Anda di halaman 1dari 27

LAJU TRANSPIRASI

JURNAL

OLEH :
EMI VIDYA ARIFINA
150301141
AGROEKOTEKNOLOGI III A

LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat

dan rahmatnya penulis dapat menyellesaikan jurnal ini tepat pada waktunya.

Adapun judul dari jurnal ini adalah “ Laju Transpirasi “ yang merupakan

salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikum di Laboratorium Fisiologi

Tumbuhan Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas

Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen

pengajar mata kuliah Fisiologi Tumbuhan yaitu Ir. Meiriani M.P.,

Ir. Rosanty Lahay M.P., Ir. Haryati M.P., Ir. Revandy I.M Damanik M.Sc.,

Ir. Emmy Harso Kardhinata M.Sc., serta abang dan kakak asisten yang telah

membantu dalam penyelesaian jurnal ini.

Penulis menyadari bahwa jurnal ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi

perbaikan di masa yang akan datang.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga jurnal ini

bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Medan, April 2016

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan Praktikum
Kegunaan Penulisan

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Pacar air (Impatiens balsaminaL.)
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanah
Laju Transpirasi
Faktor-Faktor Laju Transpirasi
Stomata,Kutikula dan Lentisel
Mekanisme kerja Stomata
Perbedaan Transpirasi dan Evaporasi

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu Praktikum
Bahan dan Alat
Metode Praktikum
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pembahasan

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Untuk tanah kering, suatu tumbuhan harus melindungi persediaan airnya

agar terhindar dari kekeringan karena suhu udara yang terlalu panas, dan

tumbuhan harus mempunyai ketahanan kedua-duanya untuk menggantikan

kerugiannya dan untuk menyediakan air ekstra untuk pertumbuhan. Kerugian air

yang tak bisa diacuhkan ketika daun-daun akan melakukan fotosintesis, stomata

akan terbuka agar CO2 dapat masuk, tetapi di waktu yang sama air juga

menghambur ke luar. Sebagai tambahan, proses fotosintesis memerlukan air untuk

syarat berlangsungnya proses tersebut (seperti halnya beberapa proses yang

berkenaan dengan metabolisme lain). Oleh karena itu jika suatu tumbuhan terlalu

besar untuk bergantung pada difusi, maka tumbuhan itu harus mempunyai suatu

sistem yang siap mengangkut air dari lokasi tersedianya air ke lokasi tumbuh yang

tidak tersedia air untuk selanjutnya digunakan daun-daun dan organ tubuh

tumbuhan untuk berfotosintesis. Ini akan menunjukkan bagaimana air adalah

kebutuhan yang sangat penting, dan memelihara siklus tumbuh, dan bagaimana

selaput kayu melayani untuk pengangkutan yang interlokal

(Wiley and Sons, 1982).

Transpirasi ialah satu proses kehilangan air dari tumbuh-tumbuhan ke

atmosfer dalam bentuk uap air. Air diserap dari akar ke rambut tumbuhan dan air

itu kemudian diangkut melalui xilem ke semua bahagian tumbuhan khususnya

daun. Bukan semua air digunakan dalam proses fotosintesis. Air yang berlebihan

akan disingkirkan melalui proses transpirasi. Jika kadar kehilangan air melalui

transpirasi melebihi kadar pengambilan air tumbuhan tersebut, pertumbuhan


pokok akan terhalang. Akibat itu, mereka yang mengusahakan pernanaman secara

besar –besaran mungkin mengalami kerugian yang tinggi sekira mengabaikan

faktor kadar transpirasi tumbuh-tumbuhan (Frayekti, 2011).

Dalam aktivitas hidupnya, sejumlah besar air dikeluarkan oleh tumbuhan

dalam bentuk uap air ke atmosfir. Pengeluaran air oleh tumbuhan dalam bentuk

uap air prosesnya disebut dengan transpirasi. Banyaknya air yang ditranspirasikan

oleh tumbuhan merupakan kejadian yang khas, meskipun perbedaan terjadi antara

suatu species dan species yang lainnya. Transpirasi dilakukan oleh tumbuhan

melalui stomata, kutikula dan lentisel (Siregar, 2003).

Penggunaan air oleh tanaman tidak dapat dilepaskan oleh adanya pengaruh

suhu, kelembaban dan evaporasi. Diketahui suhu didalam rumah kasa cukup

tinggi sehingga transpirasi pada tanaman akan tinggi yang menyebabkan

kehilangan air dalam jumlah yang cukup besar bagi tanaman. Suhu memberi

pengaruh terhadap fotosintesa, tingginya suhu akan meningkatkan fotosintesa.

