Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

Otitis media serosa merupakan salah satu penyakit telinga tengah yang
biasanya terjadi pada anak. Pada populasi anak, Otitis media serosa dapat timbul
sebagai suatu kelainan jangka pendek (short-term) menyertai suatu infeksi saluran
pernapasan atas, ataupun sebagai proses kronis yang disertai gangguan dengar berat,
keterlambatan bicara dan bahasa hingga perubahan struktur membran timpani dan
tulang pendengaran. Sekitar 80% anak mengalami satu kali episode otitis media
serosa sebelum usia 10 tahun dengan sebagian besar kasus terjadi pada rentang usia 6
bulan sampai 4 tahun dan sekitar 50% anak mengalami otitis media serosa.1

Pada tahun 2010 WHO melaporkan prevalensi keseluruhan otitis media non-
supuratif kronis sebanyak 3,8%. Sebuah penelitian cross-sectional di Saudi Arabia
menunjukkan data prevalensi otitis media serosa pada 1488 anak-anak 6-12 tahun
adalah 7,5%. Dilaporkan prevalensi otitis media serosa pada anak usia 0-14 tahun di
Jakarta Timur sebanyak 1,3%. Belum ada data nasional baku di Indonesia yang
melaporkan kejadian otitis media serosa.1,2

Otitis media serosa adalah terdapatnya cairan di telinga tengah tanpa adanya
tanda dan gejala inflamasi akut dengan membran timpani yang utuh. Adanya cairan di
telinga tengah menyebabkan penurunan fungsi membran timpani dan telinga tengah
sehingga menyebabkan menurunnya fungsi pendengaran. Adanya infeksi saluran
nafas atas (seperti rhinitis dan adenoiditis) dan disfungsi saluran tuba eustachius
mempunyai peranan penting ada timbulnya otitis media serosa. Bakteri dan hasilnya
(endotoksin) dapat masuk ke telinga tengah dan menyebabkan reaksi peradangan,
sehingga timbul eksudat. Cairan di telinga tengah pada otitis media kronis bisa jadi
sangat kental dan ditemukan sisa – sisa bakteri dan endotoksin.2

1
Gejala klinis yang paling penting ialah kurangnya pendengaran. Kadang –
kadang terdapat rasa tekanan dalam telinga. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
gambaran selaput gendang telinga yang sering tampak tertarik ke dalam. Bila sukar
dinilai, pemeriksaan timpanometri perlu dilakukan untuk membuktikan adanya
tekanan udara yang menurun atau adanya cairan di dalam telinga tengah.1

Pengobatan pada otitis media serosa meliputi pengobatan konservatif dan


tindakan operatif. Pengobatan konservatif meliputi pemberian antibiotika,
antihistamin, dekongestan, dengan atau tanpa kortikosteroid. Penatalaksanaan secara
operatif dengan cara miringotomi.2

Otitis media serosa biasanya akan sembuh sendirinya dalam waktu minggu
atau bulan. Penatalaksanaan yang tepat dapat mempercepat proses penyembuhan.
Selama cairan masih terakumulasi di tengah telinga, maka akan mengurangi fungsi
pendengaran. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan bahasa pada anak-anak.
Gangguan ini tidak akan menjadi ancaman bagi kehidupan tetapi dapat
mengakibatkan komplikasi serius.2

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi

2.1.1. Anatomi Telinga

Telinga dibagi atas telinga luar (Auris externa), telinga tengah (Auris Media),
telinga dalam (Auris interna) :

a. Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran
tympani. Telinga luar atau pinna merupakan gabungan dari tulang rawan yang
diliputi kulit. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit.4

Liang telinga (meatus akustikus eksternus) berbentuk huruf S, dengan rangka


tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam
rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 -3 cm. Pada sepertiga bagian
luar kulit telinga terdapat banyak kelenjar serumen dan rambut. Kelenjar keringat
terdapat pada seluruh liang telinga. Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit
dijumpai kelenjar serumen. Meatus dibatasi oleh kulit dengan sejumlah rambut,
kelenjar sebasea, dan sejenis kelenjar keringat yang telah mengalami modifikasi
menjadi kelenjar seruminosa, yaitu kelenjar apokrin tubuler yang berkelok-kelok
yang menghasilkan zat lemak setengah padat berwarna kecoklat-coklatan yang
dinamakan serumen (minyak telinga). Serumen berfungsi menangkap debu dan
mencegah infeksi.4

3
Gambar 1. Anatomi telinga

b. Telinga Tengah

Telinga tengah terletak di dalam pars petrosa ossis temporalis yang terdiri dari
Membran tympani, Cavum tympani, Tuba eustachius, Prosesus mastoideus dan
selulae mastoideus.3

 Membran tympani ( gendang telinga )


Membran tympani adalah selaput tipis yang atletis berwarna putih keabuan
seperti mutiara dengan ukuran panjang sekitar 9-10 mm, lebar 8-9 mm, dan
tebal 0,1 mm. Membran tympani berbentuk kerucut yaitu convex terhadap
telinga tengah dengan bagian tengah yang lebih rendah dikenal dengan umbo
membrane tympanicae. Dari umbo membrane tympanicae memancar daerah
yang cerah ke anterior-inferior, yakni cone of light ( kerucut cahaya atau
disebut juga reflex cahaya). Pada membran tympani kiri, cone of light
mengarah pada pukul 7. Sementara pada membran tympani kanan, cone of
light mengarah pada pukul 5. Secara klinis cone of light ini dinilai, misalnya
bila letak cone of light mendatar, berarti terdapat gangguan pada tuba
eustachius.4

4
Secara anatomis terdiri dari 2 bagian :4
1. Pars tensa : dibawah plika maleolaris anterior dan posterior terdiri dari 3
lapisan :
- Lapisan luar  stratum cutaneum
- Lapisan tengah  stratum fibrosum
- Lapisan dalam  stratum mukosum
2. Pars flaccida ( Shrapnell’s membran) terdiri dari 2 lapisan :
- Lapisan luar  stratum cutaneum
- Lapisan dalam stratum mukosum

Gambar 2. Membran Tympani

 Kavum tympani
Berbentuk kubus dengan batas-batas :6

- Lateral : membran tympani.


- Medial : berturut- turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis
horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap
bundar (round window) dan promontorium.

5
- Anterior : tuba eustachius.
- Posterior : aditus ad antrum,kanalis fasialis pars vertikal.
- Superior : tegmen tympani (meningen/otak).
- Inferior : vena jugularis (bulbus jugularis).

Selain itu terdapat juga tulang-tulang pendengaran yaitu : Malleus, Incus,


Stapes.6

Gambar 3. Tulang pendengaran

 Tuba eustachius
Tuba eustachius adalah saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah
dengan nasofaring. Fungsi tuba ini adalah untuk ventilasi, drainase sekret dan
menghalangi masuknya sekret dari nasofaring ke telinga tengah. Ventilasi
berguna untuk menjaga agar tekanan udara dalam telinga tengah selalu sama
dengan tekanan udara luar. Adanya fungsi ventilasi tuba ini dapat dibuktikan
dengan melakukan perasat valsava dan perasat toynbee.4

Tuba eustachius terdiri atas tulang rawan pada dua pertiga kearah nasofaring
dan sepertiganya terdiri atas tulang. Pada anak, tuba lebih pendek, lebih besar
dan kedudukannya lebih horizontal dari tuba orang dewasa.4

6
Tuba eustachius biasanya dalam keadaan tertutup dan baru terbuka apabila
oksigen diperlukan masuk ke telinga tengah atau pada saat mengunyah,
menelan dan menguap.4

 Prosesus mastoideus dan selulae mastoideus


Merupakan tulang dibelakang telinga yang melindungi koklea dan sistem
vestibule.4
c. Telinga Dalam

Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah
lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau
puncak koklea disebut holikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan
skala vestibuli. Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan
membentuk lingkaran yang tidak lengkap.4

