Anda di halaman 1dari 3

RESUME JURNAL SIG DENGAN KASUS

KERACUNAN PESTISIDA
Latifah Nur : PO7133216052
Prodi D4 Kesling (Ajeng)

Pestisida adalah bahan beracun dan berbahaya, bila tidak dikelola dengan baik dapat
menimbulkan keracunan.1 Pestisida juga merupakan salah satu hasil teknologi modern yang
telah terbukti mempunyai peranan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. 2
Secara garis besar, pestisida dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu pestisida organoklorin
(hidrokarbon berklor), organofosfat (fosfat organik) dan karbamat. Pestisida golongan
organofosfat dan karbamat bersifat lebih toksik dibandingkan pestisida golongan
organoklorin serta berefek akut sehingga sering menimbulkan keracunan pada hewan .
Sedangkan pestisida golongan organoklorin bersifat persisten yaitu tidak mudah terurai dan
berefek kronik serta menyebabkan bioakumulasi di dalam rantai makanan.3
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Program Lingkungan Persatuan Bangsa-
Bangsa (UNEP) memperkirakan ada 1,5 juta kasus keracunan pestisida terjadi pada pekerja
di sektor pertanian. Sebagian besar kasus keracunan pestisida tersebut terjadi di negara
berkembang, yang 20.000 kasus diantaranya berakibat fatal. Beberapa laporan penelitian di
Indonesia mengenai terdeteksinya residu pestisida organoklorinpada berbagai produk hasil
pertanian diantaranya adalah terdeteksinya residu endosulfan pada kedelai ' (NUGRAHA et
al., 1989) .Residu endosulfan pada limbah pertanian (INDRANINGSIH et al., 1990), residu
lindan dan dieldrin yang terdeteksi di bawah ambang batas yang diijinkan dari biji kedelai di
Jawa Barat (SAMUDRA et al., 1992).2
Sumber utama terjadinya pencemaran dari pestisida adalah pestisida yang dipakai
untuk memberantas hama tanaman dan pemeliharaan kesehatan masyarakat dan limbah
industri pestisida Di alam, pestisida diserap oleh berbagai komponen lingkungan yang
kemudian terangkut ke tempat lain oleh air, angin atau oleh jasad hidup yang berpindah
tempat. Dengan masih terdeteksinya residu di alam maka akan menimbulkan
ketidakseimbangan ekosistem yang menyebabkan kematian pada beberapa spesies seperti
cacing tanah, ular sawah, katak dan berbagai jenis serangga yang sebenarnya bukan sasaran
untuk dibunuh. Residu tersebut juga akan membahayakan hewan yang mengkonsumsi
hijauan yang tumbuh di daerah tersebut yang menjadi sumber pakan . Hal lainnya adalah
terakumulasinya residu tersebut pada hewan air (ikan) seperti yang dilaporkan didaerah
Lembang dan Pangalengan dan residu turunan DDT pada udang, kepiting dan ikan didaerah
Cimanuk (FAEDAH et al., 1993) . Pengaruh residu pestisida golongan organoklorin terhadap
hewan dan manusia .Ikan adalah hewan yang peka terhadap pestisida organoklorin sedangkan
jenis unggas lebih tahan terhadap pestisida golongan organoklorin. BARTIK (1981)
melaporkan bahwa mamalia yang peka terhadap DDT adalah tikus putih, tikus rumah, anjing,
kelinci, kera, marmot, babi, kuda,sapi, domba dan kambing.3
Diagnosis keracunan pestisida golonganorganoklorin pada hewan Diagnosis untuk
keracunan pestisida golongan organoklorin sulit ditentukan karena pestisida ini bersifat
kumulatif dalam jaringan tubuh clan kejadiannya memerlukan waktu yang lama (kronik) .
