Anda di halaman 1dari 9

ISSN:2339 -0042 (p)

SHARE: SOCIAL WORK JURNAL VOLUME: 6 NOMOR: 2 HALAMAN: 154 - 272


ISSN: 2528-1577 (e)

SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs)


DAN PENGENTASAN KEMISKINAN

OLEH:
ISHARTONO & SANTOSO TRI RAHARJO2
1

1 Mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial Pasca Sarjana—Universitas Padjadjaran


2 Staf Pengajar Pada Departemen Kesejahteraan Sosial—Universitas Padjadjaran

(ishartono@unpad.ac.id; santoso.tri.raharjo@unpad.ac.id)

ABSTRAK
Isu kemiskinan tetap menjadi isu penting bagi negara-negara berkembang, demikian pula dengan
Indonesia. Penanganan persoalan kemiskinan harus dimengerti dan dipahami sebagai persoalan
dunia, sehingga harus ditangani dalam konteks global pula. Sehingga setiap program penanganan
kemiskinan harus dipahami secara menyeluruh dan saling interdependen dengan beberapa program
kegiatan lainnya. Dalam SDGs dinyatakan no poverty (tanpa kemiskinan) sebagai poin pertama
prioritas. Hal ini berarti dunia bersepakat untuk meniadakan kemiskinan dalam bentuk apapun di
seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali Indonesia. Pengentasan kemiskinan akan sangat terkait dengan
tujuan global lainnya, yaitu lainnya, dunia tanpa kelaparan, kesehatan yang baik dan kesejahteraan,
pendidikan berkualitas, kesetaraan jender, air bersih dan sanitasi, energy bersih dan terjangkau; dan
seterusnya hingga pentingnya kemitraan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

PENDAHULUAN masalah besar dunia yang harus ditanggulangi


Sampai dengan akhir abad 20 bersama.
kemiskinan masih menjadi beban dunia. Dengan berakhirnya era MDGs yang
Nampaknya isu kemiskinan akan terus menjadi berhasil mengurangi penduduk miskin dunia
persoalan yang tidak akan pernah hilang di hampir setengahnya. Selanjutnya saat ini
dunia ini. Dunia meresponnya dengan memasuki era SDGs (sustainable development
menyepakati suatu pertemuan pada September goals), yang dimulai dengan pertemuan yang

2000 yang diikuti oleh 189 negara dengan dilaksanakan pada tanggal 25-27 September
2015 di markas besar PBB (Perserikatan
mengeluarkan deklarasi yang dikenal dengan
Bangsa-Bangsa), New York, Amerika Serikat.
The Millenium Development Goals (MDG’s).
Acara tersebut merupakan kegiatan seremoni
Salah satu targetnya adalah mengurangi
pengesahan dokumen SDGs (Sustainable
jumlah penduduk miskin hingga 50% pada Development Goals) yang dihadiri perwakilan
tahun 2015. Deklarasi ini memberikan indikasi dari 193 negara. Seremoni ini merupakan
bahwa masalah kemiskinan masih menjadi lanjutan dari kesepakatan dokumen SDGs

