Anda di halaman 1dari 8

HUKUM ADAT DALAM PERKEMBANGAN: PARADIGMA SENTRALISME

HUKUM DAN PARADIGMA PLURALISME HUKUM

Frans Simangunsong,SH,MH
Fakultas Hukum - Universitas Surakarta
Email : fransdeboer25@yahoo.com

ABSTRAK: Hukum adat karena sifatnya yang tidak tertulis, majemuk antara lingkungan
masyarakat satu dengan lainnya, maka perlu dikaji perkembangannya. Paradigma pemahaman
hukum adat dan perkembangannya harus diletakkan pada ruang yang besar, dengan mengkaji
secara luas: a) Kajian yang tidak lagi melihat sistem hukum suatu negara berupa hukum negara,
namun juga hukum adat hukum agama serta hukum kebiasaan; b) Pemahaman hukum (adat) tidak
hanya memahami hukum adat yang dalam berada dalam komunitas tradisional- masyarakat
pedesaan, tetapi juga hukum yang berlaku dalam lingkungan masyarakat lingkungan tertentu (hybrid
law atau unnamed law); c) Memahami gejala trans nasional law sebagaimana hukum yang dibuat
oleh organisasi multilateral, maka adanya hubungan interdependensi antara hukum internasional,
hukum nasional dan hukum lokal.
Dengan pemahaman holistik dan intregratif maka perkembangan dan kedudukan hukum adat akan
dapat dipahami dengan memadai. Maka studi hukum adat dalam perkembangan mengkaji hukum
adat sepanjang perkembanganya di dalam masyarakat, dilakukan secara kritis obyektif analitis,
artinya hukum adat akan dikaji secara positif dan secara negative. Secara positif artinya hukum adat
dilihat sebagai hukum yang bersumber dari alam pikiran dan cita-cita masyarakatnya. Secara negatif
hukum adat dilihat dari luar, dari hubungannya dengan hukum lain baik yang menguatkan maupun
yang melemahkan dan interaksi perkembangan politik kenegaraan.
Perkembangan hukum secara positif artinya hukum adat akan dilihat pengakuannya dalam
masyarakat dalam dokrin, perundang-undangan, dalam yurisprudensi maupun dalam kehidupan
masyarakat sehari hari. Sebaliknya perkembangan secara negative bagaimana hukum adat
dikesampingkan dan tergeser atau sama sekali tidak berlaku oleh adanya hukum positif yang
direpresentasikan oleh Negara baik dalam perundang-undangan maupun dalam putusan pengadilan.
Sebagaimana dinyatakan: hukum adat sebenarnya berpautan dengan suatu masyarakat yang masih
hidup dalam taraf subsistem, hingga kecocokannya untuk kehidupan kota modern mulai
dipertanyakan. Hukum adat dalam perkembangannya dewasa ini dipengaruhi oleh: Politik hukum
yang dianut oleh Negara dan metode pendekatan yang digunakan untuk menemukan hukum adat.

Kata Kunci: Paradigma Sentralisme Hukum Adat, Paradigma Pluralisme Hukum Adat.

A. Latar Belakang negara tidak diakui adanya hukum. Paham


Etatisme berujud sentralisme hukum,
Hukum adat karena sifatnya yang tidak tertulis, dipengaruhi positivisme hukum dan teori
majemuk antara lingkungan masyarakat satu hukum murni, maka secara struktural dan
dengan lainnya, maka perlu dikaji sistimatik wujud hukum adalah bersumber dan
perkembangannya. Ada banyak istilah yang produksi dari negara secara terpusat termasuk
dipakai untuk menamai hukum lokal: hukum organ negara di bawahnya. Paham
tradisional, hukum adat, hukum asli, hukum sentralisme hukum ini menempatkan posisi
rakyat, dan khusus di Indonesia – hukum hukum adat tidak memperoleh tempat yang
“adat“. Bagaimana tempat dan bagaimana memadahi. Etatis hukum timbul yang
perkembangannya hukum adat dalam didasarkan pada teori modernitas yang
masyarakat tergantung kesadaran, paradigma memisahkan dan menarik garis tegas antara
hukum, politik hukum dan pemahaman para zaman modern dan zaman pra modern.
pengembannya- politisi, hakim, pengacara, Zaman modern ditandai adanya sistem hukum
birokrat dan masyarakat itu sendiri. Hukum nasional, sejak timbulnya secara nasional,
adat dan berlakunya tergantung kepada dan sebagai kesatuan yang berlaku dalam seluruh
berada dalam masyarakat. teritorialnya. Paham ini timbul dari warisan
revolusi kaum borjuis dan hegemoni liberal-
Bagi penganut Paham Etatis, yang mengklaim karena kuatnya liberalisme, sehingga tumbuh
apa yang disebut sentralisme hukum (legal
negara sebagai satu-satunya secara sentral
centralism), dimaknai hukum sebagai hukum
sebagai sumber produksi hukum, maka di luar

