Anda di halaman 1dari 62

DIKLAT FUNGSIONAL PEMERIKSA DASAR

Bahan Ajar

Persiapan
Pemeriksaan
Disusun:

Johannes Aritonang

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSDIKLAT PAJAK
2016
PENDAHULUAN

1.1 Deskripsi Singkat

Pepatah “persiapan yang baik, setengah dari pekerjaan telah dilaksanakan” merupakan hal yang
seharusnya dilakukan oleh setiap lembaga, institusi, kelompok, keluarga bahkan pribadi sebelum
melaksanakan suatu kegiatan. Semakin rinci persiapan dilakukan akan semakin mudah untuk
menyelesaikan suatu kegiatan. Tingginya beban kerja pemeriksa, mengharuskan pemeriksa untuk
mempersiapkan dan merencanakan pemeriksaan agar menjadi lebih efektif dan efesien.
Banyaknya jumlah pemeriksaan, jangka waktu pemeriksaan yang terbatas, semakin kompleksnya
permasalahan Wajib Pajak, jumlah Wajib Pajak yang terus bertambah, dan jumlah pemeriksa pajak
yang terbatas tidaklah merupakan alasan untuk menurunkan mutu dari kualitas pemeriksaan.

Adapun tujuan pemeriksaan yang dinyatakan pada pasal 29 ayat 1 Undang-Undang KUP dan
dijadikan sebagai dasar dari Direktur Jenderal Pajak untuk melakukan pemeriksaan yaitu:
“Direktur Jenderal Pajak berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan Wajib Pajak dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan”, maka pemeriksaan yang bertujuan untuk menguji
kepatuhan wajib pajak, tidak akan tercapai dengan baik, jika pemeriksa tidak mampu
mengotimalkan semua sumber daya yang dimilikinya. Semakin baik mutu pemeriksaan seharusnya
juga akan semakin meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

Dalam upaya mencapai tujuan yang efektif dan efisien, pemeriksaan dibagi lagi atas pemeriksaan
lapangan dan pemeriksaan kantor. Pemeriksaan lapangan yaitu pemeriksaan yang dilakukan di
tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak, tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
Wajib Pajak, dan/atau tempat lain yang dianggap perlu oleh pemeriksa pajak, sedangkan
pemeriksaan kantor merupakan pemeriksaan yang dilakukan di kantor Direktorat Jenderal Pajak.
Agar pemeriksaan yang dilakukan oleh pemeriksa pajak mempunyai keseragaman terhadap
kegiatan apa saja yang dilakukan di dalam pemeriksaan pajak, maka Menteri Keuangan pada
Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-17/PMK.03/2013 pasal 8 sebagaimana telah diubah
Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 1
dengan PMK No.184 /PMK.03/2015 menetapkan bahwa pelaksanaan pemeriksaan untuk menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan harus dilakukan sesuai standar pelaksanaan
pemeriksaan, yaitu pelaksanaan pemeriksaan harus didahului dengan persiapan yang baik sesuai
dengan tujuan Pemeriksaan, yang paling sedikit meliputi kegiatan mengumpulkan dan mempelajari
data Wajib Pajak, menyusun rencana Pemeriksaan (audit plan), dan menyusun program pemeriksaan
(audit program), serta mendapat pengawasan yang seksama. Jika ditinjau dari tujuan pemeriksaan,
maka pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajibanperpajakan harus
dilaksanakan sesuai dengan standar pemeriksaan. Standar pemeriksaan merupakan capaian
minimum yang harus dicapai dalam melaksanakan pemeriksaan serta juga digunakan sebagai
ukuran mutu pemeriksaan yang merupakan capaian minimum yang harus dicapai dalam
melaksanakan pemeriksaan. Standar pemeriksaan ini meliputi standar umum pemeriksaan,
standar pelaksanaan pemeriksaan, dan standar pelaporan hasil pemeriksaan.

Bahan Ajar ini akan membahas tahapan persiapan pemeriksaan pada pemeriksaan dengan tujuan
untuk menguji kepatuhan Wajib Pajak. Pada tahap persiapan pemeriksaan ini pemeriksa
melakukan kegiatan mengumpulkan dan mempelajari data Wajib Pajak, menyusun rencana
pemeriksaan (audit plan), dan menyusun program pemeriksaan (audit program). Dalam
pengumpulan dan mempelajari data wajib pajak, pemeriksa melakukan analisa terhadap seluruh
karakteristik wajib pajak, mengidentifikasi masalah serta menentukan cakupan pemeriksaan.

Rencana pemeriksaan merupakan hal mutlak untuk dilakukan dalam pemeriksaan dengan tujuan
untuk menguji pemenuhan kepatuhan kewajiban perpajakan. Rencana kerja pemeriksaan ini
disusun oleh Supervisor dan harus ditelaah serta disetujui oleh Kepala Unit Pelaksana
Pemeriksaan (UP2) yang antara lain berisi identitas Wajib Pajak, identitas tim pemeriksa pajak, dan
uraian rencana pemeriksaan. Pada rencana pemeriksaan ini juga ditetapkan ruang lingkup
pemeriksaan dan program pemeriksaan (audit program). Program pemeriksaan ini merupakan
pernyataan pilihan metode pemeriksaan, teknik pemeriksaan, dan prosedur pemeriksaan yang
akan dilaksanakan oleh pemeriksa pajak dalam melakukan pemeriksaan sesuai dengan rencana
pemeriksaan. Pada rencana pemeriksaan inilah ditentukan efektif dan efisiennya suatu

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 2


pemeriksaan. Pada pembuatan rencana pemeriksaan, pemeriksa diperkenankan untuk membuat
audit fokus dan audit scope.

Dokumen-dokumen yang akan dipinjam oleh pemeriksa yang ditentukan pada tahap persiapan
pemeriksaan ini akan mengarahkan pemeriksa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada
dalam identifikasi masalah dan sekaligus menguji apakah Surat Pemberitahuan Wajib Pajak telah
sesuai dengan peraturan perpajakan atau tidak.

Menyiapkan sarana dan prasarana dalam pemeriksaan juga merupakan faktor penting pada tahap
persiapan pemeriksaan dan akan membuat pemeriksa mampu memperhitungkan segala
kemungkinan yang akan terjadi dalam pelaksanaan pemeriksaan , serta akan melindungi dirinya
dari konsekuensi hukum atas tindakan yang akan dilakukan pemeriksa.

1.2. Prasyarat Kompetensi


Peserta diklat sebaiknya telah mempunyai pengetahuan yang memadai tentang akuntansi,
pemeriksaan pajak, serta sudah lulus Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) Dasar,
Pajak Penghasilan (PPh) Dasar, dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Dasar.

1.3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar


1.3.1 Standar Kompetensi
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat memahami gambaran umum pemeriksaan
pajak serta mampu menerapkan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan dalam tahapan
persiapan pemeriksaan dalam rangka pemeriksaan dengan tujuan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan.

1.3.2 Kompetensi Dasar


Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat mampu:
a. Menjelaskan gambaran umum pemeriksaan pajak.
b. Menjelaskan pemeriksaan pajak dan persiapan pemeriksaan pajak.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 3


c. Menjelaskan kegiatan-kegiatan dalam tahap persiapan pemeriksaan pajak.
d. Melakukan pengumpulan data / informasi Wajib Pajak serta menganalisisnya.
e. Mengidentifikasi masalah dan menentukan (ruang lingkup) pemeriksaan.
f. Menyusun program pemeriksaan.
g. Menyediakan sarana dan prasarana pemeriksaan.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 4


Kegiatan Belajar 1
KEGIATAN-KEGIATAN DALAM TAHAP PERSIAPAN PEMERIKSAAN
2
2.1 Pendahuluan
Sebelum mengerti kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam tahap persiapan pemeriksaan, ada
baiknya dimengerti terlebih dahulu pengertian dari persiapan pemeriksaan.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ketiga terbitan Balai Pustaka tahun 2008,
pengertian persiapan adalah :
a. Perlengkapan dan persediaan (untuk sesuatu);
b. Perbuatan (hal dan sebagainya) bersiap-siap atau mempersiapkan; tindakan ( rancangan dan
sebagainya) untuk sesuatu.
Pengertian persiapan pemeriksaan tercantum dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor
SE-25/PJ.54/1988 Tanggal 16 Juli 1988, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pemeriksa pajak
sebelum pemeriksa tersebut melaksanakan pemeriksaan lapangan atau pemeriksaan kantor.
Maksud dan tujuan melakukan persiapan pemeriksaan adalah agar pemeriksa memperoleh
gambaran umum mengenai Wajib Pajak untuk keperluan penyusunan program pemeriksaan yang
sesuai untuk memeriksa Wajib Pajak yang bersangkutan.
Persiapan pemeriksaan adalah kegiatan yang termasuk dalam Standar Pelaksanaan Pemeriksaan
seperti yang dijelaskan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-17/PMK.03/2013 pasal 8
sebagaimana telah diubah dengan PMK No.184 /PMK.03/2015:
“Pelaksanaan Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan harus
dilakukan sesuai standar pelaksanaan Pemeriksaan, yaitu pelaksanaan Pemeriksaan harus didahului
dengan persiapan yang baik sesuai dengan tujuan Pemeriksaan, yang paling sedikit meliputi
kegiatan mengumpulkan dan mempelajari data Wajib Pajak, menyusun rencana Pemeriksaan (audit
plan), dan menyusun program Pemeriksaan (audit program), serta mendapat pengawasan yang
seksama “.
Kegiatan Persiapan Pemeriksaan dimulai sejak Supervisor menerima Nota Dinas pembuatan
Rencana Pemeriksaan (Audit Plan) dari Kepala UP2 melalui Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 5


Internal. Sejak saat itu Supervisor mulai melakukan kegiatan - kegiatan dalam tahap persiapan
pemeriksaan. Kegiatan - kegiatan yang dilakukan dalam persiapan pemeriksaan dijelaskan
dalam dalam Peraturan Dirjen Pajak Nomor Per-23/PJ/2013 pasal 4, yaitu:
1. Kegiatan mengumpulkan dan mempelajari data Wajib Pajak, meliputi:
a) Mempelajari profil Wajib Pajak.
b) Menganalisis data keuangan Wajib Pajak.
c) Mempelajari data lain yang relevan, baik dari Direktorat Jenderal Pajak maupun dari pihak
lain,
2. Penyusunan Rencana Pemeriksaan (audit plan).
a) Rencana Pemeriksaan disusun oleh Supervisor.
b) Rencana Pemeriksaan disusun berdasarkan identifikasi masalah yang dilakukan Supervisor
atas data Wajib Pajak yang telah dikumpulkan dan dipelajari.
c) Rencana Pemeriksaan harus ditelaah dan mendapat persetujuan dari Kepala UP2 sebelum
SP2 diterbitkan.
d) Rencana Pemeriksaan antara lain berisi:
i. Identitas Wajib Pajak yang memberikan gambaran umum mengenai Wajib Pajak;
ii. Identitas tim Pemeriksa Pajak yang berisi susunan tim dan jumlah SP2 yang sedang
dikerjakan tim Pemeriksa Pajak yang bersangkutan; dan
iii. Uraian Rencana Pemeriksaan yang berisi informasi mengenai identifikasi masalah,
perkiraan tanggal selesai Pemeriksaan, serta pos-pos yang akan diperiksa.
e) Rencana Pemeriksaan dapat dilakukan perubahan jika Pemeriksa Pajak menemukan
kondisi yang berbeda saat melakukan Pemeriksaan terhadap Wajib Pajak dengan kondisi
awal yang dijadikan pertimbangan saat membuat Rencana Pemeriksaan.
f) Perubahan Rencana Pemeriksaan dapat disetujui atau ditolak berdasarkan pertimbangan
Kepala UP2.
g) Perubahan Rencana Pemeriksaan harus memperhatikan jangka waktu Pemeriksaan.
3. Penyusunan Program Pemeriksaan (audit program).
a) Program Pemeriksaan disusun oleh Supervisor dan dibantu oleh Ketua Tim berdasarkan
Rencana Pemeriksaan.
b) Program Pemeriksaan sekurang-kurangnya menyatakan Metode Pemeriksaan, Teknik

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 6


Pemeriksaan, dan Prosedur Pemeriksaan yang dilakukan oleh Pemeriksa Pajak, dan buku,
catatan, dan dokumen yang diperlukan.
c) Dalam hal terdapat perubahan Rencana Pemeriksaan berupa penambahan pos-pos yang
akan diperiksa maka harus dibuat Perubahan Program Pemeriksaan.
d) Kepala UP2 menandatangani Program Pemeriksaan untuk mengetahui apakah Program
Pemeriksaan yang dibuat sesuai dengan pos-pos yang akan diperiksa sebagaimana
tercantum dalam Rencana Pemeriksaan dan perubahannya.
e) Program Pemeriksaan harus memuat Rencana Program Pemeriksaan dan Realisasi
Program Pemeriksaan.
4. Menyiapkan sarana Pemeriksaan.
Untuk kelancaran dan kelengkapan dalam menjalankan Pemeriksaan, tim Pemeriksa Pajak
harus menyiapkan sarana yang diperlukan.

Dalam kegiatan belajar ini pembahasan tentang Rencana Pemeriksaan dan Program Pemeriksaan
akan dibahas sendiri pada kegiatan belajar berikutnya.

2.2 Mengumpulkan Data Wajib Pajak


Persiapan seharusnya mendapatkan perhatian dan porsi yang memadai agar memudahkan kita
dalam mencapai tujuan yang kita kehendaki. Persiapan yang baik merupakan langkah awal yang
baik pula untuk memulai kegiatan pemeriksaan pajak. Dengan persiapan yang matang
diharapkan kegiatan yang dilakukan oleh pemeriksa akan lebih fokus dan terarah karena telah
mendapatkan gambaran tentang apa yang akan dilakukan. Langkah-langkah persiapan yang
dilakukan telah dijabarkan secara detail dalam suatu bentuk program pemeriksaan sehingga
pemeriksa dapat melakukan pengendalian waktu (time management) atas pelaksanaan
pemeriksaan. Dengan pengendalian waktu pemeriksaan yang baik diharapkan kualitas pekerjaan
akan meningkat dengan waktu pekerjaan yang lebih singkat pula. Dengan kata lain Pemeriksa
telah melakukan pemeriksaan pajak secara efektif dan efisien.
Persiapan akan sangat terasa pentingnya jika pada saat yang bersamaan sebuah tim pemeriksa
mendapatkan beberapa Surat Perintah Pemeriksaan yang harus diselesaikan dengan batas waktu
tertentu sesuai ketentuan Peraturan Perundangan Perpajakan yang berlaku. Pelaksanaan

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 7


Pemeriksaan dimulai sejak Surat Perintah Pemeriksaan Pajak diterima oleh Pemeriksa dan
berakhir pada saat dibuatnya Laporan Hasil Pemeriksaan. Dalam setiap pemeriksaan Pemeriksa
harus melakukan prosedur pemeriksaan seperti yang ditentukan dalam ketentuan yang
ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak, tanpa adanya perencanaan yang baik tentunya sulit
untuk mendapat hasil pemeriksaan yang berkualitas dalam jangka waktu yang telah ditetapkan
tersebut. Dengan demikian persiapan mutlak harus dilakukan. Langkah pertama dalam
persiapan pemeriksaan adalah mengumpulkan data dan atau informasi dari sumber internal
maupun eksternal Direktorat Jenderal Pajak.

2.2.1 Pengumpulan Data Internal Direktorat Jenderal Pajak


Kegiatan pengumpulan data internal Direktorat Jenderal Pajak dapat dimulai dengan
mengumpulkan berkas WP dan berkas data dengan cara meminjam berkas dari seksi terkait dan
memanfaatkan data internal yang terdapat di dalam sistem administrasi kantor pajak yang
bersangkutan. Seksi yang dapat membantu dalam pemberian berkas tersebut adalah : Seksi
Pelayanan, Seksi Pengawasan dan Konsultasi (wakson), Seksi Pengolahan Data dan Informasi
(PDI) , Seksi Penagihan serta Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal (RiKI). Berkas tersebut
dikumpulkan kepada Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal dan menyerahkannya kepada
Supervisor pada saat penyerahan Nota Dinas pembuatan Rencana Pemeriksaan (Audit Plan).

