Anda di halaman 1dari 75

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah ini disusun sebagai salah satu sarana
pendukung mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Tanah.

Dengan ini menyatakan bahwa:

1. Retana Atmim N. (14609)


2. Ario Praditya P. (14649)
3. Binti Lailatul M. (14720)
4. Putri Suri P. (14759)
5. Nuril Fadzillah (14609)
6. Yuniar Mutiara D. (14885)

Golongan/Kelompok : A1/5
Asisten : Faizal Ferdiansyah

Telah menyerahkan Laporan Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah pada:


Hari : Senin
Tanggal : 27 Maret 2017

Yogyakarta, 27 Maret 2017


Asisten,

Faizal Ferdiansyah

2
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah telah disetujui dan disahkan pada:
Hari : Senin
Tanggal : 27 Maret 2017
Tempat : Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Mengetahui,
Asisten Praktikum,

Faizal Ferdiansyah

3
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan taufik
dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Resmi Praktikum Dasar-dasar
Ilmu Tanah ini.
Penyusunan laporan resmi praktikum ini adalah bentuk pertanggungjawaban telah
dilakukannya praktikum percobaan di laboratorium. Laporan ini sebagai pendukung mata
kuliah Dasar-dasar Ilmu Tanah agar dapat lebih memahami dan menganalisis secara langsung
sifat fisik dan sifat kimia tanah yang dipelajari pada pertemuan kuliah dan praktikum di
lapangan.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada:
1. Ir. Suci Handayani, M.P selaku dosen pengampu mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Tanah
dan Koordinator Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian,
Universitas Gadjah Mada.
2. Segenap asisten Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas
Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
3. Teman-teman praktikan golongan A1 yang telah membantu pelaksanaan praktikum
dan penyusunan laporan praktikum ini.
Dalam penyusunan laporan resmi ini tidak lepas dari kesalahan-kesalahan, sehingga
kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Akhirnya, kami
berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Yogyakarta, 27 Maret 2017

Penyusun

4
PENGHARGAAN

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan taufik
dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Resmi Praktikum Dasar-dasar
Ilmu Tanah ini. Dengan tersusunnya laporan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada:
4. Ir. Suci Handayani, M.P selaku dosen pengampu mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Tanah
dan Koordinator Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian,
Universitas Gadjah Mada.
5. Segenap asisten Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas
Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
6. Teman-teman praktikan golongan A1 yang telah membantu pelaksanaan praktikum
dan penyusunan laporan praktikum ini.

Yogyakarta, 27 Maret 2017

Penyusun

5
DAFTAR ISI

Halaman Judul ...................................................................................................... 1


Lembar Pengesahan .............................................................................................. 2
Kata Pengantar ...................................................................................................... 3
Penghargaan .......................................................................................................... 4
Daftar Isi ............................................................................................................... 5
Daftar Tabel .......................................................................................................... 6
Daftar Gambar ...................................................................................................... 7
Daftar Lampiran .................................................................................................... 8
Acara 1. Kadar Lengas Tanah ............................................................................... 9
Acara 2. Nilai Perbandingan Dispersi ................................................................... 15
Acara 3. Tekstur Tanah ......................................................................................... 20
Acara 4. Struktur Tanah ........................................................................................ 27
Acara 5. Konsistensi Tanah .................................................................................. 33
Acara 6. Bahan Organik Tanah ............................................................................. 40
Acara 7. Reaksi Tanah .......................................................................................... 48
Acara 8. Muatan Tanah ......................................................................................... 55
Acara 9. Kapur Tanah ........................................................................................... 63
Lampiran ............................................................................................................... 71

6
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 ............................................................................................................... 11


Tabel 2.1 ............................................................................................................... 17
Tabel 3.1 ............................................................................................................... 22
Tabel 4.1 ............................................................................................................... 29
Tabel 5.1 ............................................................................................................... 35
Tabel 5.2 ............................................................................................................... 35
Tabel 6.1 ............................................................................................................... 42
Tabel 7.1 ............................................................................................................... 50
Tabel 8.1 ............................................................................................................... 57
Tabel 9.1 ............................................................................................................... 66

7
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Acara 1 ................................................................................................. 71


Lampiran Acara 2 ................................................................................................. 72
Lampiran Acara 4 ................................................................................................. 73
Lampiran Acara 6 ................................................................................................. 75
Lampiran Acara 9 ................................................................................................. 76

8
ABSTRAK
Praktikum Dasar – dasar Ilmu Tanah Acara 1 “Kadar Lengas Tanah” yang dilakukan di Laboratorium
Tanah Umum, Departemen tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada pada 13 Februari 2017.
Bertujuan untuk mengetahui kadar lengas tanah kering angin (udara) pada beberapa jenis tanah, serta
faktor yang mempengaruhi kadar lengas tanah. Pada praktikum kali ini digunakan 5 jenis tanah yaitu
Entisol, Ultisol, Vertisol, Alfisol, dan Rendzina dengan ukuran 2mm, 0,5m, dan bongkah. Adapun tanah
yang didapat dari sempel tanah di daerah yogyakarta, Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo, dan Sleman.
Alat yang digunakan pada percobaan kali ini adalah enam buah botol timbang, timbangan, oven, dan
desikator. Metode yang digunakan untuk mengukur kadar lengas kali ini adalah metode gravimetri,
yaitu menghitung selisih berat tanah sebelum dan sesudah di oven. Hasil yang diperoleh yaitu tanah
bongkah Entisol 2,395%, Alfisol 11,6%, Vertisol 14,25%, Rendzina 16,5%, dan Ultisol 12,223%. Untuk
tanah 2mm, Entisol 2,285%, Alfisol 13,9%, Vertisol 13,7825%, Rendzina 17,7 %, dan Ultisol 11,116%.
Untuk tanah 0,5mm, Entisol 2,825%, Alfisol 12,75%, Vertisol 12,35%, Rendzina 18%, dan Ultisol
11,339%.

Kata kunci : Kadar lengas, jenis tanah, ukuran tanah.

PENGANTAR terdapat dalam pori-pori tanah.


Tanah dipengaruhi oleh proses Pemahaman tentang kadar lengas ini akan
gabungan anasir alami yaitu bahan induk, dikontrol pula serapan hara dan pernafasan
iklim, topografi, dan organisme yang akar-akar tanaman yang selanjutnya akan
bekrja pada waktu tertentu. Pengaruh berpengaruh pada pertumbuhan dan
tersebut mengakibatkan kenampakan dan produksi tanaman. Olehkarena itu
sifat-sifat tanah didaerah tertentu berbeda pengetahuan tentang kadar lengas
dengan daerah lain. Dengan kata lain sangatlah penting. Praktikum ini bertujuan
olehkarena intensitas faktor-faktor untuk menentukan kadar lengas yang
pembentuk tanah antar daerah satu dengan terkandung dalam masing-masing jenis
yang lainya berbeda maka tanah yang tanah serta membandingkannya dengan
terbentuk juga berbeda. Dalam suatu sudut kandungan kadar lengas suatu tanah
pandang, tanah sebagai medium untuk dengan tanah yang lain.
pertumbuhan tanaman. Lengas tanah yang Tanah merupakan medium alam
merupakan sifat fisik tanah sangan trmpat tumbuh dan berkembangnya
berperan penting dalam menjaga tumbuhan yang tersusun dari bahan-bahan
keseimbangan tanah. Lengas menyusun padat, cair, dan gas. Bahan penyusun tanah
dua pertiga bagian dari pori-pori tanah dapat dibedakan atas partikel mineral,
pada suhu kamar dan menjadi satu pertiga bahan organik, jasad hidup air dan gas. Air
bagian jika suhu meningkat. Kadar lengas yang terkandung dalam tanah disebut
tanah itu sendiri sering disebut sebagai kadar lengas. Kadar lengas tanah
kandungan uap air (moisture) yang dipengaruhi oleh bebrapa faktor yaitu
anasir iklim, bahan organik, fraksi

9
lempung tanah, topografi, dan bahan pemetaan tanah di suatu tempat ( Besson,
penutup tanah. Kadar lengas dalam tanah 2010).
sangat penting untuk dipahami karena akan Air yang tersimpan dalam lapisan
menetukan proses penyerapan hara dan tanah dapat dimanfaatkan oleh tanaman
pernafasan akar-akar tanaman yang sedangkan bagi yang lainnya akan terus
kemudian berdampak pada kemampuan bergerak kebawah melalui proses perkolasi,
tanaman untuk tumbuh dan bereproduksi. mengisi lapisan tanah, menambah
Lengas tanah atau kelembapan tanah cadangan air tanah yang bisa dipanen
adalah air yang terikat secara adsorbtif dalam watu yang lama. Kandunga lengas
pada permukaan butir-butir tanah. tanah dapat dinyatakan dalam prosentase
Penyerapan air oleh perakaran tergantung berat, volume berat dan tebal air. Terdapat
pada ketersediaan kelembapan air pada dua asas dalam menentukan kadar lengas
tanah. Kapasitas kesimpanan tanah tanah yakni dinyatan dalam fraksi volume
tergantung pada tekstur, kedalaman, dan lengas relatif terhadap volume tanah yang
struktur tanah. Kletersediaan kadar lengas dapat dikonversi menjadi tebal air. Asas
tanah tergantung pada potensi air, kedua adalah dengan cara menyatakan
distribusi akar dan suhu (Asmiwati, 2010). tegangan lengas tanah yang bersangkutan
Kadar lengas merupakan kandungan (Mawardi, 2011).
air yang terdapat didalam pori tanah.
Sebagian besar air yang diperlukan oleh METODOLOGI
tanaman berasal dari tanah. Tanah adalah Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah
kunci terrestrial ekosistem dimana air acara I “Kadar Lengas Tanah”
mengalami proses run off, infiltrasi, dilaksanakan pada hari Senin, 13 Februari
drainase, dan penyimpangan. Proses- 2017 pukul 13.30-17.00 WIB di
proses yang dialami air didalam tanah Laboratorium Tanah Umum, Departemen
sangat kompleks dan manusia memiliki Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas
pengaruh yang besar terhadapnya. Untuk Gadjah Mada Yogyakarta. Dalam
mempelajari perhitungan proses-proses praktikum kali ini alat dan bahan yang
yang terjadi didalam tanah digunakan digunakan adalah contoh tanah halus 2mm,
model hidrolik tanah, dimana air tanah 0.5mm, dan tanah bongkah. Alat dan
diasumsikan menjadi satu dengan bahan yang kedua adalah enam buah botol
komponen tanah yang didapatkan dan timbang sebagai tempat contoh tanah.
Kemuadian timbangan, timbangan ini

10
digunakan untuk menimbang botol kosong, b adalah berat botol timbang
timbang kosong, botol timbang berisi tanah, dengan contoh pasir, dan c adalah berat
dan botol timbang setelah dioven. Yang botol setelah di oven. Metode tersebut
terakhir adalah oven, yang digunakan merupakan metode gravimetri. Rumus
untuk menguapkan kandungan air dalam yang digunakan dalam percobaan ini
tanah agar hanya tersisa debu dan lempung. adalah:
Prinsip analisis yang digunakan dalam
praktikum kadar lengas ini dengan cara HASIL DAN PEMBAHASAN
masing-masing botol kosong diberi label Tabel 1.1 Nilai kadar lengas pada tanah
yang kemudian ditimbang. Setelah itu, 0,5
Tanah bongkah 2 mm asli
mm
botol timbang diisi contoh tanah 2mm,
entisol 2,395 2,825 2,285 33,96
0.5mm, dan bongkahan hingga dua per tiga
alfisol 11,6 12,75 13,9 61,25
volume botol dengan masing-masing dua vertisol 14,25 12,35 13,7825 25,774
ulangan. Kemudian botol timbang diukur Rendzina 16,5 18 17,7 18,19
beratnya. Langkah selanjutnya botol ultisol 11,223 11,339 11,166 29,748
timbang dimasukkan pada oven dengan
Pada praktikum penentuan kadar
kisaran suhu 105◦C-110◦C dengan keadaan
lengas disebut sebagai kandungan air
tutup botol sedikit terbuka. Setelah
(moisture) yang terdapat dalam pori tanah.
ditunggu kurang lebih satu malam, botol
Satuan untuk menyatakan kadar lengas
timbang dikeluarkan dari oven, ditutup
tanah dapat berupa persen berat atau
rapat dan dimasukkan dalam desikator
persen volume (Ritawati, 2015).
selama 15 menit. Langkah selanjutnya
Kelengasan tanah adalah keadaan
adalah menimbang botol timbang dalam
memberikan volume air yang tertahan
keadaan tertutup rapat. Setelah seluruh
didalam pori-pori sistem tanah sebagai
langkah telah terlaksana, semua botol
akibat adanya saling tidak antara massa air
timbang dicuci hingga bersih.
dengan berbagai adhesi dan
Parameter sifat fisika yang diamati
kohesi(Asmiwarti, 2010). Penentuan kadar
pada percobaan ini adalah kadar lengas
tanah memiliki analisis tujuan yaitu
(KL), yaitu dengan menghitung selisih b
mengetahui kadar lengas setiap jenis tanah.
gram dan c gram yang kemudian
Berdasarkan praktikum yang telah
dibandingkan dengan selisih c gram
dilakukan diperoleh hasil yaitu kadar
dengan a gram lalu dikalikan dengan 100%
lengas tanah entisol yaitu 2,395(bongkah),
dengan a adalah berat botol timbang

11
2,825(Ø 0,5 mm), dan 2,285(Ø 2 mm). 2 mm). Jika dibandingkan dengan literatur
Dari data tersebut diketahui bahwa kadar yang ada dari (Perwanto, 2014) bahwa
lengas pada entisol memiliki nilia yang kadar lengas dari vertisol 4.2 %. Maka
terrendah diantara jenis tanah yang lain. nilai tersebut tidak sesuai dengan hasil
Hal tersebut sesuai dengan literatur yang praktikum atau lebih rendah.
ada (Choirina, 2013) yaitu bahwa tanah Ketidaksesuaian hasil tersebut dapat
entisol memeilik kadar lengas 8,19 (%). dipengaruhi oleh topografi dari setiap
Rendahnya nilai kadar lengas dari entisol lokasi berbeda sehingga umumnya
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu topografi yang pada daerah datar
tekstur tanah yang cenderung dominan umumnya akan lebih mendapatkan air
pada fraksi pasir yang memiliki butiran daripada daerah lereng. Selain itu, kondisi
kasar. Tanah yang didominasi oleh fraksi iklim dari setiap lokasi berbeda serta
pasir mempunyai infiltrasi yang tinggi adanya penutup tanah seperti bahan
tetapi kemampuan mengikat air yang organik sisa tumbuhan ikut serta
rendah. Selain itu, kadungan bahan organik mempengaruhi kadar lengas.
yang rendah juga ikut serta mempengaruhi Tanah rendzina pada praktikum ini
kadar lengas tanah. memilik kadar lengas yaitu 16,5
Pada praktikum ini kadar lengas dari (bongkah), 18 (Ø0,5mm), dan 17,7
tanah alfisol 11,6 (bongkah), 12,75 (Ø (Ø2mm). Kandungan kadar lengas tanah
0,5mm), dan 13,9 (Ø 2mm). Hal tersebut merupakan tertinggi diantara jenis tanah
sesuai dengan literatur yang ada lainnya. Hal tersebut dipengaruhi oleh
(Zulkoni,2014) bahwa kadar lengas dari teksturnya yang didominasi lempung yang
tanah alfisol sebesar 10,35%. Kadar lengas tinggi dengan tersturnya yang halus
alfisol dinailai cukup tinggi karena membuat tanah rendzina memiliki
dipengaruhi oleh kandungan mineral permeablelitas rendah sehingga
primer yang mudah lapuk, mineral liat kemampuan menahan air tinggi. Selain itu,
kristalin dan unsur haranya yang cukup kandungan bahan organik yang tinggi
tinggi. Selain itu, teksturnya yang agak membuat rendzina memiliki kadar lengas
kasar namun masih terdapat lempung ikut yang tinggi.
mempengaruhinya. Tanah ultisol pada praktikum ini
Tanah vertisol pada praktikum ini memiliki kadar lengas sebesar
diperoleh kadar lengasnya 14,25 11,223(bongkah), 11,339(Ø 0,5mm), dan
(bongkah), 12,35 (Ø 0,5mm), 13,7825 (Ø 11,166(Ø2 mm). Hasil tersebut sesuai

12
dengan literatul yang ada (Sipayung, 2013) merupakan alat untuk mengukur tekanan
yaitu 1.3-1.5 g/cm3 yang dinilai cukup potensial terhadap air.
tinggi. Kadar lengas tersebut dipengaruhi
oleh terktur dari liat berpasir. Selain itu, KESIMPULAN
penambahan bahan organik pada tanah Dari praktikum didapat kadar lengas
mampu memperbaiki struktur tanah yang Entisol bongkah sebesar 2,395%, Ø 0,5mm
berdampak pada lengas tanah yang sebesar 2,825%, Ø 2mm sebesar 2,285%,
umumnya memiliki bahan organik yang dan asli 33,96%. Tanah Alfisol bongkah
rendah. sebesar 11,6%, Ø 0,5mm sebesar 12,75%,
Penentuan kadar lengas lengas Ø 2mm 13,9%, dan asli 61,25%. Tanah
diperlukan dalam dunia pertanian sebab Vertisol bongkah sebesar 14,25%, Ø
dengan mengetahui kadar lengas maka 0,5mm 12,35%, Ø 2mm 13,7825%, dan
dapat diketahui serapan hara yang asli 25,774%. Tanah Rendzina bongkah
berpengaruh pada pertumbuhan komoditas 16,5%, Ø 0,5mm sebesar 18%, Ø 2mm
yang akan ditanam. Selain itu, dengan 17,7%, dan asli 18,19%. Kadar lengas
mengetahui kadar lengas dari setiap jenis tanah Ultisol bongkah sebesar 11,223%, Ø
tanah maka dapat diketahui seberapa 0,5mm 11,339%, Ø 2mm sebesar
pengairan yang dibutuhkan untuk lahan 11,116%, dan asli 29,748%. Urutan
pertanian sesuai dengan jenis tanah serta besarnya kadar lengas tanah bongkah yaitu
untuk mengetahui nilai perbandingan Entisol < Ultisol < Alfisol < Vertisol <
dispersi yang penting untuk pengololaan Rendzina. Urutan dari diameter 0,5mm
tanah sebagai usaha memaksimalkan Entisol < Ultisol < Vertisol < Alfisol <
produksi pertanian. Rendzina. Urutan dari diameter 2mm
Metode yang digunakan dalam Rendzina > Alfisol > Vertisol > Ultisol >
praktikum ini adalah metode gravimetri Entisol.
dimana mempunyai prinsip menghitung
selisih berat lengas sebelum dan sesudah DAFTAR PUSTAKA
pengovenan pada suhu tertentu. Selain itu, Asmiwati. 2010. Analisa kadar lengas
tanah dengan metode gips pada
penentuan kadar lengas dapat dilakukan
pertumbuhan tanaman cabai. Jurnal
dengan metode volumetri yang dilakukan Teknologi Pertanian Andalas. Vol 14
dengan membandingkan volume air dalam
Besson A, I Causin, H. Bourrenae, B.
tanah dengan volume tanah. Tensiometer Nicouland, C. Pasquier: G. Richard, A.
Dosigny, D. King. 2010. The Spatial
and Temporal Organization of Soil

13
Water at the Filed Scale as Described
by Dectrical Resistivity Measurement.
European Journal of Soil Science 61:
120-132.

Choirina, Y., Sudadi dan H. Widiyanto.


20013. Pengaruh pupuk alami
bermikrobia (Bio- Natural Fertilize)
terhadap serapan fosfor dan
pertumbuhan kacang tanah pada tanah
Alfisol, entisol, dan Vertisol. Jurnal
Ilmu Tanah dan Ageoklimatologi
10(2).
Evan Sanjaya Sipayung, Gantar
Sitanggang, M. M. B Damanik. 2014.
Perbaikan sifat fisik dan kimia tanah
ultisol Simalingkar B Kecamatan
Pancur Batu Dengan pemberian pupuk
organik supernasa dan rockposhphit
serta pengaruhnya terhadap produksi
tanaman jagung (Zea mays L.). Jurnal
Online Agroekoteknologi . ISSN No.
2337- 6597 Vol.2, No.2 : 393- 403.

Mawardi, M. 2011. Tanah, Air, Tanaman


Asas Irigasi dan konservasi Air. Bursa
Ilmu. Yogyakarta

14
ABSTRAK
Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah acara II “Nilai perbandingan dispersi (NPD)” yang dilakukan
pada tanggal 13 Februari 2017 di Laboratorium Tanah Umum, Departemen Tanah fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada ini bertujuan untuk mengukur kepekaan suatu jenis tanah terhadap erosi.
Bahan yang digunakan paa praktikum ini adalah jenis tanah Entisol, Alfisol, Vertisol, Rendzina, dan
Ultisol. Tanah yang digunakan berØ 2mm. Metode untuk mengukur NPD adalah derngan
mennetukan debu dan lempung total, serta penyebaran debu dan lempung aktual. NPD sendiri, dapat
dihoig dengan berat debu dan lempung aktual, dibagi dengan berat debu dan lempung total dikali
seratus persen. Semakin besar nilai NPD maka tanah akan peka engan erosi, begitu pula sebaliknya.

Kata kunci : Nilai perbandingan dispersi (NPD), lempung, debu, erosi.

PENGANTAR (NPD) dan menentukan debu dan


Tanah merupakan suatu sistem lempung aktualnya.
komplek yang terjadi dari lima komponen Tanah adalah bagian dari lahan yang
yaitu batuan-batuan, bahan organik, air, merupakan kerak atau lapisan teratas
dan zat-zat terlarut serta udara. bumi yang mampu menunjang kehidupan
Komposisi tanah berbeda akan tanaman secara permanen dan mengatur
menyebabkan perbedaan sifat tanah, baik tata air pada lapisan tersebut.
sifat fisik maupun kimianya. Suatu Berdasarkan definisinya tanah disebut
kejadian hujan dengan ju mlah intensitas juga sebagai alat produksi pertanian.
tertentu dapat menyebabkan tingkat erosi Tanah sebagai tubuh alam bebas hasil
yang berbeda jika jatuh pada jenis tanah kerja gaya pembentukannya, tanah sebgai
yang berbeda. Jadi masing-masing tanah sistem dinamik, dan sebagai ilmu
memiliki ketahanan yang berbeda pengetahuan alam murni. Menurut
terhadap erosi. Mudah tidaknya suatu kesepakatan para ahli tanah dunia, tanah
tanah tererosi disebut erodibilitas. Nilai didefinisikan sebagai tubuh alam bebas
erodibilitas yang tinggi, dengan curah yang menduduki sebagian besar planet
hujan yang sama, akan lebih mudah bumi yang memiliki sifat sebagai
tererosi daripada tanah dengan tingkat interaksi kegiatan iklim dan jasad hidup
erodibilitas rendah. Daya tahan tanah terhadap nbahan induk dalam keadaan
terhadap erosi bervariasi, untuk relief tertentu selama jamgka wakltu
mengetahui daya taham tamah terhadap tertentu pula (Sholahah, 2014).
erosi dapat diketahui dengan menghitung Tekstur tanah merupakan salah satu
nilai perbandinga dispersi (NPD). sifat fisik tanah yang termasuk
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk didalamnya erodibilitas tanah harus kita
memnentukan nilai perbandingan dispersi ketahui agar kita menemukan jenis tanah
apa yang cocok untuk tanah tersebut.

