Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

TEKNIK PEMROSESAN AKHIR SAMPAH

PEMILIHAN LOKASI LANDFILL MENURUT METODA LE


GRAND, HAGERTY, DAN SNI

OLEH:

KELOMPOK 4

1. SILVI SEPTANISA 1410941017


2. MERIENZA VAROLIA 1510941018
3. ADITYA RIANSYAH 1510941035
4. KASTURI RAMAYANA 1510942019

DOSEN:
SLAMET RAHARJO, Dr. ENG

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah persampahan sebenarnya menyangkut tentang bagaimana memilih


sistem pengelolaan sampah yang efektif dan efisien serta tidak merusak
lingkungan. Pengelolaan sampah tersebut dimulai dari sumbernya sampai ke
tempat pembuangan akhir. Limbah merupakan kumpulan dari beberapa
jenis buangan hasil aktivitas manusia yang akhirya harus diolah dan
diurug dalam suatu lokasi yang sesuai. Penyingkiran dan pemusnahan
limbah ke dalam tanah (land disposal) merupakan cara yang selalu
disertakan dalam pengelolaan, karena proses pengolahan sampah tidak
dapat menyelesaikan permasalahan yang ada.

Kondisi faktual yang dapat dilihat saat ini ialah bahwasanya masalah
persampahan tersebut belum dapat ditangani dengan baik. Menyikapi fakta
yang ada maka pengelolaan untuk masalah persampahan ini perlu
diperhatikan dan direncanakan dengan sebaik-baiknya. Namun demikian
tetap saja timbul permasalahan yang berhubungan dengan pengelolaan
persampahan ini, terutama masalah kriteria lokasi yang akan dijadikan
sebagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Salah satu cara yang selalu disertakan dalam pengelolaan sampah


adalah landfilling yaitu cara penyingkiran sampah ke dalam tanah
dengan pengurugan atau penimbunan. Landfilling merupakan bagian
yang sampai saat ini sulit untuk dihilangkan dalam pengelolaan sampah
relatif murah dan kecil dalam menerima limbah. Landfilling ini bukan
merupakan pemecahan masalah yang baik, karena cara ini masih
mendatangkan masalah pada lingkungan terutama lindi (leachate) yang
mencemari air tanah. Untuk itu pemilihan sebuah lahan yang baik dan tepat
sebagai landfill adalah hal yang penting dilakukan sehingga dampak negatif
yang mungkin timbul dapat diperkecil.

1.2 Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:
1. Mengetahui tentang cara pemilihan lokasi landfill menurut metoda Le
Grand;

1
2. mengetahui tentang cara pemilihan lokasi landfill menurut metoda
Hagerty;
3. mengetahui tentang cara pemilihan lokasi landfill menurut metoda
SNI;
4. memenuhi tugas mata kuliah Teknik Pemrosesan Akhir Sampah.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prinsip Pemilihan

Salah satu kendala pembatas dalam menerapkan metoda pengurugan limbah


dalam tanah adalah pemilihan lokasi yang cocok baik dari sudut kelangsungan
pengoperasian maupun dari sudut perlindungan terhadap lingkungan hidup.
Suatu metoda pemilihan yang baik perlu digunakan agar memudahkan dalam
mengevaluasi calon lokasi tersebut.

Pada dasarnya, pertimbangan utama dalam pemilihan lokasi lahan didasarkan


atas berbagai aspek, yaitu:
Kesehatan masyarakat;
1. Lingkungan hidup;
2. Biaya;
3. Sosial-ekonomi;
4. Politis dan legal.

Suatu metodologi yang baik tentunya diharapkan bisa memilih lahan yang saling
menguntungkan dengan kerugian yang sekecil-kecilnya. Dengan demikian
metodologi tersebut akan memberikan hasil pemilihan lokasi yang terbaik.
Proses pemilihan lokasi lahan urug, idealnya melalui suatu tahapan penyaringan.
Dalam setiap tahap, lokasi-lokasi yang dipertimbangkan akan dipilih dan disaring.
Hal ini akan tergantung pada kriteria yang digunakan di tingkat tersebut.

Pemilihan tiap tingkat ini penting artinya, karena akan menghemat biaya
dibandingkan bila setiap calon lokasi langsung diuji dengan semua parameter
penguji. Di samping itu, pemilihan awal akan menyederhanakan alternatif yang
ada, karena lokasi yang tak layak langsung disisihkan. Penyisihan tersebut akan
memberikan calon-calon lokasi yang paling banyak dan baik untuk diputuskan
pada tingkat final oleh pengambil keputusan.