Pada umumnya respirasi berjalan lambat ketika suhu rendah, namun akan

meningkat jika suhu tinggi. Demikian halnya dengan absorbsi air dan unsur hara

oleh akar tanaman akan meningkat dengan tingginya suhu (Maryani, 2012).

Suhu juga berpengaruh terhadap stomata. Pada suhu tinggi stomata akan

cenderung membuka sedangkan pada suhu rendah, stomata akan cenderung

menutup. Stomata akan menutup apabila terjadi cekaman air. Jumlah stomata

pada daun bagian atas lebih sedikit daripada jumlah stomata pada bagian bawah

daun yang berfungsi mengurangi laju transpirasi tanaman. Permukaan daun

ditumbuhi oleh rambut berbentuk bintang yang berfungsi untuk menghemat air.

Pada pagi hari suhu lingkungan masih seimbang dengan suhu tubuh tanaman,
sehingga penguapan air tanaman masih terkontrol. Sementara itu pada siang hari

suhu naik sementara suhu tanaman masih rendah, sehingga tanaman harus

mengurangi penguapannya (transpirasi), sehingga stomata mulai menyempit

secara perlahan (Yuliasmara dan Fitria, 2013)

Kekurangan air di dalam jaringan tanaman dapat disebabkan oleh

kehilangan air yang berlebihan pada saat transpirasi melalui stomata dan sel lain

seperti kutikula atau disebabkan oleh keduanya. Namun lebih dari 90% transpirasi

terjadi melalui stomata di daun. Selain berperan sebagai alat untuk penguapan,

stomata juga berperan sebagai alat untuk pertukaran CO2 dalam proses fisiologi

yang berhubungan dengan produksi. Stomata terdiri atas sel penjaga dan sel

penutup yang dikelilingi oleh beberapa sel tetangga (Lestari, 2005).

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh

faktor internal dan faktor eksternal terhadap laju transpirasi tanaman

pacar air (Impatiens balsamina Linn.).

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan penulisan jurnal ini adalah sebagai salah satu syarat

untuk dapat mengikuti praktikum di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan

Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,

dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Pacar air (Impatiens balsaminaL.)

Sistematika dari tumbuhan bunga pacar air merah adalah sebagai

berikut: Kingdom: Plantae, Divisi: Magnoliophyta, Kelas: Magnoliopsida,

Ordo:Sapindales, Famili: Balsaminaceae, Genus: Impatiens, Spesies:

Impatiens balsamina Linn. (Kusuma et al., 2014).

Pacar air merupakan tanaman herba berbatang basah (herbaceus), Lunak,

Bulat, bercabang, Warna hijau kekuningan. Pacar air biasanya ditanam sebagai

tanaman hias. Berdasarkan arah tumbuhnya, batang utama tumbuhan ini tegak

lurus (erectus) yaitu arah tumbuh batang utama beserta percabangannya tegak

lurus keatas (Kusuma et al., 2014).

Daunnya tunggal incompletes karena tidak memiliki vagina, tersebar,

berhadapan, atau dalam karangan. Bentuk daun lanset memanjang, pinggirnya

bergerigi(serratus), ujung meruncing (acuminatus), tulang daun menyirip. Luas

daunnya sekitar 2 sampai 4 inchi dengan panjang sekitar 6-15 cm dan lebar 2-3

cm (Kusuma et al., 2014).

Bentuk akar dari tanaman pacar air ini adalah serabut. Bunga keluar dari

ketiak daun tanpa daun penumpu, Bunga bewarna cerah, ada beberapa macam

warna. Seperti merah, merah jingga, ungu, putih, dll. Ada yang “engkel” dan ada

yang “dobel”. Buahnya buah kendaga, bila masak akan membuka menjadi 5

bagian yang terpilin (Kusuma et al., 2014).

Syarat Tumbuh
Curah hujan yang baik sekitar 400-1.000 mm. Suhu yang baik untuk

tanaman bunga pacar air adalah sekitar 20-30°C.Tanaman bunga pacar air akan

tumbuh subur di dataran tinggi yaitu pada ketinggian 1.000-1.500 m di atas

permukaan air laut (Purwanti et al., 2013).

Sedangkan bunga pacar air akan dapat tumbuh dengan subur dan berbunga

dengan baik pada dataran tinggi, karena tanaman bunga pacar air menghendaki

daerah yang sejuk. Dalam hal ini tanaman bunga pacar air akan tumbuh subur

pada daerah yang memiliki temperatur 20-25°C. Maka dalam hal ini temperatur

daerah dataran tinggi mendukung dalam tumbuhnya diversifikasi tanaman bunga

pacar air (Rahmadetassani, 2010).

