Anda di halaman 1dari 19

Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) memegang peranan penting
dalam kebutuhan listrik nasional, jumlah listrik yang dihasilkan lebih
banyak dari pusat listrik yang lainnya, banyak proses /siklus yang terjadi
dalam PLTU salah satunya adalah system air kondensat, yang menjadi
perhatian utama dalam penulisan seminar ini adalah prinsip kerja system
air kondensat pada PLTU, guna mengetahui cara kerja dari system air
kondensat itu sendiri.
Kondensasi adalah perubahan wujud uap menjadi wujud cair.
Kondensat terjadi ketika uap didinginkan menjadi cairan, tetapi dapat juga
terjadi bila uap dikompresi (yaitu tekanan ditingkatkan) menjadi cairan,
atau mengalami kombinasi dari pendinginan dan kompresi. Cairan yang
telah terkondensasi dari uap disebut kondensat.
Pada PLTU sistem air kondensat adalah sumber pasokan utama
untuk sistem pengisi. Ruang lingkup system air kondensat ialah mulai dari
hotwell sampai ke daerator. Air kondensat berasal dari proses kondensasi
uap bekas yang di vacuumkan didalam kondensor pada saat PLTU
beroperasi sedangkan saat start air kondensat berasal dari air pengisi.

1.2 Tujuan Penelitian


Pelaksanaan seminar ini bertujuan untuk :
a. Untuk memenuhi prasyarat pendidikan Sarjana Strata Satu (S1)
pada jurusan teknik mesin, Sekolah Tinggi Teknik – PLN
b. Mendapatkan gambaran tentang siklus system air kondensat,
beserta komponen utamanya.

1.3 Manfaat Penelitian


Sebagai bahan informasi bagi pembaca yang berminat pada PLTU
pada umumnya, Sistem air kondensat pada khususnya

1.4 Rumasan Masalah


Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas maka
perumusan masalah dalam penelitian ini adalah mengetahui bagaimana
cara kerja dari system air kondensat.

1.5 Batasan Masalah


Agar hasil penelitian dapat diterima dengan validitas seperti yang
diharapkan, Maka ditentukan batasan masalah guna mengendalikan
model pelaksanaan penelitian yang dilakukan hanya dalam lingkup
system Air Kondensat pada PLTU.

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 1


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

1.6 Sistematika Penulisan


Seminar ini terdiri dari lima bab yang masing-masing berisi:
Bab I Pendahuluan
berisi latar belakang topik, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
rumusan masalah, batasan masalah dan sistematika pembahasan.
Bab II Teori Dasar
berisi mengenai penjelasan tentang cara kerja system air
kondensat, komponen-komponen system air kondensat dan fungsinya.
Bab III Metodelogi Penelitian
Pada bab ini berisi mengenai teknik-teknik pengumpulan bahan
seminar
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Pada bab ini berisi mengenai tentang analisis pembahasan yang
merupakan usaha untuk mencapai tujuan penelitian
Bab V Kesimpulan dan saran
Bab ini merupakan kesimpulan dari apa yang sudah dibahas,
disertai saran yang dapat bermanfaat dan berguna bagi perbaikan dimasa
yang akan datang.

BAB II
TEORI DASAR

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 2


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

Sistem air kondensat merupakan sumber pasokan utama untuk


sistem air pengisi ketel. Mayoritas air kondensat berasal dari proses
kondensasi uap bekas didalam kondensor. Rentang sistem air kondensat
adalah mulai dari hotwell sampai ke Dearator. Selama berada dalam
rentang sistem air kondensat, air mengalami 3 proses utama yaitu
mengalami pemanasan, pemurnian dan deaerasi.

Pada saat melintasi sistem air kondensat, air mengalami


pemanasan pada berbagai komponen antara lain di gland steam
condensor, di air ejector dan dibeberapa pemanas awal air pengisi
tekanan rendah. Pemanasan ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi
siklus serta menghemat pemakaian bahan bakar. Bila air kondensat tidak
dipanaskan, berarti membutuhkan lebih banyak bahan bakar untuk
menaikkan temperatur air didalam ketel.

Selain itu, air kondensat juga mengalami proses pemurnian untuk


mengurangi pencemar-pencemar padat dan cair yang terkandung dalam
air kondensat. Pemurnian yang dilakukan didalam sistem air kondensat
termasuk sistem pemurnian didalam siklus (Internal Treatment) yang
dapat dilakukan dengan cara mengalirkan air kondensat melintasi penukar
ion (Condensate Polishing) bila ada, maupun secara kimia melalui
penginjeksian bahan - bahan kimia. Melalui proses pemurnian internal ini,
maka pencemar yang dapat mengakibatkan deposit maupun korosi pada
komponen-komponen ketel dapat dihilangkan sehingga kualitas air
kondensat menjadi lebih baik.

