Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan usaha budidaya ikan saat ini semakin meningkat. Hal ini

sejalan dengan kemajuan zaman dan tekhnologi serta semakin meningkatnya

jumlah penduduk yang memanfaatkan sumber hayati khususnya ikan sebagai

asupan gizi. Pemanfaatan hasil perikanan pada saat ini masih cenderung dari alam,

penangkapan secara terus-menerus mengakibatkan populasi ikan menurun dan di

kawatirkan terjadi kepunahan apabila tanpa manajemen yang baik.

Pakan alami sangat diperlukan dalam budidaya ikan dan pembenihan,

karena akan menunjang kelangsungan hidup benih ikan. Pada saat telur ikan baru

menetas maka setelah makanan cadangan habis, benih ikan membutuhkan pakan

yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Selama ini para pembudidaya ikan

melakukan pemberian pakan ke benih ikan yang baru menetas dengan kuning

telur matang dan susu bubuk. Pemberian pakan seperti ini berakibat kualitas air

media sangat rendah. Disamping air media cepat kotor dan berbau amis, berakibat

pula kematian benih ikan sangat tinggi sampai sekitar 60 – 70%.

Moina sp merupakan makanan alami yang potensial bagi benih ikan air

tawar, karena nilai gizinya yang tinggi, mudah di cerna serta mempunyai daya

produksi yang tinggi, yaitu cepat berkembang biak dan mudah di kembangkan

serta memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut ikan (Johan dkk, 2002).

Masrizal dalam Johan dkk, (2002) mengatakan bahwa kandungan protein Moina

sp adalah 60 – 70 % dari berat kering tubuhnya. Sedangkan Priyambodo dkk


(2002), mengatakan bahwa kandungan gizi Moina sp terdiri dari 90.60% air,

37.38% protein, 13.29% lemak, dan 11.00% abu.

1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini antara lain :

1. Memahami bagaiman cara mengkultur Moina sp sebagai pakan alami

2. Mengetahui pengaruh pupuk kotoran ayam pedaging terhadap

pertumbuhan Moina sp.

3. Untuk mengetahui tingkat kesuburan pakan alami Moina sp. menggunakan

pupuk kotoran ayam pedaging

1.3 Manfaat Praktikum

Berdasarkan tujuan di atas manfaat dari praktikum ini adalah antara lain:

1. Mahasiswa dapat mengetahui cara mengkultur Moina sp.

2. Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh pupuk kotoran ayam pedaging

terhadap pertumbuhan Moina sp

3. Mahasiswa dapat mengetahui tingkat kesuburan pakan alami Moina sp.

menggunakan pupuk kotoran ayam pedaging.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Moina sp

Klasifikasi Moina sp. adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Subphylum : Crustacea

Class : Branchiopoda

Order : Cladocera

Family : Moinidae

Genus : Moina

Spesies : Moina sp.

Klasifikasi dalam biologi membedakan plankton dalam dua kategori utama

yaitu fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton meliputi semua tumbuhan yang

berukuran kecil seperti spirulina, chorella, sedangkan yang termasuk dalam

zooplankton adalah semua organisme renik yang meliputi hewan yang umumnya

renik. Zooplankton, disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya

mengapung, atau melayang dalam air. Kemampuan renangnya sangat terbatas

hingga keberadaannya sangat ditentukan ke mana arus membawanya (Nontji,

2005).

Pada phylum Arthropoda, jenis Moina sp. banyak terdapat di perairan

tawar karena pada sungai banyak terdapat makanan Moina sp. yaitu fitoplankton

dan juga terdapat banyak zat hara yang terbawa oleh arus (Juwana, 2001).
2.2 Morfologi Moina sp

Moina sp. merupakan kelompok udang renik yang termasuk dalam filum

Crustacea, kelas Entomostraca, ordo Phylopoda, dan subordo Cladocera. Ukuran

Moina sp. berkisar antara 500-1.000 mikron (Mudjiman, 2008 dalam Bangulu,

2014). Ciri khas dari Moina sp. adalah bentuk tubuh pipih ke samping, dinding

tubuh bagian punggung membentuk suatu lipatan sehingga menutupi bagian tubuh

beserta anggota-anggota tubuh pada kedua sisinya. Bentuk tubuh Moina sp.

tampak seperti sebuah cangkang kerang-kerangan. Cangkang di bagian belakang

membentuk sebuah kantong yang berguna sebagai tempat penampungan dan

perkembangan telur.

