Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah tepat pada
waktunya.
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai
pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan
makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah
ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik
yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan
untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.

Padang, 14 Maret 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR….................................................................................................. 1

DAFTAR ISI ………………………...……………………………………............……. 2

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG ……………………………….……………................….. 3


B. RUMUSAN MASALAH…………………………………………..............…..... 4
C. TUJUAN MAKALAH……….............................…………………….................. 4

BAB II PEMBAHASAN

ELIMINASI SALAH SISI, SALAH PASIEN DAN SALAH PROSEDUR OPERASI.....6

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN........................................................................................................... 18
B. SARAN....................................................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................20

BAB I

2
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu tentang system informasi terkait keselamatan pasien telah


memberikan perubahan yang besar dalam undang-undang kesehatan dalam upaya
perlindungan terhadap pasien. Pemerintah mewajibkan program keselamatan pasien
sebagai salah satu syarat yang harus diterapkan di semua rumah sakit dan akan di
evaluasi melalui akreditasi oleh komisi akreditasi rumah sakit. Maksud dari program
tersebut adalah mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien, yang menyoroti
bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan kesehatan dan mencari solusi yang
berbasis bukti atas permasalahan-permasalahan yang terjadi pada komunikasi perawat
dengan pasien, keluarga, dan tim kesehatan lainnya bertujuan untuk memberikan,
mengkoordinasikan dan mengitegrasikan pelayanan.
Upaya upaya peningkatan pasien di kamar bedah menggunakan selembar formulir
surgery safety checklist sebagai alat komunikasi atau system informasi yang merupakan
program WHO yang diharapkan dapat mencegah kesalahan prosedur operasi, kesalahan
pasien operasi ataupun kesalahan kesalahan area yang dilakukan operasi.
Ada 3 tahapan untuk pencegahan cedera pada pasien yang akan menjalankan
operasi yaitu tahap Sign In, Time Out, Sign Out.
Setiap rumah sakit berupaya mendapatkan, mengelola dan menggunakan informasi
untuk meningkatkan/memperbaiki outcome pasien, kinerja individual maupun kinerja
rumah sakit secara keseluruhan.Walaupun komputerisasi dan teknologi lainnya
meningkatkan efisiensi tetapi prinsip manajemen informasi tetap berlaku untuk semua
metode, baik berbasis kertas maupun elektronik (Kars, 2011).

Sistem informasi manajemen keperawatan berkaitan dengan legalitas untuk


memperoleh dan menggunakan data informasi dan pengetahuan tentang standar
dokumentasi, komunikasi, dalam mendukung proses pengambilan keputusan. Kehandalan
sistem informasi pada suatu organisasi terletak pada keterkaitan antar komponen yang
ada sehingga informasi yang dihasilkan mudah digunakan cepat, akurat, dan terpercaya.
Tindakan pembedahan wajib memperhatikan keselamatan pasien, kesiapan pasien, dan

3
prosedur yang akan dilakukan, karena resiko terjadinya kecelakaan sangat tinggi, jika
dalam pelaksanaannya tidak mengikuti standar prosedur operasional yang sudah
ditetapkan. Tim kamar bedah tentu tidak bermaksud menyebabkan cedera pasien, tetapi
fakta menyebutkan bahwa ada pasien yang mengalami KTD (kejadian tidak di harapkan),
KNC (kejadian nyaris cedera), ataupun kejadian sentinel yaitu KTD yang menyebabkan
kematian atau cedera serius (Depkes,2008), saat dilakukan tindakan pembedahan. Oleh
sebab itu diperlukan program untuk lebih memperbaiki proses pelayanan, karena
sebagian KTD merupakan kesalahan dalam proses pelayanan yang sebetulnya dapat
dicegah melalui program keselamatan pasien.

