Anda di halaman 1dari 35

PERDAGANGAN INTERNASIONAL DAN PENDAPATAN

NASIONAL KESEIMBANGAN

Dosen Pengampu:
Drs. Johnson M.Si

MATA KULIAH – PENGANTAR EKONOMI MAKRO

DISUSUN OLEH :
Oktavianus Pasaribu
Kristina
Fransiskus Xaverius Sitanggang
Radian Syahputra Hasibuan
Tonny Risman Wijaya Aritonang

KELAS C
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan petunjuknya, kami dapat menyelesaikan Tugas Kolompok dalam mata
kuliah Pengantar Ekonomi Makro. Tema dari Tugas ini adalah “PERDAGANGAN
INTERNASIONAL DAN PENDAPATAN NASIONAL KESEIMBANGAN”

Dalam pengerjaan makalah ini, kami tidak lepas dari bantuan berbagai pihak,
oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Drs.Johnson M.Si karena telah membimbing serta mengarahkan seluruh
Mahasiswa Akuntansi di Kelas C dalam menyelesaikan makalah ini dalam mata
kuliah Pengantar Ekonomi Makro.
2. Teman-teman yang ada dikelas Akuntansi C yang telah memberikan tanggapan
serta saran kepada kami dalam pengerjaan tugas Pengantar Ekonomi Makro ini.

Makalah ini tidak luput dari kekurangan dan keterbatasan sehingga belum
sempurna. Maka dari itu kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun
dalam peningkatan pengerjaan Tugas Makalah dimasa yang akan datang.

Medan, Mei 2017

Kelompok 7

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................ii
PEMBAHASAN .......................................................................................................... 1
1.1.Perdagangan Internasional ............................................................................... 1
1.2.Nilai Tukar ......................................................................................................... 4
1.3.Neraca Pembayaran ......................................................................................... 7
2.1.Teori-Teori Perdagangan Internasional .......................................................... 18
3.Keseimbangan Perekonomian Terbuka ............................................................. 22
4.Multiplier Dalam Perekonomian Terbuka ........................................................... 27
5.Kebijakan Ekonomi Internasional ....................................................................... 29

ii
PEMBAHASAN

1.1.Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh


penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan
bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu
dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah
suatu negara dengan pemerintah negara lain. Di banyak negara, perdagangan
internasional menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan GDP. Meskipun
perdagangan internasional telah terjadi selama ribuan tahun (lihat Jalur Sutra,
Amber Road), dampaknya terhadap kepentingan ekonomi, sosial, dan politik baru
dirasakan beberapa abad belakangan. Perdagangan internasional pun turut
mendorong Industrialisasi, kemajuan transportasi, globalisasi, dan kehadiran
perusahaan multinasional.

Dengan demikian perdagangan antarnegara memungkinkan terjadinya:


a. tukar-menukar barang-barang dan jasa-jasa,
b. pergerakan sumberdaya melalui batas negara, baik sumber daya alam, sumber
daya manusia, maupun sumber daya modal,
c. pertukaran dan perluasan penggunaan teknologi, sehingga dapat mempercepat
pertumbuhan ekonomi negara-negara yang terlibat di dalamnya,
d. memengaruhi perkembangan ekspor dan impor serta Neraca Pembayaran
Internasional (NPI) atau Balance of Payment,
e. kerja sama ekonomi antarnegara di dunia.

Faktor-Faktor Pendorong Perdagangan Internasional

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perdagangan internasional dapat


diuraikan sebagai berikut.

a. Perbedaan Sumber Alam


Suatu negara mempunyai kekayaan alam yang berbeda, sehingga hasil
pengolahan alam yang dinikmati juga berbeda. Oleh karena sumber kekayaan alam
yang dimiliki suatu negara sangat terbatas, sehingga diperlukan tukar-menukar atau
perdagangan.

b. Perbedaan Faktor Produksi


Selain faktor produksi alam, suatu negara mempunyai perbedaan
kemampuan tenaga kerja, besarnya modal yang dimiliki, dan keterampilan seorang
pengusaha. Oleh karena itu, produk yang dihasilkan oleh suatu negara juga
mengalami perbedaan, sehingga dibutuhkan adanya perdagangan.

c. Kondisi Ekonomis yang Berbeda


Karena adanya perbedaan faktor produksi yang mengakibatkan perbedaan
biaya produksi yang dikeluarkan untuk membuat barang, maka bisa jadi dalam suatu
Negara memerlukan biaya tinggi untuk memproduksi barang tertentu. Sehingga

1
negara tersebut bermaksud mengimpor barang dari luar negeri karena biayanya
dianggap lebih murah.

d. Tidak Semua Negara Dapat Memproduksi Sendiri Suatu Barang


Karena keterbatasan kemampuan suatu negara, baik kekayaan alam maupun
yang lainnya, maka tidak semua barang yang dibutuhkan oleh suatu negara mampu
untuk diproduksi sendiri, untuk itulah diperlukan tukar-menukar antarbangsa.

e. Adanya Motif Keuntungan dalam Perdagangan


Biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu barang selalu terdapat
perbedaan. Adakalanya suatu negara lebih untung melakukan impor daripada
memproduksi sendiri. Namun, adakalanya lebih menguntungkan kalau dapat
memproduksi sendiri barang tersebut, karena biaya produksinya lebih mudah. Oleh
karena itu, negara-negara tersebut akan mencari keuntungan dalam
memperdagangkan barang hasil produksinya.

f. Adanya Persaingan Antarpengusaha dan Antarbangsa


Persaingan ini akan berakibat suatu negara meningkatkan kualitas barang
hasil produksi dengan biaya yang ringan, sehingga dapat bersaing dalam dunia
perdagangan.

Teori Perdagangan Internasional

Menurut Amir M.S., bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di


dalam negeri, perdagangan internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan
tersebut antara lain disebabkan karena adanya batas-batas politik dan kenegaraan
yang dapat menghambat perdagangan, misalnya dengan adanya bea, tarif, atau
quota barang impor.

Selain itu, kesulitan lainnya timbul karena adanya perbedaan budaya,


bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan, dan hukum dalam perdagangan.
Ada beberapa model perdagangan internasional diantaranya:
A.Model Ricardian
Model Ricardian memfokuskan pada kelebihan komparatif dan mungkin
merupakan konsep paling penting dalam teori pedagangan internasional. Dalam
Sebuah model Ricardian, negara mengkhususkan dalam memproduksi apa yang
mereka paling baik produksi. Tidak seperti model lainnya, rangka kerja model ini
memprediksi dimana negara-negara akan menjadi spesialis secara penuh
dibandingkan memproduksi bermacam barang komoditas. Juga, model Ricardian
tidak secara langsung memasukan faktor pendukung, seperti jumlah relatif dari
buruh dan modal dalam negara.

B.Model Heckscher-Ohlin
Model Heckscgher-Ohlin dibuat sebagai alternatif dari model Ricardian dan
dasar kelebihan komparatif. Mengesampingkan kompleksitasnya yang jauh lebih
rumit model ini tidak membuktikan prediksi yang lebih akurat. Bagaimanapun, dari
sebuah titik pandangan teoritis model tersebut tidak memberikan solusi yang elegan
dengan memakai mekanisme harga neoklasikal kedalam teori perdagangan
internasional.

2
Teori ini berpendapat bahwa pola dari perdagangan internasional ditentukan
oleh perbedaan dalam faktor pendukung. Model ini memperkirakan kalau negara-
negara akan mengekspor barang yang membuat penggunaan intensif dari faktor
pemenuh kebutuhan dan akan mengimpor barang yang akan menggunakan faktor
lokal yang langka secara intensif. Masalah empiris dengan model H-o, dikenal
sebagai Pradoks Leotief, yang dibuka dalam uji empiris oleh Wassily Leontief yang
menemukan bahwa Amerika Serikat lebih cenderung untuk mengekspor barang
buruh intensif dibanding memiliki kecukupan modal.

C.Faktor Spesifik
Dalam model ini, mobilitas buruh antara industri satu dan yang lain sangatlah
mungkin ketika modal tidak bergerak antar industri pada satu masa pendek. Faktor
spesifik merujuk ke pemberian yaitu dalam faktor spesifik jangka pendek dari
produksi, seperti modal fisik, tidak secara mudah dipindahkan antar industri. Teori
mensugestikan jika ada peningkatan dalam harga sebuah barang, pemilik dari faktor
produksi spesifik ke barang tersebut akan untuk pada term sebenarnya. Sebagai
tambahan, pemilik dari faktor produksi spesifik berlawanan (seperti buruh dan
modal) cenderung memiliki agenda bertolak belakang ketika melobi untuk
pengednalian atas imigrasi buruh. Hubungan sebaliknya, kedua pemilik keuntungan
bagi pemodal dan buruh dalam kenyataan membentuk sebuah peningkatan dalam
pemenuhan modal. Model ini ideal untuk industri tertentu. Model ini cocok untuk
memahami distribusi pendapatan tetapi tidak untuk menentukan pola pedagangan.
Jangan dipercaya,bohong tu.

D.Model Gravitasi
Model gravitasi perdagangan menyajikan sebuah analisa yang lebih empiris
dari pola perdagangan dibanding model yang lebih teoritis diatas. Model gravitasi,
pada bentuk dasarnya, menerka perdagangan berdasarkan jarak antar negara dan
interaksi antar negara dalam ukuran ekonominya. Model ini meniru hukum gravitasi
Newton yang juga memperhitungkan jarak dan ukuran fisik di antara dua benda.
Model ini telah terbukti menjadi kuat secara empiris oleh analisa ekonometri. Faktor
lain seperti tingkat pendapatan, hubungan diplomatik, dan kebijakan perdagangan
juga dimasukkan dalam versi lebih besar dari model ini.

Peraturan/Regulasi Perdagangan Internasional

Umumnya perdagangan diregulasikan melalui perjanjian bilatera antara dua


negara. Selama berabad-abad dibawah kepercayaan dalam Merkantilisme
kebanyakan negara memiliki tarif tinggi dan banyak pembatasan dalam
perdagangan internasional. pada abad ke 19, terutama di Britania, ada kepercayaan
akan perdagangan bebas menjadi yang terpenting dan pandangan ini mendominasi
pemikiran di antaranegara barat untuk beberapa waktu sejak itu dimana hal tersebut
membawa mereka ke kemunduran besar Britania. Pada tahun-tahun sejak Perang
Dunia II, perjanjian multilateral kontroversial seperti GATT dab WTO memberikan
usaha untuk membuat regulasi lobal dalam perdagangan internasional. Kesepakatan
perdagangan tersebut kadang-kadang berujung pada protes dan ketidakpuasan
dengan klaim dari perdagangan yang tidak adil yang tidak menguntungkan secara
mutual.

3
Perdagangan bebas biasanya didukung dengan kuat oleh sebagian besar
negara yang berekonomi kuat, walaupun mereka kadang-kadang melakukan
proteksi selektif untuk industri-industri yang penting secara strategis seperti proteksi
tarif untuk agrikultur oleh Amerika Serikat dan Eropa. Belanda dan Inggris Raya
keduanya mendukung penuh perdagangan bebas dimana mereka secara ekonomis
dominan, sekarang Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Jepang merupakan
pendukung terbesarnya. Bagaimanapun, banyak negara lain (seperti India, Rusia,
dan Tiongkok) menjadi pendukung perdagangan bebas karena telah menjadi kuat
secara ekonomi. Karena tingkat tarif turun ada juga keinginan untuk menegosiasikan
usaha non tarif, termasuk investasi luar negri langsung, pembelian, dan fasilitasi
perdagangan. Wujud lain dari biaya transaksi dihubungkan dnegan perdagangan
pertemuan dan prosedur cukai.