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 8


Pengumpulan Berkas
SE-126/PJ/2010
Sie PDI Sie Penagihan
• Berkas data • Ketetapan pajak
• Data MPN • Tungakan pajak
• E-SPT

Sie Pelayanan Sie Waskon


• Berkas Induk • Profile WP
• SPT + SSP Kepala UP2 • Analisis Resiko
via • Info terkini
Kasi
Pemeriksaan

Super
visor

Gambar 2.1 : Alur Pengumpulan Berkas

Berkas-berkas yang dapat diperoleh dari setiap seksi adalah sebagai berikut:
1. Berkas Wajib Pajak yang dapat diperoleh dari Seksi Pelayanan :
a) berkas induk Wajib Pajak,
b) Surat Pemberitahuan (Tahunan dan Masa)
c) Surat Setoran Pajak (SSP)
2. Berkas Wajib Pajak yang dapat diperoleh dari Seksi Pengawasan dan Konsultasi :
a) Profil Wajib Pajak
b) Analisis Risiko
c) Info terkini tentang Wajib Pajak
3. Berkas Wajib Pajak yang dapat diperoleh dari Seksi Penagihan :
a) Ketetapan Pajak
b) Tunggakan Pajak
c) Kegiatan penagihan yang telah dilakukan
d) Alamat terbaru Wajib Pajak

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 9


4. Berkas Wajib Pajak yang dapat diperoleh dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi :
a) Berkas data Wajib Pajak
b) KP Data e SPT
5. Berkas Wajib Pajak yang dapat diperoleh dari seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal:
a) Kertas Kerja Pemeriksaan dan Laporan Hasil Pemeriksaan tahun sebelumnya

Data Internal dari Direktorat Jenderal Pajak juga dapat diperoleh melalui aplikasi – aplikasi yang
tersedia pada sistem administrasi perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak antara lain SIDJP,
SIPMOD, portal DJP, SISMIOP dan Approweb.
Data yang dapat diperoleh dari aplikasi – aplikasi yang ada diantaranya:
a) Jenis Data Modul Penerimaan Negara (MPN) yaitu Data Penerimaan Pajak yang diterima
melalui Bank/Pos Persepsi yang telah dilakukan rekonsiliasi antara pihak perbankan/pos
dan MPN yang meliputi data pembayaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak
Penghasilan (PPh), Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM).
b) Aplikasi Laporan Pemeriksaan dan Penagihan (ALPP).
c) Data PKPM (Pajak Keluaran Pajak Masukan)
d) Profil Wajib Pajak pada aplikasi Approweb
e) Data Pajak Bumi dan Bangunan pada aplikasi SISMIOP

2.2.2 Pengumpulan Data Eksternal Direktorat Jenderal Pajak


Selain data internal, pemeriksa dapat mengumpulkan informasi dari sumber-sumber eksternal
antara lain dari:
a. Media massa (media cetak dan elektronik) yang merupakan penerbitan umum atau
penerbitan khusus.
Penerbitan umum adalah pemuatan pengumuman pada penerbitan surat kabar/majalah /
tabloid atau media massa cetak yang lazim lainnya yang berskala nasional .
Penerbitan khusus adalah pemuatan pengumuman pada:
1) penerbitan Himpunan Bank-Bank Milik Negara (HIMBARA)/Perhimpunan Bank-Bank
Umum Nasional (PERBANAS)
2) penerbitan/pengumuman khusus Bank lndonesia; dan/atau

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 10


3) penerbitan yang dikeluarkan oleh asosiasi yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak dan
pihak kreditur menjadi anggotanya.
b. Media elektronik berupa televisi ,radio , dsb.
c. Internet.
Penggunaan internet sudah umum dilakukan untuk mencari hal-hal yang berkaitan dengan
Wajib Pajak atau bidang usaha Wajib Pajak. Untuk mencari data atau informasi Wajib Pajak di
internet dapat dilakukan di mesin pencari internet. Yang umum digunakan sebagai mesin
pencari adalah google (google.com) dan yahoo (yahoo.com). Sejumlah media juga telah
menerbitkan versi internetnya sehingga berita-berita dapat dibaca lewat situs media
tersebut.
Ada beberapa cara teknik pencarian data melalui internet:
i. Google alerts : Salah satu fasilitas dari Google yang akan mengirim pemberitahuan
tentang halaman web dan berita terbaru sesuai dengan kata kunci yang kita
masukkan ke dalam alert. Pemberitahuan tersebut dikirim melalui email atau umpan
web (web feed). Kelebihan Google Alerts adalah menghemat waktu Anda karena
hasil pencarian data secara otomatis akan dikirimkan ke kotak masuk (inbox). Email
akan dikirim kepada Anda ketika Google menemukan hasil yang baru - seperti
halaman web, artikel surat kabar, atau blog - yang cocok dengan pencarian. Jadi, kita
dapat memantau perkembangan informasi terbaru (up to date) mengenai alert yang
kita masukkan.
ii. Web Crawler/Web Spider yaitu bertugas untuk mengumpulkan semua informasi yang
ada di dalam halaman web. Setiap kali web crawler mengunjungi sebuah website,
maka dia akan mendata dan mengambil semua link dan file yang ada di halaman
tersebut. Fungsi utama web crawler adalah mendownload isi situs, sehingga dapat
berguna untuk browsing secara offline.
Dalam pencarian data melalui internet, program ini sangat bermanfaat karena
pengguna dapat mengumpulkan semua informasi yang terdapat dalam sebuah
website dan kemudian dapat mengaksesnya tanpa terkoneksi dengan internet. Web
Crawler memiliki banyak jenis misalkan Teleport Pro, WebCopier dll tetapi yang paling
populer dan banyak digunakan adalah Teleport Pro. Hal ini dikarenakan Teleport Pro

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 11


mempunyai banyak kelebihan dari software lainnya yang sejenis. Teleport Pro adalah
WebCrawler yang sangat cepat, flexibel dan mudah digunakan.
TeleportPro menggunakan algoritma khusus untuk mempercepat pencarian halaman
web, mengidentifikasi dan mengklasifikasikan link, dan mendownload file.
TeleportPro akan menjelajahi situs dan menyimpan semua informasi yang
dibutuhkan, TeleportPro mencari file-file dan link yang belum ditemukan, ini berguna
bila ingin mendownload situs secara berkala.
iii. Browsing : browsing manual sebenarnya merupakan cara yang paling baik digunakan
mencari data karena pencari data akan lebih fokus dalam mencari data sehingga
hasilnya pun lebih optimal. Namun kelemahannya, data yang diperoleh tidak
sebanyak menggunakan Google Alert dan web Crawler. Dalam browsing manual,
pencari data biasanya akan lebih banyak menggunakan bantuan search engine untuk
menemukan data yang dicari. Ada banyak search engine yang bisa digunakan, antara
lain : Google, yahoo!, bing, Ask, AllTheWeb, AOL, Lycos, Dogpile, Altavisa, Clusty.
Selain itu, diperlukan tips dan trik tertentu agar hasil browsing menggunakan search
engine tersebut dapat sesuai dengan kebutuhan, antara lain dengan memaksimalkan
query dengan karakter khusus dan penggunaan beberapa opsi dalam pencarian.
d. Bursa
Bagi Wajib Pajak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (gabungan Bursa Efek Jakarta dan
Bursa Efek Surabaya) terdapat data dan informasi yang dapat diakses di Bursa yang
bersangkutan. Informasi tersebut dapat berupa kinerja harga saham, kinerja emiten
(triwulanan, semester dan tahunan) dan press release atas aktivitas - aktivitas penting
emiten.
Setelah data terkumpul kemudian dipelajari dan dilakukan konfirmasi atas Surat Setoran
Pajak (SSP), Bukti potong PPh Pasal 23, Faktur Pajak Masukan. Konfirmasi SSP dilakukan ke
Bank tempat di mana dilakukan penyetoran. Sebelum dilakukan konfirmasi ke Bank
dilakukan pencocokan terlebih dahulu dengan pelaporan SSP di aplikasi MPN (Modul
Penerimaan Negara). Dari aplikasi tersebut akan diketahui pembayaran mana yang telah
terekam secara online di aplikasi MPN. Atas pembayaran yang tersebut tidak perlu lagi
dilakukan konfirmasi ke Bank. Konfirmasi Bukti Potong PPh Pasal 23 dilakukan kepada

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 12


Kantor Pelayanan Pajak di mana lawan transaksi Wajib Pajak (Pihak Pemotong) melaporkan
SPT Masa PPh Pasal 23. Konfirmasi Faktur Pajak Masukan dilakukan kepada Kantor
Pelayanan Pajak di mana lawan transaksi Wajib Pajak (Pihak Pemungut) melaporkan SPT
Masa PPN.
e. Pemanfaatan data pihak ketiga dapat dilakukan melalui data yang diperoleh dari beberapa
sumber antara lain:
1) Data notaris / PPAT yang diperoleh dari laporan bulanan notaris/PPAT
2) Data IMB/SIUP/TDP yang diperoleh dari pemerintah daerah setempat
3) Data kepemilikan mobil dari kepolisian
4) Data dari pihak Asosiasi / Gabungan Usaha (misalnya: Asosiasi Perhotelan, Gabungan
Pengusaha

2.3 Mempelajari dan Menganalisis Data Wajib Pajak


2.3.1 Analisis Profil Wajib Pajak
Seluruh data dan informasi yang didapat baik itu dari internal maupun eksternal dirangkum
dalam bentuk Tax Payer Profile (profil Wajib Pajak).
Untuk mendapatkan data dan informasi tentang tax payer profile saat ini tim pemeriksa dapat
meminjamnya dari Seksi Pengawasan dan Konsultasi tempat Wajib Pajak dilayani. Profil Wajib
Pajak saat ini seharusnya sudah dibuat oleh account representative (AR) yang ditunjuk
menangani Wajib Pajak yang kita periksa serta AR selalu melakukan pemutakhiran data Profil
Wajib Pajak (WP) dan penggalian potensi pajak menggunakan aplikasi Approweb. Pemutakhiran
data dan penggalian potensi pajak yang dilakukan oleh AR meliputi seluruh data internal dan
data eksternal antara lain : analisis SPT, Program Feeding, Alat Keterangan, PIB, PEB, media
massa, pemanfaatan internet, data instansi lain, data asosiasi, maupun analisis dari sumber data
lainnya termasuk data pihak ketiga. Jika Profile Wajib Pajak tidak tersedia maka sebaiknya
pemeriksa dapat memprofil sendiri Wajib Pajak yang meliputi : Nama Wajib Pajak, Nomor Pokok
Wajib Pajak, Alamat Wajib Pajak, Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, Tanggal
Pengukuhan PKP, Kode Lapangan Usaha (KLU), Jenis Usaha, Merk Dagang, Contact Person,
Pemegang Saham, Hubungan Istimewa, pengurus (direksi dan komisaris) dan lain-lain.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 13


Pemeriksa dapat juga melengkapi data pada Profile Wajib Pajak pada saat Pelaksanaan
Pemeriksaan (pemeriksaan lapangan) dengan cara melakukan pengenalan lokasi Wajib Pajak
untuk mendapatkan kepastian mengenai keadaan Wajib Pajak antara lain alamat Wajib Pajak,
lokasi usaha, denah lokasi, dan kebiasaan kebiasaan lain yang perlu diketahui, misalnya jam
kerja, arus keluar masuk barang, keadaan terkini business WP, sistem informasi yang digunakan,
prosedur operasi standar (SOP) untuk penjualan, retur penjualan, pembelian, retur pembelian
dsb. Semua informasi tersebut harus dituangkan dalam kertas kerja pemeriksaan (KKP) dan
akan bermanfaat dalam pelaksanaan pemeriksaan penyusunan Laporan Pemeriksaan Pajak.
Berdasarkan Petunjuk pembuatan profil Wajib Pajak, standard informasi Profil Wajib Pajak yang
disiapkan oleh Account Representative adalah:
1) Data Permanen
a. Identitas Wajib Pajak
b. Organisasi
i. Struktur Organisasi
ii. Struktur Modal
iii. Pengurus dan Pemegang Saham
iv. Pohon Kepemilikan
c. Data Ekonomi
i. Kegiatan Usaha
ii. Flow Chart Alur Produksi
iii. Input/Bahan Baku
iv. Output/Hasil Produksi
v. Tenaga Kerja
vi. Kapasitas Produksi
d. Keterkaitan Dengan Pihak Ketiga
i. Supplier Utama
ii. Customer Utama
iii. Hubungan Istimewa
iv. Kreditur / Debitur
e. Kewajiban Perpajakan

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 14


2) Data Akumulatif
a. Data Ekonomi
i. Neraca Komparatif
ii. Laporan Laba Rugi Komparatif
iii. Perkembangan Produksi
b. Data Lawan Transaksi
i. Data Transaksi Komparatif Supplier
ii. Data Transaksi Komparatif Customer
iii. Data Transaksi Hubungan Istimewa

3) Data Riwayat Pembayaran


a. Pembayaran PPh Pasal 21 dan 29
b. Pembayaran PPh Pasal 25, 29 dan Kredit Pajak Pemotongan / Pemungutan
c. Kewajiban Pemotongan / Pemungutan
d. Pembayaran PPN
e. Pembayaran PPnBM
f. Riwayat Pemeriksaan
g. Ketetapan Pajak
h. Riwayat Restitusi Pajak
i. Tunggakan Pajak
j. Riwayat Keberatan dan Banding
k. Riwayat Penagihan Aktif
l. Data Pemotongan dan Pemungutan
m. Data Transaksi Komparatif Kreditur dan Debitur

4) Data Lainnya
a. Data Internal
i. Data PBB
ii. Alat Keterangan

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 15


iii. Data OPDP
b. Data Eksternal
i. Media Massa
ii. Data Instansi Lain
iii. Data Asosiasi
iv. Data Sumber Lainnya

5) Analisis
a. Analisis yang berhubungan dengan omset
b. Analisis yang berhubungan dengan biaya
c. Analisis yang berhubungan dengan produksi
d. Analisis yang berhubungan dengan laba
e. Analisis yang berhubungan dengan harga
f. Analisis biaya terhadap pemotongan / pemungutan
g. Analisis output terhadap input
h. Equalisasi Omset PPh Badan terhadap Omset PPN
i. Analisis Potensi Pajak dan Benchmarking

6) Tindak Lanjut
a. Perbaikan Administrasi
i. Pemanfaatan data pihak ketiga & OPDP
ii. Pemutakhiran data
iii. Pertukaran data
b. Tindakan Persuasi
i. Pemberitahuan kepada WP (Himbauan)
ii. Konseling
c. Enforcement
i. Pemeriksaan
ii. Penyidikan
iii. Penagihan

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 16


7) Monitoring Pertambahan Pajak
Dalam memonitoring pertambahan pajak Wajib Pajak yang diperiksa, pemeriksa harus
menuangkan profil Wajib Pajak dalam Kertsa Kerja Pemeriksaan setidaknya yang berkaitan
dengan:
a. Kondisi Usaha
b. Operasi Usaha
c. Struktur Pembiayaan dan Permodalan
d. Benchmarking
e. Analisis Rasio
f. Informasi penting lainnya
Apabila hasil pemeriksaan ternyata berbeda dengan profil Wajib Pajak, maka:
a. Pemeriksa harus menjelaskan perbedaan tersebut dalam Kertas Kerja Pemeriksaan
b. Mengirimkan data perbedaan tersebut ke Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

2.3.2 Analisis Kuantitatif dan Kualitatif Laporan Keuangan dan Surat Pemberitahuan
Untuk data-data berupa laporan keuangan wajib pajak dilakukan Analisis kuantitatif untuk
menentukan hal-hal yang harus diperhatikan pada waktu melakukan pemeriksaan serta untuk
menentukan beberapa perkiraan buku besar yang diprioritaskan dan/atau akan dikembangkan
pemeriksaannya.
Alat-alat / tools yang dapat digunakan dalam Analisis kuantitatif :
1. Analisis Laporan Keuangan Komparasi
2. Analisis Rasio
3. Analisis Ekualisasi Surat Pemberitahuan
4. Analisis Perbandingan Usaha Sejenis

2.3.2.1 Analisis Laporan Keuangan Komparasi


Analisis perbandingan laporan keuangan dilakukan dengan menggunakan:
a. analisis horizontal atau analisis dinamis yaitu melakukan perbandingan beberapa periode

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 17


b. analisis vertikal atau analisis statis, yaitu melakukan perbandingan satu periode tertentu
(hanya memperbandingkan antar pos yang satu dengan yang lainnya dalam satu laporan
keuangan).
Perbandingan Laporan Keuangan tahun yang diperiksa dengan Laporan Keuangan tahun-tahun
sebelumnya minimal untuk 2 (dua) tahun berturut - turut baik secara vertikal maupun horisontal.
Membuat catatan mengenai perkiraan-perkiraan yang berdasarkan hasil analisa menunjukkan
adanya gambaran atau perubahan yang cukup material. Dengan menggunakan analisis dinamis
akan diperoleh hasil analisis yang lebih memuaskan, karena dengan laporan keuangan yang
diperbandingkan untuk beberapa periode akan diketahui sifat dan tendensi perubahan yang
terjadi dalam perusahaan tersebut dan menganalisis tingkat kewajaran. Perkiraan-perkiraan
tersebut merupakan perkiraan-perkiraan yang akan diprioritaskan dan atau dikembangkan
pemeriksaannya.
Metode analisis perbandingan dapat ditunjukkan dengan beberapa cara berikut:
a. Perbandingan data absolut atau dalam jumlah rupiah
b. Kenaikan atau penurunan dalam jumlah rupiah
c. Kenaikan atau penurunan dalam prosentase
d. Perbandingan yang dinyatakan dalam rasio
e. Dinyatakan dalam prosentase dari total
Keuntungan utama dapat diketahuinya pertambahan atau penurunan ini adalah bahwa
perubahan yang besar akan terlihat dengan jelas, dan dapat segera dilakukan penelitian atau
analisis lebih jauh apabila terdapat indikasi ketidakwajaran atas perubahan tersebut. Dengan
mengadakan perbandingan laporan keuangan yang menunjukkan data absolutnya saja, maka kita
akan mengalami kesulitan untuk mengetahuinya ada tidaknya hubungan atau perubahan-
perubahan yang penting di antara data-data absolut, oleh karena itu di dalam perbandingan
tersebut ditunjukkan juga kenaikan atau penurunan dalam jumlah rupiahnya.

