Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelainan dalam letak alat-alat genital sudah dikenal sejak 2000 tahun
sebelum masehi. Catatan-catatan yang ditemukan di Mesir mengenai Ratu
Cleopatra, menyatakan prolapsus genitalis merupakan satu ahal yang aib pada
wanita dan menganjurkan pengobatannya dengan penyiraman dengan larutan
Adstringensia. Dalam hal ilmu kedokteran Hindu kuno menurut Chakraberty,
dijumpai keterangan-keterangan mengenai kelainan dalam letak alat genital,
dipakai istilah “Mahati” untuk wanita yang lebar dengan sistokel, rektokel
dan laserasi perineum. Juga di Indonesia sejak zaman dahulu telah lama
dikenal istilah peranakan turun dan peranankan terbalik. Dewasa ini
penentuan letak alat genital bertambah penting artinya bukan saja untuk
menangani keluhankeluhan yang ditimbulkan olehnya, namun juga oleh
karena diagnosis letak yang tepat perlu sekali guna menyelenggarakan
berbagai tindakan pada uterus.

Frekuensi prolapsus genitalia di beberapa negara berlainan, seperti


dilaporkan di klinik d’Gynecologie et Obstetrique Geneva insidensinya 5,7%,
dan pada periode yang sama di Hamburg 5,4%, Roma 6,7%. Dilaporkan di
Mesir, India, dan Jepang kejadiannya tinggi, sedangkan pada orang Negro
Amerika dan Indonesia kurang. Frekuensi prolapsus uteri di Indonesia hanya
1,5% dan lebih sering dijumpai pada wanita yang telah melahirkan, wanita
tua dan wanita dengan pekerja berat. Dari 5.372 kasus ginekologik di Rumah
Sakit Dr. Pirngadi di Medan diperoleh 63 kasus prolapsus uteri terbanyak
pada grande multipara dalam masa menopause dan pada wanita petani, dari
63 kasus tersebut 69% berumur diatas 40 tahun. Jarang sekali prolapsus uteri
dapat ditemukan pada seorang nullipara (Winkjosastro, 2005).

1
2

Dari epidemiologi diatas terjadinya prolaps uteri sangatlah jarang


pada negara Indonesia, salah satu kasus yang kami dapatkan adalah Ny. F
usia 50 tahun, dilakukan operasi Vaginal Histerektomi karena mengalami
prolaps uterus. Selama 5 hari, kebutuhan eliminasi urinnya melalui kateter
urine. Berdasarkan kasus diatas :

a. Tentukan diagnosa keperawatan yang muncul berdasarkan data diatas!


b. Jelaskan tatalaksana bladder training yang harus dilakukan pada Ny. F
sebelum kateter urinnya dilepas.
c. Jelaskan tatalaksana kegel exercise untuk meningkatkan kemampuan
pasien dalam memenuhi kebutuhan eliminasi urinnya berkaitan dengan
riwayat pemasangan kateter yang lama (lampirkan jurnalnya).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja diagnosa keperawatan yang timbul pada Ny. F ?
2. Bagaimana tatalaksana bladder training yang harus dilakukan pada Ny. F ?
3. Bagaimana tatalaksana kegel exercise dalam meningkatkan kemampuan
berkemih Ny. F ?

1.3 Tujuan
1. Diagnosa keperawatan yang timbul pada Ny. F
2. Tatalaksana bladder training yang harus dilakukan Ny. F
3. Tatalaksana kegel exercise dalam meningkatkan kemampuan berkemih
Ny. F
3

BAB II

ISI

2.1 Teori
2.1.1. Definisi
Prolapsus uteri merupakan salah satu bentuk dari turunya
peranakan, yaitu turunnya rahim beserta jaringan penunjangnya
kedalam liang atau rongga vagina. Turunnya peranakan dapat terjadi
karena adanya kelemahan pada otot besar panggul sehingga satu atau
lebih organ didalam panggul turun (Pajario, 2004).
Prolapsus uteri adalah keadaan yang sangat jarang terjadi.
Kebanyakan terjadi pada usia tua dan pada usia muda. Hal ini dapat
disebabkan oleh kelemahan dari otot dan struktur fascia pada usia
yang lebih lanjut (Ifan, 2010)
Uterus adalah satu satunya organ yang berada diatas vagina.
Bila kandung kemih atau usus bergeser maka keduanya akan
mendorong dinding vagina. Meskipun prolapsus bukan satu keadaan
yang bersifat “life threatening”, namun keadaan ini menimbulkan
rasa tak nyaman dan sangat mengganggu kehidupan penderita.
Prolapsus uteri adalah keadaan yang terjadi akibat otot penyangga
uterus menjadi kendor sehingga uterus akan turun atau bergeser
kebawah dan dapat menonjol keluar dari vagina. Dalam keadaan
normal, uterus disangga oleh otot panggul dan ligamentum
penyangga. Bila otot penyangga tersebut menjadi lemah atau
mengalami cedera akan terjadi prolapsus uteri. Pada kasus ringan,
bagian uterus turun ke puncak vagina dan pada kasus yang sangat
berat dapat terjadi protrusi melalui orifisium vaginae dan berada
diluar vagina. Prolapsus uteri sering terjadi bersamaan dengan
urethrocele dan cystocele (urethra dan atau kendung kemih
terdorong keluar dari dinding depan vagina ) dan rectocele (dinding

3
4

rectum terdorong keluar dari dinding belakang vagina) (Bambang,


2010).

