahan atau Trauma vaskuler
• Peningkatan permeabilitas kapiler
• Penggunaan otot yang berlebihan
• Luka bakar
• Operasi
Sejauh ini penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah cedera,
dimana 45 % kasus terjadi akibat fraktur, dan 80% darinya terjadi di anggota
gerak bawah.
7

B. Manifestasi klinis
Pertama-tama akan muncul gejala sensasi nyeri seperti terbakar. Rasa
nyeri terasa di bagian dalam otot tungkai bawah dan akan terasa lebih nyeri
saat digerakkan. Nyeri harus dibedakan dari nyeri trauma primer akibat
fraktur. Gejala lain yang sering menurut ( ENA 2005 ) adalah rasa
kesemutan tungkai bawah yang memberat akibat terjepitnya saraf perifer.
Rasa kesemutan pertama kali dirasakan pada jari pertama dan jari kedua
kaki. Gejala klasik 5P (pain, pallor, parasthesia, pulselessness,
poikilothermia).
1. Pain (nyeri) : nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot-otot
yang terkena, ketika ada trauma langsung. Nyeri merupakan gejala dini
yang paling penting. Terutama jika munculnya nyeri tidak sebanding
dengan keadaan klinik (pada anak-anak tampak semakin gelisah atau
memerlukan analgesia lebih banyak dari biasanya). Otot yang tegang pada
kompartemen merupakan gejala yang spesifik dan sering.
2. Pallor (pucat), diakibatkan oleh menurunnya perfusi ke daereah
tersebut.
3. Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi )
4. Parestesia (rasa kesemutan)
5. Paralysis : Merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi saraf
yang berlanjut dengan hilangnya fungsi bagian yang terkena
kompartemen sindrom.
C. Proses Penyakit

Sindrom Kompartemen merupakan suatu kondisi kecacatan yang dapat


mengancam jiwa. Sindrom Kompartemen disebabkan oleh beberapa hal,
yaitu, operasi, balutan yang terlalu ketat, kecelakaan lain seperti luka
bakar,luka tusuk, luka tembak dan kejatuhan benda keras.Pada sindrom
kompartemen terjadi peningkatan tekanan interstitial dalam sebuah ruangan
terbatas yakni kompartemen osteofasial yang tertutup. Sehingga
mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen.
Patofisiologi sindrom kompartemen melibatkan hemostasis jaringan lokal
normal yang menyebabkan peningkatan tekanan jaringan, penurunan aliran
8

darah kapiler, dan nekrosis jaringan lokal yang disebabkan hipoksia.


Tanpa memperhatikan penyebabnya, peningkatan tekanan jaringan
menyebabkan obstruksi vena dalam ruang yang tertutup. Peningkatan
tekanan secara terus menerus menyebabkan tekanan arteriolar intramuskuler
bawah meninggi. Pada titik ini, tidak ada lagi darah yang akan masuk ke
kapiler sehingga menyebabkan kebocoran ke dalam kompartemen, yang
diikuti oleh meningkatnya tekanan dalam kompartemen.
Penekanan terhadap saraf perifer disekitarnya akan menimbulkan nyeri
hebat dan mempelihatkan bahwa bila terjadi peningkatan intrakompartemen,
tekanan vena meningkat. Setelah itu, aliran darah melalui kapiler akan
berhenti. Dalam keadaan ini penghantaran oksigen juga akan terhenti,
Sehingga terjadi hipoksia jaringan (pale). Jika hal ini terus berlanjut, maka
terjadi iskemia otot dan nervus, yang akan menyebabkan kerusakan
ireversibel komponen tersebut.
Pada sindrom kompartemen tanda gejala yang biasanya muncul Pain
(nyeri) Pallor (pucat), Pulselesness ( berkurang atau hilangnya denyut
nadi)Parestesia (rasa kesemutan), Sindrom kompartemen jika tidak
mendapatkan penanganan dengan segera, akan menimbulkan berbagai
komplikasi antara lain : Nekrosis pada saraf dan otot dalam kompartemen,
kontraktur volkam, merupakan kerusakan otot yang disebabkan oleh
terlambatnya penanganan sindrom kompartemen sehingga timbul deformitas
pada tangan, jari, dan pergelangan tangan karena adanya trauma pada lengan
bawah,trauma vascular, gagal ginjal akut, sepsis, actue respiratory distress
syndrome (ARDS)

