Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Salah satu objek lainnya dalam kajian ulumul qur’an adalah perbincangan mengenai
mukzijat,terutama mukzijat alquran karena dengan perantara mukjizat ALLAH mengingatkan
manusia,bahwa para rassul itu merupakan utusan yang mendapatkan dukungan dan bantuan
dari langit.mukjizat yang telah diberikan, kepada para nabi mempunyai fungsi sama yaitu
untuk memainkan peraannya dan mengatasi kepandaiannya kaum disamping membuktikan
bahwa kekuasaan ALLAH itu berada diatas segala galanya.

Adapun tujuan mukjizat itu,untuk pengarahan yang ditunjukan pada suatu umat yang
berkaitan dengan pengetahuan mereka,karena ALLAH tidak mengarahkan suatu umat pada
hal-hal yang mereka tidak ketahui,dan disitulah letak nilai mukjizat yang telah diberikan
kepada nabi.

B. Rumusan masalah

Untuk lebih memudahkan dalam memahami makalah ini maka penulis membuat rumusan
sebagai berikut:

1. Apa pengertian tentang I’jaz?


2. Apa-apa saja segi-segi kemukjizatan tentang Al-Qur’an?
3. Bagaimana tahapan I’jaz Al-Qur’an
4. Apa-apa saja faedah kemukjizatan Al-Qur’an?

I’jaz Al-Qur’an 1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian I’jaz Al-Qur’an

I’jaz menurut bahasa artinya melemahkan. Dan mukjizat artinya sesuatu yang luar
biasa, yang ajaib atau yang meakjubkan. Sedangkan menurut istilah mukjizat ialah sesuatu
yang bernilai sangat tinggi dan bisa mengungguli seluruh masalah yang berkembang.

Mukjizat hanya diberikan oleh Allah kepada para Nabi atau Rasul Allah untuk
menumbangkan kepercayaan manusia yang telah mempertuhankan selain Allah SWT.
Sebagai contoh tentang mukjizat Nabi Ibrahim AS. Ketika itu kaum Ibrahim adalah orang-
orang yang menyucikan berhala dan menjadikan berhala itu sebagai sembahan. Mereka
mohon restu untuk melemparkan Ibrahim ke tengah-tengah kobaran api. (H.Ahmad
Syadali.1997.Halaman: 9)

Namun ketika itu mukjizat yang dibawa Nabi Ibrahim memperlihatkan


keunggulannya. Maka api pun tak mampu membakar kulit Nabi Ibrahim. Dengan mukjizat
ini, api menjadi berubah sifatnya, yakni api yang biasanya bersifat membakar berubah
menjadi dingin seketika.

Maka hati mereka terguncang dan kepercayaan mereka memudar, karena berhala
yang semula disucikan dan menjadi sesembahan, nilainya merosot dan tehina. Melalui para
Rasul, tampak sangat jelas bahwa Allah adalah Maha Kuasa. Dengan mukjizatnya, para
Rasul telah menunjukkan kemampuannya menembus ketentuan hukum alam.

Dalam hal ini, mukjizat yang ada pada Nabi Muhammad SAW, berupa Al-Qur’an
jelas berbeda dengan mukjizat para Rasul sebelumnya. I’jazul Qur’an (kemukjizatan Al-
Qur’an) melebihi segalanya dibanding dengan apa yang sedang mereka banggakan. Dengan
keutamaaan mukjizat Al-Qur’an ini bukan hanya ditunjukkan kepada bangsa Arab, namun
Al-Qur’an dengan keutamaan mukjizatnya itu diperuntukkan kepada seluruh alam.

I’jaz Al-Qur’an 2
Ditinjau dari segi bahasa dan sastra, maka mukjizat Al-Qur’an sudah terbukti jauh
lebih unggul dibanding dengan yang pernah dicapai bangsa Arab. Sejak turunnya Al-Qur’an
sudah disertai dengan mukjizat yang bersifat universal, berlaku bagi seluruh alam dan seluruh
masa. Di samping itu Allah juga menjamin terhadap kesuciannya. (H.Ahmad
Syadali.1997.Halaman: 9-10)

I’jazul Qur’an mempunyai beberapa tujuan, yaitu:

1. Untuk membuktikan kerasulan Nabi Muhammad SAW.


2. Untuk membuktikan bahwa kitab suci Al-Qur’an benar-benar merupakan wahyu dari
Allah.
3. Untuk menunjukkan kelemahan mutu sastra dan balagah bahasa manusia.
4. Untuk menunjukkan kelemahan daya upaya dan rekayasa manusia.
Sebagaimana telah dijelaskan, mukjizat-mukjizat yang dibawa oleh para Rasul sangat
berbeda dengan yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu Al-Qur’an. Karna
Al-Qur’an adalah kalam-Nya atau ucapan-Nya sehingga keutamaan, kekekalan atau
keabadiannya selalu dimiliki oleh Al-Qur’an, dan jaminan terhadap Al-Qur’an
langsung mendapat penjagaan darri Allah SWT.
Allah berfirman:

± ٠َ‫ﺇِﻥﱠﺎﻦَﺣْﻦُﻥَﺯﱠﻠْﻦَﺎﺍﻟِﺫﱠﻛْﺮِﻮَﺇِﻦﱠﺎﻠَﮫُﻟَﺣَﺎﻓِﻅُﻭْﻦ‬
Artinya :

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami


benar-benar memeliharanya.”

Al-Qur’an merupakan mukjizat yang rasional, sesuai dengan akal sehat dan abadi. Al-
Qur’an telah membuktikan bahwa mukjizatnya bisa mengungguli segala bentuk kekuatan dari
yang memiliki inisiatif kuat atau keistimewaan mmenggunakan pikiran dan akal. Dengan
mukjizat Al-Qur’an, Nabi Muhammad telah berhasil merubah karakter bangsa Arab sehingga
menjadi bangsa yang beradab dalam waktu relatif singkat.

Contoh di antara aspek- aspek kemujizatan Al-Qur’an lainnya akan jelas terlihat
apabila Al-Qur’an dikaitkan dengan pribadi Nabi Muhammad dan kondisi masyarakat waktu
itu yang antara lain ilmu pengetahuan belum berkembang.
(H.Ahmad Syadali.1997.Halaman:11-12)

I’jaz Al-Qur’an 3
Para ulama mengemukakan ada 3 unsur pokok mukjizat, yaitu:

1. Unsur utama dan pertama mukjizat ialah harus menyalahi tradisi atau adat-kebiasaan
(khariqun lil’âdah). Sesuatu (mukjizat) yang tidak menyalahi tradisi, atau kejadiannya
sesuai dengan kebiasaan yang umum atau bahkan lazim berlaku, tidak dapat dikatakan
mukjizat. Itulah sebabnya mengapa banyak hal aneh yang dikeluarkan oleh ahli-ahli
sulap bahkan ahli-ahli sihir tidak dinyatakan sebagai mukjizat 1 , mengingat pada
dasarnya tidak menyalahi kebiasaan karena tidak sungguh-sungguh, dan banyak orang
lain yang bisa melakukan hal serupa atau bahkan lebih dari itu.
2. Unsur pokok kedua dari mukjizat ialah bahwa mukjizat harus dibarengi dengan
perlawanan. Maksudnya, mukjizat harus diuji dengan melalui pertandingan atau
perlawanan sebagaimana layaknya sebuah pertandingan. Untuk membuktikan bahwa
itu mukjizat, harus ada upaya konkret lebih dulu dari pihak lain (lawan) untuk
menandingi mukjizat itu sendiri. Dan pihak yang menandingi itu harus sebanding atau
sepadan dengan yang ditandingi. Jika pihak yang menandingi atau melawan tidak
sebanding kelasnya, maka itu bukan lagi mukjizat namanya. Sebab, kekalahan yang
diderita pihak lawan yang tidak selevel misalnya, tidak menunjukkan kehebatan si
pemenang, dan tidak pula berarti mengisyaratkan ketidakmampuan pihak yang kalah
(lawan)
3. Mukjizat itu tidak terkalahkan. Unsur ketiga dari suatu mukjizat ialah bahwa mukjizat
itu setelah dilakukan perlawanan terhadapnya, ternayata tidak terkalahkan untuk
selama-lamanya. Jika sesuatu/seseorang memiliki kemampuan luar biasa, tetapi hanya
terjadi seketika atau dalam waktu tertentu, maka itu dapat dikatakan mukjizat.
Dari ketiga unsur utama mukjizat diatas, dapat dikemukakan bahwa mukjizat itu
bersifat suprarasional, teruji dengan sungguh-sungguh dan sama sekali tidak pernah
terkalahkan atau tertandingi sepanjang zaman. Al-Qur’an menylahi tradisi semua
bacaan/buku yang bereedar di tengah-tengah masyarakat. Hal itu telah terbuktikan sepanjang
zaman yang telah berabad-abad lamanya. Sejak dimasa-masa awal penurunnnya, Al-Qur’an
hingga sekarang nyata-nyata menyalahi tradisi bacaan/buku-buku lain yang dikenal
masarakat luas mulai dari buku roman, fiksi hingga buku-buku ilmiah akademmik dalam
bidang apapuun. Contohnya dari sisi pelestarian, misalnya Al-Qur’an terpelihara secara
otensitas atau keasliannya. Tidak ada satu pun buku yang dilestarikan secara utuh dan
menyeluruh melalui hafalan dan tulisan sekaligus.

1)
QS. An-Nisa:[4]:171

I’jaz Al-Qur’an 4
Demikian pula dari sisi subjek yang melakukan pengkajian terhadapnya. Tidak ada
satu pun buku atau hafalan yang dipelajari oleh sekelompok orang yang mecerminkan semua
orang dari berbagai jenis kelamin, tigkatan usia, dan paham keagamaan atau keyakinannya.
(H.Muhammad Amin Suma.2013.Halaman:156-158)

B. Tahapan I’jaz Al-Qur’an


Kebenaran sebuah mukjizat belum teruji jika belum melakukan tantangan kepada
umat manusia untuk mendatangkan hal yang serupa atau mirip dengan mukjizat tersebut.
Karena itu Al-Qur’an dengan jelas telah menantang kepada orang- orang Arab dan makhluk
secara umum untuk membuat kitab yang sama, atau paling tidak mirip dengan Al-Qur’an.
Namun tantangan itu tidak mendapatkan sambutan yang memuaskan, bahkan beberapa orang
kafir yang pernah mencoba menandingi kehebatan Al-Qur’an berbalik keyakinannya menjadi
muslim yang tunduk dan meyakini keagungan Al-Qur’an.

Dalam rekaman ulama, paling tidak ada 4 tahapan tantangan kepada manusia untuk
mendatangkan atau mrenandingi Al-Qur’an.

 Tantangan untuk membuat kitab seperti Al-Qur’an


Tantangan ini terdapat pada firman Allah dalam (QS. Ath-Thur [52]:33-34)
yang artinya:
“Ataukah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya.”
Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan
kalimat yang semisal Al-Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar.”
 Tantangan untuk membuat sepuluh surat seperti Al-Qur’an
Ketika tantangan untuk mendatangkan seperti Al-Qur’an tidak ada yang
mampu melakukannya, maka tantangan itu kembali datang dengan kapasitas
yang lebih ringan dari sebelumnya, yaitu dengan mendatangkan sepuluh surat
seperti surat yang ada dalam Al-Qur’an. Seperti dalam firman Allah yang
dijelaskan dalam (QS. Hûd [11]:13) yang artinya:
“Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al-Qur’an
itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat
yang dibuat-buat yang menyamainya dan panggilah orang-orang yang kamu
sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang
benar.”

I’jaz Al-Qur’an 5
 Tantangan untuk membuat satu surat seperti Al-Qur’an
Tantangan ini dijelaskan dalam firman Allah (QS. Yunus [10]:38), yang
artinya:
“Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya.”
Katakanlah: “ Kalau benar (yang amu katakan itu), maka cobalah datangkan
sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu
panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yag benar.”
 Tantangan untuk membuat satu surat seperti Al-Qur’an walau bentuk
persamannya hanya sebagian saja
Setelah tiga tahap diatas tak tertandingi maka tantangan pun
diturunkan kapasitasnya yang mendatagkan satu surat yang menyerupai salah
satu surat Al-Qur’an walau bentuk kesamaannya itu hanya sebagian.
Tantangan ini dijelaskan dalam firman Allah (QS. Al-Baqarah [2]:23-24)
“Dan jika kamu (tetap dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang kami
wahyukan kepada hamba kaami (Muhammad),buatlah satu surat (saja) yang
semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain ALLAH,jika
amu orang-orang yang benar.maka jika kamu tidak dapat (membuatny) – dan
pasti kamu tidak aakan dapat 9membuatnya),periharalah dirimu dari neraka
yang bahan bakarnya dari manusia dan batu,yang disediakan bagi orang-orang
kafir.”

Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui betapa besar kemukjizatan Al-Qur’an.
Bahkan orang hebat atau pintar sekalipun tidak ada yang dapat membuat satu surat yang
menyerupai Al-Qur’an. Sungguh besar kuasa Allah. (Nasaruddin Umar.2010)

C. Standar Kemukjizatan Al-Qur’an


Para ulama juga berbeda pendapat tentang ukuran kemukjizatan Al-Qur’an. Secara
garis besar perbedaan itu tercover dalam tiga aliran besar.
Pertama, mayoritas ulama berpendapat bahwa standar kemukjizatan Al-Qur’an
adalah satu surat pendek dalam Al-Qur’an tanpa melihat jumlah ayat atau hurufnya.pendapat
ini didasarka kepada tahapan ayat-ayat tahaddi (tantangan) sebagaimana tersebut diatas.
Berdasarkan pendapat ini, maka standar minimum ketidakmampuan makhluk adalah
mendatangkan atau membuat satu surat irip dengan Al-Qur’an.

I’jaz Al-Qur’an 6
Kedua, golongan muktazilah mengatakan bahwa standar kemukjizatan adalah Al-
Qur’an secara utuh, tanpa ada pemilahan dan pembatasan. Menurut pendapat ini, maka
standar ketidakmampuan makhluk adalah menghadirkan sebuah kitab yang serupa denga Al-
Qur’an. Berarti secara tidak langung, muktazilah beranggapan bahwa makhluk mampu
mengahadirkan satu, dua sampai sepuluh surat yang serupa denga Al-Qur’an.
Ketiga, Ibnu Hazm Al-Andalusi, tokoh Azh-Zahiriyah, mengatakan bahwa standar
kemukjizatan Al-Qur’an adalah sesuatu yang bisa dikatakan sebagai sebagai Al-Qur’an tanpa
melihat jumlah atau ukuran ayat dan huruf-hurufnya. Satu huruf saja, jika bisa disebut
sebagai Al-Qur’an berarti ialah mukjizat. Dimana pendapat ini didasarkan kepada firman
Allah SWT:

َ‫ﻓٓﻟْﻳٓﺄْﺘُﻮْﺍْﺑِﺤٓﺪِﻳﺙٍﻤِﺜْﻠَﮫُﻜَﺎﻨُﻮْﺍﺼَٰﺪِﻗِﻴْﻦ‬
“Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Qur’an itu jika
mereka orang-orang yang benar.” (QS. Ath-Thur [52]:34)

D. Segi-Segi Kemukjizatan Al-Qur’an


Al-Qur’an ibarat sebuah intan yang cahayanya memancar ke segala penjuru arah. Jika
dilihat dari sisi bahasanya, maka ia akan berada diatas standar bahasa yang ada. Jika dilirik
dari segi cerita-ceritanya, ia akan berbeda dengan buku-buku cerita pada umumnya. Jika
ditilik dari segmen isi dan kandungannya, maka tanpa diragukan, Al-Qur’an mencakup
semua disiplin ilmu yang ada, dan begitu seterusnya.
Para ulama dengan berbagai macam background dan latar belakang keilmuwannya
telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menguak kemukjizatan Al-Qur’an. Namun, hal
penting yang perlu dicatat adalah background atau latar belakang keilmuan seseorang
memiliki peran yang sangat signifikan dalam menentukan hasil kajian mereka.seorang ulama
bahasa misalnya,dalam kesimpulan akhirnya akan mengatakan bahwa segi kemukjizatan Al-
Qur’an terletak pada sisi bahasanya.berbeda dengan seorang sejarawan yang berkesimpulan
bahwa kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada sisi cerita-ceritanya dan begitu seterusnya.
Terlepas dari itu semua, yang jelas Al-Qur’an sebagai sebuah kitab hidayah taakan
pernah lapuk dan tak akan pernah usang untuk dikaji dan di gali. Semakin intens mengkaji
Al-Qur’an maka semakin banyak ditemukan sisi-sisi kemukjizatannya.adapun beberapa segi
kemukjizatan yang sudah berhasil dikuak adalah sebagai berikut:

I’jaz Al-Qur’an 7
1. Gaya Bahasanya (I’jaz bayani)
Gaya bahsa Al-Qur’an berbeda dengan gaya bahasa yang biasa dipakai bangsa
Arab pada umumnya. Bahasa-bahasa Arab pada umumnya berubah sesuai dengan
perkembangan zaman,sementara bahasa al-Qur’an tidak mengalami hal serupa. Sudah
14 abad lamanya, tapi tak ada satu kalimat bahkan huruf yang berubah.
Keunggulan bahasa Al-Qur’an membuat bangsa Arab kala itu tak berdaya
menghadapinya, tak ada satu pun yang mampu menandinginya,padahal mereka
terkenal dengan sebutan ahli sastra dan bahasa.lebih dari itu, dengan jelas Al-Qur’an
menantang mereka untuk mmenghadirkan kitab yang sama seperti Al-Qur’an.ermasuk
dalam kerangka bahasa adalah diksi (pilihan kata), Al-Qur’an selalu memilih kata
yang tepat sesuai degan kondisi dan keadaan. Berbeda dengan bahasa yamg dipakai
orang Arab secara umum, dalam pembicaraan atau karya-karya mereka banyak
ditemukan ketidak sesuaian antara diksi dengan kondisi oranng yang diajak bicara.
Dalam kajian yang pernah dilakukan par ulama ada beberapa ciri khas yang
menjadi karakteristik gaya bahasa Al-Qur’an antara lain adalah: pertama, keserasian
Al-Qur’an dalam harakatnya, sakinahnya, mad ya dan gunnahnya serta keterkaitan
antar satu dengan yang lainnya sehingga enak didengar da asik untuk dibaca.
Kedua, bahasa Al-Qur’an mampu dinikmati oleh semua kalangan; dari
kalangan awam hingga kaum inelektual, bagi kaum orang Arab dan orang ajam.
Semua kalangan akan dapat menikmati keindahan dan keluwesan bahasa Al-Qur’an.
Ketiga, bahasa Al-Qur’an mmpu merengkuh dua komponen; sekaligus hati dan akal.
Al-Qur’an ketika dibaca mampu membuat hati tenang da pikiran tentram.
Keempat, Al-Qur’an mampu berbicara denngan bahsa dan gaya yang
bervariatif; dari takallum ke mukhatab dan ghaib, dari mukhaab ke takallum dan
ghaib, dari ghaib ke takallum dan mukhatab. Kelima, Al-Qur’an juga mampu
mengekspreksikan sebuah pembicraan dengan bahasa yang sanagt singkat, padat daan
sarat makna. (Nasaruddin Umar.2010)

I’jaz Al-Qur’an 8
2. Model Penyusunannya (Ta’lif wa an-Nazhm)
Sebagaimana maklum bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan dalam satu waktu,
tapi ia diturunkan secara berangsur-angsur selama sekitar dua puluh tiga tahun, sesuai
dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat Arab ketika itu.
Al-Qur’an tersusun begitu rapi dan indah. Disana ada keterkaitan antara satu
surat dengan surat yang lainnya, ada ketersambungan antara ayat dengan ayat lainnya,
ada keterpautan antara kalimat dengan kalimat lainnya, ada kecocokan antara kata
dengan kata. Dengan susunan seperti ini, Al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang
utuh. Keindahan susunannya menegaskan bahwa ia adalah bagian dari segi
kemukjizatan Al-Qur’an yang tak terbantahkan.
Letak kemukjizatan Al-Qur’an dilihat dari sisi susunannya(at-ta’lîf wa an-
nazhm) adalah terletak pada dua aspek. Pertama, konstruksi Al-Qur’an secara
keseluruhan. Dalam aspek ini Al-Qur’an tidak sama dengan bangunan syair, puisi
atau prosa yang banyak berkembang di Arab. Kedua, konstruksi internalnya yang
sangat rapi dan indah, sehingga tidak akan ditemukan perbedaan dalam tingkat
penyusunannya. (Nasaruddin Umar.2010)

3. Ilmu Pengetahuan (‘Ulûmhu wa Ma’ârifuhu)


Diantara fungsi pokokdturukannya Al-Qur’an adalah untuk memberikan
hidayah kepada umat mnusia. Karena itu, tak heran jika Al-Qur’an berisi tentag
berbagai macam aspek ilmu da pengetahuan. Pengetahuan yang ada di dalamnya
telah sampai pada puncak kesempuraan, sehingga tak ada yang ia perintahkan kecuaili
berdampak kepada kebaikan dan kemashlatan, dan tak ada yang di larang kecuali ia
membawa kesengsaraan dan bencana.
Al-Qur’an datang dengan berbagai macam ilmu dan pengetahuan antara lain:
ilmu akidah, ibadah, muamalah, perundang-undangan, akhlak, pendidikan, politik,
ekonomi, social, qashas, dan sebagainya. Dalam bidang akidah misalnya, Al-Qur’an
denag tegas menyatakan tentang keEsaan Allah SWT, Dia tersucikan dari sifat-sifat
kelemahan, Al-Qur’an secara eksplisit juga menjelaskan tentang kemustahilan Allah
mempunyai anak, Dia adalah Dzat yang sempurna dari paripurna , tak ada satu pun
yang mampu menandinginya. Keterangan ini dapat dilihat misalnnya dalam surat Al-
Baqarah: 163, Al-An’am: 101, Yunus: 108, Al-Isra’:111, dan sebagainya.

I’jaz Al-Qur’an 9
Al-Qur’an juga berbicara tentang kebatilan akidah ahli kitab. Al-Qur’an
bahkan mencounter keyakinan mereka dengan argumentasi dan dalil yang logis dan
analitik. Sebut saja misalnya,ketika Al-Qur’an berbicara tentanng keyakinan orang-
orang yahudi dalam syrat An-Nisa:155-158 atau ketka berbicara kepada orang-orang
nasrani dalam surat yang sama ayat:171-172.2
Dari penjelasan diatas, dapat diambil sebuah kesimpulanbahwa hal ini
merupakan salah satu sisi kemukjizatan al-Qur’an. Karena sebagaimana maklum baha
Muhammad SAW adalah seorang nabi yag ummi, tidak bisa membaca dan menulis, ia
juga tidaak dibesarkan dalam lingkungan intelektual tidak pula hidup dalam negara
yang beradaban. Jika demikian, pertanyaan adalah,bagaimana mungkin Muhammad
SAW dapat mendatangkan berbagai macam ilmu dan pengetahuan sebagaimana yang
disebutkan dalam Al-Qur’an secara lengkap dan komprenshif? Jawabannya,tidak lain
itu adalah wahyu dari ALLAH SWT. (Nasaruddin Umar.2010)

4. Kandungannya Memenuh Semua Kebutuhan Manusia


Al-Qur’an adalah kitab tasyri’dan hidayah bagi umat manusia, maka menjadi
sebuah keniscayaan jika didalamnya terdapat dasar-dasar syiari,at dan hukum bagi
kemaslahatan mereka. Sebuah syariat yang bersumber dari Allah SWT. Sebuah
syariat yang shalih likulli makan wa zaman karena syariat tersebut bersumber langsng
dari tuhan yang maha mengetahui dan bijaksana maka tak heran jika kekuatan dan
nilai aktualitasnya berada diatas syari,at atau hukum buatan manusia.
Segala aspek kebutuhan manusia telah tercover dalam Al-Qur’an, tak ada satu
permasalahan pun yang tak terselesaikan dengan Al-Qur’an.
Dalam aspek ibadah,Al-Qur’an telah emberikan petunju kepada manusia
untuk menjalankan konsep keseimbagan melalui kuasa dan shalat,konsep kesetaraan
melalui zkat,konsep kebersamaaan melalui haji.
Dalam aspek sosial Al-Qur’an mengajak untuk hidup bersatu,saling bahu
membahu dan gotong royong menghapus panatisme yang berlebihan dan
menghilangkan perbedaan.
Dalam aspek politik, Al-Qur’a telah meletakan dasar keadilan dan persamaan
derajat antar sesama. Bukti bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang mampu menjai

2)
QS.An-Nisa:[4]

I’jaz Al-Qur’an 10
solusi bagi umat manusia dari generasi ke generasi tanpa mengenal basi atau
ketinggalan zaman. (Nasaruddin Umar.2010)
5. Kisah-Kisahnya ( ikhbaruhu bilghaib)
Al-Qur’an bercerita tentang umat terdahulu, bercerita tentang kejadian yang akan
datang dan bercerita tentang peristiwa yang terjadi pada masa Rasullah SAW.nabi
muhammad SAW tak pernaah belajar dari ahli kitab,disamping itu beliau adalah
seorang Ummi. Maka tak lain kisah-kisah ni merupakan wahyu dari dzat yang maha
mengetahui maha ghaib sebagaimana firmannya dalam surah Al-an’am:[6]:59.
Kisah-kisah ini disajikan dengan bahsa yang lugas dan mudah dimengerti.
(Nasaruddin Umar.2010)

6. Teori ilmiah (I’jaz ilmi)


Teori-teori ilmiah yang baru-baru ini ditemukan banyak diklaim oleh kalangan
muslim sebagai salah satu sisi kemkjizatan Al-Qur’an namun demikian pembicaraan
Al-Qur’an tentang teori ilmiah tidak keluar 5 point penting.
Al-Qur’an tidak pernah menjadikan teori-teori ilmiah sebagai topik
pembahasan inti.karena teori-teori semacam itu bersifat temporal dan profan,artinya ia
akan selalu berubah sesuai dengan peerkembagan zaman.
Fungsi Al-Qur’an adalah sebagai kitab hidayah yang memberikan petunjuk
bagi semua manusia. Al-Qur’n selalu mengajak untuk berfikir dan tadabbur tentang
alam dan segala isinya.ketika Al-Qur’an menjelaskan tentang alam mikrokosmos rasa
dalam jiwa kita bahwa alam mikrokosmos tersebut adalah ciptaan tuhan yang selalu
patuh terhadap iradahnya dan alam dengan segala macam isinya hanyalaah bersifat
sementara,ia akan hancur binasa.gaya bahasa yang dipakai Al-Qur’an ketika
menjelaskan ayat-ayat kauniyah (alam) selalu menaik pendengar dan pembicara.
(Nasaruddin Umar.2010)

E. Faedah Kemukjizatan Al-Qur’an


I’jaz al-Quran dapat memberikan manfaat bagi orang yang mempelajari dan
mengkaji Baik itu orang awam ataupun para ilmuan, cendikiawan, dan semua
kalangan manusia yang senantiasa mempergunakan akal sehatnya. Adapun manfaat
yang dapat dipetik dari I’jaz al-Quran akan disebutkan dibawah ini.

I’jaz Al-Qur’an 11
1. Kelembutan, keindahan, keserasian kalimat dan redaksial-Quran dapat memberikan
kesegaran kepada akal dan hati, baik orang awam ataupun kaum cendikiawan.
2. Gaya bahasa yang indah dapat dijadikan sebagai media dakwah untuk menarik hati
orang.
3. Dengan adanya berita-berita ghaib, itu dapat dijadikan ibrah guna memperkokoh
iman kepada Allah dan membimbing perbuatan ke arah yang benar.
4. Dapat dijadikan hujjah dalam menyampaikan kebenaran al-Qur’an bagi orang-orang
yang ragu.
5. Dapat mengokohkan keyakinan akan kebenaran Risalah Muhammad Saw.
6. Dapat mengetahui keagungan Allah dengan mengenal isyarat ilmiah yang ada di
alam dunia.
7. Dapat menjadi motivasi untuk selalu bereksperimen, berinovasi, dan berkarya dalam
ilmu pengetahuan.
8. Mengetahui kelemahan dan kekurangan manusia.
9. Aturan-aturan hukumnya dapat dijadikan sebagai landasan dalam beribadah, baik
ibadah secara vertikal ataupun horizontal.
10. Dapat menjaga kehormatan, harta, jiwa, akal, dan keturunan dengan menganut dan
mengindahkan tasyri-Nya.

I’jaz Al-Qur’an 12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

1. Pengertian I’jaz

Dari segi bahasa kata I’jaz berasal dari kata a’jaz-yujizu-I’jaz yang berarti
melemahkan atau memperlemah, juga dapat berarti menetapkan kelemahan atau
memperlemah. Secara umum I’jaz adalah ketidakmampuan seseorang melakukan
sesuatu yang merupakan lawan dari ketidak berdayaan. Segi-segi kemukjizatan Al-
Qur’an diantaranya: gaya bahasa, model penyusunannya, ilmu pengetahuan,
kandungannya memenuhisemua kebutuhan manusia, kisah-kisahnya, dan teori ilmiah.
Faedah I’jaz Al-Qur’an juga sangat banyak seperti yang kita ketahui.

B. Saran
Diharapkan setelah membaca makalah ini para pembaca mampu mengerti dan
memahami mengenai I’jaz Al-Qur’an. Para pembaca dapat mengetahui segi-segi
kemukjizatan Al-Qur’an. Serta mampu mengetahui standar-standar kemukjizatan Al-
Qur’an.
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun, guna menjadikan
makalah ini lebih baik lagi dan juga lebih bermanfaat bagi para pembaca.

I’jaz Al-Qur’an 13
DAFTAR PUSTAKA
Umar, Nasaruddin. 2010. Ulumul Qur’an Mengungkap Makna-Makna Tersembunyi
Al-Qur’an. Jakarta Selatan: Al-Ghazali Center.
Amin Suma, Muhammad. 2013. Ulumul Qur’an. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Syadali, Ahmad dan Ahmad Rofi’i. 2005. Ulumul Qur’an. Bandung: CV. Pustaka
Setia.
Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Teungku. 2002. Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Semarang:
PT. Pustaka Rizki Putra

I’jaz Al-Qur’an 14