Anda di halaman 1dari 22

TUGAS 1

GDA 304 GEODESI SATELIT II


“SISTEM PENENTUAN POSISI”

Dosen Pengampu : Ryan Nurtyawan, Ir., M.T

Disusun oleh:
ARIFIAN KUSUMA HAPSARI
23-2017-082
Kelas A

JURUSAN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
BANDUNG
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
hidayah – Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Resume mengenai “Sistem
Penentuan Posisi” dengan baik. Penulisan resume ini ditujukan untuk memenuhi salah satuMsyarat
tugas Mata Kuliah Geodesi Satelit II dalam jenjang perkuliahan Sarjana Teknik Geodesi, Fakultas
Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional, Bandung. Dalam penyusunan dan
penulisan resume ini tidak terlepas dari bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena
itu, pada kesempatan ini dengan tulus hati penulis menyampaikan terimakasih kepada :

1. Bapak Rinaldy, S.T., M.T selaku Ketua Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik
Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional serta dosen pembimbing akademik
atas segala bimbingan dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis
2. Bapak Rian Nurtyawan , Ir., M.T selaku dosen Mata Kuliah Penginderaan Jauh III atas
segala ilmu, kritik, saran, nasihat dan bimbingannya kepada penulis sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik
3. Seluruh teman – teman yang selalu memberikan semangat dan dukungan dalam
menyelesaikan makalah
4. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu

Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan dan penulisan
resume ini. Maka dari itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran agar makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi berbagai pihak pada umumnya serta bagi penulis pada khususnya.

Bandung, 24 Februari 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 1


DAFTAR ISI .............................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 3
I.1. LATAR BELAKANG .............................................................................................. 3
I.2. MAKSUD DAN TUJUAN ....................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................... 6
II.1. SATELIT FOTOGRAFI ........................................................................................ 6
II.2. TRANSIT (DOPPLER) .......................................................................................... 7
II.3. SLR (Satellite Laser Ranging) ............................................................................... 9
II.4. GPS (Global Postioning System) ......................................................................... 11
II.5. LLR (Lunar Laser Ranging) ............................................................................... 14
II.6. VLBI (Very Long Baseline Interferometry) ...................................................... 15
II.7. ASTRONOMI GEODESI .................................................................................... 17
BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 20
III.1. KESIMPULAN.................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 21

2
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG

Satelit navigasi umumnya didesain sebagai suatu system satelit yang menyediakan
informasi mengenai posisi tiga dimensi kecepatan tiga dimensi, dan penentuan waktu yang
teliti secara kontinyu dan simultan kepada banyak orang diseluruh permukaan bumi, tanpa
tergantung waktu dan kondisi cuaca.

Penentuan posisi di permukaan bumi dapat dilakukan dengan beberapa metode. Metode-
metode itu dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu metode penentuan posisi
secara terestris dan metode penentuan posisi secara extra-terestris.

Pada metode penentuan posisi secara terestris, penenetuan posisi titik-titik dilakukan
berdasarkan pengukuran dan pengamaatan yang semuanya dilakukan di permukaan bumi.
Metode extra-terestris diartikan sebagai penentuan posisi yang dilakukan dengan
berdasarkan pengamatan dan pengukuran terhadap benda-benda di angkasa baik yang
alamiah (seperti bulan, bintang dan kuarsar) maupun buatan manusia seperti satelit
(Abidin,2001). Penentuan posisi extra-terestris hingga saat ini dapat dilakukan dengan
berbagai metode dan teknologi antara lain:

1. Satelit Fotografi
2. Transit (Doppler)
3. SLR (Satellite Laser Ranging)
4. LLR (Lunar Laser Ranging)
5. GPS (Global Postioning System)
6. VLBI (Very Long Baseline Interferometry)
7. Astronomi Geodesi, dll

Sementara itu, menurut Seeber (1993) metode penentuan posisi extra-terestris itu dapat
dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

