Anda di halaman 1dari 49

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya
lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi,
yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer
tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah. (Zein, 2004)
Penyakit diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat
yang penting karena merupakan penyumbang utama ketiga angka kesakitan
dan kematian anak di berbagai negara termasuk Indonesia. Diperkirakan lebih
dari 1,3 miliar serangan dan 3,2 juta kematian per tahun pada balita
disebabkan oleh diare. Setiap anak mengalami episode serangan diare rata –
rata 3,3 kali setiap tahun. Lebih kurang 80% kematian terjadi pada anak
berusia kurang dari 2 tahun. (Widoyono. 2008)
Penyebab utama kematian akibat diare adalah dehidrasi akibat kehilangan
cairan dan elektrolit melalui tinja. Penyebab kematan lainnya adalah disentri,
kurang gizi dan infeksi. Golongan umur yang paling sering menderita diare
adalah anak – anak karena daya tahan tubuhnya yang masih lemah. Data
survei kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukkan angka kematian diare
pada anak balita adalah 6,6% per tahun pada tahun 1980, kemuadian 3,7%
pada tahun 1985, 2,1% pada tahun 1992 dan 1,0% pada tahun 1995.
(Widoyono. 2008)
Diare merupakan penyebab kurang gizi yang penting terutama pada anak.
Diare menyebabkan anoreksia (kurangnya nafsu makan) sehingga
mengurangi asupan gizi dan diare dapat mengurangi daya serap usus terhadap
sari makanan. Dalam keadaan infeksi, kebutuhan sari makanan pada anak
yang mengalami diare akan meningkat, sehingga setiap serangan diare akan

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 1


menyebabkan kekurangan gizi. Jika hal ini berlangsung terus - menerus akan
mengakibatkan gangguan pertumbuhan anak. (Widoyono. 2008)

Diare dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain :

1. Keadaan lingkungan
2. Perilaku masyarakat
3. Pelayanan masyarakat
4. Gizi
5. Kependudukan
6. Pendidikan
7. Keadaan sosial ekonomi

(Widoyono. 2008)

Penyakit diare dapat ditanggulangi dengan penanganan yang tepat sehingga


tidak sampai menimbulkan kematian terutama pada balita. (Widoyono. 2008)

1.2 Rumusan Masalah


Berikut adalah rumusan masalah dalam tugas pengenalan profesi kali ini:
1. Apa definisi dari diare?
2. Apa saja faktor penyebab diare pada pasien?
3. Bagaimana gejala diare yang dialami oleh pasien?
4. Apa saja pengobatan yang didapat oleh pasien diare?
5. Bagaimana pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terkena diare?
6. Apa saja kemungkinan komplikasi yang terjadi pada penderita diare?
7. Apa saja program yang ada dalam pemberantasan diare?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa :
Untuk mengetahui gambaran penyakit diare yang terjadi pada
penderita di Puskesmas Pembina

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 2


1.3.2 Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu:
1. Apa definisi dari diare?
2. Apa saja faktor penyebab diare pada pasien?
3. Bagaimana gejala diare yang dialami oleh pasien?
4. Apa saja pengobatan yang didapat oleh pasien diare?
5. Bagaimana pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terkena diare?
6. Apa saja kemungkinan komplikasi yang terjadi pada penderita diare?
7. Apa saja program yang ada dalam pemberantasan diare?

1.4 Manfaat
Hasil dari Tugas pengenalan profesi (TPP) diharapkan akan bermanfaat yaitu
untuk:
1. Menambah ilmu mengenai diare.
2. Menambah pengetahuan tentang penanggulangan dan pengobatan
diare.
3. Menambah pengalaman dan observasi lapangan.

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 3


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan histologi kolon dan rectum

Panjang usus besar (kolon dan rectum) 1.500cm, yang terdiri dari
sekum, kolon asenden, kolon tranversum, kolon desenden, kolon sigmoid dan
rektum. Dinding usus besar mempunyai tiga lapis yaitu lapisan mukosa
(bagian dalam), yang berfungsi untuk mencernakan dan absorpsi makanan,
lapisan muskularis (bagian tengah) yang berfungsi untuk menolak makanan
ke bagian bawah, dan lapisan serosa (bagian luar), bagian ini sangat licin
sehingga dinding usus tidak berlengketan satu sama lain di dalam rongga
abdomen.
Berbeda dengan mukosa usus halus, pada mukosa kolon tidak
dijumpai villi dan kelenjar biasanya lurus-lurus dan teratur. Permukaan
mukosa terdiri dari pelapis epitel tipe absortif (kolumnar) diselang seling sel
goblet. Pelapis epitel kripta terdiri dari sel goblet. Pada lamina propria secara
sporadik terdapat nodul jaringan limfoid. Sel berfungsi mengabsorpsi air,
lebih dominan pada kolon bagian proksimal (asendens dan tranversum),
sedangkan sel goblet lebih banyak dijumpai pada kolon descenden.
Lamina propria lebih seluler (sel plasma, limfosit dan eosinofil) pada
bagian proksimal dibanding dengan distal dan rektum. Pada bagian distal
kolon, sel plasma hanya ada dibawah epitel permukaan. Sel paneth bisa
ditemukan pada sekum dan kolon asenden. Pada anus terdapat sfingter anal
internal (otot polos) dan sfingter anal eksternal (otot rangka) yang mengitari
anus

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 4


Gambar 2.1 Histologi kolon

2.2 Fisiologi kolon


Setiap hari, 9 L cairan masuk traktus gastrointestinal. Dalam usus,
absorpsi air mengikuti absorpsi nutrient dan natrium baik aktif maupun pasif
(Na +). Dalam usus Na+ dibawa bersama klorida (CL-) dan nutrient seperti
glukosa; diileum terminal, Na+ dibawa bersama garam empedu; dan di kolon,
Na+ diabsorbsi melalui saluran Na+ dan oleh mekanisme absorptive NaCl
tyang ebrmuatan netral digunakan dalam usus halus. Mekanisme transport
Na+ bersama dengan absorpsi nutrient tergantung pada banyak sedikitnya
(gradient) Na+ yang melewati membrane apikel sel epitel usus yang dibuat
oleh pompa K+-ATPase, Na+ membrane basolateral. Gambaran klinis paling
penting ini adalah pembawa transpor bersama Na+ -glukosa dalam usus
halus.
Absorpsi glukosa oleh mekanisme ini menyebabkan penumpukan
glukosa dalam sel epitel, diikuti oleh gerakannya yang melewati membrane
basolateral melalui mekanisme transfor terfasilitasi, sementara Na+ secara
aktif dipompakan melewati membrane basolateral oleh Na+, K+-ATPase.

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 5


Absorpsi Na+ juga menyebabkan absorpsi Cl- melalui jalur paraseluler.
Absorpsi air secraa pasif mengikuti untuk mempertahankan isoosmolaritas
dalam ruang interseluler. Karena mekanisme kotransfor Na+-glukosa tetap
tidak terpengaruh oleh kebanyakan penyakit diare. Mekansisme kotransfor
Na+-Cl- terdiri dari pembawa pertukaran Na+-H+ dan pembawa pertukaran
Cl—HCO3- mekanisme ini membiarkan masuknya Na+ dan Cl- kedalam sel
dalam pertukaran untuk H+ dan HCO3-.