 Koklea
Bagian koklea labirin adalah suatu saluran melingkar yang pada manusia
panjangnya 35 mm. Koklea bagian tulang membentuk 2,5 kali putaran yang
mengelilingi sumbunya. Sumbu ini dinamakan modiolus, yang terdiri dari
pembuluh darah dan saraf. Ruang di dalam koklea bagian tulang dibagi dua
oleh dinding (septum). Bagian dalam dari septum ini terdiri dari lamina
spiralis ossea. Bagian luarnya terdiri dari anyaman penyambung, lamina
spiralis membranasea.4

Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala
timpani sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) diantaranya. Skala
vestibuli dan skala timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi
endolimfa. Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli
(Reissner’s membrane) sedangkan dasar skala media adalah membran basalis.
Pada membran ini terletak organ corti.4

7
Pada skala media terdapat bagian lain yang berbentuk lidah yang disebut
membran tektoria dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri
dari sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis corti, yang membentuk
organ corti.3

Gambar 4. Koklea

 Vestibulum
Vestibulum letaknya diantara koklea dan kanalis semisirkularis yang
juga berisi perilimfe. Pada vestibulum bagian depan, terdapat lubang
(foramen ovale) yang berhubungan dengan membran timpani, tempat
melekatnya telapak (foot plate) dari stapes. Di dalam vestibulum
terdapat gelembung-gelembung bagian membran sakkulus dan
utrikulus. Gelembung-gelembung sakkulus dan utrikulus berhubungan
satu sama lain dengan perantara duktus utrikulosakkularis, yang
bercabang melalui duktus endolimfatikus yang berakhir pada suatu
lipatan dari duramater, yang terletak pada bagian os piramidalis.
Lipatan ini dinamakan sakkus endolimfatikus,saluran ini buntu.3,4
 Kanalis semisirkularis
Di kedua sisi kepala terdapat kanalis semisirkularis yang tegak lurus
satu sama lain. Didalam kanalis tulang, terdapat kanalis bagian
membran yang terbenam dalam perilimfa.3,4

8
Kanalis semisirkularis horizontal berbatasan dengan antrum
mastoideum dan tampak sebagai tonjolan, tonjolan kanalis
semisirkularis horizontalis (lateralis).3,4
Kanalis semisirkularis vertikal (posterior) berbatasan dengan fossa
crania media dan tampak pada permukaan atas os petrosus sebagai
tonjolan, eminentia arkuata. Kanalis semisirkularis posterior tegak lurus
dengan kanalis semisirkularis superior. Kedua ujung yang tidak
melebar dari kedua kanalis semisirkularis yang letaknya vertikal
bersatu dan bermuara pada vestibulum sebagai krus komunis.4
Kanalis semisirkularis membranasea letaknya didalam kanalis
semisirkularis ossea. Diantara kedua kanalis ini terdapat ruang berisi
perilimfe. Didalam kanalis semisirkularis membranasea terdapat
endolimfe. Pada tempat melebarnya kanalis semisirkularis ini terdapat
sel-sel persepsi. Bagian ini dinamakan ampulla.4
2.1.2 Fisiologi Pendengaran

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun


telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara. Getaran tersebut
menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian
tulang pendengaran yang akan mengimplikasi getaran melalui daya ungkit tulang
pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong
(ovale window). Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes
yang menggerakkan tingkap lojong sehingga perilimfe pada skala vestibule bergerak.
Getaran diteruskan melalui membran reissner yang mendorong endolimfe, sehingga
akan menimbulkan gerak relative antar membran basilaris dan membran tektoria.
Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi
stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion
bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel
rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan

9
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus
auditorius sampai korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.5

Gambar 5. Mekanisme pendengaran

2.2 Definisi

Otitis media serosa adalah keadaan terdapatnya sekret yang nonpurulen di


telinga tengah, sedangkan membran timpani utuh. Adanya cairan di telinga tengah
dengan membran timpani utuh tanpa tanda – tanda infeksi disebut juga otitis media
dengan efusi. Apabila efusi tersebut encer disebut otitis media serosa dan apabila
efusi tersebut kental seperti lem disebut otitis media mukoid (glue ear).6

Nama lain dari otitis media serosa adalah otitis media efusi, otitis media
musinosa, otitis media sekretoria, otitis media mucoid (glue ear).6

10
2.3 Epidemiologi

Infeksi telinga tengah menjadi masalah medis yang paling sering pada bayi dan
anak-anak umur pra sekolah, dan diagnosa utama yang paling sering pada anak-anak
yang lebih muda dari usia 15 tahun yang diperiksa di tempat praktek dokter.11

Sebagaimana halnya dengan kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA),


otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak. Di Amerika Serikat,
diperkirakan 75% anak mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum usia
tiga tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di
Inggris, setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh
tahun. Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun.11

Pada tahun 1990, 12,8 juta kejadian otitis media terjadi pada anak-anak usia di
bawah 5 tahun. Anak-anak dengan usia di bawah 2 tahun, 17% memiliki peluang
untuk kambuh kembali. 30-45% anak-anak dengan OMA dapat menjadi OME setelah
30 hari, dan 10% lainnya menjadi OME setelah 90 hari, sedikitnya 3,84 juta kasus
OME terjadi pada tahun tersebut, 1.28 juta kasus menetap setelah 3 bulan.11

Statistik menunjukkan 80-90% anak prasekolah pernah menderita OME. Kasus


OME berulang (OME rekuren) pun menunjukkan prevalensi yang cukup tinggi
terutama pada anak usia prasekolah, sekitar 28-38%.11

Otitis media serosa merupakan penyakit yang sering di derita oleh bayi dan
anak-anak. Diluar negeri, khususnya di Negara yang mempunyai 4 musim penyakit
ini di temukan dengan angka insiden dan prevalensi yang tinggi. Dari beberapa
kepustakaan dapat disimpulkan rata-rata insiden otitis media serosa sebesar 14% -
62%, sedang peneliti lain ada yang melaporkan angka rata-rata prevelensi sebesar 2%
- 52%.11

Di Indonesia masih jarang ditemukan kepustakaan yang melaporkan angka


kejadian penyakit ini, hal ini disebabkan kerena belum ada penelitian yang khusus

11
mengenai penyakit ini, atau tidak terdeteksi karena minimalnya keluhan pada anak
yang menderita otitis media serosa.11

2.4 Etiologi

Etiologi dari otitis media serosa, antara lain :


1. Gangguan fungsi tuba
Gangguan fungsi tuba dapat disebabkan oleh hipertrofi adenoid, rhinitis kronik,
sinusitis, tonsilitis kronik, tumor nasofaring, barotrauma, defek palatum.12
Gangguan fungsi tuba menyebabkan mekanisme aerasi ke rongga telinga tengah
terganggu, drainase dari rongga telinga ke rongga nasofaring terganggu dan
gangguan mekanisme proteksi rongga telinga tengah terhadap refluks dari
rongga nasofaring. Akibat gangguan tersebut rongga telinga tengah akan
mengalami tekanan negatif. Tekanan negatif di telinga tengah menyebabkan
peningkatan permaebilitas kapiler dan selanjutnya terjadi transudasi. Selain itu
terjadi infiltrasi populasi sel-sel inflamasi dan sekresi kelenjar. Akibatnya
terdapat akumulasi sekret di rongga telinga tengah. Inflamasi kronis di telinga
tengah akan menyebabkan terbentuknya jaringan granulasi, fibrosis dan
destruksi tulang.12
Obstruksi tuba Eustachius ytang menimbulkan terjadinya tekanan negatif di
telinga tengah akan diikuti retraksi membran timpani. Orang dewasa biasanya
akan mengeluh adanya rasa tak nyaman, rasa penuh atau rasa tertekan dan
akibatnya timbul gangguan pendengaran ringan dan tinnitus. Anak-anak
mungkin tidak muncul gejala seperti ini. Jika keadaan ini berlangsung dalam
jangka waktu lama cairan akan tertarik keluar dari membran mukosa telinga
tengah, menimbulkan keadaan yang kita sebut dengan otitis media serosa.
Kejadian ini sering timbul pada anak-anak berhubungan dengan infeksi saluran
nafas atas dan sejumlah gangguan pendengaran mengikutinya.12