2.1.2. Klasifikasi

Desenses uteri Uterus turun, tetapi serviks masih


dalam vagina.
Prolapsus uteri tingkat I Uterus turun, serviks uteri trurun
paling rendah sampai introitus vagina.
Prolapsus uteri tingkat II sebagian besar uterus keluar dari
vagina.
Prolapsus uteri tingkat III uterus keluar seluruhnya dari vagina,
atau prosidensia uteri disertai dengan inversio uteri.

2.1.3. Etiologi

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan prolapsus


antara lain (Hanifa, 2007) :

1) Faktor bawaan
Setengah wanita akan mengalami masalah ini jika dalam
keluarga mereka khususnya ibu, saudara dari ibu, atau nenek
5

mereka mengalami masalah yang sama. Bagaimana penyakit


ini diturunkan tidak diketahui, mungkin bawaan menentukan
kelemahan otot dan ligamen pada peranakan. Kekenduran atau
kelemahan otot ini juga dapat dipengaruhi oleh pola makan
dan kesehatan yang agak rendah dibandingkan dengan mereka
yang sehat dan makanannya seimbang dan tercukupi dari segi
semua zat seperti protein dan vitamin.
2) Exercise
Proses kehamilan dan persalinan memang melemahkan
dan melonggarkan otot dalam badan khususnya ligamen dan
otot yang memegang kemaluan dan rahim. Ini satu hal yang
tidak dapat dihindari tetapi dapat. dipulihkan walaupun tidak
seratus persen jika seorang wanita yang melakukan gerak
tubuh atau exercise untuk menguatkan otot-otot disekitar
kemaluan dan lantai punggung. Kegiatan exercise waktu hamil
dan setelah persalinan sangat penting untuk mencegah
prolapsus. Oleh karena itu tidak melakukan exercise ini
merupakan salah satu yang menyebabkan kekenduran atau
prolapsus uteri.
3) Usia/Menopause
Pada usia 40 tahun fungsi ovarium mulai menurun,
produksi hormon berkurang dan berangsur hilang, yang
berakibat perubahan fisiologik. Menopause terjadi rata-rata
pada usia 50-52 tahun. Hubungan dengan terjadinya prolaps
organ panggul adalah, di kulit terdapat banyak reseptor
estrogen yang dipengaruhi oleh kadar estrogen dan androgen.
Estrogen mempengaruhi kulit dengan meningkatkan sintesis
hidroksiprolin dan prolin sebagai penyusun jaringan kolagen.
Ketika menopause, terjadi penurunan kadar estrogen sehingga
mempengaruhi jaringan kolagen, berkurangnya jaringan
kolagen menyebabkan kelemahan pada otot-otot dasar
6

panggul. Akibat pembedahan karena penyakit seperti


pengangkatan ovari juga dapat menyebabkan hormon atau
seterusnya dapat menyebabkan kelemahan otot dan ligamen
peranakan. Proses atrofi ligamen dan otot dalam jangka
panjang dapat menyebabkan prolaps. Nyata sekali prolaps
yang parah sering terjadi pada wanita yang berumur 60 tahun
keatas akibat kekurangan hormon karena menopause. Semakin
bertambahnya usia, otot-otot dasar panggul pun akan semakin
melemah.
4) Riwayat persalinan multiparitas (banyak anak)
Partus yang berulang dan terlampau sering dapat
menyebabkan kerusakan otot-otot maupun saraf-saraf panggul
sehingga otot besar panggul mengalami kelemahan, bila ini
terjadi maka organ dalam panggul bisa mengalami penurunan.
5) Faktor lain yang dapat menyebabkan rahim turun adalah
peningkatan tekanan di perut menahun. Misalnya disebabkan
obesitas, batuk berbulan-bulan, adanya tumor di rongga perut,
tumor pelvis, serta konstipasi atau susah buang air besar
berkepanjangan

2.1.4. Manifestais Klinis


Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual
kadang kala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup
berat tidak mempunyai keluhan apapun sebaliknya penderita lain
dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan. Keluhan-
keluhan yang hampir selalu dijumpai :
1) Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol
di genetalia eksternal.
7