Analisis perbandingan dapat dipergunakan untuk menguji tingkat kewajaran laporan. Pengujian
kewajaran (reasonableness test) merupakan penghitungan saldo-saldo suatu variabel, misalnya
akun tertentu secara tidak langsung dengan menggunakan faktor - faktor penyebab saldo akun
tersebut. Faktor penyebab adalah variabel atau akun-akun yang mempengaruhi variabel di atas.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 18


Secara sederhana pengujian kewajaran meliputi langkah - langkah sebagai berikut:
1) Mengidentifikasikan variabel-variabel yang akan dicakup.
Dalam hal ini pemeriksa pajak perlu memahami apakah variabel tersebut merupakan
penyebab (variabel bebas atau dependent variable) ataukah variabel akibat (variabel tidak
bebas atau independent variable).
Contoh variabel tidak bebas misalnya penjualan karena dapat dipengaruhi oleh beberapa
variabel bebas seperti harga, inflasi, iklan, dan sebagainya.
2) Mengidentifikasikan secara tepat hubungan antara variabel – variabel tersebut. Identifikasi
pada langkah ini dapat dilakukan baik dengan mengalihkan atau menambahkan variabel-
variabel tersebut.
3) Mengkombinasikan variabel-variabel tersebut untuk memperoleh estimasi mengenai saldo
akun untuk periode berjalan.
4) Membuat catatan mengenai perkiraan-perkiraan yang berdasarkan hasil analisis
menunjukkan adanya gambaran atau perubahan yang cukup material. Perkiraan-perkiraan
tersebut merupakan perkiraan-perkiraan yang diprioritaskan dan/atau dikembangkan
pemeriksaannya.
Contoh analisis perbandingan laporan keuangan:
Tabel 2.1 : Perbandingan Laporan Keuangan Sederhana

Komparatif sederhana

Pos 2008 2007 Up (Down)


Kas dan setara 1,750 1,100 650
Piutang usaha 8,760 9,030 (270)
Persediaan 7,820 7,630 190

Minim informasi

Tabel 3.2: Laporan Perbandingan Keuangan Informatif

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 19


Komparatif informatif
Pos 2008 2007 Up (Down)
Kas dan setara
Tunai 90 110 (20)
Bank 900 230 670
Deposito 760 760 -
Sub 1,750 1,100 650

Piutang usaha
PT A 2,200 1,900 300
PT B 1,800 2,300 (500)
PT C 4,000 4,000 -
Lain 760 830 (70)
Sub 8,760 9,030 (270)

Persediaan
Bahan baku 4,000 3,800 200
Bahan pendukung 1,100 920 180
Suku cadang 420 380 40
Barang jadi 2,100 2,300 (200)
Barang dlm perjalanan 200 230 (30)
Sub 7,820 7,630 190

2.3.2.2 Analisis Rasio


Analisis Rasio digunakan sebagai alat bantu untuk menilai kewajaran kinerja keuangan dan
pemenuhan kewajiban perpajakan oleh Wajib Pajak. Analisis rasio merupakan teknik analisis yang
dilakukan dengan membandingkan pos yang satu dengan pos yang lain dalam laporan keuangan
yang sama.
Analisis laporan keuangan yang banyak digunakan adalah analisis tentang rasio keuangan.
Berdasarkan sumber analisis, rasio keuangan dapat dibedakan menjadi :
1) Perbandingan Internal (Time Series Analysis) yaitu membandingkan rasio-rasio finansial
perusahaan dari satu periode ke periode lainnya.
2) Perbandingan Eksternal (Cross Sectional Approach) yaitu membandingkan rasiorasio antara
perusahaan satu dengan perusahaan yang lainnya yang sejenis pada saat yang bersamaan
atau membandingkannya dengan rasio rata-rata industri pada saat yang sama.
Jenis rasio laporan keuangan, biasanya dikelompokkan ke dalam empat kelompok rasio ( Lyn M.
Frasser dan Ailen Ormistron, Memahami Laporan Keuangan , 2008) yaitu :
1) Liquidity Ratio yaitu rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajiban keuangan jangka pendek tepat pada waktunya. Liquidity Ratio yang umum
digunakan antara lain :

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 20


a) Rasio Lancar (Current Ratio), merupakan alat ukur bagi kemampuan likuiditas
(solvabilitas jangka pendek) yaitu kemampuan untuk membayar hutang yang segera
(current liabilities) harus dipenuhi dengan aktiva lancar (cuurent assets).
b) Rasio Cepat (Quick Ratio /Acid Test), merupakan alat ukur bagi kemampuan perusahaan
untuk membayar hutang yang segera (current liabilities) harus dipenuhi dengan aktiva
lancar yang lebih likuid (Asset lancar – persediaan).
2) Rasio Aktivitas (Activity Ratio) merupakan alat ukur sejauh mana efektivitas perusahaan
dalam menggunakan sumber daya-sumber dayanya. Rasio-rasio ini antara lain:
a) Perputaran Piutang (Account Receivable Turnover).
b) Periode Pengumpulan Piutang (Average Collection Period).
c) Inventory Turnover (Perputaran Barang), yaitu rasio untuk mengukur efisiensi
penggunaan persediaan atau rasio untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam
dalam persediaan untuk berputar dalam suatu periode tertentu.
d) Rata-rata perputaran persediaan (Average days in inventory)
e) Perputaran Total Aktiva (Total Assets Turnover), yaitu rasio untuk mengukur efisiensi
penggunaan aktiva secara keseluruhan (total assets).
3) Solvability Ratio yaitu rasio untuk mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan
hutang.Rasio -rasio ini antara lain :
a) Debt To Total Assets Rasio, yaitu rasio yang menghitung berapa bagian dari
keseluruhan kebutuhan dana yang dibiayai dengan hutang.
b) Time Interest Earned Rasio, yaitu rasio untuk mengukur seberapa besar keuntungan
dapat berkurang (turun) tanpa mengakibatkan adanya kesulitan keuangan karena
perusahaan tidak mampu membayar bunga.
*) Earning Before Interest and Tax disingkat = EBIT yaitu penghasilan sebelum pajak
4) Profitability Ratioyaitu rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh
keuntungan dari penggunaan modalnya. Rasio-rasio ini antara lain :
a) Operating profit margin
b) Net profit margin
c) Return on assets
d) Return on equity

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 21


e) Berry Ratio
f) Interest Coverage Ratio
Dalam analisis rasio keuangan terdapat keterbatasan-keterbatasan, misalnya:
a. Adanya perbedaan metode akuntansi yang dipakai untuk menyusun laporan keuangan.
b. Penjualan perusahaan yang bersifat musiman.
c. Kesulitan untuk menentukan jenis industri apabila perusahaan mempunyai berbagai lini
produk.
d. Perusahaan dapat melakukan “window dressing”.

2.3.2.3 Analisis Ekualisasi Surat Pemberitahuan


Analisis ekualisasi adalah kegiatan yang membandingkan pos-pos yang sama dengan sumber –
sumber yang berbeda. Berdasarkan berkas-berkas SPT WP yang diperoleh dari internal KPP,
pemeriksa dapat melakukan analisis ekualisasi dengan membandingkan antara pos-pos laporan
keuangan dengan kewajiban perpajakan lainnya ( misalnya: SPT Pajak Penghasilan Badan / SPT
Pajak Penghasilan Orang Pribadi atau SPT Masa). Tujuan analisis ini adalah mengidentifikasikan
kewajiban perpajakan yang belum dilaksanakan.
Beberapa pos Laporan Keuangan yang dapat diekualisasi dengan kewajiban perpajakan lainnya :
 Peredaran Usaha vs Pajak Keluaran
 Pembelian vs Pajak Masukan
 HPP & Biaya Lainnya vs PPh Ps. 21, 23, 26, 15, 4 (2)
 Perubahan Aktiva Tetap vs PPN 16 C, 16 D PPh Ps. 4 (2), BPHTB

Untuk data-data non keuangan dilakukan analisis kualitatif antara lain dengan :
a. Memperhatikan perkiraan tertentu yang tidak sesuai dengan sifat, jenis dan volume
usahanya, keadaan serta kegiatan Wajib Pajak.
b. Mempelajari laporan pemeriksaan pajak terdahulu serta mencatat masalah-masalah dan
temuan-temuan pada pemeriksaan terdahulu tersebut.
c. Mempelajari laporan pemeriksaan akuntan publik serta mencatat masalah-masalah dan
temuan-temuan serta kualifikasi dan pendapat akuntan.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 22


d. Mempelajari riwayat keberatan/banding/peninjauan kembali untuk mengetahui pos-pos
koreksi pemeriksa terdahulu yang dipertahankan atau dikurangi berdasarkan keputusan
keberatan/banding/peninjauan kembali.
e. Membuat catatan mengenai hal-hal penting yang diketahui dari hasil analisa tersebut dan
menuangkannya ke dalam Kertas Kerja Pemeriksaan.

2.3.2.4 Analisis Perbandingan Usaha Sejenis


Berdasarkan beberapa analisis komparatif dan analisis rasio, pemeriksa bisa membandingkan
hasil analisis tersebut dengan prosentase perbandingan dan nilai rasio perusahaan lain. Angka
perbandingan dan nilai rasio perusahaan pembanding bisa didapatkan dari data dan informasi
yang berasal dari asosiasi, rata-rata perusahaan sejenis atau data lain hasil penelitian ilmiah yang
diakui umum. Tujuan analisis ini adalah menguji kewajaran perbandingan dan nilai rasio
beberapa pos laporan keuangan Wajib Pajak yang diperiksa dengan perusahaan sejenis.
Direktur Jenderal Pajak melalui Surat Edaran Nomor SE-96/PJ/2009 tentang Rasio Total
Benchmarking dan Petunjuk Pemanfaatannya telah menyusun rasio total benchmarking yang
digunakan sebagai alat bantu untuk menilai kewajaran kinerja keuangan dan pemenuhan
kewajiban perpajakan oleh Wajib Pajak.
Benchmarking atau penentuan tolok ukur/patokan merupakan suatu proses yang telah secara
umum diterapkan dalam dunia usaha. Benchmarking dalam dunia bisnis merupakan suatu
proses sistematik dalam membandingkan produk, jasa atau praktik suatu organisasi terhadap
kompetitor atau pemimpin industri untuk menentukan apa yang harus dilakukan dalam
mencapai tingkat kinerja yang tinggi. Dalam melakukan benchmarking, suatu organisasi
membandingkan nilai-nilai tertentu (dari dalam organisasi) dengan suatu titik referensi atau
standar keunggulan yang sebanding. Dengan melakukan pembandingan tersebut, perusahaan
dapat melakukan evaluasi dan kemudian menentukan langkah yang sistematik dan terarah
untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Model di atas diadopsi pula oleh Direktorat Jenderal
Pajak dalam rangka melaksanakan fungsinya memberikan bimbingan dan pengawasan terhadap
wajib pajak. Dengan berasumsi bahwa wajib pajak dengan karakteristik yang sama akan
cenderung memiliki perilaku bisnis yang sama, kondisi keuangan dan perpajakan masing-masing
wajib pajak dapat dibandingkan dengan suatu benchmark yang mewakili karakeristik wajib pajak

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 23


yang bersangkutan. Dengan melakukan pembandingan tersebut, diharapkan Direktorat Jenderal
Pajak dapat secara sistematis mendeteksi wajib pajak dengan risiko ketidakpatuhan yang tinggi,
untuk kemudian dapat dilakukan tindak lanjut yang sesuai.
Benchmarking yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak disusun dalam suatu konsep yang
disebut Total Benchmarking. Total Benchmarking didefinisikan sebagai proses membandingkan
rasio-rasio yang terkait dengan tingkat laba perusahaan dan berbagai input dalam kegiatan
usaha dengan rasio-rasio yang sama yang dianggap standar untuk kelompok usaha tertentu,
serta melihat hubungan keterkaitan antar rasio untuk menilai kewajaran kinerja keuangan dan
pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak. Dengan demikian total benchmarking memiliki
karakteristik:
- Benchmark disusun berdasarkan kelompok usaha.
- Benchmarking dilakukan atas rasio-rasio berkaitan dengan tingkat laba dan input-input
perusahaan.
- Hubungan keterkaitan antar rasio-rasio diperhatikan.
- Fokus pada penilaian kewajaran kinerja keuangan dan pemenuhan kewajiban perpajakan.

Tujuan Total Benchmarking

a. Menjadi pedoman dan sebagai pembanding dengan kondisi SPT Tahunan yang dilaporkan
WP;
b. Membantu pengawasan kepatuhan WP, terutama menyangkut kepatuhan materialnya.

Manfaat Total Benchmarking


a. Supporting tools bagi program intensifikasi / penggalian potensi pajak;
b. Alat bantu dalam penghitungan tax gap.

Dasar Kantor Pusat DJP menetapkan rasio-rasio benchmark secara teknis dilakukan sbb:
1) Nilai rasio-rasio benchmark ditetapkan untuk masing-masing kelompok usaha berdasarkan
5 (lima) digit kode Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) Wajib Pajak. Klasifikasi Lapangan
Usaha dimaksud adalah KLU sesuai Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor KEP-
34/PJ/2003 tanggal 14 Februari 2003 sebagaimana telah diubah terakhir dengan KEP.
321/PJ/2012 Tentang Klasifikasi Lapangan Usaha Wajib Pajak.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 24


2) Penetapan rasio-rasio benchmark untuk keseluruhan kelompok usaha dilakukan secara
bertahap oleh Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak.
3) Penetapan rasio benchmark menggunakan data perpajakan tahun 2005 sd. 2007.
4) Sumber data yang digunakan dalam tahap awal pembentukan benchmark adalah data
internal dalam sistem informasi perpajakan DJP, yang terdiri dari :
- Elemen-elemen Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan PPh Badan;
- Elemen-elemen Surat Pemberitahuan Masa PPN;
- Elemen-elemen transkrip Laporan Keuangan.
Penghitungan semua rasio selain rasio PPN menggunakan elemen data hasil perekaman Surat
Pemberitahuan (SPT) Tahunan PPh Badan. Data penjualan, HPP, Laba bersih dari Operasi, Laba
Sebelum Pajak diambil dari formulir 1771 Lampiran I, sedangkan data PPh terutang diambil dari
hasil perekaman induk formulir 1771. Data-data gaji, sewa, bunga, penyusutan, dan biaya-biaya
lain diambil dari perekaman formulir 1771 Lampiran II. Apabila data perekaman formulir 1771
Lampiran II tidak lengkap, maka data tersebut dilengkapi menggunakan data perekaman
transkrip Laporan Keuangan. Data Pajak Masukan diperoleh dari perekaman SPT PPN baik
formulir 1195 maupun 1107.
1) Beberapa wajib pajak dipilih sebagai sampel dari populasi masing-masing kelompok usaha.
Pemilihan dilakukan secara judgemental dengan mempertimbangkan sampel tersebut
harus memiliki nilai rasio-rasio yang dianggap baik dan wajar dalam kelompok usahanya.
2) Penentuan nilai rasio benchmark dilakukan dengan menghitung rata-rata rasio-rasio
keuangan perusahaan-perusahaan yang diambil sebagai sampel, dengan menggunakan
metode penghitungan rata-rata tertimbang (weighted average).

Rasio-rasio benchmark yang disusun oleh Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak digunakan
untuk membantu para Account Representative dalam melakukan pembinaan dan pengawasan
terhadap Wajib Pajak. Rasio - rasio ini juga dapat dimanfaatkan oleh para pemeriksa pajak pada
tahap persiapan pemeriksaan dengan melakukan analisa dan telaah profile Wajib Pajak , analisa
kuantitatif dan kualitatif untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan cakupan (ruang
lingkup) pemeriksaan dalam rangka penyusunan Rencana Pemeriksaan (audit plan). Namun
dalam penggunaan rasio benchmarking tersebut diberikan hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu:

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 25


1) Rasio Total Benchmarking memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Rasio Total Benchmarking disusun berdasarkan kelompok usaha;
b. Benchmarking dilakukan atas rasio-rasio yang berkaitan dengan tingkat laba dan input-
input perusahaan;
c. Ada keterkaitan antar rasio benchmark;
d. Fokus pada penilaian kewajaran kinerja keuangan dan pemenuhan kewajiban perpajakan.
2) Total benchmarking hanya merupakan suatu alat bantu (supporting tools) yang dapat
digunakan oleh aparat pajak dalam membina wajib pajak dan menilai kepatuhan perpajakannya
serta tidak dapat digunakan secara langsung sebagai dasar penerbitan surat ketetapan pajak.
3) Wajib Pajak yang memiliki kinerja keuangan yang lebih rendah daripada benchmark, tidak
selalu berarti bahwa wajib pajak tersebut tidak melaksanakan kewajiban perpajakannya
dengan benar. Perlu diagnosa lebih mendalam untuk dapat menentukan apakah wajib pajak
tersebut benar-benar tidak patuh atau terdapat faktor-faktor lain yang menyebabkan wajib
pajak memiliki kinerja yang berbeda dengan benchmark.
4) Rasio-rasio yang berkaitan dengan tingkat laba dan input-input perusahaan yang dilakukan
benchmarking terdiri dari :
a. Gross Profit Margin (GPM), yaitu rasio antara laba kotor terhadap penjualan;
b. Operating Profit Margin (OPM), yaitu rasio antara laba bersih dari operasi terhadap
penjualan;
c. Pretax Profit Margin (PPM), yaitu rasio antara laba bersih sebelum dikenakan pajak
penghasilanterhadap penjualan;
d. Corporate Tax to Turn Over Ratio (CTTOR), yaitu rasio antara pajak penghasilan
terutang terhadap penjualan;
e. Net Profit Margin (NPM), yaitu rasio antara laba bersih setelah pajak penghasilan
terhadap penjualan;
f. Dividend Payout Ratio (DPR), yaitu rasio antara jumlah dividen tunai yang dibayarkan
terhadap laba bersih setelah pajak;
g. Rasio PPN Masukan, yaitu rasio antara jumlah PPN Masukan yang dikreditkan dalam
satu tahun pajak terhadap Penjualan, tidak termasuk pajak masukan yang dikreditkan
dari transaksi antar cabang;

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 26


h. Rasio biaya gaji terhadap penjualan;
i. Rasio biaya bunga terhadap penjualan;
j. Rasio biaya sewa terhadap penjualan;
k. Rasio biaya penyusutan terhadap penjualan;
l. Rasio "input antara" lainnya terhadap penjualan;
m. Rasio penghasilan luar usaha terhadap penjualan; dan
n. Rasio biaya luar usaha terhadap penjualan.
5) Nilai rasio-rasio benchmark ditetapkan untuk masing-masing kelompok usaha berdasarkan 5
(lima) digit kode Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) Wajib Pajak. Klasifikasi Lapangan Usaha
dimaksud adalah KLU sesuai Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor KEP-34/PJ/2003
tanggal 14 Februari 2003.
6) Penetapan rasio benchmark menggunakan data perpajakan tahun 2005 s.d. 2007.
7) Penetapan rasio-rasio benchmark untuk keseluruhan kelompok usaha dilakukan secara
bertahap, dan pada tahap awal kelompok usaha yang telah selesai dilakukan penghitungan
rasio-rasio benchmark sebanyak 20 (dua puluh) KLU sebagaimana tercantum dalam lampiran
I surat edaran ini.
8) Panduan pemanfaatan rasio-rasio benchmark adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran
II surat edaran SE-96/PJ/2009 ini.