159
ISSN:2339 -0042 (p)
SHARE: SOCIAL WORK JURNAL VOLUME: 6 NOMOR: 2 HALAMAN: 154 - 272
ISSN: 2528-1577 (e)

yang terjadi pada tanggal 2 Agustus 2015 yang Kemiskinan telah membentuk Tim Nasional
juga berlokasi di New York. Saat itu sebanyak Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
193 negara anggota PBB mengadopsi secara (TNP2K). Tim ini diketuai langsung oleh
aklamasi dokumen berjudul ”Transforming Wakil Presiden. Upaya nasional ini
Our World: The 2030 Agenda for Sustainable menunjukkan bahwa kemiskinan masih
Development” atau ”Mengalihrupakan Dunia menjadi masalah yang serius. Bahkan
Kita: Agenda Tahun 2030 untuk Pembangunan
pemerintah pusat telah merealisasikan
Berkelanjutan”. Dokumen SDGs pun
penyaluran dana desa tahap pertama kepada
dicetuskan untuk meneruskan dan
pemerintah desa, sekitar 47 triliyun. Dana desa
memantapkan capaian-capaian MDGs
sebelumnya agar langgeng dan berlanjut tersebut telah disalurkan oleh Kementerian
seterusnya. Keuangan (Kemenkeu). Setelah disalurkan,
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa
Kemiskinan PDTT) bertugas mengawal prioritas
Bagi Indonesia sendiri, kemiskinan penggunaan dana desaagar sesuai dengan
masih merupakan persoalan yang menjadi Peraturan Menteri yang telah ditetapkan.
beban berat, terutama dikaitkan dengan isui Berdasarkan Peraturan Menteri Desa,
kesenjangan yang semakin melebar antara si Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
kaya dan si miskin. Sebagai bagian dari Transmigrasi Nomor 21 Tahun 2015 tentang
anggota PBB Indonesia tentunya berkomitmen Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa,
untuk mengatasi persoalan seiring dengan dana desa di tahun 2016 ini digunakan untuk
deklarasi SDGs. Itu artinya Indonesia juga membiayai pelaksanaan program dan kegiatan
dituntut untuk mewujudkan target-target yang berskala lokal desa bidang Pembangunan Desa
ditetapkan dalam deklarasi PBB tersebut. dan Pemberdayaan Masyarakat Desa. 1
Upaya pemerintah untuk mengatasi
Seberapa berat masalah kemiskinan
kemiskinan secara integratif sebetulnya sudah
ini membebani dunia? Angka-angka statistik
dilakukan sejak tahun 1995, yaitu dengan
berikut memberikan gambaran beratnya dunia
dikeluarkannya Inpres Desa Tertinggal.
memikul beban masalah.
Pemerintah melalui Peraturan Presiden
Republik Indonesia nomor 15 tahun 2010 “Pada akhir abad 20 kurang lebih
sebanyak 2,8 milyar penduduk
tentang Percepatan Penanggulangan penduduk yang hidup dengan

1
http://www.bappenas.go.id/id/berita-dan-siaran-
pers/sektor-infrastruktur-prioritas-penggunaan-dana-
desa-2016/

160
ISSN:2339 -0042 (p)
SHARE: SOCIAL WORK JURNAL VOLUME: 6 NOMOR: 2 HALAMAN: 154 - 272
ISSN: 2528-1577 (e)

penghasilan di bawah $2 per hari atau Bagi Indonesia sendiri kemiskinan juga
1,2 milyar pend$1,25 per hari. World
masih menjadi masalah serius. Meskipun
Bank sendiri memperkirakan pada
tahun 2005 penduduk miskin ini secara statistik jumlah penduduk miskin di
sebesar 1,3 milyar yang 95% tersebar
Indonesia menunjukkan kecenderungan
di 119 negara sedang berkembang.
Melalui program dalam rangka menurun, kecuali pada tahun 2006. namun
mencapai target MDG’s jumlah
secara absolute jumlah penduduk miskin di
penduduk miskin ini berkurang
menjadi 900 juta pada tahun 2010 . Indonesia masih sangat besar. Pada tahun 2000
Jika target MDG’s tercapai maka
jumlah penduduk miskin di Indonesia
jumlah penduduk dunia akan menjadi
600 juta pada tahun 2015” mencapai 38,74 juta jiwa. Jumlah ini terus
(terjemahan)
menurun hingga pada tahun 2006 penduduk
http://www.onedayswages.org/about
/what-extreme-global-poverty miskin di Indonesia naik menjadi 39,3 juta.
Angka di atas jelas menunjukkan betapa masih
sangat besarnya penduduk dunia ini yang
masih hidup dalam kemiskinan.

Gambar 1. Jumlah Penduduk Miskin Indonesia Tahun 1970-2013 (Juta)

45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Sumber : BPS, 2015 (diolah)

hingga tahun 2013 secara absolut jumlah


Pada tahun 2000 jumlah penduduk
penduduk miskin di Indonesia masih sangat
miskin di Indonesia sebesar 38,74 juta jiwa.
besar (28,55 juta jiwa) (Gambar 1.). Pada
Meskipun jumlah penduduk miskin
gambar ini terlihat bahwa pada tahun 2006
menunjukkan kecenderungan menurun, namun
jumlah penduduk miskin sempat naik hingga