Gambar 2.2 Transofor ion

Mekanisme transfor tambahan telah diidentifikasi untuk kalium atau K+,


yang dapat diabsrobsi dalam pertukaran untuk H+ dan untuk kalsium (Ca+),
absorpsi yang diatur oleh vitamin D dan 1,25-dihidroksivitamin D. selain
mempunyai fungsi absorpsi, usus mempunyai fungsi sekresi. Cl- dapat
disekresi oleh sel kripta usus melalui mekanisme elektrogenik, dengan
Na+,K+ dan air mengikuti secara pasif melalui sambungan padat. HCO3-
disekresi dalam duodenum.
Bagian lain usus haus, dan kedalam saluran empedu dan pakreas. Karena
muatan asam banyak dari lambung, HCO3- yang disekresi dalam keadaan
diencerkan dan ada dalam konsentrasi relatif rendah. Namun, dalam lambung
bagian distal, HCO- secara bertahan menjadi anion predominan,

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 6


menyebabkan konservasi Cl- dan agaknya melalui mekanisme pertukaran Cl-
HCO3- dimembran apikal sel epitel. Nukleotida siklik intrasel dan kalsium
terionisasi (Ca2+) memulai dan mengatur sekresi Cl- aktif.

(Isselbacher, 1999)

Fungsi kolon

Seperti dalam usus halus mekanisme absorpsi Na juga ada dalam


kolon. Absorpsi Na + terutama elektrogenik sehingga ion Na+ yang
diabsropsi tidak disertai pertukaran kation atau kotransfor anion. Na+
memasuki sel epitel kolon melalui saluran dalam membran apikal dan
dipompa keluar melalui membran basolateral oleh Na+, K+-ATPase.
Berbagai mediator bukan neural dan neural mengatur transfor dan
motilitas ion kolon, tetapi mekanisme yang tepat belum terungkap jelas.
Kolon dan rektum diinervasi oleh serabut saraf yang melepas norepinefrin.
Asetikolin dan neurotransmitter lain. Saraf parasimpatik merangsang
kontraksi peristaltik dan sekresi eletrolit sedangkan tonus adrenergik
menghambat perangsang kolinergik dan meningkatkan absorbsi elektrolit.
Pengaturan tambahan diberikan oleh arkus refleks lokal dalam sistim saraf
otonom khusus dan respon kontraktil intrinsik otot polos kolon.
Perbedaan aktifitas motorik basalis berbagai segmen dari kolon
berhubungan dengan fungsi spesifik. Dalam kolon ascendens, kebanyakan
absorpsi cairan terjadi, kontraksi retroglad ritmik secara bertahap. Kolon
distal, termasuk kolon sigmoid dan rektum, dalam kontrol neurogenik
terbesar dan mendorong feses ke kaudal dalam persiapan defekasi.
Tambahan, diseluruh kolon, peristaltik masif atau gerakan masa terjadi
beberapa kali sehari (Isselbacher, 1999)

2.3 Fisiologi Defekasi


Refleks defekasi dimulai dari distensi rektum akut. Yang
menyebabkan relaksasi sfingter anus interna transien dan parsial melalui
inervasi parasimpatik. Karena kontraksi rektal dan sigmoid meningkatkan

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 7


tekanan dalam rektum, sudut rekto sigmoid terbentuk karena kontraksi tonik
otot puborektalis yang membentuk benjolan disekitar anorektal, diobliterasi +
kontraksi sfingter anieksterna yang terdiri dari sedikitnya 3 bundel otot lurik
yang mengelilingi canalis ani dan inervasi pudenda, dapat menghambat
defekasi sampai waktu yang dapat diterima secara alami. Relaksasi bersamaan
ani eksterna dan interna menyebabkan evakuasi feses, yang dapat ditambah
dengan penigkatan tekanan intraabdominal yang dibuat oleh manuever
valsavah. (Isselbacher, 1999)

Gambar 2.3 sistem saraf terkait defekasi

2.3 Definisi Diare

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair
atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari
biasanya lebih dari 200 gr atau 200 ml/24 jam. (Sudoyo, 2009)

Diare adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali
perhari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa
lender dan darah. Pada bayi yang minum ASI sering frekuensi buang air
besarnya lebih dari 3-4 kali per hari, keadaan ini tidak dapat disebut diare,
tetapi masih bersifat fisiologis atau normal. Selama berat badan bayi
meningkat normal, hal tersebut tidak tergolong diare, tetapi merupakan

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 8


intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya perkembangan
saluran cerna.

(Juffrie, 2010)

Untuk bayi yang minum ASI secara eksklusif definisi diare yang praktis
adalah meningkatnya frekuensi buang air besar atau konsistensinya menjadi
cair yang menurut ibunya abnormal atau tidak seperti biasanya. Kadang-
kadang pada seorang anak buang air besar kurang dari 3 kali perhari, tetapi
konsistensinya cair, keadaan ini sudah dapat disebut diare. (Soeparto, 1999)

Diare adalah perubahan frekuensi dan konsentrasi tinja. Diare merupakan


berak cair sebanyak tiga kali atau kebih dalam sehari semalam (24 jam). Para
ibu mungkin mempunyai istilah tersendiri seperti lembek, cair, berdarah,
berlendir atau dengan muntah (muntaber). Penting untuk menanyakan kepada
orang tua mengenai frekuensi dan konsistensi tinja anak yang dianggap sudah
tidak normal lagi. Diare dibedakan menjadi 2 berdasarkan waktu serangan
(onset), yaitu :

1. Diare akut (<2 minggu)


2. Diare kronik (>2 minggu)

(Widoyono. 2008)

2.4 Klasifikasi Diare

Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan:

1. Lama waktu diare:


- Akut: diare yang berlangsung kurang dari 14 hari.
- Kronik:diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan
kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah
selama masa diare tersebut.
2. Disentri, yaitu diare yang disertai dengan darah.
3. Diare yang disertai dengan malnutrisi berat
4. Mekanisme patofisiologis: osmotik atau sekretorik.
5. Berat ringan diare: kecil atau besar.

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 9


6. Penyebab infeksi atau tidak: infektif atau non-infektif.
7. Penyebab organik atau tidak: organik atau fungsional.

(Sudoyo, 2009)

2.5 Epidemiologi Diare

Sekitar lima juta anak di seluruh dunia meninggal karena diare akut. Di
Indonesia pada tahun 1970 sampai 1980-an, prevalensi penyakit diare sekitar
200 – 400 per 1000 –penduduk per tahun. Dari angka prevalensi tersebut, 70
– 80% menyerang anak di bawah usia lima tahun (balita). Golongan umur ini
mengalami 2 – 3 episode diare per tahun. Diperkirakan kematian anak akibat
diare sekitar 200 – 250 ribu setiap tahunnya. (Widoyono. 2008)

Angka kematian diare menurun dari tahun ke tahun, pada tahun 1975
angka kematian sebesar 40 – 50% dan tahun 1980-an sebesar 24%. Di
Indonesia, laporan yang masuk ke Departemen Kesehatan menunjukkan
bahwa setiap anak mengalami serangan diare sebanyak 1,6 – 2 kali setahun.
Kejadian luar biasa (KLB) diare di Indonesia masih terus terjadi hampir
setiap musim sepanjang tahun sehingga pemberantasannya menjadi suatu hal
yang sangat penting. (Widoyono. 2008)

Tabel 2.1 Kejadian luar biasa (KLB) diare di Indonesia tahun 1996 – 2000

TAHUN PENDERITA MENINGGAL CFR (%)

1996 6.139 161 2,62

1997 17.890 184 1,08

1998 11.818 275 2,33

1999 5.159 76 1,47

2000 5.680 109 1,92

(Widoyono. 2008)