1
negara yang berlaku seragam untuk semua
pribadi yang berada di wilayah jurisdiksi 2. Batasan Masalah
negara tersebut. Karena mungkin masalahnya sangat besar
dan pembahasan bisa meluas, maka penulis
Menurut Max Weber dikutip David Trubrek dan perlu membatasi bagian kecil saja yang
Satipto Rahardjo, pertumbuhan sistem hukum mungkin bisa jadi jurnal pendek.
modern tidak dapat dilepaskan dari
kemunculan industrialisasi yang kapitalis.yang 3. Tujuan Penelitian
memberikan rasionalitas dan prediktabilitas Untuk mengetahui, menganalisa, dan
dalam kehidupan ekonomi. Hukum modern menjelaskan perkembangan hukum adat
yang dipakai di mana-mana di dunia sekarang dalam paradigma teori, yurisprudensi dan
ini pada intinya mengabdi dan melayani dalam hukum positif di Indonesia.
masyarakat industri- kapitalis.
4. Manfaat Penelitian
Kaedah hukum negara berada di atas kaedah Penulisan penelitian ini diharapkan dapat
hukum lain, dan karenanya harus tunduk memberikan manfaat :
kepada negara beserta lembaga hukum Bagi masyarakat umum, penulisan penelitian
negara. Pemahaman ideologi sentralisme ini diharapkan dapat memberikan pemahaman
hukum, memposisikan hukum adalah sebagai mengenai perkembangan hukum adat dalam
kaedah normatif yang bersifat memaksa, paradigma teori, yurisprudensi dan dalam
ekslusif, hirarkis, sistimatis, berlaku seragam, hukum positif di Indonesia.
serta dapat berlaku; pertama, dari atas ke
bawah (top downwards) di mana 5. Metode Penelitian
keberlakuannya sangat tergantung kepada Penelitian hukum adalah suatu proses untuk
penguasa atau, k edua dari bawah ke atas menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip
(bottom upwards) di mana hukum dipahami hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna
sebagai suatu lapisan kaedah-kaedah normatif menjawab isu hukum yang dihadapi. 1 Dalam
yang hirarkis, dari lapisan yang paling bawah penelitian ini, pendekatan yang digunakan
dan meningkat ke lapisan-lapisan yang lebih adalah pendekatan undang-undang dan
tinggi hingga berhenti di puncak lapisan yang pendekatan konseptual.
dianggap sebagai kaedah utama. Sistem Pendekatan undang-undang dilakukan dengan
hukum yang dipengaruhi idiologi ini, seluruh menelaah semua undang-undang dan regulasi
lapisan kaedah normatif ini baru dianggap sah yang bersangkut paut dengan isu hukum yang
keberlakuannya sebagai suatu aturan hukum sedang ditangani. Fakta yang ada dikaitkan
jika sesuai dengan lapisan (norma, kaedah) dengan peraturan perundang-undangan yang
yang di atasnya. Khusus kaedah utama yang mengaturnya dan yang masih berlaku.
berada di puncak lapisan – disebut Memahami kandungan filosofi yang ada di
grundnorm, yaitu suatu kaedah dasar, nilai belakang undang-undang tersebut akan dapat
dasar yang sudah ada dalam masyarakat, menyimpulkan mengenai ada tidaknya
digunakan sebagai kaedah pembenar oleh benturan filosofis antara undang-undang
negara dalam mengukur kaedah yang berada dengan permasalahan hukum yang dihadapi.
di bawahnya. Maka hukum dan penalaran
hukum yang berlangsung adalah sebagaimana B. Kerangka Teori
William Twining menyebutnya sebagai proses Sentralisme hukum yang juga disebut hukum
a finite closed scheme of permissible modern, dicirikan oleh beberapa sarjana:
justification. Apa yang merupakan hukum misalnya oleh Marc Galanter menyebut tidak
ditentukan oleh legislatif dalam bentuk kurang dari 11 karakteristik hukum modern itu.
rumusan yang abstrak untuk kemudian melalui Beberapa di antaranya adalah: (1) hukum itu
proses stufenweise k onk retisierung lebih bersifat teritorial daripada personal,
(kongkritisasi secara bertingkat dari atas- ke dalam arti penerapannya tidak terikat pada
bawah) sehingga hukum yang semula abstrak kasta, agama atau ras tertentu; (2) sistemnya
menjadi kongkrit. diorganisir secara hirarkhis dan birokratis; (3)
sistem juga rasional yang artinya, tehnik-
1. Rumusan Masalah tehniknya dapat dipelajari dengan
Berdasarkan uraian-uraian fakta tersebut, menggunakan logika dan bahan-bahan hukum
maka dapat disimpulkan mengenai rumusan yang tersedia dan (4) disamping itu hukum
permasalahan sebagai berikut :
Bagaimana perkembangan hukum adat
dalam paradigma teori, yurisprudensi dan 1 (Peter Mahmud Marzuki, 2007 : 35).
dalam hukum positif di Indonesia?