Tubuh Moina sp. ditutupi oleh cangkang dari kutikula yang mengandung

khitin yang transparan, dibagian dorsal (punggung) bersatu tetapi dibagian ventral

(perut) berongga/terbuka dan terdapat lima pasang kaki yang tertutup oleh

cangkang. Ruang antara cangkang dan tubuh bagian dorsal merupakan tempat

pengeraman telur. Pada ujung post abdomen terdapat dua kuku yang berduri kecil-

kecil (Mudjiman, 2008 dalam Bangulu, 2014).

2.3 Reproduksi Moina sp

Perkembangbiakan Moina sp. dapat dilakukan melalui dua cara yaitu

asexual atau parthegonesis (melakukan penetasan tanpa di buahi) dengan cara

sexual (melakukan penetasan telur dengan melakukan perkawinan/pembuahan

terlebih dahulu). Pada kondisi perairan tidak menguntungkan, induk betina

menghasilkan telur istirahat yang akan segera menetas pada saat kondisi perairan

sudah baik kembali. Moina sp. mulai menghasilkan anak setelah berumur empat
hari dengan jumlah anak selama hidup sekitar 211 ekor. Setiap kali beranak rata-

rata berselang 1,25 hari, dengan rata-rata jumlah anak sekali keluar 32 ekor/hari,

sedangkan umur hidup Moina sp. adalah sekitar 13 hari (Anonim, 2012).

Moina sp. biasa hidup pada perairan yang tercemar bahan organik, seperti

pada kolam dan rawa. Pada perairan yang banyak terdapat kayu busuk dan

kotoran hewan, Moina sp. akan tumbuh dengan baik pada perairan yang

mempunyai kisaran suhu antara 14-30 °C dan pH antara 6,5 – 9. Jenis makanan

yang baik untuk pertumbuhan Moina sp. adalah bakteri. Untuk menangkap

mangsa, Moina sp. Akan menggerakan alat tambahan pada bagian mulut, yang

menyebabkan makanan terbawa bersama aliran air ke dalam mulut (Anonim,

2012).

2.4 Kotoran Ayam

Tinja masih mengandung banyak komponen zat makanan setelah keluar

dari saluran pencernaan tanpa sempat dicerna atau belum diserap sepenuhnya.

Kandungan zat makanan dari tinja tergantung dari : 1. Kondisi fisiologi ayam, 2.

Ransum yang diberikan, 3. Lingkungan kandang (suhu dan udara). Komposisi

fisisk dipengaruhi oleh daya cerna, kandungan protein, kandungan serat kasar dan

energi metabolism, serta karakteristik lainnya ( Sheppard dkk dalam Subagyo,

1981). Menurut laporan Smith dan Whecler dalam Subagyo (1981) tergantung

pada ransum yang dimakan, pengumpulan dan pengolahan.

Smith dalam Subagyo (1981) mengatakan bahwa nitrogen yang

diekskresikan lewat urine 75%, sedangkan lewat tinja hanya 25%. O’Dell dkk

dalam Subagyo (1981) menganalisa nitrogen dalam urine ayam dan melaporkan
hasil analisanya bahwa terdapat N-urea 4,5%, N-NH3 10%, N-Asam Amino

2,2%, N-Asam Urat 80,7%, dan N-lainnya ada 2,1%.Produk lainnya itu terdiri

dari base nitrogen, nitrogen, dan dikemukakan 90% nitrogen dalam tinja ayam

adalah N-protein sejati. Menurut Scaible dalam Subagyo (1981) tinja ayam

mengandung protein kasar 16-35% dengan protein sejati 10-11%. Kandungan N-

protein total akan menurun dengan semakin tingginya temperatur atau lamanya

pemanasan (Sheppard dkk dalam Subagyo, 1981).

