Anda di halaman 1dari 5

1.

Konsep asensi
Sensasi berasal dari kata sense artinya alat penginderaan yang menghubungkan organisme
dengan lingkungannya, bila alat-alat indera mengubah informasi menjadi impuls-impuls
syaraf dengan bahasa yang dipahami oleh otak maka terjadilah sensasi (dennis coon).
Ketajaman sensasi dipengaruhi oleh faktor personal, perbedaan sensasi dapat disebabkan
perbedaan pengalaman atau lingkungan budaya disamping kapasitas indera yang berbeda.
2. Konsep atensi
Menurut hilgard, atensi adalah pusat pengamatan yang menyebabkan meningkatnya
kesadaran terhadap lingkungan yang terbatas.sedangkan morgan berpendapat,atensi
merupakan pemusatan pada aspek tertentu dari pengamatan yang sering terjadi dan tidak
menghiraukan orang lain.
3. Konsep persepsi
Menurut kamus lengkap psikologi, persepsi merupakan proses mengetahui atau mengenali
objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera.menurut leavit(sobur 2003:445) persepsi
merupakan pandangan atau pengertian yaitu bagaimana seseorang memandang atau
mengartikan sesuatu.
4. Memori
Memori adalah Keberadaan tentang masa lampau yang hidup kembali, catatan yang berisi
penjelasan.

Faktor yang mempengaruhi pemrosesan informasi.


1. Faktor internal (psikologi dan fisiologis) dan faktor eksternal (media atau saluran
komunikasi)
2. Memori yang kurang maksimal, hal ini disebabkan oleh individu yang kurang melatih
memori secara maksimal.
3. Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
4. Tingkat kesulitan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah disimpan
dalam ingatan.
5. Kemampuan otak individu yang tak sama

Pemanfaatan pemrosesan informasi dalam belajar


1. Membantu terjadinya proses pembelajaran sehingga individu mampu beradaptasi
pada lingkungan yang selalu berubah.
2. Menjadi strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi
pada proses lebih menonjol.
3. Kapasitas belajar dapat disajikan secara lengkap
4. Prinsip perbedaan individual terlayani
http://www.academia.edu/8554631/PEMROSESAN_INFORMASI_DALAM_BELAJAR
1. PERSEPSI

Persepsi melibatkan kognisi tingkat tinggi dalam penginterpretasian terhadap informasi


sensorik. Persepsi lebih mengacu pada hal-hal yang kita indera. Ketika kita membaca buku,
mendengarkan mp3, dipijat orang, mencium bau, atau mencicipi rasa makanan, kita
mengalami lebih dari sekedar stimulasi sensorik . kejadian-kejadian sensorik tersebut
diproses sesuai dengan pengetahuan kita tentang dunia, sesuai budaya, pengharapan, bahkan
disesuaikan dengan orang yang bersama kita saat itu. Kita memiliki penyimpanan sensorik
yang berfungsi untuk membantu kita dalam mengambil keputusan dengan cepat berdasarkan
pemaparan singkat terhadap suatu kejadian.

Dalam penyimpanan sensorik terdapat beberapa jenis, yaitu

 penyimpanan ikonik yaitu kemampuan kesan-kesan visual untuk menetap selama


jangka waktu singkat.
 penyimpanan ekhoik yang berfungsi menyediakan waktu tambahan bagi kita untuk
mendengarkan pesan, seperti informasi dalam satu bagian kecil percakapan.

2. ATENSI

Menurut William James (1890) atensi adalah pengambil alihan oleh pikiran, dalam bentuk
yang jelas dan gamblang terhadap sejumlah objek stimultan atau sekelompok pikiran.
pemusatan, konsentrasi kesadaran, adalah intisari atensi. Ini menyiratkan adanya pengabaian
objek-objek lain agar kita sanggup menangani objek-objek tertentu secara efektif. Hal ini
termasuk kemampuan untuk memfokuskan pada salah satu aspek lingkungan atau aktivitas di
salah satu ujung ekstrem nya, dan respons-respons otomatis dan tidak dapat dikontrol
terhadap kejadian- kejadian di luar dugaan di ujung ekstrem lainnya.