Terjadinya deposit di ketel yang disebabkan oleh kualitas air yang


buruk, dapat mengakibatkan terhambatnya proses perpindahan panas
didalam ketel dan pada kondisi ekstrim dapat mengakibatkan bocornya
pipa-pipa ketel akibat over heating.

Deaerasi adalah proses pembuangan pencemar gas dari dalam air


kondensat. Gas-gas pencemar yang ada dalam air kondensat misalnya
oksigen (O2), carbondioksida (CO2) dan non condensable gas lainnya.
Pencemar gas dapat menyebabkan korosi pada saluran dan komponen-
komponen yang dilaui air kondensat. Proses deaerasi ini terjadi didalam
deaerator yang merupakan komponen paling hilir dari sistem air
kondensat

Komponen-komponen yang terdapat pada sistem air kondensat antara


lain :

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 3


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

2.1 Kondensor
Seperti diketahui bahwa dalam siklus PLTU, uap yang keluar
meninggalkan tingkat akhir turbin tekanan rendah akan mengalir
memasuki kondensor. Kondensor PLTU umumnya merupakan perangkat
penukar panas tipe permukaan (surface) yang memiliki 2 fungsi utama
yaitu sebagai wahana penghasil vacum tinggi bagi uap keluar exhaust
turbin serta untuk mengkondensasikan uap bekas keluar dari exhaust
turbin. Kedua fungsi tersebut sekilas kurang begitu penting tetapi ternyata
keduanya merupakan faktor yang cukup vital dalam pengoperasian turbin
maupun efisiensi siklus.
Media yang dialirkan ke kondensor untuk mendinginkan /
mengkondensasikan uap adalah air yang disebut air pendingin utama
(circulating water).
Air pedingin mengalir didalam pipa - piap kondensor sedang uap bekas
mengalir dibagian luar pipa. Melalui proses tersebut, panas dalam uap
bekas akan diserap oleh air pendingin sehingga uap akan terkondensasi
menjadi air yang dinamakan air kondensat. Air kondensat ini akan
ditampung dibagian bawah kondensor dalam sebuah penampung yang
disebut hotwell. Air kondesat dari dalam hotwell selanjutnya dipompakan
lagi ke deaerator oleh pompa kondensat.
Kondensor umumnya terletak dibagian bawah turbin (under slung)
dan tersambung ke exhaust turbin tekanan rendah. Penyambungan antara
turbin dengan kondensor harus cukup fleksibel untuk mengakomodir
adanya pemuaian akibat variasi temperatur.
Ada 2 macam cara penyambungan turbin dengan kondensor yaitu :
 Sambungan Rigid dimana antara turbin exhaust dengan kondensor
dihubungkan secara langsung. Untuk mengakomodir pemuaian atau
penyusutan kondensor, bagian bawah kondensor ditumpu oleh
pegas-pegas sehingga memungkinkan kondensor bergerak keatas
atau kebawah dengan bebas.
 Sambungan fleksibel dimana antara turbin dengan kondensor
dihubungkan melalui penghubung fleksibel (expansion joint) seperti
terlihat pada gambar II.2. Pada konstruksi ini, bagian bawah
kondensor tidak ditumpu oleh pegas melainkan langsung diletakkan
diatas pondasi. Pemuaian dan penyuusutan kondensor diantisipasi
oleh penghubung fleksibel (expansion joint).

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 4


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

Gambar II.1. Sambungan Turbin – Kondensor

Tipe-tipe kondensor
Pada dasarnya tipe kondensor ada 2 macam, yaitu :
- Tipe kondensor permukaan (Surface Condenser)
- Tipe kondensor langsung (Direct Contact Condenser)

2.1.1.Kondensor Permukaan (Surface Condenser)


Kondensor ini terdiri dari bejana yang dihubungkan dengan sisi uap
bekas yang keluar dari turbin uap. Didalamnya dipasang tube pendingin
yang mendapat aliran dari air pendingin utama. Uap belas dari turbin uap
mengalir melalui bagian luar dari pipa.