2) Kadang timbul luka pada rahim yang menonjol tersebut


dikarenakan gesekan celana dalam atau benda yang diduduki
dan dari luka tersebut bisa menimbulkan infeksi.
3) Gejala lainnya, sering timbul keputihan karena luka tersebut
atau karena sumbatan pembuluh darah di daerah mulut rahim,
serta ada keluhan rasa sakit dan pegal pada pinggang. Keluhan
sakit ini akan hilang bila wanita tersebut berbaring
(Praputranto. 2005).
4) Istokel dapat menyebabkan gejala - gejala :
a. Miksi sering dan sedikit-sedikit mula-mula pada siang
hari kemudian lebih berat juga pada malam hari.
b. Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat
dikosongkan seluruhnya.
c. Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing
jika batuk, mengejan, kadang-kadang dapat terjadi
retensio urine pada sistokel yang besar sekali.
5) Retokel dapat menjadi gangguan pada defekasi :
a. Obstipasi karena feses berkumpul dalam rongga retrokel.
b. Baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada
retrokel dan vagina

2.1.5. Patologi
Sebagaimana telah diterangkan prolapsus uteri terdapat
beberapa tingkat, dari yang paling ringan sampai prolapsus uteri
totalis. Terutama akibat persalinan, khususnya persalinan per
vaginam yang susah, dan terdapatnya kelemahan -kelemahan
ligamen-ligamen yang tergolong dalam fasia endopelvik dan otot-
otot fasia dasar panggul. Juga dalam keadaan tekanan intra
abdominal yang meningkat dan kronik akan memudahkan penurunan
uterus, terutamaa apabila tonus otot mengurang seperti pada
penderita dalam menopause. Serviks uteri terletak di luar vagina,
8

akan tergeser oleh pakaian wanita tersebut, dan lambat laun


menimbulkan ulkus, yang dinamakan ulkus dekubitus.
(Wiknjosastro.1999)

2.1.6. Komplikasi
Komplikasi yang dapat menyertai prolapsus uteri, yaitu :
1. Keratinasi mukosa vagina dan portio uteri
2. Dekubitus
3. Hipertropi servik uteri dan elangasio kolli
4. Gangguan miksi dan stress incontinence
5. Infeksi jalan kencing
6. Kemandulan
7. Kesulitan pada waktu partus
8. Hemoroid
9. Inkarserasi usus halus (Hanifa, 2007)

2.1.7. Penatalaksanaan
Pada pengobatan operatif dilakukan operasi pada prolaps uteri
harus dilihat dari beberapa faktor, seperti umur penderita, keinginan
untuk masih mendapat anak atau untuk mempertahankan uterus,
tingkat prolapsus, dan adanya keluhan. Beberapa literatur
melaporkan bahwa dari operasi prolapsus uteri, disertai dengan
perbaikan prolapsus vagina pada waktu yang sama. Macam-macam
operasi untuk prolapsus uteri sebagai berikut:
1) Ventrofikasi
Dilakukan pada wanita yang masih tergolong muda dan
masih menginginkan anak. Cara melakukannya adalah dengan
memendekkan ligamentum rotundum atau mengikat
ligamentum rotundum ke dinding perut atau dengan cara
operasi Purandare (membuat uterus ventrofiksasi).
2) Operasi Manchester
9

Operasi ini disarankan untuk penderita prolapsus yang


masih muda, tetapi biasanya dilakukan amputasi serviks uteri,
dan penjahitan ligamentum kardinale yang telah dipotong, di
depan serviks dilakukan pula kolporafi anterior dan
kolpoperineoplastik. Amputasi serviks dilakukan untuk
memperpendek serviks yang memanjang (elongasio koli).
Tindakan ini dapat menyebabkan infertilitas, partus
prematurus, abortus.
Bagian yang penting dari operasi Manchester ialah
penjahitan ligamentum kardinale di depan serviks karena
dengan tindakan ini ligamentum kardinale diperpendek,
sehingga uterus akan terletak dalam posisi anteversifleksi, dan
turunnya uterus dapat dicegah.
3) Histerektomi Vaginal
Histerektomi Vaginal adalah pengangkatan rahim
melalui sayatan vagina. Hanya meliputi pengangkatan rahim
atau histerektomi sebagian, dan tidak meninggalkan bekas
luka. Infeksi lebih sering terjadi setelah prosedur tertentu,
seperti histerektomi vaginal, vulvektomi atau histerektomi
abdominal setelah konisasi serviks. (Imam masjidi, 2008).
Operasi ini tepat dilakukan pada prolapsus uteri tingkat lanjut
(derajat III dan IV) dengan gejala pada saluran pencernaan dan
pada wanita yang telah menopause. Setelah uterus diangkat,
puncak vagina digantungkan pada ligamentum rotundum
kanan dan kiri atas pada ligamentum infundibulo pelvikum,
kemudian operasi akan dilanjutkan dengan kolporafi anterior
dan kolpoperineorafi untuk mengurangi atau menghilangkan
gejala saluran pencernaan seperti, sembelit, inkontinensia
flatus, urgensi tinja, kesulitan dalam mengosongkan rektum
atau gejala yang berhubungan dengan gangguan buang air
besar dan untuk mencegah prolaps vagina di kemudian hari.
10

