Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA ANAK DENGAN EPILEPSI

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

I. DEFINISI

Kata epilepsi berasal dari Yunani Epilambanmein yang berarti


serangan. Pada jaman dahulu masyarakat percaya bahwa epilepsi disebabkan
oleh roh jahat dan juga dipercaya bahwa epilepsi merupakan penyakit yang
bersifat suci. Hal ini merupakan latar belakang adanya mitos dan rasa takut
terhadap epilepsi. Mitos tersebut mewarnai sikap masyarakat dan menyulitkan
upaya penangan penderita epilepsi dalam kehidupan normal.
Epilepsi sebetulnya sudah dikenal sekitar tahun 2000 sebelum Masehi.
Hippokrates adalah orang pertama yang mengenal epilepsi sebagai gejala
penyakit dan menganggap bahwa epilepsi merupakan penyakit yang didasari
oleh adanya gangguan di otak. Epilepsi merupakan kelainan neurologi yang
dapat terjadi pada setiap orang di seluruh dunia.
Epilepsi bukanlah suatu penyakit, tetapi sekumpulan gejala yang
manifestasinya adalah lewat serangan epileptik yang berulang. Epilepsi
merupakan gangguan susunan saraf pusat yang dicirikan oleh terjadinya
serangan (seizure, fit, attack, spell) yang bersifat spontan (unprovoked) dan
berkala. Serangan dapat diartikan sebagai modifikasi fungsi otak yang bersifat
mendadak dan sepintas, yang berasal dari sekelompok besar sel-sel otak,
bersifat sinkron dan berirama. Serangan dapat berupa gangguan motorik,
sensorik, kognitif atau psikis. Istilah epilepsi tidak boleh digunakan untuk
serangan yang terjadi hanya sekali saja, serangan yang terjadi selama penyakit
akut berlangsung dan occasional provokes seizures misalnya kejang atau
serangan pada hipoglikemia.
Epilepsi merupakan gejala kompleks dari banyak gangguan fungsi otak
yang dikarakteristikkan oleh kejang berulang. Kejang merupakan akibat dari
pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel saraf korteks serebral yang
ditandai dengan serangan tiba-tiba, terjadi gangguan kesadaran ringan,
aktivitas motorik, atau gangguan fenomena sensori.

1
II. EPIDEMIOLOGI

Epilepsi dapat terjadi pada laki-laki maupun wanita, tanpa memandang


umur dan ras. Jumlah penderita epilepsi meliputi 1 - 2 % populasi, secara
umum diperoleh gambaran bahwa insidens epilepsi menunjukkan pola
bimodal, puncak insiden terdapat pada golongan anak dan lanjut usia.
Penelitian insidensi dan prevalensi telah dilaporkan oleh berbagai
negara, tetapi di Indonesia belum diketahui secara pasti. Para peneliti
umumnya mendapatkan insidens 20 - 70 per 100.000 per tahun dan prevalensi
sekitar 0,5 - 2 per 100.000 pada populasi umum. Sedangkan pada populasi
anak diperkirakan 0,3 - 0,4 % di antaranya menderita epilepsi. Penderita laki-
laki umumnya sedikit lebih banyak dibandingkan dengan perempuan. Epilepsi
merupakan masalah pediatrik yang besar dan lebih sering terjadi pada usia dini
dibandingkan usia selanjutnya.

World Health Organization menyebutkan, insidens epilepsi di negara


maju berkisar 50 per 100.000 penduduk, sedangkan di negara berkembang 100
per 100.000 ribu. Salah satu penyebab tingginya insidens epilepsi di negara
berkembang adalah suatu kondisi yang dapat menyebabkan kerusakan otak
permanen. Kondisi tersebut di antaranya: infeksi, komplikasi prenatal,
perinatal, serta post natal.

Di Indonesia, diperkirakan, jumlah penderita epilepsi sekitar 1 - 4 juta


jiwa. Di bagian llmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
Jakarta didapatkan sekitar 175 - 200 pasien baru per tahun, dan yang
terbanyak pada kelompok usia 5 -12 tahun masing-masing 43,6% dan 48,670.5
Penelitian di RSU dr. Soetomo Surabaya selama satu bulan mendapatkan 86
kasus epilepsi pada anak. Penderita terbanyak pada golongan umur 1 - 6 tahun
(46,5%), kemudian 6 - 10 tahun (29,1%), 10 - 18 tahun (16,28%) dan 0 - 1
tahun (8,14%). Studi prevalensi epilepsi pernah dilakukan di Yogyakarta pada
tahun 1984 dengan sampel 1 wilayah. Hasil studi didapatkan prevalensi
epilepsi sebesar 4,87 per 1000 penduduk.

2
III. PENYEBAB/FAKTOR PREDISPOSISI

Ditinjau dari penyebab epilepsi dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu :


1. Epilepsi primer atau epilepsi idiopatik
Pada epilepsi primer tidak ditemukan kelainan pada jaringan otak dan
hingga kini tidak ditemukan penyebabnya. Diduga terdapat kelainan atau
gangguan keseimbangan zat kimiawi dalam sel-sel saraf pada area
jaringan otak yang abnormal.
2. Epilepsi sekunder yaitu yang penyebabnya diketahui.
Epilepsi sekunder berarti bahwa gejala yang timbul ialah sekunder, atau
akibat dari adanya kelainan pada jaringan otak. Kelainan ini dapat
disebabkan karena dibawa sejak lahir atau adanya jaringan parut sebagai
akibat kerusakan otak pada waktu lahir atau pada masa perkembangan
anak.
Penyebab spesifik dari epilepsi adalah sebagai berikut :
1. Kelainan yang terjadi selama perkembangan janin/kehamilan ibu, seperti
ibu menelan obat-obat tertentu yang dapat merusak otak janin, mengalami
infeksi, minum alcohol, atau mengalami cidera.
2. Kelainan yang terjadi pada saat kelahiran, seperti kurang oksigen yang
mengalir ke otak (hipoksia), kerusakan karena tindakan.
3. Cedera kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada otak
4. Tumor otak merupakan penyebab epilepsi yang tidak umum terutama
pada anak-anak.
5. Penyumbatan pembuluh darah otak atau kelainan pembuluh darah otak
6. Radang atau infeksi pada otak dan selaput otak
7. Penyakit keturunan seperti fenilketonuria (FKU), sclerosis tuberose dan
neurofibromatosis dapat menyebabkan kejang-kejang yang berulang.
8. Kecerendungan timbulnya epilepsi yang diturunkan. Hal ini disebabkan
karena ambang rangsang serangan yang lebih rendah dari normal
diturunkan pada anak.