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 10


KLB diare menyerang hampir semua provinsi di Indonesia. Angka
kematian yang jauh lebih tinggi daripada kejadian kasus diare biasa membuat
perhatian para ahli kesehatan masyarakat tercurah pada penanggulangan KLB
diare secara cepat. (Widoyono. 2008)

2.6 Etiologi Diare

Berdasarkan RYLE (1994) dan BOCKUS

1. Kelainan disaluran cerna


a. Kelainan dilambung atau gastrogenous
 Akila gastrika
 Tumor
 Gastrektomi
 Vagotomi
b. Kelainan diusus halus atau enterogenous
 Enteritis regional
 Enterokolitis
c. Kelainan diusus besar
 Kolitis ulserosa kronis
 Tumor
 Divertikulosis
 Poliposis
 Endometriosis

2. Penyakit Infeksi
a. Infeksi parasit
 Entamoeba histolytica
 Giardia lamblia
 Cryptosporidium
 Balantidium koli
 Helmentiasiis

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 11


b. Infeksi bakteri
 Escherichia coli
 Shigella sp
 Salmonela
 Vibrio cholerae Siela
 Klostridium
 Tuberculosis
c. Infeksi virus
 Enterovirus
 Rotavirus
 Adenovirus
d. Infeksi jamur
 Monilia
3. Kelainan diluar saluran makan
a. Penyakit dipankreas (Pankreatitis kronis, Karsinoma pankreas)
b. Kelainan endokrin (Hipertiroidisme, Diabetes mielitus, Adison)
c. Kelainan hepatobilier
d. Uremia
e. Penyakit kolagen
f. Tb paru
g. Penyakit nerologis (ganglioneroblastoma)
h. Akibat keracunan makanan
i. Akibat pemberian antibiotic
4. Keracunan makanan.
5. Malabsorpsi : karbohidrat, lemak dan protein.
6. Alergi : makanan, susu sapi.
7. Imunodefisiensi : AIDS.

(Sujono, 2013)

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 12


Gambar 2.4. Rotavirus manusia dengan pewarnaan negatif

Tabel 2.2 Penyebab Diare Pada Komunitas Anak di Negara Seluruh Dunia

Negara Berkembang Negara Maju

Rotavirus
Rotavirus
ETEC
Adenovirus
Adenovirus
SLV*
EPEC
Campylobacter
Anak – anak Giardia
Shigella
Shigella
Salmonella
EAggEC
Cryptosporidium
Campylobacter
VTEC
Salmonella
ETEC
Campylobacter
Salmonella
Salmonella
Shigella
NLV
Orang dewasa NLV
Giardia
Vibrio
Cryptosporidium
Cryptosporidium
VTEC
Giardia

*Sapporo-like virus (SLV) muncul sebagai penyebab penting diare yang didapat
di komunitas pada anak kecil di negara industri seluruh dunia, data prevalensi di

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 13


negara berkembang tidak ada. Virus ini merupakan kalsivirus yang serupa
dengan Norwalk-like virus (NLV).
EAggEC, enteroaggregative E. coli; EPEC, enteropathogenic E. coli;
ETEC,enterotoxigenic E. coli; VTEC, verocytotoxin producing E. coli.

(B.K. Mandal, E.G.S. Wilkins, E.M. Dunbar, R.T. Mayon-White. 2007)

Gambar 2.5. Struktur Enterobacteriaceae

Gambar 2.6 Campylobacter

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 14


Gambar 2.7. Campylobacter jejuni

2.7 Patofisiologi Diare

Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih patofisiologi sebagai berikut:

a. Diare osmotik: diare tipe ini disebabkan meningkatnya tekanan osmotik


intralumen dari usus halus yang disebabkan oleh obat-obat/ zat kimia yang
hiperosmotik, malabsorbsi umum dan defek dalam absorbsi mukosa usus
missal pada defisiensi disararidase, malabsorbsi glukosa/galaktosa.
(Sudoyo, 2009)
b. Diare sekretorik: diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air
dan elektrolit dari usus, menurunnya absorbs. Yang khas pada diare ini
yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak
sekali. Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa
makan/minum. Penyebab dari diare tipe ini antara lain karena efek
enterotoksin pada infeksi Vibrio cholera, atau Escherrichia coli, penyakit
yang menghasilkan hormone (VIPoma), reseksi ileum (gangguan absorbs
garam empedu), dan efek obat laksatif dioctyl sodium sulfosuksinat, dll.
(Sudoyo, 2009)
c. Malabsorbsi asam empedu. Malabsobsi lemak: diare tipe ini didapatkan
pada gangguan pembentukan/produksi micelle empedu dan penyakit-
penyakit saluran bilier dan hati. (Sudoyo, 2009)

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 15


d. Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit: diare
tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif Na+K+
ATP ase di enterosit dan absorbs Na+ dan air yang abnormal.
(Sudoyo, 2009)
e. Motilitas dan waktu transit usus abnormal: diare tipe ini disebabkan
hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan
absorbsi yang abnormal di usus halus. Penyebab gangguan motilitas antara
lain: diabetes mellitus, pasca vagotomi, hipertiroid. (Sudoyo, 2009)
f. Gangguan permeabilitas usus: diare tipe ini disebabkan permeabilitas usus
yang abnormal disebabkan adanya kelainan morfologi membrane epitel
spesifik pada usus halus. (Sudoyo, 2009)
g. Inflamasi dinding usus (diare inflamatorik): diare tipe ini disebabkan
adanya kerusakan mukosa usus karena proses inflamasi, sehingga terjadi
produksi mucus yang berlebihan dan eksudasi air dan elektrolit ke dalam
lumen, gangguan absorbs air-elektrolit. Inflamasi mukosa usus halus dapat
disebabkan infeksi (disentri Shigella) atau non infeksi (colitis ulseratif dan
penyakit Crohn). (Sudoyo, 2009)
h. Diare infeksi: infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari
diare. Dari sudut kelainan usus, diare oleh bakteri dibagi atas non-invasif
(tidak merusak mukosa) dan invasive (merusak mukosa). Bakteri non-
invasif menyebabkan diare karena toksin yang disekresi oleh bakteri
tersebut, yang disebut diare toksigenik. Enterotoksin yang dihasilkan
kuman Vibrio cholera/eltor merupakan protein yang dapat menempel pada
epitel usus, yang lalu membentuk adenosine monofosfat siklik (AMF
siklik) di dinding usus dan menyebabkan sekresi aktif anion klorida yang
diikuti air, ion bikarbonat dan kation natrium dan kalium. Mekanisme
absorbs ion natrium melalui mekanisme pompa natrium tidak terganggu
karena itu keluarnya ion klorida (diikuti ion bikarbonat, air, natrium, ion
kalium) dapat dikompensasi oleh meningginya absorbs ion natrium
(diiringi oleh air, ion kalium dan ion bikarbonat, klorida). Kompensasi ini
dapat dicapai dengan pemberian larutan glukosa yang diabsorbsi secara
aktif oleh dinding sel usus. (Sudoyo, 2009)

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 16


Gambar 2.8. Patofisiologi diare (Silbernagl, 2006)

2.8 Manifestasi Klinis Diare


Beberapa gejala dan tanda diare antara lain :
1. Gejala umum
a. Berak cair atau lembek dan sering adalah gejala khas diare.
b. Muntah, biasanya menyertai diare pada gastroenteritis akut.
c. Demam, dapat mendahului atau tidak mendahului gejala diare.
d. Gejala dehidrasi, yaitu mata cekung, ketegangan kulit menurun, apatis
bahkan gelisah.
2. Gejala spesifik
a. Vibrio cholerae : diare hebat, warna tinja seperti cucian beras dan
berbau amis.
b. Disenteriform : tinja berlendir dan berdarah.