Histerektomi vagina lebih disukai oleh wanita menopause yang


aktif secara seksual. Di Netherlands, histerektomi vaginal saat
ini merupakan metode pengobatan terkemuka untuk pasien
prolapsus uteri simtomatik.
Beberapa komplikasi yang terdi pada tindakan
histerektomi yaitu :
Rievie Cochrane (Nieboer et al 2009) melaporkan bahwa
histerektomi vagina memiliki angkat komplikasi demam dan
infeksi yang paling sedikit dibandingkan dengan histerektomi
abdominal (OR 0,42). Dan histerktomi laparoskopi lebih
sedikit infeksi dinding abdomen dibandingkan dengan
histerekotomi abdominal (OR 0,31).
Trauma kandung kencing yang terjadi pada histerektomi
sekitar 0,5-2% dari semua kasus. Beberapa penelitian
memperlihatkan peningkatan trauma kandung kencing pada
histerektomi pervaginam, namun penelitian lainnya tidak.
Trauma kandung kencing terjadi karena ligasi, trauma panas
dan kauter, atau sistostomi. Perlengketan antara uterus dan
kandung kencing, misalnya pada riwayat operasi seksio
sesarea, dapat meningkatan angka kejadian sistostomi. Dan
usaha untuk memperbaiki trauma kandung kencing harus
secepat mungkin dilakukan karena dapat meningkatkan angkat
kesakitan seperti demam, peningkatan lama rawatan, fistua
vesiko vagina, dan tambahan operasi lainya.
Pada histerektomi bisa mengakiatkan Resiko terjadinya
trauma ureter terjadi pada 0,2% -0,8% setelah abdominal
histerektomi, 0,05% - 1% setelah vaginal histerektomi, dan
0,2%-3,4% setelah laparoskopi histerektomi. Lokasi yang
paling sering adalah 3-4 cm distal ureter pada tempat
bersilangnya ureter dengan arteri uterina memasuki kandung
kencing. Penilaian trauma ureter harus dilakukan secara cepat
11

selama operasi untuk menghindari komplikasi lebih lanjut. Jika


terdapat kecurigaan terjadinya trauma ureter, maka durante
operasi dapat dilakukan sistoskopi dengan indigo carmine
untuk melihat patensi ureter. Dan sebagai tambahan, bahkan
ada beberapa para ahli yang menyarankan melakukan
sistoskopi secara rutin terhadap semua tindakan histerektomi.
Ureteral cateter dapat ditempatkan sebelum operasi walaupun
tidak direkomendasikan. Intraoperative retrograde uterogram
sangat efektif dalam melokalisasi trauma ureter dan sangat
efektif dalam memeperbaiki ureter tersebut. Tehnik lain adalah
dengan melakukan open atau laparoskopi dengan
retroperitoneal diseksi ureter untuk melihat truma, atau dengan
sistoskopi melalui insisi sistostomi.
4) Kolpokleisis (kolpektomi)
Tindakan ini merupakan pilihan bagi wanita yang tidak
menginginkan fungsi vagina (aktivitas seksual dan memiliki
anak) dan memiliki risiko komplikasi tinggi.37 Operasi ini
dilakukan dengan menjahit dinding vagina depan dengan
dinding vagina belakang, sehingga lumen vagina tertutup dan
uterus terletak di atas vagina. Keuntungan utama dari prosedur
ini adalah waktu pembedahan singkat dan pemulihan cepat
dengan tingkat keberhasilan 90 - 95%.

Pengobatan ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu.


Cara ini dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan, atau penderita
masih ingin mendapat anak lagi, atau penderita menolak untuk dioperasi
atau kondisinya tidak mengizinkan untuk dioperasi (Hanifa, 2007) :

1) Latihan-latihan otot dasar panggul


Latihan ini sangat berguna pada prolaps ringan, terutama yang
terjadi pada pasca persalinan yang belum lewat 6 bulan. Tujuannya
untuk menguatkan otot dasar panggul dan otot-otot yang
12

mempengaruhi miksi. Latihan ini dilakukan selama beberapa bulan.


Caranya adalah, penderita disuruh menguncupkan anus dan jaringan
dasar panggul seperti biasanya setelah hajat atau penderita disuruh
membayangkan seolah-olah sedang mengeluarkan air kencing dan
tiba-tiba menghentikannya. Latihan ini bisa menjadi lebih efektif
dengan menggunakan perineometer menurut Kegel. Alat ini terdiri
dari obturator yang dimasukkan ke dalam vagina, dan yang dengan
satu pipa dihubungkan dengan suatu manometer. Dengan demikian,
kontraksi otot-otot dasar panggul dapat diukur.
2) Stimulasi otot dengan alat listrik
Kontraksi otot-otot panggul dapat pula ditimbulkan dengan
alat listrik, elektrodanya dapat dipasang dalam pesarium yang
dimasukkan ke dalam vagina.
3) Pengobatan dengan pesarium
Pengobatan dengan pessarium sebenarnya hanya bersifat
paliatif, yakni menahan uterus di tempatnya selama dipakai. Oleh
karena jika pessarium diangkat, timbul prolaps lagi. Prinsip
pemakaian pesarium adalah alat tersebut mengadakan tekanan pada
dinding vagina bagian atas, sehingga bagian dari vagina tersebut
beserta uterus tidak dapat turun dan melewati vagian bagian bawah.
13