1. Sistem pengamatan bumi ke angkasa


a. Fotografi satelit

3
b. SLR (Satellite Laser Ranging)
c. LLR (Lunar Laser Ranging)
d. Sistem satelit navigasi (GPS, GLONASS, GALILEO, COMPASS)
2. Sistem pengamatan angkasa ke bumi
a. Satelit Altimetri
b. Spaceborne Laser
c. VLBI (Very Long Baseline Interferometry)
d. Satelit Gradiometri
3. System pengamatan angkasa ke angkasa
a. Satellite to satellite Tracking (SST)

Beberapa metode penentuan posisi secara extra-terestris dapat diilustrasikan pada gambar
dibawah ini

Gambar Beberapa metode penentuan extra-terestris menggunakan system satelit dan


benda langit (Abidin, 2001)

Dari berbagai metode penentuan posisi yang ada pada saat sekarang ini, penentuan posisi
dengan menggunakan satelit navigasi adalah metode paling populer dan yang paling banyak
diaplikasikan. Sistem fotografi satelit pada saat ini sudah tidak digunakan lagi. System satelit
Doppler dan astronomi geodesi sudah mulai jarang digunakan orang untuk keperluan

4
penentuan posisi. Sedangkan sistem-sistem SLR, LLR dan VLBI umumnya digunakan untuk
melayani aplikasi-aplikasi ilmiah yang menuntut ketelitian posisi yang sangat tinggi.

I.2. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dan tujuan dari tugas kali ini agar mahasiswa dapat memahami karakter
umum, parameter yang diketahui dan dihitung serta cara menetukan posisi pada metode
extra-terestris.

5
BAB II
PEMBAHASAN

II.1. SATELIT FOTOGRAFI

Karakteristik Umum
Dalam bahasa Inggris disebut juga dengan Satellite Fotography. Teknik geodesi satelit
sudah lama tidak digunakan lagi. Metode fotografi satelit ini adalah berbasiskan pada
pengukuran arah ke satelit, dengan menggunakan pemotretan satelit yang berlatar belakang
bintang-bintang yang telah diketahui koordinatnya. Pemotretan ini dilakukan
menggunakan kamera Baker-Nunn dengan berat 3,5 ton. Metode fotografi satelit ini
digunakan untuk menjejak satelit-satelit buatan awal seperti Sputnik 1 dan 2, Vanguard 1
dan GEOS 1 pada era 1957-1960.

Gambar Satelit Fotografi


Kamera ini memiliki 3 sumbu gerak dan dilengkapi dengan sistem motor yang rumit serta
mampu melacak satelit buatan. Gambar ditangkap dengan rol film yang kontinyu atau terus
menerus serta ditransportasikan untuk mendorong film di seluruh bidang focus
melengkung dalam Optical Tube Assembly (OTA). John A O’Keefe dan temannya
Vanguar dan Wernher von Braun juga berhasil menentukan pear shape bumi melalui
perhitungan deviasi dari orbit satelit buatan yang sudah diluncurkan sebelumnya.
Parameter yang diketahui
 Posisi dari citra satelit dengan acuan bintang di belakangnya.
 Posisi bintang-bintang yang ada di belakang satelit.
 Sudut azimuth
 Sudut waktu

6
 Distorsi radial
 Distorsi tangensial
 Refraksi satelit
 Aberasi satelit
 Phase satelit
 Orientasi kamera
 Deklinasi

Besaran yang diukur

 Tekanan atmosfer
 Suhu
 Jarak antara pengamat dengan satelit
 Jarak geosentris stasiun pengamat
Cara penentuan posisi menggunakan parameter dan besaran diatas
Penentuan posisi dilakukan dengan menghitung koordinat dari bintang-bintang dibelakang
satelit, sehingga posisi satelit dapat diketahui. Berikut merupakan penjelasannya
1) Menghitung jarak dan sudut dari satelit ke objek.
2) Diberikan elemen orbit awal dari satelit, serta diberikan besaran dan arah tenaga
dari tiap tempat dan waktu.
3) Dari parameter kita dapat menentukan orbit dengan mengacu pada geosentriknya.
4) Waktu observasi dicocokkan dengan jarak ke ground station sehingga
menghasilkan koordinat stasiun dengan kerangka acuan yang sama.
5) Observasi ke ground station tidak perlu dilakukan secara bersamaan.
6) Hasil dari tiap hitungan tersebut kita masukan ke persamaan observasi.

