Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN INDIVIDU MODUL ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS

Kelompok 2

Dosen Pembimbing :

Tri Widodo, SKM., MPH

LAPORAN INDIVIDU MODUL ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS Kelompok 2 Dosen Pembimbing : Tri Widodo, SKM., MPH Disusun

Disusun oleh :

Pini Septiani ( FAA 113 040 )

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

2017

Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Program Posyandu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Pos PAUD mendapat perhatian yang cukup besar dari pemerintah. Permendagri nomor 19 tahun 2011 menyebutkan bahwa Pos PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Keberadaan Pos PAUD menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mencapai target Angka Partisipasi Kasar (APK) layanan pendidikan dan perawatan sebesar 75% di tahun 2015 sesuai dengan Rencana Aksi Nasional Pendidikan Untuk Semua (RAN PUS) (Depdiknas, 2005).

Newberry (2012) dalam risetnya mengenai PAUD di Indonesia menyebutkan bahwa dorongan pembentukan kegiatan PAUD berbasis masyarakat bersumber dari keinginan agar terjadi peningkatan status masyarakat menjadi status menengah; pandangan umum bahwa kegiatan tersebut akan bermanfaat bagi anak-anak; adanya pengumuman/sosialisasi dari pemerintah mengenai program PAUD; dan adanya minat pribadi dari warga setempat.

Proses pembentukan Pos PAUD yang berbasis masyarakat membuat lembaga ini tidak sama dengan layanan PAUD yang lain. Secara teknis, pembentukan Pos PAUD berbeda dengan PAUD formal (Taman Kanakkanak/TK dan Raudatul Athfal/RA) maupun PAUD nonformal (Kelompok Bermain/KB). Pembentukan Pos PAUD diawali dengan inisiatif dari masyarakat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan anak usia dini (AUD) yang sudah ada di lingkungannya. Salah satu layanan anak usia dini yang cukup strategis adalah pos pelayanan terpadu (Posyandu).

Posyandu memberikan layanan berupa pemantauan per bulan pada tumbuh kembang anak usia nol sampai enam tahun. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan tersebut, diberikan layanan stimulasi tumbuh kembang dengan frekuensi dan intensitas yang lebih tinggi daripada kegiatan rutin Posyandu.

Keberadaan kader sebagai relawan merupakan salah satu kelenturan dalam pembentukan Pos PAUD apabila dibandingkan dengan proses pendirian PAUD formal

(Taman Kanak-kanak/TK) dan informal (Kelompok Bermain/KB). Pendirian Pos PAUD dapat berawal dari inisiatif pemerintah desa, tokoh masyarakat, kader Posyandu atau PKK yang didukung oleh masyarakat dan memperoleh ijin dari pemerintah desa/kelurahan berupa Surat Keputusan (SK) Kepala Desa atau Lurah.

Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor terpenting karena menyangkut pemanfaatan fasilitas umum yang dimiliki masyarakat untuk menunjang kegiatan Pos PAUD seperti balai masyarakat (balai RT/RW/Kelurahan), teras tempat ibadah, rumah warga, serta pendanaan kegiatan. Bentuk dukungan yang lain adalah sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya PAUD melalui kegiatan kemasyarakatan yang rutin dilakukan seperti pertemuan dasawisma, PKK, pengajian, arisan ibu-ibu, arisan bapak-bapak, dan ceramah di tempat ibadah.

Tujuan sosialisasi adalah untuk meningkatkan partisipasi atau dukungan sosial. Sebagai warga, partisipasi sosial, kepercayaan, dan identifikasi sosial berkorelasi positif dengan kualitas jaringan sosial yang dimiliki individu. Semakin berkualitas jaringan sosial, semakin tinggi tingkat intensi untuk menolong dan jam kerja relawan juga akan semakin panjang.

B. Rumusan Masalah

  • 1. Berupa Struktur Organisasi

  • 2. Berupa Materi Tumbuh Kembang

  • 3. Berupa Presentasi Anggota

  • 4. Berupa Theme Table

  • 5. Berupa Buku Kelompok Usia Balita

  • C. Tujuan

1.Umum

Terselenggaranya pelayanan BKB yang holistik integratif.

2. Khusus

  • a. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelola dan pelaksana tentang Penyelenggaraan Bina Keluarga Balita (BKB) yang holistik dan integratif.

  • b. Memantapkan dan menguatkan kelompok kegiatan BKB.

  • D. Manfaat :

Dalam pelaksanaannya, secara operasional penyelenggaraan pelayanan dari lembaga pelayanan yang ada (BKB, Posyandu, PAUD) dapat diintegrasikan, artinya pendidikan yang diselenggarakan melalui pos PAUD akan mendukung keberadaan Posyandu yang memberikan layanan dasar kesehatan dan gizi yang selanjutnya akan memperkuat layanan BKB yang memberikan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam mengasuh dan membina anak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pelayanan Anak Usia Dini

Pelayanan pengembangan anak usia dini yang holistik dan integratif dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar/dasar anak yang meliputi kebutuhan kesehatan dan gizi, pendidikan dan stimulasi serta kasih sayang orang tua.

