Anda di halaman 1dari 159

KATA PENGANTAR

Penilaian adalah bagian dari kurikulum. Penilaian


merupakan alat evaluasi yang berfungsi sebagai gambaran
ketercapaian Standar Nasional pendidikan. Penilaian dalam
kurikulum 2004 maupun 2013 memiliki cakupan yang sama
untuk dinilai, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang
dilakukan secara berimbang dan terintegrasi dalam proses
pembelajaran, sehingga dapat digunakan untuk mengukur
ketercapaian kompetensi untuk setiap peserta didik terhadap
standar yang telah ditetapkan.
Implementasi Kurikulum 2013 berimplikasi pada model
penilaian pencapaian kompetensi peserta didik yang harus
dilakukan oleh pendidik. Penilaian oleh pendidik tidak hanya
berfokus pada penilaian hasil belajar, tetapi juga harus
memperhatikan proses penilaian yang sifatnya lebih kualitatif
untuk proses perbaikan pembelajaran baik untuk pendidik
maupun untuk peserta didik. Instrumen penilaian harus
dirancang secara bervariasi sesuai tuntutan dalam kurikulum dan
dibuat sesuai dengan prinsip-prinsip penilaian yang tepat. Untuk
dapat mengembangkan penilaian sesuai tuntutan tersebut, maka
dibutuhkan langkah-langkah perencanaan dan pengembangan
instrumen penilaian yang tepat yang mengacu pada indikator-
indikator pembelajaran dan kompetensi dasarnya.
Sehubungan dengan hal di atas, Puspendik – Balitbang
Kemendikbud yang bergerak di bidang penilaian,
menyempurnakan buku pedoman penilaian hasil belajar yang
sudah dikembangkan sebelumnya, sesuai dengan kebijakan baru
berkaitan dengan penilaian, sehingga secara umum buku ini
dapat dijadikan acuan oleh pendidik dari sekolah-sekolah yang
menerapkan kurikulum 2013. Buku ini diharapkan dapat
digunakan untuk semua jenjang. Di samping itu, buku pedoman

i
ini juga dilengkapi dengan buku pedoman teknis untuk beberapa
mata pelajaran pada jenjang SD, SMP, dan SMA yang lebih rinci
lagi tentang teknis perancangan, pengembangan dan pengolahan
hasil penilaian untuk setiap mata pelajaran. Buku pedoman
penilaian hasil belajar ini diharapkan dapat dijadikan sebagai
acuan oleh para pendidik di lapangan dalam merancang,
mengembangkan, dan melaporkan hasil penilaian yang harus
dilakukan oleh pendidik di kelas.

Jakarta, Januari 2015


Kepala Pusat,

Prof. Ir Nizam, M.Sc., DIC., Ph.D

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................1
A. Latar Belakang....................................................................................1
B. Tujuan Penyusunan Pedoman Penilaian ................................5
C. Ruang Lingkup Pedoman Penilaian ..........................................5
D. Manfaat Pedoman Penilaian.........................................................6

BAB 2 STRATEGI DALAM MELAKUKAN PENILAIAN KELAS........7


A. Perkembangan Kurikulum............................................................8
B. Penilaian Otentik (Authentic Assessment)........................ 11
C. Penilaian Kelas ................................................................................ 12
D. Kaitan Penilaian Kelas dan Proses Pembelajaran ........... 17

BAB 3 MODEL-MODEL PENILAIAN KELAS ...................................... 20


A. PENILAIAN SIKAP.......................................................................... 21
B. PENILAIAN PENGETAHUAN .................................................... 46
C. PENILAIAN KETERAMPILAN (KINERJA) ........................... 73
D. PENILAIAN PORTOFOLIO .......................................................... 98

BAB 4 PENGOLAHAN, PELAPORAN DAN PEMANFAATAN HASIL


PENILAIAN.....................................................................................125
A. Pengolahan Hasil Penilaian .....................................................126
B. Pelaporan dan Pemanfaatan Hasil Penilaian ...................140

BAB V PENUTUP .......................................................................................149

DAFTAR PUSTAKA

iii
iv
BAB I Pedoman
Penilaian
PENDAHULUAN Kelas oleh Pendidik

A. Latar Belakang

Penilaian (assessment) merupakan bagian yang sangat


penting dalam proses pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas
pendidikan, UNESCO menyatakan assessment as a lever to reform
education. Istilah penilaian (assessment) sering dipertukarkan
secara rancu dengan dua istilah lain, yakni pengukuran
(measurement) dan evaluasi (evaluation). Pada hal ketiga istilah
tersebut memiliki makna yang berbeda, walaupun memang
saling berkaitan. Pengukuran, penilaian, dan evaluasi merupakan
suatu hirarki. Pengukuran adalah kegiatan membandingkan
sesuatu dengan sesuatu sejenis yang digunakan sebagai kriteria;
penilaian adalah proses menafsirkan dan mendeskripsikan
bukti-bukti hasil pengukuran, sedangkan evaluasi adalah
kegiatan memutuskan atau menetapkan sesuatu berdasarkan
hasil-hasil penilaian.
Di abad XXI yang mengalami perkembangan luar biasa dalam
ilmu pengetahuan, teknologi, dan transformasi nilai-nilai budaya,
menyebabkan penilaian juga mengalami pergeseran paradigma.
Penilaian yang dirancang guru tidak bisa hanya terfokus pada
penilaian kognitif. Penilaian berbagai keterampilan belajar dan
berpikir, literasi, serta kemampuan memecahkan masalah
kehidupan nyata dalam rangka membentuk kecakapan hidup
justru harus mendapatkan porsi yang lebih banyak. Guru tidak
cukup hanya menilai “apa yang diketahui siswa” tetapi juga harus
menekankan pada “apa yang dapat dilakukan oleh siswa”. Karena
itu penilaian harus bersifat otentik, bukan artifisial; juga harus
mencapai level berpikir

1 Pusat Penilaian Pendidikan


tingkat tinggi, yang menuntut berpikir logis, analitis, kritis,
kreatif, dan kemampuan memecahkan maslah (problem solving)
pada konteks kehidupan nyata.
Beberapa pakar pendidikan mensinyalir bahwa proses
pembelajaran dan penilaian di sekolah-sekolah kita belum
bersifat otentik, karena belum menggunakan konteks kehidupan
sehari-hari. Sejumlah pakar pendidikan menyatakan bahwa
pembelajaran kita lebih banyak memaparkan fakta, pengetahuan,
dan hukum, kemudian biasa dihafalkan, bukan mengaitkannya
dengan pengalaman empiris dalam kehidupan nyata. Proses
pembelajaran seperti di atas menjadi semakin tidak bermakna
karena ternyata instrumen penilaian yang digunakan guru
bersifat artifisial, tidak bersifat otentik yang menggunakan
konteks kehidupan sehari-hari (daily life).
Sinyalir para pakar pendidikan di atas sejalan dengan hasil
studi internasional TIMSS dan PISA yang menunjukkan bahwa
trend kemampuan rata-rata siswa Indonesia selalu di bawah rata-
rata internasional, umumnya siswa Indonesia hanya mampu
mengingat fakta sederhana, terminologi, dan hukum-hukum
tetapi belum mampu mengimplementasikannya untuk
menjelaskan fenomena di sekitarnya, apalagi memecahkan
permasalahan kehidupan nyata.
Agar otentik, penilaian harus dirancang tidak hanya
dilakukan di akhir proses pembelajaran atau hanya menilai hasil
belajar (assessment of learning). Penilaian otentik juga harus
dirancang menyatu dengan pembelajaran sehingga penilaian
juga merupakan proses belajar (assessment for learning), apalagi
jika proses penilaian tersebut dengan melibatkan siswa, maka
siswa akan belajar menjadi penilai dirinya sendiri (assessment as
learning). Pada hakikatnya, penilai terbaik bagi seorang siswa
dalam proses belajar adalah dirinya sendiri. Bila penilaian
dilakukan dengan tiga pendekatan di atas (assessment of, for, dan
as learning) maka penilaian tidak hanya terfokus pada hasil yang

2 Pusat Penilaian Pendidikan


cenderung berdimensi kognitif, tetapi pasti juga menilai proses
yang berdimensi keterampilan dan sikap.
Tentu saja untuk menilai banyak dimensi diperlukan
berbagai metode dan instrumen penilaian yang sesuai. Tidak ada
satu metode penilaian yang mampu menyajikan semuanya.
Setiap dimensi memerlukan metode dan instrumen penilaian
sesuai karakteristiknya masing-masing. Karena itulah guru,
sekolah, dan pemerintah harus merancang sistem penilaian,
mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan sesuai
prinsip dan aturan yang benar. Apalagi ketika diberlakukan
kurikulum baru, yaitu Kurikulum 2013 seperti sekarang ini,
hadirnya Standar Penilaian sebagai acuan utama dalam
merencanakan, melaksanakan, dan melaporkan hasil penilaian
menjadi sangat diperlukan.
Dalam implementasinya, Kurikulum 2013 sebenarnya sudah
dilengkapi dengan Standar Penilaian Pendidikan sebagaimana
dituangkan dalam Permendikbud Nomor 66 tahun 2013,
Permendikbud Nomor 104 tahun 2013 tentang penilaian hasil
belajar oleh pendidik, dan ditunjang lagi dengan Permendikbud
Nomor 57 tahun 2014 (tentang Kurikulum 2013 pada jenjang
SD/MI), Nomor 58 tahun 2014 (tentang Kurikulum 2013 pada
jenjang SMP/MTs), dan Nomor 59 tahun 2014 (tentang
Kurikulum 2013 pada jenjang SMA/MA), dan Nomor 60 tahun
2014 (tentang Kurikulum 2013 pada jenjang SMK/MAK).
Peraturan-peraturan ini masih terus dikembangkan karena
masih terdapat sejumlah inkonsistensi, kekurangjelasan, atau
kekuranglengkapan pada aturan-aturan di atas, misalnya tentang
konsep dan pelaksanaan penilaian otentik, perumusan kriteria
mastery learning, teknik dan instrumen penilaian terutama untuk
penilaian sikap, serta cara penskoran dan pelaporan. Munculnya
permasalahan tentang penilaian dalam menerapkan kurikulum
2013 menyebabkan permendikbud 104 tentang penilaian dikaji
kembali, sehingga direvisi menjadi permendikbud 53 tentang

3 Pusat Penilaian Pendidikan


standar penilaian hasil belajar oleh pendidik dan satuan
pendidikan.
Inkonsistensi, kekurangjelasan, atau kekuranglengkapan
peraturan yang memayungi proses penilaian pendidikan
berpotensi menimbulkan kekurangpahaman guru dan pemangku
kepentingan terhadap konsep penilaian dan kekurangterampilan
mereka mengimplementasikan proses penilaian. Hal ini dapat
dilihat dari beberapa data empiris yang menunjukkan
kemampuan guru dalam merancang instrumen penilaian sesuai
indikator dan kompetensi dasar masih rendah dan instrumen
penilaian yang dibuat guru masih dominan mengukur
penguasaan pengetahuan, belum menyentuh bagaimana
pengetahuan tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata. Fakta
sejenis dalam skala lebih besar ditunjukkan oleh hasil analisis
Direktorat Pembinaan SMP (2014) yang menunjukkan guru-guru
SMP di 76 kabupaten/kota dari 29 provinsi di Indonesia yang
menguasai konsep penilaian sesuai Kurikulum 2013 baru
berkisar 30%-42%, sedangkan yang mampu menerapkan
penilaian sesuai Kurikulum 2013 lebih kecil lagi, hanya 25%-
37%.
Berdasarkan deskripsi di atas, puspendik merasa perlu
mengembangkan pedoman penilaian untuk Pendidikan Dasar
dan Menengah yang lebih rinci dan lengkap yang dilengkapi
dengan contoh-contoh yang mudah diadaptasi dan
diimplementasikan, sehingga dapat memberikan kemudahan
bagi guru, memandu, dan menjamin terlaksananya proses
penilaian yang benar dan berkualitas. Buku pedoman ini berisi
panduan untuk pendidik dalam melakukan penilaian kelas yang
mencakup aspek afektif, kognitif, dan psikomotor, dan tidak
secara khusus mengacu pada kurikulum tertentu, tetapi bersifat
sangat umum. Tetapi contoh-contohnya mengacu pada
kurikulum 2013 yang digunakan oleh pendidik di beberapa
sekolah.

4 Pusat Penilaian Pendidikan


B. Tujuan Penyusunan Pedoman Penilaian

Tujuan penyusunan Pedoman Penilaian Hasil Belajar oleh


pendidik adalah:
1. memberikan arah dan kesatuan persepsi terhadap konsep
penilaian pada Pendidikan Dasar dan Menengah;
2. memberikan panduan tahap-tahap pengembangan
instrumen beserta contohnya untuk penilaian pada
Pendidikan Dasar dan Menengah, mencakup penilaian sikap,
pengetahuan, dan keterampilan;
3. memberikan panduan dalam mengembangkan instrumen
penilaian beserta contoh formatnya, sehingga diperoleh
instrumen yang standar dan berkualitas;
4. memberikan panduan analisis hasil penilaian beserta
contohnya, untuk penilaian pada Pendidikan Dasar dan
Menengah; dan
5. memberikan panduan mekanisme pelaporan capaian
kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sehingga
mampu memberikan informasi yang akurat dan akuntabel

C. Ruang Lingkup Pedoman Penilaian

Sebagaimana diuraikan dalam PP Nomer 19 Tahun 2005 jo


PP Nomer 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan,
bahwa penilaian pada Pendidikan Dasar dan Menengah
dilakukan oleh: a) pendidik/guru, b) satuan pendidikan
(sekolah/madrasah), dan c) pemerintah. Pedoman penilaian ini
hanya menguraikan penilaian yang dilakukan oleh
pendidik/guru yang dikenal dengan penilaian kelas (classroom-
based assessment). Pedoman penilaian oleh satuan pendidikan
dan oleh pemerintah akan diuraikan pada pedoman tersendiri.
Penilaian kelas oleh pendidik mencakup penilaian sikap
(attitude), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan

5 Pusat Penilaian Pendidikan


(performance). Di dalam kurikulum 2013 ketiga ranah tersebut
tersirat dalam capaian Kompetensi Inti 1 (KI-1): Sikap Spiritual,
Kompetensi Inti 2 (KI-2): Sikap Sosial, Kompetensi Inti 3 (KI-3):
Pengetahuan, dan Kompetensi Inti 4 (KI-4): Keterampilan. Untuk
setiap jenjang pendidikan dikembangkan contoh-contoh
instrumen penilaian yang sesuai dengan pendekatan
pembelajaran yang diterapkan, misalnya untuk SD/MI instrumen
penilaian memperhatikan pembelajaran tematik, sedangkan
untuk SMP/MTs memperhatikan pembelajaran terpadu, dan
pada jenjang SMA/MA memperhatikan karakteristik masing-
masing pembelajaran.

D. Manfaat Pedoman Penilaian

Dengan tersusunnya Pedoman Penilaian untuk Pendidikan


Dasar dan Menengah ini diharapkan memberikan manfaat:
1. tidak terjadi perbedaan persepsi atau ketidaksinkronan
antar bentuk-bentuk penilaian yang dituangkan pada aturan
penilaian pada Pendidikan Dasar dan Menengah yang
menimbulkan kebingungan di lapangan;
2. tersedia acuan yang operasional bagi guru dalam
mengembangkan instrumen penilaian, melakukan penilaian,
mengolah, dan melaporkan hasil penilaian secara akurat dan
akuntabel; dan
3. tersedia contoh-contoh instrumen penilaian yang standar
beserta formatnya sehingga memberikan kemudahan bagi
pendidik untuk mengadaptasi atau mengembangkan sendiri
instrumen-instrumen yang sejenis.

6 Pusat Penilaian Pendidikan


BAB 2 Pedoman

STRATEGI DALAM MELAKUKAN Penilaian


Kelas oleh Pendidik
PENILAIAN KELAS

Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang


Standar Nasional Pendidikan, mengamanatkan bahwa
pembelajaran pada tingkat dasar dan menengah mengikuti
Standar Penilaian. Standar penilaian adalah standar nasional
pendidikan berkaitan dengan penilaian pada jenjang tingkat
dasar dan menengah yang mencakup perencanaan, pelaksanaan,
dan tindak lanjut penilaian hasil pembelajaran pada satuan
pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan.
Dalam rangka melakukan pembaharuan sistem pendidikan,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan secara berkala
melakukan penyempurnaan kurikulum nasional untuk jenjang
pendidikan dasar dan menengah. Upaya penyempurnaan
kurikulum ini merupakan respon atas berbagai kritik dan
tanggapan terhadap konsep dan implementasi kurikulum 2004
yang dianggap memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan,
baik dari segi substansi maupun pendekatan dan organisasi
kurikulum. Perubahan kurikulum ini juga paralel dengan
diterapkannya otonomi pendidikan di tingkat kabupaten dan
kota, serta pendekatan manajemen berbasis sekolah (school-
based management) dan pendidikan berbasis masyarakat
(community-based education).
Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan kurikulum
2004 yang disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam
menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum ini disusun untuk
mengantisipasi perkembangan masa depan. Tujuannya adalah
untuk mendorong peserta didik agar mampu lebih baik dalam
melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan
mengkomunikasikan (mempresentasikan) apa yang mereka
peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi
pembelajaran. Penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013
menggunakan pendekatan pembelajaran yang lebih menekankan

7 Pusat Penilaian Pendidikan


pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya. Melalui
pendekatan tersebut diharapkan peserta didik memiliki
kompetensi yang mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan
ketrampilan secara terintegrasi yang jauh lebih baik. Mereka
akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga dapat
menghadapi berbagai persoalan dan tantangan menghadapi
perkembangan abad 21.
Implementasi Kurikulum 2013, berimplikasi pada model
penilaian pencapaian kompetensi peserta didik. Penilaian
pencapaian kompetensi lebih menekankan pada proses
sistematis dalam mengumpulkan, menganalisis dan
menginterpretasi informasi untuk menentukan sejauhmana
peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No. 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian
Pendidikan, penilaian pencapaian kompetensi pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan oleh pendidik,
satuan pendidikan, Pemerintah dan/atau lembaga mandiri.
Penilaian pencapaian kompetensi oleh pendidik dilakukan untuk
memantau proses, kemajuan, perkembangan pencapaian
kompetensi peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki
dan kemampuan yang diharapkan secara berkesinambungan.
Penilaian juga dapat memberikan umpan balik kepada pendidik
agar dapat menyempurnakan perencanaan dan proses
pembelajaran berikutnya.

A. Perkembangan Kurikulum

Suatu sistem pendidikan membutuhkan suatu standar,


serendah apapun suatu standar tetap diperlukan karena
berperan sebagai patokan dan sekaligus pemicu untuk
memperbaiki kualitas mutu. Dalam konteks pendidikan, standar
diperlukan sebagai acuan minimal (dalam hal kompetensi) yang
harus dipenuhi oleh seorang lulusan dari suatu lembaga
pendidikan sehingga setiap calon lulusan dinilai apakah yang

8 Pusat Penilaian Pendidikan


bersangkutan telah memenuhi standar minimal yang telah
ditetapkan.
Penyempurnaan kurikulum 2013 merupakan bagian dari
pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang
telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup aspek sikap,
pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu dan berimbang.
Dalam Kurikulum 2013 Kompetensi Inti merupakan
operasionalisasi Standar Kompetensi Lulusan dalam bentuk
kualitas yang harus dikuasai peserta didik yang telah
menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau
jenjang pendidikan tertentu. Gambaran mengenai kompetensi
utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, pengetahuan,
dan keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotor) yang harus
dicapai peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata
pelajaran. Kompetensi Inti menggambarkan kualitas yang
seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skills.
Kompetensi Inti tersebut berfungsi sebagai unsur
pengorganisasi (organising element) kompetensi dasar.
Kompetensi Dasar adalah keterkaitan antara konten Kompetensi
Dasar satu kelas atau jenjang pendidikan ke kelas/jenjang di
atasnya sehingga memenuhi prinsip belajar yaitu terjadi suatu
akumulasi yang berkesinambungan antara konten yang
dipelajari peserta didik.
Kompetensi Inti dirancang dalam empat kelompok yang
saling terkait, yaitu berkenaan dengan sikap keagamaan
(kompetensi inti 1), sikap sosial (kompetensi inti 2),
pengetahuan (kompetensi inti 3), dan penerapan pengetahuan
(kompetensi inti 4). Keempat kelompok itu menjadi acuan dari
Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap
pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan
dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak
langsung (indirect teaching), yaitu pada waktu peserta didik
belajar tentang pengetahuan (kompetensi kelompok 3) dan
penerapan pengetahuan (kompetensi Inti kelompok 4).
Perubahan kurikulum tersebut tidak hanya sekedar
penyesuaian substansi materi dan format kurikulum sesuai
dengan tuntutan perkembangan, tetapi juga adanya pergeseran
paradigma (paradigm shift) dari pendekatan pendidikan yang

9 Pusat Penilaian Pendidikan


berorientasi masukan (input-oriented education) ke pendekatan
pendidikan berorientasi hasil atau standar (outcome-based
education). Secara lebih sederhana, apa yang harus ditetapkan
sebagai kebijakan kurikuler secara nasional oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan bergeser dari pertanyaan tentang
apa yang harus diajarkan (kurikulum) ke pertanyaan tentang
apa yang harus dikuasai anak (standar kompetensi) pada
tingkatan dan jenjang pendidikan tertentu. Perubahan paradigm
ini berimplikasi pada perubahan penilaiannya yang lebih
menekankan pada penilaian selama proses pembelajaran untuk
ketercapaian kompetensi peserta didik.
Diterapkannya standar kompetensi sebagai acuan dalam
proses pendidikan diharapkan semua komponen yang terlibat
dalam pengelolaan pendidikan di semua tingkatan, termasuk
peserta didik itu sendiri akan mengarahkan upayanya pada
pencapaian standar dimaksud. Diharapkan dengan pendekatan
ini pendidik memiliki orientasi yang jelas tentang apa yang harus
dikuasai anak di setiap tingkatan dan jenjang, serta pada saat
yang sama memiliki kebebasan yang luas untuk mendesain dan
melakukan proses pembelajaran yang ia pandang paling efektif
dan efisien untuk mencapai standar tersebut. Dengan demikian,
pendidik didorong untuk menerapkan prinsip-prinsip
pembelajaran tuntas (mastery learning) serta tidak berorientasi
pada pencapaian ‘target kurikulum’ semata.
Pendekatan standar kompetensi memiliki ciri, antara lain:
 Adanya visi, misi dan tujuan pendidikan yang disepakati
secara bersama di tingkat nasional
 Adanya standar kompetensi lulusan (exit outcome) yang
secara konsisten dan jelas dijabarkan dari tujuan pendidikan
 Adanya kerangka kurikulum dan silabus yang merupakan
artikulasi yang ketat dari kompetensi lulusan
 Adanya sistem penilaian acuan kriteria (criterion-referenced
assessment) dan standar pencapaian (performance standard)
yang diterapkan secara konsisten.

10 Pusat Penilaian Pendidikan


Implikasi dari diterapkannya standar kompetensi adalah
proses penilaian yang dilakukan oleh pendidik, baik yang
bersifat formatif maupun sumatif harus menggunakan acuan
kriteria. Untuk itu, dalam menerapkan standar kompetensi
pendidik harus mengembangkan matriks kompetensi belajar
(learning competency matrix) yang menjamin pengalaman
belajar yang terarah,
 Mengembangkan penilaian otentik berkelanjutan (continuous
authentic assessment) yang menjamin pencapaian dan
penguasaan kompetensi.

B. Penilaian Otentik (Authentic Assessment)

Menurut Jon Mueller (2006) penilaian otentik merupakan


suatu bentuk penilaian dimana peserta didik diminta untuk
menampilkan tugas pada situasi yang sesungguhnya yang
mendemonstrasikan penerapan keterampilan dan pengetahuan
esensial yang bermakna.
Prinsip-prinsip penilaian otentik.
 Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah
dari proses pembelajaran (a part of, not apart from,
instruction),
 Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata (real
world problems), bukan masalah dunia sekolah (school work-
kind of problems),
 Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metoda dan
kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi
pengalaman belajar,
 Penilaian harus bersifat holistik yang mencakup semua aspek
dari tujuan pembelajaran (kognitif, afektif, dan sensori-
motorik)

11 Pusat Penilaian Pendidikan


C. Penilaian Kelas

Penilaian kelas merupakan proses pengumpulan dan


penggunaan informasi hasil belajar peserta didik yang dilakukan
oleh pendidik untuk menetapkan tingkat pencapaian dan
penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan (standar
komptensi, komptensi dasar, dan indikator pencapaian hasil
belajar). Hasil penilaian berbasis kelas dapat menggambarkan
kompetensi dan kemajuan siswa selama di kelas.

Dalam penilaian proses dan hasil belajar, terdapat tiga jenis


utama penilaian yaitu:

 Penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning),


terjadi ketika pendidik menggunakan dugaan-dugaan
mengenai perkembangan peserta didik sebagai bahan untuk
mengembangkan pengajaran mereka (formatif)
 Penilaian sebagai pembelajaran (assessment as larning) terjadi
ketika para peserta didik melakukan refleksi dan mengamati
perkembangan pembelajaran mereka sebagai bahan untuk
mencapai tujuan-tujuan pembelajaran mereka dimasa depan
(formatif)
 Penilaian hasil pembelajaran (assessment of learning) terjadi
ketika para pendidik menggunakan bukti-bukti dari
pembelajaran para peserta didik untuk menilai pencapaian
peserta didik atas tujuan-tujuan dan standar-standar
pembelajaran (sumatif).

Dengan diterapkannya standar kompetensi sebagai acuan


dalam proses pembelajaran, pendidik memiliki orientasi yang
jelas tentang apa yang harus dikuasai peserta didik di setiap
tingkatan dan jenjang, serta pada saat yang sama juga memiliki
kebebasan yang luas untuk mendesain dan melakukan proses
pembelajaran yang ia pandang paling efektif dan efisien untuk
mencapai standar tersebut.

12 Pusat Penilaian Pendidikan


1. Karakteristik Penilaian Kelas

Penilaian kelas adalah suatu usaha untuk membangun


praktek mengajar yang lebih baik dengan melakukan umpan
balik pada pembelajaran peserta didik lebih sistimatik, lebih
fleksibel, dan lebih efektif. Pendidik siap menanyakan dan
mereaksi pertanyaan peserta didik, memonitor bahasa badan
dan ekspresi wajah peserta didik, mengerjakan pekerjaan rumah
dan tes peserta didik, dan seterusnya. Penilaian kelas memberi
suatu cara untuk melakukan penilaian secara menyeluruh dan
sistimatik dalam proses pembelajaran di kelas. Berikut adalah
karakteristik penilaian kelas.
 Pusat belajar. Penilaian kelas berfokus perhatian pendidik
dan peserta didik pada pengamatan dan perbaikan belajar,
dari pada pengamatan dan perbaikan mengajar. Penilaian
kelas memberi informasi dan petunjuk bagi pendidik dan
peserta didik dalam membuat pertimbangan untuk
memperbaiki hasil belajar.
 Partisipasi aktif peserta didik. Karena difokuskan pada
belajar, maka penilaian kelas memerlukan partisipasi aktif
peserta didik. Kerjasama dalam penilaian, peserta didik
memperkuat penilaian materi mata pelajaran dan skill dirinya.
Pendidik memotivasi peserta didik agar meningkat dengan
tiga pertanyaan bagi pendidik: (1) apakah kemampuan dasar
dan pengetahuan saya sudah tepat untuk mengajar?; (2)
bagaimana saya dapat menemukan bahwa peserta didik
sedang belajar?; (3) bagaimana saya dapat membantu peserta
didik belajar lebih baik? Karena pendidik bekerja lebih dekat
dengan peserta didik untuk menjawab pertanyaan ini, maka
pendidik dapat memperbaiki skill mengajarnya.
 Formatif. Tujuan penilaian kelas adalah untuk memperbaiki
mutu belajar peserta didik. Penilaian bukan hanya untuk
memberi nilai atau skor (grading) peserta didik, tetapi juga
untuk mendapatkan informasi bagi perbaikan mutu belajar
peserta didik.

13 Pusat Penilaian Pendidikan


 Kontekstual spesifik. Pelaksanaan penilaian kelas adalah
jawaban terhadap kebutuhan khusus bagi pendidik dan
peserta didik. Kebutuhan khusus berada dalam kontekstual
pendidik dan peserta didik yang harus bekerja dengan baik
dalam kelas.
 Umpan balik. Penilaian kelas adalah suatu alur proses umpan
balik (feedback loop) di kelas. Dengan sejumlah TPK, pendidik
dan peserta didik dengan cepat dan mudah menggunakan
umpan balik dan melakukan saran perbaikan belajar
berdasarkan hasil-hasil penilaian. Untuk mengecek
pemanfaatan saran tersebut, pimpinan sekolah menggunakan
hasil penilaian kelas, dan melanjutkan pengecekan alur
umpan balik. Karena pendekatan umpan balik ini dalam
kegiatan di kelas setiap hari, maka komunikasi alur hubungan
antara pimpinan sekolah, pendidik dan peserta didik dalam
KBM akan menjadi lebih efisien dan lebih efektif.

2. Tujuan Penilaian Kelas


Tujuan penilaian di kelas oleh pendidik hendaknya
diarahkan pada empat (4) tujuan berikut (Chittenden, 1991).
 Penelusuran (Keeping track), yaitu untuk menelusuri agar
proses pembelajaran peserta didik tetap sesuai dengan
rencana. Pendidik mengumpulkan informasi sepanjang
semester dan tahun pelajaran melalui berbagai bentuk
penilian kelas agar memperoleh gambaran tentang
pencapaian kompetensi oleh peserta didik.
 Pengecekan (Checking-up), yaitu untuk mengecek adakah
kelemahan-kelemahan yang dialami peserta didik dalam
proses pembelajaran. Melalui penilaian kelas, baik yang
bersifat formal maupun informal pendidik melakukan
pengecekan kemampuan (kompetensi) apa yang peserta didik
telah kuasai dan apa yang belum dikuasai.
 Pencarian (Finding-out), yaitu untuk mencari dan
menemukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya
kelemahan dan kesalahan dalam proses pembelajaran.

14 Pusat Penilaian Pendidikan


Pendidik harus selalu menganalisis dan merefleksikan hasil
penilaian kelas dan mencari hal-hal yang menyebabkan
proses pembelajaran tidak berjalan secara efektif.
 Penyimpulan (Summing-up), yaitu untuk menyimpulkan
apakah peserta didik telah menguasai seluruh kompetensi
yang ditetapkan dalam kurikulum atau belum. Penyimpulan
sangat penting dilakukan pendidik, khususnya pada saat
pendidik diminta melaporkan hasil kemajuan belajar anak
kepada orang tua, sekolah, atau pihak lain seperti di akhir
semester atau akhir tahun ajaran baik dalam bentuk rapor
peserta didik atau bentuk lainnya.

3. Fungsi Penilaian Kelas


Penilaian kelas yang disusun secara terencana dan sistimatis
oleh pendidik memiliki fungsi motivasi, belajar tuntas, efektivitas
pengajaran, dan umpan balik.

 Fungsi Motivasi, penilaian yang dilakukan oleh pendidik di


kelas harus mendorong motivasi peserta didik untuk belajar.
 Fungsi Belajar Tuntas, penilaian di kelas harus diarahkan
untuk memantau ketuntasan belajar peserta didik..
 Fungsi sebagai Indikator Efektivitas Pengajaran, di samping
untuk memantau kemajuan belajar peserta didik, penilaian
kelas juga dapat digunakan untuk melihat seberapa jauh
proses belajar mengajar telah berhasil.
 Fungsi Umpan balik, hasil penilaian harus dianalisis oleh
pendidik sebagai bahan umpan balik bagi peserta didik dan
pendidik itu sendiri.