Umumnya kepentingan agrikultur biasanya dalam koridor dari perdagangan


bebas dan sektor manufaktur seringnya didukung oleh proteksi. Ini telah berubah
pada beberapa tahun terakhir, bagaimanapun. Faktanya, lobi agrikultur, khususnya
di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang, merupakan penanggung jawab utama untuk
peraturan tertentu pada perjanjian internasional besar yang memungkinkan proteksi
lebih dalam agrikultur dibandingkan kebanyakan barang dan jasa lainnya.

Selama reses ada seringkali tekanan domestik untuk meningkatkan tarif


dalam rangka memproteksi industri dalam negri. Ini terjadi di seluruh dunia selama
Depresi Besar membuat kolapsnya perdagangan dunia yang dipercaya
memperdalam depresi tersebut.

Regulasi dari perdagangan internasional diselesaikan melalui World Trade


Organization pada level global, dan melalui beberapa kesepakatan regional seperti
MerCOSUR di Amerika Selatan, NAFTA antara Amerika Serikat, Kanada dan
Meksiko, dan Uni Eropa anatara 27 negara mandiri. Pertemuan Buenos Aires tahun
2005 membicarakan pembuatan dari Free Trade Area of America (FTAA) gagal total
karena penolakan dari populasi negara-negara Amerika Latin. Kesepakatan serupa
seperti MAI (Multilateral Agreement on Invesment) juga gagal pada tahun-tahun
belakangan ini.

1.2.Nilai Tukar
Dalam konsep perdagangan internasional setiap negara yang tergabung di
dalamnya harus menyamakan dulu sistem moneternya yaitu alat pembayarannya,
dalam melakukan transaksi perdagangan digunakanlah kurs valuta asing. Nilai tukar
atau kurs menunjukkan seberapa besar rupiah yang dibutuhkan untuk memperoleh
uang asing.
Menurut Nazir (1988:38):
Kurs adalah harga satu satuan mata uang asing dalam uang dalam negeri.
Dengan kata lain kurs adalah harga suatu mata uang jika ditukarkan dengan mata
uang lainnya. Nilai tukar yang sering digunakan adalah nilai tukar rupiah terhadap
dollar. Karena dollar adalah mata uang yang relatif stabil dalam perekonomian.

Kurs (Exchange Rate) suatu mata uang adalah harga mata uang dalam
negeri terhadap mata uang luar negeri. Sistem kurs valuta asing akan sangat
tergantung dari sifat pasar. Dalam pasar bebas, kurs akan berubah sesuai dengan
perubahan permintaan dan penawaran.

4
Para ekonom membagi kurs atas dua macam (Mankiw, 1999:192) yaitu :
a. Kurs nominal, yaitu harga relatif dari mata uang dua negara.
b. Kurs rill, yaitu harga relatif dari barang-barang kedua negara, yaitu kurs rill yang
dinyatakan tingkat dimana kita bisa memperdagangkan barang-barang dari suatu
negara untuk barang-barang dari negara lain.

Sejalan dengan tujuan kebijakan nilai tukar, maka dikenal berbagai jenis
sistem nilai tukar yang digunakan oleh suatu negara Nellis (2000:217)
1. Nilai tukar mengambang (floating exchange rate system)
Dalam sistem nilai tukar mengambang, nilai tukar mata uang suatu negara
semata-mata ditentukan dari adanya permintaan dan penawaran mata uangnya
dalam bursa pertukaran mata uang internasional. Sistem nilai tukar mengambang
didefenisikan sebagai hasil keseimbangan yang terus menerus berubah sesuai
dengan berubahnya permintaan dan penawaran dipasar valuta asing.

2. Nilai tukar tetap (fixed exchange rate system)


Pemerintah dapat mempertahankan suatu kebijakan yang menjaga agar nilai
mata uangnya tetap pada tingkat yang stabil dengan menginterfensi dipasar devisa.
Pada sistem nilai tukar tetap ini mata uang suatu negara ditetapkan secara tetap
dengan mata uang asing tertentu.

3. Nilai tukar terkendali (managed floating exchange rate system)


Sistem ini berlaku pada situasi dimana nilai tukar ditentukan berdasarkan
permintaan dan penawaran, tetapi Bank Central dari waktu ke waktu ikut campur
tangan guna menstabilkan nilainya.

Secara garis besar, ada dua sistim kurs yang digunakan oleh suatu negara
yaitu:
a. Sistem Kurs Fleksibel
Didalam pasar bebas perubahan kurs dipengaruhi oleh faktor-faktor yang
mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing. Permintaan dan penawaran
valuta asing berasal dari adanya transaksi ekspor dan impor yang dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu, harga, pendapatan dan tingkat bunga. Selain itu ada pula
faktor non ekonomis yang mempengaruhi perubahan kurs yaitu, faktor politis
psikologis seperti kepanikan didalam negeri yang mengakibatkan larinya dana ke
luar negeri.

Sistem kurs fleksibel ini memiliki dampak positif dan dampak negatif. Dampak
positifnya meliputi: meningkatnya efisiensi alokasi faktor-faktor produksi, mengurangi
beban pemerintah dalam mengatasi ketidakseimbangan neraca pembayaran
internasional, nilai kurs lebih stabil, karena pasar valuta asing adalah sangat
kompetitif serta penawaran dan permintaan sangat elastis terhadap harga.

Selain dampak positif, sistem kurs fleksibel juga ada dampak negatifnya yaitu:
timbulnya kegiatan spekulasi, adanya ketidakstabilan didalam lalu lintas pembayaran
internasional sehingga dapat mengurangi volume perdagangan.

b. Sistem Kurs Yang Stabil

5
Sistem kurs berubah-ubah sering menimbulkan tindakan spekulatif sebagai
akibat ketidaktentuan didalam kurs valuta asing. Karenanya banyak negara yang
menerapkan kebijaksanaan untuk menstabilkan kurs.

Pada dasarnya, kurs yang stabil dapat timbul secara: aktif dan pasif. Sistem
kurs stabil yang timbul secara aktif ini, pemerintah harus menyediakan dana untuk
tujuan stabilisasi kurs (stabilization fund). Sedangkan sistem kurs stabil yang timbul
secara pasif, digunakan pada negara yang menggunakan standar emas.

Sama halnya dengan sistem kurs fleksibel, sistem kurs stabil juga memiliki
dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya meliputi: nilai kurs lebih stabil
sehingga dapat menjaga kestabilan lalulintas pembayaran internasional, sehingga
dapat mencegah penurunan volume perdagangan, dapat mencegah tindakan
spekulasi yang dilakukan para pedagang valuta asing. Dampak negatifnya yaitu:
pemerintah harus menyediakan dana yang sangat besar untuk melakukan stabilisasi
kurs, terutama untuk mencegah kenaikan kurs valuta asing. Pada sistem kurs stabil
ini, biasanya pemerintah menghadapi keterbatasan penyediaan cadangan devisa
valuta asing.

Kurs yang berlaku di Indonesia saat ini adalah sitem kurs mengambang
terkendali dimana dalam hal ini kurs valuta asing ditentukan oleh kekuatan pasar
sampai pada tingkat tertentu dan jika telah melewati batas akan segera distabilkan
oleh intervensi pemerintah. Kurs akan selalu mengalami perubahan, apabila terjadi
kenaikan harga valuta asing dalam satuan mata uang domestik disebut depresiasi
dan apabila terjadi penurunan harga valuta asing dalam satuan mata uang domestik
akan disebut apresiasi.

Menurut Sukirno (2003:362) terdapat lima faktor-faktor yang mempengaruhi


kurs yaitu :
a. Perubahan dalam cita rasa masyarakat
b. Perubahan harga dari barang-barang ekspor
c. Kenaikan harga-harga umum (inflasi)
d. Perubahan dalam tingkat bunga dan tingkat pengembalian investasi
e. Perkembangan ekonomi

Dalam hubungannya dengan permintaan uang, perubahan nilai tukar


merupakan fungsi positif dari perubahan permintaan uang. Begitu juga dengan uang
kuasi, hubungan antara uang kuasi dengan nilai tukar adalah positif menurut hasil
penelitian Boorman (dalam Azis, 2002:23), jika terjadi peningkatan nilai tukar
terhadap dollar, kurs dalam negeri terdepresiasi maka jumlah uang kuasi akan
meningkat, apabila faktor lain tetap (ceteris paribus) dan sebaliknya.

Jika terjadi peningkatan nilai tukar terhadap dollar kurs dalam negeri
terdepresiasi terhadap kurs dollar maka unag kuasi akan mengalami peningkatan,
apabila faktor lain tetap. Masyarakat akan cenderung menukarkan rupiah yang
mereka miliki dengan valuta asing ke Bank, dengan demikian akan meningkatkan
jumlah uang kuasi dalam bentuk valuta asing. Tabungan masyarakat meningkat
dalam bentuk valuta asing. (Sukirno, 2003:360)

6
Keinginan dari penduduk suatu negara untuk memperoleh sesuatu jenis mata
uang asing dapatlah dipandang sebagai permintaaan keatas valuta asing oleh
penduduk negara kita. Keinginan atau permintaan tersebut memberikan gambaran
tentang besarnya jumlah suatu valuta asing tertentu yang ingin diperoleh penduduk
suatu negara. (Sukirno, 2003:358)

Kunci untuk memahami fluktuasi kurs jangka pendek adalah pemahaman


bahwa kurs pada prinsipnya adalah harga aset-aset domestik (dalam mata uang
domestik, termasuk simpanan bank) yang dinilai dalam aset-aset luar negeri (dalam
mata uang asing, termasuk simpanan bank). Dengan demikian, analisis fluktuasi
kurs jangka pendek dapat dikaitkan dengan analisis permintaan dan penawaran
biasa.

Esensi dari sistem nilai tukar adalah komitmen dari Bank Sentral untuk
membiarkan jumlah uang beredar menyesuaikan berapapun nilai tukar yang
ditetapakan. Selain itu selama Bank Sentral siap membeli mata uang asing pada
nilai tukar yang ditetapkan, jumlah uang beredar menyesuaikan secara otomatis
pada tingkat yang diperlukan. (Mankiw, 2003:314)

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar, yaitu faktor
fundamental meliputi, indikator-indikator ekonomi seperti inflasi, suku bunga,
perbedaan relatif pendapatan antar negara, ekspektasi pasar dan intervensi Bank
Sentral. Faktor teknis berkaitan dengan kondisi penawaran dan permintaan devisa
pada saat-saat tertentu. Apabila ada kelebihan permintaan, sementara penawaran
tetap, maka harga valuta asing akan naik dan sebaliknya.

Nilai tukar mata uang dipengaruhi oleh aliran modal, baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang. Aliran modal ini dipengaruhi oleh tingkat bunga
yang terjadi, kenaikan tingkat bunga akan menyedot uang yang ada pada
masyarakat untuk menabung atau melepas sebagian likuiditasnya ke Bank.