Kematian dapat terjadi bila dosis yang termakan oleh hewan jauh melampaui dosis toksik
(akut), namun kejadian ini jarang terjadi. Beberapa peneliti melaporkan gejala-gejala
keracunan DDT pada ayam diantaranya kelumpuhan dari bagian lidah clan bibir, sangat peka
terhadap rangsangan, gemetar, kejang-kejang clan sempoyongan (SEAWRIGHT, 1982 ;
CASARET clan DOULL, 1975) .Residu pada produk hewani clan kaitannya dengan manusia
Efek residu pestisida golongan organoklorin yang ditimbulkan bersifat kronik yang dapat
menyebabkan gangguan pada fungsi hati clan adrenal clan juga dapat menimbulkan efek
karsinogenik, teratogenik, mutagenik clan imunosupresif (GOEBEL et al., 1982) . Apabila
manusia mengkonsumsi produk hewani yang terkontaminasi residu pestisida golongan
organoklorin, maka akan berakibat yang sama pula terhadap manusia . LATIMER clan
SIEGEL (1977) melaporkan bahwa konsentrasi tertinggi dari residu yang terdeteksi pada
organ ayam pedaging adalah pada kelenjar adrenal, hati clan otak.3
Dari tiga jurnal, pengamat mengambil satu kasus dengan judul Studi Sebaran Spasial
Berbagai Golongan Pestisida Pada Lahan Pertanian Kentang Di Desa Kepakisan Kecamatan
Batur Kabupaten Banjarnegara Tahun 2013.1
Tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan tanaman yang dapat tumbuh di
daerah tropik dan sub tropik. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan yang selanjutnya
dibawa oleh penjajah Eropa yang datang ke Indonesia. Upaya peningkatan mutu dan
produktivitas hasil pertanian kentang tidak terlepas dari penggunaan pestisida untuk
membasmi hama tanaman. Namun, penggunaan pestisida yang berlebihan dan tidak
terkendali dapat memberikan risiko keracunan bagi petani. Pada umumnya, petani kurang
menyadarinya karena gejala keracunan pestisida tidak tampak jelas karena seperti penyakit
biasa seperti pusing, mual dan lemah. Gejala tersebut dianggap tidak memerlukan terapi dan
pengobatan khusus1. Persebaran pestisida pada petani kentang pada umumnya adalah
golongan organofosfat, karbamat dan organoklorin yang dapat menimbulkan gejala anemia1.
Penggunaan pestisida golongan organoklorin juga menyebabkan keracunan kronis bagi
manusia dan sulit terurai di lingkungan. Bahaya yang ditimbulkan pestisida bagi lingkungan
dan manusia memerlukan visualisasi distribusi dan persebaran pestisida pada lahan pertanian
kentang secara spasial berdasarkan golongan pestisida, sehingga dapat diketahui dengan
mudah dan akurat melalui citra pemetaan. Metode yang tepat digunakan adalah Sistem
Informasi Geografis (SIG). SIG adalah sistem informasi berbasis komputer untuk
memasukkan, mengolah dan menganalisa data-data obyek permukaan bumi dalam bentuk
grafis, koordinat, database, yang hasilnya dapat menggambarkan fenomena keruangan
(spasial) dan dapat digunakan sebagai basis informasi untuk pengambilan keputusan di
berbagai bidang, khususnya dalam hal ini terkait dengan persebaran pestisida. Data lokasi dan
persebaran yang dihasilkan SIG dapat membantu bidang epidemiologi dengan memberikan
petunjuk lokasi paling tepat dalam pemberian intervensi kesehatan yang efektif.
Desa Kepakisan merupakan salah satu desa di Kecamatan Batur yang terletak di
bagian ujung utara. Batas administrasi Desa Kepakisan meliputi:
a. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Batang
b. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Karang Tengah.
c. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Pejawaran
d. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Pekasiran
Desa ini terletak pada ketinggian 1834 mdpl, dengan keadaan suhu 15-170C dengan
luas wilayah ±554,882 Ha. Luas lahan pertanian 323 Ha, tanah pekarangan 49,672 Ha, hutan
Negara 168 Ha dan jenis penggunaan lahan lainnya 14,735 Ha. Jumlah penduduk laki-laki
1260 jiwa dan perempuan 1434 jiwa, dengan mata pencaharian utama petani penggarap lahan
kentang. Kepala keluarga berjumlah 794 dengan 508 diantaranya tergolong keluarga miskin.
