Anda di halaman 1dari 37

CEMENTING

A. Pengertian Cementing

Penyemenan pada sumur minyak dan gas maksudnya adalah


pendorongan bubur semen (cement slury) ke dalam lubang sumur, kemudian
dibiarkan di sana sampai bubur semen tersebut mengeras.

Bubur semen (cement slurry) merupakan adonan antara semen, air,


additives melalui proses tertentu yang diproses sedemikian rupa sehingga
sifat-sifat bubur semen yang diinginkan dapat terpenuhi dan bubur semen
harus dapat dipompakan pada sumur yang disemen.

Cement Additives adalah suatu zat-zat kimia sebagai pencampur semen,


sehingga dengan dilakukannya pencampuran zat-zat kimia tertentu dapat
diperoleh hasil penyemenan sesuai yang diinginkan.

Pada umumnya operasi penyemenan bertujuan untuk melekatkan casing pada


dinding lubang sumur, melindungi casing dari masalah-masalah mekanis
sewaktu operasi pemboran (seperti getaran), melindungi casing dari fluida
formasi yang bersifat korosi dan untuk memisahkan zona yang satu terhadap
zona yang lain di belakang casing.

B. Tujuan Penyemenan
Menurut alasan dan tujuannya, penyemenan dapat dibagi dua, yaitu Primary
Cementing (Penyemenan Utama) dan Secondary atau Remedial Cementing
(Penyemenan Kedua atau Penyemenan perbaikan).
1. Primary Cementing
Primary Cementing adalah penyemenan pertama kali yang dilakukan
setelah casing diturunkan ke dalam sumur. Sedangkan secondary
cementing adalah penyemenan ulang untuk menyempurnakan primary
cementing atau memperbaiki penyemenan yang rusak.
2. Secondary Cementing atau Remedial Cementing
Setelah operasi khusus semen dilakukan, seperti Cement Bond Logging
(CBL) dan Variable Density Logging (VDL), kemudian didapati kurang
sempurnanya atau ada kerusakan pada primary cementing, maka
dilakukanlah secondary cementing. Secondary cementing dilakukan juga
apabila pengeboran gagal mendapatkan minyak dan menutup kembali
zona produksi yang diperforasi.
Secondary cementing dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Squeeze
cementing, Re-cementing dan Plug-back cementing.
a. Squeeze Cementing
Squeeze Cementing
Squeeze Cementing bertujuan untuk :
Mengurangi water-oil ratio, water gas ratio atau gas-oil ratio.
Menutup formasi yang sudah tidak lagi produktif.
Menutup zona lost circulation.
Memperbaiki kebocoran yang terjadi di casing
Memperbaiki primary cementing yang kurang memuaskan.
Operasi squeeze dilakukan selama operasi pemboran berlangsung,
komplesi maupun pada saat workover.
b. Re-Cementing
Dilakukan untuk menyempurnakan primary cementing yang gagal dan
untuk memperluas perlindungan casing di atas top semen.
c. Plug-Back Cementing
Plug-back cementing dilakukan untuk:
 Menutup atau meninggalkan sumur (abandonment well)
 Melakukan directional drilling sebagai landasan whipstock, yang
dikarenakan adanya perbedaan compressive stregth antara semen
dan formasi maka akan mengakibatkan bit berubah arahnya.
 Menutup zona air di bawah zona minyak agar water-oil ratio
berkurang pada open hole completion.

C. Komposisi Dan Pembuatan Semen


1. Jenis Semen dan Komposisi
Semen yang biasa digunakan dalam industri perminyakan adalah Semen
Portland, dikembangkan oleh JOSEPH ASPDIN12 Tahun 1824. Disebut
Portland karena mula-mula bahannya didapat dari pulau Portland Inggris.
Semen Portland ini termasuk semen hidrolis dalam arti akan mengeras bila
bertemu atau bercampur dengan air.
Semen Portland mempunyai 4 komponen (Gambar 12.1) mineral utama,
yaitu:
a. TRICALCIUM SILICATE
Tricalcium silicate (3CaO.SiO2) dinotasikan sebagai C3S, yang dihasilkan
dari kombinasi CaO dan SiO2. Komponen ini merupakan yang terbanyak
dalam semen Portland, sekitar 40-45% untuk semen yang lambat proses
pengerasannya dan sekitar 60-65% untuk semen yang cepat proses
pengerasannya (high-early strength cement). Komponen C3S pada semen
memberikan strength yang terbesar pada awal pengerasan.

Gambar 12.1. Empat Komponen Semen Portland


b. DICALCIUM SILICATE
Dicalcium silicate (2CaO.SiO2) dinotasikan sebagai C2S, yang juga
dihasilkan dari kombinasi CaO dan SiO2. Komponen ini sangat
penting dalam memberikan final strength semen. Karena C2S ini
menghidrasinya lambat maka tidak berpengaruh dalam setting time
semen, akan tetapi sangat menentukan dalam kekuatan semen lanjut.
Kadar C2S dalam semen tidak lebih dari 20%.
c. TRICALCIUM ALUMINATE
Tricalcium aluminate (3CaO.Al2O3) dinotasikan sebagai C3A, yang
terbentuk dari reaksi antara CaO dengan Al2O3.Walaupun kadarnya
lebih kecil dari komponen silikat (sekitar 15% untuk high-early
strength cement dan sekitar 3% untuk semen yang tahan terhadap
sulfat), namun berpengaruh pada rheologi suspensi semen dan
membantu proses pengerasan awal pada semen.
d. TETRACALCIUM ALUMINOFERRITE
Tetracalcium aluminoferrite (12CaO.Al2O3.Fe2O3) dinotasikan
sebagai C4AF, yang terbentuk dari reaksi CaO, Al2O3, dan Fe2O3.
Komponen ini hanya sedikit pengaruhnya pada strength semen. API
menjelaskan bahwa kadar C4AF ditambah dengan dua kali kadar C3A
tidak boleh lebih dari 24% untuk semen yang tahan terhadap
kandungan sulfat yang tinggi. Penambahan oksida besi yang
berlebihan akan menaikan kadar C4AF dan menurunkan kadar C3A,
dan berfungsi menurunkan panas hasil reaksi/hidrasi C3S dan C2S.
Semen Portland terbuat dari bahan-bahan mentah tertentu, pemilihan
bahan-bahan mentah tersebut sangat berpengaruh terhadap komposisi
bubuk semen yang diinginkan. Ada dua macam bahan mentah yang
dibutuhkan dalam menghasilkan semen Portland, yaitu :
a) Material CALCAREOUS
Material ini berisi kalsium karbonat dan kalsium oksida yang
terdiri dari limestone dan batuan semen.
 Limestone adalah batuan terbentuk dari sebagian besar zat- zat
organik sisa (seperti kerang laut atau koral) yang terakumulasi.
Limestone ini merupakan komponen dasar dari kalsium
karbonat.
 Batu semen adalah batuan yang komposisinya serupa dengan
semen batuan
 Kapur adalah Limestone kekuning-kuningan atau abu-abu dan
halus yang sebagian besar berasal dari kerang-kerang laut.
 Marl atau tanah kapur adalah tanah yang rapuh dan
mengandung bahan-bahan pokok kalsium karbonat.
 Alkali di sini berasal dari pembuangan zat-zat kimia pabrik
yang mengandung kalsium oksida atau kalsium karbonat.
b) Material ARGILLACEOUS
Material ini berisi clay atau mineral clay
 Clay adalah bahan yang bersifat plastis bila basah dan keras
bila dipanaskan. Terdiri dari sebagian besar aluminium silikat
dan mineral lainnya.
 Shale adalah batuan fosil yang terbentuk dari gabungan clay,
lumpur dan silt (endapan lumpur).
 Slate adalah batu tulis adalah batuan yang padat dan berbutir
baik, yang dihasilkan dari pemampatan clay, shale dan batuan
lainnya.
 Ash adalah abu merupakan produk pembakaran batu bara.
2. Pembuatan Semen
Pembuatan Semen Portland melalui beberapa tahap berikut :
a. Proses Peleburan
Proses Peleburan
Dalam bagian ini ada dua cara yang umum digunakan, yaitu :
 Dry Process
Pada awal proses ini, mineral clay dan limestone sama-sama
dihancurkan, lalu dikeringkan di rotary dries. Hasilnya dibawa ke
tempat penggilingan untuk dileburkan. Kemudian hasil leburan ini
masuk ke tempat penyaringan, dan partikel-partikel yang kasar dibuang
dengan sistem sentrifugal. Hasil saringan ini ditempatkan di beberapa
silo (tempat berbentuk tabung yang tertutup) dan setelah didapat
komposisi kimia yang diinginkan, kemudian akan melalui proses
pembakaran di Kiln. Susunan peralatannya dapat dilihat pada (gambar
12.2).