Tanaman bunga pacar air akan tumbuh subur di dataran tinggi yaitu pada

ketinggian 1.000-1.500 m di atas permukaan air laut. syarat-syarat pertumbuhan

yang ideal bagi tanaman bunga pacar air dimana tanaman tersebut memerlukan

curah hujan 600 - 1.900 mm per tahun, maka curah hujan sangat mendukung

pertumbuhan tanaman bunga pacar air (Fadilah, 2013).

Tanah

Media tanah untuk menanam bunga pacar air tidak terlalu sulit.,yang

penting cukup unsur hara.Jenis tanah regosol coklat kekuningan dengan bahan

batuan induk abu dan lafa vulkan mediteran. Jenis tanah ini memiliki ciri-ciri

bertekstur kasar dengan kadar pasir lebih dari 80% .pada umumnya jenis tanah

seperti ini sangat cocok untuk pertanian karena subur (Purwanti et al., 2013).

Laju Transpirasi
Transpirasi adalah proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan

tumbuhan melalui stomata, lubang kutikula, dan lentisel. Transpirasi berperan

dalam pengangkutan air/zat hara, membuang kelebihan air, dan menjaga suhu
daun. Daya hisap daun timbul dari peristiwa transpirasi. Transpirasi ditentukan

oleh beberapa faktor yaitu lingkungan, stomata dan tanaman itu sendiri. Faktor

lingkungan yang mempengaruhi laju transpirasi yaitu seperti suhu, kelembaban,

cahaya, kecepatan angin, tekanan udara, dan lain-lain. Sedangkan faktor stomata

seperti bentuk, jumlah tiap satuan luas, letak, waktu bukaan. Tanaman berbulu

atau tidak berbulu, warna dan ukuran daun, posisi daun, dan jumlah daun juga

menentukan laju transpirasi (Delayota, 2011).

Laju transpirasi merupakan respon sesaat terhadap kondisi lingkungan,

sifatnya dinamis atau fluktuatif. Transpirasi merupakan aktivitas fisiologis

penting yang sangat dinamis, berperan sebagai mekanisme adaptasi terhadap

kondisi lingkungannya, terutama terkait dengan kontrol cairan tubuh, penyerapan

dan transportasi air, garam-garam mineral serta mengendalikan suhu jaringan.

Transpirasi merupakan proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari tubuh

tumbuhan yang sebagian besar terjadi melalui stomata, selain melalui kutikula dan

lentisel. Karena sifat kutikula yang impermeabel terhadap air, transpirasi yang

berlangsung melalui kutikula relatif sangat kecil. Transpirasi dapat merugikan

tumbuhan bila lajunya terlalu cepat yang menyebabkan jaringan kehilangan air

terlalu banyak selama musim panas dan kering (Al dan Ratnawati, 2004).

Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman

yang terletak di atas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan

lentisel 80% air yang ditranspirasikan berjalan melewati lubang stomata, paling

besar peranannya dalam transpirasi (Alam, 2012).

Faktor-Faktor Laju Transpirasi


Kegiatan transpirasi dipengaruh oleh faktor luar dan dalam. Faktor luar

misalnya kecepatan angin, cahaya, air, kelembaban udara, suhu, tekanan udara.
Faktor dalam misalnya ketebalan daun, jumlah daun, luas area daun, jumlah

stomata/ mm2, adanya kutikula, banyak sedikitnya trikoma/bulu daun dan bentuk

serta lokasi stomata di permukaannya. Epidermis adalah sistem sel-sel yang

bervariasi struktur dan fungsinya, yang menutupi tubuh tumbuhan. Struktur yang

demikian tersebut dapat dihubungkan dengan peranan jaringan tersebut sebagai

lapisan yang berhubungan dengan lingkungan luar (Haryanti, 2010).

Suhu yang tinggi mempercepat transpirasi tanaman. Transpirasi yang

rendah menyebabkan kehilangan air dalam jaringan daun menjadi lambat dan

munculnyan kelayuan tanaman menjadi tertunda. Suhu yang tinggi memacu laju

transpirasi yang tinggi menyebabkan tanaman kekurangan air dan akhirnya

menjadi layu. Selain suhu, pelukaan akibat pemotongan berpotensi meningkatkan

aktivitas metabolisme jaringan melalui peningkatan laju respirasi, laju transpirasi,

dan memicu kontaminasi mikroorganisme. Hal ini ini akan mempercepat

kebusukan dan memperpendek umur simpan (Trisnawati, 2013).

Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi transpirasi, yaitu ;Radiasi

matahari. Dari radiasi matahari yang diserap oleh daun, 1-5% digunakan untuk

fotosintesis dan 75-85% digunakan untuk memanaskan daun dan untuk

transpirasi.Temperatur. Peningkatan temperatur meningkatkan kapasitas udara

untuk menyimpan air, yang berarti tuntutan atmosfer yang lebih

besar.Kelembaban relatif. Makin besar kandungan air di udara, makin tinggi Y

udara, yang berarti tuntutan atmosfer menurun dengan meningkatnya kelembapan

relatif.Angin. Transpirasi terjadi apabila air berdifusi melalui stomata. Apabila

aliran udara (angin) menghembus udara lembab di permukaan daun, perbedaan


potensial air di dalam dan tepat di luar lubang stomata akan meningkat dan difusi

bersih air dari daun juga meningkat (Lubis,2000).

Stomata,Kutikula dan Lentisel


Stomata pada umumnya terdapat pada bagian-bagian tumbuhan yang

berwarna hijau, terutama sekalipada daun-daun tanaman. Pada submerged aquatic

plant atau tumbuhan yang hidup dibawah permukaan air terdapat alat-alat yang

strukturnyamiripdengan stomaa, padahal alat-alat tersebut bukanlahstomata. Pada

daun-daun yang berwarnahijau stomata terdapat pada satu permukaannya saja

(Dalimunthe, 2004)

Lentisel adalah sebuah bagian dari permukaan batang tumbuhan yang

terkandung berbagai lubang halus dan banyak. Lentisel terbentuk dari sel-sel

gabus yang dibatasi oleh sebuah ruang intraselular.hal tersebut akan membuat

susuanan batang tumbuhan menjadi longgar dan sangat membantu sekali dalam

proses transpirasi pada tumbuhan. Selain berfungsi dalam proses transpirasi,

lentisel juga berfungsi dalam proses perkembangan batang (Arif, 2007).

Kutikula tumbuhan adalah lapisan pelindung pada seluruh sistem tajuk

(bagian tumbuhan yang berada di atas tanah) tumbuhan herba yang berfungsi

untuk memperlambat kehilangan air dari daun, batang, bunga, buah, dan biji.[1]

Tanpa lapisan pelindung ini, transpirasi (hilangnya uap air melalui permukaan

tumbuhan) pada hampir semua tumbuhan berlangsung sangat cepat sehingga

tumbuhan akan mati. Kutikula merupakan perlindungan terhadap beberapa

patogen tumbuhan dan terhadap kerusakan kecil mekanis (Simanjuntak, 2013).

Mekanisme kerja Stomata


Transpirasi dikontrol oleh pembukaan stomata, di bawah kondisi

kekurangan air stomata menutup, dan pertukaran gas menurun seperti transpirasi.
Stomata merupakan pusat jalur kehilangan air dan absorsi CO2 pada proses

fotosintesis. Pada kondisi kekurangan air absorsi CO2 menurun dan merangsang

penurunan aktivitas metabolik sehingga mengakibatkan menurunnya pertumbuhan

dan perkembangan tanaman. Laju transpirasi menurun seiring dengan

menurunnya konduktansi stomata. Pada kondisi kekurangan maupun kecukupan

air, tanaman mempunyai kemampuan untuk meningkatkan sistem perakaran,

mengatur stomata, mengurangi absorbsi radiasi surya dengan pembentukan

lapisan lilin atau bulu rambut daun yang tebal, dan menurunkan permukaan

evapotranspirasi melalui penyempitan daun serta pengurangan luas daun

(Setiawan et al, 2012).

Stomata akan membuka jika kedua sel penjaga meningkat. Peningkatan

tekanan turgor sel penjaga disebabkan oleh masuknya air kedalam sel penjaga

tersebut. Pergerakan air dari satu sel ke sel lainnya akan selalu dari sel yang

mempunyai potensi air lebih tinggi ke sel ke potensi air lebih rendah. Tinggi

rendahnya potensi air sel akan tergantung pada jumlah bahan yang terlarut

(solute) didalam cairan sel tersebut. Semakin banyak bahan yang terlarut maka

potensi osmotic sel akan semakin rendah. Dengan demikian, jika tekanan turgor

sel tersebut tetap, maka secara keseluruhan potensi air sel akan menurun. Untuk

memacu agar air masuk ke sel penjaga, maka jumlah bahan yang terlarut di dalam

sel tersebut harus ditingkatkan (Lakitan, 1993).

Aktivitas stomata terjadi karena hubungan air dari sel-sel penutup dan sel-

sel pembantu. Bila sel-sel penutup menjadi turgid dinding sel yang tipis

menggembung dan dinding sel yang tebal yang mengelilingi lobang (tidak dapat

menggembung cukup besar) menjadi sangat cekung, karenanya membuka lobang.


Oleh karena itu membuka dan menutupnya stomata tergantung pada perubahan-

perubahan turgiditas dari sel-sel penutup, yaitu kalau sel-sel penutup turgid

lobang membuka dan sel-sel mengendor pori/lobang menutup

(Pandey dan Sinha, 1983).

