Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULIAN

1.1 LATAR BELAKANG

ICU (Intensive Care Unite) adalah ruang rawat di rumah sakit dengan staf dan

perlengkapan khusus yang ditujukan untuk mengelola pasien kritis akibat suatu

proses perburukan suatu penyakit, komplikasi, pasca bedah, trauma yang

mengancam jiwa dimana terjadi telah terjadi disfungsi satu atau lebih organ

(terutama organ vital) yang masih reversibel dengan terapi yang agresif.

Pasien sakit kritis tersebut membutuhkan alat bantu pernapasan, obat

vasoaktif atau butuh alat bantu seperti terapi pengganti ginjal.Identifikasi adanya

resiko pasien menjadi kritis di ruang perawatan perlu dilakukan agar ketika masuk

di ICU (Intensive Care Unite) masih memungkinkan untuk pulih. Pemantauan

dan penanganan awal yang segera juga perlu dilakukan ketika pertama kali

diidentifikasi maupun saat di transpor ke ICU (Intensive Care Unite) agar tidak

terjadi disfungsi organ yang berat.

Perawatan di ICU (Intensive Care Unite) menimbulkan kekhawatiran dan

rasa cemas bagi keluarga pasien. Harus dilakukan komunikasi yang baik dan

jujur terhadap resiko tindakan, prognosis penyakit. Kita harus berhati-hati

menyempaikan kondisi pasien untuk menghindari mereka bertambah cemas dan

sedih.
Spiritual sutatu aspek kehidupan pasien yang asnagat penting untuk dipenuhi

dalam perawatan kesehatan .petingnya sipiritual dalam pelayanan kesehatan dapat

dilihat dari definisi kesehatan menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) yang

menetapkan empat unsur kesehatan yaitu sehat fisik ,pisikis,soaial dan sifiritual

(Hawari 2012)

Keterkaitan antara dimensi agama dan kesehatan menjadi sesuatu yang sangat

penting. Pada tahun 1984 Organisasi Kesehatan sedunia (WHO) telah

menambahkan, dimensi agama sebagai salah satu dari empat pilar kesehatan;

yaitu kesehatan manusia seutuhnya meliputi: sehat jasmani/fisik (biologi), sehat

secara kejiwaan (psikiatrik/psikologi), sehat secara sosial, dan sehat secara

spiritual (kerohanian/agama). Bila sebelumnya pada tahun 1947 WHO

memberikan batasan sehat hanya dari 3 aspek saja yaitu sehat dalam arti fisik

(organobiologi), sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik) dan sehat dalam

arti sosial, maka sejak 1984 batasan tersebut sudah ditambah dengan aspek agama

(spiritual), yang oleh American Psychiatric Assosiation (APA) dikenal dengan

rumusan “bio-psiko-sosio-spiritual” (Priharjo, 2008).

Spiritual mengatakan bahwa sebabnya yang berdoa kepada allah SWT

merupakan cara-cara pelegaan batin yang akan mengembalikan ketentraman jiwa

kepada orang-orang yang melakukannya, denagan mendekatkan diri kepada sang

pencipta juga akan membrikan petunjuk tentang nilai-nilai makna kehidupan


maka diharapkan kecemasan seseorang sedikit demi sedikit dapat berkurang

(prof zakiah (dalam wahyuni 2014 )

Hubungan antara persepsi perawat dengan sikap perawat dalam pemenuhan

kebutuhan spritual pasien , respon yang memiliki persepsi salah mengenai

kebutuhan spritual sebanyak 49 ( 59,0% ) perawat dan responden yang memiliki

persepsi benar tentang kebutuhan spritual sebanyak 34 ( 41,0% ), sikap responden

dalam kebutuhan spiritual yang memiliki sikap kurang sebanyak 50 (60,2% ),

sedangkan responden yang memiliki sikap baik sebanyak 33 (39,8%)

(trisnawati,A (2013)

kompetensi perawat ICU Rumah sakit M.Yunus Bengkulu selama ini

belum pernah dievaluasi sehingga belum diketahui gambaran kompetensi

perawat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan

menganalisi sistem rekrutmen, sistem penempatan tenaga dan orientasi serta

pengembangan SDM terhadap kompetensi perawat di ruang ICU Rumah Sakit

M.YUNUS Bengkulu Ratnasari (2009).

Peran penamping sipiritual terhadap motivasi kesembuhan pada pasien kritis.

Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan populasi seluruh

pegawai bagin spritual dan pasien lanjut usiah .responden mempunyai peran
pendampingan spiritual baik yaitu 72 responden (90%) . peran pendamping ini

dilakukan oleh petugas spiritual dirumah sakit ( kinasih 2012)

1.2 Rumusan masalah

Sesuai dengan pemaparan latarbelakang yang sudah saya buat . maka

penelitian merumuskan satu masalah dan tertarik untuk meneliti tentang bagai

manana dukungan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan spritual pasien dan

keluarga diruanngan intensif (ruangan ICU ) Di rumah sakit M.YUNUS bengkulu

1.3 Tujuan studi kasus

Tujuan dari penelitian dukungan keluarga dalam pemenuhan kebutuan spritual

diruangan intensif ini adalah mengeksplorasi secara mendalam bagaiman apresiasi

perawat terhadap pemenuhan kebutuhan spritual pasien dan keluarga

1.4 Manfaat studi kasus

Manfaat studi kasus ini memuat uraian tentang spritual studi kasus yang

bersifat praktis terutama bagi :

1. Keluarga

Supaya keluarga dapat mendukung spritual pasien untuk meyakinkan bahwa

tuhan itu adil dan tuhan itu tidak akan menyiksa hambanya yang sedang sakit
2. Bagi pengembang ilmu dan teknologi keperawatan :

Menamba wawasan dan keluasan ilmu dan teknologi terapan dibidang

keperawatan dalam memenuhi kebutuhan spiritual

3. Penulis

Memperoleh pengalaman dalam mengaplikasikan hasil riset keperawatan ,

khusunya studi kasus tentang dukungan keluarga dalam pemenuhan

kebutuhan spiritual.