Keseluruhan rasio yang digunakan dalam total benchmarking dapat dijelaskan masing-masing
sebagai berikut:
1) Gross Profit Margin (GPM)
Gross Profit Margin (GPM) merupakan perbandingan antara laba kotor terhadap
Penjualan. Nilai GPM dihitung sebagai berikut:
GPM = Laba kotor x 100%, atau Penjualan - Harga Pokok Penjualan x 100%
Penjualan Penjualan
Laba kotor adalah selisih antara penjualan dan harga pokok penjualan. Nilai GPM
menunjukkan seberapa besar proporsi penjualan perusahaan yang tersisa setelah
digunakan untuk menutup ongkos untuk menghasilkan atau memperoleh produk yang
dijual.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 27


2) Operating Profit Margin (OPM)
Operating Profit Margin (OPM) merupakan perbandingan antara laba bersih dari operasi
terhadap Penjualan. Nilai OPM dihitung sebagai berikut:
OPM = Laba bersih dari operasi x 100%
Penjualan
Laba bersih dari operasi adalah selisih antara penjualan dengan nilai total biaya
perusahaan untuk kegiatan operasional. Laba bersih dari operasi pada umumnya
diperoleh dengan mengurangi nilai penjualan dengan harga pokok penjualan, beban
umum dan beban administrasi. Laba bersih dari operasi menunjukkan nilai laba bersih
perusahaan yang diperoleh semata-mata dari kegiatan operasional perusahaan.
Nilai OPM menunjukkan seberapa besar proporsi penjualan perusahaan masih tersisa
setelah digunakan untuk menutup seluruh biaya operasional perusahaan. Makin besar
nilai OPM menunjukkan bahwa perusahaan makin efisien dalam memanfaatkan biaya-
biaya yang dikeluarkannya untuk menghasilkan penjualan.
3) Pretax Profit Margin (PPM)
Pretax Profit Margin (PPM) merupakan perbandingan antara laba bersih sebelum pajak
terhadap Penjualan. Nilai PPM dihitung sebagai berikut:
PPM = Laba bersih sebelum pajak x 100%
Penjualan
Laba bersih sebelum pajak adalah laba bersih yang diperoleh perusahaan baik dari
kegiatan operasional perusahaan maupun dari penghasilan lainnya, sebelum
memperhitungkan Pajak Penghasilan yang terutang. Laba bersih sebelum pajak dapat
diperoleh dari menambahkan Laba Bersih dari Operasi dengan Penghasilan dari Luar
Usaha, dikurangi Biaya dari luar Usaha.
Nilai PPM menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan relatif terhadap nilai penjualan.
Makin besar PPM menunjukkan makin tingginya tingkat laba bersih yang dihasilkan baik
dari kegiatan operasional maupun dari kegiatan lainnya.

4) Corporate Tax to Turn Over Ratio (CTTOR)


Corporate Tax to Turn Over Ratio (CTTOR) merupakan rasio Pajak Penghasilan terutang

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 28


terhadap Penjualan. Nilai CTTOR dihitung sebagai berikut:
CTTOR = PPh terutang x 100%
Penjualan
Nilai CTTOR menunjukkan besarnya PPh yang terutang dalam suatu tahun relatif
terhadap Penjualan yang dilakukan oleh perusahaan. Makin besar CTTOR menunjukkan
makin besar proporsi hasil penjualan perusahaan yang digunakan untuk membayar Pajak
Penghasilan.
5) Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin (NPM) merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak
terhadap Penjualan. Nilai NPM dihitung sebagai berikut:
NPM = Laba bersih setelah pajak x 100%
Penjualan
Laba bersih setelah pajak adalah laba bersih perusahaan setelah memperhitungkan Pajak
Penghasilan yang terutang menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Nilai
NPM menunjukkan besarnya Laba Bersih yang dihasilkan perusahaan setelah
memperhitungkan PPh yang terutang. Makin besar NPM menunjukkan makin tingginya
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi pemilik (pemegang saham).
6)Dividend Payout Ratio (DPR)
Dividend Payout Ratio (DPR) merupakan rasio nilai pembayaran dividen terhadap laba
bersih. Nilai DPR dihitung sebagai berikut:
DPR = Pembayaran Dividen Tunai x 100%
Laba bersih setelah pajak
Nilai DPR menunjukkan seberapa besar proporsi laba bersih yang dibagikan kepada
pemegang saham dalam bentuk dividen tunai.
7) Rasio PPN (pn)
Rasio PPN merupakan rasio total pajak masukan yang dikreditkan oleh Pengusaha Kena
Pajak dalam satu tahun pajak terhadap Penjualan, tidak termasuk pajak masukan yang
dikreditkan dari transaksi antar cabang. Nilai Rasio PPN dihitung sebagai berikut:
pn = Jumlah Pajak Masukan Januari - Desember x 100%
Penjualan

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 29


Rasio Input
Biaya-biaya yang digunakan dalam menghitung rasio-rasio input-- yaitu biaya gaji, upah dan
tunjangan, biaya bunga, biaya sewa dan royalti, biaya penyusutan dan amortisasi dan biaya-
biaya lain-- meliputi biaya-biaya baik yang termasuk dalam komponen Harga Pokok Penjualan
maupun biaya-biaya yang termasuk dalam Beban Usaha Lain, misalnya dalam komponen Beban
Umum, Beban Penjualan, dan/atau Beban Administrasi. Biaya-biaya yang merupakan
komponen Beban luar usaha/Beban Lain-lain, atau biaya yang dikapitalisasi tidak termasuk
dalam penghitungan Rasio Gaji/Penjualan, Rasio Bunga/Penjualan, Rasio Sewa/Penjualan atau
Rasio Penyusutan/Penjualan. Contohnya, biaya bunga yang dibebankan dalam Biaya Luar
Usaha merupakan bagian dari rasio Biaya Luar Usaha/Penjualan (bl), bukan merupakan bagian
dari Rasio Bunga/Penjualan.
8)Rasio Gaji/Penjualan (g)
Rasio Gaji/Penjualan merupakan rasio antara jumlah biaya gaji, upah dan tunjangan atau
yang sejenisnya yang dibebankan dalam suatu tahun terhadap Penjualan. Nilai Rasio
Gaji/Penjualan dihitung sebagai berikut:
g = Jumlah Biaya Gaji x 100%
Penjualan
Nilai g menunjukkan besarnya proporsi hasil penjualan yang digunakan untuk membayar
biaya tenaga kerja seperti gaji, upah, tunjangan dan/atau pembayaran lainnya yang
berhubungan dengan penggunaan tenaga kerja. Makin tinggi nilai g menunjukkan bahwa
suatu perusahaan membutuhkan biaya tenaga kerja yang lebih tinggi. Sebagai contoh,
perusahaan dengan nilai g yang tinggi dapat berarti bahwa perusahaan tersebut
merupakan perusahaan yang mengandalkan keahlian pekerjanya, misalnya perusahaan
yang bergerak dalam bidang jasa profesional.
9) Rasio Bunga/Penjualan (b)
Rasio Bunga/Penjualan merupakan rasio antara total beban bunga terhadap Penjualan,
tidak termasuk bunga yang dibebankan sebagai biaya di luar usaha (other expense). Nilai
Rasio Bunga/Penjualan dihitung sebagai berikut:
b = Jumlah Beban Bunga x 100%
Penjualan

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 30


10) Rasio Sewa/Penjualan (b)
Rasio Sewa/Penjualan merupakan rasio antara total beban sewa dan royalti terhadap
Penjualan. Nilai Rasio Sewa/Penjualan dihitung sebagai berikut:
s = Jumlah Beban Sewa x 100%
Penjualan
11) Rasio Penyusutan/Penjualan (py)
Rasio Penyusutan/Penjualan merupakan rasio antara total beban penyusutan dan
amortisasi terhadap Penjualan. Nilai Rasio Penyusutan/Penjualan dihitung sebagai
berikut:
py = Jumlah Beban Penyusutan x 100%
Penjualan
12) Rasio Input Lainnya (x)
Rasio Input Lainnya merupakan rasio antara total biaya-biaya yang dibebankan dalam
suatu tahun buku selain beban gaji/upah, sewa, bunga, penyusutan, dan beban luar
usaha terhadap Penjualan. Nilai Rasio Input Lainnya/Penjualan dihitung sebagai berikut:
x = Jumlah beban - beban lain x 100%
Penjualan
Rasio aktivitas luar usaha
13) Rasio Penghasilan Luar Usaha Penghasilan Luar Usaha/Penjualan (pl) Rasio Penghasilan Luar
Usaha/Penjualan merupakan rasio antara total penghasilan dari luar usaha terhadap
Penjualan. Nilai Rasio Penghasilan Luar Usaha/Penjualan dihitung sebagai berikut:
pl = Penghasilan dari luar usaha x 100%
Penjualan
14) Rasio Biaya Luar Usaha/Penjualan (bl)
Rasio Biaya dari luar usaha/Penjualan merupakan rasio antara total biaya luar usaha
terhadap Penjualan. Nilai Rasio Biaya Luar Usaha/Penjualan dihitung sebagai berikut:
bl = Beban Luar Usaha x 100%
Penjualan
Hubungan Antar Rasio
Pada dasarnya, nilai output yang dihasilkan oleh suatu perusahaan merupakan jumlah total

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 31


input yang digunakan ditambah dengan sejumlah keuntungan yang diharapkan oleh
pengusaha yang bersangkutan. Apabila dirumuskan dalam suatu persamaan, maka:
Input Antara + Input Primer + Margin Perdagangan = Output
Input Antara adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk barang dan jasa yang digunakan
habis dalam proses produksi. Input Antara dalam suatu perusahaan dapat berupa penggunaan
bahan baik bahan baku maupun bahan pembantu, konsumsi energi, pemakaian barang-
barang lain, sewa gedung, sewa mesin dan peralatan, pemanfaatan jasa-jasa serta input-input
Antara lainnya.
Input Primer adalah input atau biaya yang timbul sebagai akibat dari pemakaian faktor
produksi (tenaga kerja dan kapital) dalam suatu kegiatan ekonomi. Input primer meliputi:
i. Gaji dan upah yang dibayarkan kepada pekerja,
ii. Penyusutan barang modal
iii. Bunga yang dibayarkan kepada pemilik modal pihak ketiga (hutang).

2.3.2.5 Penentuan Jangkar Kegiatan Usaha

Secara konsep, jangkar kegiatan usaha yang digunakan oleh DJP adalah “sesuatu” yang
digunakan di dalam kegiatan usaha untuk menghasilkan produk atau output yang apabila
sesuatu tersebut tidak ada maka kegiatan usaha tersebut tidak akan berjalan atau mengalami
gangguan. Dengan demikian jangkar dapat diartikan sebagai variabel kunci yang dapat
digunakan untuk mengukur dan menghitung jumlah output atau volume kegiatan usaha.
Karakteristik jangkar kegiatan usaha antara lain dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Mutlak ada dalam kegiatan usaha, dan/atau
2. Ikut dalam kegiatan usaha, dan/atau
3. Fungsinya sangat signifikan dan dibutuhkan dalam kegiatan usaha, dan/atau
4. Relatif dapat diukur dan dihitung secara pasti, dan/atau
5. Ukuran pembanding dengan usaha sejenis/kelompok usaha yang dapat digunakan untuk
mengukur dan menghitung jumlah output atau volume kegiatan usaha. Dengan
pendekatan ini akan diketemukan potensi pajak berupa tax gap.
Contoh jangkar pada beberapa jenis usaha:

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 32


1. Pabrikasi (manufakturing), antara lain: kapasitas mesin, input bahan baku
2. Perhotelan, antara lain: jumlah kamar, tingkat hunian
3. Angkutan/transportasi, antara lain: jumlah alat angkut, konsumsi bahan bakar
4. Jasa Laundry: jumlah mesin cuci, kapasitas produksi mesin cuci, jumlah hanger
5. Perkebunan, antara lain : luas lahan, jumlah tanaman per hektar
6. Jasa outsourcing, antara lain : jumlah tenaga kerja
7. Kontraktor, antara lain : jumlah kontrak, nilai kontrak
8. Real estate, antara lain: jumlah unit properti
9. Industri Tekstil, antara lain: jumlah mesin, kapasitas produksi, jumlah karyawan
10. Pertambangan non migas : jumlah sarana pengangkutan, kapasitas penggalian
11. Perdagangan, antara lain: jumlah pembelian, gudang, impor
12. Industri semen, antara lain: solar, gypsum, kapasitas mesin

Gambar 2.2 : Alur Penghitungan Potensi Pajak Berbasis Jangkar

2.4 Mengidentifikasi Masalah Wajib Pajak


Mengidentifikasi masalah adalah kegiatan yang dilakukan oleh pemeriksa untuk mengidentifikasi
/ mencermati secara mendalam terhadap setiap pos-pos perkiraan yang setelah dilakukan
analisis data baik analisis kuantitatif maupun kualitatif terdapat perbedaan-perbedaan,
kecenderungan - kecenderungan , atau bahkan kesalahan yang memerlukan perhatian khusus di

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 33


dalam pelaksanaan pemeriksaan. Menurut Surat Edaran Direjen Pajak No. SE-126/PJ/2010 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Pemeriksaan (Audit Plan) Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan
Kewajiban Perpajakan , penyusunan KKP Identifikasi Masalah didasarkan pada data dan/atau
informasi yang tersedia, antara lain:
a. KKP Perbandingan Data Keuangan Wajib Pajak minimal 2 (dua) tahun terakhir atau sesuai
dengan data yang tersedia, yaitu:
1) dalam hal Wajib Pajak menyelenggarakan pembukuan:
a) Neraca Komparatif; dan
b) Laba Rugi Komersial Komparatif dan/atau SPT Tahunan PPh Badan Orang Pribadi
Komparatif.
2) dalam hal Wajib Pajak menyelenggarakan pencatatan:
a) Harta dan Kewajiban Komparatif; dan
b) Peredaran Bruto Komparatif dan/atau SPT Tahunan Orang Pribadi Komparatif;
b. informasi dari Profil Wajib Pajak yang telah disusun oleh Account Representative;
c. LHP sebelumnya; dan/atau
d. data lain yang relevan yang meliputi alat keterangan, analisis risiko, hasil analisis dan
pengembangan IDLP, dan/atau informasi intern dan ekstern yang tersedia.

Penyusunan KKP Identifikasi Masalah dilakukan dengan langkah-langkah antara lain:


a. melakukan analisis rasio data keuangan yang terkait dengan pos-pos SPT;
b. melakukan analisis trend dan benchmark dengan industri atau perusahaan sejenis;
c. melakukan ekualisasi antara pos SPT PPh Badan/Orang Pribadi dengan objek pajak
lainnya; dan/atau
d. melakukan analisis keterkaitan antara alat keterangan, analisis risiko yang dibuat oleh
Account Representative, hasil analisis dan pengembangan IDLP, dan informasi intern
dan ekstern yang tersedia.
e. KKP Identifikasi Masalah disusun dengan menggunakan format pada Lampiran III yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran ini.

Contoh Identifikasi Masalah berdasarkan pos-pos perkiraan menurut SE-126/PJ/2010.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 34


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANWIL DJP XXX
KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA "ABC"

KERTAS KERJA PEMERIKSAAN


Nama Wajib Pajak : PT Abcdefgh
IDENTIFIKASI MASALAH NPWP : 01.234.567.8-666.000
Tahun : Januari - Desember 2009
I. ANALISIS BERDASARKAN DATA YANG TERSEDIA
A. DATA KEUANGAN
Berdasarkan komparatif atas data keuangan berupa neraca dan laba rugi terdapat hal-hal yang perlu
dilakukan analisis :
1. Saldo piutang usaha terkait langsung dengan penjualan mengalami kenaikan sebesar 18% supaya
digunakan juga sebagai dasar pengujian atas penjualan dan ketetapan penerbitan faktur pajak.
2. Nilai persediaan akhir mengalami kenaikan sebesar 12%, data ini akan mendukung pengujian
penjualan dan keberadaan persediaan secara fisik yang menyangkut masalah volume dan tempat
penyimpanan.
3. Adanya pos baru bangunan dalam pelaksanaan perlu mendapat perhatian dalam hal memastikan
apakah ada objek PPN membangun sendiri.
4. Terdapat penurunan saldo biaya dibayar dimuka sebesar 10%, jumlah ini bisa jadi mempengaruhi
objek Pemotongan dan pemungutan PPh.
5. Adanya kenaikan harga perolehan aktiva yang disebabkan adanya pembelian aktiva baru yang perlu
dipastikan kebenaran keberadaan dan perhitungan penyusutannya.
6. Terdapat kenaikan hutang bank sebesar 9% perlu dipastikan kegunaan dan sumbernya
7. Uang muka penjualan walaupun terjadi penurunan saldo tetap harus dipastikan pemungutan PPN-
nya.
8. dst...

