Anda di halaman 1dari 25

SERTIFIKASI ORGANIK

Disusun Oleh:

Maulana Aditya : (145040209111001)


Merina Eline : (145040207111010)
Fauzul Adi Baskoro : (145040207111019)
Annisa Fitri Febrianti : (145040207111039)
Mia Maysitha : (145040207111045)
Firinka Amalia Thaherah : (145040207111052)
Kelas :A

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FAKULTAS PERTANIAN

MALANG

2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan negara agraris yang kaya akan hasil pertanian, kehutanan,
perkebunan, peternakan, dan perikanan. Kondisi alam tersebut memberikan peluang bagi
sebagian besar masyarakat Indonesia untuk melakukan kegiatan usaha di bidang
pertanian maupun yang berkaitan dengan pertanian. Pertanian merupakan salah satu
kegiatan paling mendasar bagi manusia, karena semua orang perlu makan setiap hari.
Pengembangan usaha agribisnis menjadi pilihan yang sangat strategis dan penting sejalan
dengan upaya pemerintah dalam mengembangkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi
baru di luar minyak dan gas. Agribisnis menurut Soekartawi (2010) adalah usaha dalam
bidang pertanian, baik mulai dari produksi, pengolahan, pemasaran dan kegiatan lain
yang berkaitan.
Pemerintah Indonesia memberikan perhatian secara khusus untuk pengembangan
pertanian organik di Indonesia. Program Pertanian “Go Organik 2010” yang dicanangkan
oleh Kementerian Pertanian diharapkan dapat memacu pertanian organik di Indonesia.
Pemerintah juga giat memberikan bimbingan teknis untuk mempercepat sertifikasi
produk organik melalui Direktorat Mutu dan Standardisasi, Kementerian Pertanian.
Kegiatan Pembinaan Penerapan Jaminan Mutu dan Sertifikasi Pertanian Organik telah
dijadwalkan pada tahun 2012 untuk 58 operator/kelompok tani/gabungan kelompok tani
di seluruh Indonesia. Pertanian organik secara khusus dimaksudkan untuk menghasilkan
makanan bermutu tinggi dan bergizi yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan.
Organik merupakan istilah pelabelan yang menyatakan suatu produk telah diproduksi
sesuai dengan standar organik dan disertifikasi oleh otoritas atau lembaga sertifikasi
resmi. Produk pertanian dikatakan organik jika produk tersebut berasal dari sistem
pertanian organik. Peran pertanian organik baik dalam produksi, pengolahan, distribusi,
penyimpanan dan konsumsi tidak terlepas dari masalah keamanan pangan dan
pemanfaatan teknologi.
Pertanian organik telah berkembang cukup pesat di Indonesia, berdasarkan data
Statistik Pertanian Organik Indonesia dari Aliansi Organik Indonesia tahun 2011 total
luas area lahan pertanian organik di Indonesia pada 2010 seluas 238.872,24 hektar.
Jumlah luasan lahan organik tersebut meningkat 10 % dari 9 tahun 2009. Penurunan luas
area lahan pertanian organik di Indonesia terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 5,77 %
sehingga lahan organik di Indonesia menjadi seluas 255.062,65 hektar. Penurunan lahan
organik ini terjadi karena menurunnya luas area pertanian organik yang tersertifikasi.
Petani organik di Indonesia masih terbentur mekanisme pasar sebagai akibat dari
regulasi yang belum berpihak pada mereka, akibatnya dalam proses penjualan produk-
produk pertanian organik, petani sulit berkompetisi, bahkan ada kecenderungan produk
yang ditawarkan tidak diterima pasar. Petani organik di Indonesia sulit menyalurkan
produk-produk pertanian organiknya, karena tidak mengantongi sertifikat dari lembaga
sertifikasi yang diakui Pemerintah, sehingga banyak ditolak pasar, meskipun ada juga
yang menerima produk-produk organik tersebut. Biaya untuk mendapatkan sertifikat
organik dari lembaga-lembaga sertifikasi yang diakui Pemerintah menurut petani dirasa
sangat mahal, Aliansi Organik Indonesia (2010).

1.2 Tujuan
1. untuk mengetahui berbagai jenis sertifikasi pada pertanian organik.
2. untuk mengetahui sertifikasi produk pertanian.
3. untuk mempelajari sertifikasi organik dalam bidang pertanian.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Standart dan sistem penjaminan mutu

