Anda di halaman 1dari 18

Skenario B

2.2 Skenario Kasus B blok XX


Dr. Didi, dokter jaga UGD RSMP menerima pasien bernama Andreas, 32 tahun, seorang
pekerja bangunan. Andreas terjatuh dari atap rumah dengan ketinggian 6 meter saat
mengganti genteng yang bocor. Andreas langsung pingsan namun bila dipanggil dia
terbangun tapi pingsan kembali dan dibawa ke UGD 30 menit setelah kejadian. Andreas
terlihat sulit bernapas dan mengeluarkan suara ngorok. Tampak memar disekitar mata kiri
dan belakang telinga kiri. Darah keluar dari telinga kirinya.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum:

Andreas tidak sadar dan mengeluarkan suara ngorok, bila dipanggil tidak merespon, bila
dirangsang nyeri pada kuku jari manis kanan Andreas baru membuka mata dan menarik
lengan kanan ke tubuh. Pada saat yang bersamaan, Andreas mengeluarkan suara erangan.

Tanda Vital : Terlihat sesak nafas (RR: 32x/menit), TD: 110/70 mmHg, HR: 108x/menit,
Temp. axilla 36,2OC

Kepala: Pada region retro auricular sinistra terdapat hematom ukuran 1x4 cm memanjang
sejajar daun telinga, brill hematom kiri.

Leher: Terlihat trakea ditengah, vena jugularis tidak terlihat, lainnya dalam batas normal

Toraks:

Inspeksi

 RR: 32x/menit, retraksi interkostal dan supraklavikula minimal, gerak nafas


asimetris kiri
 Tampak memar pada region axilaris posterior setinggi costae VIII diameter 10 cm

Auskultasi

 Bising nafas: toraks kiri vesikuler menjauh, toraks kanan vesikuler normal
 Bunyi jantung: Terdengar jelas, frekuensi 108x/menit

Palpasi
 Nyeri tekan sekitar memar, krepitasi (+) pada costae VIII
 Stem fremitus tidak dapat diperiksa

Perkusi

 Kanan: sonor
 Kiri: hipersonor

Abdomen: Inspeksi: datar, tidak tampak memar, auskultasi: bising usus 8x/menit, palpasi:
nyeri tekan (-)

Urogenitalia: Dalam batas normal

Ekstremitas: Dalam batas normal

Identifikasi Masalah

1. Andreas, 32 tahun, jatuh dari atap rumah dengan ketinggian 6 meter.


2. Andreas langsung pingsan namun bila dipanggil dia terbangun tapi pingsan kembali
dan dibawa ke UGD 30 menit setelah kejadian. Andreas terlihat sulit bernapas dan
mengeluarkan suara ngorok.
3. Tampak memar disekitar mata kiri dan belakang telinga kiri. Darah keluar dari telinga
kirinya.
4. Keadaan Umum: Andreas tidak sadar dan mengeluarkan suara ngorok, bila dipanggil
tidak merespon, bila dirangsang nyeri pada kuku jari manis kanan Andreas baru
membuka mata dan menarik lengan kanan ke tubuh. Pada saat yang bersamaan,
Andreas mengeluarkan suara erangan.
5. Tanda Vital : Terlihat sesak nafas (RR: 32x/menit), TD: 110/70 mmHg, HR:
108x/menit, Temp. axilla 36,2OC
6. Pemeriksaan Fisik Kepala: Pada region retro auricular sinistra terdapat hematom
ukuran 1x4 cm memanjang sejajar daun telinga, brill hematom kiri. Leher: Terlihat
trakea ditengah, vena jugularis tidak terlihat.
7. Pemeriksaan Fisik Toraks:

Inspeksi

 RR: 32x/menit, retraksi interkostal dan supraklavikula minimal, gerak nafas


asimetris kiri
 Tampak memar pada region axilaris posterior setinggi costae VIII diameter 10 cm

Auskultasi

 Bising nafas: toraks kiri vesikuler menjauh, toraks kanan vesikuler normal
 Bunyi jantung: Terdengar jelas, frekuensi 108x/menit

Palpasi

 Nyeri tekan sekitar memar, krepitasi (+) pada costae VIII


 Stem fremitus tidak dapat diperiksa

Perkusi

 Kanan: sonor
 Kiri: hipersonor

8. Abdomen: bising usus 8x/menit

Analisis Masalah

1. a. Apa dampak jatuh dari ketinggian 6 meter?