15 Pusat Penilaian Pendidikan


4. Prinsip Penilaian Kelas
Agar penilaian kelas memenuhi tujuan dan fungsi
sebagaimana dijelaskan di atas, perlu diperhatikan hal-hal
berikut.
 Mengacu pada kemampuan (competency referenced),
Penilaian kelas perlu disusun dan dirancang untuk mengukur
apakah peserta didik telah menguasai kemampuan sesuai
dengan target yang ditetapkan dalam kurikulum. Materi yang
dicakup dalam penilaian kelas harus terkait secara langsung
dengan indikator pencapaian kemampuan tersebut.

 Berkelanjutan (Continuous), Penilaian yang dilakukan di


kelas oleh pendidik harus merupakan proses yang
berkelanjutan dalam rangkaian rencana mengajar pendidik
selama satu semester dan tahun ajaran.

 Didaktis, Alat yang akan digunakan untuk penilaian kelas


berupa tes maupun non-tes harus dirancang baik isi, format
maupun tata letak (layout) dan tampilannya agar peserta
didik menyenangi dan menikmati kegiatan penilaian.

 Menggali Informasi, Penilaian kelas yang baik harus dapat


memberikan informasi yang cukup bagi pendidik untuk
mengambil keputusan dan umpan balik. Pemilihan metoda,
teknik, dan alat penilaian yang tepat sangat menentukan jenis
informasi yang ingin digali dari proses penilaian kelas.

 Melihat yang benar dan yang salah, Dalam melaksanakan


penilaian, pendidik hendaknya melakukan analisis terhadap
hasil penilaian dan hasil kerja peserta didik secara seksama
untuk melihat adanya kesalahan yang secara umum terjadi
pada peserta didik dan sekaligus melihat hal-hal positif yang
diberikan peserta yaitu peserta didik yang memiliki kelebihan
kecerdasan, pengetahuan, dan pengalaman sangat mungkin
memberikan jawaban dan penyelesain masalah yang tidak
tersedia pada bahan yang diajarkan di kelas. Analisis terhadap
kesalahan jawaban dan penyelesaian masalah yang diberikan
peserta didik sangat berguna untuk menghindari terjadinya

16 Pusat Penilaian Pendidikan


mis-konsepsi dan ketidakjelasan dalam proses pembelajaran.
Pendidik harus hendaknya memberikan penekanan terhadap
kesalahan-kesalahan yang bersifat umum tersebut.

D. Kaitan Penilaian Kelas dan Proses Pembelajaran

Penilaian kelas yang baik mempersyaratkan adanya


keterkaitan langsung dengan aktivitas proses pembelajaran
Demikian pula, pembelajaran akan berjalan efektif apabila
didukung oleh penilaian kelas yang efektif oleh pendidik.
Penilaian merupakan bagian integral dari proses belajar
mengajar. Kegiatan penilaian harus dipahami sebagai kegiatan
untuk mengefektifkan proses belajar mengajar agar sesuai
dengan yang diharapkan. Keterkaitan dan keterpaduan antara
penilaian dan pembelajaran dapat digambarkan pada siklus di
bawah ini.

RENCANA
MENGAJAR

ANALISIS & PROJEK

PENILAIAN

Gambar 1 Keterkaitan Penilaian dan Pembelajaran

Pada gambar di atas tampak jelas bahwa langkah yang


pendidik lakukan dalam rangkaian aktivitas pengajaran meliputi
penyusunan rencana mengajar, proses belajar mengajar,
penilaian, analisis dan umpan balik. Dalam siklus pembelajaran,
hal pertama yang harus dilakukan pendidik adalah menyusun
rencana mengajar. Dalam menyusun rencana mengajar ini hal-
hal yang harus dipertimbangkan meliputi rincian kompetensi
yang harus dicapai peserta didik, cakupan dan kedalaman materi,

17 Pusat Penilaian Pendidikan


indikator pencapaian kompetensi, pengalaman belajar yang
harus dialami peserta didik, persyaratan sarana belajar yang
diperlukan, dan metoda serta prosedur untuk menilai
ketercapaian kompetensi.
Setelah rencana mengajar tersusun dengan baik, pendidik
melakukan kegiatan belajar mengajar sesuai rencana tersebut.
Hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam proses belajar
mengajar ini adalah adanya interaksi yang efektif antara
pendidik, peserta didik, dan sumber belajar lainnya sehingga
menjamin terjadinya pengalaman belajar yang mengarah ke
penguasaan kompetensi oleh peserta didik. Untuk mengetahui
dengan pasti ketercapaian kompetensi dimaksud, pendidik harus
melakukan penilaian secara terarah dan terprogram. Penilaian
harus digunakan sebagai proses untuk mengukur dan
menentukan tingkat ketercapaian kompetensi, dan sekaligus
untuk mengukur efektivitas proses belajar mengajar. Untuk itu,
penilaian yang efektif harus diikuti oleh kegiatan analisis
terhadap hasil penilaian dan merumuskan umpan balik yang
perlu dilakukan dalam perencanaan proses belajar mengajar
berikutnya. Dengan demikian, rencana mengajar yang disiapkan
pendidik untuk siklus pembelajaran berikutnya harus
didasarkan pada hasil dan umpan balik penilaian sebelumnya.
Jika ini dilakukan, maka kegiatan belajar mengajar yang
dilakukan sepanjang semester dan tahun pelajaran merupakan
rangkaian dari siklus pembelajaran yang saling bersambung.
Pembelajaran secara tuntas dan pencapaian kompetensi akan
dapat dijamin apabila siklus pembelajaran yang satu terkait
dengan siklus pembelajaran berikutnya.
Agar tujuan penilaian tersebut tercapai, pendidik harus
menggunakan berbagai metoda dan teknik penilaian yang
beragam sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik
pengalaman belajar yang dilaluinya. Oleh sebab itu, pendidik
hendaknya memiliki pengetahuan dan kemahiran tentang

18 Pusat Penilaian Pendidikan


berbagai metode dan teknik penilaian sehingga dapat memilih
dan melaksanakan dengan tepat metode dan teknik yang
dianggap paling sesuai dengan tujuan dan proses pembelajaran,
serta pengalaman belajar yang telah ditetapkan. Di antara
metode dimaksud adalah Penilaian Tertulis (paper-pencil) baik
soal pilihan maupun uraian; Penilaian Kinerja (performance test)
baik Penilaian Produk maupun Penilaian Projek; Penilaian Sikap;
dan Portofolio.

19 Pusat Penilaian Pendidikan


BAB 3 Pedoman
Penilaian
MODEL-MODEL PENILAIAN KELAS Kelas oleh Pendidik

Penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran yang


bertujuan untuk mengetahui sejauh mana proses pembelajaran
yang dilakukan berhasil atau tidak. Beragam konsep dan metode
penilaian sejauh ini telah dilakukanpendidik di sekolah.Konsep
dasar penilaian dalam Kurikulum 2013 diarahkan untuk
menunjang dan memperkuat pencapaian kompetensi yang
dibutuhkan oleh peserta didik di abad ke-21, yang menekankan
pada penilaian kemampuan aspek sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.
Tema pengembangan kurikulum adalah menghasilkan insan
Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui
penguatan sikap (tahu mengapa), pengetahuan (tahu apa), dan
keterampilan (tahu bagaimana). Proses pencapaian ketiga aspek
ini perlu dilakukan secara terintegrasi.
Penyempurnaan kurikulum bertujuan untuk memberi
jawaban terhadap beberapa permasalahan yang melekat pada
kurikulum sebelumnya,dan mendorong peserta didik mampu
lebih baik dalam mencapai kompetensinya. Pada kutikulum 2013
ketercapaian kompetensi ini dilakukan dengan meningkatkan
kemampuan peserta didik dalam melakukan observasi, bertanya,
bernalar, dan mengomunikasikan (mempresentasikan)apa yang
diperoleh atau diketahui peserta didik.
Berdasarkan analisis kemampuan yang dibutuhkan oleh
peserta didik di abad ke-21, maka penilaian didesain terutama
untuk mendukung proses pembelajaran kreatif. Oleh karena itu,
ketika menggunakan penilaian berbentuk tes atau tugas tertentu,
maka pendidik hendaknya memberi ruang kreativitas jawaban
yang beragam untuk melatih daya kritis dan kreativitas peserta
didik. Dengan demikian, tugas yang diberikan tidak didesain

20 Pusat Penilaian Pendidikan


tertutup dalam arti hanya punya satu jawaban yang benar,
bahkan pendidik diharapkan dapat mentolerir jawaban yang
dianggap “tidak biasa”.Selain itu ekspresi pengetahuan, seni,
olahraga, dan lainnya juga harus mendapat ruang dan apresiasi
dari pendidik. Selain itu peserta didik juga dilibatkan untuk
melakukan penilaian sebagai bagian dari tanggung jawab peserta
didik untuk bahan refleksi diri dari kemampuan yang sudah
dicapainya.
Konsep penilaian yang diajukan dalam Kurikulum 2013
adalah penilaian yang konstruktifatau menunjang
pengembangan aspek sikap,pengetahuan, dan keterampilan
peserta didik.Untuk mencapai hal tersebut,pendidik harus
menggunakan berbagai model dan teknik penilaian yang
bervariasi sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik
pengalaman belajar peserta didik. Oleh sebab itu, pendidik
hendaknya memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang
berbagai metode dan teknik penilaian sehingga dapat memilih
dan melaksanakan penilaian dengan tepat melalui metode dan
teknik yang dianggap paling sesuai dengan tujuan dan proses
pembelajarannya, serta pengalaman belajar yang telah
ditetapkan.
Berikut ini akan dipaparkan berbagai model danteknik
penilaian kelas yang dapat digunakan pendidik dalam menilai
aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan.

A. PENILAIAN SIKAP

1. Pendidikan Sikap Dalam Perspektif Pendidikan

Sikap menurut konsep psikologi didifinisikan sebagai


kecenderungan seseorang untuk bertindak secara suka atau
tidak suka terhadap sesuatu objek (Anastasi, 1982). Sementara
Birren et. Al. (1981) mendefinisikan sikap sebagai kumpulan

21 Pusat Penilaian Pendidikan


hasil evaluasi seseorang terhadap objek, orang, atau masalah
tertentu. Sikap menentukan bagaimana kepribadian seseorang
diekspresikan. Lebih lanjut Birren menjelaskan bahwa sikap
berbeda dengan ciri-ciri atau sifat kepribadian yang dapat
didefinisikan sebagai pola kebiasaan atau cara bereaksi terhadap
sesuatu. Sikap lebih merupakan "stereotype" seseorang. Oleh
karena itu, melalui sikap seseorang, kita dapat mengenal siapa
orang itu yang sebenarnya.Penilaian sikap sebagai salah satu
bentuk penilaian kelas ditujukan untuk pendidik dalam
melakukan pembentukkan dan pembinaan terhadap sikap
peserta didik.
Dalam perspektif pendidikan, pendidikan sikap merupakan
proses holistik yang diarahkan pada berkembangnya sikap dan
karakter peserta didik yang dilandasi nilai-nilai dasar yang
diperlukan dalam hidupnya sebagai seorang individu, warga
negara, dan warga masyarakat global. Sementara sikap dalam
konteks pendidikan karakter tidak hanya dibatasi pada
pengertian kecenderungan individu baik yang berupa
aspekafektif, kognitif, maupun konatif (behavioral tendency),
melainkan lebih dimaknai dalam konteks internalisasi nilai, serta
pembiasaan dan pembudayaan nilai sebagai landasan untuk
bertindak dan berperilaku secara baik dan benar (Bahrul Hayat,
2015).
Sebagai proses internalisasi dan pembiasaan serta
pembudayaan nilai, pendidikan sikap sosial dan spiritual
seringkali menggunakan empat (4) pendekatan secara
integratif:1) membuat kurikulum khusus, 2) memberi
kesempatan peserta didik untuk beraktivitas sesuai kehidupan
nyata, 3) menyisipkan unsur-unsur non-kognitif pada seluruh
kurikulum mata pelajaran, dan 4) mengembangkan iklim sekolah
dan organisasi sekolah yang mendukung.
Integrasi pendidikan sikap pada berbagai mata pelajaran di
sekolah harus disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran.

22 Pusat Penilaian Pendidikan


Nilai-nilai dasar yang hendak diinternalisasi secara implisit
menyatu dengan spirit dari isi mata pelajaran. Pendidikan sikap
harus membedakan antara attitude knowledge and reasoning
dengan attitude and moral behavior yang merupakan proses
pembiasaan.
Sebagai contoh, sikap menghormati pendapat teman,
menghindari perilaku menyontek, membantu meminjamkan
pulpen kepada teman yang kehilangan pulpen, dsb merupakan
sikap yang bersifat generik untuk semua mata pelajaran. Tetapi,
menjaga kebersihan lingkungan, memelihara dan merawat
tanaman di sekolah merupakan sikap spesifik kepedulian
lingkungan yang sangat terkait dengan mata pelajaran ilmu
pengetahuan alam.
Hasil pendidikan sikap harus dipahami sebagai:
 outcome bukan sebagai output proses pendidikan yang secara
instant dapat diniliai oleh pendidik pada setiapkali
menyelesaikan suatu proses pembelajaran.
 proses akumulatif yang bersifat judgmental pendidik
terhadap perilaku peserta didik selama periode waktu
tertentu (per semester) yang didasarkan pada observasi dan
rekaman catatan harian dengan indikator perilaku yang
disepakati dan ditetapkan.
Metode dan teknik yang digunakan untuk penilaian sikap
(attitude assessment) sebaiknya tidak harus menggunakan
metode dan teknis pengukuran sikap (attitude measurement)
sebagaimana dikembangkan dalam pendekatan psikometrik.
Untuk menilai sikap yang terintegrasi dengan proses
pembelajaran, pendidik dapat menggunakan catatan harian
pendidik berdasarkan observasi, pertanyaan langsung, dan
laporan pribadi yang berisi pandangan pribadi tentang suatu
permasalahan. Pembentukkan sikap peserta didik dapat juga
dilakukan dengan penilaian diri, dan penilaian antarteman
sebagai bahan refleksi diri peserta didik. Penggunaan skala sikap

23 Pusat Penilaian Pendidikan


(Likert atau diferensial semantik) walaupun tidak disarankan
namun tidak menutup kemungkinan pendidik untuk
menggunakan teknik pengukuran sikap dengan metode ini
apabila sudah memiliki instrumen yang handal dana reliabel.
Kurikulum 2013 membagi aspek sikap menjadi dua yaitu (1)
sikap spiritual yaitu sikap yang terkait dengan pembentukan
perilaku peserta didik sebagai orang yang beriman dan bertakwa,
dan (2) sikap sosial yang terkait dengan pembentukan peserta
didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan
bertanggung jawab. Kedua sikap tersebut saling beririsan seperti
gambar berikut ini.

Sikap Sikap
Spiritual Sosial

Penilaian terhadap sikap spiritual dapat dilakukan pendidik


terhadap hal-hal yang berkaitanmenghargai, menghayati ajaran
agama, dannilai-nilai yang terdapat dalam ajaran agama
sepertikejujuran, menghormati orang yang lebih tua, menghargai
orang lain dan lain-lain. Sedangkan hal-hal yang berhubungan
dengan penghayatan tidak dapat dilakukan karena bersifat
abstrak.
Penilaian terhadap sikap sosial dapat dilakukan pendidik
terhadap hal-hal yang berkaitan dengan objek sikap sebagai
berikut: (1) sikap yang berhubungan dengan perilaku
interpersonal; (2) sikap yang berhubungan dengan kesuksesan
akademik; (3) sikap terhadap penerimaan teman sebaya; dan (4)
sikap-sikap yang berhubungan dengan nilai-nilai tertentu yang
ingin ditanamkan dalam diri peserta didik seperti kejujuran,

24 Pusat Penilaian Pendidikan


kedisiplinan, tanggung jawab, toleransi, gotong royong, santun,
dan percaya diri.

2. Pembentukan Sikap
Menurut Klausmeier (1985), ada tiga model belajar dalam
rangka pembentukan sikap yang sesuai dengan kepentingan
penerapan dalam dunia pendidikan yaitu:

 Mengamati dan meniru.


Pembelajaran model ini berlangsung melalui pengamatan dan
peniruan. Bandura (1977) menyebut proses pembelajaran ini
dengan pembelajaran melalui model
(learningthroughmodeling). (Menurut Bandura, banyak
tingkah laku manusia dipelajari melalui model, yakni dengan
mengamati dan meniru tingkah laku atau perbuatan orang
lain, terutama orang-orang yang berpengaruh
 Menerima penguatan
Pembelajaran model ini berlangsung melalui pembiasaan
operan, yakni dengan menerima atau tidak menerima atas
suatu respon yang ditunjukkan.Penguatan dapat berupa
ganjaran (penguatan positif) dan dapat berupa hukuman
(penguatan negatif). Dalam proses pembelajaran, pendidik
atau orang tua dapat memberikan ganjaran berupa pujian
atau hadiah kepada peserta didik yang berbuat sesuai dengan
nilai-nilai ideal tertentu, atau sebaliknya memberi hukuman
jika tidak berbuat sesuai dengan nilai dan norma yang ada.
 Menerima informasi verbal
Informasi tentang norma tentang objek tertentu dapat
diperoleh melalui lisan atau tulisan. Informasi tentang objek
tertentu yang diperoleh oleh seseorang akan mempengaruhi
pembentukan sikapnya terhadap objek yang bersangkutan.

 Melakukan pembiasaan dan pengkondisian


Pembentukan sikap melalui proses pembiasaan bertujuan
agar peserta didik terbiasa memiliki sikap yang diharapkan,

25 Pusat Penilaian Pendidikan


sedangkan dengan pengkondisian pesera didik akan lebih
mudah untuk menunjukkan sikap yang diharapkan

3. Objek sikap yang perlu dinilai

Penilaian sikap selama proses pembelajaran secara umum


dapat dilakukan dalam kaitannya dengan berbagai objek sikap
antara lain sebagai berikut.
 Sikapterhadapmatapelajaran. Peserta didik perlu memiliki
sikap positif terhadap mata pelajaran. Dengan sikap positif
dalam diri peserta didik akan tumbuh dan berkembang minat
belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih
mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan. Oleh
karena itu, pendidik perlu menilai tentang sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran yang diajarkannya.
 Sikapterhadappelajaran.pendidikmataPeserta didik perlu
memiliki sikap positif terhadap pendidik, yang mengajar
suatu mata pelajaran. Peserta didik yang tidak memiliki sikap
positif terhadap pendidik, akan cenderung mengabaikan hal-
hal yang diajarkan. Dengan demikian, peserta didik yang
memiliki sikap negatif terhadap pendidik pengajar akan sukar
menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh pendidik
tersebut.
 Sikap terhadap proses pembelajaran.
Peserta didik juga perlu memiliki sikap positif terhadap
proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran
disini mencakup: suasana pembelajaran, strategi, metodologi,
dan teknik pembelajaran yang digunakan. Tidak sedikit
peserta didik yang merasa kecewa atau tidak puas dengan
proses pembelajaran yang berlangsung, namun mereka tidak
mempunyai keberanian untuk menyatakan. Akibatnya
mereka terpaksa mengikuti proses pembelajaran yang
berlangsung dengan perasaan yang kurang nyaman. Hal ini
dapat mempengaruhi terhadap penyerapan materi
pelajarannya.

26 Pusat Penilaian Pendidikan


 Sikap terhadap pendidik mata pelajaran.
Peserta didik perlu memiliki sifat positif terhadap pendidik
yang mengajar mata pelajaran. Peserta didik yang tidak
memiliki sikap positif terhadap pendidik akan cenderung
mengabaikan hal-hal yang diajarkan dan berdampak sukar
menyerap materi pelajaran yang diajarkan pendidik tersebut.
 Sikap terhadap materi pembelajaranyang ada.
Peserta didik juga perlu memiliki sikap positif terhadap
materi pelajaran yang diajarkan, sebagai kunci keberhasilan
proses pembelajaran.
 Sikap yang berhubungan dengan nilai-nilai tertentu yang
ingin ditanamkan dalam diri peserta didik melalui materi
suatu kompetensi dasar tertentu untuk kepentingan
pembinaan sikap spiritual dan sosial..

4. Sikap yang dinilai

Perkembangan sikap dapat dilihat dari perilaku peserta didik


yang diungkapkan dalam bentuk ucapan, cara berpikir, dan
perbuatan.

 Dalam bentuk ucapan


Setiap saat ketika peserta didik menggunakan kata-kata dan
kalimat (lisan atau tulisan) yang mencerminkan aspek atau
sikap tertentu.
 Dalam cara berpikir
Cara berpikir peserta didik dapat dilihat ketika berbicara
dalam komunikasi biasa, dalam menjawab atau menulis
jawaban atas suatu pertanyaan.
 Dalam bentuk perbuatan
Bentuk perbuatan terlihat pada mimik ketika berbicara,
dalam gerakan ketika melakukan sesuatu, dan dalam tindakan
ketika berkomunikasi atau bekerja sama dengan teman,

27 Pusat Penilaian Pendidikan


pendidik, pegawai administrasi dan orang lain yang ada di
sekolah.

5. Penilaian Sikap dalam pembelajaran di kelas

Penilaian sikap sosial dan spiritual lebih tepat dinilai dengan


pendekatan evaluative judgmentpendidik terhadap perilaku
peserta didik melalui salah

 holistic format: judgment terhadap perilaku peserta didik


secara menyeluruh dengan deskripsi yang eksplisit dari
perilaku ideal (sangat baik) sampai perilaku kurang ideal
(kurang baik) yang mencakup semua aspek sikap yang dinilai.
 analytic format: judgment terhadap perilaku peserta didik
secara rinci untuk aspek sikap yang dinilai dengan indikator
perilaku yang eksplisit yang menggambarkan perilaku ideal
(sangat baik) sampai perilaku kurang ideal (kurang baik).

Deskripsi perilaku untuk Holistic format (penilaian secara


menyeluruh) dan indikator perilaku untuk analytic format
(penilaian yang dibuat berdasarkan aspek-aspek
tertentu)dirumuskan secara bersama antara pendidik dan
sekolah dengan mengacu kepada nilai (values) yang ingin
dikembangkan yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan
moral peserta didik.

Gunakan catatan harian, mingguan, bulanan, ataupun


semester pendidik sebagai dasar dalam melakukan
pertimbangan penilaiandan catatan pendidik tersebut juga
menjadi instrumen dalam pembinaan perilaku peserta
didik.

Komunikasikan ringkasan catatan harian pendidik dalam


bahasa yang positif kepada peserta didik dan orang tua peserta
didik melalui laporan semester dalam rangka mengembangkan
perilaku peserta didik ke arah positif.Penilaian sikap peserta

28 Pusat Penilaian Pendidikan


didikdiarahkan pada fungsi pembinaan peserta didik secara
individual.

Contoh Instrumen
Penilain sikap peserta didik dapat dilakukan pendidik
dengan menggunakan lembar observasi (pengamatan), baik
observasi tertutup maupun terbuka. Namun untuk melengkapi
hasil penilaian sikap tersebut, pendidik juga dapat
menggunakan penilaian diri danpenilaian antarteman sebagai
penunjang.Untuk memperkaya pengetahuan pendidik tentang
instrumen penilaian sikap lainnya, berilut juga akan diuraikan
tentang skala Likert dan Skala Diferensiasi Semantik.
Berikut akan diuraikan contoh-contoh instrumen yang
dapat digunakan pendidik dalam menilai sikap peserta didik.

1. Lembar Observasi
Lembar observasi merupakan instrumen yang dapat
digunakan oleh pendidik untuk memudahkan dalam membuat
laporan hasil pengamatan terhadap perilaku peserta didik yang
berkaitan dengan sikap spiritual dan sikap sosial. Catatan
pengamatan yang dilakukan pendidik hanya dilakukan pada
perilaku peserta didik yang “tidak biasa”. Berdasarkan catatan
tersbut pendidik dapat membuat deskripsi penilaian sikap
peserta didik yang bersangkutan. Sedangkan bagi peserta didik
yang secara umum memperlihatkan sikap yang termasuk
kategori berperilaku “baik sekali, baik, cukup,ataupun kurang”
pendidik dapat membuat deskripsi untuk masing-masing
kategori tersebut dan berikut saran pembinaan (bimbingan)
yang akan dilakukan.
Lembar observasi yang digunakan untuk mengamati sikap
peserta didik di kelas maupun di luar kelasdapat berupa lembar
observasi terbuka maupun tertutup.
 Observasi terbuka, yaitu pendidik mengamati perilaku secara
langsung peserta didik yang diobservasinya. Pendidik dapat
mencatat butir-butir inti dari perilaku peserta didik yang
diamati secara terbuka. Hasil catatan tersebut kemudian

29 Pusat Penilaian Pendidikan


dikonstruksi kembali di akhir pengamatan. Cara terbaik
untuk melalukan observasi ini adalah menyusun catatan
sefaktual mungkin dan tidak melakukan interpretasi apa pun
sehingga hasil observasi ini valid;
 Observasi tertutup yaitu pendidik mengamati peserta didik
melalui panduan yang sudah disiapkan sebelum pengamatan.
Panduan tersebut dapat berupa rating scale (skala rentang)
atau daftar cek dsb.
Dalam melakukan observasi terhadap sikap, hal yang perlu
direkam adalah suasana atau keadaan ketika suatu perilaku
terekam. Informasi tersebut penting karena perilaku itu terekam
dalam suasana bebas tetapi terencana. Suasana terencana yang
dimaksud adalah suasana yang tercipta sebagai kegiatan dalam
proses pembelajaran yang direncpeserta didikan pendidik,
seperti pada proses pembelajaran di kelas atau ulangan.
Contoh 1. Lembar Observasi Terbuka
Tanggal:
Hari: Aspek
No. Nama peserta Perilaku yang yang
didik ditampilkan diamati
1. Deni Antasari
2. Ahmad Fadli
3. Ana Puspita
dst
Catatan: Perilaku yang ditampilkan berisikan perilaku yang tidak
biasa atau kondisi khusus (bukan yang terjadi sehari-
hari).

30 Pusat Penilaian Pendidikan


Contoh 2. Lembar observasi Tertutup
Beri tanda cek pada perilaku peserta didik yang sesuai.
No Nama Diani Hadi Hendi Weni

Aspek yang dinilai


1 Mengembalikan buku Ya
teman yang
ditemukan di Kadang
pekarangan sekolah Tidak
2 Tidak pernah Ya
terlambat masuk
Kadang
sekolah
Tidak

3 Mengerjakan tugas Ya
yang diberikan guru
Kadang
tepat waktu
Tidak
Membela teman yang Ya
di bully di sekolah
4 Kadang
Tidak

5 Mengajak teman yang Ya


pendiam untuk
Kadang
terlibat pada
kegiatan bersama Tidak

6 Memberi salam Ya
ketika bertemu guru
Kadang
Tidak

7 Mengajukan ide-ide Ya
kreatif untuk
Kadang
memecahkan
persoalan sosial di Tidak
sekitar lingkungan
sekolah
Keterangan:
Dari pernyataan pada aspek yang dinilai bersifat positif/negatif
dapat dilihat kecenderungan perilaku peserta didik yang diamati
penilaiannya (ya=3, kadang=2, dan tidak=1)

31 Pusat Penilaian Pendidikan


Contoh 3. Lembar Observasi Tertutup

Sikap yang dinilai : Sikap jujur , disiplin, tanggung jawab, dan


peduli
ASPEK YANG DINILAI
NO. NAMA JUJUR DISIPLIN TANGGUN PEDULI
G JAWAB

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Diana v v v v
2 Yulia v v v v
3 David v v v v
4 Alif v v v v
5 Evita v v v v
6 Dst

Keterangan:
4 = sangat baik (SB); 3 = baik (B); 2 = cukup (C); 1 = kurang (K)
Pengamatan dilakukan pada peserta didik yang menunjukkan
perilaku sangat baik dan kurang/perlu pembinaan. Tidak perlu
semua anak di catat hasil pengamatannya.

Anekdotal
Anekdotal adalah catatan yang dibuat pendidik selama
melakukan pengamatan terhadap peserta didik pada waktu
kegiatan pembelajaran tertentu. Anekdotal biasanya digunakan
untuk mencatat perilaku peserta didik yang tidak biasa.

32 Pusat Penilaian Pendidikan


Contoh Anekdotal

Nama Peserta didik : Raka


Kelas : X1
Pelajaran : Sosiologi
Tempat : Kelas X1

Deskripsi
Ketika pelajaran Sosiologi sedang berlangsung, keadaan
kelas ramai karena semua peserta didik sedang
berdiskusi tentang interaksi sosial Hanya ada seorang
peserta didik bernama Raka yang terlihat melamun dan
tidak ikut diskusi dengan temannya.Dia terlihat tidak
mempedulikan teman-temannya yang sedang berdiskusi.
Padahal dalam mata pelajaran lainnya, Raka adalah
peserta didik yang paling aktif kalau ada kegiatan diskusi
kelompok ataupun diskusi kelas.
Interpretasi Guru

1. Apakah Raka memiliki permasalahan atau mempunyai


kesulitan dalam memahami materi yang didiskusikan?
2. Apakah perilaku Raka tersebut sebagai kompensasi terhadap
ketidaktertarikannya dalam pelajaran Sosiologi ?

Rekomendasi
Penilaian Diridata
1. Lihat dan Penilaian Antarteman
perkembangan prestasi belajar Sosiologi Raka
2. Lihat catatan perkembangan perilaku Raka terutama kegiatan
mengikuti
1. Penilaian Diripembelajaran pelajaran lainnya
3. Berbicara secara pribadi dengan Raka serta orang tuanya
Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara
meminta peserta didik mengemukakan kelebihan dan
Jakarta, ………….2015
kekurangan dirinya dalam penguasaan kompetensi yang telah
dipelajarinya. Penilaian diri dilakukan untuk kepentingan
pengelolaan kegiatan pembelajaran di tingkat kelas.
Proses penilaian diri harus berfokus pada proses dan hasil
(Pengamat)
belajar dapat dilihat pada bagan berikut ini .

33 Pusat Penilaian Pendidikan


REFLEKSI DIRI
Apa yang pernah saya pelajari?
Bagaimana saya merasakan pelajaran?
Apa yang saya temukan setelah saya berbuat?

PENILAIAN FORMATIF DIRI PENILAIAN SUMATIF DIRI


Bagaimana saya belajar lebih baik? Bagaimana saya telah melakukan?
Bagaimana saya berkembang? Bagaimana saya telah
Bagaimana saya berfungsi dalam memperbaiki?
kelompok? Apa kelebihan saya?
Apa yang masih belum jelas bagi saya? Apa materi saya untuk
Apa yang saya dapat lakukan lebih berkembang?
mudah?

TARGET PENCAPAIAN
Dalam hal apa saya membutuhkan perbaikan?
Apa langkah berikut saya?
Bagaimana membantu diri saya?
Bagaimana anda membantu saya?

Gambar 2. Refleksi Diri, Penilaian Formatif Diri, Penilaian


Sumatif Diri, dan Target Pencapaian

Penilaian formatif diri harus melibatkan pertanyaan sebagai


berikut, “Bagaimana saya belajar lebih baik?” dan
“Bagaimana saya berkembang?” dengan format dan
pertanyaan yang melibatkan penilaian diri berfokus lebih pada
proses belajar sedang berlangsung. Kelemahan yang ditemukan
dalam proses berlangsung tersebut secara otomatis dapat
langsung diperbaiki. Setiap akhir suatu program pembelajaran,
lebih tepat difokuskan dengan pertanyaan penilaian sumatif diri.
Peserta didik harus menyatakan dirinya antara lain:“Bagaimana

34 Pusat Penilaian Pendidikan


saya telah melakukan?”, “Bagaimana saya memperbaiki?”,
“Apa kelebihan saya?” Pada proses refleksi peserta didk dapat
merancang tujuannya sendiri.