(Widoyono. 2008)

Tabel 2.3 Bentuk klinis diare

Diagnosa Didasarkan pada keadaan

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 17


- Diare lebih dari 3 kali sehari berlangsung kurang
Diare cair akut dari 14 hari
- Tidak mengandung darah

- Diare air cucian beras yang sering dan banyak serta


cepat menimbulkan dehidrasi berat, atau
- Diare dengan dehidrasi berat selama terjadi KLB
Kolera
kolera, atau
- Diare dengan hasil kultur tinja positif untuk V.
cholerae O1 atau O139

Disentri - Diare berdarah

Diare persisten - Diare berlangsung selama 14 hari atau lebih

Diare dengan gizi buruk - Diare jenis apapun yang disertai tanda gizi buruk

Diare terkait antibiotik


(Antibiotic Associated - Mendapat pengobatan antibiotik oral spektrum luas
Diarrhea)

- Dominan darah dan lendir dalam tinja


Invaginasi - Massa intra abdominal (abdominal mass)
- Tangisan keras dan kepucatan pada bayi

2.9 Penularan
Penyakit diare sebagian besar (75%) disebabkan oleh kuman seperti virus
dan bakteri. Penularan penyakit diare melalui orofekal terjadi dengan
mekanisme berikut ini :
1. Melalui air yang merupakan media penularan utama. Diare dapat terjadi
bila seseorang menggunakan air minum yang sudah tercemar, baik
tercemar dari sumbernya, tercemar selama perjalanan sampai ke rumah –
rumah atau tercemar pada saat disimpan di rumah. Pencemaran di rumah
terjadi bila tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 18


tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat
penyimpanan.
2. Menggunakan air bersih. Tanda – tanda air bersih adalah ‘3 Tidak’, yaitu
tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa.
3. Melalui tinja terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus
atau bakteri dalam jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh
binatang dan kemudian binatang tersebung hinggap di makanan, maka
makanan itu dapat menularkan diare ke orang yang memakannya.
4. Faktor – faltor yang meningkatkan risiko diare adalah :
a. Pada usia 4 bulan bayi sudah tidak diberi ASI eksklutif lagi. Hal ini
akan meningkatkan resiko kesakitan dan kematian karena diare, karena
ASI banyak mengandung zat – zat kekebalan terhadap infeksi.
b. Memberikan susu formula dalam botol kepada bayi. Pemakaian botol
akan meningkatkan resiko pencemaran kuma, dan susu akan
terkontaminasi oleh kuman dari botol. Kuman akan cepat berkembang
bila susu tidak segera diminum.
c. Menyimpan makanan pada suhu kamar. Kondisi tersebut akan
menyebabkan permukaan makanan mengalami kontak dengan peralatan
makan yang merupakan media yang sangat baik bagi perkembangan
mikroba.
d. Tidak mencuci tangan pada saat memasak, makan atau sesudah buang
air besar (BAB) akan memungkinkan kontaminasi langsung.
(Widoyono. 2008)

Faktor resiko terjadinya diare berdasarkan usia dan jenis kelamin:

a. Umur
Helmentiasis biasanya ditemukan pada usia muda, walaupun kadang-
kaang ditemukan pada usia lanjut, berkaiitan dengan pekerjaan sehari-
hari misalnya petani. Sebaliknya kolitis ulserosa, ielitis terminalis,
divertikulosis, tumor ganas di intestinum atau kolon, kelainan
dipankreas biasa ditemukan pada usia antara 40-50 tahun.
b. Jenis kelamin

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 19


Penderita dengan kolonik nerose, psikhose, banyak ditemukan pada
wanita. Diare yang disebabkan divertikulosis, karsinoma kolon banyak
ditemukan pada pria.

(sujono. 2013)

2.10 Program Pemberantasan Diare

1. Tujuan umum

a. Balita: menurunkan CFR dan prevalensi episode serangannya.

b. Semua umur:

 Menurunkan prevalensi
 Menurunkan CFR di rumah sakit
 Menurunkan CFR pada KLB

2. Kebijaksanaan

Meningkatkan kualitas dan pemerataan pelayanan dengan meningkatkan


kerja sama lintas program (LP) dan lintas sektor (LS).

3 Strategi
a. Tatalaksana pasien di rumah
 Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga (CRT) seperti air tajin,
larutan gula garam, dan air kelapa.
 Meneruskan pemberian makanan lunak dan tidak bersifat merangsang
lambung, di tambah makanan ekstra setelah diare.
 Membawa pasien ke sarana kesehatan bila:
- Buang air besar makin sering dan banyak
- Makin kehausan
- Tidak dapat makan atau minum
- Demam
- Ditemukan darah pada tinja
- Kondisi makin memburuk dalam 24 jam
b. Tatalaksana penderita di sarana kesehatan

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 20


 Rehidrasi oral
 Memberi infus dengan Ringer Laktat (RL)
 Menggunakan obat yang rasional
 Memberi nasihat tentang makanan, rujukan, dan pencegahan
c. Pencegahan penyakit
 Menanamkan higiene pribadi (perilaku mencuci tangan sebelum makan
dan sesudah buang air)
 Merebus air minum sebelum digunakan
 Menjaga kebersihan lingkungan (WC dan SPAL)
4 Langkah-langkah
Untuk mencapai tujuan diatas diperlukan:
a. Kerjasama lintas program (LP) dan lintas sektor (LS)
b. Pelatihan atau penyegaran tentang diare
c. Pemantapan manajemen serta pencatatan dan pelaporan (reporting
recording, RR) kasus diare
d. Pemantapan manajemen persediaan oralit
e. Peningkatan sistem kewaspadaan dini (SKD) dalam kejadian luar biasa
(KLB)
f. Peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE)
5 Kegiatan
a. Penemuan dan pengobatan pasien sedini mungkin
 Penemuan pasien oleh sarana kesehatan (penemuan pasif)
 Penemuan pasien oleh kader dan petugas (penemuan aktif)
 Pemberian oralit kepada pasien oleh kader
b. Penanggulangan pasien saat KLB
 Jangka pendek
- Menemukan dan mengobati pasien
- Melakukan rujukan dengan cepat
- Melakukan kaporisasi sumber air dan disinfeksi kotoran yang tercemar
- Memberi penyuluhan tentang higiene dan sanitasi lingkungan
- Melakukan koordinasi lintas program dan lintas sektor
 Jangka panjang

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 21


- Memperbaiki faktor lingkungan
- Mengubah kebiasaan tidak sehat menjadi kebiasaan sehat
 Pelatihan petugas
6 Pencatatan dan pelaporan
Dilakukan oleh kader dan petugas sarana kesehatan.
7 Pemantauan dan evaluasi
a. Pemantauan wilayah setempat (PWS)
b. Evaluasi program dapat dilaksanakan dengan menggunakan laporan hasil
pemantauan, sehingga dapat diketahui:
 Cakupan pelayanan:
Jumlah kasus yang ditemukan kader dan sarkes x 100% Perkiraan
kasus diare di masyarakat
Perkiraan kasus diare di masyarakat= 3% x jumlah penduduk

 Kualitas tatalaksana pasien


Jumlah kasus yang ditemukan kader dan sarkes yang mendapat oralit
x 100% Jumlah pasien diare di kader dan sarkes
Kualitas tatalaksana pasien baik jika hasil perhitungan >95%.