  • 1. Kebutuhan Dasar Anak Secara umum kebutuhan dasar anak meliputi kebutuhan fisik- biomedis (asuh), emosi/kasih sayang (asih), dan kebutuhan akan stimulasi mental (asah). Ketiga kebutuhan dasar tersebut saling berkaitan, yang berarti bahwa seorang anak membutuhkan asuh, asih dan asah secara simultan, sinergis sesuai dengan perkembangan usia mereka.

    • a. Kebutuhan fisik-biomedis meliputi : 1)

Pemenuhan kebutuhan gizi seimbang.

2) Perawatan kesehatan dasar seperti pemberian ASI eksklusif, Makanan Pendamping ASI, menu seimbang, imunisasi, penimbangan secara berkala.

  • b. Emosi atau kasih sayang merupakan ikatan dan interaksi yang erat antara orangtua dan anak sejak janin dalam kandungan dan terutama pada tahun-tahun pertama kehidupan anak untuk menjamin terwujudnya rasa aman.

  • c. Pemberian stimulasi kepada anak merupakan proses pembelajaran, pendidikan dan pembinaan secara bertahap sesuai perkembangan usia anak, agar anak mampu mendayagunakan potensi dan kecerdasannya secara optimal, sehingga anak siap memasuki tahap perkembangan selanjutnya.

  • 2. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Pelayanan

    • a. Pelayanan yang holistik dan integratif : setiap anak harus mendapatkan pelayanan kesehatan, gizi, perawatan kesehatan, pendidikan dan pengasuhan secara terpadu.

    • b. Pelayanan yang berkesinambungan : pelayanan secara berkelanjutan sejak janin sampai usia 6 tahun dengan sistem pelayanan terkoordinasi dan terintegrasi.

    • c. Pelayanan yang tidak diskriminatif : pelayanan hendaknya memberikan perlakuan yang adil kepada seluruh anak baik laki-laki maupun perempuan, tanpa membedakan status apapun.

d.

Partisipasi masyarakat, dimaksudkan agar masyarakat dilibatkan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi agar merasa memiliki.

3.Jenis Pelayanan Anak Usia Dini Jenis pelayanan anak usia dini holistik meliputi :

a. Pelayanan untuk anak Pelayanan yang diberikan secara terus menerus untuk anak dimulai dari janin sampai usia 6 tahun mencakup perawatan, pengasuhan, pendidikan dan perlindungan dengan tujuan agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

1).

Pelayanan

perawatan

dilaksanakan

melalui

Posyandu

meliputi

penimbangan

untuk

pemantauan pertumbuhan, inisiasi menyusu dini, pemberian ASI ekslusif, pemberian imunisasi, stimulasi tumbuh kembang, pemberian makanan bergizi seimbang.

2). Pelayanan pendidikan kepada anak bertujuan agar anak memperoleh kemampuan mengelola sikap dan perilaku sesuai norma dan aturan dilakukan melalui PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) meliputi pemberian rangsangan pendidikan sesuai tahap perkembangan dan potensi anak mencakup antara lain pengembangan sensori motor dan main peran serta bimbingan belajar sambil bermain untuk memupuk potensi kecerdasan anak dan kesiapan bersekolah secara bertahap.

b. Pelayanan untuk keluarga/orangtua Pelayanan yang diberikan untuk keluarga /orangtua mempunyai tujuan agar orangtua mempunyai keterampilan dalam mengasuh dan membina tumbuh kembang anak, pelayanannya dilakukan melalui kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) meliputi :

1). Penyuluhan kepada orangtua tentang pentingnya ASI, MP-ASI, gizi seimbang, prinsip pengasuhan yang benar kepada keluarga (ayah dan ibu), pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.

2). Konsultasi tentang prinsip pengasuhan serta pola asuh yang benar, stimulasi untuk bayi dan anak usia dini.

3). Kunjungan rumah untuk memantau perkembangan anak.

4). Membantu keluarga melakukan rujukan bila anak mengalami keterlambatan dalam tumbuh kembang.

4. Pelayanan Holistik Integratif Pelayanan Holistik Integratif merupakan pelayanan yang dilakukan secara utuh, menyeluruh dan terintegrasi antara kelompok Posyandu, BKB dan PAUD dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar anak.

A. Pelayanan BKB Penyelenggaraan pelayanan kepada orangtua/keluarga yang dilakukan di BKB menganut prinsip-prinsip sebagai berikut :

1). Menitik beratkan pada pembinaan kepada orangtua dan anggota keluarga lainnya yang mempunyai balita melalui penyuluhan, bimbingan dan konsultasi.

2). Penyuluhan, bimbingan dan konsultasi dilakukan oleh petugas lapangan KB (PLKB) dan kader BKB yang berkaitan dengan masalah-masalah pengasuhan tumbuh kembang anak.

