Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI VETERINER II
UJI HI
-----------------------------------------------------------------------------

Nama : Aditya Fernando


NIM : 155130101111080
Kelas : 2015/D
Kelompok :8
Asisten : Bayu Wira Jaya

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN IMUNOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Tujuan
Uji hambatan hemaglutinasi digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi
spesifik. Uji ini dapat juga digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap
ND, EDS, IB dan Avian Influenza.

1.2.Prinsip
Antibodi spesifik yang ditambahkan dapat menghambat virus
mengaglutinasi eritrosit sehingga tidak terjadi aglutinasi.

1.3.Alat dan Bahan


 Microplate berbentuk U
 Mikropipet
 Yellow tip
 Plastic wrap
 PBS Steril
 Antigen Avian Influenza (AI)
 Eritrosit ayam 0.5%
 Serum Avian Influenza (AI)

1.4.Langkah Kerja

PBS steril

Dimasukkan 25µl kedalam sumuran 1-12

Dimasukkan 25µl serum AI kedalam sumuran 1 dan dilakukan


pengenceran berseri hingga sumuran 11, diambil 25µl dari
sumuran 11 kamudian dibuang, sumuran 12 sebagai kontrol negatif

Dimasukkan 25µl antigen AI ke semua sumuran


Digoyangkan mikroplet membentuk angka 8 dan di inkubasi pada
suhu ruang selama 30 menit

Ditambahkan 25µl eritrosit ke semua sumuran

Digoyangkan mikroplet membentuk angka 8 dan di inkubasi pada


suhu ruang selama 30 menit

Dibaca titer HI

Hasil
BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1. Hasil

Perhitungan Antigen standar 4HAU

4HA Unit = 28 = 256


256
HAU = 4

HAU = 64

PBS = 25 μl x 12 x 40 = 12.000 μl
12.000μl
= 187,5 ≈ 188 μl
64

PBS = 12.000 μl – 188 μl

= 11. 812 μl

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Setelah dilakukan uji HI, hasil yang didapatkan yaitu titer antibodi HI test
adalah 210. Sumuran 1 sampai sumuran 10 tidak terjadi aglutinasi sedangkan
sumuran 11 dan 12 terjadi aglutinasi.
2.2. Pembahasan

2.2.1. Analisa prosedur

a. Prosedur HI Test

Pertama dimasukkan 0,025 ml PBS kedalam semua sumuran mikroplate.


Selanjutnya dimasukkan 0,025 ml antibodi hasil produksi kedalam sumuran
pertama kemudian dihomogenkan, selanjutnya dilakukan pengenceran berseri
dengan cara memindahkan 0,025 ml larutan dari sumuran pertama kedalam
sumuran kedua dan seterusnya hingga sumuran 11, pada sumuran 11 diambil
0,025 ml dan dibuang. Dimasukkan antigen standar kedalam semua sumuran
sebanyak 0,025ml, lalu diinkubasi pada suhu kamar selama 30 menit. Kemudian
ditambahkan 0,025 ml suspensi sel darah merah (eritrosit) 0,5% kedalam semua
sumuran, setelah itu dikocok perlahan membentuk angka ‘8’ dan didiamkan
selama 40 menit pada suhu ruangan. Terakhir dibaca titer HI dengan cara
memiringkan plat, yaitu dengan melihat pengenceran keberapa yang merupakan
pengenceran tertinggi yang menyebabkan hambatan aglutinasi. (Angi dkk, 2009)

