Anda di halaman 1dari 10

1.

Mahkamah Konstitusi Jerman (Bundesverfassungsgericht)


Sejarah Kelahiran dan Kedudukan MK Jerman

Pembentukan Mahkamah Konstitusi Jerman (Bundesverfassung gericht) tahun 1949


merupakan bagian dari reformasi total pasca kehancuran negara tersebut akibat Perang Dunia
ke 2. Pembentukannya tidak bisa dilepaskan dari latar belakang situasi yang ada pada saat itu
dimana muncul keinginan yang kuat dari rakyat Jerman untuk mendirikan negara demokratik
konstitusional setelah sebelumnya dibelenggu oleh rezim totaliter Nazi. Tujuannya ialah
untuk memastikan agar di masa mendatang, tidak akan ada lagi pemerintahan totaliter atau
fasis di Jerman seperti yang terjadi pada masa lalu dibawah pimpinan Adolf
Hitler.[1] Mengenai hal ini Michaela Hailbronner mengatakan bahwa:
“The German Constitutional Court draws its considerable strength from the reaction to the
German Nazi past: Because the Nazis abused rights and had been elected by the people, the
argument runs, it was necessary to create a strong Court to guard these rights in the
future.”[2]

Pembentukan MK Jerman dituangkan dalam Basic Law 1949 (Grundgesetz).