3). Sasarannya adalah keluarga yang mempunyai anak usia 0-6 tahun.

4). Membina tumbuh kembang melalui stimulasi aspek-aspek perkembangan anak dengan menggunakan media interaksi yang ada (dongeng, musik/nyanyi dan alat permainan).

5). Menggunakan Kartu Kembang Anak (KKA) sebagai alat pantau anak.

perkembangan

6).Melakukan kunjungan rumah

7). Melakukan rujukan apabila ditemukan permasalahan tumbuh kembang anak.

B. Pelayanan Posyandu

1)Memantau pertumbuhan, perkembangan, kesehatan dan gizi anak balita

2) Memberikan stimulasi tumbuh kembang dan pelayanan kesehatan anak balita

3) Memberikan layanan imunisasi dan vitamin

4) Melakukan pencegahan dan pengobatan penyakit

5) Memberikan intervensi atau stimulasi dini bagi anak yang mengalami gangguan tumbuh kembang menggunakan kartu Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK)

6) Pelayanan dan penyuluhan kesehatan dan Gizi

7)Pemantauan pertumbuhan balita menggunakan KMS/Buku KIA.

8)Memberikan nutrisi tambahan dan contoh makanan bergizi bagi anak balita

9) Pemeriksaan kehamilan secara rutin (tinggi dan lingkaran lengan atas, berat badan, tekanan darah, pil tambah darah dan imunisasi TT)

10) Ibu hamil : penjelasan persiapan melahirkan, perawatan sehari-hari, anjuran makanan ibu hamil, tanda bahaya pada kehamilan

11) Ibu bersalin : informasi tanda bayi akan lahir, proses persalinan, masalah persalinan.

pada

12) Ibu nifas : informasi dan penjelasan cara menyusui, perawatan bayi, perawatan ibu, tanda bahaya dan penyakit pada saat nifas, juga KIE KB dan Konseling Inter Personal (KIP)/konseling KB.

  • C. Pelayanan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)

1)Berorientasi pada kebutuhan, minat & kemampuan anak.

2)Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain.

3)Merangsang munculnya kreativitas dan inovasi.

4)Menyediakan lingkungan yg mendukung proses belajar.

5) Mengembangkan kecakapan hidup anak.

6)Menggunakan berbagai sumber dan media belajar yang ada di lingkungan sekitar.

7) Dilaksanakan secara bertahap dengan mengacu pada prinsip perkembangan anak.

8)Rangsangan pendidikan mencakup seluruh aspek perkembangan.

  • a. Model Pelayanan BKB Holistik Integratif Pelayanan anak usia dini Holistik Integratif pada hakekatnya ditujukan agar kebutuhan dasar anak dapat dipenuhi secara utuh dan menyeluruh, sehingga anak dapat tumbuh kembang secara optimal. Pada prinsipnya anak mendapatkan pelayanan di lembaga penyelenggara pelayanan yang ada di masyarakat seperti: Posyandu, BKB dan PAUD Setiap lembaga penyelenggara pelayanan bertanggung

jawab penuh atas terpenuhinya kebutuhan dasar anak sesuai jenis layanannya, bila layanan parsial maka untuk memenuhi kebutuhan yang lain harus dilakukan koordinasi dan integrasi dengan jenis layanan lain sesuai dengan kebutuhan anak, sehingga layanan dasar untuk anak terpenuhi semua. Hubungan kerjasama antara lembaga penyelenggara pelayanan harus terencana dan terkoordinasi agar pelayanan terlaksana dengan utuh dan berkelanjutan.

Adapun pelayanan holistik integratif yang dilakukan meliputi : pelayanan kesehatan dan gizi serta intervensi deteksi dini dilakukan di pelayanan posyandu, pelayanan aspek asah pendidikan anak di PAUD, sedangkan pelayanan asih dan asuh bagi orangtuanya dilakukan di BKB .

Pilihan bentuk penyelenggaraan pelayanan tergantung pada kesiapan setiap lembaga yang bersangkutan dalam hal sarana/prasarana, SDM, dana, manajemen penyelenggaraan dan pelayanan serta kemampuan berjejaring (aspek kelembagaan, sumber daya, program dan jaringan).

Tipe pelayanan lengkap dan terintegrasi Penyelenggaraan pelayanan dengan jenis layanan lengkap dan utuh (kesehatan, gizi, pengasuhan, pendidikan dan perlindungan) yang dilaksanakan terintegrasi oleh masing-masing penyelenggara di lokasi berbeda. Ada beberapa model pelayanan antara lain : a. Pelayanan pada hari dan tempat yang sama b. Pelayanan pada hari yang sama tempat berbeda c. Pelayanan pada hari yang berbeda dan tempat yang sama.

1.1 Balita

Anak balita adalah anak yang sudah menginjak usia di atas satu tahun atau lebih. Anak balita sering disebut anak di bawah usia lima tahun. Terdapat pulka istilah umum untuk anak balita yaitu anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak pra sekolah (3-5 tahun).