2.5 Kualitas Air

2.5.1 Suhu

Moina sp merupakan organisme renik yang hidup diperairan tawar.

Kehidupan Moina sp. dipengaruhi oleh beberapa faktor ekologi perairan antara

lain temperatur, oksigen terlarut dan pH. Miona sp dapat tumbuh dengan baik

pada lingkungandengansuhu antara 14o – 30o C (Mudjiman, 2008).

2.5.2 Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) merupakan gambaran jumlah atau aktifitas ion

hidrogen dalam perairan. Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar

tingkat keasaman atau kebasaan suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7

adalah netral, pH < 7 dikatakan kondisi perairan bersifat asam, sedangkan pH > 7

dikatakan kondisi perairan bersifat basa (Effendi, 2003). Moina sp dapat hidup

pada kondisi perairan dengan pH berkisar antara 6,5 – 9,0 (Mudjiman, 2008).

2.5.3 Oksigen Terlarut (DO)

Oksigen terlarut mempunyai peranan yang sanga penting dalam

Kehidupan Moina sp. menurut Ivleva dalam Ansaka (2002), Moina sp dan
Daphnia sp hidup di dalam air yang kadar oksigennya bervariasi dari hampir nol

sampai dengan lewat jenuh. Umumnya Moina sp. dapat hidup dapa konsentrasi

oksigen terlarut yaitu 3 – 5 ppm (Mudjiman, 2008).


BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum mata kuliah Budidaya Pakan Alami ini dilaksanakan pada

tanggal 14 Oktober – 3 November 2017, bertempat di Laboratorium Umum

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Negeri Gorontalo.

3.2 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat

pada tabel di bawah ini:

Tabel 1. Alat yang digunakan pada praktikum yaitu :

No Nama Alat Fungsi


1. Water Check Qualiti Untuk mengukur DO dan pH
2. Loyang Hitam Sebagai wadah kultur
3. Termometer Untuk mengukur Suhu air
4. Waring Untuk menutup loyang
5. Pipet Untuk melakukan sempling
6. Tali Rafia Untul mengikat waring
7. ATK Untuk menulis data yang telah diambil
8. Gelas Ukur Untuk sampling 1 liter dan 100 ml
9. Cawan Petri Untuk meletakkan moina sp yang akan di
hitung
10. Camera Untuk dokumentasi dilapangan
11. Patok Sebagai pagar
Tabel 2. Bahan yang digunakan pada praktikum yaitu :

No Nama Bahan Fungsi


1. Moina sp Sebagai organisme yang akan di kultur
2. Aqua Untuk membersihkan alat
3. Kotoran Ayam Pedaging Sebagai pupuk
4. Tisu Untuk membersihkan alat
5. Air Sebagai media kultur

3.3 Prosedur Kerja

Untuk prosedur kerja selama kegiatan pratikum akan diuraiakan secara

rinci pada bagian di bawah ini.

3.3.1 Persiapan Wadah Kultur

a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan (loyang hitam, waring,

tali rafia, patok, termometer, water check quality, kotoran ayam pedaging,

ATK, dan Kamera)

b. Membersihkan loyang yang akan digunakan untuk kultur Moina sp

c. Air di isi kedalam loyang sebanyak 34 liter

d. Melakukan penimbangan pupuk kotoran ayam pedaging sebanyak 1,5

gram kemudian dimasukkan kedalam waring dan diikat menggunakan tali

rafia yang selanjutnya dimasukkan kedalam media kultur.

e. Selanjutnya melakukan pengukuran kualitas air (Suhu, DO, dan pH)

f. Kemudian loyang di tutup menggunakan waring dan dibiarkan selama 4

hari untuk selanjutnya dilakukan inokulasi Moina sp


3.3.2 Inokulasi (Penebaran)

a. Sebelum dilakukan inokusi terlebih dahulu dilakukan pengenceran.

b. Pengenceran dilakukan dengancara memasukkan Moina sp kedalam

volume air 1 liter.

c. Selanjutnya dilakukan penebaran Moina sp dengan cara sampling atau

manual.

