Anda di halaman 1dari 22

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Ilmu Sosial Budaya Dasar yang diampu oleh
Muhammad Reza Fauzi Fahmi,M.Hum.

Oleh

Hedy Yunus
Heriyanto
Kiki kurnia R
Tetin Solihat

Prodi Pendidikan Biologi


Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Galuh

Jl. R.E. Martadinata No. 150, Ciamis 46274 Jawa Barat, Indonesia Telp : 0265-
776787email : info@unigal.ac.id

2016-2017
KATA PENGANTAR

Puji beserta syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa. Karena berkat
rahmat, hidayahnya, penulis telah mampu menyelesaiakan sebuah makalah yang berjudul
Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial. Makalah ini disusun untuk memenuhi
salah satu tugas matakuliah Pendidikan Ilmu Sosial dan Budaya dasar.
Sebagai makhluk individu manusia merupakan bagian dan unit terkecil dari kehidupan
sosial atau masyarakat dan sebaliknya sebagai makhluk sosial yang membentuk suatu kehidupan
masyarakat, manusia merupakan kumpulan dari berbagai individu. Dalam menjalankan
peranannya masing-masing dari kedua hal tersebut secara seimbang, maka setiap individu harus
mengetahui dari peranannya masing-masing tersebut. Untuk itu, perlu kiranya penulis menulis
sebuah makalah yang mengemukakan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial.Semoga dengan adanya makalah ini dapat menjadi inspirasi bagi para pembaca.
Penulis menyadari bahwa selama penulisan makalah ini penulis banyak mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terimakasih.
Makalahinibukanlahkarya yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan,
baik dalam hasil maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu, kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya
semoga makalh ini bisa memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.

Ciamis,10 April 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................................................................... 2
BAB I .............................................................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN ......................................................................................................................................... 4
A. Latar Belakang Masalah .................................................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah ............................................................................................................................. 5
C. Tujuan Makalah................................................................................................................................ 5
D. Manfaat Makalah............................................................................................................................. 5
BAB II ............................................................................................................................................................. 6
PEMBAHASAN ........................................................................................................................................... 6
A. Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial .................................................................. 6
B. Interaksi Sosial dan Sosialisasidalam Kehidupan Manusia sebagai Makhluk individu dan Makhluk
Sosial ......................................................................................................................................................... 9
C. Masyarakat dan Komunitas .............................................................................................................. 15
D. Dilema Antara Kepentingan Individu dan Kepentingan Sosial ......................................................... 17
BAB III .......................................................................................................................................................... 20
PENUTUP ................................................................................................................................................. 20
A. Kesimpulan ................................................................................................................................... 20
B. Saran .............................................................................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................................... 22

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pada dasarnya manusia adalah sebagai makhluk individu yang unik, berbeda antara yang
satu dengan lainnya. Secara individu juga, manusia ingin memenuhi kebutuhannya masing-
masing, ingin merealisasikan diri atau ingin dan mampu mengembangkan potensi-potensinya
masing-masing. Hal ini merupakan gambaran bahwa setiap individu akan berusaha untuk
menemukan jati dirinya masing-masing, tidak ada manusia yang ingin menjadi orang lain
sehingga dia akan selalu sadar akan keindividualitasannya.
Adapun hubungannya dengan manusia sebagai mahluk sosial adalah bahwa dalam
mengembangkan potensi-potesinya ini tidak akan terjadi secara alamiah dengan sendirinya,
tetapi membutuhkan bantuan dan bimbingan manusia lain. Selain itu, dalam kenyataannya, tidak
ada manusia yang mampu hidup tanpa adanya bantuan orang lain. Hal ini menunjukan bahwa
manusia hidup saling ketergantungan dan saling membutuhkan antara yang satu dengan lainnya.
Dari kedua hal diatas, manusiasebagaimakhlukindividudanmakhluksosial memiliki fungsi
masing-masing dalam menjalankan peranannya dalam kehidupan. Sebagai makhluk
individu manusia merupakan bagian dan unit terkecil dari kehidupan sosial atau masyarakat dan
sebaliknya sebagai makhluk sosial yang membentuk suatu kehidupan masyarakat, manusia
merupakan kumpulan dari berbagai individu. Dalam menjalankan peranannya masing-masing
dari kedua hal tersebut secara seimbang, maka setiap individu harus mengetahui dari peranannya
masing-masing tersebut.Untukitu,perlukirany penulis menulis sebuah makalah yang
mengemukakan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Semoga dengan adanya
makalah ini dapat menginspirasi pembaca.

4
B. Rumusan Masalah
 Berdasarkanlatarbelakangmasalahdiatas, penulismerumuskanrumusanmasalahsebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial?
2. Bagaimana interaksi sosial dan sosial dalam kehidupan manusia sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial ?
3. Bagaimana perbedaan antara masyarakat dan komunitas?
4. Bagaimana dilema antara kepentingan individu dan kepentingan sosial?

C. Tujuan Makalah
 Sejalandenganrumusanmasalahdiatas,
makalahinidisusundengantujuanuntukmengetahuidanmendeskripsikan:
1. Hakikat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial;
2. Interkasi sosial dan sosialisasi dalam kehidupan manusia sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial;
3. Masyarakat dan komunitas;
4. Dilema antara kepentingan individu dan kepentingan sosial.