 Masalah tatalaksana pasien


Jumlah pasien yang diinfus x 100%
Jumlah seluruh pasien
Masalah tatalaksana pasien diare dikatakan baik jika hasil perhitungan <3%.

 Proporsi pasien per golongan umur


Jumlah pasien per golongan umur x 100%
Jumlah pasien diare
Bila golongan umur dewasa lebih besar: AWAS KOLERA! Lakukan rectal
swab.

 CFR
Jumlah kematian yang disebabkan oleh diare x 100%

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 22


Jumlah pasien yang ditemukan kader dan sarkes
 Peran serta masyarakat (PSM)
Jumlah pasien yang ditolong oleh kader x 100%
Jumlah pasien di kader dan sarkes
Peran serta masyarakat baik jika hasil perhitungan >60%.

(Widoyono. 2009)

2.11 Komplikasi Diare

Diare yang berkepanjangan dapat menyebabkan :

1. Dehidrasi (kekurangan cairan)


Tergantung dari persentase cairan tubuh yang hilang, dehidrasi dapat terjadi
ringan, sedang atau berat.

Derajat dehidrasi dapat ditentukan berdasarkan:

a. Keadaan klinis: ringan, sedang dan berat. Penentuan derajat dehidrasi


menurut WHO.

Tabel 2.4 Penentuan Derajat dehidrasi

Penilaian A B C

1. Lihat :

Keadaan Baik, sadar * Gelisah, rewel * Lesu, lunglai


Umum atau tidak sadar

Sangat cekung dan


Normal Cekung
kering
Mata Minum * Haus, ingin
* Malas minum
Rasa Haus biasa minum banyak
atau tidak bisa
tidak haus
minum

2. Periksa Kembali * Kembali lambat * Kembali sangat


turgor kulit cepat lambat

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 23


3. Hasil Tanpa Dehidrasi Dehidrasi berat
pemeriksaan dehidrasi ringan/sedang Bila ada 1 tanda *
bila ada 1 tanda * ditambah 1 atau
ditambah 1 atau lebih tanda lain
lebih tanda lain

4. Terapi Rencana Rencana terapi B Rencana terapi C


terapi A

(Universitas Sumatera Utara, 2007)

b. Berat Jenis Plasma: pada dehidrasi berat jenis plasma meningkat


a. Dehidrasi berat: BJ plasma 1,032-1,040
b. Dehidrasi sedang: BJ plasma 1,028-1,032
c. Dehidrasi ringan: BJ plasma 1,025-1,028
c. Pengukuran Central Venous Pressure (CVP):
Bila CVP +4 s/d +11 cm H2O: normal
Syok atau dehidrasi maka CVP kurang dari+4 cm H2O
2. Gangguan sirkulasi
Pada diare akut, kehilangan cairan dapat terjadi dalam waktu yang singkat.
Bila kehilangan cairan ini lebih dari 10% berat badan, pasien dapat
mengalami syok atau presyok yang disebabkan oleh berkurangnya volume
darah (hipovolemia).
3. Gangguan asam-basa (asidosis)
Hal ini terjadi akibat kehilangan cairan elektrolit (bikarbonat) dari dalam
tubuh. Sebagai kompensasinya tubuh akan bernapas cepat untuk membantu
meningkatkan pH arteri.
4. Hipoglikemia (kadar gula dalam darah rendah)
Hipoglikemia sering terjadi pada anak yang sebelumnya mengalami
malnutrisi (kurang gizi). Hipoglikemia dapat mengakibatkan koma. Penyebab
yang pasti belum diketahui, kemungkinan karena cairan ekstraseluler menjadi
hipotonik dan air masuk ke dalam cairan intraseluler sehingga terjadi edema
otak yang mengakibatkan koma.

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 24


5. Gangguan gizi
Gangguan ini terjadi karena asupan makanan yang berkurang dan output yang
berlebihan. Hal ini akan bertambah berat bila pemberian makanan dihentikan,
serta sebelumnya penderita sudah mengalami kekurangan gizi (malnutrisi).
(Widoyono. 2009)

2.12 Tata laksana


1) Promotif
a. Menganjurkan menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan
pribadi contohnya tidak membuang sampah sembarangan, buang air
besar di jamban, mencuci tangan sebelum membuat susu atau
menbuang kotoran.
b. Menganjurkan untuk menggunakan air bersih untuk keperluan
sehari-hari terutama dalam hal memasak.
c. Menjelaskan perlunya menjaga kebersihan diri dan alat-alat
makan/minum (dot) dengan cara cuci tangan sebelum membuat susu
dan menggunakan alat-alat makan/minum yang sudah dicuci bersih
atau direbus dahulu.
d. Menjelaskan perlu pemahaman mengenai tanda-tanda dehidrasi
seperti rewel, kehausan, mata cekung, menangis tidak keluar air
mata, bibir kering. Bila anak diare disertai muntah berulang, anak
tampak kehausan sebaiknya segera dibawa ke Rumah Sakit atau
poliklinik terdekat (penting bila setelah pulang dari RSDK anak
sakit lagi).
e. Menganjurkan untuk menggunakan air bersih untuk membuat susu,
air harus dimasak sampai mendidih

2) Preventif
a. Untuk mencegah diare akibat infeksi rotavirus, bisa diberikan vaksin
rotavirus per-oral (melalui mulut).
b. Untuk mencegah penyebaran infeksi, sebaiknya setelah merawat
bayi yang sakit, tangan harus dicuci bersih-bersih

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 25


c. Pemberian ASI (Air Susu Ibu) eksklusif
d. Pemberian makanan pendamping ASI yang bersih dan bergizi
setelah bayi berumur 6 bulan
e. Mencuci tangan
f. Mencuci tangan
g. gunakan produk terbuat dari susu yang telah dipasteurisasi untuk
membunuh bakteri.
h. Masaklah makanan dan air minuman hingga matang.
i. Menggunakan air bersih yang cukup banyak
j. Menggunakana jamban keluarga
k. Cara membuang tinja yang baik dan benar

3) Kuratif :
Dapertemen kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare
bagi semua kasus diare diderita anak balita baik dirawat dirumah
maupun sedang dirawat sakit, yaitu :
1. Rehidrasi dengn menggunakan oralit baru
Berikan segera bila anak diare, untuk mencegah dan mengatasi
dehidrasi. Diare yang disebabkan karena virus tidak menyebabkan
kekurangan elektrolit seberat pada disentri. Oleh sebab itu para ahli
diare mengembangkan formula baru oralit dengan tingkat
osmolaritas yang lebih rendah, osmolaritas larutan baru lebih
mendekati osmolaritas plasma, sehingga kurang menyebabkan risiko
terjadinya hipernatremia.
Oralit baru dengan low osmolaritas juga menurunkan kebutuhan
suplementasi intravena dan mampu mengurangi pengeluran tinja
hingga 20% serta mengurangi muntah hingga 30%. Oralit baru ini
telah direkomendasikan oleh WHO dan UNICEF untuk diare akut
non-kolera pada anak.
- Untuk anak berumur < 2 tahun : 50-100 ml tiapn kali BAB
- Untuk anak berumur 2 atau lebih : 100-200 ml tiapn kali BAB
(Guarino, 2001 dan Hans S, 2001)