B. DATA SPT
1. SPT PPh Badan
Berdasarkan hasil komparatif yang dilakukan dengan tahun sebelumnya dan laporan laba rugi
komersial diperoleh hal-hal sebagai berikut :
a. Peredaran usaha mengalami kenaikan 11%, berdasarkan laporan keuangan komponen yang
mengalami kenaikan signifikan adalah penjualn ekspor.
b. Harga pokok penjualan mengalami kenaikan 13 % lebih tinggi dibandingkan kenaikan penjualan.
c. Biaya usaha mengalami kenaikan 9% dan yang mengalami kenaikan signifikan adalah biaya gaji,
promosi dan pemeliharaan.
d. Penghasilan (biaya) luar usaha, adanya kenaikan atas biaya bunga bank.
e. Penghasilan yang telah dikenakan PPh Final, berdasarkan laporan keuangan ini merupakan jasa
giro dan penghasilan sewa bangunan.
g. Penyesuaian fiskal Wajib Pajak, bagian yang terisi adalah penyesuaian positif atas natura dan
koreksi negatif atas penyusutan.
h. dst ...

2. SPT PPh Pasal 21


a. Objek terdiri dari penghasilan bruto pegawai tetap dan tidak tetap.
b. Dari hasil ekualisasi yang dilakukan terhadap biaya gaji dan upah, jumlah objek dalam SPT PPh
Pasal 21 lebih besar.
c. dst ...

3. SPT PPh Pasal 23 (Masa Januari s.d Desember)


a. Objek pajak terdiri dari jasa manajemen dan jasa perencanaan konstruksi.
b. Berdasarkan hasil ekualisasi dengan biaya usaha terdapat nilai yang berbeda atas jasa
perencanaan kostruksi.
c. Dari hasil perbandingan antara DPP Faktur Pajak Masukan yang dikreditkan di SPT Masa PPN
dengan Bukti Potong PPh Pasal 23 terdapat perbedaan nilai untuk Bukti Potong tertentu.
d. dst ...

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 35


4. SPT PPN DN (Masa Januari s.d Desember)
a. DPP PPN terdiri dari penyerahan ekspor dan penyerahan dalam negeri.
b. Berdasarkan ekualisasi dengan peredaran usaha terdapat perbedaan penyerahan ekspor dengan
penjualan ekspor.
c. Pajak Masukan berasal dari KKP dalam negeri dan PPN Impor. Total faktur pajak masukan Januari
s.d Desember sebanyak 652 faktur dan 14 SSP Impor. Terdapat pajak masukan yang berasal dari
tahun pajak sebelumnya.
d. dst ...

5. PPB
a. Objek adalah tanah dan bangunan pabrik
b. Dari data ekstensifikasi terdapat aktiva berupa tanah di Depok
c. dst ...

6. dst ...

C. PROFIL WAJIB PAJAK


Hal-hal yang dapat diinformasikan dari profil WP :
1. Terdapat informasi pohon kepemilikan saham yang dapat digunakan sebagai bahan untuk identifikasi
hubungan.
2. AR telah melakukan himbauan mengenai kebenaran Bukti Potong PPh Pasal 23 tahun pajak 2009 yang
berbeda dengan Faktur Pajak tetapi belum ditanggapi oleh WP.
3. AR telah melakukan himbauan kepada WP untuk menjelaskan perbedaan DPP PPN dan peredaran
usaha tetapi belum ditanggapi oleh WP.
4. Tersedia laporan keuangan komparatif sampai dengan 3 tahun terakhir.
5. dst ...

D. HASIL PEMERIKSAAN SEBELUMNYA


Terdapat 2 LHP tahun sebelumnya dengan informasi koreksi sebagai berikut :
1. Lap-12x/WPJ ... Tahun Pajak 2007 :
a. Koreksi atas HPP dari pembelian yang disebabkan oleh mark-up pembelian bahan baku yang
berasal dari related party dan non PKP
b. Koreksi atas biaya promosi, yaitu pengeluaran natura yang belum dilakukan penyesuaian fiskal.
c. Koreksi atas biaya penyusutan aktiva untuk karyawan tertentu yang sesuai dengan KEP-
220/PJ/2002 hanya dapat dibebankan sebesar 50% dan adanya kesalahan pengelompokan.
d. dst ...
2. Lap-23xx/WPJ...Tahun Pajak 2005:
a. dst...

E. DATA LAIN YANG TERSEDIA


1. Analisis Risiko yang dibuat oleh AR
a. Terdapat perbedaan objek PPh Pasal 23 atas jasa perencanaan konstruksi antara Bukti Potong PPh
Pasal 23 Nomor 215/BP-23/2009 sebesar Rp 25.000.000 dengan Faktur Pajak Masukan Nomor
010.000.09.00000099 sebesar Rp 35.000.000
b. Terdapat perbedaan peredaran usaha dan DPP PPN, yaitu peredaran usaha menunjukkan nilai
sebesar Rp 298.500.000 sedangkan DPP PPN menunjukkan nilai sebesar Rp 238.000.000
2. Alat Keterangan
Terdapat alat keterangan dari lawan transaksi berupa perjanjian kotrak pelaksanaan konstruksi.
3. Data ekspor impor
Berdasarkan data ekspor dari Internet Portal DJP diketahui jumlah nilai ekspor tidak sama dengan
data WP, demikian pula nilai impornya.
4. Data MPN
Dari data MPN tidak semua SSP Wajib Pajak terdapat di MPN sehingga terjadi selisih jumlah SSP
dengan MPN karena tidak tercantum NTPN.

II. IDENTIFIKASI MASALAH

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 36


A. PPh Badan
1. Peredaran Usaha
Dari analisis di atas diketahui bahwa terdapat kenaikan signifikan terhadap penjualan ekspor, terdapat
perbedaan nilai ekspor dengan DPP PPN dan data ekspor Portal DJP jumlahnya melebihi yang telah
dilaporkan sehingga pos penjualan ekspor harus dilakukan pengujian kepatuhan pelaporannya.
2. Harga Pokok Penjualan
a. Hasil pemeriksaan tahun sebelumnya terdapat nilai mark up atas sebagian pembeliannya. Data
impor dari Portal DJP juga terdapat perbedaan dengan nilai impor dan SSP yang dikreditkan.
Sehingga pembelian ini harus dilakukan pengujian untuk memastikan kepatuhan pelaporannya.
b. Data persediaan akhir yang cenderung naik dapat dilakukan pengujian atas eksistensi persediaan.
Dari data profil WP terdapat informasi bahwa produk akhir dalam kemasan kaleng dimana
perhitungan matematis tempat penyimpanan untuk luas 1m 3 dapat menampung 80 kaleng
kemasan barang jadi.
c. Harga pokok produksi satu kaleng rata-rata Rp 75.200,- sehingga dari total persediaan akhir
dalam neraca sekitar 11.875 kaleng membutuhkan tempat penyimpanan lebih dari 148 m3.
Sehingga perlu dilakukan pengujian atas nilai persediaan ini terkait dengan kapasitas gudang dan
kepemilikannya.
d. Dari analisis gross profit margin dan benchmark, diketahui bahwa gross profit margin Wajib Pajak
lebih rendah 1,5 % dibandingkan rata-rata industri.
e. Atas biaya tenaga kerja langsung dan bonus perlu dilakukan pengujian untuk memastikan
kesesuaian dengan pelaporan objek PPh Pasal 21.

3. Biaya usaha lainnya


dst ...

B. PPh Pasal 21
1. Dari profit diketahui bahwa Wajib Pajak telah menggunakan sistem payroll dalam penghitungan
PPh Pasal 21 karyawan. Sesuai data dan ekualisasi terdapat selisih atas objek dengan biaya,
demikian pula dengan hasil pemeriksaan sebelumnya menunjukkan adanya koreksi atas objek
PPh Pasal 21 atas pegawai tidak tetap. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian atas objek PPh
Pasal 21 untuk pegawai tidak tetap.
2. dst ...

C. PPh Pasal 23
1.Dari jenis objek yang menjadi fokus pengujian adalah jasa perencanaan konstruksi.
Berdasarkan data dan analisis diketahui bahwa terdapat perbedaan dengan pajak masukan dan
adanya pos bangunan dalam pelaksanaan perlu dilakukan pengujian kepatuhan terhadap
pemotongan objek dari pos tersebut.
2.dst ...

D. PPh Final Pasal 4 (2)


1.Perlu dilakukan pengujian atas pemotongan objek dari jasa pelaksanaan konstruksi berkaitan
juga dengan adanya penambahan bangunan dalam pelaksanaan.
2.dst ...

E. PPN DN
1. a. Dari ekualisasi DPP PPN dengan penjualan terdapat perbedaan nilai dan berdasarkan
himbauan AR juga belum diperoleh jawaban dari WP, atas selisih objek selain ekspor perlu
dilakukan pengujian kepatuhan pemungutan dan penerbitan faktur atas penyerahan dalam
negeri.
b.Pengujian atas penjualan pada PPh Badan fokus pada ekspor termasuk dalam pengujian
atas kebenaran pelaporan penyerahan ekspor di PPN. Pengujian atas penyerahan dalam
negeri menggunakan teknik ekualisasi untuk memastikan apakah penyerahan selain
penjualan telah dipungut PPN dan dilaporkan tepat waktu, seperti uang muka dan
pemfakturan antar waktu.
2. Atas penambahan bangunan dalam pelaksanaan pengujian dilakukan untuk memastikan
kepatuhan terhadap Pasal 16C UU PPN.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 37


3. dst ...

F. PBB
1. dst ...

G. Lokasi /cabang Wajib Pajak yang akan dimintakan pemeriksaan


Lokasi/cabang WP yang akan dimintakan pemeriksaan adalah cabang yang beralamat di Jl. NNN No
60 Depok dengan UP2 Lokasi KPP "DEF", Jl. MMM No 45 Depok dengan lokasi UP2 KPP "DEF", Jl.
AAA No 31 Bekasi dengan lokasi UP2 KPP "XYZ" dengan alasan cabang-cabang tersebut
memberikan kontribusi peredaran usaha terbesar. Cabang ini memiliki pengaruh yang dominan
terhadap domisili sesuai dengan ketentuan SE-10/PJ/2008.

Disusun oleh :
Supervisor Kelompok I Paraf Tanggal
Sirmu Setyasmoko 10 November 2010
NIP 1971xxxxxxxxxxxxxx

Pos-pos atau perkiraan-perkiraan inilah yang akan dilakukan pemeriksaan secara mendalam dalam
pelaksanaan pemeriksaan. Dapat terjadi bahwa pada saat dilakukan pengidentifikasian masalah
ditemukan “koreksi atau temuan” yang cukup signifikan. Namun perlu diingat bahwa poin-poin
yang ditetapkan dalam identifikasi masalah tersebut tidak selalu menjadi koreksi atau temuan dalam
pemeriksaan ( tidak ada tambahan pajak yang masih harus dibayar oleh Wajib Pajak). Jika Wajib
Pajak dalam pelaksanaan pemeriksaan (baik pemeriksaan Lapangan ataupun pemeriksaan Kantor)
dapat menjelaskan permasalahan pada identifikasi masalah tersebut maka permasalahan pada
identifikasi masalah tersebut “dianggap tuntas” dan tidak ada temuan / koreksi pemeriksa , namun
demikian semua penjelasan dari Wajib Pajak tersebut harus dituangkan dalam Kertas Kerja
Pemeriksaan disertai bukti pendukung yang memadai.

2.5 Menentukan Cakupan (ruang lingkup) Pemeriksaan (pos-pos yang diperiksa)


Ruang lingkup pemeriksaan merupakan cakupan dari jenis pajak dan periode dari pencatatan atau
pembukuan yang menjadi objek untuk dilakukan pemeriksaan. Ruang lingkup pemeriksaan untuk
menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan meliputi pemeriksaan atas satu, beberapa,
atau seluruh jenis pajak, baik untuk satu atau beberapa Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun
Pajak, baik tahun - tahun lalu maupun tahun berjalan (PMK No.17/PMK.03/2013 pasal 1 angka 2
sebagaimana telah diubah dengan PMK No.184 /PMK.03/2015).
Setelah mengidentifikasi permasalahan Wajib Pajak, pemeriksa dapat melakukan pembatasan atas

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 38


kegiatan yang akan dilakukan selama dilakukannya pemeriksaan sehingga tidak melebar ke pos-pos
yang tidak perlu.
Ruang lingkup pemeriksaan yang ditentukan adalah apakah pemeriksaan yang akan dilakukan atas
seluruh jenis pajak (all taxes), PPh Badan/Orang Pribadi, Pemotongan dan Pemungutan PPh, PPN,
dan jenis pajak lainnya. Identifikasi masalah dan cakupan pemeriksaan yang telah ditentukan akan
digunakan sebagai bahan untuk membuat program pemeriksaan. Berdasarkan Identifikasi masalah
dan cakupan pemeriksaan tersebut, maka disusunlah rencana pemeriksaan (audit plan).

2.6 Menentukan Buku - Buku dan Dokumen Yang Akan Dipinjam


Berdasarkan program pemeriksaan dapat diidentifikasi buku-buku atau catatan yang akan dipinjam
dari Wajib Pajak. Pada awal permintaan peminjaman buku-buku / dokumen kepada Wajib Pajak,
pemeriksa tidak perlu harus meminjam semua buku, catatan, dan dokumen yang dimiliki Wajib Pajak
, namun disesuaikan dengan program pemeriksaan yang telah ditetapkan. Jika ternyata pada saat
pelaksanaan pemeriksaan masih dibutuhkan buku, catatan, dan dokumen lainnya maka pemeriksa
dapat membuat surat Permintaan Data/ Dokumen lagi kepada Wajib Pajak. Dengan pemeriksaan
fokus pada data-data yang dibutuhkan saja , pemeriksa dapat melakukan pemeriksaaan efektif dan
efesien. Buku – buku dan dokumen yang akan dipinjam dari Wajib Pajak disampaikan melalui Surat
Peminjaman Dokumen yang disertai dengan lampiran surat berupa Daftar Buku-buku dan Dokumen
yang Akan Dipinjam dalam pemeriksaan.
Contoh Buku - Buku dan Dokumen Yang Akan Dipinjam sesuai SE-04/PJ/2012 pada Lampiran V yang
merupakan bagian dari Rencana Pemeriksaan adalah:
I.Buku, Catatan, dan Dokumen Wajib Pajak yang akan dipinjam :
No. Nama Buku, Catatan, dan Dokumen Wajib Pajak Keterangan
1. Laporan Keuangan Apabila yang disampaikan
2. Pembukuan mengenai penjualan berupa foto copy/softcopy
3. Bukti penjualan minta surat pernyataan.
4. Bukti ekspor
5. Rekening koran/tabungan
6. Pembukuan piutang
7. Kontrak/perjanjian
dst....

2.7 Menyusun Rencana Pemeriksaan

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 39


Para pemeriksa pajak pada Direktorat Jenderal Pajak khususnya para pemeriksa senior selama ini
sangat akrab dengan keberadaan “Buku Biru” (sebutannya demikian karena memang sampulnya
pertama kali keluar berwarna biru) untuk menyatakan keberadaan Keputusan Dirjen Pajak No. Kep-
01/PJ.7/1990 tanggal 15 Nopember 1990 tentang Pedoman Pemeriksaan Pajak sebagai buku pedoman
yang harus diketahui oleh seorang pemeriksa pajak sejak tahun 1990.
Namun terjadi perubahan mendasar aturan sejak keluarnya Peraturan Dirjen Pajak Nomor Per-
9/PJ/2010 tanggal 1 Maret 2010 jo. Per 23/PJ/2013 tentang Standar Pemeriksaan untuk Menguji
Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan dan pada Bab III tentang Ketentuan Peralihan dan
Penutup pada pasal 7 ayat 1 menyatakan “ Dengan berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini
(Per-9/PJ/2010) maka Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-01/PJ.7/1990 tanggal 15
Nopember 1990 tentang Pedoman Pemeriksaan Pajak, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku”.
Pencabutan Kep-01/PJ.7/1990 tersebut yang sudah hampir 20 tahun menjadi pedoman didalam
setiap pemeriksaan pajak , akan mengubah hal-hal mendasar tentang “pemeriksaan pajak”.
Walaupun Per-9/PJ/2010 telah diganti dengan Per-23/PJ/2013, namun poin-poin perubahan mendasar
tentang pemeriksaan pajak antara Kep-01/PJ.7/1990 dengan Per-09/PJ./2010 tidak ada perubahan.
Poin-poin perubahan mendasar antara Kep-01/PJ.7/1990 dengan Per-9/PJ/2010 jo.Per-23/PJ/2013
dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.2 : Poin-poin perubahan Kep-01/PJ.7/1990 versus Per-09/PJ/2010 jo Per-23/PJ/2013
Komponen Pedoman Pemeriksaan Standar Pemeriksaan
(Kep-01/PJ.7/1990) (Per-09/PJ/2010 jo. Per-
23/PJ/2013)
Pengertian Kumpulan ketentuan dasar Ukuran tertentu yang dipakai
yang memberi arah/panduan sebagai patokan
bagaimana sesuatu harus
dilakukan
Fleksibilitas Mengatur hal detail dan teknis Fleksibel, karena hanya memuat
sehingga mempersulit ketika aturan umum, sementara yang
akan melakukan revisi bagian bersifat teknis diatur tersendiri
tertentu
PembagianTugas dan Tidak jelas diatur Diatur sesuai posisinya
Tanggung Jawab - Kepala UP2
- Supervisor
- Ketua/Anggota Tim
Independensi Tidak diatur Diatur, termasuk hal yang harus
dilakukan jika ada gangguan

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 40


terhadap idependensi
Batasan Luas Pemeriksaan Mengatur penyusunanPenyusunan identifikasi
(Audit Scope) identifikasi masalah, ruang masalah untuk menentukan
lingkup, namun pemeriksaan audit scope yang diwujudkan
harus dilakukan secara
dalam audit plan pemeriksaan
menyeluruh sehingga tidak berdasarkan risiko. Sehingga
sinkron dengan tujuan
yang diperiksa adalah hanya
pembuatan identifikasi masalah yang ditentukan pada audit
scope (tidak secara
menyeluruh)
Penyusunan Rencana Disusun setelah terbitnya Surat Disusun sebagai dasar terbitnya
Pemeriksaan (Audit Plan) Perintah Pemeriksaan (SP2) Surat Perintah Pemeriksaan
(SP2)

Beberapa perbedaan mendasar dari perubahan peraturan itu adalah pada Perencanaan Pemeriksaan
(Audit Plan) dan Luas Pemeriksaan (Audit Scope).
Sejak keluarnya Per-9/PJ/2010, maka dalam pemeriksaan untuk menguji pemenuhan kewajiban
perpajakan, sebelum terbitnya Surat Perintah Pemeriksaan (SP2), terlebih dahulu harus melakukan
Perencanaan Pemeriksaan. Tahapan dalam penyusunan Rencana Pemeriksaan akan dibahas pada
kegiatan belajar 2 dengan judul Rencana Pemeriksaan.