2.2 Analisis Kasus Keperawatan


2.2.1. Pengkajian
1) Data Demografi
I. Identitas Pasien
a. Nama : Ny. F
b. Umur : 50 tahun
c. Jenis kelamin : Perempuan
d. Agama :-
e. Pendidikan :-
f. Pekerjaan :-
g. Tanggal Masuk :-
h. Diagnosa Medis : Prolaps Uteri
i. Register :-
II. Identitas Penanggung Jawab :-
2) Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
-
b. Riwayat Kesehatan Sekarang :
Ny. F sudah 5 hari di rawat dan terpasang kateter urine.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu : -
d. Riwyat Kesehatan Keluarga :-
3) Analisa Data
Data Menyimpang Etiologi Masalah Keperawatan
DS : - Prolaps uteri Hambatan mobilisasi
DO : Ny. F dilakukan fisik
Operasi Vaginal Grade III
Histerektomi dan
terpasang kateter urine Seluruh uterus keluar
selama 5 hari. dari vagina/ prosidensia

Vaginal Histerektomi
14

Terpasang kateter

Hambatan Mobilisasi
fisik
DO : - Prolaps uteri Ganguan pola seksual
DS : -
Grade III

Seluruh uterus keluar


dari vagina/ prosidensia

Vaginal Histerektomi

Gangguan pola seksual


DO : Ny. F dilakukan Prolaps uteri Resiko Infeksi
Operasi Vaginal
Histerektomi Grade III
DS : -
Seluruh uterus keluar
dari vagina/ prosidensia

Vaginal Histerektomi

Resiko Infeksi
DO : Ny. F dilakukan Prolaps uteri Nyeri
Operasi Vaginal
Histerektomi Grade III
DS : -
Seluruh uterus keluar
dari vagina/ prosidensia
15

Vaginal Histerektomi

Nyeri
DS : - Prolaps uteri Ansietas
DO : Ny. F dilakukan
Operasi Vaginal Grade III
Histerektomi
Seluruh uterus keluar
dari vagina/ prosidensia

Vaginal Histerektomi

Ansietas

2.2.2. Diagnosa yang muncul pada kasus


1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan intoleran aktifitas.
2. Gangguan pola seksual berhubungan dengan gangguan fungsi
tubuh.
3. Resiko Infeksi berhubungan dengan luka tindakan pembedahan
4. Nyeri Akut berhubungan dengan prosedur pembedahan.
5. Ansietas berhubungan dengan perubahan besar pada fungsi
peran.

2.2.3. Terapi Yang Diberikan


Menurut Depkes RI (2001) Usia perempuan yang memasuki
masa menopause berkisar antara 45 – 55 tahun. Sedangkan menurut
Rachman dalam Kasdu (2003) usia perempuan yang memasuki
menopause terjadi pada umur 48-50 tahun. Adanya devitalisasi atau
melemahnya kekuatan vagina dan mukosa, wanita usia lanjut lebih
16

cenderung mengalami infeksi. Sedangkan perubahan anatomi seperti


dinding vagina dan efektivitas ligamentum uretra berkurang, sebagai
hasil dari proses penuaan, maka sfingter urtetra akan lebih terbuka
yang lebih lanjut dapat terjadi inkontinensia urine.
Prevelensi inkontinensia urine ditemukan pada usia yang
berfariasi. Puncak prevalensi pada usia pertengahan hidup
dilaporkan oleh banyak pengarang dengan menopause sebagai
implikasi penyebabnya. (Wall U & Norton, dkk, 1997). Selain
menopause ada faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan
terjadinya inkontinensia urine yaitu antara lain : riwayat operasi
sebelumnya (bedah, sesarea, histerektomi ataupun reparasi vagina),
kecelakaan atau trauma di daerah pelvis atau punggung, kelainan
neurologis, infeksi saluran kencing, obesitas, merokok, kelainan
bawaan dan sebagainya. (Junizaf, 1999).
2.2.3.1. Bladder Training

a. Definisi Blader Training


Bladder training adalah salah satu upaya untuk
mengembalikan fungsi kandung kencing yang
mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke
fungsi optimal neurogenik (Potter dan Perry dalam
Mardhotillah, 2006).
b. Tujuan Bladder Training
Tujuan dari Bladder Training adalah untuk
melatih kandung kemih dan mengembalikan pola
normal perkemihan dengan menghambat atau
menstimulasi pengeluaran air kemih ( Potter dan
Perry dalam Mordhotillah, 2006).
Pada kasus Ny. F yang terpasang kateter selama
5 hari harus dilakukan bladder training. Jadi dengan
17

menggunakan terapi ini bisa membantu untuk


memperpanjang interval berkemih yang normal
dengan berbagai teknik distraksi atau taknik relaksasi
sehingga frekuensi berkemih dapat berkurang, hanya
6-7 kali per-hari atau 3-4 jam sekali. Melalui latihan
ini penderita diharapkan dapat menahan sensasi
berkemih, mengembalikan fungsi kandung kencing
yang mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke
fungsi optimal neurogenik.

