Anda di halaman 1dari 18

ANTIBIOTIK GOLONGAN BETHA LAKTAM

(CARBAPENEM)

Dosen : Zamharira Muslim, S.Farm, Apt

Di susun oleh

Kelas : 1A
Kelompok :3

Edo Andrian P0 5120217


Hendro Satia Pratama P0 5120217
Meidyah Pitaloka P0 5120217
Riadha Pratiwi P0 5120217 025
Veni Maisah P0 5120217

POLTEKKES KEMENKES BENGKULU


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2017/2018
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmatNya sehingga makalah
yang berjudul “ANTIBIOTIK GOLONGAN BETHA LAKTAM (CARBAPENEM)
“ ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan
sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Bengkulu, 19 Februari 2018

Penyusun

ii | F a r m a k o l o g i
Daftar Isi

Kata Pengatar .................................................................................................. ii


Daftar Isi .............................................................................................................................. iii

BAB I : PENDAHULUAN....................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 4
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 4
1.3 Tujuan............................................................................................................... 4

BAB II : PEMBAHASAN........................................................................................................ 5
2.1 Definisi Carbapenem ........................................................................................ 5
2.2 Mekanisme Kerja.............................................................................................. 5
2.3 Farmakokinetik................................................................................................. 6
2.4 Efek Samping .................................................................................................... 7
2.5 Indikasi dan Kontra Indikasi ............................................................................. 8
2.6 Interaksi.......................................................................................................... 10
2.7 Dosis dan Aturan Pakai................................................................................... 14
2.8 Penyimpanan.................................................................................................. 15
2.9 Contoh Obat dan Nama Pasaran .................................................................... 16
BAB III : PENUTUP............................................................................................................. 17
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 17
3.2 Saran............................................................................................................... 17
Daftar Pustaka................................................................................................................... 18

iii | F a r m a k o l o g i
iv | F a r m a k o l o g i
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Antibiotik beta laktam merupakan golongan antibiotika yang pertama
kali ditemukan. Meskipun sampai sekarang banyak golongan antibiotika
dengan berbagai variasi sifat dan efaktivitasnya terhadap bakteri, namun
demikian antibiotika ini masih sering dipergunakan sebagai obat pertama
dalam mengatasi suatu infeksi. Golongan antibiotika ini secara umum
tidak tahan terhadap pemanasan, mudah rusak suasana asam dan basa serta
dapat diinaktifkan oleh enzim beta laktamase.

Golongan antibiotika yang memiliki kesamaan komponen struktur


berupa adanya cincin beta-laktam dan umumnya digunakan untuk
mengatasi infeksi bakteri. Terdapat sekitar ± 56 macam antibotik beta-
laktam yang memiliki antivitas antimikrobial pada bagian cincing beta-
laktamnya dan apabila cincin tersebut dipotong oleh mikroorganisme maka
akan terjadi resistensi terhadap antibiotik tersebut.

Salah satu obat yang tergolong dalam beta laktam adalah carbapenem.
Dalam carbapenem di kelompokkan lagi menjadi beberapa obat, yaitu
meropenem, ertapenem, dan imipenem

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana mekanisme kerja, farmakokinetik, efek samping,
indikasi – kontra indikasi, interaksi, penyimpanan, dan contoh
obat yang tergolong dalam obat carbapenem ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui mekanisme kerja, farmakokinetik, efek samping,
indikasi – kontra indikasi, interaksi, penyimpanan, dan contoh
obat yang tergolong dalam obat carbapenem.

5|Farmakologi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Carbapenem
Carbapenem adalah salah satu contoh obat dari golongan antibiotik
betha laktam, carbapenem merupakan antibiotik yang biasa digunakan
sebagai terapi untuk infeksi – infeksi bakteri berat yang disebabkan oleh
bakteri gram negatif.
Dalam golongan obat carbapenem terdapat macam – macam obat, yaitu

Imipenem Meropenem

Ertapenem

2.2 Mekanisme Kerja


Mekanisme kerja untuk golongan antibiotik karbapenem termasuk ke
dalam menghambat sintesis peptidoglikan sehingga lisis osmotic; resisten
terhadap terhadap Beta (β) lactamase, memiliki aktivitas spectrum luas.