Mahkamah Konstitusi Jerman berkedudukan di Kalsruhe, sebuah kota yang disebut-sebut
sebagai ibu kotanya hukum, karena di kota itulah pengadilan-pengadilan tinggi dan
Mahkamah Agung Jerman berkedudukan.[3]
Sebetulnya, jauh sebelum terbentuknya MK Jerman pada tahun 1949, di Jerman telah
dibentuk semacam Peradilan Negara(State Adjudication) pada era Konfederasi tahun 1815
yang fungsinya mirip dengan Mahkamah Konstitusi. Ide pembentukan Peradilan Negara itu
sendiri dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk menangani sengketa kewenangan antar negara
bagian yang ada dibawah Konfederasi Jerman 1815.[4]
Jadi kompetensi Peradilan Negara ini ialah menyelesaikan sengketa kewenangan antar
negara bagian yang bernaung di bawah Konfederasi Jerman yang ketika itu berjumlah 36
negara bagian.[5] Peradilan ini lah yang dapat dikatakan sebagai cikal bakal dari MK Jerman
yang kita kenal sekarang ini.
Sayangnya, di dalam perjalanannya, Peradilan Negara ini tidak berhasil menunjukan
eksistensi dan supremasinya. Hal tersebut disebabkan karena pada waktu itu ide
konstitusionalisme dan persoalan HAM tidak mendapat perhatian serius di Jerman.[6]
Perkembangan ketatanegaraan Jerman memasuki babak baru pada saat terbentuknya
Konstitusi Weimar 11 Agustus 1919. Konstitusi yang dibuat setahun setelah kekalahan
Jerman pada Perang Dunia ke 1 itu secara resmi mengganti bentuk pemerintahan Jerman dari
yang semula berbentuk Kekaisaran (sejak tahun 1871-1918) menjadi Republik (1919-
1933).[7]
Melalui Konstitusi Weimar dibentuklah sebuah organ
bernama Staatsgerichtshof/Reichgerichtshof. Organ ini disebut-sebut sebagai embrio dari MK
Jerman.[8] Organ tersebut memiliki wewenang untuk menyelesaikan sengketa antara
pemerintah federal/pusat dengan negara bagian serta sengketa yang terjadi diantara negara-
negara bagian itu sendiri. Akan tetapi sayangnya mekanisme perlindungan HAM dan judicial
review pada periode ini kurang berkembang karena dianggap bertentangan dengan teori
konstitusional yang berlaku pada saat itu, yakni teori supremasi parlemen.[9]
Pada periode Konstitusi Weimar (1919-1933), Reichgerichtshof dan lembaga judicial
review lebih banyak dilingkupi aneka kontroversi daripada prestasi.
Akibatnya, Reichgerichtshof oleh banyak kalangan (salah satunya Carl Schmitt), dinilai telah
gagal menjalankan tugas sebagai pengawal konstitusi (the guardian of the constitution).[10]
Pengalaman yang kurang menggembirakan berupa kegagalan demi kegagalan dalam
merancang Peradilan Negara yang akan difungsikan sebagai pelindung konstitusi ternyata
menjadi pelajaran yang berharga bagi bangsa Jerman di kemudian hari untuk menemukan
bentuk yang ideal dari peradilan yang dimaksud.
Harapan untuk membentuk peradilan konstitusi yang solid dan efektif menemui titik
terang seiring dengan berakhirnya Perang Dunia ke 2. Sesaat setelah berakhirnya perang, para
ahli hukum tata negara Jerman berusaha merancang kembali bangunan peradilan (konstitusi)
yang ideal sebagai bagian dari reformasi total di Jerman pasca Perang Dunia ke 2. Diantara
ahli hukum itu terdapat tiga nama penting yang besar pengaruhnya dalam menggagas
pembentukan MK Jerman sebagai institusi peradilan yang mandiri dan terpisah dari MA.
Mereka adalah Richrad Thoma, Gerhard Anschutz, dan Gustav Radbruch.
Menurut mereka, tugas dan kewajiban untuk menyelesaikan perkara-perkara
konstitusional seyogianya dilaksanakan oleh MK, bukan peradilan biasa yang berpuncak
pada MA seperti model Amerika.[11]
Upaya untuk membentuk MK Jerman menjadi semakin konkret manakala diadakan
rapat dalam rangka menyusun Konstitusi Jerman yang dikenal dengan istilah “Rapat Besar
Konstitusi” pada tahun 1948 di Herrenchiemsee.[12] Semangat pembentukan MK Jerman
dalam rapat tersebut nampaknya sudah tidak terbendung lagi. Rapat tersebut telah berhasil
menetapkan substansi-substansi penting bagi Konstitusi (Basic Law) yang akan disahkan
dikemudian hari.
Salah satu substansi penting yang berhasil disepakati dalam rapat tersebut ialah
mengenai perlunya pembentukan Mahkamah Konstitusi Jerman, lengkap dengan
kewenangannya yang luas dan lebih kuat dari Staatsgerichtshof pada masa yang lalu.
Sehingga lembaga tersebut diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam menjamin
tegaknya konstitusi dan perlindungan HAM di Jerman.[13]
Dalam tulisan Martin Borowski yang salah satu bagiannya mengulas sejarah singkat
penyusunan Konstitusi Jerman 1949, diceritakan bahwa:
The conference—whose participants’ expertise is an established fact—worked up a draft of a
constitution as a guideline for the deliberations that would follow. They succeeded in setting
down many of the fundamentals of the forthcoming constitution. The draft of the
Herrenchiemsee Conference (HChE) comprises, in section viii, arts. 97 to 100, an
independent section respecting the Federal Constitutional Court; ..... the Herrenchiemsee
Conference emphasizes that the powers of the constitutional court, by comparison with those
of the Staatsgerichtshof of the Weimar Constitution, ought to be enlarged. In this way, the
new constitution could become the “real guardian of the constitution.”[14]