Standar dan sistem standar mutu merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari
pembinaan mutu hasil pertanian sejak proses produksi bahan baku hingga produk ditangan
konsumen. Penerapan sistem standarsasi secara optimal sebagai alat pembinaan mutu hasil
pertanian bertujuan untuk meningkatkan efisiensi proses produksi maupun produktivitas di
bidang pertanian yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing dan mendorong
kelancaran pemasaran komoditi pangan serta mendorong berkembangnya investasi di sektor
pertanian Sistem Jaminan Mutu Pangan Hasil Pertanian selanjutnya disebut Sistem Jaminan
Mutu adalah tatanan dan upaya untuk menghasilkan produk yang aman dan bermutu sesuai
standar atau persyaratan teknis minimal (Peraturan Menteri Pertanian Tentang Sistem
Pertanian Organik, 2013). Mutu adalah nilai pangan yang ditentukan atas dasar kriteria
keamanan pangan, kandungan gizi dan standar perdagangan terhadap bahan makanan,
makanan dan minuman. Standar adalah spesifikasi atau persyaratan teknis yang dibakukan,
termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait
dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman perkembangan masa kini
dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Sertifikat
jaminan mutu adalah jaminan tertulis yang diberikan oleh lembaga yang telah diakreditasi
untuk menyatakan bahwa proses dan/atau produk telah memenuhi standar yang
dipersyaratkan. Pemberian sertifikasi tersebut dilakukan oleh lembaga pemerintah yaitu
Otoritas Kompetensi Keamanan Pangan Daerah (OKKPD), dan Otoritas Kompetensi
Keamanan Pangan Pusat (OKKPP). Pemberian sertifikat kepada pelaku usaha pertanian
merupakan pengakuan bahwa pelaku usaha tersebut telah memenuhi persyaratan dalam
menerapkan sistem jaminan mutu pangan hasil pertanian.
Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak
disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik
dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:
1. Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih
mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low
External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi
penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida,
varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional
sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan
pihak-pihak lain yang terkait.
2. Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri,
seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat
penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya
harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.
Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian
organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman
rempah dan obat, serta peternakan. Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010
mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya
ke pasar internasional.Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian
organic.
No Kategori Komoditi
1 Tanaman Pangan Padi
2 Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin,
cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan
baligo. Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan
manggis.
3 Perkebunan Kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili
dan kopi.
4 Rempah dan obat Jahe, kunyit, temulawak, dan temu-
temuan lainnya.
5 Peternakan Susu, telur dan daging
Menurut BSN (2013) terdapat syarat untuk system jaminan mutu pertanian Organik:
1. Lahan
Pada dasarnya semua lahan dapat dikembangkan menjadi lahan PO. Yang terbaik adalah
lahan pertanian yang berasal dari praktek pertanian tradisional atau hutan alam yang tidak
pernah mendapatkan asupan bahan-bahan agrokimia (pupuk dan pestisida).
Namun, bila lahan yang digunakan berasal dari lahan bekas budidaya pertanian
konvensional (menggunakan pupuk dan pestisida kimia), lebih dahulu perlu dilakukan
konversi lahan. Konversi lahan adalah upaya yang bertujuan untuk meminimalkan
kandungan sisa-sisa bahan kimia yang terdapat dalam tanah dan memulihkan unsur fauna dan
mikroorganisme tanah. Lamanya konversi tergantung dari intensitas pemakaian input
kimiawi dan jenis tanaman sebelumnya (sayuran, padi atau tanaman keras).
Masa konversi dapat diperpanjang/diperpendek tergantung pada sejarah lahan tersebut.
Bila masa konversi telah lewat, lahan tersebut merupakan lahan organik. Bila kurang dari itu,
maka lahan tersebut masih merupakan lahan konversi menuju organik.
2. Benih
Benih yang digunakan untuk budidaya PO adalah benih yang tidak mendapatkan
perlakuan rekayasa genetika. Petani sebaiknya menggunakan benih lokal, atau benih hibrida
yang telah beradaptasi dengan alam sekitar. Keunggulan menggunakan benih lokal adalah
mudah memperolehnya dan murah harganya, bahkan petani bisa membenihkan sendiri.
Selain itu, benih lokal memiliki asal usul yang jelas dan sesuai dengan kondisi alam sekitar.
Dengan memakai benih sendiri, petani juga tidak tergantung pada pihak luar.
3. Persiapan tanam
Lahan yang digunakan untuk produksi PO sedapat mungkin dijaga kestabilannya tanpa
harus mengacaukan, yaitu berpedoman pada metode sedikit olah tanah (minimum tillage).
4. Tanam
Prinsip yang diterapkan dalam praktek penanaman PO selalu mencerminkan adanya
tumpangsari agar tercipta keanekaragaman tanaman (varietas). Perencanaan dan teknik
penanaman perlu disesuaikan dengan sifat tanaman, prinsip-prinsip pergiliran tanaman dan
kondisi cuaca setempat.
5. Pemeliharaan Tanaman
Setiap tanaman memiliki sifat karakteristik tertentu, maka pemeliharaan tanaman
ditentukan oleh sifat karakteristik tersebut. Dengan mengenali karakteristik tanaman petani
dapat dengan mudah melakukan pemeliharaan yang sesuai, sehingga tujuan pemeliharaan
tercapai yaitu “kebahagiaan tanaman itu sendiri”.
6. Pemupukan
Secara teori, lahan PO akan semakin subur karena proses-proses yang diterapkan
berpedoman pada pemeliharaan tanah. Tetapi realitanya, petani seringkali kurang memahami
hal ini sehingga tanah selalu lebih banyak kehilangan unsur hara —melalui erosi, penguapan,
dsb— dibandingkan dengan hara yang diberikan/ditambahkan. Maka prinsip pemupukan
ditentukan oleh kepekaan kita dalam mengamati/menilai kapan tanaman kekurangan
makanan.
7. Pengendalian HPT/OPT
PO berbasis pada keseimbangan ekosistem. Konsekuensinya semua organisme yang ada
(termasuk hama) dipandang ikut berperan dalam proses keseimbangan tersebut. Dengan kata
lain, tidak ada mahluk hidup yang tidak berguna. Yang diperlukan adalah mengendalikan
hama/penyakit supaya tidak berada dalam jumlah berlebihan.
Pola tumpangsari, pergiliran tanaman, pemulsaan, rekayasa teknik menanam, dan
manajemen kebun menjadi pilihan metode pengendalian HPT karena sesuai dengan prinsip
keseimbangan.
Penggunaan pestisida alami diperlukan sejauh kita tahu bahwa di lahan PO sedang terjadi
ketidakseimbangan, yang terlihat pada munculnya gangguan hama/penyakit. Kadar
pemakaiannya juga tergantung dari tingkat gangguan yang ada.
8. Panen
Setiap langkah dalam proses produksi akan dinilai dari hasil panenan. Prinsip dalam
panen adalah menjaga standar mutu dengan memanen tepat waktu sesuai kematangan. Cara
pemanenan juga perlu berhati-hati sehingga tidak menimbulkan kerusakan atau kehilangan
hasil yang lebih besar.
9. Pasca Panen
Kegiatan pasca panen harus mampu menekan kerusakan hasil seminimal mungkin.
Metode pengolahan yang dilakukan tidak boleh mengubah sama sekali komposisi bahan
aslinya. Karenanya proses seleksi, pencucian, pengepakan, penyimpanan dan pengangkutan
produk organik perlu berhati-hati agar kondisi tetap segar dan sehat ketika berada di tangan
pembeli. Dalam PO, kegiatan pasca panen menghindari pemakaian bahan pengawet atau
perlakuan kimiawi lainnya dan seminimal mungkin melakukan proses pengolahan.
Dalam PO berlaku standar yang berfungsi sebagai pedoman bagi petani dan pelaku lain
dalam menjalankan usahanya di bidang ini. Standar ini berisi prinsip-prinsip mendasar PO
dan hal-hal umum yang sebaiknya dilakukan dan dihindari dalam bertani organik. Sebagai
contoh, pemerintah telah menerbitkan SNI (Standar Nasional Indonesia) 01-6729-2002
tentang Sistem Pangan Organik yang dapat menjadi acuan bagi para pelaku terkait
pengembangan PO. Standar ini mengacu pada standar internasional yakni Codex CAC/GL
32/1999, dan cukup selaras dengan standar dasar IFOAM (International Federation of
Organic Agriculture Movement). BIOCert sendiri tengah mengembangkan standar PO yang
selaras dengan pedoman di atas dan sesuai dengan visi dan misi BIOCert.