Gambar II.2. Kondensor Permukaan

2.1.2. Kondensor Kontak Langsung (Direct Contact Condenser)

Konstruksi dasar dari kondensor ini adalah seperti diperlihatkan


pada gambar IV.6. Kondensor ini terbuat dari sebuah bejana yang
didalamnya dipasang plat pengarah aliran atau baffle. Uap bekas dari
turbin uap masuk melalui sisi samping bawah kondensor, sedaangkan air
pendingin di semprotkan dari sisi atas.

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 5


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

Gambar II.3. Kondensor kontak langsung

Kondensor tipe kontak langsung ini pada umumnya digunakan pada PLTP,
karena air kondensat dari proses kondensasi tidak digunakan kembali.
Prinsip kerja kondensor kontak langsung adalah sebagai berikut :
Uap bekas dari turbin uap masuk kedalam kondensor melalui sisi
samping bawah dan secara alami (karena uap ringan) akan naik keatas.
Air pendingin dimasukkan dari sisi atas dalam bentuk semprotan/spray.
Air yang disemprotkan akan langsung bersentuhan dengan uap,
sehingga terjadi proses perpindahan panas secara langsung dari uap ke
air pendingin. Uap yang terkena pancaran air pendingin akan
terkondensasi dan bercampur dengan air pendingin.
Pada proses berikutnya air ini akan berfungsi sebagai air pendingin
utama. Gas-gas yang tidak bisa terkondensasi atau disebut Non
Condensatable Gas (NCG), dihisap keluar dengan menggunakan steam
ejector atau pompa vakum untuk dibuang ke atmosfir. Adanya NCG
didalam kondensor akan mengakibatkan vakum rendah (back pressure
naik) dan pada akhirnya dapat menyebabkan turbin trip.
Dengan adanya sistem vakum di dalam ruang kondensor, maka
akan terdapat pula gas-gas yang tidak dapat terkondensasi mengalir
menuju kondensor. Kebanyakan gas-gas non-condensable tersebut
adalah udara luar yang masuk bocor dari komponen yang bekerja dengan
tekanan atmosfer seperti kondensor itu sendiri. Dapat pula berasal dari
proses dekomposisi atau terurainya air menjadi oksigen dan hidrogen oleh
reaksi thermal maupun kimiawi

2.2. Hotwell

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 6


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

Hotwell adalah tangki penampung yang terletak dibagian bawah


kondensor dan berfungsi untuk menampung air hasil kondensasi uap
bekas didalam kondensor sebagai pemasok utama sistem air kondensat.
Tetapi perlu diketahui bahwa hasil kondensasi uap bekas tidak selalu
mencukupi kebutuhan untuk sistem kondensat. Karenanya, level air
kondensat dalam hotwell harus selalu dimonitor. Bila level hotwell terlalu
rendah, maka pompa kondesat akan trip untuk mengamankan pompa.
Manakala level hotwell terlau tinggi, maka air kondensat akan merendam
pipa-pipa pendingin kondensor, sehingga dapat mengurangi proses
pendinginan dalam kondensor. Hal ini dapat mengakibatkan menurunnya
laju kondensasi uap bekas sehingga menurunkan vacum kondensor.
Untuk menjaga stabilitas level hotwell, umumnya disediakan “Hotwell
Level Control” yang akan mengontrol level hotwell decara otomatis. Bila
level hotwell turun dari harga yang semestinya, maka “Hotwell Level
Control” akan memerintahkan katup air penambah (make up water) untuk
membuka sehingga air penambah akan mengalir masuk kedalam hotwell
akibat tarikan vacum kondensor. Ketika level hotwell kembali ke kondisi
normal, “Hotwell Level Control” akan memerintahkan katup air penambah
untuk menutup.
Bila level hotwell terlalu tinggi, maka “Hotwell Level Control” akan
memerintahkan katup pelimpah (Spill Over/Overflow Valve) untuk
membuka dan mengalirkan air kondensat melaui pompa kondensat,
saluran pelimpah dan kembali ke Tangki air penambah. Ketika level
hotwell kembali normal, maka katup pelimpah akan menutup kembali.