Akhirnya, melalui pengesahan Basic Law pada tanggal 23 Mei 1949, lahirlah sebuah
institusi peradilan baru di Jerman yang dirancang untuk menangani perkara-perkara
konstitusional yang bernama “Bundesverfassungsgericht” atau yang kita kenal dengan
sebutan Mahkamah Konstitusi Jerman.
Dalam pergaulan dan pembicaraan tentang Mahkamah Konstitusi di dunia, MK Jerman
menempati kedudukan yang sangat terhormat. Hal ini disebabkan karena luasnya
kewenangan konstitusional yang dimiliki oleh MK Jerman sebagai pengawal Konstitusi di
negaranya (grundgesetz). Disamping itu, pada kenyataannya MK Jerman juga mampu
melaksanakan tugas dan kewenangannya yang luas itu dengan sangat baik sehingga semakin
mengukuhkan kedudukannya sebagai organ federal yang sangat dihormati dan disegani, tidak
hanya di Jerman melainkan juga di dunia.[15]
Luasnya kewenangan yang dimiliki MK Jerman bersumber dari Konstitusi dan juga
undang-undang yang mengatur tentang MK Jerman. Salah satu faktor yang menyebabkan
luas dan fleksibelnya kewenangan MK Jerman ialah karena Konstitusi Jerman, tepatnya Pasal
93 ayat (2), mengizinkan adanya penambahan kewenangan MK Jerman melalui undang-
undang (UU tentang Mahkamah Konstitusi).[16] Hal mana merupakan suatu ketentuan yang
sangat bertolak belakang dengan rumusan kewenangan MK Indonesia yang secara limitatif
sudah ditentukan dan dibatasi oleh UUD 1945, tepatnya oleh Pasal 24 C.
Sebagai sebuah negara federal, selain memiliki Mahkamah Konstitusi di tingkat
pusat (Bundesverfassungsgericht), tiap-tiap negara bagian di Jerman yang jumlahnya
16[17] juga memiliki MK negara bagiannya masing-masing.[18]
Meski antara satu MK negara bagian dengan MK negara bagian lainnya memiliki
kewenangan yang berbeda-beda, namun secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi MK
negara bagian itu ialah untuk menyelesaikan perkara-perkara konstitusional di level
regional/negara bagian dengan mengacu pada konstitusi negara bagiannya masing-masing.
Dengan kata lain, fungsi MK negara bagian ini ialah untuk mempertahankan konstitusi
negara bagiannya masing-masing dari segala bentuk pelanggaran.
Diantara beragam kewenangan yang dimiliki oleh masing-masing MK Negara Bagian
itu, kewenangan pengujian konstitusional(abstract dan concrete review) dan kewenangan
penyelesaian sengketa Pemilu (di tingkat negara bagian) merupakan dua kewenangan yang
paling umum dan dimiliki oleh semua MK negara bagian di Jerman.[19]
Ruang lingkup kekuasaan atau kompetensi relatif dari MK negara bagian ini tentu saja
terbatas hanya pada wilayah negara bagiannya saja.
Dalam kaitannya dengan MK Federal Jerman, dapat dipastikan bahwa tidak ada
hubungan struktural atau hierarkis antara MK Federal dengan MK negara bagian. Artinya,
MK negara bagian bukan lah cabang dari MK Federal.[20] Yurisdiksi Mahkamah Konstitusi
Federal ialah menangani perkara-perkara konstitusional ditingkat federal dengan
menggunakan Konstitusi Federal sebagai landasannya, sementara MK negara bagian
menangani perkara-perkara konstitusional ditingkat regional/negara bagian dengan
menggunakan Konstitusi Negara Bagian sebagai landasannya.[21]
Mungkin satu-satunya hubungan antara MK Federal dengan MK negara bagian adalah
hubungan dalam perpsektif struktur ketatanegaraan yang menimbulkan konsekuensi bahwa
segala Putusan MK Federal mengikat MK negara bagian. Sebab dalam struktur
ketatanegaraan Jerman, kedudukan MK Federal Jerman lebih tinggi dan lebih kuat
dibandingkan MK negara bagian. Hal itu didasarkan pada kenyataan bahwa landasan
pembentukan MK Jerman beserta kewenangannya bersumber dari Konstitusi Federal.
Sedangkan landasan pembentukan MK Negara Bagian berikut kewenangannya bersumber
dari Konstitusi Negara bagian. Sementara kita tahu bahwa Konstitusi Federal Jerman
merupakan hukum tertinggi di Jerman dan tentu saja mengatasi Konstitusi Negara Bagian.[22]
Mengenai hubungan antara MK Negara Bagian dengan MK Federal Jerman, Arthur
Gunlicks dalam bukunya “The Lander and German Federalism,” mengatakan bahwa:
“There is some hierarchy in the relationship between the The Länder and German federalism
federal and Land constitutional courts, but not in a formal, structural sense; ..... These are
autonomous courts whose organization, authority, and procedure are set by Land
constitutions and laws.”[23]