Stomata membuka karena sel penjaga mengambil air dan menggembung

dimana sel penjaga yang menggembung akan mendorong dinding bagian dalam

stomata hingga merapat. Stomata bekerja dengan caranya sendiri karena sifat

khusus yang terletak pada anatomi submikroskopik dinding selnya. Sel penjaga

dapat bertambah panjang, terutama dinding luarnya, hingga mengembang ke arah

luar. Kemudian, dinding sebelah dalam akan tertarik oleh mikrofibril tersebut

yang mengakibatkan stomata membuka (Salisbury dan Ross, 1995).

Perbedaan Transpirasi dan Evaporasi

Evaporasi merupakan suatu proses penguapan sebagian dari pelarut

sehingga didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi.

Tujuan dari evaporasi itu sendiri yaitu untuk memekatkan larutan yang terdiri dari

zat terlarut yang tak mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap. Dalam

kebanyakan proses evaporasi , pelarutnya adalah air. Evaporasi tidak sama dengan

pengeringan, dalam evaporasi sisa penguapan adalah zat cair, kadang-kadang zat

cair yang sangat viskos, dan bukan zat padat. Begitu pula, evaporasi berbeda

dengan distilasi, karena disini uapnya biasanya komponen tunggal, dan walaupun

uap itu merupakan campuran, dalam proses evaporasi ini tidak ada usaha untuk

memisahkannya menjadi fraksi-fraksi. Biasanya dalam evaporasi, zat cair pekat

itulah yang merupakan produk yang berharga dan uapnya biasanya

dikondensasikan dan dibuang (Frayekti, 2011).


Transpirasi adalah proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan

hidup tanaman yang terletak di atas permukaan tanah melewati stomata, lubang

kutikula, dan lentisel. Transpirasi merupakan pengeluaran berupa uap H2O dan

CO2, terjadi siang hari saat panas, melaui stomata (mulut daun) dan lentisel (celah

batang). Transpirasi berlangsung melalui bagian tumbuhan yang berhubungan

dengan udara luar, yaitu melalui pori-pori daun seperti stomata, lubang kutikula,

dan lentisel oleh proses fisiologi tanaman (Sintia, 2014).

Perbedaan antara transpirasi dengan evaporasi adalah : pada tranpirasi 1).

proses fisiologis atau fisika yang termodifikasi 2.) diatur bukaan stomata 3.) diatur

beberapa macam tekanan 4.) terjadi di jaringan hidup 5.) permukaan sel basah,

pada evaporasi 1.) proses fisika murni 2.) tidak diatur bukaan stomata 3.) tidak

diatur oleh tekanan 4.) tidak terbatas pada jaringan hidup 5.) permukaan yang

menjalankannya menjadi kering.Sebagian besar air yang diserap tanaman

ditranspirasikan. Misal: tanaman jagung, dari 100% air yang diserap: 0,09% untuk

menyusun tubuh, 0,01% untuk pereaksi, 98,9% untuk ditranspirasikan

(Britch,2008).
BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Praktikum

Adapun praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan

Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,

pada hari Kamis, 7 April 2016 pukul 13.00 - 14.40 WIB pada ketinggian

± 25 mdpl.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanaman pacar

air (Balsamina impatient Linn.) sebanyak 10 buah sebagai objek yang akan

diamati, kapas untuk menutup erlenmeyer, vaselin sebagai zat untuk menutup

stomata, air sebagai media untuk merendam tanaman.

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah erlenmeyer

sebagai wadah untuk air, pisau cutter dan gunting untuk memotong bagian

tanaman yang akan diamati, stopwatch untuk mengatur lamanya pengamatan,

sinar matahari dan kipas angin sebagai alat untuk membantu dalam proses laju

transpirasi pada tanaman, gelas beker sebagai wadah untuk mengukur berat air,

timbangan sebagai alat untuk mengukur berat tanaman, kalkulator sebagai alat

untuk menghitung hasil pengamatan, stopwatch sebagai alat pengatur waktu

pengamatan dan alat tulis untuk mencatat hasil praktikum.

Prosedur Percobaan

1. Disiapkan 10 tanaman yang berukuran sama begitu juga jumlah daunnya.

2. Disediakan 10 buah erlenmeyer lalu isi dengan volume yang sama.

3. Dimasukkan air ke dalam gelas beker masing-masing 250 ml.


4. Disiapkan bahan tanam dalam 2 kelompok yaitu 5 buah tanaman untuk

kelompok angin dan 5 buah kelompok cahaya.