Terjadinya multiple trauma

b. Apa saja kemungkinan trauma yang akan dialami Andreas?

Berdasarkan lokasi trauma, dapat terjadi :


1. Trauma spinal
2. Trauma capitis
3. Trauma leher
4. Trauma maksilofasial
5. Trauma mandibula
6. Trauma toraks
7. Trauma abdomen
8. Trauma pelvis
9. Trauma musculoskeletal
Berdasarkan penyebab trauma, dapat terjadi:
1. Trauma tumpul
2. Trauma tajam

c. Bagaimana biomekanika trauma yang dialami Andreas?


Mekanisme trauma berdasarkan arah trauma, kecepatan trauma dan bagian tubuh
yang terkena. Untuk trauma tumpul , tajam dan ledakan , terjadi perpindahan energi
pada jaringan yang dipengaruhi oleh arah , kecepatan dan bagian tubuh yang terkena
( berdasakan elastisitas dan viskostas jaringan tubuh ). Pada semua trauma terjadi
pemindahan energi dari jaringan . Hukum-hukum energi dapat menjelaskan
bagaimana jaringan menahan suatu trauma. Hukum-hukum energi meliputi :
Energi tidak dapat dibentuk atau dihancurkan namun dapat diubah bentuknya. Suatu
badan/tubuh yang bergerak atau diam (istirahat) cenderung akan tetap pada keadaan
tersebut sampai bersentuhan (diaktifkan) oleh kekuatan energi yang datang dari luar.
Energi kinetik (KE) adalah setara dengan masa/berat (M dari objek yang bergerak
dikalikan dengan kuadrat kecepatan dan dibagi 2). Kekuatan setara dengan
percepatan / perlambatan dan masa dikalikan jarak. Beratnya trauma bergantung
kepada jumlah dan kecepatan perpindahan energi, permukaan dimana energi
dikerahkan dan elastisitas jaringan dimana perpindahan energi tersebut berlangsung

Trauma tumpul terjatuh


Bila ada suatu kekuatan eksternal dibenturkan kepada tubuh manusia, maka
beratnya trauma merupakan hasil dari interaksi antara faktor-faktor fisik dari
kekuatan tersebut dan jaringan tubuh. Beratnya trauma yang terjadi berhubungan
dengan kemampuan objek statis (yang ditubruk) untuk menahan tubuh. Pada tempat
benturan akan terjadi perbedaan pergerakan dari jaringan tubuh, yang akan
menimbulkan disrupsi jaringan. Permukaan yang keras akan menambah beratnya
deselerasi. Trauma juga bergantung pada elastisitas dan viskositas jaringan tubuh.
Elastisitas adalah kemampuan jaringan untuk kembali pada keaadaan sebelum
benturan . Viskositas adalah kemampuan jaringan untuk menjaga bentuk aslinya
walaupun ada benturan. Berat trauma yang terjadi tergantung seberapa jauh gaya
yang ada, akan dapat melewati ketahanan jaringan. Sehingga beratnya trauma akan
di tentukan oleh kinematik dari deselerasi vertikal, viskoelastisitas jaringan dan
karakter fisik dari permukaan benturan .
Semakin tinggi (6 meter) jarak jatuh dan massa tubuh maka benturan pada
trauma akan semakin kuat dan permukaan yang keras akan menambah
beratnya deselerasi  disrupsi jaringan.
2.b. Apa penyebab penurunan kesadaran?