15
Salah satu mengetahui cara erodibilitas dalam proses pembentukn agregat,
suatu tanah yaitu dengan melakukan sehingga lempung bersama polimer
perhitungan nilai perbandingan dispersi organik dapat berperan dalam proses
(NPD) (Bahaerah dkk, 2010). pembentukan agregat serta distribusi
Tanah dapat mengalami erosi yaitu susunan dan ukuran agregat yang
pengurangan ju mlah tanah dipermukaan terbentuk dapat membentuk kualitas
tanah yang dilakukan oleh air maupun struktur tanah (Mark,2014).
angin. NPD meruypakan perbandingan
antara partikel lempung dan debu yang METODOLOGI
mudah terdispersi oleh air dengan kadar Pada praktikum dasar- dasar ilmu
lempung dan debu keseluruhan dalam tanah acara VII yaitu “Muatan Tanah”
tanah. Nilai NPD secara tidak langsung dilaksanakn pada hari senin 13 Februari
menggambarkan persentase kadar 2017 di Laboratorium Tanah Umum,
lempung dan debu yang mudah Departemen Ilmu Tanah, Fakultan
dilepaskan atau terlepas dalam agregat Pertanian, Universitas Gadjah Mada,
tanah (Rafael dkk, 2013). Yogyakarta. Adapun alat dan bahan yang
Pemahaman akan nilai dispersi digunakan pada praktikum ini yaitu
sangatlah penting dalam hal mengetahui contoh tanah kering Ø 2mm sebagai
kadar tanah terutama kaitannya dengan tanah yang akan diamati,yang kedua
erosi. Dengan adanya perbandingan nilai yaitu beaker glass 500 ml yang akan
dispersi dapat diketahui bahaimana digunakn untuk memasukan air kedalam
kondisi tanah tersebut. Nilai tabung sedimentasi ,selanjutnya tabung
perbandingan dispersi (NPD) adalah sidementasi 1 liter sebagai tempat untuk
suatu nilai yang menunjukkan suatu nilai sedimentasi tanag tersebut, lalu ada
agregat oleh ikatan lempung dan debu. cawan penguap (porselin) 50 ml yang
Nilai perbandingan dispersi yang tinggi digunakan untuk tempat supensinyang
menimbulkan bahwa sebagian besar debu selanjutnya akan di oven, serta ada
dan lempung mudah dispersikan oleh air. termometer untuk mengukur suhu pada
Sebaliknya apabila nilai perbandingan tabung sedimentasi.
dispersi rendah hal tersebut Untuk melakukan percobaan ini
mengidentifikasikan bahwa secara aktual diperlukan langkah–langkah sebagai
hanya sedikit debu dan lempung yang berikut: petama ditimbang a gram contoh
didispersikan oleh air. Fraksi lempung tanah Ø 2 mm (misal 15 gram), lalu
organik diharapkanmampu berperan baik tabung sedimentasi dibersihkan dan

16
dikeringkan .contoh tanah dimasukan suhu 105ºC - 110ºC sampai kering.
kedalam tabung sedimentasi 1000 Seytelah dingin ditimbang (misal c gram).
ml.tabung dimiringkan sehingga contoh Perhitungan :
tanah melebar sepanjang kira-kira 4-5 cm [D+L]aktual = (c - b)
didasar tabung.lalu aquades ditambahkan
lewat dinding tabung dengan tombol HASIL DAN PEMBAHASAN
pancar (jangan mengenai tanah langsung) Tabel 2.1 Nilai NPD tiap jenis tanah
dan aquades dibiarkan merembes Jenis (D+L)
No NPD(%)
perlahan secara kapilasitas, setelah tanah tanah aktual

menjadi basah ditambahkan aquades 1 Alfisol 7,75% 8,03


2 Rendzina 6,28% 6,627
lewat dinding tabung sampai volume 250
3 Ultisol 6,28% 6,6737
ml. Diamkan selama 15 menit agar 4 Vertisol 51581% 5,4838
dispersi sempurna. Setelah itu aquades 5 Entisol 31,50% 91,48
ditambahkan dengan beker glass secara
perlahn –lahan lewat dinding tabung Nilai perbandingan dispersi adalah
hingga volume 800 ml, dilanjutkan perbandingan partikel lempung dan
dengan botol pancar sehingga volume partikel debu yang mudah mengalami
1000 ml. Lalu suhu air dalam tabung terdispersi oleh air dengan nilai debu dan
sedimentasi diukur. Waktu tunggu lempung total (Dian et al., 2013). Tujuan
pemipetan ditetapkan dengan dilihat tabel dilakukannya analisis nilai perbandingan
hubungan suhu dan waktu penggendapan dispersi adalah mengetahui nilai NPD
untuk kedalam 20 cm. Disiaapkan cawan tanah yang sebagai indikator erosi. Pada
penguap kosong berlabel dan ditimbang tingkatan NPD nilai yang mencapai <15%
(bgram). Tabung sedimentasi ditutup berarti tahan terhadap erosi, niali 15-19%
dengan plastik dan digojok secara kuat berarti agak peka terhadap erosi dan >19%
dengan bolak balik sebanyak 15 kali yang berarti peka terhadap erosi (Dian et
dengan kecepatan 2 detik bolak balik, al., 2013).
tabung diletakkan dan waktu pemipetan Berdasarkan praktikum percobaan
dimulai. Setelah waktu pemipetan kurang yang telah dilakukan diperoleh hasil nilai
dari beberapa detik (5-10), pipet volume NPD tanah Entisol sebesar 91,48%,
dimasukkan secara perlahan sampai Alfisol 8,03%, Vertisol 5,4838%,
kedalaman 20 cm, suspensi dipipet Rendzina 6,627%, dan tanah Ultisol
sebanyak 25 ml. Suspensi dituang 6,6737%. Hasil tersebut berarti bahwa
kedalam cawan penguap dan dioven pada tanah entisol rentan terhadap erosi,

17
sedangkan keempat jenis tanah lainnya tanah yang memilkiki kandungan pasir
Alfisol, Vertisol, Ultisol, dan Rendzina lebih besar (Hardjowigeno, 1992).
tahan terhadap erosi. Berdasarkan Pada bidang pertanian mengetahui
percobaan yang dilakukan Handayani dan NPD berguna untuk memilih tanah yang
Sunarminto (2002) dapat diketahui cocok untuk pertanian karena tanah yang
bahwa nilai NPD tanah Entisol 20,71% peka terhadap erosi cenderung kurang
(peka erosi), Alfisol 9,87% (tahan erosi), subur sehingga kadungan tanah sering
Vertisol 7,64% (tahan erosi), Rendzina terkikis air. Sebaliknya tanah tahan erosi
5,42% (tahan erosi), dan tanah Ultisol adalah tanah yang subur karenan mampu
8,43% (tahan erosi). Percobaan ini sudah menyimpan unsur hara dan air didalam
sesuai teori sebab tanah muda seperti tanah sehingga cocok untuk tanah
Entisol memang seharusnya sangat peka pertanian. Sehingga pada hasil percobaan
terhadap erosi, sedangkan Vertisol tanah Entisol merupakan tanah yang tidak
sebagai tanah yang paling tahan terhadap cocok untuk pertanian karena NPD nya
erosi sebab vertisol mempunyai mencapai 91,48% sehingga yang artinya
kandungan lempung tinngi yang sudah peka terhadap erosi sedangkan keempat
terdispersi. tanah lainnya seperti Alfisol, vertisol,
Nilai perbandingan dispersi Ultisol, dan rendzina cocok untuk
dipengaruhi perbandingan kadar lempung pertanian karena NPD < 15%.
dan kadar pasir yang terkandung dalam Pada praktikum ini digunakan
tanah. Pada tanah dengan kadar lempung metode sedimentasi (analisis granular
tinggi akan sulit terdispersi karena cara pipet). Metode sedimentasi
kurangnya koloid sehingga mempunyai dilakukan dengan menggunakan tabung
luas permukaan yang besar. Ukuran sedimentasi sebagai tempat air dan
tersebut membuat lempung mempunyai tanahnya, setelah digojok air dan tanah
kemampuan menyimpan air yang besar yang sudah bercampur diambil
sehingga semakin banyak kandungan menggunakan pipet volume. Proses
lempung maka semakin besar pula selanjutnya yaitu dilakukan waktu tunggu
kapasitas menahan air total maksimal. yang disesuaikan suhu air dan kedalaman.
Hal tersebut, membuat air tidak turun Selain itu, pada praktikum ini
kebawah dan erosi dapat dicegah. dilakukan beberapa perlakuan yaitu
Sebaliknya dengan pasir yang memiliki penambahan aquadest kedalam tabung
tekstur halus mudah terbawa air yang melalui botol pancar yang dilewatkan
menyebabkan erosi mudah terjadi pada didinding tabung (tidak boleh mengenai

18
tanah langsung karena akan merusak Dian, C., P.M. Panggih., H.W. Andhi.,
A.F. Putri., K.S. Darmoyo. 2013.
agregat tanah dan komponen yang ada
Nilai Perbandingan Dispersi.
apabila terkena tanah secara langsung. Yogyakarta.
Perlakuan penggojokan dilakukan supaya
Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu tanah Edisi
fraksi membentuk tanah yang berupa Revisi. Maedyatama perkosa. Jakarta.
debu, lempung, dan pasir terpisah.
Mark vincent A., Clutaria., and Carios
Perlakuan pendiaman tabung selama 15 P.C.D. 2014. Event based soil
erosion estimation in atropical
menit setalah selesai penambahan
watershed. International Journal of
aquades berfungsi untuk menurunkan forest. Vol 4(2) : 21 – 57.
gaya gesek dan kerapatan butiran tanah
Rafael, W., Euganiust N., Boguslaw
akan bertambah. padolski., Jerzy Kozyara., and Rafael
Pudelko. 2013. Protective role of
grassland a gainst soil water erosion
KESIMPULAN caused by extrame rainfall events as
compared to black fallow. Journal
Dari praktikum yang telah dilakukan,
Agriculture and Environtment. Vol
didapatkan nilai NPD dari setiap jenis 11(1) : 1069 – 1071.
tanah yaitu 91,48% untuk tanah Entisol
(peka terhadap erosi), tanah Alfisol
sebesar 7, 7452% (tahan erosi), tanah
Vertisol sebesar 5,1581%(tahan erosi),
tanah Rendzina sebesar 6,627% (tahan
erosi), tanah Ultisol sebesar 6,6737%
(tahan erosi). Selain itu didapatkan nilai
debu dan lempung aktual dari setiap jenis
tanah yaitu tanah entisol sebesar
31,50378, alfisol sebesar 7,7452, vertisol
sebesar 5,1581, rendzina sebesar 6,277,
ultisol sebesar 6,225.

DAFTAR PUSTAKA
Bahareh A., Ahmad J., and Naser H.
2010. Decline in soil quality as a
result of land use chang in ghareh
aghaj watershed of semirom, Istaham,
Iran. African Journal of Agricultural.
Vol 6(4) : 992 – 993.

19
ABSTRAK
Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah yang berjudul Tekstur Tanah (Kualitatif) yang dilaksanakan pada
Senin, 20 Februari 2017 di Laboratorium Tanah Umum Fakulats Pertanian Universitas Gadjah Mada
bertujuan untuk mengetahui tekstur tanah kualitatif pada tanah Entisol, Alfisol, Rendzina, Ultisol dan
Verstisol. Tekstur tanah adalah perbandingan antara komposisi fraksi-fraksi penyusun tanah, yang
termasuk fraksi-fraksi penyusun tanah yaitu pasir, debu, dan lempung. Pada praktikum ini digunakan
metode kuantitatif dikarenakan metode ini dianggap mudah dan tidak membutuhkan terlalu banyak alat
dan bahan. Dari praktikum ini diperoleh hasil bahwasanya Entisol mempunyai tekstur pasir geluha,
Alfisol dengan tekstur lempung, Rendzina memiliki tekstur lempung pasiran, sedangkan ultisol
bertekstur lempung debuan, kemudian vertisol mempunyai tekstur lempung.

Kata kunci: tekstur tanah, kualitatif, pasir, debu, lempung

PENGANTAR Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu


Tanah adalah bahan mineral atau diadakan percobaan untuk menetapkan
organic yang terletak di permukaan bumi tekstur tanah secara kualitatif. Tujuan
yang telah dan sedang terus mengalami diadakannya praktikum ini adalah untuk
perubahan yang dipengaruhi oleh factor- menetapkan tekstur tanah secara kualitatif.
faktor diantaranya bahan induk, iklum, Tekstur tanah merupakan salah
organisme, topografi, dan waktu (Harahap, satu sifat fisik tanah. Keadaan sifat fisik
et.al., 2014). Komposisi tanah yang tanah yang baik dapat memperbaiki
berbeda akan menyebabkan perbedaan lingkungan untuk perakaran tanaman dan
sifat tanah, baik sifat fisik maupun secara tidak langsung memudahkan
kimianya. Salah satu sifat fisik tanah yaitu penyerapan hara (Arifin, 2010). Definisi
tekstur tanah. Tekstur tanah menunjukkan dari tekstur tanah adalah susunan relatif
kasar atau halusnya suatu tanah. Tekstur dari tiga ukuran zarah tanah, yaitu pasir
tanah juga memberikan presentase relatif berukuran 2 mm – 50 µm, debu berukuran
ari ketiga unsur batuan, yaitu pasir, debu, 50 – 2 µm, dan liat berukuran <2 µm (Soil
dan lempung (Prawirohartono, 1991). Survey Staff, 1998). Berdasarkan atas
Tekstur tanah penting untuk diketahui perbandingan butir-butir pasir (sand), debu
sebab komposisi ketiga fraksi-fraksi butir- (silt), dan liat (clay), maka tanah
butir tanah (fraksi padat, cair, gas) akan dikelompokkan ke dalam beberapa kelas
menentukan kemampuan tanah dalam tekstur diantaranya kasar, agak kasar,
menyimpan air, aerasi serta permeabilitas, sedang, agak halus, dan halus. Kelas kasar
kapasitas tukar kation, dan kesuburan terdiri dari pasir dan pasir berlempung.
tanah. Data tekstur juga sangat diperlukan Kelas agak kasar terdiri dari lempung
untuk evaluasi tata air, retensi air, berpasir dan lempung berpasir halus
konduktivitas hidrolik, dan kekuatan tanah. (Hakim dkk., 1986). Kelas sedang terdiri

20
dari lempung berpasir sangat halus, berperan dalam menyimpan dan
lempung, lempung berdebu, dan debu. menyediakan hara. Fraksi halus berperan
Kelas agak halus terdiri dari lempung liat, menyatukan butiran tanah membentuk
lempung liat berpasir, dan lempung liat agregat, sedangkan fraksi kasar baik untuk
berdebu. Dan terakhir kelas halus terdiri keseimbanagan air-udara dalam tanah
dari liat berpasir, liat berdebu, dan liat (Maas, 1996). Antara fraksi-fraksi tanah
(Hardjowigono, 2003). Tanah bertekstur (pasir, debu, dan lempung) proporsi
liat mempunyai permukaan yang lebih komposisinya pada jenis tanah satu dengan
besar sehingga mampu menahan air dan yang lain berbeda-beda. Dengan kata lain
menyediakan unsur hara yang tinggi fraksi dominan pada suatu tanah tertentu
(Arisandy, 2012). akan menjadi ciri dan jenis tanah yang
Tekstur tanah merupakan salah bersangkutan.
satu sifat fisik tanah yang tidak mungkin
berubah. Tekstur tanah hanya dapat METODOLOGI
berubah apabila ada pencampuran dengan Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah
tanah lain yang bertekstur berbeda. Oleh ini dilaksanakan di Laboratorium Dasar-
karena itu, tekstur tanah dapat digunakan Dasar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian
untuk menduga asal bahan induk tanah, Universitas Gadjah Mada pada hari Senin
proses-proses yang berlangsung pada suatu tanggal 20 Februari 2017 pukul 13.30-
bentang lahan, bahkan dalam penetapan 16.30 WIB. Alat dan bahan yang
analisis tanah. Selain itu, karena tekstur digunakan dalam praktikum acara III yaitu
tanah merupakan komposisi fraksi-fraksi contoh tanah kering angin ukuran Ø 2 mm
berlainan sifatnya maka dapat pula dan aquadest untuk mencampurkan adonan.
mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah Sedangkan alat yang digunakan yaitu
lainnya (Ghidyal dan Tripathi, 1987). piring kecil untuk membuat adonan tanah.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi Langkah-langkah yang dilakukan
tekstur tanah antara lain bahan induk, dalam percobaan ini yang pertama yaitu
topografi (relief), organisme dan iklim. dengan membuat adonan dari contoh tanah
Peranan tekstur tanah sangat Ø 2 mm. Pada percobaan ini tanah yang
menentukan sifat tanah secara menyeluruh. dipakai adalah jenis tanah entisol. Adonan
Tekstur tanah memiliki peran penting dibuat dengan menambahkan aquadest
dalam pengelolaan hara karena sedikit demi sedikit dengan diremas-remas
mempengaruhi pada retensi hara (Anonim, sehingga adonan menjadi homogen dan
2011). Lempung dan bahan organik sangat tidak melekat pada jari ataupun telapak
21
tangan. Kemudian adonan dibuat seperti untuk kelas tekstur lempung memiliki
bola dengan cara dikepal-kepal, apabila kadar lempung 70% dan dapat dipilahkan
adonan tidak dapat dibuat bola maka menjadi lempung biasa 50% dan lempung
adonan termasuk kelas tekstur pasir. berat 80%, kemudian lempung pasiran dan
Namun jika dapat dibuat bola maka dapat lempung debuan memiliki kadar lempung
dilanjutkan ke langkah berikutnya yaitu biasa sebesar 45%. Sedangkan kelas
dengan membuat adonan menjadi pita tipis tekstur geluh lempungan dan geluh
dengan ukuran kurang lebih 1-2 mm lempung debuan memiliki kadar lempung
dengan cara ditekan antara ibu jari dengan sebesar 35%. Untuk kelas tekstur geluh
jari telunjuk hingga ujung pita tanah lempung pasiran memiliki kadar lempung
menjulur melampaui ujung jari telunjuk. sebesar 25%. Kadar lempung yang kelas
Jika adonan dibuat seperti pita panjangnya tekstur geluh sebesar 20% dan kadar
kurang dari 0,5 cm maka tanah tersebut lempung geluh debuan sebesar 15%.
termasuk dalam kelas tekstur pasir geluhan. Selanjutnya untuk kelas tekstur geluh
Namun jika adonan tanah tersebut dapat pasiran mempunyai kadar lempung sebesar
dibuat pita dengan panjang lebih dari 0,5 10% dan kelas tekstur pasir geluhan, pasir,
cm maka dapat dilanjutkan dengan dan debu memiliki kadar lempung sebesar
langkah selanjutnya yaitu dibuat bubur 5%.
dengan kandungan air di atas jenuh. Akan
tetapi pada percobaan dengan tanah entisol HASIL DAN PEMBAHASAN
pita yang didapat tidak dapat melebihi 0,5 Tabel 3.1 Hasil Praktikum Tekstur Tanah
cm, sehingga tanah entisol merupakan N
Tanah Tekstur BV BJ
tanah dengan kelas tekstur pasir geluhan. (%)
Pasir
Dari percobaan yang dilakukan Entisol 1,08 2,55 57,4
geluhan
kelompok lain didapat tanah alfisol dan
Alfisol Lempung 1,2 1,95 38,3
vertisol memiliki tekstur lempung, tanah
Lempung
rendzina memiliki tekstur lempung pasiran Rendzina 1,67 1,81 7,73
pasiran
dan tanah ultisol memiliki tekstur lempung Lempung
Ultisol 1,34 1,93 30,6
debuan. Setelah masing-masing kelas debuan

tekstur tanah diketahui, selanjutnya Vertisol Lempung 1,9 1,95 2,57

diperlukan angka kadar lempung dan Tekstur adalah perbandingan relatif


digunakan harga tengah kadar lemoung pasir, debu, liat serta berhubungan erat
kelas tekstur yang bersangkutan menurut dengan pergerakan air dan zat terlarut,