II.2. TRANSIT (DOPPLER)

Karakteristik Umum
Merupakan sistem navigasi satelit paling pertama digunakan. Didesain pada tahun
1958, yang dinyatakan operasional pada tahun 1964 untuk militer, baru pada tahun 1967
digunakan untuk keperluan sipil. Ada beberapa sistem satelit lain yang digunakan untuk
navigasi, contohnya TSIKADA dan GLONASS milik Rusia , NAVSTAR Global

7
Positioning System, STARFIX (sistem navigasi komersil untuk benua Amerika), ARGOS
dan NAVSAT. Sistem navigasi TRANSIT dan TSIKADA sudah tidak digunakan lagi
sekarang ini , tergantikan dengan GPS serta GLONNAS. GPS sendiri memiliki nama
NAVSTAR GPS atau Navigation Satellite Timing and Ranging Global Positioning system.

Gambar Satellite Navigation, Paul F. Lammerstma


Sistem ini mirip dengan efek doppler. Gelombang dipancarkan (pada kecepatan v)
oleh transmitter. Jika menumbuk suatu permukaan maka gelombang ini akan mengalami
pemantulan. Gelombang pantulannya diterima oleh alat penerima (receiver) . Jika receiver
yang digunakan mendeteksi adanya pantulan gelombang yang dipancarkan tadi, itu berarti
ada suatu benda yang menyebabkan terpantulnya gelombang tersebut. Dari situ jarak benda
tersebut dapat dihitung dengan mudah jika waktu saat gelombang pertama kali dipancarkan
sampai pantulannya terdeteksi (Yohannes Surya). Konsepnya satelit mengirim posisinya
dan waktu menggunakan frekuensi f0, kemudian penerima (receiver) mencari sinyal dalam
kisaran diatas f0 itu, jika sinyal dapat ditemukan pada frekuensi f, receiver akan terus
mencari karena frekuensinya (f0) akan semakin lemah, ketika f0 = f berarti satelit berada
disuatu tempat diatas receiver, perhitungan pun dapat dilakukan.
Parameter yang diketahui
 Frekuensi yang dipancarkan oleh satelit (400 MHz dan 150 Mhz) = f0
 Jarak atau ketinggian dari satelit sekitar 960 km.
 Periode (untuk satu kali revolusi pada orbitnya) 106 menit.
 Inklinasi (posisi inklinasi relatif dari ekuator) sebesar 900.
 Tiga stasiun pemantau di darat

8
 Kecepatan cahaya

Besaran yang diukur

 Frekuensi yang diamati (f)


 Kecepatan satelit
 Jarak dari stasiun ke satelit
 Sudut antara satelit dengan pengamat
 Perbedaan frekuensi satelit yang diterima dengan yang dipancarkan.
Cara menentukan posisi berdasarkan parameter dan besaran diatas

1) Dengan prinsip cepat rambat gelombang dan trilaterasi.


2) Parameter yang diketahui adalah kecepatan cahaya dan panjang gelombang yang
diterima.
3) Besaran yang diukur adalah frekuensi fs, yang diperoleh dari electromagnetic
wave yang bergerak dengan kecepatan V mendekati penerima stasioner di bumi yang
diterima dalam arah radial berupa frekuensi yang telah berubah yaitu frekunsi fr yang
memiliki hubungan fr = fs + V/λ dimana λ = c/fs dan c adalah kecepatan
merambatnya sinyal. Perubahan V/ λ dinamakan Doppler Shift.

