Anda di halaman 1dari 3

Penerapan Teori Manajemen Pemasaran Pada Usaha Batik Bola

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu
pada dua hal.Yang perama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk
mencegah pewarnaan sebagian dari kain.
Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno dahulu pernah terlontar pemikiran yang
ingin menjadikan batik sebagai produk andalan, dan sekaligus sebagai jati diri bangsa
Indonesia.Ketika itu dikumandangkan pertama kali mengenai sebutan “batik Indonesia”.Batik
juga dinilai memiliki tujuan politis yaitu sebagai alat pemersatu bangsa.Menyatukan berbagai
corak ragam suku bangsa yang selama ini telah memiliki kekhasan masing-masing dalam
berpakaian daerah.
Batik menjadi produksi paling utama di Jawa.Perkembangan Batik menjadi amat kuat
setelah ditemukannya metode penanaman serat kapas (ciam) dari tanaman Jong yang sangat ahli
dilakukan oleh orang-orang Cina di Pekajangan (Pekalongan) pada tahun 1880.Ditemukannya
serat ini membuat jiwa dagang orang Pekalongan tumbuh.Banyak dari saudagar-saudagar
Pekalongan baik keturunan Cina atau Jawa asli yang berpindah ke Solo dan membangun usaha
Batik.
Manajemen Pemasaran Batik: Batik Motif Bola
Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan,
mengomunikasikan, dan memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan
pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku kepentingannya.
Manajemen pemasaran sendiri merupakan seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan meraih,
mempertahankan, serta menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, menghantarkan, dan
mengomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.[4]
Dalam pembahasannya, manajemen pemasaran batik menggunakan beberapa teori
sebagai pendekatan, diantaranya yaitu:
 STP (Segmentation, Targeting, Positioning)
 4P (Product, Price, Place, Promotion)
 Lingkungan dan Situasi Konsumen

I. STP (Segmentation, Targeting, Positoning)

a. Segmentation
Segmentasi adalah usaha untuk membagi pasar kedalam kelompok-kelompok yang dapat
dibedakan satu sama lain dalam hal kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang mungkin akan
memerlukan produk-produk dan strategi pemasaran tertentu untuk menjangkaunya. Ada
beberapa segmentasi pasar yang dapat dijadikan acuan manajemen pemasaran:

i. Segmentasi Geografis
ii. Segmentasi Demografis
iii. Segmentasi Psikografis
iv. Segmentasi perilaku
b. Targeting

Targeting adalah penetapan pasar sasaran, dimana perusahaan harus meng-evaluasi berbagai
segmen dan memutuskan segmen mana yang akan di layani.
Pilihan pasar sasaran yang dituju tersebut, bisa didasarkan atas beberapa pertimbangan, yang
diantaranya :
· Ukuran segmen dan pertumbuhan. Informasi mengenai volume penjualan, proyeksi tingkat
pertumbuhan dan profit margin yang diharapkan akan membantu perusahaan dalam mengetahui,
apakah segmen yang dipilihnya itu cukup besar dan mampu mendorong pertumbuhan
perusahaan dimasa datang atau tidak.
· Daya tarik struktural segmen. Pertimbangan ini mencakup analisa pesaing, produk atau jasa
substisusi, daya beli konsumen.
· Tujuan-tujuan dan sumber-sumber perusahaan. Perusahaan juga harus mempertimbangkan
apakah pelayanan yang akan diberikan kepada segmen yang akan dipilihnya itu sesuai atau tidak
dengan tujuan dan sumber-sumber yang dimiliki perusahaan.

Segmentasi dan target pemasaran batik motif bola sudah memenuhi syarat-syarat diatas. Hal
ini terlihat dari permintaan batik bola dipasaran meningkat, apalagi menurut kabarnya, batik bola
menjadi tenar setelah Gading Martin dan Andhika Pratama memakai batik bola ini di acara
Inbox.Tentu saja, melihat panggilan batik ini, dipastikan yang mengincarnya adalah para
penggila bola.Apalagi warna motif tersebut terkesan trendi dan nyentrik.Terlebih lagi, baju
tersebut terkesan santai namun formal sehingga cocok juga dipakai saat nonton bola hingga
kondangan.Peminat baju batik dengan motif bola sangat digandrungi, dan rata-rata merupakan
anak muda yang gila bola. Mulai dari siswa SMA, mahasiswa hingga pekerja dengan usia 25-40
tahun.

c. Positioning

Ketika sebuah positioning telah ditetapkan untuk suatu produk atau jasa, pemasar harus
mampu menterjemahkan ke dalam suatu strategi untuk mengkomunikasikan manfaat atas atribut
produk kepada konsumen.

II. 4P (Product, Price, Place, Promotion)

1. Product
Pertama-tama, untuk masuk ke pasar, kita harus memiliki produk yang bagus sesuai dengan
target pasarnya.
2. Price
Produk tersebut harus memiliki harga yang sesuai dengan target pasar.
3. Place
Lokasi atau tempat yang kita masuki juga menentukan keberhasilan menggarap target pasar.
4. Promotion
Ketiga P yang lain tak akan berarti tanpa promosi, yakni mengkomunikasikan produk kita
kepada target pasar.

III. Lingkungan dan Situasi Konsumen

a. Lingkungan konsumen
Konsumen tidak hidup sendiri, ia berinteraksi dengan keluarganya, saudaranya, teman-
temannya, dan orang-orang disekelilingnya. Konsumen adalah mahluk sosial yang dipengaruhi
oleh lingkungan sosial dan lingkungan alam sekitarnya.
Berdasarkan kedekatannya dengan konsumen, lingkungan konsumen terbagi kedalam
lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro adalah lingkungan yang sangat
dekat dengan konsumen, yang berinteraksi langsung dengan konsumen. Lingkungan mikro akan
mempengaruhi perilaku, sikap dan kognitif konsumen tertentu secara langsung. Contoh keluarga,
teman-teman dan orang-orang yang berinteraksi langsung dengan konsumen.
Sedangkan lingkungan makro adalah lingkungan jauh konsumen. Lingkungan makro sosial
bersifat umum dan berskala luas, misalnya sistem pulitik dan hukum, kondisi ekonomi, dan
budaya. Karena itu, lingkungan makro memiliki pengaruh luas terhadap masyarakat bukan hanya
kepada individu konsumen.

b. Situasi konsumen
Situasi konsumen adalah faktor lingkungan sementara yang menyebabkan suatu situasi
dimana perilaku konsumen muncul pada waktu dan tempat tertentu.

Perkembangan sepak bola, iklan dan orang-orang disekitar lingkungan mempengaruhi


cara berpikir konsumen. Walaupun pada awalnya tidak suka sepak bola, bahkan tidak tahu, tapi
karena teman-temannya sering membicarakan sepak bola, maka lama kelamaan konsumen akan
terpengaruh. Sehingga konsumen berusaha untuk mengetahui sepak bola.
Ketika seseorang mencintai sepak bola (sebuah klub) maka ia akan menyukai hal-hal yang
bernuansa klub tersebut, termasuk batik bola.