12
2. Infeksi
Berbagai virus pada saluran pernapasan atas dapat menginvasi telinga tengah
dan merangsang peningkatan produksi sekret. Virus yang paling sering dijumpai
pada anak-anak, yaitu respiratory syncytial virus (RSV), influenza virus, atau
adenovirus (sebanyak 30-40%). Kira-kira 10-15% dijumpai parainfluenza virus,
rhinovirus atau enterovirus.7
Selain virus, bakteri juga dapat menginvasi telinga tengah. Tiga jenis bakteri
penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae (40%), diikuti
oleh Haemophilus influenzae (25-30%) dan Moraxella catarhalis (10-15%).
Kira-kira 5% kasus dijumpai patogen-patogen yang lain seperti Streptococcus
pyogenes (group A betahemolytic), Staphylococcus aureus, dan organisme gram
negatif. Meskipun hasil yang didapatkan bila dilakukan kultur lebih rendah.7
3. Alergi
Bagaimana faktor alergi berperan dalam menyebabkan otitis media serosa masih
belum jelas. Akan tetapi dari gambaran klinis di percaya bahwa alergi
memegang peranan. Dasar pemikirannya adalah analogi embriologik, dimana
mukosa timpani berasal sama dengan mukosa hidung. Setidak-tidaknya
manifestasi alergi pada tuba Eustachius merupakan penyebab okulasi kronis dan
selanjutnya menyebabkan efusi. Namun demikian dari penelitian kadar IgE yang
menjadi kriteria alergi atopik, baik kadarnya dalam efusi maupun dalam serum
tidak menunjang sepenuhnya alergi sebagai penyebab.7,8
Etiologi dan patogenesis otitis media serosa oleh karena alergi mungkin
disebabkan oleh satu atau lebih dari mekanisme di bawah ini :7,8
- Mukosa telinga tengah sebagai organ sasaran (target organ).
- Pembengkakan oleh karena proses inflamasi pada mukosa tuba Eustachius.
- Obstruksi nasofaring karena proses inflamasi, dan
- Aspirasi bakteri nasofaring yang terdapat pada sekret alergi ke dalam ruang
telinga tengah.

13
4. Status imunologi
Faktor imunologis yang cukup berperan dalam otitis media serosa adalah
sekretori IgA. Immunoglobulin ini diproduksi oleh kelenjar di dalam mukosa
kavum timpani. Sekretori IgA terutama ditemukan pada efusi mukoid dan
dikenal sebagai suatu imunoglobulin yang aktif bekerja dipermukaan mukosa
respiratorik. Kerjanya yaitu menghadang kuman agar tidak kontak langsung
dengan permukaan epitel, dengan cara membentuk ikatan komplek. Kontak
langsung dengan dinding sel epitel adalah tahap pertama dari penetrasi kuman
untuk infeksi jaringan. Dengan demikian IgA aktif mencegah infeksi kuman.12
5. Otitis media yang belum sembuh sempurna
Terapi antibiotik yang tidak adekuat pada OMSA dapat menonaktifkan infeksi
tetapi tidak dapat menyembuhkan secara sempurna. Akan menyisakan infeksi
grade yang rendah. Proses ini dapat merangsang mukosa untuk menghasilkan
cairan dalam jumlah banyak. Jumlah sel goblet dan kelenjar mukus juga
bertambah.7
6. Idiopatik

2.5 Patogenesis

Otitis media efusi dapat terjadi sepanjang stadium resolusi dari OMA setelah
melewati stadium hiperemis. Pada anak-anak yang menderita OMA, sebanyak 45%
akan menjadi efusi yang persisten setelah 1 bulan, tetapi jumlah ini berkurang
menjadi 10% setelah 3 bulan.11

Dalam kondisi normal, mukosa telinga bagian dalam secara konstan


mengeluarkan sekret, yang akan dipindahkan oleh mukosiliari ke dalam nasofaring
melalui tuba eustachia. Sebagai konsekuensi, faktor yang mempengaruhi produksi
sekret yang berlebihan, klirens sekret yang optimal, atau kedua-duanya dapat
mengakibatkan pembentukan suatu cairan di telinga tengah.11

14
Infeksi (peradangan) yang disebabkan bakteri dan virus dapat mendorong
peningkatan produksi dan kekentalan sekret di dalam mukosa telinga tengah. Infeksi
yang mengarah kepada peradangan mukosa yang edema dapat menyebabkan
obstruksi tuba eustachi. Kelumpuhan silia yang sementara yang disebabkan oleh
eksotoksin bakteri akan menghambat proses penyembuhan dari OME.11

Ada dua mekanisme utama yang menyebabkan OME :6,11

1. Kegagalan fungsi tuba eustachi


Kegagalan fungsi tuba eustachi untuk pertukaran udara pada telinga tengah
dan juga tidak dapat mengalirkan cairan.
2. Peningkatan produksi sekret dalam telinga tengah
Dari hasil biopsi mukosa telinga tengah pada kasus OME didapatkan
peningkatan jumlah sel yang menghasilkan mukus atau serosa.

Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga


kesterilan telinga tengah. Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran
nafas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah
lewat saluran eustachius. Saat bakteri melalui saluran eustachius, mereka dapat
menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar
saluran, tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi, dan datangnya sel-sel
darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri
dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah
dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran eustachius
menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel telinga tengah terkumpul di belakang
gendang telinga.11

Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena
gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan
organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan
pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 dB (bisikan halus). Namun cairan

15
yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45dB
(kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang
paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang
telinga karena tekanannya.11

Saat lahir tuba eustachius berada pada bidang paralel dengan dasar tengkorak,
sekitar 10° dari bidang horizontal, dan memiliki lumen yang pendek dan sempit.
Semakin bertambah usia, terjadi perubahan bermakna, terutama saat mencapai
usia 7 tahun, dimana lumen tuba eustachius lebih panjang dan lebar, serta
ujungproksimal tuba eustachius di nasofaring terletak 2-2,5 cm dibawah orifisium
tuba eustachius di telinga tengah atau membentuk sudut 45° terhadap bidang
horisontal telinga. Selain itu terdapat pula beberapa faktor resiko pada anak,
antara lain :11

1. Faktor resiko anatomi : anomali kraniofasial, down syndrome, celah


palatum, hipertrofi adenoid, dan GERD.
2. Faktro resiko fungsional : cerebral palsy, down syndorme, kelainan
neurologis lainnya, dan immunodefisiensi.
3. Faktor resiko lingkungan : bottle feeding, menyandarkan botol dimulut
pada posisi tengadah (supine position), rokok pasif, status ekonomi
rendah, banyaknya anak yang dititipkan di fasilitas penitipan anak.

Terjadi penurunan yang tajam dari prevalensi terjadinya OME pada anak-anak
dengan usia diatas 7 tahun, yang menandakan meningkatnya fungsi tuba eustachi dan
matangnya sistem imun.11

Barotrauma adalah keadaan dengan terjadinya perubahan tekanan yang tiba-


tiba diluar telinga tengah sewaktu di pesawat terbang atau penyelam, yang
menyebabka tuba gagal untuk membuka. Apabila perbedaan tekanan melebihi 90
cmHg, maka otot yang normal aktivitasnya tidak mampu membuka tuba. Pada
keadaan ini terjadi tekanan negatif di rongga telinga tengah, sehingga cairan keluar

16
dari pembuluh kapiler mukosa dan kadang-kadang disertai ruptur pembuluh darah,
sehingga cairan di telinga tengah dan rongga mastoid tercampur darah.11

Gambar 6. Patofisiologi Otitis Media

2.6 Klasifikasi
a. Otitis media serosa akut
Otitis media serosa akut adalah keadaan terbentuknya sekret di telinga
tengah secara tiba-tiba yang disebabkan oleh gangguan fungsi tuba.
Keadaan akut ini dapat disebabkan antara lain oleh :6
1. Sumbatan tuba, pada keadaan tersebut terbentuk cairan di telinga
tengah disebabkan oleh tersumbatnya tuba secara tiba-tiba seperti
pada barotrauma.
2. Virus, terbentuknya cairan di telinga tengah yang berhubungan
dengan infeksi virus pada jalan nafas atas.
3. Alergi, terbentuknya cairan di telinga tengah yang berhubungan
dengan keadaan alergi pada jalan nafas atas.
4. Idiopatik.