2.2 Berbagai jenis sertifikat organik

1.Sertifikat Organik standar Nasional


Sertifikat organik berstandar nasional merupakan pelabelan organik yang diberikan
oleh negara kepada produk pertanian. Lembaga yang bertanggung jawab dalam pelabelan
organik di Indonesia sendiri adalah Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) sementara
instansi atau perguruan tinggi tertentu dijadikan tempat dalam proses pengajuan sertifikat
organik (Nurhidayati, I.Pujiwati, A.Solichah, Djuhari, dan A.Basit, 2008). Dalam proses
memperoleh sertifikat organik nasional ada beberapa standar organik yang harus dipenuhi
untuk mendapatkan label organik. Standarisasi Nasional Indonesia merupakan beberapa
aturan prinsip produk organik diantaranya yaitu:
a. Diproduksi di lahan yang sedang dalam periode konversi paling sedikti 2 (dua) tahun
sebelum penebaran benih atau jika tanaman tahunan minimal 3 (tiga) tahun.
b. Produksi pangan organik dimulai pada saat produksi telah mendapat sistem
pengawasan
c. Kesuburan dan aktivitas biologis tanah harus dipelihara atau ditingkatkan dengan
cara:
d. Hama, penyakit dan gulma harus dikendalikan oleh salah satu atau kombinasi dari
cara berikut:
e. Benih atau bibit harus berasal dari tumbuhan yang ditumbuhkan dengan cara sistem
pertanian organik paling sedikit satu generasi atau dua musim untuk tanaman
semusim.
f. Pengumpulan tanaman dan bagian tanaman yang tumbuh secara alami di daerah
alami. Kawasan hutan dan pertanian dapat dianggap sebagai produk organik apabila
penangannya tidak menganggu stabilitas alami.
Nurhidayati et al., (2008) menjelaskan bahwa Departemen Pertanian juga telah
menyusun standar pertanian organik di Indonesia yaitu sistem pertanian organik
menganut paham Organik proses, artinya semua proses sistem pertanian organik dimulai
dari penyiapan lahan hingga pasca panen memenuhi standar budidaya organik, bukan
dilihat dari produk organik yang dihasilkan. SNI ini merupakan dasar bagi lembaga
sertifikasi dalam memberikan sertifikat organik pada suatu produk. SNI disusun dengan
mengadopsi seluruh materi dalam dokumen dasar namun disesuaikan dengan kondisi
Indonesia. Namun, sertifikat organik Indonesia belum tentu dapat dikatakan organik di
negara lainnya. Hal tersebut dikarenakan negara-negara lainnya memiliki standar
sertifikat organik masing-masing.

2.Sertifikat Organik standar Internasional


Sertifikat Organik standar Internasional merupakan sertifikasi organik secara
internasional bahwa dikatakan produk tersebut telah mendapatkan label organik secara
internasional. Proses mendapatkan sertifikat organik standar internasional lebih ketat dan
sulit dibandingkan dengan sertifikat organik standar nasional karena memiliki beberapa
persyaratan yang lebih banyak. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain
masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida
serta pengolahan hasilnya harus memenuhi peryaratan tertentu sebagai pertanian organik
(IFOAM, 2014). Namun, jika suatu produk telah diberi label organik secara internasional
akan membuat produk tersebut dapat diterima oleh negara-negara lainnya. Suatu produk
dapat diakui sebagai produk organik apabila telah melalui proses sertifikasi oleh
Lembaga Sertifikasi resmi yang telah terdaftar pada IFOAM (IFOAM, 1986). Standar
internasional merupakan acuan utama dalam prinsip dasar persyaratan dari sertifikat
organik standar nasional, seperti persyaratan dasar milik IFOAM (International
Federation of Agriculture Movement) yang dijadikan persyaratan dasar pada sertifikat
nasional namun disesuaikan dengan kondisi negara masing-masing. Beberapa contoh
lembaga sertifikat organik standar internasional ialah IFOAM, The Codex Alimentrus

2.3 Tahap prosedur sertifikasi organic

A.Prosedur sertifikasi organic skala Nasional


Lembaga penjamin produk organik dari luar negeri di Indonesia yakni Nasa
(Australia) dan Scall (Belanda), sedangkan lembaga penjamin produk organik Indonesia,
pada 2007, sebanyak 5 lembaga, dimana salah satu diantaranya yaitu LeSOS (Lembaga
Organisasi Organik Seloliman) yang berkantor pusat di Jawa Timur. Dalam operasionalnya
LeSOS bekerja sama dengan Bio inspecta/Fibl, lembaga penjaminan produk organik dari
Swiss, sehingga sertifikasi yang dikeluarkannya sudah diakui internasional. LeSOS telah
diverifikasi oleh Otoritas Kompeten Pangan Organik (OKPO), badan dibawah Direktur
jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (Dirjen PPHP) Departemen Pertanian
pada 26 November 2007, LeSOS dinyatakan lulus sebagai lembaga sertifikasi organik
dengan ruang lingkup produk segar untuk produk tanaman pangan hortikultura, palawija,
perkebunan, serta ternak maupun produk hasil ternak seperti susu, telur, daging dan madu.
Standar LeSOS juga disusun untuk dasar bekerjanya Program Sertifikasi LeSOS. Program
Sertifikasi LeSOS mengevaluasi dan mengakreditasi program sertifikasi berdasarkan
Standar Dasar SNI, IFOAM dan kriteria yang dipublikasikan dalam bentuk panduan
Operasional. (Nurhidayati et al, 2008).