2.3 Pompa Kondesat (Condensate Pump)

Berfungsi untuk mengalirkan air kondensat dari hotwell melintasi


sistem air kondensat menuju ke deaerator. Umumnya sistem kondensat
memiliki 2 buah pompa kondensat yaitu 1 untuk cadangan (stand by) dan
satu lagi beroperasi. Jenis pompa yang banyak dipakai adalah pompa
sentrifugal bertingkat (multy stage). Hal yang perlu diperhatikan adalah
bahwa sisi hisap pompa kondensat berhubungan dengan hotwell yang
vakum. Untuk menjamin kontinuitas aliran air ke sisi hisap (suction)
pompa, maka tekanan pada sisi hisap pompa paling tidak harus sama
dengan tekanan kondensor. Berkaitan dengan hal tersebut, maka sisi
hisap pompa dilengkapi dengan saluran penyeimbang tekanan (Equalizing
/ Balancing Line) agar tekanan pada sisi hisap pompa selalu sama dengan
tekanan kondensor. Faktor yang perlu diperhatikan oleh operator adalah
bahwa katup isolasi (bila ada) pada saluran penyeimbang ini harus selalu
terbuka selama pompa beroperasi.

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 7


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

Pada mulut saluran hisap pompa kondensat didalam hotwell


biasanya dipasang “Vortex Eliminator” untuk mencegah terjadinya pusaran
air (vortex). Bila pusaran ini sampai terjadi, maka pompa kondensat akan
mengalami kavitasi yang dapat merusak pompa.

Kavitasi ini juga dapat timbul bila temperatur air kondensat didalam
hotwell terlalu tinggi. Pompa kondensat juga dilengkapi oleh saringan
(strainer) pada sisi hisapnya. Disamping itu juga dilengkapi oleh katup
isolasi yang dipasang sisi hisap dan sisi tekan pompa. Ketika akan
mencuci saringan, kedua katup isolasi ini harus ditutup rapat. Pada saat
membuka katup isolasi sisi hisap, lakukan secara hati-hati karena setelah
pencucian strainer, rumah strainer masih terisi udara. Pada sisi tekan
pompa juga dipasang katup satu arah (check valve) untuk mencegah
aliran balik terhadap pompa.

2.4 Gland Steam Condensor


Gland steam condensor adalah penukar panas untuk
mengkondensasikan uap bekas dari perapat poros turbin. Uap bekas ini
akan memanaskan air kondensat dari pompa kondensat yang dialirkan
melintasi gland steam condensor. Karena panasnya diserap oleh air
kondensat, uap bekas dari perapat poros akan mengembun dan
selanjutnya dialirkan ke hotwell hingga bercampur dengan air hotwell.
Didalam gland steam condensor, air kondensat mengalir dibagian dalam
pipa sedang uap bekas perapat berada diluar pipa. Gland Steam
Condensor dilengkapi dengan Fan penghisap (exhauster Fan) yang
berfungsi untuk membuat tekanan Gland Steam Condensor sisi uap
sedikit vacum. Dengan kevacuman ini, maka uap bekas perapat turbin
akan mudah mengalir kedalam gland steam condensor. Tekanan dalam
Gland Steam Condensor berkisar antara - 8 sampai - 15 inchi kolom air.

2.5 Condensate Polisher (bila ada)


Merupakan perangkat penukar ion seperti demineralizer plant yang
ditempatkan didalam siklus air kondensat. Fungsinya untuk menjaga
kualitas air kondensat. Condensate Polisher akan mengikat calcium,
magnesium, sodium sulphate, chlorid dan nitrat dari air kondensat melalui
penukar ion. Cara ini telah terbukti sangat efektif untuk menghilangkan
garam-garam dari air kondensat. Penukar ion yang dipakai umumnya dari
jenis campuran resin penukar kation dan resin penukar anion (mixbed).
Pertama-tama, ion bermuatan positif (kation) dari air kondesat (Calcium,
magnesium dan sodium) akan ditukar oleh resin penukar kation. Setelah
itu baru ion bermuatan negatif (anion) dari air kondensat (sulphate,

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 8


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

chloride dan nitrate) akan ditukar oleh resin penukar anion. Setelah
beroperasi beberapa lama, resin - resin tersebut akan menjadi jenuh dan
tidak mampu lagi menukar ion. Dalam kondisi seperti ini, resin-resin
tersebut harus diregenerasi agar dapat aktif kembali. Tangki mixbed
dengan resin yang sudah jenuh harus dinon aktifkan dan ditukar dengan
tangki mixbed satunya lagi (umumnya tersedia 2 tangki mixbed). Resin
yang jenuh dalam tangki mixbed yang tidak aktif kemudian harus
dipindahkan ke tangki regenerasi.