Demikian itulah sekilas ulasan mengenai keberadaan dan eksistensi MK negara bagian
di Jerman.[24] Selain itu, dalam rangka memahami keberadaan MK Jerman dalam sistem
hukum Jerman secara komprehensif, perlu juga kiranya diketahui susunan atau organisasi
kekuasaan kehakiman di Jerman, dimana, tentu saja MK Jerman menjadi satu satunya
aktor/pelakunya.
Berdasarkan Konstitusi Jerman, dapat diketahui bahwa sistem kekuasaan kehakiman di
Jerman ditopang oleh tiga pelaku kekuasaan kehakiman, yakni: Mahkamah Konstitusi
Federal, Peradilan Federal, dan Peradilan Negara Bagian (termasuk di dalamnya MK Negara
Bagian).[25]
Peradilan Federal itu sendiri menurut Pasal 95 Konstitusi Jerman, terdiri dari beberapa
organ peradilan dengan yurisdiksi/kompetensi yang berbeda-beda satu sama lainnya.
Peradilan-Peradilan tingkat federal itu adalah:
a. Federal Court of Justice;[26]
b. Federal Administrative Court;[27]
c. Federal Finance Court;[28]
d. Federal Labour Court;[29]
e. Federal Social Court;[30]
Peradilan-Peradilan tingkat Federal itu masing-masing berstatus/berkedudukan sebagai
peradilan tertinggi (supreme court)dalam yurisdiksinya masing-masing. Sebagaimana
dikatakan oleh Arthur Gunlicks bahwa “These courts are the highest authorities within their
subject area.” Dengan demikian dapat diketahui bahwa di Jerman, terdapat lima (5) Supreme
Court (Mahkamah Agung) yang masing-masing berdiri sendiri dan terpisah satu sama
lainnya.[31]
Peradilan-Peradilan Federal yang terdiri dari lima (5) Mahkamah Agung itu hanya
menerima perkara-perkara yang sebelumnya telah diperiksa dan diadili oleh pengadilan
negara bagian[32] sesuai dengan yurisdiksinya masing-masing.[33]
Sementara di luar kelima Mahkamah Agung diatas, Pasal 96 Konstitusi Jerman
membuka kemungkinan untuk dibentuknya Peradilan lain di tingkat federal. Seperti misalnya
Pengadilan Industrial, Pengadilan Militer, dan pengadilan-pengadilan lainnya yang dianggap
perlu.[34]
Kembali kepada pembicaraan mengenai MK Federal Jerman, berdasarkan kewenangan
yang diberikan oleh Konstitusi Federal Jerman dan UU tentang MK Jerman, MK Jerman
memiliki kewenangan yang sangat luas, meliputi semua persoalan konstitusional yang ada di
Republik Federal Jerman. Bahkan dengan kewenangannya yang luas itu, MK Jerman dapat
disebut sebagai sebagai “Peradilan Puncak” terhadap semua persoalan hukum yang memiliki
dimensi konstitusional di dalamnya.[35]

Kewenangan MK Jerman

Jika diringkas, berikut adalah kewenangan MK Jerman menurut Konstitusi Federal


Jerman:[36]
1. Memutus sengketa kewenangan organ-organ negara yang meliputi:
a. Pemerintah federal dengan pemerintah negara bagian; atau
b. organ federal yang satu dengan organ federal yang lainnya yang kewenangannya diberikan
oleh konstitusi;[37]
2. Menguji peraturan perundang-undangan secara abstrak (a posteriori asbtract review) atas
permohonan Pemerintah Federal, Pemerintah Negara Bagian, atau ¼ anggota Bundestag
(DPR), yang meliputi:
a. Pengujian peraturan perundang-undangan, baik tingkat federal maupun tingkat negara bagian
terhadap Konstitusi Federal; dan
b. Pengujian peraturan perundang-undangan tingkat negara bagian terhadap undang-undang
federal. [38]
3. Memutus permohonan yang diajukan oleh Bundesrat, Pemerintah atau Legislatif Negara
Bagian tentang persoalan apakah suatu undang-undang jatuh dalam yurisidiksi Legislatif
Federal atau Legislatif Negara Bagian;[39]
4. Memutus perbedaan pendapat mengenai hak dan kewajiban antara Pemerintah Federal dengan
Pemerintah Negara Bagian akibat pelaksanaan UU Federal oleh Negara Bagian dan memutus
keberatan Negara Bagian atas pelaksanaan pengawasan yang dilakukan oleh Federal;[40]
5. Memutus sengketa hukum yang bersifat publik (public law) lainnya yang terjadi antara
Pemerintah Federal dengan Pemerintah Negara Bagian, antar Negara Bagian, atau inter (di
dalam) suatu Negara Bagian, sepanjang tidak ada mekanisme lain yang dapat ditempuh di
pengadilan lain di luar MK;[41]
6. Mengadili permohonan pengaduan konstitusional (constitutional complaint) yang diajukan
oleh;[42]
a. Individu/perorangan warga negara yang merasa hak-hak dasar atau hak konstitusionalnya
dilanggar oleh organ negara; dan
b. Pemerintah Kota atau Perkumpulan Pemerintah Kota yang merasa hak otonomi daerahnya
(sebagaimana diatur dalam Pasal 28 Basic Law 1949) dilanggar, baik oleh UU Federal
maupun UU Negara Bagian.[43]
7. Memutus dugaan/permohonan pemberhentian hakim dari seluruh organ peradilan di Jerman
atas dugaan melanggar konstitusi berdasarkan usulan Bundestag.[44]
8. Menguji peraturan perundang-undangan secara konkret berdasarkan permohonan yang
diajukan oleh hakim (concrete judicial review/constitutional question) manakala ia
meragukan konstitusionalitas atau legalitas suatu norma hukum yang akan ia terapkan dalam
kasus konkret yang sedang ditanganinya. Concrete review ini meliputi:
a. Pengujian peraturan perundang-undangan, baik tingkat federal maupun tingkat negara bagian
terhadap Konstitusi Federal(constiutional review); dan
b. Pengujian peraturan perundang-undangan tingkat negara bagian terhadap undang-undang
federal (legal review).[45]
9. Memutus pertanyaan yang diajukan oleh hakim yang sedang menangani suatu perkara konkret
yang di dalamnya melibatkan suatu norma hukum internasional tentang persoalan:
a. Apakah suatu norma hukum internasional telah menjadi bagian yang integral dalam hukum
federal ?; dan
b. Apakah norma hukum internasional yang dimaksud menimbulkan hak dan kewajiban bagi
warga negara ?;[46]
10. Memutus pertanyaan MK Negara Bagian manakala dalam menafsirkan Konstitusi Federal,
MK Negara Bagian tersebut bermaksud menyimpangi Putusan MK Federal atau Putusan MK
Negara Bagian lainnya;[47]
11. Memutus pembubaran partai politik yang tujuan atau kegiatannya bertentangan dengan
prinsip-prinsip demokrasi dan Konstitusi;[48]
12. Memutus sengketa hasil Pemilu yang telah ditetapkan oleh Bundestag;[49]
13. Memutus dugaan Bundestag atau Bundesrat mengenai pelanggaran Konstitusi atau UU
federal oleh Presiden dalam rangka Impeachment Presiden;[50]
Sistem pengujian konstitusional atau judicial review yang berlaku di Jerman ini sangat
luas jangkauannya dan mirip sekali dengan sistem yang berlaku di Austria, yakni
meliputi abstract review dan juga concrete review. Sebagaimana dikatakan oleh Martin
Borowski bahwa:

“Constitutional review in the Germany’s Federal Court distinguish between Abstract Review
(Abstrakte Normenkontrolle) and Concrete Review (Konkrete Normenkontrolle).”[51]

Sama halnya dengan Austria, baik abstract review maupun concrete review yang
berlaku di Jerman semuanya berada dalam kerangka ex post review atau posteriori
review. Artinya, aktifitas pengujian baru dapat dilakukan setelah UU atau peraturannya resmi
disahkan dan diundangkan, bukan undang-undang yang masih dalam bentuk rancangan
(RUU) seperti yang berlaku dalam sistem Perancis.[52]
Namun demikian penting untuk diketahui bahwa abstract review atau lebih
lengkapnya a posteriori abstract review yang berlaku di Jerman ini hanya dapat diajukan
oleh organ-organ negara tertentu saja. Sedangkan individu/perorangan tidak diberi hak untuk
mengajukan pengujian jenis ini.[53] Mekanisme pengujian konstitusional yang dapat diakses
oleh individu/perorangan adalah mekanisme concrete review, itu pun harus melalui hakim
pengadilan (judicial referral of constitutional question). Selain itu, ada satu lagi mekanisme
yang dapat diakses langsung oleh individu atau perorangan yang merasa hak-hak
konstitusionalnya telah dilanggar oleh tindakan pejabat atau badan publik, yakni melalui
mekanisme constitutional complaint (verfassungsbescwerde).
Pihak-pihak (organ negara) yang dapat mengajukan permohonan abstract review di
Jerman adalah: (1) Pemerintah Federal; (2) Pemerintah Negara Bagian; dan (3) 1/4
anggota Bundestag.[54]
Hal lain yang juga penting untuk dicatat dari sistem pengujian konstitusional yang
berlaku di Jerman ini ialah bahwa MK Jerman memegang penuh kekuasaan pengujian
peraturan perundang-undangan (judicial review) baik dalam kerangka pengujian
legalitas(judicial review on the legality of regulation) maupun dalam kerangka pengujian
konstitusionalitas (judicial review on the legality of laws/statutes). Artinya, semua
kegiatan judicial review di Jerman dipusatkan dan dikonsentrasikan pada MK
Jerman.[55] Gambaran mengenai hal tersebut dijabarkan, salah satunya oleh Danielle E. Finck
yang mengatakan bahwa:
“The Constitutional Court has a monopoly position in that it alone can declare wether
statutes valid or invalid (e.g judicial review) .....No other court, not even a high federal court,
is empowered to declare a statute unconstitutional.”[56]
a. Peran dan Fungsi Mahkamah Konstitusi
Fungsi dan peran utama MK adalah adalah menjaga konstitusi guna tegaknya prinsip
konstitusionalitas hukum. Demikian halnya yang melandasi negara-negara yang
mengakomodir pembentukan MK dalam sistem ketatanegaraannya. Dalam rangka
menjaga konstitusi, fungsi pengujian undang-undang itu tidak dapat lagi dihindari
penerapannya dalam ketatanegaraan Indonesia sebab UUD 1945 menegaskan bahwa
anutan sistem bukan lagi supremasi parlemen melainkan supremasi konstitusi. Bahkan,
ini juga terjadi di negara-negara lain yang sebelumnya menganut sistem supremasi
parlemen dan kemudian berubah menjadi negara demokrasi. MK dibentuk dengan fungsi
untuk menjamin tidak akan ada lagi produk hukum yang keluar dari koridor konstitusi
sehingga hak-hak konstitusional warga terjaga dan konstitusi itu sendiri terkawal
konstitusionalitasnya.
Untuk menguji apakah suatu undang-undang bertentangan atau tidak dengan konstitusi,
mekanisme yang disepakati adalah judicial review yang menjadi kewenangan MK. Jika
suatu undang-undang atau salah satu bagian daripadanya dinyatakan terbukti tidak
selaras dengan konstitusi, maka produk hukum itu akan dibatalkan MK. Sehingga semua
produk hukum harus mengacu dan tak bolehbertentangan dengan konstitusi. Melalu
kewenangan judicial review ini, MK menjalankan fungsinya mengawal agar tidak lagi
terdapat ketentuan hukum yang keluar dari koridor konstitusi.
Fungsi lanjutan selain judicial review, yaitu (1) memutus sengketa antarlembaga negara,
(2) memutus pembubaran partai politik, dan (3) memutus sengketa hasil pemilu. Fungsi
lanjutan semacam itu memungkinkan tersedianya mekanisme untuk memutuskan berbagai
persengketaan (antar lembaga negara) yang tidak dapat diselesaikan melalui proses
peradilan biasa, seperti sengketa hasil pemilu, dan tuntutan pembubaran sesuatu partai
politik. Perkara-perkara semacam itu erat dengan hak dan kebebasan para warga negara
dalam dinamika sistem politik demokratis yang dijamin oleh UUD. Karena itu, fungsi-fungsi
penyelesaian atas hasil pemilihan umum dan pembubaran partai politik dikaitkan dengan
kewenangan MK Fungsi dan peran MK di Indonesia telah dilembagakan dalam Pasal 24C
ayat (1) UUD 1945 yang menentukan bahwa MK mempunyai empat kewenangan
konstitusional (conctitutionally entrusted powers) dan satu kewajiban konstitusional
(constitusional obligation). Ketentuan itu dipertegas dalam Pasal 10 ayat (1) huruf a
sampai dengan d Undang-Undang Nomor 24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.
Empat kewenangan MK adalah:
 Menguji undang-undang terhadap UUD 1945.
 Memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara yang kewenangannya diberikan
oleh UUD 1945.
 Memutus pembubaran partai politik.
 Memutus perselisihan tentang hasil pemilu.
Sementara, berdasarkan Pasal 7 ayat (1) sampai dengan (5) dan Pasal 24 C ayat (2) UUD
1945 yang ditegaskan dalam Pasal 10 ayat (2) UU Nomor 24 Tahun 2003, kewajiban
MK adalah memberi keputusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan atau Wakil
Presiden telah melakukan pelanggaran hukum, atau perbuatan tercela, atau tidak
memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden sebagaimana dimaksud
dalam UUD 1945.
Pengadilan konstitusi di Prancis, yang dikenal sebagai Dewan Konstitusi, tidak berwenang
untuk memeriksa konstitusionalitas Perubahan UUD. Pertama-tama
saya akan menguraikan latar belakang Dewan Konstitusi. Seperti Anda mungkin
tahu, dengan Konstitusi 1958 (yang populer dikenal sebagai Konstitusi Republik
V), ditetapkan adanya Dewan
Konstitusi. Dewan iniberkompeten untukmemeriksa konstitusionalitas Undang-Undang yang
disahkan oleh badan legislatif, akan tetapi belum diundangkan (ex ante review).Sebelum
itu, tidak dikenal mekanisme pengujian seperti itu.

Memang, pengadilan tidak bisa memverifikasi konstitusionalitasUndang-


Undang untukperkara yang sedang diperiksa. Semuaundang-undang yang disahkan
oleh legislatif dianggapmengekspresikan kehendak umum dan kedaulatan rakyat. Oleh sebab
itu peradilanhanya memiliki tugas untuk melaksanakan Undang-Undang tersebut bahkan jika
mereka pikir itu tidak konsisten dengankonstitusi. JJ Rousseau berteori mengenai supremasi
kekuasaan Parlemen sebagai wakil rakyat dalam
buku yang terkenal "le contratsosial" (Kontrak Sosial) yang diterbitkanpada 1762. Teori
ini memiliki pengaruh besar terhadap revolusi Prancis pada 1789. Paham ini juga dianut
oleh para pendiri Republik III (1870-1940) serta pendiriRepublik IV (1946-1958). Hal ini
berubah secara substansial pada RepublikV.

Pengujian konstitusional Undang-Undang mulai pada tahun 1958. Hanya 4 pejabat politik
yang bisa mengajukan pemeriksaan Undang-Undang kepada Dewan Konstitusil, setelah
pemungutan suaradefinitif oleh Parlemen dan sebelum diundangkan. Para pejabat
iniadalah Presiden, Perdana Menteri, Ketua Majelis Nasional, dan Ketua Senat.