II.3. SLR (Satellite Laser Ranging)

Karakteristik Umum
Era Satelit Laser Ranging ini bermula dari peluncuran satelit Beacon- Explorer B yang
membawa reflektor laser tahun 1964. Sistem SLR kemudian menggantikan sistem
fotografi satelit, karena penggunaannya yang lebih mudah. Sistem SLR berbasiskan pada
pengukuran jarak dengan menggunakan laser yang ditembakan ke satelit (yang dilengkapi
dengan reflektor) dari stasiun yang ada dibumi

9
Gambar Satellite Laser Ranging
Dari gambar diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa teleskop yang berada di stasiun
permukaan bumi, bertindak sebagai pengirim sinar laser kuat ke arah reflektor, dan sebagai
penerima pantulan sinar laser dari reflektor tersebut. Ketika teleskop memancarkan sinar
laser maka detektor photon akan memulai menghitung waktu yang dibutukan sinar laser
sampai ke reflektor dan waktu yang dibutuhkan reflektor untuk mengembalikan atau
memantulkan sinar laser tersebut ke permukaan bumi (teleskop). Waktu yang diperlukan
itu dapat digunakan untuk menentukan koordinat dari stasiun dan orbit satelit relatif
terhadap pusat bumi. Keakuratan data pengukuran 30 piko detik, karena kecepatan cahaya
sinar laser relatif konstan, sehingga pengukuran waktu tempuh sama dengan mengukur
jarak tempuh. Satelit yang menggunakan sistem ini ada LAGEOS, Starlette.

Parameter yang diketahui


 Kecepatan cahaya
 Frekuensi sinar yang digunakan
 Panjang gelombang yang digunakan
 Orbit satelit
 Waktu tempuh dari sinar laser yang dikirimkan dari stasiun di bumi sampai sinar
itu dikirimkan/dipantulkan kembali oleh reflector
 Posisi satelit
Besaran yang diukur

10
Jarak antara satelit dengan sistem SLR di bumi yang dapat diketahui dengan perhitungan
rumus
𝑐. 𝑑𝑡
𝑑=
2
Dengan d adalah jarak ke satelit, c adalah kecepatan cahaya sekitar 3x108 km/s m dan dt
adalah waktu tempuh laser dari stasiun bumi ke satelit dan kembali lagi ke stasiun bumi.
Beberapa koreksi lain yang harus diperhitungkan adalah koreksi eksentrisitas di tanah
(d0), koreksi eksentrisitas di satelit (s0), delay sinyal di sistem tanah (db), koreksi
refraksi (dr) dan kesalahan random dan bias yang tersisa ()

Cara menentukan posisi dari paramater dan besaran di atas


1) Dilakukan pengukuran jarak ke satelit yang dilakukan ketika satelit melintas diatas
stasiun pengamat dan juga perlu diketahui informasi mengenai orbit satelit tersebut.
2) Diamati waktu tempuh laser dari stasiun Bumi ke satelit. Pulsa laser ditransisikan
dari stasiun Bumi melalui system optis ke satelit. Sebagian dari laser yang
dipancarkan digunakan untuk menyalakan alat penghitung interval waktu
elektronik.
𝑐. 𝑑𝑡
𝑑= + ∆𝑑0 + ∆𝑑𝑠 + ∆𝑑𝑏 + ∆𝑑𝑟 + 𝜂
2

II.4. GPS (Global Postioning System)

Karakteristik Umum
Sistem GPS atau terkenal juga dengan NAVSTAR GPS ( Navigation Satellite
Timing and Ranging Global Positioning System) adalah sistem navigasi dan penentuan
posisi menggunakan satelit dengan gelombang radio, akurasi yang cukup tinggi dari
beberapa mm sampai beberapa meter. Sistem GPS ini merupakan perkembangan dari
sistem satelit navigasi TRANSIT dan pengganti sistem TRANSIT. GPS berkembang dari
tahun 1964 sampai sekarang , GPS masih terus berkembang. GPS merupakan milik
pemerintah US yang menyediakan jasa penentuan posisi, navigasi dan waktu. Sistemnya
sendiri terdiri dari 3 segmen atau bagian yaitu space segment (segmen angkasa), control
segment (segmen pengatur/kontrol) dan user segment (segmen pengguna). Untuk segmen
luar angkasa terdiri dari konstelasi satelit yang mengirimkan sinyal kepada pengguna.

11
Terdapat setidaknya 24 satelit menggelilingi bumi pada ketinggian 20200 km, dimana
setiap satelitnya mengelilingi bumi sebanyak 2 kali dalam sehari atau 12 jam untuk satu
kali mengorbit (mengelilingi bumi).