Beberapa parameter penyaring yang sering digunakan adalah:


1. Geologi
Fasilitas pembuangan limbah tidak dibenarkan berlokasi di atas suatu daerah
yang mempunyai sifat geologi yang dapat merusak keutuhan sarana tersebut.
Daerah yang dianggap tidak layak adalah daerah dengan formasi batu pasir,
batu gamping atau dolomit berongga dan batuan berkekar lainya. Daerah

3
geologi lainnya yang berbahaya juga penting untuk dievaluasi, seperti daerah-
daerah yang mempunyai potensi gempa, zone vulkanik yang aktif serta
daerah longsoran, kecuali jika zona tersebut mempunyai daerah penyangga
yang cukup. Pada umumnya akan lebih menguntungkan untuk mengurug
limbah di daerah dengan lapisan tanah di atas batuan yang cukup keras.

2. Hidrogeologi
Hidrogeologi berkaitan dengan potensi pencemaran air tanah di bawah lokasi
sarana dan potensi penyebaran air pada akuifer di sekitarnya. Sistem aliran
air tanah akan menentukan beberapa hal, seperti arah dan kecepatan aliran
lindi, lapisan air tanah yang akan dipengaruhi dan titik munculnya kembali air
tersebut di permukaan. Lokasi yang potensial untuk dipilih adalah daerah
yang dikontrol oleh sistem aliran air tanah lokal dengan kemiringan hidrolis
kecil dan kelulusan tanah yang rendah. Tanah dengan konduktivitas hidrolis
yang rendah (impermeabel) sangat diinginkan supaya pergerakan lindi
dibatasi.

3. Hidrologi
Lokasi sarana tidak boleh terletak di daerah dengan sumur-sumur dangkal
yang mempunyai lapisan kedap air yang tipis atau pada batu gamping yang
berongga. Lahan yang berdekatan dengan badan air akan lebih berpotensi
untuk mencemarinya, baik melalui aliran permukaan maupun melalui air
tanah. lklim setempat hendaknya mendapat perhatian juga. Makin banyak
hujan, makin besar pula kemungkinan lindi yang dihasilkan, disamping makin
sulit pula pengoperasian lahan.

4. Topografi
Tempat pengurugan limbah tidak boleh terletak pada suatu bukit dengan
lereng yang tidak stabil. Suatu daerah dinilai lebih bila terletak di daerah
landai agak tinggi. Topografi dapat menunjang secara positif maupun negatif
pada pembangunan sarana ini. Topografi dapat juga mempengaruhi biaya bila
dikaitkan denagn kapasitas tampung. Suatu lahan yang cekung dan dapat
dimantaatkan secara langsung akan lebih disukai. Ini disebabkan volume
lahan untuk pengurugan limbah sudah tersedia tanpa harus mengeluarkan
biaya operasi untuk penggalian yang mahal. Pada dasarnya masa layan 5
sampai 10 tahun atau lebih akan mendapatkan bobot yang lebih tinggi.

4
5. Tanah

Tanah dibutuhkan baik dalam tahap pembangunan maupun dalam tahap


operasi sebagai lapisan dasar (liner), lapisan alas, penutup antara dan harian
atau untuk tanggul-tanggul dan jalan jalan dengan jenis tanah yang berbeda.
Kebutuhan pasir/kerikil untuk beberapa aktivitas dapat menyebabkan suatu
lahan yang tidak memiliki jenis tanah ini bisa pula dinilai lebih rendah.

6. Tata guna tanah

Lokasi tidak boleh terletak di dalam wilayah yang diperuntukkan bagi daerah
lindung perikanan, satwa liar dan pelestarian tanaman. Lokasi lahan urug
yang mempunyai rencana penggunaan akhir yang sesuai dengan rencana
tata guna tanah di masa yang akan datang dinilai lebih tinggi daripada lokasi
yang penggunaan akhirnya tidak sesuai dengan rencana tersebut.

7. Daerah banjir
Sarana yang terletak di daerah banjir harus tidak membatasi aliran banjir serta
tidak mengurangi kapasitas penyimpanan air sementara di daerah banjir yang
menyebabkan terbilasnya limbah tersebut sehingga menimbulkan bahaya
terhadap kehidupan manusia, satwa liar, tanah atau sumber air yang terletak
berbatasan dengan lokasi tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan ini, suatu
sarana yang berlokasi pada daerah banjir memerlukan perlindungan yang
lebih kuat.

8. Reaksi masyarakat dan kepemilikan tanah


Kriteria penggunaan tanah sangat penting karena hal ini langsung dirasakan
oleh masyarakat dan dianggap mempunyai dampak langsung terhadap
mereka. Oleh karena itu, kriteria penggunaan tanah hendaknya disusun untuk
mengurangi kemungkinan pembangunan sarana ini di daerah yang
mempunyai kepadatan penduduk tinggi, mempunyai nilai penggunaan tanah
yang penting atau daerah-daerah yang digunakan oleh masyrakat banyak.
Kemudahan dan biaya untuk memperoleh sebuah lahan dapat menjadi suatu
pertimbangan penting.

9. Transportasi dan utilitas lain


Banyaknya jalan yang terletak dekat lokasi lahan urug akan memungkinkan
hubungan yang mudah dan menguntungkan bagi operasional pengangkutan
limbah ke lokasi.

5
10. Faktor rancangan
Rancangan lahan urug meliputi rencana tapak dan rencana perbaikan
sistem dengan rekayasa yang digunakan untuk pengelolaan lindi, air
permukaan, air tanah dan gas. Sistem pengelolaan dirancang untuk
mengurangi dampak yang disebabkan oleh adanya berbagai faktor.

Tahapan dalam proses pemilihan lokasi TPA adalah menentukan satu atau dua
lokasi terbaik dari daftar lokasi yang dianggap potensial. Dalam proses ini,
kriteria-kriteria yang ada digunakan semaksimal mungkin guna proses
penyaringan. Guna memudahkan evaluasi pemilihan sebuah lahan yang
dianggap paling baik, digunakan sebuah toluk ukur untuk merangkum semua
penilaian dari parameter yang digunakan. Biasanya hal ini dilakukan dengan cara
pembobotan.

2.2 Pemilihan Lokasi TPA Berdasarkan Metode Le Grand

Metode numerical rating menurut Le Grand yang telah dimodifikasi oleh


Knight, telah digunakan oleh Direktorat Geologi Tata Lingkungan, guna
evaluasi pendahuluan dari lokasi pembuangan limbah di Indonesia.
Parameter utama yang digunakan dalam analisis ini adalah:

a. Jarak antara lokasi (sumber pencemaran) dengan sumber air minum,


b. Kedalaman muka air tanah terhadap dasar lahan-urug,
c. Kemiringan hidrolis air tanah dan arah alirannya dalam hubungan dengan
pusat sumber air minum atau aliran air sungai,
d. Permeabilitas tanah dan batuan,
e. Sifat-sifat tanah dan batuan dalam meredam pencemaran, dan
f. Jenis limbah yang akan diurug di sarana tersebut

Metode Le Grand ini terdiri dari 4 tahap, yaitu:


Tahap 1: deskripsi hidrogeologis lokasi (Langkah ke 1 sampai ke 7),
Tahap 2: derajat keseriusan masalah (Langkah ke 8) ,
Tahap 3: gabungan tahap 1 dan tahap 2 (Langkah ke 9),
Tahap 4: penilaian setelah perbaikan (Langkah ke 10)

Untuk menentukan skore masing-masing tahap tersebut digunakan tabulasi


seperti terlihat dalam langkah-langkah di bawah ini.

6
Contoh kasus:
Suatu calon lokasi landfilling sampah kota memiliki data sebagai berikut :
a. Batas lokasi landfill secara horizontal akan berjarak 20 m dari sumur
penduduk
b. Kedalaman muka air tanah dari data bor adalah 14 m
c. Gradien kemiringan 1.5% menuju searah aliran air yang menuju sumur
d. Dari analisa ayakan, campuran lempung dan pasir = 40% dan merupakan
tanah impermeable dengan ketebalan 10-12 m
e. Tingkat keakuratan data baik

Langkah 1

Jarak calon lokasi dengan sumber air, yaitu calon berbatasan langsung dengan
sungai sebagai sumber air. Dari tabel di atas diperoleh nilai 7.

Langkah 2

Kedalaman dasar lahan dengan muka air tanah adalah 14 m, sehingga nilai = 3

Langkah 3

Kemiringan muka air tanah pada lokasi < 2% dengan arah menuju sumber air
dan masuk dalam aliran, sehingga nilai = 3

Langkah 4

7
Kemampuan sorpsi dan permeabilitas: batuan dasar merupakan lapisan
impermeabel (I) dengan lempung dan pasir <50% dengan kedalaman 10-14 m,
sehingga nilai = 2.

Langkah 5
Parameter 5, yaitu tingkat keakuratan/ketelitian data, yaitu:
A = kepercayaan terhadap nilai parameter: akurat
B = kepercayaan terhadap nilai parameter: cukup
C = kepercayaan terhadap nilai parameter: tidak akurat
Karena dalam contoh data yang diperoleh berasal dari data obeservasi dan
pengukuran langsung di lapangan, maka tingkat kepercayaan terhadap nilai
parameter dianggap akurat, sehingga nilai = A

Langkah 6
Parameter 6.1: Sumber air sekitar lokasi
W = jika yang akan tercemar sumur (well)
S = jika yang akan tercemar mata air (spring) atau sungai (stream)
B = jika yang akan tercemar daerah lain (boundary)

Sumber air sekitar lokasi yang mungkin tercemar karena adanya sarana ini
adalah sumur. Dengan demikian Nilai = W

Parameter 6.2: Informasi tambahan tentang calon lokasi


C : memerlukan kondisi khusus yang memerlukan komentar
D : terdapat kerucut depresi pemompaan
E : pengukuran jarak titik tercemar dilakukan dr pinggir calon lokasi
F : lokasi berada pada daerah banjir
K : batuan dasar calon lokasi adalah karst
M : terdapat tampungan air di bawah timbunan sampah
P : lokasi mempunyai angka perkolasi yang tinggi
Q : akuifer dibawah calon lokasi adalah penting dan sensitif
R : pola aliaran air tanah radial sampai sub radial
T : muka air tanah pada celah/retakan/rongga batuan dasae
Y : terdapat satu atau lebih akuifer tertekan

Informasi tambahan tentang calon lokasi adalah berada pada lokasi banjir (F),
sedang akuifer dibawah calon lokasi adalah penting dan sensitif (Q), dan
terdapat satu atau lebih akuifer tertekandi bawahnya (Y). Nilai menjadi = FQY.

8
Langkah 7
Rekapitulasi deskriptif hidrogeologi dari langkah-langkah di atas adalah
menjumlah nilai yangdiperoleh yaitu = 15.

Nilai penjumlahan tersebut kemudian dibandingkan dengan standar kondisi


hidrogeologi seperti tercantum dalam Tabel 3.2. Dengan demikian maka site
tersebut dari sisi hidrogeologi merupakan site yang “baik” dengan nilai = C

Tabel 1.1 Penilaian kondisi hidrogeologi


Jumlah nilai Nilai Keterangan

< 10 A Istimewa
11 - 14 B Sangat baik

15 - 17 C Baik
18 - 20 D Cukup

> 20 E atau F Buruk/ sangat buruk

Langkah 8 : Derajat kepekaan akuifer dan jenis limbah

9
Gambar 1.1 Derajat keseriusan dan potensi bahaya

Tahap ini menggambarkan derajat keseriusan yang disajikan dalam bentuk


matrik yang menggabungkan kepekaan akuifer dengan tingkat bahaya limbah
yang akan diurug/ditimbun. Jenis akuifer dipilih pada ordinat sumbu-Y, yaitu
mulai dari liat berpasir yang dianggap tidak sensitif sampai batu kapur yang
dianggap sangat sensitif. Sedangkan tingkat keseriusan pencemar, yang dipilih
pada absis sumbu-X, akan tergantung pada jenis limbah yang masuk, mulai dari
limbah inert yang tidak berbahaya sampai limbah B-3. Titik pertemuan garis yang
ditarik dari sumbu-X dan sumbu-Y tersebut menggambarkan derajat keseriusan
pencemaran, mulai dari relatif rendah (A) sampai sangat tinggi (I). Derajat
keseriusan tersebut dibagi dalam 9 katagori. Dari data contoh di atas, calon
lokasi mempunyai tingkat derajat keseriusan agak tinggi (E).

Langkah 9
Tahap ini merupakan penggabungan langkah 1 sampai 4 dengan langkah 8.
Posisi grafis yang digunakan pada langkah 9 digunakan kembali. Dari posisi
lokasi tersebut dapat diketahui peringkat situasi standar yang dibutuhkan agar
akuifer tidak tercemar. Peringkat ini dinyatakan dalam PAR (protection of aquifer
rating). Hasil pengurangan PAR dari deskripsi numerik lokasi, digunakan untuk
menentukan tingkat kemungkinan pencemaran yang akan terjadi. Nilai-nilai PAR
dalam zone-zone isometrik diperoleh berdasarkan pengalaman empiris yang
menyatakan nilai permeabilitas serta sorpsi yang tidak boleh terlampaui agar
akuifer tidak tercemar:

 Dari langkah 1 sampai 4 diperoleh nilai berturut-turut : 7-3-3-2


 Dari langkah 9, diperoleh PAR = 14-4 maka penggabungannya adalah:

Nilai tersebut (= -1) dibandingkan dengan daftar dalam Tabel 3.3 di bawah ini.
Situasi peringkat menghasilkan nilai = C, artinya kemungkinan pencemaran sulit
terkatagorikan, dan derajat penerimaannya adalah “terima” atau “ditolak”.

10
Tabel 1.2 : Situasi peringkat penilaian
Situasi Kemungkinan Derajat Nilai
peringkat pencemaran penerimaan

< -8 sangat kecil kemungkinan terima A


-4 s/d -7 sulit terkatagori cenderung terima B
+3 s/d -3 sulit terkatagori terima atau tolak C
+4 s/d +7 mungkin cenderung tolak D
> +8 sangat mungkin hampir pasti : tolak E

Langkah 10
Langkah ini digunakan bila pada lokasi dilakukan tersebut dilakukan masukan
teknologi untuk mengurangi dampak pencemaran yang mungkin terjadi,
sehingga diharapkan terjadi pergeseran nilai PAR. Perubahan dilakukan dengan
memperbaiki kondisi pada langkah 8, sehingga PAR dilangkah 9 juga akan
berubah. Masukan teknologi yang mungkin diterapkan pada lokasi ini untuk
mengurangi potensi bahaya pencemaran antara lain :
 Desain saluran drainase di sekitar lokasi dengan baik dimana
meminimalisasi air hujan yang akan masuk ke area landfill seminimal
mungkin pula.
 Pembuatan lapisan dasar (liner) yang dapat dilakukan dengan beberapa
lapisan pelindung seperti geomembran dengan tujuan agar lindi yang
timbul tidak akan merembes ke dalam ailiran air tanah
 Desain pipa lindi yang memungkinkan air lindi dapat terkumpul
 Adanya instalasi pengolahan air lindi sebelum dibuang ke badan air
penerima

2.3 Pemilihan Lokasi TPA Berdasarkan Metode Hagerty

Pertimbangan yang digunakan dalam sistem pembobotan ini adalah:


1. Parameter-parameter yang langsung berpengaruh pada transmisi
cemaran dianggap sebagai parameter dengan prioritas pertama,
misalnya potensi infltrasi, potensi bocornya dasar lahan urug, dan
kecepatan air tanah. Nilai maksimum adalah 20 SRP (Satuan
Rangking Prioritas).

11
2. Parameter-parameter yang mempengaruhi transportasi cemaran setelah
terjadinya kontak dengan air, dianggap sebagi prioritas kedua, seperti
kapasitas penyaringan dan kapasitas sorpsi. Nilai maksimum adalah 15
SRP.
3. Parameter-parameter yang mewakili kondisi awal dari air tanah, dikenal
sebagai prioritas ketiga. Nilai maksimum adalah 10 SRP.
4. Parameter-parameter yang mewakili faktor-faktor lain, dikenal sebagi
prioritas keempat, seperti jarak potensi cemaran, arah angin dan
populasi penduduk. Nilai maksimum adalah 5 SRP.

Rangking suatu lokasi dihitung berdasarkan penjumlahan parameter yang


dinfai secara individu, yaitu:

lp+Lp+Fc+Ac+ Oc+Bc+Td+Gv+Wp+Pf

dimana:
Ip = potensi infiltrasi
Lp = potensi keretakan dasar
Fc = kapasitas filtrasi
Ac = kapasitas adsorpsi
Oc = potensi kandungan organik dalam air
Bc = kemampuan kapasitas penyangga
Td = potensi jarak tempuh cemaran
Gv = kecepatan air tanah
Wp = arah dominan angin
Pf = faktor populasi

1. Potensi infiltrasi (Ip) dihitung dengan:


i
lp 
( FC ) H
Dimana: i = infiltrasi (% dari rata-rata hujan tahunan)
FC = kapasitas penahan air bervariasi antara 0,05 (pasir) sampai
0,4 (liat)
H = ketebalan tanah penutup (inch)

2. Potensi keretakan dasar ( Lp) dihitung dengan:

1000k 1 / 2
Lp 
T

12
dimana : k = koefesien permeabilitas (em/dt)
T = ketebalan dasar (ft)

3. Kapasitas filtrasi ( Fc) dihitung dengan

2,5  105
Fc  4 log

dimana :   diameter rata-rata butiran (inch)

4. Kapasitas adsorpsi ( Ac) dihitung dengan


10(Or )
Ac 
(log KTK )  1
dimana : Or = kandungan organik tanah (% berat kering)
KTK = kapasitas tukar kation (meq/100 gr)

5. Kapasitas organik dalam air tanah (Oc) dihitung dengan


Oc = 0,2 BOD
dimana : BOD = kebutuhan oksigen secara biokimia (mg/l)

6. Kapasitas penyangga air tanah (Bc) dihitung dengan


Bc =10-Nme
dimana : Nme = nilai terkecil kebutuhan asam atau basa untuk menurunkan
pH air sampai 4,5 atau 8,5 (asiditas dan alkalinitas)

7. Potensi jarak tempuh Cemaran (Td) dihitung seperti tabel


Jarak Tempuh Cemaran
JARAK NILAI
0-500ft 0
500 ft - 4000 ft 1
4000 ft - 2 mil 2
2 mil - 20 mil 3
20 mil - 50 mil 4
> 50 mil 5

Jarak diukur dari lokasi lahan urug ke muka air tanah di bawahnya
atau ke air permukaan lainnya.

8. Potensi kecepatan air tanah (Gv) dihitung dengan


S
Gv 
log( 2 / K )

13
dimana : S = kemiringan hidrolis (ft/mil)
k = penneabilitas (cm/dt)

9. Potensi arah angin (Wp) dihitung dengan:

Wp  
5  Ai / 36log Pi
15
dimana : Ai = sudut arah angin potensial terhadap populasi
Pi = populasi di setiap kuadran (jiwa) dalam jarak 40 km

10. Faktor populasi (Pf) dihitung dengan:


Pf = log P
dimana : P = populasi (jiwa) pada radius 40 km

Kelebihan Metode Hagerty:


1. Parameter-parameter yang dievaluasi cukup luas meliputi aspek-aspek
penting seperti:
a. Potensi infiltrasi;
b. Kapasitas oganik dalam air tanah;
c. Arah dan kecepatan angin.
2. Menggunakan sistem pembobotan dengan empat level prioritas yang
berbeda.

Kelemahan Metode Hagerty:


1. Memerlukan biaya yang lebih mahal;
2. Tidak mempunyai kajian pendahuluan, lokasi yang dikaji merupakan lokasi
hasil dari tahap regional dengan metode SNI;
3. Dalam analisa terhadap arah angin, arah angin yang digunakan adalah arah
angin regional;
4. Pada metode Hagerty tidak terdapat kajian tentang batas administrasi dari
lokasi, kapasitas lahan dan jalan menuju lokasi.

2.4 Pemilihan Lokasi TPA Berdasarkan Metode SNI

Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah mencapai


tahap akhir dalam pengelolaannya, dimana diawali dari sumber, pengumpulan, pemindahan
atau pengangkutan, serta pengolahan dan pembuangan. TPA merupakan tempat
dimana sampah diisolasi secara aman agar tidak menimbulkan kerusakan atau
dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, diperlukan
penyediaan fasilitas dan penanganan yang benar agar pengelolaan sampah tersebut

14
dapat dilaksanakan dengan baik. Penentuan Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
sampah harus mengikuti persyaratan dan ketentuan-ketentuan yang telah
ditetapkan pemerintah melalui SNI nomor 03-3241-1994 tentang tata cara
pemilihan lokasi TPA sampah. Berdasarkan Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat
Pembuangan Akhir Sampah (SNI 03-3241-1994), penentuan lokasi TPA sampah
harus dengan beberapa pertimbangan-pertimbangan antara lain;

1. TPA sampah tidak boleh berlokasi di danau, sungai dan laut;


2. Disusun berdasarkan 3 tahapan yaitu :
a. Tahap regional yang merupakan tahapan untuk menghasilkan peta yang
berisi daerah atau tempat dalam wilayah tersebut yang terbagi menjadi
beberapa zona kelayakan;
b. Tahap penyisih yang merupakan tahapan untuk menghasilkan satu atau
dua lokasi terbaik diantara beberapa lokasi yang dipilih dari zona-zona
kelayakan pada tahap regional;
c. Tahap penetapan yang merupakan tahap penentuan lokasi terpilih oleh
Instansi yang berwenang.

2.4.1 Kriteria Regional

Kriteria regional, yaitu kriteria yang digunakan untuk menentukan zona layak
atau tidak layak sebagai berikut ;
1. Kondisi geologi
a. Tidak berlokasi di zona holocene fault
b. Tidak boleh di zona bahaya geologi
2. Kondisi hidrogeologi
a. Tidak boleh mempunyai muka air tanah kurang dari 3 meter
b. Tidak boleh kelulusan tanah lebih besar dari 10-6 cm/det
c. Jarak terhadap sumber air minum harus lebih besar dari 100 meter di
hilir aliran
d. Dalam hal tidak ada zona yang memenuhi kriteria-kriteria tersebut di
atas, maka harus diadakan masukan teknologi.
3. Kemiringan zona harus kurang dari 20 %
4. Jarak dari lapangan terbang harus lebih besar dari 3.000 meter untuk
penerbangan turbo jet dan harus lebih besar dari 1.500 meter untuk jenis lain.
5. Tidak boleh pada daerah lindung/cagar alam dan daerah banjir dengan
periode ulang 25 tahun.

15
2.4.2 Kriteria Penyisih
Kriteria penyisih yaitu kriteria yang digunakan untuk memilih lokasi TPA terbaik
yaitu teridiri dari kriteria regional ditambah dengan kriteria berikut ;
1. Iklim
a. Hujan: intensitas hujan makin kecil dinilai makin baik
b. Angin: arah angin dominan tidak menuju kepermukiman dinilai makin baik.
2. utilitas: tersedia lebih lengkap dinilai lebih baik
3. Lingkungan biologis
a. Habitat: kurang bervariasi dinilai makin baik
b. Daya dukung: kurang menunjang kehidupan flora dan fauna, dinilai makin
baik.
4. ketersediaan tanah
a. Produktifitas tanah: tidak produktif dinilai lebih tinggi
b. Kapasitas dan umur: dapat menampung lahan lebih banyak dan lebih
lama dinilai lebih baik
c. Ketersediaan tanah penutup: mempunyai tanah penutup yang cukup,
dinilai lebih baik
d. Status tanah: makin bervariasi dinilai tidak baik.
5. Demografi: kepadatan penduduk lebih rendah dinilai makin baik
6. Batas administrasi: dalam batas administrasi dinilai semakin baik
7. Kebisingan: semakin banyak zona penyangga dinilai semakin baik
8. Bau: semakin banyak zona penyangga dinilai semakin baik
9. Estetika: semakin tidak terlihat dari luar dinilai semakin baik 10) ekonomi:
semakin kecil biaya satuan pengelolaan sampah (per m3/ton) dinilai semakin
baik.

2.4.3 Kriteria Penetapan

Kriteria penetapan yaitu keputusan penetapan lokasi TPA sampah kota.


Pemilihan lokasi perlu mempertimbangkan aspek-aspek penataan ruang sebagai
berikut:

1. Lokasi TPA sampah diharapkan berlawanan arah dengan arah


perkembangan daerah perkotaan (Urbanized Area).
2. Lokasi TPA sampah harus berada di luar dari daerah perkotaan yang
didorong pengembangannya (Urban Promotion Area)