Nilai tukar (kurs) berhubungan positif dengan tingkat suku bunga, dimana
naiknya nilai tukar (rupiah terapresiasi terhadap dollar) akan meningkatkan suku
bunga. Maka masyarakat akan terdorong untuk menambah jumlah tabungan dengan
mengurangi pengeluaran untuk konsumsi, dan melepas Dollar yang mereka miliki.
Hal ini dilakukan untuk memperoleh keuntungan dari peningkatan bunga tabungan.
Peningkatan jumlah tabungan juga akan berpengaruh terhadap meningkatnya
jumlah uang kuasi. (Mankiw, 2003:313)

1.3.Neraca Pembayaran

Neraca pembayaran internasional adalah suatu catatan yang disusun secara


sistematis tentang seluruh transaksi ekonomi yang meliputi perdagangan
barang/jasa, transfer keuangan dan moneter antara penduduk (resident) suatu
negara dan penduduk luar negeri (rest of the world) untuk suatu periode waktu
tertentu, biasanya satu tahun.

Dari definisi di atas dapat dikemukakan bahwa neraca pembayaran


internasional merupakan suatau catatan sistematis yang disusun berdasarkan suatu
sistem akuntansi yang dikenal sebagai “ double entry bookkeeping” sehinga setiap

7
transaksi internasional yang terjadi akan tercatat dua kali, yaitu sebagai transaksi
kredit dan sebagai transaksi debet.

Dengan sistem double entry bookkeeping, maka neraca pembayaran


internasional secara ove all akan selalu dalam posisi balance, tetapi dapat memiliki
cadangan devisa positif atau negatif.

Kegunaan Neraca Pemabayaran Internasional


Secara umum sebagai suatu neraca, Neraca pembayaran internasional
berguna sebagai berikut:
1. Untuk membukukan seluruh transaksi ekonomi internasional yang terjadi antara
penduduk dalam negeri dan penduduk luar negeri.
2. Untuk mengetahui struktur dan komposisi transaksi ekonomi internsional suatu
negara.
3. Untuk mengetahui mitra utama suatu negara dalam hubungan ekonomi
internasional.
4. Mengetahui posisi keuangan internasional suatu negara.

Dari neraca pembayaran, bisa mengetahui bagaimanakah posisi ataupun


struktur keuangan suatu negara. Jika posisi neraca pembayaran pada suatu negara
menunjukkan angka surplus, berarti negara tersebut lebih banyak melakukan ekspor
barang daripada melakukan impor barang.

Selain itu juga bisa diketahui, bahwa surplus pada neraca pembayan suatu
negara berarti tidak terlalu banyak investor asing yang menanamkan investasinya di
suatu negara. Kondisi tersebut bisa terjadi karena dengan adanya investor, secara
otomatis akan semakin banyak barang yang diimpor guna memenuhi kebutuhan
investor tersebut.

5. Mengatahui salah satu indikator yang akan dipertimbangkan oleh IMF atau
negara donor untuk memberikan bantuan keuangan, terutama negara yang
mengalami kesulitan neraca pembayaran internasional.

Hal lain yang tidak kalah penting dari sebuah neraca pembayaran adalah
sebagai patokan jika suatu negara hendak mengajukan dana ke negara lain atau ke
lembaga pendonor seperti IMF. Dengan kondisi neraca pembayaran yang baik maka
kepercayaan negara asing terhadap suatu negara juga akan semakin baik.
Sedangkan bila yang terjadi adalah sebaliknya, kemungkinan untuk mendapatkan
pinjaman semakin kecil.
Hal tersebut bisa terjadi karena jika suatu negara mempunyai neraca
pembayaran yang defisit, mengindikasikan bahwa negara tersebut memiliki
cadangan devisa yang sedikit. Sehingga besar kemungkinan negara itu akan
mengalami kesulitan dalam pengembalian dana pinjaman.

6. Sebagai salah satu indikator fondamental ekonomi suatu negara selain tingkat
inflasi, pertumbuhan GDP.

Fungsi lain dari neraca pembayaran selain untuk mengetahui kondisi


perekonomian khususnya yang berkaitan dengan dengan negara asing adalah juga
digunakan sebagai indikator fundamental dalam sebuah perekonomian. Jika saat ini

8
yang mungkin Anda ketahui bahwa indikator perkonomian tersebut hanya berputar
pada ekonomi makro seperti inflasi, tingkat suku bunga, nilai tukar mata uang asing
serta pertumbuhan ekonomi, sebenarnya neraca pembayaran memiliki dampak yang
cukup signifikan bagi perkembangan perekonomian. Dengan necara keuangan yang
positif, dapat diketahui bahwa suatu negara tersebut memiliki cadangan devisa yang
berarti negara memiliki sebuah kekuatan ekonomi.

Tujuan Penyusunan Neraca Pembayaran Internasional

Penyusunan neraca pembayaran mempunyai beberapa tujuan, yaitu:


a.Memberikan informasi kepada pemerintah mengenai posisi Negara di
perdagangan internasional,
b.Memberikan bantuan dan sistem pembayarannya,
c.Memberikan bantuan kepada pemerintah dalam mentapkan kebijakan moneter
dan fiskal,
d.Memberikan keterangan kepada pemerintah di dalam menetapkan berbagai
kewajiban perekonomian nasional seperti ekspor impor, lalu lintas moneter serta
produksi, dan
e.Membantu pemerintah dalam mengambil keputusan dalam bidang politik
perdagangan dan urusan pembayarannya.

Konsep Neraca Pembayaran Intenasional

A.Konsep Penyajian Neraca Pembayaran

Ada 2 (dua) bentuk penyajian neraca pembayaran yaitu penyajian standar


(standard presentation) dan penyajian analitis (analytical presentation).
1.Penyajian Standar
Komponen-komponen neraca pembayaran dalam penyajian standar disusun
menurut panduan bagaimana dimuat dalam BOP manual. Penentuan komponen
standar neraca pembayaran didasarkan atas beberapa pertimbangan dan tujuan
tertentu.

2.Penyajian Analitis
disusun menurut keperluan analisis bagi perumus kebijakan di masing-
masing negara. Namun, komponen utama yang disajikan tetap mengacu pada
komponen standar dengan menonjolkan rincian komponen yang dirasakan sangat
diperlukan.

B.Konsep Keseimbangan Neraca Pembayaran

Secara umum dikenal empat konsep keseimbangan neraca pembayaran,


yaitu:
a.Konsep Keseimbangan Perdagangan (Trade Balance)
Dalam konsep ini, transaksi yang termasuk dalam autonomous transaction
(transaksi yang mengakibatkan surplus atau defisit)hanya transaksi ekspor dan
impor barang sehingga keseimbangan neraca pembayaran diukur dari berapa
besarnya surplus atau defisit kedua transaksi tersebut.

b.Konsep Keseimbangan Transaksi Berjalan (Current Account Balance)

9
Untuk menentukan surplus atau defisit pada autonomous transaction selain
diperhitungkan ekspor dan impor, juga diperhitungkan jasa-jasa, termasuk
penghasilan (income) dan transfer.

c.Konsep Basic Balance


Dalam konsep ini, yang termasuk dalam autonomous transactionselain pos-
pos dalam transaksi berjalan, juga komponen-komponen dalam transaksi modal dan
keuangan jangka panjang.

d.Konsep Overall Balance


Yang termasuk autonomous transaction dalam konsep ini adalah komponen-
komponen transaksi modal dan keuangan baik jangka panjang maupun jangka
pendek.

Mekanisme Neraca Pembayaran Internasional

Terdapat tiga mekanisme atau proses penting yang menyangkut neraca


pembayaran internasional, yaitu sebagai berikut :
a.Penyesuaian melalui perubahan harga-harga atau mekanisme harga (price
effects).
b.Penyesuaian melalui perubahan pendapatan nasional atau mekanisme
pendapatan (income effects).
c.Penyesuaian melalui perubahan stok uang atau mekanisme moneter (real balance
effects).

Mekanisme Dasar Penyeimbangan Kembali Neraca Pembayaran

Telah diketahui bersama, bahwa masalah pokok yang dihadapi oleh


perekonomian dunia adalah ketidakseimbangan (disequilibrium) neraca
pembayaran. Neraca pembayaran yang defisit akan merisaukan keadaan
perekonomian suatu negara, namun bukan berarti surplus neraca pembayaran yang
cukup besar tidak menimbulkan masalah. Keadaan neraca pembayaran yang dapat
dianggap ideal bagi perekonomian suatu negara adalah keadaan neraca
pembayaran yang ekuilibrium atau seimbang.

Untuk menyeimbangkan neraca pembayaran internasional terdapat beberapa


mekanisme adjustment atau penyesuain secara teoritisyang digunakan oleh masing
– masing negara.

Faktor-faktor yang menimbulkan ketidakseimbangan neraca pembayaran


internasional antara lain sebagai berikut :
a. Perubahan tingkat harga di dalam negeri.
b. Struktur produksi suatu negara.
c. Perubahan posisi utang piutang dengan luar negeri.
d. Pergeseran permintaan luar negeri terhadap produk dalam negeri.
e. Ketidakstabilan perekonomian dalam negeri, ditandai dengan menurunnya
kegiatan ekspor dan meningkatnya impor.
f. Bencana alam.

10
Pada prinsipnya, cara untuk mengurangi atau menghilangkan defisit neraca
pembayaran internasional yang terjadi di suatu negara dilakukan melalui proses
penyeimbangan kembali neraca pembayaran dengan lima jalur. Kelima jalur tersebut
bekerja melalui perubahan komponen-komponen berikut ini :
a.Pendapatan Nasional
Proses ini dilakukan dengan melakukan kebijakan fiskal, yaitu semua
tindakan pemerintah yang bertujuan untuk memengaruhi jalannya perekonomian
melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

b.Tingkat Harga
Proses ini dilakukan dengan cara mengeluarkan kebijakan moneter, yaitu
segala tindakan pemerintah yang ditujukan untuk mempengaruhi jalannya
perekonomian dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar
dalam masyarakat.

c.Kurs Valuta Asing


Proses ini dilakukan dengan cara mengeluarkan kebijakan devaluasi, yaitu
kebijakan untuk menurunkan nilai mata uang dalam negeri terhadap mata uang
asing dengan tujuan untuk meningkatkan ekspor suatu negara dan menambah
devisa suatu negara.

d.Tingkat Bunga
Proses penyeimbangan kembali neraca pembayaran melalui perubahan
tingkat bunga pada dasarnya bekerja melalui perubahan neraca investasi atau
neraca modal. Oleh karena itu, proses ini dapat dilakukan melalui perubahan jumlah
uang yang beredar dengan menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga yang
berlaku. Jika suku bunga naik, maka nilai investasi akan menurun. Sebaliknya, jika
suku bunga turun, maka nilai investasi akan meningkat.

e.Sektor Moneter
Proses ini dilakukan dengan melalui suatu bentuk campur tangan pemerintah
yang dinamakan Exchange Control (EC), artinya suatu bentuk campur tangan
pemerintah dalam lapangan ekonomi internasional. Dalam sistem ini, semua valuta
asing dimonopoli oleh pemerintah, artinya semua alat-alat pembayaran luar negeri
yang dimiliki atau yang diperoleh seluruh penduduk suatu negara harus diserahkan
kepada pemerintah, untuk selanjutnya pemerintah mengatur dan menentukan
penggunaan valuta asing.