Gambar 12.2. Dry Process


 Wet Process
Material-material mentah dicampur dengan air, lalu dimasukkan ke
tempat penggilingan (Grinding Mill). Campuran ini kemudian dipompa
melalui 'vibrating screen'. Material-material yang kasar dikembalikan
ke penggilingan, sementara campuran yang lolos yang berupa suspensi
ini ditampung pada suatu tempat berbentuk kolom-kolom. Di tempat
ini, suspensi mengalami proses rotasi dan pemampatan sehingga
didapat campuran yang homogen. Di tempat ini pula, komposisi kimia
suspensi diubah-ubah untuk didapatkan komposisi yang diinginkan
sebelum dibawa ke Kiln. Susunan peralatannya dapat dilihat pada
(gambar 12.3).

Gambar 12.3. Wet Process


b. Proses Pembakaran
Setelah melalui salah satu proses peleburan di atas, campuran tersebut
dimasukkan ke tempat pembakaran (Kiln). Di Kiln, campuran ini
berputar-putar kemudian berubah menjadi clinker (Gambar 12.4). Ada
6 tahap temperatur yang harus dilalui campuran di Kiln, yaitu :

Gambar 12.4. Proses Pembakaran


Tahap 1 (sampai 200oC) Pada tahap ini mengalami proses penguapan air
bebas.
Tahap 2 (200 – 800oC) Pada tahap ini mengalami proses pra-pemanasan,
dimana partikel-partikel clay mengalami dehidroksidasi (pembebasan
unsur-unsur hidroksida).
Tahap 3 (800 – 1100oC) dan Tahap 4 (1100 – 1300oC) Pada tahap ini
mengalami proses pembebasan unsur karbon (dekarbonisasi).
Dehidroksidasi mineral-mineral clay disempurnakan dan didapat hasil
yang berbentuk kristal. Kalsium karbonat membebaskan sejumlah besar
karbondioksida. Produk bermacam-macam kalsium aluminat dan ferit
mulai terjadi.
Tahap 5 (1300 - 1500 – 1300oC).Pada tahap ini, sebagian campuran reaksi
mencair. Dan suhu 1500oC (Clinkering temperature), C2S dan C3S
terbentuk. Sementara itu lime, alumina dan oksida besi tetap dalam fasa
cair.
Tahap 6 (1300 – 1000oC)Pada tahap ini, C3A dan C4AF berubah dari fasa
liquid menjadi padat dan berbentuk kristal.
c. Proses Pendinginan
Proses pendinginan sebenarnya telah dimulai dari sebagian tahap 5,
ketika temperatur mulai menurun dari 'clinkering temperature'.
Kualitas clinker dan selesainya pembuatan semen sangat tergantung
dari laju pendinginan perlahan-lahan sekitar 4 – 5oC (7 – 8oF) sampai
suhu 1250oC, kemudian pendinginan cepat sekitar 18 – 20oC (32 –
36F) per menit.
Saat laju pendinginan lambat 4 – 5oC, C3A dan C4AF dengan cepat
meng-kristal, kristal C3S dan C2S menjadi lebih teratur dan MgO bebas
juga meng-kristal (Mineral ini disebut Periclase). Pada kondisi ini,
aktivitas hidrolik kecil. Compressive Strength awal tinggi, namun
strength lanjutnya rendah.
Saat laju pendinginan cepat, fasa liquid (yang terjadi pada tahap 5)
memadat seperti gelas. C3A dan C2S menurun. MgO bebas tetap dalam
fasa gelas, sehingga menjadi kurang aktif dan dapat menyebabkan
semen menjadi kurang kokoh. Pada kondisi ini, compressive strength
awal rendah, namun strength lanjutnya tinggi.
d. Proses Penggilingan
Pada tabung penggiling ada bola – bola baja, yang dapat
mengakibatkan sekitar 97 - 99% energi yang masuk diubah menjadi
panas. Oleh karena itu diperlukan pendinginan karena bila terlalu panas
akan banyak gipsum yang menghidrasi menjadi kalsium sulfat
hemihidrat (CSH1/2) atau larutan anhidrit (CS).
Akhirnya dari proses penggilingan (Gambar 12.5) didapat bubuk semen
yang diinginkan, yang dihasilkan dari penggilingan clinker dengan
gipsum (CSH2).

Gambar 12.5. Proses Penggilingan

3. Klasifikasi Semen
API telah melakukan pengklasifikasian semen ke dalam beberapa kelas
guna mempermudah pemilihan dan penggolongan semen yang akan
digunakan. Pengklasifikasian ini didasari atas kondisi sumur dan sifat-sifat
semen yang disesuaikan dengan kondisi sumur tersebut. Kondisi sumur
tersebut meliputi kedalaman sumur, temperatur, tekanan dan kandungan
yang terdapat pada fluida formasi ( seperti sulfat dan sebagainya). Tabel
12.1, Tabel 12.2 dan Tabel 12.3.
Tabel 12.1. Klasifikasi Semen
Tabel 12.2. Klasifikasi Semen
Tabel 12.3. Klasifikasi Semen

Klasifikasi semen yang dibuat API terdiri dari :


Kelas A.
Semen kelas A ini digunakan dari kedalaman 0 (permukaan) sampai 6.000 ft.
Semen ini terdapat dalam tipe biasa (ordinary type) saja, dan mirip dengan
semen ASTM C-150 tipe I.
Kelas B.
Semen kelas B digunakan dari kedalaman 0 sampai 6.000 ft,dan tersedia dalam
jenis yang tahan terhadap kandungan sulfat menengah dan tinggi (moderate dan
high sulfate resistant).
Kelas C.
Semen kelas C digunakan dari kedalaman 0 sampai 6.000 ft, dan mempunyai
sifat high-early strength (proses pengerasannya cepat). Semen ini tersedia
dalam jenis moderate dan high sulfate resistant.
Kelas D.
Semen kelas D digunakan untuk kedalaman dari 6.000 ft sampai 12.000 ft, dan
untuk kondisi sumur yang mempunyai tekanan dan temperatur tinggi. Semen ini
tersedia juga dalam jenis moderate dan high sulfate resistant.
Kelas E.
Semen kelas E digunakan untuk kedalaman dari 6.000 ft sampai 14.000 ft, dan
untuk kondisi sumur yang mempunyai tekanan dan temperatur tinggi. Semen ini
tersedia juga dalam jenis moderate dan high sulfate resistant.
Kelas F.
Semen kelas F digunakan dari kedalaman 10.000 ft sampai 16.000 ft, dan untuk
kondisi sumur yang mempunyai tekanan dan temperatur sangat tinggi. Semen
ini tersedia dalam jenis high sulfate resistant.
Kelas G.
Semen kelas G digunakan dari kedalaman 0 sampai 4.000 ft, dan merupakan
semen dasar. Bila ditambahkan retarder semen ini dapat dipakai untuksumur
yang dalam dan range temperatur yang cukup besar. Semen ini tersedia dalam
jenis moderate dan high sulfat resistant.
Kelas H.
Semen kelas H digunakan dari kedalaman 0 sampai kedalaman 4.000 ft, dan
merupakan pula semen dasar. Dengan penambahan accelerator dan retarder,
semen ini dapat digunakan pada range kedalaman dan temperatur yang besar.
Semen ini hanya tersedia dalam jenis moderate sulfate resistant.