161
ISSN:2339 -0042 (p)
SHARE: SOCIAL WORK JURNAL VOLUME: 6 NOMOR: 2 HALAMAN: 154 - 272
ISSN: 2528-1577 (e)

mencapai 39,3 juta jiwa, kemudian kembali mewariskan generasi yang menjadi
menunjukkan kecenderungan menurun. penyandang masalah sosial, bahkan menjadi
Kecenderungan kembali menurun pada tahun- sumber masalah sosial. Itulah sebabnya
tahun berikutnya. kemiskinan pada akhirnya akan menjadi beban
negara dan masyarakat hingga saat ini. Itu
Dari grafik di atas terlihat bahwa
pulalah sebabnya kajian terhadap masalah
jumlah penduduk miskin di Indonesia
kemiskinan masih sangat aktual untuk
cenderung menurun. Penurunan ini jelas tidak
dilakukan. Kajian-kajian tentang kemiskinan
lepas dari berbagai upaya yang telah dilakukan
masih sangat signifikan untuk dilakukan.
pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan.
Kajian dalam tesis inipun terkait dengan
Meskipun demikian, pada tahun 2005-2006
kemiskinan.
jumlah penduduk miskin sempat mengalami
kenaikan. Kenaikan jumlah penduduk miskin Kemiskinan adalah persoalan
pada tahun itu diduga erat kaitannya dengan kemanusiaan. Dari dimensi ini adanya
penurunan subsidi BBM, yang berimbas pada kemiskinan membawa konsekuensi adanya
kenaikan harga berbagai komoditas. Di sisi tanggung jawab moral bagi setiap orang untuk
lain daya beli masyarakat justru mengalami memperhatikan kehidupan orang yang hidup
penurunan. Situasi ini berimbas pada jumlah dalam kemiskinan. Kemiskinan adalah juga
penduduk miskin. merupakan pelanggaran terhadap Hak-Hak
Asasi Manusia. “…human rights become a
Angka statistik memang dapat
constitutive element of development and
menggambarkan berat ringannya masalah
human rights violations become both a cause
kemiskinan ini. namun di balik angka statistik
and symptom of poverty” (Tammie O’Nei,
ini kemiskinan pada dasarnya
2006,p-7). Hak-hak asasi manusia yang
mengindikasikan adanya permasalahan yang
melekat pada diri orang manusia tidak dapat
lebih mendasar. Kemiskinan mengindikasikan
dikurangi, apalagi dicabut.2 Dari perspektif
adanya ketidakmampuan orang untuk
ini masalah kemiskinan tidak cukup hanya
memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar yang
dilihat dari angka-angka statistik saja. Besar
pada akhirnya membawa dampak ke berbagai
kecilnya masalah kemiskinan tidak dapat
permasalahan. Kemiskinan akan mewariskan
hanya dilihat dari persoalan angka statistik.
generasi yang kekurangan gizi, rentan terhadap
Sekecil apapun angka statistk, di dalamnya
penyakit, serta tidak mampu menikmati
terdapat persoalan manusia yang terancam
pendidikan. Pada akhirnya kemiskinan akan