Permohonan Sertifikasi ke Lembaga Sertifikasi Organik


Poktan/Gapoktan yang telah menyelesaikan tindakan perbaikan dapat mengajukan
sertifikasi ke LSO melalui Dinas Pertanian Provinsi penerima dana dekonsentrasi.
Alur Sertifikasi Pertanian Organik
Keterangan:

1. Pelaku usaha mengajukan permohonan sertifikasi kepada Lembaga Sertifikasi


Organik (LSO); 


2. LSO menunjuk Tim Auditor; 


3. Tim Auditor melakukan audit kecukupan, audit lapang dan 
sampling kepada
pemohon sertifikasi; 


4. Tim Auditor menyampaikan hasil auditnya kepada LSO; 


5. LSO menyampaikan hasil audit kepada Komisi Teknis untuk 
dibahas dalam
komisi teknis serta membuat rekomendasi; 


6. Komisi teknis menyampaikan rekomendasi kepada LSO; 


7. LSO menyampaikan hasil penilaian, apakah pemohon 
mendapatkan sertifikasi


atau tidak; 


8. LSO melakukan surveilen secara periodik. 



Prosesdur sertifikasi pada LeSOS yaitu sebagai berikut:

Permohonan awal Sertifikasi


1. Langkah awal untuk mendapatkan sertifikasi LeSOS adalah operator (orang yang
bertanggungjawab) menghubungi LeSOS.

2. Atas permintaan, LeSOS mengirimkan dokumen-dokumen permohonan yang rinci


termasuk formulir permohonan dan informasi mengenai pertanian organik serta
persyaratan sertifikasi.
a.Pengiriman form permohonan sertifikasi,prosedur sertifikasi,struktur biaya sertifikasi
dan standard yang diminta (SNI) kepada operator

3. Untuk mengajukan sertifikasi, operator perlu melengkapi formulir permohonan dan


mengembalikannya ke LeSOS.
a.Operator mengajukan surat permohonan sertifikasi kepada LeSOS
b.LeSOS mengirimkan surat balasan sertifikasi beserta pengiriman form cheklist
asesment awal tanaman pangan organik kepada operator
c.Operator mengisi dan mengembalikan form cheklist asesment awal tanaman pangan
organik kepada LeSOS

4. LeSOS memberikan penjelasan atau informasi tambahan bila diperlukan.

Pra Inspeksi
Setelah menerima formulir permohonan yang telah diisi, LeSOS mengirimkan:
1. Sebuah surat penawaran inspeksi dan sertifikasi beserta penawaran biaya sertifikasi
kepada operator
2. Kontrak sertifikasi dan inspeksi beserta jadwal tahapan proses sertifikasi
3. Setelah menerima surat penawaran, operator perlu membayarkan 50% biaya awal
sertifikasi, menandatangani kontrak perjanjian sertifikasi dan inspeksi di atas materai Rp.
6.000;. Setelah kontrak ditandatangani Direktur Eksekutif LeSOS, salinan kontrak
dikirimkan ke operator.
4.LeSOS mengirimkan invoice biaya sertifikasi sebesar 50% kepada operator

Perhitungan Biaya Inspeksi dan Sertifikasi


Biaya sertifikasi tergantung dari lamanya waktu yang dibutuhkan dalam
menginspeksi (kalau opertor makin siap dalam proses sertifikasi dan inspeksi maka biaya
yang dibutuhkan makin rendah), untuk biaya perjalanan, akomodasi serta konsumsi
selama inspeksi ditanggung oleh operator dan dihitung sendiri sesuai biaya yang
dikeluarkan.

Tinjauan Dokumen
1. LeSOS menugaskan inspektornya untuk menilai dokumen yang diberikan operator.
masi yang diterima kurang lengkap, inspektor akan menghubungi operator.
2. Operator diberi waktu 30 hari untuk melengkapi informasi yang diberikan atau
melakukan tindakan perbaikan yang diperlukan.

Initial Inspeksi (Optional)


1. Bila operator meminta dilakukan pre-inspeksi untuk mengetahui ketidaksesuaian
terhadap praktek pertanian organik yang telah dilakukan, LeSOS akan menugaskan
kepada inspektornya untuk melakukan inspeksi lapangan berdasarkan informasi yang
diberikan dalam formulir permohonan sertifikasi.
2. LeSOS mengirimkan surat pemberitahuan pelaksanaan asesment kepada operator
3. Inspektor akan membuat laporan inspeksi. Laporan inspeksi ditandatangani oleh
operator. Laporan inspeksi asli dikirim ke LeSOS oleh inspektor dan salinannya
diberikan kepada operator.
3. Hasil initial inspeksi tidak merupakan bagian dari tahapan untuk menentukan
keputusan sertifikasi.
4. Hasil initial inspeksi diinformasikan ke operator