Salah satu sarana transportasi yang banyak digunakan untuk


memindakan resin yang jenuh ke tangki regenerasi adalah udara
bertekanan (compresed air). Dengan dihembus oleh udara bertekanan,
resin dialirkan melalui pipa ke tangki regenerasi. Setelah regenerasi
selesai dilakukan di tangki regenerasi, resin dialirkan kembali ke tangki
mixbed agar dapat dipergunakan bila kondisi membutuhkan. Condensate
polisher juga dilengkapi dengan katup pintas (bypass) untuk mengalirrkan
air kondensat tanpa melewati condensate polisher.

2.6 Condensate Polisher Booster Pump


Dengan adanya pompa booster ini, maka tekanan kerja pompa
kondensat dapat dibuat relatif rendah guna menjamin kondisi yang aman
bagiu condensate polisher. Setelah melewati condensate polisher,
tekanan air kondesat dinaikkan oleh pompa booster condensate polisher
agar mampu mengalir hinggga sampai kedeaerator. Umumnya sistem
dilengkapi oleh 2 buah pompa booster dimana 1 buah beroperasi sedang
satu lainnya stand by. Pompa ini juga dilengkapi dengan proteksi terhadap
tekanan sisi hisap rendah sehingga bila tekanan sisi hisapnya terlalu
rendah, maka pompa booster ini akan trip.

2.7 Steam Air Ejector Condensor


Pada PLTU yang menggunakan ejector uap untuk
mempertahankan vakum kondensor, maka uap bekas bercampur non
condensable gas yang masih mengandung energi panas dipakai untuk
memanaskan air kondensat yang dialirkan lewat steam air ejector
condenser. Dengan cara ini maka panas yang terkandung dalam
campuran uap tadi akan diserap oleh air kondensat sehingga temperatur
air kondensat keluar dari steam air ejector condenser akan mengalami
kenaikkan. Uap yang telah diserap panasnya akan mengembun dan
airnya dialirkan ke hotwell.

2.8 Saluran Resirkulasi (Condensate Recirculation Line)

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 9


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

Dalam sistem air kondensat, pada lokasi setelah condensate


polisher terdapat saluran simpang kembali ke kondensor / hotwell. Saluran
simpang ini disebut saluran resirkulasi. Saluran ini berfungsi sebagai
proteksi terhadap komponen-komponen pompa condensat, gland steam
condenser, condensate polisher, condensate polisher booster pump dan
steam air ejector condensor. Saluran ini dilengkapi dengan katup pengatur
otomatis yang mendapat signal pengaturan dari besarnya aliran air
kondensat yang menuju deaerator. Bila aliran sangat rendah, maka katup
resirkulasi ini akan membuka dan mengalirkan kembali (meresirkulasi)
sebagian air kondensat kembali kehotwell. Dengan cara ini berarti
komponen - komponen seperti tersebut diatas selalu dilewati aliran air
kondensat yang senantiasa cukup. Bila aliran air kondensat ke deaerator
semakin bertambah tinggi, maka katup resirkulasi akan menutup. Pada
beberapa PLTU, saluran ini juga disebut saluran minimum Flow karena
berfungsi untuk menjamin selalu tercapainya aliran minimum air
kondensat sesuai kebutuhan dari komponen-komponen yang disebut
diatas.

2.9 Katup Pengatur Aliran Kondensat / Katup Pengontrol Level


Deaerator
Katup ini terpasang di saluran air kondensat menuju deaerator
yang berfungsi untuk mengontrol level deaerator. Dalam posisi pengaturan
otomatis katup ini dikendalikan oleh level deaerator. Bila level deaerator
turun, pembukaan katup akan bertambah besar sehingga aliran air
kondensat menuju deaerator juga akan meningkat. Pada saat level
deaerator tinggi, pembukaan katup akan berkurang untuk mengurangi
aliran air kondensat ke deaerator. Pada beberapa PLTU, terdapat 2
macam katup pengontrol level deaerator, yaitu katup pengontrol untuk
kondisi normal operasi dan katup pengontrol untuk kondisi start up/beban
rendah. Katup yang pertama berfungsi untuk mengatur aliran air
kondensat ketika unit sudah berada dalam kondisi normal operasi pada
beban yang cukup dimana aliran air kondensat sudah cukup tinggi.Katup
yang kedua berfungsi untuk mengatur aliran air kondensat ketika unit
sedang start up atau ketika beroperasi pada beban rendah. Pada saat ini,
dibutuhkan aliran yang masih relatif rendah, serta variasi perubahan aliran
yang relatif kecil. Dimensi katup maupun saluran pipa katup ini lebih kecil
dibanding katup pertama sehingga memungkinkan pengaturan aliran
dengan variasi yang halus. Pada jenis PLTU yang menggunakan variasi
putaran untuk mengatur aliran air kondensat, katup pengatur seperti
tersebut tidak tersedia dalam sistem air kondensat.