17
Gambar 7. Otitis media serosa akut

b. Otitis media serosa kronik


Batasan antara kondisi otitis media serosa akut dengan otitis media
serosa kronik hanya pada cara terbentuknya sekret. Pada otitis media serosa
akut sekret terjadi secara tiba – tiba di telinga tengah dengan disertai rasa
nyeri pada telinga, sedangkan pada keadaan kronis sekret terbentuk secara
bertahap tanpa rasa nyeri dengan gejala pada telinga yang berlangsung lama.6
Otitis media serosa kronik lebih sering terjadi pada anak-anak,
sedangkan otitis media serosa akut lebih sering terjadi pada dewasa. Sekret
pada otitis media serosa kronik kental seperti lem, maka disebut glue ear.
Otitis media serosa kronik dapat juga terjadi sebagai gejala sisa dari otitis
media akut (OMA) yang tidak sembuh sempurna.6
Penyebab lain diperkirakan ada hubungannya dengan infeksi virus,
keadaan alergi atau gangguan mekanis pada tuba.6

18
Gambar 8. Otitis media serosa kronik

2.7 Gejala Klinis


a. Otitis media serosa akut
Gejala yang menonjol pada otitis media serosa akut adalah
pendengaran berkurang. Selain itu pasien juga dapat mengeluh rasa
tersumbat pada telinga atau suara sendiri terdengar lebih nyaring atau
berbeda pada telinga yang sakit. Kadang-kadang seperti ada cairan yang
bergerak dalam telinga pada saat posisi kepala berubah. Rasa sedikit nyeri
dalam telinga dapat terjadi pada awal tuba terganggu, yang menyebabkan
timbul tekanan negatif pada telinga tengah (misalnya pada barotrauma)
tetapi setelah sekret terbentuk tekanan negatif ini pelan-pelan hilang. Rasa
nyeri dalam telinga tidak pernah ada bila penyebab timbulnya sekret
adalah virus atau alergi. Tinitus, vertigo atau pusing kadang-kadang ada
dalam bentuk yang ringan.6,7
b. Otitis media serosa kronik (glue ear)
Perasaan tuli pada otitis media serosa kronik lebih menonjol (40-50
dB), oleh karena adanya sekret kental. Pada anak-anak yang berumur 5-8

19
tahun keadaan ini sering diketahui waktu dilakukan pemeriksaan THT
atau dilakukan uji pendengaran.6

2.8 Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik :

a. Anamnesis 6
 Pasien mengeluhkan pendengaran yang berkurang.
 Rasa terumbat pada telinga.
 Suara sendiri terdengar lebih nyaring atau berbeda pada telinga yang
sakit.
 Terasa seperti ada cairan yang bergerak dalam telinga pada saat posisi
kepala berubah.
 Rasa sedikit nyeri dalam telinga.
 Tinnitus dan vertigo kadang ada dalam bentuk ringan.

b. Pemeriksaan fisik
Untuk mendiagnosis otitis media serosa pada pemeriksaan fisik perlu
dilakukan pemeriksaan otoskopi, timpanogram, audiogram dan kadang
tindakan miringotomi untuk memastikan adanya cairan dalam telinga
tengah.9
1. Otoskopi
Pemeriksaan otoskopi dilakukan untuk kondisi, warna, dan
translusensi membran timpani. Macam-macam perubahan atau
kelainan yang terjadi pada membran timpani dapat dilihat
sebagaimana berikut.9
a. Membran timpani retraksi yaitu bila manubrium malei terlihat
lebih pendek dan lebih horizontal, membran keliatan lebih

20
cekung dan refleks cahaya memendek. Warna mungkin berubah
agak kekuningan.
b. Membran timpani yang suram dan berwarna kekuningan yang
mengganti gambaran tembus cahaya selain itu letak segitiga
reflek cahaya pada kuadran antero inferior memendek, mungkin
saja didapatkan pula peningkatan pembuluh darah kapiler pada
membran timpani tersebut. Pada kasus dengan cairan mukoid
atau mukupurulen membran timpani terlihat lebih muda (krem).
c. Atelektasis, membran timpani biasanya tipis, atrofi dan mungin
menempel pada inkus, stapes dan promontium, khususnya pada
kasus yang sudah lanjut, biasanya kasus yang seperti ini karena
disfungsi tuba eustachius dan otitis media efusi yang sudah
berjalan lama.
d. Gambaran air fluid level atau bubles biasanya ditemukan pada
otitis media serosa yang berisi cairan serous.
e. Membran timpani berwarna biru gelap atau ungu diperlihatkan
pada kasus hematotimpanum yang disebabkan oleh fraktur tulang
temporal, leukemia, tumor vaskuler telinga tengah. Sedangkan
warna biru yang lebih muda mungkin disebabkan oleh
barotrauma.
f. Gambaran lain adalah ditemukan sikatrik dan bercak kalsifikasi.

Pada pemeriksaan otoskopi menunjuk kecurigaan otitis media serosa


apabila ditemukan tanda-tanda :9

a. Tidak didapatkan tanda-tanda radang akut.


b. Terdapat perubahan warna membran timpani akibat refleksi dari
adanya cairan di dalam kavum timpani.
c. Membran timpani tampak lebih menonjol.
d. Membran timpani retraksi atau atelektasis.

21
e. Didapatkan air fluid levels atau buble,atau
f. Mobilitas membran berkurang atau fiksasi.

2. Otoskop pneumatik / otoskop siegle


Otoskop pneumatik diperkenalkan pertama kali oleh siegle, bentuknya
relatif tidak berubah sejak pertama diperkenalkan pada tahun 1864.
Pemeriksaan otoskopi pneumatik selain bisa melihat jenis perforasi,
jaringan patologi, dan untuk membran timpani yang masih utuh bisa
juga dilihat gerakannnya (mobilitas) dengan jalan memberi tekanan
positif maka membran timpani akan bergerak ke medial dan bila diberi
tekanan negatif maka membran timpani akan bergerak ke lateral.
Pemeriksaan otoskopi pneumatik merupakan standar fisik diagnostik
pada otitis media serosa.10

3. Timpanometri
Timpanometri adalah suatu alat untuk mengetahui kondisi dari sistem
telinga tengah. Pengukuran ini memberikan gambaran tentang
mobilitas membran timpani, keadaan persendian tulang pendengaran,
keadaan dalam telinga tengah termasuk tekanan udara di dalamnya, jadi
berguna dalam mengetahui gangguan konduksi dan fungsi tuba
eustachius.10
Grafik hasil pengukuran timpanometri atau timpanogram dapat untuk
mengetahui gambaran kelainan di telinga tengah. Meskipun ditemukan
banyak variasi bentuk timpanogram akan tetapi pada prinsipnya hanya
ada tiga tipe, yakni tipe A, tipe B, dan tipe C.10
Pada penderita OME gambaran timpanogram yang sering didapati
adalah tipe B. Tipe B bentuknya relatif datar, hal ini menunjukkan
gerakan membran timpani terbatas karena adanya cairan atau pelekatan
dalam kavum timpani. Grafik yang sangat datar dapat terjadi akibat