3.4 Analisis Data

Berdasarkan hasil pengamatan dan penghitungan jumlah populasi Moina

sp laju pertambahan populasi yang dianalisis dengan menggunakan rumus

menurut Fogg (1975) bagai berikut:

ln 𝑁𝑡−ln 𝑁0
K= 𝑡

Dimana:

K = Laju pertumbuhan jumlah populasi Moina sp

Nt = Jumlah populasi Moina sp setelah t hari

N0 = Jumlah populasi awal Moina sp

t = Waktu pengamatan
BAB IV

HASAL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Jumlah Individu per 100 ml

Tabel 1. Jumlah individu per 100 ml

Waktu Pengamatan Kepadatan

(Hari ke-)

0 2.4

4 2360

8 740

12 160

16 480

4.1.2 Jumlah Individu per 1 L

Tabel 2. Jumlah individu per 1 L

Waktu Pengamatan Kepadatan

(Hari ke-)

0 24.26

4 23600

8 7400

12 1600

16 4800
4.1.3 Jumlah Individu per 34 L

Tabel 3. Jumlah individu per 34 L

Waktu Pengamatan Kepadatan

(Hari ke-)

0 825

4 802400

8 251600

12 54400

16 163200

4.1.4 Laju Pertumbuhan

Tabel 4. Laju Pertumbuhan

Waktu Pengamatan Kepadatan

(Hari ke-)

0 0,825

4 1,72

8 0,715

12 0,349

16 0,330

Total 3,939

Rata-rata 0,788
4.1.5 Kualitas Air

Tabel 5. Kualitas Air

Parameter Hari ke-0 Hari ke-8 Hari ke-16

Suhu 29oC 29,0 oC 29,2 oC

pH 7 6,52 6,55

DO 1,31 1,64

4.2 Pembahasan

4.2.1 Jumlah Individu per 100 mL

Jumlah Individu per 100 mL


2500 2360

2000

1500

1000 740
480
500
160
0
0
Hari ke-0 Hari ke-4 Hari ke-8 Hari ke-12 Hari ke-16

Berdasarkan hasil perhitungan kepadatan Moina sp. dengan menggunakan

konversi individu per 100 ml di peroleh hasil pada pengamatan pertama yaitu

pada hari ke-0 2,4 individu, pengamatan kedua pada hari ke-4 yaitu 2360

individu, pengamatan ketiga pada hari ke-8 yaitu 740 individu, pengamatan

keempat pada hari ke-12 yaitu 160 individu, dan pengamatan kelima pada hari ke-

16 yaitu 480 individu.


4.2.2 Jumlah Individu per 1 L

Jumlah Individu per 1 L


25000 23600

20000

15000

10000 7400
4800
5000 1600
0
0
Hari ke-0 Hari ke-4 Hari ke-8 hari ke-12 Hari ke-16

Berdasarkan hasil perhitungan kepadatan Moina sp. dengan menggunakan

konversi individu per 1 liter di peroleh hasil tertinggi yaitu pada pengamatan

kedua dengan jumlah 23600 individu, selanjutnya diikuti oleh pengamatan ketiga

dengan jumlah 7400 individu, pengamatan kelima dengan jumlah 4800 individu,

pengamatan keempat dengan jumlah 1600 individu, dan pengamatan pertama

yaitu 24,26 individu.

4.2.3 Jumlah Individu per 34 L

Jumlah Individu per 34 L


900000
802400
800000
700000
600000
500000
400000
300000 251600
200000 163200

100000 54400
825
0
Hari ke-0 Hari ke-4 Hari ke-8 Hari ke-12
Pengamatan hasil kepadatan Moina sp yang dikonversi ke dalam 34 liter

air diperoleh kepadatan tertinggi yaitu pada pengamatan kedua pada hari ke-4

yaitu 802.400 individu, kemudian diikuti pada pengamatan ketiga yaitu pada hari

ke-8 yaitu 251.600 individu, pengamatan kelima pada hari ke-16 yaitu 163.200

individu, pengamatan keempat pada hari ke-12 yaitu 54.400 individu, dan

pengamatan pertama yaitu 825 individu.