Dinding sel merupakan lapisan luar sel bakteri yang berfungsi


mempertahankan bentuk sel dan pelindung sel bakteri yang memiliki
tekanan osmotic internal yang lebih tinggi daripada lingkungannya.
Tekanan osmotic internal bakteri gram positif lebih besar 3 hingga 5 kali
daripada tekanan osmotick.

Internal bakteri gram negatif. Penghambatan sintesis dinding sel


menyebabkan sel lisis. Dinding sel bakteri mengandung peptidoglikan

6|Farmakologi
yang secara kimia berisi polisakarida dan campuran rantai polipeptida
yang tinggi. Polisakarida dari peptidoglikan berisi gula amino N-
acetylglucosamine dan asam acetylmuramic. Sifat keras pada dinding sel
disebabkan oleh hubungan saling silang rantai peptide (seperti melalui
ikatan pentaglycine) yang merupakan hasil reaksi transpeptidasi yang
dilakukan oleh beberapa enzim. Semua β-lactam menghambat sintesis
dinding sel bakteri dengan berikatan pada reseptor sel (beberapa
merupakan enzim transpeptidase).

Reseptor yang berbeda memiliki afinitas yang berbeda terhadap


antibiotic. Protein reseptor ini berada dibawah control kromosom,
sehingga mutasi dapat mengubah jumlah atau afinitas reseptor terhadap
antibiotic β-lactam. Setelah β-lactam melekat pada satu atau beberapa
reseptor, reaksi transpeptidasi dihambat dan sintesis peptidoglikan
dihentikan. Kemudian terjadi perpindahan atau inaktivasi inhibitor enzim
otolitik pada dinding sel. Aktivitas enzim litik akan enyebabkan lisis jika
lingkungan isotonic. Penghambatan enzim tranpeptidase oleh penisilin dan
sefalosporin menyebabkan hilangnya D-alanine dari rantai pentapeptida
dalam reaksi transpeptidasi.

2.3 Farmakokinetik
2.3.1 Adsorbsi
 Per oral
 Intra vena

Setelah obat diminum, obat ini akan mengalami disolusi di


lambung. Setelah itu zat aktif akan melewati dinding lambung /
usus dan masuk ke pembuluh darah, proses inilah yang dinamakan
absorpsi.

Faktor yang mempengaruhi absorpsi diantaranya pHobat. Obat


yang bersifat asam lemah akan diabsorpsi di lambung karena di pH
lambung adalah asam sehingga obat tersebut akan banyak
dalam bentuk molekul yang mudah untuk di absorpsi oleh dinding
lambung. Untuk obat basa lemah diabsorpsinya di usus.

7|Farmakologi
2.3.2 Distribusi
Setelah obat ngelewati dinding usus/lambung, ia akan masuk ke
aliran darah. Di aliran darah ia akan dibawa jalan-jalan ke organ2.

Untuk obat yang dikonsumsi secara per oral obat itu dibawanya
lewat vena hepatic ke hati

2.3.3 Metabolisme
Seperti yang dijelaskan di atas, untuk obat-obat ekstravaskular
yang digunakan per oral ia akan dibawa oleh vena hepatic ke hati.
Jadi sebelum dibawa ke saluran sistemik obat2 per oral akan masuk
ke hati dulu untuk dimetabolisme oleh enzim Cytochrome P450
atau disebut mengalami metabolisme lintas pertama, disebut jg first
pass effect atau presystemic metabolism. Setelah itu baru obat2
masuk ke saluran sistemik menuju jaringan - jaringan targetnya.