“ SEMENITE “ , yaitu :
S : Sirkulasi (Meliputi stroke dan penyakit jantung)
E : Ensefalitis (Dengan tetap mempertimbangkan adanya infeksi sistemik/
sepsis yang mungkin melatar-belakanginya atau muncul secara bersamaan)
M : Metabolik (Misalnya hiperglikemia, hipoglikemia, hipoksia, uremia, koma
hepatikum)
E : Elektrolit (Misalnya diare dan muntah yang berlebihan)
N : Neoplasma(Tumor otak baik primer maupun metastasis)
I : Intoksikasi (Intoksikasi berbagai macam obat maupun bahan kimia dapat
menyebabkan penurunan kesadaran)
T :Trauma (Terutama trauma kapitis: komusio, kontusio, perdarahan epidural,
perdarahan subdural, dapat pula trauma abdomen dan dada)
E : Epilepsi (Pasca serangan Grand Mall atau pada status epileptikus dapat
menyebabkan penurunan kesadaran)

c. Apa makna Andreas langsung pingsan namun bila dipanggil terbangun tapi pingsan
kembali?
Menunjukkan adanya suatu lucid interval (masa sadar setelah pingsan sehingga
kesadaran menurun lagi) yang merupakan gejala khas yang terjadi pada perdarahan
epidural.

e. Apa dampak terhadap tubuh Andreas yang baru dibawa ke UGD 30 menit setelah
kejadian?
Penurunan kesadaran yang lebih dan herniasi cerebral.

f. Bagaimana fisiologi pernapasan?


Penyampaian oksigen ke jaringan tubuh ditentukan oleh :
1. Sistem respirasi / pernapasan
Sistem pernapasan terdiri atas organ pertukaran gas yaitu paru-paru dan sebuah
pompa ventilasi yang terdiri atas dinding dada, otot-otot pernapasan, diafragma, isi
abdomen, dinding abdomen dan pusat pernapasan di otak. Bernafas adalah
pergerakan udara dari atmosfer ke sel tubuh dan pengeluaran CO2 dari sel tubuh
sampai ke luar tubuh. Ada tiga langkah dalam proses oksigenasi yaitu ventilasi,
perfusi paru dan difusi.

a. Ventilasi
Ventilasi adalah proses keluar masuknya udara dari dan ke paru. Ventilasi paru
mencakup gerakan dasar atau kegiatan bernafas atau inspirasi dan ekspirasi. Udara
yang masuk dan keluar terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara intrapleura
dengan tekanan atmosfer, dimana pada saat inspirasi tekanan intrapleural lebih
negatif (752 mmHg) dari pada tekanan atmosfer (760 mmHg) sehingga udara akan
masuk ke alveoli.
Hukum Boyle’s :
Jika volume meningkat maka tekanan menurun.
Jika volume menurun maka tekanan meningkat.
Inspirasi → bersifat aktif
Selama inspirasi terjadi kontraksi otot diafragma dan intercosta eksterna, hal ini
akan meningkatkan volume intrathorak → menurunkan tekanan intratorak →
tekanan intrapleural makin negatif → paru berkembang → tekanan intrapulmonary
menjadi makin negatif → udara masuk paru.
Ekspirasi → bersifat pasif
Selama ekspirasi terjadi relaksasi otot diafragma dan interkosta eksterna, hal ini
akan menurunkan volume intratorak → meningkatkan tekanan intratorak →
tekanan intrapleural makin positif → paru mengempis → tekanan intrapulmonal
menjadi makin positif → udara keluar paru.

Kepatenan ventilasi tergantung pada faktor :


 Kebersihan jalan nafas, adanya sumbatan atau obstruksi jalan nafas akan
menghalangi masuk dan keluarnya udara dari dan ke paru.
 Adekuatnya sistem saraf pusat dan pusat pernafasan.
 Adekuatnya pengembangan dan pengempisan paru-paru
 Kemampuan otot-otot pernafasan seperti diafragma, eksternal interkosta,
internal interkosta, otot abdominal