D. Sifat - Sifat Semen


1. Densitas
Densitas suspensi semen didefinisikan sebagai perbandingan antara
jumlah berat bubuk semen, air pencampur dan aditif terhadap jumlah
volume bubuk semen, air pencampur dan aditif.
2. Thickening Time Dan Viskositas
3. Filtration Loss
4. Water Cement Ratio (WCR)
5. Waiting On Cement (WOC)
6. Permeabilitas
7. Compressive Strength Dan Shear Strength
8. Pengendapan Partikel dan Air Bebas (Particle Settling & Free Water)
9. Sulfat Resistance

E. Aditif Yang Digunakan Dalam Suspensi Semen


Sistem semen Portland ada yang di desain sampai temperatur 371oC (700oF),
misalnya untuk sumur-sumur geothermal. Juga ada yang didesain untuk
tekanan 30.000 psi, misalnya untuk sumur-sumur yang dalam. Kondisi sumur
ini memang mempengaruhi dalam pemilihan jenis semen namun sangat
jarang memilih bubuk semen hanya tergantung dari kondisi sumur saja
(seperti temperatur, tekanan dan kedalaman ). Ada faktor-faktor lainnya yang
turut mempengaruhi dalam pembuatan suspensi semen, seperti waktu dan
harga. Selain itu pembuatan suspensi semen harus memperhatikan juga sifat
dari suspensi semen tersebut. Oleh karena itu perlu ditambah ke dalam 'net
semen' (suspensi semen yang hanya terdiri dari bubuk semen dan air) suatu
zat-zat kimia agar dicapai hasil penyemenan yang diinginkan. Zat-zat kimia
tersebut dikenal sebagai aditif.
Hingga saat ini lebih dari 100 aditif telah dikenal. Namun umumnya aditif-
aditif itu dapat dikelompokkan dalam 8 kategori, yaitu :
1. Accelerator
Accelerator adalah aditif yang dapat mempercepat proses pengerasan
suspensi semen. Selain itu dapat juga mempercepat naiknya strength
semen dan mengimbangi aditif lain (seperti dispersant dan fluida loss
control agent), agar tidak tertunda proses pengerasan suspensi semennya.
Sumur-sumur yang dangkal seringkali menggunakan accelerator, karena
selain temperatur dan tekanan yang umumnya rendah, juga karena jarak
untuk mencapai target tidak terlalu panjang. Contoh-contoh aditif yang
berlaku sebagai accelerator adalah kalsium klorida , sodium klorida,
gipsum, sodium silikat dan air laut.
2. Retarder
Retarder adalah aditif yang dapat memperlambat proses pengerasan
suspensi semen, sehingga suspensi semen mempunyai waktu yang cukup
untuk mencapai kedalaman target yang diinginkan. Retarder sering
digunakan dalam menyemen casing pada sumur-sumur yang dalam,
sumur-sumur yang bertemperatur tinggi atau untuk kolom penyemenan
yang panjang. Aditif yang berlaku sebagai retarder antara lain
lignosulfonat, senyawa-senyawa asam organik dan CMHEC.
3. Extender
Extender adalah aditif yang berfungsi untuk menaikkan volume suspensi
semen, yang berhubungan dengan mengurangi densitas suspensi semen
tersebut. Pada umumnya penambahan extender ke dalam suspensi semen
diikuti dengan penambahan air. Adapun yang termasuk extender antara
lain bentonite, attapulgite, sodium silikat, pozzolan, perlite dan gilsonite.
4. Weighting Agents
Weighting agents adalah aditif-aditif yang berfungsi menaikkan densitas
suspensi semen. Umumnya weighting agents digunakan pada sumur-
sumur yang mempunyai tekanan formasi yang tinggi. Aditif-aditif yang
termasuk ke dalam weighting agents adalah hematite, ilmenite, barite dan
pasir.
5. Dispersant
Dispersant adalah aditif yang dapat mengurangi viskositas suspensi semen.
Pengurangan vikositas atau friksi terjadi karena dispersant mempunyai
kelakuan sebagai thinner (pengencer). Hal ini menyebabkan suspensi
semen menjadi encer, sehingga dapat mengalir dengan aliran turbulen
walaupun dipompa dengan rate yang rendah. Aditif-aditif yang tergolong
dispersant adalah senyawa-senyawa sulfonat. Polymelamine Sulfonate.
Polymelamine sulfonate (PMS) dengan kandungan 0,4% BWOC sering
dicampur dengan suspensi semen sebagai dispersant. Sampai temperatur
85oC (185oF), PMS tetap efektif karena unsur-unsur kimianya masih
stabil. Polynaphtalena Sulfonate. Polynaphtalena sulfonate (PNS)
merupakan dispersant yang umum digunakan. Dan bila pada suspensi
semen berisi NaCl, maka ditambahkan PNS sebanyak 4% BWOC.
6. Fluid-Loss Control Agents
Fluid-loss control agent adalah aditif-aditif yang berfungsi mencegah
hilangnya fasa liquid semen ke dalam formasi, sehingga terjaga
kandungan cairan pada suspensi semen. Pada primary cementing, fluid-
loss yang diijinkan sekitar 150 - 250 cc yang diukur selama 30 menit
dengan menggunakan saringan berukuran 325 mesh dan pada tekanan
1.000 psi. Sedang pada squeeze cementing, fluid- loss yang diijinkan
sekitar 55-65 cc selama 30 menit dengan menggunakan saringan ukuran
325 mesh dan pada tekanan 1.000 psi. Aditif-aditif yang termasuk ke
dalam fluid-loss control agents diantaranya polymer, CMHEC dan latex.
7. Lost Circulation Control Agents
Lost circulation control agents merupakan aditif-aditif yang mengontrol
hilangnya suspensi semen ke dalam formasi yang lemah atau bergoa.
Biasanya material lost circulation yang dipakai pada lumpur pemboran
digunakan pula dalam suspensi semen. Aditif-aditif yang termasuk dalam
lost circulation control agents diantaranya gilsonite, cellophane flakes,
gipsum, bentonite dan nut shell.
8. Special Additives
Ada bermacam-macam aditif lainnya yang dikelompokkan sebagai special
additives, diantaranya silika, mud kill, radioactive tracers, fibers, antifoam
agents dan lainnya.