2.8 Menyusun Rencana Program Pemeriksaan


Sebelum membahas tentang Rencana Program Pemeriksaan, ada baiknya dipahami dahulu
pengertian dari Program Pemeriksaan. Pengertian Program Pemeriksaan sesuai Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak Nomor SE -04/PJ/2012 Tentang Pedoman Penyusunan Program Pemeriksaan
Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan adalah pernyataan pilihan Metode
Pemeriksaan, Teknik Pemeriksaan dan Prosedur Pemeriksaan yang akan dilaksanakan oleh Pemeriksa
Pajak dalam melakukan pemeriksaan sesuai dengan Rencana Pemeriksaan.
Penyusunan Program pemeriksaan dilakukan setelah kegiatan mengumpulkan dan mempelajari data
Wajib Pajak dan kegiatan menyusun Rencana Pemeriksaan (audit plan). Program Pemeriksaan dibagi
atas Rencana Program Pemeriksaan dan Realisasi Program Pemeriksaan.
Rencana Program, Realisasi Program Pemeriksaan, Ketentuan , dan Format Program Pemeriksaan
adakan dibahas pada kegiatan belajar 3 dengan Judul Program Pemeriksaan.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 41


2.9 Menyiapkan Sarana dan Prasarana Pemeriksaan
2.9.1 Sarana dan Prasarana Pemeriksaan sebagai Perlindungan Hukum bagi Pemeriksa
Dalam pemeriksaan di lapangan banyak terjadi kasus-kasus hukum sebagai akibat dari tindakan yang
dilakukan oleh pemeriksa di lapangan tidak sesuai dengan peraturan perpajakan. Dengan semakin
tingginya pengetahuan Wajib Pajak tentang hak dan kewajibannya, pemeriksa dituntut juga untuk
menguasai “hak dan kewajiban “ Wajib Pajak serta “kewenangan dan kewajibannya sebagai
pemeriksa”. Jangan sampai pemeriksa melakukan tindakan - tindakan yang salah dan dilakukan
gugatan hukum oleh Wajib Pajak dan akhirnya gugatan tersebut dimenangkan oleh Wajib Pajak di
pengadilan. Jika pemeriksa tidak mengikuti prosedur pemeriksaan yang telah ditetapkan dan
kemudian digugat oleh Wajib Pajak, maka besar kemungkinan gugatan tersebut akan dimenangkan
oleh Wajib Pajak. Jika hal itu terjadi maka segala “temuan pemeriksaan” yang dapat mengakibatkan
bertambahnya pajak yang masih harus dibayar akan menjadi sia-sia karena adanya kesalahan dalam
prosedur atau prosedur yang tidak dilakukan dalam proses pemeriksaan. Itulah sebabnya perlu
dipersiapkan dengan baik sarana dan prasarana pemeriksaan yang yang dibutuhkan dalam
pemeriksaan demi melindungi pemeriksa dari gugatan hukum Wajib Pajak di kemudian hari. Sarana
dan prasarana tersebut dapat berupa formulir-formulir yang diperlukan di dalam pemeriksaan yang
mengandung konsekuensi hukum.

Pasal 36 A butir 5 Undang - Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
menyatakan bahwa “pegawai pajak tidak dapat dituntut, baik secara perdata maupun pidana, apabila
dalam melaksanakan tugasnya didasarkan pada iktikad baik dan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.”
Itikad baik dan melaksanakan prosedur dapat juga diukur melalui pengisian formulir - formulir dan
telah ditandatangani oleh Wajib Pajak saja atau oleh Wajib Pajak dan Tim Pemeriksa ataupun hanya
oleh Tim Pemeriksa saja. Misalnya jika Wajib Pajak menolak untuk dilakukan pemeriksaan, maka
pemeriksa seharusnya segera memberikan dan meminta kepada Wajib Pajak untuk menandatangani
formulir Surat Pernyataan Penolakan Pemeriksaan Pajak yang telah dipersiapkannya. Jika Wajib
Pajak tidak mau menandatangi formulir tersebut, pemeriksa harus menjelaskan kepada Wajib Pajak
segala konsukensi serta menyatakan bahwa Tim Pemeriksa akan mengisi dan menandatangani

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 42


Formulir Berita Acara Penolakan Pemeriksaan Pajak yang tidak memerlukan tanda tangan dari Wajib
Pajak yang selanjutnya oleh tim pemeriksa akan ditentukan tindak lanjut proses pemeriksaannya
sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku.

2.9.2 Menyiapkan Sarana dan Prasarana Pemeriksaan


Dalam lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.03 /2013 2 sebagaimana telah diubah
dengan PMK No.184 /PMK.03/2015 tentang Tata Cara Pemeriksaan dijelaskan sarana pemeriksaan
pajak berupa formulir-formulir yang harus dipersiapkan oleh pemeriksa dalam melakukan
pemeriksaan pajak. Selain sarana pemeriksaan , juga perlu dipersiapkan prasarana pemeriksaan ,
misalnya: Surat Tugas dalam rangka Perjalanan Dinas, dana yang dibutuhkan dalam rangka
perjalanan dinas, kenderaan yang akan dipakai ke tempat Wajib Pajak. Adapun sarana pemeriksaan
berupa formulir – formulir yang perlu dipersiapkan pada saat pemeriksa akan menadalah sebagai
berikut :
1. Kartu Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak;
2. Surat Perintah Pemeriksaan (SP2) ;
3. Surat Perintah Pemeriksaan Perubahan (jika ada perubahan Tim Pemeriksa );
4. Surat Pemberitahuan tentang Pemeriksaan Pajak kepada Wajib Pajak (pemeriksaan lapangan);
5. Surat Panggilan dalam Rangka Pemeriksaan kepada Wajib Pajak (pemeriksaan kantor);
6. Berita Acara Pertemuan dengan Wajib Pajak;
7. Formulir Surat Pernyataan Penolakan Pemeriksaan ;
8. Formulir Berita Acara Penolakan Pemeriksaan ;
9. Formulir Surat Pernyataan Penolakan Membantu Kelancaran Pemeriksaan ;
10. Formulir Berita Acara Penolakan Membantu Kelancaran Pemeriksaan ;
11. Berita Acara Tidak Memenuhi Panggilan Dalam Rangka Pemeriksaan Kantor ;
12. Panggilan Pertama / Panggilan Kedua Untuk Memberikan Keterangan (pemeriksaan Kantor);
13. Surat Permintaan Peminjaman Buku, Catatan dan Dokumen serta lampirannya adalah Daftar
Buku, Catatan, Dokumen Yang Wajib Dipinjamkan Dalam Rangka Pemeriksaan
14. Bukti Peminjaman dan Pengembalian Buku, Catatan dan Dokumen;
15. Format Surat Pernyataan Keaslian Dokumen Dan/Atau Data Yang Diberikan;

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 43


16. Surat Peringatan I / II dan Daftar Buku, Catatan, Dokumen Yang Belum Dipinjamkan Dalam
Rangka Pemeriksaan ;
17. Berita Acara Pemenuhan Seluruh Peminjaman Buku, Catatan dan Dokumen ;
18. Berita Acara Tidak Dipenuhinya Permintaan Peminjaman Buku, Catatan, dan Dokumen
19. Berita Acara Pemberian Keterangan Wajib Pajak ;
20. Formulir Segel;
21. Formulir Berita Acara Penyegelan;
22. Berita Acara Tanda Segel Rusak atau Hilang;
23. Formulir Berita Acara Pembukaan Segel;
24. Formulir Kertas Kerja Pemeriksaan;
25. Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan;
26. Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (dalam hal penghasilan kena pajak dihitung secara jabatan)
dan Daftar Temuan Pemeriksa;
27. Format Surat Pernyataan Penolakan Menerima SPHP;
28. Format Berita Acara Penolakan Menerima SPHP;
29. Pernyataan Persetujuan Hasil Pemeriksaan;
30. Surat Pemberitahuan Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian Tanggapan Hasil
Pemeriksaan;
31. Berita Acara Tidak Disampaikannya Tanggapan Tertulis Atas SPHP;
32. Undangan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;
33. Risalah Pembahasan;
34. Permohonan Pembahasan Dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan;
35. Undangan Untuk Menghadiri Pembahasan Dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan;
36. Risalah Tim Quality Assurance Pemeriksaan;
37. Berita Acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;
38. Ikhitisar Hasil Pembahasan Akhir;
39. Panggilan Untuk Menandatangani Berita Acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;
40. Berita Acara Ketidakhadiran Wajib Pajak Dalam Rangka Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;
41. Format Laporan Pengungkapan Ketidakbenaran Pengisian Surat Pemberitahuan;
42. Pemberitahuan Perpanjangan Jangka Waktu Pengujian ;

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 44


43. Pemberitahuan Penangguhan Pemeriksaan Yang Ditingkatkan Ke Pemeriksaan Bukti
Permulaan;
44. Pemberitahuan Penghentian Pemeriksaan;
45. Kuesioner Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan
Kewajiban Perpajakan;
46. Kuesioner Pelaksanaan Pemeriksaan Kantor Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban
Perpajakan;
47. Kuesioner Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan Untuk Tujuan Lain;
48. Kuesioner Pelaksanaan Pemeriksaan Kantor Untuk Tujuan Lain;
49. Surat Keputusan Penetapan Rugi Fiskal Berdasarkan Pemeriksaan Ulang:
50. Formulir Kertas Kerja Pemeriksaan
Semua formulir-formulir di atas akan dijelaskan pada Modul Pelaksanaan Pemeriksaan, sebagai
bagian dari materi Diklat Fungsional Dasar Pemeriksa Pajak.

Formulir-formulir tersebut digandakan dan digunakan sesuai dengan kebutuhannya, dan ada baiknya
disiapkan dalam satu map tersendiri sehingga saat pemeriksaan di lokasi Wajib Pajak untuk beberapa
Wajib Pajak formulir – formulir tersebut telah tersedia. Ada baiknya tim pemeriksa juga membawa
buku yang berisi materi tentang Undang-Undang KUP, Peraturan Menteri Keuangan
No.17/PMK.03/2013 sebagaimana telah diubah dengan PMK No.184 /PMK.03/2015 tentang Tata Cara
Pemeriksaan dan Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-23/PJ/2013 tentang Standar Pemeriksaan,
sehingga jika terjadi hal-hal khusus di lapangan , maka pemeriksa segera dapat melihat prosedur
yang harus dilakukan menurut peraturan perpajakan yang berlaku.

2.10. Latihan
Dari Studi Kasus Komprehensif yang diberikan, peserta diminta untuk membuat:
1. Identifikasi Masalah
2. Menentukan Cakupan Pemeriksaan (pos-pos yang akan diperiksa)
3. Menentukan buku-buku,catatan, dan/atau dokumen yang akan dipinjam dari Wajib Pajak.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 45


Kegiatan Belajar 2
3 RENCANA PEMERIKSAAN

3.1 Ketentuan Rencana Pemeriksaan


Penyusunan Rencana Pemeriksaan didasarkan pada Indentifikasi Masalah yang telah disusun
menjadi audit scope ( luas pemeriksaan) yaitu dengan cara menentukan pos-pos SPT atau pos
turunannya yang akan diperiksa/ dilakukan pengujian.
Pos-pos SPT yang akan diperiksa adalah pos-pos SPT atau pos turunannya yang ditentukan akan
diperiksa , contohnya: pada saat Pemeriksa Pajak melakukan pemeriksaan atas Pos Peredaran
Usaha, maka Pemeriksa Pajak dapat menentukan untuk memeriksa Pos Penjualan Afiliasi saja
sedangkan pos peredaran usaha lainnya dianggap benar dan tidak dilakukan pemeriksaan/
pengujian. Penentuan pos-pos SPT yang akan diperiksa ini adalah hal yang penting dalam rencana
pemeriksaan dan ditentukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor : kriteria pemeriksaan, jenis
pemeriksaan, ruang lingkup pemeriksaan, identifikasi masalah, tanggal selesai pemeriksaan, tanggal
jatuh tempo penyelesaian permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak, tenaga ahli yang
dibutuhkan dalam pemeriksaan, sarana pendukung yang diperlukan. Penentuan pos – pos yang akan
diperiksa ini akan membantu pemeriksa untuk:
i. Membuat Program Pemeriksaan yang efektif karena tidak perlu memeriksa seluruh pos yang
ada dalam SPT.
ii. Melakukan peminjaman buku, catatan, dan dokumen serta data, informasi, dan keterangan
lain dari Wajib Pajak dalam jumlah tertentu sesuai dengan Program Pemeriksaan yang dibuat
untuk melakukan pemeriksaan atas pos-pos dalam SPT yang akan diperiksa tersebut.

Sebelum keluarnya Per-9/PJ/2010 ini jo Per 23/PJ/2013 yang dilakukan pemeriksa berdasarkan Kep-
01/PJ.7/1990), kegiatan “perencanaan pemeriksaan” ini digabungkan dengan kegiatan “persiapan
pemeriksaan" yang dilakukan oleh pemeriksa setelah terbitnya Surat Perintah Pemeriksaan Pajak.
Namun sejak berlakunya Per-9/PJ/2010 ini, terhadap pemeriksaan untuk tujuan menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban Wajib Pajak perencanaan pemeriksaan mutlak dilakukan.
Dalam merencanakan pemeriksaan pemeriksa seharusnya mempunyai sikap skeptis yang profesional
terhadap integritas Wajib Pajak, kesalahan dan pelanggaran serta tindakan Wajib Pajak yang ilegal.
Tujuan Perencanaan Pemeriksaan ini adalah untuk mencapai keyakinan pemeriksa yang memadai

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 46


guna mendeteksi kesalahan atas penyajian dalam Surat Pemberitahuan (SPT) dan Laporan
Keuangannya yang diyakini jumlahnya signifikan yang secara kuantitatif berdampak terhadap
kepatuhan perpajakan Wajib Pajak sehingga perlu dilakukan pengujian.
Pengertian Rencana Pemeriksaan sesuai Per-9/PJ/2010 jo. Per-23/PJ/2013 adalah rencana
kerja pemeriksaan yang disusun oleh Supervisor dan harus ditelaah serta disetujui oleh Kepala Unit
Pelaksana Pemeriksaan (UP2) yang berisi identitas Wajib Pajak yang memberikan gambaran umum
mengenai Wajib Pajak, identitas Tim Pemeriksa Pajak yang berisi susunan tim dan jumlah Surat
Perintah Pemeriksaan (SP2) yang sedang dikerjakan Tim Pemeriksa Pajak yang bersangkutan, dan
uraian rencana pemeriksaan yang berisi informasi mengenai kriteria pemeriksaan, jenis pemeriksaan,
ruang lingkup pemeriksaan, identifikasi masalah, tanggal selesai pemeriksaan, tanggal jatuh tempo
penyelesaian permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak, tenaga ahli yang dibutuhkan
dalam pemeriksaan, sarana pendukung yang diperlukan, serta pos-pos SPT yang akan diperiksa.
Penyusunan Rencana Pemeriksaan kembali ditegaskan pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor
PMK -17/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pemeriksaan pasal 8 poin a : “pelaksanaan Pemeriksaan harus
didahului dengan persiapan yang baik sesuai dengan tujuan Pemeriksaan, yang paling sedikit meliputi
kegiatan mengumpulkan dan mempelajari data Wajib Pajak, menyusun rencana Pemeriksaan (audit
plan), dan ….”
Direktur Jenderal Pajak juga telah membuat pedoman penyusunan Rencana Pemeriksaan dengan
terbitnya Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE - 126/PJ/2010 tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Pemeriksaan (Audit Plan) Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan.
Hal-hal yang digariskan pada Surat Edaran tersebut adalah:
1. Rencana Pemeriksaan merupakan rencana kerja pemeriksaan yang disusun oleh Supervisor dan
harus ditelaah serta disetujui oleh Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan (UP2) yang antara lain
berisi identitas Wajib Pajak (WP), identitas Tim Pemeriksa Pajak, dan uraian rencana
pemeriksaan.
2. Rencana Pemeriksaan harus disusun oleh Supervisor secara cermat berdasarkan pertimbangan
professional serta disusun sebelum Surat Perintah Pemeriksaan (SP2) diterbitkan. Penyusunan
Rencana Pemeriksaan dilakukan setelah mempelajari dan menganalisis data WP yang tersedia
dan hasil analisis tersebut dituangkan dalam Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) sebagai pendukung
Rencana Pemeriksaan.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 47


3. Rencana Pemeriksaan harus disusun untuk pemeriksaan seluruh jenis pajak / all taxes maupun
pemeriksaan satu atau beberapa jenis pajak dan disusun untuk pemeriksaan WP Domisili
maupun pemeriksaan WP Lokasi.
4. Rencana Pemeriksaan dapat diperbaiki atau diubah oleh Supervisor setelah SP2 diterbitkan
apabila Pemeriksa Pajak menemukan kondisi yang berbeda antara Rencana Pemeriksaan dengan
pelaksanaan pemeriksaan dan perubahan Rencana Pemeriksaan tetap harus memperhatikan
jangka waktu penyelesaian pemeriksaan. Rencana Pemeriksaan dan Perubahan Rencana
Pemeriksaan harus ditelaah dan mendapat persetujuan Kepala UP2.