3
Faktor-faktor pencetus epilepsi pada anak dapat berupa :
1. Kurang tidur
2. Stress emosional
3. Penyakit infeksi
4. Hipersensitif terhadap obat-obat tertentu
5. Konsumsi Alkohol
6. Perubahan hormonal (Periode menstruasi)
7. Terlalu lelah
8. Fotosensitif (Cahaya yang tiba-tiba dan menyilaukan)

Faktor etiologi berpengaruh terhadap penentuan prognosis. Penyebab


utama, ialah epilepsi idopatik, remote simptomatik epilepsi (RSE), epilepsi
simtomatik akut, dan epilepsi pada anak-anak yang didasari oleh kerusakan
otak pada saat peri atau antenatal. Dalam klasifikasi tersebut ada dua jenis
epilepsi menonjol, ialah epilepsi idiopatik dan RSE. Dari kedua tersebut
terdapat banyak etiologi dan sindrom yang berbeda, masing-masing dengan
prognosis yang baik dan yang buruk.
Dipandang dari kemungkinan terjadinya bangkitan ulang pasca-awitan,
definisi neurologik dalam kaitannya dengan umur saat awitan mempunyai
nilai prediksi sebagai berikut: apabila pada saat lahir telah terjadi defisit
neurologik maka dalam waktu 12 bulan pertama seluruh kasus akan
mengalami bangkitan ulang, Apabila defisit neurologik terjadi pada saat
pascalahir maka resiko terjadinya bangkitan ulang adalah 75% pada 12 bulan
pertama dan 85% dalam 36 bulan pertama. Kecuali itu, bangkitan pertama
yang terjadi pada saat terkena gangguan otak akut akan mempunyai resiko
40% dalam 12 bulan pertama dan 36 bulan pertama untuk terjadinya bangkitan
ulang.
Secara keseluruhan resiko untuk terjadinya bangkitan ulang tidak
konstan. Sebagian besar kasus menunjukan bangkitan ulang dalam waktu 6
bulan pertama. Perubahan bisa terjadi pada awal saat otak janin mulai
berkembang, yakni pada bulan pertama dan kedua kehamilan. Dapat pula
diakibatkan adanya gangguan pada ibu hamil muda seperti infeksi, demam
tinggi, kurang gizi (malnutrisi) yang bisa menimbulkan bekas berupa

4
kerentanan untuk terjadinya kejang. Proses persalinan yang sulit, persalinan
kurang bulan atau telat bulan (serotinus) mengakibatkan otak janin sempat
mengalami kekurangan zat asam dan ini berpotensi menjadi ”embrio” epilepsi.
Bahkan bayi yang tidak segera menangis saat lahir atau adanya gangguan pada
otak seperti infeksi/radang otak dan selaput otak, cedera karena benturan
fisik/trauma serta adanya tumor otak atau kelainan pembuluh darah otak juga
memberikan kontribusi terjadinya epilepsi.

IV. PATOFISIOLOGI

Otak merupakan pusat penerima pesan (impuls sensorik) dan sekaligus


merupakan pusat pengirim pesan (impuls motorik). Otak ialah rangkaian
berjuta-juta neuron. Pada hakekatnya tugas neuron ialah menyalurkan dan
mengolah aktivitas listrik saraf yang berhubungan satu dengan yang lain
melalui sinaps. Dalam sinaps terdapat zat yang dinamakan neurotransmiter.
Asetilkolin dan norepinerprine ialah neurotransmiter eksitatif, sedangkan zat
lain yakni GABA (gama-amino-butiric-acid) bersifat inhibitif terhadap
penyaluran aktivitas listrik sarafi dalam sinaps. Bangkitan epilepsi dicetuskan
oleh suatu sumber gaya listrik di otak yang dinamakan fokus epileptogen. Dari
fokus ini aktivitas listrik akan menyebar melalui sinaps dan dendrit ke neuron-
neuron di sekitarnya dan demikian seterusnya sehingga seluruh belahan
hemisfer otak dapat mengalami muatan listrik berlebih (depolarisasi). Pada
keadaan demikian akan terlihat kejang yang mula-mula setempat selanjutnya
akan menyebar ke bagian tubuh/anggota gerak yang lain pada satu sisi tanpa
disertai hilangnya kesadaran. Dari belahan hemisfer yang mengalami
depolarisasi, aktivitas listrik dapat merangsang substansia retikularis dan inti
pada talamus yang selanjutnya akan menyebarkan impuls-impuls ke belahan
otak yang lain dan dengan demikian akan terlihat manifestasi kejang umum
yang disertai penurunan kesadaran.
Selain itu, epilepsi juga disebabkan oleh instabilitas membran sel saraf,
sehingga sel lebih mudah mengalami pengaktifan. Hal ini terjadi karena
adanya influx natrium ke intraseluler. Jika natrium yang seharusnya banyak di
luar membran sel itu masuk ke dalam membran sel sehingga menyebabkan
ketidakseimbangan ion yang mengubah keseimbangan asam-basa atau

5
elektrolit, yang mengganggu homeostatis kimiawi neuron sehingga terjadi
kelainan depolarisasi neuron. Gangguan keseimbangan ini menyebabkan
peningkatan berlebihan neurotransmitter aksitatorik atau deplesi
neurotransmitter inhibitorik. Kejang terjadi akibat lepas muatan paroksismal
yang berlebihan dari sebuah fokus kejang atau dari jaringan normal yang
terganggu akibat suatu keadaan patologik. Aktivitas kejang sebagian
bergantung pada lokasi muatan yang berlebihan tersebut. Lesi di otak tengah,
talamus, dan korteks serebrum kemungkinan besar bersifat apileptogenik,
sedangkan lesi di serebrum dan batang otak umumnya tidak memicu kejang.
Di tingkat membran sel, sel fokus kejang memperlihatkan beberapa
fenomena biokimiawi, termasuk yang berikut :
1. Instabilitas membran sel saraf, sehingga sel lebih mudah mengalami
pengaktifan.
2. Neuron-neuron hipersensitif dengan ambang untuk melepaskan muatan
menurun dan apabila terpicu akan melepaskan muatan menurun secara
berlebihan.
3. Kelainan polarisasi (polarisasi berlebihan, hipopolarisasi, atau selang waktu
dalam repolarisasi) yang disebabkan oleh kelebihan asetilkolin atau
defisiensi asam gama-aminobutirat (GABA).
4. Ketidakseimbangan ion yang mengubah keseimbangan asam-basa atau
elektrolit, yang mengganggu homeostatis kimiawi neuron sehingga terjadi
kelainan depolarisasi neuron. Gangguan keseimbangan ini menyebabkan
peningkatan berlebihan neurotransmitter aksitatorik atau deplesi
neurotransmitter inhibitorik.
Perubahan-perubahan metabolik yang terjadi selama dan segera setelah
kejang sebagian disebabkan oleh meningkatkannya kebutuhan energi akibat
hiperaktivitas neuron. Selama kejang, kebutuhan metabolik secara drastis
meningkat, lepas muatan listrik sel-sel saraf motorik dapat meningkat menjadi
1000 per detik. Aliran darah otak meningkat, demikian juga respirasi dan
glikolisis jaringan. Asetilkolin muncul di cairan serebrospinalis (CSS) selama
dan setelah kejang. Asam glutamat mungkin mengalami deplesi (proses
berkurangnya cairan atau darah dalam tubuh terutama karena pendarahan atau