D. Komplikasi
Menurut (Smeltzer & Bare, 2001) sindrom kompartemen jika tidak
mendapatkan penanganan dengan segera, akan menimbulkan berbagai
komplikasi antara lain:
• Nekrosis pada syaraf dan otot dalam kompartemen
• Kontraktur volkman, merupakan kerusakan otot yang disebabkan
oleh terlambatnya penanganan sindrom kompartemen sehingga timbul
9

deformitas pada tangan, jari, dan pergelangan tangan karena adanya


trauma pada lengan bawa.
• Trauma vascular
• Gagal ginjal akut
• Sepsis
• Acute respiratory distress syndrome (ARDS)

2.5 WOC/PATHWAY
1. Operasi
2. Balutan yang terlalu ketat
3. Kecelakaan lain seperti luka bakar, luka tusuk, luka tembak,
kejatuhan benda keras

Cedera kolumna
verterbralis cedera
medula spinalis

Peningkatan
tekanan
interstitial

Terbatasnya Penekanan saraf


ruangan perifer
kompartemen
osteofasial
Nyeri akut

Berkurangnya
perfusi jaringan Peningkatan
tekanan jaringan

Ketidakefektifan
Penurunan aliran
perfusi jaringan
darah kapiler

Kebocoran ke dalam
kompartemen

Perdarahan

Syok hipovolemik
10

2.6 Pemeriksaan Penunjang


a. Laboratorium
1) Comprehensive metabolic panel (CMP)
Sekelompok tes darah yang memberikan gambaran keseluruhan
keseimbangan kimia tubuh dan metabolisme. Metabolisme mengacu pada
semua proses fisik dan kimia dalam tubuh yang menggunakan energy.
2) Complete blood cell count (CBC)
Pemeriksaan komponen darah secara lengkap yakni kadar :
Hemoglobin, Hematokrit, Leukosit (White blood cell / WBC), Trombosit
(platelet), Eritrosit (Red blood cell / RBC), indeks Eritrosit (MCW, MCH,
MCHC), Laju endap darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR) ,
Hitung jenis leukosit (diff count) platelet distribution width (PDW), Red
Cell Distribution Width (RDW)
1. Amylase and lipase assessment
2. Prothrombin time (PT), activated partial thromboplastin time (aptt)
bila pasien diberi heparin
3. Cardiac marker test (tes penanda jantung)
4. Urinalisasi and urine drug screen
5. Pengukuran level serum laktat
6. Arterial blood gas (ABG) : cara cepat untuk mengukur deficit pH,
laktat dan basa
7. Kreatinin fosfokinase dan urin myoglobin
8. Serum myoglobin
9. Toksikologi urin : dapat membantu menentukan penyebab, tetapi
tidak membantu dalam menentukan terapi pasiennya
10. Urin awal : bila ditemukan myologin pada urin, hal ini dapat
mengarah ke diagnosis rhabdomyolisis

b. Imaging
1. Rontgen : pada ekstremitas yang terkena
2. USG : USG membantu untuk mengevaluasi aliran arteri
dalam memvisualisasi Deep Vein Thrombosis (DVT).
11

2.7 Penatalaksanaan Medis

a. Terapi
1. Terapi medical/non bedah
Pemilihan terapi ini adalah jika diagnose kompartemen masih
dalam bentuk dugaan sementara, meliputi :
a. Menempatkan kaki setinggi jantung, untuk mempertahankan
ketinggian kompartemen yang minimal,elevasi dihindari
karena dapat menurunkan aliran darah dan akan memperberat
iskemi
b. Pada kasus penurunan ukuran kompartemen, gips harus dibuka
dan pembalut kontriksi harus dilepas
c. Pada kasus gigitan ular berbisa, pemberian anti racun dapat
menghambat perkembangan sindrom kompartemen
d. Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk
darah
e. Pada peningkatan isi kompartemen, diuretic dan pemakaian
manitol dapat mengurangi tekanan kompartemen, manitol
mereduksi edema seluler, dengan memproduksi kembali
energy seluler yang normal dan mereduksi sel otot yang
nekrosis melalui kemampuan dari radikal bebah
2. Terapi bedah
Fasciotomi dilakukan jika tekanan intrakompartemen mencapai
>30 mmHg. Tujuan dilakukan tindakan ini adalah menurunkan
tekanan dengan memperbaiki perfusi otot.
2.8 Konsep Asuhan Keperawatan ke Gawat daruratan pada Pasien Sindrom
Kompartement

A. Pengkajian

1. Primary Survey
Pengkajian primer mempunyai tujuan untuk mengetahui dengan segera
kondisi yang mengancam nyawa paisen dilakukan dalam tempo waktu
12

yang singkat (kurang dari 10 detik) difokuskan pada airway, Breathing,


Circulation (ABC).
A. (Airway)
Jalan nafas adalah sumbatan jalan atas (larynx, pharinx) akibat cedera
inhalasi yang ditandai kesulitan bernafas atau suara nafas yang berbunyi
stridor hoarness. Tindakan dengan membersihkan jalan napas,
memberikan oksigen, trakeostomi, pemberian kortikosteroid dosis
tertinggi dan antibiotika.