ND
Penunjukan
Supervisor

Max.5 hr kerja
Setelah URP
Audit diterima
Plan

Max 7 hr setelah ND diterima

WP
Lokasi
Pemeriksa
Pemeriksaan WP
Lokasi

Gambar 2.3.: Overview penyusunan Rencana Pemeriksaan

3.2. Format dan Prosedur Penyusunan Rencana Pemeriksaan adalah:


Kepala UP2 harus membuat Nota Dinas Penunjukan Supervisor untuk menyusun usulan Rencana
Pemeriksaan setelah menerima instruksi/persetujuan/penugasan pemeriksaan atau Lembar
Penugasan Pemeriksaan (LP2) dengan menggunakan format pada Lampiran I yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran ini.
1. Nota Dinas Penunjukan Supervisor harus disertai dengan berkas WP yang diperlukan dalam
penyusunan usulan Rencana Pemeriksaan, antara lain Surat Pemberitahuan (SPT), Laporan
Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 48
Keuangan minimal 2 (dua) tahun terakhir atau sesuai data yang tersedia, Profil WP, Laporan
Hasil Pemeriksaan (LHP) sebelumnya, dan data lain yang relevan. Berkas- berkas tersebut dirinci
dalam Daftar Berkas Wajib Pajak Yang Dipinjamkan Dalam Rangka Pemeriksaan, yang
merupakan lampiran Nota Dinas Penunjukan Supervisor. Supervisor menyusun KKP Identifikasi
Masalah untuk menentukan pos-pos SPT atau turunannya yang akan diperiksa dan perlu
dilakukan pengujian. KKP Identifikasi Masalah merupakan KKP Pendukung dari Rencana
Pemeriksaan.
2. Penyusunan KKP Identifikasi Masalah dapat dilihat pada poin Identifikasi Masalah diatas.
Berdasarkan Identifikasi Masalah yang telah disusun , Supervisor menyusun Usulan Rencana
Pemeriksaan. Usulan Rencana Pemeriksaan tersebut antara lain berisi:
a. Identitas WP yang berisi gambaran umum WP;
b. Identitas Tim Pemeriksa Pajak yang berisi susunan tim dan jumlah SP2 yang sedang
dikerjakan; dan
c. Uraian Rencana Pemeriksaan yang berisi:
1) Kriteria pemeriksaan, yang terdiri atas Pemeriksaan Rutin dan Pemeriksaan Khusus;
2) Jenis pemeriksaan, yang terdiri atas Pemeriksaan Kantor dan Pemeriksaan Lapangan;
3) Ruang lingkup pemeriksaan, yang terdiri atas seluruh jenis pajak (all taxes), PPh
Badan/Orang Pribadi, Pemotongan dan Pemungutan PPh, PPN, dan jenis pajak lainnya;
4) Identifikasi masalah, yang memuat resume dari KKP Identifikasi Masalah;
5) Tanggal selesai pemeriksaan adalah rencana tanggal batas akhir penyelesaian
pemeriksaan, yaitu tanggal LHP yang harus memperhatikan jangka waktu penyelesaian
pemeriksaan sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku;
6) Tanggal jatuh tempo penyelesaian permohonan pengembalian kelebihan pembayaran
pajak;
7) Tenaga ahli yang dibutuhkan dalam pemeriksaan;
8) Sarana pendukung yang diperlukan dalam pemeriksaan, misalnya software audit tools,
dan lain-lain;
9) Pos-pos SPT yang akan diperiksa:
a) yang dimaksud dengan pos-pos SPT yang akan diperiksa adalah pos-pos di dalam SPT
atau pos turunannya yang ditentukan akan diperiksa baik SPT Masa maupun SPT

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 49


Tahunan;
b) pos turunan adalah komponen atau elemen yang mendukung suatu pos, termasuk
akun neraca;
c) dalam hal pemeriksaan meliputi beberapa atau seluruh jenis pajak, maka setiap jenis
pajak harus diperiksa;
d) untuk jenis pajak PPh Badan atau PPh Orang Pribadi, pos Peredaran
Usaha/Penghasilan Bruto harus diperiksa;
e) Pemeriksa dapat memilih pos turunan dari Pos Peredaran Usaha / Penghasilan Bruto
sebagaimana dimaksud dalam huruf d);
f) meskipun pemeriksa dapat memilih pos-pos yang akan diperiksa dalam setiap jenis
pajak, pengujian atas keabsahan seluruh kredit pajak tetap harus dilakukan;
g) penentuan pos-pos SPT yang akan diperiksa didasarkan pada identifikasi masalah
yang merupakan hasil analisis data keuangan dan data lainnya;
h) penulisan pos-pos SPT yang akan diperiksa dengan pos turunannya dipisahkan
dengan garis miring (/). sebagai contoh:
i. PPh Badan :
Dalam hal Pemeriksa Pajak menentukan untuk memeriksa Penjualan Ekspor
sebagai pos turunan dari Pos Peredaran Usaha, ditulis sebagai berikut :
Peredaran Usaha / Penjualan Ekspor.
ii. PPh Pasal 23 :
Dalam hal Pemeriksa Pajak menentukan untuk memeriksa objek PPh Pasal 23 atas
Biaya Sewa Harta, ditulis sebagai berikut : Objek PPh Pasal 23/Sewa.
10) penentuan lokasi dan kewajiban perpajakan lokasi yang akan diperiksa berdasarkan hasil
identifikasi masalah yang telah dilakukan.
3. Usulan Rencana Pemeriksaan harus disampaikan kepada Kepala UP2 paling lambat 7 (tujuh) hari
kerja setelah Nota Dinas Penunjukan Supervisor diterima dan Kepala UP2 harus menelaah dan
memberikan persetujuan atas usulan Rencana Pemeriksaan paling lambat 5 (lima) hari kerja
setelah usulan Rencana Pemeriksaan diterima. Setelah usulan Rencana Pemeriksaan disetujui
Kepala UP2 harus menerbitkan SP2.
4. Dalam hal terdapat permintaan pemeriksaan WP Lokasi, Pemeriksa WP Domisili harus

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 50


melampirkan salinan Rencana Pemeriksaan dalam surat permintaan pemeriksaan WP Lokasi
sebagai dasar bagi Pemeriksa WP Lokasi dalam menyusun Rencana Pemeriksaannya. Dalam hal
Rencana Pemeriksaan yang dibuat oleh Pemeriksa WP Lokasi berbeda dengan Rencana
Pemeriksaan WP Domisili, maka salinan Rencana Pemeriksaan WP Lokasi harus dikirimkan
kepada Pemeriksa WP Domisili paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak disetujuinya Rencana
Pemeriksaan WP Lokasi.
Contoh Kertas Kerja Pemeriksaan Rencana Pemeriksaan menurut lampiran SE-126/PJ/2010:
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANWIL DJP XXX
KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA "ABC"

KERTAS KERJA PEMERIKSAAN


Nama Wajib Pajak : PT Abcdefgh
RENCANA PEMERIKSAAN NPWP : 01.234.567.8-666.000
Masa / Tahun Pajak : Januari - Desember 2009
I. IDENTITAS WAJIB PAJAK
1. Alamat Wajib Pajak : Jl. KLM No 555 Tangerang
2. Klasifikasi Lapangan Usaha : 24293 Industri Pewarna
3. Produk Utama dan Merk Produk : Pewarna tekstil, Merk "Shi Law"
4. Nomor Telepon : 021-55xxxxx
5. Nomor Fax : 021-55xxxxx
6. Website : www.abcdefgh.com
7. Alamat e-mail : cs@abcdefgh.com
8. Contact Person : Humisar Ariestino
9. Penanggung Jawab Wajib Pajak :
No Nama Jabatan Telepon
1. I Wayan Darmawan Direktur Keuangan 021-xxxxxxx

10. Hasil Pemeriksaan Sebelumnya


A. Koreksi
No Masa/Tahun Pajak Pos Yang Dikoreksi Menurut Koreksi (Rp)
SPT (Rp) Pemeriksa (Rp)
1. Januari - HPP _ Pembelian 2,536,489,430 2,368,598,040 167,891,390
Desember 2007 Biaya promosi 323,556,500 231,563,400 91,993,100
Biaya Penyusutan 73,826,810 68,352,800 5,474,010
Penyesuaian fiskal positif - (126,542,788) 126,542,788
Objek PPh Pasal 21 125,462,500 162,575,700 37,113,200
DPP PPN 3,652,751,790 3,672,751,790 20,000,000
dst ..

2. Januari - Biaya promosi


Desember 2005 dst ... 156,261,570 142,875,380 13,386,190

B. Penjelasan Koreksi
No Masa/Tahun Pajak dan Penjelasan Koreksi
Pos Yang Dikoreksi
I. Januari - Desember 2007
1. HPP - Pembelian Mark-up pembelian bahan baku yang berasal dari related party dan non

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 51


PKP.
2. Biaya promosi Merupakan pengeluaran natura yang belum dilakukan penyesuaian
fiskal.
3. Biaya penyusutan Biaya penyusutan aktiva untuk karyawan tertentu yang sesuai dengan
KEP-220/PJ/2002 hanya dapat dibebankan sebesar 50% dan adanya
kesalahan pengelompokan.
4. Penyesuaian fiskal positif Wajib Pajak menerima penghasilan yang telah dikenakan PPh Final dari
sewa bangunan sebagian ruang kantor dari pihak lain. Sesuai
ketentuan PP-138 Th 2000 biaya usaha yang terkait langsung dengan
penghasilan tersebut tidak dapat dikurangkan dan biaya tidak
langsungnya tidak boleh dikurangkan atau seharusnya dihitung secara
proporsional.
5. Objek PPh Pasal 21 Pembayaran bonus karyawan dan notaris yang belum diperhitungkan.
6. DPP PPN Uang muka pelanggan yang belum diperhitungkan sebagai objek PPN.
7. dst ...

II. Januari - Desember 2005

1. dst ...

II. IDENTITAS TIM PEMERIKSA PAJAK


1. Susunan Tim Pemeriksa
No Nama / NIP Pangkat / Golongan Jabatan
1. Sirmu Setyasmoko / 1971xxxxxxxxxxxxxx Penata Tk. I / IIId Supervisor
2. Emika Niken Fifiana / 1976xxxxxxxxxxxxxx Penata Muda Tk. I / IIIb Ketua Tim
3. Arifin Nur Rochman / 1983xxxxxxxxxxxxxx Penata Muda / IIIa Anggota Tim

2. Beban Tim Pemeriksa


Jumlah tunggakan pemeriksaan (SP2) Ketua Tim yang harus diselesaikan : 12 SP2
a. Berdasarkan ruang lingkup pemeriksaan

1) Seluruh jenis pajak (all taxes) :


6 SP2
2) Satu/beberapa jenis pajak :
4 SP2
3) Pemeriksaan tujuan lain :
2 SP2
b. Pemeriksaan SPT Lebih Bayar (LB) yang jatuh tempo dalam 1 (satu) bulan : 2 SP2

III. URAIAN RENCANA PEMERIKSAAN


1. Kriteria Pemeriksaan : Pemeriksaan Khusus
2. Jenis Pemeriksaan : Pemeriksaan Lapangan
3. Ruang Lingkup Pemeriksaan : Seluruh Jenis Pajak (all taxes)
4. Identifikasi Masalah
a. Peredaran Usaha dilaporkan lebih rendah (understated) terkait dengan data ekspor.
b. Pembelian bahan dilaporkan lebih tinggi (overstated) terkait dengan data impor dan hasil pemeriksaan
tahun sebelumnya.
c. Persediaan akhir dari perhitungan kuantitas perlu dipastikan eksistensi dalam penyimpanannya.
d. Biaya tenaga kerja langsung dan bonus perlu dilakukan pengujian untuk memastikan kesesuaian
dengan pelaporan objek PPh Pasal 21.
e. Biaya promosi perlu diuji kebenarannya terkait dengan kemungkinan adanya biaya yang tidak dapat
dikurangkan.
f. Biaya pemeliharaan perlu diuji kebenarannya terkait kenaikannya yang signifikan.
g. Terdapat kesalahan penghitungan penyusutan aktiva tetap tahun sebelumnya dan perolehan baru
yang perlu dipastikan eksistensi termasuk kebenaran perhitungan penyusutan. Aktiva bangunan dalam
penyelesaian perlu dipastikan nilai yang dapat diakui sesuai Pasal 6 dan Pasal 9 UU PPh juga terkait
objek pajak lainnya.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 52


h. Biaya bunga bank dibebankan seluruhnya, padahal ada penambahan hutang bank yang dimungkinkan
terkait dengan bangunan dalam pelaksanaan sehingga terindikasi overstated yang semestinya
sebagian dikapitalisasi ke aktiva.
i. Adanya penghasilan yang telah dikenakan PPh Final dari sewa bangunan, WP belum melakukan koreksi
fiskal atas biaya langsung dan tidak langsungnya, sehingga perlu dihitung ulang berdasarkan PP-138
Tahun 2000 untuk menentukan jumlah biaya yang dapat dikurangkan.
j. dst .... s.d PBB
5. Tanggal selesai pemeriksaan : 10 Februari 2011
6. Tanggal jatuh tempo penyelesaian permohonan pengembalian : -
kelebihan pembayaran pajak
7. Tenaga ahli yang dibutuhkan : -
8. Sarana pendukung yang diperlukan : -
9. Pos-pos SPT yang akan diperiksa
No Jenis Pajak Nama Pos / Pos Turunan Alasan
1 PPh Badan Peredaran Usaha/Pejualan Ekspor Indikasi terjadinya understated
Peredaran Usaha/Piutang Usaha Pengujian arus uang untuk mendukung
Ekspor pengujian ketepatan pelaporan
penjualan ekspor.
Peredaran Usaha/Kas dan Bank Pengujian arus uang untuk mendukung
pengujian ketepatan pelaporan
penjualan ekspor.
HPP/Pemakaian/Pembelian Bahan Terdapat indikasi terjadinya mark-up
harga pembelian
HPP/Persediaan Akhir Barang Jadi Terindikasi jumlahnya overstated
HPP/Biaya Tenaga Kerja Langsung Memastikan kesesuaian dengan
pelaporan objek PPh Pasal 21
HPP/Biaya Overhead/Bonus
Biaya Usaha Lainnya/Promosi Adanya pengeluaran yang tidak boleh
dikurangkan
Biaya Usaha Lainnya/Pemeliharaan Memastikan pemanfaatannya terkait
kenaikannya yang signifikan
Biaya Usaha Lainnya/Penyusutan Kesalahan perhitungan tahun
sebelumnya dan adanya aktiva tetap
baru
Biaya Dari Luar Usaha/Biaya Bunga Bunga pinjaman yang semestinya
dikapitalisasi
Biaya Dari Luar Usaha/Biaya Bunga/ Mendukung pengujian ketepatan
Hutang Bank penghitungan biaya bunga bank dan
penggunaannya
Penyesuaian Fiskal/Biaya atas Belum dilakukan penyesuaian fiskal
Penghasilan Final terhadap biaya terkait penghasilan sewa
bangunan yang telah dikenakan PPh
Final
Kredit Pajak PPh Badan Pengecekan keabsahan kredit pajak
serta ketepatan pengkreditannya

2 PPh Pasal 21 Objek Pajak/Pegawai Tidak Tetap Memastikan objek PPh Pasal 21 terkait
dengan peningkatan Biaya Tenaga Kerja
Langsung dan Bonus terhadap Pegawai
Tidak Tetap.
Kredit Pajak PPh Pasal 21 Pengecekan keabsahan kredit pajak
serta ketepatan pengkreditannya.
3 PPh Pasal 23 Objek Pajak/Jasa Perencanaan Memastikan objek pajak jasa
Konstruksi perencanaan konstruksi terkait dengan
bangunan dalam pelaksanaan dan data
pajak masukan.
Kredit Pajak PPh Pasal 23 Pengecekan keabsahan kredit pajak

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 53


serta ketepatan pengkreditannya.
4 PPh Pasal 4 (2) Objek Pajak/Jasa Pelaksanaan Memastikan objek terkait dengan
Konstruksi adanya pengeluaran bangunan dalam
pelaksanaan.
Kredit Pajak PPh Pasal 4 (2) Tidak diperiksa karena Wajib Pajak
tidak ada pembayaran dan pelaporan
SPT PPh Pasal 4 ayat (2).
5 PPN DN DPP/Penyerahan Ekspor Indikasi terjadinya understated
DPP/Uang Muka Terdapat selisih objek PPN,
uang muka dan
DPP/Pemfakturan Antarwaktu pemfakturan antar waktu yang
perlu diuji kepatuhannya.
DPP/Pasal 16C Memastikan pengenaan PPN Pasal 16C
terkait dengan bangunan dalam
pelaksanaan
Pajak yang dapat diperhitungkan Pengecekan keabsahan kredit pajak
(kredit Pajak) serta ketepatan pengkreditannya
6 PBB Objek Pajak Memastikan tanah dan bangunan yang
dimiliki.