Program Keselamatan Pasien safe surgery saves lifes sebagai bagian dari upaya
WHO untuk mengurangi jumlah kematian bedah di seluruh dunia. Tujuan dari program
ini adalah untuk memanfaatkan komitmen dan kemauan klinis untuk mengatasi isu-isu
keselamatan yang penting, termasuk praktek-praktek keselamatan anestesi yang tidak
memadai, mencegah infeksi bedah dan komunikasi yang buruk di antara anggota tim.
Untuk membantu tim bedah dalam mengurangi jumlah kejadian ini, WHO menghasilkan
rancangan berupa checklist keselamatan pasien di kamar bedah sebagai media informasi
yang dapat membina komunikasi yang lebih baik dan kerjasama antara disiplin klinis.

B. Rumusan Masalah

4
Bagaimana langkah kerja dalam eliminasi salah sisi, salah pasien dan salah prosedur
operasi?

C. Tujuan Makalah

a.Tujuan umum
Mahasiswa dapat memahami tentang langkah kerja eliminasi salah sisi, salah
pasien dan salah prosedur operasi
b. Tujuan khusus
mahasiswa dapat meyebutkan tentang langkah kerja eliminasi salah sisi, salah
pasien dan salah prosedur operasi

BAB II
PEMBAHASAN
A. konsep
Sesuai dengan program manajemen komunikasi dan informasi (MKI) dari penilaian
akreditasi rumah sakit. maka rumah sakit akan mengidentifikasi kebutuhan informasi,
merancang suatu system manajemen informasi, mendefinisikan, mendapat data dan
informasi, menganalisis data dan mengubahnya menjadi informasi, mengirim serta

5
melaporkan data informasi, dan mengitegrasikan dan menggunakan informasi (Kars ,
2011).
Program sasaran keselamatan pasien wajib di komunikasikan dan diinformasikan
untuk tercapainya hal-hal sebagai berikut:1) ketepatan identifikasi pasien, 2) peningkatan
komunikasi yang efektif, 3) peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai, 4)
kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi, 5) pengurangan risiko infeksi
terkait pelayanan kesehatan, 6) pengurangan risiko pasien jatuh (Kars, 2011, JCI, 2010).
Kesalahan yang terjadi di kamar bedah yaitu salah lokasi operasi, salah prosedur
operasi, salah pasien operasi, akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau tidak adekuat
antar anggota tim bedah. Kurang melibatkan pasien dalam penandaan area operasi (site
marking), dan tidak ada prosedur untuk memverifikasi lokasi operasi, asesmen pasien
tidak adekuat, telaah catatan medis juga tidak adekuat.
Langkah yang dilakukan tim bedah terhadap pasien yang akan di lakukan operasi
untuk meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan, mencegah terjadi
kesalahan lokasi operasi, prosedur operasi serta mengurangi komplikasi kematian akibat
pembedahan sesuai dengan sepuluh sasaran dalam safety surgery (WHO 2008). Yaitu:
1) Tim bedah akan melakukan operasi pada pasien dan lokasi tubuh yang benar.
2) Tim bedah akan menggunakan metode yang sudah di kenal untuk mencegah bahaya
dari pengaruh anestresia, pada saat melindungi pasien dari rasa nyeri.
3) Tim bedah mengetahui dan secara efektif mempersiapkan bantuan hidup dari adanya
bahaya kehilangan atau gangguan pernafasan.
4) Tim bedah mengetahui dan secara efektif mempersiapkan adanya resiko kehilangan
darah.
5) Tim bedah menghindari adanya reaksi alergi obat dan mengetahui adanya resiko
alergi obat pada pasien.
6) Tim bedah secara konsisten menggunakan metode yang sudah dikenal untuk
meminimalkan adanya resiko infeksi pada lokasi operasi.
7) Tim bedah mencegah terjadinya tertinggalnya sisa kasa dan instrument pada luka
pembedahan.
8) Tim bedah akan mengidentifikasi secara aman dan akurat, specimen (contoh bahan)
pembedahan.
9) Tim bedah akan berkomunikasi secara efektif dan bertukar informasi tentang hal-hal
penting mengenai pasien untuk melaksanakan pembedahan yang aman.
10) Rumah sakit dan system kesehatan masyarakat akan menetapkan pengawasan yang
rutin dari kapasitas , jumlah dan hasil pembedahan.
Surgery safety ceklist WHO merupakan penjabaran dari sepuluh hal penting tersebut
yang diterjemahkan dalam bentuk formulir yang diisi dengan melakukan ceklist. Ceklist

6
tersebut sudah baku dari WHO yang merupakan alat komunikasi yang praktis dan
sederhana dalam memastikan keselamatan pasien pada tahap preoperative, intraoperatif
dan pasca operatif, dilakukan tepat waktu dan menunjukan manfaat yang lebih baik bagi
keselamatan pasien (WHO 2008).