Inspeksi Lapangan
1. LeSOS menugaskan inspektor untuk melakukan inspeksi lapangan guna mengecek
kesesuaian praktek pertanian organic terhadap standar dan regulasi pertanian organik.
2. LeSOS akan menginformasikan kepada operator mengenai waktu inspeksi dan nama
inspektornya. Operator dapat mengajukan keberatan terhadap waktu dan nama inspektor
yang diusulkan LeSOS disertai dengan penjelasan yang dapat diterima.
3. Inspektor LeSOS akan menghubungi operator untuk membuat janji inspeksinya
selambat-lambatnya 24 jam sebelum kegiatan inspeksi dilakukan (untuk inspeksi yang
dijadwalkan).
4. Inspektor mengecek kesesuaian praktek pertanian organik di lapangan terhadap standar
dan regulasi yang ada dan kesesuaian terhadap dokumen yang diberikan.
5. Inspektor memiliki akses ke semua lokasi produksi dan informasi organik dan atau non
organik.
6. Inspektor akan membuat laporan inspeksi. Laporan inspeksi ditandatangani oleh
operator. Laporan inspeksi asli dikirim ke LeSOS dan salinannya diberikan kepada
operator.
7. Apabila inspektor mencurigai adanya ketidaksesuaian terhadap standar, inspektor dapat
melakukan pengambilan contoh untuk dilakukan pengujian laboratorium. Biaya
pengujian menjadi tanggung jawab operator.
8. Inspektor menyerahkan Laporan Inspeksi kepada Manajer Mutu LeSOS.
9. LeSOS akan mengirimkan Surat Tagihan Biaya Inspeksi dan Sertifikasi ke operator
untuk melakukan pembayaran 50% dari sisa biaya sertifikasi beserta biaya-biaya
lainnya sebagai konsekwensi dari kegiatan sertifikasi (biaya perjalanan, akomodasi,
pengujian laboratorium).
10. Setelah LeSOS mendapatkan konfirmasi sisa pembayaran sertifikasi, proses sertifikasi
akan dilanjutkan.

Keputusan Sertifikasi
1. Manajer Mutu LeSOS mengusulkan kepada Direktur Eksekutif LeSOS untuk
mengadakan rapat Komisi Sertifikasi guna menentukan keputusan sertifikasi dan
rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan, berdasarkan penilaian objektif yang berasal
dari laporan inspeksi.
2. LeSOS akan mengirimkan surat pemberitahuan pelaksanaan sidang kepada komisi
sertifikasi LeSOS
3. LeSOS akan mengirimkan surat pemberitahuan hasil sidang komisi sertifikasi kepada
operator
4. Keputusan tersebut dapat berupa pemberian sertifikat pertanian organik kepada operator
yang telah memenuhi kesesuaian keseluruhan standar dan regulasi yang ada.
5. Bila masih terdapat ketidaksesuaian praktek pertanian organik di lapangan terhadap
standar dan regulasi yang ada, Komisi Sertifikasi akan memberikan rekomendasi untuk
tindakan perbaikan. Operator diberikan waktu selama 90 hari kerja untuk melakukan
tindakan perbaikan. Apabila ketidaksesuaian telah diperbaiki, Komisi Sertifikasi dapat
memutuskan untuk pemberian sertifikat LeSOS.
6. Apabila operator tidak dapat melakukan tindakan perbaikan selama waktu yang telah
ditentukan atau selama inspeksi ditemukan praktek-praktek yang melanggar standar dan
regulasi, permohonan sertifikasinya ditolak.
7. Dan apabila operator yang ditolak tersebut ingin melanjutkan proses sertifikasi, maka ia
harus mengulang proses sertifikasi.
8. Direktur Eksekutif LeSOS akan menginformasikan kepada operator melalui Manajer
Mutu mengenai hasil keputusan sertifikasi.
9. Untuk permohonan sertifikasi yang diterima, Direktur Eksekutif LeSOS akan
menerbitkan dan menandatangani sertifikat Pertanian Organik LeSOS. Apabila
berhalangan akan didelegasikan kepada Manajer Mutu.
10. Sertifikat LeSOS berlaku selama 3 tahun.

Naik Banding
1. Jika operator memiliki alasan kuat untuk tidak menerima keputusan sertifikasi, ia dapat
meminta kepada Direktur Eksekutif LeSOS untuk mempertimbangkan ulang keputusan
Sertifikasi secara tertulis
2. Kemudian berkas tersebut akan diajukan kepada Komisi Sertifikasi/Teknis untuk
pertimbangan ulang.
3. Jika operator masih tetap tidak sepakat dengan keputusan yang terbaru, ia dapat
mengajukan banding secara tertulis kepada Direktur Eksekutif LeSOS. Direktur
Eksekutif LeSOS membentuk Tim Ad Hoc Naik Banding yang terdiri dari orang-orang
independen yang tidak terlibat keputusan sertifikasi dari operator yang bersangkutan,
untuk mengambil keputusan akhir dalam kasus banding ini.

Inspeksi Tahunan/Survailance
LeSOS melakukan inspeksi tahunan (terjadwal atau tidak terjadwal) untuk mengetahui
konsistensi penerapan sistem pertanian organic operator. Prosesnya sama seperti
inspeksi lapangan.

Sertifikasi Ulang (Re-sertifikasi)


1. Tiga bulan sebelum masa berlaku sertifikat habis, LeSOS akan menginformasikan
kepada operator untuk melakukan perpanjangan sertifikat pertanian organik LeSOS.
2. Proses pengajuan re-sertifikasi, seperti tahap awal pengajuan sertifikasi.

B. Sertifikasi Organik Secara Internasional


Sertifikasi organik yang telah dikeluarkan oleh LSO (Lembaga Sertifikasi
Organik) Indonesia, hanya dapat berlaku di pasar nasional saja. Apabila ingin
merambah kancah internasional dan melakukan kegiatan ekspor keluar dari Indonesia,
maka yang berlaku ada sertifikasi organik internasional. Sertifikasi organik pada pasar
dunia mengacu kepada beberapa lemabaga negara, diantaranya, National Organic
Program (NOP) untuk pasar Amerika, dan Japan’s Agricultural Standards (JAS), untuk
Jepang. Kedua lembaga ini merupakan salah satu dari sekian banyak lembaga
terpercaya yang dapat mengeluarkan sertifikasi internasional. Namun, untuk kriteria
pertanian organik, ada dua lembaga besar di bagian khusus Pertanian organik yang
menjadi acuan secara internasional, yaitu International Federation of Organic
Agriculture Movements (IFOAM).