10. Lokasi/cabang WP yang akan dimintakan pemeriksaan lokasi


No Nama/Lokasi Cabang NPWP Alasan UP2
1. Jl. NNN No 60 Depok 01.234.567.8-888.001 Memberikan kontribusi KPP "DEF"
2. Jl. MMM No. 45 Depok 01.234.567.8-888.003 peredaran usaha terbesar KPP "DEF"
3. Jl. AAA No 31 Bekasi 01.234.567.8-555.001 KPP "XYZ"

Disusun oleh Supervisor Kelompok I Tangerang, 12 November 2010


Tanggal 11 November 2010 Disetujui oleh Kepala Kantor,

Sirmu Setyasmoko Rinaldi Trisambodo


NIP 1971xxxxxxxxxxxxxx NIP 1961xxxxxxxxxxxxxx

INDEKS : A.1

3.3. Latihan
Menyusun Rencana Pemeriksaan dengan menggunakan Studi Kasus Komprehensif.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 54


Kegiatan Belajar 3
4 PROGRAM PEMERIKSAAN

4.1. Ketentuan Program Pemeriksaan


4.1.1. Pengertian Program Pemeriksaan
Pengertian Program Pemeriksaan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE -04/PJ/2012
Tentang Pedoman Penyusunan Program Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan
Kewajiban Perpajakan adalah pernyataan pilihan Metode Pemeriksaan, Teknik Pemeriksaan dan
Prosedur Pemeriksaan yang akan dilaksanakan oleh Pemeriksa Pajak dalam melakukan pemeriksaan
sesuai dengan Rencana Pemeriksaan.
Pengertian Metode Pemeriksaan adalah teknik dan prosedur pemeriksaan yang dilakukan terhadap
buku, catatan, dan dokumen serta data, informasi, dan keterangan lain, yang terdiri atas metode
langsung dan metode tidak langsung.
Teknik Pemeriksaan adalah cara-cara pengumpulan bukti, pengujian, dan/atau pembuktian yang
dikembangkan oleh Pemeriksa Pajak untuk menyakini kebenaran pos-pos yang diperiksa. Sedangkan
Prosedur Pemeriksaan adalah serangkaian langkah dalam suatu Teknik Pemeriksaan, berupa
petunjuk rinci yang biasanya tertulis dalam bentuk perintah, untuk dilakukan oleh Pemeriksa Pajak.
Penyusunan Program pemeriksaan dilakukan setelah kegiatan mengumpulkan dan mempelajari data
Wajib Pajak dan menyusun rencana Pemeriksaan (audit plan).
Fungsi Program Pemeriksaan adalah sebagai :
a. sarana bagi Supervisor untuk melakukan pengendalian dan pengawasan atas
pelaksanaan pemeriksaan serta memberikan bimbingan;
b. petunjuk kerja bagi Tim Pemeriksa Pajak;
c. sarana evaluasi penerapan metode, teknik, dan prosedur pemeriksaan suatu pos SPT
dan/atau pos turunannya dengan metode, teknik, dan prosedur pemeriksaan yang telah
direncanakan; dan
d. referensi bagi penyusunan Program Pemeriksaan yang akan datang.
Penyusunan Program Pemeriksaan dilakukan secara mandiri, objektif, profesional serta

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 55


memperhatikan Rencana Pemeriksaan yang telah ditelaah dan disetujui oleh Kepala UP2. Program
Pemeriksaan yang harus disusun ada 2 (dua), yaitu Rencana Program Pemeriksaan dan Realisasi
Program Pemeriksaan serta Program Pemeriksaan merupakan bagian dari Kertas Kerja
Pemeriksaan.

4.1.2. Rencana Program Pemeriksaan


Rencana Program Pemeriksaan adalah program pemeriksaan yang disusun terhadap pos-pos yang
akan diperiksa dalam Rencana Pemeriksaan yang telah dibuat oleh pemeriksa. Sesuai dengan SE -
04/PJ/2012 Tentang Pedoman Penyusunan Program Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan
Pemenuhan Kewajiban Perpajakan dijelaskan bahwa Rencana Program Pemeriksaan dibuat oleh
Supervisor dan dibantu oleh Ketua Tim. Rencana Program Pemeriksaan dapat disampaikan kepada
Kepala UP2 bersamaan dengan Usulan Rencana Pemeriksaan. Rencana Program Pemeriksaan harus
ditandatangani oleh Kepala UP2 sebelum penyampaian Surat Pemberitahuan Pemeriksaan atau
pengiriman Surat Panggilan Dalam Rangka Pemeriksaan kepada Wajib Pajak.

Dalam hal terdapat perubahan Rencana Pemeriksaan berupa penambahan Pos-pos SPT/pos - pos
turunannya maka harus dibuat Perubahan Rencana Program Pemeriksaan yang merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari Rencana Program Pemeriksaan. Perubahan Rencana Program
Pemeriksaan tersebut disampaikan kepada Kepala UP2 bersamaan dengan Usulan Perubahan
Rencana Pemeriksaan dan selanjutnya ditandatangani oleh Kepala UP2 paling lama 1 (satu) hari kerja
setelah persetujuan Usulan Perubahan Rencana Pemeriksaan.

4.2. Format Rencana Program Pemeriksaan


Rencana Program Pemeriksaan berisi :
a. Pos-pos SPT/pos-pos turunannya yang akan diperiksa menurut KKP Rencana Pemeriksaan;
b. Uraian Rencana Program Pemeriksaan masing-masing pos SPT/pos turunannya antara lain
memuat :
1) tujuan pemeriksaan suatu pos SPT/pos turunannya;
2) metode pemeriksaan yang akan digunakan;
3) teknik-teknik pemeriksaan yang dipilih;

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 56


4) prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan;
5) buku, catatan, dan dokumen Wajib Pajak yang akan dipinjam.
Contoh Rencana Program Pemeriksaan menurut SE-04/PJ/2012 pada Lampiran V:
KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA "ABC"

KERTAS KERJA PEMERIKSAAN

Nama Wajib Pajak : PT Abcdefgh


RENCANA PROGRAM PEMERIKSAAN NPWP : 01.234.567.8-666.00
Masa/Tahun Pajak : Januari-Desember 2009

I. Pemahaman proses bisnis Wajib Pajak :


A. Tujuan :
Untuk mengetahui proses bisnis WP sesuai KLU ataupun kondisi pada saat dilakukan pemeriksaan
yang meliputi :
- Usaha utama WP
- Apa yang dijual dan darimana diperoleh
- Darimana penghasilan diterima/diperoleh
- Kemana saja pembelanjaan yang dilakukan
- ........... dst.

B. Teknik Pemeriksaan :
1. Pemanfaatan Informasi Internal dan/atau Eksternal Direktorat Jenderal Pajak
2. Inspeksi
3. Wawancara

C. Prosedur Pemeriksaan :
1. Lakukan pengumpulan data dan informasi yang sesuai dengan tujuan
2. Pengolahan data, informasi, dokumen
3. Buat daftar pertanyaan untuk wawancara
4. Tentukan tempat dimana data dan/atau informasi tersebut berada
5. Tentukan pihak-pihak yang dapat menyediakan informasi untuk diwawancarai
6. Persiapan pelaksanaan inspeksi dan wawancara
7. Lakukan inspeksi dan wawancara
8. Dokumentasikan hasil wawancara dalam bentuk berita acara apabila dipandang perlu
9. ........... dst.

II. Pos-pos SPT/pos-pos turunannya yang akan diperiksa sesuai KKP Rencana Pemeriksaan :
A. PPh Badan
1. Peredaran Usaha/Penjualan Ekspor
2. .......... dst.
B. ........... dst.

III. Uraian Program Pemeriksaan masing-masing pos SPT/pos turunannya yang akan diperiksa :
A. Jenis Pajak : PPh Badan
1. Pos SPT : Peredaran Usaha/Penjualan Ekspor
a. Tujuan Pemeriksaan Suatu Pos SPT/Pos Turunannya :
1) Untuk menguji apakah seluruh penjualan ekspor telah dicatat dan dilaporkan.
2) .......... dst.
b. Metode Pemeriksaan : Metode Langsung dan Metode Tidak Langsung
c. Teknik Pemeriksaan :
1) Pemanfaatan informasi internal dan/atau eksternal DJP
2) Penelusuran angka-angka (Tracing)
3) Penelusuran bukti

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 57


4) Pengujian keterkaitan arus uang dan arus piutang
5) Pengujian kebenaran penghitungan matematis
6) Pengujian keabsahan dokumen
7) Inspeksi
8) ............ dst.
d. Prosedur Pemeriksaan :
1) Lakukan pengumpulan data dan olah sesuai kebutuhan
2) Identifikasi dokumen-dokumen pendukung yang berkaitan dengan pos atau
transaksi yang sedang diperiksa sesuai dengan rekam jejak pemeriksaan (audit
trail).
3) Lakukan penelaahan mundur atas pos yang diperiksa sampai dengan tanggal
neraca
4) Kumpulkan bukti-bukti yang mendukung transaksi serta buku kas/bank dan
buku piutang
5) Teliti keabsahan dokumen
6) Lakukan konfirmasi kepada pihak yang terkait
7) Cocokkan bukti dengan transaksi
8) Teliti validitas dan relevansi bukti
9) Pastikan apakah bukti transaksi telah dicatat dan dilaporkan serta
penghitungannya telah benar

10) Periksa kebenaran saldo kas/bank dan piutang yang dilaporkan


11) Dapatkan jumlah penerimaan kas/bank untuk melakukan pengujian arus uang
dan piutang
12) Lakukan uji arus uang dan arus piutang sesuai dengan formula
13) Lakukan inspeksi untuk menyakini lalu lintas ekspor dilokasi WP
14) ....... dst.

2. Pos SPT : ..... dst.

B. Jenis Pajak : ..... dst.

IV. Buku, Catatan, dan Dokumen Wajib Pajak yang akan dipinjam :
No. Nama Buku, Catatan, dan Dokumen Wajib Pajak Keterangan
1. Laporan Keuangan Apabila yang disampaikan
2. Pembukuan mengenai penjualan berupa foto copy/softcopy
3. Bukti penjualan minta surat pernyataan.
4. Bukti ekspor
5. Rekening koran/tabungan
6. Pembukuan piutang
7. Kontrak/perjanjian
dst....
Dibuat oleh Diketahui oleh
Supervisor Tanggal Tanda Tangan Kepala UP2 Tanggal Tanda Tangan
Sirmu Setyasmoko 14/02/xxxx Suryani Yusuf 15/02/xxxx

INDEKS : A.2

4.3. Realisasi Program Pemeriksaan


Apabila suatu Teknik Pemeriksaan yang dipilih dan/atau buku, catatan, dan dokumen yang harus

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 58


dipinjam tidak dapat dilakukan atau diputuskan untuk tidak dilakukan dalam pemeriksaan maka
Pemeriksa Pajak harus mendokumentasikan alasannya dalam KKP pengujian pos SPT/pos turunan
terkait. Supervisor harus membuat Realisasi Program Pemeriksaan berdasarkan kondisi nyata
yang ditemukan pada saat pelaksanaan pemeriksaan dan dalam hal terdapat metode, teknik,
dan/atau prosedur pemeriksaan yang tidak dilakukan maka alasannya harus dicantumkan dalam
Realisasi Program Pemeriksaan.
Contoh Realisasi Program Pemeriksaan sesuai SE-04/PJ/2012 pada lampiran VI.

KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA "ABC"

KERTAS KERJA PEMERIKSAAN

Nama Wajib Pajak : PT Abcdefgh


REALISASI PROGRAM PEMERIKSAAN NPWP : 01.234.567.8-666.00
Masa/Tahun Pajak : Januari-Desember 2009

III. Realisasi Program Pemeriksaan masing-masing pos SPT/pos turunannya yang diperiksa :
A. Jenis Pajak : PPh Badan
1. Pos SPT : Peredaran Usaha / Penjualan Ekspor
No. Rincian Realisasi Keterangan
Ya Tidak
1 Metode Pemeriksaan :
Metode Langsung dan Metode Tidak
Langsung

2 Teknik Pemeriksaan :
1) Pemanfaatan Informasi Internal v
dan/atau Eksternal DJP
2) Penelusuran Angka-Angka (Tracing) v
3) Penelusuran Bukti v
4) Pengujian arus uang v
5) Pengujian arus piutang v
6) Pengujian Kebenaran Penghitungan v
Matematis
7) Pengujian Keabsahan Dokumen v
8) Inspeksi v Tidak dapat dilaksanakan
9) dst. karena tidak tersedia SPPD

3 Prosedur Pemeriksaan:
1) Lakukan pengumpulan data dan olah v
sesuai kebutuhan
4) Identifikasi dokumen-dokumen v
pendukung yang berkaitan dengan pos
atau transaksi yang sedang diperiksa
sesuai dengan rekam jejak
pemeriksaan (audit trail).
5) Lakukan penelaahan mundur atas pos v
yang diperiksa sampai dengan tanggal
neraca.
6) Kumpulkan bukti-bukti yang v

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 59


mendukung transaksi serta buku
kas/bank dan buku piutang.
7) Teliti keabsahan dokumen v Dilakukan terhadap bukti
ekspor dan rekening koran.
8) Lakukan konfirmasi kepada pihak yang v Telah dilakukan namun
terkait jawaban konfirmasi sebagian
belum diterima
9) Cocokkan isi bukti dengan transaksi v
10) Teliti validitas dan relevansi bukti v
11) Pastikan apakah bukti transaksi telah v
dicatat dan dilaporkan serta
penghitungannya telah benar
12) Periksa kebenaran saldo kas/bank dan v
piutang yang dilaporkan
13) Dapatkan penerimaan dari pihak ketiga v
untuk melakukan uji keterkaitan
14) Lakukan uji arus uang dan arus
piutang sesuai dengan formula v
15) Lakukan inspeksi
V Tidak dapat dilaksanakan
karena tidak tersedia SPPD

4.4. Latihan/Praktik
Latihan menyusun Program Pemeriksaan dengan menggunakan Studi Kasus Komprehensif.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 60


DAFTAR SUMBER MATERI
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan
------------------------------ , Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak
dan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan
----------------------------- , Menteri Keuangan Republik Indonesia, Peraturan Nomor 17 /PMK.03/2013 tanggal
7 Januari 2013 tentang sebagaimana telah diubah dengan PMK No.184 /PMK.03/2015 Tata Cara
Pemeriksaan
Direktur Jenderal Pajak, Peraturan Nomor PER-23/PJ/2013 tanggal 11 Juni 2013 tentang Standar
Pemeriksaan
-----------------------------------, Peraturan Nomor PER-09/PJ/2010 tanggal 1 Maret 2010 tentang Standar
Pemeriksaan untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan
-----------------------------------, Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-01/PJ.7/1990 tanggal 15
Nopember 1990 tentang Pedoman Pemeriksaan Pajak
---------------------------------------, Peraturan Nomor PER-04/PJ/2012 tanggak 3 Februari 2012 tentang Pedoman
Penggunaan Metode dan Teknik Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan
Kewajiban Perpajakan
-------------------------------------, Surat Edaran Nomor SE-28/PJ/2013 tanggal 11 Juni 2013 tentang Kebijakan
Pemeriksaan
-------------------------------------, Surat Edaran Nomor SE-126/PJ/2010 tanggal 26 November 2010 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Pemeriksaan (Audit Plan) Untuk Menguji Kepatuhan
Pemenuhan Kewajiban Perpajakan
------------------------------------, Surat Edaran Nomor SE-04/PJ/2012 tanggal 3 Februari 2012 tentang Pedoman
Penyusunan Program Pemeriksaan (Audit Program) Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan
Kewajiban Perpajakan
------------------------------------, Surat Edaran Nomor SE-08/PJ/2012 tanggal 2 Maret 2012 tentang Pedoman
Penyusunan Kertas Kerja Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban
Perpajakan
Frasser, M. Lyn, dan Ormiston Ailen. 2008. Memahami Laporan Keuangan. Edisi ketujuh, PT.Indeks
Kelompok Gramedia, 2008.
Brigham, F.Eugene dan Houston, Joel F. 2013, Dasar- Dasar Manajemen Keuangan (Essentials of
Financial Management). Edisi kesebelas , Buku 1, Salemba Empat , 2013.
Ariwiboro, Irwan dan Rinaningsih, Modul Metode Penggalian Potensi – Diklat Teknis Substantif
Spesialisasi Accoun Representatif, Pusdiklat Pajak , 2012.

Bahan Ajar Persiapan Pemeriksaan Pajak - Pusdiklat Pajak Page 61