2.10 Pemanas Awal Air Tekanan Rendah

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 10


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

Pemanas awal air tekanan rendah berfungsi untuk meningkatkan


efisiensi siklus dengan cara memanaskan air kondensat yang
melintasinya. Media pemanas yang digunakan adalah uap yang dicerat /
diekstrak dari turbin dan disebut uap ekstraksi (bleed steam / extraction
steam). Pemanas ini umumnya tipe permukaan (surface) dimana air
mengalir dibagian dalam pipa sedang uap ekstraksi dibagian luar pipa.
Kondensasi uap ekstraksi yang terbentuk dialirkan ke pemanas awal air
tingkat yang lebih rendah atau langsung ke kondensor. Gambar II.4,
memperlihatkan sebuah pemanas awal beserta kelengkapannya.

Gambar II.4 : Pemanas Awal Air

Perlengkapan pemanas awal antara lain :


 Katup isolasi uap ekstraksi yang dipasang pada saluran uap
ekstraksi serta semuanya digerakkan oleh motor listrik. Berfungsi
untuk memblokir uap ekstraksi pada saat belum diperlukan.
 Katup satu arah ekstraksi (Extraction Line Check Valve). Berfungsi
untuk mencegah aliran balik uap dari pemanas ke turbin.
 Indikator level pemanas.
 Kondensasi uap ektraksi akan terakumulasi dalam pemanas.
Permukaan air kondensasi didalam pemanas dapat dilihat
secara visual melalui gelas duga. Hal yang perlu dipahami operator
adalah bahwa pemanas awal dirancang untuk beroperasi dengan

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 11


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

level air konedensasi tertentu. Bila level air terlalu rendah, maka
Transfer panas dari uap ke air kondensat menjadi kurang
sempurna. Karena terlalu singkatnya waktu bagi proses transfer
panas, uap akan keluar meningggalkan pemanas sebelum
terkondensasi. Bila level terlalu tinggi, maka sebagian pipa akan
terendam. Dengan demikian maka proses transfer panas dari uap
juga terhambat.
 Katup pengatur aliran drain kondensasi uap.
Katup ini umumnya digerakkan oleh udara (CRV) dan
berfungsi untuk mengatur aliran drain air kondensasi guna
mengontrol level pemanas awal.

2.11 Deaerator
Deaerator merupakan komponen paling hilir dari sistem air
kondensat. Merupakan pemanas tipe kontak langsung (direct contact
heater). Memiliki 2 fungsi utama yaitu untuk memanaskan air kondensat
dan sekaligus menghilangkan gas-gas (non condensable gas) dari air
kondensat. Media pemanas yang digunakan adalah juga uap ekstraksi.
Didalam deaerator terjadi kontak langsung antara air kondesat dengan
uap pemanas. Akibat percampuran ini, maka temperatur air kondensat
akan naik hingga hampir mencapai titik didihnya. Semakin dekat
temperatur air kondensat dengan titik didihnya, semakin mudah pula
proses pemisahan air dengan oksigen dan gas-gas lainnya yang terlarut
dalam air kondensat. Ada beberapa tipe deaerator, tetapi yang banyak
dipakai adalah tipe “Spray & Tray”, seperti yang terlihat pada gambar II.5

Gambar II.5 : Deaerator Tipe “Spray & Tray”

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 12


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

Pada deaerator tipe ini, air kondensat yang masuk dikabutkan melalui
jajaran pengabut (spray) untuk memperluas bidang kontak antara air
dengan pemanas serta menjamin pemerataan distribusi air kondensat
didalam pemanas. Air kondensat yang mengabut ini kemudian turun
kejajaran kisi-kisi (Tray). Dari bagian bawah tray, uap pemanas dari
saluran ekstraksi dihembuskan mengarah keatas dan bercampur dengan
kabut air kondensat yang menetes pada kisi-kisi.

Akibatnya terjadi pertukaran panas antara uap dengan air sekaligus terjadi
pula proses deaerasi. Oksigen dan gas-gas lain akan mengalir keatas dan
keluar dari deaerator menuju atmosfir melalui saluran venting. Proses
deaerasi secara mekanis seperti ini ternyata tidak menjamin bahwa air
kondensat akan bebas 100% dari Oksigen.