F. Teknik Penyemenan
1) Teknik Penyemenan Awal
1. Klasifikasi Casing
Setelah suatu operasi pemboran minyak/gas mencapai kedalaman
tertentu, maka segera dipasang casing guna memberi dinding yang
kuat pada lubang bor, mengisolasi suatu zona dengan zona lain,
menghindari terkontaminasinya air tanah oleh lumpur pemboran,
mencegah keguguran dinding, membuat diameter lubang pemboran
konstan serta menutup zona lost dan abnormal pressure. Berdasarkan
fungsinya, maka casing dibagi menjadi empat jenis, yaitu :
Conductor Casing
Conductor casing adalah casing yang pertama kali dipasang pada
operasi pemboran. Ukuran casing berkisar antara 16" sampai 30"
dengan letak kedalaman maksimum sekitar 150 ft.
Fungsi conductor casing antara lain:
a. Untuk melindungi lubang dari gugurnya formasi yang lunak di
dekat permukaan karena akan tererosi oleh lumpur, jika tanah
disekitar cukup kuat dan keras maka tidak perlu dipasang.
b. Untuk melindungi drill pipe dari air laut yang korosive dan sebagai
tempat sirkulasi lumpur bor pada pemboran di lepas pantai.
Surface Casing
Surface casing adalah casing yang dipasang setelah conductor casing
dan disemen hingga ke permukaan.
Fungsi dari surface casing adalah :
a. Mencegah kontaminasi air tanah oleh lumpur pemboran.
b. Sebagai tempat pegangan (fondasi) bagi BOP.
c. Menahan berat casing string yang berikutnya.
Intermediate Casing
Suatu sumur bisa mempunyai lebih dari satu intermediate casing
tergantung dari kondisi geologis dan kedalamnnya. Pemasangan
intermediate casing bertujuan untuk menutupi zona-zona yang
mengganggu selama berlangsungnya operasi pemboran, seperti
sloughing shale, lost circulation, abnormal pressure, kontaminasi dan
sebagainya.
Production Casing
Production casing adalah casing terakhir yang dipasang pada formasi
produktif. Kadang-kadang production casing tidak dipasang sampai
ke permukaan karena alasan biaya agar lebih murah. Hal ini
menggunakan liner production casing.
Fungsi dari production casing adalah :
a.Memisahkan zona gas, zona minyak dan zona air, pada formasi
produktif.
b.Memelihara agar lubang tetap bersih.
c.Melindungi alat-alat produksi di bawah permukaan misalnya
pompa, packer dan lain-lain.
2. Prosedur Penempatan Semen
Prinsip operasi penyemenan ini adalah menempatkan adonan semen
(cement slurry) ke dalam annulus antara selubung dan lubang sumur,
dengan cara mensirkulasikan adonan semen tersebut melalui selubung
kemudian melalui casing shoe dengan menggunakan dua buah plug
(top dan bottom plug). Oleh karena itu primary cementing ini disebut
juga casing cementing.(gambar 12.51)
Agar diperoleh hasil yang maksimal dalam primary cementing maka
beberapa prosedur dibawah ini sebaiknya dilakukan yaitu :
1. Mengkondisikan lubang sumur, antara lain dengan reaming yaitu
pemboran kecil pada lubang yang telah ada untuk memperlebar
sedikit lubang atau meratakan dinding lubang pemboran.
2. Mengkondisikan lumpur dengan cara mengalirkan lumpur pada
saringan agar terlepas semua cuttingnya. Selain itu viskositas dan gel
strength dijaga supaya rendah, juga water lossnya harus rendah.
3. Memasang guide shoe dan float collar. loat collar sebaiknya
dipasang 30 ft diatas guide shoe untuk mencegah pendorongan yang
berlebihan (over displacement) pada cement slurry dan agar diperoleh
cement slurry yang baik disekitar casing shoe.
4. Memasang scratcher terutama untuk zona-zona permeabel guna
menghilangkan mud cake.
5. Memasang centralizer agar casing terletak di tengah- tengah
lubang. Lokasi pemasangan ditentukan dengan log dan spacingnya
diatur sekitar 60 - 90 ft.
6. Memakai adonan semen dengan densitas sedikit lebih besar dari
densitas lumpur mula-mula. Hal ini untuk mencegah blow out, lost
circulation dan over displacement. Semen yang dipilih harus sesuai
dengan tekanan dan temperatur formasi.
7. Memakai caliper log untuk mengukur diameter lubang pemboran
agar volume cement slurry bisa dihitung dengan tepat, lalu
ditambahkan sekitar 15-25% volume untuk keamanan (safety). Bila
dalam penentuan diameter lubang tidak dipakai caliper log, maka
untuk safety biasanya lebih besar yaitu sekitar 50-100%.
8. Menggunakan top plug dan bottom plug.
9. Memutar dan menggerak-gerakkan casing selama pendesakan
adonan berlangsung, lanjutkan sampai top plug menyentuh float collar
yaitu selesai pendesakan bubur semen.
10. Setelah penempatan semen selesai, periksa permukaan fluida di
annulus. Annulus harus selalu penuh dengan fluida.
11. Casing dijaga dalam keadaan tension pada saat penyemenan.
Setting time dapat diatur sesuai dengan kondisi yang ada.
12. Melakukan pressure test pada penyemenan tersebut sebelum
pemboran dilanjutkan kembali.
Ada beberapa macam teknik penempatan adonan semen ke dalam
annulus di belakang casing pada primary cementing, antara lain :
Cementing Through Casing
Cementing through casing disebut juga penyemenan normal, yang
biasa dilakukan pada conductor, surface, intermediate dan production
casing. Penyemenan ini dilakukan dengan metode satu tingkat (single
stage method) yang dilakukan dengan memompakan adonan semen
melalui casing shoe dan memakai top dan bottom. Ketika top plug
mencapai bottom plug terlihat kenaikan tekanan pompa yang tiba-tiba
di permukaan. Kenaikan tekanan yang tiba-tiba ini bisa dipakai
sebagai indikator bahwa pendesakan adonan semen telah selesai.
Stage Cementing
Stage cementing atau penyemenan bertingkat adalah penyemenan
yang dilakukan dalam dua atau tiga bagian. Teknik ini terutama
dilakukan pada production casing dari sumur-sumur yang dalam atau
dilakukan bila formasinya lemah sehingga dikhawatirkan tidak
mampu menahan tekanan kolom semen, sehingga terjadinya lost
circulation dapat dihindari.
Pada stage cementing ini dipakai peralatan tambahan yang disebut
"float collar", yaitu alat yang bisa membuka pada saat semen slurry
pertama ditempatkan di dalam sumur dan menutup pada saat semen
slurry kedua akan ditempatkan di atas slurry pertama.
Inner String Cementing
Bila diameter casing yang akan disemen berukuran besar, maka
penyemenan dapat dilakukan dengan memakai tubing atau drill pipe.
Prosedur ini dapat memperkecil waktu penyemenan dan volume
adonan semen yang dibutuhkan.
Cara penyemenannya adalah dengan menggantung selubung beberapa
feet dari dasar sumur kemudian adonan semen dimasukkan melalui
tubing yang ujungnya sampai ke level casing shoe dengan fluida
pendorong air. Annulus antara tubing dan selubung dipasang packer.
Ada dua metode dalam pemasangan packer ini yaitu bottom packer
method bila packer dipasang pada annulus tubing- casing pada bagian
bawah dan top packer method bila packer dipasang pada annulus
tubing casing bagian atas dan diisi air.
Outside or Annulus Cementing
Outside atau Annulus Cementing adalah metode penyemenan dengan
menggunakan pipa ukuran kecil (tubing) melalui ruang annulus antara
casing dan lubang sumur. Cara ini biasa dilakukan pada conductor
casing atau surface casing. Kadang-kadang annulus cementing ini
dipakai juga untuk pekerjaan perbaikan casing yang rusak. Casing
akan mengalami kerusakan bila gas tekanan tinggi bersama-sama
pasir dari lingkungan di sekitarnya bersentuhan langsung dengan
selubung sehingga selubung harus diperbaiki dengan penyem,enan
melalui annulus.
Metode ini bisa juga dipakai untuk mencegah lost circulation
(kehilangan semen) lebih lanjut ke dalam formasi yang lemah.
Metode ini dilakukan bila penyemenan pada zona lemah telah selesai
dan ditunggu sampai mengeras setelah itu baru melakukan operasi
penyemenan melalui annulus di atasnya.
Cementing Multiple String
Cementing Multiple String adalah penyemenan banyak string pada
formasi produktif dimana masing-masing string dilubangi
(perforation) untuk mengalirkan fluida produktif ke permukaan. Hal
ini dilakukan karena metode single atau konvensional komplesi secara
ekonomis tidak bisa dilakukan. Proses penyemenan masing-masing
string biasanya dilakukan satu demi satu dimana string yang pertama
kali dipasang adalah yang paling panjang. Beberapa hal yang harus
diperhatikan sebelum melakukan multiple string cementing adalah :
Mengkondisikan lubang sumur dan mengkondisikan lumpur
pemboran.
Merancang semen slurry seperti pada pekerjaan primary cementing.
String atau pipa yang akan disemen harus dapat dipakai untuk
komplesi dimasa yang akan datang. Selama penyemenan string harus
digerak-gerakkan naik turun (reciprocating).
Semen slurry harus mampu melewati ruang terkecil diantara string-
string yang ada dalam lubang sumur. Tiap-tiap string dipasang plug-
landing collar pada 15 sampai 25 ft di bawah interval zona produksi.
3. Liner
Untuk mengurangi biaya pada oprasi pemboran dalam, maka dipakai
liner untuk mengganti rangkaian selubung penuh. Liner ini sendiri
sama seperti selubung akan tetapi pendek dan digantung pada
selubung atau liner diatasnya. Sebagaimana selubung, liner ini juga
harus disemen. Kesulitan pada penyemenan ini terutama karena
kecilnya annulus disekitar liner, sehingga perpindahan lumpur
pemboran menjadi kurang baik. Untuk memperbaikinya digunakan
beberapa metode menggerakkan liner, seperti menggerakkan naik
turun (reciprocating) dan memutar (rotation) liner pada waktu
menyemen.(gambar 12.58)
Prosedur penurunan dan penyemenan liner secara umum adalah
sebagai berikut :
1. Sebelum diturunkan ke dalam sumur, batang-batang liner terlebih
dahulu disambung di meja putar.
2. Liner hanger dipasang di atas liner.
3. Liner diturunkan ke dalam sumur dengan memakai pipa bor yang
diikat dengan liner.
4. Batang-batang pipa bor ditambah di permukaan dan liner yang
lengkap diturunkan ke dalam sumur. Kecepatan penurunan liner bila