Instrumen Penilaian Diri

Instrumen yang dapat digunakan untuk penilaian diri


maupun antarteman adalah daftar cek dan skala penilaian (rating
scale) dengan teknik sosiometri berbasis kelas. Guru dapat
menggunakan salah satu dari keduanya atau menggunakan dua-
duanya. Instrumen ini digunakan sebagai cross check terhadap
hasil penilaian diri yang dilakukan oleh peserta didik.Daftar cek
disusun oleh pihak sekolah/pendidik dan dapat diperbaiki atau
disempurnakan pada setiap semesternya.

Contoh Penilaian Diri


Nama : ………………………………….
Kelas : ………………………………….
Semester : ………………………………….
Waktu penilaian : ………………………………….

Petunjuk: Berilah tanda cek (√) pada kolom “Ya” atau “Tidak”
sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

NO PERNYATAAN YA TIDAK

1. Saya berusaha belajar dengan


sungguh-sungguh
2. Saya mengikuti pembelajaran
dengan penuh perhatian
3. Saya mengerjakan tugas yang
diberikan guru tepat waktu
4. Saya mengajukan pertanyaan jika ada
yang tidak dipahami

35 Pusat Penilaian Pendidikan


NO PERNYATAAN YA TIDAK

5. Saya berperan aktif dalam kelompok


6. Saya menyerahkan tugas tepat waktu
7. Saya selalu membuat catatan hal-hal
yang saya anggap penting
8. Saya merasa menguasasi dan dapat
mengikuti kegiatan pembelajaran
dengan baik
9. dst

2. Penilaian Antarteman.
Penilaian antarteman merupakan bentuk penilaian dengan
cara meminta peserta didik untuk saling menilai terhadap sikap
dan perilaku keseharian antarteman. Penilaian antarpeserta
didik digunakan untuk mencocokkan persepsi diri peserta didik
dengan persepsi temannya serta kenyataan yang ada dan
berfungsi sebagai alat konfirmasi terhadap penilaian yang
dilakukan oleh guru.Hasil penilaian antarteman digunakan
sebagai dasar guru untuk melakukan bimbingan dan motivasi
lebih lanjut.Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian
antarpeserta didik. Penilaian antarteman paling baik dilakukan
pada saat peserta didik melakukan kegiatan berkelompok.

36 Pusat Penilaian Pendidikan


ContohPenilaian Antarteman.
Nama teman yang dinilai : ………………………………….
Nama penilai : ………………………………….
Kelas : ………………………………….
Semester : ………………………………….
Waktu penilaian : ………………………………….

Petunjuk: Berilah tanda cek (√) pada kolom “Ya” atau “Tidak”
sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

No. Pernyataan Ya Tidak

1 Berperan aktif dalam kelompok


2 Menghormati dan menghargai
pendapat orang lain
3 Tidak memaksakan
kehendak/pendapatnya
4 Mau bekerja sama dalam kelompok
5 Mengerjakan tugas yang diberikan
Dst

Skala sikap
Ada beberapa model skala yang dikembangkan oleh para
pakar untuk mengukur sikap. Dalam panduan ini akan diuraikan
dua model saja, yakni Skala Diferensiasi Semantik (Semantic
Differential Techniques) dan Skala Likert (Likert Scales). Dua
model ini dipilih karena mudah dan bermanfaat untuk
diimplementasikan oleh pendidik dalam proses pembelajaran di
kelas. Teknik pengembangan dan penggunaan kedua model
tersebut akan diuraikan secara lebih rinci dalam bab berikut.

37 Pusat Penilaian Pendidikan


1. Skala Diferensiasi Semantik
Skala Diferensiasi Semantik memiliki dua kelebihan
dibadingkan dengan berbagai teknik yang lain. Pertama, teknik
ini dapat digunakan dalam berbagai bidang. Kedua, teknik ini
sederhana dan mudah diimplementasikan dalam pengukuran
dan penilaian sikap, termasuk dalam pengukuran dan penilaian
sikap peserta didik di kelas.

Langkah-langkah pengembangan
Langkah-langkah pengembangan skala dengan teknik ini
sebagai berikut.
 Menentukan objek sikap yang akan dikembangkan skalanya,
misalnya "Mata Pelajaran Biologi".
 Memilih dan membuat daftar dari konsep dan kata sifat yang
relevan dengan objek penilaian sikap. Misalnya: menarik;
penting; menyenangkan; mudah dipelajari; dan sebagainya.
 Memilih kata sifat yang tepat dan akan digunakan dalam skala.
 Menentukan rentang skala pasangan bipolar dan
penskorannya.

Contoh Skala Diferensiasi Semantik

SKALA SIKAP TERHADAP


MATA PELAJARAN BIOLOGI
Petunjuk:
Skala sikap ini berhubungan dengan mata pelajaran Biologi yang
Anda pelajari di sekolah. Tujuan penggunaan skala sikap ini
untuk mengetahui pendapat Anda tentang mata pelajaran
tersebut. Berilah tanda cek (V) pada posisi skala yang sesuai
dengan pendapat kamu.

38 Pusat Penilaian Pendidikan


SIKAP TERHADAP
MATA PELAJARAN BIOLOGI

Contoh di atas adalah skala sikap berkaitan dengan sikap


peserta didik terhadap mata pelajaran Biologi. Apabila
berpendapat bahwa mata pelajaran biologi menarik, bermanfaat,
banyak pemahaman, dan mudah berikan tanda cek pada interval
paling kiri. Sebaliknya, apabila berpendapat membosankan, sia-
sia, banyak hafalan, dan sukar berikan tanda cek pada interval
skala paling kanan. Skala tersebut menunjukkan arah semakin
kiri semakin menarik, dan arah semakin kanan membosankan.

Penskoran dan interpretasi


Penskoran untuk skala tersebut dapat dilakukan dalam
rentang 1 sampai dengan 5. Arah paling kiri adalah paling besar,
yakni diskor 5, karena menunjukkan sikap paling positif terhadap
objek sikap, mata pelajaran Biologi. Arah paling kanan adalah
paling kecil, karena menunjukkan sikap paling negatif terhadap
mata pelajaran tersebut.

Skor maksimum dalam skala tersebut adalah: 4 x 5 = 20;

Skor paling rendah adalah: 4 x 1 = 4;

Apabila peserta didik memperoleh skor semakin


mendekati angka 4 (skor terendah), dapat diinterpretasikan
semakin negatif sikap peserta didik terhadap mata pelajaran

39 Pusat Penilaian Pendidikan


Biologi. Sebaliknya, apabila peserta didik memperoleh skor
semakin mendekati angka 20 (skor tertinggi), dapat
diinterpretasikan semakin positif sikap peserta didik terhadap
mata pelajaran ini.
Apabila peserta didik memilih sikap netral terhadap mata
pelajaran ini, peserta didik akan memberi tanda cek pada interval
skala tengah. Pada interval skala ini skor yang diberikan adalah
3. Dengan demikian, apabila peserta didik memilih sikap netral
untuk semua pernyataan sikap (4 pernyataan sikap), maka
peserta didik akan memperoleh skor 12. Dengan demikian skor
yang diperoleh peserta didik dengan skala tersebut dapat
diinterpretasikan sebagai berikut.

Skor 12 = Sikap peserta didik adalah netral.


Skor > 12 = Sikap peserta didik adalah positif.
Skor < 12 = Sikap peserta didik adalah negatif.

Selain interpretasi umum seperti contoh di atas, dapat juga


diinterpretasikan berdasarkan pernyataan setiap butir sikap.
Misalnya untuk butir pernyataan sikap pertama (menarik-tidak
menarik) pada umumnya peserta didik cenderung berpendapat
menarik. Namun untuk butir pernyataan sikap keempat (mudah
dipelajari-sukar) pada umumnya cenderung berpendapat sukar.
Dalam hal ini pendidik perlu memberi perhatian dan menggali
faktor-faktor, yang menyebabkan mata pelajaran tersebut
dirasakan sukar oleh peserta didik. Selanjutnya malakukan
tindak lanjut tertentu, dengan melakukan perbaikan-perbaikan.
Misalnya: perbaikan metodologi pembelajaran, penggunaan alat
peraga, dan sebagainya. Seharusnya, karena peserta didik merasa
menarik dengan mata pelajaran tersebut, sepatutnya mereka
juga akan dapat mempelajarinya dengan mudah.

2. Skala Likert
Skala Likert adalah suatu skala psikometrik yang dapat
digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan atau persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang suatu gejala. Skala ini

40 Pusat Penilaian Pendidikan


umumnya digunakan dalam bentuk kuesioner dan seringkali
digunakan untuk kepentingan riset berupa survei.
Langkah-langkah pengembangan
Langkah-langkah pengembangan Skala Likert (Likert Scales)
secar ringkas dapat dirinci sebagai berikut.
 Menentukan objek sikap yang akan dikembangkan skalanya.
Misalnya "Penghijauan Lingkungan Sekolah".
 Menyusun kisi-kisi instrumen (skala sikap)
 Menulis butir-butir pernyataan, dengan memperhatikan
kaidah sebagai berikut.
- hindari kalimat yang mengandung banyak interpretasi;
- rumusan pernyataan hendaknya singkat;
- satu pernyataan hendaknya hanya mengandung satu
pikiran yang lengkap;
- sedapat mungkin, pernyataan hendaknya dirumuskan
dalam kalimat yang sederhana;
- hindari penggunaan kata-kata: semua, selalu, tidak
pernah, dan sejenisnya;
- hindari pernyatan tentang fakta atau dapat
diinterpretasikan sebagai fakta (misalnya: kebun raya
letaknya di bogor).
- antara pernyataan positif dan pernyataan negatif
hendaknya relatif berimbang.
- setiap pernyataan diikuti dengan skala sikap (bisa genap,
misalnya 4 atau 6 dan bisa ganjil, misalnya 5 atau 7).

41 Pusat Penilaian Pendidikan


Contoh

SKALA SIKAP TERHADAP


PENGHIJAUAN LINGKUNGAN SEKOLAH
Petunjuk:
1. Skala sikap ini berhubungan dengan Penghijauan
Lingkungan Sekolah. Tujuan penggunaan skala sikap ini
adalah untuk mengetahui pendapat Anda tentang
Penghijauan Lingkungan Sekolah.
2. Tidak ada jawaban benar atau salah untuk rangkaian butir
soal berikut. Oleh karena itu, jawaban apapun yang Anda
berikan tidak memberi pengaruh terhadap nilai mata
pelajaran Anda.
3. Jawablah seluruh butir soal berikut secara spontan dan jujur,
sesuai dengan perasaan yang Anda miliki ketika pertama kali
Anda membaca butir soalnya!
4. Berilah tanda cek (V) untuk setiap pernyataan pada kolom
pilihan sikap yang paling sesuai untuk diri Anda sendiri!
5. Keterangan pilihan sikap: SS = Sangat Setuju; S = Setuju; N =
Netral; TS = Tidak Setuju; dan STS = Sangat Tidak Setuju.
6. Jawaban Anda yang spontan dan jujur untuk seluruh butir
soal berikut sangat bermanfaat bagi perbaikan program
pendidikan lingkungan.

Pilihan Sikap
No. Pernyataan
SS S N TS STS
1. Usaha penghijauan
pekarangan sekolah
menyenangkan.
2. Penghijauan
pekarangan sekolah
merupakan usaha

42 Pusat Penilaian Pendidikan


Pilihan Sikap
No. Pernyataan
SS S N TS STS
yang kurang
bermanfaat.
3. Usaha penghijauan
itu perlu didukung.
4. Kerja bakti untuk
penghijauan itu
meresahkan.
5. Kerja bakti untuk
penghijauan
menambah
keakraban dengan
sesama teman.
6. Kerja bakti untuk
penghijauan
lingkungan sekolah
sebaiknya
digalakkan.
7. Urunan dana untuk
penghijauan itu tidak
memberatkan
peserta didik.
8. Urunan dana untuk
penghijauan itu
memiliki nilai
manfaat yang tinggi.
9. Sebaiknya untuk
penghijauan
pekarangan sekolah
tidak dipungut dana.
10. Apabila di
pekarangan sekolah

43 Pusat Penilaian Pendidikan


Pilihan Sikap
No. Pernyataan
SS S N TS STS
ditanam bunga-
bunga sungguh
menyenangkan.
11. Tanaman bunga-
bunga di pekarangan
sekolah kurang
bermanfaat.
12. Anjuran tanaman
bunga di pekarangan
sekolah perlu
dipertegas.
13. Piket penyiraman
tanaman bunga di
pekarangan sekolah
merupakan suatu
beban.
14. Tugas piket
penyiraman bunga
mendorong hadir di
sekolah tepat waktu.
15. Piket penyiraman
pekarangan sekolah
sebaiknya dihapus
saja.

Penskoran dan interpretasi


Penskoran untuk skala sikap di atas dapat dilakukan sebagai
berikut.
 Untuk pernyataan positif: SS = 5; S = 4; N = 3; TS = 2; dan STS
= 1. Pernyataan positif adalah butir pernyataan no. 1, 3, 5, 6, 7,
8, 10, dan 14.

44 Pusat Penilaian Pendidikan


 Untuk pernyataan negatif: SS = 1; S = 2; N = 3; TS = 4; dan STS
= 5. Pernyataan positif adalah butir pernyataan no. 2, 4, 9, 11,
12, 13, dan 15.
Dengan demikian, skor maksimum yang dapat dicapai
peserta didik untuk skala sikap tersebut adalah 75, yakni 15
(butir pernyataan) x 5 (skor maksimum untuk setiap butir
pernyataan).Adapun skor minimum yang dicapai peserta didik
adalah 15, yakni 15 (butir pernyataan) x 1 (skor minimum untuk
setiap butir pernyataan).
Skor yang dicapai oleh peserta didik adalah jumlah dari
seluruh angka untuk seluruh penyataan yang direspon atau
diberi tanda cek (V).Perbedaan jumlah angka yang dicapai oleh
para peserta didik dapat ditafsirkan sebagai perbedaan sikap,
positif atau negatif, terhadap penghijauan lingkungan
sekolah.Demikian pula perbedaan skor dari seseorang peserta
didik dalam test-retest, menunjukkan perkembangan atau
perubahan sikap peserta didik yang bersangkutan dari waktu ke
waktu.
Pemanfaatan Hasil Penilaian Sikap
Hasil pengukuran dan penilaian sikap dalam kelas perlu
ditindaklanjuti dan dapat dimanfaatkan untuk hal-hal sebagai
berikut:
 Pembinaan peserta didik dapat dilakukan baik secara
pribadi maupun secara klasikal. Secara pribadi, misalnya bagi
peserta didik-peserta didik tertentu yang menonjol sikap
negatif dalam hal-hal tertentu, perlu diadakan pembinaan
khusus, dengan memberi nasehat, pemahaman yang benar
tentang sesuatu hal, atau mungkin perlu pembinaan dari
pendidikBimbingan dan Penyuluhan. Pembinaan secara
klasikal, dapat dilakukan, apabila secara umum peserta didik
memiliki sikap negatif terhadap objek sikap tertentu.
 Perbaikan proses pembelajaran. Hasil pengukuran dan
penilaian sikap dapat dimanfaatkan pula untuk perbaikan
proses pembelajaran. Misalnya, secara umum peserta didik
menunjukkan sikap negatif terhadap materi pelajaran dan

45 Pusat Penilaian Pendidikan


belum dapat memahami dengan benar konsep-konsep
tertentu. Dalam hal ini, pendidik perlu mengkaji lebih
mendalam dan mungkin perlu memberikan perhatian khusus
dan penekanan-penekanan tertentu dalam proses
pembelajaran.
 Peningkatan profesionalisme pendidik. Melalui hasil
pengukuran dan penilaian sikap, pendidik dapat memperoleh
informasi tentang kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya
berdasarkan persepsi peserta didik. Informasi tersebut
sangat bermanfaat dalam rangka mrelakukan upaya-upaya
perbaikan dan peningkatan kualitas pribadi dan kemampuan
profesional pendidik.

B. PENILAIAN PENGETAHUAN

Penilaian aspek dilakukan dengan menggunakan berbagai


bentuk p[enilaian. Dalam menilai aspek ini pendidik diharapkan
mampu membuat perencanaan dengan cara mengidentifikasi
setiap kompetensi dasar atau materi pembelajaran sebelum
menentukan bentuk penilaian yang sesuai dengan karakteristik
kompetensi dasar yang akan diukur. Perencanaan penilaian
dilakukakan saat pendidik menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP).
Tes Tertulis
Tes adalah himpunan pertanyaan yang harus dijawab,
pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas yang
harus dilakukan oleh orang yang dites dengan tujuan untuk
mengukur suatu aspek (perilaku) tertentu dari orang yang
dites.Tes Tertulis adalah tes yang soal dan jawabannya diberikan
dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak
selalu harus merespons dalam bentuk menulis kalimat jawaban
tetapi dapat juga dalam bentuk mewarnai, memberi tanda,
menggambar grafik, diagram, dan lain sebagainya.
Bentuk soal tes tertulis dapat dikelompokan menjadi dua yaitu
soal objektif dan non objektif. Pada bentuk soal yang objektif peserta

46 Pusat Penilaian Pendidikan


didik dapat 1) memilih jawaban yang sudah disediakan seperti pada
bentuk soal pilihan ganda dan benar-salah;, dan menjodohkan; 2) soal
yang dengan memberi jawaban secara tertulis, namun jawabannya
relatif pasti seperti pada bentuk soal isian, jawaban singkat dan uraian
objektif. Sedangkan bentuk soal non objektif adalah soal bentuk
uraian non-objektif atau essay (penilaiannya didasarkan pada kriteria
tertentu).
Tes tertulis dapat digunakan antara lain untuk : mendiagno-
siskekuatan dan kelemahan peserta didik;menilai kemampuan
peserta didik (pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan);
sertifikasi; seleksi, penempatan;mengetahui mutu pendidikan, dll.

Penulisan soal yang menuntut penalaran tinggi


Dalam menulis butir soal, penulis soal umumnya memiliki
kecenderungan untuk menulis butir-butir soal yang menuntut
perilaku ingatan.Hal ini terjadi karena di samping mudah dalam
penulisan soaInya, materi yang hendak ditanyakan juga mudah
diperoleh secara langsung dari buku pelajaran.Untuk menulis
butir soal yang menuntut penalaran tinggi, penulis soal dituntut
untuk dapat menentukan perilaku yang hendak diukur dan
merumuskan materi yang akan dijadikan dasar pertanyaan
(stimulus) dalam konteks tertentu sesuai dengan perilaku yang
diharapkan. Oleh karena itu dalam penulisan soal yang menuntut
penalaran tinggi, disamping dibutuhkan penguasaan materi ajar
dan keahlian pendidik dalam menulis soal (kontruksi soal), juga
dibutuhkan kreativitas dalam penulisan soal.

Pada prinsipnya penalaran tinggi adalah cara berpikir logis


yang tinggi. Berpikir logis yang tinggi sangat diperlukan peserta
didik dalam proses pembelajaran di kelas khususnya dalam
menjawab pertanyaan, karena peserta didik perlu menggunakan
pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang dimilikinya
dan menghubungkannya ke dalam situasi baru.

Untuk mendapatkan gambaran secara spesifik tentang


tingkat kemampuan peserta didik secara individual maupun
kelompok, pendidik (penulis soal) dapat menggunakan Standar

47 Pusat Penilaian Pendidikan


Level Kemampuan (Cognitive Domain) yaitu mulai dari level
tertinggi sampai yang terendah yaitu level 3 (reasoning), level 2
(applying), dan level 1 (knowing) seperti berikut:

Level 3 : Peserta didik pada level ini memiliki


kemampuan penalaran dan logika yang tinggi
(Reasoning).
Memperlihatkan pengetahuan dan pemahaman yang luas
terhadap materi pelajaran, dan dapat menerapkan
gagasan-gagasan dan konsep-konsep dalam situasi yang
familiar, maupun dengan cara yang berbeda.
Dapat menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi
gagasan-gagasan dan informasi yang faktual.
Dapat menjelaskan hubungan konseptual dan informasi
yang faktual
Dapat menginterpretasi dan menjelaskan gagasan-
gagasan yang kompleks dalam pelajaran.
Dapat mengekspresikan gagasan-gagasan nyata dan
akurat dengan menggunakan terminologi yang benar.
Dapat memecahkan masalah dengan berbagai cara dan
melibatkan banyak variabel.
Dapat mendemonstrasikan pemikiran-pemikiran yang
original.

48 Pusat Penilaian Pendidikan


Level 2 : Peserta didik pada level ini memiliki
kemampuan aplikatif (Applying)

Memperlihatkan pengetahuan dan pemahaman terhadap


materi pelajaran dan dapat mengaplikasikan gagasan-
gagasan dan konsep-konsep dalam konteks tertentu.
Dapat menginterpretasi dan menganalisis informasi dan
data.
Dapat memecahkan masalah-masalah rutin dalam pelajaran.
Dapat menginterpretasi grafik-grafik, tabel-tabel, dan materi
visual lainnya.
Dapat mengomunikasikan dengan jelas dan terorganisasi
penggunaan terminologi.

Level 1 : Peserta didik pada level ini memiliki


kemampuan standar minimum dalam
menguasai pelajaran (Knowing)

Memperlihatkan ingatan dan pemahaman dasar terhadap


materi pelajaran dan dapat membuat generalisasi yang
sederhana.
Memperlihatkan tingkatan dasar dalam pemecahan masalah
dalam pelajaran, paling tidak dengan satu cara.
Memperlihatkan pemahaman dasar terhadap grafik-grafik,
label-label, dan materi visual lainnya.
Dapat mengomunikasikan fakta-fakta dasar dengan
menggunakan terminologi yang sederhana.

Dalam penulisan soal yang menuntut penalaran tinggi,


penulis soal dapat mengacu pada level 3 dan 2 standar level
kemampuan di atas. Selain itu, hal-hal yang juga perlu
diperhatikan penulis soal dalam menulis soal berpenalaran tinggi
antara lain:

49 Pusat Penilaian Pendidikan


 Soal hendaknya menggunakan stimulus. Stimulus yang baik
hendaknya menyajikan informasi yang jelas, padat,
mengandung konsep/gagasan inti permasalahan, dan benar
secara fakta. Stimulus dapat berbentuk teks bacaan, paragraf,
puisi, penggalan cerita, contoh kasus, gambar, grafik, bagan,
foto, daftar kata, simbol, peta film, rekaman, dan sejenisnya.
 Soal yang dikembangkan harus sesuai dengan kondisi
pembelajaran yang dilakspeserta didikan di dalam kelas
maupun di luar kelas yang berhubungan dengan kehidupan
sehari-hari.
 Soal mengukur keterampilan berpikir kritis.
 Soal mengukur keterampilan pemecahan masalah

Kisi-Kisi Penulisan Soal

Sebelum menyusun soal, hendaknya pendidik menyusun


kisi-kisi yang berfungsi sebagai pedoman dalam menulis soal-
soal yang akan disusun. Kisi-kisi disusun berdasarkan tujuan tes,
misalnya, kisi-kisi untuk tes seleksi tentunya berbeda dengan
kisi-kisi untuk tes prestasi belajar.
Kisi-kisi tes prestasi belajar harus memenuhi beberapa
persyaratan, yaitu: (1) mewakili isi kurikulum/kemampuan yang
akan diujikan; (2) komponen-komponennya rinci, jelas, dan
mudah dipahami; (3) dapat dibuat soalnya sesuai dengan
indikator dan bentuk soal yang ditetapkan.
Komponen yang diperlukan dalam sebuah kisi-kisi sangat
ditentukan oleh tujuan tes yang hendak disusun.
Komponen-komponen ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu
komponen identitas dan komponen matriks. Komponen identitas
biasanya berisikan identitas jenjang sekolah, mata pelajaran yang
diujikan, kurikulum yang diacu, jumlah dan bentuk soal, serta
tahun pembuatan kisi-kisi. Sedangkan komponen matriks
merupakan penjabaran kompetensi dapat berupa kompetensi
dasar atau standar kompetensi lulusan yang akan diujikan,

50 Pusat Penilaian Pendidikan


materi, indikator soal, dan nomor soal. Komponen identitas
dicantumkan di bagian atas komponen matriks.
Materi dalam kisi-kisi harus sesuai dengan kompetensi yang
diujikan. Selain itu materi yang ditulis dalam kisi-kisi, hanya
materi yang akan dibuatkan soalnya saja. Indikator soal adalah
rumusan yang memuat perilaku peserta didik yang akan diukur
dengan menggunakan kata kerja operasional. Adapun kriteria
indikator soal yang baik adalah:
1) memuat ciri-ciri kompetensi yang diujikan;
2) memuat satu kata kerja operasional, khusus untuk soal uraian
dapat memuat lebih dari satu kata kerja operasional;
3) berkaitan erat dengan materi yang akan diujikan; dan
4) dapat dibuatkan soalnya sesuai dengan bentuk yang telah
ditetapkan.

Apabila dalam sebuah tes karena keterbatasan jumlah soal,


maka perlu dipilih kompetensi dasar yang esensial. Adapun
kriteria pemilihan kompetensi dasar yang esensial adalah:
1) merupakan kompetensi dasar lanjutan/pendalaman dari satu
kompetensi dasar yang sudah dipelajari sebelumnya;
2) merupakan kompetensi dasar penting yang harus dikuasai
peserta didik;
3) merupakan kompetensi dasar yang sering diperlukan untuk
mempelajari mata pelajaran lain;
4) merupakan kompetensi dasar yang berkesinambungan yang
terdapat pada semua jenjang kelas; dan
5) merupakan kompetensi dasar yang memiliki nilai terapan
dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penulisan soal tes prestasi belajar, misalnya ulangan


harian, tes formatif, sumatif, dan ujian sekolah lainnya, para
penulis soal perlu memiliki pengetahuan tentang proses
penjabaran kompetensi dasar menjadi indikator soal.
Pengetahuan ini perlu dikuasai karena melalui indikator soal

51 Pusat Penilaian Pendidikan


penulis soal dapat menentukan kemampuan yang hendak
diukur.Indikator soal dibuat untuk melihat ketercapaian
kompetensi dasar yang dituntut dalam kurikulum.

Berikut ini adalah diagram yang menggambarkan proses


penjabaran kompetensi dasar menjadi indikator.

KOMPETENSI MATERI INDIKATOR SOAL


DASAR SOAL

Keterangan diagram:
Kompetensi Dasar : Kemampuan minimal yang harus dikuasai
peserta didik setelah mempelajari materi
pelajaran tertentu. Kompetensi dasar ini
diambil dari kurikulum
Materi : Bahan ajar yang harus dikuasai peserta
didik berdasar-kan kompetensi dasar yang
akan diukur. Penentuan materi (bahan
ajar) yang akan diambil disesuaikan
dengan indikator yang akan disusun.
Indikator Soal : Berisi ciri-ciri perilaku yang dapat diukur
sebagai petunjuk untuk membuat soal.

Soal : Disusun berdasarkan indikator yang


dibuat.

Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang kesesuaian


antara indikator yang disusun dan kompetensi dasar, disarankan
untuk melihat kompetensi dasar dan materi yang ada dalam kisi-
kisi.Selain itu dalam penulisan soal terdapat kaidah-kaidah
penulisan soal yang perlu diperhatikan yaitu dari segi materi,
konstruksi, dan bahasa.

52 Pusat Penilaian Pendidikan


Contoh Kisi-kisi

Kompetensi Kelas Materi Indikator Bentuk


Dasar Soal

3.1. Memahami VII/1 Besaran Peserta Pilhan


konsep peng-kuran pokok didik dapat Ganda
berbagai besaran dan meng-
yang ada pada diri, besaran identifikasi
makhluk hidup, dan turunan besaran
ling-kungan fisik pokok dan
sekitar sebagai besaran
bagian dari obser- turunan
vasi, serta penting-
nya perumusan
satuan terstandar
(baku) dalam
pengukuran

Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang kesesuaian


antara indikator yang disusun dan kompetensi dasar, disarankan
untuk melihat kompetensi dasar dan materi yang ada dalam kisi-
kisi.Selain itu dalam penulisan soal terdapat kaidah-kaidah
penulisan soal yang perlu diperhatikan yaitu dari segi materi,
konstruksi, dan bahasa.Berikut adalah kaidah penulisan soal
berikut bentuk soalnya.

1. Bentuk Soal Pilihan Ganda


Soal bentuk pilihan ganda adalah soal yang jawabannya
harus dipilih dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah
disediakan. Secara umum, setiap soal pilihan ganda terdiri dari
pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option).Pilihan jawaban
terdiri atas kunci jawaban dan pengecoh (distractor).Kunci
jawaban ialah jawaban yang benar atau paling benar.Pengecoh
merupakan jawaban yang tidak benar, namun memungkinkan
seseorang terkecoh untuk memilihnya apabila tidak menguasai
bahannya/materi pelajarannya dengan baik.Berikut adalah
keunggulan dan keterbatasan bentuk soal pilihan ganda.

53 Pusat Penilaian Pendidikan


Keunggulan dan keterbatasan

Keunggulan bentuk soal pilihan ganda seperti berikut:


1) Mengukur berbagai jenjang kognitif (dari ingatan sampai
dengan evaluasi).
2) Penskorannya mudah, cepat, objektif, dan dapat mencakup
ruang lingkup bahan/materi yang luas dalam suatu tes untuk
suatu kelas atau jenjang pendidikan.
3) Bentuk ini sangat tepat untuk ujian yang pesertanya sangat
banyak atau yang sifatnya massal, dan hasilnya harus segera
diumumkan, seperti Ujian Semester, Ujian Kenaikan Kelas,
Ujian Sekolah, dan Ujian Nasional.
Keterbatasan bentuk soal pilihan ganda seperti berikut:
1) Memerlukan waktu yang relatif lama untuk menulis soalnya;
2) Sulit membuat pengecoh yang homogen dan berfungsi;
3) Terdapat peluang untuk menebak kunci jawaban
4) Tidak seluruh materi dapat diukur dengan bentuk pilihan
ganda.
Dengan memahami keunggulan dan keterbatasan bentuk
soal Pilihan Ganda diharapkan pembaca dapat menentukan
kapan bentuk soal ini tepat digunakan.

Kaidah Penulisan Soal Bentuk Pilihan Ganda

Dalam penulisan soal bentuk pilihan ganda terdapat


kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan baik dari segi materi,
konstruksi, maupun bahasa seperti berikut ini.

Materi
1) Soal harus sesuai dengan indikator soal dalam kisi-kisi.
2) Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi
materi.

54 Pusat Penilaian Pendidikan


3) Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau
yang paling benar.

Konstruksi
1) Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Rumusan
pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan
yang berkaitan dengan materi yang ditanyakan. Artinya,
apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya
tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan tersebut
dihilangkan saja.
2) Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang
benar.
3) Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat
negatif ganda.
4) Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
5) Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan, "Semua
pilihan jawaban di atas salah", atau "Semua pilihan jawaban
di atas benar".
6) Pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun
berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut, dan
pilihan jawaban berbentuk angka yang menunjukkan waktu
harus disusun secara kronologis.
7) Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat
pada soal harus jelas dan berfungsi.
8) Butir materi soal jangan bergantung pada jawaban soal
sebelumnya.
Bahasa
1) Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan
kaidah Bahasa Indonesia.
2) Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal
akan digunakan untuk daerah lain atau nasional.
3) Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan
merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata tersebut
pada pokok soal.