2http://ifsw.org/policies/poverty-eradication-and-the-
role-for-social-workers

162
ISSN:2339 -0042 (p)
SHARE: SOCIAL WORK JURNAL VOLUME: 6 NOMOR: 2 HALAMAN: 154 - 272
ISSN: 2528-1577 (e)

hidupnya. Ada manusia yang hak-hak Dari MDGs ke Sustainable Development


asasinya dilanggar. Jika kemiskinan itu terjadi Goals (SDGs)
dalam keluarga, disitu ada anak-anak yang
mungkin akan menghadapi masalah sampai Konsep SDGs itu sendiri lahir pada kegiatan
Koferensi mengenai Pembangunan
tahap kelaparan, kekurangan gizi, hingga
Berkelanjutan yang dilaksanakan oleh PBB di
kesehatannya bahkan jiwanya terancam.
Rio de Jainero tahun 2012. Tujuan yang ingin
Disitu ada anak-anak yang tidak mampu
dihasilkan dalam pertemuan tersebut adalah
menikmati pendidikan, yang sebetulnya memperoleh tujuan bersama yang universal
merupakan haknya. Disitu pula ada yang mampu memelihara keseimbangan tiga
pelanggaran hak-hak asasi manusia jika dimensi pembangunan berkelanjutan:
orang-orang di sekitarnya, masyarakatnya, lingkungan, sosial dan ekonomi.
apalagi jika negara membiarkan itu semua
Dalam menjaga keseimbangan tiga
terjadi. Dari perspektif hak asasi manusia,
dimensi pembangunan tersebut, maka SDGs
adanya kemiskinan adalah tanggung jawab
memiliki 5 pondasi utama yaitu manusia,
lingkungan, baik dari dalam hal penyebab planet, kesejahteraan, perdamaian, dan
maupun solusinya. Oleh karena itulah kemitraan yang ingin mencapai tiga tujuan
berbagai kajian maupun upaya mulia di tahun 2030 berupa mengakhiri
penanggulangan kemiskinan tidak hanya kemiskinan, mencapai kesetaraan dan
masih aktual, tetapi juga masih sangat mengatasi perubahan iklim. Kemiskinan masih
dibutuhkan. menjadi isu penting dan utama, selain dua
capaian lainnya. Untuk mencapai tiga tujuan
mulia tersebut, disusunlah 17 Tujuan Global
berikut ini.

Gambar : Simbol 17 Tujuan Global SDGs

163
ISSN:2339 -0042 (p)
SHARE: SOCIAL WORK JURNAL VOLUME: 6 NOMOR: 2 HALAMAN: 154 - 272
ISSN: 2528-1577 (e)

Ke-17 (tujuh belas) Tujuan Global (Global berkelanjutan dan modern untuk semua
Goals) dari SDGs tesebut yaitu: orang.
1) Tanpa Kemiskinan. Tidak ada 8) Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan
kemiskinan dalam bentuk apapun di yang Layak. Mendukung
seluruh penjuru dunia. perkembangan ekonomi yang
2) Tanpa Kelaparan. Tidak ada lagi berkelanjutan dan inklusif, lapangan
kelaparan, mencapai ketahanan kerja yang penuh dan produktif, serta
pangan, perbaikan nutrisi, serta pekerjaan yang layak untuk semua
mendorong budidaya pertanian yang orang.
berkelanjutan. 9) Industri, Inovasi dan Infrastruktur.
3) Kesehatan yang Baik dan Membangun infrastruktur yang
Kesejahteraan. Menjamin kehidupan berkualitas, mendorong peningkatan
yang sehat serta mendorong industri yang inklusif dan
kesejahteraan hidup untuk seluruh berkelanjutan serta mendorong inovasi.
masyarakat di segala umur. 10) Mengurangi Kesenjangan. Mengurangi
4) Pendidikan Berkualitas. Menjamin ketidaksetaraan baik di dalam sebuah
pemerataan pendidikan yang negara maupun di antara negara-negara
berkualitas dan meningkatkan di dunia.
kesempatan belajar untuk semua orang, 11) Keberlanjutan Kota dan Komunitas.
menjamin pendidikan yang inklusif Membangun kota-kota serta
dan berkeadilan serta mendorong pemukiman yang inklusif, berkualitas,
kesempatan belajar seumur hidup bagi aman, berketahanan dan bekelanjutan.
semua orang. 12) Konsumsi dan Produksi Bertanggung
5) Kesetaraan Gender. Mencapai Jawab. Menjamin keberlangsungan
kesetaraan gender dan memberdayakan konsumsi dan pola produksi.
kaum ibu dan perempuan. 13) Aksi Terhadap Iklim. Bertindak cepat
6) Air Bersih dan Sanitasi. Menjamin untuk memerangi perubahan iklim dan
ketersediaan air bersih dan sanitasi dampaknya.
yang berkelanjutan untuk semua orang. 14) Kehidupan Bawah Laut. Melestarikan
7) Energi Bersih dan Terjangkau. dan menjaga keberlangsungan laut dan
Menjamin akses terhadap sumber kehidupan sumber daya laut untuk
energi yang terjangkau, terpercaya, perkembangan pembangunan yang
berkelanjutan.