diagram segitiga tekstur USDA yaitu udara, pergerakan panas, berat volume

22
tanah, luas permukaan spesifik, praktikan bahwa tanah vertisol memiliki
kemudahan tanah memadat, dll (Hillel, tekstur lempung.
1982). Tekstur tanah adalah proporsi Tanah alfisol berdasarkan
relatif dari pasir debu dan liat (jumlahnya percobaan menunjukkan tekstur lempung.
100%) (Harahap dkk., 2014). Tujuan Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian
analisis tekstur tanah yaitu untuk terdahulu oleh (Asfan, et.al., 2012) yang
mengetahui tekstur dari masing-masing menunjukkan bahwa tanah alfisol
tanah dan mengetahui perbedaan tekstur memiliki tekstur lempung liat berdebu
utama yang terkandung dalam masing- dengan proporsi fraksi yaitu 56% debu, 28%
maisng jenis tanah (tekstur utama terdiri liat, dan 16% pasir.
atas pasir, debu, dan tanah liat). Tanah ultisol memiliki tekstur
Tanah entisol memiliki tekstur bervariasi dipengaruhi bahan induk
kasar yang disebabkan oleh kadar airnya tanahnya. Tanah ultisol dari granik yang
yang rendah dan didominasi oleh pasir. kaya mineral kuarsa umumnya mempunyai
Berdasarkan penelitian (Arifin, 2011) tekstur kasar seperti liat berpasir,
bahwa entisol memiliki peresentase fraksi sedangkan tanah ultisol dari batu kapur,
tanah yaitu pasir 83,69%, debu 13,12%, batuan andesit dan tufa cenderung
dan lempung 3,20% yang menunjukkan mempunyai tekstur yang halus seperti liat
bahwa pasir mendominasinya dan masuk dan liat halus (Prasetyo dkk., 2010). Hal
kategori oasir geluhan. Hal tersebut sesuai tersebut sesuai dengan hasil pengamatan
dengan praktikum yang telah dilakukan praktikum tanah ultisol yang bertekstur
praktikan dengan metode kualitatif yang lempung debuan.
menghasilkan data bahwa tanah entisol Tanah rendzina merupakan tanah
masuk kategori pasir geluhan. yang didominasi dengan tekstur lempung.
Tanah vertisol memiliki sifat Berdasarkan penelitian oleh (Ramli dkk.,
kembang kerut yang tegas yaitu keras bila 2009) umumnya tanah rendzina
kering dan lekat bila basah. Berdasarkan berasosiasi dnegan inseptisols dan alfisol.
penelitian (Kusnarta, 2011) bahwa tanah Teksturnya liat sampai dengan lempung
pada jenis vertisol memiliki kadar fraksi berliat. Hal tersebut sesuai dengan hasil
lemoung berkisar 38,5% hingga 64,3% praktikum
dengan rata-rata 45,8% yang berarti bahwa Faktor yang mempengaruhi tekstur
verstisol merupakan tanah bertekstur tanah yaitu iklim, bahan induk, topografi,
lempung. Hal tersebut sesuai dengan waktu, dan organisme (Harahap, 2014).
praktikum yang telah dilakukan oleh Iklim memiliki analisir iklim yaitu curah
23
hujah dan temperature. Curah hujan udara, air, dan zat hara di dalam tanah dan
berperan sebagai komposisi kimiawi berpengaruh pada kegiatan
mineral penyusun tanah dan sifat fisik mikroorganisme. Sifat fisik lainnya yaitu
tanah. Sedangkan temperature nilai BV dan BJ. Nilai BJ dipengaruhi
berpengaruh pada peningkatan laju reaksi dengan macam bahan penyusun butiran
kimia sehingga proses pembentukan liat tanah, semakin besar bahan organic
juga akan meningkat. Pada topografi akan semakin kecil nilai BJ. Pada fraksi
mempengaruhi jenis tanah yang terbentuk lempung mempunyai berat jenis yang lebih
sehingga tekstur yang dihasilkan pada kecil dari yang lainnya sehingga nilai BJ-
pada setiap jenis tanah akan berbeda. nya lebih kecil. Pada nilai BV semakin
Faktor selanjutnya yaitu pembentukan rendah nilainya semakin tersusun rapat
bahan induk merupakan batuan induk pori-pori mikro yang mendominasi
keras yang terbentuk oleh proses sehingga tekstur lempung lebih dominan.
dekomposisi kimiawi partikel mineral Dengan mengetahui tekstur tanah
dalam batuan tersebut. Bahan induk yang maka akan dapat ditentukan juga vegetasi
tersusun oleh partikel intermedia akna yang cocok untuk dikembangkan sesuai
berkembang menjadi berbagai jenis tanha. jenis tanah masing-masing daerah. Selain
Faktor organisme hidup berfungsi sebagai itu tekstur tanah juga mempengaruhi
penyedia bahan organic bagi tanah. Hal kecepatan infiltrasi dan kemampuan tanah
tersebut jelas berpengaruh semakin banyak mengikat air sehingga dapat ditentukan
bahan organic yang terkandunng semakin juga cara perlakuan dan pengolahan tanah
liat teksturnya. berdasarkan jenis, tekstur, dan sifatnya.
Hubungan tekstur tanah dengan Cara pengolahan sangat penting dalam
sifat fisik tanah yaitu tekstur tanah sangat dunia pertanian karena hal tersebut
menentukan infiltrasi dan kemampuan mempengaruhi hasil panen bagi petani.
menahan air. Tanah yang didominasi oleh Metode pada penentuan tekstur
pasir mempunyai infiltrasi tinggi tetapi tanah dapat dilakukan dengan 3 macam
mempunyai kemampuan mengikat air metode yaitu metode kualitatif dengan
yang rendah. Kandungan besar kecilnya prinsip kerja penggunaan indera peraba
kandungan fraksi lempung akan pada tanah yang telah dibentuk bola, pita
berpengaruh pada kemantapan agregat dan atau pilinan. Pada prinsip ini mempunyai
ketahanan tanah terhadap erosi. Selain itu kelebihan cepat, mudah dan praktis karena
struktur tanah juga ikut ditentukan kondisi tidak menggunakan alat tetapi mempunyai
tekstur tanah, yaitu menentukan gerakan kekurangan bersifat subjektif karena setiap
24
orang mempunyai pandangan tersendiri. Jurnal Pertanian MAPETA, 12 (2) :
72-144.
Kedua, metode analisis granuler cara pipet
yang mempunyai prinsip kerja Arifin, Z. 2011. Analisis nilai indeks
kualitas tanah entisol pada
pengambilan contoh partikel tanah dari
penggunaan lahan yang berbeda.
suspense dengan menggunakan pipet pada Jurnal Agroteksos, 11 (25).
Arisandy, K. 2012. Akumulasi logam berat
kedalaman (h) dan waktu (t). Pada
timbal dan gambaran histologi
kedalaman (h) dan waktu (t) tersebut pada jaringan Avicenna marina.
Jurnal Penelitian Perikanan, 1 (1) :
partikel dengan diameter lebih dari x
15-25.
sudah berada pada kedalaman (h) dengan
Asfan, F.R.S., dan S. Hariyanto. 2012.
hokum stokes. Ketiga, metode Hidrometer
Identifikasi lahan kering alfisol
merupakan metode yang memiliki prinsip terdegradasi di Kab. Bangkalan.
Jurnal Rekayasa, 4 (1): 1-10.
kerja penentuan tekstur dengan
membedakan fraksi-fraksi tanah Ghidyal, B.P., dam R.P. Tripathi. 1987.
Soil Physics. Wiley Eastern
berdasarkan waktu jatuh (fraksi pasir tanah Limited, New Delhi.
pada waktu <40 detik, fraksi debu antara
Hakim, N., M.Y. Nyakpa., A.M. Lubis.,
40 detik – 2 jam, dan sisanya tanah S.G. Nugroho., M.A. Diha., G.B.
liat/lempung). Kemudian hasil tersebut Hong., dan H.H. Bailey. 1986.
Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit
dicocokkan dengan segitiga tekstur. Universitas Lampung, Lampung.

Harahap, E., N. Aziza., dan A. Affandi.


KESIMPULAN 2014. Menentukan tekstur tanah
Pada praktikum ini dihasilkan dengan metode perasaan di Lahan
Politani. Jurnal Nasional
tekstur tanah berdasar jenis tanah masing- Ecopedone JNEP, 2 (2): 13-15.
masing yaitu tanah entisol bertekstur pasir
Hardjowigono, H. 2003. Ilmu Tanah.
geluhan, tanah alfisol bertekstur lempung, Akademi Pressindo, Jakarta.
tanah rendzina bertekstur lempung pasiran,
tanah ultisol bertekstur lempung debuan Hillel, D. 1982. Introduction to Soil
Physics. Academic Press Inc, San
dan tanah vertisol bertekstur lempung.
Diego California.

Kusnarta, I.G.M., B.D. Kertonegoro., B.H.


DAFTAR PUSTAKA
Sunarminto., dan D. Indradewa.
Anonim. 2011. Soil Texture and Soil 2011. Beberapa faktor yang
Structure. <https://www.ctahr.hawaii.edu> berpengaruh dominan terhadap
Diakses tanggal 24 Maret 2017 struktur vertisol tanah hujan
Lombok. Jurnal Agroteksos, 2 (2):
Arifin, M. 2010. Kajian sifat fisik tanah 120.
dan berbagai penggunaan lahan.

25
Maas, A. 1996. Ilmu Tanah dan Pupuk.
Akademi Penyuluh Pertanian Ramli., Syaifuddin., dan S. Baja. 2009.
(APP), Yogyakarta. Analisis, sebaran, dan spasial
karakteristik lahan di Kab.
Prasetyo, B.H., dan D.A, Suriadikarto. Pangkajen Sulawesi Selatan. Jurnal
2010. Karakteristik potensi dan Agrisistem, 5 (2): 102-112.
teknologi pengolahan tanah ultisol
untuk pengembangan pertanian Staff, S. S. 1998. Keys to Soil Taxonomy.
lahan kering di Indonesia. Jurnal United State Departement of
Litbang Pertanian, 4 (2): 39-41. Agriculture, USA.

Prawirohartono. 1991. Dasar-Dasar Ilmu


Tanah. Erlangga, Jakarta.

26
ABSTRAK
Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah acara IV yaitu “Struktur Tanah” dilaksanakan pada hari Senin, 20
Februari 2017 di Laboratorium Tanah Umum, Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta. Praktikum ini bertujuan untuk menetapkan kerapatan bongkah tanah (BV),
menetapkan kerapatan partikel tanah (BJ), dan porositas total tanah. Alat yang digunakan pada acara
ini adalah cawan pemanas lilin, lampu spiritus, penumpu kaki tiga, gelas ukur, pipet ukur 10 ml, dan
termometer. Bahan yang digunakan digunakan adalah contoh tanah kering angin bongkah dan lilin. Dari
praktikum ini diperoleh nilai BV diurutkan dari yang terkecil adalah entisol 1,087 gr/cm3; alfisol 1,2
gr/cm3; ultisol 1,34 gr/cm3; rendzina 1,67 gr/cm3; dan versitol 1,9 gr/cm3. Serta didapatkan nilai BJ
dengan urutan dari yang terbesar adalah entisol 2,552 gr/cm3; alfisol 1,95 gr/cm3; vertisol 1,95 gr/cm3;
ultisol 1,93 gr/cm3; rendzina 1,81 gr/cm3.

Kata kunci: BJ, BV, porositas, struktur tanah

PENGANTAR kandungan air (lengas) yang daoat


Tanah merupakan unsur penting dimafaatkan tumbuhan.
dalam kehidupan, karena semua organisme Praktikum ini bertujuan untuk
seperti hewan, tumbuhan, dan jasad renik menetapkan kerapatn bongkah tanah (BV).
sangat bergantung dengannya. Tanah, Selain itu juga untuk menetapkan
dalam hal ini adalah strukturnya, dapat kerapatan partikel tanah (BJ). Dari hasil
dipengaruhi pembentukannya oleh faktor penetapan nilai BV dan BJ maka nilai
aktif dan pasif. Faktor-faktor tersebut porositas total tanah dapat ditetapkan.
terdiri dari anasir iklim, jenis dan aktivitas Struktur tanah berperan penting
organisme, jenis bahan induk, relief, dan dalam perbenihan. Agregat tanah dalam
waktu. Sehingga, perbedaan satu atau lebih tempat biji harus cukup luas untuk
suatu faktor, dapat mempengaruhi mencegah terjadinya erosi oleh angin.
perbedaan struktur suatu jenis tanah. Akan tetapi, agregat tanah tersebut
Tanah pada dasarnya dapat diketahui seharusnya tidak terlalu luas supaya tidak
strukturnya dengan menentukan berat ada penghalang untuk perkecambahan biji.
volume, berat jenis, dan porositasnya. Beberapa kualitas struktural sulit untuk
Dalam hal ini, sebenarnya porositas saja diukur secara fisik, tetapi stabilitas air
dapat menjadi tolak ukur. Ini karena adalah standar yang dapat dijadikan acuan
proses-proses secara kimiawi dan biologis, untuk struktur yang baik (Lynch, 1983).
umumnya terjadi secara aktif di dalam Struktur tanah dapat diartikan
pori-pori tanah. Beda jenis pori tanah, sebagai kelompok atau susunan partikel-
berbeda juga fungsinya. Dimana pori-pori partikel tanah. Komponen struktur tanah
tanah ukuran berfungsi untuk aktivitas terdiri dari 1) bentuk dan ukuran, 2)
aerasi dan ilfiltrasi, sedangkan pori-pori kepadatan, dan 3) ketetapan. Bentuk dan
ukuran kecil berfungsi menyempan ukuran dari unit struktur tanah ketika

27
bongkah tanah retak atau rusak merupakan “Struktur Tanah”, bahan yang digunakan
bukti bahwa struktur tanah biasanya dapat adalah contoh tanah bongkah san lilin.
diteliti (Kinuti, et al .,1979). Sifat fisik Lalu alat yang digunakan adalah cawan
tanah menyangkut berat volume tanah, pemanas, lampu spiritus, penumpu kaki
berat jenis tanah, porositas tanah, tiga, gfelas ukur, pipet ukur 10 ml, dan
penyebaran pori dalam tanah, kemantapan thermometer. Dalam praktikum digunakan
agregat tanah, dan kelembaban tanah. metode lilin untuk menentukan nilai BV.
Berat volume tanah dipengaruhi oleh Langkah pertama adalah sebongkah
bagian rongga pori tanah, struktur tanah, tanah diambil dan dibentuk hingga hampir
pertumbuhan akar, aktivitas membentuk sebuah bola yang muat untuk
mikroorganisme, dan peningkatan bahan dimasukkan ke dalam gelas ukur dengan
organik (Putinella, 2011). diameter 1-1,5 cm. lalu, tanah yang telah
Porositas atau ruang pori tanah adalah dibentuk tadi diikat dan ditimbang dengan
volume seluruh pori-pori dalam suatu benang. Kemudian lilin dipanaskan di
volume tanah utuh, yang dinyatakan dalam dalam cawan iatas kaki tiga dengan lampu
persen. Porositas terdiri dari ruang diantara spirtus hingga mencapai suhu 65-70oC.
partikel pasir, debu dan liat serta ruang Kemudian, tanah yang telah diikat tadi
diantara agregat-agregat tanah. Menurut dicelupkan seluruhnya ke dalam lilin
ukuranya porositas tanah dikelompokkan selama 1-2 detik lalu ditimbang. Setelah
ke dalam: ruang pori kapiler yang dapat itu gelas ukur diisi dengan aquadest
menghambat pergerakan air menjadi dengan volume p ml, lalu tanah berlilin
pergerakan kapiler, dan ruang pori tadi dimasukkan ke dalamnya dan dicatat
nonkapiler yang dapat memberi perubahan volume di dalam gelas ukur
kesempatan pergerakan udara dan sebagai q ml. Bila penambahan volume di
perkolasi secara cepat sehingga sering dalam gelas ukur kurang jelas saat dibaca,
disebut pori drainase. Porositas total tanah dapat ditambahkan dengan r ml aquadest
dapat dihitung dari data berat volume dengan pipet ukur agar jelas penambahan
tanah dan berat jenis (Puja, 2008 cit volumenya. Setelah selesai, gelas ukur
Tolaka et al., 2014). dibersihkan.
Penentuan BV menggunakan metode
piknometri. Alat dan bahan yang
METODOLOGI digunakan yaitu contoh tanah kering
Pada praktikum Dasar-dasar Ilmu angina Ø 2 mm, piknometer, timbangan
Tanah Acara IV ini yang berjudul untuk menimbang, dan termometer untuk
28
mengukur suhu, kemudian kawat pikno yang berisi air ditimbang (misal d
pengaduk unutk mengaduk tanah dan air di gr). Suhunya diukur (misal t20C) dan
dalam piknometer. dilihat BJ akuades (misal BJ 2) pada suhu
Langkah-langkah ynag dilakukan tersebut didalam tabel BJ.
adalah pertama permukaan dalam dan luar
piknometer dibersihkan. Kedua, HASIL DAN PEMBAHASAN
piknometer kosong dan bersumbat Tabel 4.1 Hasil praktikum struktur tanah
ditimbang dan dimisalkan a gram. Jenis Tanah BV BJ n
Kemudian piknometer diisi dengan contoh
Entisol 1,087 2,552 57,406%
tanah Ø 2 mm kurang lebih setengah
volume, lalu disumbat dan ditimbang dan Alfisol 1,2 1,95 38,34%
dimisalkan b gram. Selanjutnya
Rendzina 1,67 1,81 7,73%
ditambahkan aquadest sampai dua per tiga
volume dan diaduk dengan menggunakan Ultisol 1,34 1,93 30,60%
pengadukk kawat untuk menghilangkan
Vertisol 1,9 1,95 2,57%
udara yang tersekap. Kemudian didiamkan
selama stu jam dan suhu suspense diukur Struktur tanah adalah susunan zarah-
dimisalkan t1oC. setelah diketahui suhunya, zarah tanah yang membentuk keruangan.
BJ suspense dibaca pada table BJ dan Proses yang terlibat dalam pembentukan
dimisalkan BJ, selanjutnya diaduk-aduk struktur tanah adalah penjojotan agregat,
lagi dan kawat pengaduk dicuci dengan dengan atau tanpa diikuti sementasi.
botol pancar, lalu ditambahkan air secara Penjojotan adalah peristiwa elektronik
perlahan sampai dua per tiga leher oengendapan zarah tanah dari suspense
piknometer. Kemudian disumbat hingga (Notohadiprawiro, 1998). Struktur tanah
air aquadest dapat mengisi pipa kapiler yang baik adalah yang kandungan udara
sampai penuh. Lalu dinding pikno dan airnya dalam jumlah cukup dan
dikeringkan dengan kain agar tidak ada air seimbang. Hal semacam ini hanya terdapat
yang menempel, kemudian ditimbang pada struktur yang ruang pori-porinya
(misal c gram). Langkah selanjutnya, isi besar dan perbandingan yang sama antara
pikno dibuang dan dibersihkan bagian pori-pori makro dan mikro serta tahap
dalamnya dengan akuades hingga penuh terhadap pukulan tetes air hujan (Suhardi,
dan disumbat. Diamati bahwa air harus 1983). Tujuan dilakukan analisis struktur
mengisi pipa kapiler sumbat. Permukaan tanah adalah untuk mengetahui kualitas
luar pikno dikeringkan dengan kain dan
29
struktur tanah tersebut. Kualitas tanah Pada tanah alfisol nilai BV yang
dapat dinyatakan melalui porositas, didapatkan saat praktikum adalah 1,2
porositas didapat dari menentukan berat gram/cm3 dan nilai BJ sebesar 1,95
volume (BV) dan berat jenis (BJ) pada gram/cm3 yang menandakan alfisol
suatu jenis tanah yang disajikan yaitu memiliki kandungan bahan mineral
entisol, alfisol, ultisol, rendzina, vertisol. maupun bahan organic yang cukup dengan
Pada tanah ultisol didapat nilai BV nilai porositas sebesar 38,34% sehingga
1,34 gram/cm3 yang menandakan tekstur merupakan tanah yang subur untuk
halus tetapi memiliki kandungan bahan pertanian. Dari hasil penelitian lain
organik yang cukup. Ini juga dibuktikan (Wirosoedarmo, 2002), tanah alfisol
dengan nilai BJ sebesar 1,93 gram/cm3 memiliki nilai BV sebesar 1,21 gram/cm3;
sehingga didapat nilai porositas sebesar nilai BJ sebesar 3,071 gram/cm3 dan nilai
30,6%. Pada penelitian lain didapatkan porositas tanah sebesar 49,3%.
nilai BJ dari ultisol adalah 1,1 gram/cm3 Entisol memiliki nilai BV sebesar
(Dorner et al., 2010). 1,087 gram/cm3; nilai BJ sebesar 2,552
Untuk tanah rendzina nilai BV yang gram/cm3 dan nilai porositas tanah sebesar
didapat adalah 1,67 gram/cm3 tetapi ini 57,406%. Tanah entisol pada penelitian
termasuk tanah bertekstur kasar dan nilai lain (Zaenal, 2011) nilai BV yang
BJ sebesar 1,81 gram/cm3 yang berarti didapatkan adalah 0,829 gram/cm3; nilai
tanah ini mengandung bahan organik. Dari BJ sebesar 2,483 gram/cm3 dan porositas
nilai BJ dan BV ini didapatkan nilai tanah sebesar 64,825%.
porositas sebesar 7,73%. Dari hasil Terakhir adalah tanah vertisol yang
penelitian lain (Szreniawska et al., 1996), memiliki nilai BJ 1,95 gram/cm3, BV 1,99
nilai BV yang didapat adalah 1,83 gram/cm3, dan porositas tanah sebesar
gram/cm3; BJ 1,698 gram/cm3 dan 2,57%. Dari hasil ini maka tanah vertisol
porositas sebesar 24,3%. Nilai ini berbeda mengandung banyak bahan organik,
dengan hasil praktikum yang telah karena bahan organik yang banyak dapat
dilakukan, karena disebabkan oleh banyak dilihat dari nilai BJ yang diperoleh.
faktor, salah satunya yaitu saat proses Menurut penelitian lain, didapat nilai BV
pencelupan tanah ke dalam lilin yaitu sebesar 0,95 gram/cm3, BJ 2,63 gram/cm3,
masih ada pori-pori tanah yang terbuka dan nilai porositas tanah sebesar 3,87%
sehingga cairan lilin masuk ke dalam tanah (Wirosoedarmo, 2002).
dan mempengaruhi hasilnya saat bola Faktor-faktor yang mempengaruhi
tanah ditimbang. sturktur tanah, yang pertama adalah iklim.
30
Iklim memiliki pengaruh yang besar dalam metode penentuan nilai BJ metode yang
pembentukan agregat tanah, misalnya apda digunakan adalah metode piknometri.
tanah yang semi tandus tingkat agregasi Metode ini digunakan karena hanya massa
lebih besar, berbanding terbalik dengan dan volume padatan saja yang dihitung
daerah tandus. Bahan organik juga sehingga tidak dimasukkan volume pori
berpengaruh dalam pembentuk struktur dalam perhitungan sehingga contoh tanah
tanah. Bahan organic akan meningkatkan berupa padatan biasa berdiameter 2 mm
proses pembentukan struktur tanah tanpa dibentuk bongkah bola.
berpasir, juga dengan jenis-jenis tanah
yang lain. Faktor yang lain yaitu lahan KESIMPULAN
yang ditempati, fauna dan juga mikroba. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan,
Fauna kecil seperti cacing tanah, serangga, nilai BV dari setiap jenis tanah yaitu
dan tikus merupakan faktor utama yang entisol 1,087 gr/cm3; alfisol 1,2 gr/cm3;
mempengaruhi proses pembentukan ultisol 1,34 gr/cm3; rendzina 1,67 gr/cm3;
agregat. Ada pula faktor pengeringan dan dan versitol 1,9 gr/cm3. Sementara nilai
pembasahan. Ketika tanah kering dibasahi, BJ dari setiap jenis tanah yaitu entisol
koloid tanah akan membesar dan 2,552 gr/cm3; alfisol 1,95 gr/cm3; vertisol
menyerap air (Hanifah, 2014). 1,95 gr/cm3; ultisol 1,93 gr/cm3; rendzina
Dalam bidang pertanian, manfaat dari 1,81 gr/cm3. Nilai porostias total tanah (n)
mengetahui struktur tanah adalah untuk masing-masing tanah yaitu entisol
mengetahui kandungan mineral, bahan 57,406%; alfisol 38,34%; rendzina 7,73%;
organic, dan kebutuhan air dalam tanah ultisol 30,6%; vertisol 2,57%.
tertentu karena setiap tanah memiliki sifat
yang berbeda. Mengetahui bahan mineral DAFTAR PUSTAKA
berfungsi untuk memprediksi jenis Dorner, J., P. Sandoval, and D. Dec. 2010.
The role of soil structure on the pore
tanaman apa yang cocok ditanam di tanah
functionality of an Ultisol. Journal
yang memiliki kandungan mineral tertentu. Soil Science Plant Nutrient 10: 495-
508.
Pada penentuan nilai BV digunakan
metode lilin. Metode lilin digunakan Hanifah. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah.
Raja Grafindo Persada. Jakarta.
karena lilin dapat melapisi seluruh lapisan
bola tanah secara sempurna untuk dihitung Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah.
Mediatama Sarana Perkasa. Jakarta.
sehingga dapat diketahui selisih antara
Kinuti, L. L., David L. W., J. C. Hide.
bobot bongkah tanah yang terselimuti 1979. Profitable Soil Management.
dengan volumenya. Sementara untuk
31
Prentice-Hall, Inc. united States of
America.

Lynch, J. M. 1983. Soil Biotechnology.


Blackwell Scientific Publications.
London.

Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan


Lingkungan. Universitas Gadjah
Mada Press. Yogyakarta.

Putinella, J. A. 2011. Perbaikan sifat fisik


tanah regosol dan pertumbuhan
tanaman sawi (Brassica juncea L.)
akibat pemberian pupuk urea. Jurnal
Pertanian 7.

Suhardi. 1983. Dasar-dasar Bercocok


Tanam. Kanisius. Yogyakarta.

Szreniawska, M.D., A. Wtczolkowski, B.


Jozefaciuk, A. Ksrczopolska, J.
szymona, and J. Stawinski. 1996.
Relation between soil structure,
number of selected group of soil
microorganism, organic matter
content and cultivation system.
Agrophysics 10: 31-35.