55 Pusat Penilaian Pendidikan


Contoh Soal Bentuk Pilihan Ganda

Mata Pelajaran : IPA


Jenjang : SMP
Kelas/Semester : VII/1
Kompetensi Inti : 3
Kompetensi Dasar :
3.1 Memahami konsep pengukuran berbagai besaran yang ada
pada diri, makhluk hidup, dan lingkungan fisik sekitar
sebagai bagian dari observasi, serta pentingnya perumusan
satuan terstandar (baku) dalam pengukuran.
Indikator : peserta didik dapat mengidentifikasi
besaran pokok dan besaran turunan.

Petunjuk :

Pilihlah salah satu jawaban dengan memberi tanda


silang pada huruf di depan jawaban yang Anda anggap
paling benar!

Sekelompok peserta didik mengamati sebuah balok dan


memperoleh data: panjang 20cm, lebar 10cm, tebal 5cm,
massa 500g, warna coklat, dan permukaan kasar. Data
tersebut kemudian diolah sehingga memperoleh data
pengukuran tak langsung: luas, volume, dan massa jenis
balok. Kelompok besaran pokok dan besaran turunan
sesuai data tersebut adalah....

Besaran Masa Besaran Turunan


A. massa, massa jenis, panjang, volume, lebar
tebal
B. massa, panjang, volume lebar, massa jenis, tebal
C. panjang, lebar, massa volume, massa jenis, luas
D. lebar, massa, panjang luas, volume, massa jenis

Skor: Jawaban benar :=1, Jawaban salah =0

56 Pusat Penilaian Pendidikan


2. Bentuk Soal Dua Pilihan Jawaban (Benar–Salah, Ya-
Tidak)

Bentuk soal ini menuntut peserta tes untuk memilih dua


kemungkinan jawaban. Bentuk kemungkinan jawaban yang
sering digunakan adalah benar dan salah atau ya dan tidak.
Peserta tes diminta memilih jawaban benar atau salah (ya atau
tidak) pada pernyataan yang disajikan.Berikut adalah
keunggulan dan keterbatasan bentuk soal dua pilihan jawanan.

Keunggulan dan keterbatasan


Keunggulan bentuk soal dua pilihan adalah seperti berikut:
 Dapat mengukur berbagai jenjang kemampuan kognitif.
 Materi yang diujikan dapat mencakup lingkup materi yang
luas (dapat lebih luas dan lebih banyak lingkup materinya
daripada yang dicakup oleh bentuk soal Pilihan Ganda).
 Jawaban peserta didik dapat diskor dengan mudah, cepat dan
objektif (lebih cepat dan lebih mudah daripada Pilihan
Ganda).
Keterbatasan bentuk soal dua pilihan jawaban seperti berikut:
 Probabilitas menebak dengan benar adalah besar, yakni 50%,
karena pilihan jawabannya hanya dua, benar dan salah atau
ya dan tidak.
 Bentuk soal ini tidak dapat digunakan untuk menanyakan
sesuatu konsep secara utuh karena peserta tes hanya dituntut
menjawab benar dan salah, atau ya dan tidak.
 Apabila jumlah butir soalnya sedikit, indeks daya pembeda
butir soal cenderung rendah.
 Apabila ragu atau kurang memahami pernyataan soal, peserta
tes cenderung memilih jawaban benar.

57 Pusat Penilaian Pendidikan


Kaidah Penulisan

Penulis soal bentuk dua pilihan jawaban perlu memperhatikan


beberapa kaidah sebagai berikut.

1) Hindari penggunaan kata: terpenting, selalu, tidak pernah,


hanya, sebagian besar, dan kata-kata lain yang sejenis,
karena dapat membingungkan peserta tes dalam menjawab.
Rumusan butir soal harus jelas, dan pasti benar atau pasti
salah.
2) Jumlah rumusan butir soal yang jawabannya benar dan salah
hendaknya seimbang.
3) Panjang rumusan pernyataan butir soal hendaknya relatif
sama.
4) Susunan pernyataan benar dan pernyataan salah secara
random, tidak sistematis mengikuti pola tertentu. Misalnya:
B B S S, atau B S B S, dan sebagainya. Susunan yang terpola
sistematis seperti itu dapat memberi petunjuk kepada
jawaban yang benar.
5) Hindari pengambilan kalimat langsung dari buku teks.
Pengambilan kalimat langsung dari buku teks lebih
mendorong peserta didik untuk menghafal daripada
memahami dan menguasai konsep dengan baik
Contoh Soal

Petunjuk: Lingkarilah huruf B bila benar, dan S bila


salah

1. B – S Penentuan pembagian wilayah waktu di


Indonesia mengikuti kesepakatan
internasional tahun 1884 yang menetapkan
setiap 15 derajat garis bujur selisih waktunya
adalah satu jam.
Kunci : B

58 Pusat Penilaian Pendidikan


3. Bentuk Soal Menjodohkan
Soal bentuk menjodohkan terdiri dari dua kelompok
pernyataan. Kelompok pertama ditulis pada lajur sebelah kiri,
biasanya merupakan pernyataan soal atau pernyataan
stimulus.Kelompok kedua ditulis pada lajur sebelah kanan,
biasanya merupakan pernyataan jawaban atau pernyataan
respon.Peserta tes diminta untuk menjodohkan, atau memilih
pasangan yang tepat bagi pernyataan yang ditulis pada lajur
sebelah kiri di antara pernyataan yang ditulis pada lajur sebelah
kanan.

Bentuk soal menjodohkan cocok untuk menanyakan


dua konsep yang berhubungan, seperti nama pengarang
dengan judul buku, mata uang dengan negara.

Keunggulan dan keterbatasan


Keunggulan bentuk soal menjodohkan adalah seperti berikut:
1) Relatif lebih mudah dalam perumusan butir soal, terutama
jika dibandingkan dengan soal bentuk pilihan ganda.
2) Ringkas dan ekonomis dilihat dari segi rumusan butir soal dan
dari segi cara memberikan jawaban.
3) Dapat dilakukan penskoran dengan mudah, cepat, dan
objektif.

Keterbatasan bentuk soal menjodohkan adalah seperti berikut:


1) Cenderung mengukur kemampuan mengingat, sehingga
kurang tepat digunakan untuk mengukur kemampuan
kognitif yang lebih tinggi.
2) Kemungkinan menebak dengan benar relatif tinggi, karena
jumlah pernyataan soal (dalam lajur sebelah kiri) dengan
pernyataan jawaban (dalam lajur sebelah kanan) tidak
banyak berbeda.

59 Pusat Penilaian Pendidikan


3) Tidak semua materi/konsep dapat dibuatkan bentuk soal
menjodohkan.

Kaidah Penulisan Soal

Kaidah penulisan soal bentuk menjodohkan adalah seperti


berikut:
1) Tulislah seluruh pernyataan dalam lajur kiri dengan materi
yang sejenis, dan pernyataan dalam lajur kanan juga sejenis.
Dengan kata lain: pernyataan dalam lajur sebelah kiri isinya
homogen, demikian juga pernyataan dalam lajur sebelah
kanan isinya harus homogen.
2) Tulislah pernyataan jawaban lebih banyak dari pernyataan
soal. Hal ini penting, untuk memperkecil probabilitas peserta
tes menjawab soal secara menebak dengan benar. Seperti
contoh berikut, pernyataan soal yang ada di lajur kiri adalah
lima butir, pernyataan jawaban yang ada di lajur kanan adalah
tujuh butir.
3) Susunlah jawaban yang berbentuk angka secara berurutan
dari besar ke kecil atau sebaliknya. Apabila alternatif
jawabannya berupa tanggal dan tahun terjadinya peristiwa,
maka susunlah tanggal dan tahun tersebut berurutan secara
kronologis, seperti dalam penulisan soal pilihan ganda.
4) Tulislah petunjuk mengerjakan tes yang jelas dan mudah
dipahami oleh peserta tes. Oleh karena itu, dalam perumusan
kalimat dan penggunaan kosakata perlu memperhatikan
perkembangan kemampuan bahasa peserta tes.

60 Pusat Penilaian Pendidikan


Contoh Soal
Jodohkanlah ungkapan di sebelah kanan dengan maknanya di
sebelah kiri, dengan cara membubuhkan huruf pilihan jawaban
di depan pernyataan yang tepat.
MAKNA UNGKAPAN UNGKAPAN
Ibu sedang memasang kancing yang
 1. a. buah hati
lepas.
Anak itu menjadi bahan pembicaraan
 2. b. buah pena
di kelas.
 3. Ayah membawa oleh-oleh dari Jambi. c. buah bibir
Runa menjadi anak kesayangan
 4. d. buah baju
ayahnya.
Silahkan mengajukan pendapat
 5. e. buah pikiran
pribadi.
f. buah tangan
g. buah
pinggang

4. Bentuk Soal Isian/Jawaban singkat

Soal isian adalah soal yang menuntut peserta tes untuk


memberikan jawaban singkat dengan cara mengisi berupa kata,
frase, angka, atau simbol

Keunggulan dan keterbatasan


Keunggulan bentuk soal Isian adalah dapat mencakup
lingkup materi yang banyak dan dapat diskor dengan mudah,
cepat, dan objektif, serta mudah menyusunnya. Sedangkan
keterbatasannya adalah cenderung mengukur kemampuan
mengingat (simple recall).

61 Pusat Penilaian Pendidikan


Kaidah Penulisan Soal Isian

Kaidah penulisan soal bentuk isian adalah seperti berikut:


1) Soal harus sesuai dengan indikator.
2) Soal harus menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta
kalimat singkat dan jelas, sehingga peserta tes dapat
memahami dengan mudah.
3) Jawaban yang dituntut oleh soal harus singkat dan pasti yaitu
berupa kata, frase, angka, simbol, tempat, atau waktu.
4) Soal tidak merupakan kalimat yang dikutip langsung dari
buku.
5) Soal tidak memberi petunjuk ke kunci jawaban.
6) Bagian kalimat yang harus dilengkapi sebaiknya hanya satu
bagian dalam ratio butir soal, dan paling banyak dua bagian,
supaya tidak membingungkan peserta didik.

Contoh Soal 1:

Dalam suatu diskusi kelompok, terjadi perselisihan pendapat,


masing-masing bersikeras mempertahankan pendapatnya,
bahkan bila dibiarkan akan terjadi perkelahian. Dalam situasi
ini, sikap yang sebaiknya dilakukan peserta diskusi adalah….
Kunci : mengusulkan pemungutan suara

62 Pusat Penilaian Pendidikan


Contoh soal 2:

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat!

Pemanfaatan lahan pertanian seperti pada gambar di atas


dilakukan dengan cara ....

Kunci Jawaban: Terasering

5. Bentuk Soal Uraian

Soal bentuk uraian adalah suatu soal yang jawabannya


menuntut peserta didik untuk mengingat dan
mengorganisasikan gagasan-gagasan atau hal-hal yang telah
dipelajarinya dengan cara mengemukakan atau
mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis.

Berdasarkan cara penskorannya, soal bentuk uraian


diklasifikasikan atas uraian objektif dan uraian non-objektif.

1) Soal bentuk uraian objektif adalah rumusan soal atau


pertanyaan yang menuntut sehimpunan jawaban dengan

63 Pusat Penilaian Pendidikan


pengertian/konsep tertentu, dan dapat diidentifikasi kata-
kata kunci jawabannya, sehingga penskorannya dapat
dilakukan secara objektif.
2) Soal bentuk uraian non-objektif adalah rumusan soal yang
menuntut sehimpunan jawaban berupa pengertian/konsep
menurut pendapat masing-masing peserta didik, sehingga
penskorannya sukar dilakukan secara objektif (penskorannya
dapat mengandung unsur subjektivitas) tidak dapat
diidentifikasi kata-kata kunci jawabannya.

Perbandingan antara soal bentuk Uraian Objektif dan


Non- Objektif
Pada prinsipnya, perbedaan antara soal bentuk uraian
objektif dan non-objektif terletak pada kepastian
penskorannya.Pada soal bentuk objektif, kunci jawaban dan
pedoman penskorannya lebih pasti (diuraikan secara jelas
komponen-komponen yang diskor dan berapa besarnya skor
untuk setiap komponen).
Pada soal bentuk uraian non-objektif skornya dinyatakan
dalam bentuk ‘rentang’, karena hal-hal atau komponen yang
diskor hanya diuraikan secara garis besar dan berupa kriteria
tertentu. Hal tersebut membuka peluang kemungkinan
masuknya unsur subjektivitas dari penskor pada waktu
melakukan skoring, maka cara penskoran ini disebut penskoran
non-objektif.

Keunggulan dan keterbatasan


Keunggulan soal bentuk uraian adalah dapat mengukur
kemampuan peserta didik dalam hal menyajikan jawaban terurai
secara bebas, mengorganisasikan pikirannya, mengemukakan
pendapatnya, dan mengekspresikan gagasan-gagasan dengan
menggunakan kata-kata atau kalimat peserta didik sendiri.

64 Pusat Penilaian Pendidikan


Keterbatasan soal bentuk uraian adalah jumlah materi atau
pokok bahasan yang dapat ditanyakan relatif terbatas, waktu
untuk memeriksa jawaban peserta didik cukup lama,
penskorannya relatif subjektif terutama untuk soal uraian non-
objektif, dan tingkat reliabilitasnya relatif lebih rendah
dibandingkan dengan soal bentuk pilihan ganda, karena
reliabilitas skor pada soal bentuk uraian sangat tergantung pada
penskor tes.

Perbandingan antara bentuk soal pilihan ganda dengan


uraian dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3.1. Perbandingan Antara Bentuk Soal Pilihan Ganda


dan Uraian

Karakteristik Uraian Pilihan Ganda

Penulisan Soal Relatif mudah Relatif sukar


Jumlah Materi/KD Terbatas Lebih banyak
yang ditanyakan
Aspek atau Dapat lebih dari satu Hanya satu
kemampuan yang
diukur oleh satu soal
Persiapan Peserta Penekanannya pada Lebih menekankan
didik kedalaman materi pada keluasan
materi atau
materinya
bervariasi
Jawaban Peserta didik Mengorganisasikan Memilih jawaban
jawaban
Kecenderungan Tidak ada Ada
Menebak
Penskoran Sukar, lama, kurang Mudah, cepat,
konsisten (reliable) sangat konsisten
dan subjektif dan objektif

65 Pusat Penilaian Pendidikan


Kaidah-Kaidah Penulisan Soal Bentuk Uraian

Pada dasarnya setiap penulis soal bentuk uraian harus selalu


berpedoman pada langkah-langkah atau kaidah-kaidah
penulisan soal secara umum, misalnya mengacu pada kisi-kisi tes
yang telah dibuat dan tujuan soalnya.

Dalam menulis soal bentuk uraian, seorang penulis soal


harus mempunyai gambaran tentang ruang lingkup materi yang
ditanyakan dan lingkup jawaban yang diharapkan, kedalaman
dan panjang jawaban, atau rincian jawaban yang mungkin
diberikan oleh peserta didik. Dengan kata lain, ruang lingkup ini
menunjukkan kriteria luas atau sempitnya masalah yang
ditanyakan. Di samping itu, ruang lingkup tersebut harus tegas
dan jelas tergambar dalam rumusan soalnya.Dengan adanya
batasan sebagai ruang lingkup soal, kemungkinan terjadinya
ketidakjelasan atau terjadinya multi tafsir soal dapat
dihindari.Ruang lingkup tersebut juga akan membantu
mempermudah pembuatan kriteria atau pedoman penskoran.

Secara rinci, beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam


penulisan soal bentuk uraian adalah sebagai berikut.

Materi
1) Soal harus sesuai dengan indikator. Artinya soal harus
menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai
dengan tuntutan indikator.
2) Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan (ruang
lingkup) harus jelas.
3) Isi materi sesuai dengan petunjuk pengukuran.
4) Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang, jenis
sekolah, atau tingkat kelas.

66 Pusat Penilaian Pendidikan


Konstruksi
1) Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan
kata-kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai,
seperti: mengapa, uraikan, jelaskan, bandingkan, hubungkan,
tafsirkan, buktikan, hitunglah. Jangan menggunakan kata
tanya yang tidak menuntut jawaban uraian, misalnya: siapa, di
mana, kapan. Demikian juga kata-kata tanya yang hanya
menuntut jawaban ya atau tidak.
2) Buatlah petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
3) Buatlah pedoman penskoran segera setelah soalnya ditulis
dengan cara menguraikan komponen yang akan dinilai atau
kriteria penskorannya, besarnya skor bagi setiap komponen,
atau rentangan skor yang dapat diperoleh untuk setiap
kriteria dalam soal yang bersangkutan.
4) Hal-hal lain yang menyertai soal seperti tabel, gambar,
grafik, peta, atau yang sejenisnya harus disajikan dengan jelas
dan terbaca, sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang
berbeda dan juga harus bermakna.

Bahasa
1) Rumusan butir soal menggunakan bahasa (kalimat dan kata-
kata) yang sederhana dan komunikatif, sehingga mudah
dipahami oleh peserta didik.
2) Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat
menyinggung perasaan peserta didik atau kelompok tertentu.
3) Rumusan soal tidak menggunakan kata-kata/kalimat yang
menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian.
4) Butir soal menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan
benar dan tidak berlaku setempat

67 Pusat Penilaian Pendidikan


Penyusunan Pedoman Penskoran
Pedoman penskoran merupakan panduan atau petunjuk yang
menjelaskan tentang:
1) batasan atau kata-kata kunci atau konsep untuk melakukan
penskoran terhadap soal-soal bentuk uraian objektif,
2) kemungkinan-kemungkinan jawaban yang diharapkan,
3) kriteria jawaban yang digunakan untuk melakukan
penskoran terhadap soal-soal uraian non-objektif,
4) pedoman pemberian skor untuk setiap butir soal uraian
harus disusun segera setelah perumusan kalimat butir soal
tersebut.

Contoh Soal 1 (Matematika SMP)

Salah satu pembaharuan penanganan limbah pabrik kertas


PT“A” daerah limbah dilokasikan pada sebidang tanah
berbentuk persegi panjang yang lebarnya 80 m dan
panjangnya 200 m. Peraturan pemerintah mensyaratkan
bahwa daerah limbah paling sedikit memiliki luas 10.000 m 2
dan memiliki zona pengamanan dengan lebar serba sama di
sekeliling daerah limbah, seperti terlihat pada gambar
berikut ini.

Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut, perusahaan


menetapkan realisasi luas daerah limbah adalah 10.800 m2.
1) Dapatkah pembangunan daerah limbah tersebut
direalisasikan pada tanah yang tersedia?
2) Berapa ukuran daerah zona pengaman yang disediakan?

68 Pusat Penilaian Pendidikan


PedomanPensekoran
No. Kunci Jawaban

Diketahui:
Ukuran tanah yang tersedia 200 m  80 m 1
Luas daerah limbah menurut peraturan pemerintah
minimal 10.000 m2.
Kebijakan pimpinan PT “A” menetapkan luas daerah
limbah 10.800m2.

Penyelesaian
Interpretasimasalahdalam gambar sebagai berikut.
1

80 m
x LIMBAH

x Zona Pengamanan
200m

p adalah panjang tanah yang tersedia


l adalah lebar tanah yang tersedia
p1 adalah panjang daerah limbah
........................................................................ 1
l1 adalah lebar daerah limbah

Berarti paling tidak ukuran daerah limbah


1
p1 = p – 2 x dan l1 = l – 2 x .................................

Menurut peraturan pemerintah luas daerah limbah


minimal 10.000 m2 dan realisasi daerah limbah yang
diinginkan 10.800 m2.

69 Pusat Penilaian Pendidikan


Karena daerah limbah berbentuk persegi panjang
maka luas daerah limbah dapat dinyatakan 1

L1 = p1l1.............................................................................. 1
= (p – 2 x)( l – 2 x) 1
= pl – (2p + 2l) x + 4 x 2 .......................................
10.800 = 16.000 – 560 x + 4 x 2................................. 1

10.800 = 16.000 – 560 x + 4 x 2x 2 – 140 x + 1.300 1


= 0 .......................
x 2 – 10 x - 130 x + 1.300 = 0 1
x (x – 10) - 130 (x – 10) = 0.................................
 (x – 10) (x – 130) = 0 ............................................. 1
 (x – 10) = 0 atau (x – 130) = 0
x = 10 atau x = 130 ...............................................

Agar memperoleh luas daerah limbah yang


diinginkan maka ukuran zona pengaman adalah 10
m.
Berarti paling tidak ukuran daerah limbah 1
p1 = p – 2 xdan l1 = l – 2 x .................................... 1
p1 = 200 – 2 (10) dan l1 = 80 – 2 (10)..............
p1 = 180 dan l1 = 60 1
Sehingga ukuran daerah limbah adalah 180m 
60m..........

Kesimpulan:
Peraturan pemerintah dan kebijakan pimpinan PT
Indo Rayon untuk membangun daerah limbah di atas 1
tanah yang tersedia dapat diwujudkan dengan
ukuran daerah limbah 180m  60m dan ukuran lebar
zona pengaman disekeliling daerah limbah adalah 10
m.

Skor Maksimum 15

Skor Perolehan
Nilai=  100
15

70 Pusat Penilaian Pendidikan


Contoh Soal 2 (IPA SMP)
Perhatikan tiga bentuk paruh pada gambar di bawah ini!

Bandingkan ciri dan fungsi paruh yang sesuai dengan jenis


makanan burung burung seperti pada gambar, dan sebutkan
contohnya!

Pedoman penilaian

No Kunci Jawaban Skor

a. Paruh sangat kuat dengan rahang atas


berujung tajam 1
berfungsi untuk merobek mangsanya 1
contohnya elang 1
b. Paruh besar dan panjang, rahang atas
1
melengkung, rahang bawah seperti
kantung.
1
berfungsi untuk menangkap ikan dan
menahannya supaya tidak dapat 1
meloloskan diri lagi
Contohnya burung pelikan 1
1
c. Paruh memanjang dan lancip 1
berfungsi untuk menghisap madu bunga
Contohnya burung kolibri
Skor maksimum 9

71 Pusat Penilaian Pendidikan


Contoh soal 3 (Bahasa Indonesia SMP)

Tulislah sebuah cerita pendek berdasarkan peristiwa yang


pernah kamu alami sebanyak kurang lebih 150 kata.Dalam
menulis perhatikan ejaan, tanda baca, struktur kalimat, dan
hubungan/keterkaitan (koherensi) antarkalimat. Buatlah judul
yang menarik!

Pedoman Penilaian

NO. ASPEK YANG DINILAI SKOR


Kesesuaian antara judul dengan isi 0–2
cerita
 Judul sesuai dengan isi cerita 2
1.
 Judul agak sesuai dengan isi 1
cerita 0
 Judul tidak sesuai dengan isi
cerita
Ketepatan penulisan ejaan 0–3
 Tidak ada kesalahan ejaan 3
2.  Bila ada kesalahan ejaan 1-3 kata 2
 Bila ada kesalahan ejaan 4-6 kata 1
 Bila ada kesalahan ejaan lebih dari 6 0
kata
Ketepatan penulisan tanda baca 0–3
 Tidak ada kesalahan tanda baca 3
3.  Bila ada kesalahan 1-5 tanda baca 2
 Bila ada kesalahan 6-10 tanda baca 1
 Bila ada kesalahan lebih dari 10 0
tanda baca
Ketepatan struktur kalimat 0–3
 Semua kalimat memiliki struktur 3
yang tepat
 Ada 1 kalimat yang strukturnya 2
4.
tidak tepat
 Ada 2 kalimat yang strukturnya
tidak tepat 1
 Lebih dari 2 kalimat yang
strukturnya tidak tepat 0

72 Pusat Penilaian Pendidikan


Kepaduan antarkalimat 0–3
 Semua kalimat padu 3
5.  Ada 1 kalimat yang tidak padu 2
 Ada 2 kalimat yang tidak padu 1
 Lebih dari 2 kalimat yang tidak 0
padu

Skor Maksimum 14

C. PENILAIAN KETERAMPILAN (KINERJA)

Penilaian keterampilan atau kinerja (performance


assessment) adalah penilaian yang menuntut peserta didik untuk
mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuannya ke
dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang
diinginkan.

Para ahli menggunakan istilah “Performance Assessment”


secara berbeda-beda dengan merujuk kepada pendekatan
penilaian yang berbeda pula.Menurut Fitzpatrick dan Morison
(1971) sebenarnya tidak ada perbedaan yang berarti antara
“Performance Assessment” dengan tes lainnya yang dilaksanakan
peserta didik di dalam kelas, yang membedakan adalah sejauh
mana tes itu dapat mensimulasikan situasi dari kriteria-kriteria
yang diharapkan.Sementara menurut Trespeces (1999)
“Performance Assessment” adalah berbagai macam tugas dan
situasi dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan
pemahamannya dan mengaplikasikan pengetahuan, serta
keterampilannya dalam berbagai macam konteks.

Karakteristik Dasar
Menurut Maertel (1992), performance assessment
mempunyai dua karakteristik dasar yaitupeserta didik diminta
untuk (1) mendemontrasikan kemampuannya dalam
mengkreasikan suatu produk atau terlibat dalam suatu aktivitas

73 Pusat Penilaian Pendidikan


(proses/perbuatan/praktik), dan (2)menghasilkan suatu
produk, atau kedua-duanya. Dalam hal memilih, apakah yang
akan dinilai itu produk atau proses (perbuatan) tergantung pada
karakteristik domain yang diukur (Messirh, 1994). Misalnya,
dalam bidang seni seperti acting dan menari, proses (perbuatan)
dan produknya sama penting. Selanjutnya, dalam creative writing
menilai produk adalah fokus yang utama.

Kualitas Penilaian Kinerja


Penilaian kinerja yang berkualitas harus memperhatikan
kriteria berikut:
1) Generability, artinya kinerja peserta didik dalam melakukan
tugas yang diberikan pendidik dapat digeneralisasikan
dengan tugas-tugas lainnya, terutama bila peserta didik diberi
tugas dalam penilaian keterampilan yang berlainan.
2) Authenticity, artinya tugas yang diberikan kepada peserta
didik sudah sesuai dengan apa yang sering dihadapinya dalam
konteks kehidupan sehari-hari.
3) Multiple foci, artinya tugas yang diberikan kepada peserta
didik mengukur lebih dari satu aspek kemampuan yang
diinginkan.
4) Teachability, artinya tugas yang diberikan merupakan tugas
yang hasilnya relevan dengan yang diajarkan pendidik di
kelas.
5) Fairness, artinya tugas yang diberikan sudah adil (fair) untuk
semua peserta didik, tidak “bias” untuk semua kelompok jenis
kelamin, suku bangsa, agama, atau status sosial ekonomi.
6) Feasibility, artinya tugas-tugas yang diberikan kepada peserta
didik dalam penilaian keterampilan atau penilaian kinerja
dapat dilaksanakan oleh peserta didik, misalnya yang
berkaitan dengan faktori biaya, ruangan (tempat), waktu,
atau peralatannya.

74 Pusat Penilaian Pendidikan


7) Scorability, artinya tugas yang diberikan kepada peserta didik
dapat diskor dengan akurat dan reliabel. Karena memang
salah satu yang sensitif dari penilaian keterampilan atau
penilaian kinerja adalah penskorannya.

Langkah-langkah dalam Penilaian Kinerja

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam penilaian


keterampilan atau penilaian kinerja antara lain adalah:

1) Mengidentifikasi semua langkah-langkah penting yang akan


mempengaruhi hasil akhir (output).
2) Menuliskan dan menpendidiktkan semua aspek kemampuan
spesifik yang penting dan diperlukan untuk menyelesaikan
tugas dan menghasilkan hasil akhir (output) yang terbaik.
3) Mengusahakan aspek kemampuan yang akan diukur tidak
terlalu banyak, sehingga semuanya dapat diobservasi selama
peserta didik melakspeserta didikan tugas.
4) Mendefinisikan dengan jelas semua aspek kemampuan yang
akan diukur. Kemampuan tersebut atau produk yang akan
dihasilkan harus dapat diamati (observable).
5) Memeriksa dan membandingkan kembali semua aspek
kemampuan yang sudah dibuat sebelumnya oleh orang lain di
lapangan (jika ada pembandingnya).

PenilaianKinerja

Dalam melakukan penilaian kinerja digunakan dua


metoda/pendekatan, yaitu holistic dananalytic.Metoda holistic
digunakan apabila pemberi skor (rater) hanya memberikan satu
macam skor atau nilai (single rating) berdasarkan kesan mereka
secara keseluruhan dari hasil kinerja peserta didik. Sedangkan

75 Pusat Penilaian Pendidikan


pada metoda analytic pemberi skor (rater) memberikan
penilaian (skor) pada berbagai aspek kinerja yang berbeda.
Dalam penilaian kinerja dengan metoda analytic dapat
menggunakan (1) checklist dan (2) rating scales.

1. Checklist
Penilaian/penskoran menggunakan checklists merupakan
cara yang paling sederhana. Melalui cara penskoran ini semua
aspek kinerja/perbuatan tertentu dari peserta didik atau produk
yang dihasilkan peserta didik dapat diamati oleh penilai atau
penskor. Peserta didik akan mendapat skor (centang) jika ia
mengerjakan tahapan tertentu dari tugas yang diberikan dan
sebaliknya. Jadi metoda checklist hanya memberikan dua
kategori penilaian (dichotomous scoring).

Ada beberapa kelemahan dari metoda checklist, yaitu: (1)


penilai atau penskor hanya bisa memilih dua pilihan yang
absolut, yaitu aspek kinerja teramati dan tidak teramati, jadi
tidak ada nilai di tengahnya. (2) sukar sekali untuk
menyimpulkan kinerja seseorang dalam satu skor, misalnya
untuk mengurutkan kinerja dari beberapa peserta didik.

Contoh Soal (Biologi SMA)

Siapkan 2 jenis jamur yang dapat kamu temukan di lingkungan!


(1) Buatlah catatan mengenai tempat jamur tersebut ditemukan
dan keadaan di sekitarnya yang dapat menjelaskan
habitatnya, misalnya: di lingkungan terbuka, lembab, banyak
mendapat sinar matahari, di sekitarnya banyak tumbuhan, di
air, atau keterangan lain.
(2) Amati ciri-ciri morfologi kedua jenis jamur tersebut,
meliputi: bentuk, warna, ukuran, bau, dan lain sebagainya.
(3) Bila diperlukan, lakukan pengamatan dengan menggunakan
mikroskop!
(4) Identifikasilah kedua jamur tersebut berdasarkan ciri-ciri
morfologinya!

76 Pusat Penilaian Pendidikan


(5) Buatlah gambar atau skema kedua jamur tersebut dan
tunjukkan bagian-bagian tubuhnya!
(6) Tentukan golongan kedua jamur itu!
(7) Tentukan cara reproduksi kedua jamur itu melalui studi
pustaka!
(8) Buatlah laporan dari hasil pengamatanmu!

Contoh pedoman penilaian dengan menggunakan checklist.

Nama:
Petunjuk:
Berilah tanda centang (V) di depan huruf yang
menunjukkan kemampuan peserta didik bila kemampuan
itu teramati.
I. Persiapan pengamatan jamur
_________ A. Bahan dan alat yang diperlukan lengkap.
_________ B. Jamur yang dipilih tepat.
_________ C. Semua alat dan bahan tersusun rapi untuk
mempermudah kerja.
_________ D. Catatan mengenai habitat jamur lengkap.
_________ E. Langkah-langkah pengamatan telah dibuat
dengan tepat
II. Pelaksanaan pengamatan jamur
_________ A. Ciri-ciri yang diamati jelas
_________ B. Ciri-ciri yang diamati lengkap
_________ C. Prosedur pengamatan tepat
_________ D. Penggunaan alat tepat
_________ E. Catatan hasil pengamatan dibuat langsung

III. Hasil
_________ A. Hasil pengamatan lengkap
_________ B. Laporan hasil pengamatan jelas dan lengkap

77 Pusat Penilaian Pendidikan


2. Rating Scale
Penilaian kemampuan keterampilan/kinerja dengan cara
lain adalah dengan menggunakan rating scale (skala rentang).
Walaupun cara ini serupa dengan “checklists”, tetapi “rating scale”
memungkinkan penilai atau pemberi skor untuk menilai
kemampuan peserta didik secara kontinum (continuous scoring).