Masa balita merupakan periode penting dalam siklus kehidupan manusia. Hal tersebut dikarenakan, keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan pada masa balita sebagai penentu di periode selanjutnya. Oleh karena itu, masa periode anak balita sering disebut golden age periode dimana tahapan tumbuh kembang terjadi sangat cepat dan tidak dapat terulang kembali.

1.2. Tumbuh Kembang

Proses pertumbuhan dan perkembangan setiap anak akan berbeda-beda dan keduanya saling berkorelasi. Namun, setiap tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan masa yang sangat penting. Sehingga, diperlukan ketelitian dari orang tua untuk mendorong anaknya supaya mencapai puncak perkembangan yang optimal (gain moment). Setiap anak memang membutuhkan pengalaman dan melakukan penemuan sendiri untuk mengoptimalkan setiap momen pembelajarannya. Namun, pada periode emas anak perlu ditemani oleh orang tua agar mampu menciptakan gain moment bersama anak Pertumbuhan (growth) terjadi karena adanya pengaruh lingkungan sehingga berpengaruh pada perubahan kuantitatif material seperti misalnya sel, kromososm, rambut dan lainya.

Menurut Soetjiningsih (1995) perkembangan (development) merupakan pertambahan yang terjadi secara kompleks dalam struktur dan fungsi tubuh dengan pola teratur dan dapat diprediksi sebagai hasil proses pematangan.

Proses awal tumbuh kembang anak lebih peka terhadap lingkungan utamanya antara lain asupan gizi yang adekuat, kurang stimulasi dan tidak mendapat pelayanan kesehatan yang memadai. Pada masa balita terjadi kemajuan perkembangan yang sangat pesat terhadap motorik kasar, motorik halus dan fungsi sekresi, sehingga stimulasi sangat diperlukan pada tahap awal masa balita (Rahayu, 2014).

Setiap tahap tumbuh kembang anak terkadang tidak sesuai dengan harapan orang tua/keluarga. Menurut Sacker (2011) dalam (Kusuma, 2012) tumbuh kembang seorang anak dikatakan terhambat jika tumbuh kembangnya tidak tercapai sesuai dengan tahapan umur semestinya, dengan ketertinggalan dalam populasi yang normal.

Salah satu penyebab tumbuh kembang anak terhambat yaitu orang tua/keluarga lebih terfokus pada perkembangan motorik kasar saja, dimana motorik kasar tidak sensitif terhadap kemampuan mental secara keseluruhan. Oleh sebab itu, sekecil apapun penyimpangan tumbuh kembang harus cepat dideteksi dan ditangani secara cepat dan tepat agar kualitas sumber daya balita meningkat dan menjadi anak yang sehat.

1.3 Bina Keluarga Balita (BKB)

Bina Keluarga Balita (BKB) merupakan suatu wadah kegiatan untuk keluarga yang miliki anak usia 0-6 tahun. Dalam kegiatan BKB ini, bisa dijadikan sebagai tempat untuk bertukar pikiran antara anggota kelompok BKB dengan kader atau petugas PLKB (BKKBN, 2013).

Menurut Ambar Ayu program Bina Keluarga Balita lebih mengutamakan upaya pemberdayaan keluarga dalam mengasuh dan membina pertumbuhan dan perkembangan anak dengan lebih menekankan kepada interaksi dengan orang tua sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak akan tercapai secara optimal (Ariesta, 2011).

  • 1.3.1 Tujuan BKB

Pelayanan BKB ditujukan kepada keluarga yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran dalam mengasuh dan membina pertumbuhan dan perkembangan anak. Menurut Soetjiningsih (1995) pelaksanaan BKB ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan ibu dan anggota keluarga lainnya dalam mengusahakan pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, dengan stimulus mental menggunakan Alat Permainan Edukatif (APE) dan memanfaatkan pelayanan yang tersedia (Vidyaningrum, 2013).

  • 1.3.2 Manfaat BKB

Terselenggaranya kegiatan BKB di masyarakat merupakan keuntungan bagi keluarga yang memiliki anak usia 0-6 tahun karena dapat dijadikan sebagai tempat untuk bertukar pikiran antara anggota kelompok BKB dan kader atau petugas PLKB.

Manfaat lain dari kegiatan BKB ini yaitu meningkatkan pengetahuan keluarga tentang tumbuh kembang dan membantu keluarga dalam melatih keterampilan memantau tumbuh kembang anaknya sejak dini, sehingga dapat dilakukan secara mandiri pada saat mengasuh anak (BKKBN, 2013).

  • 1.3.3 Waktu dan tempat kegiatan BKB

Waktu

penyelenggaraan

kegiatan BKB dilaksanakan sebulan

satu

kali.