b. Perfusi paru
Perfusi paru adalah gerakan darah yang melewati sirkulasi paru untuk dioksigenasi,
dimana pada sirkulasi paru adalah darah deoksigenasi yang mengalir dalam arteri
pulmonaris dari ventrikel kanan jantung. Darah ini memperfusi paru bagian
respirasi dan ikut serta dalam proses pertukaran oksigen dan karbondioksida di
kapiler dan alveolus. Sirkulasi paru merupakan 8-9% dari curah jantung. Sirkulasi
paru bersifat fleksibel dan dapat mengakodasi variasi volume darah yang besar
sehingga dapat dipergunakan jika sewaktu-waktu terjadi penurunan volume atau
tekanan darah sistemik.
Adekuatnya pertukaran gas dalam paru dipengaruhi oleh keadaan ventilasi dan
perfusi. Pada orang dewasa sehat pada saat istirahat ventilasi alveolar (volume tidal
= V) sekitar 4,0 lt/menit, sedangkan aliran darah kapiler pulmonal (Q) sekitar 5,0
lt/menit, sehingga rasio ventilasi dan perfusi adalah :
Alveolar ventilasi (V) = 4,0 lt/mnt = 0,8
Aliran darah kapiler pulmonar(Q) 5,0 lt/mnt

Besarnya rasio ini menunjukkan adanya keseimbangan pertukaran gas. Misalnya


jika ada penurunan ventilasi karena sebab tertentu maka rasio V/Q akan menurun
sehingga darah yang mengalir ke alveolus kurang mendapatkan oksigen. Demikian
halnya dengan jika perfusi kapiler terganggu sedangkan ventilasinya adekuat maka
terjadi penigkatan V/Q sehingga daya angkut oksigen juga akan rendah.

c. Difusi
Difusi adalah pergerakan molekul dari area dengan konsentrasi tinggi ke area
konsentrasi rendah. Oksigen terus menerus berdifusi dari udara dalam alveoli ke
dalam aliran darah dan karbondioksida (CO2) terus berdifusi dari darah ke dalam
alveoli. Difusi udara respirasi terjadi antara alveolus dengan membran kapiler.
Perbedaan tekanan pada area membran respirasi akan mempengaruhi proses difusi.
Misalnya pada tekanan parsial (P) O2 di alveoli sekitar 100 mmHg sedangkan
tekanan parsial pada kapiler pulmonal 60 mmHg sehingga oksigen akan berdifusi
masuk dalam darah. Berbeda halnya dengan CO2 dengan PCO2 dalam kapiler 45
mmHg sedangkan alveoli 40 mmHg maka CO2 akan berdifusi keluar alveoli.

g. Apa penyebab dan mekanisme sulit bernapas dan mengeluarkan suara ngorok?
Fraktur costae VIII  costae menusuk jaringan paru  terbentuk sisa jaringan 
terjadi shunting  sulit bernapas
Penurunan kesadaran  otot-otot lidah tidak mampu menahan lidah  lidah jatuh
kebelakang  menutup saluran pernapasan  mengeluarkan suara ngorok

3 a. Bagaimana anatomi kepala?

A. Kulit Kepala (SCALP)


Menurut ATLS terdiri dari 5 lapisan.

1. Skin atau kulit


2. Connective Tissue atau jaringan penyambung
3. Aponeurosis atau galea aponeurotika: jaringan ikat berhubungan langsung
dengan tengkorak
4. Loose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar: merupakan tempat
terjadinya perdarahan subgaleal (hematom subgaleal).
5. Perikranium

Tulang Tengkorak
Terdiri dari kalvarium dan basis kranii. Rongga tengkorak dasar dibagi 3 fosa :

1. Anterior: tempat lobus frontalis


2. Media: tempat lobus temporalis
3. Posterior: tempat batang otak bawah dan serebelum
Meningen
Selaput ini menutupi seluruh permukaan otak terdiri 3 lapisan :
1. Durameter
Merupakan selaput keras atas jaringan ikat fibrosa melekat dengan tabula
interna atau bagian dalam kranium namun tidak melekat pada selaput arachnoid
dibawahnya, sehingga terdapat ruangan potensial disebut ruang subdural yang
terletak antara durameter dan arachnoid. Pada cedera kepala pembuluh vena
yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior digaris
tengah disebut Bridging Veins, dapat mengalami robekan serta menyebabkan
perdarahan subdural. Durameter membelah membentuk 2 sinus yang
mengalirkan darah vena ke otak, yaitu : sinus sagitalis superior mengalirkan
darah vena ke sinus transverses dan sinus sigmoideus. Perdarahan akibat sinus
cedera 1/3 anterior diligasi aman, tetapi 2/3 posterior berbahaya karena dapat
menyebabkan infark vena dan kenaikan tekanan intracranial.
Arteri-arteri meningea terletak pada ruang epidural, dimana yang sering
mengalami cedera adalah arteri meningea media yang terletak pada fosa
temporalis dapat menimbulkan perdarahan epidural.
2. Arachnoid
3. Piameter
Lapisan ini melekat pada permukaan korteks serebri. Cairan serebro spinal
bersirkulasi diantara arachnoid dan piameter dalam ruang subarahnoid.
Perdarahan ditempat ini akibat pecahnya aneurysma intra cranial..