Gambar Sistem GPS


Segmen kontrol terdiri dari memantau jaringan diseluruh dunia dan stasiun yang
mengatur satelit dalam orbit mereka dan pengaturan jam satelit. Segmen ini juga menjejaki
satelit-satelit GPS, mengunggah dan memperbaharui data navigasi, serta mengecek status
dan kondisi dari setiap satelit konstelasi. Segmen pengguna terdiri dari GPS receiver (atau
penerima sinyal GPS). Kemudian digunakan untuk keperluan perhitungan posisi 3D dan
waktu. Satelit GPS terbagi dalam 4 generasi yakni generasi II, IIA, IIR dan IIF.
Perbedaannya terdapat pada akurasi/ketepatan dan jumlah maksimum hari dimana satelit
sama sekali tidak melakukan hubungan atau kontak dengan stasiun kontrol. Satelit GPS
juga mengirim dua sinyal transmisi gelombang radio dengan emisi “Code Phase” dan
“Carrier Phase” untuk menghitung jarak satelit dan receiver dengan lebih akurat, frekuensi
sinyal L1 (1575,42 MHz) dan frekuensi sinyal L2 (1227,60 MHz). Sinyal L1 membawa 2
kode biner dinamakan kode P(P code, Precise or Private Code), kode P ini, sekarang diganti
dengan kode Y yang tidak diketahui atau dirahasiakan dari publik (umum) dan kode C/A
(C/A-code, Clear Access or Coarse Acquisation). Untuk sinyal L2 hanya membawa kode
C/A. GPS dapat digunakan setiap saat tidak tergantung cuaca dan waktu (siang atau
malam), yang harus diperhatikan sinyal gps tidak boleh terhalang gedung atau pohon.
GPS bekerja dengan cara mengirimkan data posisi dan waktu mereka. Metode yang
digunakan adalah metode trilaterasi. Satelit pertama , kedua dan ketiga memiliki waktu
yang sama tetapi jarak satu dengan lainnya berbeda. Ketika satelit pertama mengirimkan
data waktu dan posisinya ke receiver, maka akan ada jeda waktu dari waktu pengiriman

12
dengan waktu sinyal itu sampai ke receiver. Begitu juga dengan satelit ke dua dan ketiga,
perbedaan waktu dan posisi satelit itulah yang digunakn untuk perhitungan posisi receiver.
Tapi karena ada kesalahan waktu antara GPS dan receiver maka jarak minimal yang harus
diketahui ada 4 buah.

Gambar ilustrasi pseudorange


Parameter yang diketahui
 Posisi dari 3 atau 4 satelit,
 Frekuensi yang dipancarkan oleh satelit
 Waktu pengiriman data posisi
 Waktu yang diterima oleh receiver
 Kecepatan cahaya,
 Troposfer dan ionosfer bias
 Kesalahan ephemeris
Besaran yang dicari
 Kesalahan waktu yang terjadi akibat ketidaksinkronan antara jam(osilator) di satelit
dengan dengan receiver GPS
 Tiga buah parameter koordinat
Cara menghitung posisi dari parameter dan bersaran diatas
Receiver GPS menggunakan pesan-pesan yang dikirimkan oleh satelit untuk menentukan
posisi satelit dan waktu kirim pesan tersebut. Dari pesan-pesan tersebut, jarak dari satelit
ke receiver dapat dihitung. Posisi receiver dapat ditentukan dari data jarak dan posisi satelit
dengan metode trilaterasi. Secara geometrik, tiga satelit sudah cukup untuk menentukan
posisi di Bumi. Tetapi, satelit keempat dapat dibutuhkan, karena jam di receiver dan di
satelit bisa berbeda.