22
perforasi membran timpani, serumen yang banyak pada liang telinga
luar atau kesalahan pada alat yaitu saluran buntu.10
Pemeriksaan timpanometri dapat memperkirakan adanya cairan di
dalam kavum timpani yang lebih baik dibanding dengan pemeriksaan
otoskopi saja.10

4. Audiogram
Dari pemeriksaan audiometrik nada murni didapatkan nilai ambang
tulang dan udara. Gangguan pendengaran lebih sering ditemukan pada
pasien OME dengan cairan yang kental (glue ear). Meskipun demikian
beberapa studi mengatakan tidak ada perbedaan yang signifikan antara
cairan serous dan kental terhadap gangguan pendengaran, sedangkan
volume cairan yang ditemukan di dalam telinga tengah adalah lebih
berpengaruh.9
Pasien dengan otitis media serosa ditemukan adanya gangguan
pendengaran dengan tuli konduksi ringan sampai sedang sehingga tidak
begitu berpengaruh dengan kehidupan sehari-hari. Tuli bilateral
persisten lebih dari 25 dB dapat mengganggu perkembangan intelektual
dan kemampuan berbicara anak.9
Bila hal ini dibiarkan bisa saja ketulian bertambah berat yang berakibat
buruk pada pasien. Akibat buruk ini dapat berupa gangguan lokal pada
telinga maupun gangguan yang lebih umum, seperti gangguan
perkembangan bahasa dan kemunduran dalam pelajaran sekolah. Pasien
dengan tuli konduksi yang lebih berat mungkin sudah didapatkan
fiksasi atau putusnya osikel.9
Garis pedoman OME yang disusun bersama oleh AAFP, AAOHNS dan
AAP menyatakan bahwa audiologi merupakan salah satu komponen
pemeriksaan pasien OME. Pemeriksaan audiometrik direkomendasikan
pada pasien dengan OME selama 3 bulan atau lebih, kelambatan

23
berbahasa, gangguan belajar atau dicurigai terdapat penurunan
pendengaran bermakna.9
Berdasarkan beberapa penelitian, tuli konduksi sering berhubungan
dengan OME dan berpengaruh pada proses mendengar kedua telinga,
lokalisasi suara, persepsi bicara dalam kebisingan. Penurunan
pendengaran yang disebabkan oleh OME akan mengahalangi
kemampuan awal berbahasa yang didapat.9

5. Radiologi
Pemeriksaan raidologi foto mastoid dulu efektif diugunakan untuk
skrining OME, tetapi sekarang jarang dikerjakan. Anamnesis riwayat
penyakit dan pemeriksaan fisik banyak diagnosis penyakit ini. CT scan
sangat sensitif dan tidak diperlukan untuk diagnosis. Meskipun CT
Scan penting untuk menyingkirkan adanya komplikasi dari otitis media
misalnya mastoiditis, trombosis sinus sigmoid ataupun adanya
kolesteatoma. CT scan penting khususnya pada pasien dengan OME
unilateral yang harus dipastikan adanya massa di nasofaring telah
disingkirkan.9

2.9 Diagnosis Banding


- Otitis media akut
- Otitis media supuratif kronik 9

2.10 Penatalaksanaan

Dokter umum harus merujuk ke ahli THT setiap kali curiga terdapat gangguan
tuli konduktif persisten pada anak-anak, terutama mereka dengan tanda-tanda
keterlambatan perkembangan bahasa. Selain itu, harus dirujuk ke ahli THT jika
penyakit ini berulang, jika terapi medis tersedia yang sesuai yang diberikan dokter

24
umum tidak membaik, dan/atau jika ditemukan kriteria untuk intervensi operasi.
Sejumlah besar bukti epidemiologi menunjukkan bahwa pantas dilakukan modifikasi
faktor risiko pada intervensi pelayanan primer. Modifikasi berikut ini mungkin
membantu :12

- Menghindari asap rokok.


- Menyusui bila memungkinkan.
- Menghindari makan, baik dengan payudara atau botol ketika terlentang.
- Menghindari berada ditempat yang terdapat sejumlah besar anak, terutama di
pusat-pusat penitipan anak.
- Menghindari paparan dari anak yang diketahui menderita OME.
- Menghindari alergen dikenal

Terapi medikamentosa dari otitis media serosa termasuk penggunaan


antibiotik, steroid, antihistamin dan dekongestan, serta mukolitik. Karena otitis media
serosa menunjukkan terdapatnya bakteri patogen, diperlukan pengobatan dengan
antibiotik yang tepat, meskipun bukti yang menunjukkan hanya bermanfaat untuk
jangka masa pendek. Penelitian eritromisin, sulfisoxazole, amoksisilin, amoksisilin-
klavulanat, dan trimetoprim-sulfametoksazol telah menunjukkan tingkat kesembuhan
lebih cepat dibandingkan dengan plasebo, meskipun perbedaannya hampir tidak
signifikan secara statistik di sebagian besar uji coba ini.8
Apabila otitis media serosa menjadi kronis (3 bulan), efektivitas antibiotik
berkurang, meskipun temuan ini masih kontroversial. Studi yang diterbitkan antara
2002 dan 2004 dan dikutip oleh pedoman praktek klinis untuk otitis media serosa
juga menunjukkan kesembuhan efusi telinga tengah dengan antibiotik, namun mereka
juga menunjukkan cepat dan sering terjadinya rekuren. Dalam 3 uji klinis plasebo
terkontrol secara acak, otitis media serosa tidak membaik dengan hanya steroid oral
dalam waktu 2 minggu pengobatan. Ketika steroid oral dikombinasikan dengan
antibiotik, tingkat kesembuhan efusi telinga tengah tidak ada peningkatan

25
dibandingkan dengan hanya memakai antibiotik. Studi lain menemukan bahwa
steroid topikal intranasal saja atau kombinasi dengan antibiotik tidak memiliki
manfaat jangka pendek maupun jangka panjang dalam pengelolaan anak-anak dengan
otitis media serosa.8
Hidung tersumbat, rinore, dan sinusitis sering menyertai otitis media,
antihistamin dan dekongestan dapat dipertimbangkan untuk menghilangkan gejala-
gejala yang terkait terutama jika disebabkan oleh alergi. Antihistamin mencegah
degranulasi sel mast dan pelepasan histamin yang dapat menyebabkan peradangan
mukosa akibat peningkatan obstruksi hidung dan peningkatan produksi lendir. Studi
besar terkontrol secara acak dari 430 anak-anak mengungkapkan bahwa tingkat
penyembuhan otitis media serosa tidak meningkat secara signifikan dengan mukolitik
dibandingkan plasebo. Temuan 2 uji lebih kecil lainnya mengkonfirmasi hasil ini.
Operasi menjadi terapi yang paling banyak diterima untuk otitis media efusi
persisten (OME), dan ini jelas efektif. Intervensi termasuk miringotomi dengan atau
tanpa penempatan tuba, adenoidektomi, atau keduanya. Tonsilektomi telah terbukti
sedikit bermanfaat sebagai pengobatan primer dari otitis media efusi. Rekomendasi
pedoman klinis bagi intervensi operasi dari The American Academy of Family
Physicians (AAFP), American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery
(AAO-HNS), dan American Academy of Pediatrics (AAP) :8

- Ketika terdapat indikasi operasi pada seorang anak, penempatan tuba


tympanostomy adalah prosedur awal yang sering dipakai.
- Adenoidektomi tidak boleh dilakukan, kecuali ada terdapat indikasi misalnya,
sumbatan hidung, dan adenoiditis kronis.
- Operasi ulang terdiri dari adenoidektomi ditambah miringotomi, dengan atau
tanpa penembatan tuba.
- Tonsilektomi atau miringotomi saja tidak berguna untuk mengobati otitis media
efusi.

