Anda di halaman 1dari 14

A.

KOMUNIKASI MASSA
Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui
media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan
informasi kepada khalayak luas. Dengan demikian, maka unsur-unsur penting
dalam komunikasi massa adalah:
a. Komunikator
a) media massa,

b) informasi (pesan) massa,


c) gatekeeper,

d) khalayak (publik), dan


e) umpan balik.

Komunikator dalam komunikasi massa adalah:


1) Pihak yang mengandalkan media massa dengan teknologi telematika modern
sehingga dalam menyebarkan suatu informasi, maka informasi ini dengan
cepat ditangkap oleh publik.
2) Komunikator dalam penyebaran informasi mencoba berbagi informasi,
pemahaman, wawasan, dan solusi-solusi dengan jutaan massa yang tersebar di
mana tanpa diketahui dengan jelas keberadaan mereka.
3) Komunikator juga berperan sebagai sumber pemberitaan yang mewakili
institusi formal yang sifatnya mencari keuntungan dari penyebaran informasi
itu.
Media massa adalah media komunikasi dan informasi yang melakukan
penyebaran informasi secara massal dan dapat diakses oleh masyarakat secara
massal pula. Informasi massa adalah informasi yang diperuntukkan kepada
masyarakat secara massal, bukan informasi yang hanya boleh dikonsumsi oleh
pribadi. Dengan demikian, maka informasi massa adalah milik publik, bukan
ditujukan kepada individu masing-masing. Gatekeeper adalah penyeleksi
informasi. Sebagaimana diketahui bahwa komunikasi massa dijalankan oleh
beberapa orang dalam organisasi media massa, mereka inilah yang akan
menyeleksi setiap informasi yang akan disiarkan atau tidak disiarkan. Bahkan
mereka memiliki kewenangan untuk memperluas, membatasi informasi yang akan
disiarkan tersebut. Seperti, wartawan, desk surat kabar, editor dan sebagainya,
bahkan penerima telepon di sebuah institusi media massa memiliki kesempatan
untuk menjadi gatekeeper ini.
Khalayak adalah massa yang menerima informasi massa yang disebarkan
oleh media massa, mereka ini terdiri dari publik pendengar atau pemirsa sebuah
media massa. Sehubungan dengan itu, konsep khalayak dapat dijelaskan lebih
terperinci pada konsep massa. Sedangkan umpan balik dalam media massa
berbeda dengan umpan balik dalam komunikasi antarpribadi. Umpan balik dalam
komunikasi massa umumnya bersifat tertunda sedangkan umpan balik pada
komunikasi tatap muka bersifat langsung. Akan tetapi, konsep umpan balik
tertunda dalam komunikasi massa ini telah dikoreksi karena semakin majunya
media teknologi, maka proses penundaan umpan balik menjadi sangat tradisional.
Saat ini media massa juga telah melakukan berbagai komunikasi interaktif antara
komunikator dan publik, dengan demikian maka sifat umpan balik yang tertunda
ini sudah mulai ditinggalkan seirama dengan perkembangan teknologi telepon dan
internet serta berbagai teknologi media yang mengikutinya.
1. Konsep Massa
Massa memiliki unsur-unsur penting, yaitu:
1) Terdiri dari masyarakat dalam jumlah yang besar (large aggregate).
Massa terdiri dari jumlah masyarakat yang sangat besar yang menyebar
di mana-mana, di mana satu dengan lainnya tidak saling tahu-menahu
bahkan tidak pernah bertemu dan berhubungan secara personal.
2) Jumlah massa yang besar menyebabkan massa tidak bisa dibedakan satu
dengan lainnya (undifferentiated). Sulit dibedakan mana anggota massa
satu dengan lainnya di suatu masyarakat karena jumlahnya yang besar
itu. Kita tidak bisa membedakan mana suatu massa pendengaran Radio
Suara Surabaya yang bergabung pada acara wawasan yang disiarkan
mulai jam 6 sampai jam 7 pagi. Konsep massa yang demikian juga maka
segmentasi selalu sulit kita prediksi dengan angka-angka pasti.
3) Sebagian besar anggota massa memiliki negatif image terhadap
pemberitaan media massa. Massa senantiasa mencurigai pemberitaan
media massa sebagai sesuatu yang benar, bahkan untuk hal-hal tertentu
cenderung skeptis dan berpikir negatif. Bahkan apabila ada pemberitaan
yang baik, selalu disikapi dengan kecurigaan. Suatu contoh, ketika
Presiden RI menyiarkan dukungan terhadap pemberantasan narkoba di
masyarakat Indonesia melalui SMS, masyarakat cenderung bersikap
skeptis bahwa kegiatan tersebut lebih banyak didominasi oleh dorong-
dorong mencari popularitas daripada maksud yang terkandung dalam
SMS itu sendiri.
4) Karena jumlah yang besar, maka massa juga sukar diorganisir. Jumlah
massa yang besar itu maka massa cenderung bergerak sendiri-sendiri
berdasarkan sel-sel massa yang dapat dikendalikan oleh orang-orang
dalam sel itu. Gerakan-gerakan massa akan semakin besar apabila sel-sel
itu bertemu dan bergerak berdasarkan kondisi sesaat yang terjadi di
lapangan. Interaksi-interaksi di antara mereka terjadi sangat emosional,
sehingga bersifat destruktif.
5) Kemudian massa merupakan refleksi dari kehidupan sosial secara luas.
Setiap bentuk kehidupan sosial yang ada dalam sebuah masyarakat
adalah refleksi dari kondisi sosial masyarakat itu sendiri, begitu pula
dengan massa adalah refleksi dari keadaan sosial masyarakat secara
keseluruhan. Ketika massa demonstran di Korea Selatan melakukan
demonstrasi menentang kebijakan perusahaan yang tidak menaikkan gaji
mereka, berbeda dengan demonstrasi yang terjadi di Indonesia. Massa
demonstran di Korea Selatan terlihat lebih sopan dan teratur serta dengan
jelas menyampaikan tuntutan mereka. Massa demonstran sebuah
perusahaan di Indonesia terlihat lebih emosional, destruktif,
membingungkan apa yang mereka perjuangkan serta cenderung tidak
terorganisir. Karakter demonstran yang berbeda ini disebabkan karena
kondisi masyarakat Korea Selatan dan Indonesia yang berbeda.
Masyarakat Indonesia yang sedang berubah dan mengalami euphoria
serta histeria disebabkan persoalan reformasi yang berjalan sangat cepat
dan drastis dan didukung oleh tingkat pendidikan masyarakat yang
rendah, sedangkan masyarakat Korea Selatan tidak banyak mengalami
kondisi macam ini karena pengalaman perubahan yang berbeda.
2. Proses Komunikasi Massa
Sebagaimana yang telah disinggung di muka, komunikasi massa memiliki
proses yang berbeda dengan komunikasi tatap muka. Karena sifat komunikasi
massa yang melibatkan banyak orang, maka proses komunikasinya sangat
kompleks dan rumit. Menurut McQuail (1992: 33), proses komunikasi massa
terlihat berproses dalam bentuk:
(1) Melakukan distribusi dan penerimaan informasi dalam skala besar. Jadi
proses komunikasi massa melakukan distribusi informasi kemasyarakatan
dalam skala yang besar, sekali siaran, pemberitaan yang disebarkan dalam
jumlah yang luas, dan diterima oleh massa yang besar pula.
(2) Proses komunikasi massa juga dilakukan melalui satu arah, yaitu dari
komunikator ke komunikan. Kalau terjadi interaktif di antara mereka, maka
proses komunikasi (balik) yang disampaikan oleh komunikan ke komunikator
sifatnya sangat terbatas, sehingga tetap saja didominasi oleh komunikator.
(3) Proses komunikasi massa berlangsung secara asimetris di antara komunikator
dan komunikan, menyebabkan komunikasi di antara mereka berlangsung
datar dan bersifat sementara. Kalau terjadi kondisi emosional disebabkan
karena pemberitaan yang sangat agitatif, maka sifatnya sementara dan tidak
berlangsung lama dan tidak permanen.
(4) Proses komunikasi massa juga berlangsung impersonal (non-pribadi) dan
tanpa nama. Proses ini menjamin, bahwa komunikasi massa akan sulit
diidentifikasi siapa penggerak dan menjadi motor dalam sebuah gerakan
massa di jalan.
(5) Proses komunikasi massa juga berlangsung berdasarkan pada hubungan-
hubungan kebutuhan (market) di masyarakat. Seperti, televisi dan radio
melakukan penyiaran mereka karena adanya kebutuhan masyarakat tentang
pemberitaan-pemberitaan massa yang ditunggu-tunggu. Dengan demikian,
maka agenda acara televisi dan radio juga sangat ditentukan oleh rating, yaitu
bagaimana masyarakat menonton atau mendengar acara itu, apabila tidak ada
pendengar atau pemirsanya, maka acara tersebut akan dihentikan karena
dianggap merugi dan tidak disponsori oleh pasar.
3. Audiensi Massa
Khalayak memiliki sifat-sifat sebagaimana yang ada pada konsep massa,
namun lebih spesifik teragregat pada suatu media massa. Jadi, sifat dari audien
massa umpamanya:
(1) terdiri dari jumlah yang besar. Pen4engar radio, televisi, atau pembaca koran
adalah massa dalam jumlah yang besar. Sulit diprediksi jumlah mereka.
Contoh kasus, umpamanya sebuah harian mengklaim bahwa pembaca mereka
adalah sebesar 300 ribu orang, hal ini disimpulkan dari jumlah langganan
tetap koran tersebut. Jumlah ini bisa jadi lebih banyak karena pembaca
berlangganan, ada juga pembaca bebas yang hanya membeli koran itu secara
eceran. Atau bahkan satu koran bel langganan yang dibaca oleh seluruh
anggota keluarga. Namun bisa jadi pelanggan koran itu tidak membaca sama
sekali koran langganannya karena ia pergi ke luar kota. Pada media massa
elektronik, kondisi prediksi ini semakin sulit dilakukan karena sifat
pemberitaan media massa elektronik yang cepat dan sesaat,
(2) Suatu pemberitaan media massa dapat ditangkap oleh masyarakat dari
berbagai tempat, sehingga sifat audient massa juga ada tersebar di mana-
mana, terpencar, dan tidak mengelompok pada wilayah tertentu. Jadi, tidak
bisa dikatakan bahwa, pendengar radio Suara Surabaya hanya didengar oleh
masyarakat Surabaya, karena siaran radio tersebut dapat ditangkap oleh siapa
saja di mana saja di seluruh dunia melalui siaran gelombang radio ataupun
melalui siaran internet.
(3) Pada mulanya audiensi massa tidak interaktif, artinya antara media massa dan
pendengar atau pemirsanya tidak saling berhubungan, namun saat ini konsep
ini mulai ditinggal, karena audien massa dan media massa dapat berinteraksi
satu dengan lainnya melalui komunikasi telepon. Dengan demikian, maka
audiensi massa memiliki pilihan berinteraksi atau tidak berinteraksi dengan
media massa.
(4) Terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang sangat heterogen. Audiensi
massa tidak dapat dikategorikan terdiri dari segmentasi tertentu, kalaupun ada
seperti dalam acara-acara televisi dan radio maupun media cetak, maka
heterogenitas dalam segmen tersebut tidak dapat dihindari. Umpamanya,
siaran radio dalam bahasa Madura. Maka tentu masyarakat Madura itu terdiri
dari berbagai lapisan sosial dan golongan. Begitu juga acara pertandingan
tinju di televisi dikatakan tersegmentasi pada penonton laki-laki, maka tentu
penonton laki-laki memiliki unit-unit segmentasi yang beraneka ragam. Jadi,
tetap saja audiensi massa memiliki sifat heterogen dan sulit dikelompokkan.
(5) Tidak terorganisir dan bergerak sendiri. Karena sifatnya yang besar, maka
audiensi massa sulit diorganisir dan akhirnya bergerak sendiri-sendiri. Kalau
kemudian ada audiensi yang bergerak secara bersama-sama, maka gerakan
mereka itu dikendalikan oleh sel-sel mereka masing-masing dan cepat bisa
berubah sesuai dengan gerakan sel itu sendiri.

4. Budaya Massa
Komunikasi massa berproses pada level budaya massa, sehingga sifat-sifat
komunikasi massa sangat dipengaruhi oleh budaya massa yang berkembang di
masyarakat di mana proses komunikasi itu berlangsung. Dengan demikian, maka
budaya massa dalam komunikasi massa memiliki karakter:
(1) Nontradisional, yaitu umumnya komunikasi massa berkaitan erat dengan
budaya populer. Acara-acara infotainment, seperti AFI, API, KDI dan
sebagainya adalah salah satu contoh karakter budaya massa ini.
(2) Budaya massa juga bersifat merakyat, tersebar di basis massa sehingga tidak
mengerucut di tingkat elite, namun apabila ada elite yang terlibat dalam
proses ini, maka itu bagian dari basis massa itu sendiri.
(3) Budaya massa juga memproduksi produk-produk massa seperti umpamanya
infotainment adalah produk pemberitaan yang di- peruntukkan kepada massa
secara luas. Semua orang dapat memanfaatkannya sebagai hiburan umum.
(4) Budaya massa sangat berhubungan dengan budaya populer sebagai sumber
budaya massa. Bahkan secara tegas dikatakan bahwa, bukan populer kalau
bukan budaya massa, artinya budaya tradisional juga dapat menjadi populer
apabila menjadi budaya massa. Contohnya adalah Srimulat, Ludruk, maupun
Campursari. Pada mulanya kesenian tradisional ini berkembang di
masyarakat tradisional dengan karakter-karakter tradisional, namun ketika
kesenian ini dikemas di media massa, maka sentuhan-sentuhan populer
mendominasi seluruh kesenian tradisional itu, baik cerita, kostum, latar, dan
sebagainya tidak lagi menjadi konsumsi masyarakat pedesaan namun secara
massal menjadi konsumsi semua lapisan masyarakat di pedesaan dan
perkotaan.
(5) Budaya massa, terutama yang diproduksi oleh media massa di produksi
menggunakan biaya yang cukup besar, karena itu dana yang besar itu harus
menghasilkan keuntungan untuk kontinuitas budaya massa itu sendiri, karena
itu budaya massa diproduksi secara komersial agar tidak saja menjadi
jaminan keberlangsungan sebuah kegiatan budaya massa namun juga
menghasilkan keuntungan bagi kapital yang diinvestasikan pada kegiatan
tersebut.
(6) Budaya massa juga diproduksi secara eksklusif menggunakan simbol-simbol
kelas sosial sehingga terkesan diperuntukkan kepada masyarakat modern
yang homogen, terbatas, dan tertutup. Namun sebenarnya budaya massa yang
eksklusif ini terbuka untuk siapa saja yang ingin menikmatinya. Syarat utama
dari eksklusifitas budaya massa ini adalah keterbukaan dan kesediaan terlibat
dalam perubahan budaya secara massal.

5. Fungsi Komunikasi Massa


Komunikasi massa adalah salah satu aktivitas sosial yang berfungsi di
masyarakat. Robert K. Merton mengemukakan, bahwa fungsi aktivitas sosial
memiliki dua aspek, yaitu fungsi nyata (manifest function) adalah fungsi nyata
yang diinginkan, kedua fungsi tidak nyata atau tersembunyi (latent function),
yaitu fungsi yang tidak diinginkan. Sehingga pada dasarnya setiap fungsi sosial
dalam masyarakat itu memiliki efek fungsional dan disfungsional.
Selain manifest function dan latent function, setiap aktivitas sosial juga
berfungsi melahirkan (beiring function) fungsi-fungsi sosial lain, bahwa manusia
memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat sempurna. Sehingga setiap fungsi
sosial yang dianggap membahayakan dirinya, maka ia akan mengubah fungsi-
fungsi sosial yang ada. Contohnya, pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh
pemerintah, di satu sisi adalah untuk membersihkan masyarakat dari praktik
korupsi, namun di sisi Iain tindakan pemberantasan korupsi yang tidak diikuti
dengan perbaikan sistem justru akan menimbulkan ketakutan bagi aparatur
pemerintahan secara luas tentang masa depan mereka karena merasa tindakannya
selalu diawasi, ditakuti, dan ditindak. Tidak adanya perbaikan sistem yang baik
dan ketakutan justru akan melahirkan (beiring) model-model korupsi baru yang
Iebih canggih. Dengan demikian, maka aktivitas sosial lama itu ketika mendapat
tekanan sosial, kemudian mengalami metamorfosa dan kemudian melahirkan
aktivitas sosial.
Begitu pula dengan fungsi komunikasi media massa, sebagai aktivitas
sosial masyarakat. komunikasi media massa juga mengalami hal yang serupa.
Seperti, pemberitaan bahaya Tsunami terhadap kehidupan masyarakat pantai. Di
satu sisi pemberitaan tersebut adalah informasi mengenai bagaimana masyarakat
pantai dapat menghindari bahaya Tsunami ketika bencana itu datang, tapi
pemberitaan itu juga sekaligus menciptakan ketakutan dan kecemasan yang amat
sangat bagi masyarakat yang hidup di pesisir pantai. Bahkan pemberitaan itu juga
berdampak buruk bagi orangprang pegunungan yang akan merencanakan pindah
tempat tinggal ke daerah pesisir.

a. Fungsi Pengawasan
Media massa merupakan sebuah medium di mana dapat digunakan untuk
pengawasan terhadap aktivitas masyarakat pada umumnya. Fungsi pengawasan ini
bisa berupa peringatan dan kontrol sosial maupun kegiatan persuasif. Pengawasan
dan kontrol sosial dapat dilakukan untuk aktivitas preventif untuk mencegah
terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti, pemberitaan bahaya narkoba
bagi kehidupan manusia yang dilakukan melalui media massa dan ditujukan
kepada masyarakat, maka fungsinya untuk kegiatan preventif agar masyarakat
tidak terjerumus dalam pengaruh narkoba. Sedangkan fungsi persuasif sebagai
upaya memberi reward dan punishment kepada masyarakat sesuai dengan apa
yang dilakukannya. Media massa dapat memberikan reward kepada masyarakat
yang bermanfaat dan fungsional bagi anggota masyarakat lainnya, namun
sebagainya akan memberika punishment apabila aktivitasnya tidak bermanfaat
bahkan merugikan fungsi-fungsi sosial lainnya di masyarakat.
b. Fungsi Social Learning
Fungsi utama dari komunikasi masa melalui media massa adalah
melakukan guiding dan pendidikan sosial keseluruh masyarakat. nnassa seluruh
masya ra kat. Media massa bertugas untuk memberikan penderahan-pencerahan
kepada masyarakat dimana komunikasi massa itu berlangsung. Komunikasi massa
dimaksudkan agar proses pencerahan itu berlangsung efektif dan efisien dan
menyebar secara bersamaan di masyarakat secara luas. F ungsi komunikasi massa
ini merupakan sebuah andil yang dilakukan untuk menutupi kelemahan fungsi-
fungsi pedagogi yang dilaksanakan melalui komunikasi tatap muka, di mana
karena sifatnya, maka fungsi pedagogi hanya dapat berlangsung secara eksklusif
antara individu tertentu saja.

c. Fungsi Penyampaian Informasi


Komunikasi massa yang mengandalkan media massa, memiliki fungsi
utama, yaitu menjadi proses penyampaian informasi kepada masyarakat luas.
Komunikasi massa memungkinkan informasi dari institusi publik tersampaikan
kepada masyarakat secara luas dalam waktu cepat sehingga fungsi informatif
tercapai dalam waktu cepat dan singkat.

d. Fungsi Transformasi Budaya


Fungsi informatif adalah fungsi-fungsi yang bersifat statis, namun fungsi-
fungsi lain yang lebih dinamis adalah fungsi transformasi budaya. Komunikasi
massa sebagaimana sifat-sifat budaya massa, maka yang terpenting adalah
komunikasi massa menjadi proses transformasi budaya yang dilakukan bersama-
sama oleh semua komponen komunikasi massa, terutama yang didukung oleh
media massa.
Fungsi transformasi budaya ini menjadi sangat penting dan terkait dengan
fungsi-fungsi lainnya terutama fungsi social learning, akan tetapi fungsi
transformasi budaya lebih kepada tugasnya yang besar sebagai bagian dari budaya
global. Sebagaimana diketahui bahwa perubahan-perubahan budaya yang
disebabkan karena perkembangan telematika menjadi perhatian utama semua
masyarakat dunia, karena selain dapat dimanfaatkan untuk pendidikan juga dapat
dipergunakan untuk fungsi-fungsi lainnya, seperti politik, perdagangan, agama,
hukum, militer, dan sebagainya. Jadi, tidak dapat dihindari bahwa komunikasi
massa memainkan per an penting dalam proses ini di mana hampir semua
perkembangan telematika mengikutsertakan proses-proses komunikasi massa
terutama dalam proses transformasi budaya.

e. Hiburan
Fungsi lain dari komunikasi adalah hiburan, bahwa seirama dengan fungsi-
fungsi Iain, komunikasi massa juga digunakan sebagai medium hiburan, terutama
karena komunikasi massa menggunakan media massa, jadi fungsi-fungsi hiburan
yang ada pada media massa juga merupakan bagian dari fungsi komunikasi
massa.
Transformasi budaya yang dilakukan oleh komunikasi massa
mengikutsertakan fungsi hiburan ini sebagai bagian penting dalam fungsi
komunikasi massa. Hiburan tidak terlepas dari fungsi media massa itu sendiri dan
juga tidak terlepas dari tujuan transformasi budaya. Dengan demikian, maka
fungsi hiburan dari komunikasi massa saling mendukung fungsi-fungsi lainnya
dalam proses komunikasi massa.