Hari dan

waktunya

dipilih

sesuai

dengan

kesepakatan

antara

keluarga

dan

kader

serta

fokus

kegiatannya yaitu pembinaan kepada keluarga tentang pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak. Lokasi kegiatan BKB sebaiknya mudah dijangkau oleh masyarakat (BKKBN, 2013)

1.3.4 Pelaksanaan Program BKB

Penanggung jawab umum gerakan BKB adalah Kepala Desa. Perencanaan dan pengembangan BKB dilakukan oleh kader, petugas Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), serta Tim Pembina dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PP & KB) tingkat Kabupaten. Kemudian, penyelenggaraannya dilakukan oleh petugas PLKB dan kader terlatih yang berasal dari anggota masyarakat yang bersedia secara sukarela memberikan penyuluhan kepada anggota kelompok BKB (BKKBN, 2013)

Menurut BKKBN (2013) terdapat beberapa prinsip pelayanan BKB antara lain:

sasaran dari kegiatan BKB ini adalah keluarga yang memiliki anak usia 0-6 tahun yang menitikberatkan pembinaan kepada orang tua dan anggota keluarga lainnya yang memiliki balita melalui penyuluhan, bimbingan dan konsultasi. Di lokasi kegiatan BKB, orang tua/keluarga akan dikelompokkan sesuai dengan umur anak asuhnya. Kegiatan penyuluhan, bimbingan dan konsultasi dilakukan oleh petugas PLKB dan kader BKB yang berkaitan dengan masalah pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak. Pembinaan pertumbuhan dan perkembangan tersebut melalui stimulasi aspek-aspek perkembangan anak dengan menggunakan media interaksi yang ada seperti dongeng, musik/nyanyi dan alat permainan. Setiap anggota BKB diberikan Kartu Kembang Anak (KKA) yang akan diisi setiap kegiatan sebagai alat pantau perkembangan anak. Petugas PLKB dan kader juga melaksanakan kunjungan rumah dan melalukan rujukan apabila ditemukan permasalahan yang terjadi pada pertumbuhan dan perkembangan anak.

BAB III METODE EVALUASI

3.1 PEMBUATAN JADWAL KEGIATAN PER BULAN

Perencanaan atau planning adalah proses pengambilan keputusan yang menyangkut apa yangakan dilakukan di masa mendatang, kapan,bagaimana dan siapa yang akan melakukannya.Perencanaan adalah kemampuan untuk memilih satu kemungkinan dari berbagai kemungkinanyang tersedia dan yang dipandang paling tepat untuk mencapai tujuan (Billy E. GoetZ).

Perencanaan merupakan inti kegiatan manajemen, karena semua kegiatan manajemen diaturdan diarahkan oleh perencanaan tersebut. Dengan perencanaan itu memungkinkan para pengambilkeputusan atau manajer untuk menggunakan sumber daya mereka secara berhasil guna dan berdayaguna. Perencanaan merupakan suatu fungsi penganalisaan tujuan yang telah di tetapkan terlebihdahulu menjadi urutan tindakan yang sistematis. Perencanaan merupakan suatu organisasi adalah suatuproses yang berkesinambungan, tidak akan pernah berhenti, karena organisasi akan terus menghasilkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh unit-unit pelaksanaan dari batasan inidapat ditarik kesimpulan-kesimpulan antara lain:

  • a. Perencanaan harus didasarkan kepada analisis dan pemahamansistem dengan baik.

  • b. Perencanaan pada hakekatnya menyusun konsep dan kegiatan yang akandilaksanakan untuk mencapai tujuan dan misi organisasi.

  • c. Perencanaan secara implisit mengembang misi organisasi untuk mencapai hari depan yang lebih baik. Secara sederhana dan awam dapat dikatakan bahwa perencanaan adalah suatu proses yangmenghasilkan suatu uraian yang terinci dan lengkap tentang suatu program atau kegiatan

yang akan dilaksanakan. Oleh sebab itu, hasil proses perencanaan adalah "rencana"(plan). Perencanaan kesehatan adalah sebuah proses untuk merumuskan masalah-masalah kesehatanyang berkembang di masyarakat, menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan program yang paling pokok dan menyusun langkah-langkah praktis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan akan menjadi efektif jika perumusan masalah sudah dilakukan berdasarkan fakta-fakta dan bukan berdasarkan emosi atau angan-angan saja. Fakta-fakta diungkap dengan menggunakandata untuk menunjang perumusan masalah. Perencanaan juga

merupakan proses pemilihan alternativetindakan yang terbaik untuk mencapai tujuan. Perencanaan juga merupakan suatu keputusan untuk mengerjakan sesuatu di masa akan datang, yaitu suatu tindakan yang diproyeksikandi masa yang akan datang. Salah satu tugas manajer yang terpenting di bidang perencanaan adalah menetapkan tujuan jangka panjang dan pendek organisasi berdasarkan analisis situasi di luar (eksternal) dan di dalam(internal) organisasi. Fungsi perencanaan adalah fungsi terpenting dalam manajemen. Fungsi ini akan menentukanfungsifungsi manajemen selanjutnya. Perencanaan merupakan landasan dasar dari fungsi manajemen. Tanpa perencanaan tidak mungkin fungsi manajemen lainnya dapat dilaksanakan dengan baik. Perencanaan manajerial terdiri dari perumusan strategi dan penerapan strategi. Dalam perumusan strategi, manajer kesehatan harus memiliki kemampuan ketrampilan konseptual, dan pada penerapan strategi, manajer kesehatan harus memiliki ketrampilan teknis.