Standar Acuan Sertifikasi Organik


1.International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM)
Standar IFOAM adalah standar organik yang berlaku secara internasional yang
dikembangkan oleh IFOAM. IFOAM merupakan suatu lembaga yang menaungi seluruh
gerakan organik dari berbagai dunia, IFOAM juga mengeluarkan standar pertanian
organik yang dapat digunakan langsung oleh mereka yang produksi pertanian
organiknya ingin diakui secara internasional. IFOAM mempunya 5 pilar utama yaitu:

a. Umbrella : Untuk menyatukan seluruh gerakan hidup dengan pertanian organik


dari seluruh dunia
b. Value chain : Dari hasil produksi budidaya pertanian, akan terus dikembangkan
standar dalam memproduksi hasil yang bersifat organik, disini juga menjadi
informasi terkait dengan penjualan produksi organik di seluruh dunia.
c. Advocacy : Pilar ini bertujuan untuk menyebarkan isu pertanian berkelanjutan di
dalam pertanian organik ke seluruh dunia
d. Programs : Adalah pilar yang memberikan informasi tentang standarisasi
produksi pertanian organik, dan juga memberikan informasi terkait sertifikasi
internasional yang ada di seluruh dunia.
Adapun standarisasi pertanian organik dari IFOAM sendiri terdiri dari empat prinsip,
yaitu :
a. Principle of health
Prinsip kesehatan disini maksudnya adalah, pertanian organik dan
meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia dan planet sebagai satu
kesatuan dan tidak terpisahkan. Prinsip ini menunjukkan bahwa kesehatan
individu dan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kesehatan ekosistem - tanah
yang sehat, akan menghasilkan tanaman pangan sehat yang akan mendorong
kesehatan hewan dan manusia.
Pertanian organik dimaksudkan untuk menghasilkan makanan bergizi
berkualitas tinggi yang berkontribusi terhadap perawatan kesehatan preventif dan
kesejahteraan. Mengingat hal ini, sebaiknya hindari penggunaan pupuk, pestisida,
obat-obatan hewani dan zat aditif makanan yang mungkin memiliki efek yang
merugikan kesehatan.
b. Principle of Ecology
Prinsip ekologi disini maksudnya adalah, Pertanian Organik harus
didasarkan pada sistem dan siklus hidup yang ekologis, bekerja sama dengan
mereka, meniru dan membantu mempertahankannya. Prinsip ini mengakar
pertanian organik dalam sistem ekologi hidup. Ini menyatakan bahwa produksi
didasarkan pada proses ekologi, dan daur ulang. Makanan dan kesejahteraan
dicapai melalui ekologi lingkungan produksi yang spesifik.
Misalnya, dalam kasus tanaman pangan, tanah merupakan tempat tanaman
tersebut hidup, bagi hewan itu salah satu habitat hidupnya adalah ekosistem
pertanian, untuk ikan dan organisme laut, habitatnya adalah lingkungan perairan.
Pertanian organik, harus sesuai dengan siklus dan keseimbangan ekologis yang di
alam. Pengelolaan organik harus disesuaikan dengan kondisi, ekologi, budaya
dan skala lokal. Output dari luar harus dikurangi dengan penggunaan kembali,
daur ulang dan pengelolaan material dan energi yang efisien untuk menjaga dan
memperbaiki kualitas lingkungan dan menghemat sumber daya.
c. Principle of fairness
Prinsip keadilan adalah, Pertanian Organik harus membangun hubungan
yang menjamin keadilan berkaitan dengan lingkungan dan kesempatan hidup
bersama.
Keadilan ditandai oleh keadilan, rasa hormat, baik di antara orang-orang yang
bekerja di dalam pertanian organik ini maupun hubungan mereka dengan
makhluk hidup lainnya. Prinsip ini menekankan bahwa mereka yang terlibat
dalam pertanian organik harus melakukan hubungan secara manusiawi dengan
cara yang menjamin keadilan di semua tingkat dan semua pihak, petani, pekerja,
pengolah, distributor, pedagang dan konsumen. Pertanian organik harus
menyediakan semua orang yang terlibat dengan kualitas hidup yang baik, dan
berkontribusi terhadap kedaulatan pangan dan pengurangan kemiskinan. Ini
bertujuan untuk menghasilkan pasokan makanan berkualitas dan produk lainnya.
Prinsip ini menegaskan bahwa hewan harus dilengkapi dengan kondisi dan
kesempatan hidup yang sesuai dengan fisiologi, perilaku alami dan juga
kesehatannya.

d. Principle of care
Pertanian Organik harus dikelola secara berhati-hati dan bertanggung
jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan masa
depan dan lingkungan. Ini berhubungan dengan keberlanjutan pertanian di masa
yang akan mendatang. Apabila ingin mengadopsi suatu teknologi baru didalam
bidang pertanian, maka ada baiknya untuk memikirkan dampak positif maupun
negatifnya kepada ekosistem yang ada di sekitarnya. Jadi, yang ditekankan disini
adalah lebih peduli terhadap lingkungan.