2
dinilai dari sudut kegunaannya sebagai sarana terjadi karena “ kebaikan hati” hukum negara
untuk menggarap masyarakat, tidak dari (by the grace of state law). Ada beberapa tipe
kwalitas formalnya; (5) hukum itu bisa diubah- pluralisme hukum. Tipe pertama disebut:
ubah dan bukan merupakan sesuatu yang Pluralisme Relatif (Vanderlinden 1989),
keramat – kaku; ekssistensi hukum dikaitkan Pluralisme Lemah (J.Griffith 1986) atau
pada (kedaulatan) negara. Puralisme huk um huk um negara (Woodman
Sedangkan Lawrence M. Friedman, yang 1995:9) menunjuk pada kontruksi hukum yang
membagi unsur sistem hukum dalam tiga di dalamnya aturan hukum yang dominan
macam: (1) Struktur, (2) substansi dan (3) memberi ruang, implisit atau eksplisit, bagi
kultur, maka hukum modern lebih tepat jenis hukum lain, misalnya hukum adat atau
menggunakan tolok ukur kultur hukum, maka hukum agama. Hukum negara mengesahkan
hukum lebih dilihat dari sudut kegunaan dan mengakui adanya hukum lain dan
(utilitarian), sehingga ia mencirikan hukum memasukkannya dalam sistem hukum negara.
modern sebagai: (1) sekuler dan pragmatis; Tipe kedua, yang disebut : Pluralisme Kuat
(2) berorientasi pada kepentingan dan atau Desk riptif (Griffiths, atau Pluralisme
merupakan suatu usaha yang dikelola secara Dalam (Woodman) pluralisme hukum
sadar oleh manusia (enterprise); (3) bersifat menunjuk situasi yang di dalamnya dua atau
terbuka dan mengandung unsur perubahan lebih sistem hukum hidup berdampingan,
yang dilakukan secara sengaja. dengan masing-masing dasar legitimasi dan
Sehingga Lawrence M. Friedman lebih dekat keabsahannya.
dengan pendapat David M. Trubek, yang Esmi Warasih dalam pidato pengukuhan
memerinci konsepsi hukum modern sebagai: beliau sebagai guru besar bahwa;“Penerapan
(1) sistem peraturan-peraturan; (2) berupa suatu sistem hukum yang tidak berasal atau
karya manusia dan (3) bersifat otonom, artinya ditumbuhkan dari kandungan masyarakat
merupakan bagian dari negara tetapi sekaligus merupakan masalah, khususnya di negara-
juga terlepas daripadanya. negara yang sedang berubah karena terjadi
Pada posisi (sebagai hukum modern- pen) ini ketidakcocokan antara nilai-nilai yang menjadi
hukum memperoleh penyempitan makna, pendukung sistem hukum dari negara lain
karena hukum semakin menjadi sesuatu yang dengan nilai-nilai yang dihayati oleh anggota