f. Komunikasi Massa sebagai Sistem Sosial


Kata sistem berasal dari bahasa Yunani, yaitu systema. Artinya
sehimpunan dari bagian atau komponen yang saling berhubungan satu sama Iain
secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan (Narwoko dan Suyanto, 2004:
123). Dalam tradisi ilmu sosial penggunaan istilah sistem Iebih sering digunakan
untuk merujuk pada pengertian sebuah sistem organik, yaitu sebuah sistem yang
di dalamnya terdiri dari beberapa komponen yang Iebih kecil yang memiliki
kehidupan (animate). Istilah ini digunakan untuk membedakan penggunaan istilah
yang sama pada ilmu-ilmu eksakta, di mana sebuah sistem anorganik terdiri dari
beberapa komponen yang Iebih kecil yang tak berjiwa (in-animate). Walaupun
demikian, kedua istilah sistem itu mengarah kepada pengertian sistem sebagai
sebuah himpunan kehidupan sosial yang terdiri dari komponen-komponen yang
saling berhubungan satu dengan lainnya secara teratur dan sistematis serta
membentuk suatu kehidupan yang menyeluruh.
Di masyarakat, sistem digunakan untuk beberapa pengertian sebagai
berikut:
(a) Sistem ditujukan sebagai gagasan atau ide yang tersusun, terorganisir dan
membentuk suatu kesatuan yang sistematis dan logis, umpamanya adalah
filsafat, nilai, pemerintahan. demokrasi, kekerabatan, dan sebagainya.
(b) Sistem yang merujuk pada pengertian sebuah kesatuan, kelompok, sebuah
himpunan dari beberapa unit atau komponen yang terpisah-pisah, memiliki
hubungan-hubungan khusus sehingga membentuk sebuah keseluruhan yang
utuh, seperti pesawat terbang, komputer, arloji, dan sebagainya.

(c) Sistem ditujukan untuk menyebutkan sebuah metode, cara, teknik yang
digunakan, seperti sistem belajar, sistem pelatihan, sistem bertindak, dan
sebagainya.

Talcott Parson membagi karakter sistem sosial menjadi dua:

(a) Karakter himpunan, yaitu sistem terdiri dari beberapa komponen yang
terdapat dalam kehidupan masyarakat keseharian.

(b) Karakter ekuilibrium, yaitu sistem merupakan sebuah kehidupan yang


seimbang diatur oleh norma dan aturan-aturan dalam masyarakat tersebut
(Ritzer dan Goodman, 2003: 240).

Hal-hal yang dapat dimanfaatkan dari teori sistem adalah:

(a) Sistem sebagai suatu teori dapat digunakan untuk semua ilmu-ilmu sosial
(b) Sistem mengandung banyak tingkatan dan dapat diaplikasikan pada sapek
dunia sosial berskala besar maupun kecil, ke aspek ruang paling subjektif dan
objektif.
(c) Teori sistem tertarik pada keragaman hubungan dari berbagai aspek dunia
sosial
(d) Pendekatan sistem cenderung menganggap melihat semua aspek sosiokultural
dari segi proses, khususnya jaringan informasi dan komunikasi
(e) Teori sistem bersifat inheren dan integratif (Riyzer Goodman, 2003, 238).
Buckley mengatakan, ada hubungan antar sistem sosiokultural, sistem
mekanis, dan sistem organis, ia menjelaskan hubungan kontinum antara sistem
sistem itu, bahwa pergerakan kontinum sistem dimulai dari sistem mekanik ke
sistem organis bari ke sistem sosiokultural. Jadi sistem bergerak dari kompleksitas
yang kecil ke kompleksitas yang paling besar.