Contoh Lembaga yang berhak mengeluarkan sertifikasi organik internasional yang


diakui oleh seluruh dunia :
1.National Organic Program (NOP)
NOP ialah suatu program yang dibuat oleh USDA (United States Depeartment of
Agriculture), merupakan suatu Departemen yang mengurus bidang pertanian di United
States (Amerika), yang berfungsi untuk mengeluarkan sertifikasi organik. Sertifikasi
organik yang dikeluarkan oleh NOP diakui secara internasional pada pasar dunia.
Sehingga, apabila ingin melakukan kegiatan eskpor ke negara Amerika, atau negara di
belahan dunia lainnya, sertifikasi organik dari program ini dapat digunakan.
Pada website resmi USDA (https://www.ams.usda.gov/) tidak menyebutkan bahwa hanya
warga negara Amerika saja yang boleh mendaftarkan diri untuk mendapatkan sertifikasi
organik dari NOP, disebutkan bahwa yang dapat mendaftar adalah, produsen komersial
tanaman organik atau ternak seperti petani atau produsen ternak, penjual makanan
organik, pakan, serat atau tekstil, bagian penangan produk organik, misalnya distributor,
seorang pemilik restoran yang menjual makanan organik, pemasar produk organik,
pemilik merek yang mengembangkan produk organik.
Secara garis besar, ada tiga proses perlu dilalui untuk mendapatkan sertifikasi organik
dari NOP, yaitu, sertifikasi organik mencakup proses aplikasi, inspeksi perusahaan dan
sertifikasi produk :
a. Proses Aplikasi
Jika berencana untuk memasarkan produk dengan label sebagai "organik",
lakukan sertifikasi dari agen terakreditasi National Organic Program (NOP). Dapatkan
dan isi formulir pendaftaran dari NOP kemudian balikkan dan tunggu NOP meninjau
ulang formulir pendaftaran, dan memutuskan apakah produksi tersebut telah bahw sesuai
dengan peraturan dan standar NOP.
b. Inspeksi
NOP akan selalu menjadwalkan kunjungan di tempat produksi untuk memeriksa
lokasi produksi dan penanganan organik yang telah dilakukan. Inspeksi dilakukan untuk
memastikan bahwa informasi pada formuli pendaftaran tersebut benar dan akurat, sesuai
dengan persyaratan pertanian organik yang dicantumkan dalam formulir pendaftaran.
Sebelum pemeriksaan selesai, inspektur akan melakukan wawancara.
c. Sertifikasi
Setelah pemeriksaan telah selesai, inspektur akan menulis laporan berdasarkan
hasil inspeksi. Laporan, berkas pemohon, formulir pendaftaran, dan wawancara akan
diperiksa ulang untuk memastikan sesuai dengan NOP. Setelah itu, baru label dengan
bertuliskan “USDA Certified Organic” dapat ditempelkan pada produk.
1.Japan’s Agricultural Standards (JAS)
Japan’s Agricultural Standards (JAS) merupakan lembaga sertifikasi yang diakui
secara internasional dan di pasar dunia. JAS merupakan suatu lembaga yang berada
dibawah Standard and Food Safety and Consumer Affairs Bureau Ministry of
Agriculture, Forestry and Fisheries, Jepang, atau dapat dikenal dengan Keamanan Pangan
dan Konsumen Departemen Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, Jepang, dalam bahasa
Indonesia. Untuk mendapatkan sertifikasi organik dari JAS, harus mendaftar ke
Keamanan Pangan dan Konsumen Departemen Pertanian, Kehutanan dan Perikanan,
Jepang. Setelah mendaftar, akan ditinjau oleh Departemen tersebut dan diproses, hingga
akhirnya dapat mendapat label sertifikasi organik dari JAS. Adapun prosesnya akan
seperti bagan dibawah ini :
Tahapan yang harus diperhatikan dalam proses mendapatkan sertifikasi organik dari
JAS adalah :
a. Persyaratan standar
Persyaratan standar adalah syarat awal yang harus dipenuhi sebelum mengisi
formulir pendaftaran. Adapun yang dapat diberikan sertifikasi organik bukan hanya hasil
produksi pertanian saja, melainkan ada 4 kriteria untuk objek yang berbeda. Terdapat
sertifikasi tanaman organik yang dilihat dari kriteria DNA, kultur jaringan, dll yang akan
dilampirkan dibawah, kemudian ada proses pembuatan makanan organik, hingga
makanan jadi yang akan diproduksi dengan label organik. Persyaratan awal dapat dipilih
sesuai objek yang ingin disertifikasi. Misalnya, apabila ingin mensertifikasi produk hasil
pertaniannya, maka yang dilihat adalah petunjuk yang berjudul seperti ini :
Pastikan dahulu objek apa yang ingin disertifikasi, sehingga persyaratan awal tidak
salah. Dapat dilihat dari judul “Japanese Agricultural Standard of Organic Processed
Foods” , maksudnya adalah hasil produksi pertanian yang akan dijadikan bahan
makanan. Setelah dirasa memenuhi kriteria, maka akan diisi di formulir yang disediakan
oleh Keamanan Pangan dan Konsumen Departemen Pertanian, Kehutanan dan
Perikanan, Jepang.

b. Kriteria Teknis
Pada tahapan ini, pemohon sertifikasi harus memastikan kegiatan teknis yang
dilakukan pada tempat produksi pertanian tersebut sesuai dengan persyaratan yang
diminta oleh JAS, dimulai dari fasilitas produksi dan penyimpanan pasca panen,
kecerahan ruangan, suhu ruangan dan lainnya yang akan dilampirkan dibawah. Setelah
itu, formulir dimasukkan ke Keamanan Pangan dan Konsumen Departemen Pertanian,
Kehutanan dan Perikanan, Jepang, dan menunggu hasil konfirmasi.
c. Inspeksi

Setelah mendapatkan konfirmasi dari Keamanan Pangan dan Konsumen Departemen


Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, Jepang, sama seperti halnya NOP yang ada di
Amerika, JAS juga akan menjadwalkan kunjungan ke tempat produksi untuk memeriksa
lokasi produksi dan penanganan organik yang telah dilakukan. Inspeksi dilakukan untuk
memastikan bahwa informasi pada formulir pendaftaran tersebut benar dan akurat, sesuai
dengan persyaratan pertanian organik yang dicantumkan dalam formulir pendaftaran.