otonom, lepas dari realitas dan nilai yang masyarakat itu sendiri.
seharusnya sebagai substansi dan Paradigma pemahaman hukum adat dan
pendukungnya. Hal ini berakibat pada suatu perkembangannya harus diletakkan pada
keadaan hukum telah cacat sejak lahirnya, ini ruang yang besar, dengan mengkaji secara
sebagai tragedi hukum. luas:
Ideologi sentralisme hukum inilah sebagai ibu
kandung positivisme hukum yang sering 1. Kajian yang tidak lagi melihat sistem
disebut hukum modern, pada paham yang hukum suatu negara berupa hukum
paling ekstrim adalah hukum harus negara, namun juga hukum adat hukum
dibebaskan – dimurnikan - dari nilai-nilai non agama serta hukum kebiasaan;
hukum (etika, moral, agama), sehingga hukum 2. Pemahaman hukum (adat) tidak hanya
sebagai bebas nilai (value free), yang memahami hukum adat yang dalam berada
dipositipkan dalam bentuk peraturan dan yang dalam komunitas tradisional- masyarakat
bersumberkan dari negara dalam bentuk pedesaan, tetapi juga hukum yang berlaku
tertulis. Hukum jenis ini dewasa ini sangat dalam lingkungan masyarakat lingkungan
dominan dan sebagai penopang negara tertentu (hybrid law atau unnamed law);
penganut modern-liberal, bahkan negara ultra- 3. Memahami gejala trans nasional law
modern-neoliberal, dengan didukung oleh para sebagaimana hukum yang dibuat oleh
pengembannya (pendidikan hukum, organisasi multilateral, maka adanya
profesional dengan standarnisasi yang ketat). hubungan interdependensi antara hukum
internasional, hukum nasional dan hukum
Sebaliknya yang berlawanan dengan paham lokal.
sentralisme hukum adalah paham pluralisme Dengan pemahaman holistik dan intregratif
hukum. Paham pluralisme hukum maka perkembangan dan kedudukan hukum
menempatkan sistem hukum yang satu berada adat akan dapat dipahami dengan memadai.
sama dengan sistem hukum lain. Menurut Maka studi hukum adat dalam perkembangan
Satjipto Rahardjo sejak saat timbulnya hukum mengkaji hukum adat sepanjang
modern yang sentral dari negara, maka mulai perkembanganya di dalam masyarakat,
tergusurnya jenis hukum lain seperti hukum dilakukan secara kritis obyektif analitis, artinya
adat dan kebiasaan lainnya. Kalaupun jenis- hukum adat akan dikaji secara positif dan
jenis hukum itu masih berlaku, maka itu semua secara negative. Secara positif artinya hukum