Metabolisme obat bisa:

1. Merubah obat yang semula aktif menjadi bentuk tidak


aktif

2. Merubah obat tidak aktif (prodrug) menjadi bentuk


aktifnya

3. Tidak merubah sifat obat (aktif tetep aktif)

Selain itu metabolisme juga mengubah senyawa menjadi lebih


polar. Supaya mudah larut dalam urin untuk dikeluarkan

2.3.4 Eksresi
Pengeluaran zat yg sudah di metabolisme, bisa berupa urin
maupun feces.

2.4 Efek samping


(1) Meropenem
Mual, muntah, diare, nyeri perut, gangguan uji fungsi hati,
trombositopenia, uji Coombs positif, eosinofilia, netropenia, sakit
kepala, parestesia, reaksi lokal.

8|Farmakologi
(2) Impenem
Mual, muntah, diare (pernah dilaporkan timbulnya kolitis),
gangguan pengecapan, gangguan darah, uji Coombs positif, reaksi
alergi (ruam, urtikaria, anafilaksis, nekrolisis epidermal toksik),
mioklonus, konvulsi, bingung, gangguan fungsi mental,
peningkatan enzim hati dan bilirubin, peningkatan ureum dan
kreatinin serum, warna kemerahan di urin, reaksi lokal berupa
nyeri, kemerahan, indurasi dan tromboflebitis.

(3) Ertapenem
a) Umum: sakit kepala, komplikasi area vena,
flebitis/tromboflebitis, diare, mual, muntah, ruam,
vaginitis.
b) Tidak umum: pusing, somnolen, insomnia, kejang, bingung,
ekstravasasi, hipotensi, sesak napas, kandidiasis mulut,
konstipasi, regurgitasi asam, C. difficile karena diare, mulut
kering, dispepsia, anoreksia, eritema, pruritus, nyeri
abdomen, gangguan pengecapan, astenia/letih, kandidiasis,
udem/bengkak, nyeri, nyeri dada, pruritus vagina, reaksi
alergi, malaise, infeksi jamur.
c) Frekuensi tidak diketahui: reaksi anafilaksis, perubahan
status mental (agitasi, agresi, mengigau, disorientasi),
penurunan tingkat kesadaran, diskinesia, gangguan cara
berjalan, halusinasi, mioklonus, tremor, gigi berwarna,
urtikaria, Drug Rash with Eosinophilia and Systemic
Symptoms (DRESS syndrome), lemah otot, uji laboratorium:
peningkatan ALT, AST alkalin fosfat dan angka platelet.

2.5 Indikasi dan Kontra Indikasi


(1) Meropenem
a) Indikasi
Bacterial Meningitis, infeksi kulit dan/atau Jaringan
Subkutan (Parah), Infeksi abdomen (Parah).

9|Farmakologi
b) Kontraindikasi
Reaksi anafilaksis dari penggunaan antibiotik beta
laktam, hipersensitif terhadap meropenem atau pada
komponen lain produk atau obat lain pada kelas yang sama
(seperti karbapenem).

(2) Impenem
a) Indikasi
Infeksi gram positif dan gram negatif, aerobik dan
anaerobik, profilaksis bedah. Tidak dianjurkan untuk infeksi
SSP

b) Kontraindikasi
Hipersensitivitas terhadap imipenem atau silastatin,
menyusui

(3) Ertapenem
a) Indikasi
Terapi infeksi sedang hingga berat pada pasien dewasa
yang disebabkan oleh strain mikroorganisme yang peka dan
diduga atau terbukti resisten terhadap antibiotik lain, atau
pasien yang tidak dapat mentolerir antibiotik lain pada
infeksi intra abdominal yang kompleks, infeksi kulit dan
struktur kulit yang kompleks, Community Acquired
Pneumonia (CAP), infeksi saluran kemih yang kompleks
termasuk pielonefritis, infeksi pelvis akut termasuk
endomiometritis postpartum, infeksi pasca bedah ginekologi
dan abortus septik.

b) Kontraindikasi
Reaksi anafilaksis terhadap antibiotik beta-laktam,
pemberian secara intramuskular pada pasien dengan riwayat

10 |
Farmakologi
hipersensitivitas anestesi lokal tipe amida dan syok berat
atau penyumbatan jantung.