Tolaka, W. Wardah. Rahmawati. 2013.


Sifat fisik tanah pada hutan primer,
agroforestri dan kebun kakao di
Subdas Wera Saluopa Desa Leboni
Kecamatan Pamona Puselemba
Kabupaten Poso. Fakultas Kehutanan
Universitas Tadulako Vol 1(1): 4.

Wirosoedarmo, R. 2002. Pendekatan teori


fractal untuk memerlukan kurva
retensi air pada vertisol dan alfisol
hasil olah tanah. Jurnal Teknologi
Pertanian 5: 173-178.

Zaenal, A. 2011. Analysis of soil quality


index of entisol with different land use.
Fakultas Pertanian Unram Vol. 21(1):
49-50.

32
ABSTRAK
Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah acara V tentang “Konsistensi Tanah Kualitatif”, yang dilaksanakan
pada 27 Februari 2017, di Laboratorium Tanah Umum, Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta bertujuan untuk mengetahui konsistensi tanah dalam keadaan kering
dan dalam keadaan lembab. Konsistensi tanah memiliki kualifikasi masing-masing, dimana jenis konsistensi
tanah kering diamati dari kekerasannya dan untuk konsistensi tanah pada kondisi lembab diamati kelekatan
dan plastisitasnya.untuk menentukan konsistensi tanah pada kondisi kering dilakukan dengan agregat tanh
ditekan atau dipecahkan dengan jari, sedangkan untuk menentukan konsistensi tanah pada kondisi lembab
dilakukan beberapa tahapan, yang pertama tanah dibasahi air lalu dibuat bentuk pipa, bentuk angka ‘8’,
bentuk ‘O’, dan bentuk ‘S’ serta dipijit menggunakan jari untuk diamati kekuatannya. Adapun bahan-bahan
yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya adalah bongkah tanah kering dengan ukuran ± 1 cm dan
tanah kering Ø 2 mm dengan jenis tanah Entisol, Vertisol, Ultisol, Alfisol, dan Rendzina serta digunakan juga
alat seperti cawan porselin. Dari praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tanah Vertisol dan
Rendzina memiliki konsistensi paling keras dengan urutan Vertisol dan Rendzina > Alfisol dan Ultisol >
Entisol. Kemudian pada kondisi lembab, tanah Vertisol, Ultisol, dan Rendzina memiliki kelekatan paling
lekat dengan urutan Vertisol, Ultisol, Rendzina > Entisol > Alfisol. Untuk tingkat plastisitasnya diperoleh
hasil bahwa Alfisol, Rendzina, Ultisol, dan Vertisol bersifat plastis, sedangkan untuk Entisol tidak plastis.

Kaca kunci : Konsistensi Tanah Kering, Konsistensi Tanah Basah

PENGANTAR praktikum ini sendiri adalah untuk


Konsistensi tanah merupakan sifat fisika menetapkan konsistensi tanah pada kondisi
tanah tentang gaya kohesi dan adhesi di kering dan lembab.
dalam tanah. Gaya kohesi merupakan gaya Konsistensi tanah sejatinya dapat
tarik menarik antar molekul air, sedangkan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh
gaya adhesi merupakan gaya tarik menarik beberapa hal, seperti menurut Wardana
antara molekul air dan molekul tanah. (2011), bahwa salah satu pemicu terjadinya
Konsistensi tanah dalam pertanian sangat peristiwa seperti kelongsoran adalah karena
dibutuhkan untuk menentukan metode hujan yang lebat, sehingga terjadi
pengolahan tanah yang tepat. Hal ini karena pembahasan pada tanah. Akibatnya, tanah
tanah akan menjadi tempat tanaman berpijak, berkurang kekuatan gesernya karena butir-
serta menjadi penyedia air dan nutrisi bagi butir tanah menyerap air. Penyerapan air ini,
tanaman tersebut. Seperti halnya pada tanah seiring berjalannya waktu akan terjadi
pasir. Karena konsistensinya yang lepas- kejenuhan yang menyebabkan tanah tidak
lepas, maka air dan unsur hara mudah stabil dan terjadi kelongsoran.
terlindi. Oleh karena itu, dibutuhkan cara Konsistensi tanah menunjukkan
seperti pemasangan mulsa dibawah tanah kekuatan daya adhesi butir tanah dengan
sebagai perangkap air. Tujuan dari benda lain. Menurut Foth (1984), konsistensi

33
tanah dapat digambarkan dengan tiga tingkat atterberg. Menurut Yuliet (2010), untuk
kelembapan yaitu basah, lembap, dan kering. memprediksi dan menentukan potensi
Tanah akan menjadi lekat saat ia basah, akan mengembang tanah, perlu dilakukan
menjadi teguh atau friable saat ia lembab, identifikasi tanah berdasarkan uji klasifikasi
dan keras saat ia kering. Karena sifat tanh tanah dan uji batas-bats konsistensi atterberg.
yang seperti ini maka akan ada kemungkinan METODOLOGI
hambatan dalam penggunaannya. Oleh Pada praktikum Dasar-Dasar Ilmu
karena itu sebelum digunakan, tanah lebih Tanah acara V yaitu Konsistensi Tanah
baik distabilisasi dengan bahan-bahan Kualitatif dilaksanakan pada tanggal 27
seperti semen, kapur, zeorit, serta bahan- Februari 2017 di Laboratorium Tanah
bahan lainnya. Umum, Departemen Ilmu Tanah, Fakultas
Stabilisasi tanah sendiri merupakan Pertanian, Universitas Gadjah Mada,
usaha untuk memperbaiki tanah yang Yogyakarta. Adapun alat, bahan pada
bermasalah, baik dengan cara mekanis, fisis, percobaan konsistensi kering digunakan
maupun kimiawi. Salah satunya adalah bahan contoh tanah agregat tidak terusik
dengan penambahan kapur, abu batu bara, (bongkah). Pada mekanismenya tidak
dan semen pada tanah lempung. Menurut menggunakan alat namun hanya
Bowles (1997), penambahan ketiga bahan menggunakan indera peraba dari praktikan
tersebut ke dalam tanah lempung dapat berupa ibu jari dengan telunjuk atau pangkal
menurunkan indeks plastisitas, telapak tangan kiri dengan ibu jari kanan.
pengembangan, dan penyusutan yang cukup Sedangkan prosedur cara kerja pada
signifikan. Serta kapur, dapat menurunkan praktikum ini yaitu diambil contoh tanah
nilai batas cair, indekas plastisitas, agregat tidak terusik, kemudian contoh
kandungan fraksi lempung, dan tekanan tanah tersebut ditekan diantara ibu jari dan
pengembangan. telunjuk. Apabila contoh tanah tanpa
Untuk penentuannya, pada dasarnya penekanan hancur maka konsistensinya
dapat ditentukan dengan metode kualitatif lepas-lepas, jika sedikit penekanan hancur,
dan kuantitatif. Dimana metode kualitatif maka konsistensinya lunak. Apabila
menggunakan jari dan tangan secara penekanannya kuat maka konsistensinya
langsung, sedangkan metode kuantitatif agak keras. Jika pada penekanannya belum
menggunakan metode uji batas konsistensi hancur maka dilanjutkan penekanan dengan
34
pangkal telapak tangan kiri dengan ibu Ultisol Agak Keras
jari kanan, jika penekanannya kuat maka
konsistensinya keras dan jika penekanannya Tabel 5.2 Konsistensi Tanah Basah
kuat tetapi tidak hancur maka konsistensinya
Tanah Kelekatan Keliatan
sangat keras. Konsistensi tanah kering
Tidak
dilakukan untuk mengetahui tingkat Entisol Lekat
Plastis
kekerasan pada tanah. Agak
Alfisol Plastis
Pada percobaan konsistensi basah Lekat
digunakan bahan dan alat yaitu contoh tanah Sangat
Vertisol Plastis
Lekat
kering angin ukuran Ø 2 mm (jenis Entisol,
Sangat
Alfisol, Ultisol, Rendzina, dan Vertisol) dan Rendzina Plastis
Lekat
cawan porselin. Prosedur cara kerja yang Sangat
Ultisol Plastis
digunakan pada praktikum yaitu ditimbang Lekat

contoh tanah kering angin, kemudian


Konsistensi tanah adalah salah satu sifat
masing-masing jenis contoh tanah dibasahi
fisika tanah yang menggambarkan ketahanan
dengan aquadest serta dilanjutkan dengan
tanah pada saat memperoleh gaya atau
pengadukan hingga homogen atau menjadi
tekanan dari luar yang menggambarkan
pasta seperti adonan kue. Kemudian
bekerjanya gaya kohesi (tarik menarik antar
dilanjutkan pengamatan kelekatan dan
partikel) dan adhesi (tarik menarik antar
plastisitas pada setiap jenis tanah dengan jari
partikel dan air) dengan berbagai
telunjuk dan ibu jari serta dibuat bentuk pipa
kelembapan tanah. Tujuan dari analisis
tanah setebal ± Ø 2,3 mm.
konsistensi tanah adalah untuk menetapkan
konsistensi tanah dalam keadaan kering
HASIL DAN PEMBAHASAN
maupun keadaan basah/lembab.
Tabel 5.1 Konsistensi Tanah Kering
Dari hasil pengamatan diperoleh data
Konsistensi
Tanah bahwa konsistensi kering tanah Entisol yaitu
Kering
Entisol Lunak lunak dan jika dibandingkan dengan literatur,
Alfisol Agak Keras tanah Entisol mempunyai konsistensi lepas-
Vertisol Sangat Keras lepas, tingkat agregasi rendah, peka terhadap
Rendzina Sangat Keras
erosi dan kaya akan unsur hara tapi belum

35
tersedia (Putra et al., 2016). Dari data juga kedudukan lempung dalam tanah aslinya.
diperoleh hasil bahwa tanah Entisol Dimana apabila semakin tinggi kandungan
memiliki kelekatan yang lekat dan lempung suatu tanah maka kelekatan dan
plastisitasnya tidak plastis. Menurut plastisitasnya semakin tinggi pula. Ketika
Wirosoedarmo dkk. (2012), tanah Entisol tanah Alfisol dibasahi dan dipijit dengan jari
memiliki tekstur lempung berpasir dan maka banyak tanah yang menempel pada jari
kandungan lempungnya sebesar 12. Menurut dan jari yang lain sedikit. Hal inilah yang
Tan (1986) yang juga menyimpulkan bahwa menyebabkan tanah Alfisol memiliki tingkat
konsistensi Entisol daah kelekatan tidak kelekatan yang lekat dan tingkat plastisitas
lekat, dan plastisitasnya tidak plastis maka yang plastis. Hal ini juga diperkuat dengan
tanah Entisol tidak dapat dibentuk pipa. adanya hasil penelitian Soepraptohardjo
Perbedaan hasil ini kemungkinan dapat (1997), yang menyimpulkan bahwa
terjadi karena kondisi bongkahan tanah yang konsistensi tanah Alfisol dengan keteguhan
merupakan bongkahan sisa dari kelompok keras, kelekatan yang lekat, dan plastisitas
lain sehingga menyisakan bongkahan tanah yang plastis. Jika dikaitkan dengan hasil
yang tidak baik untuk dibuat sebagai contoh percobaan maka dapat dilihat bahwa ada
tanah. perbedaan di tingkat keteguhan atau
Dari hasil percobaan diperoleh data kekerasan yang agak keras dan kelekatan
bahwa tanah Alfisol memiliki keteguhan yang agak lekat. Hal ini bisa terjadi karena
atau tingkat kekuatan yang agak keras, air yang diberikan saat mencapurkan tanah
kelekatannya adalah agak lekat dan terlalu sedikit sehingga akan mempengaruhi
plastisitasnya adalah plastis. Menurut Ismail kelekatannya.
dan Gasmelsheed (1998), tanah alfisol Tanah Vertisol adalah tanah yang
memiliki tekstur geluh lempungan sehingga memiliki tingkat keteguhan atau kekerasan
memiliki konsistensi dalam keadaan kering yang sangat keras, kelekatan yang sangat
yang keras dan lekat serta plastis pada lekat, dan plastisitas yang plastis. Itu
konsistensi basah. Hal ini karena tanah berdasarkan data hasil pengamatan yang
alfisol pada umumnya mempunyai sifat diperoleh. Sedangkan hasil yang diperoleh
struktur yang kurang diinginkan karena oleh Darmawidjaja (1992), tanah Vertisol
memiliki kandungan lempung yang lebih dan tanah Rendzina memiliki keteguhan
rendah dalam horizon A dan ketidakadaan yang sangat keras. Kelekatan yang lekat dan
36
plastisitas yang plastis yang sangat plastis. lekat, dan plastisitas plastis.terdapat
Perbedaannya dengan hasil praktikum perbedaan hasil praktikum dengan hasil
terletak pada tingkat plastisitas yang plastis. menurut Sarief yaitu pada tingkat keteguhan
Hal ini bisa terjadi karena tanah terlalu dan kelekatan. Perbedaan ini dapat terjadi
didiamkan sehingga tanah menjadi agak karena contoh bongkah tanah yang tinggal
retak ketika dibentuk seperti O, S, atau tersisa sedikit dan tidak dalam bongkahan
angka 8. yang baik untuk dipercobakan. Hal lainnya
Tanah Rendzina memiliki tingkat karena efek dari analisis yang secara
keteguhan yang sangat keras, kelekatan yang kualitatif yang tergantung dari praktikan
sangat lekat, dan plastisitasnya yang plastis. yang mencoba tanahnya.
Berdasarkan hasil yang diperoleh Konsistensi tanah dipengaruhi oleh
Darmawidjaja (1992), tanah Rendzina beberapa faktor diantarana tekstur tanah,
memiliki keteguhan, kelekatan, dan tingkat kandungan bahan organik, jenis lempung,
plastisitas yang sama dengan tanah Vertisol dan kadar air. Faktor pertama yang
yaitu memiliki keteguhan yang sangat keras, mempengaruhi konsistensi tanah adalah
kelekatan yang lekat, dan plastisitas yang tekstur tanah. Tekstur tanah dapat
sangat plastis. Data yang diperoleh juga menentukan konsistensi tanah. Pada tanah
memiliki perbedaan pada tingkat bertekstur kasar, daya plastisitasnya akan
plastisitasnya yang plastis. Hal ini bisa rendah karena kandungan lempungnya
terjadi karena tanah terlalu lama didiamkan hanya sedikit. Kemudian faktor kedua
sehingga tanah menjadi agak retak ketika adalah kadar air tanah. Tingginya kadar air
dibentuk seperti “O”, “S”, atau angka 8. di dalam tanah menjadikan tanah menjadi
Berdasarkan data hasil praktikum yang lembek. Hal ini berpengaruh pada batas cair
diperoleh, tanah ultisol memiliki tingkat dan batas plastisitasnya. Sedangkan faktor
keteguhan yang agak keras, kelekatan yang yang ketiga adalah kandungan bahan organik
sangat lekat, dan tingkat plastisitas yang tanaj. Kandungan bahan organik menjadi
plastis. Menurut Yulmafatmawita dkk. sumber energi mikroorganisme tanah dan
(2012), tanah ultisol memiliki kandungan sumber hara bagi tanaman. Bahan organik
lempung yang tinggi dan debu yang rendah. juga berfungsi untuk memisahkan gaya
Menurut Sarief (1985), konsistensi ultisol adhesi dan kohesi.
adalah dengan keteguhan lunak, kelekatan
37
Struktur, tekstur, dan konsistensi saling konsistensi tanah, akan mempermudah
berkaitan. Hal ini terkait pada kandungan pengolahan tanah, karena setiap tanah
lempung dan gaya kohesi tanah terhadap mempunya konsistensi yang berbeda-beda,
benda lain. Pada tanah bertekstur pasir dengan begitu maka diharapkan mampu
memiliki kandungan lempung yang rendah membuat konsistensi tanah sesuai dengan
sehingga gaya adhesinya rendah dan sulit jenis tanaman yang ditanam sehiingga
berikatan dengan partikel-partikel lain dalam mampu meningkatkan produksi pertanian.
tanah dan menjadikan tanah cenderung Pada percobaan ini metode yang
berdiri sendiri sehingga konsistensinya digunakan adalah metode kualitatif dalam
lepas-lepas. Berbeda dengan tanah bertekstur menentukan konsistensi tanah. Metode ini
lempung yang tentunya memiliki kandungan berupa metode yang dilakukan dengan cara
lempung yang tinggi sehingga gaya merasakan tekstur tanah dari masing-masing
adhesinya tinggi dan mudah berikatan contoh jenis tanah sehingga bisa ditentukan
dengan partikel lain di dalam tanah, maka konsistensinya. Metode ini digunakan karena
tanah menjadi bertekstur menggumpal dan penerapannya lebih mudah,murah, dan lebih
memiliki konsistensi agak keras ketika cepat.
kering dan plastis ketika dalam kondisi
basah. Hal tersebut dikarenakan sifat partikel KESIMPULAN
penyusun tanah (pasir, debu, lempung) yang Dari hasil percobaan yang telah
terdapat pada suatu tanah akan dilakukan maka diperoleh kesimpulan
mempengaruhi gaya yang bekerja pada bahwa dalam kondisi kering, konsistensi
partikel-partikel tanah sehingga tanah entisol adalah lunak, konsistensi tanah
menghasilkan sifat fisik yang saling Alfisol dan ultisol adalah agak keras, dan
berkaitan. konsistensi pada tanah Vertisol dan
Manfaat konsistensi di bidang pertanian Rendzina adalah sangat keras. Sementara
sangatlah penting untuk menentukan daya dalam kondisi basah, konsistensi tanah
guna tanah secara praktis. Konsistensi entisol adalah lekat dan tidak plastis,
dipakai untuk menggambarkan sifat tanah konsistensi tanah alfisol adalah agak lekat
yang sangat penting yaitu hubungannya dan plastis, sedangkan konsistensi tanah
dengan pengolahan tanah dan pemadatan Vertisol, Rendzina, dan Ultisol memiliki
mesin pertanian. Dengan mengetahui
38
kelekatan yang sangat lekat dan Wirosoedarmo, R., B. Suharto, C. Irawan.
2012. Penerapan Teori Fractal Untuk
plastisitasnya yang plastis.
Menentukan Kurva Retensi Air Pada
Entisol Tanpa Olah Tanah. Jurnal
Teknologi Pertanian. 10 (3) :192-198.
DAFTAR PUSTAKA
Bowles, J.E. 1997. Foundation Analys and Yuliet, Rina. 2010. Identifikasi tanah
Design. Mc Graw-Hill. New York City. lempung kota Padang berdasarkan uji
klasifikasi teknik dan uji batas-batas
Darmawidjaja, M.L. 1992. Klasifikasi Tanah. konsistensi atterberg. Jurnal Rekayasa
Gadjah Mada University Press, Sipil 6 : 19-30.
Yogyakarta.
Yulnafatmawita, R. A. Naldo, A. Rasyidin.
Fathoni, M. 2014. Tinjauan Kuat Tekan 2012. Analisis Sifat Fisika Ultisol Tiga
Bebas dan Permeabilitas Terhadap Tahun Setelah Pemberian Bahan
Tanah Lempung yang Distabilisasi Oraganik Segar di Daerah Tropis Basah
dengan Kapur dan Abu Ampas Tebu. Sumbar. J. Solum 9( 2) : 91-97.
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Surakarta.

Foth, H.D. 1984. Fundamentals of Soil


Science. Winey. Minnesoto.

Ismail, H. A. E dan K. M. Gasmelseed. 1998.


Soil consistency and swell potential
using static cone penetration machines.
Journal of Ismlamic Academy of Sciens
(1): 74-78.

Sarief, S. 1985. Ilmu Tanah Umum. Fakultas


Pertanian Universitas Padjajaran,
Bandung.
Soeprapto, M. 1997. Jenis Tanah dan
Potensinya. Pusat Pendidikan
Interpretasi Citra Pengindraan Jauh dan
Survey Terpadu, Yogyakarta.

Tan, K.H. 1986. Dasar-Dasar Kimia Tanah.


Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

Wardana, N. 2011. Pengaruh Perubahan


Muka Air Tanah dan Terasering
Terhadap Perubahan Kestabilan Lereng.
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil 15 :83-92.

39
ABSTRAK
Praktikum acara VI Bahan Organik Tanah dilaksanakan pada hari Senin, 27 Februari 2017 di
Laboratorium Dasar-Dasar Ilmu Tanah Departemen Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah
Mada. Praktikum ini bertujuan untuk menetapkan kadar c-organik dan kadar bahan organic tanah.
Bahan organic adalah sekumpulan dari beragam senyawa organic yang sedang maupun telah mengalami
dekomposisi, baik berupa humus, senyawa organic, dan mikroorganisme. Contoh tanah yang digunakan
adalah vertisol, rendzina, ultisol, alfisol, dan entisol. Metode yang digunakan adalah metode Walkey and
Black. Dari hasil praktikum diketahui bahwa setiap jenis tanah memiliki kadar c-organik dan kandungan
bahan organic yang berbeda-beda. Semakin tinggi kadar c-organik tanah maka semakin besar pula kadar
bahan organiknya. Berdasarkan hasil percobaan, didapat kadar bahan organic tanah vertisol 2,19%,
rendzina 3,08%, ultisol, 1,495%, alfisol 1,817%, dan entisol 1,312%.

Kata Kunci: Bahan organik, c-organik, nisbah C/N, metode Walkey & Black.