D. Otak
1. Serebrum
Terdiri atas hemisfer kanan dan kiri dipisahkan oleh falks serebri yaitu lipatan
durameter yang berada di inferior sinus sagitalis superior. Hemisfer kiri terdapat
pusat bicara.
2. Serebelum
Berfungsi dalam kordinasi dan keseimbangan dan terletak dalam fosa posterior
berhubungan dengan medulla spinalis batang otak dan kedua hemisfer serebri.
3. Batang otak
Terdiri dari mesensefalon (midbrain) dan pons berfungsi dalam kesadaran dan
kewaspadaan, serta medulla oblongata yang memanjang sampai medulla
spinalis.
E. Cairan Serebrospinalis
Normal produksi cairan serebrospinal adalah 0,2-0,35 mL per menit atau sekitar
500 mL per 24 jam . Sebagian besar diproduksi oleh oleh pleksus koroideus
yang terdapat pada ventrikel lateralis dan ventrikel IV. Kapasitas dari ventrikel
lateralis dan ventrikel III pada orang sehat sekitar 20 mL dan total volume
cairan serebrospinal pada orang dewasa sekitar 120 mL Cairan serebrospinal
setelah diproduksi oleh pleksus koroideus akan mengalir ke ventrikel lateralis,
kemudian melalui foramen interventrikuler Monro masuk ke ventrikel III ,
kemudian masuk ke dalam ventrikel IV melalui akuaduktus Sylvii, setelah itu
melalui 2 foramen Luschka di sebelah lateral dan 1 foramen Magendie di
sebelah medial masuk kedalam ruangan subaraknoid, melalui granulasi
araknoidea masuk ke dalam sinus duramater kemudian masuk ke aliran vena
Tekanan Intra kranial meningkat karena produksi cairan serebrospinal melebihi
jumlah yang diabsorpsi. Ini terjadi apabila terdapat produksi cairan
serebrospinal yang berlebihan, peningkatan hambatan aliran atau peningkatan
tekanan dari venous sinus. Mekanisme kompensasi yang terjadi adalah
transventricular absorption, dural absorption, nerve root sleeves absorption dan
unrepaired meningocoeles. Pelebaran ventrikel pertama biasanya terjadi pada
frontal dan temporal horns, seringkali asimetris, keadaan ini menyebabkan
elevasi dari corpus callosum, penegangan atau perforasi dari septum
pellucidum, penipisan dari cerebral mantle dan pelebaran ventrikel III ke arah
bawah hingga fossa pituitary (menyebabkan pituitary disfunction).

F. Tentorium
Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang :

1. Supratentorial: terdiri fosa kranii anterior dan media


2. Infratentorial: berisi fosa kranii posterior

Mesensefalon (midbrain) menghubungkan hemisfer serebri dan batang otak (pons


dan medulla oblongata) berjalan melalui celah tentorium serebeli disebut insisura
tentorial. Nervus okulomotorius (NIII) berjalan sepanjang tentorium, bila tertekan
oleh masa atau edema otak akan menimbulkan herniasi. Serabut2 parasimpatik
untuk kontraksi pupil mata berada pada permukaan n. okulomotorius. Paralisis
serabut ini disebabkan penekanan mengakibatkan dilatasi pupil. Bila penekanan
berlanjut menimbulkan deviasi bola mata kelateral dan bawah.
Dilatasi pupil ipsilateral disertai hemiplegi kontralateral dikenal sindrom klasik
herniasi tentorium. Umumnya perdarahan intrakranial terdapat pada sisi yang sama
dengan sisi pupil yang berdilatasi meskipun tidak selalu.