164
ISSN:2339 -0042 (p)
SHARE: SOCIAL WORK JURNAL VOLUME: 6 NOMOR: 2 HALAMAN: 154 - 272
ISSN: 2528-1577 (e)

15) Kehidupan di Darat. Melindungi, damai, aman, serta menghormati hak asasi
mengembalikan, dan meningkatkan manusia bukan di dunia di mana investasi
keberlangsungan pemakaian ekosistem dalam persenjataan dan perang lebih besar
darat, mengelola hutan secara sehingga menghancurkan sebagian besar
berkelanjutan, mengurangi tanah sumber daya yang telah menjadi komitmen
tandus serta tukar guling tanah, untuk berinvestasi dalam pembangunan
memerangi penggurunan, berkelanjutan.
menghentikan dan memulihkan Terdapat 7 (tujuh) alasan mengapa SDGs akan
degradasi tanah, serta menghentikan lebih baik dari MDGs, yakni:3
kerugian keanekaragaman hayati. 1) SDGs lebih global dalam
16) Institusi Peradilan yang Kuat dan mengkolaborasikan program-
Kedamaian. Meningkatkan programnya. MDGs sebelumnya
perdamaian termasuk masyarakat dibuat oleh anggota negara The
untuk pembangunan berkelanjutan, Organization for Economic
menyediakan akses untuk keadilan Cooperation and Developmen (OECD)
bagi semua orang termasuk lembaga dan beberapa lembaga internasional.
dan bertanggung jawab untuk seluruh Sementara SDGs dibuat secara detail
kalangan, serta membangun institusi dengan negosiasi internasional yang
yang efektif, akuntabel, dan inklusif di juga terdiri dari negara berpendapatan
seluruh tingkatan. menengah dan rendah.
17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. 2) Sekarang, sektor swasta juga akan
Memperkuat implementasi dan memiliki peran yang sama, bahkan
menghidupkan kembali kemitraan lebih besar.
global untuk pembangunan yang 3) MDGs tidak memiliki standar dasar
berkelanjutan. hak asasi manusia (HAM). MDGs
dianggap gagal untuk memberikan
Menyikapi 17 Tujuan Global tersebut,
prioritas keadilan yang merata dalam
Presiden Majelis Umum PBB menegaskan
bentuk-bentuk diskriminasi dan
bahwa ambisi dari negara-negara anggota PBB
pelanggaran HAM, yang akhirnya
tersebut hanya akan tercapai jika dunia telah
berujung kepada masih banyaknya

3
Markus Sembiring,S.Pi.,M.I.L Penyuluh Perikanan
Muda, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten
Langkat http://www.pusluh.kkp.go.id/

165
ISSN:2339 -0042 (p)
SHARE: SOCIAL WORK JURNAL VOLUME: 6 NOMOR: 2 HALAMAN: 154 - 272
ISSN: 2528-1577 (e)

orang yang terjebak dalam kemiskinan. dikatakan lahir dari masalah kemiskinan.
Sementara SDGs dinilai sudah
Profesi ini bahkan menempatkan masalah
didukung dengan dasar-dasar dan
kemiskinan sebagai bidang utama yang
prinsip-prinsip HAM yang lebih baik.
4) SDGs adalah program inklusif. Tujuh ditangani Pekerjaan Sosial. Jika sangat
target SDG sangat eksplisit tertuju
menjunjung tinggi prinsip-prinsip Hak-Hak
kepada orang dengan kecacatan, dan
Azasi Manusia, Pekerjaan Sosial harus berada
tambahan enam target untuk situasi
darurat, ada juga tujuh target bersifat di garis depan dalam upaya mengatasi
universal dan dua target ditujukan
kemiskinan. MDGs yang kemudian bergeser
untuk antidiskriminasi.
ke SDGs merupakan tujuan bersama yang
5) Indikator-indikator yang digunakan
memberikan kesempatan untuk memerlukan pengalawan bersama baik vertical
keterlibatan masyarakat sipil.
maupun horizontal.
6) PBB dinilai bisa menginspirasi negara-
negara di dunia dengan SDGs.
7) Conference of the Parties 21 (COP21)
di Paris melahirkan perjanjian global DAFTAR PUSTAKA
perubahan iklim sebagai kerangka Akhmadi, 2006, Studi Keluar dari Kemiskinan
transisi menuju ekonomi dan Kasus di Komunitas RW 4, Dusun
Kiuteta, Desa Noelbaki, Kecamatan
masyarakat rendah karbon dan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang,
memiliki ketahanan terhadap Nusa Tenggara Timur, Lembaga
Penelitian SMERU, Jakarta.
perubahan iklim adalah salah satu
Causes & Effects of Poverty On Society, Children
kesempatan untuk maju. & Violence poverties.org Research for
social & economic development - See
more at:
Penutup http://www.poverties.org/effects-of-
poverty.html#sthash.lFOQKxdi.dpuf
Pekerjaan Sosial mempunyai relevansi Published March 2011 - Updated May
2013:8)
yang sangat kuat dengan masalah kemiskinan.
Francis, Tazoacha, 2001, The Causes and
Sudah berabad-abad profesi ini bergelut dan Impact of Poverty on Sustainable
Development in Africa, A Paper
terlibat dalam penanganan kemiskinan. Secara Presented at The Conference
“Poverty and Sustainable
historis profesi Pekerjaan Sosial boleh Development “ Held In Bordeaux,
France from November 22-23, 2001