Manfaat Perencanaan

Manfaat perencanaan bagi organisasi kesehatan adalah manajer dan staf organisasi

kesehatantersebut dapat mengetahui :

a.Tujuan yang ingin di capai organisasi dan cara mencapainya b.Jenis dan struktur organisasi yang dibutuhkan. c.Sejauh mana efektivitas kepemimpinan dan pengarahan yang diperlukan d.Bentuk dan standar pengawasan yang akan dilakukan. e.Aktivitas organisasi dalam mencapai tujuan dapat dilaksanakan secara teratur. f.Menghilangkan aktivitas yang tidak produktif. g.Mengukur hasil kegiatan. h.Sebagai dasar pelaksanaan fungsi manajemen lainnya.

Proses Perencanaan

Perencanaan dalam suatu organisasi adalah suatu proses, dimulai dari identifikasi masalah,penentuan prioritas masalah, perencanaan pemecahan masalah, implementasi (pelaksanaanpemecahan masalah) dan evaluasi. Dari hasil evaluasi tersebut akan muncul masalah-masalah baru kemudian dari masalah-masalah tersebut dipilih prioritas masalah dan selanjutnya kembali ke siklussemula. Di bidang kesehatan khususnya, proses perencanaan ini pada umumnya menggunakanpendekatan pemecahan masalah (problem solving).

BAB IV PROFIL BINA KELUARGA BALITA

Profil BKB Holistik Kelurahan Marang 4.1.1 Struktur Organisasi

Susunan Pengurus Pusat Pelayanan Terpadu Holistik Integratif (BKB, POSYANDU dan

PAUD) Permata Bunda Periode 2015-2017.

No

Nama

Kedudukan dalam kepengurusan

 

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Palangka Raya

Penasehat

 

Lurah Marang

Pembina

 

PKB/PLKB Kelurahan Marang

Pembina

 

Yuliana T.I.

Ketua

 

Metri Groria

Sekretaris

 

Trienda Yanti

Bendahara

 

Rustenta Wati

Koordinator BKB

 

Rina Wati

Kader

 

Norma Sari

Kader

 

Siti Wahidah

Kader

 

Ruslina

Kader

 

Relawati

Koordinator PAUD

 

Sosilawati

Guru PAUD

 

Eva Mariati

Guru PAUD

 

Srimuryati

Guru PAUD

 

Maryanti

Guru PAUD

 

Norhayati H.

Koordinator Posyandu

 

Nor Rahmawati

Kader

 

Norsiah

Kader

 

Norhayati

Kader

 

Nyai Indah

Kader

4.1.2 Sumber Daya BKB

Sumber daya pusat pelayanan terpadu holistik integratif (BKB, POSYANDU dan PAUD) Permata Bunda terdiri atas 1 orang penasehat, 2 orang pembina, 1 orang ketua, 1

orang sekretaris, 1 orang bendahara, 1 orang koordinator BKB dan 4 orang kader.

BAB V HASIL PENILAIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Identifikasi Masalah Identifikasi masalah ini kami dapatkan berdasarkan kuesioner yang telah diberikan kepada kelompok kami oleh pengelola modul IKK. Kuesioner ini berdasarkan jawaban dari Pemimpin Kelurahan Marang. Identifikasi masalah yang kami temukan adalah :

  • a. Struktur Organisasi Dalam pengertian sederhana organisasi sering diartikan sebagai kelompok orang yang bekerjasama dan ingin mencapai tujuan bersama. Organisasi didirikan karena beberapa tujuan tertentu yang hanya dapat dicapai melalui tindakan yang harus dilakukan bersama-sama, apakah tujuan itu berupa laba, pemberian pendidikan, sosial dan lain-lain. Penyusunan struktur organisasi merupakan langkah awal dalam memulai pelaksanaan kegiatan organisasi, dengan kata lain penyusunan struktur organisasi adalah langkah terencana dalam suatu kelompok orang yang memiliki tujuan yang sama untuk melaksanakan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Struktur organisasi menjelaskan bagaimana tugas kerja akan dibagi, dikelompokkan dan dikoordinasikan secara formal. Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan diantara fungsi, bagian atau posisi maupun orang-orang yang menunjukkan tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi. Pada BKB Holistik Integratif “Permata Bunda” sudah ada terdapat kepengurusan yang tertulis pada Surat Keputusan yang di keluarkan oleh Lurah di Kelurahan Marang untuk masa periode 2015-2017. BKB Holistik “Permata Bunda” memiliki 3 cakupan

organisasi yang bernaung di bawahnya antara lain : 1) Kelompok Bina Keluarga Balita

(BKB) “Permata Bunda”, 2) Kelompok Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) “Ananda”,

3) Kelompok Posyandu Batukei. Tetapi susunan kepengurusan yang sudah tertulis dalam surat keputusan (SK) Lurah kelurahan Marang tersebut masih belum ada terdapat dalam

bentuk bagan yang dapat ditampilkan pada ruangan BKB Holistik Integraftif “Permata Bunda” tersebut, agar setiap pengunjung yang berkunjun ketempat tersebut dapat

langsung melihat struktur organisasinya.

