Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

REUMATOID ARTHRITIS

Disusun Oleh:

Anis Nur ‘Azizah

170104020

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HARAPAN BANGSA

PURWOKERTO

2018
LAPORAN PENDAHULUAN
RHEUMATOID ARTHRITIS

A. DEFINISI
Artritis Reumatoid atau Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit autoimun
sistemik (Symmons, 2006). RA merupakan salah satu kelainan multisistem yang
etiologinya belum diketahui secara pasti dan dikarateristikkan dengan destruksi
sinovitis (Helmick, 2008). Penyakit ini merupakan peradangan sistemik yang paling
umum ditandai dengan keterlibatan sendi yang simetris (Dipiro, 2008). Penyakit RA
ini merupakan kelainan autoimun yang menyebabkan inflamasi sendi yang
berlangsung kronik dan mengenai lebih dari lima sendi (poliartritis) (Pradana, 2012).
B. ETIOLOGI
Etiologi RA belum diketahui dengan pasti. Namun, kejadiannya dikorelasikan
dengan interaksi yang kompleks antara faktor genetik dan lingkungan (Suarjana,
2009):
1. Genetik, berupa hubungan dengan gen HLA-DRB1 dan faktor ini memiliki angka
kepekaan dan ekspresi penyakit sebesar 60% (Suarjana, 2009).
2. Hormon Sex, perubahan profil hormon berupa stimulasi dari Placental
Corticotraonin Releasing Hormone yang mensekresi dehidropiandrosteron
(DHEA), yang merupakan substrat penting dalam sintesis estrogen plasenta. Dan
stimulasi esterogen dan progesteron pada respon imun humoral (TH2) dan
menghambat respon imun selular (TH1). Pada RA respon TH1 lebih dominan
sehingga estrogen dan progesteron mempunyai efek yang berlawanan terhadap
perkembangan penyakit ini (Suarjana, 2009).
3. Faktor Infeksi, beberapa agen infeksi diduga bisa menginfeksi sel induk semang
(host) dan merubah reaktivitas atau respon sel T sehingga muncul timbulnya
penyakit RA (Suarjana, 2009).
4. Heat Shock Protein (HSP), merupakan protein yang diproduksi sebagai respon
terhadap stres. Protein ini mengandung untaian (sequence) asam amino homolog.
Diduga terjadi fenomena kemiripan molekul dimana antibodi dan sel T mengenali
epitop HSP pada agen infeksi dan sel Host. Sehingga bisa menyebabkan
terjadinya reaksi silang Limfosit dengan sel Host sehingga mencetuskan reaksi
imunologis (Suarjana, 2009).
5. Faktor Lingkungan, salah satu contohnya adalah merokok (Longo, 2012).
C. PATOFISIOLOGI
RA merupakan penyakit autoimun sistemik yang menyerang sendi. Reaksi
autoimun terjadi dalam jaringan sinovial. Kerusakan sendi mulai terjadi dari
proliferasi makrofag dan fibroblas sinovial. Limfosit menginfiltrasi daerah
perivaskular dan terjadi proliferasi sel-sel endotel kemudian terjadi neovaskularisasi.
Pembuluh darah pada sendi yang terlibat mengalami oklusi oleh bekuan kecil atau sel-
sel inflamasi. Terbentuknya pannus akibat terjadinya pertumbuhan yang iregular pada
jaringan sinovial yang mengalami inflamasi. Pannus kemudian menginvasi dan
merusak rawan sendi dan tulang Respon imunologi melibatkan peran sitokin,
interleukin, proteinase dan faktor pertumbuhan. Respon ini mengakibatkan destruksi
sendi dan komplikasi sistemik (Surjana, 2009).
D. MANIFESTASI KLINIS
RA dapat ditemukan pada semua sendi dan sarung tendo, tetapi paling sering
di tangan. RA juga dapat menyerang sendi siku, kaki, pergelangan kaki dan lutut.
Sinovial sendi, sarung tendo, dan bursa menebal akibat radang yang diikuti oleh erosi
tulang dan destruksi tulang disekitar sendi (Syamsuhidajat, 2010).
Tanda-tanda peradangan pada sendi tidak menonjol dan timbul belakangan,
mungkin dijumpai karena adanya sinovitis, terdiri dari nyeri tekan, gangguan gerak,
rasa hangat yang merata dan warna kemerahan, antara lain (Nasution, 2011);
1. Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama. Nyeri biasanya bertambah dengan
gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu
kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibandingkan gerakan yang
lain.
2. Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan
dengan bertambahnya rasa nyeri.
3. Kaku pagi
Pada beberapa pasien, nyeri sendi yang timbul setelah immobilisasi, seperti
duduk dari kursi, atau setelah bangun dari tidur.
4. Krepitasi
Rasa gemeretak (kadqang-kadang dapat terdengar) pada sendi yang sakit.
5. Pembesaran sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (lutut atau tangan
yang paling sering) secara perlahan-lahan membesar.
6. Perubahan gaya berjalan
Hampir semua pasien osteoartritis pergelangan kaki, tumit, lutut atau panggul
berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan gangguan fungsi sendi
yang lain merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien yang
umumnya tua (lansia)
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Tes serologi
a. Sedimentasi eritrosit meningkat
b. Darah, bisa terjadi anemia dan leukositosis
c. Rhematoid faktor, terjadi 50-90% penderita
2. Pemerikasaanradiologi
a. Periartricular osteoporosis, permulaan persendian erosi
b. Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, sub luksasi dan ankilosis
3. Aspirasi sendi
Cairan sinovial menunjukkan adanya proses radang aseptik, cairan dari sendi
dikultur dan bisa diperiksa secara makroskopik.
F. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Medis
Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik, hanya bersifat
simtomatik. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) bekerja hanya sebagai
analgesik dan mengurangi peradangan, tidak mampu menghentikan proses
patologis.
2. Penatalaksaaan Keperawatan
Penatalaksanaan keperawatan bagi penderita RA yaitu (Afriyanti, 2009):
a. Istirahatkan sendi yang sakit, dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi
yang sakit.
b. Mandi dengan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri
c. Lingkungan yang aman untuk melindungi dari cedera
d. Dukungan psikososial
e. Diet untuk menurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya keluhan
f. Diet
Tujuan pemberian diet ini adalah untuk mengurangi pembentukan
asam urat dan menurunkan berat badan, bila terlalu gemuk dan
mempertahankannya dalam batas normal. Bahan makanan yang boleh dan
yang tidak boleh diberikan pada penderita:

Golongan
Makanan Makanan
bahan
yang boleh diberikan yang tidak boleh diberikan
makanan
Karbohidrat Semua Tidak ada
Sardin, kerang, jantung, hati,
Daging/ ayam, ikan tongkol,
usus, limpa, paru-paru, otak,
bandeng 50 gr/hari, telur, susu,
ekstrak daging/ kaldu, bebek,
keju
angsa, burung.
Protein Kacang-kacangan kering 25 gr
Tidak ada
nabati atau tahu, tempe, oncom
Lemak Minyak dalam jumlah terbatas. Tidak ada
Semua sayuran sekehendak Asparagus, kacang polong,
kecuali: asparagus, kacang kacang buncis, kembang kol,
Sayuran polong, kacang buncis, kembang bayam, jamur maksimum 50 gr
kol, bayam, jamur maksimum 50 sehari
gr sehari
Buah Semua macam buah Tidak ada
Teh, kopi, minuman yang
Minuman Alkohol
mengandung soda
Bumbu, dll Semua macam bumbu Ragi

G. FOKUS PENGKAJIAN
1. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral), amati
warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit, dan pembengkakan.
b. Lakukan pengukuran passive range of mation pada sendi-sendi sinovial
c. Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)
d. Catat bila ada krepitasi
e. Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan
f. Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet secara bilateral
g. Catat bia ada atrofi, tonus yang berkurang
h. Ukur kekuatan otot
i. Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya
j. Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari
k. Riwayat Psiko Sosial
Pasien dengan RA mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup
tinggi apalagi pad pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi
karean ia merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada dirinya dan
merasakan kegiatan sehari-hari menjadi berubah. Perawat dapat melakukan
pengkajian terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image dan
harga diri klien.
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan agen cidera biologis
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan agen cidera biologis.
3. Gangguan Sensorik berhubungan dengan perubahan resepsi, transmisi, dan/atau
integrasi sensori
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan penyakit
5. Gangguan citra diri berhubungan dengan penyakit
K. FOKUS INTERVENSI
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
NOC : Pain level, Pain Control
NIC : Pain Management
a. Melakkukan pengkajian nyeri secara kompeherensif (P, Q, R, S, T)
b. Kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-
faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal.
c. Dorong untuk sering mengubah posisi,. Bantu untuk bergerak di tempat
tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan bawah, hindari gerakan yang
menyentak.
d. Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada
waktu bangun dan/atau pada waktu tidur. Sediakan waslap hangat untuk
mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air
kompres, air mandi, dan sebagainya.
e. Berikan masase yang lembut
f. Ajarkan teknik non farmakologi (relaksasi, distraksi, relaksasi progresif)
g. Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk (mis:asetil salisilat)
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, penurunan kekuatan otot.
NOC : Self care: ADLs
NIC : Exercise therapy
a. Monitoring vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat
latihan
b. Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
c. Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah terhadap