16
3. Diupayakan transportasi menuju TPA sampah tidak melalui jalan utama
menuju perkotaan/daerah padat.
4. Selain hal-hal tersebut di atas, perencanaan TPA sampah perkotaan perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
5. Rencana pengembangan kota dan daerah, tata guna lahan serta rencana
pemanfaatan lahan bekas TPA.
6. Kemampuan ekonomi pemerintah daerah setempat dan masyarakat, untuk
menentukan teknologi sarana dan prasarana TPA yang layak secara
ekonomis, teknis dan lingkungan.
7. Kondisi fisik dan geologi seperti topografi, jenis tanah, kondisi badan air
sekitarnya, pengaruh pasang surut, angin iklim, curah hujan, untuk
menentukan metode pembuangan akhir sampah.
8. Rencana pengembangan jaringan jalan yang ada, untuk menentukan
rencana jalan masuk TPA.
9. Rencana TPA di daerah lereng agar memperhitungkan masalah
kemungkinan terjadinya longsor.
10. Tersedianya biaya operasi dan pemeliharaan TPA.
11. Sampah yang dibuang ke TPA harus telah melalui pengurangan volume
sampah sedekat mungkin dengan sumbernya (oftimalisasi fungsi TPS).
12. Sampah yang dibuang di lokasi TPA adalah hanya sampah perkotaan yang
bukan berasal dari industri, rumah sakit yang mengandung B3.
13. Kota-kota yang sulit mendapatkan lahan TPA di wilayahnya, perlu
melaksanakan model TPA Terpadu Regional (Regionalisasi Pengelolaan
Sampah) serta perlu adanya institusi pengelola kebersihan yang
bertanggungjawab dalam pengelolaan TPA tersebut secara memadai.
14. Aksesibilitas jalan menuju TPA sampah harus tersedia guna memudahkan
kendaraan pengangkut membuang limbah/sampah sampai ditempatnya,
kebutuhan lahan yang relatif cukup luas disesuaikan dengan konsep
pengelolaan TPA sampah misalnya Buffer zone untuk menghindari dampak
dari bau, kebisingan, lalat dan vektor penyakit dengan ditanami pohon
pelindung dengan ketebalan berkisar antara 20 m sampai dengan 50 m dari
batas luar daerah operasional TPA yang didukung dengan penanaman jenis
pohon yang cepat tumbuh dalam waktu 1 tahun mencapai 4 m, dan tidak
mudah patah akibat pengaruh angin misalnya sengon, mahoni, tanjung dan
lain-lain dengan kerapatan/jarak antar pohon 2 m.

17
Selain itu ditetapkan pula Free Zone yang merupakan zona bebas dimana
kemungkinan masih dipengaruhi leachate, sehingga harus merupakan Ruang
Terbuka Hijau dan apabila dimanfaatkan disarankan bukan merupakan tanaman
pangan, dengan ketebalan 50 sampai dengan 80 m dari batas luar buffer zone,
sehingga TPA sampah dapat difungsikan secara terpadu dengan
pengelolaannya, sistem pengolahan limbah organik dan non organik dilakukan
secara terpisah agar setiap dampak/implikasi limbah dapat disortir sesuai
dengan sifat dan jenisnya sehingga dapat diketahui limbah yang mengandung B3
(Bahan Beracun dan Berbahaya) disertai penanganannya, pengolahan limbah
juga harus memperhatikan dampak terhadap lingkungan seperti air buangan dari
limbah organik, materi limbah padat yang tidak dapat diolah atau didaur ulang
sehingga perlu penanganan pemusnahan, pemisahan limbah padatpun harus
sesuai dengan sifat dan jenis limbah tersebut.

18
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa:.


1. Secara ideal, pertimbangan utama dalam pemilihan lokasi sebuah landfill
adalah didasarkan atas berbagai aspek, terutama:
• Kesehatan masyarakat;
• Lingkungan hidup;
• Biaya;
2. Metode Le Grand ini terdiri dari 4 tahap, yaitu:
• Tahap 1: deskripsi hidrogeologis lokasi (Langkah ke 1 sampai ke 7).
• Tahap 2: derajat keseriusan masalah (Langkah ke 8).
• Tahap 3: gabungan tahap 1 dan tahap 2 (Langkah ke 9).
• Tahap 4: penilaian setelah perbaikan (Langkah ke 10).
3. Sosio-ekonomi Pembobotan dengan metoda Hagerty menggunakan sistem
pembobotan dengan empat level prioritas yang berbeda, serta parameter-
parameter yang dievaluasi cukup luas;
4. Menurut SNI 03-3241-1994, TPA sampah tidak boleh berlokasi di danau,
sungai dan laut, selain itu pemilihan lokasi landfilling disusun berdasarkan 3
tahapan yakni tahap regional, tahap penyisih, dan tahap penetapan.
3.2 Saran

Adapun saran yang dapat kami berikan adalah:


1. Melakukan penilaian dalam pemilihan calon lokasi landfilling yg baik sesuai
dengan peraturan yang berlaku;
2. mencari referensi lebih banyak lagi guna kelengkapan materi yang akan
dibahas;
3. tidak ragu untuk bertanya apabila ada hal yang tidak dimengerti.

19
DAFTAR PUSTAKA

Damanhuri, Enri. 2008. Diktat Landfilling Limbah. Bandung: ITB

SNI 03-3241-1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan


Akhir Sampah

20