3
adat dilihat sebagai hukum yang bersumber perkembangan jaman. Perkembangan
dari alam pikiran dan cita-cita masyarakatnya. hukum adat dalam dilihat sifatnya serta
Secara negatif hukum adat dilihat dari luar, unsur-unsur yang dari substansinya
dari hubungannya dengan hukum lain baik dan melalui sumber-sumber hukum
yang menguatkan maupun yang melemahkan yang tersedia. Oleh karena itu
dan interaksi perkembangan politik substansi dan pengakuan hukum adat
kenegaraan. Perkembangan hukum secara dapat tercermin dalam :
positif artinya hukum adat akan dilihat a. Dalam Dokrin
pengakuannya dalam masyarakat dalam Prof Satjipto Raharjo:
dokrin, perundang-undangan, dalam Hukum adat dalam hubungannya
yurisprudensi maupun dalam kehidupan dengan industrialisasi, maka bisa
masyarakat sehari hari. Sebaliknya menggunakan pendekatan
perkembangan secara negative bagaimana fungsional. Artinya, kehadiran
hukum adat dikesampingkan dan tergeser hukum dalam masyarakat
atau sama sekali tidak berlaku oleh adanya menjalankan fungsinya sebagai
hukum positif yang direpresentasikan oleh sarana penyalur proses-proses
Negara baik dalam perundang-undangan dalam masyarakat sehingga
maupun dalam putusan pengadilan. tercipta suasana ketertiban
Sebagaimana dinyatakan: hukum adat tertentu. Hukum lalu menjadi
sebenarnya berpautan dengan suatu kerangka bagi berlangsungnya
masyarakat yang masih hidup dalam taraf berbagai proses tersebut sehingga
subsistem, hingga kecocokannya untuk tercipta suatu suasana
kehidupan kota modern mulai dipertanyakan. kemasyarakatan yang produktif.
Hukum adat dalam perkembangannya dewasa b. Dalam Perundang-undangan
ini dipengaruhi oleh: Politik hukum yang dianut Perundang-undang merupakan
oleh Negara dan metode pendekatan yang produk formil hukum yang dibuat
digunakan untuk menemukan hukum adat. oleh badan yang berwenang,
muatan materi yang diatur dalam
perundang-undangan adalah
C. Hasil Penelitian dan Pembahasan termasuk mengatur hukum yang
1. Perkembangan Hukum Adat Dalam bersumber pada hukum adat.
Paradigma Teori c. Dalam yurisprudensi;
Hukum akan selalu menyesuaian d. Kebiasaan (covention, customary
dengan perkembangan dan kebutuhan law, common law)
masyarakat yang senantiasa terus e. Dalam Hukum Lunak (Soft Law)
berubah. Mengenai perkembangan
baru dalam Hukum Adat, 2. Perkembangan Hukum Adat Dalam
diketengahkan teori Prof Koesnoe, Yurisprudensi
yang menyatakan bahwa Yurisprudensi, berasal dari kata
perkembangan hukum adat itu bahasa Latin: jurisprudential, secara
mencakup : 1. Pengertian daripada tehnis artinya peradilan tetap atau
Hukum Adat, 2. Kedudukan Hukum hukum. Yurisprudensi adalah putusan
Adat, 3. Isi dan lingkungan kuasa atas hakim (judge made law) yang diikuti
orang dan ruang. hakim lain dalam perkara serupa (azas
Sumbangsih Hukum adat bagi similia similibus), kemudian putusan
pembentukan hukum nasional, adalah hakim itu menjadi tetap sehingga
dalam hal pemakaian azas-azas, menjadi sumber hukum yang disebut
pranata-pranata dan pendekatan dalam yurisprudensi. Yurisprudensi dalam
pembentukan hukum. Sumbangsih praktek berfungsi untuk mengubah,
hukum adat misalnya dalam kontrak memperjelas, menghapus,
bagi hasil (bidang perminyakan), menciptakan atau mengukuhkan
bidang hukum tanah dan hukum hukum yang telah hidup dalam
perumahan (khususnya rumah susun) masyarakat.
dan azas pemisahan horizontal dapat Dalam hukum adat, yurisprudensi
digunakan dalam pembentukan hukum hukum, selain merupakan keputusan
nasional. pengadilan yang telah menjadi tetap
Hukum adat dengan ciri dan melekat dalam bidang hukum adat, juga
dalam hukum tersebut, maka hukum merupakan sarana pembinaan hukum
adat mampu berkembang sesuai adat, sesuai cita-cita hukum, sekaligus
dengan serta mengikuti kebutuhan dan dari yurisprudensi dari masa ke masa