3. KESADARAN

Kesadaran (consciouness) adalah kesiagaan (awareness) seseorang terhadap peristiwa-


peristiwa di lingkungannya (seperti pemandangan dan suara-suara dari lingkungan
sekitarnya) serta peristiwa-peristiwa kognitif yang meliputi memori, pikiran, perasaan, dan
sensasi-sensasi fisik. Ada beberapa tingkat kesadaran atau kondisi kesiagaan yang bervariasi
dan melibatkan aspek atensi dan keterjagaan. Tingkat kesadaran itu diantaranya adalah tidur,
bermimpi, penggunaan obat, dan meditasi. Selain tingkat kesadaran, ada juga kerangka kerja
dari kesadaran. Karakteristik-karakteristik utama kerangka kerja tersebut meliputi Attention,
Wakefulness, Architecture, Recall of Knowledge dan Emotive (Solso, 2003; MacLin,
MacLin, & Solso, 2007). Kelima kerangka kerja dari kesadaran itu adalah suatu upaya umtuk
mengurangi varians dalam pendefinisian pengalaman subjektif yang kita sebut kesadaran.

 Attention yaitu pemusatan sumber daya mental ke hal-hal internal maupun eksternal.
Contoh yang eksternal saat kita di taman kita memusatkan attention kita terhadap
bunga, anak-anak, dan hal lainnya.
 Wakefulness yaitu kontinum dari tidur hingga terjaga.
 Architecture yaitu lokasi fisik struktur fisiologis yang menyokong kesadaran. Contoh
elemen architecture yaitu saat kita melihat perlombaan basket di lapangan, saat ada
bola yang mengarah ke arah kita, kita dengan sadar dan spontan menghindar atau
menangkas bola tersebut.
 Recall of knowlodge yaitu proses pengambilan informasi tentang pribadi yang
bersangkutan dan dunia sekelilingnya.
 Emotive yaitu komponen-komponen afektif yang dikondisikan dengan kesadaran.

4. PATTERN RECOGNITION

Pattern recognition merupakan proses mental dalam mengingat sebuah pola yang sebelumnya
telah diidentifikasi dari memori. Proses ini berkaitan dengan interaksi antara sensasi,
persepsi, memori dan pencarian kognitif dengan tujuan pengenalan terhadap pola tersebut.
Pola-pola yang akan dikenali ini tidak selalu berkaitan dengan obyek tampak saja, melainkan
termasuk suara, rasa dan bau. Terdapat beberapa teori-teori besar yang berkaitan dengan
konsep pattern recognition, antara lain:

 teori perseptual yang berkaitan dengan bagaimana sebuah sensasi diproses menjadi
persepsi mengenai suatu objek,
 organisasi subyektif yang menjelaskan tentang ilusi perseptual yang menyebabkan
individu mampu mempersepsikan bentuk yang hanya ada dalam sistem perseptual-
kognitif,
 teori gestalt yang menjelaskan pemrosesan persepsi melalui pengorganisasian
komponen sensasi secara menyeluruh,
 perspektif kanonik yang membahas sudut pandang terbaik untuk merepresentasikan
objek yang muncul pertama kali dalam pikiran individu,
 proses bottom up & top down sebagai strategi dalam menginterpretasi objek, baik
melalui pembuatan hipotesis ataupun melalui pengenalan pola terlebih dahulu,
 pencocokan template yang berkaitan dengan cara individu mengenali objek ketika
stimulus yang ia terima sesuai dengan representasi stimulus itu dalam memori,
 teori geon yang memberikan gagasan mengenai persepsi yang disusun berdasarkan
konsep geometrical ions dan adanya recognition by components yang berupa
pemecahan bentuk kompleks menjadi bentuk sederhana,
 analisis fitur yang membahas bagaimana individu dapat mengenai suatu objek
setelah ia menganalisis komponen dasar dari objek tersebut,
 pencocokan prototipe yang berkaitan dengan gambaran ideal mengenai suatu objek
yang dimiliki oleh individu yang digunakan untuk mengevaluasi pola stimulus yang ia
terima.