Pendidikan tertinggi penduduk adalah lulusan SLTP.1
Penggunaan pestisida di Desa Kepakisan beragam, yaitu dengan cara disemprotkan
atau ditaburkan pada tanaman. Petani bertujuan untuk mengendalikan serangan jamur dan
serangga yang dapat menyebabkan tanaman kentang menjadi busuk dan layu. Persebaran
pestisida di Desa Kepakisan merata di empat dusun dengan jenis pestisida disesuaikan
dengan kondisi hama (Tabel 1). Jarak antara lahan pertanian dengan pemukiman penduduk
tidak lebih dari 100 meter (Gambar 4). Hasil penelitian pada Gambar 2 dan 3 serta Tabel 2
menunjukkan tingginya penggunaan pestisida di Desa Kepakisan sehingga perlu dilakukan
pengawasan, bukan hanya petani atau pekerja penyemprot pestsida tetapi juga keluarga dan
tetangga yang berdekatan (terutama ibu hamil dan balita). Referensi (1,4,5) mengemukakan
bahwa masuknya pestisida ke dalam tubuh manusia dapat melalui beberapa cara yaitu kulit
(sub-cutan), pernafasan (inhalasi), dan mulut (oral). Proses keracunan pada petani
penyemprot 90% melalui kulit, sedangkan sisanya melalui pernafasan4,5,6. Tingkat
keracunan pada petani dapat diketahui dengan pengukuran kadar enzim kholinesterase dalam
tubuh6. Kecamatan Batur merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Banjarnegara yang
menjadi perhatian Komisi Pestisida (Kompes) melalui Dinas Kesehatan Kabupaten. Hal
tersebut dilakukan untuk mencegah akibat fatal bagi manusia dan lingkungan. Upaya yang
dapat dilakukan untuk menghindari pencemaran udara dan pemukiman akibat residu pestisida
antara lain dengan memberikan penutup/atap di atas pakaian yang dijemur, menutup pintu
dan jendela rumah pada saat kecepatan angin tinggi. Upaya menurunkan residu pestisida di
tanah dapat dilakukan dengan menanam tanaman semak atau perdu yang dapat menyerap zat-
zat toksik pestisida. Analisis buffer antara pemukiman penduduk dengan unit pelayanan
kesehatan pada Gambar 5 dan 6 menunjukkan bahwa Puskesmas 2 Batur merupakan sarana
kesehatan terdekat, tetapi akses jalan rusak dan medan sulit. Hal ini juga menjadi hambatan
bagi penduduk Desa Kepakisan untuk memperoleh informasi dan penanganan kesehatan
terkait risiko residu pestisida. Kesimpulan dari jurnal ini adalah Peta sebaran spasial
penggunaan pestisida merata di empat dusun Desa Kepakisan dengan pengguna pestisida
tertinggi petani (31-40 tahun). Jarak daerah buffer tempat penggunaan pestida tidak lebih 100
meter dengan lokasi pemukiman penduduk. Jarak pemukiman dengan unit pelayanan
kesehatan terdekat 4 km dan terjauh 9 km. Hasil tersebut merekomendasikan agar petani
menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) pada saat aplikasi pestisida dan memperatikan arah
serta kecepatan angin untuk menurunkan risiko keracunan residu pestisida.1
Referensi
1. Sofiyatun E, Faidah DA, Setiawan WA. Studi Sebaran Spasial Berbagai Golongan
Pestisida Pada Lahan Pertanian Kentang Di Desa Kepakisan Kecamatan Batur
Kabupaten Banjarnegara Tahun 2013. Semarang : 2013; 16, 11 doi : 979-26-
0266-6
2. Marsaulina I, Wahyuni AS . Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Keracunan
Pestidida pada Petani Hortikultura dikecamatan Jorlangtaran Kabupaten
Simalungun Tahun 2005. Artikel
3. Indraningsih. Widiastur R. Residu Pestisida Organoklorin serta Kemungkinan
pada Ternak dan Manusia. Balai Penelitian Veteriner Man R.E. Martadinata 30,
P.O. Box 151, Bogor 16114