Contoh Produk Indonesia yang Bersertifikasi Organik Internasional


Kakao dari Jembrana
Negara (ANTARA News) - Produk kakao fermentasi dari Kabupaten Jembrana,
Bali, mendapatkan penghargaan dari lembaga sertifikasi organik internasional, yakni
Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dan Lembaga Pengawasan Uni Eropa
(UE) sebagai pengakuan kualitas produknya, kata Wakil Bupati Jembrana I Made
Kembang Hartawan.
"Sertifikat internasional ini harus dipertahankan dengan menjaga kualitas dan kuantitas,
agar produk kakao dari Jembrana tetap bermutu baik," katanya di Negara, Selasa.
Menurut dia, mutu yang baik akan membuat masyarakat dunia percaya dengan kakao
Jembrana, namun harus pula dilakukan secara bersama-sama oleh petani setempat.
"Para petani kakao harus sering saling berkomunikasi untuk menjaga kualitas produk
kakao. Suatu daerah akan dikenal memiliki produk pertanian yang bagus, jika seluruh
petani sepakat menjaganya," katanya.
Ia juga mengemukakan, karena sudah diakui lembaga internasional, seperti United State
Department of Agriculture (USDA) dan Control Union of European Union (EU),
maka akan membuat produk kakao fermentasi Jembrana diburu pembeli.
Oleh karena itu, ia pun menyatakan, hal itu jangan sampai membuat petani berbuat curang
hanya untuk mengejar keuntungan.
Ia mencontohkan pada masa keemasan vanili di Kabupaten Jembrana sehingga harganya
tinggi, dan membuat beberapa oknum menyuntikkan pasir ke produk pertanian itu untuk
meningkatkan bobot dan mendapatkan keuntungan lebih besar.
"Jangan ada oknum yang ingin cepat kaya, tapi mengorbankan petani lainnya dan membuat
citra produk kakao Jembrana yang sudah bagus menjadi jelek," katanya.
Kakao yang berkualitas, dikemukakannya, rata-rata dihasilkan dari sistem pertanian
organik, yang saat ini dari 35 subak abian (kelompok petani khas Bali) di Kabupaten
Jembrana baru 16 yang dinyatakan lolos sertifikasi organik.
Ia pun berharap, jumlah petani yang mendapatkan sertifikat organik dapat meningkat setiap
tahun, sehingga dalam beberapa tahun ke depan dapat membuat sistem penanaman kakao
organik sudah dilakukan seluruh petani.
Direktur Yayasan Kalimajari Agung Widiastuti, yang selama enam tahun lembaganya
mendampingi petani kakao di Kabupaten Jembrana, menilai bahwa meningkatnya kualitas
kakao di daerah ini dipengaruhi sistem pertanian organik yang diterapkan petani.
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2017

2.4 Internal control sistem

Internal Control System (ICS) atau Sistem Kendali Internal (SKI) adalah merupakan
sistem penjaminan mutu yang terdokumentasi, yang memperkenankan lembaga
sertifikasi mendelegasikan inspeksi tahunan semua anggota kelompok secara individual
kepada lembaga/unit dari operator yang akan atau telah disertifikasi (Sembiring, 2016).
Sistem kendali internal dalam pembentukannya didampingi oleh dinas pertanian provinsi
setempat untuk membentuk tim Sistem Kontrol Internal (SKI) dan membimbing tim SKI
dalam penyusunan dokumen SKI. Menurut Sembiring (2016) tim SKI teridiri dari terdiri
dari:
a. koordinator SKI
b. Inspektor internal
c. Komisi persetujuan
d. Petugas lapangan
e. Personil pembelian dan pemasaran
f. Personil gudang
g. Personil penanganan dan pengolahan

Tugas dari tim SKI secara umum menurut Sembiring (2016) adalah untuk
a. Menyusun dan melaksanakan rencana audit dan isnpeksi internal tahunan.
b. Melakukan evaluasi dan validasi terhadap kegiatan dan hasil kegiatan sesuai dengan
tujuan yang
c. telah direncanakan.
d. pengelolaan dan pemantauan efektivitas serta efisiensi sistem dan prosedur untuk setiap
kelompok atau individu operator.
Berikut adalah alur penerapan SKI untuk sertifikasi pertanian organik.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pertanian organik secara khusus dimaksudkan untuk menghasilkan makanan
bermutu tinggi dan bergizi yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan. Organik
merupakan istilah pelabelan yang menyatakan suatu produk telah diproduksi sesuai dengan
standar organik dan disertifikasi oleh otoritas atau lembaga sertifikasi resmi. Produk
pertanian dikatakan organik jika produk tersebut berasal dari sistem pertanian organik.
Peran pertanian organik baik dalam produksi, pengolahan, distribusi, penyimpanan dan
konsumsi tidak terlepas dari masalah keamanan pangan dan pemanfaatan teknologi.

DAFTAR PUSTAKA

Ariesusanty, L., S. Nuryanti, R. Wangsa. 2010. Statistik Pertanian Organik Indonesia. AOI
(Aliansi Organik Indonesia). Bogor.

Annonymous, 2013. Detail Prosedur Sertifikasi Organik.


http://www.lesosindonesia.com/index.php?action=prosedur . Diakses 7 Juni 2017
Badan Standardisasi Nasional. 2013. Sistem Pertanian Organik. Manggala
Wanabakti:Jakarta. SNI 6729:2013

IFOAM. 1986. Inspection Guide, Technical Commited of The IFOAM. Tholey-Theley. 32p

IFOAM. 2014. The IFOAM Norms for Organic Production and Processing. Die Deutsche
Bibliothek. 132p

Nurhidayati., I. Pujiwati., A. Solichah., Djuhari., A.Basit. 2008. Pertanian Organik.


Universitas Lampung. Lampung.

Nurhidayati,. Et al. 2008. E-book Pertanian Organik suatu kajian sistem Pertanian Terpadu
dan Berkelanjutan. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Malang.

Pangaribuan, D.H. 2017. Sertifikasi Bertahap Menuju Pertanian Organik. Pusat Standarisasi
dan Akreditasi, Departemen Pertanian. Edisi September 2002: 8 hal

Peraturan Menteri Pertanian. 2013. Sistem Pertanian Organik. Nomor


64/Permentan/Ot.140/5/2013

Sembiring, Hasil. 2016. Petunjuk Teknis Fasilitasi Sertifikasi Pertanian Organik.


Direktorat Jendral Tanaman Pagan Kementrian Pertanian: Jakarta.

Soekartawi. 2010. Agribisnis: Teori dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali.

1. Formulir pendaftaran NOP :


https://www.ams.usda.gov/
2. Link download Guide Book NOP :
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uac
t=8&ved=0ahUKEwjS48O76qrUAhWJOI8KHZlzDPQQFgglMAA&url=https%3A%2F
%2Fwww.ams.usda.gov%2Fsites%2Fdefault%2Ffiles%2Fmedia%2FProgram%2520Han
dbk_TOC.pdf&usg=AFQjCNG6qQWlDvch0_Q-
xXsnwPvJE8aDeA&sig2=xirBSPPgfaWvr17JcBAarg
3. Website Resmi IFOAM :
https://www.ifoam.bio/