Anda di halaman 1dari 7

TUGAS KARYA ILMIAH

“RESPON IMUN TUBUH TERHADAP INFEKSI


JAMUR”

OLEH : PRIYANKA PRIMA PUTRI


NO. BP : 1510311003

PRODI : PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
T.A 2015/2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Sistem imun merupakan sistem perlindungan tubuh dari pengaruh luar yang
membahayakan. Terdiri atas rangkaian rumit yang berisi sel, jaringan, serta organ-organ yang
menyatu satu sama lain untuk melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Jika sistem
imun bekerja dengan benar, sistem itu akan melindungi tubuh terhadap infeksi jamur atau
antigen yang lain. Jamur dapat menjadi suatu antigen karena termasuk golongan polisakarida.
Sistem imunitas ini juga dapat mengalami suatu kegagalan akibat tidak dapat memusnahkan
antigen yang masuk ke dalam tubuh. Salah satunya adalah terjadinya reaksi hipersensitivitas
yang biasa disebut dengan alergi.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana identifikasi jamur?


2. Bagaimana cara jamur menginfeksi tubuh?
3. Bagaimana respon imun terhadap infeksi jamur?
4. Apa saja komponen yang berperan dalam pertahanan kulit?
5. Apa saja macam-macam reaksi hipersensitivitas?

C. Tujuan

1. Agar dapat mengetahui identifikasi jamur


2. Agar dapat mengetahui cara jamur menginfeksi tubuh
3. Agar dapat mengetahui respon imun terhadap infeksi jamur
4. Agar dapat mengetahui komponen yang berperan dalam pertahanan kulit
5. Agar dapat mengetahui macam-macam reaksi hipersensitivitas

D. Manfaat

1. Mengetahui identifikasi jamur


2. Mengetahui cara jamur menginfeksi tubuh
3. Mengetahui respon imun terhadap infeksi jamur
4. Mengetahui komponen yang berperan dalam pertahanan kulit
5. Mengetahui macam-macam reaksi hipersensitivitas
BAB II
PEMBAHASAN

Jamur
Jamur (fungi) adalah organisme eukariot yang memiliki satu inti dan membran inti,
retikulum endoplasma, mitokondria, dan aparatus sekresi. Jamur memiliki dinding sel kaku
penting yang menentukan bentuknya. Dinding sel sebagian besar terdiri dari lapisan karbohidrat
(rantai panjang polisakarida) serta glikoprotein dan lipid. Dinding sel melepaskan antigen
imunodominan yang dapat menimbulkan respon imun selular dan antibodi diagnostik. Jamur
tumbuh dalam dua bentuk dasar, yaitu:
1. Ragi
Merupakan sel tunggal berbentuk sferis sampai elips dengan diameter 3-5 µm. Ragi bereproduksi
dengan membentuk tunas. Setelah proses pembentukan tunas dihasilkan rantai sel ragi yang
memanjang, disebut pseudohifa.
2. Kapang
Terdiri dari tubulus silindris bercabang (hifa). Hifa dibagi mnejadi sel-sel oleh dinding pembatas
atau septum yang khas terbentuk pada interval regular selama pertumbuhan hifa.

Menurut lokasi infeksi, jamur pada manusia dapat berupa:


1. Jamur permukaan
Hidup dalam komponen kulit yang mati, rambut, dan kuku yang mengandung keratin.
2. Jamur subkutan
Hidup sebagai saprofit dan menimbulkan nodul kronik atau tukak.
3. Jamur saluran napas
Berasal dari saprofit tanah dan menimbulkan infeksi paru subklinis atau akut.
4. Kandida albikans
Menimbulkan infeksi superfisial pada kulit dan membran mukosa.

Komponen sistem imun pada kulit


Kulit berperan sebagai sawar fisik terhadap lingkungan dan inflamasi. Banyak antigen
asing masuk tubuh melalui kulit dan respon imun diawali di kulit. Kulit terdiri atas lapisan
epidermis dan dermis, antara lain:

1. Epidermis
Merupakan epitel yang tersusun berlapis yang terdiri atas beberapa lapis. Sel keratinosit dari
epidermis diikat satu sama lain karena mempunyai sitoskeleton yang terdiri atas filamen keratin.
Di bawah epidermis ada membran basal. Di daerah ini ditemukan struktur khusus yang
merupakan tempat epidermis diikat oleh dermis yang disebut dengan matriks. Matriks terdiri atas
polisakarida dan protein yang membentuk makromolekul. Membran basal sangat mudah rusak
atau terganggu fungsinya dan merupakan tempat umum terjadinya lepuh. Komponen utama
sistem imun kulit terdiri atas keratinosit, sel langerhans, dan limfosit intraepidermal. Sel
langerhans berperan dalam induksi aktivasi sel T pada dermatitis alergi, dan lain-lain. Sel epitel
skuamosa yang merupakan sel utama epidermis berfungsi memproduksi berbagai sitokin yang
berperan dalam reaksi imun nonspesifik, inflamasi, dan regulasi respons imun di kulit.
Komponen imun lainnya berupa melanosit yang memproduksi pigmen.
2. Dermis
Komponen utama sistem imun di bagian dermis adalah sel T dan makrofag. Dermis mengandung
kolagen yang memproduksi fibroblas dalam jumlah banyak. Dermis juga mengandung pembuluh
darah, folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebaseus. Sel CD 4 dan CD 8 banyak
ditemukan di dermis, terutama perivaskular dengan sedikit makrofag. Sel T dermal
mengekspresikan epitop hidrat arang yang disebut antigen 1, bereaksi dengan molekul adhesi
pada endotel yang berperan dalam homing spesifik sel T memori ke kulit. Dermis juga
mengandung sel mast yang berperan pada reaksi hipersensitivitas cepat.

Respon imun terhadap infeksi jamur


Imunitas spesifik

Infeksi jamur disebut mikosis. Jamur yang masuk ke dalam tubuh akan mendapat
tanggapan melalui respon imun. IgM dan IgG di dalam sirkulasi diproduksi sebagai respon
terhadap infeksi jamur. Respon cell-mediated immune (CMI) adalah protektif karena dapat
menekan reaktivasi infeksi jamur oportunistik. Respon imun yang terjadi terhadap infeksi jamur
merupakan kombinasi pola respon imun terhadap mikroorganisme ekstraseluler dan respon imun
intraseluler. Respon imun seluler dilakukan sel T CD 4 dan CD 8 yang bekerja sama untuk
mengeliminasi jamur. Dari subset sel T CD 4, respon Th 1 merupakan respon protektif,
sedangkan respon Th 2 merugikan tubuh.
Kulit yang terinfeksi akan berusaha menghambat penyebaran infeksi dan sembuh,
menimbulkan resistensi terhadap infeksi berikutnya. Resistensi ini berdasarkan reaksi imunitas
seluler, karena penderita umumnya menunjukkan reaksi hipersensitivitas IV terhadap jamur
bersangkutan.

Imunitas nonspesifik

Sawar fisik kulit dan membran mukosa, faktor kimiawi dalam serum dan sekresi kulit
berperan dalam imunitas nonspesifik. Efektor utamanya terhadap jamur adalah neutrofil dan
makrofag. Netrofil dapat melepas bahan fungisidal seperti ROI dan enzim lisosom serta
memakan jamur untuk dibunuh intraselular. Galur virulen (kriptokok neofarmans) menghambat
produksi sitokin TNF dan IL-12 oleh makrofag dan merangsang produksi IL-10 yang
menghambat aktivasi makrofag.

Penyakit infeksi jamur


Penyakit yang ditimbulkan jamur dapat dibagi dalam tiga golongan klinis, yaitu:
1. Mikosis superfisial
Sering menginfeksi kulit, rambut, dan kuku. Infeksi jamur ini kronis, relatif tidak berat.
Golongan ini juga termasuk kandida albikans.
2. Mikosis subkutan
Dapat ditimbulkan oleh luka akibat tusukan jarum dan ditandai oleh abses.
3. Mikosis sistemik
Merupakan infeksi jamur yang terberat, seperti histoplasmosis, kriptokokis, dan koksidiomikosis
yang bermula sebagai infeksi paru dan diperoleh dari inhalansi spora dari jamur yang hidup
bebas. Kebanyakan infeksi tidak menunjukkan gejala atau hanya berupa gejala influenza ringan,
tetapi kadang menyebar ke jaringan lain dan sering fatal bila tidak diobati.

Hipersensitivitas
Hipersensitivitas yaitu reaksi imun yang patologik, terjadi akibat respon imun yang
berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Reaksi hipersensitivitas oleh
Robert Coombs dan Philip HH Gell dibagi dalam 4 tipe reaksi, antara lain:
1. Hipersensitivitas tipe I
Disebut juga reaksi cepat atau reaksi anafilaksis atau reaksi alergi. Reaksi ini timbul segera
setelah tubuh terpajan alergen. Urutan kejadian reaksi tipe I yaitu:
1) Fase sensitasi, waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE hingga diikatnya oleh reseptor
spesifik pada permukaan sel mast dan basofil.
2) Fase aktivasi, waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang spesifik dan sel
mast melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi.
3) Fase efektor, waktu terjadi respon yang kompleks sebagai efek mediator-mediator yang dilepas
sel mast dengan aktivasi farmakologik.

2. Hipersensitivitas tipe II
Disebut juga reaksi sitotoksik atau sitolitik. Reaksi ini terjadi karena dibentuk antibodi jenis IgG
atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu. Istilah sitolitik lebih tepat
mengingat reaksi yang terjadi disebabkan lisis dan bukan efek toksik.

3. Hipersensitivitas tipe III


Disebut juga reaksi kompleks imun. Terjadi bila kompleks antigen-antibodi ditemukan dalam
sirkulasi atau dinding pembuluh darah atau jaringan dan mengaktifkan komplemen. Kompleks
imun akan mengaktifkan sejumlah komponen sistem imun.

4. Hipersensitivitas tipe IV
Reaksi ini dibagi dalam DTH yang terjadi melalui sel CD 4 dan T Cell Mediated Cytolysis yang
terjadi melalui sel CD 8.

1) Delayed Type Hypersensitivity (DTH)


CD 4 Th1 mengaktifkan makrofag yang berperan sebagai efektor. Selain itu juga melepas sitokin
yang mengaktifkan makrofag dan menginduksi inflamasi. DTH dapat terjadi sebagai respon
terhadap bahan yang tidak berbahaya dalam lingkungan.
2) T Cell Mediated Cytolysis
Kerusakan terjadi melalui sel CD 8 yang langsung membunuh sel sasaran.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Kulit merupakan pertahanan pertama terhadap pajanan antigen. Di bagian epidermis
terdapat komponen imun yang berupa keratinosit, sel langerhans, limfosit intraepidermal, dan
melanosit. Fungsi dari keratinosit adalah memproduksi berbagai sitokin. Melanosit berfungsi
memproduksi pigmen. Sedangkan pada dermis terdapat sel T dan makrofag.
Penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofit disebut dermatofitosis.
Golongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena mempunyai daya tarik kepada
keratin sehingga infeksi jamur ini dapat menyerang lapisan-lapisan kulit mulai dari stratum
korneum sampai stratum basalis.

B. Saran
Untuk menghindari infeksi jamur pada kulit, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1. Biasakan cuci tangan dan mandi dengan air yang bersih
2. Hindari menggunakan barang secara bergantian, misalnya pemakaian handuk yang sama pada
suatu keluarga
3. Perhatikan kebersihan kuku tangan dan kaki
4. Jangan biarkan pakaian lembab oleh keringat, karena akan memudahkan jamur untuk
berkembang biak
5. Konsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna untuk menjaga imunitas tubuh
DAFTAR PUSTAKA
Baratawidjaja, Karnen Garna. 2006. Imunologi Dasar Edisi Tujuh. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Rani, Aziz. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Brooks, Geo F. 2007. Mikrobiologi Kedokteran Jawetz, Melnick, dan Adelberg.Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.