PENGANTAR Pengaruh kesuburan tanah dapat


Bahan organik merupakan bahan memperbaiki pertumbuhan tanaman serta
penting dalam menciptakan kesuburan meningkatkan produksinya. Adapun tujuan
tanah, baik secara fisika, kimia, maupun dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui
biologi tanah. Bahan organic terdiri dari kadar c-organik dan kadar bahan organic
humus dan nonhumus. Nonhumus pada masing-masing tanah (vertisol,
berperan sebagai sumber energy bagi rendzina, ultisol, alfisol, dan entisol).
mikroorganisme dan sumber hara bagi Bahan organic adalah sekumpulan
tanaman. Bahan humus mengandung unsur beragam senyawa-senyawa organik
hara yaitu NH4, NO3, SO4, dan H2PO4. kompleks yang sedang atau telah
Humus berperas untuk memperbaiki mengalami proses dekomposisi baik
struktur tanah, meningkatkan KPK, berupa humus hasil humifikasi maupun
penyangga pH tanah dan meningkatkan senyawa-senyawa organic hasil
daya simpan lengas. Bahan organic mineralisasi dan termasuk juga mikrobia
berpengaruh kuat didalam agregasi tanah heterotrofik organic dan ototrofik yang
dan pembentukan agregat. Menurut terlibat dan berada didalamnya (Madjid,
Funderburg (2001) bahan organic 2007). Kandungan bahan organic lapisan
berfungsi suplai nutrisi, kapasitas menahan atas selalu lebih tinggi daripada lapisan
air, agregasi tanah, dan mencegah erosi. bawah dengan ratio kedalaman 25 cm dan
Selain itu bahan organic juga bisa 1 m dan tidak memiliki horizon sombric
memperbaiki drainase, permeabilitas, dan (Sipahutar dkk, 2014).
penetrasi akar. Praktikum ini penting Bahan organik dijadikan sebagai salah
dilakukan sebab dengan mengetahui kadar satu tolak ukur untuk melihat kualitas,
bahan organic maka dapat diketahui pula kesuburan, atau produktivitas tanah.
tingkat kesuburan setiap jenis tanah. Menurut (Lal, 1994), tanah memiliki

40
produktivitas yang baik apabila kadar unsur-unsur yang menjadi komponen
bahan organic berkisar antara 8% sampai pokok pada tanaman dan diperlukan dalam
16% atau kadar karbon organic 4,56% jumlah yang banyak (Yamani, 2010).
sampai 9,12%. Rendahnya bahan organik, Unsur-unsur ini terdiri dari karbon (C),
khususnya fraksi labil karbon organic hydrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N),
berkolerasi dengan buruknya sifat fisik dan fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca),
kimia tanah lainnya seperti berat isi (bulk magnesium (Mg), dan sulfat (S). Hara
density), ruang pori total, pori aerasi, dan mikro berfungsi sebagai komponen penting
K tersedia (Nurida, 2006). enzim-enzim pada tanaman yang
Pengaruh bahan organic terhadap diperlukan dalam jumlah kecil, bila
tanah dan tanaman tergantung pada laju tertentu banyak dapat menjadi toksik.
proses dekomposisinya. Kemudahan Menurut (Adelia, P.F., Koesriharti., dan
dekomposisi bahan organic berkaitan erat Sunaryo, 2013) yang termasuk unsur hara
dengan nisbah kadar hara. Secara umum, mikro adalah boron (B), klor (Cl), tembaga
makin rendah nisbah antara kadar C dan N (Cu), besi (Fe), mangan (Mn),
di dalam bahan organic akan semakin molybdenum (Mo), natrium (Na), seng
rendah dan cepat mengalami dekomposisi. (Zn), dan vanadium (Va).
Nisbah C/N merupakan istilah untuk
menyatakan hubungan antara karbon dan METODOLOGI
nitrogen di dalam tanah. Ratio C/N dapat Praktikum acara VI yaitu
dipakai untuk mengetahui apakah terjadi penentuan bahan organik tanah
kompetisi antara jasad renik dan tanaman dilaksanakan pada Senin, 27 Februari 2017
terhadap kebutuhan unsur hara nitrogen. pukul 13.30-selesai di Laboratorium
Selanjutnya C/N berguna untuk Dasar-Dasar Ilmu Tanah Departemen
mengetahui tingkat pelapukan dan Tanah Fakultas Pertanian Universitas
kecepatan penguraian bahan organik serta Gadjah Mada. Dalam praktikum ini alat
ketersediaannya unsur hara nitrogen di dan bahan yang digunakan yaitu contoh
dalam tanah (Bachtiar, 2006). tanah kering angin Ø 0,5 mm sebagai
Agar tanaman dapat tumbuh tanah yang akan diuji, labu takar 50 ml
maksimal, dibutuhkan beberapa unsur hara sebagai tempat atau wadah, gelas ukur 10
untuk tumbuhkembangnya. Unsur hara ml digunakan untuk menakar aquades, labu
tersebut dibedakan menjadi unsur hara erlenmeyer 50 dan buret untuk titrasi.
makro dan mikro. Hara makro merupakan Bahan yang digunakan yaitu K2Cr2O7 0,2

41
N, H2SO4, FeSO4 1N, dan indicator (100 + 𝐾𝐿)(𝑉𝐴 − 𝑉𝐵)𝑁𝐹𝑒𝑆𝑂4 ∗ 3 50 100
𝐶= ∗ ∗ ∗ 100%
100 ∗ 1000 ∗ 𝑎 5 77
difenilamin. 100
Kadar BO = [𝐶] ∗ %
58
Metode yang digunakan dalam
Ket:
percobaan ini adalah metode Walkey and
VA= Volume titrasi blanko
Black. Tahapan yang dilakukan dalam
VB = Volume titrasi baku
metode ini adalah tahapan antara, yang
N = Normalitas
artinya kandungan bahan organic
ditentukan oleh besar c-organik hasil titrasi
HASIL DAN PEMBAHASAN
dikalikan dengan konstanta tertentu.
Tabel 6.1 Kandungan C-Organik dan
Langkah pertama yang dilakukan adalah
bahan organic pada berbagai jenis tanah
meninmbang contoh tanah kering angina Ø
C-organik Bahan
0,5 mm seberat a gram lalu dimasukkan ke Tanah
(%) Organik (%)
dalam labu takar 50 ml dan ditambahkan
Entisol 0,761 1,312
10 ml K2Cr2O7 0,2 N dengan pipet volume
Alfisol 1,0542 1,817
10 ml. selanjutnya 10 ml H2SO4 pekat
Ultisol 0,8675 1,495
ditambahkan secara perlahan-lahan lalu
digojok dengan gerakan memutar dan Rendzina 1,79 3,08

mendatar. Setelah itu, larutan didiamkan Vertisol 1,27 2,19

selama 30 menit agar dingin dan setelah


dingin ditambahkan 2-3 tetes indicator Bahan organik merupakan

difenilamin. Lalu, ditambahkan aquades kumpulan beragam senyawa-senyawa

hingga volume 50 ml dengan botol pancar. organic kompleks yang sedang atau telah

Labu takar lalu ditutup dan kemudian mengalami proses dekomposisi, baik

digojok sampai homogeny dan tanah berupa humus hasil humifikasi maupun

dibiarkan mengendap. Larutan jernih senyawa-senyawa anorganik hasil

diambil sebanyak 5 ml, lalu dimasukkan ke mineralisasi (Hanafiah, 2014). Analisis

dalam erlenmeyer 50 ml dan ditambahkan bahan organic pada tanah diperlukan untuk

aquades 15 ml. setelah itu, larutan dititrasi mengetahui kandungan bahan organic pada

dengan FeSO4 0,2 N hingga warnanya jenis tanah yang berbeda dengan

menjadi kehijauan dan dicatat volume menentukan nilai c-organik terlebih dahulu.

titrasinya. Langkah tersebut diulangi untuk Dengan dilakukannya analisis bahan

blanko tanpa tanah. Dari hasil titrasi organic tanah, maka dapat diketahui pula

kemudian dihitung menggunakan rumus: jenis tanah yang baik untuk pertanian.

42
Dari praktikum yang telah berada pada rentang kadar bahan organik
dilakukan, didapatkan hasil nilai c-organik hasil penelitian Sudaryono.
masing-masing tanah. Tanah rendzina Kadar bahan organic tanah alfisol
memiliki kadar bahan organic paling tinggi hasil percobaan adalah 1,817%. Menurut
yaitu sebesar 3,08%. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Wijarnarko dkk
penelitian yang dilakukan Krachenko, dkk (2007) terhadap tanah alfisol di Jawa
(2011) diperoleh kandungan bahan organik Tengah dan Jawa Timur didapat kadar
rendzina sebesar 5-8%. Besarnya organiknya sebesar 2,72%. Besarnya kadar
kandungan bahan organik rendzina karena bahan organic hasil percobaan jauh lebih
tanah ini termasuk tanah mollisol yaitu kecil daripada hasil penelitian yang
tanah dengan bahan organik yang sangat dilakukan oleh Andy dkk. Hal ini bisa
tinggi. disebabkan karena perbedaan factor yang
Sementara tanah entisol memiliki mempengaruhi tanah sehingga kandungan
kadar bahan organic paling sedikit yaitu bahan organiknya berbeda.
1,312%. Nilai ini tidak jauh berbeda dari Menurut penelitian yang dilakukan
penelitian yang dilakukan Nugrohotomo oleh Harsono dkk (2009) didapat besarnya
(2009) yang menghasilkan kadar c-organik kandungan bahan organic tanah vertisol
sebesar 0,71% dengan kadar bahan adalah 2,60%. Hal ini tidak jauh berbeda
organiknya diketahui sebesar 1,25%. dari hasil percobaan yaitu sebesar 2,879%.
Rendahnya kadar bahan organik tanah Dari tabel hasil percobaan
entisol disebabkan karena tanah entisol diperoleh hasil urutan tanah dengan
merupakan tanah muda dan hanya kandungan bahan organic tertinggi ke
memiliki horizon permulaan. Bahan terendah adalah rendzina, vertisol, alfisol,
mineral didalamnya belum membentuk ultisol, dan entisol. Dari penelitian yang
horizon pedonik yang nyata sehingga dilakukan oleh (Syukur, 2005) dalam
entisol memiliki kadar bahan organik yang jurnal Pengaruh Pemberian Bahan Organik
sedikit. Terhadap Sifat-Sifat Tanah dan
Pada tanah Ultisol kadar bahan Pertumbuhan Caisim di Tanah Pasir Pantai,
organic yang didapat sebesar 1,495%, dihasilkan urutan kandungan bahan
sedangkan menurut penelitian Sudaryono organik yang benar adalah Rendzina >
(2009) kadar bahan organic tanah ultisol Vertisol > Alfisol > Ultisol > Entisol. Jadi
adalah sebesar 1,15-2,70%. Besarnya bisa disimpulkan bahwa percobaan yang
kadar bahan organic hasil percobaan masih dilakukan sudah sesuai.

43
Faktor-faktor yang mempengaruhi meningkatkan kapasitas pertukaran kation
bahan organic dalam tanah adalah atau Cation Exchange Capacity (CEC)
kedalaman tanah, iklim, (curah hujan dan (Arifin, 2011). Jika nilai KPK atau CEC
suhu), drainase, tekstur tanah, dan vegetasi tinggi maka unsur hara akan tetap berada
(Hakim dkk, 1986). Kedalaman tanah dalam tanah. Proses mineralisasi hasil
menentukan kadar bahan organic dan N. perombakan bahan organik akan
kadar bahan organic melimpah ditemukan menghasilkan unsur hara baik makro
pada lapisan atas setebal 20 cm. Semakin maupun mikro seperti N, P, K, Ca, Mg, S
ke bawah kadar bahan organic semakin dan mikro lainnya. Bahan-bahan organik
berkurang. Iklim berpengaruh pada tingkat dapat mengimobilisasi bahan-bahan kimia
dekomposisi bahan organic. Tanah tropika buatan yang memberikan dampak
memiliki kandungan bahan organik rendah merugikan terhadap pertumbuhan tanaman,
karena kondisi lingkungan mendukung mengkompleks logam berat, serta
dekomposisi dan mineralisasi bahan meningkatkan kapasitas sangga (buffer
organic tanah. Pada tanah drainase buruk, capacity) tanah (Radjagukguk, 1988; Numi,
dimana air berlebih, oksidasi terhambat 2003 CH Arifin, 2011). Kadar bahan
karena kondisi aerasi yang buruk. Hal ini organic juga akan mempengaruhi pH tanah.
menyebabkan kadar bahan organic dan N pH tanah akan turun apabila bahan organik
pada tanah drainase buruk lebih tinggi masih mengalami proses dekomposisi
daripada tanah berdrainase baik. Bahan dengan melepas asam.
organik akan lebih tinggi pada tanah Peranan bahan organik terhadap
bertekstur liat. Ikatan antara liat dengan sifat fisika tanah menyangkut
bahan organik melindungi bahan tersebut pemeliharaan struktur tanah dengan
dari aksi dekomposisi oleh mikrobia tanah. stabilitas agregat yang tinggi, memperbaiki
Tingginya kandungan liat juga berpotensi distribusi ukuran pori dan kapasitas tanah
tinggi untuk formasi agregat. Fungsi menyimpan air (water holding capability),
vegetasi adalah untuk melindungi lapisan serta meningkatkan daya retensi air (Arifin,
atas tanah (lapisan paling banyak 2011). Pemeliharaan struktur tanah oleh
mengandung bahan organic) dari tekanan bahan organic juga dapat meningkatkan
air hujan sehingga bahan organic tidak populasi mikroorganisme tanah. Pada
tersapu oleh air. tanah dengan tekstur halus, saat basah akan
Pengaruh bahan organic terhadap memiliki kelekatan dan keliatan tinggi,
sifat kimia tanah adalah dapat sehingga saat diberi bahan organik akan

44
lebih mudah diolah dan tidak retak. Selain Dalam praktikum ini tidak digunakan
itu, penambahan bahan organik H3PO4, karena H3PO4 bersifat mengurangi
mengurangi kemungkinan terjadinya erosi. Fe, sedangkan Fe fungsinya mengikat
Terhadap sifat biologi tanah, bahan oksigen sekaligus mempercepat oksidasi.
organik akan meningkatkan aktivitas dan Dnegan metode Walkey and Black prinsip
jumlah mikroorganisme tanah sehingga kerjanya adalah mengetahui bahan organic
respirasi tanah akan meningkat (Arifin, dengan cara oksidasi. Apabila digunakan
2011). Respirasi tanah yang tinggi H3PO4 akan memperlambat reaksi itu
menunjukkan tingkat dekomposisi dan sendiri. Oleh karena itu digunak CrO72-
oksidasi bahan organic yang baik. Selain dengan FeSO4 yang dianggap setara
itu, bahan organic juga mempengaruhi dnegan c-organik yang tereduksi ketika
aktivitas biologi berupa senyawa bereaksi dengan tanah.
perangsang tumbuh sepert auksin dan Praktikum kali ini menggunakan
vitamin. metode Walkey and Black yang memiliki
Berdasarkan sifat fisika, kimia, dan tingkat ketelitian tinggi, yaitu 100/77.
biologisnya, kandungan bahan organic Metode ini memiliki kelebihan,
dalam tanah sangat bermanfaat di bidang diantaranya pengukuran yang dilakukan
pertanian. Ini disebabkan oleh kandungan dengan perubahan warna dan dapat
bahan organic dalam tanah mengandung menggunakan berbagai jenis bahan kimia.
zat-zat yang dibutuhkan oleh tanaman. Namun metode ini juga memiliki
Ketersediaan bahan organik sangat kekurangan, salah satunya yaitu waktu
dibutuhkan karena mengandung zat yang dibutuhkan untuk mengerjakan
tumbuh dan vitamin yang dapat diserap metode ini lebih lama sehingga kurang
lansung oleh tanaman. efisien. Metode ini dirasa lebih akurat
Dalam praktikum ini khemikalia disbandingkan dengan metode Denn Stedt
yang digunakan antara lain garam K2Cr2O7, atau metode keting yang memiliki
H2SO4, dan FeSO4. Asam sulfat pekat ketelitian hanya 77%. Namun begitu saat
dapat mempercepat kecepatan reaksi, dan melakukan metode ini harus berhati-hati
juga sebagai pelepas karbon (C) pada saat melakukan titrasi.
bahan organik dalam tanah. Dalam
praktikum ini K2Cr2O7 berfungsi sebagai KESIMPULAN
oksidator bahan organic dimana sisa yang Kadar c-organik masing-masing tanah
berlebih akan direduksi oleh FeSO4. adalah entisol 0,761%, alfisol 1,0542%,

45
ultisol 0,867%, rendzina 1,79%, dan Harsono, P., J.S. Tohari., dan D. Shiddieq.
2009. Pengaruh macam mulsa
vertisol 1,27%. Dari kadar c-organik dapat
terhadap sifat–sifat tanah vertisol.
diketahui kadar bahan organic masing- Vol. No 7 03 Juli 2009.
masing tanah adalah entisol 1,312%,
Krachenko, Y., S. Z Xingyi., L. Xiaobing.,
alfisol 1,817%, ultisol 1,495%, rendzina
I. Chunyul., and R.M. Cruse. 2011.
3,08%, dan vertisol 2,19%. Molisol properties and changes in
ultraisieand China. Chinese
Geographical Science, Vol 3: 257-
DAFTAR PUSTAKA 266.

Adelia, P.F., Koesriharti., dan Sunaryo. Lal, R. 1994. Method and Guidelines for
2013. Pengaruh penambahan unsur Assessing Sustainable Use for Soil
hara mikro dan (Fe dan Cu) dalam and Water Resources in the
media paitan cair dan kotoran sapi Tropics. SMSS Tech. Monograph
cair terhadap pertumbuhan dan No. 21, USDA.
hasil bayam merah (Amaranthus
tricolor.L) dengan sistem
hidroponik rakit apung. Jurnal Madjid, A. 2007. Bahan Organik Tanah.
Produksi Tanaman, 1 (3) : 48 - 58. Universitas Sriwijaya, Palembang.

Arifin, Z. 2011. Analisis nilai indeks Nugrohotomo, P. Yudono., dan A. Syukur.


kualitas tanah entisol pada 2009. Upaya peningkatan hasil
penggunaan lahan yang berbeda. benih padi (Oryza sativa) pada
Jurnal Agroteksos, 21 (1). berbagai tail genangan air dan
takaran vermikomps di lahan sawah
irigasi entisol. Jurnal Ilmu-Ilmu
Bachtiar, E. 2006. Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian, 5 (2).
Pertanian USU, Medan.

Nurida, N. 2006. Peningkatan Kualitas


Funderburg, E. 2001. What Does Organic Ultisol Terdegradasi dengan
Matter Do In Soil. Pengolahan Tanah dan Pemberian
<https://www.noble.org.> Diakses Bahan Organik. Disertasi Sekolah
tanggal 24 Maret 2017 Pascasarjana, Bogor.
Hakim, N., M.Y. Nyakpa., S.G. Nugroho.,
A.M. Lubis., M.R. Saul., M.A. Sipahutar, A.H., P. Marbun., dan Fauzi.
Diha., G.B. Hong., dam H.H. 2014. Kajian c-organik, N dan P
Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu humitropepts pada ketinggian
Tanah. Universitas Lampung, tempat yang berbeda di Kecamatan
Lampung. Lintong Nihuta. Jurnal Online
Agroekoteknologi, 2 (4): 1332-
1338.
Hanafiah, K. 2014. Dasar-Dasar Ilmu
Tanah. Jakarta: Rajawali Press.
Sudaryono, S. 2009. Tingkat kesuburan
tanah ultisol pada lahan
pertambangan batu bara Sangatta

46
Kalimantan Timur. Jurnal Teknik Wijanarko, Andi, Sudayono, Sutarno.
Lingkungan , 10 ( 3): 337-346. 2007. Karakteristik sifat kimia dan
fisika tanah alfisol di Jawa Timur
dan Jawa Tengah. Iptek Tanaman
Syukur, A. 2005. Pengaruh pemberian
Pangan, 2 (2): 214-266.
bahan organik terhadap sifat-sifat
tanah dan pertumbuhan caisim di
tanah pasir pantai. Jurnal Ilmu Yamani, A. 2010. Analisis kadar hara
Tanah dan Lingkungan, 5 (1): 30- makro dalam tanah pada tanaman.
38. Jurnal Hutan Tropis, 11 (30): 37-
46.

47
ABSTRAK
Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah acara VII “Muatan Tanah” yang dilakukan pada hari senin 6 Maret
2017 pukul 13.30-16.30 WIB, di Laboratorium Tanah Umum, Departemen Tanah, Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada bertujuan untuk membuktikan muatan pada partikel tanah dengan dua
macam zat warna bermuatan yaitu gention violet dan eosin red dan untuk membuktikan pengaruh luas
permukaan jenis partikel tanah terhadap kapasitas pertukaran kation (KPK). Metode yang digunakan
dalam praktikum ini yaitu metode kolorimetri yaitu dengan mengukur warna larutan tanah yang
dibandingkan dengan warna standar yang telah diketahui nilai pH-nya. Dalm metode imi digunakan
gention violet dan eosin red untuk mengetahui KPK dan KPA tanah. Semakin banyak gention violet
maka KPA nya semakin rendah dan semakin banyak eosin red maka KPK semakin rendah. Percobaan
ini perlu dilakukan larena sifat pertukaran ion dalam tanah berperan dalam penilaian tingkat kesuburan
tanah.

Kata kunci : KPK, KPA, gention violet, eosin red, kolorimetri

PENGANTAR
Kapasitas pertukaran kation yaitu kemampuan tanah untuk menyerap dan
kemampuan tanah dalam menyerap dan menukar atau melepaskan kembali
menukar kembali kation dari dan kedalam kedalam larutan tanah. Didalam tanah,
tanah. Kation merupakan ion bermuatan komponen yang mempunyai muatan
positif dan larut dalam air tanah atau adalah lempung dan bahan organik tanah
diserap oleh koloid-koloid tanah sehingga (senyawa organik tanah). Muatan negatif
unsur-unsur hara tersebut tidak mudah lempung/ bahan oraganik biasanya
hilang tercuci oleh air. Tanah dengan mengikat kation (ion bermuatan positif)
kapasitas pertukaran kation yang tinggi yang ada disekitarnya (dalam larurtan
mampu meyerap dan menyediakan unsur tanah) sehingga terjadi reaksi
hara yang lebih baik daripada tanah dengan elektronetralitas yang menghasilkan
KPK rendah. Pada praktikum ini keseimbangan kimia ( Brady et al, 2008).
digunakan dua macam zat warna yaitu Faktor yang mempengaruhi kapasitas
gention violet dan eosin red untuk pertukaran kation adalah pH larutan
membuktikan muatan negatif partikel pengekstrak, sifat komplek pertukaran,
tanah. Gention violet bermuatan positif konsentrasi larutan pengekstrak, sifat
untuk menguji tanah yang bermuatan kation yang dipakai, pendekatan analitik,
negatif, sedangkan eosin red bermuatan adanya interaksi yang tidak diinginkan,
negatif sehingga digunakan untuk keterbatasan metode analisis. Suatu jenis
menunjukkan tanah bermuatan positif. tanah yang mempunyai nilai KPK tertentu
Kapasitas pertukaran kation (KPK) dapat diubah (dinaikkan atau ditutunkan)
dalam ilmu tanah diartikan sebagai dengan cara mencampur dengan bahan-

48
bahan lain yang nilai KPK nya berbeda. tersebut terlarut didalam air tanah atau
Untuk membuktikan muatan negatif zarah- diserap oleh koloid-koloid tanah.
zarah tanah diguakan dua macam zat Banyaknya kation (Millievalen) yang dapat
warna yaitu : (1) gention violet (+) yang dijerap oleh tanah per satuan berat tanah
bermuatan positif untuk menunjukkan (biasanya per 100g) dinamakan kapasitas
tanah yg bermuatan negatif (2) eosin red (-) tukar kation (KPK). Kation-kation yang
yang bermuatan negatif untuk telah dijerap oleh koloid-koloid tersebut
menunjukkan tanah yang bermuatan positif sukar tercuci oleh air grafitasi, tetapi dapat
(Hartati, 2012). digantikan kation lin yang terdapat pada
KPK mempunyai hubungan dengan larutan tanah. Hal tersebut dinamakan
tekstur dan bahan organik. Jika tekstur pertukaran kation. Jenis-jenis kation yang
semakin halus, maka KPK nya semakin telah disebutkan diatas merupakan kation-
besar. Tanah pasir dan geluhan pasir, kation yang umumnya ditemukan dalam
kandungan lempung koloidnya rendah, komplek jerapan tanah (Rosmarkam dan
juga kurang kandungan humusnya. Tanah Yuwono, 2002).
yang lebih berat, jelas merupakan Pertukaran kation merupakan
kebalikan, selalu mengandung dan juga pertukaran antara satu kation dalam satu
lebih banyak bahan organiknya. Oleh larutan dan kation lain dalam permukaan
karena itu, kemampuan mengabsorbsi dari setiap permukaan bahan yang aktif.
kation lebih besar. Kation valensi dua yang Semua komponen tanah mendukung untuk
diikat lebih kuat daripada kation bervalensi perluasan tempat pertukaran kation, tetapi
satu dengan ukuran yang sama, pertukaran pada sebagian besar tanah
memberikan sistem koloid kation dengan dipusatkan pada liat dan bahan organik.
potensi zeta lebih rendah dibandingkan Reaksi tukar kation dalam tanah terjadi
dengan kation bervalensi satu. Jumlah ion terutama didekat permukaan liat yang
dengan hidratasi tinggi seperti natrium berukuran seperti Klorida dan partikel-
memberikan sistem koloid kation dengan partikel humus yang disebut misel. Setiap
potensi zeta lebih tinggi dengan hidratasi misel dapat memiliki beribu-ribu muatan
rendah seperti kalium dan rubidium (Brady, negatif yang dinetralisir oleh kation yang
2008). diabsorpsi (Soares et al, 2005). Koloid
Kation adalah ion bermuatan positif mineral dan organik mempengaruhi KPK
seperti Ca++, Mg+, K+, Na+, H+, Al3+, dan dan total tanah. Muatan yang berubah
sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tergantung pada banyak faktor. Salah satu