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 26


Komposisi oralit baru
Oralit Baru Osmolaritas Rendah Mmol/liter
Natrium 75
Klorida 65
Glucose, anhydrous 75
Kalium 20
Sitrat 10
Total Osmolaritas 245
(WHO, UNICEF. 2006 )
2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
Zinc mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat
mengembalikan nafsu makan anak. Zinc termasuk mikronutrien
yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara kehidupan yang optimal.
Zinc berperan untuk pertumbuhan dan pembelahan sel, anti oksidan,
perkembangan seksual, kekebalan seluler, adaptasi gelap,
pengecapan serta nafsu makan. Zinc juga berperan dalam system
kekebalan tubuh dan merupakan mediator potensial pertahnan tubuh
terhadap infeksi. (Altaf Waseef MD, 2001)
Penggunaan zinc dalam pengobatan diare akut didasarkan pada
afeknya terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi
saluran cerna dan terhadap proses perbaikan epitel saluran cerna
selama diare. Pemberian zinc pada diare dapat meningkatkan absorbs
air dan elektrolit oleh usus halus, meningkatkan respon imun dan
mempercepat pembersihan pathogen dari usus.
- Anak < 6 bulan : 10 mg (setengah tablet) per hari
- Anak > 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari
Zinc diberikan 10-14 hari berturut-turut meskipun anak telah
sembuh dari diare. Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan
dengan air matang, ASI, atu oralit. Untuk anak-anak yang lebih
besar, zinc dapat dikunyah atau di larutkan dalam air matang atau
oralit. (Altaf Waseef MD, 2001)
3. ASI dan makanan tetap diteruskan

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 27


ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu
yang sama pada waktu anak sehat untuk mencegah kehilangan berat
badan serta pengganti nutrisi yang hilang. Pada diare berdarah nafsu
makan akan berkurang. Adanya perbaikan nafsu makan menandakan
fase kesembuhan
4. Antibiotic selektif
Antibiotic jangan di berikan kecuali ada indikasi misalnya pada diare
berdarah atau kolera. Pemberian antibiotic yang tidak rasional dapat
mempercepat resistensi kuman terhadap antibiotic. Resistensi
antibiotic terjadi melalui mekanisme inaktivasi obat melalui
degradasi enzimatik oleh bakteri, perubahan struktur bakteri yang
menjadi target antibiotic dan perubahan permeabilitas membrane
terhadap antibiotic.
5. Nasihat kepada orang tua
Nasihat kepada ibu atau pengasuh yakni kembali segera jika demam,
tinja berdarah, berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus,
diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari.

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 28


BAB III

METODE PELAKSANAAN

3.1 Tempat Pelaksanaan

Lokasi : Puskesmas plaju, Palembang


Alamat : jl. H. Faqih Usman No. 2329 Rt. 43, kec seberang Ulu I

3.2 Waktu Pelaksanaan


Hari dan Tanggal : Selasa, 16 Juli 2013
Waktu : 08.00 s.d. 10.30 WIB

3.3 Alat dan Bahan

Alat yang akan digunakan pada tugas pengenalan profesi kali ini adalah
sebagai berikut:

1. Kuesioner
Kuesioner adalah sebuah alat pengumpulan data yang nantinya data
tersebut akan diolah untuk menghasilkan informasi tertentu. Dalam hal ini,
observer menggunakan kuesioner terbuka. Kuesioner ini dapat dilihat pada
lampiran.
2. Alat Tulis
Alat tulis digunakan untuk mencatat hasil kunjungan pasien diare di
masyarakat.
3. Kamera
Kamera digunakan untuk dokumentasi, yakni sebagai bukti bahwa
mahasiswa telah melaksanakan tugas pengenalan profesi, khususnya
eksplorasi penyakit diare di masyarakat. Bukti tersebut nantinya akan
dilampirkan pada laporan akhir.
4. Komputer / Laptop

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 29


Komputer / Laptop digunakan sebagai sarana pembuatan proposal dan
laporan akhir kegiatan.

3.4 Langkah Kerja

1. Melakukan konsultasi dengan pembimbing Tugas Pengenalan Profesi


2. Membuat proposal kegiatan
3. Mengkonsultasikan proposal dengan pembimbing Tugas Pengenalan
Profesi
4. Setelah mendapat persetujuan atau acc dari pembimbing, menentukan
waktu kegiatan
5. Pelaksanaan kegiatan yaitu mengobservasi kegiatan di lingkungan sekitar
6. Mengumpulkan data hasil kerja lapangan untuk mendapatkan suatu
kesimpulan
7. Membuat laporan hasil Tugas Pengenalan Profesi dari data yang sudah
didapatkan

3.5 Jadwal Kegiatan

Tabel jadwal kegiatan tugas pengenalan profesi adalah :

Juni 2013- Juli 2013

(Blok XIII)
No Jenis Kegiatan
Minggu IV-
Minggu I Minggu II Minggu III
Selesai

1. Penyusunan proposal

2. Observasi

3. Pembahasan

4. Penyusunan Laporan

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 30


5. Pleno

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 31


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

No. Pertanyaan Jawaban


1. Apa yang anda ketahui Kondisi dimana seseorang buang air besar dengan tinja
tentang diare? yang lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja
yang lebih dari 3x sehari
2. Bagaimana cara anda - Anamnesis:
menegakkan diagnosis  Keluhannya apa yang membuat pasien datang ke
diare? puskesmas
-anamnesis  Sejak kapan BAB cair
-pemeriksaan fisik  Berapa kali anak BAB dalam 1 hari
-pemeriksaan penunjang  Apakah tinjanya ada darah
 Apakah ada penyakit lain
- Pemeriksaan fisik
 Melihat keadaan umum anak
 Sadar atau tidak
 Lemas atau terlihatsangat mengantuk
 Apakah anak gelisah
 Berikan minum, apakah dia mau minum. Jika iya,
apakah ketika minum ia tampak haus atau malas
minum
 Apakah matanya cekung atau tidak
 Lakukan cubitan perut (turgor), apakah kulitnya
kembali segera, lambat, atau sangat lambat.
- Pemeriksaan penunjang  tidak ada
3. Apa penyebab paling sering Anak yang mengalami diare dan datang ke puskesmas
yang menyebabkan diare biasanya dikarenakan susu botol (susu formula) atau dari
pada pasien yang berobat ke makanan yang tidak higienis yang biasanya di beli di
Puskesmas Pembina? penggir jalan atau di sekolah (seperti minum es,

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 32


-kelainan kolon gorengan dll)
-malabsorbsi
-infeksi toksogenik
(keracunan makanan)
-dll
4. Bagaimana cara Diare akut BAB cair yang berlangsung kurang dari 14
membedakan diare akut dan hari, sementara diare kronis adalah yang berlangsung
kronis? lebih dari 14 hari.
5. Bagaimana penatalaksanaan Pada puskesmas ini, kami merujuk pada “Lintas Diare”
diare berdasarkan dari jenis- Atau dikenal dengan lima langkah tuntaskan diare.
jenis diare? Yaitu diberikan :
(obat apa yang diberikan 1. Oralit formula baru
dan berapa dosisnya) 1 bungkus oralit di masukkan ke dalam 1 gelas air
matang (200cc)
- < 1 thn berikan: 50-100 cc cairan oralit setiap
kali buang air besar
- > 1thn berikan: 100-200 cc cairan oralit setiap
kali buang air besar

2. Tablet zink selama 10 hari berturut-turut


1 tablet (20 mg)
 Untuk balita < 6 bln : ½ tablet (10 mg)/ hari
 Untuk anak > 6 bln : 1 tablet (20 mg)/ hari

3. Teruskan ASI-makan
4. Berikan antibiotic secara selektif
5. Berikan nasihat kepada ibu/keluarga

6. Apakah pihak puskesmas Iya, kami mengacu pada program “Lintas Diare”
memiliki standar tetap untuk
penatalaksanaan diare?
7. Kapan pasien dengan Bila pasien terlihat adanya tanda dehidrasi berat maka

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 33


diagnosis harus di rujuk kami rujuk. Tandanya bisa seperti :
atau rawat jalan? - Mata cekung
- Turgor kembali lambat
- Tidak ada rasa haus
- Keadaan umum gelisah, atau rewel
8. Bagaimana cara menilai Gejala Tanpa Dehidrasi Dehidrasi
derajat dehidrasi pada dehidrasi ringan/sedang berat
pasien diare? KU Baik, Gelisah,rewel Gelisah,
sadar rewel, dan
mungkin
disertai
dengan
penurunan
kesadaran
Mata Tidak Cekung Cekung,
cekung dan air
mata
kering
Keinginan Normal Ingin minum Tidak
untuk tidak ada terus- normal,
minum rasa haus menerus tidak ada
rasa haus
Turgor Kembali Kembali Sangat
segera lambat lambat
9. Apa komplikasi yang dapat Komplikasi yang terjadi biasanya dehidrasi.namun
timbul pada pasien diare? biasanya diare disertai dengan ispa dan demam

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 34


10. Dalam satu tahun terakhir januari
ada berapa jumlah pasien Umur Laki-laki Perempuan
yang didiagnosis menderita 1 bulan 15 2
diare yang berobat 1-4 tahun 15 10
dipuskesma Pembina? 5-9 tahun 13 0
10-14 tahun 0 0

febuari
Umur Laki-laki Perempuan
1 bulan 11 5
1-4 tahun 6 3
5-9 tahun 3 3
10-14 tahun 4 1

Maret
Umur Laki-laki Perempuan
7 hari-bulan 2 0
1 bulan 15 14
1-4 tahun 13 15
5-9 tahun 10 10
10-14 tahun 10 0

April
Umur Laki-laki Perempuan
7 hari-bulan 0 1
1 bulan 5 1
1-4 tahun 10 15
5-9 tahun 14 14
10-14 tahun 4 1

Mei

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 35


Umur Laki-laki Perempuan
1 bulan 4 3
1-4 tahun 5 10
5-9 tahun 7 2
10-14 tahun 5 0

Juni
Umur Laki-laki perempuan
7 hari-bulan 5 0
1 bulan 5 1
1-4 tahun 12 5
5-9 tahun 7 4
10-14 tahun 1 1
11. Apakah pihak puskesmas Ya, sudah
sudah melaksanakan
program pemberantasan
diare yang dicanangkan oleh
pemerintah?
12. Apa saja yang sudah Melakukan penyuluhan.
dilakukan oleh pihak 1. Cuci tangan sebelum makan
puskesmas dalam 2. Sanitasi lingkungan
pencegahan diare? 3. PHBS
13. Bagaimana penanggulangan Memberikan nasihat kepada masyarakat agar selalu
pasien saat kejadian luar menjaga kebersihan. (seperti mencuci tangan sebelum
biasa (KLB)? makan dan membuang kotoran pada tempatnya)
-jangka panjang
-jangka pendek Meminta kepada pemerinta agar dibuatkan WC umum di
-pelatihan petugas daerah yang masih menggunakannya sungai untuk
mencuci, buang air besar, mandi, buang air kecil, dan
masak.

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 36


4.2 Pembahasan

Pada tanggal 16 Juni 2014, kami melakukan tanya jawab dengan petugas
kesehatan bernama suaidah di Puskesmas Pembina di jalan faqih Usman No. 2329
Rt.43, Kec. Seberang ulu I. Plaju Palembang. Dari hasil wawancara yang telah
kami lakukan, responden mengatakan diare merupakan kondisi dimana seseorang
buang air besar dengan tinja yang lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja
yang lebih dari 3x sehari. Hal ini sesuai dengan tinjauan pustaka, yakni diare
merupakan buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah
cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari
200 gr atau 200 ml/24 jam. (Sudoyo, 2009).

Responden juga megatakan dalam mendiagnosis pasien diare petugas


puskesmas melalukan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

- Anamnesis
 Keluhannya apa yang membuat pasien datang ke puskesmas
 Sejak kapan BAB cair
 Berapa kali anak BAB dalam 1 hari
 Apakah tinjanya ada darah
 Apakah ada penyakit lain
- Pemeriksaan fisik
 Melihat keadaan umum anak
 Sadar atau tidak
 Lemas atau terlihatsangat mengantuk
 Apakah anak gelisah
 Berikan minum, apakah dia mau minum. Jika iya, apakah ketika minum ia
tampak haus atau malas minum
 Apakah matanya cekung atau tidak
 Lakukan cubitan perut (turgor), apakah kulitnya kembali segera, lambat, atau
sangat lambat.

Responden menuturkan biasanya ibu pasien yang datang mengatakan


bahwa kebanyakan anaknya menderita diare dikarenakan mengkonsumsi susu

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 37


botol (susu formula) atau dari makanan yang tidak higienis yang biasanya di beli
di penggir jalan atau di sekolah (seperti minum es, gorengan dll)

Hal ini sesuai pada penulisan. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan diare
seperti :

- Kelainan pada saluran cerna


- Infeksi
- Kelainan di luar saluran cerna
- Keracuanan makanan
- Malabsorbsi
- Alergi
- Imunodefisiensi

Menurut petugas puskesmas penyebab paling sering penderita diare di


puskesmas Pembina ialah dikarenakan konsumsi susu botol (susu formula) atau
dari makanan yang tidak higienis yang biasanya di beli di penggir jalan atau di
sekolah (seperti minum es, gorengan dll) hal ini termasuk dalam etiologi infeksi.
Dimana baik susu botol (susu formula) atau minuman dan makanan yang tidak
terjaga kebersihannya menyebabkan mikroorganise yang berada dalam makanan
tersebut masuk ke dalam tubuh menyerang vili dan menyebabkan diare. (Sujono,
2013)

Petugas puskesmas mengatakakan berdasarkan lama perjalanan penyakitnya


diare di bedakan menjadi dua macam, yaitu diare akut dan diare kronis. Diare akut
merupakan diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, sementara diare kronis
adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Hal ini sesuai dengan tinjauan
pustaka yang ada pada laporan TTP ini. (sudoyono, 2009). Berdasarkan tinjauan
pustaka, diare diklasifikasikan menjadi beberapa macam, yaitu:

1. Lama waktu diare: diare akut (< 14 hari) dan diare kronis
(> 14 hari)
2. Disentri
3. Diare yang disertai dengan malnutrisi berat
4. Mekanisme patofisiologis: osmotik atau sekretorik.
5. Berat ringan diare: kecil atau besar.