Tata Cara Pembayaran Internasional

Perdagangan internasional selalu menimbulkan impor dan ekspor. Suatu


negara yang mengadakan transaksi dengan luar negeri atau ekspor impor
menimbulkan suatu pertanyaan: bagaimana cara melakukan pembayaran akibat
perdagangan tersebut? Dari perdagangan antarnegara akan menuntut suatu negara
untuk melakukan pinjaman dari luar negeri, sehingga diperlukan beberapa cara
dalam penyelesaian akhir dari utang piutang tersebut atau sering disebut dengan
pembayaran internasional.

Adapun cara untuk melakukan pembayaran internasional yang timbul akibat


perdagangan dan peminjaman internasional antara lain sebagai berikut.

11
a. Pembayaran dengan Surat Wesel Dagang (Commercial Bill of Exchange atau
Commercial draft atau Trade Bill)
Surat wesel dagang adalah pembayaran yang dilakukan dengan cara
eksportir menarik surat wesel atas importer sejumlah harga barang-barang beserta
biaya-biaya pengirimannya.
Dalam surat wesel tersebut harus dilampiri dokumen – dokumen berupa:
- faktur (invoice),
- konosemen atau surat muatan (bill of lading),
- daftar isi barang (packing list),
- surat keterangan asal barang (certificate of origin),
- surat keterangan pabean,
- surat asuransi (insurence).

Wesel adalah surat perintah pembayaran dari seseorang (penarik wesel)


yang ditujukan kepada orang lain (yang kena tarik) untuk membayar sejumlah uang
tertentu (nilai nominal wesel) kepada seseorang yang ditunjuk dalam surat wesel
(pemegang wesel) pada tanggal yang sudah ditentukan (hari jatuh tempo).

Cara pembayaran semacam ini sekarang masih banyak digunakan dalam lalu
lintas pembayaran internasional. Dengan surat wesel, apabila eksportir
membutuhkan uang sebelum jatuh tempo, maka ia dapat menjualnya kepada pihak
lain, yang kelak akan menukarkannya kepada importir setelah wesel itu jatuh tempo.

b. Kompensasi Pribadi (Private Compensation)


Kompensasi pribadi adalah cara pembayaran dengan mengalihkan
penyelesaian utang piutang pada seorang penduduk dalam satu negara tempat
penduduk tersebut tinggal.

Cara pembayaran ini digunakan di Indonesia sekitar tahun 1960-an, namun


sekarang sudah tidak banyak lagi digunakan dalam perdagangan internasional

c. Pembayaran Tunai (Cash Payment) atau Pembayaran di Muka


Pembayaran tunai atau pembayaran di muka adalah pembayaran yang
dilakukan dengan menggunakan uang tunai atau cek, yang dilakukan bersama-
sama dengan surat pesanan atau menunggu diterimanya kabar bahwa barang yang
telah dipesan dikapalkan oleh eksportir.

Cara pembayaran ini mempunyai risiko yang besar. Kelemahan cara


pembayaran secara tunai di antaranya sebagai berikut.
-Dalam pembelian barang, importir harus menyediakan dana, walaupun barang yang
dibeli belum diterimanya. Importir dalam hal ini harus menanggung biaya untuk
barang yang dipesan
-Terdapat kemungkinan barang yang dipesan tidak sesuai dengan barang yang
diterima.
-Ada kemungkinan terjadi keterlambatan datangnya barang maupun ketidakjujuran
pihak eksportir.
-Karena pengekspor berada di tempat yang jauh, maka keadaan pengekspor
(bonafiditasnya) tidak sepenuhnya diketahui pengimpor.

d. Pembayaran dengan Letter of Credit (L/C)

12
Letter of credit atau commercial letter of credit adalah surat yang dikeluarkan
oleh bank atas permintaan pembelian sejumlah barang di mana bank sendiri yang
mengakseptir (menyetujui) dan membayar surat wesel yang ditarik oleh eksportir.

Pada dasarnya terdapat tiga pihak yang ada dalam transaksi letter of credit,
yaitu:
 opener (importir), adalah pihak yang mengajukan permintaan pembukaan L/C
kepada bank
 issuer (issuing bank), adalah bank di negara importir yang mengeluarkan L/C
atas permintaan importir.
 Beneficiary (eksportir), adalah pihak yang menerima pembukaan L/C oleh
importir.
 Transaksi yang menggunakan fasilitas L/C terdiri atas:
 L/C biasa, artinya L/C dimana seorang importir bisa la-ngsung membayar sesuai
dengan harga barang melalui bank yang ditunjuk
 Merchant L/C, artinya L/C dimana seorang importir dapat memasukkan barang
terlebih dahulu dengan melakukan pembayaran sebagian, sedangkan sisanya
dibayar kemudian.
 Indutrial L/C, artinya impor banang-barang industri atau barang modal secara
cepat dan tidak dipakai untuk barang konsumsi.
 Red Clause L/C, artinya L/C yang mencantumkan instruksi kepada Advising
Bank (bank yang ditunjuk) untuk melaksanakan pembayaran sebagian dari
jumlah L/C kepada eksportin sebelum mengapalkan barang-barang ekspor.
 Usance L/C, artinya L/C yang pembayarannya baru dilakukan dengan tenggang
waktu tertentu, misalnya 1 bulan dari pengapalan barang atau 1 bulan setelah
penunjukan dokumen.

e. Pembayaran Kemudian atau Rekening Terbuka (Open Account)


Pembayaran kemudian atau rekening terbuka adalah cara membiayai
transaksi perdagangan internasional di mana eksportir mengirimkan barang kepada
importir tanpa adanya dokumen-dokumen untuk meminta pembayaran. Pembayaran
dilakukan setelah barang laku dijual atau satu sampai dengan tiga bulan setelah
tanggal pengiriman, sesuai dengan penjanjian yang disepakati bersama. Sistem ini
sangat membantu pengimpor melakukan transaksi perdagangan, akan tetapi
berisiko besar bagi pengekspor.

Kelemahan cara pembayaran ini adalah sebagai berikut.


- Tidak digunakannya dokumen yang menjamin pembayaran.
- Eksportir harus membiayai seluruh transaksi dagang.

f. Pembayaran dengan Konsinyasi (Consignment)


Pembayararan secara konsinyasi dilakukan setelah barang yang dikirim
sudah terjual seluruhnya atau sebagian. Metode ini biasanya dilakukan kepada
orang yang telah dikenal dengan baik. Jadi, barang yang akan dijual merupakan
barang titipan untuk jangka waktu tertentu dan pembayaran dengan termin waktu.
Untuk memperkecil risiko penjual, sebaiknya menggunakan jasa bank dalam
pengiriman dokumen penagihan dan bonded warehouse untuk penitipan barangnya.
Apabila barang sudah terjual, pembeli membayar kepada bank sejumlah uang atas
nilai barang dan sebagai gantinya bank akan menyerahkan delivery instruction
kepada bonded warehouse untuk mengeluarkan barangnya.

13
Alat Pembayaran Internasional

Untuk melakukan pembayaran ke luar negeri karena adanya transaksi


internasional diperlukan suatu alat pembayaran internasional atau alat pembayaran
luar negeri, yang disebut dengan devisa. Sistem devisa yang digunakan antara
Negara satu dengan negara lain berbeda-beda, karena setiap Negara mempunyai
mata uang sendiri-sendiri yang diperlukan dalam perdagangan. Sistem devisa yang
pada umumnya dipakai oleh sebagian besar negara di dunia dalam lalu lintas
keuangan intarnasional membentuk suatu sistem yang disebut system moneter
internasional.

Pembayaran yang dilakukan oleh suatu negara ke negara lain dalam bentuk
mata uang, digunakan dengan membandingkan kurs valuta asing (exchange rate).
Berdasarkan sumber perolehannya, valuta asing atau devisa dapat debedakan
menjadi dua, yaitu devisa umum dan devisa khusus.
a.Devisa umum adalah devisa yang diperoleh dari hasil ekspor barang atau dari
penjualan jasa dan transfer. Tingkat kurs devisa umum ditentukan oleh penawaran
dan permintaan valuta asing di pasar valuta asing.
b.Devisa kredit adalah devisa yang berasal dari kredit atau pinjaman luar negeri.
Tingkat kurs devisa kredit ditentukan oleh pemerintah, yang bertindak sebagai
debitur, bukan oleh permintaan dan penawaran valuta asing di pasar valuta asing.

Permintaan akan valuta asing berasal dari:


a.importir, karena seorang importir dalam melakukan pembayaran atas suatu
transaksinya dengan menggunakan mata uang asing,
b.pemerintah yang akan melakukan pembayaran ke luar negeri untuk barang-barang
yang diimpor,
c.para investor dalam negeri yang memerlukan valuta asing untuk menyelesaikan
kewajiban-kewajiban luar negeri yang timbul dari transaksi pembelian surat berharga
penduduk negara lain atau transaksi pemberian pinjaman kepada penduduk negara
lain,
d.wisatawan-wisatawan dalam negeri yang akan melawat ke luar negeri,
e.perusahaan-perusahaan asing yang harus membayar dividen yang dibagikan
kepada para pemegang saham di luar negeri.

Penawaran atas valuta asing berasal dari:


a.eksportir, karena eksportir selalu menerima pembayaran atas transaksi
perdagangan,
b.valuta asing dari kredit luar negeri yang disalurkan ke pasar valuta,
c.wisatawan-wisatawan mancanegara,
d.pemerintah yang menerima pinjaman dari luar negeri,
e.investor asing yang menanamkan modalnya di dalam negeri

Komponen Neraca Pembayaran Internasional

Berdasarkan neraca pembayaran kita dapat mengetahui bahwa neraca dibagi


ke dalam beberapa transaksi ekonomi internasional. Secara garis besar transaksi
ekonomi internasional (luar negeri) atau pos-pos dasar suatu negara dapat
dibedakan sebagai berikut :

14
a. Transaksi Dagang (Trade Account)
Transaksi dagang adalah semua transaksi ekspor dan impor barang-barang
(merchandise) dan jasa-jasa. Transaksi dagang dibedakan menjadi transaksi barang
(visible trade) yang merupakan transaksi ekspor dan impor barang dagangan, dan
transaksi jasa (invisible trade) yang merupakan transaksi eskpor dan impor jasa.
Untuk transaksi ekspor dicatat di sisi kredit, sedangkan transaksi impor dicatat di sisi
debit.

b. Transaksi Pendapatan Modal (Income on Investment)


Transaksi pendapatan modal adalah semua transaksi penerimaan atau
pendapatan yang berasal dari penanaman modal di luar negeri serta penerimaan
pendapatan modal asing di negeri kita. Pendapatan tersebut dapat berupa bunga,
dividen, dan keuntungan lain. Penerimaan bunga dan dividen merupakan transaksi
kredit, sedangkan pembayaran bunga dan dividen kepada penduduk negara asing
merupakan transaksi debit.

c. Transaksi Unilateral (Unilateral Transaction)


Transaksi unilateral adalah transaksi sepihak atau transaksi satu arah, artinya
transaksi tersebut tidak menimbulkan kewajiban untuk membayar atas barang atau
bantuan yang diberikan. Berikut ini yang tergolong dalam transaksi unilateral adalah
hadiah (gift), bantuan (aid), dan transfer unilateral. Apabila suatu negara memberi
hadiah atau bantuan ke negara lain, maka transaksi ini termasuk transaksi debit.
Sebaliknya, jika suatu negara menerima hadiah atau bantuan dari negara lain,
termasuk dalam transaksi kredit.