berada di dalam selubung dapat dilakukan sekitar 1 - 2 menit per
batang dan 2 - 3 menit per batang bila berada di dalam lubang
terbuka.
5. Kalau liner sudah berada pada kedalaman yang diinginkan, tetapi
sebelum penggantung diset, terlebih dahulu lumpur pemboran
disirkulasikan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya sirkulasi
sebelum liner digantung.
6. Penggantung diset kalau operasi penyemenan telah memungkinkan.
7. Semen dipompakan ke dalam sumur.
8. Penurunan pada indikator berat permukaan akan menunjukkan
bahwa operasi penyemenan telah selesai.
9. Pipa bor dicabut 4-10 batang atau di atas semen, dan untuk
mencegah migrasi gas maka tekanan di atas semen ditahan sampai
semen mengeras.
10. Pipa bor dikeluarkan dari sumur.
11. Setelah waiting on Cement telah tercapai kemudian semen yang
berlebih dibor keluar.
4. Teknik Penyemenan di Offshore
Prinsip penyemenan di offshore sama pada penyemenan sumur di
darat hanya saja diperlukan modifikasi dari peralatan yang dipakai
untuk penyesuaian dengan pekerjaan yang harus dilakukan pada
tempat yang terbatas di tengah laut. Misalnya Pneumatic Bulk
Handling System yang merupakan satu unit peralatan terdiri dari bulk
material, alat pencampur (mixer) dan pompa yang bisa dipindah-
pindahkan dengan mudah
5. Batasan Operasional
Perencanaan adalah dasar dari kesuksesan suatu penyemenan awal.
Mula-mula harus harus diketahui secara akurat kondisi lubang sumur
sebelum dilakukan cementing.
Perhitungan
Volume dari lubang bor harus diketahui dengan pasti, yang hal ini
bisa diketahui dengan menggunakan caliper log. Jika tidak tersedia
data caliper log maka volume semen yang dipersiapkan adalah leih
besar dari 50-100% dari volume lubang sumur yang telah diketahui
sebelumnya. Jika data volume didapatkan dari caliper log maka
volume semen yang disiapkan lebih kecil daripada jika tnpa
menggunakan caliper log (15-25% lebih besar dari volume lubang
sumur).
Kondisi Lubang
Keadaan dari lubang sumur seperti lost circulation, hole washouts
harus diketahui agar bisa didesain semen yang sesuai dengan kondisi
lubang tersebut. Lumpur pembortan harus didesain agar kegiatan
sementing bisa berjalan dengan baik.
Temperatur
Mengetahui Bottomhole Circulating Temperature (BHCT) adalah
sangat vital. Waktu pemompaan cement slurry adalah fungsi dari
temperatur lubang sumur.Temperatur juga bisa merubah sifat
rheology semen dan lumpur, seperti rejim aliran, efek tabung U, dan
juga tekanan gesekannya. Temperatur bisa diketahui dengan logging,
circulating temperature probes atau dengan simulasi matematika dari
sirkulasi temperatur.
Tekanan
Perlu diketahuinya tekanan dasar sumur adalah untuk kontrol sumur
dan juga suksesnya kegiatan penyemenan awal. Densitas dari slurry
ditentukan untuk mengontrol sumur dan juga menset kekuatan semen.
Densitas yang terlalu tinggi akan mengakibatkan formasi menjadi
retak dan juga akan terjadi lost circulation.
Quality Control
Program quality control dilakukan dengan cara melakukan pengetasan
material-material yang akan digunakan dalam kegiatan sementing.
Kegiatan ini bisa dilakukan di laboratorium dengan kondisi-kondisi
yang sama dengan sumur yang akan disemen.
Pergerakan Casing
Pergerakan casing seperti reciprocating (naik turun), rotation
(memutar), atau keduanya akan meningkatkan kualitas dari proses
sementing. Pergerakan casing akan memecahkan daerah kosong di
lumpur yang akan mengakibatkan timbulnya cement channeling.
Cement Job Monitoring
Merekam parameter-parameter kritik selama sementing adalah sangat
penting. Mengetahui secara tepat tekanan, rate slurry, dan juga
densitas selama kegiatan sementing akan berguna untuk evaluasi
ataupun mengoptimalkan disain sementing untuk waktu yang akan
datang.
2) Teknik Penyemenan Perbaikan
1. Teori Squeeze Cementing
Squeeze cementing secara umum dapat dikatakan sebagai suatu proses
dimana bubur semen (cement slurry) didorong dibawah tekanan
sampai pada titik tertentu di dalam sumur untuk maksud-maksud
perbaikan. Salah satu persoalan yang paling utama pada sumur
minyak adalah mengisolasi air dibawah lubang sumur. Persoalan
diselesaikan dengan mempergunakan bubur semen dan tekanan
squeeze. Sekarang yang paling umum pemakaian dari pada squeeze
cementing adalah memisahkan zone penghasil hidrokarbon dari zone
yang menghasilkan fluida lainnya.
2. Teknik Penempatan Squeeze Cementing
Untuk menyelesaikan tujuan dilakukannya squeeze cementing diatas
hanya dibutuhkan volume semen yang relatif kecil, tetapi harus
ditempatkan pada titik yang tepat didalam sumur. Kadang-kadang
kesulitan utama adalah membatasi semen terhadap lubang bor. Untuk
itu diperlukan perencanaan yang baik terutama perencanaan bubur
semen (cement slurry) dan pemilihan tekanan dan penggunaan
metode/teknik yang digunakan untuk berhasilnya pekerjaan.
Dua cara yang umum dikenal untuk penyelesaian penyemenan untuk
perbaikan yaitu :
1. Teknik tekanan tinggi. Teknik ini mencakup perekahan formasi dan
pemompaan bubur semen kedalam rekahan hingga tekanan tertentu
tercapai dan terlaksana tanpa kebocoran (bleed off). Biasanya
digunakan semen bersih (dengan fluid loss yang sangat tinggi).
Teknik ini mempunyai beberapa kerugian, hal mana diatasi dengan
teknik tekanan rendah.
2. Teknik tekanan rendah atau lebih dikenal dengan nama teknik
"semen fluid loss rendah". Teknik ini mencakup penempatan semen
diatas interval perforasi dan memberikan tekanan yang cukup
membentuk filter cake dari semen yang didehidrasi didalam perforasi
dan didalam saluran-saluran atau rekahan- rekahan yang mungkin
terbuka pada perforasi tersebut. Semen dengan fluid loss rendah (50 -
200 cc API) dan fluida 'clean work over" harus digunakan. Tingginya
tekanan squeeze pada teknik tekanan tinggi menyebabkan rekahnya
formasi, ini perlu diperhitungkan terutama pada saat mana rekahnya
formasi tidak diinginkan. Oleh karena itu teknik tekanan tinggi kurang
menguntungkan dan sering digunakan teknik tekanan rendah, dengan
mengontrol kehilangan filtrasi sangat rendah.Tekanan squueze yang
tingi, yang mula-mula dianggap perlu untuk squeeze, sekarang ini
tidak dilakukan lagi karena telah digunakan semen dengan
pengontrolan laju filtrasi (controlled filtration rate cement).
3. Bradenhead Placement Technique (No Packer). Dalam metode ini
semen dipompakan ke dalam casing melalui tubing atau drillpipe
dengan tidak memakai packer, mendesak fluida sumur masuk ke
annulus.
Penempatan Semen Langsung (Bradenhead Method)
Metode ini dipakai secara luas pada squeezing sumur- sumur dangkal,
untuk penyumbatan sumur dan kadang-kadang dipakai pula dalam
menutup zona lost circulation selama operasi pemboran.
4. Squeeze Tool Placement Technique. Teknik ini dibagi dalam dua
bagian yaitu metode retriaveble squeeze packer dan drillable cement
retainer. Pada metode retriaveble squeeze packer, digunakan packer
yang bisa diangkat kembali, sedangkan pada driiable cement retainer
digunakan packer yang tetap. Packer ini dipasang pada tubing sedikit
diatas puncak zone yang akan disqueeze. Metode ini lebih baik
daripada metode bradenhead karena metode ini membatasi tekanan
pada suatu titik tertentu dari sumur.
5. Running Squeeze Pumping Methods. Selama dilakukannya running
squeeze, cement slurry dipompakan secara kontinyu sampai tercapai
tekanan squeeze yang diinginkan (bisa dibawah atau diatas tekanan
rekah) tercapai. Sesudah pemopaan dihentikan, tekanan dimonitor,
jika tekanan masih dibawah yang dikehendaki maka perlu
dipompakan lagi cement slurry untuk menaikkan tekanan.
6. Hesitation Methods. Metode ini mencakup penempatan semen
dalam tahapan tunggal, tetapi membagi-bagi penempatan semen
alternatif pemompaan/periode menunggu bergantian. Keuntungan
memakai metode hesitasi adalah bahwa cara ini cenderung
meningkatkan pengontrolan pengumpulan padatan semen terhadap
formasi. Kecepatan pengumpulan ini diperoleh sebagai aturan umum
untuk segera menyelesaikan pekerjaan squeeze secara menyeluruh
dengan berhasil
3. Test Injeksi
Tes injeksi dilakukan dengan alasan :
Untuk memastikan bahwa perforasi telah terbuka dan siap untuk
dimasuki fluida.
Untuk mendapatkan perkiraan rate injeksi cement slurry.
Untuk memperkirakan tekanan ketika dilakukannya squeeze.
Memperkirakan banyaknya slurry yang digunakan.
Tes injeksi dilakukan dengan cara memompakan fluida (air atau mud
flush) ke dalam sumur. Asam harus diinjeksikan jika terdapat matriks.
4. Disain dan Persiapan Suspensi Semen
Compressive Strength (kekuatan tekan). Compressive strength dari
semen tidak selalu merupakan faktor penting pada perencanaan bubur
semen. Semen dengan kekuatan tekan 24 jam dari 500 sampai 1000
psi akan menyumbat perforasi dengan baik. Dari segi teknis, strength
semen harus memenuhi syarat-syarat : menahan pipa di lubang,
mengisolasi zone permeabel, menahan rekahan-rekahan permukaan
pada zone yang diinginkan.
WOC time (waiting on cement). Waktu menunggu pengerasan semen
(WOC) ditentukan oleh faktor temperatur sumur, tekanan, ratio air-
semen (WCR), compressive strength, retarder dan lainnya. Dalam
pengalaman di lapangan, waktu yang dibutuhkan adalah 4 - 12 jam
umumnya terlaksana antara perawatan (treatment) squeeze atau
setelah tekanan squeeze akhir dicapai.
Water Cement Ratio (WCR). Jika air yang diberikan kurang dari
minimum maka friksi diantara annulus bertambah dan ini jika
ditambah dengan tekanan hidrostatik semen akan dapat menyebabkan
formasi rekah. Juga dengan sedikitnya air, maka kehilangan air
walaupun sedikit di tubing collar sewaktu squeeze dapat
menyebabkan semen terhenti pada formasi permeabel yang lebih
dekat ke sumur. Tetapi pekerjaan plug back diperlukan WCR
minimum agar strength maksimal atau dalam menutup formasi-
formasi bertekanan tinggi, dimana SG dengan WCR rendah akan
dapat meningkat.
Densitas. Umumnya densitas semen dibuat hampir sama dengan
densitas lumpur.
Fluid Loss Control. Fluid loss pada semen murni sangat besar, jika
semen slurry murni bertemu dengan zone permeabel dimana mud
cake telah hilang. Umumnya fluid loss menurut API adalah :
200 ml/30 min untuk formasi yang sangat permeabel
100 - 200 ml/30 min untuk formasi low permeable
35 - 100 ml/30 min untuk formasi high permeability
Volume Slurry. Volume dari cement slurry tergantung dari panjang
interval yang akan disemen dan juga teknik penyemenan yang akan
digunakan.Pada low pressure squeeze hanya diperlukan slurry untuk
membentuk filter cake semen pada setiap saluran perforasi.
Untuk high pressure squeeze, yang dilakukan pada formasi yang rekah
diperlukan volume slurry yang lebih besar. Smith menyebutkan
beberapa rule of thumb :
Volume tidak boleh melebihi kapasitas running string
Dua sacks semen digunakan untuk interval perforasi sepanjang satu
feet.
Minimum volume adalah 100 sacks jika rate injeksi adalah 2 bbl/min
yang dapat dicapai sesudah break down, sebaliknya harus 50 sacks.
Viskositas Slurry. Slurry dengan viskositas yang rendah akan bisa
menembus lubang/rekahan yang kecil.
Spacers dan Washes. Ada dua faktor yang akan membuat berhasilnya
proses cementing yaitu :
Pembersihan dari perforasi dan ruang disekitarnya dari padatan yang
dibawa oleh fluida atau lumpur pemboran.
Menghindari kontaminasi pada cement slurry, yang akan
mengakibatkan berubahnya sifat slurry seperti fluid loss, tickening
time dan juga viskositasnya.
Biasanya kontaminasi cement slurry dihindari dengan cara
memompakan spacer air diatas dan dibawah semen. Bisa juga dengan
menggunakan chemical wash atau larutan asam lemah yang
diletakkan diatas slurry, dimana dipisahkan oleh fluida yang
kompatibel.
5. Prosedur Pelaksanaan Squeeze
Prosedur pelaksanaan squeeze yang umum dilakukan adalah :
1. Zone yang akan disemen diisolasi dengan menggunakan retrievable
packer atau dengan drillable bridge plug.
2. Perforasi dibersihkan dengan menggunakan perlengkapan pencuci
perforasi, atau dibuka kembali dengan teknik "back surging".
3. Peralatan pencuci perforasi diangkat dan jika metode drillable
squeeze packer dipilih maka dipasang peralatan circulating valve.
4. Menempatkan peralatan ke dalam sumur sampai pada kedalaman
yang diinginkan.
5. Semua pipa atau casing ditest dan formation breakdown ditentukan.
6. Dengan membiarkan circulating valve terbuka di atas retainer,
fluida spacer dimasukkan ke dalam pipa yang diikuti oleh slurry
kemudian spacer yang kedua, dan akhirnya oleh lumpur yang cukup
untuk memasukkan setengah dari fluida spacer yang pertama ke
dalam annulus.
7. Circulating valve ditutup dan formasi disqueeze.
8. Bila tekanan squeeze telah dicapai, maka tekanan tetap ditahan
beberapa menit. Bila formasi tidak pecah atau valve tidak bocor,
tekanan dapat dihentikan, circulating valve dibuka dan kelebihan
slurry dikeluarkan.
9. Jika kelebihan slurry tidak dapat dikeluarkan, maka semua
peralatan sebaiknya dicabut keluar.
Operasi dengan retrievable packer hampir sama dengan drillable
packer hanya alat yang dipasang dapat dilepas kembali untuk
digunakan pada operasi lainnya.
6. Aplikasi Squeeze Cementing
Proses squeeze cementing telah digunakan secara luas untuk maksud-
maksud :
1. Mengisi saluran perforasi atau saluran dibelakang casing dengan
semen untuk memperolwh kerapatan antara casing dan formasi.
2. Untuk mengontrol GOR yang tinggi.
3. Untuk mengontrol air atau gas yang berlebihan.
4. Untuk memperbaiki kerusakan casing.
5. Menutup zona lost circulation.
6. Untuk melindungi zone produksi dari migrasi fluida.
7. Mengisolasi zone produksi secara menyeluruh dan permanen.
8. Memperbaiki pekerjaan primary cementing yang rusak.
9. Mencegah migrasi fluida dari zone-zone atau sumur- sumur yang
ditinggalkan (abandoned).
7. Evaluasi Squeeze Cementing
Dua gejala yang sering menyebabkan hasil penyemenan menjadi tidak
sempurna adalah timbulnya "channeling" dan "micro annulus".
Channeling adalah gejala yang timbul bila semen berhasil menempati
ruang annulus tetapi tidak seluruhnya mengelilingi selubung dan
mengisi penuh ruang annulus. Sedangkan micro annulus merupakan
rongga kecil yang terbentuk antara selubung dengan semen atau
antara semen dengan dinding formasi. Gejala tersebut menyebabkan
kualitas ikatan (bounding) semen menjadi jelek.
Jenis-jenis tes yang dilakukan untuk mengevaluasi squeeze cementing
adalah :
Acoustic Log
Jika tujuan squeeze untuk memperbaiki primary cementing maka
normal cement log dirun untuk mengevaluasi hasil dengan cara
membandingkan hasil log sebelum dan sesudah dilakukan squeeze.
Radioactive Tracers
Material radioaktif ditambahkan ke dalam cement slurry dan dengan
survey tracer (penjejak) bisa diindikasikan apakah semen berada di
tempat yang diinginkan.
Kekerasan Semen
Suman dan Ellis(1977) menyatakan bahwa didalam kegiatan squeeze
dimana semen dibor, merupakan indikasi berhasil atau tidaknya
penyemenan dengan mengamati cutting semen tersebut. Jika cutting
semen tersebut keras maka menandakan bahwa hasil squeeze baik,
jika tidak keras atau ada ruangan maka mengindikasikan bahwa
squeeze gagal.
Profile Temperatur
Goolsby(1969) mengevaluasi hasil squeeze pada sumur injektor air
dengan cara membandingkan antara profile temperatur sebelum dan
sesudah dilakukannya squeeze.
8. Penyebab Kegagalan
Cement Slurry Menembus Pori Batuan
Hanya campuran air dan substansi yang terlarut menembus pori,
ketika padatan terakumulasi di permukaan formasi dan membentuk
filter cake. Dibutuhkan permeabilitas yang lebih besar dari 100 Darsi
agar butiran semen bisa menembus matrik batuan pasir. Hanya ada
satu jalan slurry menmbus formasi yaitu melalui rekahan atau melalui
lubang yang besar.
Tekanan tinggi yang diperlukan untuk mendapatkan squeeze yang
baik.
Jika tekanan rekah formasi diperbesar, akan terjadi kehilangan kontrol
dari penempatan slurry, dan slurry akan memasuki daerah yang tidak
diinginkan. Tekanan tidak akan menolong menempatkan slurry pada
semua lokasi yang diinginkan.
Plugged Perforations
Adanya mud cake, debris, scale paraffin, pasir formasi dan lain
sebagainya dapat terakumulasi di lubang perforasi sehingga
menyebabkan lubang perforasi tertutup. Goodwin (1984) menyatakan
bahwa pada sumur produksi, perforasi pada bagian atas selalu terbuka
sedangkan pada bagian bawah tertutup. Squeezing dengan kondisi
seperti itu akan mengakibatkan kegagalan, karena fluida formasi
masih tetap mengalir melalui formasi yang tertutup tadi (plugged
perforations).
Lokasi Packer Yang Tidak Tepat
Packer diset terlalu tinggi diatas perforasi, cement slurry menjadi
terkontaminasi seperti fluida komplesi. Sifat slurry seperti fluid loss,
thickening time dan viskositas akan berubah oleh kontaminasi tersebut
dan penempatan slurry akan berubah.
Shryock dan Slagle (1968) merekomendasi bahwa squeeze packer
diset tidak lebih dari 75 ft (23 m) diatas perforasi. Suman dan Ellis
(1977) mere-komendasi bahwa packer diset diantara 30 dan 60 ft dari
perforasi.
High Final Squeeze Pressure
Tekanan akhir yang tinggi tidak akan menaikkan tingkat keberhasilan;
akan tetapi sebaliknya akan meningkatkan kemungkinan merekahnya
formasi, dan hal ini akan menghilangkan kontrol pada waktu
penempatan semen.
9. Teknik Penempatan Penyekat (plug)
Cement Plug adalah menempatkan cement slurry dengan volume yang
relatif kecil di dalam lubang sumur yang bertujuan untuk :
Menutup sumur
Mencegah lost circulation selama operasi pemboran
Untuk sidetrack (tempat pembelokan) pada permulaan dilakukannya
pemboran berarah.
Menyediakan tempat untuk tes openhole
Ada tiga teknik untuk penempatan cement plugs :
Balanced plug
Dump bailer
Two-plug method
G. Peralatan Penyemenan
1. Material Semen
Material Semen
Material yang digunakan dalam kegiatan penyemenan terdiri dari :
Semen
Portland semen digunakan selama kegiatan sementing berlangsung. Bahan
tersebut halus dan merupakan bubuk yang sangat reaktif. Portland semen
biasanya disimpan dalam silo pada lokasi dimana akan dilakukan kegiatan
penyemenan.
Air Fresh water dipakai untuk menyemen sumur di darat, sedangkan sea
water untuk sumur di lepas pantai. Kadang- kadang fresh water sering
tidak berada dalam kondisi yang benar-benar fresh/murni, yang hal ini bisa
juga mempengaruhi kemampuan dari sistem semen.
Dry cement additives
2. Peralatan Permukaan
Mixer
Alat ini pada prinsipnya adalah mempertemukan cement slurry dan air
dengan kecepatan yang sangat tinggi (sistem jet) melalui suatu venturi
sehingga timbul aliran turbulensi yang menjadikan proses pencampuran
menjadi sempurna.
Pompa Semen
Pompa Semen
Pompa semen dipakai untuk pemompaan bubur semen ke dalam sumur.
Pompa yang biasa dipakai adalah pompa duplex double acting piston atau
single acting triplex pluner pump. Plunger pump adalah biasa dipakai
karena rate slurry yang keluar lebih seragam dengan tekanan yang cukup
besar. Kadang-kadang pumping dengan recirculating mixer dijadikan satu
dalam satu kesatuan tempat yang mudah dipindah-pindahkan. Ini disebut
sebagai mobile cementing equipment.
Casing Cementing Head
Alat ini berfungsi sebagai media penghubung antara pipa penyemenan dari
pompa semen ke casing dan sebagai tempat untuk menempatkan plug (top
dan bottom plug). Dengan adanya casing cementing head ini maka lumpur
dapat disirkulasikan oleh desakan bottom plug sampai ke dasar casing lalu
diisikan bubur semen di atasnya sebelum pendesakan oleh top plug
dimulai.