4
dapat dilacak perkembangan – pergeseran system kekeluargaan
perkembangan hukum adat, baik yang dalam masyarakat adat matrilineal
masih bersifat local maupun yang telah dan masyarakat adat matrilineal ke
berlaku secara nasional. arah system parental atau bilateral.
Perkembangan-perkembangan hukum Yurisprudensi tanggal 17 Januari
adat melalui yurisprudensi akan 1959b Nomor 320K/ Sip/ 1958
memberikan pengetahuan tentang sebagai berikut:
pergeseran dan tumbuhnya hukum
adat, melemahnya hukum adat local  Si istri dapat mewarisi harta
dan menguatnya hukum adat yang pencaharian sang suami yang
kemudian menjadi bersifat dan meninggal dunia;
mengikat secara nasional.  Anak yang belum dewasa
Perkembangan hukum adat melalui dipelihara dan berada dalam
yurisprudensi dapat dilacak dalam pengampuan ibu;
beberapa hal antara lain:  Karena anak berada dalam
a. Prinsip Hukum Adat pengampuan ibu, maka harta
Hukum adat antara lain kekayaan anak dikuasai dan
bersandarkan pada azas: ruk un, diurus oleh ibu.
patut, laras, hal ini ditegaskan  Kedudukan sama laki dan
dalam yurisprudensi Mahkamah perempuan.
Agung-RI Nomor: 3328/Pdt/1984 c. Menguatnya Perlindungan
tanggal 29 April 1986. Terhadap Perempuan Dalam
Dalam Putusan MA-RI Nomor 2898 Hukum Waris
K/Pdt/1989 tanggal 19 Nomember i. Kedudukan Anak Perempuan
1989, berdasarkan sengketa adat Dalam Hukum Waris
yang dimbul di Pengadilan Semula menurut hukum adat
Kefamenanu, Nusa Tenggara dalam masyarakat patrilineal,
Timur, Mahkamah Agung anak perempuan bukan ahli
menegaskan: waris. Namun dalam
“Dalam menghadapi kasus perkembangannya diakui oleh
gugatan perdata yang yurisprudensi bahwa anak
fondamentum petendi dan perempuan sebagai ahli waris
petitumnya berdasarkan pada almarhum orang tuanya.
pelanggaran hukum adat dan
ii. Kedudukan Janda Dalam
penegasan sanksi adat; Bila dalam Hukum Waris
persidangan penggugat dapat Perkembangan awal seorang
membuktikan dalil gugatannya,
janda bukan ahli waris, dalam
maka hakim harus menerapkan kenyataannya kemudian janda
hukum adat mengenai pasal menjadi menderita sepeninggal
tersebut yang masih berlaku di
suaminya, kemudian timbul
daerah bersangkutan, setelah praktek pemberian hibah oleh
mendengar Tetua adat setempat“. suami kepada istrinya untuk
Kaedah hukum selanjutnya:
melindungi dan
“Penyelesaian pelanggaran hukum mempertahankan kehidupan
adat, disamping melalui gugatan sosial ekonomi sepeninggal
perdata tersebut di atas, dapat pula
suaminya, praktek demikian
ditempuh melalui tuntutan pidana semakin lama semakin
ig pasal 5 (3)b UU No. 1 Drt/1951“. melembaga. Perkembangan
hukum adat berikutnya adalah,
b. Menguatnya Kedudukan Keluarga janda sebagai ahli waris
Inti (Gezin) bersama-sama dengan anak-
anak almarhum suaminya.
Golongan masyarakat adat di Selanjutnya janda sebagai ahli
Indonesia terdiri dari golongan waris yang kedudukannya sama
masyarakat patrilineal, golongan dengan ahli waris anak.
masyarakat matrilineal dan Perkembangan selanjutnya
golongan masyarakat parental janda sebagai ahli waris
(bilateral). Dalam kelompok keutamaan, yang
Perkembangannya ternyata menutup ahli waris lainnya.
semakin kuat dan diakuinya