  • b. Materi Tumbuh Kembang

Dalam Bina Keluarga Balita (BKB) terdapat beberapa materi yang disampaikan kepada kader-kader yang terdapat di tempat tersebut setiap kali pertemuan yang diadakan. Materi pokok BKB seharusnya disampaikan dalam 8 kali pertemuan. Pada

BKB Holistik Integratif “Permata Bunda” untuk materi Tumbuh Kembang anak dan

balita hanya diberikan saat penyulahan, tetapi pemberian materi tersebut hanya apabila dari pengelola BKB ingat untuk memberikan materi tersebut. Hal ini di karenakan juga tidak adanya program yang terencana sebelumnya dari pengurus BKB Holistik Integratif

“Permata Bunda”.

  • c. Presentasi Anggota Aktif Setiap kader yang datang ke Posyandu Batukei akan di data oleh petugas Posyandu

Batukei. Hal ini dilaksanakan biasanya pada saat Posyandu berlangsung di setiap tanggal 21 pada tiap bulannya yang sudah di tetapkan oleh pengurus Posyandu Batukei. Data-

data anggota aktif tersebut masih dalam bentuk tulisan pada buku jurnal yang dimiliki oleh pengurus Posyandu Batukei. Di Posyandu Batukei masih belum ada tersaji data anggota aktif tersebut dalam bentuk presentasi pada diagram yang dapat ditampilkan di ruangan Posyandu tersebut.

  • d. Jadwal Kegiatan (Time Table)

Pada BKB Holistik Integratif “Permata Bunda” masih belum terdapat Time Table atau jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pengurus BKB Holistik Intergratif

“Permata Bunda”. Seperti yang sudah dijelaskan sedikit diatas tadi bahwa kegiatan

terlaksana apabila pada saat itu teringat bahwa ada program yang belum dilaksanakan oleh pengurus, sehingaa terkadang kegiatan yang dilaksanakan bersifat dadakan.

  • e. Buku Kelompok usia balita Pada Posyandu Batukei sudah ada terdapat data untuk balita dan anak yang datang ke Posyandu Batukei setiap bulannya. Tetapi data tersebut dijadikan satu buku saja tidak dibagi berdasarkan usia anak dan balita yang datang ke Posyandu tersebut.

  • f. Kunjungan Rumah Pada program BKB ada diadakan kunjungan ke rumah-rumah untuk memberikan penyuluhan tentang bayi dan anak baik itu pola pengasuhannya, gizi yang harus dicukupi sesuai usianya, dan perkembangan anak dan balita sesuai usianya. Di BKB Holistik Integratif “Permata Bunda” masih belum ada dilaksankannya kunjungan ke rumah- rumah karena biasanya pengurus BKB mengumpulkan anggotanya di satu tempat apabila akan melaksanakan penyuluhan.

5. 2 Penetapan Prioritas Masalah

Berdasarkan indentifikasi masalah yang kami dapatkan pada kelompok 2 (dua) maka kami menetapkan prioritas masalah yang harus kami selesaikan terlebih dahulu adalah :

  • 1. Pembuatan Struktur Organisasi

  • 2. Pembuatan modul materi Tumbuh Kembang

  • 3. Presentasi anggota aktif dalam bentuk diagram

  • 4. Time Table (Jadwal Kegiatan yang akan dilaksanakan)

  • 5. Buku Kelompok Usia Balita

5.3 Penyebab Masalah

  • a. Struktur Organisasi

Strutur oraganisasi di BKB Holistik Integratif “Permata Bunda” yang masih terdapat

dalam bentuk Surat Keputusan (SK) dan belum ada terdapat dalam bentuk bagan yang dapat di tampilkan di ruangan BKB Holistik Integratif tersebut dikarenakan pengurus di BKB

tersebut masih belum terlalu lancer untuk menggunakan komputer ataupun laptop untuk mengolah struktur organisasi yang mereka miliki dalam bentuk bagan.

  • b. Materi Tumbuh Kembang

Materi tumbuh kembang yang belum dimiliki oleh BKB Holistik Integratif “Permata Bunda” dikarenakan kegiatan yang dilaksanakan misalnya seperti penyuluhan belum ada di

rencanakan sebelumnya oleh pengurus BKB, sehingga materi yang akan di sampaikan sesuai bahan yang sudah dimiliki oleh BKB tersebut. Jadi untuk bahan penyuluhan yang tidak terdapat di BKB tidak dapat dilaksanakan.