6
kondisi yang diakibatkan oleh kehilangan cairan tubuh berlebihan) selama
aktivitas kejang.
Secara umum, tidak dijumpai kelainan yang nyata pada autopsi. Bukti
histopatologik menunjang hipotesis bahwa lesi lebih bersifat neurokimiawi
bukan struktural. Belum ada faktor patologik yang secara konsisten
ditemukan. Kelainan fokal pada metabolisme kalium dan asetilkolin dijumpai
di antara kejang. Fokus kejang tampaknya sangat peka terhadap asetikolin,
suatu neurotransmitter fasilitatorik, fokus-fokus tersebut lambat mengikat dan
menyingkirkan asetilkolin.

PATHWAY

7
Kelainan pre/intranatal, Cidera Kepala, Tumor Otak, Peny. Infeksi, Keturunan

Epilepsi

Instabilitas membran sel syaraf

Influx natrium ke intraselluler

Ketidakseimbangan ion elektrolit atau asam basa

Homeostasis kimiawi neuron terganggu

Kelainan Depolarisasi neuron

Peningkatan berlebihan neurotransmitter aksitatorik asetilkolin


Defisiensi neurotransmitter inhibitorik asam gama-aminobutirat (GABA)

Lepas muatan paroksimal dari fokus epileptogen

Kejang

Suplai oksigen Penurunan Hiperaktifitas Hospitatalisasi Perubahan status


ke otak Kesadaran Neuron kesehatan anak

Ggn Perfusi Metabolisme


Jaringan Serebral meningkat Kejang
berulang
Aktifitas motorik Lingkungan
Lidah menutup
tidak terkontrol baru
jalan nafas

Kurang paparan
Kebutuhan energi informasi
Sekresi saliva meningkat
Meningkat
Resiko Stigma buruk
Cidera Prosedur
invasif tentang penyakit
Kelelahan

Resiko Perasaan Malu


Anak merasa
Aspiksia takut Kurang
Pengetahuan

Defisit Intoleran Hambatan


Perawatan Diri Ansietas
Aktifitas Interaksi Sosial

8
V. KLASIFIKASI
1. Berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi :
a. Epilepsi idiopatik (bila tidak di ketahui penyebabnya)
b. Epilepsi simptomatik (bila ada penyebabnya)
2. Berdasarkan letak fokus epilepsi atau tipe bangkitan :
a. Epilepsi partial (lokal, fokal)
1) Epilepsi parsial sederhana, yaitu epilepsi parsial dengan kesadaran
tetap normal
 Dengan gejala motorik
- Fokal motorik tidak menjalar yaitu epilepsi terbatas pada satu
bagian tubuh saja
- Fokal motorik menjalar yaitu epilepsi dimulai dari satu bagian
tubuh dan menjalar meluas ke daerah lain. Disebut juga
epilepsi Jackson.
- Versif yaitu epilepsi disertai gerakan memutar kepala, mata,
tuibuh.
- Postural yaitu epilepsi disertai dengan lengan atau tungkai kaku
dalam sikap tertentu
- Fonasi yaitu epilepsi disertai arus bicara yang terhenti atau
pasien mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu
 Dengan gejala somatosensoris atau sensoris spesial (epilepsi
disertai halusinasi sederhana yang mengenai kelima panca indera
dan bangkitan yang disertai vertigo)
- Somatosensoris: timbul rasa kesemuatan atau seperti ditusuk-
tusuk jarum.
- Visual : terlihat cahaya
- Auditoris : terdengar sesuatu
- Olfaktoris : terhidu sesuatu
- Gustatoris : terkecap sesuatu
- Disertai vertigo

9
 Dengan gejala atau tanda gangguan saraf otonom (sensasi
epigastrium, pucat, berkeringat, membera, piloereksi, dilatasi
pupil).
 Dengan gejala psikis (gangguan fungsi luhur)
- Disfagia : gangguan bicara, misalnya mengulang suatu suku
kata, kata atau bagian kalimat.
- Dimensia : gangguan proses ingatan misalnya merasa seperti
sudah mengalami, mendengar, melihat, atau sebaliknya.
Mungkin mendadak mengingat suatu peristiwa di masa lalu,
merasa seperti melihatnya lagi.
- Kognitif : gangguan orientasi waktu, merasa diri berubah.
- Afektif : merasa sangat senang, susah, marah, takut.
- Ilusi : perubahan persepsi benda yang dilihat tampak lebih kecil
atau lebih besar.
- Halusinasi kompleks (berstruktur) : mendengar ada yang
bicara, musik, melihat suatu fenomena tertentu, dll.

2) Epilepsi parsial kompleks, yaitu kejang disertai gangguan kesadaran


 Serangan parsial sederhana diikuti gangguan kesadaran (
kesadaran mula-mula baik kemudian baru menurun)
- Dengan gejala parsial sederhana diikuti dengan menurunnya
kesadaran.
- Dengan automatisme. Yaitu gerakan-gerakan, perilaku yang
timbul dengan sendirinya, misalnya gerakan mengunyah,
menelan, raut muka berubah seringkali seperti ketakutan,
menata sesuatu, memegang kancing baju, berjalan,
mengembara tak menentu, dll
 Dengan penurunan kesadaran sejak serangan (kesadaran menurun
sejak permulaan kesadaran)
- Hanya dengan penurunan kesadaran
- Dengan automatisme

10
3) Epilepsi Parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum (tonik-
klonik, tonik, klonik)
 Epilepsi parsial sederhana yang berkembang menjadi bangkitan
umum.
 Epilepsi parsial kompleks yang berkembang menjadi bangkitan
umum.
 Epilepsi parsial sederhana yang menjadi bangkitan parsial
kompleks lalu berkembang menjadi bangkitan umum.
b. Epilepsi umum
1) Petit mal/ Lena (absence)
 Lena khas (tipical absence)
Pada epilepsi ini, kegiatan yang sedang dikerjakan terhenti, muka
tampak membengong, bola mata dapat memutar ke atas, tak ada
reaksi bila diajak bicara. Biasanya epilepsi ini berlangsung
selama ¼ – ½ menit dan biasanya dijumpai pada anak.
- Hanya penurunan kesadaran
- Dengan komponen klonik ringan
Gerakan klonis ringan, biasanya dijumpai pada kelopak mata
atas, sudut mulut, atau otot-otot lainnya bilateral.
- Dengan komponen atonik
Pada epilepsi ini dijumpai otot-otot leher, lengan, tangan,
tubuh mendadak melemas sehingga tampak mengulai.
- Dengan komponen klonik
Pada epilepsi ini, dijumpai otot-otot ekstremitas, leher atau
punggung mendadak mengejang, kepala, badan menjadi
melengkung ke belakang, lengan dapat mengetul atau
mengedang.
- Dengan automatisme
- Dengan komponen autonom.