3. Peralatan Bawah Permukaan


a. Floating Equipment
Alat ini terdiri dari guide shoe dan float collar. Guide shoe adalah
peralatan yang dipasang pada ujung casing agar casing tidak tersangkut
selama diturunkan. Guide shoe yang dilengkapi dengan penahan
tekanan balik disebut float shoe.
b. Wiper Plug
Wiper plug adalah plug yang dipakai untuk membersihkan dinding
dalam casing dari lumpur pemboran. Plug ini dibagi menjadi dua yaitu
top plug dan bottom plug.
c. Scratchers
Adalah peralatan pembersih dinding lubang sumur dari mud cake
sehingga semen dapat melekat langsung pada dinding formasi dan
dapat menghindarkan channeling (lubang saluran diantara semen dan
formasi). Cara pemakaian alat ini ada beberapa macam yaitu dengan
cara diputar (rotating) atau dengan menarik turunkan (reciprocating).
d. Centralizer
Centralizer adalah alat untuk menempatkan casing tepat di tengah-
tengah lubang sumur agar diperoleh jarak yang sama antara dinding
casing dengan dinding lubang sumur. Pemasangan alat ini pada casing
biasanya dengan cara dilas (welding).
e. Landing collar
Berfungsi untuk menyekat dan menangkap liner wiper plug,
mencegahnya naik kembali ke atas lubang, menyekat tekanan dari
bawah dan mencegahnya berputar sewaktu pemboran keluar (drill-out).
f. Cementing Basket
Cementing basket digunakan bersama-sama dengan casing atau lier
pada titik dimana terdapat formasi yang porous atau lemah. Guna alat
ini adalah agar cement slurry tidak bercampur dengan batuan formasi
yang gugur.
g. Liner Hanger
Dipasang pada bagian atas liner sebagai penyekat antara liner dan
selubung selama atau setelah penempatan semen.
h. Liner Packer
Ditempatkan pada bagian bawah setting tool. Pump down plug akan
mengikuti semen sambil membersihkan semen pada liner wiper plug
yang kemudian lepas dari setting tool karena tekanan pompa. Kedua
pug ini lalu turun mengikuti semen smbil membersihkan liner sampai
akhirnya tersangkut dan menempel pada landing collar.
i. Packer Bore Receptacle
Biasa disebut polished bore receptacle yang merupakan tabung yang
berdinding tebal dengan gerigi dan diameter dalam yang licin dimana
bagiandalamnya bisanya dilapisi dengan TFE untuk mencegah
menempelnya semen ataupun material lainnya, sehingga mengurangi
friksi dan korosi.
j. Pack-off Bushing
Biasa dimasukkan diantara setting tool dan bagian atas liner hanger
sebagai penyekat antara setting tool dengan liner. Pack-off bushing ada
yang drillable dan yang retrievable. Jenis drillable harus dibor kembali
dengan bit atau mill. Retrievable biasa dipakai pada pemboran dalam,
dapat merupakan bagian dari setting tool dan diambli kembali pada
waktu setting tool dipindahkan dari liner, sehingga dapat menghemat
waktu pemboran ke luar.
k. Pump Down Plug Dropping Head Dan Cementing Manifold
Dihubungkan pada bagian atas pipa bor. Manifold digunakan untuk
membantu pada waktu pemompaan lumpur dan semen ke dalam pipa
bor dan menahan pump down plug sampai pump down plug dilepaskan
di belakang semen.
l. Liner Setting Tool
Berfungsi untuk menghubungkan pipa bor dengan liner. Setting collar
dan tie-back receptacle atau sleeve. Biasa digabungkan menjadi satu
alat.
m. Liner Swivel
Merupakan alat yang digunakan untuk liner yang tersangkut dalam
lubang terbuka atau dalam lubang yang tidak lurus dimana hanger
barrel sukar berputar. Dengan memakai alat ini liner tidak akan ikut
berputar, hanya liner hanger dan setting tool saja yang berputar.