B. (Breathing)
Kemampuan bernafas, ekspansi rongga dada dapat terhambat karena nyeri
atau eschar melingkar di dada. Tindakan yang dilakuakan kaji dan
monitor kemampuan bernafas, memberikan oksigen, melakukan tindakan
kedaruratan jalan napas agresif.

C. (Circulation)

Status volume pembuluh darah. Keluarnya cairan dari pembuluh darah


terjadikarena meningkatnya permeabilitas pembuluh darah (jarak antara
sel endoteldinding pembuluh darah).

D. (Disability)
Pada primary survey, disability dikaji dengan menggunakan skala AVPU :
1) A - alert, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnya mematuhi
perintah yang diberikan
2) V - vocalises, mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan suara yang
tidak bisa dimengerti
3) P - responds to pain only (harus dinilai semua keempat tungkai jika
ekstremitas awal yang digunakan untuk mengkaji gagal untuk
merespon)
4) U - unresponsive to pain, jika pasien tidak merespon baik stimulus
nyeri maupun stimulus verbal.
13

E. Ekspose, Examine dan Evaluate


Dalam situasi yang diduga telah terjadi mekanisme trauma yang
mengancam terjadinya gagal napas, maka Rapid Trauma Assessment harus segera
dilakukan:
1) Lakukan pemeriksaan kepala, leher, dada dan ekstremitas pada pasien
2) Perlakukan setiap temuan luka baru yang dapat mengancam nyawa
pasien luka dan mulai melakukan transportasi pada pasien yang
berpotensi tidak stabil atau kritis.

2. Secondary Survey
Secondary Assessment survey sekunder merupakan pemeriksaan secara
lengkap yang dilakukan dengan teknik Body Sistem.

1. Breathing ( B1 )
Bagaimana pernafasannya, reguler/tidak, bagaimana kesimetrisannya,
bagaimana suaranya apakah terdapat suara tambahan. Apakah terdapat
pergerakan otot antar rusuk, bagaimana gerakan dada, bagaimana
suaranya apakah ada pembesaran dada.
2. Blood ( B2 )
Pada luka bakar yang berat, perubahan permiabilitas kapiler yang hampir
menyeluruh, terjadi penimbunan cairan massif di jaringan interstisial
menyababkan kondisi hipovolemik. Volume cairan intravascular
mengalami defisit, timbul ketidak mampuan menyelenggarakan proses
transportasi oksigen ke jaringan
3. Brain (B3 )
Manifestasi sistem saraf pusat karena keracunan karbon monoksida
dapat berkisar dari sakit kepala, sampai koma, hingga kematian
4. Bladder (B4)
Pengeluaran urin menurun disebabkan karena hipotensi dan penurunan
aliran darah ke ginjal dan sekresi hormone antideuretik serta aldosteron
5. Bowel (B5)
14

Adanya resiko paralitik usus dan distensi lambung bisa terjadi distensi
dan mual. Selain itu pembentukan ulkus gastrduodenal juga dikenal
dengan Curling’s biasanya merupakan komplikasi utama dari luka
bakar
6. Bone (B6)
Penderita dapat pula mengalami trauma misalnya mengalami patah
tulang punggung atau spine .
B. Diagnosa Keperawatan
1. Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan
2. ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan terbatasnya
ruangan kompartemen osteofasial
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis.
C. Intervensi Keperawatan
DX 1 : Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan
NOC NIC Rasional

 Syok prevention 1. Pantau tanda-tanda vital 1. Indikator


dan CVP, perhatikan keadekuatan
 Syok management
adanya / derajat volume sirkulasi.
Setelah diakukan tindakan perubahan tekanan darah
keperawatan selama …x postural
…, diharapkan klien dapat
mempertahankan tingkat
kesadaran yang baik, 2. Tempatkan pasien dalam
dengan posisi supine dan kaki 2. Untuk memberi
elevasi rasa nyaman
kriteria hasil :