b. Pembuatan Antigen Standar 4 HAU

Pembuatan antigen standar 4 HAU dilakukan dengan cara menghitung


antigen yang didapatkan dari uji HA yang telah dilakukan. Misalnya jika titer
antigen uji HA yang didapat adalah 25, dimana 25=32, maka terdapat 32 HAU/25
µl. Untuk mendapatkan titer antigen standar 4HAU, maka dilakukan pengenceran
dengan mengunakan PBS. Jika titer antigen adalah 32 maka untuk menjadikan
4HAU, titer antigen yang jumlahnya 32 dibagi 4 dan haslnya 8 (25 : 22 = 23 = 8).
Jadi untuk mendapatkan antigen standar 4HAU, 1 bagian antigen diencerkan
dengan 8 bagian PBS ( 1 ml antigen + 8 ml PBS). (Janovie dkk, 2014)

c. Prosedur Retritasi 4 HAU

Proses retitrasi atau Back Titration adalah proses yang bertujuan untuk
memastikan bahwa antigen yang sudah diencerkan adalah 4 HAU.prosedurnya
hampir sama dengan prosedur HA test, yang membedakan adalah penggunaan
allantois diganti dengan menggunakan antigen 4 HAU. Pertama dimasukkan
sebanyak 25µl larutan PBS kedalam sumuran 1-12. Kemudian dimasukkan 25µl
antigen standar 4 HAU kedalam sumuran 1 lalu dihomogenkan, dilakukan
pengenceran berseri dengan mengambil 25µl dari sumuran 1 ke sumuran 2,
seterusnya sampai sumuran 11, kemudian dari sumuran 11 diambil 25µl dan
dibuang. Setelah itu ditambahkan 50µl eritrosit ayam kedalam semua sumuran
dan dihomogenkan dengan cara menggoyang mikroplate dengan gerakan
membentuk angka ‘8’ lalu diinkubasi pada suhu ruangan selama 30 menit.
Terakhir dibaca titer antigen, apabila titer yang didapatkan adalah 22 maka antigen
yang telah diencerkan adalah benar 4 HAU (Haryanto dkk, 2012)

2.2.2. Analisa Hasil

a. Interpretasi HI Test

Setelah dilakukan uji dan diinkubasi selama kurang lebih 30 menit, hasil
HI test dapat dibaca dengan melihat aglutinasi yang terjadi pada sumuran
mikroplate. Hasil dikatakan positif apabila aglutinasi hanya terjadi pada sumuran
12 yang merupakan kontrol negatif, dan hambatan aglutinasi terjadi pada sumuran
yang berisi serum yang diuji (tidak terjadi aglutinasi). Serum uji yang mengalami
hambatan aglutinasi lebih besar dari 4 HAU (sumuran ke-2) dapat dinyatakan
positif memiliki antibodi yang memadai. Sedangkan hasil negatif apabila
hambatan aglutinasi yang terjadi lebih kecil dari atau sama dengan 4 HAU
(sumuran ke-2). (Hewajuli dan Dharmayanti, 2008)

b. Fungsi Uji HI

Uji Hi bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap


antigen tertentu seperti antigen AI, ND, EDS dan IB. Selain itu uji HI juga dapat
digunakan untuk mengetahui titer antibodi yang diperoleh dari serum yang diuji.
(Angi dkk, 2009)

2.2.3. Tambahan

a. Faktor yang Mempengaruhi HI Test

Ada banyak faktor yang mempengaruhi HI test, diantaranya adalah adanya


kontaminasi pada bahan atau alat yang digunakan, adanya inhibitor pada ekstrak
jaringan, adanya kelainan pada eritrosit yang diuji, adanya toksin bakteri, tidak
sesuainya eritrosit yang diuji dengan serum yang digunakan, konsentrasi bahan
yang digunakan tidak sesuai dengan prosedur dan kesalahan dalam pelaksanaan
prosedur. (Yudhie, 2009)

b. Penyakit yang Dapat Diuji Dengan HI Test

Penyakit yang dapat diuji dengan HI test adalah penyakit yang disebabkan
oleh virus atau bakteri yang dapat mengaglutinasi sel darah merah. Biasanya HI
test digunakan pada penyakit yang disebabkan oleh virus yang memiliki protein
hemaglutinin, misalnya adalah Avian Influenza, Newcastle Disease, Infectoius
Bronchitis dan lain sebagainya