49
faktor tersebut adalah pH. Pada KPA, diambil sebanyak 2 buah, kemudian
sangat tergantung dengan kandungan jenis masing-masing diisi tanah berØ 2mm dan
lempung, humus, dan hidroksida. contoh tanah Ø 0,5mm dengan setinggi ±
pH tanah merupakan parameter tanah 1cm , lalu ditambahkan gention violet pada
yang penting karena berkorelasi positif masing-masing tabung sampai tingginya
dengan KTK (Tomasic et.al, 2013). Pada 5cm dari dasar tabung atau sekitar 7,5ml
kondisi netral dan basa, tanah mempunyai gention violet. Langkah selanjutnya yaitu
KTK. Namun pada kondisi asam, tanah dikocok selama 2 menit, kemudian tanah
mempunyai KTA. Artinya, tanah menjadi dibiarikan mengendap sehingga akan
bermuatan positif dan menarik dan terpisah antara tanah dengan filtratnya
menahan anion yang bermuatan negatif (larutan jenis diatas suspensi). Fungsi
seperti sulfat, posfat, nitrat dan klorida dilakukannya penggojokan ini agar larutan
(College of Tropical Agriculture and menjadi homogen kemudian warna
Human Resource, 2015). filtratnya diperhatikan dan dibandingkan
dengan warna blanko (warna gention violet
METODOLOGI tanpa tanah). Lalu langkah 1-2 diulangi
Pada praktikum Dasar-dasar Ilmu dengan menggunakan larutan eosin red dan
Tanah acara VII yaitu “Muatan Tanah” diperhatikan perubahan warna suspensi
dilaksanakn pada hari senin 06 Maret 2017 pada larutan gention violet dan eosin red,
di Laboratorium Tanah Umum, kemudin dibandingkan intensitas warna
Departemen Ilmu Tanah, Fakultan filtratnya antar jenis tanah. Pada gention
Pertanian, Universitas Gadjah Mada, violet jika larutan atau filtratnya semakin
Yogyakarta. Adapun alat dan bagah yang bening maka (+) nya semakin bnyak,
digunakan pada praktikum ini yaitu contoh sedangkan pada penambahan eosin red
tanah Ø 2mm, dan Ø 0,5mm: tanah semakin bening larutannya maka semakin
mediteran, Grumusol, Regosol, Rendzina, sediokit (-) nya.
dan Latosol, kemudian tabung reaksi 10
buah untuk mereaksikan larutan eosin red HASIL DAN PEMBAHASAN
dan gention violet yang digunakan untuk Tabel 7.1 Hasil KPK dan KPA
membuktikan muatan negatif partikel Gentian violet Eosin red
Tanah
tanah. 0,5 mm 2 mm 0,5mm 2 mm
Langkah pertama yang dilakukan Vertisol ++ +++ ----- ----
Rendzina ++++ +++++ --- --
dalam praktikum ini adalah tabung reaksi

50
Ultisol +++++ ++++ - - yang cenderung tinggi dengan nilai oleh
Alfisol +++ ++ -- --- kandungan tekstur yang dimilikinya yaitu
Entisol + + ---- ----- lempung ,dimana semakin halus tekstur
semkain tinggi KPKnya .selain itu
Keterangan :
kandungan BO juga turut berpengaruh
+++++ = menjauhi (bening)
dalam KPKnya yang dimna pada pratikum
KPK(+ banyak) = tinggi
sebelumnya BO Vertisol bernilai 2,19%
----- = menjauhi (keruh)
(tinggi dibanding tanah lainnya).
KPA (- banyak) = tinggi
Tanah rendzina memiliki nilai KPK
Kapasitas pertukaran kation (KPK)
yang sangat tinggi karena ditunjukan dari
merupakan kemampuan tanah untuk
hasil memiliki nilai + banyak pada uji
menahan kation-kation dan
gention violet. Sedangkan nilai KPA dari
mempertukarkan kation-kation tersebut
rendzina cenderung sedang ditunjukan
(Oksana et al, 2012). Pengertian laiannya
pada nilai – berkisar 2 hingga 3. Hal
adalah KPK merupakan jumlah muatan
tersebut sesuia dengan percobaan yang
positif dari kation yang diserap koloid
dilakukan (Pujiyanto,2007) bahwa KPK
tanah pada pH tertentu. (Rahmah et al,
rendzina bernilai 94,1 me/100 g atau tinggi.
2014) sedangkan kapasitas tukar anion
Niali KPK yang tinggi dipengaruhi tekstur
(KTA)merupakan kemampuan tanah untuk
rendzina yang cenderung lebih banyak
mengadsorb dan menukar anion (Amsan et
lempung. Selain itu, KPK juga dipengaruhi
al ,2015)
nilai pH dan BO. Pada peningkatan nilai
Berdasarkan hasil pratikum yang telah
pH disebabkan oleh KPK yang
dilakukan maka diperoleh data yaitu
dipengaruhi oleh muatan – yang berasal
bahwa tanah Vertisol memiliki KPK yang
dari bahan organik. Sedangkan senyawa
cukup tinggi karena ditunjukan pada nilai
bahan oraganik adalah muatan berubah
++ ( Ø 0,5mm) dan Ø 2mm yang bernilai
bergantung pada perubahan pH. Nilai BO
+++. sedangkan KTA yang dimiliki
rendzina pada praktikum sebelumnya
Vertisol cenderung tinggi yang ditunjukan
bernilai 3,08 (paling tinng) hal ni bahwa
pada nilai ---- (Ø 0,5mm)dan ---- (Ø
kandungan BO tinggi yang menyebabkan
2mm).Hal tersebut sesuai dengan
terjadinya dekomposisi bahan organik
percobaan (Purwanto, 2014) bahwa nilai
(menghasilkan humus) sehingga KPK
KPK pada vertisol cenderung tinggi
bernilai tinngi.
dengan nilai 16 3(+)/kg. KPK Vertisol

51
Pada percobaan (Sujana, 2015) tanah telah dilakukan yang menghasilkan nilai
Ultisol merupakan tanh yang KPK Alfisol cukup tinggi dengan pH
diklasifikasikan sebagai padsolik merah berkisar 7,47-7,045 tergolong netral.
kuning yang umumnya memiliki struktur Sedangkan nilai KPA tanah Alfisol sedang
sedang hingga kuat, teksturnya terdapat yang ditunjukkan pada nilai berkisar 2
kasar hingga halus (tergantung bahan hingga 3. Nilai KPK tanah Alfiso selain
induk), pH nya 5 - 3,10 dan memiliki KPK dipengaruhi pH, nilai KPK juga
tergolong rendah yaitu pada granit(2,90 – dipengaruhi kadar liat yang terkandung.
7,50 cmol/kg), sedimen (6,11 – 13,68 Pada praktikum sebelumnya data diperoleh
cmol/kg), dan tufa (6,10 – 6,80 cmol/kg). tanah Alfisol bertekstur lempung/ liat,
Namun hasil berbeda ditunjukkan terdapat fraksi lempung merupakan fraksi dimana
Ultisol berbahan induk Andesitik dan batu ia memiliki kapasitas pertukaran ion dan
gamping yang KPK nya tinggi (>17 kapasitas memgang air yang tinggi,
cmol/kg). Pada praktikum yang dilakukan sehingga stabilitas agregatnya tinggi
telah sesuai dengan literatur yang ada karena adanya ikatan partikel tanah.
dimana KPK tanah Ultisol sangan tinggi Pada percobaan (Choirina, 2013)
dengan nilai + (tinggi) dan KPA nya yang terhadap tanah Entisol menyatakan bahwa
rendah. Meskipun pada umumnya tanah nilai KPK dari tanah entisol 8,24 me/100g,
Ultisol KPK rendah karena unsur hara nya pH 7,4 dan C organik 2%. Nilai KPK
yang rendah. Namun, pada hasil ini KPK tergolong rendah. Hal tersebut sesuai
Ultisol tinggi dapat dipengaruhi oleh praktikum yang telah dilakukan yaitu
bahan induk dari ultisol. Selain itu, bernilai rendah dengan ditunjukkan nilai +
perlakuan seperti pemupukan dan (sedikit) dan KPA yang tinggi. Rendahnya
pemberian bahan organik turut nilai KPK dari Entisol dipengaruhi oleh
mempengaruhi sehingga nili KPK dapat teksturnya yang lebih dominan pasir
meningkat. daripada lempung. Selain itu, pH njuga
Percobaan yang dilakukan mempengaruhi dimana semakin masam
(Widyantari, 2015) menyatakan bahwa tanah, maka KPK semakin rendah
KPK tanah memiliki nilai yaitu 30,67 sehingga berdampak pada kesuburan yang
me/100g tang tergolong tinggi. Nilai unsur haranya sedikit sengga Entisol
tersebut dipengaruhi oleh pH berkisar 6,6– kurang mampu menyerap dan
7 yang tergolong netral. Jika dibandingkan menyediakan unsur hara bagi tanaman.
hal tersebut sesuai dengan praktikum yang

52
Pada dasarnya mengetahui nilai KPK lebih mudah dan praktis dilakukan
sangatlah penting bagi orang-orang yang sehingga menjadi kelebihan pada metode
berkelut di dunia pertanian karena KPK ini.
berkaitan langsung sdengan kesuburan
tanah yang akan menjadi media tanam dari KESIMPULAN
komoditas pilihan petani. Selain itu, proses Dari hasil percobaan yang telah
KPK berkaitan dengan pengelolaan tanah dilaksanakan dapat diperoleh data muatan
dalam hubungannya dengan pemupukan masing jenis tanah yaitu tanah Vertisol
dan pengapuran serta proses serapan unsur bermuatan negatif, tanah Rendzina
hara oleh akar. Pemupukan yang tepat bermuatan positif, tanah Ultisol bermuatan
meliputi tepat macam, tepat dosis, tepat positif, tanah Alfisol bermuatan netral, dan
cara, tepat waktu, dan tepat metode agar tanah Entisol bermuatan negatif. Selain itu
hasil pertanian dapat mencapai titik luas permukaan jenis partikel tanah
maksimal (Winarso, 2005). mempunyai pengaruh terhadap nilai KPK
Dari hasil percobaan maka dapat nili dimana semakin kecil ukuran partikel yang
KPK dari tertinggi ke terendah yaitu berareti semakin lembut maka semakin
Ultisol, Rendzina, Alfisol, Vertisol, dan tinggi nilai KPK.
Entisol. Sedangkan untuk KPA Entisol,
Vertisol, Rendzina, Alfisol, Ultisol. DAFTAR PUSTAKA
Praktikum penetapan KPK dan KPA Amran, M.B., NK.E Sari., D.A Setyarini.,
Y Wahyu., D.W Wisdiani dan D
menggunakan metode kolorimetri secra
Irnameria. 2015. Analisis Kualitas
kualitatif yaitu dengan penggunaan eosin Tanah Panten Sewarna Kabupaten
Lebak Prov. Banten.ISBN 978-602-
red (anion, ion -) dan gention violet (kation,
19665-8-0 hal 650.
ion +). Tanah yang brmuatan negatif
Brady , N.C and R.R. Weil.2008. The
dominan mengikat banyak gention violet,
Nature and Properties of Soil 14th ed.
sehingga akan semakin pudar/jernih dan New Jersey : Pearson Prentice Hall.
pada eosin red akan cenderung tetap atau
Choirina, Y., Sudadi dan H. Widiyanto.
keruh. Sebaliknya, jika tanah dominan + 20013. Pengaruh pupuk alami
bermikrobia (Bio- Natural Fertilize)
maka warna gention violet semakin keruh
terhadap serapan fosfor dan
dan eosin red semakin bening. Metode ini pertumbuhan kacang tanah pada tanah
Alfisol, entisol, dan Vertisol. Jurnal
memiliki kelemahan karena bersifat
Ilmu Tanah dan Ageoklimatologi
subjektif dalam penentuan tingkat 10(2).
kekeruhan dari warna. Namun, dinilai

53
College of Tropical Agriculture and
Human Resource, “Soil Mineralogy”, Rosmarkam dan Yuwomo. 2002. Ilmu
Update 2015 URL Kesuburan Tanah. Kanisius.
http://www.ctahr.hawaii.edu. (diakses Yogyakarta.
tanggal 24 Maret 2017)
Soares, M.R., R.F.A. Luis., P/V. Torrado.,
Hartutu, S., Minardi dan D.P. Ariyanto. M. Cooper. 2005. Mineralogy ion
2012. Muatan titik nol berbagai bahan exchangee. Properties of the partide
organik, pengaruhnya terhadap size fraction of same Brazilian soil in
kapasitas tukar kation terdegradasi. tropical humid area. Goderma. 125 :
Jurnal Pertanian. 3 – 4. 355 – 367.

Oksana., M. Irfan., dan M.U huda. Sujana, I.P., dan I.N.L.S. Pura.
Pengaruh alih fungsi lahan hutan Pengelolaan tanah Ultisol dengan
menjadi perkebunan kelapa sawit pemberian pembenahorganik Biochar
terhadap sifat kimia. Jurnal menuju pertanian yang berkelanjutan.
Agroteknologi. Vol 2 no 1 : 29 – 34. Agrimets. Vol 05 no 09 : 01-69.

Pujiyanto. 2007. Pemanfaatan kulit buah Tomasic et.al. “Cation Exchange Capacity
kopi dan bahan mineral sebagai of Dominant Soil Types in the
amelioran tanah alam. Pelita Republic of Croatia”. Journal of
Perkebunan : 23(2). Central European Agriculture 14 (3),
937-951 (2013).
Purwanto., S. Hartati ., S. Istiqomah. 2014.
Pengaruh kualitas dan doris seresah Widyantari, O.A.G. 2015. Evaluasi status
terhadap potensial nutrifikasi tanah kesuburan tanah untuklahan pertanian.
dan hasil jagung manis. Jurnal Ilmu DenpasarTimur. E-Journal
Tanah dan Agroteknologi. 11(1) : 12 – Agroteknologi trapika. Vol 4 no 4.
13.
Winarto, S. 2005. Kesuburan Tanah dan
Rohmah, S., Yusran., H. Umar. 2014. Sifat Kesehatan dan kualitas tanah. Gama
kimia tanah pada berbagai tipe Media. Yogyakarta.
penggunaan lahan di Desa Babu
Kecamatan Palolo Kabupaten sigi.
Warta Rimba. Vol 2 n o 1 : 8 - 95.

54
ABSTRAK
Pratikum dasar-dasar ilmu tanah acara VIII yaitu Reaksi Tanah (pH tanah) dilaksanakan di
Laboratorium Tanah Umum, Departemen Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta, pada Senin, 5 Maret 2017. Percobaan ini dilakukan untuk menentukan pH tanah dari
berbagai jenis tanah, yaitu versitol, rendzina, ultisol, alfisol, dan entisol. Praktikum ini menggunakan
metode elektrometri dengan menggunakan pH meter. Pada pengukuran pH aktual tanah dicampur
dengan akuades, sementara untuk pH potensial tanah dicampur dengan larutan KCl . Akuades dan KCL
adalah sebagai bahan pendesak. Reaksi tanah penting untuk diamati karena berpengaruh terhadap
proses kimiawi yang terjadi pada tanah. Nilai pH setiap jenis tanah berbeda-beda. Dan hasil praktikum
didapat nilai pH aktual vertisol 7,265 ; rendzina 6,665 ; ultisol 5,70 ; alfisol 7,47 ; entisol 6,17. Nilai pH
potensial yang didapat adalah vertisol 5,655 ; rendzina 5,625 ; ultisol 4,43 ; alfisol 7,045, entisol 5,135.

Kata kunci : pH tanah, metode elektrometri, asam-basa

PENGANTAR akan memperngaruhi produktivitas dari

Tanah merupakan komponen yang tanaman yang ditanam di lahan tersebut.

sangat diperlukan dalam dunia pertanian. Reaksi tanah merupakan sifat

Tanah sebagai media tanam bagi tanaman kemasaman atau alkalinitas tanah yang

sangat dibutuhkan. Namun, tanaman hanya dinyatakan dengan nilai pH (Kumalasari et

akan tumbuh dengan baik pada kondisi al., 2011). Reaksi tanah (pH tanah) tidak

tanah yang sesuai dengan kebutuhan hanya menunjukkan sifat kemasaman atau

tanaman. Salah satu yang mempengaruhi kebasaan suatu tanah,melainkan juga

pertumbuhan tanaman yaitu reaksi tanah. berkaitan dengan sifat kimia tanah lainnya,

Reaksi tanah atau pH tanah ini sangat misalnya ketersediaan unsur hara fosfat,

penting untuk diamati karena tingkat tahana kation-kation basa dan lain-lain

kesuburan tanaman bergantung pada pH (Arifin, 2011). Reaksi tanah (pH tanah)

tanah. PH tanah juga akan berdampak pada terbagi menjadi dua, yaitu pH aktual dan

produktivitas dari tanaman. Dalam pH potensial. H2O atau air digunakan

pengoptimalan hasil tanam tentu saja sebagai bahan pendesak pada pengukuran

membutuhkan proses perawatan termasuk pH aktual, sedangkan pada pengukuran pH

kontrol pH tanah, oleh karena itu pH potensial bahan pendesak yang digunakan

dibutuhkan dalam proses penanaman. adalah larutan KCl . Nilai pH tanah

Jarang sekali dijumpai pH tanah yang penting untuk diketahui, sebab tingkat

sesuai dengan keperluan tanaman yang kemasaman (pH) tanah sangat

akan ditanam oleh karena itu diperlukan mempengaruhi status ketersediaan hara

perlakuan untuk mengolah pH tanah bagi tanaman. Nilai pH tanah dapat

sebelum dapat ditanami. Karena hal ini digunakan sebagai indikator kesuburan
kimia tanah, karena dapat mencerminkan

55
ketersediaan hara dalam tanah. Pengaruh sedankan pengarunya sangat besar pada
utama pH di dalam tanah adalah pada tanaman, sehingga kemasaman tanah harus
ketersediaan dan sifat meracun unsur diperhatikan karena merupakan sifat tanah
seperi Fe, Al, Mn, B, Cu, Cd, dan lain-lain yang sangat penting ( hakim et al., 1986).
terhadap tanaman atau organisme
(Choirina et al.,2013). Menurut hakim et al. METODOLOGI
(1986), reaksi tanah (pH tanah) yang Pratikum Dasar-dasar Ilmu Tanah ini
berada diluar kisaran dapat mengakibatkan dilaksanakan di Laboratorium Tanah
berkurangnya jumlah ketersediaan unsur Umum, Departemen Tanah, Fakultas
hara tertentu dan kadang malah Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada
menyebabkan kelebihan ketersediaan unsur hari Senin, 6 Maret 2017 pukul 13.30 -
hara lainnya. Hal ini dapat berakibat 16.30 WIB. Alat yang digunakan pada
terganggunya serapan hara oleh tanaman pratikum ini yaitu pH meter untuk
sehingga menghambat pertumbuhan dan mengukur pH tanah, 4 buah cepuk pH
menurunkan produktivitas tanaman. yang nantinya dibagi dua sebagai tempat
pH tanah dapat diubah diantaranya untuk mencampur tanah dengan aquadest
dengan penambahan bahan organik, (H2O) dan larutan KCl , gelas ukur untuk
sehingga nilai pH dapat disesuaikan mengukur air dan larutan KCl yang akan
dengan keperluan tanah. Perubahan pH ini dicampurkan. Dan timbangan untuk
mungkin menaikkan atau menurunkan pH. menimbang contoh tanah (enstisol).
Namun pada kenyataanya pH tanah tidak Adapun bahan yang digunakan meliputi
dapat diubah dengan mudah. Hambatannya tanah kering angin (enstisol) Ø 2mm.
adalah buffer yang merupakan sifat umum Aquadest (H2O). Dan larutan KCl . Fungsi
dari campuran asam basa dengan garamnya memakai H2O adalah untuk mengetahui
(Jirna, 2000). keasaman aktif (pH aktual) mengingat H2O
Kesamaan tanah dapat dipengaruhi merupakan bahan pendesaknya sedangkan
oleh kandungan bahan organik dan tipe memakai larutan KCL berfungsi untuk
vegetasi. Menurut soepardi (1983), proses mengetahui keasaman potensual (pH
dekomposisi bahan organik akan potensial).
menghasilkan asam-asam organik maupun Langkah pertama yang dilakukan
asam anorganik, sehingga menimbulkan untuk percobaan ini yaitu menyiapkan 4
suasana asam. Kemasaman tanah terdapat cepuk pH dan menimbang contoh tanah
pada daerah dengan curah hujan tingi kering angin entisol Ø 2mm sebesar 10

56
gram dengan timbangan sebanyak 4 kali, tanah. Setelahnya tekan tombol CAL dan
setelah itu dimasukkan ke cepuk pH. ditunggu sampai angka yang tertera pada
Kemudian mengukur aquadest (H2O) layar display tidak bergerak atau berubah
dengan gelas ukur sebanyak 25 ml, lalu angka lagi. Angka yang muncul dicatat dan
dimasukkan kedalam cepuk pH yang telah dicari rata-ratanya ketika menggunakan
berisi tanah. Pengulangan dilakukan 2 H2O dan larutan KCl .
ulangan untuk mencari nilai rata-rata. Dari percobaan tersebut diperoleh pH
Selain aquadest (H2O),pengukuran juga sebesar 6,13 pada pengulangan pertama
dilakukan dengan menggunakan larutan dengan H2O dan 6,3 pada pengulangan
KCl sejumlah 25 ml juga. Pengukuran kedua. Rata rata yang diperoleh sebesar
juga dilakukan dua ulangan. Langkah 6,17. Pada percobaan menggunakan
selanjutnya adalah dengan memasukkan larutan KCl didapat pH sebesar 5,11 pada
larutan KCl ke dalam masing-masing pengulangan pertama dan 5,16 pada
cepuk pH berisi tanah. Kemudian cepuk- pengulangan kedua. Rata-rata yang didapat
cepuk tersebut yang telah berisi tanah dan adalah 5,135. Dari hasil tersebut dapat
aquadest ataupun larutan KCl dicampur diketahui bahwa pH potensial tanah entisol
hingga homogen. Setelahnya didiamkan lebih rendah daripada pH aktualnya.
selama 30 menit agar mengendap. Fungsi Untuk tarah jenis vertisol pH H2O
pengadukan adalah agar ion-ion H+ yang yang didapat adalah 7,265 dengan pH KCl
ada pada tanah bisa terlepas dan bercampur sebesar 5,655. Kemudian tanah rendzina
dengan aquades ataupun KCl . Ion H+ yang diperoleh rata-rata pH H20 6,665 dan pH
ada di dalam larutan tanah diukur sebagai KCl 5,625. Lalu pada tanah ultisol pH
pH aktual, sedangkan pH potensial adalah H20 diperoleh sebesar 5,70 dan pH KCl
ion H+ yang terukur selain di dalam larutan 4,43 pada tanah alfisol diperoleh rata-rata
tanah dan kompleks jerapan tanah. Setelah pH H20 7,47 dan rata-rata PH KCl 7,045.
didiamkan, langkah selanjutnya yang harus
dilakukan ialah mengukur nilai pH HASIL DAN PEMBAHASAN
menggunakan pH meter. Penggunaan alat Tabel 8.1 Nilai PH Aktual (H2O) dan PH
ini sangat mudah. Pertama bersihkan Potensial (KCl)
elektroda dengan air deionisasi (air tanpa Jenis pH awal pH potensial
Tanah (H2O) (KCl)
ion) dan keringkan dengan tisu, kemudian
Vertisol 7,625 5,665
masukkan kedalam cepuk pH namun Rendzina 6,665 5,625
ujungnya tidak boleh sampai mengenai Ultisol 5,7 4,45