Teori-teori di atas hanya membahas tentang pengenalan pola melalui berbagai sudut pandang.
Individu dalam melakukan proses pengenalan pola tidak serta merta hanya menggunakan satu
teori/pandangan. Tidak ada ketentuan mengenai cara yang mana yang paling tepat ketika
seseorang akan mengenali sebuah tulisan atau benda tertentu, karena ketika seseorang akan
menginterpretasi suatu stimulus yang dia terima, terkadang berbagai proses terjadi secara
bersamaan (misalnya terjadi pencocokan prototipe dibarengi dengan pencocokan template).

Gambaran Fenomena

Pada tahun 1999, seorang psikolog anak bernama Graham Rawlinson dari Nottingham
University mengemukakan bahwa mengacak huruf ditengah kata tidak berpengaruh terhadap
kemampuan pembacanya dalam memahami kalimat. Ia kemudian meminta rekannya untuk
menyebarkan gagasan ini melalui website dan email untuk menjelaskan hasil penelitian
tersebut. Semenjak itu, gagasan ini semakin banyak dikenal orang melalui situs-situs internet
dan media sosial. Berikut adalah contoh kalimat yang ada pada email rekan Graham
Rawlinson:

"Aoccdrnig to a rscheearch at Cmabrigde Uinervtisy, it deosn't mttaer in waht oredr the


ltteers in a wrod are, the olny iprmoatnt tihng is taht the frist and lsat ltteers be at the rghit
pclae. The rset can be a toatl mses and you can sitll raed it wouthit porbelm. Tihs is bcuseae
the huamn mnid deos not raed ervey lteter by istlef, but the wrod as a wlohe."

Semenjak itu, saat ini banyak dibicarakan di berbagai media sosial mengenai fenomena
kemampuan manusia dalam membaca meskipun huruf yang ada pada kalimat terbalik-balik.

Analisa Fenomena

Kasus yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai bagaimana kita dapat membaca kalimat
yang susunan hurufnya terbalik berkaitan dengan teori pemrosesan top-down. Teori ini
membahas cara mengidentifikasi objek yang diawali dengan hipotesis dari pola kemudian
melakukan identifikasi bagian pola-pola tersebut berdasarkan asumsi yang dibuat
sebelumnya. Persepsi yang diperoleh melalui pemrosesan top-down diperoleh dari memori
yang telah disimpan dalam ingatan, berupa apa yang telah dipelajari sebelumnya. Melalui
pengalaman dan proses belajar yang telah diperoleh sebelumnya, setiap individu akan
memiliki ingatan mengenai susunan huruf yang membentuk berbagai kata. Ingatan tersebut
yang menjadi dasar dalam melakukan proses membaca, sehingga meskipun susunan hurufnya
terbalik kita masih bisa membaca dengan melihatnya saja tanpa mengeja hurufnya satu per
satu. Pemrosesan persepsi ini diibaratkan seperti seseorang yang cenderung melihat hutan
secara keseluruhan, bukan pohon-pohonnya.
Kesimpulan

Proses kognitif seperti atensi, persepsi, kesadaran dan pengenalan terhadap pola memiliki
suatu hubungan yang berkaitan dengan kemampuan otak dalam memproses memori dan
stimulus sensorik.

DAFTAR PUSTAKA

FoxNews. 2009. If You Can Raed This, You Msut Be Raelly Smrat.
http://www.foxnews.com/story/2009/03/31/if-can-raed-tihs-msut-be-raelly-smrat/ diakses
pada 10 Maret 2014

Solso, Robert L, dkk. 2008. Psikologi Kognitif. Jakarta : Erlangga