c. Langkah-langkah melakukan bladder training


1. Tentukan pola waktu biasanya klien berkemih
2. Rencanakan waktu toilet terjadwal berdasarkan
pola dari klien, bantu seperlunya.
3. Berikan pasien jumlah cairan untuk di minum
pada waktu yang dijadwalkan secara teratur
(2500 ml/hari) sekitar 30 menit sebelum waktu
jadwal untuk berkemih.
4. Beritahu klien untuk menahan berkemih (pada
pasien yang terpasang kateter, klem selang
kateter 1-2 jam, disarankan bisa mencapai
waktu 2 jam kecuali pasien merasa kesakitan)
5. Kosongkan urine bag.
6. Cek dan evaluasi kondisi pasien, jika pasien
merasa kesakitan dan tidak toleran terhadap
waktu 2 jam yang ditentukan, maka kurangi
waktunya dan tingkatkan secara bertahap
7. Lepaskan klem setelah 2 jam dan biarkan urine
mengalir dari kandung kemih menuju urine bag
hingga kandung kemih kosong
18

8. Biarkan klem tidak terpasang 15 menit, setelah


itu klem lagi 1-2 jam.
9. Lanjutkan prosedur ini hingga 24 jam pertama
10. Lakukan bladder training ini hingga pasien
mampu mengontrol keinginan untuk berkemih
11. Jika klien memakai kateter, lepas kateter jika
klien sudah merasakan keinginan untuk
berkemih.

d. Prosedur Bladder Training


1. Mengucapkan salam
2. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan
3. Persiapan alat dan bahan
- Handscone
- Klem
- Jam tangan
- Obat diuretik jika diperlukan
- Air minum dalam tempatnya
- Kassa
4. Ciptakan lingkungan yang nyaman dengan
menutup ruangan atau tirai ruangan ( ciptakan
privasi bagi klien )
5. Penatalaksanaan
Klien Masih Menggunakan Kateter

A. prosedur 1 jam :
1) Cuci tangan
2) Klien diberi minum setiap 1 jam sebanyak 200 cc dari pukul
07.00-19.00. Setiap kali klien diberi minum, kateter diklem
3) Kemudian, setiap jam kandung kemih dikosongkan mulai
pukul 08.00-20.00 dengan cara klem kateter dibuka
19

4) Pada malam hari (setelah pukul 20.00) buka klem kateter dan
klien boleh minum tanpa ketentuan seperti pada siang hari.
5) Prosedur terus diulang sampai berhasil.
B. Prosedur 2 jam :
1) Cuci tangan
2) Klien diberi minum setiap 2 jam sebanyak 200 cc dari pukul
07.00-19.00. Setiap kali diberi minum, kateter diklem
3) Kemudian, setiap jam kandung kemih dikosongkan mulai
pukul 08.00-21.00 dengan cara klem kateter dibuka
4) Pada malam hari (setelah pukul 21.00) buka klem kateter dan
klien boleh minum tanpa ketentuan seperti pada siang hari
5) Prosedur terus diulang sampai berhasil
6) Alat-alat dibereskan
7) Akhiri interaksi dengan mengucapkan salam
8) Dokumentasi

2.2.3.2. Kegel Excersis


a. Definisi
Latihan kegel atau latihan otot panggul adalah
latihan yang bertujuan untuk menguatkan otot perianal
(pubococcygeus).
b. Langkah – langkah Kegel Exercise
1. Temukan otot yang tepat. Kegel exercise melatih
otot pelvis agar lebih kuat. Untuk menentukan
ototpelvis yang tepat, maka hentikan urin saat
sedang berkemih. Jika urin dapat dihentikan, maka
otot pelvisyang dimaksud telah ditemukan. Otot
tersebut yang harus dikontraksikan saat melakukan
kegelexercise.
2. Ketika sudah berhasil mengidentifikasi otot pelvis,
kosongkan kandung kemih. Setelah itu kegelexercise
20

bisa dimulai. Dilarang melakukan kegel exercise


saat sedang berkemih karena hal tersebutjustru akan
melemahkan otot pelvis dan menyebabkan
pengosongan kandung kemih yang tidaksempurna
dan meningkatkan resiko infeksi saluran kemih.
3. Mulai kegel exercise dengan mengontraksikan otot
pelvis, tahan kontraksi hingga 5 detik dan
relaksselama 5 detik. Ulangi proses tersebut hingga
4-5 set. Lakukan terus latihan secara bertahap
hingga dapat menahan kontraksi selama 10 detik
sebanyak 10 set.
4. Untuk hasil yang maksimal, fokuslah
mengkontraksikan hanya bagian pelvis. Jangan
melakukankontraksi pada area perut, panggul, pantat
atau paha, tetapi konsentrasi hanya bagian otot
pelvis.Hindari menahan nafas saat melakukan kegel
exercise, sebaliknya bernafaslah secara bebas dan
rilekspada saat melakukan kegel exercise.
5. Lakukan kegel exercise minimal 3 kali sehari
sebanyak 10 set. Penundaan berkemih: pada pasien
yang mengalami inkontinensia, penundaan berkemih
dapatmembantu mengontrol urin. Caranya, saat
merasa ingin berkemih, tunda berkemih selama 5
menit. Jika berhasil, maka tingkatkan waktu
penundaan berkemih misalnya menjadi 10 menit.
Lakukan hal tersebutsecara bertahap hingga
mencapai waktu 3-4 jam. Jika keinginan berkemih
sering muncul sebelum bataswaktu yang anda
targetkan, lakukan teknik relaksasi. Tarik nafas anda
dalam-dalam dan pelan. Kegelexercise bisa
diakukan juga untuk membantu menunda berkemih
21