  • c. Presentasi Anggota aktif

Data untuk anggota aktif di BKB Holistik Integratif sudah ada tetapi masih belum ada dalam bentuk diagram. Hal ini juga dikarenakan keterbatasan dari pengurus BKB dalam mengolah data di komputer ataupun laptop.

  • d. Jadwal Kegiatan (Time Table)

Tidak adanya jadwal kegiatan atau time table yang terencana sebelumnya hal ini dikarenakan dari pengurus dan anggota tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, padahal

apabila ada kegiatan yang sudah direncanakan terlebih dahulu maka setiap kegiatan yang seharusnya dilaksanakan oleh BKB Holistik Integratif akan tercapai seluruhnya.

e. Buku Kelompok Usia Balita

Buku untuk kelompok usia balita belum ada karena keterbatasan biaya di Posyandu Batukei. Jadi pengurus membuat buku untuk anak dan balita dijadikan satu tidak dipisahkan berdasarkan usianya.

f. Kunjungan Rumah

Kunjungan rumah belum terlaksana dikarenakan masih kurangnya pengetahuan pengurus tentang materi yang akan disampaikan dan kurangnya pembekalan ataupun pelatihan yang didapatkan dan dikarenakan juga apabila ada pelatihan yang di adakan oleh pemerintah daerah pengurus atau anggota yang mengikuti itu-itu saja orangnya.

5.4 Penyelesaian Masalah

Penyelesaian masalah yang kami lakukan dari kelompok kami adalah:

  • 1. Pembuatan Struktur Organisasi

apabila ada kegiatan yang sudah direncanakan terlebih dahulu maka setiap kegiatan yang seharusnya dilaksanakan oleh BKB
  • 2. Materi Tumbuh kembang

apabila ada kegiatan yang sudah direncanakan terlebih dahulu maka setiap kegiatan yang seharusnya dilaksanakan oleh BKB

3.

Presentasi anggota aktif

3. Presentasi anggota aktif
3. Presentasi anggota aktif
3. Presentasi anggota aktif
4. Jadwal Kegiatan ( Time Table ) 5. Buku Kelompok Usia Balita
  • 4. Jadwal Kegiatan (Time Table)

4. Jadwal Kegiatan ( Time Table ) 5. Buku Kelompok Usia Balita
  • 5. Buku Kelompok Usia Balita

6.1 Kesimpulan

BAB VI

PENUTUP

Berdasarkan laporan kegiatn ini, kami mengambil kesimpulan :

  • 1. BKB Holistik Integratif, merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran,

keterampilan, serta sikap bud an anggota keluarga lain dalam membina tumbuh kembang balita sedini da sebaik mungkin.

  • 2. BKB Holistik Integratif merupakan gabungan dari keterpaduan Posyandu-Pendidikan

Anak Usia Dini (PAUD) dan BKB itu sendiri. Dengan kegiatan :

-Penyuluhan Kepada Orang Tua (KB dan KIA) -Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak -Pemantauan Pertumbuhan Anak.

  • 3. Kelompok BKB sudah terbentuk di Kelurahan Marang, Kecamatan Bukit Batu dengan

nama Kelompok BKB Holistik Intergratif ‘Permata Bunda’ yang diketuai oleh Ibu Yuliana.

  • 4. Berdasarkan masalah yang ditemukan oleh kelompok 2 pada saat Praktek Belajar

Lapangan (PBL) Kuliah Kerja Nyata Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (KKN-PPM) terdapat masalah terkait administrasi yang belum dirapikan, karena pembukuan dan pendataan baru dilakukan pada tahun 2015 dan masih dengan sistem manual. Kemudian tidak ada kejelasan agenda kegiatan.

  • 5. Penyelesaian yang dilakukn kelompok 2 adalah pembuatan time table agenda kegiatan

berdasarkan tanggal di papan tulis agar bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama dan dapat ditulis dan di hapus, kemudian melakukan pengelompokan balita berdasarkan usia pada buku kelompok usia balita, alu membuat modul acuan tumbuh kembang agar dapat digunakan sebagai rujukan dalam pemeriksaan tumbuh kembang anak, dan merapikan presentase data yang dimiliki BKB dan membuatnya dalam bentuk form excel.

6.2 Saran

Kuliah Kerja Nyata Pemberdayaan Mahasiswa (KKN-PM) di kegiatan selanjutnya dapat lebih menekankan mengenai penataan administrasi dan alat peraga tentang materi BKB

yang diperuntukkan untuk ibu dan anak. Perlu diberikan pemberian bahan ajar kepada kader terkait yang ada di posyandu sehingga penyampaian materi dapat sepenuhnya dimengerti oleh peserta BKB serta mampu membawa nama harum BKB Holistik Integratif “Permata Bunda”.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Aisyah, S. (2007). Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka

  • 2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu. Jakarta: Depkes RI.

  • 3. Deputi Menteri PPN/Kepala BAPPENAS Bidang SDM dan Kebudayaan. (2012). Pedoman Umum Pengembangan AUD Holistik Integratif (Disampaikan dalam Tematis Education Diadakan ECD). Jakarta: Bappenas.