Anda di halaman 1dari 3

Biaya-Biaya Yang Harus Dimasukan Dalam Persediaan

A. BIAYA PRODUK
Biaya yang “melekat” pada persediaan dan di catat dalam akun persediaan. Biaya ini
berhubungan langsung dengan transfer barang kelokasi bisnis pembeli dan pengubahan barang
tersebut ke kondisi yang siap di jual. Beban seperti itu mencakup ongkos pengangkutan barang
yang di beli, biaya pembelian langsung lainnya, dan biaya tenaga kerja serta produksi lain nya
yang dikeluarkan dalam memproses barang ketika dijual. Namun karna adanya kesulitan praktis
dalam mengalokasikan biaya dan beban, maka tidak dimasukkan dalam penilaian persediaan.

B. BIAYA PERIODE
Beban penjualan (selling expenses) dalam kondisi yang biasa, beban umum serta
adminstrasi tidak dianggap berhubungan langsung dengan akuisisi atau produk si barang dan,
karenanya, tidak dianggap sebagai bagian dari persediaan. Biaya semacam itu disebut dengan
biaya periode secara konseptual, beban ini merupakan biaya dari produk eperti halnya harga beli
awal dan ongkos pengangkutan.

C. DISKON PEMBELIAN
Pemakaian akun diskon Pembelian dalam sistem persediaan perodik menunjukkan bahwa
perusahaan melaporkan pembelian dan utang usaha pada jumlah kotor. Jika perusahaan
menggunakan metode kotor maka diskon pembelian dilaporkan sebagai pengurangan dari akun
pembelian di laporan laba- rugi

2.4. Asumsi Arus Biaya


Dijual atau
Tanggal Pembelian Dipakai Saldo
2 Maret 2.000 @ 4,00 2.000 Unit
15 Maret 6.000 @ 4,40 8.000 Unit
19 Maret 4.000 Unit 4.000 Unit
30 Maret 2.000 @ 4,75 6.000 Unit
A. INDENTIFIKASI KHUSUS
Digunakan dengan cara mengidentifikasi setiap barang yang dijual dan dalam Pos
persediaan. Biaya barang yang telah terjual dimasukan dalam harga pokok penjualan, sementara
biaya barang khusus yang masih berada di tangan dimasukan pada persedian. Metode ini hanya
bisa digunakan dalam kondisi yang memungkinkan perusahan memisahkan pembelian yang
berbeda yag telah dilakukan secara fisik. Metod ini dapat diterapkan dengan baik dalam situasi
yang melibatkan sejumlah kecil item berharga tinggi dan dapat dibedakan.

B. BIAYA RATA-RATA
Metode biaya rata-rata menghitung harga pos-pos yang terdapat dalam
persediaan atas dasar biaya rata-rata barang yang sama yang tersedia selama suatu periode.
Ilustrasi dari Metode Rata-rata Tertimbang Persediaan Periodik;
Tanggal Faktur Jumlah Unit Biaya per Unit Total Biaya
2 Maret 2,000 $ 4,00 8,000
15 Maret 6,000 4,40 26,400
30 Maret 2,000 4,75 9,,500
Total Barang
Tersedia 10,000 43,900
Biaya rata-rata tertimbang per unit 43,900 = $4,39
10,000
Persediaan dalam unit 6,000 unit
persediaan akhir 6,000 x $4,39 = $26,340
Biaya barang yang tersedia untuk dijual $43,900
Dikurangi Persediaan Akhir $26,340
Harga Pokok Penjualan $17,560

Metode biaya rata-rata yang lain adalah metode rata-rata bergerak yang digunakan
dalam siste persediaan perpetua. Aplikasi metode biaya rata-rata untuk catatan persediaan
perpetual ditunjukkan dalam ilustrasi berikut:
Tanggal Pembelian Dijual atau Digunakan Saldo
2 Maret (2,000 @ $4,00) $8,000 (2,000 @ $4,00) $8,000
15 Maret (6,000 @ $4,40)$26,400 (8,000 @ $4,30)$34,400
19 Maret (4,000@$4,30)$17,200 (4,000 @ $4,30)$17,200
30 Maret (2,000 @ $4,75) $9,500 (6,000 @ $4,45)$26,700

Dalam metode ini, biaya rata-rata per unit yang baku akan dihitung setiap kali pembelian
dilakukan. Sebagai contoh, pada tanggal 15 Maret, setelah 6,000 unit dibeli dengan harga
$26.400, Call-Mart memiliki 8,000 unit persediaan berharga pokok $34,400. Dengan demikian
biaya rata-rata perunit adalah $34,400 dibagi $8,000, atau $4,30. Biaya 4,000 unit yang
dikeluarkan pada tanggal 19 Maret adalah $4,30 atau total harga pokok penjualan sebesar
$17,200. Pada tanggal 30 Maret, menyusul pembelian 2,000 unit seharga $9,500 biaya perunit
baru sebesar $4,45, ditetapkan untuk persediaan akhir sebesar $26,700.

C. FIRST-IN, FIRST-OUT (FIFO)


Dalam metode ini, barang yang lebih dulu masuk diaggap lebih dulu keluar atau dijual
sehingga nilai persediaan akhir terdiri atas persediaan barang yang dibeli atau yang masuk
belakangan. Jadi harga pokok barang yang keluar (dijual) dihitung berdasarkan harga barang
yang dibeli lebih dahulu, sesuai dengan jumlah pembeliannya. Atau dengan kata lain nilai
persediaan akhir barang didasarkan pada harga barang yang dibeli terakhir, sesuai dengan jumlah
unitnya.

D. LAST-IN, FIRST-OUT (LIFO)


Dalam metode ini, barang yang terakhir masuk diaggap lebih dulu keluar atau dijual
sehingga nilai persediaan akhir terdiri atas persediaan barang yang dibeli atau yang masuk lebih
awal. Sehingga harga pokok barang yang terjual dihitung berdasarkan pada harga barang yang
dibeli terakhir sesuai dengan jumlah unitnya, atau nilai persediaan barnag didasarkan pada harga
barang yang dibeli pada awal, sesuai dengan jumlah unitnya.