5. Setiap kelompok tanaman diberi perlakuan, yaitu :

a. tanpa perlakuan (kontrol)

b. dilapisi vaselin

c. tanpa akar (dipotong)

d. potong setengah daun

e. tanpa daun

6. Dimasukkan bahan tanam ke dalam erlenmeyer, lalu mulut erlenmeyer

ditutup dengan menggunakan kapas.

7. Ditimbang berat awal masing-masing erlenmeyer + Balsamina impatient

(sebagai bobot awal).

8. Diletakkan erlenmeyer sesuai kelompok yaitu 5 erlenmeyer di bawah sinar

matahari dan 5 erlenmeyer lainnya di bawah kipas angin selama 45 menit.

9. Ditimbang bobot akhirnya.

Bobot awal−Bobot akhir


10. Dihitung laju transpirasi tanaman =
waktu
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

DATA LAJU TRANSPIRASI TANAMAN

CAHAYA
Perlakuan Berat Berat Selisih Laju transpirasi
awal (g) akhir (g) g/menit g/dtk
Kontrol 433,0 432,0 1 0,03 0,0005
Dilapisi vaselin 455,5 454,5 1 0,03 0,0005
Tanpa akar 479,5 478,5 1 0,03 0,0005
Dipotong ½ 460,5 459.0 1,5 0,05 0,0008
daun
Tanpa daun 454,0 454,0 0 0 0

ANGIN
Perlakuan Berat Berat Selisih Laju transpirasi
awal (g) akhir (g) g/menit g/dtk
Kontrol 462,5 462,0 0,5 0,016 0,0002
Dilapisi vaselin 432,5 432,5 0 0 0
Tanpa akar 452,5 452,0 0,5 0,016 0,0002

Dipotong ½ 422,0 421,0 1 0,05 0,0008


daun
Tanpa daun 431,0 431,0 0 0 0

Perhitungan

Dik : waktu : 30 menit = 1800 detik

CAHAYA

Laju transpirasi =

1. Kontrol = 433 – 432 = 0,03 g/menit


30 menit

= 433 – 432 = 0,0005 g/s


1800 s
2. Dilapisi vaselin = 444,5 –454,5 = 0,03 g/menit
30 menit

= 445,5 – 454,5 = 0,0005 g/s


1800

3. Tanpa akar = 479,5 – 478,5 = 0,03 g/menit


30 menit

= 479,5 – 478,5 = 0,0005 g/s


1800 s

4. Dipotong ½ daun = 460,5 – 459,0 = 0,05g/menit


30 menit

= 460,5 – 459,0 = 0,0008 g/s


1800 s

5. Tanpa daun = 454 – 454 = 0 g/menit


30 menit

= 454 – 454 = 0 g/s


1800 s

ANGIN

Laju transpirasi =

1. Kontrol = 462,5 – 462 = 0,016 g/menit


30 menit

= 462,5 – 462 = 0,0002 g/s


1800 s

2. Dilapisi vaselin = 432,5 –432,5 = 0 g/menit


30 menit

= 432,5– 432,5 = 0 g/s


1801

3. Tanpa akar = 452,5 – 452,0 = 0,016 g/menit


30 menit

= 452,5 – 452,0 = 0,0002 g/s


1800
4. Dipotong ½ daun = 422,0 – 421,0 = 0,05g/menit
30 menit

= 422,5 – 421,0 = 0,0008 g/s


1800

5. Tanpa daun = 431 – 431 = 0 g/menit


30 menit

= 431 – 431 = 0 g/s


1800 s

Pembahasan

Dari hasil praktikum dapat diketahui bahwa laju transpirasi adalah respon

tanaman terhadap kondisi lingkungan dan transpirasi adalah proses hilangnya air

dalam bentuk uap air. Hal ini sesuai dengan literature Delayota (2011) yang

menyatakan bahwa transpirasi adalah proses hilangnya air dalam bentuk uap air

dari jaringan tumbuhan melalui stomata, lubang kutikula, dan lentisel. Laju

transpirasi merupakan respon sesaat terhadap kondisi lingkungan, sifatnya

dinamis atau fluktuatif.

Dari hasil praktikum diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi laju

transpirasi adalah faktor eksternal dan faktor internal. Hal ini sesuai literatur

Haryanti ( 2010 ) yang menyatakan bahwa kegiatan transpirasi dipengaruh oleh

faktor luar dan dalam. Faktor luar misalnya kecepatan angin, cahaya, air,

kelembaban udara, suhu, tekanan udara. Faktor dalam misalnya ketebalan daun,

jumlah daun, luas area daun, jumlah stomata/ mm2, adanya kutikula, banyak

sedikitnya trikoma/bulu daun dan bentuk serta lokasi stomata di permukaannya.