Guna membantu tugas deaerator untuk menghilangkan oksigen, maka


cara kimia pun dilaksanakan juga yaitu dengan menginjeksikan Hydrazine
kedalam air kondensat pada suatu titik sebelum air kondensat masuk
deaerator. Penginjeksian ini dilakukan oleh pompa khusus injeksi bahan
kimia. Air kondensat yang sudah bebas oksigen dan gas-gas lain ini
kemudian turun dan ditampung pada tangki penampung (storage tank)
yang berada dibagian bawah deaerator dan siap untuk dialirkan ke pompa
air pengisi ketel.

Beberapa peralatan proteksi juga dipasang pada deaerator. Salah satunya


adalah katup pengaman tekanan lebih (Relief Valve). Bila tekanan didalam
deaerator terlalu tinggi hingga mencapai harga tertentu, maka katup
pengaman akan terbuka sehinggga deaerator akan terhubung ke atmosfir.
Dalam keadaan ini, uap akan mengalir ke atmosfir dan deaerator menjadi
aman.

BAB III

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 13


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Metodologi Penelitian


Metode penelitian ini sangat membantu penulis dalam melakukan
penyusunan Seminar. Karena penulis dapat melakukan penelitian dengan
benar karena sudah ada langkah – langkah yang digunakan dalam
melakukan penelitian. Dalam seminar ini penulis menggunakan metode
deskriptif dimana metode ini biasa digunakan dalam penulisan laporan
penelitian fakultas teknik. Dimana metode deskriptif yang digunakan
penulis memiliki tujuan untuk melakukan pengembangan, karena dalam
seminar ini penulis memiliki judul Prinsip Kerja Sistem Air Kondensat.
Dalam metodelogi penelitian ini penulis dapat menggambarkan apa
yang terjadi pada saat sebelum dilakukan dan dapat pula
menggambarkan apa yang sedang berlangsung ( dalam analisis ).
Dimana gambaran ini berupa data – data yang didapat oleh penulis.
.
3.2 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa
cara untuk mendukung tercapainya tujuan yang telah diuraikan
sebelumnya agar tercapai dengan baik, maka diperlukan data yang akurat
sebagai dasar penelitian. Data untuk dasar penelitian ini penulis dapat
dengan cara sebagai berikut :

3.2.1 Pengarahan
Penulis mendengarkan pengarahan berupa penjelasan-
penjelasan tentang PLTU secara umum sebelum melakukan
penelitian.

3.2.2 Pengamatan
Penulis mengkaji data-data dari beberapa sumber
Sistem Air Kondensat . Hal tersebut di lakukan untuk keperluan
seminar ini,

3.2.3 Wawancara
Penulis melakukan wawancara tanya jawab dengan
beberapa orang yang mengetahui materi yang akan di jadikan
seminar.

3.2.4 Studi Literatur


Penulis mempelajari literatur – literatur yang ada
hubungannya dengan materi Seminar, antara lain dari
menggunakan studi kepustakaan. Studi ini dilakukan untuk

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 14


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

memperoleh data sekunder. Melalui studi pustaka ini diperoleh


teori dan data yang mendukung penelitian. Data kepustakaan
tersebut diperoleh, antara lain dari Perpustakaan Mahasiswa
Sekolah Tinggi Teknik PLN, arsip perkuliahan, dan bahan
tambahan lainnya yang berkaitan dengan penelitian. Selain itu,
data juga diperoleh melalui internet.

3.3 Teknik Pengolahan Bahan


Pengolahan data dalam pembuatan seminar ini di
lakukan dengan mengumpulkan data-data yang bersangkutan
Prinsip Kerja Sistem Air Kondensat , selain itu penulis juga
mendapat penjelasan dari orang yang mengerti tentang materi
yang di jadikan seminar. Kemudian penulis mendapatkan data
dari perpustakaan dan juga internet untuk menyelesaikan
seminar ini.