Contoh pedomanan penilaian dengan menggunakan rating


scale (numerical rating scale)

Petunjuk: Untuk setiap kemampuan peserta didik, berilah tanda


√ berdasarkan kriteria:

Skor 4 bila peserta didik melakukan dengan tepat


Skor 3 bila peserta didik melakukan kurang tepat
Skor 2 bila peserta didik melakukan tidak tepat
Skor 1 bila peserta didik tidak melakukan
Nama Peserta didik:

Pelaksanaan oleh
Aspek yang dinilai peserta didik (Skor)
1 2 3 4

A. Persiapan pengamatan jamur


1. Bahan dan alat yang diperlukan √
lengkap

2. Jamur yang dipilih tepat
3. Semua alat dan bahan tersusun √
rapi untuk mempermudah kerja
4. Catatan mengenai habitat jamur √
lengkap
5. Langkah-langkah pengamatan √
telah dibuat dengan tepat
B. Pelaksanaan pengamatan jamur

78 Pusat Penilaian Pendidikan



6. Ciri-ciri yang diamati jelas

7. Ciri-ciri yang diamati lengkap

8. Prosedur pengamatan tepat

9. Penggunaan alat tepat
10. Catatan hasil pengamatan √
dibuat langsung

C. Hasil

11. Hasil pengamatan lengkap
12. Laporan hasil pengamatan √
jelas dan lengkap
Skor Perolehan 6 9 28

Skor Maksimum 48

Jumlah skor
Nilai akhir =  100
Total Maksimum

Sumber kesalahan dalam penskoran Penilaian


Kinerja
Kesukaran yang paling utama ditemukan dalam penilaian
keterampilan/kinerja (performance assessment) adalah dalam
hal penskorannya.Paling tidak ada tiga sumber kesalahan dalam
penskoran penilaian keterampilan (Popham, 1995) yaitu :

(1) Masalah dalam instrumen


Instrumen pedoman penskoran tidak jelas sehingga sukar untuk
digunakan oleh penilai. Selain itu aspek-aspek yang harus dinilai
juga sukar untuk diskor, karena aspek-aspek tersebut sukar

79 Pusat Penilaian Pendidikan


untuk diamati (unobservable). Hal yang demikian akan
mengakibatkan hasil penskoran menjadi tidak valid dan tidak
akurat (tidak reliabel).
(2) Masalah prosedural
Prosedur yang digunakan dalam penilaian keterampilan atau
penilaian kinerja tidak baik sehingga dapat mempengaruhi hasil
penskoran.Masalah yang biasanya terjadi adalah pemberi skor
(rater) harus menskor aspek-aspek yang terlalu banyak. Bagi
rater, makin sedikit aspek yang harus dinilai, makin baik. Dalam
hal ini perlu ditekankan bahwa dalam membuat pedoman
penskoran, semua aspek penting yang mempengaruhi kualitas
hasil akhir harus dicantumkan. Masalah lainnya adalah jumlah
rater hanya satu orang, sehingga sukar untuk membuat
perbandingan terhadap hasil penskorannya (adjustment).
(3) Masalah bias pada pemberi skor
Pemberi skor (rater) cenderung sukar dalam hal menghilangkan
masalah “personal bias”. Pada waktu melakukan penskoran
terhadap hasil pekerjaan peserta didik, ada kemungkinan rater
mempunyai masalah “generosity error”, artinya rater cenderung
memberi nilai yang tinggi-tinggi, walaupun kenyataan yang
sebenarnya hasil pekerjaan peserta didik tidak baik.
Kemungkinan juga rater mempunyai masalah “severity error”,
artinya rater cenderung memberi nilai yang rendah-rendah,
walaupun kenyataannya hasil pekerjaan peserta didik tersebut
baik. Kemungkinan lain, rater juga cenderung dapat memberi
skor yang sedang-sedang saja, walaupun kenyataan yang
sebenarnya hasil pekerjaan peserta didik ada yang baik dan ada
yang tidak baik. Masalah lain adalah adanya kemungkinan rater
tertarik atau simpati kepada peserta tes sehingga sukar baginya
untuk memberi nilai yang objektif (halo effect).

Bentuk-Bentuk Penilaian Kinerja


Dalam penerapannya di lapangan beberapa penilaian dapat
juga dikatagorikan ke dalam penilaian kinerja (performance
assessment) yaitu penilaian kinerja yang menghasilkan suatu

80 Pusat Penilaian Pendidikan


produk dinamakan Penilaian Produk (product assessment).Ada
pula bentuk tugas yang harus diselesaikan dalam periode
tertentu, penilaian kinerja semacam ini disebut juga Penilaian
Proyek(project assessment).Adapun penjelasan rinci dari kedua
bentuk penilaian kinerja tersebut adalah sebagai berikut.

Penilaian Produk

Penilaian Produk (hasil kerja peserta didik) adalah penilaian


terhadap kualitas hasil karya peserta didik termasuk di dalamnya
penilaian terhadap proses pengerjaan karya tersebut. Dalam
penilaian produk terdapat dua aspek keterampilan yang dinilai
yaitu:

1) Keterampilan peserta didik untuk menggunakan alat serta


prosedur kerja dalam menghasilkan suatu karya (praktik);
2) Aspek kualitas teknis dan estetik karya peserta didik.

Penilaian ini biasa dilakukan pada matapelajaran kerajinan


tangan dan kesenian, menggambar, praktek di laboratorium Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA),dan matapelajaran produktif di sekolah
kejuruan yang hasil akhirnya berupa produk tertentu.
Hasil kerja peserta didik yang dimaksud adalah suatu benda yang
dibuat misalnya dari kain, kertas, metal, kayu, plastik, keramik,
dan hasil karya seni seperti lukisan, gambar, dan patung. Hasil
kerja yang berupa aransemen musik, koreografi, karya sastra
tidak termasuk hasil kerja yang dimaksud disini..

Penetapan aspek penilaian


Pada proses pembuatan suatu produk, ada tiga tahapan yang
harus dilalui peserta didik yaitu tahap persiapan atau
perencanaan, tahap produksi, dan tahap akhir. Ketiga tahap itu
merupakan suatu proses yang terpadu, sehingga penilaiannya
pun harus terpadu.

81 Pusat Penilaian Pendidikan


Berikut adalah contoh penilaian hasil keterampilan peserta
didik.

Tahap persiapan: keterampilan peserta didik untuk


merancang bentuk hiasan yang akan disulam ;
keterampilan membuat gambar dan menyusun bahan
yang diperlukan untuk membuat tas;
Tahap produksi: keterampilan untuk memilih motif dan
jenis bahan yang cocok untuk gaun pesta;

Tahap akhir: keterampilan peserta didik untuk


menghasilkan tas yang dapat berfungsi dan sekaligus
mengandung aestetika atau indah. Pada tahap ini dinilai
juga kemampuan peserta didik untuk mengevaluasi
hasil karyanya.

Perencanaan untuk menilai produk


Dalam merencanakan penilaian produk, pendidik harus
melakukan seleksi terhadap karya yang akan dinilai dengan
tujuan untuk menentukan tingkat kompetensi peserta didik.
Kriteria tingkat kompetensi peserta didik didasarkan pada
tingkat kesulitannya dalam membuat produk. Adapun kriteria
tersebut sebagai berikut:

1) Relevan dan mewakili kompetensi yang diukur


Penilaian tingkat kompetensi peserta didik selain didasarkan
pada sejumlah karya yang relevan, juga didasarkan pada
keseluruhan aspek kompetensi yang diukur. Misalnya, penilaian
produk harus didasarkan pada pemahaman dasar teorinya,
proses kerjanya/keterampilannya, dan kualitas produknya. Jadi
penilaian produk harus komprehensif.

82 Pusat Penilaian Pendidikan


Strategi yang dapat dilakukan untuk memastikan relevansi dan
lingkup prroduknya adalah (a) Menentukan jenis tugas yang akan
diberikan/dikembangkan kepada peserta didik(yang belum dan
sudah terampil); (b) menetapkan tingkatan kompetensi yang
akan diukur (setingkat di bawah dan atau setingkat diatasnya);
dan (3) menetapkan aspek kompetensi yang akan diukur untuk
setiap tahap pengerjaan tugas (tahap persiapan/perencanaan,
tahap produksi, dan tahap akhir).

2) Jumlah dan objektivitas produk


Semakin banyak jenis produk yang dinilai untuk masing-masing
kompetensi, akan semakin handal kesimpulan yang dihasilkan.
Penilaian produk yang objektif adalah penilaian yang tidak
dipengaruhi oleh jenis bahan, pilihan karya peserta didik, dan
pendidik yang menilai. Agar penilaian objektif, pendidik harus
tetap berpegang pada kompetensi atau keterampilan
menggunakan alat/bahan dan prosedur kerja yang benar serta
kualitas teknis dan estetik karya peserta didik.

Pengelolaan Produk
Dalam menilai produk, pendidik harus mengelola karya
peserta didik yang jumlahnya tidak sedikit dan mencatat hasil
penilaiannya. Biasanya pendidik sudah merencpeserta didikan
jenis produk yang harus dikumpulkan oleh peserta didik selama
satu tahun ajaran. Jenis produknya tergantung pada spesifikasi
tugas yang diberikan kepada peserta didik. Spesifikasi tugas ini
yang dijadikan sebagai dasar penilaian hasil karya peserta didik.
Spesifikasi tugas, yang tercantum pada lembar kerja, dapat
bersifat umum (tidak rinci) atau bersifat rinci. Spesifikasi tugas
yang bersifat umum memberi keleluasaan bagi peserta didik
untuk berkreasi.

Spesifikasi tugas sebaiknya berisi hal-hal sebagai berikut:


1) Ada batasan (deskripsi pada lembar kerja tentang bahan/alat
kerja apa saja yang dapat digunakan untuk membuat karya
tertentu) pada tahap persiapan/perencanaan. Batasan ini

83 Pusat Penilaian Pendidikan


diperlukan untuk membantu peserta didik agar dapat
memfokuskan diri pada proses kerja. Selain itu, untuk
mempermudah pendidik dalam menilai keterampilan atau
aspek kompetensi yang diukur dalam tugas tersebut.
2) Merinci langkah-langkah yang harus dilakukan peserta didik
dalam membuat karya tertentu. Hal ini akan membantu
peserta didik untuk memfokuskan diri pada langkah-langkah
yang akan dinilai.
3) Membuat kriteria penilaian secara jelas. Rincian tentang
aspek, kompetensi, langkah/prosedur kerja, kualitas produk
yang akan dinilai perlu ditulis secara eksplisit disertai
nilainya.

Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk


memastikan keadilan dan kehandalan penilaian produk antara
lain sebagai berikut:

1) Menggunakan berbagai produk peserta didik untuk menilai


satu kompetensi. Agar hasil penilaian dapat memberikan
kesimpulan tentang tingkat kompetensi peserta didik secara
akurat, penilaian harus didasarkan pada kumpulan beberapa
produk peserta didik (portofolio untuk setiap peserta didik),
dan bukan hanya berdasar pada satu produk.
2) Membuat rincian/spesifikasi tentang produk yang akan
dinilai.
3) Membuat kriteria penilaian (beserta skornya) secara
eksplisit, jelas dan rinci dalam hal: aspek, kompetensi, langkah
kerja, dan kualitas produk yang akan dinilai.

Metode Penilaian Produk


Pendidik sebaiknya menfokuskan diri pada kompetensi
produk yang sangat penting saja dan menyimpan serta
mencatatnya secara efisien.Beberapa metode yang digunakan
pendidik untuk menilai dan mencatat produk/hasil karya peserta
didik antara lain:

84 Pusat Penilaian Pendidikan


1) Skala Penilaian Analitis/SPA (Analytic Rating)
Skala Penilaian Analitis (SPA) adalah penilaian yang dibuat
berdasarkan beberapa aspek pada hasil karya peserta
didik.Dalam hal ini pendidik menilai produk peserta didik dari
berbagai perspektif atau kriteria.Misalnya, pada jurusan
fotografi, foto hasil karya peserta didik dinilai dari segi
keterampilan teknis dan kualitas hasil foto secara visual.
SPA biasanya digunakan untuk menilai kemampuan pada
tahap persiapan/perencanaan dan tahap akhir.Pada kedua tahap
tersebut pendidik dapat menilai desain atau hasil kerja peserta
didik dari berbagai perspektif atau kriteria.Untuk setiap
keterampilan yang diukur, ditentukan beberapa kriteria yang
harus dipenuhi.Berikut adalah contoh Skala penilaian Analitis.

Contoh.Penggunaan analytic rating di jurusan seni dan


desain.

Tingkat kemampuan
No. Kriteria
1 2 3 4 5
1 Pemikiran dan ekspresi yang
kreatif
2 Ketekunan dalam riset
3 Keterampilan teknis
4 Pemahaman karakteristik dan
fungsi dari media yang dipilih
5 Pemahaman dasar-dasar desain
6 Evaluasi diri sendiri
(Sumber: ACER)
Catatan: Skala bergerak dari 1 – 5, skala nilai yang terendah (1)
menunjukkan kualitas keterampilan yang rendah, sedang
skala nilai yang tinggi (5) menunjukkan kualitas keterampilan
yang tinggi.

85 Pusat Penilaian Pendidikan


Ada beberapa cara pencatatan hasil penilaian dalam SPA,
yaitu pencatatan dengan menggunakan tiga kategori (rendah –
sedang – tinggi), lima kategori (nilai 1 – 5), atau enam kategori
(sangat tinggi – tinggi – sedang – rendah – sangat rendah – tidak
tampak).

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun SPA:

(1) Kriteria yang ditetapkan harus berdasarkan keterampilan


yang menjadi tujuan pembelajaran. Semakin mirip antara
kriteria dengan keterampilan yang menjadi tujuan
pembelajaran, semakin sahih bukti atau data tersebut.
Misalnya, tujuan pembelajaran: “Mampu menggunakan
elemen, keterampilan, teknik, dan proses seni untuk
membentuk karya seni”, penilaiannya dapat dilakukan
melalui beberapa tugas dengan kriteria “Dapat
mengeksplorasi berbagai teknik dan menentukan satu teknik
yang tepat untuk media tertentu”. Kriteria tersebut
merupakan contoh perilaku yang mencerminkan
keterampilan pada tujuan pembelajaran tersebut.

(2) Untuk setiap kategori pada criteria, sebaiknya dibuat


deskripsi keterampilan yang diharapkan pada kategori
tersebut.

2) Skala Penilaian Holistik/SPH (Holistic Rating)

Skala Penilaian holistik (SPH) adalah penilaian secara


menyeluruh terhadap produk.Penilaian holistik biasanya
digunakan untuk penilaian pada tahap akhir.Misalnya, penilaian
terhadap kualitas produk dan penilaian terhadap kemampuan
peserta didik untuk mengevluasi produk/hasil karyanya.
Holistic rating terhadap kualitas hasil seni peserta didik:
“Sejauh mana hasil seni peserta didik dapat mengkomunikasikan
ide peserta didik”. Pendidikdapat membuat skala penilaian yang
memiliki interval 0 – 4, dimana masing-masing kategori diikuti
deskripsi perilakunya.Berikut adalah contoh Holistic rating.

86 Pusat Penilaian Pendidikan


Sangat tinggi
Hasil karya mengandung pesan yang kuat dengan menggunakan
elemen seni yang meyakinkan; keterampilannya prima, dan
penyelesaian hasil yang baik.
Baik
Punya tujuan yang jelas, menunjukkan penggunaan elemen yang
cukup, penyampaian pesan yang memadai.
 Cukup
Menggunakan elemen seni untuk mengkomunikasikan ide pokok,
memiliki keterkaitan antara kesan dengan ide dan tujuan, tetapi
tanpa “rasa”.
 Rendah
Kurang tampak tujuannya, tidak ada keterkaitan antara kesan
dengan ide.
 Tidak tampak
Tidak mengandung makna, tidak ada “rasa”, tidak
tampak adanya kesan.

3) Checklist (Daftar Cek)

Pendidik biasanya menuliskan sejumlah keterampilan yang


akan diukur dalam setiap tugas yang diberikan, dan kemudian
menilai apakah selama penyelesaian tugas tersebut peserta didik
sudah menunjukkan keterampilan yang dimaksud. Jadi dalam
checklist hanya dinilai keterampilan yang dapat dilakukan
peserta didik (bukan kualitas karya peserta didik).

Bila keterampilan yang akan diukur masih bersifat umum


(misalnya mampu merancang bentuk dan menentukan
bahan/alat yang diperlukan untuk membuat lampu duduk),
pendidik masih mempertimbangkan berapa kali harus
melakukan pengamatan dan dalam konteks apa saja pengamatan
itu dilakukan. Tetapi bila keterampilan yang akan diukur bersifat
spesifik (misalnya menjahit keliman/lipatan pada baju), pendidik
harus mempertimbangkan apakah perilaku tersebut merupakan

87 Pusat Penilaian Pendidikan


indikator dari keterampilan yang diukur pada tujuan
pembelajaran.

Pada waktu menggunakan metode analitis atau holistik,


pendidik dapat meminta bantuan orang lain untuk melakukan
penilaian, seperti: peserta didik, teman-teman sekelasnya, atau
orang tuanya. Penilaian yang dilakukan oleh orang lain akan
membantu pendidik memperoleh informasi yang tidak dapat
diperoleh pendidik di kelas, seperti kemampuan peserta didik
untuk menganalisis dan mengevaluasi hasil kerjanya. Penilaian
dari orang tua akan memberi informasi tentang proses/prosedur
kerja di luar konteks sekolah. Misalnya keterampilan peserta
didik untuk memasak dan menyajikan makan malam.

Dalam melakukan penilaian produk/hasil karya perlu


diperhatikan hal berikut:(1) Pedoman penskoran agar dibuat
sejelas mungkin supaya skor dari penilai yang berbeda dapat
diperbandingkan;(2) Pelatihan untuk pendidik dalam melakukan
penilaian. Pendidik harus memiliki konsep yang sama tentang
kriteria yang ditetapkan dalam penilaian.

Pelaporan
Penilaian produk dapat digunakan untuk melaporkan
prestasi belajar peserta didik. Estimasi tentang prestasi peserta
didik akan sahih, handal dan objektif bila bukti yang dijadikan
sebagai dasar dalam penilaian berkualitas baik. Kesahihan
estimasi itu tergantung pada relevansi antara keterampilan yang
diamati pendidik dengan kompetensi yang dilaporkan.
Kehandalan estimasi tergantung pada jumlah informasi atau
karya peserta didik yang dapat dinilai. Semakin banyak bukti
yang dapat dinilai, semakin handal estimasi tersebut. Objektivitas
estimasi tergantung pada sejauhmana hasil penilaian
dipengaruhi oleh jenis karya yang dipilih peserta didik dan
penilai.

88 Pusat Penilaian Pendidikan


1) Pelaporan menggunakan cara holistik
Pelaporan prestasi peserta didik dengan menggunakan cara
holistik adalah dengan membuat rata-rata nilai dari seluruh karya
peserta didik yang dinilai.Misalnya, terdapat 4 tugas yang dinilai.
Seorang peserta didik memperoleh nilai sebagai berikut: 3 tugas
berada pada level 3, dan 1 tugas berada pada level 4. Kesimpulan
yang tepat adalah meletakkan peserta didik pada level 3 bagian
atas (yang mendekati level 4).
2) Pelaporan menggunakan checklist
Pelaporan peserta didik dapat juga dilakukan dengan
checklist. Bila menggunakan cara ini, pendidik harus dapat
menentukan kriteria kapan seorang peserta didik dikatakan
sudah kompeten. Apakah cukup menguasai beberapa
kemampuan saja, hampir semua kemampuan, atau menguasai
semua kemampuan. Biasanya pendidik menggunakan kriteria
bahwa untuk dikatakan kompeten pada level tertentu peserta
didik harus menguasai semua kemampuan kunci pada level
tersebut.

Penilaian Proyek

Penilaian Proyek (project assessment) merupakan salah satu


bagian dari penilaian kinerja (performance assessment).
Penilaian Proyek didefinisikan sebagai penilaian terhadap tugas
yang harus diselesaikan dalam periode tertentu. Tugas yang
dimaksud adalah suatu investigasi sejak dari pengumpulan,
pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data,
sedangkan periode untuk menyelesaikannya, misalnya, selama
dua minggu, satu bulan, satu semester, atau lebih.

Penilaian proyek juga dilakukan pada proses dan produk


akhirdari tugas tersebut. Baik pada proses maupun produk,
penilaian difokuskan sejak peserta didik merencanakan,
membuat spesifikasi, mencatat, dan mengestimasi proyek yang
akan digarapnya.

89 Pusat Penilaian Pendidikan


Tujuan Penilaian Proyek
Pada pembelajaran di kelas, pendidik mungkin menekankan
penilaian proyek pada prosesnya dan menggunakannya sebagai
sarana untuk mengembangkan dan memonitor keterampilan
peserta didik dalam merencanakan, menyelidiki, dan
menganalisis proyek. Dalam konteks ini, peserta didik dapat
menunjukkan pengalaman dan pengetahuan tentang suatu topik,
memformulasikan pertanyaan, dan menyelidiki topik tersebut
antara lain melalui bacaan, wisata, dan wawancara. Kemudian
kegiatan tersebut dapat digunakan untuk menilai kemampuan
peserta didik pada waktu bekerja mandiri atau bekerja dalam
kelompok.
Pendidik juga dapat menggunakan produk suatu proyek
untuk menilai kemampuan peserta didik dalam
mengomunikasikan temuan-temuan dengan bentuk yang tepat
melalui laporan.Apabila proyek digunakan pada penilaian
sumatif, fokus biasanya terletak pada produknya.

Perencanaan Penilaian Proyek


Dalam perencanaan penilaian proyek terdapat tiga hal yang
perlu dipertimbangkan:
(1) Kemampuan pengelolaanyaitujika peserta didik diberi
kebebasan yang luas, mereka akan mendapatkan kesulitan
dalam memilih topik proyek yang tepat. Mungkin mereka
memilih topik yang terlalu luas sehingga sedikit informasi
yang dapat ditemukan, dan mungkin juga kurang tepat untuk
memperkirakan waktu pengumpulan data dan penulisan
laporan. Dengan demikian hendaknya guru memberi pilihan
topik proyek untuk peserta didik.
(2) Relevansi yaitu pendidik harus mempertimbangkan
pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman pada
pembelajaran agar proyek dapat dijadikan sebagai sumber
bukti; dan

90 Pusat Penilaian Pendidikan


(3) Keaslian yaitu pendidik perlu mempertimbangkan seberapa
besar petunjuk atau dukungan yang telah diberikan pada
peserta didik.

Penentuan nilai pada proyek


(1) Metode Judgement
Penilaian Proyek dapat dilakukan secara holistik maupun
analitik pada proses maupun produknya. Secara holistik,
nilai tunggal mencerminkan kesan umum, sedangkan secara
analitik, nilai diberikan pada beberapa aspek.

(2) Keterbandingan Judgement


Pada pembelajaran di kelas, keterbandingan nilai proyek
tidaklah begitu penting. Akan tetapi, pendidik tetap harus
yakin bahwa nilainya dapat dimengerti peserta didik. Pada
situasi yang beresiko tinggi, nilai diberikan oleh penilai yang
berbeda dan dengan konsistensi yang tinggi. Bila peserta
didik dapat memilih topik yang berbeda, pendidik dapat
memberi standar penilaian pada topik yang berbeda
tersebut.

Penilaian dengan fokus pada proses


Dalam pembelajaran di kelas, proyek dinilai dari berbagai
konteks dan untuk berbagai tujuan, yaitu dari penilaian
formatif/diagnostik (yang berupa tugas bersama) hingga
penilaian sumatif (yang berupa penelitian individu). Penilaian
proyek juga dapat menilai keterampilan maupun pengetahuan
yang memerlukan aplikasi, seperti: merencanakan dan
mengorganisasikan penelitian, bekerja dalam kelompok,
penyelesaian masalah, evaluasi terhadap temuan, dan arahan
diri. Adapun manfaat dari kerja proyek adalah untuk menilai
kemampuan peserta didik pada waktu melakukan kerja individu
maupun kerja kelompok, kemampuan dalam

91 Pusat Penilaian Pendidikan


mengatur/mengorganisasikan waktu dan kemampuan untuk
merancang tugas secara berurutan.

Berikut adalah cara-cara menilai keterampilan proyek yang


sifatnya lebih umum berfokus pada proses, yaitu: perencanaan
penilaian, pembuatan spesifikasi penilaian proyek, cara penilaian
dan pencatatan, dan cara melaporkan prestasi.

(1) Perencanaan Penilaian


Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik pada waktu
merencanakan penilaian proyek adalah: (a) adanya kesesuaian
dengan kompetensi yang akan diukur; (b) jenis keterampilan
yang akan diukur; dan , dan tujuan pembelajaran (dalam
kurikulum) dengan aktivitas-aktivitas proyek.

Aktivitas inilah yang dijadikan sebagai sumber bukti


tercapainya tujuan pembelajaran. Agar aktivitas proyek benar-
benar dapat dijadikan bukti, pendidik harus mampu mengelola
proyek. Peserta didik jangan diberi keleluasaan mutlak, misalnya,
untuk memilih topiknya sendiri (apabila topik terlalu sempit,
sukar untuk mendapatkan informasi yang memadai dan
waktunya terbatas).

(2) Pembuatan Spesifikasi Penilaian Proyek


Pendidik dapat menggunakan sejumlah strategi di dalam
membantu peserta didik untuk membuat perencanaan yang
efektif dalam kerja proyek, seperti: pemilihan topik, pembuatan
diagram tentang topik yang akan diteliti, pembuatan rincian
tentang tahapan kerja, dan monitoring terhadap kerja proyek.

Pemilihan topik dilakukan berdasarkan petunjuk yang dibuat


oleh pendidik. Hal ini bertujuan agar peserta didik dapat memilih
topik yang sesuai sehingga topik yang dipilih tidak terlalu luas
atau terlalu sempit.Pembuatan diagram tentang topik yang akan
diteliti bertujuan untuk mempermudah peserta didik di dalam
melihat hubungan antara ide atau topik yang diteliti.

92 Pusat Penilaian Pendidikan


Dalam pembuatan rincian tentang tahapan kerja, proses
penelitian skala kecil ini diformulasikan oleh pendidik dengan
cara memberikan lembar kerja proyek kepada peserta didik.
Tujuannya agar peserta didik dapat membuat kerangka proposal
proyek beserta strategi kerjanya. Dengan lembaran ini, peserta
didik dapat merencpeserta didikan tahapan-tahapan yang akan
dilakukan sebelum mereka memulai penelitian. Selain itu
pendidik dapat menilai kemampuan perencanaan proyek yang
dibuat peserta didik.

Memonitoring kemajuan kerja proyeknya. Terdapat


beberapa metode yang digunakan pendidik untuk membantu
peserta didik di dalam memonitoring kemajuan kerja proyeknya.
Di antara metode tersebut, antara lain: memberikan jadwal
untuk masing-masing tahapan, memberikan lembar kemajuan
kerja. Sumber perkembangan ini dapat berbentuk checklist yaitu
daftar seluruh kegiatan yang harus dilakukan peserta didik.
Setiap kali peserta didik selesai melakukan suatu tahapan,
pendidik memberi tanda (√) pada tahapan tersebut.

(3) Penilaian dan Pencatatan


Mutu dan manfaat informasi yang diperoleh dari pengamatan
kerja peserta didik dapat diperbaiki oleh pendidik dengan cara
memfokuskan pengamatan pada hasil pembelajaran yang
penting dan dengan cara mencatat pengamatan secara sistematik
menggunakan ‘checklist’, holistik atau skala penilaian analitik.
Informasi tersebut diperoleh pendidik melalui penilaian yang
dilakukan oleh peserta didik sendiri, penilaian antar-kelompok
peserta didik, atau melalui penilaian yang dilakukan oleh
pendidik, peserta didik sendiri, antarpeserta didik, atau
antarkelompok peserta didik dengan tujuan untuk
membangkitkan semangat mereka di dalam merefleksikan
keterampilan umum yang mereka lakukan pada waktu kerja
proyek.

93 Pusat Penilaian Pendidikan


(4) Pelaporan
Informasi mengenai keterampilan umum peserta didik dapat
diperoleh pendidik dari hasil pengamatan proyek.Informasi ini
selanjutnya dapat digunakan untuk melaporkan prestasi peserta
didik maupun untuk monitoring kemajuannya. Dalam
monitoring, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh
pendidik, yaitu: membuat perkiraan yang seimbang,
mengombinasikan nilai dari proyek dengan nilai proyek lainnya,
dan memonitoring perkembangan keterampilan dalam proyek.

Dalam membuat perkiraan yang seimbang proses penilaian


prestasi peserta didik dapat dilakukan secara langsung apabila
pengamatan dan perkiraan kerja proyek mengukur hasil belajar
yang terdapat pada kompetensi yang harus dikuasai.

Mengombinasikan nilai proyek dengan nilai


lainnyadilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran
secara menyeluruh mengenai prestasi peserta didik dalam
bidang tertentu. Penggabungan nilai dari beberapa proyek sangat
dimungkinkan karena banyaknya keterampilan proyek yang
terdapat di dalam pembelajaran, serta memonitor
perkembangan keterampilan pada lintas bidang pembelajaran.

Penilaian dengan fokus pada produk akhir


Penilaian proyek yang berfokus pada penilaian produk akhir
meliputi: mengumpulkan informasi mengenai subjek,
menginterpretasikan data, dan mempresentasikan hasil. Adapun
tahapan-tahapan yang harus diperhatikan pendidik meliputi:
perencanaan penilaian, spesifikasi hasil proyek, penilaian dan
pencatatan, dan pelaporan nilai.

1) Perencanaan Penilaian
Proyek yang digunakan untuk memonitor kemajuan
pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman peserta didik
mengenai materi pembelajaran harus sesuai dengan target
kurikulum. Adapun bukti pencapaian diantaranya dapat dilihat

94 Pusat Penilaian Pendidikan


melalui kemampuan pengelolaan proyek: struktur proyek,
presentasi laporan proyek, dan laporan peserta didik mengenai
materi khusus dari subjeknya.

Apabila struktur proyek terlalu luas dimana peserta didik


mempunyai kebebasan yang luas untuk menentukan strukturnya
sendiri, mereka akan mengalami kesulitan dalam mendefinisikan
topik yang sesuai, mendapatkan informasi (apabila topik
proyeknya terlalu sempit), atau di dalam menyelesaikan proyek
dengan waktu yang terbatas (yaitu apabila topik proyeknya
terlalu luas). Apabila peserta didik diberi keleluasaan untuk
menentukan sendiri jenis tugas proyek yang sangat tergantung
pada peserta didik lain, maka akan sulit sekali untuk menentukan
bagian mana dari laporan yang dibuat oleh peserta didik
tersebut.

2) Pembuatan Spesifikasi Hasil Proyek


Ada beberapa strategi yang digunakan oleh pendidik untuk
membantu peserta didik di dalam menentukan parameter
proyek. Strategi tersebut diantaranya meliputi pemilihan topik,
rincian dari proses proyek, dan monitoring kerja proyek.
Disamping itu, juga terdapat beberapa prosedur sistematik yang
dapat digunakan untuk meningkatkan nilai proyek sebagai suatu
sumber bukti mengenai produk akhir. Adapun prosedur tersebut
meliputi: pembatasan pengumpulan data, petunjuk laporan
proyek, pengomunikasian kriteria penilaian kepada peserta
didik, dan penilaian adanya bantuan dari pihak lain.