166
ISSN:2339 -0042 (p)
SHARE: SOCIAL WORK JURNAL VOLUME: 6 NOMOR: 2 HALAMAN: 154 - 272
ISSN: 2528-1577 (e)

Graeme Stuart, 2012, What is Strengths Maia Green, Representing poverty and
Perspective, Sustaining Cummunity attacking representations: some
anthropological perspectives on
Maia Green, Representing poverty and
poverty in development,
attacking representations: some
anthropological perspectives on Natalie Scerra, 2011, Strength-Based Practice,
poverty in development The Evidence, a Discussion Paper,
Research-Paper July 2011, Uniting
Maryann Roebuck,2007, The Strength-Based
Care Children, Young People, and
Approach : Philosophy and
Families, New South Wales)
Principles for Practice,
Office of the United Nations High
Raharjo, ST. 2016. Asesmen dan Wawancara
Commissioner for Human Rights
dalam Praktik Pekerjaan Sosial dan
Principles and Guidelines for Human
Kesejahteraan Sosial. Unpad Press:
Rights Approach to Poverty
Bandung
Reduction Strategies [online]
Schiller, Bradle R. 1998, The Economics of Available at ,
Poverty sn Discrimination, 7th http://www.ohchr.org/Documents/Pu
edition,Prentice Hall. New Jersey. blications/ PovertyStrategiesen. pdf
The World Bank , 2001, World Development > [Accessed 10 January 2012]
Report 2000/2001, Attacking, © 2001 (Poverty – Social Work Policy
The International Bank for Institute
Reconstruction and Development / http://www.socialworkpolicy.org
The World Bank, 1818 H Street, research/poverty.html 2feb2013)
N.W., Washington, D.C. 20433, Tammie O’Nei, 2006, Human Rights and
U.S.A. Poverty Reduction: Realities,
BPS, 2010, Profil Kemiskinan di Indonesia Controversies and Strategies, An
Maret 2010, Berita Resmi Statistik, ODI Meeting Series (editorial),
BPS, No.45/07/Th. XIII, 1 Juli Overseas Development Institute
2010, Jakarta. 2006.

-----, 2009, Profil Kemiskinan di Indonesia Office of the United Nations High
Maret 2009, Berita Resmi Statistik Commissioner for Human Rights
BPS, No. 43/07/Th. XII, 1 Juli 2009 Principles and Guidelines for Human
, Jakarta. Rights Approach to Poverty
Reduction Strategies , 1991, What
United Nations, 1995, World Summit for Poverty is, http://www.thl.fi/thl-
Social Development, Copenhagen, client/pdfs/b8f78a80-ac1d-49ff-a50a-
Denmark, f6e14fd80dde diunduh 15
www.un.org/documents/ga/conf166 januari2015
/aconf166-9.htm, diunduh
25agustus2015 https://sites.google.com/site/solutionfocuseda
pproach/5-study-materials/2-
--------------------, 2013, The Millennium strengths--based-approach-
Development Goals Report. New definition-history-philisophy-
York, principles-and-practice
Laura Ellis and Elaine Weekse, 2011, Why
Use a Strengths-Dede Approach
Instead of a Deficit-Based
Approach?,
www.mtroyal.ca/cs/groups/public/.../
pdf _why_strengths_not_deficit.pdf

167