13
One way pseudorange
𝑃𝑖 = 𝜌 + 𝑑𝜌 + 𝑑𝑡𝑟𝑜𝑝 + 𝑑𝑖𝑜𝑛𝑖 + (𝑑𝑡 − 𝑑𝑇) + 𝑀𝑃𝑖 + 𝑣𝑃𝑖
One way Phase Range
𝐿𝑖 = 𝜌 + 𝑑𝜌 + 𝑑𝑡𝑟𝑜𝑝 + 𝑑𝑖𝑜𝑛𝑖 + (𝑑𝑡 − 𝑑𝑇) − 𝜆𝑖 𝑃𝑖 + 𝑀𝐶𝑖 + 𝑣𝐶𝑖

II.5. LLR (Lunar Laser Ranging)

Karakteristik Umum
Sistem kerjanya mirip dengan LLR tapi reflektor(retro-reflektor) ditempatkan di bulan.
Penempatan reflektor dibulan dilakukan oleh astronot pada misi Apollo(AS) dan
Luna(Rusia). Retro-reflektor dinamakan pula five corner mirrors. Corner mirrors ini
berperan penting dalam instrumen karena berfungsi merefleksikan kembali sinar laser yang
datang, ke sumber pengirim sinar laser tersebut. Sistem LLR diimplementasikan pada
tahun 1969, ketika Neil Armstrong meletakkan reflektor di bulan. Dan beberapa minggu
kemudian McDonald Observatory berhasil mendeteksi adanya foton-foton yang
dipantulkan dari pulsa sinar yang dikirimkan ke bulan. LLR digunakan untuk menentukan
obliguity eliptikal, periode panjang dari nutasi dan presisi. Akurasi menggunakan sistem
ini sampai millimeter

Gambar LLR
Prinsip kerja Lunar Laser Ranging ini adalah pengukuran lama perjalanan sinar laser dari
stasiun pengamat di bumi ke reflektor yang berada di bulan dan di kembalikan lagi
(dipantulkan) dari reflektor di bulan ke stasiun di bumi. Pengamatan hanya bisa dilakukan
Parameter yang Diketahui
 Pasang surut
 Pergerakan bulan(librasi), rotasi bumi, pergerakan kutub

14
 Presesi dan nutasi
Besaran yang diukur
 Jarak bumi kebulan yang harus mengalami koreksi karena adanya pasang surut
 Abrasi efek relativitas
 Pergeseran lempeng
Cara menentukan posisi dari parameter dan besaran diatas
1) Dengan menembakkan sinar laser dari stasiun di Bumi kepada raflektor yang
terletak di bulan.
2) Perlunya diketahui adanya pengaruh rotasi bumi, pergerakan kutub, presesi dan
nutasi.
3) Memberikan koreksi pada hitungan jarak, karena fenomena alam dapat
mempengaruhi ukuran jarak .
4) Dengan menganalisa data ukuran dari bumi ke bulan agar dapat mengetahui
parameter rotasi bumi ke bulan, dinamika sistem bumi-bulan, parameter relativitas,
koordinat stasiun pengamat , koordinat reflektor, posisi bulan.

d = c.dt / 2
dengan d adalah jarak dari stasiun di bumi ke bulan. Dt adalah waktu tempuh laser dari
stasiun bumi ke bulan dan kembali lagi ke stasiun bumi. C adalah kecepatan cahaya
d356500-406700 km
dt2.4-2.7 detik
r0 - mR = 
dengan r0 adalah koordinat teleskop dalam sistem barisentris
mR adalah koordinat reflektor dalam sistem barisentris
|| adalah jarak antara teleskop dan reflektor

II.6. VLBI (Very Long Baseline Interferometry)

Karakteristik umum
VLBI atau Very Long Baseline Inferometry merupakan salah satu metode atau
teknik yang sangat kuat dengan menampilkan citra dalam resolusi yang cukup tinggi
menggunakan gelombang radio alami (quasar atau quasi stellar radio source) dan VLBI

15
ini digunakan juga untuk pengukuran jarak antar titik dengan sangat teliti dan relatif
panjang (beberapa ribu kilometer).VLBI dikembangkan pada tahun 1965.

Gambar sistem VLBI


Prinsip kerja VLBI adalah gelombang radio dari benda langit yakni quasar diterima
oleh 2 stasiun pengamat yang ada di bumi (biasanya terpisah sejauh ribuan km). Data-data
hasil pengamatan ini kemudian di korelasikan, setelah didapat data berupa data
pengamatan berupa perbedaan waktu tempuh sinyal dari quasar ke kedua stasiun (group
delay), perbedaan fase dari kedua sinyal (phase delay) serta laju dari kedua sinyal (delay
rate). Teknik inferometri sendiri merupakan salah satu teknik yang digunakan para
astronom radio untuk mencocokan dan melampaui resolusi tertinggi pada gelombang
elektromagnet cahaya tampak, sehingga gelombang radio dapat diterima dengan baik tidak
tercampur dengan gelombang lainnya. Teleskop-teleskop yanga ada berfungsi untuk
mengumpulkan data secara streaming dengan kecepatan sebesar 1 Gbps untuk jangka
waktu 24 jam, yang disimpan di pita magnetic dan dikirim ke pusat penelitian untuk di
analisis. Seiring dengan kemajuan zaman, pengiriman data dilakukan dengan
menggunakan jaringan bandwidth berkecepatan tinggi, sehingga system ini dikenal juga
dengan electronic transmission of VLBI data (atau e-VLBI).
Parameter yang diketahui
 Perbedaan posisi dari satu stasiun pengamat dengan stasiun pengamat lain
 Koordinat kuarsar
 Kecepatan cahaya.
Besaran yang diukur
 Perbedaan waktu tempuh sinyal dari kuasar ke dua sistem stasiun
16
 Perbedaan fase dari kedua sinyal
 Laju dari kedua delay.
Penentuan posisi dari parameter dan besaran diatas
Dengan mengetahui vector koordinat dari kuasar S dan vector baseline B,maka vektor
koordinat relatif antara dua stasiun dapat diestimasi. Seandainya vector koordinat kuasar
tidak diketahui, maka perhitungannya vector koordinat kuasar dapat diestimasi Bersama
sama dengan vector baseline. Persamaan menggunakan data pengamatan waktu tunda
c.tg (t)=B.S(t)
Data delay geometrik (tg) mengandung variabel kesalahan bias, walaupun nilainya kecil
tapi tetap saja harus diperhitungkan , kesalahan bias tersebut adalah delay hasil pengamatan
(tobs), bias delay karena tidak sinkronnya jam(tclock), bias delay dalam instrumen
(tins), bias delay pengaruh refraksi troposfer (ttrop), bias delay pengaruh refraksi
ionosfer (tion) dan bias delay efek realtivitas
(trel).tobs = tg +tclock + tobs+tins + ttrop + tion + trel

II.7. ASTRONOMI GEODESI

Karakteristik Umum

Sistem astronomi merupakan sistem geodesi satelit paling tua yang berbasiskan
pada pengamatan bintang. Sistem ini masih digunakan sampai saat ini meski terbatas untuk
keperluan keperluan khusus, metode ini digunakan sejak 1884 untuk penentuan lintang
secara teliti di Postdam. Sistem ini juga berkontribusi dalam pengamatan pergerakan kutub
atau sering disebut Polar Motion sejak tahun 1890. Sesuai dengan namanya astronomi

17
geodesi merupakan suatu metode dalam penentuan posisi dengan mengamati bintang atau
benda langit lainnya. Lebih dalamnya , tugas utama dari astronomi geodesi adalah
penentuan lintang dan bujur geografis , serta azimuth dari darat (terrestrial) melalui benda
langit. Lintang suatu daerah dapat diketahui dengan menentukan elevasi (di lokasi
pengamat) rotasi sumbu-x bumi yang kira-kira ditunjukan oleh bintang polar atau dapat
disebut Polaris. Penentuan bujur dilakukan dengan cara menentukan beda waktu dari
daerah tersebut dengan waktu Greenwich. Penentuan ini tergantung dari waktu jam atom
yang ada di daerah tersebut. Astronomi geodesi juga merupakan salah satu cara untuk
menentukan sudut jurusan dari dua buah titik yang ada dipermukaan bumi. Cara ini
digunakan sebelum ada GPS atau alat penentu posisi lainnya. Pengamatan yang sering
dilakukan adalah dengan pengamatan matahari.