b. Apa penyebab tampak memar disekitar mata kiri dan belakang telinga kiri serta
keluar darah dari telinga kiri?
Karena adanya perdarahan intrakranial yang disebabkan karena trauma capitis yang
dialami Andreas sehingga membentuk hematom epidural.
4. a. Apa interpretasi keadaan umum Andreas?
Berasarkan GCS, Andreas mengalami cedera kepala berat dengan nilai GCS 8
yaitu Eye=2, Verbal=2, Movement=4.
c. Bagaimana hubungan penurunan kesadaran dengan mengeluarkan suara ngorok?
Penurunan kesadaran  otot-otot lidah tidak mampu menahan lidah  lidah jatuh
kebelakang  menutup saluran pernapasan  mengeluarkan suara ngorok

d. Bagaimana Hukum Monroe?


Doktrin Monroe-Kellie adalah suatu konsep sederhana yang dapat
menerangkan pengertian dinamika tekanan intrakranial. Konsep utamanya
volume intrakranial harus selalu konstan. Bila ada massa seperti hematoma,
kompensasi intrakranial mengeluarkan darah vena dari ruang intrakranial
dengan volume yang sama, tekanan intrakranial akan tetap normal.
Namun jika mekanisme kompensasi ini sudah terlampaui, maka kenaikan
jumlah massa yang sedikit saja akan menyebabkan tekanan intrakranial yang
tajam atau fase dekompensasi.

e. Bagaimana penanganan awal yang harus dilakukan pada Andreas?

Tindakan yang dilakukan dalam penanggulangan trauma:


1) Persiapan awal
o Fase sebelum masuk rumah sakit
Persiapan ini terutama untuk mengkoordinasikan antara dokter rumah sakit
yang akan menerima dan selama transportasi berupa tindakan yang akan
dilakukan yaitu: kontrol jalan napas, pernapasan, penanggulangan perdarahan
eksterna dan syok serta imobilisasi penderita.
o Fase rumah sakit
Rumah sakit sebaiknya sudah menyiapkan suatu rancang bangun, penyediaan
personil terlatih, obat-obatan dan alat-alat lainnya pada satu Instalasi Rawat
Darurat (IRD).
2) Triase, dilakukan dua jenis triase, yaitu :
o Jumlah penderita tidak melebihi kapasitas rumah sakit
Penderita yang mempunyai problem sehingga dapat menyebabkan gangguan
kehidupan serta penderita yang mengalami cedera multiple didahulukan
penanggulangannya.
o Jumlah penderita melebihi kapasitas rumah sakit baik fasilitas maupun stafnya.
Pada keadaan ini penderita yang mempunyai kemungkinan hidup,
didahulukan.
3) Survey awal  menilai dan memberikan pengobatan sesuai dengan prioritas
berdasarkan trauma yang dialami.

5. a. Apa interpretasi dan mekanisme tanda vital?


TD : 110/70 mmHg  normal (fase kompensasi)
HR : 108x/menit  fase kompensasi
Temp : 36,2OC  menurun
Dari data diatas dapat dilihat bahwa Andreas mengalami keadaan pre-syok.

b. Bagaimana hubungan tekanan darah dengan heart rate?


Perdarahan  volume intravascular menurun  cardiac output menurun  TD
menurun  perfusi ke jaringan terganggu  dominasi truncus simpaticus  HR
meningkat  cardiac output meningkat  TD normal

6. Apa interpretasi dan mekanisme hasil pemeriksaan fisik kepala dan leher?
Pemeriksaan fisik kepala
Hematom : menunjukkan adanya perdarahan intrakranial
Brill Hematom : menunjukkan terjadinya fraktur basis cranii anteromedial
Pemeriksaan fisik leher
Trakea terlihat ditengah : menyingkirkan diagnosis terjadinya tension pneumothoraks