B. Kesalahan medis yang mungkin terjadi di kamar bedah


Kesalahan medis (medical error) merupakan kesalahan yang terjadi dalam proses
asuhan medis yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien.
Kesalahan tersebut termasuk gagal melaksanakan sepenuhnya suatu rencana atau
menggunakan fencana yang salah untuk mencapai tujuannya, dapat sebagai akibat
melaksanakan suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya di ambil (omission).
Kesalahan medis yang mungkin terjadi di kamar bedah meliputi :
a. Kejadian tidak diharapkan (KTD)/Adverse Event
Yaitu suatu kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien
karena suatu tindakan (commission) atau karena tidak bertindak (ommission), dan bukan
karena “underlying disease” atau kondisi pasien).
b. Nyaris Cedera (NC)/ Near Miss
Yaitu suatu kejadian akibat malaksanakan suatu tindakan (commission) atau tidakn
mengambil tindakan yang seharusnya di ambil (omission), yang dapat mencederai pasien,
tetapi cedera serius tidak terjadi, karena :
1) Keberuntungan
Contoh : pasien terima suatu obat kontraindikasi tetapi tidak timbul reaksi obat.
2) Pencegahan
Contoh : suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan, tetapi staf lain mengetahui
dan membatalkannya sebelum obat diberikan.
3) Peringanan
Contoh : suatu obat dengan overdosis lethal diberikan, diketahui secara dini dan diberikan
obat penawarnya.

Beberapa potensi kesalahan yang terjadi di kamar bedah


1. Kesalahan pada pasien yang dioperasi
2. Kesalahan prosedur operasi
3. Kesalahan lokasi operasi
4. Kesalahan memberikan tranfusi darah

7
5. Kesalahan memberikan obat
6. Terjadinya infeksi dan atau sepsis akibat pembedahan

Cara memastikan prosedur operasi yang benar


a. informed consent
b. marking the site
c. patient identification
d. time-out briefing
e. imaging data

Prinsip pelayanan bedah tepet lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien operasi yaitu:

1. Sebelum tindakan petugas melakukan pengecekkan ulang seluruh identifikasi


pasien dan kelengkapan berkas penunjang sebelum dilakukan tindakan operasi.
2. sebelum tindakan dilakukan petugas melakukan penandaan area yang akan
dilakukan operasi
3. dalam pelaksanaan tindakan operasi petugas melakukan tindakan berdasarkan atas
SPO yang berlaku

Kewajiban dan tanggung jawab

1. petugas atau perawat kamar operasi


a. memahami dan meimplementasikan seluruh prosedur yang ada
b. memastikan ketepatan pasien dan penandaan area yang akan dilakukan
tindakan operasi
c. melaporkan jika terjadi kesalahan dalam identifikasi ataupun marketing
area
2. kepala bagian ruang operasi
a. memastikan dan memantau petugas telah melaksanakan panduan tindakan
preoperative, intraoperative dan posoperative dengan baik
b. melakukan penyelidikan jika telah terjadi kesalahan dalam melakukan
tindakan operasi
3. Ka. Sub keselamatan pasien

8
a. Melakukan pemantauan atas tatakelola panduan tindakan operasi bersama
dengan kepala bagian ruang operasi
b. Melakukan verifikasi dan penyelidikan jika terjadi kesalahan dalam
melakukan tindakan operasi

Tata Laksana

Rumah sakit wajib melaksanakan suatu pendekatan untuk memastikan tepat


lokasi,tepat prosedur, dan tepat pasien. Prosedur salah lokasi, salah prosedur, salah pasien
pada operasi adalah suatu yang mengkhawatirkan dan tidak jarang terjadi di Rumah sakit.
Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau adekuat antara
anggota tim bedah, kurang atau tidak melibatkan pasien dalam penandaan lokasi (site
marking), dan tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi. Di samping itu pula
assessment pasien yang tidak adekuat, penelaan ulang catatan medis tidak adekuat,
budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah,
permasalahan yang berhubungan degan resep yang tidak terbaca (illegible handwriting)
dan pemakaian singkatan merupakan factor-faktor kontribusi yang sering terjadi .

Rumah sakit mengembangkan suatu kebijakan dan prosedur yang efektif di dalam
mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan ini. Di gunakan juga praktek berbasis
bukti, seperti yang digambarkan di Surgical Safety Check List dari WHO patient safety
(2009) , juga di The Join Commission’s Universal Protocol For Preventing Wrong Site,
Wrong Procedure, Wrong Person Surgery.

Tahap ”Sebelum insisi” (Time Out) memungkinkan semua pertanyaan atau


kekeliruan diselesaikan. Time Out dilakukan ditempat dimana tindakan yang akan
dilakukan, tepat sebelum tindakan dimulai, dan melibatkan seluruh tim operasi. Rumah
sakit menetapkan bagaimana proses itu di dokumentasikan secara ringkas dengan
menggunakan Check List.

1. TEKNIK PENANDAAN LOKASI OPERASI


Berikut merupakan teknik yang dilakukan dalam penandaan lokasi operasi :
a. Pasien diberi tanda saat informed concent telah dilakukan
b. Penandaan dilakukan sebelum pasien berada didalam kamar operasi
c. Pasien harus dalam keadaan sadar saat dilakukan penandaan lokasi operasi
d. Tanda yang digunakan dapat berupa: tanda panah atau tanda ceklist

9
e. Penandaan dilakukan sedekat mungkin dengan lokasi operasi
f. Penandaan dilakukan dengan spidol hitam (anti luntur, anti air) dan tetap
terlihat walau sudah diberikan desinfektan

Penandaan lokasi operasi dilakukan pada semua kasus termasuk sisi (laterality),
multiple struktur (jari tangan, jari kaki, lesi), atau multiple level (tulang belakang).

Anjuran penandaan lokasi operasi :


a. gunakan tanda yang teah disepakati, yaitu dengan menggunakan tanda “YA”
b. Tandai pada atau dekat daerah insisi
c. gunakan tanda yang tidak ambigu (contoh tanda “X” merupakan tanda ambigu)
d. Daerah yang tidak di operasi jangan ditandai kecuali sangat diperlukan
e. penandaan dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar. Jika memungkinkan dan
harus terlihat sampai saat akan dioperasi

Yang berhak melakukan penandaan lokasi operasi :

a. Dokter bedah
b. Asisten dokter
c. Pihak yang diberi pendelegasian (perawat bedah)

Jenis tindakan operasi yang tidak perlu dilakukan penandaan:

a. Prosedur endoscopy
b. Cateterisasi jantung
c. Prosedur yang mendekati atau melalui garis midline tubuh : SC, Histerektomi ,
Tyroidekateomy, Laparatomi
d. Pencabutan gigi
e. Operasi pada membrane mukosa
f. Perineum
g. Kulit yang rusak
h. Operasi pada bayi dan neonatest
i. Lokasi intar organ seperi mata dan organ THT maka penandaan dilakukan pada
daerah yang mendekati organ berupa tanda panah. pasien yang tidak dilakukan
penandaan (site marking) data diverifikasi pada saat Time Out

2. CHEKLIST KESELAMATAN PASIEN PRA OPERASI

Kejadian kematian dan komplikasi akibat pembedahan dapat dicegah, yaitu


dengan prosedur surgical safety checklist . merupakan sebuah daftar periksa untuk
memberikan pembedahan yang aman dan berkualitas pada pasien. Surgical safety

10
checklist merupakan alat komunikasi untuk keselamatan pasien yang digunakan oleh
tim professional di ruang operasi. Tim professional terdiri dari perawat, dokter bedah,
anastesi dan lainnya. Tim bedah harus konsisten melakukan setiap item yang
dilakukan dalam pembedahan mulai dari The Briefing Phase, The Time Out Phase,
dan The briefing Phase sehingga dapat meminimalkan resiko yang tidak
diinginkan(safety & compliance, 2012)

Manual ini menyediakan petunjuk penggunaan checklist, saran untuk


implementasi, rekomendasi untuk mengkur pelayanan pembedahan dan hasilnya.
Setting praktek yang berbeda harus mengadaptasi sesuai dengan kemampuan mereka.
Tiap poin checklist sudah berdasarkan bukti klinis atau pendapat ahli, Karena dapat
mengurangi kejadian yang serius, mencegah kesalahan pembedahan dan hal ini yang
dapat mempengaruhi kejadian yang tidak diharapkan atau biaya yang tidak terduga.
Checklist ini juga untuk kemudahan dan keringkasan. Banyak langkah yang sudah
diterima sebagai praktek yang rutin diberbagai fasilitas diseluruh dunia walaupun
jarang diikuti oleh keseluruhan. Tiap bagian bedah harus praktek dengan checklist
dan mengevaluasi bagaimana kesensitifan integrasi checklist ini dengan alur operasi
biasanya.

Tujuan utama dari WHO surgical safety checklist dan manualnya untuk
membantu mendukung bahwa tim secara konsisten mengikuti beberapa langkah
keselamatan yang kritis dan meminimalkan hal yang umum dan risiko yang
membahayakan dan dapat dihindari dari pasien bedah. Checklist ini juga memandu
interaksi verbal antar tim sebagai arti konfirmasi bahwa standar perawatan yang tepat
dipastikan untuk seiap pasien. Untuk mengimplementasikan checklist selama
pembedahan seseorang harus bertanggung jawab untuk melakukan pengecekkan
checklist. Biasanya oleh perawat sirkular atau setiap kilinisi yang berpartisipsi dalam
operasi.

Checklist membedakan operasi menjadi 3 fase. Pertama, berhubungan dengan


waktu tertenu seperti pada prosedur normal-periode sebelum induksi anestesi. Keda,
setelah induksi dan sebelum insisi pembedahan. Ketiga, setelah penutupan luka tapi
sebelum pasien RM. Dalam setiap fase, checklist coordinator harus diizinkan

11
mengkonfirmasi bahwa tim sudah melengkapi tugasnya sebelum proses operasi
dilakukan. Tim operasi harus familiar dengan langkah dalam checklist, sehingga
mereka dapat mengintegrasikan checklist tersebut dalam poa normal sehari-hari dan
dapat melengkapi secara verbal tanpa intervensi dari koordinator checklist. Setiap tim
harus menggabungkan penggunaan checklist kedalam pekerjaan dengan efisiensi
yang maksimum dan gangguan yang minimal selama bertujuan untuk melengkapi
langkah secara efektif.

TIGA FASE OPERASI :

1. Fase Sign In
Adalah fase sebelum induksi anestesi,coordinator secara verbal memeriksa
apakah identitas pasien telah dikonfirmasi,prosedur dan sisi operasi sudah
benar,isi yang kan dioperasi telah ditandai,persetujuan untuk operasi telah
diberikan,oksimeter pulse pada pasien berfungsi. Coordinator dengan
professional dengan anestesi mengkorfimasi resiko pasien apakah pasian ada
resiko kehilnagan darah, kesulitan jalan nafas,reaksi alergi.
2. Fase Time Out
Adalah fase setiap anggota tim operasi memperkenalkan diri dan peran
masing-masing. Tim operasi memastikan bahwa semua orang diruang operasi
saling kenal.sebelum melakukan sayatan atau insisi pertama pada kulit,tim
mengkonfirmasi dengan suara yang keras mereka melakukan operasi yang
benar, pada pasien yang benar. Mereka juga mengkonfirmasi bahwa antibiotic
profilaksis telah diberikan dalam 60 menit sebelumnya.
3. Fase Sign Out
Adalah fase tim bedah akan meninjau operasi yang telah dilakukan.dilakukan
pengecekkan kelegkapan spons,perhitungan instrument,pemberin label pada
specimen,kerusakan alat atau masalah lain yang perlu ditangani. Langkah
akhir yang dilakukan tim bedah adalah rencana kunci dan memusatkan
perhatian pada management post operasi serta pemulihan sebelum
memindahan pasien dari kamar operasi (surgery dan lives, 2008).

Setiap langkah harus dichek secara verbal dengan anggota tim yang sesuai untuk
memastikan bahwa tindakan utama telah dilakukan. oleh karena itu,sebelum

12
indeksi anestesi coordinator checklist secara verbal akan meriview denga
anestesis dan pasien, (jika mungkin ) bahwa identitas pasien sudah dikonfirmasi
,bahwa prosedur dan tempat yang dioperasi sudah benar dan persetujuan untuk
pembedahan sudah dilakukan. koordinator akan melihat dan mengkonfirmasi
secara verbal bahwa tempat operasi sudah ditandai (jika mungkin) dan mereview
dengan anestesis resiko kehilangan darah pada pasien, kesulitan jalan nafas dan
reaksi alergi dan mesin anestesi serta pemerikasaan media sudah lengkap.
Idelanya ahli bedah akan hadir pada fase sebelum anestesi ini, sehingga
mempunyai ide yang jelas untuk mengantisipasi kehilangan darah, alergi atau
komplikasi pasien yang lain. Bagaimanapun juga, kehadiran ahli bedah tidak
begitu penting untuk melengkapi ceklis ini.

3. PROSEDUR PENGAPLIKASIAN CEKLIS KESELAMATAN PASIEN PRA


OPERASI

A.Sebelum induksi anestesi


Untuk kepentingan keselamatan pasie, ceklis keselamatan pening untuk
dilengkapi sebelum induksi anestesi. Dalam hal ini membutuhkan kehadiran dari
setidaknya anestesist dan perawat.detail dari setiap langkah adalah sebagai berikut
:
1. Apakah pasien sudah dikonfirmasi identitasnya, tempat operasi, prosedur
dan persetujuan?
2. Apakah tempat operasi sudah ditandai?
3. Apakah mesin anestesi dan pemeriksaan medis sudah lengkap?
4. Apakah pulse oxymeter (SpO2) sudah dipasang pada pasien dan
berfungsi?
5. Apakah pasien memiliki alergi?
6. Apakah pasien memiliki resiko kesulitan jalan nafas atau resiko aspirasi?
7. Apakah pasien memiliki resiko kehilangan darah >500 ml (7ml/kg pada
anak) ?
B.Sebelum insisi kulit
1. Apakah Antibiotik profilaksis sudah diberikan kurang lebih 60 menit yang
lalu ?
2. Antisipasi kejadian kritis
3. Apakah gambaran yang penting sudah ditunjukan?

13
C. Sebelum pasien meninggalkan kamar operasi
1. Pemberian label pada spesimen (membaca label spesimen dengan keras
termasuk nama pasien)
2. Apakah terdapat masalah di peralatan yang perlu diperhatikan?

Contoh dokumentasi :

1. Data rekam medis


2. Data diagnosa
3. Data penunjang medic (laboratorium dan radiologi)
4. Ceklis data pre operasi
5. Ceklis data post operasi

Ceklis Sebelum Anestesi ( Sign In)

Nama :

Tanggal Lahir :

No. RM :

NO. Tindakan Ya Tidak


1. Identifikasi nama pasien
2. Identifikasi prosedur
3. Identifikasi informed consent
4. Penandaan bagian yang akan dioperasi
5. Cek kelengkapan mesin anestesi
6. Kelengkapan obat-obatan
7. Pulse oxymeter (satu rasi O2)
terpasang dan berfungsi
8. Riwayat alergi
9. Kemungkinan kesulitan jalan napas
atau aspirasi
10. Resiko kehilangan darah >500ml
(7ml/kl pada anak kecil )

Ceklist Sebelum Insisi (Time Out)

14
No Tindakan Ya Tidak
1. Konfirmasi anggota tim operasi (nama dan peran)
2. Konfirmasi nama pasien, prosedur dan lokasi insisi
3. Pemberian antibiotic profilaksis sudah diberikan 60
menit sebelumnya
4. Antisipasi kejadian kritis:
Dr.Bedah(operator) :
1. Apa langkah yang akan dilkakukan
selanjutnya
2. Berapa lama akan berlangsung
3. Kemungkinan kehilangan darah?
Dr. Anestesi :
1. Apakah ada patient spesifik-concern?
Perawat instrumen :
Sterilisasi(termasuk indikatornya)
Instrumen
5. Imaging yang diperlukan sudah terpasang

Ceklist sebelum pasien meninggalkan kamar operasi (sign out)

No Tindakan Ya Tidak

1. Perawat melakukan konfirmasi secara verbal :


- Nama prosedur
- Instrumen
- Gas verban dan jam lengkap
- Spesimen telah diberi label dengan PID tepat
- Apa ada masalah peralatan yang harus ditangani

15
2. Dokter kepada perawat dan anestesi :
Apa yang harus diperhatikan dalam recoveri dan
manajemen pasien

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

System informasi baru dapat diterapkan dengan baik apabila mendapat dukungan
dari manajemen, kemudian sosialisasi dengan memberikan pengetahuan dan pemahaman
yang tepat mengenai penggunaannya. Penggunaan Surgery safety checklist WHO
dimaksudkan untuk memfasilitasi komunikasi yang efektif dalam prosedur pembedahan
sehingga meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan dan peningkatan keselamatan
pasien di kamar bedah baik sebelum operasi, selama operasi dan sesudah operasi.

16
WHO mensosialisasikan penggunaan instrument tersebut tahun 2008, tetapi sampai
di Indonesia baru populer sejak keselamatan pasien masuk ke dalam standar penilaian
akreditasi baru rumah sakit. Belum semua RS. Di Indonesia khususnya kamar bedahnya
menggunakan instrument tersebut, Sehingga perlu adanya sosialisasi, dukungan dan
keterlibatan semua pihak agar perawat bersama semua tim yang terlibat mempuyai
tujuan, keyakinan dan kerjasama yang baik untuk memanfaatkan penggunaan
ceklistsecara optimal untuk memberikan pelayanan pembedahan yang terbaik buat pasien
yang terbaik kepada pasien.

B. Saran

1. Bagi rumah sakit khususnya di kamar bedah surgery safety checklist sangat
bermanfaat karena melindungi perawat dan tim bedah lainnya karena dapat dijadikan
sebagai aspek legal yang dapat dipertanggungjawabkan karena seluruh kegiatan yang
dilakukan pada pasien akan diverifikasi dan terdokumentasi didalamnya termasuk
kegiatan persiapan pembedahan, seperti informed concent

2. Bagi rumah sakit yang sudah menggunakan surgery safety checklist dari WHO agar
melakukan evaluasi dan tetap memotivasi tim agar kondisi apapun tetap
menggunakannya.

3. Bagi keperawatan akan melindungi perawat bedah yang terlibat didalam tim karena
ada pernyataan khusus yang ditujukan kepada perawat sebagai instrumentator.

DAFTAR PUSTAKA

Wirawan, Parvani.2012. Standar Pelayanan Medis SPM Dan Standar Operasional Prosedur SOP.
operasional_prosedur_SOP.
Kapalawi, Irwandi. 2015. Langkah-Langkah Standar Operasional Prosedur. Tersedia di
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32843/3/chapter%20II.pdf. Diakses pada
tanggal 13Maret 2017.
Anonim. 2015. Kepmenkes/228/Menkes/SK/III/2008. Tersedia di http://www.bkpm.go.id. Diakses
pada tanggal 13 Maret 2017.

17
18