Penjadwalan berkemih: beberapa orang mengontrol


inkontinensia dengan pergi berkemih secara teratur. Hal
ini berarti bahwa pasien pergi berkemih pada jam yang
telah ditentukan meskipun belum merasaingin berkemih.
Pasien bisa dijadwalkan berkemih setiap jam, lalu secara
bertaham ditingkatkan hinggawaktu yang sesuai untuk
pasien.
Perawat dapat menganjurkan pasien untuk:
1) Minum secara normal, minimal 6-8 gelas per hari
(1000-1500ml) kecuali ada anjuran lain daridokter.
Pasien harus minum dengan normal dan tidak
mengurangi jumlah minum. Mengurangi asupan
cairan tidak akan memperbaiki inkontinensia, tetapi
justru akan membuat urin menjadi sangat pekat. Hal
ini dapat mengiritasi kandung kemih dan membuatnya
semakin sering ingin berkemih sementara urin yang
tertampung dalam kandung kemih sangat sedikit.
Kondisi ini jugadapat menyebabkan infeksi saluran
kemih.
2) Minum secara bertahap. Hindari minum banyak
dalam sekali waktu. Minum banyak dalam
sekaliwaktu, keinginan untuk berkemih akan lebih
susah dikendalikan karena kandung kemih
segerapenuh, sehingga keinginan berkemih akan
segera muncul setelah minum banyak.
3) Beberapa minuman dapat mengiritasi kandung kemih
dan menyebabkan keinginan untuk berkemih semakin
sering. Minuman beralkohon dan mengandung kafein
harus dihindari. Minuman jenis lainyaitu minuman
bersoda, coklat, dan minuman berkabonasi.
22

4) Hindari banyak minum 2 jam menjelang tidur karena


banyak minum sebelum tidur akan meningkatkan
keinginan berkemih saat malam hari.

c. Standar Oprasional Prosedur Kegel Exercise


I. Tahap pra-interaksi
1. Baca catatan keperawatan/catatan medis
2. Cuci tangan (gerakan 6 langkah cuci tangan
dengan menggunakan hand rub)
3. Persiapan Alat : matras
II. Tahap Orientasi
1. Ucapkan salam dan perkenalkan diri
2. Klarifikasi nama dan umur atau nama dan
alamatklien
3. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang
akandilakukan
4. Kontrak waktu
5. Beri kesempatan pada pasien/keluarga
untukbertanya
6. Minta persetujuan klien/keluarga
7. Dekatkan alat
8. Jaga privacy klien dengan menutup tirai/pintu
III. Tahap Kerja
1. Baca basmallah
2. Cuci tangan (gerakan 6 langkah cuci tangan
dengan mengunakan hand rub)
3. Anjurkan pasien untuk mengkosongkan
kandung kemih
4. Kontraksikan otot pelvis, tahan kontraksi hingga
5 detik dan relaks selama 5 detik. Ulangi proses
tersebut hingga 4-5 set.
23

5. Lakukan terus latihan secara bertahap hingga


dapat menahan kontraksi selama 10 detik
sebanyak 10 set.
6. Hindari menahan nafas saat melakukan kegel
exercise, sebaliknya bernafaslah secara bebas
dan relaks pada saat melakukan kegel exercise.
7. Bantu pasien untuk posisi yang nyaman dan
rapihkan kembali pakaian pasien
8. Bereskan alat
9. Bacalah hamdalah setelah kegiatan selesai
10. Cuci tangan (gerakan 6 langkah cuci tangan
dengan mengunakan hand scrub)
IV. Tahap terminasi
1. Evaluasi respon klien
2. Menyimpulkan hasil prosedur yang dilakukan
3. Berikan reinforcement atas kemampuan klien
4. Berikan pendidikan kesehatan singkat tentang
pelaksanaan kegel exerxise secara rutin
5. Mengakhiri kegiatan dengan cara
memberisalam
V. Dokementasi
1. Nama dan umur atau nama dan alamat klien
2. Diagnosa keperawatan
3. Tanggal dan jam tindakan keperawatan
24