2.6 Interaksi
(1) Meropenem
Serupa dengan imipenem, tapi lebih tahan terhadap enzim di
ginjal yang dapat menginaktivasi meropenem sehingga dapat
diberikan tanpa silastatin. Meropenem memiliki potensi untuk
menimbulkan seizure yang lebih kecil dan dapat digunakan untuk
mengatasi infeksi sistem saraf pusat.

Walaupun obat ini sudah digunakan dengan dosis yang sesuai,


namun toksisitas obat dapat meningkat jika digunakan bersamaan
dengan obat lain. Berikut daftar obat-obatan lain harus hati-hati bila
digunakan bersamaan dengan antibiotik ini.

a) Valproic acid
Penggunaan meropenem bersamaan dengan valproic acid
dapat mengurangi konsentrasi valproic acid dalam darah
sehingga dapat memicu terjadinya kejang.

b) Probenecid
Penggunaan probenecid dan meropenem dapat
meningkatkan konsentrasi antibiotik ini dalam darah dan
secara otomatis risiko terjadinya efek samping akan bertambah
besar.

(2) Impenem
Memiliki aktifitas spektrum yang luas yang termasuk terhadap
Gram positif anaerob dan aerob dan bakteri Gram negatif.
Imipenem, sebagian mengalami inaktivasi secara enzimatik di
ginjal, oleh karena itu diberikan bersama dengan silastatin, suatu

11 |
Farmakologi
penghambat enzim spesifik, yang menghambat metabolismenya di
ginjal

Walaupun obat ini sudah dikonsumsi dengan dosis yang sesuai,


namun toksisitas obat dapat meningkat jika digunakan bersamaan
dengan obat lain. Berikut daftar obat-obatan lain yang memiliki
interaksi dengan imipenem :

a) Ganciclovir
Kejang menyeluruh (generalized) telah dilaporkan terjadi
pada pasien yang menggunakan ganciclovir dan imipenem
bersamaan. Obat ini tidak boleh digunakan bersamaan
terkecuali ketika benefit lebih tinggi dari resikonya.

b) Probenecid
Penggunaan bersamaan imipenem dan probenecid
menyebabkan peningkatan waktu paruhnya dan kadar
imipenem dalam plasma. Sehingga penggunaan kedua obat
bersamaan tidak direkomendasikan.

c) Asam Valproat
Penggunaan bersamaan asam valproat dan imipenem dapat
menyebabkan penurunan konsentrasi asam valproat.
Konsentrasi asam valproat dapat turun hingga dibawah rentang
terapeutik sehingga dapat meningkatkan resiko kejang.

Penggunaan bersamaan obat ini secara umum tidak


direkomendasikan, dan antibakteri lain selain carbapenem
harus dipertimbangkan untuk terapi pada pasien yang
kejangnya telah terkontrol oleh asam valproat.

(3) Ertapenem
Interaksi obat dapat mengubah kinerja obat Anda atau
meningkatkan risiko efek samping yang serius. Tidak semua
kemungkinan interaksi obat tercantum dalam dokumen ini. Simpan

12 |
Farmakologi
daftar semua produk yang Anda gunakan (termasuk obat-obatan
resep/nonresep dan produk herbal) dan konsultasikan pada dokter
atau apoteker. Jangan memulai, memberhentikan, atau mengganti
dosis obat apapun tanpa persetujuan dokter.