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 38


6. Penyebab infeksi atau tidak: infektif atau non-infektif.
7. Penyebab organik atau tidak: organik atau fungsional.

Penatalaksanan diare di puskesmas Pembina menggunakan penunjuk “lintas


diare” atau dikenal dengan lima langkah tuntaskan diare dipuskesmas merek
memberikan oralit

1. Oralit formula baru


1 bungkus oralit di masukkan ke dalam 1 gelas air matang (200cc)
- < 1 thn berikan: 50-100 cc cairan oralit setiap kali buang air besar
- > 1thn berikan: 100-200 cc cairan oralit setiap kali buang air besar
2. Tablet zink selama 10 hari berturut-turut
2 tablet (20 mg)
 Untuk balita < 6 bln : ½ tablet (10 mg)/ hari
 Untuk anak > 6 bln : 1 tablet (20 mg)/ hari
3. Teruskan ASI-makan
4. Berikan antibiotic secara selektif
5. Berikan nasihat kepada ibu/keluarga

Komplikasi yang terjadi di puskesmas Pembina biasanya dehidrasi, diare


juga sering disertai dengan ISPA dan demam. Berdasarkan tinjauan pustaka,
komplikasi yang sering timbul pada penderita diare adalah:

1. Dehidrasi
2. Gangguan sirkulasi
3. Gangguan asam basa
4. Hipoglikemi

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 39


Kejadian diare di rumah sakit beberapa tahun terakhir :
Januari
Umur Laki-laki Perempuan
1 bulan 15 2
1-4 tahun 15 10
5-9 tahun 13 0
10-14 tahun 0 0

Februari

Umur Laki-laki Perempuan


1 bulan 11 5
1-4 tahun 6 3
5-9 tahun 3 3
10-14 tahun 4 1

Maret

Umur Laki-laki Perempuan


7 hari-bulan 2 0
1 bulan 15 14
1-4 tahun 13 15
5-9 tahun 10 10
10-14 tahun 10 0

April

Umur Laki-laki Perempuan


7 hari-bulan 0 1
1 bulan 5 1
1-4 tahun 10 15

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 40


5-9 tahun 14 14
10-14 tahun 4 1

Mei

Umur Laki-laki Perempuan


1 bulan 4 3
1-4 tahun 5 10
5-9 tahun 7 2
10-14 tahun 5 0

Juni

Umur Laki-laki perempuan


7 hari-bulan 5 0
1 bulan 5 1
1-4 tahun 12 5
5-9 tahun 7 4
10-14 tahun 1 1

Dapat dilihat dari table diatas penyakit diare di puskesmas Pembina banyak
menyerang anak-anak usia < 5 tahun dan jenis kelamin laki-laki.

Di puskesmas Pembina bila mendapatkan pasien diare akut dengan disertai


tanda dehidrasi berat maka pasien tersebut akan dirujuk, dimana tanda-tanda dari
pada dehidrasi adalah anak terlihat gelisah, rewel, mata cekung, tidak ada rasa
ingin minum lagi, turgor kembali sangat lambat. Hal ini sesuai pada penulisan di
proposal ini tanda dehidrasi berat adalah Lesu, lunglai atau tidak sadar, mata
Sangat cekung dan kering, Malas minum atau tidak bisa minum, turgor kembali
sangat lambat

Pihak puskesmas juga telah melakukan pencegahan terhadap diare seperti


memberikan penyuluhan untuk mencuuci tangan sebelum makan, sanitasi

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 41


lingkungan, dan PHBS. Selama ini belum pernah terjadinya KLB, namun bila ada
kejadian luar biasa (KLB) maka pihak dari pada puskesmas sendiri akan meninjau
lingkungan sekitar. Dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat sekitar akan
pentingnya kebersihan terkait pada masalah diare ini.

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 42


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Diare Kondisi dimana seseorang buang air besar dengan tinja yang
lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja yang lebih dari 3x
sehari
2. Pada puskesmas untuk pengobatan diare merujuk pada “LINTAS
DIARE” atau lima langkah tuntaskan diare, dimana terdiri atas :
a. Oralit formula baru
1 bungkus oralit di masukkan ke dalam 1 gelas air matang (200cc)
o < 1 thn berikan: 50-100 cc cairan oralit setiap kali buang air besar
o > 1thn berikan: 100-200 cc cairan oralit setiap kali buang air besar
b. Tablet zink selama 10 hari berturut-turut
3 tablet (20 mg)
 Untuk balita < 6 bln : ½ tablet (10 mg)/ hari
 Untuk anak > 6 bln : 1 tablet (20 mg)/ hari
c. Teruskan ASI-makan
d. Berikan antibiotic secara selektif
e. Berikan nasihat kepada ibu/keluarga
3. Kejadian diare pada puskesmas Pembina pada satu tahun terakhir
lebih banyak diderita oleh anak < 5 tahun dengan jenis kelamin laki-
laki.

5.2 Saran
a. Diharapkan kepada semu anggota kelompok TPP lebih memahami
topik kasus yang dilaksanakan sehingga dapat menggali
informasiyang lebih baik lagi.
b. Pada pelaksanaan TPP selanjutnya diharapkan agar anggota tetap ikut
berpartisipasi dalam berjalannya TPP, pembuatan laporan, dan siding
pleno.

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 43


KEPUSTAKAAN

Isselbacher,dkk. 1999. Harrison prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam.

Jakarta : EGC

Juffrie M, Soenarto SSY, Oswari Hanifah, dkk. 2010. Buku Ajar


Gastroenterologi-Hepatologi. Jakarta:IDAI , hlm; 87-118

Silbernagl. Stefan., Florian. Lang, 2006. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi.
Jakarta : EGC

Soeparto P, Djupri LS, Sudarmo SM, Ranuh IRG. 1999. Gangguan Absorbsi-
Sekresi Sindrom Diare. Surabaya:Graha Masyarakat Ilmiah Kedokteran FK
Unair.

Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Marcellus, S.K., & Setiati, S. 2009. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi V. Jakarta: Interna Publishing

Sujono, Hadi. 2013 . Gastroenterologi. Bandung: P.T. ALUMNI. Hlm; 44-45

Widoyono. 2008. Penyakit Tropis. Semarang: Erlangga, hlm; 145-154

Zein.Umar., Sagala.Khalid Huda., Ginting.Josia. 2004. Diare Akut Disebabkan


Bakteri.Medan:Fakultas Kedokteran Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Bagian
Ilmu Penyakit Dalam Universitas Sumatera Utara

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 44


LAMPIRAN 1

No Pertanyaan Jawaban
1 Apa yang anda ketahui tentang diare?
2 Bagaimana cara anda menegakkan diagnosis diare?
-anamnesis
-pemeriksaan fisik
-pemeriksaan penunjang
3 Apa penyebab paling sering yang menyebabkan diare pada
pasien yang berobat ke Puskesmas Pembina?
-kelainan kolon
-malabsorbsi
-infeksi toksogenik (keracunan makanan)
-dll
4 Bagaimana cara membedakan diare akut dan kronis?
5 Bagaimana penatalaksanaan diare berdasarkan dari jenis-jenis
diare?
(obat apa yang diberikan dan berapa dosisnya)
6 Apakah pihak puskesmas memiliki standar tetap untuk
penatalaksanaan diare?
7 Kapan pasien dengan diagnosis harus di rujuk atau rawat jalan?
8 Bagaimana cara menilai derajat dehidrasi pada pasien diare?
9 Apa komplikasi yang dapat timbul pada pasien diare?
10 Dalam satu tahun terakhir ada berapa jumlah pasien yang
didiagnosis menderita diare yang berobat dipuskesma Pembina?

11 Apakah pihak puskesmas sudah melaksanakan program


pemberantasan diare yang dicanangkan oleh pemerintah?
12 Apa saja yang sudah dilakukan oleh pihak puskesmas dalam
pencegahan diare?
13 Bagaimana penanggulangan pasien saat kejadian luar biasa
(KLB)?

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 45


Universitas Muhammadiyah Palembang Page 46
LAMPIRAN 2

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 47


Halaman ini sengaja dikosongkan

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 48


LAMPIRAN 3

FOTO

Universitas Muhammadiyah Palembang Page 49