1. Menunjukkan tingkat
kesadaran yang baik

2. Fungsi kognitif dan 3. Awasi jumlah dan tipe


motorik baik masukan cairan , ukur
3. Klien tidak
volume urin dengan
15

3. Tanda-tanda vital akurat mengkonsumsi


normal cairan,oliguria
bisa terjadi dan
toksin dalam
sirkulasi
mempengaruhi
antibiotic

4. Kolaborasi dengan
dokter dalam pemberian
4. Untuk mencegah
obat
kekurangan
- volume cairan

DX 2 : Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan terbatasnya


ruangan kompartemen osteofasial
NOC NIC Rasional

 Circulation status 1. Monitor tanda-tanda 1. Indikator umum


vital status sirkulasi dan
 Tissue perfusion:
keadekuatan perfusi.
cerebral

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama …x…,
diharapkan perfusi serebal
2. Untuk
menjadi adekuat 2. Hilangkan semua
memperlancar
tekanan dari luar
dengan kriteria hasil : sirkulasi

1. Nadi teraba

2. Pasien tidak tampak


pucat 3. Hindarkan
3. Untuk mencegah
penggunaan kompres
konstriksi pembuluh
16

es darah

4. Mempertahankan
volume sirkulasi
4. Berikan cairan IV
untuk
memaksimalkan
perfusi jaringan

DX3: Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis.


NOC NIC Rasional

 Pain level 1. Observasi tingkat 1. Pengkajian yang


nyeri dan respon optimal akan
 Pain control
motorik pasien memberikan data
Setelah dilakukan yang objektif untuk
tindakan keperawatan melakukan intervensi
selama …x… jam, yang tepat
diharapkan nyeri
2. Akan memperlancar
berkurang dengan
peredaran darah dan
criteria hasil : 2. Mengajarkan teknik
dapat mengalihkan
relaksasi dan metode
1. Pasien tidak merasa perhatian nyerinya ke
distraksi
kesakitan hal-hal yang
menyenangkan
2. Tanda-tanda vital
dalam batas normal 3. Menghindari adanya
tekanan intra
-
abdomen
3. Beritahu pasien untuk
tidak mengangkat
17

benda yang berat

4. Analgesik memblok
lintasan nyeri,
4. Kolaborasi pemberian
sehingga nyeri
analgesik
berkurang

D. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan dibuat sesuai dengan perencanaan keperawatan nanda


NIC NOC.

E. Evaluasi Keperawatan

Dx 1 : Syok hipovelemik berhubungan dengan perdarahan

1. Menunjukkan tingkat kesadaran yang baik


2. Fungsi kognitif dan motorik baik
3. Tanda-tanda vital normal
Dx 2 : ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan terbatasnya
ruangan kompartemen osteofasial
1. Nadi teraba
2. Pasien tampak tidak pucat

Dx 3 : Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis

1. Pasien tidak merasa kesakitan


2. Tanda-tanda vital dalam batas normal
18
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pembahasan Isi Jurnal


Pada bab ini akan diuraikan mengenai hasil pembahasan jurnal yang telah
di paparkan diatas. Jurnal yang berjudul “ Sindrom Kompartemen Akut Tungkai
Bawah”. Penulisan dalam jurnal tersebut sudah sesuai dengan penulisan jurnal
yang sebenarnya. Di dalam jurnal tersebut di bahas mengenai mekanisme
sindrom kompartemen pada tungkai bawah, tanda dan gejala, dan tatalaksana
sindrom kompartemen. Sindrom kompartemen merupakan kumpulan gejala yang
terjadi saat tekanan dalam ruang tertutup kompartemen otot meningkat sampai
tingkat berbahaya. Peningkatan tekanan dalam kompartemen otot biasanya
diawali oleh proses trauma yang disertai fraktur. Peningkatan ini dapat
disebabkan oleh fraktur, ataupun oleh serangkaian tindakan selama penanganan
fraktur. Sebanyak 75% kasus kompartemen sindrom diawali fraktur, terutama
fraktur tibia (tulang kering) pada 36% kasus.Sebagian besar kasus sindrom
kompartemen terjadi pada pria dewasa berusia 30-35 tahun, antara lain karena
massa otot pada pria usia tersebut lebih besar daripada wanita seusianya (10:1)
dan lebih besar daripada pria berusia di atas 35 tahun. Penyebab dari sindrom
kompartemen itu dibedakan menjadi 2 yaitu Peningkatan volume intra-
kompartemen dengan luas ruang kompartemen tetap dan Penurunan luas ruang
kompartemen dengan volume intra-kompartemen yang tetap,dimana dari
penyebab sindrom kompartement akan dapat menimbulkan gejala menurut jurnal
seperti Gejala klasik 5P (pain, pallor, parasthesia, pulselessness, poikilothermia)
tidak selalu dikenali. Gejala klasik ini sering muncul terlambat saat periode emas
penanganan. Tatalaksana sindrom kompartement itu sendiri adalah
dekompresi. Dekompresi dengan tujuan menurunkan tekanan dalam
kompartemen.
Dilihat dari pembahasan jurnal diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
sindrom kompartemen dapat terjadi pada kasus trauma yang disertai fraktur,
paling sering di tungkai bawah. Sindrom kompartemen tidak memiliki tanda dan