Pembatasan pengumpulan data


Cakupan dan metode pengumpulan data untuk proyek
dibatasi oleh pendidik. Hal ini memungkinkan peserta didik
untuk memfokuskan perhatiannya pada kerja proyek dan juga
membantu pendidik di dalam menilai keterampilan tertentu
sesuai target kurikulum.

95 Pusat Penilaian Pendidikan


Pemberian petunjuk mengenai laporan proyek
Petunjuk ini sangat bermanfaat bagi peserta didik di dalam
menyiapkan laporan proyek. Di dalam petunjuk ini biasanya
sudah terdapat kerangka laporan untuk presentasi beserta
gambar/diagram. Dalam hal tertentu, yaitu apabila diperlukan
laporan yang cukup panjang, peserta didik diminta untuk
menyerahkan kerangkanya terlebih dahulu yang meliputi:
rencana laporan dan draft laporan.

Pengomunikasian kriteria penilaian kepada peserta didik


Komunikasi ini memungkinkan peserta didik untuk
memfokuskan perhatiannya pada proyek sehingga dapat
meningkatkan nilai proyek sebagai suatu sumber bukti mengenai
kemampuan peserta didik untuk mengidentifikasi dan
mengumpulkan informasi yang relevan, menganalisa dan
menginterpretasikan data, dan mempresentasikan hasil secara
efektif.Kadang-kadang kriteria penilaian disertai dengan
persentasi dari masing-masing target komponen proyek.
Misalnya, suatu proyek di bidang teknik dinilai dengan bobot
80% untuk komponen ‘produk akhir’ dengan rincian: 50% untuk
materi laporan dan 30% untuk presentasi laporan.

Penilaian adanya bantuan dari pihak lain


Proyek seringkali melibatkan keluarga, pendidik, dan
anggota masyarakat lainnya, sehingga untuk mendapatkan
penilaian yang valid mengenai prestasi peserta didik dalam
bidang tertentu diperlukan bukti yang menyatakan bahwa
laporan proyek merupakan hasil kerja dari peserta didik yang
bersangkutan.Jadi, dalam hal ini, pendidik harus
mempertimbangkan seberapa banyak dukungan yang diterima
oleh peserta didik yang bersangkutan di dalam menyelesaikan
proyek.Apakah laporan proyek tersebut merupakan hasil dari
kerja kelompok?apakah ada dukungan dari luar yang signifikan?

96 Pusat Penilaian Pendidikan


3) Penilaian dan Pencatatan
Mutu informasi yang diperoleh dari laporan proyek dapat
ditingkatkan dengan cara memfokuskan penilaian pendidik pada
kriteria yang memuat kompetensi yang penting dan dengan cara
mencatat penilaian tersebut secara sistematik. Kriteria penilaian
yang jelas merupakan dasar dari petunjuk penilaian proyek yang
jelas. Ada tiga cara yang umum digunakan oleh pendidik untuk
mencatat nilai laporan proyek, yaitu: skala penilaian holistik,
skala penilaian analitik, dan pencatatan dengan checklist.
 Skala Penilaian Holistik
Penilaian ini berdasarkan pada sekumpulan aspek/kriteria
penilaian yang memungkinkan mutu laporan proyek dapat
dinilai secara keseluruhan.Dalam hal ini, pendidik biasanya
memberikan format penilaian diri kepada peserta didik.
 Skala Penilaian Analitik
Dalam hal ini, pendidik membuat penilaian berdasarkan
kriteria tertentu yang dibuat baik secara rinci maupun
tidak.Kriteria ini dapat disertai beberapa pertanyaan dan
perilaku yang diharapkan.Tujuannya agar dapat
meningkatkan reliabilitas penilaian pendidik terhadap kerja
peserta didik.
 Pencatatan ‘features’ proyek
Dalam hal ini, ada-tidaknya ‘features’ proyek dicatat oleh
pendidik. Skala penjenjangan ini digunakan untuk menilai
presentasi poster dari suatu proyek lintas-kurikulum.
Informasi mengenai prestasi peserta didik pada target
pembelajaran tertentu dapat diperoleh melalui proyek.
Manfaat proyek sebagai sumber informasi dapat ditingkatkan
melalui perencanaan serta melalui desain tabel pencatatan
yang hati-hati.

97 Pusat Penilaian Pendidikan


4) Hal-hal yang Berkaitan dengan Komparabilitas
Penting sekali untuk diketahui bahwa proyekpeserta didik
dapat dibandingkan antarpeserta didik, penilai, dan
sekolah.Untuk keperluan komparabilitas, beberapa hal perlu
mendapat pertimbangan, yaitu: perencanaan penilaian proyek
yang meliputi spesifikasi proyek (topik, jadwal, bahan, dll);
penilaian proyek yang meliputi pertimbangan mengenai
spesifikasi kriteria, reliabilitas antarpenilai; dan objektivitas
dalam meringkas dan melaporkan nilai peserta didik.

D. PENILAIAN PORTOFOLIO

Penilaian portofolio merupakan pendekatan baru yang


akhir-akhir ini sering diperkenalkan para ahli pendidikan untuk
dilaksanakan peserta didik di sekolah, selain pendekatan
penilaian yang telah lama digunakan.Di beberapa negara,
portofolio telah digunakan dalam dunia pendidikan secara luas,
baik untuk penilaian di kelas, daerah, maupun untuk penilaian
secara nasional.Secara nasional portofolio digunakan sebagai
bahan untuk standarisasi.Penilaian portofolio digunakan di kelas
tentunya tidak serumit yang digunakan untuk penilaian
portofolio secara nasional.Penilaian portofolio merupakan satu
alternatif untuk meningkatkan kemampuan peserta didik
(student achievement) melalui evaluasi umpan balik dan
penilaian diri (self assessment).

Dalam dunia pendidikan, kumpulan atau hasil kerja tersebut


berisi pekerjaan peserta didik selama waktu tertentu yang dapat
memberi informasi bagi suatu penilaian yang objektif, yang
menunjukkan apa yang dapat dilakukan peserta didik dalam
lingkungan dan suasana belajar yang alami. Hasil kerja dimaksud
menjadi ukuran tentang seberapa baik tugas yang diberikan
kepada peserta didik telah dilakspeserta didikan sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang ada dalam kurikulum.

Penilaian portofolio dapat terfokus pada proses belajar


mengajar yang dapat memberikan informasi tentang kelebihan

98 Pusat Penilaian Pendidikan


dan kekurangan peserta didik. Portofolio dapat menggambarkan
perkembangan berkelanjutan peserta didik untuk menunjukkan
perubahan diri peserta didik sejak awal sampai akhir dalam satu
perode tertentu. Portofolio dapat memberi kesempatan kepada
peserta didik dan pendidik untuk menelaah kesesuaian
pekerjaan dengan tujuan pembelajaran. Portofolio mampu
merefleksikan perubahan penting dalam proses kemampuan
intelektual peserta didik dari waktu ke waktu.Dalam penilaian
portofolio peserta didik memiliki kesempatan yang lebih banyak
untuk menilai diri sendiri dari waktu ke waktu.

Tujuan Portofolio
Tujuan portofolio ditetapkan berdasarkan apa yang harus
dikerjakan dan siapa yang akan menggunakan jenis portofolio.
Dalam penilaian di kelas, portofolio dapat digunakan untuk
mencapai beberapa tujuan, antara lain:

 mengetahui perkembangan yang dialami peserta didik;


 mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung;
 memberi perhatian pada prestasi kerja peserta didik yang
terbaik;
 merefleksikan kesanggupan mengambil resiko dan
melakukan ekperimentasi
 meningkatkan efektifitas proses pembelajaran;
 bertukar informasi dengan orang tua/wali peserta didik dan
pendidik lain;
 membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri positif
pada peserta didik;
 meningkatkan kemampuan melakukan refleksi diri; dan
 membantu peserta didik dalam merumuskan tujuan.

Prinsip Portofolio
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dijadikan
sebagai pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di
sekolah, antara lain:

99 Pusat Penilaian Pendidikan


 Saling percaya (mutual trust) antara pendidik dan
peserta didik
Dalam proses penilaian portofolio pendidik dan peserta didik
harus memiliki rasa saling mempercayai. Mereka harus
merasa sebagai pihak-pihak yang saling memerlukan, dan
memiliki semangat untuk saling membantu. Oleh karena itu,
mereka harus saling terbuka dan jujur satu sama lain. Dengan
demikian, akan terwujud hubungan yang wajar dan alami,
yang memungkinkan proses pendidikan berlangsung dengan
baik.
 Kerahasiaan bersama (confidentiality) antara pendidik
dan peserta didik
Kerahasiaan hasil pengumpulan bahan dan hasil penilaiannya
perlu dijaga dengan baik, tidak disampaikan kepada pihak-
pihak lain yang tidak berkepentingan. Pelanggaran terhadap
norma ini, selain menyangkut etika, juga dapat memberi
dampak negatif kepada proses pendidikan peserta
didik/peserta didik.
 Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan
pendidik
Pendidik dan peserta didik perlu merasa memiliki bersama
berkas portofolio. Oleh karena itu, pendidik dan peserta didik
perlu menyepakati bersama di mana hasil karya yang telah
dihasilkan peserta didikakan disimpan, dan bahan-bahan
baru yang akan dimasukkan. Dengan demikian peserta
didikakan merasa memiliki terhadap hasil kerjanya, dan
akhirnya akan tumbuh rasa tanggung jawab pada dirinya.
 Kepuasan (satisfaction)
Hasil kerja portofolio seyogyanya berisi keterangan-
keterangan dan/atau bukti-bukti yang memuaskan bagi
pendidik dan peserta didik.Portofolio hendaknya juga
merupakan bukti prestasi cemerlang peserta didik dan
keberhasilan pembinaan pendidik.
 Kesesuaian (relevance)
Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang
berhubungan dengan tujuan pembelajaran yang sesuai

100 Pusat Penilaian Pendidikan


dengan tujuan pembelajaran dalam kurikulum.
 Penilaian proses dan hasil
Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil.
Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan
perilaku harian peserta didik(anecdot) mengenai sikapnya
dalam belajar, antusias tidaknya dalam mengikuti pelajaran
dan sebagainya. Aspek lain dari penilaian portofolio adalah
penilaian hasil, yaitu menilai hasil akhir suatu tugas yang
diberikan oleh pendidik.

Fungsi Portofolio
Portofolio tidak hanya merupakan tempat penyimpanan
hasil pekerjaan peserta didik, tetapi juga merupakan sumber
informasi untuk pendidik dan peserta didik.Portofolio berfungsi
untuk mengetahui perkembangan pengetahuan peserta didik.
Portofolio memberikan bahan tindak lanjut dari suatu pekerjaan
yang telah dilakukan peserta didik, sehingga pendidik dan
peserta didik berkesempatan untuk mengembangkan
kemampuannya. Portofolio dapat pula berfungsi sebagai alat
untuk melihat (a) perkembangan tanggung jawab peserta didik
dalam belajar, (b) perluasan dimensi belajar (c) pembaharuan
kembali proses belajar-mengajar, dan (d) penekanan pada
pengembangan pandangan peserta didik dalam belajar.

Bentuk Portofolio

Secara umum penilaian portofolio dapat dibedakan menjadi


lima bentuk, yaitu portofolio ideal (ideal portfolio), portofolio
penampilan (show portfolio), portofolio dokumentasi
(documentary portfolio), portofolio evaluasi (evaluation
portfolio), dan portofolio kelas (classroom portfolio) (Nitko,
2000). Sedangkan Fosters dan Masters (1998) membedakan
penilaian portofolio kedalam tiga kelompok, yaitu: portofolio
kerja (working portfolio), portofolio dokumentasi (documentary
portfolio), dan portofolio penampilan (show portfolio).

101 Pusat Penilaian Pendidikan


Bentuk portofolio tersebut memiliki deskripsi dan
penekanan yang berbeda satu sama lain. Tetapi, untuk
membedakan bentuk portofolio tersebut diperlukan
karakteristik dan format ideal. Dalam buku ini, hanya akan
diuraikan tiga macam portofolio, yaitu: portofolio kerja,
portofolio dokumentasi, dan portofolio penampilan.
1) Portofolio Kerja
Portofolio kerja (working portfolio) sangat identik dengan
pekerjaan para artis, pelukis atau fotografer seperti sketsa,
catatan, draft setengah jadi, dan pekerjaan yang telah jadi yang
digunakan untuk memonitor perkembangan dan menilai
carapeserta didik mengatur atau mengelola belajar mereka. Hasil
pekerjaan peserta didik yang paling baik dapat menjadi petunjuk
apakah peserta didik telah memahami program pembelajaran
dan dapat merupakan bahan masukkan bagi pendidik, baik untuk
mengetahui pencapaian kurikulum maupun sebagai alat
penilaian formatif.

Berbagai macam tugas yang setara atau yang berbeda


disajikan kepada peserta didik.Peserta didik boleh memilih
tugas-tugas yang dianggapnya cocok untuk mereka.Pendidik juga
dapat memutuskan apa yang harus dikerjakan peserta didik.
Peserta didik dapat bekerja sama dengan peserta didik lain dalam
mengerjakan tugas tertentu. Portofolio kerja menyediakan data
tentang carapeserta didik mengorganisasikan dan mengelola
kerja.

Portofolio kerja adalah usaha mandiri yang telah dilakukan


peserta didik, atau usaha bersama dari kelompok peserta didik.
Hal-hal yang harus dilakukan peserta didik dan dinilai dalam
penilaian portofolio antara lain berupa draft, pekerjaan yang
belum selesai, atau pekerjaan terbaik / kerja bisa dilakukan
peserta didik.Hasil kerja peserta didik dalam penilaian portofolio
jenis ini digunakan dalam diskusi antara peserta didik dan
pendidik. Ini akan membuat pendidik mengetahui kemajuan
peserta didik, dan memungkinkan pendidik menolong peserta
didik untuk mengidentifikasi kelemahan, kelebihan, serta

102 Pusat Penilaian Pendidikan


kelayakan dalam merancang dan meningkatkan pengajaran.
Beberapa keuntungan portofolio kerja antara lain:

Bagi peserta didik:

 mengendalikan pekerjaannya;
 merasa bangga atas pekerjaannya;
 merefleksikan strategi;
 merancang tujuan; dan
 memantau perkembangan.

Bagi pendidik:
 kesempatan untuk memikirkan kembali arti
suatu hasil pekerjaan;
 meningkatkan motivasi mengajar; dan
 memperbaiki proses pembelajaran.

 Fokus pada penilaian formatif dan diagnostik


Keberhasilan portofolio kerja bergantung pada kemampuan
untuk merefleksikan dan mendokumentasikan kemajuan
dalam proses belajar mengajar baik dari sudut pandang
peserta didik maupun sudut pandang pendidik. Portofolio
kerja harus memungkinkan peserta didik untuk melakukan
“refleksi diri”, yaitu peserta didik mampu belajar tentang diri
mereka sendiri sebagai pemikir, sebagaimana juga mereka
dapat mengembangkan kemampuannya dalam hal-hal
khusus. Portofolio kerja harus memungkinkan peserta didik
untuk melihat dan mengevaluasi langsung perkembangan
yang terjadi pada peserta didik, dan juga untuk melihat
keefektifan proses belajar mengajar yang ia lakukan.
Portofolio kerja yang baik akan menunjukkan pencapaian

103 Pusat Penilaian Pendidikan


program pengajaran yang optimum selain juga dapat
merupakan masukan bagi pendidik. Portofolio kerja
merupakan hal yang utama dalam kurikulum dan merupakan
alat untuk penilaian formatif.

Kerjasama yang efektif antara pendidik dan peserta didik


merupakan sesuatu yang sangat penting dalam portofolio
kerja. Pendidik harus meyakinkan peserta didik bahwa apa
yang dilakukan peserta didik harus sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang telah ditentukan, sehingga
perkembangan peserta didik dapat dipantau dari waktu ke
waktu. Hal yang paling penting adalah untuk menemukan
sesuatu yang seimbang antara peserta didik dan pendidik
untuk mengontrol isi portofolio.

 Pertemuan pendidik dan peserta didik


Hal yang paling utama dalam penilaian portofolio adalah
adanya pertemuan antara pendidik dan peserta didik.
Pertemuan reguler antara pendidik dan peserta didik dapat
menyajikan rencana untuk penilaian diri yang dilakukan
peserta didik.

Pertemuan antara pendidik dan peserta didik bertujuan


untuk melihat perkembangan peserta didik lebih awal dan
memberikan masukan kepada peserta didik apabila
dipandang perlu. Selama pertemuan pendidik memberikan
perhatian penuh pada pemilihan hasil kerja peserta didik.
Dalam proses ini dapat juga diajukan pertanyaan-pertanyaan
seperti:

(1) Bagaimana kamu mengorganisasikan portofolio?


(2) Mengapa kamu melakukannya dengan cara ini?

104 Pusat Penilaian Pendidikan


Pertemuan Portofolio
Beberapa pertanyaan berikut mungkin dapat diajukan
kepada peserta didik dalam pertemuan antara pendidik
dengan peserta didik.
 Seringkali kamu menulis dalam kegiatan membaca dan
menulis (membuat ringkasan dari buku tertentu)?
o Bacaan mana yang paling kamu sukai?
o Mengapa kamu menyukai bacaan tertentu
dibandingkan dengan yang lainnya?
o Tulisanmu yang mpeserta didikah yang paling
baik?
o Mengapa kamu pikir tulisanmu itu yang paling
baik?
 Ceritakan tentang tulisan yang kamu buat!
o Mengapa tulisanmu ini sangat penting bagimu?
o Mengapa kamu memutuskan tulisan semacam
ini?
o Dari peserta didikah kamu memperoleh gagasan
(ide) untuk menulis semacam ini?
o Maukah kamu membacakan tulisanmu?
o Apakah kamu menemukan kesulitan waktu
menulis ini?
o Apakah kamu mendapat bantuan dari orang lain
ketika kamu menulis?
 Bagaimana perkembangan tulisanmu sejak

Pendidik perlu memperhatikan kemampuan dan proses


belajar peserta didik. Peserta didik perlu dimotivasi tentang
apa yang harus mereka lakukan. Pertemuan portofolio
memungkinkan untuk merancang prioritas tujuan. Apa yang
harus dilakukan kemudian, apa yang harus dipelajari
kemudian? Jawabannya mungkin sangat sederhana seperti
membaca buku atau belajar menulis puisi.

105 Pusat Penilaian Pendidikan


Pernyataan Peserta didik
Saya telah mencoba untuk memahami apa yang harus
saya lakukan dari semua gambar dan tulisan yang telah
saya kerjakan dalam waktu yang cukup lama. Saya
mendapatkan banyak gagasan yang tidak dapat saya
lupakan.Tetapi, terkadang saya bingung untuk
memilih tulisan dan gambar yang perlu saya masukkan
ke portofolio. Saya merasa tidak yakin dengan apa
yang saya pahami dan saya tulis. Haruskah saya
membuang tulisan-tulisan dan gambar-gambar ini?

Komentar pendidik
Bisa saja kamu tidak mengambil tulisan dan gambar
yang telah kamu hasilkan, jika kamu merasa ragu
untuk memasukkannya.Tetapi ada baiknya saya
simpan dalam portofolio.Banyak sekali gagasan yang
baik dalam gambar dan tulisanmu itu.Kamu bisa saja
memasukkan gagasanmu itu ke dalam bab-bab
tertentu. Saya melihat gambar yang kamu buat sangat
bagus. Jadi sayang jika dibuang. Akan lebih bagus kalau
kamu buat tulisan lain dari gambar yang bagus itu?
Tetapi, mengapa kamu menggambar keempat gambar
itu?

 Sumber portofolio kerja


Proses pengumpulan (collecting), refleksi (reflecting), dan
diskusi tidak selalu menjamin kualitas portofolio yang
dihasilkan. Portofolio kerja menolong pendidik untuk secara
terus menerus, melakukan penilaian informal tentang
kemajuan belajar peserta didik. Namun hal tersebut
bergantung kepada kualitas isi portofolio yang
menggambarkan hasil belajar. Karena itu tantangan untuk

106 Pusat Penilaian Pendidikan


pendidik adalah bagaimana mengembangkan portofolio
kerja yang menyajikan hasil kerja tentang hasil belajar yang
relevan, untuk mengembangkan kegiatan belajar (kelas)
yang didefinisikan secara luas yang memungkinkan peserta
didik dapat mengembangkan kemampuan mereka secara
optimum (Kathy Mclean dan Helen Campagna-
Wildash,1994). Selain itu, portofolio kerja yang dihasilkan
hendaknya memungkinkan peserta didik untuk memiliki
jumlah tugas yang cukup untuk memantau perkembangan
kemampuan dirinya.

Pendidik memerlukan peserta didik untuk menyediakan


pengenalan umum pada portofolio mereka atau komentar
terhadap hasil karya yang terpilih. Hal ini akan menolong
peserta didik untuk lebih memfokuskan pada pikirannya. Hal
ini juga menyediakan tahap awal bagi peserta didik untuk
berdiskusi dan mengevaluasi kemajuannya.

Pendidik biasanya menyediakan penilaian diri (self


assessment) dan kuesioner yang digunakan oleh pendidik
maupun oleh peserta didik. Penilaian diri adalah penilaian
yang digunakan peserta didik untuk menilai hasil kerja
mereka. Peserta didik harus memiliki kemampuan (skill),
pengetahuan (knowledge),dan keyakinan diri (confidence)
untuk mengevaluasi kegiatan yang sedang dia kerjakan, dan
perkembangan hasil kerjanya ketika dia bekerja sebagai
pelajar yang mandiri.

2) Portofolio Dokumentasi

Portofolio dokumentasi adalah koleksi hasil kerja peserta


didik yang khusus digunakan untuk penilaian. Tidak seperti
portofolio kerja yang pengkoleksiannya dilakukan dari hari ke
hari, dokumentasi portofolio adalah seleksi hasil kerja terbaik
peserta didik yang akan diajukan dalam penilaian. Dengan
demikian portofolio dokumentasi adalah koleksi dari

107 Pusat Penilaian Pendidikan


sekumpulan hasil kerja peserta didik selama kurun waktu
tertentu.

Portofolio dokumentasi tidak hanya berisi hasil kerja peserta


didik, tetapi semua proses yang digunakan oleh peserta didik
untuk menghasilkan karya tertentu. Portofolio dokumentasi
misalnya dalam penilaian portofolio bahasa Inggris, mungkin
tidak hanya berisi tentang hasil akhir tulisan peserta didik, tetapi
juga berbagai macam draf dan komentar peserta didik tentang
hasil tersebut, termasuk juga proses sampai di hasilkannya
tulisan tersebut. Draf dan komentar peserta didik harus di pilih
untuk menyajikan draf yang paling bagus dari yang dihasilkan
peserta didik. Semua ini dilakukan dalam rangka menunjukan
proses penulisan, dan pendidik dapat menggunakannya sebagai
bahan penilaian dan pengkajian tentang bagaimana peserta didik
merencpeserta didikan, dan menghasilkan tulisan serta cara
mereka menulis.

Isi penilaian portofolio harus menyajikan suatu bukti yang


berkaitan dengan kompetensi dasar dan indikator pencapaian
hasil belajar yang telah ditentukan. Untuk menunjukan hal ini,
kegiatan belajar mengajar harus sesuai dengan indikator
pencapaian hasil belajar yang telah ditentukan. Jika kemampuan
problem solving sebagai salah satu tujuan yang hendak dicapai
dalam pelajaran matematika misalnya, tetapi kegiatan belajar
mengajar di kelas hanya memfokuskan pada latihan menghitung,
maka hasil kerja peserta didik tidak akan menunjukkan hasil
kerja yang berkaitan dengan problem solving sebagai bagian dari
portofolio dokumentasi, melainkan hanya menghitung.

Kriteria koleksi dapat digunakan untuk meyakinkan bahwa


isi dari portofolio dokumentasi sudah sesuai dengan indikator
hasil pembelajaran.Jika tujuan instruksional sangat luas, maka
hasil kerja yang diperlukan juga sangat luas. Tujuan instruksional
terkadang termasuk tujuan pembelajaran yang lebih luas
ketimbang hanya kemampuan dan pengetahuan.

Dengan demikian, portofolio dokumentasi juga mencakup


usaha peserta didik dan aplikasi seperti: perilaku, partisipasi

108 Pusat Penilaian Pendidikan


dalam kegiatan di kelas, inisiatif, kerjasama; dan ketekunan
mengerjakan tugas

Aturan dalam pemilihan hasil kerja

Tujuan utama dilakukannya portofolio dokumentasi adalah


untuk penilaian, maka pendidik harus mampu menentukan hasil
kerja peserta didik sebagai salah satu bukti yang dapat
menunjukkan pencapaian belajar peserta didik. Dalam proses
seleksi peserta didik memilih dan menyatukan semua pekerjaan
mereka dal am dokumentasi portofolio. Pendidik kemudian
menyeleksi hasil kerja tersebut.Hal ini dilakukan untuk memberi
kesempatan kepada pendidik dan peserta didik dalam memilih
hasil kerja peserta didik yang telah memenuhi kategori tertentu.

Partisipasi peserta didik dalam proses seleksi memberikan


kesempatan kepada mereka untuk merefleksikan kerja mereka.
Jika kriteria untuk portofolio dokumentasi telah disetujui
bersama antara peserta didik dan pendidik, maka peserta didik
telah terlibat dalam proses penilaian portofolio.

Menilai dan mencatat portofolio


Portofolio dokumentasi berisi hasil kerja berdasarkan metode
penilaian yang luas. Portofolio musik misalnya, pendidik harus
mengembangkan kriteria untuk menilai kelengkapan, keaslian,
dan ketepatan notasi dalam komposisi, tetapi dapat juga tidak
menilai daftar penampilan selama satu semester.

3) Portofolio Penampilan

Portofolio penampilan (show fortfolio) digunakan untuk


memilih hal-hal yang paling baik yang menunjukan
bahan/pekerjaan terbaik yang dihasilkan oleh peserta didik.
Tidak seperti portofolio dokumentasi, portofolio penampilan
hanya berisi pekerjaan peserta didik yang telah selesai.
Portofolio penampilan tidak mencakup proses pekerjaan,
perbaikan, dan penyempurnaan pekerjaan peserta didik.

109 Pusat Penilaian Pendidikan


Portofolio penampilan digunakan untuk tujuan seperti seleksi,
sertifikasi, maupun penilaian kelas. Untuk tujuan yang lebih
rumit, yang memerlukan perbandingan, validitas perbandingan
haruslah benar-benar diperhatikan oleh beberapa penilai salah
satunya reliabilitas, yaitu apakah sektor yang diberikan kepada
hasil kerja peserta didik konsisten.
 Perencanaan Portofolio Penampilan
Portofolio penampilan dirancang untuk menunjukkan hasil
kerja peserta didik yang terbaik dalam mengukur kompetensi
tertentu sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam kurun
waktu tertentu. Portofolio penampilan sangat berguna untuk
penilaian sumatif yang bergantung seberapa baik isi
portofolio mengacu pada tujuan pembelajaran yang telah
ditentukan, dan seberapa baik hasil kerja peserta didik telah
menunjukkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya.

 Keaslian hasil kerja peserta didik


Penilaian yang valid haruslah menjadi ciri penilaian
portofolio.Oleh karena itu, portofolio penampilan juga
haruslah menggambarkan hasil kerja peserta didik yang
asli.Pendidik haruslah memperhatikan seberapa bagus
pekerjaan peserta didik yang telah diselesaikan.Apakah hasil
pekerjaan itu merupakan karya sendiri atau
kelompok?Apakah ada hubungan antara bimbingan pendidik
dengan hasil kerja peserta didik?
Hasil kerja yang asli merupakan hal yang paling penting dalam
penilaian portofolio.Oleh karena itu, penilaian haruslah
konsisten dan adil bagi setiap peserta didik dan yang
dilakukan oleh penilai yang berbeda. Dengan kata lain,
kesepakatan bersama antarpenilai yang berbeda. Salah satu
pendekatan untuk meningkatkan tingkat inter-rater reliability
adalah merumuskan kriteria yang spesifik yang akan
digunakan dalam penilaian portofolio.
Dalam pengembangan kriteria penilaian pendidik hendaknya
dipertimbangkan konsistensi dan ketepatan kriteria penilaian
yang akan digunakan.

110 Pusat Penilaian Pendidikan


Merancang Penilaian Portofolio
Hal-hal yang perlu diperhatikan pendidik ketika mereka
merancang penilaian portofolio :

1) Penentuan Tujuan

 Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam penentuan


tujuan penilaian portofolio sebagai berikut :
 Pendidik harus menentukan tujuan portofolio, apakah
pendidikakan memantau proses atau mengevaluasi hasil
akhir.
 Pendidik harus menetapkan apakah pengunaan portofolio
untuk proses mengajar atau sebagai alat untuk penilaian.
 Pendidik harus menetapkan apakah portofolio dilakukan
dalam memantau perkembangan peserta didik ataukah
pendidik hanya bermaksud mengoleksi hasil kerja peserta
didik.
 Penentuan tujuan potofolio akan sangat berpengaruh
terhadap penggunaan jenis portofolio (penilaian portofolio
kerja, penilaian portofolio dokumentasi, atau penilaian
portofolio penampilan).
 Jika pendidik ingin mengevaluasi baik proses maupun hasil
portofolio peserta didik, mungkin pendidikakan
menggunakan portofolio dokumentasi.
 Pendidik harus menentukan pihak yang akan terlibat untuk
apakah portofolio digunakan? Apakah portofolio digunakan
untuk menunjukkan proses belajar mengajar yang sedang
berlangsung kepada orang tua, penilaian pada akhir tahun
pembelajaran, pada akhir jenjang pendidikan, atau untuk
memantau sistem

Tujuan utama dilakukannya portofolio adalah untuk


menentukan hasil kerja dan proses bagaimana hasil kerja peserta
didik tersebut diperoleh sebagai salah satu bukti yang dapat
menunjukkan pencapaian belajar peserta didik, yaitu telah

111 Pusat Penilaian Pendidikan


mencapai kompetensi dasar dan indikator sesuai dengan yang
telah ditetapkan dalam kurikulum. Dalam proses seleksi untuk
meningkatkan peserta didik dan juga partisipasi pendidik.
Peserta didik memilih dan menyatukan semua pekerjaan mereka
dalam portofolio.Misalnya, jika peserta didik menulis paragraf,
mereka diminta untuk menjelaskan mengapa peserta didik
melakukan penulisan paragraf tersebut.Pendidik kemudian
menyeleksi hasil kerja peserta didik yang lainnya.Hal ini
dilakukan untuk memberi kesempatan kepada pendidik dan
peserta didik dalam memilih hasil kerja peserta didik yang telah
memenuhi kategori tertentu.

Penilaian yang valid tentunya tidak boleh


mencampurbaurkan standar kemampuan dan kemampuan dasar
dengan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kemampuan
peserta didik yang hendak dicapai dalam kurikulum.

2) Isi Portofolio
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam penentuan isi penilaian
portofolio sebagai berikut :

 Pendidik harus menentukan bentuk portofolio yang akan


dilakspeserta didikan.
 Pendidik harus menentukan relevansi antara hasil karya
peserta didik dengan tujuan yang akan dinilai. Apakah
penilaian diri (self assessment), open ended, esai, audio, akan
digunakan sebagai bagian penilaian portofolio? Apakah
pendidikan memperbolehkan hasil kerjasama peserta didik?
 Pendidik harus menunjukkan hubungan antara pencapaian
hasil belajar peserta didik dengan kompetensi dasar dan
indikator pencapaian hasil belajar yang telah ditentukan
dalam kurikulum.
 Pendidik harus menentukan hasil-hasil karya peserta didik
yang akan digunakan sebagai bahan penilaian.