5
Yurisprudensi Putusan MA No. yang dilanggar. Hukum pidana
387K/Sip/1956 tanggal 29 adat mendapat rujukan
Okt0ber 1958, Janda dapat berlakunya dalam pasal 5 ayat 3
tetap menguasai harta gono gini UU No. 1/Drt/1951.
sampai ia meninggal dunia atau Beberapa Yurisprudensi penting
kawin lagi. Puncaknya adalah mengenai Hukum pidana adat
Yurisprudensi Putusan adalah:
Mahkamah Agung No. 3190K/  Perbuatan melanggar hukum
Pdt/`985, tanggal 26 Oktober adat Logika Sanggraha di
1987, janda memiliki hak waris Bali.
dari harta peninggalan  Putusan Pengadilan negeri
suaminya, dan haknya Mataram NO.
sederajad dengan anak 051/Pid.Rin/1988 tanggal 23
kandungnya, jika tidak memiliki Maret 1988. Pengadilan
anak, ia jadi penghalang ahli mempertimbangkannnya
waris saudara suaminya, telah menyebut pelanggaran
terhadap harta gawan dan harta terhadap hukum adat delik
gono gini. Nambarayang atau
iii. Prinsip Jual-Beli Tanah Nagmpesake.
Jual beli tanah sah bila  MA-RI Nomor 481
memenuhi syarat terang dan K/Pid/1986 tanggal 31
tunai, hal ini ternyata secara Agustus 1989 dari PN Ende
konsisten dipegang dalam Problematika organ tubuh
yurisprudensi tentang jual beli wanita, beberapa kali
tanah. Terang artinya transaksi diterapkan ketentuan pasal
peralihan hak atas tanah harus 378 KUHP, menempatkan
disaksikan oleh Pejabat Umum. organ tubuh peremuan
Tunai artinya jual beli tanah sebagai barang. Solusinya
hanya sah bila berlangsung diterapkan pasal 5 (3) b
adanya pembayaran lunas dan Undang-undang Drt Nomor 1
penyerahan tanah pada saat Tahun 1951 LN. Nomor 9
yang sama. Tahun 1950 tanggal 13
iv. Prinsip Pelepasan Hak Sebagai Januari 1951.
Dasar Timbul atau Hilangnya
Hak Bukan Daluarsa Hukum 3. Perkembangan Hukum Adat Dalam
Adat Tidak Mengenal Lembaga Hukum Positif di Indonesia.
Daluarsa. a. Hukum Asli Indonesia
yang disebut lembaga Hukum adat tumbuh dari cita-cita
pelepasan hak dan alam pikiran masyarakat
(rechsververk ing), artinya bila Indonesia. Maka hukum adat dapat
sebidang tanah dibiarkan, maka dilacak secara kronologis sejak
lama kelamaan haknya akan Indonesia terdiri dari kerajaan-
menyurut dan puncaknya akan kerajaan, yang tersebar di seluruh
terlepas, seiring semakin nusantara. Masa Sriwijaya,
renggangnya hubungan fisik Mataran Muno, Masa Majapahit
antara pemilik dan tanah yang beberapa inskripsi (prasasti)
bersangkutan demikian juga menggambarkan perkembangan
sebaliknya. hukum yang berlaku (hukum asli),
v. Hukum Pidana Adat yang telah mengatur beberapa
Dalam sistem hukum adat, bidang, antara lain:
sesungguhnya tidak ada
pemisahan hukum pidana 1. Aturan aturan keagamaan,
dengan hukum lain perekonomian dan
sebagaimana sistem hukum pertambangan, dimuat dalam
barat, penjatuhan pidana Prasasti Raja Sanjaya tahun
semata-mata dilakukan untuk 732 di Kedu, Jawa Tengah;
menetapkan hukumnya 2. Mengatur keagamaan dan
(verk laring van recht) berupa kekaryaan, dimuat dalam
sanksi adat (adatreak tie), untuk prasasti Raj Dewasimha tahun
mengembalikan hukum adat 760;