D. Manfaat Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan, baik secara teoritis maupun
secara praktis. Secara teoritis makalah ini berguna sebagai pengetahuan mengenai manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial , secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat
bagi :
1. penulis, sebagai penambah pengetahuan mengenai manusia sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial.
2. pembaca , sebagai media informasi mengenai manusia sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial


Pada dasarnya,manusia adalah makhluk individu manusia yang merupakan bagian dan
unit terkecil dari kehidupan sosial atau manusia sebagai makhluk sosial yang membentuk suatu
kehidupan masyarakat, manusia merupakan kumpulan dari berbagai individu. Adapun uraian
lebih lanjut mengenai manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial adalah sebagai
berikut:

1. Manusia sebagai Makhluk Individu


Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah swt. yang pada hakikatnya mereka
sebagai makhluk individu. Adapun yang dimaksud individu menurut(Effendi, 2010: 37) adalah
berasal dari kata in dan divided. Dalam bahasa Inggris in mengandung pengertian tidak,
sedangkan divided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi atau satu kesatuan. Dalam
hal ini, artinya bahwa manusia sebagai makhluk individu merupakan kesatuan aspek jasmani dan
rohani atau fisik dan psikologis, apabila kedua aspek tersebut sudah tidak menyatu lagi maka
seseorang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai individu.
Manusia sebagai makhluk individu memiliki keunikan atau ciri khas masing-masing,
tidak ada manusia yang persis sama meskipun terlahir kembar. Secara fisik mungkin manusia
akan memiliki banyak persamaan namun secara psikologis akan banyak menunjukan perbedaan.
Ciri khas dan perbedaan tersebut sering disebut dengan kepribadian. Kepribadian seseorang akan
sangan dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungannya.
Menurut Nursid Sumaatmadja (Effendi, 2010:39) kepribadian adalah keseluruhan
perilaku individu yang merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi bio-psiko-fisikal (fisik
dan psikis) yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan, yang terungkap pada
tindakan dan perbuatan serta reaksi mental psikologisnya jika mendapat rangsangan dari
lingkungan.Dia menyimpulkan bahwa faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam
pembentukkan karakteristik yang khas dari seseorang.Secara normal, setiap manusia memiliki
potensi dasar mental yang berkembang dan dapat dikembangkan yang meliputi (1) minat (sense
of interest), (2) dorongan ingin tahu (sense of curiousity), (3) dorongan ingin membuktikan
kenyataan (sense of reality) (4) dorongan ingin menyelidiki (sense of inquiry), (5) dorongan

6
ingin menemukan sendiri (sense of discovery). Potensi ini berkembang jika adanya rangsangan,
wadah dan suasana kondusif. Jika fenomena sosial di lingkungannya telah tumbuh potensi-
potensi mental yang normalnya akan terus berkembang.
Berawal dari potensi-potensi tersebut, manusia sebagai makhluk individu ingin
memenuhi kebutuhan dan kehendaknya masing masing, ingin merealisasikan dan
mengaktualisasikan dirinya. Dalam arti ia memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi-
potensi yang dimilikinya. Setiap
individu akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan jati dirinya yang berbeda
dengan yang lainnya, tidak ada manusia yang betul-betul ingin menjadi orang lain, dia tetap
ingin menjadi dirinya sendiri sehingga dia selalu sadar akan keindividualitasnya.
Menurut Zanti Arbi dan Syahrun (Sadulloh, 2009:81) menyatakan bahwa setiap orang
bertanggung jawab atas dirinya, atas pikiran, perasaan, pilihan, dan perilakunya. Orang yang
betul-betul manusia adalah orang yang bertanggung jawab penuh. Tidak ada orang lain
yang mengambil alih tanggung jawab dalam hidupnya. Kata hatinya adalah kata hatinya sendiri.
Adapun dalam hal ini sebagai pendidik baik orang tua maupun guru kita harus
memahami bahwa anak memiliki potensi untuk berkembang yang ingin menjadi pribadinya
sendiri. Anak dalam perkembangannya akan memperoleh pengeruh dari luar, baik yang
disengaja ataupun yang tidak disengaja, tetapi anak akan mengambil jarak terhadap pengaruh-
pengaruh tersebut. Dia akan memilihnya sendiri. Pengaruh tersebut akan dia olah secara pribadi,
sehingga apa yang dia terima akan merupakan bagian dari dirinya sendiri sehingga anak menjadi
pribadi individu yang berbeda dan tidak sama dengan yang lainnya. Selain itu, pendidik harus
sadar bahwa anak bukan satu satunya manusia yang berhak untuk mendidik anak tersebut.
pendidikan tidak boleh memaksa anak untuk mengikuti atau menuruti segala kehendaknya,
karena dalam diri anak ada suatu prinsip pembentukan dan pengembangan yang ditentukan oleh
dirinya sendiri.

