Anda di halaman 1dari 27

SPESIASI

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Evolusi Molekuler
yang dibina oleh Prof. Dr. agr. Moh. Amin, S.Pd., M.Si.

Oleh:
Kelompok II/ Kelas B
Laras Dwi Wulansari 160341801528
Mustika Ayu Wulansari 160341801111
Sulfiani Ariyanti 160341801072

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
Februari 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah dipanjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat,


rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah yang berjudul
“Spesiasi”, dapat diselesaikan dengan baik.
Disadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini banyak mengalami
kendala, namun berkat bantuan, bimbingan, kerjasama dari berbagai pihak
dan berkah dari Allah SWT sehingga kendala-kendala yang dihadapi tersebut
dapat diatasi. Oleh karena itu pada kesempatan ini disampaikan terima kasih
kepada:
1. Prof. Dr. agr. Moh. Amin, S.Pd., M.Si., sebagai Dosen Pengampu mata
kuliah Evolusi Molekuler;
2. Teman-teman Kelas B Pendidikan Biologi Pascasarjana angkatan 2016
yang telah memberikan motivasi dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari jika dalam penulisan makalah ini masih mengalami
kekurangan maupun kesalahan. Kritik dan saran yang membangun tetap
penulis harapkan untuk perbaikan selanjutnya.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembacanya.

Malang, Februari 2017

Tim Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................ 1
.........................................................................................................
B. Rumusan Masalah....................................................................... 1
C. Tujuan.......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Konsep Spesies................................................. 2
B. Pengertian dan Konsep Spesiasi ................................................
C. Model-model Evolusi.................................................................
D. Pembentukan Spesiasi ...............................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................. 20
B. Saran ........................................................................................... 30
DAFTAR RUJUKAN.............................................................................. 21

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Evolusi mempunyai arti suatu proses perubahan atau perkembangan
secara secara bertahap atau perlahan-lahan. Dalam pengertian biologi, evolusi
berarti perubahan yang progresif artinya suatu perubahan yang berlangsung
sedikit demi sedikit dan memakan waktu yang lama dan perubahannya menuju
ke arah semakin kompleksnya struktur dan fungsi makhluk dan semakin banyak
ragam jenis yang ada. Selain itu, evolusi juga bisa mengarah perubahan yang
regresif, dimana makhluk hidup cenderung menuju ke arah kepunahan yang
terjadi bukan hanya karena semakin mundurnya struktur dan fungsi tetapi dapat
juga karena perkembangan struktur yang melebihi porsinya.
Kata Pada teori neodarwinisme dijelaskan bahwa seleksi alam bukanlah
sebab utama terjadinya evolusi organik, seleksi alam hanyalah sebagai faktor yang
mengukuhkan varian-varian yang sesuai yang diperoleh dari peristiwa
rekombinasi gen dan mutasi gen yang menyebabkan variasi makhluk hidup.
Mekanisme Isolasi menurut Futuyama. 1981 dalam bukunya Evolutionary
Biologi adalah karakteristik biologi yang menyebabkan spesies simpatrik tetap
bertahan (eksis), misalnya mempertahankan gene pool yang terbatas yang
meliputi pencegahan interbreeding (pembiakan dengan spesies yang berbeda)
melalui isolasi geografi, isolasi habitat, isolasi musim, isolasi reproduksi
dan mechanical isolation. Selain mencegahinterbreeding, juga mengurangi
keberhasilan persilangan melalui isolasi gamet.
Materi sebelumnya telah menjelaskan proses mikroevolusi yang terjadi
pada populasi, yiatu: seleksi alam, penyimpangan (drift), perubahan frekuensi gen
dan pemeliharaan variasi genetic, ekspresi sepesifik pada keturunan dari variasi
genetic, sejarah hidup, alokasi seksual, seleksi seksual, dan konflik genetic. Pada
chapter ini kita akan transisi ke makroevolusi, pola pada fosil dan filogenesis
pada tingkat spesies. Jembatan atau penghubung antara mikroevolusi dan
makroevolusi disebut dengan spesiasi, yang memungkinkan terbentuknya
keragaman dalam kehidupan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan lata yang telah disampaikan maka dapat dirumuskan
beberapa masalah sebagai berikut.
1.2.1 Bagaimana pengertian dan konsep Spesias?
1.2.2 Bagaimana pengertian dan konsep spesiasi?
1.2.3 Apa saja model spesiasi?
1.2.4 Bagaimana pembentukan spesiasi melalui isolasi geografis, isolasi
reproduksi dan poliploidi?

1.3 Tujuan Penelitian.


Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan maka makalah ini
memiliki beberapa tujuan sebagai berikut.
1.3.1 Menjelaskan pengertian dan konsep spesias.
1.3.2 Menjelaskan pengertian dan konsep spesiasi.
1.3.3 Menyebutkan model-model spesiasi.
1.3.4 Mengetahui pembentukan spesiasi melalui isolasi geografis, isolasi
reproduksi dan poliploidi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Konsep Spesies

Konsep spesies Biologis mendefinisikan suatu spesies sebagai suatu


populasi atau kelompok populasi yang anggota-anggotanya memiliki kemampua
untuk saling mengawini satu sama lain di alam dan menghasilkan keturunan yang
dapat hidup dan fertil jika kawin dengan spesies lain. Dengan kata lain suatu
spesies biologi adalah unit populasi terbesar dimana pertukaran genetik mungkin
terjadi dan terisolasi secara genetik dari populasi lain semacamnya. Anggota suatu
spesies biologis dipersatukan oleh ciri kesesuaian ciri reproduksi. Semua manusia
termasuk ke dalam spesies biologis yang sama. Sebaliknya manusia dan simpanse
tetap merupakan spesies biologis yang sangat jelas berbeda meskipun hidup di
wilayah yang sama karena kedua spesies itu tidak dapat saling mengawini.
Terdapat banyak kasus spesies biologis jelas dapat digunakan apabila isolasi
reproduktif terjadi secara sempurna. Akan tetapi, terdapat banyak contoh dimana
isolasi reproduktif tidak terjadi secara sempurna dan bahkan lebih banyak situasi
dimana kita masih belum tahu banyak untuk dapat mengatakan apa-apa. Pada
kenyataannya sebagian spesies yang dikenal oleh para ahli taksonomi telah
dinyatakan sebagai spesies yang terpisah berdasarkan penampilan fisik yang dapat
terukur dan bukan isolasi reproduktif. Pendekatan inilah yang disebut konsep
spesies morfologis yang sangat praktis digunakan dilapangan bahkan untuk fosil
sekalipun.
Konsep spesies pengenalan menekankan pada adaptasi perkawinan yang
telah tetap dalam suatu populasi. Menurut konsep ini suatu spesies didefinisikan
oleh suatu kumpulan sikap dan ciri unik yang memaksimalkan keberhasilan
perkawinan ciri molekuler morfologis perilaku yang memungkinkan individu
untuk mengenali pasangan kawinnya. Konsep ini cenderung berfokus pada sifat
dan ciri yang dipengaruhi oleh seleksi alam dan terbatas hanya pada spesies yang
bereproduksi secara seksual.
Konsep spesies kohesi berfokus pada mekanisme yang mempertahankan
spesiesnya sebagai bentuk fenotip tersendiri. Tergantung pada spesies, mekanisme
ini meliputi sawar reproduktif seleksi penstabilan dan tautan antara kumpulan gen
yang membuat zigot berkembang menjadi organisme dewasa dengan ciri khas
yang spesifik. Konsep ini dapat diterapkan pada organisme yang bereproduksi
secara aseksual. Konsep ini juga mengakui bahwa perkawinan silang diantara
beberapa spesies menghasilkan keturunan hibrida yang fertil dan terkadang
hibrida itu berhasil kawin dengan salah satu spesies induknya. Konsep ini
menekankan pada adaptasi yang mempertahankan spesies tetua tetap utuh
meskipun ada sedikit aliran gen diantara mereka. Konsep ini dapat digunakan
pada setiap kasus yang melibatkan hibridisasi.
Setiap populasi terdiri atas kumpulan individu sejenis (satu spesies) dan
menempati suatu lokasi yang sama. Karena suatu sebab, populasi dapat terpisah
dan masing-masing mengembangkan adaptasinya sesuai dengan lingkungan baru.
Dalam jangka waktu yang lama, populasi yang saling terpisah itu masing-masing
berkembang menjadi spesies baru sehingga tidak dapat lagi mengadakan
perkawinan yang menghasilkan keturunan fertil. Terbentuknya spesies baru
(spesiasi) dapat diakibatkan oleh adanya isolasi geografi, isolasi reproduksi, dan
perubahan genetika. Spesiasi dapat berlangsung cepat, dapat pula berlangsung
lama hingga puluhan juta tahun. Spesiasi adalah pembentukan spesies baru dan
berbeda dari spesies sebelumnya dalam kerangka evolusi.

2.2 Pengertian dan Konsep Spesiasi


Spesiasi dapat diartikan sebagai berubahnya atau berkembangnya satu
spesies menjadi dua atau berpisahnya populasi dari spesies yang sama dan secara
reproduktif menjadi terisolasi. Untuk dapat terjadi isolasi reproduktif, beberapa
perubahan harus terjadi dalam satu atau dua garus keturunan dalam ekologi,
tingkah laku, fisiologi, biokimia atau sitem gentik yang menyebabkan mereka
tidak lagi cocok secara reproduktif. Bagaimana suatu silsilah/garis keluarga
menjadi tidak cocok merupakan cara terbentuknya spesies.
Spesiasi dapat melibatkan perkembangan gradual dari isolasi reproduktif
atau dalam kasus beberapa tipe perubahan kromosom. Spesiasi gradual dapat
didefinisikan melalui geografi dari populasi. Divergensu dari garis keturunan
dapat berlangsung secara gradual dan separasi genetic mungkin tidak berlangsung
secara lengkap dan dapat menghasilkan zona hybrid. Jika zonanya lebar dan stabil
maka dapat disebut sebagai spesies yang berbeda. Anggota dari satu spesies sering
bervariasi secara geografis. Bentuk intermediet sering ada dan menunjukkan bukti
adanya pertukaran genetik. Spesiasi Spesiasi merupakan diversitas dari generasi
level spesies. Kadang-kadang variasi genetik dari satu spesies disebut sebagai
subspecies. Secara teori, seleksi alam dapat dihasilkan dalam evolusi penghalang
untuk reproduksi ketika populasi bersifat alopatrik. Ketika silisilah pohon
keluarga menjadi dua garis turunan baru maka masing-masing akan memiliki
masa depan evolusioner yang berbeda. Perbedaan diantara spesies dapat
berlangsung secara halus (pelan-pelan atau dramatis).
Proses dari spesiasi adalah isolasi yang melibatkan penghalang fisik
(alopatrik) yang meliputi dispersal dan “vicariance”, divergensi yang meliputi
hanyutan dan seleksi alam atau seksual serta kadangkala melibatkan hibridisasi.
Spesiasi dapat diartikan menjadi dua/secara garis besar dapat dibedakan menjadi
spesiasi anagenesis dan cladogenesis. Anagenesis meliputi evolusi yang terjadi
pada garis keturunan dalam garis keluarga spesies sedangkan cladogenesis
merupakan evolusi yang membentuk individu baru atau yang lebih sering dikenal
sebagai spesiasi.
Elemen Dasar dari Spesiasi

Gambar 1. Elemen Dasar dari Spesiasi


Berdasarkan gambar terlihat bahwa elemen dasar dari spesiasi adalah
adanya penghalang terhadap gene flow sehingga akan terjadi defirensiasi genetik
yang menyebabkan isolasi reproduksi. Jika sudah terjadi isolasi reproduksi maka
akan menjadi spesies yang baru. Secara lengkap dikatakan bahwa proses dimulai
ketika terjadinya gangguan pada gene flow kemudian agen evolusi mulai bekerja
berupa adanya seleksi pada gene pool, mutasi, migrasi dan perpindahan serta
adanya perkawinan tidak acak. Tahapan selanjutnya adalah ada isolasi reproduktif
yang terjadi, tahapan akhir adalah kembali dalam keadaan normal maka akan
terjadi seleksi alam dari hasil isolasi reproduktif.
Syarat Terjadinya Spesiasi
Untuk terjadinya spesiasi maka ada beberapa syarat agar terjadinya
suatu spesiasi yakni:
1. Adanya perubahan lingkungan
Perubahan lingkungan dapat menyebabkan perubahan evolusi. Contohnya,
bencana alam dapat menyebabkan timbulnya kepunahan massal di muka bumi.
Bencana alam seperti glasiasi, vulkanisme, atau akibat pergesaran benua, dan
proses-proses lainnya menyebabkan perubahan global yang menyebabkan
timbulnya kepunahan missal di muka bumi. Kepunahan massal akan
menimbulkan relung-relung kosong yang dalam waktu lama relung-relung
tersebut baru terisi. Apabila tidak ada relung yang kosong, tidak ada tempat bagi
suatu spesies untuk mengalami proses spesiasi.
2. Adanya relung (niche) yang kosong
Relung merupakan tempat hidup dan interaksi suatu organisme. Suatu
spesies selalu menempati relung tertentu. Suatu relung umumnya hanya dapat
ditempati oleh satu jenis spesies saja. Kepunahan massal akan menimbulkan
relung-relung kosong yang akan menyebabkan relung-relung baru terisi kembali
dalam jangka waktu yang panjang. Apabila relung tersebut kosong (tidak ada
organisme yang menempatinya), maka akan ada banyak organisme yang berusaha
menempati relung tersebut.
3. Adanya keanekaragaman suatu kelompok organisme
Selalu akan ada sejumlah organisme yang mencoba mengisi relung
yang kosong. Keberhasilan suatu organisme mengisi relung ditentukan oleh
seberapa besar kecocokan organisme tersebut dibandingkan dengan
persyaratan relung yang kosong.

2.3 Model Spesiasi


Spesiasi dapat melibatkan pengembangan secara bertahap isolasi
reproduksi, atau dalam kasus beberapa jenis perubahan kromosom yang terjdi
hampir secara bersamaan. Spesiasi bertahap dapat didefinisikan melalui
perubahan kondisi geografi tempat tinggal suatu populasi. Spesiasi dapat terjadi
dalam tiga jenis pengaturan geografis yang memadukan satu sama lain. Spesiasi
allopatric dalam evolusi terjadi karena hambatan reproduksi pada populasi yang
dicegah dengan penghalang geografis dari bertukar gen pada lebih dari satu
tingkat. Spesiasi allopatric dibedakan menjadi spesiasi allopatric oleh vikariansi
dan spesiasi peripatrik (perbedaan dua populasi kecil dari leluhur didistribusikan
secara luas) (Futuyma, 2005).
1. Spesiasi Alopatrik
Spesiasi allopatric adalah evolusi dari hambatan reproduksi antara
populasi yang secara geografis terpisah. Ketika populasi allopatric
memperluas rentang mereka dan datang ke dalam daerah lain terdapat
beberapa kemungkinn yaitu mereka:
a) kawin silang dan terjadi campuran untuk menjadi spesies kontinu tunggal
b) kawin di wilayah kontak dan membentuk zona hybrid stabil tidak kawin karena
beberapa hambatan untuk reproduksi yang berkembang saat mereka allopatric
(Futuyma, 2005).
Spesiasi alopatrik merupakan mekanisme isolasi yang terjadi secara gradual,
seperti yang terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Skema Spesiasi Alopatrik


(Sumber: Boddum, 2008)

Contoh bukti perbedaan alopatrik misalnya hewan air tawar


menunjukkan keanekaragaman yang besar di daerah pegunungan yang
banyak terisolasi dengan sistem sungai. Pada suatu pulau suatu spesies adalah
homogen di atas rentang kontinen yang berbeda dalam hal penampilan,
ekologi dan perilaku. Contoh spesiasi alopatrik lainnya adalah pembentukan
spesies burung finch di Kepulauan Galapagos yang dikemukakan oleh
Darwin. Menurut Darwin dalam Stearns and Hoekstra (2003) bahwa burung
finch berasal dari satu nenek moyang burung yang sama sebagaimana terlihat
pada Gambar 3 di bawah ini.
Gambar 3 Spesiasi Pada Burung Finch
(Sumber Boddum, 2008 )

Spesiasi alopatrik juga dialami oleh tupai antelope di Grand Canyon


pada tebing selatan hidup tupai antelope harris (Ammospermophillus harris).
Beberapa mil dari daerah itu pada sisi tebing utara hidup tupai antelope
berekor putih harris (Ammospermophillus leucurus), yang berukuran sedikit
lebih kecil dan memiliki ekor yang lebih pendek dengan warna putih di
bawah ekornya.Ternyata di situ semua burung-burung dan organisme lain
dapat dengan mudah menyebar melewati ngarai ini, tetapi tidak dapat dilewati
oleh kedua jenis tupai ini.
Gambar 4 Tupai di Grand Canyon
(Sumber: Boddum, 2008)

2. Spesiasi Peripatrik
Peripatrik spesiasi merupakan pengembangan isolasi reproduksi pada
populasi marginal kecil spesies. Ada banyak contoh dari spesies baru yang
muncul dari populasi tunggal dari spesies yang tersebar luas. Ini mungkin
tidak berbeda dari spesiasi allopatric sederhana atau mungkin melibatkan
beberapa komponen pergeseran genetik. Mayr hipotesis menyatakan bahwa
populasi pendiri, karena mereka kecil, mungkin telah mengurangi variasi
genetik dan kebugaran rendah karena penyimpangan genetik. Genetik drift
dapat meningkatkan frekuensi alel yang langka pada populasi leluhur. Dalam
situasi seperti ini, seleksi untuk kombinasi baru dari alel yang kompatibel
dengan alel baru tetap dapat terjadi dan memungkinkan peningkatan
kebugaran dalam kondisi baru. Hasil yang mungkin adalah reorganisasi
genom yang membuatnya kompatibel dengan populasi leluhur. Mayr
membayangkan sebuah topografi kebugaran di mana populasi pendiri pergi
melalui lembah kebugaran rendah karena hanyut dan seleksi dan reorganisasi,
populasi berevolusi ke puncak kebugaran baru yang tidak sesuai dengan
populasi leluhur (Futuyma, 2005). Model spesiasi peripratric dapat dilihat
pada gambar 5
Gambar 5 Model Spesiasi Peripatric
(Sumber: Futuyma, 2005)

3. Parapatric Speciation
Parapatrik spesiasi merupakan terjadinya asal usul spesies baru selama
beberapa rentang kisaran spesies leluhur. Populasi hanya dapat menyimpang
jika ada pilihan yang relatif kuat di berbagai geografis spesies. Sebuah zona
hybrid yang stabil dapat mengakibatkan hibridisasi jika ada pilihan moderat.
Perbedaan secara lengkap dapat terjadi jika ada pilihan yang kuat selama
terjadi hibridisasi seperti dalam penguatan isolasi reproduksi pada populasi
sebelumnya allopatric. Pola yang dihasilkan oleh spesiasi parapatrik dan
pembentukan kembali kontak dari populasi sebelumnya allopatric sulit untuk
membedakan Futuyma, 2005). Model spesiasi paraapatric dapat dilihat pada
gambar 6

Gambar 6 Model Spesiasi parapatrik


(Sumber: Futuyma, 2005)

Contoh kasus spesiasi parapatrik dalam populasi tanaman pada tanah


yang terkontaminasi. Adaptasi hasil tanah yang terkontaminasi di hibrida
yang layak baik lingkungan. Seleksi terhadap hibrida telah mengakibatkan
perbedaan wktu berbunga pada populasi yang berdekatan dan seleksi untuk
penyerbukan sendiri dalam populasi pada tanah yang terkontaminasi. Contoh
kasus spesiasi parapatrik dapat dilihat pada gambar 7
Gambar 7 evolusi parapatrik isolasi reproduksi melalui jarak yang
sangat pendek dalam spesies rumput Anthoxanthum odoratum
(Sumber :Futuyma, 2005)

4. Sympatric speciation
Menurut Campbell, dkk (2003) dalam spesiasi simpatrik, spesies baru muncul di
dalam lingkungan hidup populasi tetua; isolasi genetik berkembang dengan
berbagai cara, tanpa adanya isolasi geografis. Model spesiasi simpatrik meliputi
spesiasi gradual dan spontan. Sebagian besar model spesiasi simpatrik masih
dalam kontroversi, kecuali pada model spesiasi spontan dan spesiasi poliploidi
yang terjadi pada tumbuhan. Model spesiasi simpatrik ditunjukkan pada Gambar 8
berikut.

Gambar 8. Skema Spesiasi Simpatrik


A B
Spesiasi simpatrik dengan autopoliploidi yang terjadi pada tumbuhan
bunga primrose (Oenothera lamarckiana) yang merupakan suatu spesies diploid
dengan 14 kromosom. Di mana suatu saat muncul varian baru yang tidak
biasanya diantara tumbuhan itu dan bersifat tetraploid dengan 28 kromosom.
Selanjutnya bahwa tumbuhan itu tidak mampu kawin dengan bunga mawar
diploid, spesies baru itu kemudian dinamai Oenothera gigas. Mekanisme lain
spesiasi adalah alopoliploid yaitu kontribusi dua spesies yang berbeda terhadap
suatu hibrid poliploid. Misalnya rumput Spartina anglica yang berasal dari
hibridisasi Spartina maritima dengan Spartina alternaflora. Spesiasi simpatrik
pada hewan contohnya serangga Rhagoletis sp.
Model-model spesiasi simpatrik didasarkan pada seleksi terpecah
(distruptive selection), seperti ketika dua homozigot pada satu atau lebih lokus
teradaptasi dengan sumber yang berbeda dan hal itu merupakan suatu multiple-
niche polymorphism. Contohnya pada serangga herbivora bergenotip AA dan
A’A’ teradaptasi dengan spesies tumbuhan 1 dan 2, dimana genotip AA’ tidak
teradaptasi dengan baik. Masing-masing homozigot ingin mempunyai fittes lebih
tinggi jika dilakukan mating secara assortative dengan genotip yang mirip dan
tidak menghasilkan keturunan heterozigot yang tidak fit. Assortative mating
mungkin dipertimbangkan adanya lokus B yang dapat mempengaruhi perilaku
kawin maupun mendorong serangga untuk memilih inang spesifik, yang pada
tempat tersebut dapat ditemukan pasangan dan kemudian dapat bertelur. Jika BB
dan Bb kawin hanya pada inang 2, perbedaan dalam pemilihan inang dapat
mendasari terjadinya pengasingan/ isolasi reproduktif. Banyak dari serangga
herbivora yang merupakan spesies yang berkerabat dekat dibatasi oleh perbedaan
inang, terutama untuk pemenuhan kebutuhan makan, mating/kawin.

2.4 Proses pembentukan Spesiasi

Isolasi Reproduksi

Isolasi reproduktif merupakan salah satu penghambat untuk terjadinya


perkawinan silang. Jika undividu-individu dalam satu populasi berkumpul dalam
satu tempat, maka mungkin terjadi kompetisi untuk mendapatkan makanan,
tempat maupun pasangan. Kompetisi ini memungkinkan individu yang kalah akan
beradaptasi dengan mengembangkan hanya sebagai faktor geografis (isolasi
dengan pemisahan fisik) yang sebenarnya populasi itu masih memilki potensi
untuk melakukan interbreeding dan mereka sebenarnya masih dapat dikatakan
dalam satu spesies. Selanjutnya kedua populasi tersebut begitu berbeda secara
genetis sehingga “gene flow” yang efektif tidak akan berlangsung lagi seandainya
bercampur lagi. Jika titik pemisahan itu telah tercapai, maka kedua populasi itu
telah menjadi dua spesies yang terpisah.
Pengaruh isolasi geografis dalam spesiasi dapat terjadi karena adanya
pencegahan gene flow antara dua sistem populasi yang berdekatan akibat faktor
ekstrinsik (geografis). Setelah kedua populasi berbeda terjadi pengumpulan
perbedaan dalam rentang waktu yang cukup lama sehingga dapat menjadi
mekanisme isolasi instrinsik. Isolasi instrinsik dapat mencegah bercampurnya dua
populasi atau mencegah interbreeding jika kedua populasi tersebut berkumpul
kembali setelah batas pemisahan tidak ada. Mekanisme isolasi intrinsik yang
mungkin dapat timbul yaitu isolasi sebelum perkawinan dan isolasi sesudah
perkawinan.
Jika individu-individu dalam satu populasi berkumpul dalam satu tempat,
maka mungkin terjadi kompetisi untuk mendapatkan makanan, tempat maupun
pasangan. Kompetisi ini memungkinkan individu yang kalah akan beradaptasi
dengan mengembangkan hanya sebagai faktor geografis (isolasi dengan
pemisahan fisik) yang sebenarnya populasi itu masih memilki potensi untuk
melakukan interbreeding dan mereka sebenarnya masih dapat dikatakan
dalamsatu spesies. Selanjutnya kedua populasi tersebut begitu berbeda secara
genetis sehingga “gene flow” yang efektif tidak akan berlangsung lagi seandainya
bercampur lagi. Jika titik pemisahan itu telah tercapai, maka kedua populasi itu
telah menjadi dua spesies yang terpisah.
Berdasarkan model spesiasi alopatrik, perbedaan yang diperoleh selama
allopatri akan mengakibatkan isolasi reproduksi intrinsik sebagai proses yang
hanya akan terlihat jelas pada simpatri kedua. Isolasi reproduksi ini mungkin
terjadi pada prezygotic (tahapan sebelum zigot) atau postzygotic (tahapan setelah
zigot). Isolasi reproduksi prezygotic terjadi ketika individu dari populasi yang
berbeda tidak melakukan perkawinan karena perbedaan sikap atau karena
organisme tersebut memiliki waktu atau masa kawin yang berbeda. Sedangkan
isolasi reproduksi postzygotic terjadi ketika populasi yang berbeda melakukan
intrerbreeding tetapi tidak sukses (perkawinan tersebut menghasilkan keturunan
yang steril atau cacat). Spesiasi alopatrik mengarahkan pada isolasi reproduksi
prezygotic atau postzygotic yang tanpa masalah.
Sawar Prazigotik
Sawar prazigotik menghalangi terjadinya fertilisasi atau memblokir
pembuahan telur jika spesies yang berbeda berusaha untuk saling kawin dengan
cara:
1. Isolasi habitat: Dua spesies yang hidup di habitat yang berbeda namun
masih dalam satu wilayah.
2. Isolasi perilaku: Adanya signal khusus atau ritual yang kompleks yang
menarik pasangannya untuk kawin. Sehingga spesies dengan kekerabatan
yang cukup dekat tidak memiliki peluang untuk saling kawin.
3. Isolasi temporal: Dua spesies yang kawin pada waktu yang berbeda (hari,
musim, tahun).
4. Isolasi mekanis: Adanya perbedaan anatomi.
5. Isolasi gametik: Gamet tidak dapat menyatu karena adanya pengenalan
gamet yang didasarkan oleh adanya molekul spesifik pada lapisan sel telur.
Atau sel sperma tidak dapat bertahan di dalam saluran reproduksi betina.
Sawar Pascazigotik
Jika sel sperma dari satu spesies berhasil menembus sawar prazigotik
dan membuahi ovum dari spesies lain, sawar postzigotik akan berperan
dengan cara:
1. Penurunan ketahanan hidup hibrida: Zigot hibrida akan terbentuk tetapi
ketidaksesuaian genetik diantara kedua induk dapat menggugurkan
perkembangan hibrida pada tahapan perkembangan embrio. Sehingga hibrida
akan lemah.
2. Penurunan fertilitas hibrida: Disebabkan oleh kegagalan meiosis. Keturunan
hibrida dapat bertahan hidup tetapi sebagian besar steril. Sehingga gen tidak
dapat mengalir ke generasi berikutnya.
3. Perusakan hibrida: Pada beberapa kasus, keturunan generasi pertama dapat
hidup dan fertil, tetapi ketika hibrida tersebut kawin satu sama lain atau dengan
spesies induknya, keturunannya akan menjadi lemah dan steril.
Isolasi Geografis
Isolasi geografis merupakan bentuk pembatasan alam yang berupa
pemisahan populasi oleh kondisi alam. Hal ini dapat terjadi jika populasi
makhluk hidup yang sama berimigrasi dari lingkungan lama menuju
lingkungan baru yang terpisah dengan lingkungan awal menetap membentuk
populasi tersendiri. Jika sistem populasi yang mula-mula kontinu dipisahkan
oleh kondisi geografis sehingga terbentuk hambatan bagi penyebaran
spesiesnya, maka sistem populasi yang demikian tidak akan lagi bertukar
susunan gen, dan evolusi berlangsung secara sendiri-sendiri. Seiring dengan
berjalanya waktu, kedua populasi tadi akan semakin berbeda sebab masing-
masing menjalani evolusi dengan caranya sendiri.
Mayoritas para ahli biologi berpandangan bahwa faktor awal dalam
proses spesiasi adalah pemisahan geografis, karena selama populasi dari
spesies yang sama masih dalam hubungan langsung maupun tidak langsung
gene flow masih dapat terjadi, meskipun berbagai populasi di dalam sistem
dapat menyimpang di dalam beberapa sifat sehingga menyebabkan variasi
intraspesies. Hal serupa juga dikemukakan oleh Campbell dkk (2003) bahwa
proses-proses geologis dapat memisahkan suatu populasi menjadi dua atau
lebih terisolasi.
Bagi suatu daerah terisolasi, misalnya suatu pulau, imigrasi suatu
spesies ditentukan oleh alel-alel yang ikut dibawa ke daerah tersebut. Karena
jumlah individu yang berhasil mencapai dan mengkolonisasi pulau itu dari
tidak ada menjadi suatu populasi yang stabil, maka biasanya suatu alel yang
tidak berarti frekuensinya dalam populasi asal, akan menjadi penting sekali
bagi populasi kecil yang baru dibentuk. Hal ini sering disebut sebagai genetic
drift atau founder effect (efek pembentuk populasi) atau sering disamakan
juga dengan efek leher botol (bottle neck effect). Di Indonesia yang terdiri
dari banyak pulau, mekanisme seperti ini sering sekali ditemukan.
Suatu daerah pegunungan bisa muncul dan secara perlahan-lahan
memisahkan populasi organisme yang hanya dapat menempati dataran
rendah; suatu glasier yang yang bergeser secara perlahan-lahan bisa membagi
suatu populasi; atau suatu danau besar bisa surut sampai terbentuk beberapa
danau yang lebih kecil dengan populasi yang sekarang menjadi terisolasi. Jika
populasi yang semula kontinyu dipisahkan oleh geografis sehingga terbentuk
hambatan bagi penyebaran spesies, maka populasi yang demikian tidak akan
lagi bertukar susunan gennya dan evolusinya berlangsung secara sendiri-
sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, kedua populasi tersebut akan
makin berbeda sebab masing-masing menjalani evolusi dengan caranya
masing-masing (Widodo, 2003).
Pada awalnya isolasi reproduksi muncul sebagai akibat adanya faktor
geografis, yang sebenarnya populasi tersebut masih memiliki potensi untuk
melakukan interbreeding dan masih dapat dikatakan sebagai satu spesies.
Kemudian kedua populasi tersebut menjadi begitu berbeda secara genetis,
sehingga gene flow yang efektif tidak akan berlangsung lagi jika keduanya
bercampur kembali. Jika titik pemisahan tersebut dapat tercapai, maka kedua
populasi telah menjadi dua spesies yang terpisah (Widodo dkk, 2003). Isolasi
geografi dari sistem populasi diprediksi akan mengalami penyimpangan
karena kedua sistem populasi yang terpisah itu mempunyai frekuensi gen
awal yang berbeda, terjadi mutasi, pengaruh tekanan seleksi dari lingkungan
yang berbeda, serta adanya pergeseran susunan genetis (genetic drift), ini
memunculkan peluang untuk terbentuknya populasi kecil dengan membentuk
koloni baru. Gambar 1. Contoh isolasi geografis pada salamander di arizona
(gene drift memiliki peran yang mengakibatkan mutasi sehingga terjadi
perubahan ekspresi yang dimunculkan oleh variasi gen).

Gambar 1. Contoh isolasi geografis pada salamander di Arizona (gene drift memiliki
peran yang mengakibatkan mutasi sehingga terjadi perubahan ekspresi
yang dimunculkan oleh variasi gen).

Salamander tanpa paru-paru (Ensatina eschscholtzii) tinggal di daerah


berbentuk tapal kuda di California (sebuah ‘cincin’) yang mengitari pusat
lembah . Spesies ini merupakan contoh aksi evolusi, selagi populasi tetangganya
mungkin dapat berkembang biak, dua populasi di ujung lengan tapal kuda secara
efektif tidak dapat bereproduksi (HS, 2011).
Penelitian baru yang dipubilkasikan dalam akses terbuka BioMed Central
jurnal BMC Evolutionary Biology menunjukkan bahwa isolasi reproduktif ini
didorong oleh perbedaan genetik, bukan adaptasi pada habitat ekologi yang
berbeda.Para peneliti menggunakan variasi genetik untuk menentukan 20 populasi
salamander yang berbeda dan terfokus pada rincian di 13 zona di mana populasi
yang mampu berkembang biak silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
diversifikasi populasi salamander berkaitan dengan perbedaan genetik yang
signifikan, baik inti maupun mitokondria, dan juga dengan perbedaan ekologi
yang kuat, pada tanaman dan iklim dalam habitat mereka (HS, 2011).
Namun kemampuan untuk berkembang biak silang tersebut hanya terkait
dengan perbedaan inti. Pada zona kontak di sekitar cincin, 75% salamander adalah
hibrida, termasuk generasi kedua dan yang bersilang ke populasi induk, namun
pada ujung-ujung cincin hanya 5,7% yang hibrida dan semuanya adalah generasi
pertama hibrida F1 yang jarang direproduksi.Dr. Pereira mengatakan, “Bukti
dari E. eschscholtzii ini menunjukkan bahwa lingkungan ekologi, yang dapat
mendorong pembentukan spesies, tidak selalu mendorong isolasi reproduktif.
Sebaliknya, isolasi reproduksi spesies salamander ‘cincin’ ini tampaknya karena
proses semacam jangka waktu dalam isolasi geografis yang terkait dengan
divergensi genetik secara keseluruhan (HS, 2011).
Suatu penghalang (barier) adalah keadaaan fisis ekologis yang
mencegah terjadinya perpindahan-perpindahan spesies tertentu melewati
batas ini dan suatu barier suatu spesies belum tentu merupakan barier bagi
spesies lain. Perubahan waktu yang terjadi pada isolasi geografis
menyebabkan terjadinya isolasi reproduktif sehingga menghasilkan dua
spesies yang berbeda.
Terdapat tiga alasan mengapa sistem populasi yang terpisah geografis
akan mengalami penyimpangan sejalan dengan waktu:
a. Pertama, terdapat kemungkinan yang sangat besar bahwa kedua sistem
populasi yang terpisah itu mempunyai frekuensi gen permulaan yang berbeda,
sebab pembagian suatu sistem populasi menjadi dua bagian yang terpisah
belum tentu membagi kedalam dua populasi yang sama secara genetis. Jadi,
kalau dua populasi mencapai potensi genetis yang berbeda sejak saat
pemisahannya, evolusi mendatang sudah tentu akan mengalami jalan yang
berbeda saat pemisahannya, evolusi mendatang sudah tentu akan melalui
jalan yang berbeda.
b. Kedua, populasi yang terpisah itu akan mengalami kejadian-kejadian mutasi
yang berbeda. Mutasi terjadi secara sebaran (random), dan terdapat dua
kemungkinan besar bahwa beberapa mutasi yang terjadi di dalam satu bagian
dari populasi yang terpisah, sedangkan pada bagian lain mutasi tidak terjadi
atau sebaliknya.
c. Ketiga, penyimpangan pada populasi yang terpisah itu, terjadi juga karena
adanya tekanan seleksi dari sekeliling yang berbeda-beda sebab mereka
menempati keadaan yang berbeda-beda. Kemungkinan bahwa kedua tempat
mempunyai keadaan keliling yang sama adalah kecil.
Poliploidi
Beberapa organisme memiliki lebih dari dua set kromosom yang lengkap.
Istilah umum untuk perubahan kromosom ini adalah poliploid, dengan istilah
spesifik triploid (3n) dan tetraploid (4n) yang masing-masing menunjukkan
tiga atau empat set kromosom. Satu cara suatu sel triploid dapat dihasilkan
adalah dengan fertilisasi dari telur diploid abnormal yang dihasilkan oleh
nondisjungsi dari semua kromosomnya. Satu contoh kecelakaan yang akan
menghasilkan tetraploid adalah kegagalan zigot 2n membelah diri setelah
mereplikasi kromosom-kromosomnya. Mitosis berikutnya akan menghasilkan
sebuah embrio 4n (Campbell, dkk. 2002).
Poliploid relatif umum terjadi pada kingdom tumbuhan. Pada hewan,
terjadinya poliploid secara alamiah nampaknya sangat jarang, meskipun
poliploid dapat dihasilkan secara eksperimental pada hewa-hewan tertentu
termasuk katak. Secara umum, poliploid hampir memiliki tampilan yang lebih
normal daripada aneuploid. Satu kromosom ekstra (atau hilang) tampaknya
memiliki kemampuan mengganggu keseimbangan genetik yang lebih besar
daripada yang mampu dilakukan oleh seluruh set ekstra kromosom
(Campbell, dkk. 2002).
Satu spesies dapat terbentuk karena kejadian selama pembelahan sel
sehingga menghasilkan extra set kromosom (disebut poliploidi). Terdapat dua
bentuk poliploidi yang berbeda. Autopoliploid adalah individu memiliki lebih
dari dua set kromosom yang semuanya berasal dari satu spesies. Sebagai
contoh kegagalan dalam pembelahan sel dapat menggandakan jumlah
kromosom dalam sel dari diploid (2n) menjadi tetraploid (4n). Mutasi ini
menyebabkan tetraploid mengalami isolasi reproduktif dari tumbuhan diploid
(populasi aslinya) karena anakan triploidnya memiliki fertilitas rendah.
Namun demikian, tumbuhan tetraploid dapat menghasilkan keturunan
tetraploid yang fertil dengan cara melakukan penyerbukan sendiri atau
melakukan perkawinan dengan sesama tetraploid. Jadi hanya dengan satu
generasi, autopoliploidi mampu menghasilkan isolasi reproduktif tanpa
terjadinya pemisahan geografi.
Bentuk poliploidi yang kedua dapat terjadi jika dua spesies berbeda
melakukan perkawinan dan menghasilkan keturunan hibrid. Sebagian besar
hibrid bersifat steril karena satu set kromosom dalam satu spesies tidak
mendapat pasangan selama meiosis dengan kromosom spesies lain. Namun
demikian, hybrid infertil dapat memperbanyak diri secara aseksual. Pada
generasi selanjutnya, mekanisme yang bervariasi mampu mengubah hybrid
steril menjadi poliploidi fertil (disebut allopoliploid). Alopoliploid bersifat
fertil jika melakukan perkawinan dengan sesamanya tetapi tidak dapat
melakukan perkawinan dengan spesies induknya.
Populasi dapat dipisahkan secara genetik karena terisolasi baik secara
geografis maupun secara reproduktif. Dengan adanya isolasi secara geografis,
perkawinan antar populasi tidak akan terjadi, karena pemisahan secara fisik,
tetapi perkawinan mungkin terjadi dan akan menghasilkan individu fertil jika
populasi melakukan campuran. Pada perkawinan antar populasi yang kedua,
individu yang dihasilkan bisa menjadi steril karena populasi yang telah
terisolasi sebelumnya telah mengalami penyimpangan secara genetik, atau
akan dihindari karena perbedaan perilaku. Kemudian, isolasi reproduksi akan
nyata dan gene pool akan benar-benar terpisah. Isolasi reproduksi juga dapat
berasal dalam populasi yang memiliki perilaku kawin yang berbeda antara
sub-populasi di daerah yang sama yang mengarahkan pada isolasi.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.1.1 Konsep spesies Biologis mendefinisikan suatu spesies sebagai suatu
populasi atau kelompok populasi yang anggota-anggotanya memiliki
kemampua untuk saling mengawini satu sama lain di alam dan
menghasilkan keturunan yang dapat hidup dan fertil jika kawin dengan
spesies lain
3.1.2 Spesiasi dapat diartikan sebagai berubahnya atau berkembangnya satu
spesies menjadi dua atau berpisahnya populasi dari spesies yang sama dan
secara reproduktif menjadi terisolasi
3.1.3 Spesiasi bertahap dapat didefinisikan melalui perubahan kondisi geografi
tempat tinggal suatu populasi. Spesiasi dapat terjadi dalam tiga jenis
pengaturan geografis yang memadukan satu sama lain.
3.1.4 Mekanisme Spesias melalui tiga cara, yaitu isolasi reproduktif merupakan
salah satu penghambat untuk terjadinya perkawinan silang. Isolasi
reproduksi ini mungkin terjadi pada prezygotic (tahapan sebelum zigot)
atau postzygotic (tahapan setelah zigot). Isolasi geografis merupakan
bentuk pembatasan alam yang berupa pemisahan populasi oleh kondisi
alam. Hal ini dapat terjadi jika populasi makhluk hidup yang sama
berimigrasi dari lingkungan lama menuju lingkungan baru yang terpisah
dengan lingkungan awal menetap membentuk populasi tersendiri. Istilah
umum untuk perubahan kromosom ini adalah poliploid, dengan istilah
spesifik triploid (3n) dan tetraploid (4n) yang masing-masing
menunjukkan tiga atau empat set kromosom. Poliploid relatif umum
terjadi pada kingdom tumbuhan. Pada hewan, terjadinya poliploid secara
alamiah nampaknya sangat jarang, meskipun poliploid dapat dihasilkan
secara eksperimental pada hewa-hewan tertentu termasuk katak.

DAFTAR RUJUKAN
Boddum, T. 2008. Evolution and Speciation. Anlarp: Swedish University of
Agriculture Sciences inc.

Campbell, Reece dan Mitchell. 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Campbell, Recee, & Mitchell. 2000. Biologi-Edisi Kelima Jilid 2. Erlangga:


Jakarta.

Futuyma, D.J. 2005. Evolution. USA: Sinauer Associates inc.

HS, Gun. 2011. Aksi Evolusi Salamander: Perbedaan Genetik Sebagai Pendorong
Isolasi Reproduktif. (online).
http://www.faktailmiah.com/2011/07/06 /aksi-evolusi-salamander-
perbedaan-genetik-sebagai-pendorong-isolasi-reproduktif.html.
Diakses tanggal 27 Februari 2017.

Widodo, H. 2003. Bahan Ajar Evolusi Program SEMI-QUE IV Jurusan Biologi


Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang. Malang: Universitas Negeri
Malang.