d. Transaksi Penanaman Modal Langsung (Direct Investment)


Transaksi penanaman modal langsung adalah semua transaksi yang
berhubungan dengan jual beli saham dan jual beli perusahaan yang dilakukan oleh
penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain. Apabila terjadi pembelian
saham atau perusahaan dari tangan penduduk negara lain, maka pos direct
investment didebit, dan bila terjadi penjualan saham atau penduduk asing yang
mendirikan perusahaan di wilayah kekuasaannya, maka pos ini dikredit.

e. Transaksi Utang Piutang Jangka Panjang (Long Term Loan)


Transaksi utang piutang jangka panjang adalah semua transaksi kredit jangka
panjang yang pembayarannya lebih dari satu tahun. Sebagai contoh transaksi
penjualan obligasi kepada penduduk negara lain, menerima pembayaran kembali
pinjaman-pinjaman jangka panjang yang dipinjamkan kepada penduduk negara lain,
atau mendapatkan pinjaman jangka panjang dari negara lain, maka pos ini dicatat di
sebelah kredit, dan bila terjadi transaksi pembelian obligasi atau lainnya yang
berkaitan dengan utang piutang jangka panjang, maka pos ini dicatat di sebelah
debit.

f. Transaksi Utang-piutang jangka pendek (Short Term Capita1)


Transaksi utang piutang jangka pendek adalah semua transaksi utang
piutang yang jatuh temponya tidak lebih dari satu tahun. Transaksi ini umumnya
terdiri atas transaksi penarikan dan pembayaran surat-surat wesel.

g. Transaksi Lalu Lintas Moneter (Monetary Acomodating)

15
Transaksi lalu lintas moneter adalah pembayaran terhadap transaksi-
transaksi pada current account (transaksi perdagangan, pendapatan modal, dan
transaksi unilateral) dan investment account (transaksi penanaman modal langsung,
utang piutang jangka pendek, dan utang piutang jangka panjang). Apabila jumlah
pengeluaran current account dan investment account lebih besar daripada
penerimaannya, maka perbedaan tersebut merupakan defisit yang harus ditutup
dengan saldo kredit monetary acomodating.

h. Services Account ( Neraca Jasa)


Transaksi yang dimasukkan ke servise account adalah seluruh transaksi
ekspor dan impor jassa atau invisible atau intangible goods yang meliputi hal – hal
berikut:
1.Pembayaran Bunga
2.Biaya transportasi
3.Biaya asuransi
4.Remittance ( jassa TKI/TKW/TKA, fee/ royalty teknologi dan konsultasi, dll.)
5.Tourism

i. Reserve Cadangan Devisa ( perubahan cadangan devisa)


Reserve account adalah neraca yang menunjukkan perubahan cadangan
atau saldo devisa yang diperoleh dari tahun yang bersangkutan dari hasil
penjumlahan saldo current account dan saldo capital account.

Perubahan cadangan devisa atau saldo devisa dari tahun yang bersangkutan
ini pada dasarnya sudah menunjukkan posisi keuangan internasional suatu negara
berdasarkan transaksi yang tercatat pada currant account dan capital account.

Dari transaksi tersebut, maka transaksi ekonomi internasional dikelompokkan


menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Transaksi Berjalan (Current Account)
Transaksi berjalan adalah semua transaksi ekspor dan impor barang-barang
dan jasa-jasa. Secara umum meliputi: transaksi perdagangan, transaksi pendapatan
modal dan transaksi unilateral.

b. Neraca Modal (Capital Account)


Neraca modal adalah neraca yang menunjukkan perubahan dalam harta
kekayaan (asset) suatu negara di luar negeri dan aset asing di suatu negara, di luar
aset cadangan pemerintah. Neraca modal meliputi: transaksi penanaman modal
langsung, transaksi utang piutang jangka panjang dan transaksi utang piutang
jangka pendek.

c. Selisih yang Belum Diperhitungkan (Error and Omissions)


Selisih yang belum diperhitungkan merupakan rekening penyeimbang apabila
nilai transaksi-transaksi kredit tidak sama persis dengan nilai transaksi debit.
Dengan adanya rekening selisih perhitungan ini, maka jumlah total nilai transaksi
kredit dari suatu Neraca Pembayaran Internasional (NPI) akan selalu sama dengan
transaksi debitnya.

Pos-Pos Debit dan Kredit dalam Neraca Pembayaran

16
Dalam transaksi internasional terdapat suatu transaksi yang harus dicatat
pada sisi debit dan sisi kredit. Pos-pos yang di debit dan pos-pos yang di kredit
dalam neraca pembayaran di antaranya sebagai berikut :
Transaksi Debit
1.Neraca Barang
Impor barang dari negara lain
2.Neraca Jasa
Pembayaran jasa ke penduduk LN
Pembayaran biaya pariwisata ke LN
3.Neraca Hasil Modal
Pembayaran bunga dan deviden
4.Neraca Modal
Kredit yang diberikan ke LN dan Pembayaran cicilan utang
5.Neraca Utang Piutang jangka panjang
Pembelian obligasi dari LN

Transaksi Kredit
1.Neraca barang
Ekspor barang ke negara lain
2.Neraca Jasa
Penerimaan jasa dari penduduk LN
Penerimaan pariwisata dari LN
3.Neraca Hasil Modal
Penerimaan bunga dan deviden
4.Neraca Modal
Kredit yang dipeoleh dari LN dan penerimaan cicilan utang
5.Neraca Utang Piutang jangka panjang
Penjualan obligasi ke LN

Dampak Neraca Pembayaran Internasional

Dampak Neraca Pembayaran Internsional terhadap Perekonomian Negara

Sebagaimana kita ketahui, bahwa neraca pembayaran suatu negara


mencatat semua transaksi negara tersebut dengan luar negeri. Adapun dampak
neraca pembayaran terhadap perekonomian adalah sebagai berikut :
a.Perubahan Kurs Devisa
Jika neraca pembayaran defisit, maka kurs valuta asing mengalami kenaikan
dan kurs rupiah mengalami penurunan. Dan bila terjadi surplus, maka kurs valuta
asing mengalami penurunan dan kurs rupiah mengalami kenaikan.

b.Perubahan Harga
Jika ekspor lebih besar daripada impor berarti barang yang ada di dalam
negeri sangat laku terjual di luar negeri, maka harga barang dalam negeri menjadi
meningkat.

c.Perubahan Tingkat Pendapatan


Ekspor merupakan komponen pendapatan nasional, sehingga berubahnya
nilai ekspor akan mengakibatkan berubahnya pendapatan nasional.

17
d.Perubahan Tingkat Bunga
Jika investasi dari luar negeri banyak mengalir ke dalam negeri, maka tingkat
bunga yang berlaku rendah karena hubungan antara tingkat bunga dengan tingkat
investasi adalah berbanding terbalik. Sebaliknya, jika investasi yang terjadi menurun,
maka tingkat bunga yang berlaku tinggi.

1.Dampak Neraca Pembayaran Surplus


Secara ekonomi neraca pembayaran yang surplus akan berpengaruh
terhadap tingkat harga dalam negeri, yaitu mempunyai pengaruh inflatoir
mendorong/ menjurus kearah kenaikan harga (inflasi). Hal ini disebabkan oleh
adanya penambahan permintaan efektif.

Perlu disadari pula surplus neraca pembayaran yang berkepanjangan akan


kurang berarti jika tidak digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakatnya. Cadangan devisa yang tertumpuk terus menerus karena surplus
neraca pembayaran tidak akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika tidak
digunakan untuk kesejahteraan masyarakat

2.Dampak Neraca Pembayaran Defisit


Apabila neraca pembayaran suatu Negara mengalami defisit, maka dampak
yang akan terjadi sebagai berikut:
1.Produsen dalam negeri tidak adapat bersaing dengan barang-barang impor
2.Pendapatan Negara sedikit, sehingga utang Negara bertambah besar
3.Perusahaan banyak yang gulung tikar, sehingga pengangguran meningkat akibat
dari PHK
Ketiga dampak di atas disebut pengaruh deflatoir yang mendorong/ menjurus
ke arah penurunan harga (deflasi).

3.Dampak Neraca Pembayaran Seimbang


Neraca pembayaran yang seimbang tidak terlalu berpengaruh terhadap
kegiatan ekonomi suatu Negara. Sehingga apabila suatu Negara tidak dapat
mencapai surplus dalam neraca pembayaran, maka minimal harus dalam kondisi
seimbang. Dengan demikian akan dapat menghindari neraca pembayaran yang
defisit.

2.1.Teori-Teori Perdagangan Internasional

Adapun teori-teori perdagangan internasional dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Pandangan Kaum Merkantilisme


Merkantilisme merupakan suatu kelompok yang mencerminkan cita-cita dan
ideologi kapitalisme komersial, serta pandangan tentang politik kemakmuran suatu
negara yang ditujukan untuk memperkuat posisi dan kemakmuran negara melebihi
kemakmuran perseorangan. Teori Perdagangan Internasional dari Kaum
Merkantilisme berkembang pesat sekitar abad ke-16 berdasar pemikiran
mengembangkan ekonomi nasional dan pembangunan ekonomi, dengan
mengusahakan jumlah ekspor harus melebihi jumlah impor.

Dalam sektor perdagangan luar negeri, kebijakan merkantilis berpusat pada


dua ide pokok, yaitu:

18
a. pemupukan logam mulia, tujuannya adalah pembentukan negara nasional yang
kuat dan pemupukan kemakmuran nasonal untuk mempertahankan dan
mengembangkan kekuatan negara tersebut;

b. setiap politik perdagangan ditujukan untuk menunjang kelebihan ekspor di atas


impor (neraca perdagangan yang aktif). Untuk memperoleh neraca perdagangan
yang aktif, maka ekspor harus didorong dan impor harus dibatasi. Hal ini
dikarenakan tujuan utama perdagangan luar negeri adalah memperoleh tambahan
logam mulia.

Dengan demikian dalam perdagangan internasional atau perdagangan luar


negeri, titik berat politik merkantilisme ditujukan untuk memperbesar ekspor di atas
impor, serta kelebihan ekspor dapat dibayar dengan logam mulia. Kebijakan
merkantilis lainnya adalah kebijakan dalam usaha untuk monopoli perdagangan dan
yang terkait lainnya, dalam usahanya untuk memperoleh daerah-daerah jajahan
guna memasarkan hasil industri. Pelopor Teori Merkantilisme antara lain Sir Josiah
Child, Thomas Mun, Jean Bodin, Von Hornich dan Jean Baptiste Colbert.

2. Teori Keunggulan Mutlak (Absolut Advantage) oleh Adam Smith

Dalam teori keunggulan mutlak, Adam Smith mengemukakan ide-ide sebagai


berikut.

a. Adanya Division of Labour (Pembagian Kerja Internasional)


dalam Menghasilkan Sejenis Barang Dengan adanya pembagian kerja, suatu
negara dapat memproduksi barang dengan biaya yang lebih murah dibanding
negara lain, sehingga dalam mengadakan perdagangan negara tersebut
memperoleh keunggulanmutlak.

b. Spesialisasi Internasional dan Efisiensi Produksi


Dengan spesialisasi, suatu negara akan mengkhususkan pada produksi
barang yang memiliki keuntungan. Suatu Negara akan mengimpor barang-barang
yang bila diproduksi sendiri (dalam negeri) tidak efisien atau kurang
menguntungkan, sehingga keunggulan mutlak diperoleh bila suatu Negara
mengadakan spesialisasi dalam memproduksi barang.