112 Pusat Penilaian Pendidikan


3) Seleksi
Beberapa hal yang sangat penting dalam evaluasi hasil belajar
peserta didik untuk portofolio adalah sebagai berikut:
 Pendidik harus menentukan cara penyeleksian terhadap hasil
karya peserta didik.
 Pendidik harus menentukan pihak yang melakukan seleksi
terhadap hasil karya peserta didik. Apakah peserta didik atau
pendidik yang akan bertanggung jawab dalam melakukan
seleksi hasil karya peserta didik atau apakah peserta didik
bekerjasama dengan pendidik dalam melakukan seleksi hasil
karya peserta didik?
 Pendidik harus menentukan dengan cara apakah pemilihan
hasil karya peserta didik dilakukan, khususnya dalam rangka
meningkatkan refleksi diri dan penilaian diri. Apakah
pendidikan mengembangkan prosedur untuk melakspeserta
didikan pemilihan? Dapatkah pendidik menggunakan proses
pemilihan ini untuk melihat lebih dalam tentang kemampuan
peserta didik?
 Pendidik harus menentukan proses penilaian portofolio di
kelas. Sistem apakah yang digunakan untuk melakspeserta
didikan portofolio? Siapakah yang memiliki akses ke
portofolio dan kapan? (Lihat penilaian portofolio
dokumentasi).

4) Pengamatan dan Penilaian


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengamatan dan
penilaian adalah:
 Pendidik harus membedakan antara penilaian portofolio
secara individual dan secara kelompok. Untuk memahami hal
ini perhatikan kembali bab tentang penilaian portofolio
dokumentasi dan penilaian portofolio penampilan.
 Pendidik harus membuat penilaian portofolio individu dan
kelompok ini sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator
pencapaian hasil belajar yang telah ditentukan.

113 Pusat Penilaian Pendidikan


 Pendidik harus memastikan dengan benar kriteria yang akan
digunakan dalam penilaian portofolio baik yang akan
digunakan untuk kelompok maupun untuk peserta didik
secara individu.
 Kriteria yang dikembangkan harus sesuai dengan indikator
pencapaian hasil belajar.
 Kriteria yang dikembangkan harus mencakup rentang
kemampuan yang jelas mulai dari kemampuan yang kurang
sampai kemampuan yang baik.
 Kriteria yang dikembangkan juga harus mudah
dikomunikasikan kepada peserta didik, orang tua, atau pun
pihak lain sehingga mereka dapat dengan mudah memahami
kriteria yang dimaksud.
 Kriteria penilaian haruslah terbebas dari perbedaan jenis
kelamin peserta didik.
 Kriteria penilaian harus dapat digunakan oleh siapa saja
(pendidik yang berbeda) dan dapat menghasilkan pengertian
yang sama untuk hasil kerja yang sama.

5) Kriteria Penilaian
Ketika tujuan penggunaan portofolio sudah ditentukan, dan
isi penilaian portofolio juga sudah ditentukan, maka hal
berikutnya adalah menentukan kriteria penilaian yang
digunakan untuk mengukur tujuan tersebut? Strategi apa yang
digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan? Hal-hal
apa yang akan dipilih untuk dimasukkan kedalam portofolio dan
memenuhi kriteria yang telah ditetapkan? Kriteria penilaian,
sangat bergantung kepada karakteristik kompetensi dasar yang
telah ditentukan. Kriteria penilaian yang akan digunakan dalam
portofolio harus mencerminkan isi yang akan dimasukkan
kedalam portofolio telah benar-benar mengandung bukti
kejadian yang diharapkan dalam indikator pencapaian hasil
belajar.

114 Pusat Penilaian Pendidikan


Penggunaan penilaian portofolio dapat menjamin mutu
pendidikan apabila kriteria tentang proses dan hasil yang ingin
dicapai dirumuskan dengan jelas. Seperti hal-hal berikut ini:
 apa saja yang perlu dilakukan oleh peserta didik;
 bagaimana peserta didik melakukannya;
 waktu yang diperlukan;
 prasyarat yang perlu dimiliki; dan
 sarana dan prasarana yang harus digunakan.

6) Format Penilaian
Tahapan berikutnya setelah penentuan kriteria penilaian adalah
menentukan format penilaian. Format penilaian yang disajikan
dalam bab ini dapat digunakan untuk menilai pencapaian
kemampuan peserta didik sesuai dengan standar kompetensi,
kompetensi dasar.

Contoh 1 format penilaian portofolio

Berikut ini akan disajikan contoh format penilaian bahasa


Indonesia yang menggunakan lima kriteria, yaitu kurang sekali,
kurang, sedang, baik, dan baik sekali, contoh format untuk
penilaian matematika yang menggunakan angka 1 sampai
dengan 10. Penggunaan kriteria seperti contoh tersebut tidaklah
baku. Bisa saja bervariasi.Hal yang paling penting adalah,
biasanya penilaian portofolio tidak menggunakan angka seperti
contoh penilaian matematika.Hal ini dilakukan untuk
menghilangkan pemahaman pendidik dan peserta didik, bahwa
segala sesuatu harus senantiasa dinyatakan dengan angka.
Ke dua tabel berikut ini menunjukkan contoh format penilaian
portofolio. Format penilaian selengkapnya yang disertai dengan
tugas yang harus dilakukan peserta didik untuk setiap mata
pelajaran akan disajikan dalam buku terpisah.

115 Pusat Penilaian Pendidikan


Contoh Penilaian Portofolio Bahasa Indonesia Kelas 2 SD

Kompetensi Dasar
Nama : Anwar
Menceritakan
Tanggal : 26 Maret 2005
pengalaman pribadi

PENILAIAN
Indikator

Kurang Baik
Kurang Sedang Baik
sekali Sekali

Menceritakan
pengalaman pribadi,
misal: pengalaman
berenang di sungai
dengan teman, belajar
naik sepeda, dll.
Menjawab pertanyaan
tentang isi cerita
teman dengan jelas
Komentar Pendidik:
Dicapai melalui:
Pertolongan Anwar sangat baik sekali dapat
pendidik menceritakan pengalaman yang betul-
Seluruh kelas betul dialami sendiri di depan kelas.
Kelompok kecil
Sendiri
Komentar Orang tua:

116 Pusat Penilaian Pendidikan


Tabel ...

Contoh Penilaian Portofolio Matematika Kelas 2 SD

Kompetensi Dasar Nama : Hafidz


Memahami konsep urutan Tanggal : 4 Februari 2005
bilangan cacah

Indikator PENILAIAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Menentukan bahwa
kumpulan benda lebih
banyak, lebih sedikit,
atau sama dengan
kumpulan lain
Menentukan suatu bilangan
lebih besar, lebih kecil,
atau sama besar
dengan bilangan lain
Dicapai melalui: Komentar Pendidik:
 Pertolongan Hafidz berkemampuan cukup
pendidik dalam membandingkan bilangan.
 Seluruh kelas

 Kelompok kecil

 Sendiri

Komentar Orang tua

117 Pusat Penilaian Pendidikan


Dengan memperhatikan beberapa contoh format beberapa
penilaian portofolio tersebut, seluruh peserta didikakan
berusaha untuk mencapai kompetensi dasar maupun indikator
yang telah dituangkan dalam format tersebut secara bersama-
sama atau sendiri-sendiri atas bantuan pendidik. Hal yang perlu
dilakukan adalah pendidik harus menyajikan tugas yang sesuai
dengan tuntutan kompetensi dasar.Dengan diketahuinya tujuan
dilakukannya portofolio, peserta didik cenderung bekerja
dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kompetensi dasar
maupun indikator tersebut. Dengan demikian kompetensi dasar
dan indikator pencapaian hasil belajar harus dikomunikasikan
kepada peserta didik agar mereka mengetahui dengan pasti
untuk apa dan target apa yang harus dicapai. Apalagi, setelah
hasil tugas dikembalikan kepada peserta didik dan hasil penilaian
serta komentar pendidik sudah disampaikan.Peserta didikakan
dengan mudah mengetahui berhasil tidaknya mencapai standar
kompetensi, kompetensi dasar, maupun indikator.

Bahan Penilaian
Hal-hal yang dapat dijadikan sebagai bahan penilaian portofolio
di sekolah antara lain sebagai berikut:
 penghargaan tertulis
 penghargaan lisan
 hasil kerja biasa dan hasil pelaksanaan tugas-tugas oleh
peserta didik
 daftar ringkasan hasil pekerjaan
 catatan sebagai peserta dalam suatu kerja kelompok
 contoh hasil pekerjaan
 catatan/laporan dari pihak yang relevan
 daftar kehadiran
 hasil ujian/tes
 presentase tugas yang telah selesai dikerjakan
 catatan tentang peringatan yang diberikan pendidik mpeserta
didikala peserta didik melakukan kesalahan

Bahan-bahan tersebut dapat dipilih dan ditentukan yang


dipandang relevan saja dan dapat pula dengan berbagai bahan

118 Pusat Penilaian Pendidikan


lain apabila dipandang relevan dan perlu. Untuk menentukan
bahan apa saja yang perlu dikumpulkan, ada dua pertanyaan
pokok yang harus dijawab, yaitu :
 Bahan apa sajakah yang dapat memberikan informasi tentang
perkembangan yang dialami peserta didik?
 Bahan apa sajakah yang dapat memberikan informasi yang
bermanfaat dalam dalam pengambilan keputusan yang
berhubungan dengan kurikulum dan pengajaran?

Pendidik diharapkan tidak menentukan secara sepihak


dalam menentukan bahan penilaian tersebut, tetapi harus
melibatkan peserta didik dengan melalui proses diskusi. Melalui
proses diskusi tersebut perlu dicapai kesepakatan bersama
tentang bahan yang perlu dikumpulkan, cara mengumpulkannya,
kriteria penilaian dan bobot penilaian untuk masing-masing
bahan yang ditentukan. Hal ini penting supaya peserta didik
mempunyai kesempatan untuk menyatakan kesulitan atau
masalah yang mungkin mereka hadapi ketika mengumpulkan
bahan-bahan tersebut.Namun yang lebih penting dari itu, proses
pengambilan keputusan dengan diskusi semacam ini dapat
menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri peserta didik
untuk bekerja sesuai dengan yang diharapkan.

Setelah ditentukan dan dipastikan bahwa setiap peserta


didik telah membuat dan memilih berkas portofolio, selanjutnya
perlu ditentukan caramengumpulkan dan menyusunnya dalam
berkas portofolio yang telah disediakan, kemudian menentukan
dimana dan bagaimana menyimpannya.

Waktu pengumpulan bahan perlu juga ditentukan dengan


jelas, kapan dimulai, dan kapan berakhir.Sepanjang waktu
tersebut peserta didik diminta untuk mengumpulkan bahan yang
dapat diperolehnya secara terus menerus.Hasil kerja peserta
didik atau bahan yang diperolehnya perlu diberi keterangan
tentang waktu dan tanggalnya.Hal ini penting, supaya setiap
perkembangan yang di capai peserta didik dari waktu ke waktu
dapat teramati dengan baik.

119 Pusat Penilaian Pendidikan


Penggunaan penilaian portofolio dapat menjamin mutu
pendidikan apabila dapat dirumuskan kriteria yang jelas tentang
proses dan hasil yang ingin dicapai. Oleh karena itu, pendidik
perlu dapat merumuskan kriteria yang jelas, baik berhubungan
dengan proses pembelajaran maupun hasil yang diharapkan
dapat dicapai.

5. Hambatan Penilaian Portofolio


Ada beberapa hambatan dalam penilaian portofolio di
sekolah. Hambatan-hambatan tersebut dapat terjadi dalam
kondisi-kondisi, antara lain sebagai berikut:

 Apabila pendidik memiliki kecenderungan untuk


memperlihatkan hanya pencapaian akhir. Jika hal ini terjadi,
berarti proses tidak mendapat perhatian sewajarnya.
Dengan demikian, peserta didikpun akan hanya berorientasi
pada pencapaian akhir semata dengan kecenderungan
melakukan berbagai upaya dan strategi, dan bahkan
mungkin dengan menghalalkan segala cara. Dengan
demikian, penggunaan portofolio dalam hal ini tidak dapat
mengubah sikap dan perilaku peserta didik, yang
sebenarnya diharapkan dapat terjadi dengan menjalani dan
mengalami proses pembelajarannya.
 Apabila pendidik dan peserta didik terjebak dalam suasana
hubungan top-down, maka inisiatif dan kreativitas peserta
didik akan hilang. Pada akhirnya peserta didik hanya
menjadi manusia penurut dan mengikuti perintah. Suasana
pembelajaran akan tidak bergairah. Segala sesuatu yang
berlangsung dalam kelas akan sangat bergantung kepada
pendidik. Pada akhirnya, pendidikan sekolah hanya akan
menghasilkan manusia-manusia pasif, yang tidak memiliki
inisiatif dan kreativitas.
 Penyediaan format yang digunakan secara lengkap dan
detail, dapat juga menjebak. Peserta didik akan terjerumus
ke dalam suasana yang kaku dan mematikan, yang pada
akibatnya juga akan mematikan kreativitas.

120 Pusat Penilaian Pendidikan


 Menyita waktu dan memerlukan tempat penyimpanan
berkas yang memadai, bila jumlah peserta didik cukup besar.
Oleh karena itu, pendidik perlu mewaspadai beberapa
hambatan tersebut. Apabila kondisi ini dapat diwaspadai dan
dihindari, maka penggunaan penilaian portofolio akan
bermanfaat sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan mutu
pendidikan, sebagaimana yang kita harapkan.

6) Analisis Hasil Penilaian


Penilaian portofolio lebih menekankan pada penilaian
proses dan hasil sehingga hasil penilaian portofolio memberikan
penilaian kesempatan kepada pihak-pihak yang berkepentingan
dalam kegiatan belajar mengajar untuk mengadakan negosiasi
mengenai pola pembelajaran dan pendewasaan peserta didik.
Karena itu dalam pelaksanaannya portofolio dituntut
memberikan informasi secara menyeluruh mengenai:
 perkembangan pemahaman dan pemikiran peserta didik
dalam kurun waktu tertentu tentang konsep, topik, dan isu;
 hasil karya peserta didik yang berkaitan dengan bakat dan
keterampilan khusus;
 dokumen kegiatan peserta didik selama periode dan kurun
waktu tertentu (setahun misalnya); dan
 refleksi nilai-nilai peserta didik sebagai individu baik segi
kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Hasil penilaian portofolio pada umumnya dapat berbentuk


skor, grafik, atau deskriptif. Pekerjaan pendidik selanjutnya
adalah membuat suatu rumusan bagaimana skor itu akan
dianalisis dan ditafsirkan sehingga kesimpulan akhir tentang
kemampuan peserta didik sudah merupakan nilai keseluruhan
berbagai aspek. Dengan kata lainpendidik dituntut untuk
mengolah nilai setiap aspek itu dihargai dan diberi bobot
tertentu, serta bagaimana membuat kesimpulan akhir yang
bersifat komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan.

121 Pusat Penilaian Pendidikan


7) Pelaporan hasil penilaian dan pemanfaatannya.
Pada umumnya pendidik sering memandang bahwa laporan
yang berbentuk pencapaian nilai peserta didik secara individual
dan rata-rata kelas sudah dianggap memadai untuk dilaporkan
kepada pihak yang berkepentingan, walaupun dalam laporan
seperti ini belum tergambarkan secara rinci apakah peserta didik
mampu mencapai kriteria yang telah ditentukan.

Ini berarti bahwa laporan yang diberikan pendidik tentang


peserta didiknya belum dikatakan cukup kalau sekedar
menginformasikan nilai yang diperoleh. Sebab bila laporan hasil
penilaian pendidik itu tidak dapat dibaca dan dianalisis secara
jelas, maka mereka yang berkepentingan dalam pendidikan baik
peserta didik, pendidik, orang tua, kepala sekolah, atau pihak lain
yang menggunakan informasi hasil penilaian tidak akan mampu
memanfaatkan informasi keseluruhan peserta didik, khususnya
keberhasilan peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar
mengajar. Secara sistematis laporan hasil penilaian portofolio
dan pemanfaatannya dapat dimanfaatkan oleh peserta didik,
pendidik, dan orang tua

a. Laporan Untuk Peserta didik

Penilaian portofolio sangat berguna bagi peserta didik untuk


mengetahui kemajuan dan kemajuan belajarnya terutama
dalam hal:
 Umpan balik kemampuan pemahaman dan penguasaan
peserta didik tentang tugas yang diberikan pendidik
selama kurun waktu tertentu:
 Mendorong peserta didik untuk meningkatkan proses
pembelajaran agar lebih menguasai materi tertentu yang
dianggap masih lemah khususnya melalui bahan-bahan
yang telah dikumpulkannya;
 Umpan balik dalam mempertahankan prestasi yang telah
dicapainya;

122 Pusat Penilaian Pendidikan


 Memahami keterbatasan kemampuan untuk menguasai
materi tertentu atau bidang kajian tertentu;

b. Laporan Untuk Pendidik


Penilaian Portofolio sangat berguna bagi pendidik untuk
mengetahui kemajuan dan kemampuan belajar peserta
didiknya terutama dalam hal:
 Umpan balik kemampuan pemahaman dan penguasaan
peserta didik tentang tugas yang diberikan pendidik
selama kurun waktu tertentu:
 Mengetahui bagian yang belum diketahui peserta didik
 Memperoleh gambaran tingkat pencapaian keberhasilan
proses belajar mengajar yang telah dilakspeserta
didikannya:
 Menentukan strategi pengajaran baik dalam
menyampaikan materi maupun pemberian tugas dan
penilaian kepada peserta didik;
 Menentukan penempatan peserta didik dalam program
studi baik dalam individu maupun kelompok; dan
 Memperoleh kecenderungan prilaku belajar peserta
didik terutama dikelas saat berinteraksi dengan
pendidik dan peserta didik lainnya;

c. Laporan untuk orang tua/wali peserta didik

Penilaian portofolio sangat berguna bagi orang tua peserta


didik untuk mengetahui kemajuan dan kemampuan belajar
putera-puterinya antara lain dalam hal:
 Pemahaman tentang kelebihan dan kelemahan putera-
puterinya dalam belajar
 Penentuan program studi dan pendidikan lanjutan yang
mungkin bisa dimasuki putera-puterinya;

123 Pusat Penilaian Pendidikan


 Peningkatan bimbingan yang hendak dilakukan orang
tua peserta didik untuk meraih prestasi putera-
puterinya; dan
 Peningkatan komunikasi dengan pihak sekolah dalam
mendidik putera-puterinya.

124 Pusat Penilaian Pendidikan


BAB 4 Pedoman
PENGOLAHAN, PELAPORAN DAN Penilaian
Kelas oleh Pendidik
PEMANFAATAN HASIL PENILAIAN

Penilaian oleh pendidik pada dasarnya digunakan untuk


memantau proses belajar, menilai pencapaian hasil belajar
peserta didik sebagai dasar untuk memperbaiki proses
pembelajaran, mendeteksi kebutuhan perbaikan hasil belajar
pada peserta didik secara berkesinambungan, dan bahan
penyusunan laporan kemajuan hasil belajar peserta didik.
Lingkup penilaian difokuskan pada tiga aspek yaitu: sikap,
pengetahuan dan keterampilan. Pada kurikulum 2013 tiga aspek
tersebut dijabarkan menjadi empat kompetensi inti yaitu
kompetensi inti 1(satu): sikap spiritual, kompetensi inti 2(dua):
sikap sosial, kompetensi inti 3 (tiga): pengetahuan, dan
kompetensi inti 4 (empat): keterampilan.

Pengolahan hasil penilaian dilakukan untuk mendapatkan


ketercapaian hasil penilaian pada peserta didik yang akan
digunakan sebagai bahan pelaporan. Pengolahan dilakukan
dengan memperhatikan skor hasil penilaian untuk penilaian
pengetahuan dan keterampilan dan catatan hasil observasi untuk
penilaian sikap spiritual dan sosial yang diperoleh peserta didik
dari seluruh penilaian-penilaian yang diperoleh peserta didik
dalam kurun waktu tertentu.

Pelaporan hasil penilaian peserta didik merupakan


kegiatan menginformasikan hasil pencapaian kompetensi
peserta didik. Pelaporan diberikan dalam bentuk laporan atau
buku rapor yang meliputi capaian sikap, pengetahuan, dan
keterampilanpeserta didik yang diberikan kepada pihak-pihak
terkait (peserta didik, orang tua, dan kepala sekolah) dalam kurun
waktu tertentu.

Pelaporan hasil penilaian disusun berdasarkan prinsip


berikut.

125 Pusat Penilaian Pendidikan


1. Objektif, berarti laporan hasil penilaian berbasis pada
standard dan kriteria yang telah ditetapkan serta tidak
dipengaruh faktor subjektivitas penilai.
2. Akuntabel, berarti laporan hasil penilaian dapat
dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah
maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan
hasilnya.
3. Transparan, berarti standar, kriteria penilaian, dan
dasar pengambilan keputusan dalam laporan hasil
penilaian, dapat diakses oleh semua pihak.
4. Informatif, berarti laporan hasil penilaian harus mampu
memberikan informasi hasil pencapaian kompetensi
dengan jelas, tepat, dan akurat

Selain digunakan untuk mengetahui pencapaian kompetensi


peserta didik yang kemudian dilaporkan dalam bentuk
laporan/buku rapor, hasil penilaian dimanfaatkan juga untuk
mendeteksi kelemahan atau potensi lebih jauh peserta didik yang
bergunasebagai dasar program remedial atau pengayaan.
Disamping itu hasil penilaian juga digunakan sebagai
pertimbangan kenaikan kelas.

A. Pengolahan Hasil Penilaian

1. Pengolahan Nilai Sikap


Penilaian sikap dilakukan dengan menggunakan metode
observasi perilaku dengan menggunakan instrumen lembar
observasi atau jurnal. Penilaian diri dan penilaian antar
teman dapat juga digunakan untuk melihat sikap peserta
didik, tetapi capaian hasil penilaian sikap terutama diperoleh
dari hasil observasi perilaku peserta didik selama proses
pembelajaran.Hasil dari penilaian diri dan penilaian antar
teman digunakan sebagaialat evaluasi diri tentang sikap
dankemampuan peserta didik untuk memperbaiki proses
pembelajaran atau dapat juga digunakan sebagai data
konfirmasi perilaku peserta didik. Sedangkan jurnal/catatan

126 Pusat Penilaian Pendidikan


guru selain juga untuk memperkuat catatan perilaku peserta
didik juga dapat digunakan untuk mengisi saran-saran pada
buku rapor. Pengolahan hasil penilaian sikap dapat dilakukan
minimal 2 (dua) kali dalam satu semester, yaitu pada
pertengahan dan akhir semester. Pada pertengahan semester
atau akhir semester, guru kelas dan wali kelas berkewajiban
melaporkan hasil penilaian sikap, baik sikap spiritual
maupun sikap sosial secara deskriptif berdasarkan catatan-
catatan hasil observasi yang dilakukan oleh guru mata
pelajaran selama proses pembelajaran di dalam maupun di
luar kelas. Laporan penilaian sikap dibuat dalam bentuk
deskripsi berdasarkan rapat dewan guru.
Pengolahan hasil observasi untuk membuat deskripsi
sikap dilakukan dengan pendekatan evaluative judgment
guru terhadap perilaku peserta didik berdasarkan catatan
catatan hasil observasi dan jurnal. Pengolahan dapat
dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu:
a. Holistik
Judgment terhadap perilaku siswa secara menyeluruh
dengan deskripsi yang eksplisit dari perilaku ideal
(sangat baik) sampai perilaku kurang ideal (kurang baik)
yang mencakup semua aspek sikap yang dinilai.
b. Analitik
judgment terhadap perilaku siswa secara rinci untuk
aspek sikap yang dinilai dengan indikator perilaku yang
eksplisit yang menggambarkan perilaku ideal (sangat
baik) sampai perilaku kurang ideal (kurang baik).

Jadi dalam pengolahan sikap/perilaku peserta didik, sejak


dari awal pembelajaran guru kelas/wali kelas/ sekolah harus
sudah mengembangkan indikator-indikator perilaku yang
menggambarkan nilai-nilai perilaku yang ideal sampai perilaku
kurang ideal yang akan dikembangkan di sekolah. Indikator-
indikator inilah yang menjadi acuan untuk mendeskripsikan
perilaku peserta didik.Deskripsi perilaku secaraHolistikatau
indikator perilaku untuk analitik, bentuk formatnya dapat
dirumuskan secara bersama antara guru dan sekolah dengan
mengacu kepada nilai (values) yang ingin dikembangkan yang

127 Pusat Penilaian Pendidikan


disesuaikan dengan tahapan perkembangan moral peserta
didik.Rumusan yang dijabarkan tersebut merupakan rubric
untuk melakukan penilaian.

Contoh Format Holistik

Nilai Deskripsi Catatan


Perilaku

Sangat Baik (A)

Baik (B)

Agak Baik (C)

Kurang baik (D)

*Catatan: Nilai dalam format ini tidak baku, bisa disesuaikan


dengan kondisi sekolah

Contoh Format Analitik

Aspek Indikator Perilaku Nilai Catatan


(4 level)

Kejujuran Sangat Baik (A)


Baik (B)
Agak Baik (C)
Kurang Baik (D)

Disiplin

Tanggung
jawab

Kesantunan

128 Pusat Penilaian Pendidikan


Berikut ini contoh hasil observasi terbuka yang dilakukan guru
untuk sikap spiritual dan sosial.

Tabel 4.1: Catatan hasil observasi terbuka untuk sikap spiritual

Nama
Butir
No Waktu Peserta Catatan Perilaku
Sikap
didik
1. 21/07/14 Ahmad  Tidak mengikuti
sholat Jumat yang Ketaqwaan
diselenggarakan di
sekolah.
Ramdani  Mengganggu Ketaqwaan
teman yang sedang
berdoa sebelum
makan siang di
kantin.
2. 22/09/14 Burhan  Mengajak Ketaqwaan
4 temannya untuk
berdoa sebelum
pertandingan
sepakbola di
lapangan olahraga
sekolah.
Andi  Mengingatkan
temannya untuk Toleransi
melaksanakan beragama
sholat Dzuhur di
sekolah.
3. 18/11/14 Dona  Ikut membantu
temannya untuk Toleransi
mempersiapkan beragama
perayaan

129 Pusat Penilaian Pendidikan


keagamaan yang
berbeda dengan
agamanya di
sekolah.
4. 13/12/14 Rudi  Menjadi anggota
panitia perayaan Ketaqwaan
keagamaan di
sekolah.
5. 23/12/14 Ani  Mengajak
temannya untuk Ketaqwaan
berdoa sebelum
praktik memasak
di ruang
keterampilan.

*Format observasi tidak baku dan dapat diubah sesuai dengan


kebutuhan guru

Tabel 4.2: Catatan hasil observasi terbuka untuk sikap sosial


Nama
Butir
No Tanggal Peserta Catatan Perilaku
Sikap
didik
1 21/07/14 Dona Menyelesaikan tugas Tanggung
lebih cepat dari jawab
waktu yang
ditentukan
2 Mengerjakan tugas Jujur
6/08/14 Badrun menulis dengan
melihat pekerjaan
temannya
3 22/09/14 Yamin - Mengomunikasikan percaya
Dodi hasil tanpa ragu dan diri

130 Pusat Penilaian Pendidikan


bangga dengan
karyanya
- Menjawab
pertanyaan dengan
tepat dan tegas
4 9/10/14 Agus - tidak Peduli
mendengarkan
teman lain yang
mengemukakan
pendapatnya dalam
diskusi
5 18/11/14 Amri Mau merespon Santun
presentasi/
ungkapan pendapat
teman dengan
bahasa yang tidak
menyakiti/
menyinggung
6 13/12/14 Sita -Menulis dengan ide Kreatif
Diah yang orisinal
Dini -Mengomentari
presentasi teman
dari -berbagai sudut
pandang
-Memberikan
berbagai solusi dari
masalah yang
disajikan
*Format observasi tidak baku dan dapat diubah sesuai dengan
kebutuhan guru

Langkah-langkah pengolahan hasil observasi untuk


membuat deskripsi nilai/perkembangan sikap selama

131 Pusat Penilaian Pendidikan


pertengahan semester dan atau satu semester adalah sebagai
berikut:
 Wali kelas mengumpulkan catatan-catatan sikap yang dibuat
guru mata pelajaran dan guru BK.
 Wali kelas mengelompokkan (menandai) catatan-catatan
sikap yang dibuat guru mata pelajaran dan guru BKke dalam
indikator-indikator sikap spiritual dan sikap sosial yang
sudah ditetapkan.
 Wali kelas membuat rumusan deskripsi singkat sikap spiritual
dan sikap sosial berdasarkan indikator-indikator sikap
spiritual dan sosial yang teramati dan dibandingkan dengan
acuan indikator-perilaku yang dibuat sekolah (Rubrik). Hasil
penilaian diri, penilaian antar teman, dan catatan guru dapat
digunakan untuk memperkuat hasil observasi.

2. Pengolahan Nilai Pengetahuan (KI-3)


Pengolahan hasil penilaian pengetahuan dapat dilakukan
secara kualitatif maupun kuantitatif. Pengolahan secara kualitatif
dilakukan terutama untuk keperluan diagnosis kelemahan
peserta didik yang dapat dilakukan melalui penilaian secara lisan
maupun tertulis. Pada pengolahan secara kualitatif, hasil
penilaian tidak ditekankan pada nilai dari hasil penilaiannya,
tetapi lebih kearah evaluasi deskriptif tentang kemampuan
peserta didik. Sedangkan penilaian secara kuantitatif dilakukan
untuk mengetahui capaian pengetahuan peserta didik, sehingga
dalam hal ini nilai hasil penilaian sangat diperhatikan.
Penghitungan hasil penilaian secara kuantitatif dilakukan pada
skor-skor hasil penilaian yang diperoleh dari hasil ulangan harian
(UH), ulangan tengah semester (UTS), dan ulangan akhir semester
(UAS) yang dilakukan dengan dengan menggunakan berbagai
teknik penilaian.Hasil penilaian diberikan dalam bentuk angka
dengan menggunakan skala 0 – 100, predikat (A, B, C, dan D), atau
deskripsi.

Penghitungan nilai capaian kompetensi peserta didik dalam


satu semester secara kuantitatif, dilakukan dengan langkah-

132 Pusat Penilaian Pendidikan


langkah sebagai berikut:
a). Menghitung nilai ulangan harian (NUH).
Nilai ulangan harian merupakan nilai rata-rata yang
diperoleh dari hasil penilaian ulangan harianmelalui tes
tertulis dan/atau penugasan untuk setiap KD. Dalam
perhitungan nilai rata-rata DAPAT diberikan pembobotan
untuk nilai tes tertulis dan penugasan MISALNYA 60% untuk
bobot tes tertulis dan 40% untuk penugasan. Ulangan harian
dapat dilakukan lebih dari satu kali untuk KD yang gemuk
(cakupan materi yang luas) sehingga ulangan harian tidak
perlu menunggu selesainya pembelajaran KD tersebut.
Materi dalam suatu ulangan harian untuk KD gemuk
mencakup sebagian dari keseluruhan materi yang dicakup
oleh KD tersebut. Bagi KD dengan cakupan materi sedikit,
ulangan harian dapat dilakukan setelah pembelajaran lebih
dari satu KD.

Tabel 4.3 Contoh Pengolahan Nilai Ulangan Harian

Mata Pelajaran : ...