Walau beberapa obat tidak boleh dikonsumsi bersamaan sama


sekali, pada kasus lain beberapa obat juga bisa digunakan
bersamaan meskipun interaksi mungkin saja terjadi. Pada kasus
seperti ini, dokter mungkin akan mengganti dosisnya, atau
melakukan hal-hal pencegahan lain yang dibutuhkan. Beri tahu
dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat lain baik yang dijual
bebas maupun dari resep dokter.

Menggunakan obat ini dengan beberapa obat-obatan di bawah


ini biasanya tidak direkomendasikan, tapi pada beberapa kasus
mungkin dibutuhkan. Jika kedua obat ini diresepkan untuk Anda,
dokter biasanya akan mengubah dosisnya atau menentukan
seberapa sering Anda harus mengonsumsi obat-obatan tersebut.

a) Valproic Acid
Mengonsumsi obat ini dengan obat di bawah ini dapat
meningkatkan risiko efek sampingnya, namun pada beberapa
kasus, kombinasi dua obat ini mungkin merupakan
pengobatan terbaik. Jika kedua obat ini diresepkan untuk
Anda, dokter biasanya akan mengubah dosisnya atau
menentukan seberapa sering Anda harus mengonsumsi obat-
obatan tersebut.

b) Probenecid
c) Tacrolimus

13 |
Farmakologi
2.7 Dosis dan Aturan Pakai
(1) Meropenem
Dosis Meropenem
Kondisi Dosis awal

Dugaan infeksi pada neutropenia 1000 mg tiap 8 jam


febril
Mengobati septikemia 1000 mg tiap 8 jam
Mengobati pneumonial, ISK, infeksi 500 mg tiap 8 jam
ginekologik, endometritis, infeksi
kulit & struktur kulit.
Mengobati infeksi intraabdominal 20 mg/kg BB tiap 8 jam atau 1000 mg
tiap 8 jam
Mengobati pneumonia nosokomial 1000 mg tiap 8 jam
Mengobati meningitis 40 mg/kg berat badan tiap 8 jam atau

(2) Impenem
a) injeksi intramuskuler: Infeksi ringan dan sedang 500-750 mg
tiap 12 jam. Uretritis dan servisitis gonokokus, 500 mg dosis
tunggal.
b) Injeksi intravena: 1-2 gram per hari (dalam 3-4 kali
pemberian). Untuk kuman yang kurang sensitif, 50 mg/kg
bb/hari (maksimum 4 g/hari). ANAK di atas 3 bulan, 60
mg/kgbb (maksimum 2 g/hari) dibagi dalam 3-4 dosis.
c) Profilaksis bedah, 1 gram intravena, pada waktu induksi
anestesi, diulangi 3 jam kemudian. Pada operasi dengan
risiko infeksi tinggi (misal: kolorektal) dilanjutkan 500 mg, 8
dan 16 jam setelah induksi.

(3) Ertapenem
a) Dewasa, dosis lazim 1 g sekali sehari. Diberikan melalui
infus intravena atau injeksi intramuskular. Bila diberikan
intravena, ertapenem harus diinfus selama > 30 menit.
Penggunaan intramuskular dapat digunakan sebagai alternatif

14 |
Farmakologi
dari pemberian intravena pada kondisi dimana terapi
intramuskular merupakan cara yang sesuai.
b) Lama terapi ertapenem biasanya 3-14 hari tapi dapat
bervariasi tergantung dari jenis infeksi dan patogen
penyebabnya (lihat indikasi). Jika diindikasikan secara klinis,
perpindahan ke antibiotik oral dapat dilakukan jika terlihat
perbaikan klinis.
c) Pasien dengan gangguan ginjal ringan hingga
sedang (bersihan kreatinin > 30 mL/min/1,73 m2): tidak perlu
penyesuaian dosis. Gangguan ginjal berat (bersihan
kreatinin < 30 mL/min/1,73 m2) termasuk yang mendapatkan
hemodialisis, harus mendapatkan 500 mg sehari.
d) Pasien hemodialisis: dosis harian 500 mg ertapenem
diberikan dalam 6 jam sebelum hemodialisis, dosis tambahan
150 mg dianjurkan diberikan setelah hemodialisis, namun
jika ertapenem diberikan setidaknya 6 jam sebelum
hemodialisis, dosis tambahan tidak diperlukan. Gangguan
fungsi hati: tidak perlu penyesuaian dosis.

