Anda di halaman 1dari 3

Ringkasan Materi Pertemuan 1

‘Perkuliahan, Kefarmasian, Per-UU-an, Disiplin dan Etik’


oleh : Ashri Almiahsari (1706127745)

Dalam melaksanakan praktik sediaan, atau produk. Adapun bidang farmasi


kefarmasian, terdapat 10 area standar diantarnya adalah industri/manufaktur,
kompetensi apoteker indonesia yaitu praktik distribusi, dan retail/pelayanan. Farmasi juga
kefarmasian secara professional dan etik, dapat terlibat dalam bidang regulasi, pembinan,
optimalisasi penggunaan sediaan farmasi, dan pengawasa, serta di lembaga pendidan,
dispensing sediaan farmasi dan alat kesehatan, lembaga penelitian, TNI/POLRI, dan lain
pemberian informasi sediaan farmasi dan alat sebagainya. Dalam melaksanakan pekerjaan
kesehatan, formulasi dan produksi sediaan maupun praktik kefarmasian terdapat tiga hal
farmasi, upaya preventif dan promotif kesehatan yang harus dimiliki dan berjalan bersamaan yaitu
masyarakat, pengelolaan sediaan farmasi dan science, education, dan practice.
alat kesehatan, komunikasi efektif, keterampilan Peraturan Perundang-undangan adalah
organisasi dan hubungan interpersonal, peraturan tertulis yang memuat norma hukum
peningkatan kompetensi diri. yang mengikat secara umum dan dibentuk atau
Pelayanan kesehatan dilaksanakan atas ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat
kerja sama dari beberapa pihak seperti medis, yang berwenang melalui prosedur yang
farmasi, para medis, dan lain-lain. Pekerjaan ditetapkan dalam Peraturan Perundang-
kefarmasian tediri dari pembuatan termasuk undangan. Ciri Peraturan Perundangan yang baik
pengendalian mutu sediaan farmasi, diantaranya yaitu kelembagaan atau pejabat
pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pembentuk yang tepat, kejelasan tujuan,
pendistribusian atau penyaluran obat, kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi
pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep muatan, dapat dilaksanakan kedayagunaan dan
dokter, pelayanan informasi obat serta kehasilgunaan, kejelasan rumusan dan
pengembangan obat, bahan obat dan obat keterbukaan. Adapun hirarki perundangan-
tradisional. Sedangkan praktik kefarmasian tidak undangan dari yang tertinggi secara berurutan
melakukan pengelolaan obat. adalah UUD 1945, ketetapan MPR, undang-
Komoditi farmasi diantaranya obat, obat undang/PERPPU, peraturan
tradisional, kosmetik, makanan, minuman, pemerintah/presiden, dan peraturan daerah.
perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT), Dalam UU No 12 Tahun 2011 dijelaskan
bahan berbahaya yang dapat merupakan bahan, mengenai sistematika dan format dari undang-
undang yang ada, yang terdiri dari judul, latar PERMENKES, PER KA BPOM, dan Edaran. Pada
belakang, dasar hukum, ketentuan umum, peraturan tersebut membahas mengenai
tujuan, materi muatan, sanksi, ketentuan sediaan farmasi dan pekerjaan kefarmasian,
peralihan atau penutup yang berisi tentang perlindungan konsumen, otonomi daerah,
pergantian peraturan yang baru / psikotropika dan narkotika, tenaga
mentidakberlakukan peraturan yang lama. kerja/sertifikasi/registrasi/lisensi, pengamanan
Beberapa hal yang menjadi latar sediaan farmasi, tenaga kesehatan, standar
belakang adanya pengaturan bidang farmasi sarana dan pelayanan, perijinan, obat wajib
diantaranya adalah perintah perundang- apotek, penyimpanan, dan apotek ‘rakyat’.
undangan, belum tersedianya pelayanan dan Norma/kaidah social merupakan
sediaam farasi, alat kesehatan, dan PKR secara Pedoman, patokan atau ukuran untuk
baik dan benar, belum terjaminnya pelayanan berperilaku atau bersikap (yang seharusnya
keamanan, mutu dan khasiat/kemanfaatan dilakukan atau yang seyogyanya tidak dilakukan,
secara baik dan benar, belum terjangkaunya yang dilarang untuk dilakukan atau dianjurkan
pelayanan, sediaan farmasi, alat kesehatan dan untuk dijalankan) dalam masyarakat agar tidak
PKRT, bagi masyarakat secara baik dan benar, merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Kaidah
belum terlindungnta masyarakat terhadap hukum dapat dibedakan dari kaidah
penggunaan yang tidak memenuhi standar dan kepercayaan, kaidah kesusilaan, dan sopan
persyaratan secara baik dan benar, banyaknya santun, tetapi tidak dapat dipisahkan. Isi kaidah
akibat yang muncul dari penggunaan yang salah hukum ditujukan kepada sikap lahir manusia,
dan penyalahgunaan, dan juga belum adanya tidak seorangpun dapat dihukum karena apa
kepastian hukum. yang dipikirkan atau yang dibatinnya. Peristiwa
Lingkup pekerjaan kefarmasian dimulai hukum adalah peristiwa yang relevan bagi
dari komoditi, pasien, hingga masyarakat, yang hukum, perisiwa yang oleh hukum dihubungkan
berperaan dari proses produksi hingga sampai dengan akibat hukum atau peristiwa yang oleh
pada penggunaan di masyarakat. Adapun hukum dihubungkan dengan timbul atau
peraturan perundangan da kebjakan lenyapnya hak dan kewajiban. Perbedaan etik,
kefarmasian dan yang terkait pelayanan farmasi disipilin dan hukum dapat dibedakan
diantaranya REGLEMENT DVG ORDONASI OBAT berdasarkan sembilan parameter diantaranya
KERAS, UU 35, 36, 44 /’09, UU 8/’99, UU 32/’04- norma, pelanggaran, dampak, lingkup, bentuk,
UU8/’05, UU 5/’97, UU 13/’03, UU 36/’14, UU yang menyusun, sanksi, yang memeriksa, dan
29/’04, PP 51/’09, PP 25/80, PP 32/96, PP 72/’98, tujuannya