Sejak 1974, pengujian konstitusionalitas Undang-Undang dapat juga diajukan


oleh 60 anggota masing-masing parlemen (Majelis Nasional dan Senat) dan sejak tahun
2008, setiap individu kini juga telahdiizinkan untuk mengajukan permohonan itu sehubungan
dengan perkara yang disangkakan kepada mereka sepanjang berhubungan dengan hak
atau kebebasan-kebebasan fundamental (ex post review).Ini pembaruan yang mulai
berlaku pada tanggal 1 Maret 2010. Kedua pembaruan tersebut telah menambah keputusan
pentingsejak tahun1971 di mana Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara 1789 dan
hak-hak ekonomi dan sosial yang disebutkan dalam Pembukaan UUD1946 mulai menjadi
dasar untuk pengujian Undang-Undang. Hal-hal tersebut telah mengubah Dewan
Konstitusi menjadi Mahkamah Konstitusi yang sesungguhnya sepertimodel Pengadilan Eropa
lainnya.

Pasal 89 Konstitusi Prancis menyatakan bahwa "Presiden atas rekomendasi dari Perdana
Menteri, dan Anggota Parlemen sama-sama berhak untuk melakukan amandemen
Konstitusi". Ketentuanberikutnya menyatakan bahwa pembahasan rancangan perubahan
ituhanya mungkin dilakukan dalam 6 minggu setelah pengajuan danharus memperoleh
persetujuan oleh 2 kamar Parlemen. Oleh karena itu, Majelis Nasional tidak mengambil
keputusan akhir, karena kewenangan semacam ini hanya diterapkan terhadap Undang-
Undang biasa atau Undang-Undang organik.

Perubahan tersebut mulai berlaku setelah disetujui oleh referendumkecuali


dalam kasus rancangan perubahan UUD yang berasal daripemerintah, maka Presiden dapat
memutuskan untuk menyerahkan kepada Parlemen. Rancangan ini kemudian harus disetujui
oleh 3/5mayoritas suara Parlemen. Akhirnya, ada prosedur di mana perubahan harus diajukan
saat a integritas wilayah nasionalterancam.

Konstitusi Italia memuat ketentuan prosedural sama dalam Pasal 134, serupa dengan Basic
Law (UUD) Jerman. Hal ini juga sama dengan Konstitusi AS, di
mana Pasal V memberlakukan prosedur perubahan UUD agak rumit yang hanya dapat
dimulai oleh mayoritas dua pertiga dari masing-masing kamar Kongres (DPR dan
Senat) atau 2/3 NegaraBagian. Kemudian, Konvensi diselenggarakan untuk menetapkanAma
ndemen yang diusulkan yang harus disahkan oleh Badan Legislatif di minimal ¾ Negara
Bagian.

Konstitusi Perancis, mirip dengan konstitusi Italia atau Jerman, tidak


memiliki aturan yang mengizinkanMahkamah Konstitusi untuk memeriksa ketentuan-
ketentuan prosedural perubahan UUD. Namun demikian, MK Italia dan Jerman dalam
perkembangannyamemutuskan dirinya berwenang untuk menguji prosedurperubahan UUD.

Tapi Dewan Konstitusi Perancis tidak mengadopsi sikap yang samadan menafsirkan dengan
kaku Pasal 61 Konstitusiketika persoalaninidiperiksa untuk pertama kalinya pada tahun
1962. Pasal 61menegaskan bahwa Undang-Undang
organik, sebelumdiundangkan dansebelum diberlakukan, diperiksa oleh Dewan
Konstitusi. Untuk tujuan yang sama, Undang-Undang tentang Parlemen diperiksa
oleh Dewan Konstitusi, sebelum diundangkan. Ketentuan-ketentuan mengenai Perubahan
UUD tidak secara tegasdisebutkan dalam Pasal ini.