26
Pada pasien otitis media serosa dengan gangguan pendengaran, hilangnya 40
dB atau lebih besar menjadi indikasi absolut untuk dimasukkan tabung pemerataan
tekanan sedangkan kehilangan sekitar 21-40 dB adalah indikasi relatif. Selain itu,
pedoman klinis menyarankan terapi lebih agresif untuk anak - anak beresiko
terjadinya keterlambatan perkembangan khususnya dalam perkembangan bicara dan
bahasa. Anak-anak yang mungkin berisiko termasuk salah satu dari berikut:9

- Anak-anak dengan kehilangan pendengaran permanen independen akibat otitis


media serosa.
- Mereka dicurigai atau didiagnosis dengan gangguan atau keterlambatan bicara
dan bahasa.
- Mereka dengan gangguan autisme atau gangguan perkembangan terkait lainnya.
- Anak-anak dengan sindrom (misalnya sindrom Down) atau kelainan kraniofasial
yang meliputi keterlambatan kognitif, bicara, dan bahasa.
- Mereka yang buta atau memiliki gangguan penglihatan yang tidak bisa diperbaiki.
- Anak-anak dengan labiopalatoskisis, dengan atau tanpa sindrom terkait
- Anak-anak dengan keterlambatan perkembangan

Ketika dilakukan miringotomi dan aspirasi efusi tanpa penempatan tabung


pemerataan tekanan, prosedur ini telah terbukti mengecewakan dalam tindak lanjut
jangka panjang pada anak. Gates dkk telah menunjukkan bahwa ketika miringotomi
dilakukan dengan penempatan tabung pemerataan tekanan terdapat perbaikan
pendengaran, durasi efusi telinga tengah, waktu untuk kambuh, dan perlunya
prosedur ulang. Miringotomi dan aspirasi berguna untuk mengobati pasien dengan
gangguan pendengaran sedang sampai berat dengan pemulihan fungsi normal telinga
tengah.9

Tingkat komplikasi secara keseluruhan setelah penempatan tabung


pemerataan tekanan adalah sekitar 11%. Otorrhea Persistent adalah komplikasi yang
paling umum, terjadi pada 15% pasien dan bertahan selama 1 tahun sebanyak 5%.

27
Komplikasi kedua tersering adalah timpanosklerosis, yang tidak mungkin secara
klinis signifikan kecuali terjadinya perluasan. Perforasi persisten adalah komplikasi
paling umum yang ketiga. Meskipun frekuensi yang tepat tidak diketahui (kira-kira
2%), perforasi persisten meningkat dengan nyata jika tabung tekanan pemerataan
ditempatkan lebih dari 18 bulan. Komplikasi ini juga diketahui meningkat dengan
penempatan tabung tympanostomy (T-tubes) yang dirancang untuk tinggal di
membran timpani lebih lama dari Grommet-tube tipikal. Umumnya digunakan untuk
pasien dengan otitis media berulang atau kronis yang gagal dengan penempatan
Grommet-tube. Komplikasi potensial lainnya termasuk pembentukan jaringan
granulasi, kolesteatom, dan tuli sensorineural.9
Meskipun adenoidektomi pernah menjadi pengobatan utama untuk otitis
media efusi (OME), penempatan tabung pemerataan tekanan (PETs) kini disukai
karena mudah dan resiko rendah. Pengobatan dengan hanya adenoidektomi
ditemukan hampir sama efektifnya dengan penempatan tabung pemerataan tekanan
untuk pengobatan otitis media efusi. Apabila adenoidektomi dilakukan dengan
penempatan tabung pemerataan tekanan, frekuensi penyakit berulang, interval bebas
penyakit, dan durasi penyakit semua membaik, dibandingkan dengan penggunaan
hanya salah satu prosedur.9
Terdapat 3 alasan dilakukan adenoidektomi. Alasan pertama adalah
pengangkatan karena pembesaran kelenjar gondok menutup jalan nasofaring dan
koana sehingga menyebabkan tekanan yang berlebihan selama nasofaring menelan.
Ini berpotensi terjadinya refluks tuba Eustachius. Namun, berbagai penelitian telah
mengungkapkan bahwa hasil adenoidektomi tidak tergantung dari ukuran adenoid.
Temuan ini menunjukkan bahwa proses-proses lain dari massa adenoid sederhana
yang terlibat. Alasan kedua pengangkatan untuk perbaikan fungsi tuba Eustachius,
kelenjar gondok yang sangat besar secara fisik mungkin menutup muara tuba
Eustachius, meskipun Bluestone dkk telah menunjukkan bahwa ini jarang terjadi.
Alasan ketiga untuk adenoidektomi adalah untuk menghapus sumber inflamasi
potensial dan terdapatnya infeksi pada muara tuba Eustachius. Ketika dilakukan

28
dengan benar, adenoidektomi dapat digunakan untuk membuat mukosa nasofaring
licin, yang menurunkan kolonisasi bakteri yang dapat terjadi di kriptus jaringan
adenoid.9
Pasien dinasehatkan bahwa jika terjadi lebih dari 2 episode otorrhea sebelum
6 bulan follow-up yang dijadwalkan, mereka harus kontrol ke ahli THT di samping
dokter umumnya. Disarankan pengangkatan tabung pemerataan tekanan yang belum
secara spontan diekstrusi antara 18-24 bulan setelah penempatan karena
meningkatnya risiko perforasi membran timpani persisten. Peraturan itu umumnya
dilakukan pada set pertama gaya Grommet-tube. Sebuah tim multidisiplin harus
mengikuti ketat dan mengobati dengan cepat terkait keterlambatan perkembangan
bahasa. Intervensi harus termasuk penggunaan alat bantu dengar, jika diperlukan.9
Pengobatan pada kedua kondisi ini mula-mula bersifat medis dan kemudian
jika perlu, secara bedah. Pengobatan medis termasuk antibiotik, antihistamin,
dekongestan, latihan ventilasi tuba eustakius dan hiposensitisasi alergi.
Hiposensitisasi alergi hanya dilakukan pada kasus-kasus yang jelas memperlihatkan
alergi dengan tes kulit. Bila terbukti alergi makanan, maka diet perlu di batasi.
Antihistamin hanya diberikan pada anak-anak atau dewasa dengan kongesti hidung
atau sinus penyerta. Antihistamin maupun dekongestan tidak berguna bila tidak ada
kongesti nasofaring. Pasien kemudian dinilai akan adanya gangguan penyerta lain
seperti sinusitis kronik, polip hidung, obstruksi hidung, dan hipertrofi adenoid.
Penatalaksanaan medis pada otitis media serosa diteruskan selama 3 bulan. Dalam
jangka waktu tersebut, cairan telah menghilang pada 90 persen pasien. Cairan yang
tetap bertahan merupakan indikasi koreksi bedah. Koreksi ini terdiri dari suatu insisi
miringotomi, pengeluaran cairan, dan seringkali juga pemasangan suatu tuba
penyeimbang tekanan. Tuba penyeimbang tekanan ini berfungsi sebagai ventilasi
yang memungkinkan udara masuk ke dalam telinga atengah, dengan demikian
menghilangkan keadaan vakum, dan membiarkan cairan mengalir dan diabsorpsi.9

29
Gambar 9. Skema Terapi Pada Otitis Media Serosa9

Antibiotik yang digunakan :9

1. Lini pertama : Amoksisilin 500 mg p.o 7-10 hari atau jika alergi, Eritromycin 333
mg p.o 7-10 hari.
2. Lini kedua : Augmentin (amoxicillin dan asam clavulanic ) 875 mg 7-10 hari atau
Pediazole (Pediatrics) atau Sefalosporin generasi 3.

Keputusan untuk melakukan intervensi bedah tidak hanya berdasarkan


lamanya penyakit. Derajat gangguan pendengaran dan frekuensi serta parahnya
gangguan pendahulu yang juga perlu dipertimbangkan. Gangguan seringkali bilateral,
namun anak dengan cairan yang sedikit, gangguan pendengaran minimal, atau dengan
gangguan unilateral dapat diobati lebih lama dengan pendekatan yang lebih
konservatif. Sebaliknya, penipisan membrane timpani, retraksi yang dalam, gangguan
pendengaran yang bermakna dapat merupakan indikasi untuk miringotomi segera.