11
 Lena tak khas (atipical absence)
Pada epilepsi lena tak khas dapat disertai gangguan tonus yang
lebih jelas atau permulaan dan berakhirnya bangkitan tidak
mendadak.
2) Grand Mal
 Mioklonik
Pada epilepsi mioklonik terjadi kontraksi mendadak, sebentar,
dapat kuat atau lemah sebagian otot atau semua otot, seringkali
atau berulang-ulang. Bangkitan ini dapat dijumpai pada semua
umur
 Klonik
Pada epilepsi ini tidak terjadi gerakan menyentak, repetitif,
tajam, lambat, dan tunggal multiple di lengan, tungkai atau torso.
Dijumpai terutama sekali pada anak.
 Tonik
Pada epilepsi ini tidak ada komponen klonik, otot-otot hanya
menjadi kaku pada wajah dan bagian tubuh bagian atas, fleksi
lengan dan ekstensi tungkai. Epilepsi ini juga terjadi pada anak
 Tonik- klonik
Epilepsi ini sering dijumpai pada umur di atas balita yang
terkenal dengan nama grand mal. Serangan dapat diawali dengan
aura, yaitu tanda-tanda yang mendahului suatu epilepsi. Pasien
mendadak jatuh pingsan, otot-otot seluruh badan kaku. Kejang
kaku berlangsung kira-kira ¼ – ½ menit diikutti kejang kejang
kelojot seluruh tubuh. Bangkitan ini biasanya berhenti sendiri.
Tarikan napas menjadi dalam beberapa saat lamanya. Bila
pembentukan ludah ketika kejang meningkat, mulut menjadi
berbusa karena hembusan napas. Mungkin pula pasien kencing
ketika mendapat serangan. Setelah kejang berhenti pasien tidur
beberapa lamanya, dapat pula bangun dengan kesadaran yang
masih rendah, atau langsung menjadi sadar dengan keluhan
badan pegal-pegal, lelah, nyeri kepala.

12
 Atonik
Pada keadaan ini otot-otot seluruh badan mendadak melemas
sehingga pasien terjatuh. Kesadaran dapat tetap baik atau
menurun sebentar. Epilepsi ini terutama sekali dijumpai pada
anak.
c. Epilepsi tak tergolongkan
Termasuk golongan ini ialah bangkitan pada bayi berupa gerakan bola
mata yang ritmik, mengunyah, gerakan seperti berenang, menggigil,
atau pernapasan yang mendadak berhenti sederhana.

VI. GEJALA KLINIS

Manifestasi klinik atau gejala klinis dari epilepsi adalah sebagai berikut :
1. Kejang-kejang, gangguan kesadaran atau gangguan penginderaan
2. Kelainan gambaran EEG
3. Bagian tubuh yang kejang tergantung lokasi dan sifat fokus epileptogen
4. Dapat mengalami aura yaitu suatu sensasi tanda sebelum kejang epileptik
(aura dapat berupa perasaan tidak enak, melihat sesuatu, mencium bau-
bauan tidak enak, mendengar suara gemuruh, mengecap sesuatu, sakit
kepala dan sebagainya)
5. Napas terlihat sesak dan jantung berdebar
6. Raut muka pucat dan badannya berlumuran keringat
7. Satu jari atau tangan yang bergetar, mulut tersentak dengan gejala
sensorik khusus atau somatosensorik seperti: mengalami sinar, bunyi, bau
atau rasa yang tidak normal seperti pada keadaan normal
8. Individu terdiam tidak bergerak atau bergerak secara automatik, dan
terkadang individu tidak ingat kejadian tersebut setelah episode
epileptikus tersebut lewat
9. Di saat serangan, penyandang epilepsi terkadang juga tidak dapat
berbicara secara tiba- tiba
10. Kedua lengan dan tangannya kejang, serta dapat pula tungkainya
menendang- menendang
11. Gigi geliginya terkancing

13
12. Hitam bola matanya berputar- putar
13. Terkadang keluar busa dari liang mulut dan diikuti dengan buang air kecil

Di saat serangan, penyandang epilepsi tidak dapat bicara secara tiba-


tiba. Kesadaran menghilang dan tidak mampu bereaksi terhadap rangsangan.
Tidak ada respon terhadap rangsangan baik rangsang pendengaran,
penglihatan, maupun rangsang nyeri. Badan tertarik ke segala penjuru. Kedua
lengan dan tangannya kejang, sementara tungkainya menendang-nendang.
Gigi geliginya terkancing. Hitam bola mata berputar-putar. Dari liang mulut
keluar busa. Napasnya sesak dan jantung berdebar. Raut mukanya pucat dan
badannya berlumuran keringat. Terkadang diikuti dengan buang air kecil.
Manifestasi tersebut dimungkinkan karena terdapat sekelompok sel-
sel otak yang secara spontan, di luar kehendak, tiba-tiba melepaskan muatan
listrik. Zainal Muttaqien (2001) mengatakan keadaan tersebut bisa
dikarenakan oleh adanya perubahan, baik perubahan anatomis maupun
perubahan biokimiawi pada sel-sel di otak sendiri atau pada lingkungan
sekitar otak. Terjadinya perubahan ini dapat diakibatkan antara lain oleh
trauma fisik, benturan, memar pada otak, berkurangnya aliran darah atau zat
asam akibat penyempitan pembuluh darah atau adanya
pendesakan/rangsangan oleh tumor. Perubahan yang dialami oleh
sekelompok sel-sel otak yang nantinya menjadi biang keladi terjadinya
epilepsi diakibatkan oleh berbagai faktor.