2. Manusia sebagai Makhluk Sosial


Menurut kodratnya manusia selain sebagai makhluk individu, mereka juga merupakan
makhluk sosial. Adapun yang dimaksud Istilah sosial menurut adalah ”Sosial” berasal dari akar
kata bahasa Latin Socius, yang artinya berkawan atau masyarakat. Sosial memiliki arti umum
yaitu kemasyarakatan dan dalam arti sempit mendahulukan kepentingan bersama atau
masyarakat. Adapun dalam hal ini yang dimaksud manusia sebagai makhluk sosial adalah

7
makhluk yang hidup bermasyarakat, dan pada dasarnya setiap hidup individu tidak dapat lepas
dari manusia lain. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu
hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan
selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan
selalu bermasyarakat dalam kehidupannya.Seperti kita ketahui bahwa sejak bayi lahir sampa
iusia tertentu manusia adalah mahkluk yang tidak berdaya, tanpa bantuan orang orang disekitar
iatidak dapat berbuat apa-apa dan untuk segala kebutuhan hidup bayi sangat tergantung pada
luar dirinya sepert iorang tuanya khususnya ibunya. Bagisi bayi keluarga merupakan segitiga
abadi yang menjadi kelompok sosial pertama dikenalnya. Pada perjalanan hidup yang
selanjutnya keluarga akan tetap menjadi kelompok pertama tempat meletakan dasakepribadian
dan proses pendewasaan yang didalamnya selalu terjadi “sosialisi” untuk menjadi manusia yang
mengetahui pengetahuan dasar, nilai-nilai, normasosial dan etika-etika pergaulan.
Manusia dapat di katakan makluk sosial karena pada dirinya terdapat dorongan untuk
berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain, dimana terdapat kebutuhan untuk mencari
berteman dengan orang lain yang sering di dasari atas kesamaan ciri atau kepentingan masing-
masing. Manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah
manusia. Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak.
Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara,
dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya. Makhluk sosial adalah makluk yang
terdapat dalam beragam aktivitas dan lingkungan sosial.
 Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa anusia dikatakan sebagaimakhluksosial,
karenabeberapaalasan:
a. Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
b. Perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain.
c. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.

8
B. Interaksi Sosial dan Sosialisasidalam Kehidupan Manusia
sebagai Makhluk individu dan Makhluk Sosial
Manusia sebagai mahkluk sosial dalam kehidupan sehari-harinya pasti membutuhkan
orang lain. Proses interaksi dan sosialisasi selalu terjadi kapan dan dimanapun manusia itu
berada. Dalam hal ini bentuk interaksi sosial sangat bermacam-macam.Pola sosialisasi pun ada
bermacam-macam.Untuk lebih jelasnya uraian mengenai interaksi sosial dan sosialisasi adalah
sebagai berikut.

1. Interaksi Sosial
Manusia dikenal sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.Dikatakan makhluk sosial
karena manusia sebagai individu saling membutuhkan dan saling berinteraksi dengan manusia
atau individu lainnya. Oleh sebab itu manusia sebagai makhluk sosial sangat membutuhkan
orang lain pada hidupnya untuk saling memberi, menolong, dan melengkapi satu sama lain.
Adapun pengertian interaksi sosial menurut Effendi (2010:46) adalah kata interaksi berasaldari
kata inter dan action. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik saling mempengaruhi antar
individu, kelompok social, dan masyarakat. Dalam hal ini berarti bahwa manusia dalam
kehidupan sehari-harinya tidak lepas dari hubungan dengan manusia lainnya.Interaksi juga
berarti bahwa setiap manusia saling berkomunikasi dan mempengaruhi bisa dalam pikiran
maupun tindakan.
MenurutGillindanGillin (Effendi, 2010:46) menyatakan bahwa interaksi sosia adalah hubungan-
hubungan antara orang-orang secara individu, antar kelompok, orang, dan orang perorangan
dengan kelompok.Dalam hal ini interaksisosial bisa dilakukan oleh orang perorangan, bisa oleh
kelompok, juga bisa perorangan dengan kelompok.
Interaksisosial dimulai dari hal yang terkecil yaitu saling menegur, menyapa, berjabatangan,
saling berbicara dan lain-lain. Bahkan dalam pertengkaran atau perkelahianpun termasu
kinteraksisosial.
Faktor yang pertamaadalah imitasi, imitasi merupakan proses peniruan. Kita sebagai makhluk
sosial selalu membutuhkan orang lain termasuk dalam hal meniru perilaku orang lain yang
positif bagi kita. Peniruan sudah dilakukan pada rentan anak usia dini. Anak usia dini merupakan
peniru yang ulung, maka dari itu sikap dan perilaku setiap orang dewasa perlu dijaga dan
diperhatikan agar peniruan yang dilakukan anak usia dini bersifat positif. Pada proses peniruan

9
ini mudah berubah-ubah karena perkembangan teknologi didunia ini berlangsung secara global
dan sangat cepat.
Yang kedua yaitu Sugesti, sugesti adalah suatu proses dimana seorang individu menerima
pendapat atau pandangan dari orang lain tanpa adanya kritik terlebih dahulu. Sugesti merupakan
pengaruh psikis yang datang dari dirinya sendiri maupun orang lain. Orang akan mudah
menerima sugesti dari orang lain ketika seseorang sedang ada pada kondisi yang dilematis.
Dalam hubungan interaksi sosial, arti Imitasi dan sugesti hampir sama perbedaannya adalah dalm
imitasi seseorang mengikuti atau meniru orang lain, sedangkan pada sugesti seseorang
memberikan pandangan atau pendapat menurut dirinya dan diterima oleh orang lain.
Yang ketiga yaitu Identifikasi, dalam psikologis identifikasi berarti dorongan untuk menjadi
identik atau dorongan untuk menjadi sama dengan orang lain, baik secara lahir maupun batin.
Faktor yang keempatyaitu simpati, simpati yaitu perasaaan yang timbul pada orang lain atas
dasar penilaian menurut perasaan didalam dirinya.

2. Bentuk Interaksi Sosial


Ada beberapa bentuk interaksi sosial yaitu:kerjasama (cooperation), persaingan (competition),
dan pertentangan (conflict). Menurut Gillin dan Gillin bentuk kerjasama dibagi dalam dua proses
yang didalamnya terdapat bentuk bentuk khusus. Yang pertama yaitu proses Asosiatif terdiri dari
2 bentuk khusus yaitu akomodasi dan asimilasi. Yang kedua yaitu proses Disosiatif, disosiatif
terdiri dari tiga bentuk khusus yaitu persaingan (competition), kontravnersi (contravention), dan
pertentangan (conflict).
a. Bentuk Interaksi Asosiatif
1) Kerjasama (cooperation)
Kerjasama merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang sering terjadi dimasyarakat
pada umumnya. Kerjasama menggambarkan sebagian besar bentuk interaksi sosial. Dan setiap
bentuk interaksi sosial dapat ditemukan pada setiap kelompok manusia. Kerjasama timbul karena
orientasi orang perorangan terhadap kelompoknya atau kelompok yang lainnya.
 Ada tiga bentuk kerjasama yang biasa dilaksanakan yaitu:
a) Bargaining, yaitu pelaksanaan kerjasama atau perjanjian antara dua organisasi atau lebih
mengenai pertukaran barang dan jasa.

10
b) Cooperation, yaitu penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan atau dalam pelaksanaan
politik dalam suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk menghindari kegoncangan dalam
stabilitas organisasi tersebut.
c) Coalition, yaitu kombinasi antar dua organisasi atau lebih yang mempunyai pandangan dan
tujuan yang sama.
2) Akomodasi (accomodation)
Dalam interaksi sosial, istilah akomodasi berarti suatu kenyataan adanya keseimbangan
dalam interaksi orang perorangan dan kelompok manusia sehubungan dengan nilai dan norma
yang berlaku dimasyarakat.
o Ada beberapa bentuk akomodasi, diantaranya:
a) Coertion adalah bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya suatu
paksaan. Contohnya
b) Compromise adalah salah satu bentukakomodasi dimana pihak yang terlibat perselisihan
mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan tersebut.
Contohnya
c) Arbitration adalah suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak yang berselisih
tidak sanggup untuk mencapainya sendiri. Contohnya
d) Mediation cara untuk mencapai penyelesaina dalam perselisihan dengan cara menghadirkan
orang ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang ada. Contohnya dalam sidang perceraian.
e) Concilitation adalah usaha untuk mengabulkan atau mempertemukan keinginan pihak yang
berselisih agar tercapainya suatu persetujuan bersama. Contohnya
f) Tolerantion adalah bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal. Contohnya toleransi
dalam beribadah.
g) Stelemate adalah suatu akomodasi dimana pihak pihak yang berkepentingan mempunyai
yang seimbang, berhenti pada titik tertentu dalam melakukan pertentangannya. Contohnya
h) Adjudication adalah perselisihan perkara atau sengketa dipengadilan.
b. Bentuk Interaksi Disosiatif
1) Persaingan (competition)
Persaingan merupakan bentuk interaksi sosial yang dilakukan oleh individu atau
kelompok untuk memperoleh keuntungan tertentu baik bagi dirinya maupun kelompoknya

11
dengan cara menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada tanpa menggunakan
kekersan.
2) Kontravensi (contravention)
Kontraversi adalah rperasaaan yang menggejolak yang ada pada diri seseorang yag ditandai oleh
adanya ketidakpastian dalam diri seseorang, perasaan tidak suka yang disembunyikan dan
kebencian terhadap orang lain. Tapi gejala-gejala tersebut tidak sampai menimbulkan
pertentangan atau pertikaian.
3) Pertentangan (conflict)
Pertentangan merupakan suatu bentuk interaksi individu atau kelompok sosial yang berusaha
utuk mencapai tujuannya dengan cara menentang pihak yang lain atau pihak yang menghalangi
dengan ancaman atau tindak kekerasan.
Bentuk-bentuk pertentangan dibagi beberapa macam, antara lain:
a) Pertentangan pribadi, yaitu pertentangan yang dilakuakan oleh antar individu.
b) Pertentangan rasional, yaitu pertentangan yang ditimbulkan oleh adanya perbedaan ras.
c) Pertentangan kelas sosial, yaitu perbedaan yang ditimbulkan karena adanya perbedaan
kepentingan antar kelas sosial.
d) Pertentangan politik, yaitu pertentangan yang biasanya terjadi diantara partai-partai polotik
untuk mencapai keinginannya.

3. Sosialisasi
Sosialisasi sangat erat kaitannya terhadap manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai
makhluk sosial kita harus senantiasa hidup bersosial dengan orang lain agar dapat saling
membantu, melengkapi, dan mencapai tujuan hidup kita. Menurut Berger (Effendi, 2010:49)
mendefinisika sosialisasi sebagai “a process by which a child learns to be a participant member
of society” yaitu suatu proses dimana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang
berpartisipasi dalam masyarakat. Dalam hal ini jelas dikatakan bahwa proses sosialisasi dimulai
dari sejak anak usia dini hingga usia seseorang berakhir. Proses sosialisasi terus dilakukan
selama kita masih hidup dan masih membutuhkan orang lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sosialisasi adalah proses dimana seseorang dapat berinteraksi dan
berpartisipasi dengan masyarakat yang ada disekitarnya.

12
Setiap orang harus mempelajari peranan-peranan yang ada dalam masyarakat. Seseorang
belajar memahami apa peranan dirinya yang harus dijalankan dalam masyarakat dan apa peranan
orang lain yang harus dijalankan dalam masyarakat. Dengan mengetahui peranan yang ada
didalam masyarakat maka timbullah proses interaksi sosial dengan orang lain. Menurut teori
George Herbert Mead menjelaskan bahwa tahapan-tahapan pengembangan diri manusia dalam
berinteraksi dibagi dalam beberapa tahap yaitu: play stage, game stage, dan tahap generalized
other.
Tahap pertama yaitu play stage terjadi pada anak usia dini. Pada tahap ini anak mulai
menirukan apa yang dilakukan oleh orang disekelilingnya terutama orang tuanya. Ia mulai
menirukan apa yang biasa dilihatnya sehari-hari. Contohnya dalam bermain anak terkadang
bermain peran yang dijalankan sebagai ibu atau ayah dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada
tahap ini anak belum mengerti memahami peranan-peranan yang ditirunya. Tahap kedua yaitu
game stage, pada tahap ini anak sudah mengetahui peranan yang harus dijalankannya dan juga
anak telah mengetahui peranan yang haru dijalankan oleh orang lain. Contohnya dalam
pertandingan sepak bola. Ketika anak menjadi kiper ia mengetahui tugasnya adalah menjaga agar
gawangnya tidak termasuki bola oleh lawannya. Dan ia juga mengetahui peran teman-temannya
dan peran tim lawan. Ia juga mengetahui peran wasit, hakim garis, pelatih dan lain sebagainya.
Tahap ketiga yaitu generalized other, pada tahap ini seseorang sudah mampu mengambil peranan
peranan yang dijalankan orang lain dalam masyarakat. Ia telah mampu berinteraksi dengan orang
lain dan memahami dengan siapa ia berhadapan dan berinteraksi. Contohnya ketika ia menjadi
seorang anak ia mampu memahami peran yang dijalankan orang tuanya. Ketika ia jadi siswa ia
mampu memahami peran yang dijalankan oleh gurunya. Ketika ia jadi karyawan ia mampu
memahami peran yang dilakukan atsannya dan laun sebagainya. Dari ketiga tahap tersebut
terlihat jelas bahwa diri seseorang terbentik karena adanya interaksi sosial.
Setiap makhluk hidup pasti sangat membutuhkan proses sosialisasi, baik itu dimulai dari
anak usia dini sampai dewasa bahkan sosialisasi berjalan seumur hidup.apa yang terjadi jika
sejak usia dini anak tidak mengalami sosialisasi ? pasti anak tidak akan menjadi manusia
seutuhnya, karenan kemampuan seseorang untuk berperan sebagai anggota masyarakat sangat
tergantung pada proses sosialisasi. Ketika seseorang tidak mengalami sosialisasi maka yang
terjadi adalah orang itu tidak dapat berinteraksi dengan orang lain. Contohnya banyak
ditemuakan anak anak yang terlantar dihutan dan dibesarkan oleh hewan atau yang disekap oleh

13
orang tuanya sejak kecil. Mereka tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Mereka cenderung
bagaimana berprilaku seperti hewan, mereka tidak dapat berbicara, tidak dapat berpakaian
bahkan tidak dapat tertawa atau menangis. Ketika anak-anak itu diselamatkan dan diberi terapi
seperti manusia umumnya, mereka mungkin bisa menerima sedikit demi sedikit perubahan pada
diri mereka untuk menjadi manusia seutuhnya namun kemampuan mereka tidak akan mampu
menyamai kemampuan anak lain yang sebaya dengannya, karena kemampuan kemampuan
tertentu hanya dapat diajarkan pada periode tertentu dikehidupan anak. Bila proses sosialisasinya
terlambat, maka proses tersebut tidak akan berhasil atau hanya berhasil untuk sebagian kecil saja.
Mereka juga tidak akan menjadi manusia seutuhnya karena mereka tidak pernah tersosialisasi
secara wajar dan mereka cenderung meninggal dengan usia muda.
Sosialisasi dilakukan oleh semua individu yang bersosial. Ada beberapa pihak yang
membantu melaksanakan sosialisasi yaitu keluarga, kelompok bermain media massa dan sistem
pendidikan. Peran agen utama yaitu orangtua merupakan peran penting bagi anak untuk
bersosialisasi. Orang tua merupaka awal dimana kita melakukan interaksi dengan dunia pertama
kita. Keluarga merupakan pendidik yang pertama dan yang paling utama dalam hal pertumbuhan
dan perkembangan anak begitupun dengan perkembangan sosialisasi mereka. Maka orang tua
hendaknya mengoptimalkan proses sosialisasi pertama untuk anak. Kelompok bermain juga
tidak kalah pentingnya dengan orang tua. Melalui kelompok bermain anak mulai bisa belajar
bersosialisasi secara umum. Bagaimana ia berinteraksi dengan teman sebayanya, bagaimana ia
menyelesaikan suatu permasalahan dalam berinteraksi dengan temannya dan juga bagaimana ia
bisa memilih teman yang sejalan dengannya. Agen yang ketiga yaitu media massa. Media masa
sangat erat kaitannya dengan teknologi yang makin maju dan berkembang. Media masa pun
sangat penting untuk sosialisasi dengan hal-hal yang terjadi disekitar kita

4. Bentuk dan Pola Sosialisasi


a. Bentuk-bentuk sosialisasi
sosialisasi merupakan salah satu bentuk manusia dalam mempertahankan interaksi dengan
lingkungannya. Proses ini berlangsung sepanjang hidup manusia.
Bentuk sosialisasi dibedakan menjadi dua yaitu sosialisasi primer dan sekunder.
Sosialisasi primer adalah sosialisasi pertama yang dilakukan oleh seluruh individu sejak ia kecil.
Sosialisasi primer tidak ada proses identifikasi dan pada masa inilah dumia pertama anak
terbentuk. Sosialisasi primer berakhir ketika konsep tentang orang lain pada umumnya telah

14
terbentuk dan tertanam dalam kesadaran individu. Pada titik ini ia merupakan anggaota efektif
masyarakat.
Yang kedua yaitu sosialisasi sekunder, sosialisasi sekunder adalah proses berikutnya yang
memperkenalkan individu yang telah disosialisasi ke dalam sektor baru dari dunia objek
masyarakat. Apabila sosialisasi ini tidak berjalan maka akan menimbulkan dampak yaitu
pengetahuan yang dimiliki akan sangat sederhana.
b. pola sosialisasi
pada dasarnya ada dua pola sosialisasi, yaitu pola represi (kekerasan/hukuman) dan pola
partisipasi. Sosialisasi menggunakan pola represi menekankan pada penggunaan hukuman atau
kekerasan apabila terdapat dan melakukan kesalahan. Adapun ciri-ciri lain dalam penggunaan
prose represi yaitu penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan, penekanan terhadap orang
tua, penekanan terhadap komunikasi satu arah non verbal dan berisi perintah, sosialisasi terhadap
orang tua dan keinginan orangtua dan lain-lain.
Sosialisasi secara partisipasi merupakan pola yang didalamnya anak diberi imbalan ketika ia
berlaku baik , hukuman dan imbalan berupa simbol, anak diberi kebebasan, komunikasi bersifat
lisan, anak menjadi pusat sosialisasi, kebutuhan dianggap sangat penting dal=n lain sebagainya.

C. Masyarakat dan Komunitas


Dalam kehidupan sebagai makluk individu dan sosial, manusia selalu berhubungan dan
tidak dapat lepas dengan masyarakat dan komunitas. Sering kali penggunaan kedua istilah
tersebut tertukar dalam penggunaannya, padahal pada hakikatnya kedua istilah tersebut tidaklah
sama. Terdapat perbedaan mendasar antara kedua konsep tersebut, dan untuk mengetahui lebih
lanjut, berikut akan penulis sajikan beberapa devinisi masyarakat dan komunitas menurut para
ahli sebagai berikut.

1. Masyarakat
Krech, Crutchfield, dan Ballachey (Effendi, 2010: 59) mengemukakan devinisi
masyarakat sebagai ”a society is that it is an organized collectivity of interacting people whose
actives become centered around a set of common goals, and who tend to share common beliefs,
attitudes, and of action.” Dari devinisi tersebut dapat ditarik kesimpulan unsur-unsur yanga ada
dalam masyarakat adalah kolektivitas interaksi manusia yang terorganisasi, kegiatannya yang
terarah pada sejumlah tujuan yang sama, memilikin kecenderungan untuk memiliki keyakinan,

15
sikap, dan bentuk tindakan yang sama. Dalam hal ini, interkasi dan tindakan itu tentu saja
interaksi serta tindakan sosial.
Menurut konsep di atas, karakteristik dari masyarakat itu adalah adanya sekelompok
manusia yang menunjukan perhatian bersama secara mendasar, pemeliharaan kekekalan
bersama, perwakilan menusia menurut sejenisnya yang berhubungan satu sama lain secara
berkesinambungan. Dengan demikian, relasi manusia sebagai suatu bentuk masyarakat itu tidak
terjadi dalam waktu yang singkat, melainkan secara berkesinambungan dalam waktu yang relatif
cukup lama.
Dari beberapa devinisi di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat merupakan kelompok atau
kolektivitas manusia yang melakukan hubungan, bersifat kekal, berlandaskan perhatian dan
tujuan bersama, serta melakukan jalinan secara berkesinambungan dalam wkatu yang relatif
lama yang menempati kawasan tertentu.

2. Masyarakat Setempat/ Komunitas


Masyarakat setempat atau komunitas merupakan bagian kelompok dari masyarakat dalam
lingkup yang lebih kecil, serta ikatan kebersamaannya yang kuat dan lebih terikat oleh tempat.
Adapun menurut Prof. Dr. Soerjono Soekanto (Effendi, 2010: 62) istilah community
dapat diterjemahkan sebgai masyarakat setempat, istilah ini menunjuk pada warga-warga sebuah
desa, sebuah kota, suku atau suatu bangsa. Apabila anggota-anggota suatu kelompok hidup
bersam sedemikian rupa sehingga mereka merasakan bahwa kelompok tersebut dapat memenuhi
kepentingan-kepentingan hidup yang utama, maka kelompok tadi dapat disebut masyarakat
setempat. Intinya mereka menjalin hubungan sosial.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat setempat adalah suatu wilayah
kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan social yang tertentu. Jadi dasar-dasr
dari masyarakat setempat adalah lokalitas atau wilayah, perasaan sepenanggungan dan hubungan
sosial tertentu yang merupakan perasaan saling ketergantungan .
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa devinisi masyarakat dengan masyarakat setempat/
komunitas. Devinisi masyarakat sifatnya lebih umum dan lebih luas, sedangkan devinisi
masyarakat setempat lebih terbatas dan juga dibatasi oleh area kawasan serta sejumlah warganya.
Ditinjau dari aktivitas hubungannya dan persatuan lebih erat masyarakat setempat dibandingkan
dengan masyarakat.

16
Lebih lanjut dalam kehidupan masyarakat, Ferdinand Tonnies (Effendi, 2010: 65)
mengemukakan pemnbagian masyarakat dengan sebutan masyarakat gemainchaft dan geselshaft.
Masyarakat gemainchaft atau disebut juga paguyuban adalah kelompok masyarakat dimana
anggotanya sangat terikat secara emosional dengan yang lainnya dan biasanya cenderung sebagai
refleksi masyarakat pedesaan. Sedangkan masyarakat geselshaft atau patembeyan ikatan-ikatan
diantara anggota anggotanya kurang kuat dan bersifat rasional, biasanya cenderung sebagai
refleksi masyarakat perkotaan.

D. Dilema Antara Kepentingan Individu dan Kepentingan Sosial


Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial selalu terdiri dari dua
kepentingan, yaitu ke pentingan individu yang termasuk kepentingan keluarga, kelompok atau
golongan dan kepentingan masyarakat yang termasukke pentingan rakyat . Dalam diri manusia,
kedua kepentingan itu satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satu kepentingan
tersebut hilang dari diri manusia, akan terdapat satu manusia yang tidak bisa membedakan suatu
kepentingan, jika kepentingan individu yang hilang dia menjadi lupa pada keluarganya, jika
kepentingan masyarakat yang dihilangkan dari diri manusia banyak timbul masalah
kemasyarakatan contohnya korupsi. Inilah yang menyebabkan kebingungan atau dilema manusia
jika mereka tidak bisa membagi kepentingan individu dan kepentingan masyarakat.Persoalan
pengutamaan kepentingan individu atau masyarakat ini memunculkan dua pandangan yang
berkembang menjadi paham/aliran bahkan ideologi yang dipegang oleh suatu kelompok
masyarakat. Adapun Ariska mengemukakan dua pandangan yaitu pandangan individualisme dan
pandangan sosialisme. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut kami sajikan uraian berikut.

1. Pandangan Individualisme
Individualisme berpangkal dari konsep bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk
individu yang bebas. Paham ini memandang manusia sebagai makhluk pribadi yang utuh dan
lengkap terlepas dari manusia yang lain. Pandangan individualisme berpendapat bahwa
kepentingan individulah yang harus diutamakan. Yang menjadi sentral individualisme adalah
kebebasan seorang individu untuk merealisasikan dirinya. Paham individualisme menghasilkan
ideologi liberalisme. Paham ini bisa disebut juga ideologi individualisme liberal.
Paham individualisme liberal muncul di Eropa Barat (bersama paham sosialisme) pada
abad ke 18-19. Yang dipelopori oleh Jeremy Betham, John Stuart Mill, Thomas Hobben, John

17
Locke, Rousseau, dan Montesquieu. Beberapa prinsip yang dikembangkan ideologi liberalisme
adalah sebagai berikut.
a. Penjaminan hak milik perorangan. Menurut paham ini, pemilikan sepenuhnya berada pada
pribadi dan tidak berlaku hak milik berfungsi sosial, Mementingkan diri sendiri atau kepentingan
individu yang bersangkutan.
b. Pemberian kebebasan penuh pada individu. Persaingan bebas untuk mencapai
kepentingannya masing-masing.Kebebasan dalam rangka pemenuhan kebutuhan diri bisa
menimbulkan persaingan dan dinamika kebebasan antar individu. Menurut paham liberalisme,
kebebasan antar individu tersebut bisa diatur melalui penerapan hukum. Jadi, negara yang
menjamin keadilan dan kepastian hukum mutlak diperlukan dalam rangka mengelola kebebasan
agar tetap menciptakan tertibnya penyelenggaraan hidup bersama.

2. Pandangan Sosialisme
Paham sosialisme ditokohi oleh Robert Owen dari Inggris (1771-1858), Lousi Blanc, dan
Proudhon. Pandangan ini menyatakan bahwa kepentingan masyarakatlah yang diutamakan.
Kedudukan individu hanyalah objek dari masyarakat. Menurut pandangan sosialis, hak-hak
individu sebagai hak dasar hilang. Hak-hak individu timbul karena keanggotaannya dalam suatu
komunitas atau kelompok.
Sosialisme adalah paham yang mengharapkan terbentuknya masyarakat yang adil,
selaras, bebas, dan sejahtera bebas dari penguasaan individu atas hak milik dan alat-alat
produksi. Sosialisme muncul dengan maksud kepentingan masyarakat secara keseluruhan
terutama yang tersisih oleh system liberalisme, mendapat keadilan, kebebasan, dan
kesejahteraan. Untuk meraih hal tersebut, sosialisme berpandangan bahwa hak-hak individu
harus diletakkan dalam kerangka kepentingan masyarakat yang lebih luas. Dalam sosialisme
yang radikal/ekstem (marxisme/komunisme) cara untuk meraih hal itu adalah dengan
menghilangkan hak pemilikan dan penguasaan alat-alat produksi oleh perorangan.
Paham marxisme/komunisme dipelopori oleh Karl Marx (1818-1883).
Paham individualisme liberal dan sosialisme saling bertolak belakang dalam memandang
hakikat manusia. Dalam Declaration of Independent Amerika Serikat 1776, orientasinya lebih
ditekankan pada hakikat manusia sebagai makhluk individu yang bebas merdeka, manusia adalah
pribadi yang memiliki harkat dan martabat yang luhur. Sedangkan dalam Manifesto Komunisme
Karl Marx dan Engels, orientasinya sangat menekankan pada hakikat manusia sebagai makhluk

18
sosial semata. Menurut paham ini manusia sebagai makhluk pribadi yang tidak dihargai. Pribadi
dikorbankan untuk kepentingan negara.
Dari kedua paham tersebut terdapat kelemahannya masing-masing. Individualisme liberal
dapat menimbulkan ketidakadilan, berbagai bentuk tindakan tidak manusiawi, imperialisme, dan
kolonialisme, liberalisme mungkin membawa manfaat bagi kehidupan politik, tetapi tidak dalam
lapangan ekonomi dan sosial. Sosialisme dalam bentuk yang ekstrem, tidak menghargai manusia
sebagai pribadi sehingga bisa merendahkan sisi kemanusiaan. Dalam negara komunis mungkin
terjadi kemakmuran, tetapi kepuasan rohani manusia belum tentu terjamin.
Negara indonesia yang berfilsafahkan pancasila, hakikat manusia dipandang memiliki
sifat pribadi sekaligus sosial secara seimbang. Menurut filsafat pancasila, manusia adalah
makhluk individu sekaligus makhluk sosial, yang secara hakikat bahwa kedudukan manusia
sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Bangsa indonesia memiliki prinsip
penempatan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan golongan. Demi kepentingan
bersama tidak dengan mengorbankan hak-hak dasar setiap warga negara

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Manusia sebagai mahluk individu artinya manusia merupakan satu kesatuan antara jasmani
dan rohani. Seseorang dikatakan sebagai individu apabila kedua unsur tersebut menyatu dalam
dirinya.
2. Selain sebagai makhluk individu juga, manusia adalah makhluk sosial. Salah satunya
dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan atau berinteraksi dengan orang
lain yang satu sama lain saling membutuhkan. Untuk menjadi pribadi yang bermakhluk sosial
setiap individu dihadapkan dengan sosialisasi, yaitu suatu proses dimana seseorang belajar
menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
3. Adapun yang dimaksud masyarakat setempat atau komunitas berbeda dengan masyarakat.
Masyarakat sifatnya lebih umum dan lebih luas, sedang masyarakat setempat lebih terbatas dan
juga dibatasi oleh kawasan tertentu. Namun ditinjau dari aktivitas hubungannya dan
persatuannya lebih erat pada masyarakat setempat dibandingkan dengan masyrakat.
4. Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial selalu dihadapkan oleh dua
kepentingan yaitu kepentingan individu dan sosial. Persoalan pengutamaan kepentingan individu
atau masyarakat ini memunculkan dua pandangan yang berkembang yaitu pandangan
individualisme dan pandangan sosialisme. Sebetulnya kedua kepentingan tersebut tidak dapat
dipisahkan dan bukanlah pilihan.
.

B. Saran
Sejalandengankesimpulandiatas, penulismerumuskan saran sebagaiberikut.
1. Setiap individu hendaknya sadar bahwa mereka adalah sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial, sehingga mereka mampu menghargai satu sama lain dalam arti tidak mengambil
hak orang lain ketika bertindak sebagai makhluk sosial dan sebaliknya.
2. Dalam upaya pendidikan hendaknya para pendidik harus menghormati keindividualitasan,
karakteristik, keunikan dan kepribadian anak. pendidikan tidak boleh memaksa anak untuk

20
mengikuti dan menuruti segala kehendaknya, karena dalam diri anak ada suatu prinsip
pembentukan dan pengembangan yang ditentukan oleh dirinya sendiri.
3. Pembentukan proses sosialisasi pada anak dalam interaksi sosial hendaknya harus didukung
oleh semua pihak. Keluarga, lingkungan masyarakat juga tenaga pendidik harus membantu
menstimulasinya.
4. Kesempatan berinteraksi akan sangat dibutuhkan oleh anak dalam bersosialisasi dengan
orang lain. Hendaknya kita sebagai calon guru dan calon ibu harus sadar bahwa pemberitahuan,
pemberian contoh dan pembiasaan sangat penting dan dibutuhkan dalam bersosialisasi dengan
orang lain dimasyarakat.

21
DAFTAR PUSTAKA

Ariska, I. (2013). Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial. [Online]. Tersedia:
(http://iraars-meandmyself.blogspot.com /2012/03/manusia-sebagai-mahluk-individu-dan.html).
[6 Februari 2013]
Effendi, R. dan Setiadi, E.M. (2010). Pendidikan Lingkungan, Sosial, Budaya dan Teknologi.
Bandung: UPI Press.
Kappara. (). Pengertian Sosial dan Politik. [Online]. Tersedia: (http://id.shvoong.com/law-and-
politics/politics/2234715-pengertian-sosial-dan-politik/#ixzz2KfDPhVhf). [11 Februari 2013].
Sadulloh, U. (2003). Pengantar Filsafal Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

22