Anda di halaman 1dari 2

REVIEW JURNAL

GILANG SURYAWAN

Analisis Kerentanan Longsoran Menggunakan Proses HirarkiAnalitik di Daerah


Sukatani dan Sekitarnya, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat

Pendahuluan

Penulis melakukan penelitian tersebut berdasarkan adanya laporan mengenai longsoran yang terjadi di
beberapa lokasi dekat tempat tinggal penduduk di daerah tersebut. Pada daerah tersebut sebelumnya
juga pernah terjadi bencana longsor yaitu pada 19 Maret 2014, terjadi gerakan tanah berupa longsoran
bahan rombakan pada lereng setinggi 100 m yang menimbun jalur sepanjang 60 m, yaitu di Jalan
Raya Sukatani, Kampung Cianting, Desa Cianting, Kecamatan Sukatani, dan Jalan Raya Anjun,
Kampung Gunung Cupu, Desa Anjun, Kecamatan Plered. Originalitas dari penelitian ini yaitu dari
metode yang digunakan belum pernah sebelumna digunakan untuk menganalisis daerah ini. Penulis
memakai metode yang sudah ada sebelumnya untuk memecahkan masalah baru di daerah ini. Metode
yang digunakan yaitu Analytic Hierarchy Process (AHP) yang bertujuan untuk menentukan Bobot
prioritas untuk tingkat kerentanan longsoran diperoleh melalui metode proses hirarki analitik lalu
menggabungkan semua peta dengan cara tumpang susun (overlay). Masalah yang ingin diteliti oleh
penulis yaitu mendeliniasi zona kerentanan bahaya longsor berdasarkan data litologi,
struktur,kemiringan lereng, dan tutupan lahan lalu dibuat peta kerentanan longsoran agar dapat
memberikan informasi tentang persebaran tingkat kerentanan longsoran pada daerah penelitian.

Diskusi

Solusi yang ditawarkan penulis dalam menanggapi laporan tentang longsor yang terjadi di suatu
wilayah yaitu dengan membuat peta kerawanan longsor menggunakan metode AHP yang digunakan
untuk menentukan bobot prioritas setiap parameter yang diperhitungkan seperti litologi, struktur,
kemiringan lereng, relief relatif, kebasahan lahan dan tutupan lahan lalu diperoleh penjumlahan nilai
tiap parameter, yang memperhitungkan bobot prioritas masing-masing. Pada pengolahan data, enam
peta digabungkan dengan metode tumpang susun. Atribut hasil penggabungan merupakan representasi
tingkat kerentanan longsoran. Metode lain yang juga digunakan yaitu metode Natural Break (Jenks).
Metode ini dapat memaksimalkan perbedaan antarkelas dan meminimalkan perbedaan antardata
dalam satu kelas. Peta kerentanan longsor tersebut dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu tingkat
kerentanan tinggi, menengah, rendah, dan sangat rendah yang mengacu pada Standar Nasional
Indonesia (2005) dalam pembuatan peta kerentanan longsoran. Penulis mendesain eksperimen dengan
membuat flowchart penelitian dimulai dari penggabungan peta dan melakukan verifikasi lapangan
untuk memvalidasi peta kerentanan longsoran. Eksperimen tersebut dinilai berhasil karena secara
umum, peta kerentanan longsoran yang telah dibuat menunjukkan korelasi yang baik dengan kondisi
lapangan.

Kesimpulan

Kesimpulan yang telah dikemukakan penulis dinilai dapat menjawab semua tujuan yang telah
dituliskan di pendahuluan yaitu untuk membuat peta kerentanan bahaya longsor untuk dapat
memberikan informasi tentang persebaran tingkat kerentanan longsoran pada daerah penelitian.
Kontribusi dari penelitian ini yaitu dihasilkannya peta persebaran daerah rawan longsor yang dapat
menjadi perhatian dan informasi awal bagi pemerintah daerah, masyarakat, peneliti, atau pihak terkait
yang berkepentingan. Masalah penelitian yang masih belum dapat terpecahkan yaitu konten peta yang
tidak memuat informasi menyeluruh mengenai area landaan longsoran yang terjadi pada daerah
penelitian terkait kegunaannya dalam pengembangan wilayah dan tata ruang lingkungan.

Anda mungkin juga menyukai