VII. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


1. CT Scan dan Magnetik resonance imaging (MRI)
Pemeriksaan CT Scan dan Magnetik resonance imaging (MRI) untuk
mendeteksi lesi pada otak, fokal abnormal, serebrovaskuler abnormal,
gangguan degeneratif serebral. Epilepsi simtomatik yang didasari oleh
kerusakan jaringan otak yang tampak jelas pada CT scan atau magnetic
resonance imaging (MRI) maupun kerusakan otak yang tak jelas tetapi
dilatarbelakangi oleh masalah antenatal atau perinatal dengan defisit
neurologik yang jelas.

14
2. Elektroensefalogram(EEG)
Pemeriksaan Elektroensefalogram (EEG) untuk mengklasifikasi tipe
kejang dan waktu serangan.
3. Pemeriksaan kimia darah
- Mengukur kadar gula, kalsium dan natrium dalam darah
- Menilai fungsi hati dan ginjal
- Menghitung jumlah sel darah putih (jumlah yang meningkat
menunjukkan adanya infeksi).
4. Pungsi lumbal
Pemeriksaan Lumbal Pungsi utnuk mengetahui apakah telah terjadi infeksi
otak

VIII. DIAGNOSIS / KRITERIA DIAGNOSIS

Diagnosis epilepsi didasarkan atas anamnesis dan pemeriksaan klinis


dengan hasil pemeriksaan EEG dan radiologis. Namun demikian, bila secara
kebetulan melihat serangan yang sedang berlangsung maka epilepsi (klinis)
sudah dapat ditegakkan.
1. Anamnesis
Anamnesis harus dilakukan secara cermat, rinci dan menyeluruh, karena
pemeriksa hampir tidak pemah menyaksikan serangan yang dialami
penderita. Penjelasan perihal segala sesuatu yang terjadi sebelum, selama
dan sesudah serangan (meliputi gejala dan lamanya serangan) merupakan
informasi yang sangat berarti dan merupakan kunci diagnosis. Anamnesis
juga memunculkan informasi tentang trauma kepala dengan kehilangan
kesadaran, meningitis, ensefalitis, gangguan metabolik, malformasi
vaskuler dan obat-obatan tertentu.
2. Pemeriksaan fisik umum dan neurologis
Melihat adanya tanda-tanda dari gangguan yang berhubungan dengan
epilepsi, seperti trauma kepala, infeksi telinga atau sinus, gangguan
kongenital, gangguan neurologik fokal atau difus. Pemeriksaan fisik
harus menepis sebab-sebab terjadinya serangan dengan menggunakan
umur dan riwayat penyakit sebagai pegangan. Pada anakanak pemeriksa

15
harus memperhatikan adanya keterlambatan perkembangan,
organomegali, perbedaan ukuran antara anggota tubuh dapat
menunjukkan awal gangguan pertumbuhan otak unilateral.
3. Pemeriksaan penunjang
a. Elektro ensefalografi (EEG)
Pemeriksaan EEG harus dilakukan pada semua pasien epilepsi dan
merupakan pemeriksaan penunjang yang paling sering dilakukan untuk
rnenegakkan diagnosis epilepsi. Adanya kelainan fokal pada EEG
menunjukkan kemungkinan adanya lesi struktural di otak, sedangkan
adanya kelainan umum pada EEG menunjukkan kemungkinan adanya
kelainan genetik atau metabolik. Rekaman EEG dikatakan abnormal.
1) Asimetris irama dan voltase gelombang pada daerah yang sama di
kedua hemisfer otak.
2) Irama gelombang tidak teratur, irama gelombang lebih lambat
dibanding seharusnya misal gelombang delta.
3) Adanya gelombang yang biasanya tidak terdapat pada anak
normal, misalnya gelombang tajam, paku (spike), paku-ombak,
paku majemuk, dan gelombang lambat yang timbul secara
paroksimal.
Bentuk epilepsi tertentu mempunyai gambaran EEG yang khas,
misalnya spasme infantile mempunyai gambaran EEG hipsaritmia,
epilepsi petit mal gambaran EEG nya gelombang paku ombak 3
siklus per detik (3 spd), epilepsi mioklonik mempunyai gambaran
EEG gelombang paku / tajam / lambat dan paku majemuk yang
timbul secara serentak (sinkron).
b. Rekaman video EEG
Rekaman EEG dan video secara simultan pada seorang penderita yang
sedang mengalami serangan dapat meningkatkan ketepatan diagnosis
dan lokasi sumber serangan. Rekaman video EEG memperlihatkan
hubungan antara fenomena klinis dan EEG, serta memberi kesempatan
untuk mengulang kembali gambaran klinis yang ada. Prosedur yang
mahal ini sangat bermanfaat untuk penderita yang penyebabnya belum

16
diketahui secara pasti, serta bermanfaat pula untuk kasus epilepsi
refrakter. Penentuan lokasi fokus epilepsi parsial dengan prosedur ini
sangat diperlukan pada persiapan operasi.
c. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan yang dikenal dengan istilah neuroimaging bertujuan
untuk melihat struktur otak dan melengkapi data EEG. Bila
dibandingkan dengan CT Scan maka MRl lebih sensitif dan secara
anatomik akan tampak lebih rinci. MRI bermanfaat untuk
membandingkan hipokampus kanan dan kiri.

IX. THERAPY / TINDAKAN PENANGANAN

1. Manajemen Therapi pada penderita epilepsi adalah :


a. Pastikan diagnosa epilepsi dan mengadakan explorasi etiologi dari
epilepsi
b. Melakukan terapi simptomatik
c. Dalam memberikan terapi anti epilepsi yang perlu diingat sasaran
pengobatan yang dicapai, yakni:
- Pengobatan harus di berikan sampai penderita bebas serangan
- Pengobatan hendaknya tidak mengganggu fungsi susunan syaraf pusat
yang normal.
- Penderita dapat memiliki kualitas hidup yang optimal
Penatalaksanaan medis ditujukan terhadap penyebab serangan.
Jika penyebabnya adalah akibat gangguan metabolisme (hipoglikemia,
hipokalsemia), perbaikan gangguan metabolism ini biasanya akan ikut
menghilangkan serangan itu.