Keuntungan mutlak diartikan sebagai keuntungan yang dinyatakan dengan


banyaknya jam/hari kerja yang dibutuhkan untuk membuat barang-barang produksi.
Suatu negara akan mengekspor barang tertentu karena dapat menghasilkan barang
tersebut dengan biaya yang secara mutlak lebih murah daripada negara lain.
Dengan kata lain, negara tersebut memiliki keuntungan mutlak dalam produksi
barang.

Jadi, keuntungan mutlak terjadi bila suatu negara lebih unggul terhadap satu
macam produk yang dihasilkan, dengan biaya produksi yang lebih murah jika
dibandingkan dengan biaya produksi di negara lain.

19
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui, bahwa Indonesia lebih unggul
untuk memproduksi rempah-rempah dan Jepang lebih unggul untuk produksi
elektronik, sehingga negara Indonesia sebaiknya berspesialisasi untuk produk
rempah-rempah dan negara Jepang berspesialisasi untuk produk elektronik. Dengan
demikian, seandainya kedua negara tersebut mengadakan perdagangan atau
ekspor dan impor, maka keduanya akan memperoleh keuntungan.

Besarnya keuntungan dapat dihitung sebagai berikut.

a. Untuk negara Indonesia, Dasar Tukar Dalam Negeri (DTD) 1 kg rempah-rempah


akan mendapatkan 1 unit elektronik, sedangkan Jepang 1 kg rempah-rempah akan
mendapatkan 4 unit elektronik. Dengan demikian, jika Indonesia menukarkan
rempah-rempahnya dengan elektronik Jepang akan memperoleh keuntungan
sebesar 3 unit elektronik, yang diperoleh dari (4 elektronik – 1 elektronik).

b. Untuk negara Jepang Dasar Tukar Dalam Negerinya (DTD) 1 unit elektronik akan
mendapatkan 0,25 rempah-rempah, sedangkan di Indonesia 1 unit elektronik akan
mendapatkan 1 kg rempah-rempah. Dengan demikian, jika negara Jepang
mengadakan perdagangan atau menukarkan elektroniknya dengan Indonesia akan
memperoleh keuntungan sebesar 0,75 kg rempah-rempah, yang diperoleh dari ( 1
kg rempahrempah – 0,25 elektronik).

3. Teori Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage) oleh David Ricardo

David Ricardo menyampaikan bahwa teori keunggulan mutlak yang


dikemukakan oleh Adam Smith memiliki kelemahan, di antaranya sebagai berikut.

a. Bagaimana bila suatu negara lebih produktif dalam memproduksi dua jenis barang
dibanding dengan Negara lain?

Sebagai gambaran awal, di satu pihak suatu negara memiliki faktor produksi
tenaga kerja dan alam yang lebih menguntungkan dibanding dengan negara lain,
sehingga negara tersebut lebih unggul dan lebih produktif dalam menghasilkan
barang daripada negara lain. Sebaliknya, di lain pihak negara lain tertinggal dalam
memproduksi barang. Dari uraian di atas dapat disimpilkan, bahwa jika kondisi suatu
negara lebih produktif atas dua jenis barang, maka negara tersebut tidak dapat
mengadakan hubungan pertukaran atau perdagangan.

b. Apakah negara tersebut juga dapat mengadakan perdagangan internasional?

20
Pada konsep keunggulan komparatif (perbedaan biaya yang dapat
dibandingkan) yang digunakan sebagai dasar dalam perdagangan internasional
adalah banyaknya tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi suatu barang.
Jadi, motif melakukan perdagangan bukan sekadar mutlak lebih produktif (lebih
menguntungkan) dalam menghasilkan sejenis barang, tetapi menurut David Ricardo
sekalipun suatu negara itu tertinggal dalam segala rupa, ia tetap dapat ikut serta
dalam perdagangan internasional, asalkan Negara tersebut menghasilkan barang
dengan biaya yang lebih murah (tenaga kerja) dibanding dengan lainnya.

Jadi, keuntungan komparatif terjadi bila suatu negara lebih unggul terhadap
kedua macam produk yang dihasilkan, dengan biaya tenaga kerja yang lebih murah
jika diban-dingkan dengan biaya tenaga kerja di negara lain.

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui, bahwa negara Jepang unggul


terhadap kedua jenis produk, baik elektronik maupun rempah-rempah, akan tetapi
keunggulan tertingginya pada produksi elektronik. Sebaliknya, negara Indonesia
lemah terhadap kedua jenis produk, baik rempah-rempah maupun elektronik, akan
tetapi kelemahan terkecilnya pada produksi rempah-rempah.

Jadi, sebaiknya negara Jepang berspesialisasi pada produk elektronik dan


negara Indonesia berspesialisasi pada produk rempah-rempah. Seandainya kedua
negara tersebut mengadakan perdagangan, maka keduanya akan mendapatkan
keuntungan.

Besarnya keuntungan dapat dihitung sebagai berikut.


a. Di Jepang 1 unit elektronik = 0,625 kg rempah-rempah, sedangkan di Indonesia 1
unit elektronik = 1 kg rempahrempah. Jika negara Jepang menukarkan elektronik
dengan rempah-rempah di Indonesia, maka akan mendapatkan keuntungan sebesar
0,375, yang diperoleh dari (1 rempahrempah – 0,625 rempah-rempah).

b. Di Indonesia 1 kg rempah-rempah = 1 unit elektronik, sedang di Jepang 1 kg


rempah-rempah = 1,6 unit elektronik. Jika negara Indonesia menukarkan rempah-
rempahnya dengan elektronik, maka Jepang akan mendapatkan keuntungan
sebesar 0,6, yang diperoleh dari (1,6 elektronik – 1 elektronik).

Teori yang dikemukakan oleh Kaum Klasik dalam teori perdagangan


internasional, berdasarkan atas asumsi berikut ini.
a. Memperdagangkan dua barang dan yang berdagang dua negara.
b. Tidak ada perubahan teknologi.
c. Teori nilai atas dasar tenaga kerja.

21
d. Ongkos produksi dianggap konstan.
e. Ongkos transportasi diabaikan (= nol).
f. Kebebasan bergerak faktor produksi di dalam negeri, tetapi tidak dapat berpindah
melalui batas
negara.
g. Persaingan sempurna di pasar barang maupun pasar factor produksi.
h. Distribusi pendapatan tidak berubah.
i. Perdagangan dilaksanakan atas dasar barter.

4. Teori Permintaan Timbal Balik (Reciprocal Demand) oleh John Stuart Mill

Teori yang dikemukakan oleh J.S. Mill sebenarnya melanjutkan Teori


Keunggulan Komparatif dari David Ricardo, yaitu mencari titik keseimbangan
pertukaran antara dua barang oleh dua negara dengan perbandingan pertukarannya
atau dengan menentukan Dasar Tukar Dalam Negeri (DTD). Maksud Teori Timbal
Balik adalah menyeimbangkan antara permintaan dengan penawarannya, karena
baik permintaan dan penawaran menentukan besarnya barang yang diekspor dan
barang yang diimpor.

Jadi, menurut J.S. Mill selama terdapat perbedaan dalam rasio produksi
konsumsi antara kedua negara, maka manfaat dari perdagangan selalu dapat
dilaksanakan di kedua negara tersebut. Dan suatu negara akan memperoleh
manfaat apabila jumlah jam kerja yang dibutuhkan untuk membuat seluruh
barangbarang ekspornya lebih kecil daripada jumlah jam kerja yang dibutuhkan
seandainya seluruh barang impor diproduksi sendiri.

3.Keseimbangan Perekonomian Terbuka

A. Sirkulasi Aliran Pendapatan Perekonomian Terbuka

Perekonomian terbuka atau perekonomian empat sektor adalah suatu sistem


ekonomi yang melakukan kegiatan ekspor dan impor dengan negara-negara lain di
dunia ini. Dalam perekonomian terbuka sektor-sektor ekonominya dibedakan kepada
empat golongan, yaitu : rumah tangga, perusahaan, pemerintah, dan luar negeri.
Melakukan perdagangan internasional merupakan kegiatan yang lazim dilakukan
oleh berbagai negara. Semenjak berabad-abad yang lalu, ketika berbagai
perekonomian masih belum begitu berkembang, perdagangan ekspor dan impor
telah mereka lakukan. Pada ketika ini kegiatan ekspor dan impor merupakan bagian
yang penting dalam kegiatan setiap perekonomian. Walau bagaimanapun, secara
relatif, kepentingannya berbeda dari suatu negara ke negara lain.

EKSPOR, IMPOR, DAN PENGELUARAN AGREGAT

Dalam ekonomi yang melakukan perdagangan luar negeri, aliran pendapatan


dan pengeluaran yang berlaku. Apabila aliran-aliran tersebut diperhatikan dengan
teliti akan didapati bahwa aliran yang berlaku dalam perekonomian terbuka adalah
berbeda dengan perekonomian tiga sektor sebagai akibat dari wujudnya kegiatan
ekspor-impor.

22
Secara fisik, ekspor diartikan sebagai pengiriman dan penjualan barang-
barang buatan dalam negeri ke negara-negara lain. Pengiriman ini akan
menimbulkan aliran pengeluaran yang masuk ke sektor perusahaan. Dengan
demikian pengeluaran agregat akan meningkat sebagai akibat dari kegiatan
mengekspor barang dan jasa dan pada akhirnya keadaan ini akan menyebabkan
peningkatan dalam pendapatan nasional. Impor menimbulkan efek yang sebaliknya.
Secara fisik, impor merupakan pembelian dan pemasukan barang dari luar negeri ke
dalam suatu perekonomian. Aliran barang ini akan menimbulkan aliran keluar atau
bocoran dari aliran pengeluaran dari sektor rumah tangga ke sektor perusahaan.
Aliran keluar atau bocoran ini pada akhirnya akan menurunkan pendapatan nasional
yang dapat dicapai. Dengan demikian, sejauh mana ekspor dan impor
mempengaruhi keseimbangan pendapatan nasional tergantung kepada ekspor
netto, yaitu ekspor dikurangi impor. Apabila ekspor netto adalah positif, pengeluaran
agregat dalam ekonomi akan bertambah. Keadaan ini akan meningkatkan
pendapatan nasional dan kesempatan kerja.

PENENTU EKSPOR IMPOR

Untuk dapat menggambarkan dan menentukan keseimbangan dalam


perekonomian terbuka, perlulah terlebih dahulu dimengerti ciri-ciri dari ekspor dan
impor. Untuk mengetahui ciri-ciri tersebut perlulah dilihat faktor-faktor penting yang
akan mempengaruhi ekspor dan impor sesuatu negara. Kedua hal tersebut
diterangkan dalam uraian berikut :

– Faktor-faktor yang Menentukan Ekspor

Banyak faktor yang akan menentukan hal ini dan pada dasarnya kepentingan
ekspor di suatu negara selalu berbeda dengan negara lain. di sebagaian negara
ekspor sangat penting, yaitu meliputi bagian yang cukup besar dari pendapatan
nasional. Akan tetapi disebagian negara lain peranannya relatif kecil
.
Suatu negara dapat mengekspor barang produksinya ke negara lain apabila
barang tersebut diperlukan negara lain dan mereka tidak dapat memproduksi barang
tersebut atau produksinya tidak dapat memenuhi keperluan dalam negeri. Ekspor
karet, kelapa sawit, dan petroleum dari beberapa negara Asia Tenggara berlaku
karena barang-barang tersebut dibeli oleh negara-negara yang tidak dapat
memproduksinya. Sebaliknya pula negara-negara Asia Tenggara mengimpor kapal
terbang, dan berbagai jenis barang modal karena mereka tidak dapat menghasilkan
sendiri barang-barang tersebut.