30
Tuba ventilasi dibiarkan pada tempatnya sampai terlepas sendiri dalam jangka waktu
enam bulan hingga satu tahun. Sayangnya karena cairan sering kali berulang,
beberapa anak memerlukan tuba yang dirancang khusus sehingga dapat bertahan
lebih dari satu tahun. Keburukan tuba yang tahan lama ini adalah menetapnya
perforasi setelah tuba terlepas. Pemasangan tuba ventilasi dapat memulihkan
pendengaran dan membenarkan membrane timpani yang mengalami retraksi berat
terutama bila ada tekanan negatif yang menetap.8

Gambar 10. Miringotomi Dan Pemasangan Tuba

Keburukan utama dari tuba ventilasi adalah telinga tengah perlu dijaga agar
tetap kering. Untuk tujuan ini telah dikembangkan berbagai macam sumbat telinga.
Insisi miringotomi dan pemasangan tuba telah dikaitkan dengan pembentukan
kolesteatoma pada beberapa kasus (jarang). Drainase melalui tuba bukannya tidak
sering terjadi, dan dapat dikaitkan dengan infeksi saluran napas atas, atau

31
memungkinkan air masuk ke dalam telinga tengah, dan pada kasus-kasus tertentu
dapat merupakan masalah menetap yang tidak bisa dijelaskan. Pada kasus-kasus
demikian, penanganan medis dengan antibiotik sistemik atau tetes telinga harus
diteruskan untuk waktu yang lebih lama bahkan saat tuba masih terpasang. Gagalnya
penanganan dengan cara ini mengharuskan radiogram mastoid dan penilaian lebih
lanjut.8

Dengan sering infeksi hidung dan tenggorokan, kelenjar adenoid dapat


menjadi membesar, menghalangi pernapasan hidung. Karena adenoid yang disebelah
area tuba eustakius, pembesaran atau infeksi dapat menyebabkan masalah telinga
berulang. Salah satu cara untuk memperkirakan ukuran kelenjar adenoid adalah
dengan sinar-X. X-ray ini sangat berguna dalam menilai apakah kelenjar adenoid
yang menghalangi daerah eustachius. Sebuah perkiraan kasar dari
ukuran adenoid juga dapat diperoleh dengan mencatat ukuran amandel.
Jika amandel sangat besar, adenoid biasanya membesar.8,9

Gambar 11. Adenoidektomi

Manfaat adenoidektomi pada otitis media serosa kronik masih diperdebatkan.


Tentunya tindakan ini cukup berarti pada individu dengan adenoid yang besar
sehingga menyebabkan obstruksi hidung dan nasofaring. Namun sebagian besar anak
tidak memenuhi kategori tersebut. Manfaat adenoidektomi pada anak dengan jaringan
adenoid berukuran sedang dan dengan infeksi berulang masih dalam penilaian.

32
Penelitian mutakhir (Gates) melaporkan bahwa adenoidektomi terbukti
menguntungkan sekalipun jaringan adenoid tersebut tidak menyebabkan obstruksi.12

Cairan di telinga tengah juga dapat terjadi pada orang dewasa. Paling
sering, masalah cairan pada orang dewasa mengikuti infeksi pernafasan
atas: sinusitis, alergi berat, atau terbang dengan pilek.Sebuah
kombinasi dekongestan dan antibiotik biasanya akan membersihkan infeksi dan
memungkinkan cairan mengalir. Pada beberapa orang dewasa, terutama mereka
dengan kondisi hidung atau sinus yang mendasari, cairan mungkin
tidak jelas. Pengobatan tambahan diperlukan oleh pasien. Obat yang mengandung
kortison, seperti Prednison atau Medrol, dapat diberikan selama enam atau tujuh hari.
Mereka sering efektif dalam membersihkan cairan ketika pengobatan lain gagal.12

Pengobatan OME langsung diarahkan untuk memperbaiki ventilasi normal


telinga tengah. Untuk kebanyakan penderita, kondisi ini diperoleh secara alamiah,
terutama jika berasosiasi dengan ISPA yang berhasil disembuhkan. Artinya banyak
OME yang tidak membutuhkan pengobatan medis. Akan lebih baik menangani faktor
predisposisi-nya, misalnya: jika dikarenakan barotrauma, maka aktivitas yang
berpotensi untuk memperoleh barotrauma berikutnya, seperti: penerbangan atau
menyelam, sebaiknya dihindarkan. Strategi lainnya adalah menghilangkan atau
menjauhkan dari pengaruh asap rokok, menghindarkan anak dari fasilitas penitipan
anak, menghindarkan berbagai alergen makanan atau lingkungan jika anak diduga
kuat alergi atau sensitif terhadap bahan-bahan tersebut.12

Pengobatan pada barotrauma biasanya cukup dengan cara konservatif saja,


yaitu dengan memberikan dekongestan lokal atau dengan melakukan perasat Valsava
selama tidak terdapat infeksidi jalan napas atas. Apabila cairan atau cairan yang
bercampur darah menetap di telinga tengah sampai beberapa minggu, maka
dianjurkanuntuk tindakan miringotomi dan bila perlu memasang pipa ventilasi
(Grommet).8

33
Usaha pereventif terhadap barotrauma dapat dilakukan dengan selalu
mengunyah permen karet atau melakukan perasat Valsalva, terutama sewaktu
pesawat terbang mulai turun untuk mendarat.8

Jika otitis media serosa ternyata menetap dan mulai bergejala, maka pengobatan
medis mulai diindikasikan, seperti:

1. Antihistamin atau dekongestan.


Rasionalisasi kedua obat ini adalah sebagai hasil komparasi antara sistem
telinga tengah dan mastoid terhadap sinus paranasalis. Karena antihistamin dan
dekongestan terbukti membantu membersihkan dan menghilangkan sekresi dan
sumbatan di sinonasal, maka tampaknya logis bahwa keduanya dapat memberikan
efek yang sama untuk otitis media serosa. Jika ternyata alergi adalah faktor
etiologi otitis media serosa, maka kedua obat ini seharusnya memberikan efek
yang menguntungkan.12
2. Mukolitik.
Dimaksudkan untuk merubah viskoelastisitas mukus telinga tengah untuk
memperbaiki transport mukus dari telinga tengah melalui TE ke nasofaring.
Namun demikian mukolitik ini tidak memegang peranan penting dalam
pengobatan otitis media serosa.12
3. Antibiotik.
Pemberian obat ini harus dipertimbangkan secara hati-hati. Karena otitis
media serosa bukanlah infeksi sebenarnya (true infection). Meskipun demikian
otitis media serosa seringkali diikuti oleh OMA, di samping itu isolat bakteri juga
banyak ditemukan pada sampel cairan otitis media serosa. Organisme tersering
ditemukan adalah S. pneumoniae, H. influenzae non typable, M. catarrhalis, dan
grup A streptococci, serta Staphyllococcus aureus. Controlled
studies menunjukkan antibiotika golongan amoksisilin, amoksisilin-klavulanat,
sefaklor, eritromisin, trimetropim-sulfametoksazol, atau eritromisin-
sulfisoksazole, dapat memperbaiki klirens efusi dalam 1 bulan. Pemberian