7. Apa interpretasi dan mekanisme hasil pemeriksaan fisik thoraks?

Inspeksi

 RR: 32x/menit, retraksi interkostal dan supraklavikula minimal, gerak nafas


asimetris kiri  menunjukkan kesulitan bernapas dan adanya bagian dada yang
tertinggal akibat pneumothoraks yang terjadi di sisi sebelah kiri
 Tampak memar pada region axilaris posterior setinggi costae VIII diameter 10 cm
 menunjukkan terjadinya fraktur pada costae VII

Auskultasi

 Bising nafas toraks kiri vesikuler menjauh  akibat akumulasi udara yang
berkumpul dalam paru kiri sehingga suara paru sulit didengar
 Bunyi jantung: Terdengar jelas, frekuensi 108x/menit  kompensasi tubuh

Palpasi

 Nyeri tekan sekitar memar, krepitasi (+) pada costae VIII  akibat dari fraktur
costae VII

Perkusi

 Kanan: sonor  paru kanan normal


 Kiri: hipersonor  akibat dari akumulasi udara yang banyak yang menyebabkan
pneumothoraks

8. Apa interpretasi dan mekanisme hasil pemeriksaan fisik abdomen?

Trauma  perdarahan intrakranial  penambahan volume darah  tekanan


intrakranial naik  menekan jaringan otak (batang otak sebagai pusat parasimpatis)
 pemacuan N. Vagus  motilitas usus meningkat  bising usus meningkat

9. Bagaimana cara menegakkan diagnosis pada kasus?

Dilakukan dengan initial assessment yang terdiri dari primary survey dan secondary
survey.

1. Primary survey
a. Airway
b. Breathing
c. Circulation
d. Disability
e. Exposure
f.
2. Secondary survey

10. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan pada kasus?


 CT-Scan  melihat lokasi perdarahan di otak
 Analisa gas darah  melihat PO2 dan PCO2
 Foto cervical lateral  melihat kemungkinan trauma pada cervical
 Foto thoraks  melihat fraktur costae dan pneumothorak

11. Apa diagnosisnya?


Multiple trauma berupa fraktur basis cranii anteromedial suspect hematom epidural,
simple pneumothoraks dan fraktur costae VIII

12. Bagaimana penatalaksanaan kasus ini?


A. Perbaikan jalan nafas
Maneuver chin lift atau jaw thrust, pasang oropharyngeal tube untuk menahan
agar lidah tidak jatuh kebelakang
B. Oksigenasi dan resusitasi cairan
C. Imobilisasi
Pasang cervical collar untuk mencegah keadaan yang lebih parah bila ada trauma
cervical
D. Needle Decompresion
Untuk mengeluarkan udara secepatnya agar tidak terjadi tension pneumothoraks
E. Analgesik
Untuk meringankan nyeri yang terjadi
F. Rujuk

13. Apa yang akan terjadi jika kasus tidak ditangani secara komprehensif?
 Herniasi cerebral
 Tension pneumothoraks
 Kematian
14. Bagaimana peluang kesembuhan kasus?
Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad fungtionam : Dubia ad bonam

15. Bagaimana kompetensi dokter umum pada kasus?


Tingkat Kemampuan 3B

 Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi


pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau
mencegah keparahan dan/atau kecacatan pada pasien
 Lulusan dokter mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan
pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali
dari rujukan.

16. Bagaimana pandangan Islam tentang kasus?


Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah
akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan
daun-daunnya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kesimpulan

Andreas, 32 tahun, mengalami multiple trauma berupa fraktur basis cranii


anteromedial suspect hematom epidural, simple pneumothoraks dan fraktur costae
VIII.
Kerangka Konsep

Jatuh dari
ketinggian

Trauma capitis
Trauma thoraks
(Fraktur basis
cranii
anteromedial)

Brill Hematom Fraktur costae VIII


Otorrhea sinistra
Hematom Epidural

Pneumothoraks Krepitasi
Kesadaran menurun
Pre-syok
(GCS 8)

HR meningkat
Takipnea Hipersonor Vesikuler menjauh

Kompensasi

TD 110/70 mmHg