2.8 Penyimpanan
Penyimpanan untuk obat golongan carbapenem, yaitu paling baik
disimpan pada suhu ruangan, jauhkan dari cahaya langsung dan tempat
yang lembap. Jangan disimpan di kamar mandi. Jangan dibekukan. Merek
lain dari obat ini mungkin memiliki aturan penyimpanan yang berbeda.
Perhatikan instruksi penyimpanan pada kemasan produk atau tanyakan
pada apoteker Anda. Jauhkan semua obat-obatan dari jangkauan anak-anak
dan hewan peliharaan.

Jangan menyiram obat-obatan ke dalam toilet atau ke saluran


pembuangan kecuali bila diinstruksikan. Buang produk ini bila masa
berlakunya telah habis atau bila sudah tidak diperlukan lagi. Konsultasikan
kepada apoteker atau perusahaan pembuangan limbah lokal mengenai
bagaimana cara aman membuang produk Anda.

15 |
Farmakologi
2.9 Contoh Obat dan Nama Pasaran
(1) Meropenem
Caprenem Merosan
Caronem Merotik
Combipenem Meroxi
Dexipenem Merpen
Eradix Metpenem
Granem Opimer
Infinem Penemac
Lanmer Phanem
Merem Pinur
Merobat Propenem
Merocef Quamer
Merofen Rindonem
Meromed Ronem
Meronem Sefanem
Meronesco Simpenem
Meropenem Sohonem
Meropex Termipen
Meropros Tripenem

(2) Impenem

Elastyn Iv Pelastin
Imiclast Tienam
Imipenem- Timipen
Cilastatin
Imipex Xerxes I.V
Pelascap

(3) Ertapenem
 Invanz

16 |
Farmakologi
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Carbapenem adalah salah satu contoh obat dari golongan antibiotik
betha laktam, carbapenem merupakan antibiotik yang biasa digunakan
sebagai terapi untuk infeksi – infeksi bakteri berat yang disebabkan oleh
bakteri gram negatif.
Yang termasuk ke dalam golongan obat carbapenem adalah,
meropenem, imipenem, dan ertapenem. Setiap obat tersebut hampir
memiliki kesamaan dalam hal indikasi, kontra indikasi, efek samping, dan
interaksi obat. Hal yang sedikit membedakan berada di dosis masing –
masing obat tersebut
Mekanisme kerja obat carbapenem adalah termasuk ke dalam
menghambat sintesis peptidoglikan sehingga lisis osmotic; resisten
terhadap terhadap Beta (β) lactamase, memiliki aktivitas spectrum luas.
Sedangkan farmakokinetik carbapenem terdiri dari absorpsi, metabolisme,
distribusi, dan ekskresi

3.2 Saran
Sebagai perawat, di anjurkan untuk memahami pengetahuan umum
mengenai obat – obatan, terutama efek samping obat, indikasi –
kontraindikasi, dan dosis yang akan diberikan maupun cara
pemberiannya.
Kepada pembaca di harapkan untuk bisa memberikan kritik yang
dapat memperbaiki makalah ini.

17 |
Farmakologi
Daftar Pustaka

Katzung, Betram. 2014. Farmakologi dasar & Klinik edisi 12 vol.2. EGC: Jakarta
Syamsudin. 2011. Buku Ajar Farmakologi : Efek Samping Obat. Salemba
Medika: Jakarta
https://pionas.pom.go.id/monografi/imipenem
https://pionas.pom.go.id/monografi/ertapenem
https://pionas.pom.go.id/monografi/meropenem

18 |
Farmakologi