Kelas/Semester : ...
UH-1 UH-2 UH-3 UH- UH- UH-6 Rata-
No. Nama 4 5 Rata
KD
3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.6 3.7 3.8
1 Ani 75 60 80 68 66 80 79 67 90 73,88

2 Budi 71 78 67 69 91 76 66 87 75 75,55

3 Dst

b). Menghitung nilai Ulangan Tengah Semester (NUTS). Nilai


UTAS diperoleh dari hasil tes tulis yang dilaksanakan pada
tengah semester. Materi Ulangan Tengah Semester mencakup
seluruh kompetensi yang telah dibelajarkan sampai dengan
saat pelaksanaan UTS.

133 Pusat Penilaian Pendidikan


c). Menghitung nilai Ulangan Akhir Semester (NUAS). Nilai UAS
diperoleh dari hasil testulis yang dilaksanakan di akhir
semester. Materi UAS mencakup seluruh kompetensi pada
semester tersebut.

d). Penghitungan Nilai Pengetahuan diperoleh dari rata-rata


Nilai Harian (NH), Ulangan Tengah Semester (NUTS), Ulangan
Akhir Semester (NUAS).

Selanjutnya NUHpada Tabel 4.3 digabung dengan NUTS dan


NUAS untuk memperoleh nilai akhir seperti pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Contoh Pengolahan Nilai Akhir

NA
Nama NUH NUTS NUAS NA Pembulatan
Ani 73,89 90 80 79,45 79

Budi 75,56 75 80 76,53 77

...

Pada contoh di atas (Tabel 4.4), NUTS dan NUAS dimasukkan


ke dalam tabel pengolahan nilai akhir semester tanpa dipilah-
pilah nilai per KD berdasarkan nilai NUTS dan NUAS. Sebelum
memasukkan ke dalam tabel tersebut, guru dapat memilah-milah
nilai per KD hasil UTS dan UAS. Pemilahan nilai per KD tersebut
berguna untuk mengetahui KD mana saja yang sudah dan belum
mencapai ketuntasan belajar untuk keperluan pemberian
pembelajaran remedial dan pendeskripsian capaian
pengetahuan dalam rapor.

Penghitungan nilai akhir dapat dilakukan dengan pemberian


bobot.Pemberian bobot diserahkan sepenuhnya pada satuan

134 Pusat Penilaian Pendidikan


pendidikan. Berdasarkan data skor pada tabel 4.4, apabila
dilakukan pembobotan NUH : NUTS : NUAS = 2 : 1 : 1,
penghitungan nilai akhir (NA) Ani adalah:

(2  73,89)  (1  90)  (1  80)


NA  = 79,45
4
Pada jenjang SD, proses pembelajaran dilakukan secara
tematik.Bentuk instrumen penilaian dapat dirancang dengan
mengacu pada stimulus yang bersifat tematik tetapi materi yang
ditanyakan untuk setiap butir soal tetap mengukur kompetensi
yang diukur untuk mata pelajaran-tertentu yang terkait dengan
stimulus tersebut,atau penilaian dapat dirancang terpisah untuk
masing-masing kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran.
Penilaian yang mengacu pada stimulus tematik perlu
menggunakan instrumen yang lebih mendalam untuk menggali
lebih jauh kompetensi peserta didik, yaitu tes uraian.

Berikut ini contoh format pengolahan nilai pegetahu- an untuk


tingkat SD:

Tabel 4.5: Contoh format pengolahan nilai pengetahuan untuk


tingkat SD

Nama:

NO ESENSI KOMPETENSI Tema 1 Rata Tema 1 Rata


MAPEL DASAR/ Skor tes -rata Skor tes tertulis/ -rata
indikator tertulis/ lisan/ penugasan
lisan/
penugasan
1 2 3 4 1 2 3 4
1 PPKn

2 BAHASA
INDONESIA

3 MTK

135 Pusat Penilaian Pendidikan


4 IPS

5 IPA

6 SBDP

7. Penjaskes

3. Pengolahan Nilai Keterampilan


Nilai keterampilan diperoleh dari hasil penilaian
dengan menggunakan instrumen penilaian kinerja
(praktik dan produk), projek dan portofolio. Keempat
bentuk penilaian ini tidak harus dilakukan semuanya
untuk setiap KD, tetapi dipilih dan ditentukan dengan
memperhatikan karakteristik mata pelajaran dan kompetensi
dasar yang sesuai untuk bentuk penilaian tersebut, waktu yang
tersedia, dan koordinasi dengan mata pelajaran dalam satu
rumpun atau mata pelajaran lainnya untuk memastikan peserta
didik tidak terlalu banyak mendapatkan tugas keterampilan.

Dari beberapa kali penilaian keterampilan yang dilakukan


pada peserta didik, nilai keterampilan dapat menggunakan nilai
optimum apabila nilai-nilai yang diperoleh berasal dari penilaian
yang mengukur kemampuan yang sama, misalnya pada mata
pelajaran Bahasa Indonesia, peserta didik diminta untuk
membuat karangan anekdot sebanyak 3 kali, sehingga nilai yang
diperoleh diambil nilai yang tertinggi (optimum). Nilai akhir
keterampilan diperoleh dari nilai rerata hasil penilaian yang
diberikan pada peserta didik.

Penilaian kinerja dapat disinergikan dengan penilaian


pengetahuan untuk kompetensi dasar yang sesuai dan juga
observasi aspek sikap tertentu yang dapat teramati pada saat
peserta didik melakukan kinerja.Penilaian portofolio tidak
dinilaikan kalau hanya dalam bentuk hasil karya terbaik karena
hasil karya tersebut sudah ternilaikan pada saat pembuatan hasil

136 Pusat Penilaian Pendidikan


karya tersebut.Dalam hal ini portofolio hasil karya dapat
dideskripsikan dalam pelaporan. Portofolio dapat diberikan nilai
apabila diberikan dalam bentuk tugas atau projek yang sama
secara berkalasehingga akan menggambarkan perkembangan
kemajuan dari tugas yang diberikan dalam rentang waktu
tertentu.

Berikut ini contoh pengolahan hasil penilaian keterampilan


(tabel 4.6):

Tabel 4.6: Contoh Pengolahan Nilai Keterampilan

Skor
Porto-
KD Praktik Produk Proyek Akhir
folio
KD*
4.1 92 92

4.2 66 75 75

4.3 87 87

4.4 75 87 78,50

4.5 80 80

4.6 85 85

Nilai Akhir Semester 82,916


Pembulatan 83

3,1 + 2,9 + 3,5


ℎ = = 3,17
3

Catatan:
1. Penilaian KD 4.2 dilakukan 2 (dua) kali dengan teknik dan
tugas yang sama. Oleh karena itu skor akhir adalah
skoroptimum. Penilaian untuk KD 4.4 dilakukan 2 (dua) kali
tetapi dengan teknik yang berbeda. Oleh karenanya skor

137 Pusat Penilaian Pendidikan


akhir adalah rata-rata dari skor yang diperoleh melalui
teknik yang berbeda tersebut.
2. KD 4.3 dan KD 4.4 dinilai melalui penilaian proyek. Nilai yang
diperoleh untuk kedua KD tersebut sama (dalam contoh di
atas 87).
3. Nilai portofolio tidak ada nilainya, tetapi ada deskripsi hasil
dari beberapa penilaian yang dilakukan untuk
menggambarkan perkembangan kompetensi yang dicapai
peserta didik
4. Nilai akhir semester diperoleh berdasarkan rata-rata skor
akhir keseluruhan KD keterampilan yang dibulatkan ke
bilangan bulat terdekat.

Nilai Akhir keterampilan peserta didik dapat pula diberi


pembobotan untuk setiap bentuk penilaian, misalnya projek
lebih tinggi dibandingkan dengan praktik.

Contoh pembobotan penilaian kompetensi ketrampilan.

Teknik Bobot
Tes Praktik 2
Projek 1
Penilaian Portofolio 1
Jumlah Bobot 4

Nilai akhir untuk penilaian kompetensi keterampilan dengan


pembobotan tersebut dihitung dengan rumus sebagai berikut.

(2 x Praktik) + (1 x Projek)
Nilai
+(1 x Penilaian Portofolio)
Akhir =
4

Berikut ini 2 (dua) contoh format pengolahan hasil


penilaian keterampilan pada jenjang SD/MI:

138 Pusat Penilaian Pendidikan


Format 1 rekapitulasi nilai keterampilan untuk setiap
muatan pelajaran (mapel) untuk setiap peserta didik.

Nama: ………

NO ESENSI KOMPE- Tema 1 skor Tema 1 Skor


MAPEL TENSI Skor optimum Skor optimum/
DASAR/ praktik/produk /rerata 3 praktik/produk/ rerata
indikato / projek projek
r
1 2 3 4 1 2 3 4
1 PPKn

2 BAHASA
INDO-
NESIA

3 MTK

4 IPA

5 IPS

6 SBDP

Catatan: Skor optimum/rerata diisi sesuai dengan hasil


penilaian yang diperoleh apakah optimum atau rerata

139 Pusat Penilaian Pendidikan


Format 2: rekapitulasi hasil penilaian keterampilan
pada jenjang SD/MI

REKAPITULASI PENILAIAN KETERAMPILAN SEMESTER I

NO NAMA Indikator TEMA Skor Deskripsi


Keterampilan I II III IV optimum
/rata-
rata

Dst
Catatan: indikator keterampilan dijabarkan dengan
menggunakan kata kerja operasional yang sesuai dengan bentuk
penugasannya, misal: Peserta didik dapat menyajikan teks
laporan investigasi , Peserta didik dapat menyampaikan teks
pidato

B. Pelaporan dan Pemanfaatan Hasil Penilaian

1. Pelaporan Hasil Penilaian


Pelaporan hasil penilaian peserta didik terdiri dari buku
laporan hasil pencapaian kompetensi dan portofolio. Buku
laporan hasil pencapaian kompetensi merupakan ringkasan
hasil penilaian terhadap seluruh aktivitas pembelajaran
yang dilakukan peserta didik dalam kurun waktu tertentu.
Laporan perkembangan dan hasil Pencapaian Kompetensi
peserta didik secara rinci, disajikan dalam portofolio yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Buku Laporan
Hasil Pencapaian Kompetensi Peserta Didik ini. Hasil
penilaian oleh pendidik dan satuan pendidikan dilaporkan
kepada orang tua dan Pemerintah.

140 Pusat Penilaian Pendidikan


Laporan hasil penilaian oleh pendidik berisi:
a. Capaian kompetensi peserta didik yang diberikan
minimal dalam bentuk angka 0 – 100, dan deskripsi untuk
capaian pengetahuan dan keterampilan. Apabila akan
ditambahkan predikat (A, B, C, dan D) maka perlu
ditetapkan rentang untuk masing-masing predikat
tersebut.
b. Deskripsi sikap, untuk hasil penilaian sikap spiritual dan
sosial.

Berikut adalah rambu-rambu dalam merumuskan deskripsi


sikap selama satu semester:
a. Deskripsi sikap menggunakan kalimat yang bersifat
memotivasi dengan pilihan kata/frasa yang bernada positif.
Hindari frasa yang bermakna kontras, misalnya: ... tetapi
masih perlu peningkatan dalam ... atau ... namun masih perlu
bimbingan dalam hal ...
b. Deskripsi sikap menyebutkan perkembangan sikap/perilaku
peserta didikyang sangat baik dan/atau baik dan yang
mulai/sedang berkembang.
c. Apabila peserta didik tidak ada catatan apapun dalam hasil
observasi maupun jurnal, sikap peserta didik tersebut
diasumsikan BAIK.
d. Dengan ketentuan bahwa sikap dikembangkan selama satu
semester, deskripsi nilai/perkembangan sikap peserta didik
didasarkan pada sikap peserta didik pada masa akhir
semester. Oleh karena itu, sebelum deskripsi sikap akhir
semester dirumuskan, guru mata pelajaran, guru BK, dan
wali kelas harus memeriksa catatan-catatan sikap peserta
didik secara keseluruhan hingga akhir semester untuk
melihat apakah telah ada catatan yang menunjukkan bahwa
sikap peserta didik tersebut telah menjadi sangat baik, baik,
atau mulai berkembang.
e. Apabila peserta didik memiliki catatan sikap KURANG baik
dalam hasil observasi dan peserta didik tersebut belum
menunjukkan adanya perkembangan positif, deskripsi sikap

141 Pusat Penilaian Pendidikan


peserta didik tersebut dirapatkan dalam rapat dewan guru
pada akhir semester.

Berikut adalah contoh rumusan deskripsi capaian sikap spiritual


dan sosial:

Sikap spiritual:

Selalu bersyukur, selalu berdoa sebelum melakukan


kegiatan, dan toleran pada pemelukagama yang
berbeda; ketaatan beribadah mulai berkembang.

Sikap sosial:

Sangat santun, peduli, dan percaya diri; kejujuran,


kedisiplinan, dan tanggungjawab meningkat.

Penulisan capaian pengetahuan dan keterampilan pada rapor


dalam bentuk angka (NA) menggunakan angka yang sudah
dibulatkan pada skala 0 – 100. Penggunaan predikat, dan
deskripsi hasil capaian.

Berikut adalah rambu-rambu rumusan deskripsi capaian


pengetahuan dalam rapor.

a. Deskripsi pengetahuan menggunakan kalimat yang bersifat


memotivasi dengan pilihan kata/frasa yang bernada positif.
Hindari frasa yang bermakna kontras, misalnya: ... tetapi
masih perlu peningkatan dalam ... atau ... namun masih perlu
bimbingan dalam hal ....
b. Deskripsi berisi beberapa pengetahuan yang sangat baik
dan/atau baik dikuasai oleh siswa dan yang penguasaannya
belum optimal.

142 Pusat Penilaian Pendidikan


c. Deskripsi capaian pengetahuan didasarkan pada bukti-bukti
pekerjaan siswa yang didokumentasikan dalam portofolio
pengetahuan. Apabila KD tertentu tidak memiliki pekerjaan
yang dimasukkan ke dalam portofolio, deskripsi KD tersebut
didasarkan pada skor angka yang dicapai.

Contoh pengolahan dan pelaporan nilai pengetahuan pada


mata pelajaran Matematika kelas X semester I.

Hasil Penilaian ke
No Nama KD Rata2
1 2 3 4 ...
1 Ani 3.1 75 68 70 71
3.2 60 66 70 65
3.3 86 80 90 80 84
3.4 80 95 88
3.5 88 80 84
Nilai RAPOR 78

Keterangan:
1. Penetapan batas ketuntasan oleh satuan pendidikan =
70
2. KD 3.1 dilakukan tagihan penilaian sebanyak 3 kali,
maka nilai pengetahuan pada KD 3.1
75  68  70
  71
3
3. Nilai akhir rapor:

71  65  84  89  83
  78
5
4. Nilai predikat peserta didik diperoleh dengan
menentukan nilai tersebut kedalam rentang predikat
yang ditetapkan sekolah.

143 Pusat Penilaian Pendidikan


Contoh skala nilai untuk penetapan predikat:

Skala Predikat
86 – 100 Sangat baik (A)
70 – 85 Baik (B)
56 – 69 Cukup (C)
≤ 55 Kurang (D)

5. Deskripsi berisi beberapa kompetensi yang sangat baik


dikuasai oleh siswa dan kompetensi yang masih perlu
ditingkatkan. Pada nilai diatas yang kuasai siswa adalah
KD 3.4 dan yang perlu ditingkatkan pada KD 3.2.

Contoh deskripsi dari hasil penilaian di atas:

Memiliki kemampuan mendeskripsikan operasi


aritmetika pada fungsi, namun perlu peningkatan
pemahaman masalah kontekstual menggunakan
konsep sistem persamaan linear tiga variabel

Berikut adalah rambu-rambu rumusan deskripsi capaian


keterampilan.
a. Deskripsi keterampilan menggunakan kalimat yang
bersifat memotivasi dengan pilihan kata/frasa yang
bernada positif. Hindari frasa yang bermakna
kontras, misalnya: ... tetapi masih perlu peningkatan
dalam ... atau ... namun masih perlu bimbingan dalam
hal ....
b. Deskripsi berisi beberapa keterampilan yang sangat
baik dan/atau baik dikuasai oleh siswa dan yang
penguasaannya belum optimal.

144 Pusat Penilaian Pendidikan


c. Deskripsi capaian keterampilan didasarkan pada
bukti-bukti karya siswa yang didokumentasikan
dalam portofolio keterampilan. Apabila KD tertentu
tidak memiliki karya yang dimasukkan ke dalam
portofolio, deskripsi KD tersebut didasarkan pada
skor angka yang dicapai. Portofolio tidak dinilai (lagi)
dalam bentuk angka.

Contoh pengolahan dan pelaporan nilai kompetensi


keterampilan.

Berikut cara pengolahan nilai keterampilan mata pelajaran Seni


Tari kelas X yang dilakukan melalui praktik pada KD 4.1 sebanyak
1 kali dan KD 4.2 sebanyak 2 kali, KD 4.4 melalui produk sekali,
dan Proyek 1 kali, kemudian untuk KD 4.3 dan 4.4 melalui proyek
secara bersamaan.

Porto- Skor
KD Praktik Produk Proyek
folio Akhir

4.1 87 87

4.2 66 75 75

4.3 92 92

4.4 75 82 78,50
83,12
Rerata
5

Keterangan:
 Pada KD 4.1, 4.2, dan 4.3 Skor Akhir diperoleh berdasarkan
nilai optimum, sedangkan untuk 4.4 diperoleh berdasarkan
rata-rata karena menggunakan teknik yang berbeda.
 Nilai akhir semester didapat dengan cara merata-ratakan
skor akhir pada setiap KD.

145 Pusat Penilaian Pendidikan


92  75  87  78,50
 Nilai keterampilan NA   83,125
4
 83 (pembulatan).

 Nilai predikat diperoleh dengan menentukan nilai tersebut


kedalam rentang predikat yang ditetapkan sekolah.

Contoh skala nilai untuk penetapan predikat:


Skala Predikat
86 – 100 Sangat baik (A)
70 – 85 Baik (B)
56 – 69 Cukup (C)
≤ 55 Kurang (D)
 Nilai akhir keterampilan dilengkapai deskripsi
kompetensisingkat yang menonjol berdasarakan histori
pencapaian KD pada KI-4 selama satu semester.

 Deskripsi nilai keterampilan diatas adalah:

Memiliki keterampilan sangat baik dalam


memeragakan ragam gerak tari sesuai dengan
iringan musik

2. Pemanfaatan Hasil Penilaian

Melalui hasil penilaian kita dapat mengetahui kemampuan


dan perkembangan peserta didik, selain itu hasil penilaian dapat
memberi gambaran tingkat keberhasilan pendidikan pada satuan
pendidikan tertentu.Berdasarkan hasil penilaian, kita dapat
menentukan langkah atau upaya yang harus dilakukan dalam
meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Pendidik, Satuan
Pendidikan, Orang Tua, Peserta didik, dan Pemerintah harus
memanfaatkan hasil penilaian formatif dan sumatif untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas dan mutu lulusan.

146 Pusat Penilaian Pendidikan


Hasil penilaian formatif dapat dimanfaatkan antara lain untuk:

a. Memperbaiki rencana pembelajaran di masa mendatang,


terutama dalam merumuskan tujuan pembelajaran, metode
pembelajaran, dan teknik penilaian;

b. Memperbaiki proses pembelarajan yang lebih aktif, kreatif,


efektif, efisien, dan menarik;

c. Mengulang kompetensi daras yang belum dikuasai peserta


didik sebelum melanjutkan dengan kompetensi dasar baru;

d. Mendiagnosis kekuatan dan kelemahan pembelajaran,


misalnya mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik pada
suatau materi atau kompetensi dasar tertentu. Hasil
diagnosis ini dapat dijadikan bahan dalam memberikan
bantuan dan bimbingan belajar pada peserta didik tertentu.

Hasil penilaian sumatif dapat dimanfaatkan anatara lain untuk:


a. Membuat laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dalam
bentuk rapor setiap semester

b. Menata ulang seluruh rencana pembelajaran berdasarkan


hasil penilaian sumatif terutama kelompok materi yang sulit
dan belum dikuasainya

c. Melakukan perbaikan dan penyempurnaan istrumen


penilaian sumatif yang telah digunakan berdasarkan data
emprik yang telah diperoleh peserta didik.

Penilaian yang dilakukan dengan profesional dapat


dimanfaatkan oleh pendidik untuk:
 menelusuri agar proses pembelajaran anak didik tetap
sesuai dengan rencana. Pendidik mengumpulkan informasi
sepanjang semester dan tahun pelajaran melalui berbagai

147 Pusat Penilaian Pendidikan


bentuk penilian agar memperoleh gambaran tentang
pencapaian kompetensi oleh peserta didik.
 mengecek adakah kelemahan-kelemahan yang dialami
peserta didik dalam proses pembelajaran. Melalui penilaian,
baik yang bersifat formal maupun informal pendidik
melakukan pengecekan kemampuan (kompetensi) apa yang
peserta didik telah kuasai dan apa yang belum dikuasai.
 mencari dan menemukan hal-hal yang menyebabkan
terjadinya kelemahan dan kesalahan dalam proses
pembelajaran. Pendidik harus selalu menganalisis dan
merefleksikan hasil penilaian dan mencari hal-hal yang
menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan secara
efektif.
 menyimpulkan apakah peserta didik telah menguasai
seluruh kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum atau
belum. Penyimpulan sangat penting dilakukan pendidik,
khususnya pada saat pendidik diminta melaporkan hasil
kemajuan belajar peserta didik kepada orang tua, satuan
pendidikan, atau pihak lain seperti di akhir semester atau
akhir tahun ajaran baik dalam bentuk rapor atau bentuk
lainnya.

148 Pusat Penilaian Pendidikan


BAB V Pedoman
Penilaian
PENUTUP Kelas oleh Pendidik

Penilaian hasil belajar oleh pendidik sangat besar


pengaruhnya pada pembelajaran siswa, bagaimana mereka
belajar, motivasi belajar, dan bagaimana guru mengajar karena
tujuan penilaian kelas tidak hanya untuk penilaian sumatif saja,
tetapi juga untuk keperluan diagnostik dan formatif. Untuk
mencapai tujuan penilaian tersebut maka penilaian harus
dirancang tidak hanya dilakukan di akhir proses pembelajaran
atau hanya menilai hasil belajar (assessment of learning) tetapi
juga harus dirancang menyatu dengan pembelajaran sehingga
penilaian juga merupakan proses belajar (assessment for
learning), apalagi jika proses penilaian tersebut dengan
melibatkan siswa, maka siswa akan belajar menjadi penilai
dirinya sendiri (assessment as learning). Pada hakikatnya, penilai
terbaik bagi seorang siswa dalam proses belajar adalah dirinya
sendiri. Bila penilaian dilakukan dengan tiga pendekatan di atas
(assessment of, for, dan as learning) maka penilaian tidak hanya
terfokus pada hasil yang cenderung berdimensi kognitif, tetapi
pasti juga menilai proses yang berdimensi keterampilan dan
sikap.

Kurikulum 2013 sebetulnya merupakan hasil evaluasi


terhadap kurikulum 2004 dan menjadi penguat dalam
peningkatan kompetensi yang seimbang antara sikap (attitude),
keterampilan (skill/psikomotor), dan pengetahuan (knowledge).
Pada kurikulum 2013 selain ditekankan perlunya penilaian sikap
yang bertujuan untuk membina dan membentuk sikap peserta
didik melalui penilaian sikap spiritual dan social selama proses
pembelajaran, juga perlu dikembangkan teknik-teknik penilaian
yang bervariasi dan terintegrasi untuk mengukur capaian
kompetensi peserta didik. Penilaian harus mengukur tingkat
berfikir siswa mulai dari rendah sampai tinggi (high-order
thinking), menekankan pada pertanyaan yang membutuhkan
pemikiran mendalam (bukan sekedar hafalan), mengukur proses
kerja siswa bukan hanya hasil kerja siswa, dan menggunakan

149 Pusat Penilaian Pendidikan


portofolio pembelajaran siswa. Tujuan akhir dari penilaian oleh
pendidik adalah membantu siswa berkembang menjadi
pembelajar sejati sepanjang hayat yang secara teratur
memonitor dan menilai kemajuannya (Manitoba Education and
Youth, 2003)

Perubahan pola pemikiran dalam kurikulum ini akan


mengubah proses pembelajaran dan penilaian dalam
implementasi kurikulum 2013. Penilaian harus dilakukan untuk
mengukur ketiga ranah yaitu sikap, pengetahuan, dan
keterampilan secara seimbang dan terintegratif. Oleh sebab itu
pendidik perlu merancang dan mengembangkan berbagai
instrumen penilaian untuk mengukur ketiga ranah tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan puspendik,


kesiapan pendidik di SD, SMP, dan SMA khususnya pemahaman
mengenai penilaian pembelajaran menggunakan kurikulum
2013 masih belum memuaskan (masih kurang jauh dari 75).
Beberapa pelatihan terkait dengan penilaian telah diikuti, namun
pemerolehan pemahaman belum cukup jelas. Pendidik telah
berusaha menerapkan penilaian pembelajaran menggunakan
kurikulum 2013 tetapi belum optimal karena menghadapi
berbagai kendala dan kesulitan antara lain merencanakan
penilaian sikap dan keterampilan, kesulitan melaksanakan
penilaian sikap dan portfolio, pengaturan waktu untuk
melaksanakan penilaian, tidak mempunyai cukup waktu
menindaklanjuti hasil penilaian, kesulitan melaporkan hasil
penilaian, dan kesulitan mendeskripsikan hasil penilaian.

Cukup banyaknya kendala yang dihadapi pendidik di


lapangan dalam implementasi kurikulum menuntut adanya buku
pedoman penilaian yang dapat dijadikan acuan oleh pendidik
untuk merancang dan mengembangkan model-model penilaian
pada kurikulum 2013. Oleh sebab itu adanya buku pedoman ini
sangat ditunggu tunggu oleh para pendidik di lapangan.

Buku pedoman ini berisi gambaran teoritis tentang model-


model penilaian yang dapat dilakukan pendidik untuk

150 Pusat Penilaian Pendidikan


merancang dan mengembangkan model-model penilaian sesuai
dengan kurikulum 2013 dan kemudian akan disertai dengan
buku petunjuk teknis untuk setiap mata pelajaran pada tingkat
SMP dan SMA. Untuk tingkat SD buku pedoman teknis dibuat jadi
satu buku, tetapi berisi contoh-contoh untuk beberapa mata
pelajaran, karena pada tingkat SD proses pembelajarannya
tematik. Mudah-mudahan buku pedoman ini dapat memberi
gambaran tentang model-model penilaian yang dapat
dikembangkan oleh pendidik di sekolah

151 Pusat Penilaian Pendidikan


DAFTAR PUSTAKA
Anastasi, A. (1982). Psychological testing.Fifth Edition. New York:
MacMillan Publishing, Co., Inc.
Airasian, P.W. (1994). Classroom assessment. New York: McGraw-
Hill, Inc.
Association Educator (2000).Competency-Based Education: What,
Why, and How?American Society of Association Executives,
Washington, DC.
Arter, J.A. (1994).Performance ceriteria, the heart of the matter.
(Available From: Northwest Regional Educational
Laboratory, 101 S.W. Main, suite 500, Portland, Oregon
97204)
Bandura, A. (1977). Social learning theory. New Jersey: Prentice-
Hall, Inc.
Baron, R.A. & Byrne, D. (1981). Social psychology: understanding
human relation. Third Edition. Boston: Allyn an Bacon, Inc.
Birren, J. E., Kinney, D. K., Schaie, K. W., & Woodruff, D. S.
(1981).Developmental psychology: A life span approach.
Boston: Houghton-Mifflin.
Chaiken, S. & Stangor, C. (1987). Attitude and attitude change.
Annual Review of Psychology38:575-630.
Coleman, J.C. Morris, C.G. & Glaros, A.G. (1987). Contemporary
and psychology effective behavior. Illinois: Scott,
Foresman and Company
De Fina,A. (1992).Portfolio Assesment: Getting Started.scholastic.
Ebel, Robert L. and Frisbie, David A. (1991). Essentials of
Educational Measurement. Fifth Edition. Engelwood
Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, 1991.
Fernandes, HJX. (1984). Testing and Measurement. Jakarta:
National Education Planning, Evaluation and Curriculum
Dev.
Forster, M & G. Masters, (1996). Performance Assessment
Resource Kit. Commonwealth of Australia.
Fraenkel, J.R. 1977.How to teach about values: an analytic
approach. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

2 Pusat Penilaian Pendidikan


Fraenkel, J.R. 1980.Helping students think and value: strategies for
teaching the social studies.Second Edition. New Jersey:
Prentice-Hall, Inc.
Frederiksen,N.,Glaser,R.,Lesgold,a.,& shafto,M.G (eds) (1990).
Diagnostic Monitoring of skill and Knowledge Aquisition.
Hilsdale,NJ: Lawrence Erlbaum.
Gronlund, N.E. Constracting Achievement Tests. Englewood
Cliffs New Jersey:Prentice Hall, 1977.
Gredler, M.E (1996). Program Evalution. Prentice – Hall, Inc, A
Simon & Schuster Company, Englewood Cliffs, New Jersey.
Grabe, W,& .Kaplan. 1996. Theory and Prachtice of Writing.
Addison Wesley, Longman.
Garman, N. and Prantanida, M. (1991).The Academic/Professional
Portofolio. The Australian Administrator, A. Professional
Publication for Educational Administrators, School of
Education, Deakin University.
Gronlund, N.E. (1998). Assessment of Student Achievement.
Needhan Heights, MA: A Viacom Company
Gonczi, A. (1992). Developing a Competent Workforce. Needhan
Heights, MA: A Viacom Company.
Haladyna, Thomas M. Developing and Validating Multiple-
Choice Test Items. New Jersey: Laurence Erlbum
Associates. Publishers, 1994
Hill, B.C. and Ruptic, C. (1994).Practical Aspects of Authentic
Assessment: Putting The Pieces Together. Christoper-
Gordon Publisher, Inc. Noerwood, MA.
Klausmeier, H.J. 1985. Educational psychology.Fifth Edition. New
York: Harper & Row Publishers
Linn, Robert L. and Gronlund, N.E. (1990). Measurement and
Assessment in Teaching.Macmillan Publishing Company.
___ (1995). Measurement and Assessment in Teaching. New
Jersey:Englewood Cliffs, Prentice-Hall, Inc.
Mehrens, William A. and Irvin, J. Lehman.(1991). Measurement
and Evaluation in Education and Psychology. Holt,
Rinehart and Winston,Inc.,

3 Pusat Penilaian Pendidikan


Merrell, K. W., & Gimpel, G. A. (1998).Social skills of children and
adolescents: Conceptualization, assessment, treatment.
Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, Inc
Nitko, Anthony J. (1996).Educational Assessment of Students.
Second Edition. New Jersey, Meanil, an imprint of
Practice Hall,
Nitko, Anthony.J. (1983). Educational tests and measuremen. New
York: Harcourt Brace Javonovich, Inc.
Nitko, A.J. & Hsu. T. (1996). Teacher’s guide to better classroom
testing A Judgemental approach. Jakarta: Madecor Career
Systems and Pusat Pengembangan Agribisnis.
Olson, J.M. & Zanna, M.P. (1993). Attitude and attitude change.
Annual Review of Psychology44:117-154.
Popham, W. James. (1995). Classroom assessment: what teachers
need to know. Needham Heights, MA: Allyn & Bacon, A
Simmon & Schuster Company
Perrone, V. (Ed.). (1991). Expanding Student Assessment,
Association for Supervision and Curriculum Development
(ASCD), Alexanderia Virginia.
Stiggins, R.J. (1994). Student Centered Classroom Assessment.
Merril, Imprint of Mc Millan College, Publsher Co, Ny.
Tierney, R.J. (1991). Portofolio Assessment in the Reading Writing
Classroom. Christopher Gordon Publishers, Inc.
Tim Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem Pengujian.
(2000). Bahan Penataran Pengujian Pendidikan, Pusat
Sistem Pengujian.

4 Pusat Penilaian Pendidikan