Epidermis adalah sistem sel-sel yang bervariasi struktur dan fungsinya, yang

menutupi tubuh tumbuhan. Struktur yang demikian tersebut dapat dihubungkan


dengan peranan jaringan tersebut sebagai lapisan yang berhubungan dengan

lingkungan luar.

Dari hasil praktikum diketahui bahwa jenis laju transpirasi ada 3 yaitu

stomata,lentisel dan kutikula. Hali ini sesuai literatur Al dan Ratnawati (2004)

yang menyatakan transpirasi merupakan proses hilangnya air dalam bentuk uap

air dari tubuh tumbuhan yang sebagian besar terjadi melalui stomata, selain

melalui kutikula dan lentisel. Karena sifat kutikula yang impermeabel terhadap

air, transpirasi yang berlangsung melalui kutikula relatif sangat kecil. Transpirasi

dapat merugikan tumbuhan bila lajunya terlalu cepat yang menyebabkan jaringan

kehilangan air terlalu banyak selama musim panas dan kering.

Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa mekanisme

membukanya stomata melibatkan mekanisme turgor.Pada kondisi cekaman

kekeringan maka stomata akan menutup sebagai upaya untuk menahan laju

transpirasi. Hal ini sesuai dengan literatur Setiawan et al (2012), yang menyatakan

bahwa Transpirasi dikontrol oleh pembukaan stomata, di bawah kondisi

kekurangan air stomata menutup, dan pertukaran gas menurun seperti transpirasi.

Stomata merupakan pusat jalur kehilangan air dan absorsi CO2 pada proses

fotosintesis. Pada kondisi kekurangan air absorsi CO2 menurun dan merangsang

penurunan aktivitas metabolik sehingga mengakibatkan menurunnya pertumbuhan

dan perkembangan tanaman. Laju transpirasi menurun seiring dengan

menurunnya konduktansi stomata.

Perbedaan transpirasi dengan evaporasi, yaitu transpirasi merupakan

proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman, sedangkan

evaporasi adalah penguapan yang terjadi di permukaan tanah dan permukaan air.
Transpirasi merupakan proses fisiologis atau fisika yang termodifikasi sedangkan

pada evaporasi merupakan proses fisika murni. Hal ini sesuai dengan literatur

Britch (2008) yang menyatakan bahwa perbedaan antara transpirasi dengan

evaporasi adalah : pada tranpirasi 1). proses fisiologis atau fisika yang

termodifikasi 2.) diatur bukaan stomata 3.) diatur beberapa macam tekanan 4.)

terjadi di jaringan hidup 5.) permukaan sel basah, pada evaporasi 1.) proses fisika

murni 2.) tidak diatur bukaan stomata 3.) tidak diatur oleh tekanan 4.) tidak

terbatas pada jaringan hidup 5.) permukaan yang menjalankannya menjadi kering.

Dari hasil percobaan laju transpirasi pada faktor cahaya yang tertinggi

yakni 0,0008 gr/detik dengan perlakuan dipotong ½ daun , hasil dari percobaan ini

diakibatkan karena terjadinya kesalahan pada saat praktikum, sehingga tidak

sesuai dengan literature Lubis (2000) yang mengatakan Faktor-faktor lingkungan

yang mempengaruhi transpirasi, yaitu ;Radiasi matahari. Dari radiasi matahari

yang diserap oleh daun, 1-5% digunakan untuk fotosintesis dan 75-85%

digunakan untuk memanaskan daun dan untuk transpirasi.Temperatur.

Peningkatan temperatur meningkatkan kapasitas udara untuk menyimpan air,

yang berarti tuntutan atmosfer yang lebih besar.Kelembaban relatif. Makin besar

kandungan air di udara, makin tinggi Y udara, yang berarti tuntutan atmosfer

menurun dengan meningkatnya kelembapan relatif.Angin. Transpirasi terjadi

apabila air berdifusi melalui stomata. Apabila aliran udara (angin) menghembus

udara lembab di permukaan daun, perbedaan potensial air di dalam dan tepat di

luar lubang stomata akan meningkat dan difusi bersih air dari daun juga

meningkat.
KESIMPULAN

1. Laju transpirasi adalah respon tanaman terhadap kondisi lingkungan dan

transpirasi adalah proses hilangnya air dalam bentuk uap air.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi yaitu:

1. faktor dari dalam tumbuhan: jumlah daun, luas daun, jumlah stomata

2. faktor luar: suhu, cahaya, kelembaban, angin.

3. Laju transpirasi ada 3 bagian yaitu stomata,lentisel dan kutikula.

4. Mekanisme membukanya stomata melibatkan mekanisme turgor.

5. Perbedaan transpirasi dengan evaporasi, yaitu

1. transpirasi merupakan proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan

hidup tanaman,

2. evaporasi adalah penguapan yang terjadi di permukaan tanah dan permukaan

air.