Faktor yang lebih penting lagi adalah kemampuan dari negara tersebut untuk
mengeluarkan barang-barang yang dapat bersaing dalam pasaran luar negeri.
Maksudnya, mutu dan harga barang yang diekspor tersebut haruslah paling sedikit
sama baiknya dengan yang diperjualbelikan dalam pasaran luar negeri.cita rasa
masyarakat diluar negeri terhadap barang yang dapat diekspor ke luar negara
sangat penting peranannya dalam menentukan ekspor suatu negara. secara umum
boleh dikatakan bahwa semakin banyak jenis barang yang mempunyai
keistimewaan yang sedemikian yang dihasilkan oleh suatu negara, semakin banyak
ekspor yang dapat dilakukan.

23
Pendapatan nasional dianggap bukan penentu penting dari ekspor suatu
negara. Ekspor akan secara langsung mempengaruhi pendapatan nasional. Akan
tetapai hubungan yang sebaliknya tidak selalu berlaku, yaitu kenaikan pendapatan
nasional belum tentu menaikkan ekspor oleh karena itu pendapatan nasional dapat
mengalami kenaikan sebagai akibat pengeluaran rumah tangga, investasi
perusahaan, pengeluaran pemerintah dan penggantian barang impor dengan barang
dalam negeri.

– Faktor-Faktor yang Menentukan Impor

Barang buatan luar negeri juga diimpor oleh sektor lain, yaitu oleh
perusahaan dan pemerintah.perusahaan mengimpor bahan mentah dan barang
modal dari luar negeri. Pemerintah juga melakukan hal yang sama, yaitu pemerintah
menggunakan barang konsumsi dan barang modal yang diimpor. Walau
bagaimanapun dalam analisis makroekonomi diasumsikan bahwa impor terutama
dilakukan oleh rumah tangga.maka fungsi impor sangat berhubungan dengan
pendapatan nasional.yangdimaksudkan dengan fungsi impor adalah kurva yang
menggambarkan hubungan diantara nilai impor yang dilakukan dengan tinkat
pendapatan masyarakat dan pendapatan nasional yang dicapai. Seperti telah
dinyatakan impor adalah pengeluaran terpengaruh yang berarti semakin tinggi
pendapatan nasional maka semakin tinggi pula impor.

B. Keseimbangan Perekonomian Terbuka

Untuk menerangkan mengenai keseimbangan pendapatan nasional dalam


perekonomian terbuka, analisis di sini akan menunjukkannya dengan
membandingkan keseimbangan dalam ekonomi tiga sektor dan ekonomi empat
sektor. Akan ditunjukkan bagaimana keseimbangan ekonomi tiga sektor akan
mengalami perubahan apabila pengeluaran agregat meliputi pula ekspor dan impor.
Analisis akan dilakukan secara grafik dan dua pendekatan akan digunakan:
pendekatan pengeluaran agregat- penawaran agregat ( Y = AE ) dan pendekatan
suntikan-bocoran.

Sebelum keseimbangan pendapatan nasional dalam ekonomi terbuka


diterangkan, terlebih dahulu akan ditunjukkan syarat keseimbangan dalam
perekonomian terbuka. Bagian ini juga akan menerangkan dua hal berikut : (i) suatu
contoh angka untuk menunjukkan keseimbangan pendapatan, dan (ii) suatu contoh
angka untuk menunjukkan keseimbangan dalam perekonomian terbuka dan
perubahan keseimbangan tersebut.

SYARAT KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKA

Keseimbangan pendapatan nasional akan dicapai pada keadaan di mana (i)


penawaran agregat sama dengan pengeluaran agregat, dan (ii) suntikan sama
dengan bocoran. Uraian berikut akan menerangkan bagaimana keadaan tersebut
tercapai dalam perekonomian terbuka.

– Penawaran dan Pengeluaran Agregat dalam Perekonomian Terbuka

24
Dalam perekonomian terbuka barang dan jasa yang diperjualbelikan di dalam
negeri terdiri dari dua golongan barang; (i) yang diproduksi di dalam negeri dan
meliputi pendapatan nasional (Y), dan (ii) yang diimpor dari luar negeri. Dengan
demikian dalam perekonomian terbuka penawaran agregat atau AS terdiri dari
pendapatan nasional (Y) dan impor (M). Dalam formula :
AS = Y + M

Uraian sebelum ini mengenai sirkulasi aliran pendapatan dalam


perekonomian terbuka telah menunjukkan bahwa pengeluaran agregat ( AE)
meliputi lima komponen berikut : pengeluaran rumah tangga ke atas barang produksi
dalam negeri (Cdn), investasi swasta (I), pengeluaran pemerintah (G), ekspor (X) dan
pengeluaran ke atas impor (M). Dalam persamaan :

AE = Cdn + I +G + X + M

Pengeluaran rumah tangga terdiri dari pengeluaran ke atas barang dalam


negeri dan pengeluaran ke atas barang impor. Maka dalam perekonomian terbuka
berlaku persamaan berikut :

C = Cdn + M

Berdasarkan persamaan diatas, persamaan AE boleh disederhanakan


menjadi :

AE = C + I + G + X

Di mana nilai C meliputi pengeluaran ke atas produksi dalam negeri dan


barang yang diimpor.

Dalam setiap perekonomian (apakah ia terdiri dari dua sektor, tiga sektor atau
empat sektor) keseimbangan pendapatan nasional dicapai apabila penawaran
agregat (AS) sama dengan penggeluaran agregat (AE). Dengan demikian, dalam
perekonomian terbuka keseimbangan pendapatan nasional akan tercapai apabila :

Y+M=C+I+G+X

Atau :

Y=C+I+G+(X–M)

Suntikan dan Bocoran dalam Perekonomian Terbuka

Dalam pendekatan suntikan-bocoran, keseimbangan pendapatan nasional


dalam perekonomian terbuka dicapai dalam keadaan berikut :

I+G+X=S+T+M

Uraian beikut menerangkan mengapa kesamaan tersebut perlu dicapai untuk


menentukan keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian terbuka.
25
KESEIMBANGAN DALAM PEREKONOMIAN TERBUKA

Apabila dimisalkan perekonomian tersebut terdiri tiga sektor, keseimbangan


pendapatan nasional akan dicapai pada keadaan: Y = C + I + G. Dengan demikian
pendapatan nasional adalah Y. Apabila perekonomian ini berubah menjadi ekonomi
terbuka, akan timbul dua aliran pengeluaran baru, yaitu ekspor dan impor. Ekspor
akan menambah pengeluaran agregat manakala impor akan mengurangi
pengeluaran agregat. Dengan demikian, apabila perekonomian berubah dari
ekonomi tertutup ke ekonomi terbuka, pengeluaran agregat akan bertambah
sebanyak ekspor neto, yaitu sebanyak ( X – M). Nilai ekspor neto ini perlu
ditambahkan kepada fungsi pengeluaran agregat untuk perekonomian tertutup ( AE
= C + I + G ) dan akan diperoleh fungsi pengeluaran agregat untuk ekonomi empat
sektor , yaitu : AE = C + I + G + ( X – M ).

Sebagai akibat dari perubahan ini keseimbangan pendapatan nasional pindah


dari Eo menjadi E1 , dan menyebabkan pendapatan nasional meningkat dari Y 3
(pendapatan nasional dalam perekonomian tertutup ) menjadi Y4 (pendapatan
nasional untuk perekonomian terbuka). Patut disadari bahwa fungsi AE = C + I +G +
( X – M ) tidak sejajar dengan AE = C + I + G dan dengan fungsi konsumsi (C).
Keadaan demikian berlaku karena impor (M) nilainya sebanding (proportional)
dengan pendapatan nasional, maka fungsi AE = C + I +G + ( X – M ) lebih landai.

Keseimbangan pendapatan nasional menurut suntikan-bocoran yaitu apabila


dimisalkan ekonomi terdiri dari tiga sektor, keseimbangan dicapai pada E o yaitu
apabila S + T = I + G dan pendapatan nasional adalah Y3. Perubahan dari
perekonomian tertutup menjadi perekonomian terbuka, menyebabkan :

(i) Suntikan bertambah sebanyak X, dari I + G menjadi I + G + X. Perubahannya


sejajar karena ekspor adalah pengeluaran otonomi.
(ii) (ii) Bocoran bertambah sebanyak M, dari S + T , menjadi S + T + M. Fungsi S
+ T + M bermula dari garis asal S + T dan semakin menjauhi S + T karena M
adalah pengeluaran terpengaruh ( sebanding dengan pendapatan nasional ).

Dengan demikian, efek dari perubahan dalam (i) dan (ii) dalam perekonomian
terbuka keseimbangan akan dicapai dar E3, yaitu pada persilangan di antara I + G +
X dan S + T + M. Maka pendapatan nasional dari ekonomi empat sektor adalah Y 4.

Dalam perekonomian terbuka pendapatan nasional adalah sama dengan


pengeluaran-pengeluaran berikut : pengeluaran rumah tangga terhadap produksi
dalam negeri, tabungan rumah tangga, pajak perusahaan dan individu yang dibayar
dan pengeluaran ke atas barang impor. Dalam persamaan :

Y = Cdn + S + T + M

Oleh karena kesamaan di atas maka apabila Y = Cdn dengan sendirinya S + T


+M=0

PERUBAHAN-PERUBAHAN KESEIMBANGAN

26
Perubahan pengeluaran rumah tangga, perubahan komponen-komponen
suntikan (I, G dan X ) dan perubahan komponen-komponen bocoran ( S, T atau M )
akan menimbulkan perubahan ke atas keseimbangan pendapatan nasional.
Kenaikan dalam pengeluaran rumah tangga, investasi, pengeluaran pemerintah atau
ekspor akan menaikkan pendapatan nasional. Kenaikan pengeluaran agregat juga
akan menimbulkan proses multiplier sehingga pada akhirnya menyebabkan
pertambahan pendapatan nasional adalah lebih besar dari pertambahan
pengeluaran agregat yang berlaku. Dalam ekonomi empat sektor nilai multiplier
adalah lebih kecil dari dalam ekonomi tiga sektor. Sebabnya adalah karena dalam
perekonomian terbuka dimisalkan impor adalah sebanding dengan pendapatan
nasional, yaitu persamaan impor adalah M = m Y. Nilai m menyebabkan tingkat
“bocoran” (presentasi dari pertambahan pendapatan nasional yang tidak
dibelanjakan kembali untuk menimbulkan proses multiplier selanjutnya ) menjadi
bertambah besar.

Perubahan komponen yang meliputi bocoran ( S, T atau M ) akan


menimbulkan akibat yang sebaliknya dari yang ditimbulkan oleh komponen
pengeluaran agregat. Kenaikan tabungan, atau pajak atau impor akan mengurangi
pendapatan nasional. Proses multiplier akan menyebabkan pendapatan nasional
berkurang lebih besar dari kenaikan bocoran.