57
Alfisol 7,47 7,045 tanah dapat melindikan zat hara tanah
Entisol 6,17 5,135 seperti Mg 2+ dan Ca 2+, sehingga
menyisakan ion H+ dan logam beracun
Reaksi tanah merupakan sifat kimia
(unsur mikro) seperti Fe, Mn, Cu, Zn, dan
tanah yang berkaitan dengan aktivitas
Co yang dapat mengikat zat hara seperti S,
organisme, ataupun pelapukan batuan-
P, K, Mg, dan Ca. Air hujan akan terlarut
batuan disekitar tanah tersebut. Reaksi
dengan CO2 di dalam tanah yang akan
tanah secara umum dinyatakan dengan
menghasilkan ion H+ yang merupakan
nilai pH (Power of Hydrogen) yang
penyebab penurunan pH. Berikut reaksi air
menunjukkan tingkat keasaman dan
hujan dengan CO2 :
kebasaan tana. Namun, nilai pH ini tidak
H2O+CO2 H2CO3 H++HCO3 2H++CO3
hanya menunjukkan sifat keasaman dan
Lalu jenis vegetasi dan bahan organik.
kebasaan suatu tanah. Seperti menurut
Respirasi akar dari suatu vegetasi akan
Hanudin (2000), informasi yang didapat
menghasilkan CO2 yang dapat menaikkan
dari nilai pH tanah juga menunjukkan sifat
pH karena menghasilkan H+ dengan air.
kimia tanah lainnya, seperti kadar hara,
Sementara, bahan organik dapat
fosfat, zat atau logam beracun, serta
mengasamkan tanah dari proses
tahanan-tahanan kation basa.
humifikasinya. Dekomposisi bahan
Nilai pH suatu jenis tanah dapat
organikk untuk menjadi mineral atau unsur
berbeda dengan jenis tanah yang lain. Ini
hara, dalam prosesnya akan menghasilkan
karena nilai pH tanah dapat dipengaruhi
juga zat sisa berupa asam organik yang
oleh faktor-faktor seperti bahan induk,
dapat menurunkan H+ tanah. Juga pada
iklim, drainase, jenis vegetasi dan bahan
proses dekomposisi bahan organik,
organi, serta aktivitas dan perlakuan
dekomposer akan menggunakan basa-basa
manusia. Bahan induk memiliki derajat
di dalam tanah (calcium dan magnesium)
pelapukan dengan nilai pH yang bervariasi,
yang juga dibutuhkan oleh tanaman
sehingga dapat mempengaruhi keasaman
sebagai unsur hara. Sehingga bila di suatu
dan kebasaan suatu tanah. Seperti bahan
area dengan kadar bahan organik dan curah
induk batuan beku (vulkanik) yang
hujan yang tinggi, seperti hutan hujan
menurunkan pH karena bersifat basa, serta
tropis tanah jenis gambut, maka dapat
bahan induk batuan zeolit yang menaikkan
dipastikan bahwa area tersebut memiliki
pH karena bersifat asam, kemudian iklim
pH yang rendah. Faktor terakhir adalah
dan drainase. Air hujan yang masuk ke
aktivitas dan perlakuan manusia.

58
Penambahan pupuk (amelioran) kimia larutan tanah dan kompleks jerapan tanah.
dalam tanah dapat berdampak buruk pada Oleh karena itu, ion KCl digunakan dalam
tanah. Seperti pada pupuk ammonia yang pengukuran pH potensial, karena ion K+
dihunakan sebagai sumber nitrogen, namun akan mendesak H+ pada kompleks jerapan
juga menghasilkan ion hidrogen yang tanah untuk pindah ke larutan tanah.
dapat mengasamkan tanah. Berikut reaksi Penambahan bahan pendesak pada tanah
oksidasi ammonia di dalam tanah : (KCl) karena kita menggunakan metode
NH4+ + 2O2  NO3- + 2H+ + H2O elektrometri dengan alat pH meter atau
pH dalam bidang pertanian sangatlah glass elektrode. pH meter mengukur H+ di
penting, karena berpengaruh pada tingkat dalam larutan tanah, sehingga ion H+ pada
kesuburan tanah terhadap produktivitas jerapan tanah perlu dipindahkan ke dalam
tanaman. pH tanah seperti menurut larutan tanah dengan didesak oleh H+.
Puspitasari dkk (2012), pH tanah dapat Dari praktikum yang telah dilakukan,
dikatakan netral dikisaran 6,5-7,5. Di titik diperoleh hasil bahwa pH potensial
ini pula, biasanya merupakan pH optimal nilainya lebih kecil jika dibandingkan
untuk pertumbuhan tanaman. pH tanah dengan pH aktual. Ini dapat disebabkan
pada dasarnya nilainya dapat dikendalikan karena pH aktual hanya mengukur H+ dari
atau dinaik-turunkan. untuk menaikkan pH larutan tanah, sedangkan pH potensial
tanah yang bersifat masam dapat dilakukan mengukur H+ dari larutan tanah dan
penambahan kapur atau batuan zeolit yang kompleks jerapan tanah.
telah dihaluskan. Sedangkan untuk Berdasarkan tabel percobaan pH tanah,
menurunkan pH tanah dapat digunakan diperoleh hasil bahwa Entisol memiliki pH
bahan organik yang telah di dekomposisi aktual sebesar 6,17 dan pH potensial
sebelumnya. sebesar 5,135. Hal ini sesuai dengan pH
Pada percobaan reaksi tanah kali ini, entisol milik Firmansyah dan Sumarni
dihitung pH aktual dan pH potensialnya (2013) yaitu sebesar 6,1. Besar kecilnya
pada lima jenis tanah yang digunakan yaitu nilai pH suatu tanah dapat disebabkan
Vertisol, Ultisol, Alfisol, Rendzina, dan karena adanya perbedaan kadar bahan
Entisol. Pada penetapan pH aktual, organik, anasir iklim, serta perbedaan jenis
digunakan bahan pendesak H2O. bahan induk. Bahan induk yang berasal
Sedangkan pada penetapan pH potensial dari gunung, akan cenderung memiliki pH
digunakan bahan pendesak KCl . pH aktual yang lebih rendah dibandingkan dengan
merupakan ion H+ yang terukur pada yang dipantai. Ini karena bahan induk

59
entisol dari gunung, biasanya berasal dari dengan nilai pH untuk pH aktual sebesar
abu vulkanik, sedangkan dari pantai 7,265 dan pH potensial sebesar 5,665.
biasanya berasal dari sedimen marin. Menurut Purwanto (2014), berdasarkan
Alfisol diperoleh nilai pH potensial sebesar pengamatannya Vertisol memiliki pH
7,045 dan pH aktual sebesar 7,47. Bila masam kenetralan dengan kisaran 5,9-7,2
dibandingkan dengan hasil pengukuran yang dapat disebabkan karena adanya
milik Syarif dkk. (2013) yang nilai pH nya penambahan bahan organik. Sehingga
sebesar 5,79 maka Alfisol hasil dari nisbah C/N-nya bertambah.
pengukuran kami dapat dikatakan lebih Kesuburan tanah merupakan salah satu
normal atau agak basa. Keasaman tanah faktor terpenting di dalam bidang
milik pengamatan Syarif dkk (2013), bisa pertanian .Kesuburan tanah adalah
jadi karena pelindihan unsur hara yang kemampuan tanah untuk memasok hara
sangat tingi serta dekomposisi bahan pada tanaman dalam jumlah yang
organik yang kurang, karena kandungan seimbang. Salah satu faktor yang
bahan organik yang dimiliki hanya sebesar mempengaruhi kesuburan tanah adalah
1,303%. Kemudian untuk Ultisol, adanya bahan racun maupun bahan yang
diperoleh nilai pH aktual sebesar 5,70 dan menghambat penyerapan hara oleh
pH potensial sebesar 4,43. pH yang kami tanaman (Sutanto ,2002) .Dikatakan bahan
peroleh tidak jauh berbeda dengan pH racun apabila suatu unsur maupun senyawa
Ultisol yang dimiliki oleh Nariatin dkk. di dalam tanah memiliki kadar yang
(2013), yaitu sebesar 5,5. Lalu untuk berlebihan dari yang dibutuhkan oleh
Rendzina, diperoleh nilai pH untuk pH tanaman .Salah satu indikator yang dapat
aktual sebesar 6,665 dan nilai pH potensial digunakan adalah pH tanah . pH tanah
sebesar 5,625. Berdasarkan teori, tanah merupakan sifat kimia tanah yang penting
Rendzina atau jenis Mollisol memiliki nilai karena akan menentukan kualitas tanah
pH sebesar 7,05 hal ini karena bahan induk yang terdiri dari ketersediaan unsur hara
Rendzina yang pada dasarnnya adalah serta muatan baik positif maupun negatif
kapur. Sehingga bila ditemukan pH (Supriyadi, 2007). Adapun faktor-faktor
Rendzina berubah menurun, bisa jadi yang mempengaruhi keragaman pH tanah
disebabkan karena kandungan bahan yaitu dari bahan induk, iklim, bahan
organik (C dan N, C/N) dan pelindian hara organik dan pelapukan manusia. Bahan
oleh aliran air (Joshi el al, 2011). induk masam umumnya mendorong
Selanjutnya untuk Vertisol diperleh hasil terbentuknya tanah bereaksi masam, dan

60
sebaliknya bahan induk basis akan sebesar 7,47, dan Entisol sebesar 6,17.
membentuk tanah basis. Pengaruh iklim Sementara nilai pH potensial Vertisol
basah umumnya akan mendorong sebesar 5,665, Rendzina sebesar 5,625,
berkembangnya tanah masam, sedangkan Ultisol sebesar 4,43, Alfisol sebesar 7,045,
di daerah iklim kering banyak dijumpai dan Entisol sebesar 5,135.
tanah bereaksi basis. Tanah organik
mempunyai pH yang rendah oleh DAFTAR PUSTAKA
akibatnya banyaknya asam-asam organik Arifin, Z. 2011. Analisis nilai indeks
kualitas tanah entisol pada
hasil proses humifikasi. Sedangkan
penggunaan lahan yang berbeda.
pengaruh manusia memang dapat Jurnal Agroteksos, 21(1).
mendorong perubahan pH tanah. Pengaruh
Choirina ,Y., Sudadi and H.
nyata akibat perlakuan manusia umumnya Widijanto .2013 .Pengaruh pupuk
alami bermikroba (bio-natural
berupa penggunaan pupuk ataupun bahan
fertilizer) terhadap serapan fosfor dan
amelioran lainnya. Bila pupuk yang pertumbuhan kacang tanah pada
Alfisol ,Entisol dan Vertisol .Jurnal
digunakan dalam kurun waktu yang lama
Ilmu Tanah dan Agroklimatologi
mempunyai sifat fisiologis masam maka 10(2) :113-121.
akan cenderung menurunkan pH tanah dan
Firmansyah, I., dan N. Sumarmini. 2013.
sebaliknya bila sering menggunakan bahan Pengaruh Dosis pupuk N dan Varietas
terhadap pH Tanah, N-total Tanah,
amelioran yang bersifat basis (kapur) maka
Serapan N dan Hasil Umbi Bawang
akan terjadi proses peningkatan pH tanah. Merah (Allium ascalonicum L.) pada
Tanah Entisols-Brebes Jawa Tengah.
Oleh karena itu, pH tanah sangat
Jurnal Holtikultura, 23(4) : 358-364.
penting untuk kesuburan tanah dan
Hakim, N., M.Y. Ngyakpa., A.M.
produktivitas tanaman. Karena, pH tanah
Lubis.,S.G. Nugraha., G.B. Hong., H.
memberikan pengaruh langsung seperti Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.
Penerbit Universitas Lampung,
kadar ion hidrogen dan pengaruh lain
Lampung.
seperti kadar unsur hara dan kadar ion
Hanudin, E. 2000. Pedoman Analisis
logam beracun.
Kimia Tanah. Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta.
KESIMPULAN
Jirna, I. W. 2000. Penggunaan batas-batas
Dari percobaan yang telah dilakukan Atterberg sebagai dasar untuk
memprediksikan kualitas tanah.
dapat diperoleh kesimpulan bahwa nilai pH
http://www.malang.ac.id/jurnal/ft/bang
aktual Vertisol sebesar 7,265, Rendzina unan. diakses pada tanggal 25 Maret
2017.
sebesar 6,665, Ultisol sebesar 5,70, Alfisol

61
Joshi, D., P.C. Srivasta., and P. Srivasta.
2011. Toxicity Treshold Limits of Syarif, R.G., H. Widjianto., dan Sumarno.
Cadmium for Leafy Vegetables Raised 2013. Pengaruh Dosis Inakulum
on Mollisol Amended With Varying Azolla dan Pupuk Kalium Organik
Levels of Farmyard Manure. Terhadap Ketersediaan K dan Hasil
Pedologist Pages 249-256. Padi pada Alfisol. Jurnal Ilmu Tanah
dan Agroklimatologi, 10(2).
Kumalasari, S.W., J. Syamsiyah., dan
Sumarno. 2011. Studi Beberapa Sifat
Fisika dan Kimia Tanah pada Berbagai
Komposisi Tegakan Tanaman di Sub
Das Solo Hulu. Sains Tanah- Jurnal
Ilmiah Ilmu Tanah dan
Agroklimatologi, 8(2).

Nariatin, I., M.M.B. Damanik., dan G.


Sitanggang. 2013. Ketersediaan
Nitrogen pada Tiga Jenis Tanah
Akibat Pemberian Tiga Bahan
Organik dan Serapannya pada
Tanaman Jagung. Jurnal Online
Agroteknologi, 1(3) : 479-488.

Purwanto., S. Hartati., S. Istiqomah. 2014.


Pengaruh Kualitas dan Dosis Seresah
terhadap Potensial Nitrifikasi Tanah
dan Hasil Jagung Manis. Jurnal Ilmu
Tanah dan Agroklimatologi, 11(1) :
11-20.

Puspitasari, D., I.K. Purwani., dan A.


Muhibuddin. 2012. Eksplorasi
Vesicular Arbuscular Mycorrhiza
(VAM) Indigenous pada Laman
Jagung di Desa Torjun Sampang
Madura. Jurnal Sains dan Seni ITS, 1 :
19-22.

Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah.


IPB. Bogor.

Supriyadi, S. 2007. Kesuburan tanah di


lahan kering Madura. Jurnal Embryo
4(2):124-131.

Sutanto, R. 2002. Penerapan pertanian


organic: pemasyarakatan dan
pengembangannya. Kanisius.
Yogyakarta

62
ABSTRAK
Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah acara IX yaitu “Kadar Kapur Setara Tanah” dilaksanakan pada
hari Senin, 13 Maret 2017 di Laboratorium Tanah Umum, Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kadar kapur pada
beberapa jenis tanah dengan menggunakan metode calsimetri dan titrasi. Pada metode calsimetri digunakan
alat calsimeter dengan khemikalia HCl 0,1 N, sedangkan pada metode titrasi digunakan khemikalia H 2SO4,
NaOH, dan indikator PP. kapur tanah ini berhubungan erat dengan sifat kejenuhan basa dalam tanah,
karena kapur tanah keberadaannya sering ditemukan berasosiasi dengan kerbonat. Jumlah gram ekuivalen
CaCO3 diperoleh dari selisih gram ekuivalen H2SO4 awal dengan gram ekuivalen H 2SO4 sisa. Dari praktikum
ini diperoleh nilai kadar kapur setara tanah dengan metode calsimetri pada tanah rendzina 12%; vertisol
10,1035%; alfisol 6,154%; ultisol 5,54%; dan entisol 1,52%. Sementara dengan metode titrasi (cottenie) kadar
kapur setara tanah yang diperoleh adalah rendzina 2,12%; vertisol 2,528%; alfisol 2,368%; ultisol 1,4194%;
dan entisol 1,0025%.

Kata kunci: kapur tanah, calsimetri, titrasi, CaCO 3 dalam tanah

PENGANTAR unsur N, P, dan S, serta unsur mikro bagi


Kandungan kapur dalam tanah sangat tanaman. Kapur yang banyak digunakan di
dipengaruhi oleh adanya batuan induk yang Indonesia adalah dalam bentuk karst (CaCO3)
ada di lokasi tersebut. Jika batuan induk dan dolomit (CaMg(CO3)2) (Soepardi, 1983).
mengandung bahan kapur, maka tanahnya Penambahan kapur menimbulkan
akan bersifat basis. Keberadaan kapur muatan positif (kation) dalam air pori.
sendiri berkaitan erat dengan unsur calcium Penambahan kation ini memungkinkan
dan magnesium,sehingga tanah yang terjadinya proses tarik menarik antara ion
mengandung unsur tersebut sering dan partikel dengan kation dari partikel
ditemukan berasosiasi dengan karbonat. kapur serta kation dari partikel kapur dengan
Kapur memiliki sifat sebagai bahan ikat anion dari partikel air. Proses ini
antara lain sifat plastis yang naik (tidak mengganggu proses tarik menarik antara ion
getas), mudah dan cepat mengeras serta dari partikel tanah dengan kation dari
mempunyai daya ikat penentuan jumlah partikel air, sehingga partikel tanah
yang diperlukan untuk koreksi keasaman kehilangan daya tarik antar partikelnya.
(Kuswandi, 1993). Pengapuran tanah Berkurangnya daya tarik antar partikel tanah
mampu menetralkan senyawa-senyawa dapat menurunkan kohesi tanah. Penurunan
beracun dan menekan penyakit tanaman. kohesi ini menyebabkan mudah terlepasnya
Aminasi, amonifikasi, dan oksidasi belerang partikel tanah dari ikatannya. Penambahan
nyata dipercepat oleh meningkatnya pH kapur yang emakin banyak akan
tanah, maka akan menjadikan terjadinya menyebabkan semakin turunnya nilai kohesi.