2. Penatalaksanaan keperawatan pada penderita epilepsi


Penatalaksanaan keperawatan bertujuan untuk membantu klien dalam
merespon serangan epilepsi agar dapat menjadi adaptif dan terhindar dari
berbagai komplikasi :
a. Kontrol serangan dan mencegah serangan berulang
1) Kenali aura sebelum terjadi serangan

17
2) Anjurkan agar pasien atau keluarga mencatat kejadian serangan
(jumlah, lama, waktu, pola tidur, atau makan) untuk membantu
menentukan terapi.
3) Tekankan pentingnya mendapatkan obat anti epilepsi yang teratur,
dan tidak boleh menghentikan obat tanpa pengawasan doter.
4) Jelaskan pada pasien efek dari obat anti epilepsi.
5) Anjurkan pada pasien untuk periksa darah secara teratur.

b. Perawatan sewaktu terjadinya serangan


1) Mengamankan penderita, semua benda disekitarnya harus
disingkirkan penderita tidak boleh ditinggal sendiri karena bisa
terjadi bahaya fisik, aspirasi lidah tergigit.
2) Jangan berusaha menahan kejang tonik-klonik
3) Masukkan tongouspatel ke dalam mulut. Jika lidah tak tergigit
usaha mencegah tidak perlu. Dalam sikap terlentang lidah akan
jatuh kebelakang, sehingga tidak akan keluar dari mulut dan
menggigit lidah.
4) Miringkan kepala pasien untuk mencegah aspirasi
5) Longgarkan pakaian pasien
6) Catat semua gejala dan tanda-tanda serangan
7) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antiseptik.
c. Perawatan setelah serangan
1) Untuk pasien tidak sadar
- Jaga nafas tetap lancar
- Jaga / monitor tanda-tanda vital
- Cairan dan elektrolit harus diperhatikan, misal dengan infus atau
diit cair per sonde
2) Kaji apakah pasien dapat mengingat apa yang terjadi
3) Beri rasa aman
d. Meningkatkan harga diri
1) Diskusikan pada pasien pendapat tentang penyakitnya.
2) Kenali kekuatan atau keterampilan pasien agar pasien dapat hidup
di masyarakat dengan baik.

18
3) Dorong pasien mampu menggunakan kekuatan-kekuatan atau hal-
hal yang positif pada dirinya sehingga dapat mengurangi stress.

3. Pengobatan
Pengobatan epilepsi adalah pengobatan jangka panjang. Penderita akan
diberikan obat antikonvulsan untuk mengatasi kejang sesuai dengan jenis
serangan. Penggunaan obat dalam waktu yang lama biasanya akan
menyebabkan masalah dalam kepatuhan minum obat (compliance) serta
beberapa efek samping yang mungkin timbul seperti mengantuk,
hiperaktif, sakit kepala dll. Penyembuhan akan terjadi pada 30-40% anak
dengan epilepsi. Lama pengobatan tergantung jenis epilepsi dan
etiologinya. Pada serangan ringan selama 2-3th sudah cukup, sedang yang
berat pengobatan bisa lebih dari 5th. Penghentian pengobatan selalu harus
dilakukan secara bertahap. Tindakan pembedahan sering dipertimbangkan
bila pengobatan tidak memberikan efek sama sekali.
Penanganan terhadap anak kejang akan berpengaruh terhadap
kecerdasannya. Jika terlambat mengatasi kejang pada anak, ada
kemungkinan penyakit epilepsi, atau bahkan keterbalakangan mental.
Keterbelakangan mental di kemudian hari. Kondisi yang menyedihkan ini
bisa berlangsung seumur hidupnya. Pada epilepsi umum sekunder, obat-
obat yang menjadi lini pertama pengobatan adalah karbamazepin dan
fenitoin. Sedangkan Gabapentin, lamotrigine, fenobarbital, primidone,
tiagabine, topiramate, dan asam valproat digunakan sebagai pengobatan
lini kedua. Terapi dimulai dengan obat anti epilepsi garis pertama. Bila
plasma konsentrasi obat di ambang atas tingkat terapeutis namun penderita
masih kejang dan AED tak ada efek samping, maka dosis harus
ditingkatkan. Bila perlu diberikan gabungan dari 2 atau lebih AED, bila
tak mempan diberikan AED tingkat kedua.

4. Pencegahan
Upaya sosial luas yang menggabungkan tindakan luas harus ditingkatkan
untuk pencegahan epilepsi. Resiko epilepsi muncul pada bayi dari ibu
yang menggunakan obat antikonvulsi yang digunakan sepanjang
kehamilan. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama yang

19
dapat dicegah. Melalui program yang memberi keamanan yang tinggi dan
tindakan pencegahan yang aman, yaitu tidak hanya dapat hidup aman,
tetapi juga mengembangkan pencegahan epilepsi akibat cedera kepala.
Ibu-ibu yang mempunyai resiko tinggi (tenaga kerja, wanita dengan latar
belakang sukar melahirkan, pengguna obat-obatan, diabetes, atau
hipertensi) harus di identifikasi dan dipantau ketat selama hamil karena
lesi pada otak atau cedera akhirnya menyebabkan kejang yang sering
terjadi pada janin selama kehamilan dan persalinan. Program skrining
untuk mengidentifikasi anak gangguan kejang pada usia dini, dan program
pencegahan kejang dilakukan dengan penggunaan obat-obat anti
konvulsan secara bijaksana dan memodifikasi gaya hidup merupakan
bagian dari rencana pencegahan ini.

X. PROGNOSIS

Prognosis epilepsi bergantung pada beberapa hal, di antaranya jenis


epilepsi faktor penyebab, saat pengobatan dimulai, dan ketaatan minum obat.
Pada umumnya prognosis epilepsi cukup menggembirakan. Pada 50-70%
penderita epilepsi serangan dapat dicegah dengan obat-obat, sedangkan sekitar
50 % pada suatu waktu akan dapat berhenti minum obat. Serangan epilepsi
primer, baik yang bersifat kejang umum maupun serangan lena atau melamun
atau absence mempunyai prognosis terbaik. Sebaliknya epilepsi yang serangan
pertamanya mulai pada usia 3 tahun atau yang disertai kelainan neurologik
dan atau retardasi mental mempunyai prognosis relatif jelek.

20
B. ASUHAN KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN
Pada tahap pengkajian perawat mengumpulkan informasi tentang :
a. Identitas pasien
Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku
bangsa,alamat, tanggal masuk rumah sakit, nomor register, tanggal
pengkajian dan diagnosa medis.
b. Keluhan Utama
Keluarga biasanya mengajak pasien ketempat pelayanan kesehatan karena
klien mengalami penurunan kesadaran secara tiba-tiba disertai mulut
berbuih. Kadang-kadang klien / keluarga mengeluh anaknya prestasinya
tidak baik dan sering tidak mencatat. Klien atau keluarga mengeluh
anaknya atau anggota keluarganya sering berhenti mendadak bila diajak
bicara.
c. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit sekarang adalah kejang, terjadi aura, dan tidak sadarkan
diri.
d. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Dalam hal ini yang dikaji meliputi riwayat prenatal, natal dan post natal.
Riwayat penyakit yang perlu dikaji adalah adanya trauma lahir, Asphyxia
neonatorum cedera kepala, infeksi sistem syaraf, ganguan metabolik
(hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia), tumor otak, kelainan pembuluh
darah, kejang demam, gangguan tidur, penggunaan obat, hiperventilasi,
stress emosional.
e. Riwayat Psikososial
Klien merasa cemas dengan kondisi penyakit yang diderita dan adanya
gangguan konsep diri serta hambatan interaksi sosial yang berhubungan
dengan penyakit epilepsi (atau “ayan” yang lebih umum di masyarakat)
f. Riwayat Keluarga
Pandangan yang mengatakan penyakit epilepsi merupakan penyakit
keturunan memang tidak semuanya keliru, sebab terdapat dugaan terdapat 4-
8% penyandang ayan diakibatkan oleh faktor keturunan.