34
antibiotika juga meliputi dosis profilaksis yaitu ½ dosis yang digunakan pada
infeksi akut. Namun demikian perlu dipertimbangkan pula hubungan antara
antibiotika profilaksis dengan tingginya prevalensi dan meningkatnya spesies
bakteri yang resisten.12
4. Kortikosteroid.
Beberapa klinisi mengusulkan pemberian kortikosteroid untuk mengurangi
respon inflamasi di kompleks nasofaring-tuba Eustachius dan menstimulasi agent-
aktif di permukaan tuba Eustachius dalam memfasilitasi pergerakan udara dan
cairan melalui tuba Eustachius. Pemberian dapat berupa kortikosteroid oral atau
topikal (nasal), ataupun kombinasi. Berdasarkan clinicalguidance 1994,
pemberian steroid bersama-sama antibiotika pada anak usia 1-3 tahun mampu
memperbaiki klirens OME dalam 1 bulan sebesar 25%. Namun demikian karena
hanya memberikan hasil jangka pendek dengan kejadian OME rekuren yang
tinggi, serta resiko sekuele maka kortikosteroid tidak lagi direkomendasikan.12
5. Myringotomy
Anak-anak yang tidak dapat di terapi dengan antibiotik profilaksis atau dalam
masa infeksi/peradangan dapat disarankan untuk dilakukan operasi myringotomy.
Prosedur ini dilakukan di bawah anestesi umum.12
Operasi yang disebut myringotomy meliputi pembukaan kecil (small surgical
incision : melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk
di belakangnya) ke dalam gendang telinga untuk mengeluarkan cairan dan
menghilangkan rasa sakit. Bukaan (potongan/insisi) ini akan sembuh dalam
beberapa hari tanpa tanda atau luka pada gendang telinga.12
Terkadang dibuat dua insisi pada membran timpani, insisi pertama di daerah
anteroinferior dan insisi kedua di daerah anterosuperior, untuk mengaspirasi
sekret yang tebal seperti lem.12
Myringotomy juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi
gejala yang sangat berat atau ada komplikasi. Cairan yang keluar harus dikultur.12

35
6. Pemasangan Tube Ventilasi (Grommet's Tube)
Terkadang tube ventilasi (umumnya dikenal sebagai Grommet’s tube)
diletakan di dalam bukaan tadi jika masalah tetap ada setelah jangka waktu yang
lama.12

Gambar 12. Grommet’s Tube

Tube ventilasi ini dipasang sifatnya sementara, berlangsung 6 hingga 12 bulan


di dalam telinga hingga infeksi telinga bagian tengah membaik dan sampai tuba
Eustachi kembali normal. Selama masa penyembuhan ini, harus dijaga agar air tidak
masuk kedalam telinga karena akan menyebabkan infeksi lagi. Selain daripada itu,
tube tidak akan menyebabkan masalah lagi, dan akan terlihat perkembangan yang
sangat baik pada pendengaran dan penurunan pada frekuensi infeksi telinga.12

Terapi pembedahan (operatif) untuk faktor predisposisi, mungkin dibutuhkan


adenoidektomi, tonsilektomi dan mencuci (membersihkan) sinus maksillaris. Hal ini
biasanya dilakukan pada waktu dilakukannya myringotomi.12

Alat bantu dengar merupakan suatu alat akustik listrik yang dapat digunakan
oleh manusia dengan gangguan fungsi pendengaran pada telinga. Biasanya alat ini

36
dapat dipasang pada bahagian dalam telinga manusia ataupun pada bagian sekitar
telinga.12

Alat bantu dengar tersebut dibuat untuk memperkuat rangsangan bahagian sel-
sel sensorik telinga bagian dalam yang rusak terhadap rangsangan suara dan bunyi-
bunyian dari luar.12

Alat Bantu dengar tersebut merupakan sebuah alat elektronik yang


menggunakan batere dimana dalam pemakaiannya terdapat mikrofon yang
mengubah gelombang dari suara tersebut menjadi energi listrik yang kemudian
diterima amplifier yang dapat memperbesarvolume suara dan mengirimkannya
pada speaker yang ada pada bagian dalam telinga.12

Jika ingin menggunakan alat Bantu dengar ini maka terlebih dahulu harus
memeriksakan ambang pendengaran dengan alat yang dinamakan audiogram. Setelah
itu barulah dapat ditentukan jenis dan model apa yang cocok digunakan untuk kasus
kerusakan pendengaran yang dialami.12

ABD terdiri dari 3 komponen utama: mikrophon, amplifier dan speaker. ABD
menerima suara melalui mikrophone yang mengubah sinyal suara menjadi sinyal
listrik kemudian mengirimkannya ke amplifier. Amplifier meningkatkan kekuatan
sinyal listrik dan mengirimkannya ketelinga pemakai ABD melalui speaker.12

gambar 13. Alat bantu dengar

37
2.11 Komplikasi

- Infeksi telinga akut.


- Kista di telinga tengah.
- Kerusakan permanen telinga dengan hilang fungsi pendengaran yang
parsial/sebagian dan seluruhnya.
- Skar pada membran timpani (timpanosklerosis).
- Kesulitan berbicara dan berbahasa.
- Kolesteatoma.2

2.12 Prognosis

Otitis media serosa biasanya akan sembuh sendirinya dalam waktu minggu atau
bulan. Penatalaksanaan yang tepat dapat mempercepat proses penyembuhan. Selama
cairan masih terakumulasi di tengah telinga, maka tidak akan mengurangi fungsi
pendengaran. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan bahasa pada anak-anak.
Gangguan ini tidak akan menjadi ancaman bagi kehidupan tetapi dapat
mengakibatkan komplikasi serius.1

38
BAB III

KESIMPULAN

Otitis Media Serosa merupakan terdapatnya cairan di dalam telinga tengah


tanpa tanda-tanda atau gejala infeksi telinga akut. Otitis media serosa merupakan
salah satu penyakit paling umum ditemukan pada anak.

Komplikasi dapat berupa infeksi telinga akut, kista di telinga tengah,


kerusakan permanen telinga dengan hilang fungsi pendengaran yang parsial/sebagian
dan seluruhnya, skar pada membran timpani (timpanosklerosis), kesulitan berbicara
dan berbahasa, dan kolesteatoma.

Otitis media serosa sering terjadi pada bayi dan anak-anak sehingga cukup
sulit dalam melakukan diagnosis penyakitnya. Orang terdekat dan banyak
berinteraksi dengan anak tersebut akan menjadi sumber informasi yang baik.

Pengobatan pada otitis media serosa meliputi pengobatan konservatif dan


tindakan operatif. Pengobatan konservatif meliputi pemberian antibiotika,
antihistamin, dekongestan, dengan atau tanpa kortikosteroid. Penatalaksanaan secara
operatif dengan cara miringotomi. Dengan penatalaksanaan yang tepat dapat
mempercepat proses penyembuhan.

39
DAFTAR PUSTAKA

1. Lucente F.E, EI Har G. 2009. Buku Ilmu THT Esensial Edisi 6. Balai Penerbit
EGC : Jakarta.
2. Broek P.V.D, Debruyne F.dkk. 2010. Buku Saku Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorokan Edisi 12. Balai Penerbit EGC : Jakarta.
3. Irwan A.G, Sugianto. 2010. Atlas Berwarna Teknik Pemeriksaan Kelainan
Telinga Hidung Tenggorokan. Balai Penerbit EGC : Jakarta.
4. Snell Richard. 2009. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Balai
Penerbit EGC : Jakarta.
5. Sherwood, Laurale. 2011. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 6. Balai
Penerbit EGC : Jakarta.
6. Djaafar, Zainul A.,dkk. 2014. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorokan Kepala Leher. FK UI : Jakarta.
7. Higler, Boeis Adams. 1997. Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Balai Penerbit
EGC : Jakarta.
8. James B., Snow Jr. 2002. Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck
Surgery. BC Decker : Hamilton London.
9. Anil K. 2010. Current Diagnosis and Treatment in Otolaryngology Head and
Neck Surgery. Publisher : McGraw-Hill Medical.
10. Rukmini S, Herawati. 2010. Buku Ajar Teknik Pemeriksaan Telinga Hidung dan
Tenggorok. Balai Penerbit EGC : Jakarta.
11. Helmes WB. 2012. Diagnosis and Therapy Disease of the Ear, Nose, and Throat.
(http://emedicine.medscape.com/, diakses pada tanggal 16 Oktober 2017).
12. Ballantyne J and Govers J. 2002. Disease of the Ear, Nose, and Throat. Publisher
: Butthworth.

40