H. Cement Testing
1. Hydraulic Testing
Test ini umumnya untuk menguji isolasi yang terjadi di lubang bor.
Hal ini dilakukan setelah dilakukan operasi primary cementing, bila
zone air terletak dekat dengan zone minyak atau gas yang akan
diproduksi, atau dapat dilakukan setelah remedial cementing.
Berbagai type pengujian dapat dilakukan, umumnya menggunakan uji
tekanan (pressure testing) dan Dry testing.
2. Pressure Testing
Umumnya test ini dilakukan setelah penyemenan surface atau
intermediate casing telah dilakukan, dimana casing shoe telah dibor.
Tekanan di dalam casing ditingkatkan menjadi lebih tinggi dari
tekanan yang akan diderita pada titik ini selama operasi pemboran
berikutnya. Casing shoe bila tidak tahan menahan tekanan
menunjukkan operasi penyemenan yang buruk dan remedial
cementing harus dilaksanakan.
3. Dry Testing
Dry testing semacam DST yang khusus untuk menguji penyekatan
semen. Dry testing umumnya digunakan untuk menguji keefektifan
dari squeeze cementing, atau penyekatan semen di atas liner.
Sementara tujuan utama dari DST adalah untuk mengevaluasi
kandungan lapisan berdasarkan rate dan tekanan. Pengujian dry test
dikatakan berhasil bila tidak terjadi perubahan tekanan selama
penutupan sumur.
4. Temperatur dan Nuklir Log
Temperatur Log
Temperatur log juga kadang-kadang dipakai untuk mengevaluasi hasil
penyemenan, biasanya digunakan untuk pengujian primary cementing,
yaitu untuk mendeteksi kedudukan puncak semen (lihat gambar
12.66). Temperatur log juga digunakan untuk mendeteksi bagian
semen yang bocor dan channeling.
Nuclear Logging
Dalam industri perminyakan, sangat praktis bila dilakukan
penambahan radioaktif sebagai tracer, sehingga dengan menggunakan
detector kita dapat men-trace posisi dan kedudukan semen dalam
annulus casing-lubang bor.
5. Gelombang Acoustic
Karakteristik Gelombang Acoustic
Acoustic berkaitan erat dengan karakteristik perambatan gelombang
suara (sound wave). Pada hakekatnya perambatan gelombang suara
ini merupakan proses compression (penekanan) dan refraction
(pengembangan) molekul- molekul gas atau cairan atau sebagai proses
squeezing (pemerasan) dan stretching (perentangan) struktur butiran
padatan.
Karakteristik Acoustic Formasi
Sifat-sifat dasar formasi memiliki pengaruh pada acosutic log. Untuk
maksud-maksud evaluasi semen dikenal istilah fast formation dan
slow formation. Kedua istilah ini berkenaan dengan kecepatan suara.
Suatu formasi dikatakan sebagai fast formation apabila kecepatan
perambatan gelombang suara yang melaluinya lebih cepat dari pada
yang melalui casing, yakni memiliki perambatan (T) kurang dari 57
mu s/ft. Sedangkan suatu formasi disebut sebagai slow formation
apabila kecepatan perambatan gelombang suara yang melaluinya lebih
rendah dari pada yang melalui casing T 57 mu s/ft.
Karakteristik Acoustic Semen
Response acoustic logging sangat tergantung pada sifat- sifat acoustic
dari semen keras. Sifat-sifat acoustic beberapa batuan dapat diketahui,
namun akan lebih sulit untuk mengetahui karakteristik acoustic dari
semen, karena fisik semen akan berubah terhadap waktu. Akibat
perbedaan yang mendasar ini, membuat analisis logging menjadi
krisis untuk beberapa kasus. Response logging akan berubah terhadap
waktu, karena sifat-sifat fisik semen juga berubah. Dengan terjadinya
semen yang tidak berada pada keadaan fisik yang sama di sepanjang
string casing, akan mengakibatkan perbedaan yang menyolok pada
response logging untuk string yang panjang, dimana terjadi perbedaan
temperatur antara bottom dan top semen.
6. Metode Acoustic Logging
Cement Bond Logging
Cement Bond Logging atau CBL merupakan metode yang sudah
dikembangkan sejak 30 tahun yang lalu dan merupakan metode yang
masih sering digunakan untuk mengevaluasi pekerjaan penyemenan.
Gambar 12.68 berikut menggambarkan konfigurasi peralatan CBL
dengan satu transmitter dan dua receiver yang keduanya dibuat dari
piezoelectric ceramic.
Cement Bond Tool
Cement Bond Tool (CBT) merupakan metode evaluasi kualitas semen
yang merupakan pengembangan dari CBL. CBT dikenal juga sebagai
Ratio Bond Tool (RBT) atau attenuation - ratio log. Peralatan CBT
didisain dengan 3 receiver yang dipasang di antara dua transmitter
atas dan di bawah. Selain itu juga dilengkapi dengan centralizer.
Prinsip pengukuran CBT hampir sama dengan prinsip pengukuran
CBL, yakni merekam harga transit time dan gelombang/attenuation
dari gelombang acoustic 20 kHz yang dipancarkan oleh transmitter
setelah merambat melalui dinding casing dan fluida lubang bor.
Namun karena CBT memiliki 2 receiver utama R2 dan R3 di antara
transmitter T1 dan T2, terdapat perbedaan dalam perhitungan respon
yang diterima CBT.
Cement Evaluation Tool
PengukuranCement Evaluation Tool atau CET merupakan metoda
yang telah dikembangkan dalam upaya memperbaiki kekurangan yang
terdapat pada metode sebelumnya. Metode ini dikenal pula sebagai
Ultrasonic-Pulse-Echo Log atau Pulse Echo Tool.
Alat ini terdiri atas rangkaian delapan tranducer ultrasonic yang
dipasang disekeliling alat secara helik dengan spasi antar tranducer
4500 (gambar 12.86). Selain itu ditempatkan transducer kesembilan
yang digabungkan secara aksial dan diarahkan pada cermin acoustic
yang ditempatkan pada jarak tertentu didepan transducer sehingga
dapat digunakan sebagai referensi ukuran kecepatan suara pada setiap
waktu di dalam fluida pemboran. Seperti pada metode yang lain, pada
alat ini juga dilengkapi centralizer.

I. Perhitungan Pada Penyemenan


1. Karakteristik Suspensi Semen
API Spec. 10 (1988) secara khusus membahas jumlah air yang harus
ditambahkan kedalam bubuk semen. API Spec. ini berhubungan dengan
densitas suspensi semen (umumnya spesific gravity 3.14 gr/cc untuk
semen Portland), tergantung pada klas semen dan umumnya merupakan
fungsi dari luas permukaan semen. Dan bila additive hadir dalam
suspensi, jumlah air yang sudah ditambahkan dengan tepat (untuk
mencapai densitas yang diinginkan) akan berubah.
2. Specific Gravity Semen
Spesific semen Portland berkisar antara 3.10 dan 3.25, tergantung kepada
material dasar yang digunakan dalam pembuatannya. Untuk perhitungan
selanjutnya asumsi spesific gravity digunakan harga 4.13 gr/cc.
3. Volume Absolut dan Volumen Bulk
Volume absolut suatu material adalah volume yang mencakup hanya
volume material itu sendiri (tidak termasuk volume udara yang terdapat
di sekeliling partikel). Volume yang mencakup volume material kering
ditambah udara disekitarnya disebut dengan volume bulk. Semen
Portland umumnya mempunyai volume bulk 1 cuft untuk 94 lb, yang
sering disebut dengan "sack". Volume absolut untuk semen 94 lb semen
adalah 3.59 US gal. atau 0.48 cuft. Untuk semen-semen yang lain akan
memiliki absolute dan bulk volume yang berbeda.
4. Konsentrasi Additive
Konsentrasi dari sebagian besar additive yang ditambahkan ke dalam
semen dinyatakan dalam persen berat semen (BWOC). Metoda ini juga
digunakan dalam penambahan air. Contoh,Jika 35% (BWOC) pasir silika
digunakan dalam pembuatan semen, jumlah silika untuk tiap sack semen
adalah 94 lb x 0.35 = 032.9 lb silika. Jumlah ini sama dengan 94 + 32.9 =
126.9 lb untuk total campuran keseluruhan. Jadi persentase silika
sebenarnya dalam campuran adalah 32.9 : 126.9 = 25.9%. Konsentrasi
additive cair umumnya menggunakan istilah gallon per sack semen.
Sebagai contoh, berdasarkan Tabel 3, cairan sodium silicate mempunyai
volume absolute 0.00859 gal/lb. Jika ditambahkan 0.4 gal/sk sodium
silicate tentukan berat material tersebut adalah (0.4 gal/sk) / (0.0859
gal/lb) = 4.66 lb/sk.
5. Densitas Suspensi Semen dan Yield
Densitas suspensi dihitung dengan menambahkan massa dari komponen
suspensi semen dan dibagi dengan total absolute volume. Dengan kata
lain untuk menentukan densitas (lb/gal), total pounds dibagi dengan total
gallon. Yield semen adalah volume yang mencakup satu unit semen
ditambah semua additive dan air pencampur. Untuk semen sering
dinyatakan dalam sack, yield dinyatakan dalam cuft/sk. Kemudian harga
ini untuk menghitung jumlah sack semen yang diperlukan untuk
mencapai keperluan di annulus. Hampir semua perhitungan densitas
berdasarkan harga satu sack semen (94 lb). Untuk additive yang
jumlahnya kurang dari 1 % biasanya dalam
perhitungan diabaikan.
DAFTAR PUSTAKA