6. Laju transpirasi pada faktor cahaya yang tertinggi yakni 0,0008 gr/detik

dengan perlakuan dipotong ½ daun.


DAFTAR PUSTAKA

Al, S dan Ratnawati. 2004. Respons Konduktivitas Stomata dan Laju Transpirasi
Rumput Blembem (Ischaemum ciliare Retzius) di Sekitar Sumber Emisi
Gas Kawah Sikidang Dieng. FMIPA UNY. Yogyakarta.

Alam, T. 2012. Tanggapan Jagung (Zea mays L.) terhadap Sistem Parit Berbahan
Organik dan Dosis Kalium di Lahan Kering pada Tanah Bersifat
Vertic.Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Arif, M.D. 2007. Pengaruh Laju Transpirasi Terhadap Tanamanan Kacang


Kacangan (Leguminoseae). Universitas Sumatera Utara: Medan.

Britch ,2008, Fisiologi Lingkungan Tanaman, Gadjah Mada University Press.


Yogyakarta.

Dalimunthe, A. 2004. Stomata (Biosintesis, Mekanisme Kerja Dan Peranannya


Dalam Metabolisme) FP USU. Medan

Delayota. 2011. Fisiologi Tumbuhan. DSC Biologi. Jakarta.

Fadilah,A.2013. Penguapan Air Melalui Proses Transpirasi.Universitas Jember.


Jember.

Frayekti,M.C.2011.Evaporator.Jakarta:Politeknik Negeri Jakarta.

Haryanti, S. 2010. Jumlah dan Distribusi Stomata pada Daun Beberapa Spesies
Tanaman Dikotil dan Monokotil. Jurusan Biologi FMIPA Universitas
Diponegoro.Semarang.

Kusuma, G.A, Sammy N.J. Longdong, dan Reiny A. Tumbol. 2014. Uji Daya
Hambat Dari Ekstrak Tanaman Pacar Air (Impatiens balsamica
L.)Terhadap Pertumbuhan Bakteri Aeromonas hydrophila. UNSRAT.
Manado.

Lakitan, B. 1993. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada.


Jakarta.

Lestari, E. G. 2005. Hubungan antara Kerapatan Stomata dengan Ketahanan


Kekeringan pada Somaklon Padi Gajahmungkur, Towuti, dan IR 64.
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya
Genetik Pertanian (Balitbiogen). Bogor.

Maryani, A. T. 2012. Pengaruh Volume Pemberian Air Terhadap Pertumbuhan


Bibit Kelapa Sawit di Pembibitan Utama. Fakultas Pertanian Universitas
Jambi Mendalo Darat. Jambi.
Pandey, S. N. dan B. K. Sinha. 1983. Fisiologi Tumbuhan. Terjemahan dari Plant
physiologi 3 th edition. Oleh Agustinus ngatijo. Yogyakarta.

Purwanti,N.T.P., M. Suryadi, Dan I.W. Treman. 2013. Diversifikasi Tanaman


Cabai Dan Bunga Pacar Air Untuk Meningkatkan Pendapatan Petani Di
Desa Selisihan Kecamatan Klungkung Kabupaten Klungkung (Tinjauan
Geografi Ekonomi).Universitas Pendidikan Ganesha. Singaraja.

Rahmadetassani,A. 2010. Pacar Air (Impatiens balsamina L.). Universitas Nasional.


Jakarta.

Salisbury, F. B. dan Cleon. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 1.


Terjemahan dari Plant Physiologi 4 th Edition oleh Diah R. Lukman dan
Sumaryono. ITB. Bandung.

Setiawan., Tohari dan Shiddieq. 2012. Pengaruh Cekaman Kekeringan Terhadap


Akumulasi Prolin Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth.),
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Simanjuntak, E. T. 2013. AlAT Pengukur Laju Transpirasi pada Daun Berbasis


Mikrokontroler. Universitas Kristen Satya Wacana. Salatiga.

Sintia,M.2014. Anatomi Dan Fisiologi Tumbuhan.Universitas Tanjungpura.Pontianak.

Siregar, Arbayah. 2003. Anatomi Tumbuhan. ITB. Bandung.

Trisnawati, E, Dewid A, Abdullah S. 2013. Pembuatan Kitosan Dari Limbah


Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Wiley, J and Sons. 1982. Laboratory Studies In Botany Sixth Edition. Permission
Department, John Wiley & Sons, Inc, New York.

Yuliasmara, F dan F. Ardiyani. 2013. Morfologi, Fisiologi, dan Anatomi Paku


Picisan (Drymoglossum phyloselloides) serta Pengaruhnya pada Tanaman
Kakao. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Jember.
LAMPIRAN