21
j. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan secara Head to Toe yang meliputi
keadaan umum, kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada, payudara,
paru-paru, jantung, abdomen, genetalia, anus dan rektum, muskuloskletal
serta neurologi.
Pemeriksaan fisik (ROS) meliputi :
 B1 (breath)
Respirasi rate biasanya meningkat (takipnea) atau dapat terjadi apnea,
aspirasi
 B2 (blood)
Terjadi takikardia, cianosis
 B3 (brain)
Penurunan kesadaran
 B4 (bladder)
Oliguria atau dapat terjadi inkontinensia urine
 B5 (bowel)
Nafsu makan menurun, mual, muntah, berat badan turun
 B6 (bone)
Klien terlihat lemas, dapat terjadi tremor saat menggerakkan anggota
tubuh, mengeluh meriang

k. Pemeriksaan Diagnostik Penunjang


Hasil pemeriksaan laboratorium, rontgen, CT. Scan, EEG dan lain-lain.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnose keperawatan pada anak dengan epilepsi adalah :

1. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan suplai


oksigen ke jaringan otak
2. Resiko asfiksia berhubungan dengan peningkatan sekresi saliva dan lidah
jatuh menyumbat jalan nafas
3. Resiko cidera berhubungan dengan aktifitas kejang yang tidak terkontrol

22
4. Ansietas anak berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan efek
hospitalisasi
5. Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya paparan
informasi tentang penyakit, prosedur pengobatan dan prognose dari
penyakit epilepsi
6. Intoleran aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
kebutuhan oksigen dan suplai oksigen
7. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
8. Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan malu dan ketakutan kejang
di muka umum

III. RENCANA KEPERAWATAN

Rencana tindakan keperawatan pada anak dengan epilepsi adalah :

NO RENCANA TINDAKAN
DX TUJUAN & INTERVENSI RASIONAL
KRITERIA HASIL
1 Setelah dilakukan tindakan 1. Pantau tanda-tanda vital 1. Perubahan TTV merupakan
keperawatan selama 3 x 24 salah satu tanda adanya
jam diharapkan perfusi perubahan perfusi jaringan
jaringan cerebral adekuat
cerebral
dengan kriteria hasil :
1. Kesadaran CM 2. Pantau status neurologis ( 2. Perubahan tingkat
2. Ukuran dan reaksi pupil kesadaran, reaksi dan kesadaran, reaksi dan
normal ukuran pupil, respon ukuran pupil sebagai tanda
3. Aktifitas kejang tidak ada terhadap stimulus) adanya kerusakan jaringan
4. Menunjukkan perhatian, serebral
konsentrasi, dan orientasi 3. Tinggikan kepala pasien 3. Meningkatkan aliran balik
5. TTV dalam batas normal
15-45 derajat sehingga mengurangi
kongesti dan edema
4. Observasi adanya 4. Merupakan indikasi adanya
kegelisahan dan aktifitas gangguan pada jaringan
kejang serebral
5. Kolaborasi 5. Pemberian oksigen untuk
- Pemberian oksigen menurunkan hipoksemia
- Obat anti konvulsan dan obat anti konvulsan
untuk mencegah terjadinya
kejang

23
2 Setelah diberikan tindakan 1. Anjurkan klien untuk 1. Menurunkan resiko aspirasi
perawatan selama 3 x 24 jam mengosongkan mulut dari atau masuknya sesuatu
diharapkan asfiksia tidak benda / gigi palsu jika fase benda asing ke faring
terjadidengan kriteria hasil: aura terjadi dan untuk
1. Menunjukkan patensi jalan menghindari rahang
nafas mengatup jika kejang
2. Tidak ada sianosis dan terjadi tanpa ditandai
dispnea gejala awal.
3. Sekresi keluar secara efektif 2. Letakkan pasien dalam 2. Meningkatkan aliran
4. Irama dan frekwensi posisi miring, permukaan (drainase) sekret, mencegah
pernafasan normal datar lidah jatuh dan menyumbat
5. Bunyi nafas tambahan jalan nafas
(ronchi, wheezing) tidak 3. Masukkan spatel lidah atau 3. Menghindari sumbatan
ada gulugan benda lunak jalan nafas
sesuai dengan indikasi
4. Tanggalkan pakaian pada 4. Untuk memfasilitasi usaha
daerah leher / dada dan bernafas / ekspansi dada
abdomen
5. Lakukan suction sesuai 5. Mengeluarkan mukus yang
indikasi berlebih
6. Kolaborasi pemberian 6. Membantu memenuhi
oksigen sesuai program kebutuhan oksigen agar
terapi tetap adekuat, dapat
menurunkan hipoksia
serebral

3 Setelah diberikan tindakan 1. Jelaskan fase aura sebagai


1. Sebagai tanda untuk
perawatan selama 3 x 24 jam gejala awal terjadinya menghindari cidera sebelum
diharapkan cidera fisik tidak kejang terjadinya kejang
terjadi dengan kriteria hasil: 2. Identifikasi faktor
2. Mengidentifikasi Barang-
1. Pasien dapat mengenali lingkungan yang
barang di sekitar pasien
gejala awal dari serangan memungkinkan resiko
yang dapat membahayakan
dan dapat menghindarinya terjadinya cedera saat terjadi kejang
2. Pasien dalam kondisi aman 3. Observasi status neurologis
3. Mengidentifikasi gejala
3. Tidak ada memar atau luka setiap 8 jam kejang secara dini
4. Tidak jatuh 4. Jauhkan benda - benda 4. Mengurangi terjadinya
yang dapat mengakibatkan cedera seperti akibat
terjadinya cedera pada aktivitas kejang yang tidak
pasien saat terjadi kejangterkontrol
5. Pasang penghalang tempat
5. Penjagaan untuk keamanan,
tidur pasien untuk mencegah cidera atau
jatuh
6. Tinggal bersama pasien 6. Memberi penjagaan untuk
dalam waktu beberapa keamanan pasien untuk
lama setelah kejang kemungkinan terjadi kejang
kembali