4.Multiplier Dalam Perekonomian Terbuka

Multiplier didefinisikan sebagai angka yng menunjukkan perbandingan di


antara pertambahan pendapatan nasional dengan pertambahan pengeluaran
agregat. Multiplier dalam perekonomian terbuka adalah multiplier dalam
perekonomian terbuka ( dan dalam ekonomi yang sebenarnya ) sama atau berbeda
dengan multiplier dalam ekonomi tertutup. Nilai multiplier dalam perekonomian
terbuka akan menjadi kecil tersebut disebabkan dari multiplier 3 sektor. Multiplier
yang semakin kecil tersebut disebabkan oleh pemisalan bahwa impor adalah
proporsional nilainya dengan pendapatan nasional, sedangkan ekspor adalah
bersifat pengeluaran otonomi.

27
Contoh diatas menunjukkan multiplier dalam perekonomian terbuka adalah:

Dimana MPCdn adalah kecondongan menggunakan marginal pendapatan


nasional untuk perekonomian 4 sektor dan dapat dihitung dengn formula:

Dalam contoh angka menunjukkan multiplier = 2, berarti kenaikan ekspor sebanyak


Rp. 200 milyar akan menambah pendapatan nasional sebanyak Rp. 400 milyar.

Penghitungan Secara Aljabar

Untuk menerangkan penghitungan multiplier secara aljabar digunakan


pemisalan-pemisalan sebagai berikut:
1.Fungsi konsumsi adalah C = a + b Yd
2.Pajak proporsional adalah T = tY
3.Investasi perusahaan adalah Io
4.Pengeluaran permerintah adalah Go
5.Ekspor adalah Xo
6.Impor adalah M = m Y

Berdasarkan kepada pemisalan-pemisalan diatas pendapatan nasional dapat


ditentukan dengan menyelesaikan persamaan:

Seterusnya misalkan ekspor bertambah sebanyak X, kenaikan ini mewujudkan


proses multiplier dan pendapatan nasional bertambah menjadi Y1 yang bernilai:

Nilai kenaikan pendapatan nasional (∆ Y = Y1 – Y ) adalah:

Penghitungan diatas menunjukkan dalam perekonomian terbuka nilai multiplier


dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:

28
Dimana : b = kecondongan mengkonsumsi marginal
t = tingkat (%) pajak
m = tingkat (%) impor
dalam contoh angka yang dibuat sebelum ini b – 0,75, t = 0,20 dan m = 0,10

Dengan demikian nilai multiplier adalah:

5.Kebijakan Ekonomi Internasional

Dalam arti yang luas, kebijakan ekonomi internasional adalah tindakan


pemerintah, yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi
komposisi, arah serta bentuk dari perdagangan dan pembayaran internasional.
Kebijakan ini tidak hanya berupa tarif, kuota dan sebagainya, tetapi juga meliputi
kebijakan pemerintah di dalam negeri yang secara tidak langsung mempengaruhi
perdagangan serta pembayaran internasional seperti misalnya politik moneter dan
fiskal. Sedangkan definisi yang lebih sempit, politik ekonomi internasional adalah
tindakan atau kebijakan ekonomi pemerintah yang secara langsung mempengaruhi
perdagangan dan pembayaran internasional.

INSTRUMEN DARI KEBIJAKAN EKONOMI INTERNASIONAL


Instrumen dari kebijakan ekonomi internasional diantaranya :
1.Kebijakan perdagangan internasional
2.Kebijakan pembayaran internasional
3.Kebijakan bantuan luar negeri

Kebijakan perdagangan internasional mencakup tindakan pemerintah


terhadap akun tetap (current account) dari neraca pembayaran internasional,
khususnya tentang ekspor dan impor barang/jasa. Misalnya : tarif terhadap impor,
perjanjian bilateral dan lain sebagainya.

Kebijakan pembayaran internasional meliputi tindakan / kebijakan pemerintah


terhadap capital account dalam neraca pembayaran internasional. Hal ini dapat
dilakukan misalnya dengan pengawasan / pengaturan lalu lintas modal jangka
panjang.

29
Kebijakan bantuan luar negeri dalam tindakan / kebijakan pemerintah yang
berhubungan dengan bantuan, hadiah, bantuan yang bertujuan untuk membantu
rehabilitasi serta pembangunan dan bantuan militer terhadap negara lain.
TUJUAN KEBIJAKAN EKONOMI INTERNASIONAL

Secara umum tujuan dari kebijakan ekonomi internasional itu dapat


dikelompokkan sebagai berikut :
1.Autarki
Tujuan sebenarnya bertentangan dengan prinsip perdagangan internasional.
Karena kebijakan autarki bermaksud untuk menghindarkan diri dari pengaruh negara
lain, baik itu pengaruh ekonomi, politik maupun militer. Jadi negara yang melakukan
kebijakan autarki tidak akan melakukan perdagangan dengan negara lain atau
perekonomiannya merupakan perekonomian yang tertutup.

2.Economic Welfare
Tujuannya bertentangan dengan tujuan autarki. Kebijakan ini mendorong
adanya perdagangan antar negara karena dengan mengadakan perdagangan
internasional maka akan memperolah keuntungan dari spesialisasinya. Oleh karena
itu untuk mendorong adanya perdagangan internasional maka halangan dalam
perdagangan internasional (tarif, kuota, dll) dihilangkan atau paling tidak dikurangi.
Hal ini berarti bahwa perdagangan dilakukan secara bebas tanpa campur tangan
pemerintah.

3.Proteksi
Kebijakan ini dilakukan untuk melindungi industri dalam negeri dari
persaingan barang impor. Misalnya dapat dijalankan dengan tarif, quota dan
sebagainya. Negara melindungi industri dalam negeri terutama industri yang baru
tumbuh. Biasanya industri yang baru tumbuh belum mampu bersaing dengan
produksi dari negara lain, karena jumlah yang diproduksi relatif belum banyak, dan
skala produksinya masih kecil sehingga ongkos produksinya masih tinggi. Akibatnya
harga jualnya per unit juga tinggi. Di samping itu mungkin juga kualitasnya belum
sebaik kualitas barang sejenis yang dihasilkan oleh negara lain.

4.Keseimbangan neraca pembayaran internasional


Apabila suatu negara mempunyai kelebihan cadangan valuta asing maka
kebijakan pemerintah melakukan stabilisasi ekonomi dalam negeri tidak akan
banyak menimbulkan masalah pada neraca pembayaran internasionalnya. Tetapi
sangat sedikit negara yang mempunyai posisi yang demikian.Terutama negara yang
sedang berkembang posisi cadangan valuta asing biasanya lemah. Pemerintah
negara tersebut biasanya mengambil kebijakan ekonomi internasional guna
menyeimbangkan neraca pembayaran internasionalnya. Kebijakan ini umumnya
berbentuk pengawasan devisa. Pengawasan ini biasanya tidak hanya mengatur atau
mengawasi lalu lintas barang saja tetapi juga modal.

5.Pembangunan ekonomi
Untuk mencapai tujuan ini pemerintah dapat mengambil kebijakan seperti
misalnya :
a.Memberi perlindungan terhadap industri dalam negeri
b.Mengurangi impor barang konsumsi yang tidak penting dan mendorong impor
barang yang penting

30
c.Mendorong ekspor dan sebagainya
Semua dilakukan untuk mengarahkan perkembangan perdagangan internasional
guna menunjang pembangunan ekonomi di dalam negeri.

Macam-macam Bentuk Kebijakan Ekonomi Internasional

1. Tarif

Yang dimaksud dengan tarif adalah suatu pajak yang dikenakan kepada
semua barang yang telah melewati batas suatu negara. Tarif juga sering disebut
dengan bea masuk, dimana bertujuan untuk melindungi atau memberi proteksi
terhadap industri-industri yang ada dalam negeri. Sebenarnya bukan hanya
bertujuan untuk memberikan proteksi, pengenaan tarif biasanya juga merupakan
kebutuhan yang sudah diatur dalam APBN yang bertujuan untuk menambah jumlah
pemasukan fungsi devisa negara.

Ada beberapa jenis atau bentuk dari tarif, yakni :

 Bea ekspor

Untuk tarif jenis ini adalah pajak atau bea yang dikenakan kepada barang-
barang yang diangkut atau dikirim ke negara lainnya. Batas wilayah barang-barang
tidak kena pajak adalah di custom area dimana semua barang bebas bergerak tanpa
terkena bea, namun jika sudah melewati batas ini maka barang-barang tersebut
akan terkena bea ekspor sesuai dengan aturan yang ada. (baca juga: Hubungan
Pasar Uang dan Pasar Modal dalam Perekonomian , fungsi asli uang)

 Bea transito

Merupakan salah satu jenis tarif atau bea yang dikenakan kepada barang-
barang yang telah melewati batas wilayah suatu negara dengan ketentuan
bahwasannya brang-barang tersebut memang tujuan akhirnya akan dikirim ke
negara lainnya. Sesuai dengan namanya yakni transito maka bea ini dikenakan saat
barang-barang ini transit di suatu wilayah sebelum menuju negara tujuannya.

 Bea impor

Sedangkan bea impor adalah pajak atau bea yang dikenakan kepada barang-
barang yang masuk ke dalam custom area yang dimana tujuan akhirnya adalah
dalam negeri. Dengan demikian segala bentuk barang yang masuk ke dalam negeri
akan dikenakan pajak sesuai dengan aturan yang berlaku. (baca juga : manfaat
ekonomi internasioal , Ruang Lingkup Ekonomi Moneter)

2. Kuota

Yang dimaksud dengan kuota adalah sebuah pembatasann yang


diberlakukan kepada barang-barang impor dan jumlah barang-barang ekspor. Kuota
ini ditentukan sesuai dengan ketentuan yang dibuat oleh pemerintah, bisa jadi di
setiap negara memiliki batasan-batasannya sendiri. Ada dua jenis kuota yakni :

31
 Kuota impor

Kuota impor merupakan batasan yang diberikan dan diberlakukan kepada


setiap barang impor, ada beberapa jenis kuota impor antara lain kuota absolut
dimana batasan ditentukan oleh negara yang bersangkitan, kuota negosiasi dimana
batasannya ditentukan dari perjanjian dua pihak yang bersangkutan, tarif kuota yang
merupakan gabungan dari tarif dan kuota itu sendiri, dan kuota campuran yakni
kuota yang murni dibebankan untuk melindungi industri dalam negeri agar tetap bisa
bersaing. (Baca Juga: Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah , Prinsip
Kegiatan Usaha Perbankan)

 Kuota ekspor

Kuota yang biasanya diberlakukan kepada bahan-bahan mentah yang


termasuk ke dalam komoditas perdagangan penting.

3. Subsidi

Subsidi merupakan sebuah bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang


diambil dari alokasi dana atau anggaran yang diberikan kepada perusahaan yang
memproduksi, menjual dan kegiatan lainnya. Dengan adanya subsidi ini harga jual
suatu produk akan menjadi lebih murah. Contoh subsidi BBM. (baca juga : fungsi
pasar uang , Resiko Investasi di Pasar Uang)

4. Dumping

Merupakan sebuah kebijakan yang dilakukan oleh suatu negara dengan cara
menjual barang-barang ke luar negeri dengan harga yang jauh lebih murah dari
harga jual dalam negeri.

32