6
3. Hukum Pertanahan dan 1. Sikapnya tidak selalu tetap
Pertanian ditemukan dalam (tergantungan kepentingan
Prasasti Raja Tulodong, di VOC), karena tidak
Kediri., 784 dan prasasti tahun berkepentingan dengan
919 yang memuat jabatan pengadilan asli;
pemerintahan, hak raja atas 2. VOC tidak mau dibebani oleh
tanah, dan ganti rugi; persoalan administrasi yang
4. Hukum mengatur tentang tidak perlu berkenaan dengan
peradilan perdata, dimuat dalam pengadilan asli;
prasasti Bulai Rakai Garung, 3. Terhadap lembaga-lembaga
860. asli, VOC tergantung pada
5. Perintah Raja untuk menyusus kebutuhan (opportuniteits
aturan adat, dalam prasasti politiek );
Darmawangsa tahun 991; 4. VOC hanya mencampuri urusan
6. Pada masa Airlangga, adanya perkara pidana guna
penetapan lambang meterai menegakkan ketertiban umum
kerajaan berupa kepala burung dalam masyarakat;
Garuda, pembangunan perdikan 5. Terhadap Hukum perdata
dengan hak-hak istimewanya, diserahkan , dan membiarkan
penetapan pajak penghasilan hukum adat tetap berlaku.
yang harus dipungut pemerintah
pusat. D. Kesimpulan
7. Masa Majapahit, tampak dalam Merujuk pada pengertian hukum adat
penataan pemerintahan dan sebagaimana dikemukakan oleh Soepomo,
ketatanegaraan kerajaan maka hukum adat pembentukan dapat
Majapahit, adanya pembagian melalui Badan Legislatif, Melalui
lembaga dan badan Pengadilan. Hukum merupakan kesatuan
pemerintahan. Setelah jatuhnya norma yang bersumber pada nilai-nilai
Majapahir, maka kerajaan (values). Namun demikian hukum dan
Mataram sangat diwarnai oleh hukum adat pada khususnya menurut
pengaruh Islam, maka dikenal karakternya, ada:
peradilan qisas, yang
,memberikan pertimbangan bagi 1. Hukum adat memiliki karakter bersifat
Sultan untuk memutus perkara. netral, dan
Di pedalaman, dikenal peradilan 2. Hukum adat memiliki karakter bersifat
‚padu’ yaitu penyelesaian tidak netral karena sangat erat
perselisihan antara perorangan kaitannya dengan nilai-nilai religius.
oleh peradilan desa, dilakukan
secara damai. Bersamaan itu, Pembedaan ini penting untuk dapat
maka di Cirebon dikenal :
memahami pembentukan atau perubahan
Peradilan Agama memutus
hukum yang akan berlaku dalam
perkara yang membahayakan masyarakat. Hukum netral – hukum lalu
masyarakat umum, Peradilan
lintas- adalah hukum yang relative longgar
Digrama yang memutus
kaitannya dengan nilai nilai religius –
pelanggaran adat, dan perkara susunan masyarakat adat - hal ini
lain yang tidak masuk peradilan
berakibat, perubahan hukum yang
agama; dan Peradilan Cilaga
termasuk hukum netral mudah
adalah peradilan dalam bidang pembentukannya dan pembinaan hukum
perekonomian, perdagangan,
dilakukan melalui bentuk perumusan
jual beli, hutang piutang.
hukum perundang-undangan (legislasi).
Sedangkan hukum adat yang erat
b. Politik Hukum Hindia Belanda
kaitannya dengan nilai-nilai relegius –
Terhadap Hukum Adat
karena itu relative tidak mudah disatukan
Pada awalnya hukum asli secara nasional, maka pembinaan dan
masyarakat yang dikenal dengan
perumusannya dalam hukum positif
hukum adat dibiarkan
dilakukan melalui yurisprudensi.
sebagaimana adanya, namun
kehadiran era VOC dapat dicatat
perkembangan sebagai berikut: Hukum adat oleh ahli barat, dipahami
berdasarkan dua asumsi yang salah,
pertama, hukum adat dapat dipahami

7
melalui bahan-bahan tertulis, dipelajari
dari catatan catatan asli atau didasarkan DAFTAR PUSTAKA
pada hukum-hukum agama. Kedua,
bahwa hukum adat disistimatisasi secara Abdurrachman. 1977. Hukum Adat Menurut
paralel dengan hukum-hukum barat. Perundang-undangan Republik Indonesia.
Akibat pemahaman dengan paradigma Jakarta: Cendana Press.
barat tersebut, maka hukum adat
dipahami secara salah dengan segala Hilman Hadikusuma. 1992. Pengantar Ilmu
akibat-akibat yang menyertai, yang akan Hukum Adat Indonesia. Bandung: Mandar
secara nyata dalam perkembangan Maju.
selanjutnya di masa kemerdekaan
Soekanto. 1955. Meninjau Hukum Adat di
Indonesia. Jakarta: Rajawali.

Soepomo. 1957. Kedudukan Hukum Adat di


Kemudian Hari. Yogyakarta: Gama Press.

Soerjono Soekanto. 1981. Hukum Adat


Indonesia. Jakarta: Rajawali.

Surojo Wignyodipuro. 1983. Pengantar dan


Azaz-Azaz Hukum Adat. Bandung: Alumni.