18
19

gejala khusus, tanda dan gejalanya sering diduga berasal dari trauma primer.
Tanda dan gejala serta mekanisme terjadinya sindrom kompartemen sangat perlu
dipahami agar dapat didiagnosis dalam periode emasnya. Tindakan definitif
terbaik dekompresi kompartemen tungkai bawah adalah fasiotomi dengan teknik
insisi ganda.
Dari konsep teori dengan jurnal yang dibahas dapat dibandingkan bahwa
konsep teori dengan jurnal materi yang dibahas hampir memiliki kesamaan ,
hanya saja memiliki letak perbedaan pada epidemiologi dan patofisiologi yang
dibahas pada konsep teori karena pada konsep teori patofisiologi dipaparkan
sendiri dengan melihat penyebab dan tanda gejala dari sindrome kompartment.
Selain itu dijurnal tidak dipaparkan tentang klasifikasi pada sindrom
kompartement ,pemeriksaan fisik dan asuhan keperawatan yang diberikan pada
syndrome kompartement.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sindrom Kompartemen merupakan suatu kondisi yang bisa
mengakibatkan kecacatan hingga mengancam jiwa akibat terjadi peningkatan
tekanan interstitial dalam sebuah ruangan terbatas yakni kompartemen
osteofasia yang tertutup. Sebagian besar terjadi pada daerah lengan bawah
dan kaki. Sehingga mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan
tekanan oksigen jaringan.
Penyebab sindrom kompartemen secara umum dibedakan menjadi dua:

 Peningkatan volume intra-kompartemen dengan luas ruang kompartemen tetap;


dapat disebabkan oleh:
 Fraktur yang menyebabkan robekan pembuluh darah, sehingga darah
mengisi ruang intra-kompartemen
 Trauma langsung jaringan otot yang menyebabkan pembengkakan
 .Luka bakar yang menyebabkan perpindahan cairan ke ruang intra-
kompartemen
 Penurunan luas ruang kompartemen dengan volume intra-kompartemen
yang tetap
 Kompresi tungkai terlalu ketat saat imobilisasi fraktur
 Luka bakar yang menyebabkan kekakuan/ konstriksi jaringan ikat
sehingga mengurangi ruang kompartemen
Gejala klasik 5P (pain, pallor, parasthesia, pulselessness, poikilothermia).
1. Pain (nyeri) : nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot-otot
yang terkena, ketika ada trauma langsung.
2. Pallor (pucat), diakibatkan oleh menurunnya perfusi ke daereah
tersebut.
3. Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi )
4. Parestesia (rasa kesemutan)
5. Paralysis : Merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi
saraf yang berlanjut dengan hilangnya fungsi bagian yang terkena
kompartemen sindrom.

20
21

4.2 Saran

4.1.1 Untuk Pembaca


Diharapkan makalah ini dapat digunakan sebagai referensi untuk
menambah wawasan atau pengetahuan pembaca mengenai asuhan keperawatan
kegawatdaruratan syndrome kompartement.

4.2.2 Untuk Penulis


Diharapkan Penulis selanjutnya dapat lebih memahami tentang asuhan
keperawatan kegawatdaruratan syndrome kompartement.
DAFTAR PUSTAKA

Emergency Nurses Association. 2005. Sheehy’s Manual Of Emergency Care. Edisi


ke-6. Philadelphia: Elsevier Mosby

Paula, Richard MD. 2009. Abdominal Compartment Syndrome. Available at


www.emedicine.com/ 829008-overview.ht
Petrus aprianto https://www.academia.edu/8836065/MAKALAH_SINDROME
KOMPARTEMENT diakses tanggal 19 Februari 2018.

Petrus aprianto https://www.scribd.com/document/328251326/SINDROM-


KOMPARTEMEN -pdf diakses tanggal 19 februari 2018

Smeltzer, Suzanne C.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Edisi 8. Volume 1. EGC. Jakarta .

Wilkinson, Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosis keperawatan dengan intervensi


NIC dan Kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC