Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR)


DI RUANG HCU NEONATUS RSUD Dr. MOEWARDI

Disusun Untuk Memenuhi Penugasan Stase Keperawatan Anak Program


Profesi Ners 7

Disusun Oleh :
Cita Devi Alfianti
NIM. SN171043

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2017/2018
LAPORAN PENDAHULUAN
BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR)

A. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan bayi (neonatus) yang
lahir dengan memiliki berat badan kurang dari 2500 gram atau sampai
dengan 2499 gram (Hidayat, 2008).
BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500
gram tanpa memperhatikan usia gestasi (Wong, 2009).
Bayi BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari
2500 gram tanpa memandang masa kehamilan (Proverawati, 2010).

2. Etiologi
Menurut Proverawati tahun (2010) faktor penyebab dari BBLR dapat
disebabkan sebagai berikut :
a) Prematur
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya persalinan prematur BBLR
adalah :
1) Faktor ibu
2) Faktor janin
3) Faktor lingkungan
4) Faktor kehamilan
5) Faktor kebiasaan
b) Dismatur
1) Faktor ibu: Hipertensi dan penyakit ginjal kronik, perokok, penderita
penyakit diabetes militus yang berat, toksemia, hipoksia ibu (tinggal
di daerah pegunungan, hemoglobinopati, penyakit paru kronik), gizi
buruk, drugabbuse, dan peminum alkohol.
2) Faktor utery dan plasenta: Kelainan pembuluh darah, (hemangioma)
insersi tali pusat yang tidak normal, uterus bicornis, infak plasenta,
tranfusi dari kembar yang satu kekembar yang lain, sebagian plasenta
lepas.
3) Faktor janin: Gemelli, kelainan kromosom, cacat bawaan, infeksi
dalam kandungan, (toxoplasmosis, rubella, sitomegalo virus, herpez,
sifillis).
4) Penyebab lain: Keadaan sosial ekonomi yang rendah, tidak diketahui.

3. Manifestasi Klinik
Menurut Huda dan Hardhi tahun (2013) tanda dan gejala dari bayi
berat badan rendah adalah :
a) Sebelum lahir
1) Pembesaran uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan.
2) Pergerakan janin lebih lambat.
3) Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai yang
seharusnya.
b) Setelah bayi lahir
1) Bayi dengan retadasi pertumbuhan intra uterin.
2) Bayi premature yang alhir sebelum kehamilan 37 minggu.
3) Bayi small for date sama dengan bayi retradasi pertumbuhan intra
uterine.
4) Bayi premature kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam
tubuhnya.
Selain itu ada gambaran klinis BBLR secara umum adalah :
1) Berat badan dari 2500 gram.
2) Panjang kurang dari 45 cm.
3) Lingkar dada < 30 cm.
4) Lingkar kepala < 33 cm.
5) Umur kehamilan < 37 minggu
6) Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang.
7) Otot hipotonik lemah.
8) Pernapasan tidak teratur dapat terjadi apnea.
9) Ekstremitas : paha abduks, sendi lutut atau kaki fleksi-lurus.

4. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada BBLR menurut Mitayanti tahun (2009) yaitu :
a) Hiperbilirubin
b) Asfiksia Neonatorom
c) Hipoglikemia Simtomatik
d) Sindrom aspirasi mekonium (menyababkan kesulitan bernapas pada
bayi).
e) Penyakit membrane hialin disebabkan karena surfaktan paru belum
sempurna, sehingga alveoli kolaps. Sesudah bayi mengadakan inspirasi,
tidak tertinggal udara residu dalam alveoli, sehingga selalu dibutuhkan
tenaga negatif yang tinggi untuk yang berikutnya.

5. Patofisiologi dan Pathway


Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan
yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan
dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi
berat badan (BB) lahirnya lebih kecil dari masa kehamilannya, yaitu tidak
mencapai 2.500 gram. Masalah ini terjadi karena adanya gangguan
pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit
ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan
lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.
Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin
tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan
berat badan lahir normal. Kondisi kesehatan yang baik, sistem reproduksi
normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra
hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih
sehat dari pada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan
kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR,
vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu
menderita anemia.
Ibu hamil umumnya mengalami deplesi atau penyusutan besi sehingga
hanya memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolisme
besi yang normal. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau
hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia
gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat
bawaan, dan BBLR. Hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan
kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi, sehingga kemungkinan
melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar (Nelson, 2010).
Pathway

Faktor janin Faktor plasenta Faktor ibu Faktor lingkungan


- Kelainan kromosom - Hidramnion - Penyakit, usia ibu - Tempat tinggal di
- Infeksi janin kronik - Plasenta - Keadaan gizi ibu dataran tinggi
(inklusi sitomegali, previa - Kondisi ibu saat - Terkena radiasi,
rubella hawaan) hamil serta terpapar zat
- Gawat janin - Keadaan sosial dan beracun
ekonomi

BBLR

Komplikasi BBLR Manifestasi klinis BBLR


- Sindrom aspirasi mekonium - Berat badan kurang dari 2500 gram
- Asfiksia neomatum - Masa gestasi kurang dari 37 minggu
- Penyakit membrane hialin - Kulit tipis, transparan, lanugo banyak dan
- hiperbiliruninemia lemak subkutan amat sedikit
- Pergerakan kurang dan lemah, tangis lemah,
pernafasan belum teratur dan sering
mendapatkan serangan apnea

Organ pencernaan Pertumbuhan Sedikitnya lemak Sistem imun yang


imatur dinding dada dibawah jaringan belum matang
belum sempurna kulit
 daya tahan
Peristaltik belum Vaskuler paru imatur
Kehilangan tubuh
sempurna
panas melalui
 kerja nafas
kulit
Kurangnya Resiko infeksi
kemampuan untuk Ketidakefektifan Kehilangan
mencerna makanan pola nafas panas melalui
kulit
Reflek menghisap dan
menelan belum
berkembang dengan baik  kebutuhan
kalori
Ketidakseimbangan
Sistem
nutrisi kurang dari termoregulasi
kebutuhan tubuh yang imatur

Termoregulasi
tubuh tidak efektif

Sumber : Mitayani, (2009), Wong, (2008), Nelson, (2010), Proverawati dan


Ismawati, (2010)
6. Penatalaksanaan (Medis dan Keperawatan)
a. Penatalaksanaan Medis
1) Penanganan bayi
Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin
besar perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi
serangan sianosis lebih besar. Semua perawatan bayi harus
dilakukan didalam incubator
2) Inkubator
Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam incubator.
Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui “jendela“ atau “lengan
baju“. Sebelum memasukkan bayi kedalam incubator, incubator
terlebih dahulu dihangatkan, sampai sekitar 29,4 0 C, untuk bayi
dengan berat 1,7 kg dan 32,20 0C untuk bayi yang lebih kecil. Bayi
dirawat dalam keadaan telanjang, hal ini memungkinkan pernafasan
yang adekuat, bayi dapat bergerak tanpa dibatasi pakaian, observasi
terhadap pernafasan lebih mudah.

b. Penatalaksanaan Keperawatan
1) Pelestarian Suhu Tubuh
Bayi dengan berat lahir rendah, mempunyai kesulitan dalam
mempertahankan suhu tubuh. Bayi akan berkembang secara
memuaskan, asal suhu rectal dipertahankan antara 35,50oC s/d
37,0o C. Bayi berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu
lingkungan dimana suhu normal tubuhnya dipertahankan dengan
usaha metabolic yang minimal. Bayi berat rendah yang dirawat
dalam suatu tempat tidur terbuka, juga memerlukan pengendalian
lingkungan secara seksama. Suhu perawatan harus diatas 25 oC, bagi
bayi yang berat sekitar 2000 gram, dan sampai 300 C untuk bayi
dengan berat kurang dari 2000 gram. Untuk mencegah hipotermi,
diperlukan lingkungan yang cukup hangat dan istirahat konsumsi
O2 yang cukup. Bila dirawat dalam inkubator maka suhunya untuk
bayi dengan BB 2 kg adalah 35°C dan untuk bayi dengan BB 2 –
2,5 kg adalah 34°C. Bila tidak ada inkubator, pemanasan dapat
dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakkan botol-botol
hangat yang telah dibungkus dengan handuk atau lampu petromak
di dekat tidur bayi. Bayi dalam inkubator hanya dipakaikan popok
untuk memudahkan pengawasan mengenai keadaan umum, warna
kulit, pernafasan, kejang dan sebagainya sehingga penyakit dapat
dikenali sedini mungkin.
2) Pemberian oksigen
Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi
preterm BBLR, akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan.
Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30- 35 % dengan
menggunakan head box, konsentrasi O2 yang tinggi dalam masa
yang panjang akan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina
bayi yang dapat menimbulkan kebutaan
3) Pemberian makanan
Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu
mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI
merupakan pilihan pertama, dapat diberikan melalui kateter ( sonde
), terutama pada bayi yang reflek hisap dan menelannya lemah. Bayi
berat lahir rendah secara relative memerlukan lebih banyak kalori,
dibandingkan dengan bayi preterm. Prinsip utama pemberian
makanan pada bayi prematur adalah sedikit demi sedikit. Secara
perlahan-lahan dan hati-hati. Pemberian makanan dini berupa
glukosa, ASI atau PASI atau mengurangi resiko hipoglikemia,
dehidrasi atau hiperbilirubinia. Bayi yang daya isapnya baik dan
tanpa sakit berat dapat dicoba minum melalui mulut. Umumnya
bayi dengan berat kurang dari 1500 gram memerlukan minum
pertama dengan pipa lambung karena belum adanya koordinasi
antara gerakan menghisap dengan menelan. Dianjurkan untuk
minum pertama sebanyak 1 ml larutan glukosa 5 % yang steril
untuk bayi dengan berat kurang dari 1000 gram, 2 – 4 ml untuk bayi
dengan berat antara 1000-1500 gram dan 5-10 ml untuk bayi dengan
berat lebih dari 1500 Gr.Apabila dengan pemberian makanan
pertama bayi tidak mengalami kesukaran, pemberian ASI/PASI
dapat dilanjutkan dalam waktu 12-48 jam.
4) Pencegahan infeksi
Bayi preterm dengan berat rendah, mempunyai system imunologi
yang kurang berkembang, ia mempunyai sedikit atau tidak memiliki
ketahanan terhadap infeksi. Untuk mencegah infeksi, perawat harus
menggunakan gaun khusus, cuci tangan sebelum dan sesudah
merawat bayi, memakai masker, gunakan gaun/jas, lepaskan semua
asessoris dan tidak boleh masuk kekamar bayi dalam keadaan
infeksi dan sakit kulit. Bayi prematur mudah terserang infeksi. Hal
ini disebabkan karena daya tubuh bayi terhadap infeksi kurang
antibodi relatif belum terbentuk dan daya fagositosis serta reaksi
terhadap peradangan belum baik. Prosedur pencegahan infeksi
adalah sebagai berikut:
a. Mencuci tangan sampai ke siku dengan sabun dan air mengalir
selama 2 menit sebelum masuk ke ruang rawat bayi.
b. Mencuci tangan dengan zat anti septic/ sabun sebelum dan
sesudah memegang seorang bayi.
c. Mengurangi kontaminasi pada makanan bayi dan semua benda
yang berhubungan dengan bayi.
d. Membatasi jumlah bayi dalam satu ruangan.
e. Melarang petugas yang menderita infeksi masuk ke ruang rawat
bayi.
5) Monitoring
Kenaikan BB dan pemberian minum setelah umur 7 hari• Bayi akan
kehilangan berat selama 7-10 hari pertama. Bayi berat lahir >1500
gram dapat kehilangan BB sampai 10% dari berat lahir. Berat lahir
biasanya tercapai kembali dalam 14 hari kecuali apabila terjadi
komplikasi.• Setelah berat lahir tercapai kembali, kenaikan berat
badan selama 3 bulan seharusnya:
6) Tanda kecukupan pemberian ASI
a. Kencing minimal 6 kali dalam 24 jam
b. Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI.
c. BB bayi naik
7) Pemulangan Bayi dengan berat badan lahir rendah
Bayi suhu stabil Toleransi minum per oral baik, diutamakan
pemberian ASI. Bila tidak bisa diberikan ASI dengan cara menetek
dapat diberikan dengan alternative cara pemberian minum yang lain.
Ibu sanggup merawat BBLR di rumah.
A. ASUHAN KEPERAWATAN TEORI
1. Pengkajian
a. Aktivitas/ istirahat
Bayi sadar mungkin 2-3 jam bebrapa hari pertama tidur sehari rata-
rata 20 jam.
b. Pernafasan
1) Takipnea sementara dapat dilihat, khususnya setelah kelahiran
cesaria atau persentasi bokong.
2) Pola nafas diafragmatik dan abdominal dengan gerakan sinkron
dari dada dan abdomen, perhatikan adanya sekret yang
mengganggu pernafasan, mengorok, pernafasan cuping hidung,
c. Makanan/ cairan
Berat badan rata-rata 2500-4000 gram ; kurang dari 2500 gr
menunjukkan kecil untuk usia gestasi, pemberian nutrisi harus
diperhatikan. Bayi dengan dehidrasi harus diberi infus. Beri minum
dengan tetes ASI/ sonde karena refleks menelan BBLR belum
sempurna,kebutuhan cairan untuk bayi baru lahir 120-150ml/kg BB/
hari.
d. Berat badan
Kurang dari 2500 gram
e. Suhu
BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya
harus dipertahankan.
f. Integumen
Pada BBLR mempunyai adanya tanda-tanda kulit tampak mengkilat
dan kering.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan pola napas
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
c. Resiko infeksi
d. Resiko kerusakan integritas kulit
3. Perencanaan Keperawatan
a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
masalah ketidakefektifan pola nafas mampu teratasi dengan criteria hasil:
Status pernapasan (0415)
- Frekuensi pernapasan dari deviasi berat dari kisaran normal (skala 1)
menjadi tidak ada deviasi dari kisaran normal (skala 5).
- Irama pernapasan deviasi berat dari kisaran normal (skala 1) menjadi
tidak ada deviasi dari kisaran normal (skala 5).
- Kedalaman inspirasi deviasi berat dari kisaran normal (skala 1)
menjadi tidak ada deviasi dari kisaran normal (skala 5).
- Suara auskultasi napas deviasi berat dari kisaran normal (skala 1)
menjadi tidak ada deviasi dari kisaran normal (skala 5).
- Kepatenan jalan napas deviasi berat dari kisaran normal (skala 1)
menjadi tidak ada deviasi dari kisaran normal (skala 5).
- Saturasi oksigen deviasi berat dari kisaran normal (skala 1) menjadi
tidak ada deviasi dari kisaran normal (skala 5).
- Penggunaan otot bantu napas dari sangat berat (skala 1) menjaditidak
ada (skala 5).
- Restraksi dinding dada dari sangat berat (skala 1) menjaditidak ada
(skala 5).
- Sianosis dari sangat berat (skala 1) menjaditidak ada (skala 5).
- Suara napas tambahan dari sangat berat (skala 1) menjaditidak ada
(skala 5).
Intervensi :
Monitor Pernapasan (3350)
1) Monitor kecepatan, irama, kedalaman, dan kesulitan bernapas.
2) Monitor suara tambahan seperti ngorok atau mengi.
3) Monitor pola napas (mis. Branipneu, takipneu, hiperventilasi,
pernapasan kusmaul, pernapasan 1:1, pola ataxic).
4) Monitor saturasi oksigen pada pasien yang tersedasi.
5) Palpasi kesimetrisan ekspansi paru.
6) Monitor kelelahan otor-otot diapragma dengan pergerakan
parasoksial.
7) Auskultasi suara napas, catat dimana area terjadi penurunan atau tidak
adanya ventilasi dan keberadaan suara napas tambahan.
8) Monitor keluhan sesak napas pasien, termasuk kegiatan meningkatkan
atau memperburuk sesak nafas tersebut.
9) Catat pergerakan dada, catat kketidaksimetrisan, penggunaan otot-otot
bantu napas, dan restraksi pada otot supraclavicula dan interkosta.
Manajemen Jalan Napas (3140)
1) Buka jalan naps dengan teknik chin lift atau jaw trust.
2) Motivasi pasien untuk bernapas pelan, dalam, berputar dan batuk.
3) Intruksikan bagaimana agar bisa melakukan batuk efektif.
4) Ajarkan pasien bagaimana menggunakan inhaler sesuai resep.
5) Posisikan untuk meringankan sesak.
Terapi Oksigen (3320)
1) Monitor aliran oksigen.
2) Monitor efektifitas terapi oksigen.
3) Pertahankan kepatenan jalan napas.
4) Siapkan peralatan oksigen dan berikan melalui sisterm humidifier.
5) Berikan oksigen tambahan seperti yang diperintahkan.
6) Atur dan ajarkan pasien mengenai penggunaan perangkat oksigen
yang memudahkan mobilitas.
7) Konsultasi dengan tenaga kesehatan lain mengenai penggunaan
oksigen tambahan selama kegiatan dan/atau tidur.
Pemberian Obat (2300)
1) Monitor klien terhadap efek terapeutik untuk semua obat-obatan.
2) Pertahankan aturan dan prosedur yang sesuai dengan keakuratan dan
keamanan pemberian obat-obatan.
3) Ikuti prosedur lima benar dalam pemberian obat.
4) Resepkan atau rekomendasikan obat yang sesuai berdasarkan
kewenangan untuk meresepkan.
5) Catat alergi yang dialami klien sebelum pemberian obat dan tahan
obat-obatan jika diperlukan.
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh mampu
teratasi dengan kriteria hasil:
Status Nutrisi Bayi
Status Nutrisi (1004)
- Asupan gizi dari sangat menyimpang dari rentang normal (skala 1)
menjadi tidak menyimpang dari rentang normal (skala 5).
- Asupan makanan sangat menyimpang dari rentang normal (skala 1)
menjadi tidak menyimpang dari rentang normal (skala 5).
- Hidrasi sangat menyimpang dari rentang normal (skala 1) menjadi
tidak menyimpang dari rentang normal (skala 5).
- Energy sangat menyimpang dari rentang normal (skala 1) menjadi
tidak menyimpang dari rentang normal (skala 5)
Intervensi :
Monitor Nutrisi (1160)
1) Monitor turgor kulit dan mobilitas.
2) Monitor adanya mual dan muntah.
3) Monitor diet dan asupan kalori.
4) Identifikasi perubahan nafsu makan dan aktivitas hari-hari ini.
5) Identifikasi abnormalitas kulit.
6) Lakukan pengukuran antropometrik pada komposisi tubuh
7) Monitor kecenderungan turun dan naiknya berat badan.
Manajemen Nutrisi (1100)
1) Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk
memenuhi persyaratan gizi.
2) Berikan pilihan makanan samabil menawarkan bimbingan terhadap
pilihan yang lebih sehat.
3) Atur diet yang diperlukan (menyediakan makanan protein tinggi,
menyarankan menggunakan rempah-rempah sebagai alternative untuk
garam, menyediakan pengganti gula, menambah atau mengurangi
kalori, vitamin, dan mineral).
4) Beri obat-obatan sebelum makan (misalnya penghilang rasa sakit,
antiemetic), jika diiperlukan.
5) Anjurkan pasien terkait dengan kebutuhan diet untuk kondisi sakit
(untuk pasien dengan penyakit ginjal, pembatasan natrium, kalium,
protein dan cairan).
c. Resiko Infeksi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
masalah resiko infeksi mampu teratasi dengan kriteria hasil:
Keparahan infeksi baru lahir (0708)
 Hipotermia)
 Kulit lembab dan dingin
 Menangis kuat
Peningkatan sel darah putih
Intervensi :
Kontrol infeksi (6540)
 Bersihkan lingkungan dengan baik setelah digunakan untuk setiap
pasien
 Anjurkan pengunjung dan tenaga kesehatan untuk mencuci tangan
Perlindungan infeksi (6550)
 Monitor adanya tanda infeksi
 Monitor data laboratorium

4. Evaluasi Keperawatan
Rumusan evaluasi menggunakan S, O, A, P
S : Subjektif
Contoh: klien mengatakan....
O : Obyektif
Contoh: klien tampak lemas, hasil laboratorium
A : Analisa
Contoh: masalah teratasi atau masalah tidak teratasi
P : Planning
Contoh: Lanjutkan intervensi atau hentikan intervensi
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M., Butcher, H.K., Dochterman, J.M., & Wagner, C. (2013).
Nursing Interventions Classification (NIC) sixth editions. USA : Elsevier
Mosby.

Herdman, T. Heather. (2015). Diagnosa Keperawatan (Definisi dan Klasifikasi)


2015-2017. Jakarta : EGC.

Hidayat (2008). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta : Penerbit Salemba


Medika .

Moorhead, Sue, dkk. (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC). United States
of America : Mosby Elseveir Academic Press.

Mitayani. (2009). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika

Nelson. (2011). Ilmu Kesehatananak Volume 2. Jakarta : EGC.

Proverawati (2010). Berat Badan Lahir Rendah. Medical Book

Wong (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Volume 1. Jakarta : EGC.