Anda di halaman 1dari 4

PENDAHULUAN

Mikrobiologi merupakan suatu telaah studi mengenai mikroorganisme.


Mikroorganisme merupakan organisme hidup yang berukuran kecil yang hanya
dapat dilihat secara mikroskopis. Mikroorganisme yang ada di alam terdiri dari
berbagai macam jenis dan jumlahnya tidak terbatas. Mikroorganisme dapat
tumbuh dan berkembang biak dimana saja dengan syarat cukup nutrien dan
berkembang pada médium yang tepat. Medium dapat berupa médium cair,
médium padat dan médium setengah padat. Mikroorganisme baik yang
membentuk koloni atau tidak, saat berkembang pada suatu medium dapat
diketahui jumlahnya dengan beberapa metode salah satunya adalah metode
hitungan cawan. Mikroorganisme ada yang memiliki sifat menguntungkan dan
ada juga yang bersifat merugikan, untuk mengetahuinya dapat dilakukan
serangkaian pengujian melalui pewarnaan mikroorganisme.

Tujuan dari praktikum mikrobiologi ini yaitu untuk mengetahui cara pembuatan
medium dan larutan pengencer, cara sterilisasi, menghitung jumlah bakteri dengan
metode hitungan cawan dan cara pewarnaan gram positif maupun negatif.
Manfaat dari praktikum mikrobiologi ini adalah mengetahui cara pembuatan
medium dan larutan pengencer, cara sterilisasi, menghitung jumlah bakteri dengan
metode hitungan cawan serta mengetahui cara pewarnaan gram positif maupun
negatif.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sterilisasi

Sterilisasi adalah proses yang menghancurkan semua bentuk kehidupan. Suatu


benda yang steril, dipandang dari sudut mikrobiologi, artinya bebas dari
mikroorganisme hidup. Suatu benda atau substansi hanya dapat steril atau tidak
sreril tidak akan mungkin setengah steril atau hamper steril (Pelozar, 1988).
Sterilisasi yaitu suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada,
sehingga jika ditumbuhkan didalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang
dapat berkembang biak. Sterilisasi secara umum dapat dilakukan dengan berbagai
cara, yaitu sterilisasi secara fisik yang meliputi pemanasan sinar ultraviolet, sinar
X dan sebagainya. Sterilisasi dengan pemanasan terdapat empat cara yaitu dengan
cara pemijaran, sterilisasi dengan udara panas, sterilisasi dengan menggunakan
uap air panas, sterilisasi dengan menggunakan uap panas yang bertekanan.
Sterilisasi yang selanjutnya adalah sterilisasi secara kimia. Sterilisasi ini
menggunakan disinfektan, larutan alkohol, larutan formalin (Fardiaz, 1992).

2.1.1. Sterilisasi kering


Sterilisasi kering digunakan dalam sterilisasi alat-alat gelas dilaboratorium,
dimana digunakan oven dengan suhu 160-1800C selama 1,5-2 jam dengan sistem
udara statis. Praktik menggunakan oven yang dilengkapi dengan sirkulsai udara
panas, diperlukan waktu setengahnya karena aliran udara panas kealat-alat gelas
akan lebih efisien (Fardiaz, 1992). Sterilisaisi kering dapat dilakukan dengan cara
pemijaran, jilatan api, dan tanur uap panas. Pemijaran diterapkan pada ose ujung-
ujung pinset dan sudip logam. Jilatan apai diterapkan terhadap skalpel, jarum,
mulut tabung biakan, kaca objek, dan kaca penutup. Tanur uap panas digunakan
dengan suhu 160-1650C selama satu jam. Tanur uap panas diterapkan terhadap
alat-alat kering tebuat dari kaca seperti tabung reaksi, punggan petri, labu, pipet,
pinset, skalpel, gunting kapas hapus tenggorok, alat suntik dari kaca, juga
diterapkan pada bahan-bahan kering dalam tempat-tempat tertutup, bahan serbuk,
lemak dan minyak (Irianto, 2010).

2.1.2. Sterilisasi basah

Sterilisasi dengan menggunakan pemanasan basah, dapat dengan beberapa cara


perebusan, pemanasan dengan tekanan, tindalisasi dan pasteurisasi. Perebusan
dapat didalam air mendidih dengan suhu 1000C selama beberapa menit.
Pemanasan dengan tekanan dapat dilakukan dengan menggunakan autoklaf untuk
membunuh bakteri yang paling tahan panas. Spora yang paling tahan panas
akanmati pada suhu 1210C selama 15 menit. Tindalisasi dilakukan dengan cara
memanaskan medium atau larutan menggunakan uap selama satu jam tiap hari
utuk tiga hari berturut-turut. Waktu inkubasi diantara dua proses pemanasan
sengaja diadakan supaya spora dapat bergerminasi menjadi sel vegetatif sehingga
mudah dibunuh pada pemansan berikutnya. Pasteurisasi biasanya diakukan pada
terhadap susu. Proses ini dapat mencegah penyakit yang disebabkan oleh
streptokoki grup A. Pasteurisasi dilakukan pada suhu 650C selama 30 menit atau
720C selama 15 detik. Setelah pasteurisasi, produk harus didinginkan untuk
mencegah pertumbuhan bakteri yang masih hidup (Fardiaz, 1992). Uap mengalir
bebas diguakan dalam tempat yang tidak tertutup rapat yang dapat menahan uap
itu tanpa tertekan. Air mendidih dan uap bebas tidak perbnah mencapai suhu lebih
dari 1000C (2120F). Uap bebas ini digunakan untuk mensterilisasi dengan
menggunakan uap pada suhu 1000C yang dialirkan pada benda yang disterilkan
untuk beberapa menit berkali-kali (tiga sampai empat kali) dengan selang waktu
24 jam (Irianto, 2010).

2.2.1. Medium Nutrient Agar (NA)

Medium Nutrient Agar (NA) masuk kedalam medium khusus karena


dibuat sebagai tempat menumbuhkan mikroba yang sudah diketahui komposisi
pembuatannya. NA di buat dengan komposisi agar – agar yang sudah dipadatkan
sehingga NA juga bisa disebut dengan nutrient padat yang digunakan untuk
menumbuhkan bakteri. Fungsi agar – agar hanya sebagai pengental namun bukan
zat makanan pada bakteri, agar dapat mudah menjadi padat pada suhu tertentu.
Medium Nutrient Agar adalah salah satu medium padat yang memiliki komposisi
yaitu agar – agar yang telah di panaskan dan mencair dengan suhu 950C
(Dwidjoseputro, 1994). Agar–agar adalah zat pengental dan bukan sebagai
sumber makanan bagi bakteri. Agar–agar digunakan untuk membuat medium
padat, agar larut dan menjadi padat pada suhu 450C. NA lebih bersifat umum
sehingga mikroba banyak tumbuh pada media ini (Amelia et al, 2005).

2.3.1. Pengenceran

Bahan pangan dalam metode hiutungan cawan diperkirakan mengandung


lebih dari 300 sel jasad renik per ml atau per gram atau per cm apabila
pengambilan contoh dilakukan pada permukaan. Memerlukan perlakuan
pengencernaan sebelum ditumbuhkan agar di dalam cawan petri, setelah inkubasi
akan terbentuk koloni pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung,
dimana jumlah yang terbaik diantara 30 sampai 300 koloni (Fardiaz, 1992).
Pengencernaan biasanya dilakukan secara desimal yaitu 1:10, 1:100, 1:000 dan
seterusnya, atau 1:100, 1:10000, 1:1000000 dan seterusnya. Larutan yang
digunakan untuk pengencernaan dapat berupa larutan bufer fosfat, 0,85% NaCI,
atau larutan Ringer (Sandjaja, 1992).

2.3.2. Metode Tuang (Pour Plate)

Cara pemupukan dalam metode hitungan cawan dapat dibedakan atas dua cara
yaitu metode tuang dan metode permukaan. Sejumlah contoh dalam metode tuang
dari pengenceran yang dikehendaki dimasukkan ke dalam cawan petri kemudian
ditambah agar cair steril yang telah didinginkan pada suhu 47-50oC dengan
jumlah yang dikehendaki dan digoyangkan supaya contoh menyebar rata (Fardiaz,
1992). Cara membuat medium agar cair dalam tabung reaksi, didinginkan sampai
sekitar 45ºC, disuntikkan sesaat sebelum dituangkan ke dalam cawan petri steril.
Pertumbuhan ini akan mengembangkan seluruh media di piring baik di
permukaan dan di kedalaman agar-agar (Sandjaja, 1992).

2.4. Pewarnaan Gram

Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-
sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri berdasarkan morfloginya
bentuk bakteri dapat dibagi atas tiga golongan yaitu basil, kokus dan spiral. Basil
(bacillus) dan bakteri lactobacillus ini berbentuk batang, bervariasi panjang dan
ramping sedangkan Eschericia coli memiliki bentuk coccus dan merupakan tipe
bakteri gram negatif karena termasuk dalam bakteri pathogen. Bakteri yang hidup
hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut
disuspensikan (Pelczar, 1988). Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri
sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau
pewarnaan. Hal tersebut berfungsi juga untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu
mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan atau
pewarnaan pada bakteri (Irianto, 2005). Cara untuk melihat bakteri dengan jelas,
tubuhnya perlu di isi dengan zat warna, pewarnaan ini disebut pengecatan bakteri.
Bakteri berasal dari suatu koloni yang mempunyai warna tertentu, maka untuk
memperlihatkan bagian-bagian sel itu harus diperlukan pewarnaan. Pewarnaan
gram memilahkan bakteri menjadi gram positif dan negatif. Pewarnaan gram
positif apabila yang mempunyai zat warna asli yaitu ungu jika ditetesi dan gram
positif termasuk lactobacillus lebih peka terhadap fenol, penisilin, dan resisten
terhadap streptomisinin sedangkan gram negatif termasuk bakteri Eschericia coli
apabila diuji pewarnaan akan berwarna merah dan yang demikian ini dinamai
gram variabel. (Dwijoseputro, 1994).