24
7. Berikan informasi pada 7. Melibatkan keluarga untuk
keluarga tentang tindakan mengurangi resiko cedera
yang harus dilakukan
selama pasien kejang
8. Kolaborasi pemberian obat 8. Mengurangi dan mencegah
anti konvulsan aktivitas kejang
4 Setelah dilakukan tindakan 1. Beri kesempatan pasien 1. Mengurangi beban psikis
keperawatan selama 3 x 24 mengungkapkan perasaan
jam diharapkan pasien tidak 2. Gunakan komunikasi 2. Untuk membina hubungan
merasa cemas dengan kriteria terapiutik saling percaya
hasil : 3. Ciptakan lingkungan yang 3. Agar pasien merasa tenang
1. Pasien mengatakan tidak nyaman dan betah menjalani
merasa cemas pengobatan
2. Pasien kooperatif dalam 4. Berikan KIE tentang 4. Supaya mengerti dan
perawatan penyakit, pengobatan dan memahami penyakitnya
3. Pasien tampak tenang prognose dari penyakit
epilepsi
5. Sarankan orang tua untuk 5. Dengan orang terdekat anak
rajin berdoa dan menemani akan merasa nyaman
anaknya
5 Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji pengetahuan keluarga 1. Mengetahui tingkat
keperawatan selama 3 x 24 tentang proses penyakit pengetahuan keluarga
jam diharapkan orang tua yang spesifik
mempunyai pengetahuan 2. Jelaskan patofisiologi dari 2. Agar keluarga mempunyai
tentang penyakit epilepsi penyakit dan bagaimana gambaran proses terjadinya
dengan kriteria hasil : hal ini berhubungan penyakit epilepsi
1. Keluarga menyatakan dengan anatomi dan
pemahaman tentang fisiologi, dengan cara yang
penyakit, kondisi, tepat.
prognosis, dan program 3. Jelaskan tanda dan gejala 3. Agar keluarga mempunyai
pengobatan yang biasa muncul pada pengetahuan tentang tanda
2. Keluarga mampu penyakit, dengan cara yang dan gejala dari epilepsi
melaksanakan prosedur tepat
yang dijelaskan dengan 4. Jelaskan tentang prosedur 4. Supaya pasien teratur
benar pengobatan epilepsi berobat, karena pengobatan
3. Keluarga mampu epilepsi membutuhkan
menjelaskan kembali apa waktu jangka panjang
yang dijelaskan

6 Setelah diberikan asuhan 1. Observasi tanda keletihan, 1. Merencanakan istirahat


keperawatan selama 2x24 jam tidak dapat mentoleransi yang tepat
diharapkan pasien mampu aktivitas tambahan
melakukan aktivitas secara 2. Bantu aktivitas sehari-hari 2. Untuk mencegah kelelahan
bertahap sesuai kemampuan diluar batas toleransi
dengan kriteria hasil : 3. Anjurkan pasien untuk 3. Melatih kemandirian dan
1. Pasien berpartisipasi pada

25
aktivitas yang diinginkan melakukan aktifitas secara kepercayaan diri pasien
2. Menurunnya kelemahan bertahap sesuai
dan keletihan kemampuan
3. Tanda vital dalam batas
4. Selingi periode aktivitas 4. Mengefisienkan
normal
dengan periode istirahat penggunaan energi dan
oksigen
5. Pantau tanda vital selama 5. Aktivitas berlebihan dapat
beraktivitas memicu terjadinya stres
kardio pulmonal
6. Berikan lingkungan yang 6. Supaya pasien bisa istirahat
tenang, pantau dan batasi dengan tenang dan nyaman
pengunjung

7 Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji kemampuan pasien 1. Mengetahui tingkat


keperawatan selama 3 x 24 melakukan perawatan diri kemampuan pasien dalam
jam diharapkan pasien dapat secara mandiri merawat diri
melakukan perawatan diri 2. Anjurkan klien untuk 2. Memberikan motivasi dan
secara mandiri dengan melakukan perawatan diri kepercayaan bahwa pasien
kriteria hasil : secara bertahap sesuai mempunyai kemampuan
1. Makan sendiri kemampuan
2. Berpakaian sendiri 3. Anjurkan keluarga untuk 3. Pasien akan merasa lebih
3. Toileting sendiri memberikan bantuan, nyaman bersama keluarga
4. Mandi sendiri hanya bila pasien tidak
5. Oral hygiene sendiri mampu melakukannya

8 Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji faktor- faktor yang 1. Mengidentifikasi faktor
keperawatan selama 3 x 24 jam berpengaruh pada perasaan yang menyebabkan isolasi
diharapkan pasien mampu isolasi sosial pasien sosial
melakukan interaksi sosial 2. Memberikan dukungan 2. Dukungan psikologis dan
dengan kriteria hasil : psikologis dan motivasi motivasi dapat membuat
1. Adanya interaksi pasien untuk berinteraksi dengan pasien lebih percaya diri
dengan lingkungan sekitar lingkungan 3. Keluarga sebagai orang
2. Berinteraksi dengan teman 3. Anjurkan keluarga untuk terdekat, mempunyai
sebaya menemani dan memberi pengaruh besar dalam
3. Tidak terlihat murung motivasi kepada pasien keadaan psikologis pasien

IV. TINDAKAN KEPERAWATAN

Intervensi dilakukan sesuai dengan rencana tindakan keperawatan

26
V. EVALUASI
1. Evaluasi yang diharapkan pada anak dengan epilepsi adalah :
2. Perfusi jaringan serebral baik
3. Tidak terjadi obstrusi lidah dan asfiksia
4. Anak tidak merasa cemas
5. Keluarga mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang
penyakit epilepsi
6. Pasien dapat mentoleran aktifitas dan dapat melakukan aktifitas sehari-
hari secara normal
7. Pasien mampu melakukan perawatan diri secara mandiri
8. Pasien dapat berinteraksi kembali dengan lingkungan sekitar, pasien tidak
menarik diri

27
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilyn E., (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Cetakan Pertama.


Jakarta: EGC

Harsono, (2001). Epilepsi. Edisi pertama. Yogyakarta: Gadjah Mada University


Press.

Hidayat, A. A., (2005). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba


Medika

Mansjoer, Arif, dkk, (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media


Aesculapius FK-UI

Ngastiyah, (2005). Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC

Sacharin, R. M. (2000). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC

Wilkinson, J. W., (2007). Buku Saku Diagnosis keperawatan dengan Intervensi


NIC dan Kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC

Wong, Donna L., et al. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik.Volume 2. Alih
bahasa Agus Sunarta, dkk. Jakarta: EGC

28