cedera
d. Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai
kemampuan dampingi dan bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi
kebutuhan ADL.
e. Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika
diperlukan
3. Gangguan Sensorik berhubungan dengan perubahan resepsi, transmisi, dan/atau
integrasi sensori
NOC : Sensori function
NIC : Neurologik Monitoring
a. Monitor tingkat neurologis
b. Monitor fungsi neurologis klien
c. Monitor respon neurologis
d. Monitor reflek-reflek meningeal
e. Monitor fungsi sensori dan persepsi : penglihatan, penciuman,
pendengaran, pengecapan, rasa
f. Monitor tanda dan gejala penurunan neurologis
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan penyakit
NOC : Self care : Activity of Daily Living (ADLs)
NIC : Self Care assistane : ADLs
a. Monitor kemempuan klien untuk perawatan diri yang mandiri.
b. Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk kebersihan diri,
berpakaian, berhias, toileting dan makan.
c. Sediakan bantuan sampai klien mampu secara utuh untuk melakukan self-
care.
d. Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang normal sesuai
kemampuan yang dimiliki.
e. Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi beri bantuan ketika klien
tidak mampu melakukannya.
5. Gangguan citra diri berhubungan dengan penyakit
NOC: Body image
NIC : Body image enhancement
a. Kaji secara verbal dan non verbal respon klien terhadap tubuhnya
b. Monitor frekuensi mengkritik dirinya
c. Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan prognosis
penyakit
d. Dorong klien mengungkapkan perasaannya
e. Identifikasi arti pengurangan melalui pemakaian alat bantu
f. Fasilitasi kontak dengan individu lain dalam kelompok kecil
DAFTAR PUSTAKA

Afriyanti, N, F. 2009. Tingkat Pengetahuan Lansia Tentang Rheumatoid Arthritis Di Panti


Sosial Tresna Werdha (pstw) Budi Mulya 1 Cipayung Jakarta Tahun 2009.
Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dipiro, Joseph T., Talbert, Robert L.,et al.2008. The seventh edition of the benchmark
evidence-based pharmacotherapy. McGraw-Hill Companies Inc: USA.
Doetherman, J.M dan Gloria N.B. 2008. Nursing Intervensions Classification (NIC). Edisi 5.
USA: Mosby Elsevier.
Helmick, et al. 2008. Estimates of the prevalence of arthritis and other rheumatic conditions
in the United States. Part I. www.ncbi.nlm.nih.
Longo, Dan L. MD., Kasper, Dennis L. MD., et al. 2012. Harrison’s Principle of Internal
Medicine ed.18 Chapter 231: Rheumatoid Arthritis. McGrawHill Companies,
Inc: USA.
Morhead, S. et al. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC). Edisi 5. USA: Mosby
Elsevier.
Nasution, Jani. 2011. Pola Aktivitas Pasien Rheumatoid Arthritis di Poliklinik Penyakit
Dalam Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan (SKRIPSI). USU:
Medan.
Pradana, Septian Yudo. 2012. Sensitifitas dan Spesitifitas Kriteria ACR 1987 Dan
ACR/EULAR 2010 Pada Penderita Artirits Reumatoid di RSUP Dr. Kariadi
Semarang (SKRIPSI). UNDIP: Semarang.
Sjamsuhidajat, R, et al. 2010. Buku Ajar ilmu Bedah Sjamsuhidajat-de Jong Edisi 3. EGC.
Jakarta.
Suarjana, I Nyoman. 2009. Artritis Reumatoid Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi
V. Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, Idrus, et al. Interna Publishing: Jakarta.
Symmons, Deborah., Mathers, Colin., Pfleger Bruce. 2006. The Global Burden of
Rheumatoid Arthritis In The Year 2000. www.who.int.