GAMBAR 1
PERGERAKAN SISTEM SOSIAL

Sistem Mekanik
Sistem organik
Sistem Sosiokultural

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ritzer dan Goodmanr bahwa


pendekatan sistem cenderung, menganggap atan melihat semua aspek
sosiokultural dari segi proses, khususnya jaringan informasi dan komunikasi.
Sehubungan dengan itu, maka komunikasi massa lebih banyak menjelaskan
masalah-masalah proses komunikasi, sedang-kan media massa lebih banyak
menjelaskan teknis teknologi dan aspek-aspek yang dihasilkan dari teknologi itu
sendiri.
Komunikasi massa sebagai sistem sosial memiliki komponen-komponen
penting, yaitu:
a) Narasumber sebagai sumber-sumber informasi bagi media massa,
b) Publik yang mengonsumsi media massa,
c) Media massa, meliputi; organisasinya, sumber daya manusia, fasilitas
produksi , distribusi, kebijakan yang ditempuh, ideologi yang diperjuangkan
dan sebagainya,
d) Aturan hukum dan perundang-undangan, norma-norma dan nilai-nilai, serta
kode etik yang mengatur pelaksanaan semua stakeholder komunikasi massa,
e) Institusi samping yang tumbuh untuk memberi kontribusi terhadap kegiatan
komunikasi massa, seperti percetakan, periklanan, badan sensor, dan
sebagainya,
f) Pihak-pihak yang mengendalikan berlangsungnya komunikasi massa,
permodalan, penguasa, kekuatan politik, maupun kelompok kepentingan,
g) Unsur-unsur penunjang lain yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan
komunikasi massa (Nasution 2003: 5.6-5.7). Umpamanya adalah perusahaan-
perusahaan penghasil teknologi telematika, kondisi sosial, ekonomi, dan
politik negara, kondisi global masyarakat internasional, serta percaturan
politik dunia.
Sehubungan dengan pergerakan sistem sosial ini, maka komponen-
komponen komunikasi massa tersebut di atas tersusun dalam struktur sebagai
berikut :
TABEL 1
SISTEM SOSIAL AGIL

A I

A I
G L

G L

Talcott Parsons (1996: 238) menjelaskan teori sistem sosial, bahwa setiap
masyarakat memiliki sistem sosial yang dapat digambarkan dengan AGIL. (Setiap
bagian dari empat kotak itu terdapat sistem sendiri, yaitu agil). A adalah
Adaptation, di mana sistem beradaptasi dengan lingkungannya. G adalah Goal
attainment, dimana sistem memiliki tujuan-tujuan yang akan dicapai. I adalah
integration, di mana setiap bagian system berhubungan satu dengan lainnya secara
erat dan saling mendukung fungsi masing-masing L adalah Latency (pattern
maintenance) sistem juga secara laten memiliki kemampuan untuk
mempertahankan pola-pola, aturanaturan yang ada, bahkan memiliki kemampuan
untuk memperbaiki sistem yang rusak apabila ada serangan dari luar sistem.
Media massa sebagai sistem sosial, memiliki sistem AGIL itu sebagaimana
sistemnya tersebar dalam penjelasan di atas.
Komponen-komponen komunikasi massa di atas saling berhubungan satu
dengan lainnya secara fungsional dan terus mengembangkan fungsi mereka secara
bertahap serta merevisi fungsi-fungsi yang sudah tidak berguna lagi dengan
fungsi-fungsi sistem lainnya yang Iebih baik, aktual, efisien, dan efektif.
Sistem sosial komunikasi massa yang dikonstruksi dengan berbagai
komponen di atas, membentuk sebuah sistem sosial yang berkembang, solid,
mengalami pergerakan-pergerakan internal di antara anggota sistem, berevolusi
(bahkan berdifusi) dan akhirnya melahirkan sistem-sistem sosial yang baru yang
Iebih tangguh dan Iebih sempurna. Bahkan apabila pergerakan internal membuat
kerusakan pada sistem sosial yang tak dapat diatasi, maka bisa jadi sistem sosial
lama dalam sistem komunikasi massa akan hancur dan mati sama sekali.

B. PERAN MEDIA MASSA


Media massa adalah institusi yang berperan sebagai agent of change, yaitu
sebagai institusi pelopor perubahan. lm adalah paradigma utama media massa.
Dalam menjalankan paradigmanya media massa berperan:
1. Sebagai institusi pencerahan masyarakat, yaitu perannya sebagai media
edukasi. Media massa menjadi media yang setiap saat mendidik masyarakat
supaya cerdas, terbuka pikirannya, dan menjadi masyarakat yang maju.
2. Selain itu, media massa juga menjadi media informasi, yaitu media yang
setiap saat menyampaikan informasi kepada masyarakat. Dengan informasi
yang terbuka dan jujur dan benar disampaikan media massa kepada
:masyarakat, maka masyarakat akan menjadi masyarakat yang kaya dengan
informasi, masyarakat yang terbuka dengan informasi, sebaliknya pula