Penyakit Avian influenza atau yang biasa disebut flu burung adalah
penyakit yang disebabkan oleh virus famili Orthomyxoviridae. Penyakit ini dapat
menyerang unggas, babi bahkan manusia. Virus famili Orthomyxoviridae ini
memiliki protein hemaglutinin yang dapat mengikat sel darah merah dan
menyebabkan aglutinasi. Oleh karena itu penyakit ini dapat diuji dengan
menggunakan HI test. (Angi dkk, 2009)

Penyakit Newcastle Disease atau yang biasa disebut tetelo adalah penyakit
pada unggas yang disebabkan oleh Avian Paramyxovirus tipe 1. Virus ini
merupakan virus RNA yang memiliki aktivitas biologis yang dapat
mengaglutinasi sel darah merah. Gejala dari penyakit ND adalah adanya gangguan
pencernaan, pernafasan dan syaraf. (Wibowo dkk, 2013)

Infectious Brinchitis adalah penyakit pernafasan yang menyerang unggas.


Penyakit ini disebabkan oleh virus Coronavirus yang tergolong famili
Coronaviridae. Coronavirus memiliki protein yang dapat memicu antibodi
netralisasi dan hambatan hemaglutinasi. (Pudjiatmoko dkk, 2014)
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Uji Hambatan Hemaglutinasi atau uji Haemaglutination Inhibition (HI)


adalah uji yang dilakukan untuk mendeteksi adanya antbodi spesifik terhadap
antigen AI, ND, EDS dan IB. Uji ini juga dapat digunakan untuk mengetahui titer
antibodi. Pada praktikum kali ini setelah dilaksanakan uji HI, hasil yang didapat
yaitu titer antibodi adalah 210. Hal ini menunjukkan bahwa uji HI yang dilakukan
pada praktikum kali ini memiliki hasil positif karena hambatan agluntinasi terjadi
melebihi pada sumuran ke-2.

3.2. Saran

Pada praktikum kali ini diharapkan bagi setiap praktikan untuk lebih
memahami prosedur kerja yang dilaksanakan, sehingga memperkecil
kemungkinan terjadinya kesalahan dan mendapatkan hasil yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA

Angi, Andrijanto H. dkk. 2009. Kemampuan Netralisasi Antibodi Spesifik Avian


Influenza H5 Terhadap Beberapa Virus H5N1 Isolat Lapang. Forum
Pascasarjana Vol. 32 No. 1

Haryanto, Aris dkk. 2012. Diagnosis Molekuler Virus Flu Burung-A Subtipe H5
Berdasarkan Amplifikasi Gen M dan H5 dengan Metode Onestep
Simplex RT-PCR. Jurnal Veteriner Vol. 13 No. 2

Hewajuli, Dyah Ayu dan N. L. P. I Dharmayanti. 2008. Karakterisasi dan


Identifikasi Virus Avian Influaenza (AI). Bogor : Balai Besar Penelitian
Veteriner

Janovie, Arria dkk. 2014. Uji Efektivitas Vaksin Flu Burung Subtipe H5N1 pada
Ayam Kampung di Legok, Tangerang, Banten. Jakarta : Universitas
Negeri Jakarta

Pudjiatmoko dkk. 2014. Manual Penyakit Unggas. Jakarta : Subdit Pengamatan


Penyakit Hewan

Wibowo, Sarwo Edy dkk. 2013. Perbandingan Tingkat Proteksi Program


Vaksinasi Newcastle Disease pada Broiler. Yogyakarta : Universitas
Gadjah Mada

Yudhie, Purwandhaya. 2009. Inokulasi Virus Pada Telur Ayam Berembrio, Uji
Presipitasi Agar, Serta Uji Ha-Hi Cepat Dan Uji Ha-Hi Lambat.
Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada