Anda di halaman 1dari 2

Setiap tahun Kota Makassar disesaki persoalan drainase, bangunan yang tidak terkontrol

hingga menjadi kota ruko serta persoalan sampah. Semua masalah tersebut menumpuk
bertahun-tahun termasuk masalah makin sempitnya lahan hijau di kota Makassar.
Perubahan status kota menjadi sebuah kota metropolitan memang berdampak pada semua lini
diantaranya akan berdampak pada lingkungan kota itu sendiri. Makassar yang diidamkan
akan menjadi kota dunia harus segera berbenah diri. Mulai dari sikap pemerintahannya
maupun prilaku masyarakatnya terlebih dahulu.
Makassar menjadi pusat mobilitas yang begitu besar dengan wilayah yang cukup sempit.
Begitu juga Perekonomian yang ada menjadi barometer bagi kemajuan dan kestabilan
pembangunan dibanding dengan kota-kota lainnya. Namun sebagai kota metropolitan,
Makassar dirundung banyak persoalan dan masalah yang menyebabkan semakin terpuruk
diantaranya persoalan lingkungan yang dihadapi.
salah satu pejabat tinggi DPRD mengatakan,bahwa persoalan lingkungan adalah salah satu
dari sejumlah persoalan Makassar yang pelik dan harus mendapat perhatian serius. Dimana
Pengembangan wilayah Makassar yang tidak terkontrol, sistem pembuangan sampah yang
masih primitif, sempitnya daerah serapan air, berkurangnya kawasan hijau, polusi udara, dan
transportasi adalah sejumlah catatan terhadap kondisi lingkungan di Kota Makassar.
Tak hanya itu, permasalahan tata ruang dan perumahan dengan tingkat kepadatan tinggi,
sistem transportasi terpadu, dan pembangunan infrastruktur fisik merupakan beberapa
tantangan bagi pemerintah Makassar di masa yang akan datang.
“Hampir semua bangunan-bangunan baru di Kota Makassar telah mengabaikan aspek
lingkungan diantaranya tak mengadakan ruang terbuka hijau yang memadai, serta di
Makassar sendiri banyak lahan yang sejatinya bisa dijadikan taman hijau namun dengan
perkembangan kota yang begitu pesat berubah menjadi bangunan ruko serta bangunan hotel
yang sudah merambah ke pemukiman warga.
kita akui, meningkatnya pembangunan di Kota Makassar tanpa adanya pengontrolan
dikarenakan tak ada regulasi yang mengatur yakni Perda rencana tata ruang wilayah
(RTRW). “Selama ini belum ada, maka dipastikan pembangunan di kota Makassar menjadi
tak tertata dengan baik bahkan terkesan sangat semrawut. Kita lihat sendiri bangunan hotel
pun sudah merambah ke pemukiman warga ini salah satu karena tak adanya zonasi wilayah
yang mengatur.
Sementara itu, pesatnya pembangunan di kota Makassar memang berdampak negatif terhadap
lingkungan yang ada. BLHD sendiri menurutnya berperan dalam melakukan pengawasan
terhadap pencemaran lingkungan. “Masalah lingkungan merupakan masalah yang sangat
kompleks, sehingga BLHD dalam hal ini berperan terus melakukan koordinasi dengan
seluruh SKPD terkait pentingnya pemeliharaan lingkungan “.
Selain tingkat pengawasan pencemaran lingkungan, BLHD juga berkaitan dengan
pengawasan Amdal. ” Amdal memegang peranan yang sangat penting dalam pengambilan
keputusan pejabat yang berwenang dalam rangka memastikan bahwa pembangunan yang
dilaksanakan dapat menjamin kelestarian dan keberlangsungan lingkungan hidup”.
Diakui, dalam data yang tercatat oleh BLHD Kota Makassar, pencemaran yang disebabkan
limbah pelaku usaha diantaranya restoran masih sangat tinggi, sehingga diperlukan
pengawasan yang lebih ketat bagi para pelaku usaha di Kota Makassar, sementara
pencemaran lingkungan udara, dinilai masih dalam kategori baik.
“Kita saat ini memang terus melakukan pemantauan dan pengawasan terkait itu, mereka yang
tidak mengantongi izin amdal, atau tak memiliki instalasi pengelolaan air limbah (IPAL)
tentunya kita akan sangsi sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, “.

Kriminalitas
Tidak heran Makassar terkenal di Indonesia sebagai kota Anarki, bisa dibayangkan tingkat
kriminalitasnya juga tinggi, ini dikarenakan pengaruh eksternal dan internal dari masyarakat
Sulawesi Selatan. Dari segi eksternal adalah suhu di Makassar dan Sekitarnya yang terbilang
panas, hal ini mengakibatkan manusianya cepat naik darah atau emosi sehingga
mengakibatkan berbagai tindak kejahatan. Sedangkan dari segi internal adalah kebudayan
masyarakat Bugis Makassar yang menganut paham siri’ na pacce dan budaya minum Ballo’.

Selain faktor tersebut ada juga berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat kriminalitas yang
terjadi di daerah urban seperti kota Makassar yaitu, pengaruh lingkungan, kurangnya
pendidikan dari keluarga utamanya orang tua, faktor ekonomi dan lain-lain.

Beberapa titik rawan krimilanal dan tindak kejahatan di kota Makssar adalah Pampang,
Maccini, Kandea, Karuwisi dan sekitarnya, Hertasning Baru (Aroepala). Kriminalitas yang
meresahkan warga tentu saja harus diberantas dengan cara memberi efek jera kepada
pelakunya, hukuman yang ada pada UU harus ditegakkan tanpa ada memandang bulu. Juga
dengan cara membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan syariah agama pada
masyarakat.