2.2.3.3. Analisi Jurnal


Bladder training merupakan tindakan yang dilakukan
pada pasien yang memilik kemampuan kognitif dan dapat
berpartisipasi secara aktif. Bladder training bertujuan untuk
mengembalikan mengembalikan fungsi kandung kemih ke
fungsinya yang normal (Perry and Potter, 2005). Ermiyati
dkk (2008) mengatakan bahwa bladder training dilakukan
agar otot kandung kemih kembali normal dengan cara
menstimulasi pengeluaran urine. Tujuan lain dari
pelaksanaan bladder training adalah agar kandung kemih
dapat mengontrol, mengendalikan, dan meningkatkan
kemampuan berkemih dengan cara spontan.
Kegel exercise adalah latihan otot kandung kemih
dengan cara mengencangkan dan merelaksasikan otot
sehingga otot kandung kemih menjadi kuat. (Stang, 2012).
Tujuan mendasar dilakukannya kegel exercise adalah untuk
meningkatkan kekuatan otot dasar panggul (Lestari, 2011)
1) Ernawati (2016), melakukan penelitian tentang
Pengaruh Kombinasi Bladder Training Dan Kegel
Exercise Terhadap Pemulihan Inkontinensia Pada
Pada Pasien Stroke.
Salah satu kebutuhan dasar yang muncul pada pasien
dengan stroke adalah masalah pengontrolan kandung
kemih atau yang sering disebut inkontinensi aurine.
Pada kasus Ny. F yang berusia 50 tahun mengalami
perubahan anatomi seperti dinding vagina dan
efektivitas ligamentum uretra berkurang, sebagai hasil
dari proses penuaan, maka sfingter urtetra akan lebih
terbuka yang lebih lanjut dapat terjadi inkontinensia
urine.
25

Mengkombinasikan bladder training dan kegel


exercise, sangat efektif untuk mencegah inkontinensia
urine. Dengan menggunakan metode quasi
eksperimen pre test and post test one group design.
Sampel yang diambil adalah 36 responden dengan
intervenesi bladder training selama 3 hari dilanjut
kankegel exercise selama 7 hari. Hasil penelitian
tersebut ada pengaruh yang bermakna intervensi
bladder training dan kegel exercise terhadap
pemulihan inkontinensia urine. Jadi pemulihan
inkontinensia urine dapat dilakukan dengan
memberikan intervensi bladder training dan kegel
exercise.
2) Dari penelitian lain yang mendukung kasus Ny. F
yaitu, Melenia, E. (2013) melakukan penelitian
tentang Efektivitas Kegel Exercise Terhadap
Pencegahan Inkontinensia Urin. Dari hasil
penelitiannya bahwa terdapat perbedaan penurunan
inkontinensia urin sebelum dan sesudah diberikan
intervensi latihan kegel pada kelompok intervensi.
Desain yang digunakan peneliti yaitu quasy
experiment dengan rancangan pre-post test with
control group dengan teknik consecutive sampling.
Dari hasil lembar observasi yang diberikan kepada
responden menunjukkan rata-rata responden rutin
melakukan latihan kegel 8 sampai 10 kali perhari.
Jadi, latihan kegel sangat bermanfaat untuk
menguatkan otot rangka pada dasar panggul, sehingga
memperkuat fungsi sfringter eksternal pada kandung
kemih.
26

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Prolapsus uteri merupakan salah satu bentuk dari turunya


peranakan, yaitu turunnya rahim beserta jaringan penunjangnya kedalam
liang atau rongga vagina. Turunnya peranakan dapat terjadi karena adanya
kelemahan pada otot besar panggul sehingga satu atau lebih organ didalam
panggul turun (Pajario, 2004).

Bladder training adalah salah satu upaya untuk mengembalikan


fungsi kandung kencing yang mengalamu gangguan ke keadaan normal
atau ke fungsi optimal neurogenik (Potter dan Perry dalam Mardhotillah,
2006). Latihan kegel atau latihan otot panggul adalah latihan yang
bertujuan untuk menguatkan otot perianal (pubococcygeus).
Jadi dengn mengkombinasikan bladder training dan kegel exercise,
sangat efektif untuk mencegah inkontinensia urine. Dengan menggunakan
metode quasi eksperimen pre test and post test one group design. Sampel
yang diambil adalah 36 responden dengan intervenesi bladder training
selama 3 hari dilanjut kankegel exercise selama 7 hari. Hasil penelitian
tersebut ada pengaruh yang bermakna intervensi bladder training dan kegel
exercise terhadap pemulihan inkontinensia urine. Jadi pemulihan
inkontinensia urine dapat dilakukan dengan memberikan intervensi
bladder training dan kegel exercise.

3.2 Saran
Perlunya pencegah terhadap kemungkinan terjadinya prolaps uteri
dengan cara mengosongkan kandung kemih. Penanganan prolaps uteri
sebaiknya dilakukan dengan menilai keadaan dari keadaan umum pasien,

24
27

umur, masih bersuami atau tidak, tingkat prolaps sehingga di dapatkan


terapi yang paling ideal untuk setiap pasien.

Anda mungkin juga menyukai