Gambar Astronomi Geodesi


Parameter yang diketahui

 Deklinasi Matahari
 Lintang dan bujur tempat Pengamat
 Jari-jari bumi
 Assensiorekta
 Tinggi pengamatan

Besaran yang diukur

 Waktu saat pengamatan


 Sudut antara matahari dan target

18
 Sudut tinggi matahari (baik berupa zenith maupun sudut miring)
 Tekanan udara
 Temperatur/suhu

Cara menentukan posisi titik dari parameter dan besaran diatas


Dapat dilakukan dengan dua cara, penentuan posisi dengan menggunakan metode tinggi
matahari dan sudut waktu.
1) Metode tinggi matahari
 Cari deklinasi matahari dan sudut tinggi matahari saat pengamatan, koreksi
dengan salah indeks.
 Hitung nilai dari refraksi menengah(rm), faktor koreksi barometer(cp) dan
koreksi
temperatur(ct).
 Hitung nilai refraksi , r = rm x Cp x Ct
 Perhitungkan juga nilai paralaks
 Hitung sudut vertikal dari pusat bumi ke matahari
Jika menggunakan sudut zenith perhitungannya z=zu-s.i+r-p
Jika menggunakan sudut miring perhitungannya h=hu-s.i+r-p
 Hitung nilai azimuth, cos A=sin  - (sin  sin z / (cos  cos z))
 Setelah mendapat azimuth, cari koordinat titik yang ditentukan
menggunakan koordinat titik kerangka sebagai acuannya
2) Metode sudut waktu
 Cari nilai UT
 Ubahlah bujur menjadi satuan waktu dengan dibagi 15 0
 Cari nilai t=UT + E +  -24
 Cari Amatahari dengan rumus tan Amatahari = -sin t /  -t
 Apabila target disebelah kanan matahari maka A= Amatahari + 
 Apabila target disebelah kiri matahari maka A= Amatahari - 
 Kemudian dengan menggunakan azimuth cari koordinat titik dengan
menggunakan koordinat titik kerangka sebagai acuannya.

19
BAB III
PENUTUP

III.1. KESIMPULAN

Penentuan posisi extra-terestris itu dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

1. Sistem pengamatan bumi ke angkasa


a. Fotografi satelit
b. SLR (Satellite Laser Ranging)
c. LLR (Lunar Laser Ranging)
d. Sistem satelit navigasi (GPS, GLONASS, GALILEO, COMPASS)
2. Sistem pengamatan angkasa ke bumi
a. Satelit Altimetri
b. Spaceborne Laser
c. VLBI (Very Long Baseline Interferometry)
d. Satelit Gradiometri
3. System pengamatan angkasa ke angkasa
a. Satellite to satellite Tracking (SST)

20
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, H.Z (2001).Geodesi Satelit.Jakarta: PT Pradnya Paramita.


http://www.fig.net/pub/athens/papers/ps01/ps01_1_beutler.pdf
http://www.ife.uni-hannover.de/mitarbeiter/seeber/seeber_65/pdf_65/hirt8.pdf
http://elib.mi.sanu.ac.rs/files/journals/pda/6/broj6_clanak23.pdf
http://www.astronomytoday.com/astronomy/interview3.html
http://www.gmat.unsw.edu.au/snap/gps/gps_survey/chap2/212.htm
http://www.yohanessurya.com/download/penulis/Teknologi_38.pdf
http://paul.luminos.nl/download/document/satellite_navigation.pdf
http://geodesy.gd.itb.ac.id/hzabidin/wp-content/uploads/2007/04/geosat-6-upd.pdf
http://www.ga.gov.au/earth-monitoring/geodesy/geodetic-techniques/satellite-laser-ranging
slr.html
http://www.gps.gov/systems/gps/
http://www.odj.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=115
http://geodesy.gd.itb.ac.id/hzabidin/wp-content/uploads/2007/02/gps-3-upd.pdf
http://geodesy.gd.itb.ac.id/hzabidin/wp-content/uploads/2007/05/geosat-7-upd.pdf
http://spie.org/x38304.xml?ArticleID=x38304
http://www.internet2.edu/science/vlbi.html
https://www.academia.edu/35654735/Sistem_Penentuan_Posisi_Berbasis_Satelit

http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/455/jbptitbpp-gdl-fandifirst-22732-3-2012ta-2.pdf

21