4.2.4 Laju Pertumbuhan

Laju Pertumbuhan
2
1.72
1.5

1
0.825
0.715
0.5
0.349 0.33
0
Hari ke-0 Hari ke-4 Hari ke-8 Hari ke-12 Hari ke-16

Berdasarkan hasil pengamatan laju pertumbuhan Moina sp. diperoleh pada

hari ke-0 yaitu 0,825, pada hari ke-4 1,72, pada hari ke-8 yaitu 0,715, pada hari

ke-12 yaitu 0,349 dan pada hari ke-16 yaitu 0,330. Dimana laju pertumbuhan

tertinggi terdapat pada hari ke-4, di ikuti pada pengamatan ketiga yaitu pada hari

ke-8, pengamatan keempat pada yaitu hari ke-12, pengamatan kelima yaitupada

hari ke-16, dan pengamatan pertama pada hari ke-0, dengan rata-rata laju

pertumbuhan Moina sp yang diperoleh yaitu 0,788.


4.2.5 Kualitas Air

Pada kultur Moina sp pengukuran kualitas air pada media kultur hanya

dilakukan 3 kali pengukuran yaitu pada hari ke-0 dengan suhu 29oC, pH 7, dan

DO, pada hari ke-8 dengan suhu 29,0oC, pH 6,52, dan DO 1,36 mg/l, sedangkan

pada hari ke-16 diperoleh suhu 29,2oC, pH 6,55 dan DO 1,64 mg/l.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kultur Moina sp dengan menggunakan kotoran ayam pedanging dengan

dosis 1,5 gram menunjukan hasil kepadatan tertinggi yaitu pada pengamatan

kedua pada hari ke-4 yaitu mencapai 802.400 ind /34 liter, kemudian diikuti

pengamatan ketiga pada hari ke-8 yaitu 251.600 ind/34 liter, pengamatan kelima

pada hari ke-16 yaitu 163.200 ind/34 liter, pengamatan keempat pada hari ke-12

yaitu 54.400 ind/34 liter, dan pengamatan pertama yaitu 825 ind/34 liter.

5.2 Saran

Dalam pengukuran kualitas air media kultur, sebaiknya dilakukan setiap

kali mengadakan pengamatan pada saat penghitungan kepadatan, agar dapat

diketahui penyebab dari menurunnya tingkat kepadatan organisme yang dikultur.


DAFTAR PUSTAKA

Ansaka, D. 2002. Pemanfaatan ampas sagu metroxylan sagu rottb dan eceng
gondok eihhornia crassipes dalam kultur dapnia sp. Fakultas perikanan dan
ilmu kelautan. Institut pertanian bogor. Bogor

Bangulu, A. B. (2014). Tingkat Kepadatan Moina Sp Dengan Pengaruh


Pemberian Dosis Pupuk Kandang Yang Berbeda Di Balai Benih Ikan Kota
Gorontalo (Doctoral dissertation, Universitas Negeri Gorontalo).

Effendi, H. 2003. Telaah kualitas air bagi pengelolaan sumber daya dan
liungkungan perairan. Yogyakarta: Kanisius

Fogg, G. E. 1975. Algae Culture and Phytoplankton Ecology. Second Edition.


Maddison: University of Winconsin Press. p: 19.

Johan,I dan Rosyadi. 2002. Uji Penggunaan Bokashi Pupuk Kandang Terhadap
Perkembanganbiakan Moina sp di Desa Pulau Gadang Kampar. Hasil
Penelitian. Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau.Pekanbaru. 33 hal
(tidak diterbitkan)

Mudjiman, A. 2008. Makanan Ikan Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta. 192
hal

Nontji, A. Dr., 2005. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.

Priyambodo, K dan Wahyuningsih, T. 2002.Budi daya Pakan Alami untuk Ikan.


Penebar Swadaya. Jakarta. 63 hal

Romimohtarto, K. dan S. Juwana. 2001. Biologi Laut: Ilmu pengetahuan tentang


biota laut. Puslitbang Oseanologi Lipi. Jakarta. 527 h.