63
Dnegan turunnya nilai kohesi akan terbentuklah suatu gel kalsium silica yang
menyebabkan turunnya nilai batas cair pada tidak akan teruraikan dengan air sehingga
tanah (Wiqoyah, 2006). Namun apabila terjadilah proses penggumpalan (Polat et al.,
berlebihan, pengapuran dapat berdampak 2013).
negatif berupa penurunan ketersediaan Zn, Pemberian kapur CaCO3 pada media
Mn, Cu, B yang dapat menyebabkan tanah budidaya diharapkan mampu meningkatkan
menjadi devisiensi keempat unsur ini, serta pH tanah dan mengefektifkan unsur-unsur
dapat mengalami keracunan Mo (Hanafiah, hara agar dapat dimanfaatkan untuk
2005). pertumbuhan (Arini, 2011). Tujuan dari
Tanah merupakan produk sampingan pengapuran yaitu agar dapat mempengaruhi
deposit akibat pelapukan kerak bumi dan sifat fisik dan kimia tanah serta kegiatan
batuan yang tersingkap dalam tanah. Metode jasad renik tanah, menetapkan nilai
stabilisasi tanah dasar yang banyak kemasaman tanah dan ketersediaan unsur
digunakan adalah stabilisasi mekanis dan hara. Di daerah tropik, pengapuran
stabilisasi kimiawi. Stabilisasi mekanis yaitu menitikberatkan pada peniadaan pengaruh
menambah kekuatan dan daya dukung tanah meracuni dari Al dan menyediakan hara Ca
dengan cara perbaikan struktur dan bagi tanaman (Sanchez, 2010).
perbaikan sifat-sifat mekanis tanah.
Sedangkan stabilisasi kimiawi yaitu METODOLOGI
menambah kekuatan dan daya dukung tanah Pada praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah
dengan jalan mengurangi atau Acara IX ini yang berjudul “Kadar Kapur
menghilangkan sifat-sifat fisis tanah yang Setara Tanah”, ada dua metode yang
kurang menguntungkan dengan cara digunakan yaitu metode calsimetri dan
mencampur tanah dengan bahan kimia metode titrasi (cottenie). Pada metode
sebagai bahan stabilisasi yaitu kapur. Kapur calsimetri adapun alat dan bahan yang
bereaksi dengan mineral tanah terutama dari digunakan adalah contoh tanah kering angin
kelompok montmorilonite. Reaksi kapur ukuran Ø 0,5 mm yang akan diamati dalam
tanah yang terjadi mencakup terjadinya percobaan ini, kemudian timbangan analitik
kontak antara mineral lempung drngan atau elektronik yang dgunakan untuk
komponen pozzolan dengan bahan kapur, menimbang tanah, selanjutnya ada pipet 5
terjadi pertukaran ion dan kemudian ml dan 50 ml yang digunakan untuk
64
mengambil larutan dengan volume tertentu, gram. Reaksi yang terjadi pada proses ini
lalu ada buret dan statif yang digunakan yaitu:
untuk titrasi, kemudian Erlenmeyer 250 ml CaCO3 + 2HCl  Ca2+ + 2Cl- + H2O +
dan juga ada pemanas untuk memanaskan CO2
larutan dan dan alat untuk analisis kadar Pada metode titrasi atau cottenie, alat
kapur setara tanah metode calsimetri yaitu dan bahan yang digunakan adalah contoh
digunakann calsimeter. tanah kering angin ukuran Ø 0,5 mm,
Langkah pertama yang dilakukan yaitu timbangan analitik atau elektronik yang
calsimeter kosong, bersih dan kering digunakan untuk menimbang tanah,
ditimbang dan di misalkan menjadi a gram. kemudian pipet volume 5 ml dan 50 ml
Kemudian contoh tanah Ø 0,5 mm untuk mengambil larutan. Buret dan statif
ditimbang seberat 5 gram dan dimasukkan digunakan untuk titrasi, labu ukur 50 ml dna
ke dalam calsimeter, lalu ditimbang Erlenmeyer 50 ml untuk mereaksikan larutan
calsimeter beserta tanah dan dimisalkan dan pemanas yang digunakan untuk
menjadi b gram. Tempat HCl pada memanaskan larutan. Kemudian khemikalia
calsimeter diisi dengan HCl 2N sampai yang digunakan yaitu H2SO4, NaOH, dan
hampir penuh, dan harus dijaga agar kran indikator PP.
disebelah bawah tempat HCl tertutup rapat Langkah pertama pada metode titrasi
sehingga HCl tidak menetes kemudian atau cottenie adalah diambil 2 labu ukur 50
ditimbang dan dimisalkan menjadi c gram. ml, 1 untuk analisi blanko dan 1 untuk baku.
Langkah selanjutnya kran HCl dibuka Pada labu ukur baku, dimasukkan contoh
perlahan-lahan sehingga HCl menetes tanah Ø 0,5 mm sebanyak 5 gram. Lalu pada
setetes demi setetes sambil digoyangkan masuing-masing tabung dimasukkan 20 ml
mendatar agar reaksinya sempurna. Setelah H2SO4 dengan pipet volume. Kemudian labu
HCl habis, calsimeter dihangatkan sebentar ukur digoyangkan secara mendatar dan
kurang lebih 1 menit di atas api kecil dan memutar agar reaksinya merata. Setelah itu
hati-hati terhadap penguapan air, cukup dipanaskan di atas api kecil selama kurang
dihangatkan saja jadi jangan terlalu lama. lebih 3 menit. Lalu didinginkan, dan setelah
Kemudian calsimter diangkat dari api kecil dingin ditambahkan aquadest sampai tanda
dan dibiarkan selama kurang lebih setengah batas. Kemudian disumbat dan digojok
jam lalu ditimbang dan dimisalkan sebagai d dengan cara dibolak-balik sampai larutannya
65
homogen, lalu dibiarkan sampai mengendap. Alfisol 6,154% 2,368%
Dari masing-masing labu ukur, diambil
Ultisol 5,54% 1,4194%
larutan jernih sebanyak 10 ml dengan
menggunakan pipet volume dan msaing- Entisol 1,52% 1,0025%
masing dimasukkan ke dalam erlenmeyer 50
Keterangan: Blanko= 4,3 ml
ml, lalu ditambahkan 15 ml aquadest pada
masing-masing labu ukur. Setelah itu
ditambahkan indikator PP beberapa tetes Kandungan kapur merupakan
misalnya 2 tetes, kemudian digoyang- kandungan yang berupa Ca (kalsium) atau
goyangkan agar larutan tercampur merata. Mg (magnesium). Keberadaan kapur tanah
Untuk blanko ditritasi terlebih dahulu (Ca dan Mg) yang tinggi akan
dengan 0,3 N NaOH dan titrasi dihentikan mempengaruhi proses perkembangan tanah
katika larutan berubah menjadi kemerahan, yaitu lengas tanah, bentuk dari lapisan-
setelah itu warna dari hasil titrasi baku lapisan tanah dan tipe vegetasi. Sehingga
disamakan dengan warna blanko. Adapun tujuan analisis kadar kapur setar atanah yaitu
reaksi yang terjadi pada proses ini adalah: mengetahui kadar kapur dari setiap jenis
CaCO3 + H2SO4  CaSO4 + H2O + CO2 + tanah yang berkaitan erat lapisan tanah
sisa H2SO4 (karena proses pelindian) yang akan
Untuk mengetahui sisa H2SO4 dititrasi berpengaruh terhadap vegetasi yang mampu
dengan basa NaOH. Selisih gram ekuivalen ditanam pada tanah tersebut.
H2SO4 awal dengan gram ekuivalen H2SO4 Berdasarkan percobaan yang telah
sisa merupakan jumlah gram ekuivalen dilakukan oleh praktikan maka diperoleh
CaCO3 tanah. data kadar kapur setara tamah rendzina 12%
dengan metode calsimetri dan 2,12% dengan
HASIL DAN PEMBAHASAN metode cottenie. Jika dibandingkan dengan
Tabel 9.1 Hasil kadar kapur setara tanah literatur yang ada (Nurcholis et al., 2003),
Tanah Calsimetri Cottenie rendzina memiliki kadar sebesar
7,73% ,kandungan kapur yang paling tinggi
Rendzina 12% 2,12%
dibandingkan dengan jenis tanah lainnya.
Vertisol 10,1035% 2,528% Hal ini sudah sesuai dengan praktikum yang
ada yang dinilai tertinggi diantara jenis tanah
66
yang lainnya. Kadar rendzina yang tinggi cukup stabil tinggi karena pH-nya yang
dipengaruhi pH pada praktikum sebelumnya netral pada praktikum sebelumnya sehinggaa
tergolong netral karena pada sam biasanya nilai KB-nya juga tinggi.
tanah memiliki nilai kejenuhan basa Berdasarkan percobaan yang telah
menunjukan kompleks pertukaran ion dilakukan (Sujana, 2015) nilai kadar kapur
didominasi oleh kation-kation basa, jerapan ultisol adalah 5-8% pada lapisan atas dan 37-
kation yang ada sekaligus memberikan 38% pada lapisan bawah dan kadar kapur
informasi unsur hara cukup efektif yang pada bagian bawah tergolong tinggi. Hal
dapat menimbulkan pH netral dan stabil. pH tersebut sesuai dengan praktikum yang telah
netral atau stabil umumnya cocok untuk dilakukan dimana diperoleh hasil yaitu
bercocok tanam dalam dunia pertanian. dengan metode calsimetri 5,54% dan dengan
Pada percobaan yang dilakukan metode cottenie 1,4194% dan tanah ultisol
(Widyantari et al., 2015) bahwa tanah alfisol cenderung lebih memiliki kation asam (Al+
memiliki kejenuhan basa 97,81% (sangat dan H+) dibandingan kation basa (Ca2+,
tinggi), K2O 45,0% (tinggi) dan KTK 30,67% Mg2+, Na2+, dan K+) yang diketahui bahwa
(tinggi). Pada percobaan yang dilakukan jerapan tanah yang didominasi kation asam
bahwa alfisol memiliki kadar kapur 6,154% akan tidak menguntungkan bagi
pada metode calsimetri dan 2,368% dengan pertumbuhan tanaman, bahkan apabila
metode cottenie. Pada literature dinilai kelebihan Al+ akan meracuni tanaman. Hal
alfisol meiliki kadar kapur yang tinggi, tersebutlah yang menjadi faktor nilai
namun jika dibandingkan niai kadar kapur kejenuhan basa rendah, pH rendah, dan
pada praktikum lebih rendah namun kadar kapurnya pun tergolong rendah
tergolong cukup tinggi diantara jenis tanah dibanding yang lain.
lain. Hal tersebut dipengaruhi oleh Pada percobaan yang dilakukan oleh
kandungan kaliumnya. Pada literature (Purba et al., 2013) bahwa tanah entisol
disebutkan bahwa kandungan K yang tinggi memiliki nilai kejenuhan basa 10,16% dan
di tanah alfisol disebabkan oleh jerami pad nilai KTK 16,62%. Hal tersebut sesuai
(sebagai sumber hara utama K dan Si), dengan hasil praktikum yaitu kadar kapur
sehingga hampir 80% K dapat diserap jerami tanah entisol 1,052% dengn metode
yang akan memperlambat meiskinan K dan calsimetri dan 1,0025% dengan metode
Si. Namun, nilai kadar kapur dianggap cottenie yang dinilai sama rendahnya. Hal
67
tersebut dipengaruhi oleh nilai KTK tanah bervariasi, karena terdapat perbedaan
entisol yang rendah (kurang bisa menyerap kelarutan dan mobilitas tersebut maka
dan menyimpan hara yang dibutuhkan) terendapkan terlebih dahulu adalah akrbonat
sehingga entisol memiliki KB yang rendah sehingga terbentuk karak kapur dipermukaan
yang menyebabkan kadar kapur bernilai tanah berbeda di setiap jenis tanah
rendah. (Edmeades, 2012).
Pada praktikum yang telah dilakukan Manfaat kapur dalam dunia pertanian
diperoleh data kadar kapur vertisol yaitu yaitu berkaitan dengan kejenuhan basa yang
dengan metoe calsimetri 10,1035% dan dalam penggunaannya untuk pertimbangan-
dengan metode cottenie 2,528%. Jika pertimbangan pemupukan dan memprediksi
dibandingkan dengan literature kemudahan unsur hara yang tersedia bagi
(Arianti,2010) bahwa kandungan Ca tanaman. Selain itu, bermanfaat untuk
mencapai 9,89% yang tergolong tinggi mengetahui pengolahan lahan dan vegetasi
dengan KB 90,9% (sangat tinggi). Hal yang akan ditanami pada lahan karena pada
tersebut sesuai dengan praktikum yang dasarnya nilai kejenuhan basa menunjukkan
dilakukan bahwa vertisol memiliki nilai pH yang berbanding lurus (Winarso, 2005).
akdar kapur yang relative tinggi yang Selain itu, penambahan kapur dapat
dipengaruhi oleh kation basanya yang tinggi menaikkan pH tanah dari masam menjadi
dan Kb-nya tinggi. netral karena akan mengkilat Al dan H yang
Pada umumnya batuan kapur lebih tahan tersedia,mmemuat agregat tanah lebih stabil
terhadap perkembangan tanah. Pelarutan dan dan perombakan bahan organik lancer.
kehilangan karbonat diperlukan sebagai Namun, penambahan nilai pH pada tanah
pendorong dalam pembentukan tanah pada dengan menggunakan kapur tidak selalu
batuan berkapur. Garam yang mudah larut menimbulkan positif hal tersebut karena
seperti Na, K, Ca, Mg-klorida sulfat, NaCO3 pemberian kapur yang terlalu banyak dapat
dan agak mudah larut seperti Ca, Mg menimbulkan zat hara seperti P yang sulit
memiliki karbonat yang akan berpindah diserap tanaman karena Ca2+ mengikat P.
bersama air, bergantung besarnya air yang seperti menurut Brady (1974), pengapuran
dapat mencapai kedalaman tanah tertentu. yang berlebih menyebabkan dapat
Hal ini menyebabkan terjadinya pengayaan menimbulkan berkurangnya ketersediaan Fe,
garam dan kapur pada horizon tertentu dan Mn, Ca, Cu, dan Zn. Ketersediaan fosfat
68
menjadi kerburang, penyerapan dan keasaman atau kebasaan suatu tanah atau
pemanfaatan boron akan terhalangi, cara perlakuan pada lahan tersebut. Tanah
perubahan pH secara drastis akan merusak. yang terlalu masam dapat ditambah kapur
Pada praktikum ini, digunakan untuk menaikan pH, memperbaiki sifat
khemikalia HCl untuk calsimetri. Serta kimia, sifat fisika, dan biologi tanah. Selain
digunakan H2SO4, NaOH dan indikator PP itu bermanfaat untuk mengetahui komoditas
untuk metode cottenie. Penggunaan HCl yang cocok dan jenis bahan induk yang
sebagai pelarut CaCO3 sehingga dihasilkan terkandung dalam tanah.
CO2 yang menjadi sebanding dengan kadar Pada praktikum ini metode yang
kapur dalam tanah. Berikut reaksi CaCO3 digunakan adalah metode calsimetri dan
dengan HCl yang dipanaskan: cottenie. Kelebihan dari kedua metode
HCl + CaCO3  CaCl + CO2 + H2O tersebut adalah akrena alat yang dipakai
Sedangkan penggunaan H2SO4 yaitu mudah didapat dan bisa dilakukan di
melarutkan CaCO3. Hal tersebut karena laboratorium, serta tingkat ketelitiannya pun
CaCO3 merupakan senyawa insoluble cukup tinggi. Pada metode calsimetri
sehingga harus dilarutkan dengan asam. praktiknya lebih mudah dan dapat mengukur
Fungsi NaOH sebagai titrasi alkalimetri CO2 yag menguap. Namun memiliki
untuk mengukur jumlah H2SO4 sisa setelah kekurangan yaitu membutuhkan waktu lama
titrasi, karena jumlahnya sebanding dengan dan perbedaan hasil tmbangan akan sangat
kadar kapur dalam tanah. Berikut reaksi mempengaruhi hasil akhir, sehingga
yang terjadi: membutuhkan kesabaran yang tinggi. Pada
CaCO3 + 2HCl  Ca2+ + 2Cl- + H2O + metode cottenie memiliki kelebihan yaitu
CO2 mudah dan cepat serta tidak membutuhkan
Pada praktikum ini idnikator PP digunakan waktu yang lama. Namun memiliki
unutk menentukan titik akhir titrasi yang kekurangan yaitu bersifat subjektif dalam
akan merubah larutan menjadi warna pembentukan titik akhir titrasi melalui
kemerahan saat dititrasi dengan NaOH. perubahan warna.
Kapur tanah sangat penting dipelajari
karena berkaitan dengan kesuburan tanah. KESIMPULAN
Menentukan kadar kapur berkaitan dengan Berdasarkan hasil percobaan maka
penggunaan atau fungsi lahan dan mengatasi dapat disimpulkan bahwa praktikum ini nilai
69
kadar kapur setara tanah dengan metode hubungannya dengan reklamasi lahan
bekas tambang. Fakultas Geografi UGM.
calsimetri pada tanah rendzina 12%; vertisol
Prosiding Lokakarya Nasional.
10,1035%; alfisol 6,154%; ultisol 5,54%;
Palar, Hariman, S. Monintja, Turangan, A.N
dan entisol 1,52%. Sementara dengan
Sarajar. 2013. Pengaruh pencampuran
metode titrasi (cottenie) kadar kapur setara trans dan kapur pada lempung ekspansif
terhadap nilai daya dukung. Jurnal Sipil
tanah yang diperoleh adalah rendzina 2,12%;
Statik. 1(6):390.
vertisol 2,528%; alfisol 2,368%; ultisol
Purba, A. H. R., P. Marbun., A. S. Hanafiah.
1,4194%; dan entisol 1,0025%.
2013. Evaluasi kesesuaian lahan pada
lahan entisol di Kec. Lintung Nihuta
Kab. Hanibung Hasundtudan untuk
DAFTAR PUSTAKA
tanaman kopi arabika. Jurnal Online
Arianti, E., Sutepo dan Suswanto. 2010. Agroekoteknologi Vol. 2 No. 1-12.
Kegiatan status makro Ca, Mg, dan S
tanah sawah kawasan industri daerah Sanchez, A. R. 2010. Sifat dan Pengolahan
Kab. Karanganyar. Jurnal Ilmu Tanah Tanah. ITB. Bandung.
dan Agroklimatologi 7(1).
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah.
Arini, Endang. 2011. Pemberian Kapur Saduran The Nature and Properties of
(CaCO3) untuk perbaikan kualitas tanah Soils by Brady. IPB. Bogor.
tambak dan pertumbuhan rumput laut
Gracillaria sp.. Jurnal Saintek Sujan, I. P., I. N. L. S. Pura. 2015.
Perikanan. VI(2):23-30. Pengelolaan tanah ultisol dengan
pemberian pembenah organic biochar
Brady, N. 1974. The Nature and Properties menuju pertanian berkelanjutan.
of Soils. Maemillan Publishing. New Agrimeta Vol. 5 No. 9: 1-69.
York.
Widyamentari D. A. G., K. D. Susila., dan T.
Edmeades. D. C., D. M. Wheeler and J.E. kusmawati. 2015. Evaluasi status
Weller. 2012. Comparison of methods kesuburan tanah untuk lahan pertanian
for determining line requirement of New di Kec. Denpasar Timur. E Journal
Zealand Soils. New Zealand Journal of Agroeldek Tropika Vol. 4 No. 4.
Agriculture Research 28: 93-100.
Winarso, S. 2005. Kesuburan Tanah (Dasar
Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-dasar Ilmu Kesehatan dan Kualitas Tanah).
Tanah. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Gauamedia. Yogyakarta.

Kuswandi. 1993. Pengapuran Tanah Wiqoyah, Q. 2006. Pengaruh kadar kapur,


Pertanian. Kanisius. Yogyakarta. waktu perawatan dan perendaman
terhadap kuat dukung tanah lempung.
Nurcholis, E. R. Sasmita, S. G. Sutoto. 2003. Dinamika Teknik Sipil (6): 16-24.
Kualitas tanah di topografi karst di
Bedoyo Gunung Kidul dan
70
LAMPIRAN

ACARA 1 3. Tanah asli


(b − c) a. Ulangan 1
KL = 100% (43,31 − 40,73)
(c − a)
KL = 100%
(40,73 − 33,3)
1. CT Ø 0,5 mm KL = 34,72%
a. Ulangan 1
(32,22 − 31,95) b. Ulangan 2
KL = 100% (30,93 − 28,43)
(31,95 − 22,3)
KL = 100%
KL = 2,7979% (28,43 − 20,9)
KL = 33,2%
b. Ulangan 2
(41,23 − 40,95) 34,72+33,2
Rata-rata = %
KL = 100% 2
(40,95 − 31,2) = 33,96%
KL = 2,8717%
4. CT bongkah
2,7979+ 2,8717
Rata-rata = % a. Ulangan 1
2
= 2,825% (34,84 − 34,61)
KL = 100%
(34,61 − 24,8)
2. CT Ø 2 mm KL = 2,344%
a. Ulangan 1
(43,52 − 43,29) b. Ulangan 2
KL = 100% (36,03 − 35,79)
(43,29 − 33,5)
KL = 100%
KL = 2,2244% (35,79 − 26,06)
KL = 2,467%
b. Ulangan 2
(40,61 − 39,79) 2,344+2,467
Rata-rata = %
KL = 100% 2
(39,79 − 29,9) = 2,395%
KL = 2,3493%

2,2244+ 2,3493
Rata-rata = %
2
= 2,285%

71
ACARA 2
1. [D+L]aktual
c. Ulangan 1
(46,458−46,26)
[D + L] = 40 x (100 + 2,825)%
(15)
[D + L] = 54,00648%

d. Ulangan 2
(38,745−38,712)
[D + L] = 40 x (100 + 2,825)%
(15)
[D + L] = 9,00108%

54,00648+9,00108
Rata-rata = %
2
= 31,50378%

31,50378
2. NPD = 100%
34,4378
= 91,48%

72
ACARA 4
Perhitungan BV:
(87)a
BV = [100+KL] [ 0,87(q−p−r)−(b−a)] g/cm3

1. Ulangan 1
(87)(3,617)
BV = [100+2,395] [ 0,87(38−35)−(3,844−3,617)] g/cm3
314,679
BV = [102,395] [ 0,87(3)−(0,227)] g/cm3
314,679
BV = [102,395] [2,61−0,227] g/cm3
314,679
BV = [102,395] [2,383] g/cm3
314,679
BV = 244,007285 g/cm3
BV = 1,289 g/cm3

2. Ulangan 2
(87)(2,704)
BV = [100+2,395] [ 0,87(37−35)−(2,194−2,074)] g/cm3
180,438
BV = [102,395] [ 0,87(2)−(0,12)] g/cm3
180,438
BV = [102,395] [1,74−0,12] g/cm3
180,438
BV = [102,395] [1,62] g/cm3
180,438
BV = 165,8799 g/cm3
BV = 1,087 g/cm3
1,289 + 1,087
BV rata-rata = 2
= 2,376 g/cm3
Perhitungan BJ:
100(b−a) BJ1 BJ2
BJ = [100+KL] [ BJ1(d−a)−BJ2(c−b)] g/cm3

1. Ulangan 1
100(47,662−25,490) (0,995)(0,997)
BJ = [100+2,285] [0,995(71,954−25,490)−0,997(85,600−47,662)] g/cm3
100(22,172) (0,992015)
BJ = [102,285] [0,995(46,464)−0,997(37,938)] g/cm3
2199,495658
BJ = [102,285] [46,23168−37,824186] g/cm3
2199,495658
BJ = [102,285] [8,407494] g/cm3
2199,495658
BJ = 859,96052379 g/cm3
BJ = 2,558 g/cm3

2. Ulangan 2
100(445,197−20,320) (0,996)(0,997)
BJ = [100+2,285] [0,,996(66,304−20,320)−0,997(81,622−45,197)] g/cm3
100(24,877)(0,993012)
BJ = [102,285] [0,996(45,984)−0,997(36,425)] g/cm3

73
2470,3159524
BJ = [102,285] [45,800064−36,315725] g/cm3
2470,3159524
BJ = [102,285] [9,484339] g/cm3
2470,3159524
BJ = 970,10561462 g/cm3
BJ = 2,546 g/cm3
2,558+2,546
BJ rata-rata = 2
= 2,552 g/cm3

Perhitungan porositas tanah:


BV
n = [1 − BJ ] 100%
1,087
n = [1 − 2,552] 100%
n = [1 − 0,4259494389]100%
n = 57,4%

74
ACARA 6
(100 + 𝐾𝐿)(𝑉𝐴 − 𝑉𝐵)𝑁𝐹𝑒𝑆𝑂4 × 3 50 100
𝐶= × × × 100%
100 × 1000 × 𝑎 5 77
100
Kadar Bahan Organik = [𝐶] ∗ 58 %
Dengan
VA = Volume titrasi blanko = 3,4 ml
VB = Volume titrasi baku = 2,3 ml (ulangan 1) dan 2,6 ml (ulangan 2)
N = Normalitas = 0,2
KL = Kadar Lengas acara 1 = 2,825

1. Ulangan 1

(100 + 2,825)(3,4 − 2,3)0,2 × 3 50 100


𝐶= × × × 100%
100 × 1000 × 1 5 77

67,8645
= % = 8,813571429 × 10−1 %
77
100
𝐵𝑂 = 0,8813571429 × 58 % = 1,519581281%

2. Ulangan 2

(100 + 2,825)(3,4 − 2,6)0,2 × 3 50 100


𝐶= × × × 100%
100 × 1000 × 1 5 77

49,356
= % = 6,40987013 × 10−1 %
77
100
𝐵𝑂 = 0,640987013 × 58 % = 1,105150022%

 C-Organik rata-rata

0,8813571429 + 0,640987013
𝐶= = 0,761172078%
2

 Kadar Bahan Organik

1,519581281 + 1,105150022
𝐵𝑂 = = 1,312365652%
2

75
ACARA 9
Perhitungan calsimetri:
(c−d)(100+KL)
1. CaCO3 = 100%
44 (b−a)
(148,440−148,316)(100+2,825)
= 100%
44 (114,745−109,7)
(0,024)(102,825)
= 100%
44 (5,045)
2,4678
= 221,98 100%
= 1,111721777%

(c−d)(100+KL)
2. CaCO3 = 100%
44 (b−a)
(165,990−165,949)(100+2,825)
= 100%
44 (128,03−123,038)
(0,041)(102,825)
= 100%
44 (4,992)
4,215825
= 100%
219,648
= 1,919355059%
1,111721777 + 1,919355059
CaCO3 (rata-rata) = %
2
= 1,515538434%

Perhitungan metode titrasi


1. Ulangan 1
(Va−Vb)N NaOH(5) V1
CaCO3 = (100 + KL)%
a x 100 V2
(4,3−3,9)(0,3)(5) 50
CaCO3 = (100 + 2,825)%
5 x 100 10
(0,4)(1,5)
CaCO3 = 500 5 (102, 825)%
CaCO3 = 0,6%

2. Ulangan 2
(Va−Vb)N NaOH(5) V1
CaCO3 = (100 + KL)%
a x 100 V2
(4,3−3,65)(0,3)(5) 50
CaCO3 = (100 + 2,825)%
5 x 100 10
(0,65)(1,5)
CaCO3 = 500 5 (102, 825)%
CaCO3 = 1,0025%

76