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 15


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Cara kerja dari sistem air kondensat, yaitu :


- Uap bekas keluaran Low Pressure Turbine akan masuk ke dalam shell dari
kondensor sebagai akibat dari tekanan vakum yang berada didalam kondensor,
lalu akan di alirkan suatu air pendingin (air laut) melewati tube-tube
kondensor. Akan terjadi perpindahan panas antara uap yang berada di shell
dengan air laut yang berada didalam tube sehingga uap tersebut mengalami
proses kondensasi dan menjadi air yang disebut air kondensat .
- Air kondensat yang dihasilkan akan ditampung di hotwell yang terletak
dibagian bawah kondensor. Air kondensat juga terdiri atas air yang bersumber
dari drain-drain yang menuju ke Drain Flash Tank 1 dan 2, , air kondensasi
dari system LP Bypass dan Steam Air Ejector/GSC Condenser. Air penambah
bagi sistem air kondensat dapat bersumber dari system air penambah dari
Make Up water ataupun suplai air demin secara langsung dari WTP (Water
Treatment Plant) .
- Air kondensat kemudian dipompakan oleh CP (Condensate Pump) menuju ke
Condensate Polishing Treatment. Air kondensat akan diperbaiki kualitasnya
didalam Condensate polishing yakni dengan memasukkan amoniak yang akan
menaikkan pH air kondensat serta menggunakan penukar ion untuk mengikat
calcium, magnesium, sodium sulphate, chlorid dan nitrat dari air kondensat
(ion positif dan negatif).
- Air kondensat yang sudah melewati Condensate Polishing akan masuk ke
Steam Jet Air Ejector . Di Steam Jet Air Ejector air kondensat akan
mengalami pemanasan awal dengan memanfaatkan panas dari uap bekas uap
perapat turbin.
- Kemudian, air kondensat tersebut melewati Low Pressure Heater 8, 7 yang
berada dalam 1 shell dan Low Pressure Heater 6 dan 5 yang menggunakan
media pemanas berupa uap yang diekstrak dari turbin dan disebut uap
ekstraksi (bleed steam / extraction steam).
- Deaerator akan menjadi tempat terakhir air kondensat sebelum menjadi
air pengisi boiler. Di dalam deaerator akan terjadi proses pemisahan gas-

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 16


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

gas yang tidak dapat terkondensasi agar nantinya gas-gas tersebut tidak
mengganggu proses selanjutnya dan sebagai tempat pemanas air
kondensat.

Proses yang terjadi di sepanjang jalur sistem air kondensat adalah


pemanasan bertahap, condensate polishing, injeksi ammonia dan dearasi
(pengikatan O2 dengan bantuan hydrazine). Selain fungsi utamanya sebagai fluida
kerja di siklus air dan uap PLTU, sistem air kondensat juga memiliki fungsi lain
yaitu :

- Sumber air desuperheating/spray


- Salah satu sumber air bagi tangki sistem pendingin bantu Close Cooling Water
Booster Pump (CCWBP)
- Untuk suplai spray water :

Flash Tank I-II, LP Bypass, Left-Right LP Cylinder, Third LP bypass,


Steam Jet Air Ejector,Steam Spray, Fuel Oil System.

Sumber sistem air kondensat terlihat pada flow diagram dibawah ini :

Uap exhaust LP Turbine

Drain flash tank 1 Drain flash tank 2


Sistem air
kondensat
air kondensasi LP Bypass Drain SJAE

Suplai dari Make Up Water Suplai air demin Water Treatment

Gambar IV.1. Skema flow diagram sistem air kondensat

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 17


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

Berdasarkan beberapa bahasan yang telah penulis berikan dapat diambil


beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut :
1) Dapat mengetahui sistem air kondensat secara umum serta
mengetahui proses-proses yang terjadi sepanjang air kondensat yakni
pengembunan, pemanasan dan deaerasi.
2) Pada saat start awal, sumber air kondensat berasal dari air demin dan
make up water sedangkan saat unit sedang operasi berasal dari air
kondensasi uap turbin.

5.2. Saran

Karena banyaknya ruang lingkup komponen atau peralatan yang


dipelihara pada suatu unit PLTU dengan jumlah personil yang sedikit
sebaiknya selalu diadakan pelatihan/training secara berkala yang
bertujuan untuk lebih menguasai dan lebih mengetahui sistem kerja dari
komponen sebuah PLTU

DAFTAR PUSTAKA

1. Rochani, Habib., 2006, Bahan Kuliah Turbin Uap.,Jakarta


2. Eddy, Bambang Isti., 2006, Bahan Kuliah Teknik Tenaga
Uap.,Jakarta
3. Prabowo,Eri.,2010, Bahan Kuliah PLTU.,Jakarta

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 18


Laporan Seminar, S1 Teknik Mesin STT – PLN Jakarta

Muhammad Syahril ( 2008 – 12 – 033 ) 19

Anda mungkin juga menyukai